33 3.1. Pengertian Putusan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia putusan diartikan dengan kesudahan; pengabsahan; sesudah yang telah ditentukan setelah dipertimbangkan, dipikirkan; hasil memutuskan. (Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa 1989, 682). Sedangkan dalam Kamus Hukum putusan adalah hasil dari pemeriksaan suatu perkara. Penjelasan pasal 60 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 memberi definisi tentang putusan yaitu keputusan pengadilan atas perkara gugatan berdasarkan adanya suatu sengketa. (J.C.T.
Simorangkir 2007, 136)
Adapun definisi putusan menurut Drs. H.A. Mukti Arto, SH.
Memberi definisi terhadap putusan, yaitu: “putusan ialah pernyataan hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan oleh hakim dalam sidang terbuka untuk umum, sebagai hasil dari pemeriksaan perkara (kontentius)” (Arto 1996, 245) Menurut Drs. H.
Roihan A. Rasyid, SH., Putusan disebut vonnis (Belanda) atau al-Qada’u (Arab), yaitu produk Pengadilan Agama karena adanya dua pihak yang belawanan dalam perkara, yaitu “penggugat” dan “tergugat”. Produk produk Pengadilan semacam ini biasa diistilahkan dengan “produk pengadilan yang sesungguhnya” atau jurisdictio cententiosa.(Rasyid 2015, 203)
Pengertian putusan dalam literatur yang lain yaitu pernyataan hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan oleh hakim dalam sidang terbuka untuk umum, sebagai suatu produk Pengadilan (Agama) sebagai hasil dari suatu pemeriksaan perkara
gugatan berdasarkan adanya suatu sengketa. (Lubis, Marzuki dan Dewi 2005, 148)
Jadi dapat disimpulkan bahwasanya definisi putusan adalah hasil kesepakatan majelis hakim dari musyawarah majelis terhadap perkara gugatan yang dituangkan dalam bentuk tulisan dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.
Putusan Peradilan Perdata (Peradilan Agama adalah Peradilan Perdata) selalu memuat perintah dari pengadilan kepada pihak yang kalah untuk melakukan sesuatu, atau menghukum sesuatu. Jadi dictum vonnis selalu bersifat contitutoir artinya menciptakan. Perintah dari pengadilan ini, jika tidak diturut dengan suka-rela, dapat diperintahkan untuk dilaksanakan secara paksa yang disebut eksekusi. (Rasyid 2015, 203)
Apabila hakim telah memeriksa suatu perkara yang diajukan kepadanya, ia harus menyusun putusan dengan baik dan benar.
Putusan itu harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum, guna mengakhiri sengketa yang diperiksanya. Putusan hakim tersebut disusun apabila pemeriksaan sudah selesai dan pihak-pihak yang berperkara tidak lagi menyampaikan sesuatu hal kepada hakim yang memeriksa perkaranya. Putusan adalah hasil atau kesimpulan dari suatu perkara yang telah dipertimbangkan dengan masak-masak yang dapat berbentuk putusan tertulis maupun lisan. Setiap putusan Pengadilan Agama harus dibuat oleh hakim ketua dan hakim-hakim anggota yang ikut memeriksa perkara sesuai dengan penetapan majelis hakim yang dibuat oleh ketua pengadilan agama, serta ditandatangani pula oleh panitera pengganti yang ikut sidang sesuai penetapan panitera berdasarkan pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970. (Manan 2005, 292)
Apa yang diucapkan oleh hakim dalam sidang haruslah benar- benar sama dengan apa yang tertulis, dan apa yang dituliskan haruslah
benar-benar sama dengan yang diucapkan dalam sidang pengadilan.
Dalam putusan yang bersifat perdata, Pasal 178 ayat (2) HIR dan pasal 189 ayat (2) R.Bg mewajibkan para hakim untuk mengadili semua tuntutan sebagaimana tersebut dalam surat gugatan. Hakim dilarang menjatuhkan putusan terhadap sesuatu yang tidak dituntut sebagaimana tersebut dalam pasal 178 ayat (3) HIR dan pasal 189 ayat (3) R.Bg. kecuali apabila hal-hal yang tidak dituntut itu disebutkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, sebagaimana tersebut dalam pasal 41c Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo.
Pasal 24 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dan Pasal 149 Kompilasi Hukum Islam. (Manan 2005, 292)
Sesuai dengan ketentuan pasal 178 HIR. Pasal 189 RBG, apabila pemeriksaan perkara selesai, majelis hakim karena jabatannya melakukan musyawarah untuk mengambil putusan yang akan dijatuhkan. Proses pemeriksaan dianggap selesai, apabila telah menempuh tahap jawaban dari tergugat sesuai pasal 121 HIR, pasal 113 Rv, yang dibarengi dengan replik dari penggugat berdasarkan pasal 115 Rv, maupun duplik dari tergugat, dan dilanjutkan dengan proses tahap pembuktian dan konklusi. Jika semua tahap ini telah tuntas diselesaikan, majelis menyatakan pemeriksaan ditutup dan proses selanjutnya adalah menjatuhkan atau pengucapan putusan. Mendahului pengucapan putusan itulah tahap musyawarah bagi majelis untuk menentukan putusan apa yang hendak dijatuhkan kepada pihak yang berperkara. Putusan pada uraian ini adalah putusan peradilan tingkat pertama (Harahap 2014, 797)
3.2. Susunan dan Isi Putusan 3.2.1. Kepala Putusan
Susunan yang pertama dalam bagian ini adalah PUTUSAN atau kalau salinan, adalah SALINAN PUTUSAN. Baris dibawah dari kata itu adalah Nomor Putusan, yang diambil dari nomor urut pendaftaran
perkara, diikuti garis miring dan tahun pendaftaran perkara, misalnya Nomor 79/1983, artinya urutan ke-79 dalam tahun 1983, walaupun tanggal diputusnya perkara mungkin saja tahun 1984. Nomor urut pendaftaran perkara gugatan maupun permohonan mempergunaan satu buku yang disebut Buku Pendaftaran Perkara. (Rasyid 2015, 204)
Baris selanjutnya kalimat BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM sesuai dengan pasal 57 ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989.Kemudian dilanjutkan lagi dengan kalimat “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”. Berdasarkan pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 dikemukakan bahwa setiap putusan yang tidak mencantumkan kalimat tersebut maka putusan yang dijatuhkan itu tidak bisa dilaksanakan. Pencatuman kalimat “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” dalam putusan pengadilan dimaksudkan agar hakim selalu menginsafi bahwa karena sumpahnya, dia tidak hanya bertanggung jawab kepada hukum, kepada dirinya sendiri, dan kepada rakyat, tetapi juga bertanggung jawab kepa Tuhan Yang Maha Esa (Penjelasan umum angka 6 Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970). (Manan 2005, 293) 3.2.2. Nama Pengadilan Agama yang Memutus dan Jenis Perkara
Dicantumkan pada baris selanjutnya nama Pengadilan Agama yang memutus sekaligus disertai menyebutkan jenis perkara, misalnya perkara gugatan cerai yang disertai nafkah istri, nafkah anak, nafkah iddah, harta bersama, dapat disebut saja “perkara gugatan cerai”. Penyebutan perkara yang bersifat gugatan komulatif cukup menyebutkan saja induk perkaranya. Misalnya perkara gugatan cerai yang disertai nafkah istri, nafkah anak, nafkah iddah, harta bersama, dapat disebut saja “perkara gugatan cerai”. Penyebutan perkara yang bersifat gugatan komulatif cukup menyebutkan induk perkaranya saja. Misalnya perkara gugatan cerai yang disertai nafkah istri, nafkah
anak, nafkah iddah, harta bersama, dapat disebut saja “perkara cerai gugat” (Rasyid 2015, 205)
3.2.3. Identitas para pihak
penyebutan identitas pihak, dimulai dari identitas penggugat, lalu identitas tergugat. Pemisah keduanya itu adalah dengan tulisan dalam baris tersendiri yang berbunyi “Berlawanan dengan”. Identitas pihak ini meliputin nama, bin/binti siapa (nama dan bin/binti ditulis dengan huruf besar semua). Alias atau julukan (jika ada), umur, agama, pekerjaan, tempat tinggal terakhir, sebagai penggugat atau tergugat. Jika komulasi tergugat atau komulasi penggugat, sebutkan sebagai penggugat atau tergugat ke berapa, misalnya Penggugat 1, penggugat 2, tergugat 1, tergugat 2 dan sebagainya. Dalam proses conventie dan reconventie atau intervensi atau vrijwaring, status pihak tersebut harus disebutkan pula, misalnya “yang dulu sebagai penggugat dalam conventie, kini sebagai tergugat dalam reconventie.
(Rasyid 2015, 205-206)
Bila terjadi perubahan kedudukan para pihak dalam persidangan menurut pasal 284 Rv, misalnya salah satu pihak meninggal dunia, maka akan berakibat terhentinya jalan pemeriksaan perkara tersebut. Perkara tersebut tidak menjadi gugur tetapi bisa diteruskan oleh para ahli warisnya dan dicatat dalam berita acara.
Terhadap hal ini juga ada perubahan para pihak, sehingga para hakim dalam menyusun putusan harus memerhatikannya. (Manan 2005, 293-294)
3.2.4. Duduknya perkara
Pada bagian ini dikutip dari gugatan penggugat, jawaban tergugat, keterangan saksi dan hasil dari Berita Acara Sidang selengkapnya tetapi singkat, jelas dan tepat serta kronologis. Juga dicantumkan alat-alat bukti lainnya yang diajukan oleh pihak-pihak.
Di bagian ini pengadilan belum memberikan penilaian atas alat-alat
bukti melainkan hanya mencantumkan hubungan atau peristiwa hukum serta dalil-dalil atau alat-alat bukti yang diajukan oleh kedua belah pihak. Sekalipun perkara reconventie atau interventie atau vrijwaring misalnya, tentang duduk perkaranya tidak perlu dipisah- pisahkan tersendiri. Begitu pula dalam intervensi atau vrijwaring.(
Rasyid 2015, 206)
Muatan yang harus ada dalam bagian duduknya perkara adalah sebagai berikut :
3.2.4.1. Gugatan yang diajukan oleh penggugat
Berdasarkan pasal 184 ayat (1) HIR dan pasal 195 ayat (1) R.Bg, bahwa gugatan dan jawaban para pihak cukup ditulis secara ringkas saja. Dalam praktik biasanya gugatan dimuat secara keseluruhan dalam putusan. Sebenarnya hal ini akan mempertebal halaman putusan saja. Namun hal ini bukanlah suatu kesalahan, karena memuat semua gugatan dan jawab menjawab secara lengkap akan memperjelas tentang duduk perkaranya dalam putusan tersebut.
3.2.4.2. Jawaban dan tanggapan para pihak
Sebaiknya jawaban dan tanggapan para pihak cukup dimuat secara singkat saja. Tidak perlu jawaban dan tanggapan para pihak (termasuk replik dan duplik) dimuat secara keseluruhan, cukup hal-hal yang menyangkut pokok- pokoknya saja atau garis besarnya saja, asalkan tidak menghilangkan arti dari jawab-menjawab tersebut atau mengurangi artinya. Tetapi apabila dimuat secara keseluruhan, hal tersebut bukanlah suatu kekeliruan. Bisa saja dimuat secara keseluruhan tetapi haruslah dilihat situasi dan kondisi dari perkara yang disidangkan.
3.2.4.3. Fakta kejadian dalam persidangan
Fakta kejadian ini dapat berupa keterangan alat-alat bukti, baik tertulis maupun tidak tertulis, keterangan saksi- saksi, persangkaan, ataupun sumpah, baik untuk kepentingan penggugat maupun untuk kepentingan tergugat. Untuk mempersingkat keterangan yang terdapat dalam persidangan, sebaiknya diresume apa yang terdapat dalam Berita Acara Sidang. Lazimnya ditulis bahwa segala sesuatu yang terurai dalam Berira Acara Sidang dianggap termuat dalm putusan ini. (Manan 2005, 294-295)
3.2.4.4. Tentang pertimbangan hukum dan dasar hukum
Bagian ini terdiri dari alasan memutus (pertimbangan) yang biasanya dimulai dengan kata “menimbang” dan dari dasar memutus yang biasanya dimulai dengan kata
“mengingat”. Pada alasan memutus maka apa yang diutarakan dalam bagian “duduk perkaranya” terdahulu, yaitu keterangan pihak-pihak berikut dalil-dalilnya, alat-alat bukti yang diajukannya harus ditimbang semua secara seksama satu persatu, tidak boleh ada yang luput dari ditimbang, diterima atau ditolak. Pertimbangan terakhir adalah pihak yang mana yang akan dinyatakan sebagai pihak yang akan dibebankan untuk memikul biaya perkara karena kalah. Pada dasar memutus, dasar hukumnya ada dua, yaitu peraturan perundang-undangan Negara dan hukum syara’. Peraturan perundang-undangan negara disusun menurut urutan derajatnya, misalnya Undang-Undang didahulukan dari Peraturan Pemerintah, lalu urutan tahun terbitnya, misalnya UU Nomor 14 Tahun 1970 didahulukan dari UU Nomor 1 Tahun 1974. Juga disebutkan title peraturan pundang-
undangan tersebut tentang apa, tahun dan nomor Lembaran Negaranya. (Rasyid 2015, 208)
Dalam pertimbangan hukum ini hakim akan mempertimbangkan dalil gugatan, bantahan, atau eksepsi dari tergugat, serta dihubungkan dengan alat-alat bukti yang ada.
Dari pertimbangan hukum hakim menarik kesimpulan tentang terbukti atau tidaknya gugatan itu. Disinilah argumentasi hakim dipertaruhkan dalam mengonstatir segala peristiwa yang terjadi selama persidangan berlangsung. (Manan 2005, 295)
3.2.5. Tentang amar putusan atau diktum
Amar putusan adalah isi dari putusan itu sendiri yang merupakan jawaban petitum dalam surat gugatan yang diajukan oleh oleh penggugat. Amar putusan dimulai dengan kata-kata
“MENGADILI”. Dalam amar itu hakim harus menyatakan tentang hal- hal yang dikabulkan, ditolak, atau diterima berdasarkan pertimbangan hukum yang telah dilakukannya. Dalam amar putusan dimuat suatu pernyataan hukum, penetapan suatu hak atau hubungan, keadaan hukum tertentu, lengkap atau timbulnya keadaan hukum, dan isi putusan yang disebut hukuman berupa pembebanan suatu prestasi tertentu. Yang paling penting dari isi amar putusan itu adalah tentang pokok perkara yang menjadi pangkal perselisihan. Dalam amar ditetapkan siapa yang berhak terhadap suatu hak atau siapa yang benar atas perselisihan yang diajukan ke pengadilan. Para hakim dalam menyusun amar putusan haruslah memperhatikan hal-hal berikut :
a. Harus bersifat tegas dan lugas.
b. Terperinci dan jelas maksudnya (tidak samar-samar)
c. Memperhatikan sifat dari putusan yang akan dijatuhkan, apakah konstitutif, deklaratdir atau condemnatdir. Hal ini penting karena menyangkut soal eksekui terhadap putusan yang dijatuhkan itu.
d. Ditulis secara ringkas, padat, dan terang maksudnya dan terhadap amar itu tidak perlu lagi ada interpretasi atau penafsiran. Dalam amar putusan harus disebutkan juga tentang besarnya biaya perkara yang harus ditanggung. Besarnya biaya ditanggung oleh siapa yang dikalahkan, penggugat, tergugat, atau kedua-duanya, menurut pasal 181 HIR dan pasal 192 R.Bg. Biaya perkara dalam sidang perkawinan dibebankan kepada penggugat atau pemohon berdasarkan pasal 89 ayat (1) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989. (Manan 2005, 296)
Banyaknya diktum pada amar putusan, boleh dikatakan sama dengan banyaknya petita penggugat, sebab pengadilan tidak boleh mengurangi atau menqambahnya gugatan dan tiap butir petita harus diadili. Amar putusan dalam reconventie atau dalam interventie atau dalam vrijwaring, disesuaikan dengan petita penggugat dalam reconventie, dalam interverntie dan dalam vrijwaring, (Rasyid 2015, 209)
3.2.6. Bagian penutup (kaki putusan)
Bagian kaki putusan yang dimaksudkan ialah dimulai dari kata- kata “Demikianlah putusan Pengadilan Agama…”. Dalam bagian ini disebutkan kapan putusan tersebut diputuskan (hari, tanggal, bulan dan tahun, baik tahun Masehi maupun tahun Hijriyah), dan dicantumkan pula nama hakim ketua dan hakim anggota yang memeriksa perkara itu sesuai dengan penetapan majelis hakim yang ditunjuk oleh Ketua Pengadilan Agama. Putusan juga harus ditandatangani oleh panitera pengganti yang ikut sidang. Di samping itu, perlu dicantumkan juga tentang hadir tidaknya penggugat atau tegugat dalam persidangan pada waktu putusan diucapkan. Apabila
penggugat atau tergugat tidak hadir pada sidang pertama, maka dalam putusan harus disebutkan. Hal ini penting karena berkaitan kepada siapa ongkos perkara dibebankan. Apabila penggugat atau tergugat atau kedua belah pihak tidak hadir pada waktu putusan diucapkan maka dalam putusan harus disebutkan tentang ketidakhadirannya.
Hal ini erat hubungannya dengan pemberitahuan putusan kepada yang bersangkutan, terutama kepada tergugat atau kuasanya. (Manan 2005, 297)
Setiap putusan harus diberi materai secukupnya dan di- tandatangani oleh Ketua Majelis, anggota-anggota sidang, serta oleh panitera pengganti yang ikut dalam peridangan. Sesuai dengan pasal 7 ayat (5) Undang-Undang No 13 Tahun 1989 tentang bea Materai, penandatanganan harus dicantumkan tanggal, bulan, dan tahun penandatanganan dilakukan. Tanda tangan harus dibuat dengan tinta atau yang sejenis dengan itu, sehingga sebagian tanda tangan ada di atas kertas dan sebagian lagi di atas materai temple. Khusus terhadap putusan pengadilan, tandatangan di atas materai cukup tanda tangan Ketua Majelis saja. Disebelah kiri putusan (bagian bawah) paling akhir, dicantumkan perincian biaya berapa biaya yang telah dipergunakan harus ditulis secara lengkap dan jumlah ini harus sama dengan apa yang terdapat dalam buku jurnal perkara di meja satu.
Perincian biaya ini merupakan rekening koran pengadilan bagi pihak yang berperkara. (Manan 2005, 297)
3.3. Macam-Macam Putusan
3.3.1. Dilihat dari segi sifatnya : 3.3.1.1. Putusan Declaratoir
Putusan declaratoir adalah putusan pengadilan yang amarnya menyatakan suatu keadaan di mana keadaan tersebut dinyatakan sah menurut hukum. Dalam putusan tersebut dinyatakan bahwa keadaan hukum tertentu yang dimohonkan
itu ada pengakuan sesuatu hak atas prestasi tertentu dan umumnya putusan model ini terjadi dalam lapangan hukum pribadi misalnya tentang pengakuan anak, tentang kelahiran, tentang penegasan hak atas suatu benda. (Manan 2005, 297- 298)
Putusan declaratoir biasanya bersifat menetapkan saja tentang keadaan hukum, tidak bersifat mengadili, karena tidak ada sengketa. Menyatakan dalam amar berarti menyatakan keadaan hukum tertentu yang dimohonkan itu ada demikian atau tidak ada. Jadi fungsinya adalah sebagai penegasan saja dari suatu keadaaan yang sudah ada, atau keadaan yang sudah tidak ada. (Manan 2005, 297-298) Misalnya, bahwa A adalah anak angkat yang sah dari X dan Y, atau bahwa A, B dan C adalah ahliwaris dari almarhum Z. (Sutantio, Oeripkartawinata 2009, 109)
Pada dasarnya, tidak ada putusan yang tidak bersifat atau mengandung amar deklarator apabila gugatan dikabulkan.
Misalnya sengketa perkara perbuatan melawan hukum berdasarkan pasal 1365 KUH Perdata. Jika gugatan dikabulkan, putusan didahului dengan amar deklarator berupa pernyataan, bahwa tergugat terbukti bersalah melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan putusan yang menolak gugatan pun, mengandung pernyataan atau deklarasi, bahwa gugatan penggugat ditolak. Penolakan itu sendiri, tiada lain dari penegasan bahwa penggugat tidak berhak atau tidak memiliki status atas masalah yang disengketakan. (Harahap 2014, 876) 3.3.1.2. Putusan constitutif
Putusan constitutif adalah putusan yang bersifat menghentikan atau menimbulkan hukum baru. Dalam putusan
ini suatu keadaan hukum tertentu dihentikan atau ditimbulkan suatu keadaan hukum baru. Misalnya, putusan tentang pembatasan suatu perjanjian, menyatakan pailit. Memutuskan suatu ikatan perkawinan, dan lain-lain. Dalam putusan contitutif biasanya tidak diperlukan pelaksanaan dengan paksaan, karena dengan diucapkannya putusan itu, sekaligus keadaan hukum yang lama terhenti dan timbul keadaan hukum yang baru.
(Manan 2005, 298)
Dalam contoh diatas dapat dilihat terjadinya perubahan keadaan hukum seseorang. Dari sisi para pihak, sebelum diputus cerai, mereka masih suami-istri. Sebelum diputuskan perkawinannya, perkawinan itu masih dianggap sah. Putusan konstitutif selalu berkenaan dengan status hukum seseorang atau hubungan keperdataan satu sama lain. putusan ini tidak memerlukan eksekusi. (Libis, Marzuki dan Dewi 2005, 156)
Hampir tidak ada batas antara putusan deklaratif dengan konstitutif. Misalnya putusan konstitutif yang menyatakan perjanjian batal, pada dasarnya amar yang berisi pembatalan perjanjian adalah bersifat deklaratif yakni yang berisi penegasan hubungan hukum atau keadaan yang mengikat para pihak dalam perjanjian itu tidak sah oleh karena itu perjanjian itu dinyatakan batal. (Harahap 2014, 877)
3.3.1.3. Putusan Condemnatoir
Putusan condemnatoir adalah putusan yang berisi penghukuman. Misalnya, dimana puhak tergugat di hukum untuk menyerahkan sebidang tanah berikut bangunan rumahnya, membayar utangnya. (Sutantio, Oeripkartawinata 2009, 110)
Putusan condemnatoir adalah putusan yang bersifat menghukum pihak yang kalah untuk memenuhi suatu prestasi
yang ditetapkan oleh hakim. Dalam putusan ini hak perdata penggugat yang dituntutnya terhadap tergugat diakui oleh hakim di muka sidang pengadilan. Dalam putusan condemnatoir ada pembenaran hak penggugat atas suatu prestasi yang dituntutnya atau sebaliknya tidak ada pengakuan atau tidak ada pembenaran atas suatu prestasi yang dituntunya. Hak terhadap suatu prestasi yang dituntutnya oleh hakim dibenarkan, serta ditetapkan dalam putusan yang bersifat condemnatoir. Terhadap hal ini dapat dilaksanakan secara paksa (forcelijk executie).
Dalam putusan yang bersifat condemnatoir, amar putusan harus mengandung kalimat berikut :
a. Menghukum tergugat untuk berbuat sesuatu ; b. Menghukum tergugat untuk tidak berbuat sesuatu c. Menghukum tergugat untuk menyerahkan sesuatu d. Menghukum tergugat untuk membongkar sesuatu
e. Menghukum tergugat untuk menyerahkan sejumlah uang;
f. Menghukum tergugat untuk membagi;
g. Menghukum tergugat untuk mengosongkan.
Pencantuman salah satu kalimat tersebut di atas adalah sangat penting, karena tanpa ada kalimat tersebut di atas maka putusan yang dijatuhkan itu tidak dapat dilaksanakan atau tidak dapat dieksekusi. (Manan 2005, 298)
3.3.2. Dilihat dari segi isinya
3.3.2.1. Niet Onvankelijk Verklaar (N.O.)
Niet Onvankelijk Verklaar (N.O.) berarti tidak dapat diterima gugatannya, yaitu putusan pengadilan yang diajukan oleh penggugat tidak dapat diterima, karena ada alasan yang dibenarkan oleh hukum. (Manan 2005, 299) Adapun alasan tidak diterimanya gugatan penggugat ada beberapa kemungkinan sebagai berikut :
a. Gugatan tidak berdasarkan hukum
Gugatan yang diajukan oleh penggugat harus betul-betul ada (tidak hanya diada-adakan saja), juga harus jelas dasar hukumnya bagi penggugat yang menuntut haknya. Adanya kepentingan hukum cukup merupakan syarat utama untuk dapat diterimanya suatu gugatan oleh pengadilan guna diperiksa alas point d’interest, poin d’action. Jadi kalau tidak ada dasar hukum dari gugatan yang diajukan, maka gugatan tersebut tidak diterima.
b. Gugatan tidak mempunyai kepentingan hukum secara langsung pada penggugat.
Tidak semua orang yang mempunyai kepentingan hukum dapat mengajukan gugatan apabila kepentingan itu tidak langsung melekat pada dirinya. Orang yang tidak ada hubungan langsung harus mendapat kuasa lebih dahulu dari orang atau badan hukum yang berkepentingan langsung untuk mengajukan gugatan. Ini penting agar setiap orang tidak asal-asalan mengajukan gugatan ke pengadilan yang nantinya akan berakibat tidak diterimanya gugatan yang diajukan. Yurisprudensi Mahkamah Agung RI Tanggal 7 Juli 1971 Reg. No 194 K/ Skip/1971 mensyaratkan bahwa gugatan harus diajukan oleh orang yang mempunyai hubungan hukum. Kalau hal ini tidak terpenuhi maka gugatan tidak diterima.
c. Gugatan kabur (obscuurlibel)
Dalam arti posita dan petitum dalam gugatan tidak saling mendukung atau dalil gugat kontradiksi. Mungkin juga objek yang disengketakan tidak jelas (apa, dimana dan berapa
besarnya). Mungkin juga petitum tidak jelas atau tidak diperinci secara jelas tentang apa yang diminta.
d. Gugatan masih prematur
Gugatan belum semestinya diajukan karena ketentuan Undang-Undang belum terpenuhi. Misalnya, utang belum masanya untuk ditagih atau belum jatuh tempo, tetapi penggugat telah memaksanya untuk membayar, sehingga timbul perselisihanyang menyebabkan penggugat mengajukan gugatan kepengadilan. Gugatan seperti ini tentu tidak akan diterima oleh hakim.
e. Gugatan Nebis in idem
Gugatan yang diajukan oleh penggugat sudah pernah diputus oleh pengadilan yang sama, dengan obyek sengketa yang sama dan pihak-pihak yang bersengketa yang sama orangnya. Apa yang menjadi sengketa adalah sama dengan yang telah diputus dan putusan tersebut telah berkekuatan hukum tetap (BHT). Terhadap hal ini hukum berbeda pendapat, ada yang berpendapat bahwa nebis in idem dalam hukum perdata tidak ada, yang ada hanya dalam hukum pidana. Sementara para pakar hukum yang lain mengatakan bahwa Nebis ini idem dalam hukum perdata tetap ada. Ini perlu karena mengadili hal yang telah diputus oleh pengadilan yang sama akan menimbulkan tidak adanya kepastian hukum, dan hilangnya kewibawaan pengadilan dimata masyarakat.
f. Gugatan error in persona
Gugatan salah alamat, ini dapat bersifat semis aan leading heid. Misalnya seorang ayah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan untuk anak perempuannya , ia menggugat suami
anaknya dengan tuntutan agar pengadilan menceraikan anaknya dengan suaminya. Jadi bukan anaknya sendiri yang mengajukannnya. Gugatan seperti ini harus dinyatakan oleh hakim tidak dapat diterima atau N.O.
g. Gugatan telah lampau waktu (daluwarsa)
Gugatan yang diajukan oleh penggugat telah melampaui waktu yang telah ditentukan undang-undang. Misalnya dalam pasal 27 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan disebutkan bahwa seorang suami atau istri dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan apabila perkawinan dilangsungkan di bawah ancaman yang melanggar hukum. Selanjutnya dikemukakan pula bahwa seorang suami atau istri dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan apabila pada waktu berlangsungnya perkawinan terjadi salah sangka mengenai diri suami atau istri. Apabila ancaman telah berhenti, atau yang bersalah sangka itu menyadari keadaannya, dan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan setelah itu masih tetap hidup sebagai suami istri, dan tidak mempergunakan haknya untuk mengajukan permohonan pembatalan, maka haknya gugur. Dengan hal tersebut di atas, apabila penggugat mengajukan gugatan ke pengadilan, maka gugatannya tidak diterima karena mengajukan gugatan telah lewat waktu yang telah ditentukan oleh undang-undang.
h. Pengadilan tidak berwenang mengadili
Suatu gugatan yang diajukan kepada pengadilan yang tidak berwenang, baik menyangkut kewenangan absolut maupun menyangkut kewenangan relatif akan diputus oleh pengadilan tersebut dengan menyatakan dirinya tidak berhak mengadili perkara atau gugatan itu. Oleh karena itu gugatan
harus dinyakan tidak diterima atau Niet onvankelijk verklaart.
(Manan 2005, 299-300) 3.3.2.2. Gugatan dikabulkan
Apabila suatu gugatan yang diajukan kepada pengadilan dapat dibuktikan kebenaran dalil gugatannya, maka gugatan tersebut dikabulkan seluruhnya. Jika sebagian saja yang terbukti dalil gugatannya, maka gugatan tersebut dikabulkan sebagian. Adakalanya suatu gugatan dikabulkan oleh pengadilan, tetapi tidak dapat dilaksanakan atau dieksekusi, hal ini disebabkan adanya kelemahan dalam mencantumkan amar putusan terutama tentang amar condemnatoir. Oleh karena itu apabila dikabulkan suatu gugatan maka amar putusan yang akan dimuat dalam putusan itu betul-betul harus diperhatikan, terutama sekali adalah amar yang bersifat condemnatoir. Dengan demikian, putusan yang dikabulkan itu dapat membawa manfaat kepada semua pihak, terutama para pihak yang berperkara. (Manan 2005, 299-302)
Putusan ini memuat diktum mengabulkan gugatan penggugat, putusan ini bersifat positif, dan merupakan kebalikan dari diktum menolak gugatan penggugat. Kalau dalam penolakan gugatan tidak terjadi perubahan hubungan hukum, sehingga apa yang disengketakan maupun objek sengketa tetap seperti sediakala di tangan pihak tergugat maka dalam pengabulan gugatan, terjadi koreksi hubungan hukum yang menguntungkan pihak tergugat. (Harahap 2014, 893)
Pengabulan gugatan dapat seluruhnya atau sebagian.
Hakim berwenang mengabulkan seluruh gugatan penggugat.
Akan tetapi agar kewenangan itu tidak melampaui batas atau supaya kewenangan itu tidak bercorak penyalahgunaan
kekuasaan, pengabulan itu harus ditegakkan berdasarkan patokan berikut.
a. Dalil atau posita gugatan mempunyai dasar hukum (rechtsgrond) dan dasar fakta yang jelas dan terang.
b. Seluruh dalil gugatan berhasil dibuktikan penggugat dengan alat bukti yang mencapai batas minimal pembuktian.
c. Petitum sejalan dengan dengan dalil gugatan.
d. Tuntutan penggugat dalam petitum masih dalam batas- batas kepatutan, peradaban, dan kemanusiaan atau tidak bertentangan dengan kepentingan dan ketertiban umum dan kesusilaan yang digariskan pasal 1337 KUH Perdata.
Sebagai kebalikan dari pengabulan seluruh gugatan adalah pengabulan sebagian saja. Meskipun terpenuhi kriteria gugatan mempunyai dasar hukum yang jelas, antara posita dan petitum sejalan dan saling mendukung, akan tetapi :
a. Dalil gugatan yang terbukti hanya sebagian saja, atau b. Sedang yang sebagian lagi tidak terbukti.
Maka dalam kasus seperti ini, tidak ada dasar hukum untuk mengabulkan seluruh gugatan. Dalam kasus seperti ini , dalam amar putusan harus terdapat penegasan:
a. Mengabulkan gugatan penggugat sebagian sebagai diktum pertama,
b. Dan penegasan menolak gugatan selebihnya sebagai diktum terakhir.
Tata cara penerapan yang demikian antara lain dikemukakan dalam putusan MA No. 797 K/Sip/1972 yang mengatakan, jika pengadilan hanya mengabulkan gugatan untuk sebagian, dalam putusan tersebut harus pula tercantum amar yang berbunyi : menolak gugatan selebihnya. Sekiranya
yang dikabulkan hanya sebagian saja, kemudian tidak ada amar yang menegaskan menolak selebihnya, sehingga putusan terkesan mengandung kontroversi.
Pengabulan gugatan dapat juga berbentuk mengabulkan sebagian dan menyatakan tidak dapat diterima sebagian yang lain. penerapan yang demikian, apabila berhadapan dengan gugatan, dimana sebagian dalil gugatan mempunyai dasar hukum dan fakta yang jelas dan benar. Di samping itu, terdapat lagi gugatan yang mengandung cacat formil, seperti tidak memeliki dasar hukum, prematur atau daluwarsa, dan sebagainya.Sedang dalil gugatan yang mempunyai dasar hukum tersebut dapat dibuktikan penggugat kebenarannya.
Maka dalam kasus yang seperti itu putusan yang dijatuhkan harus mencantumkan amar:
a. Mengabulkan gugatan penggugat sebagian, yang dirinci satu per satu,
b. Dan menyatakan gugatan penggugat tidak dapat diterima untuk selebihnya.
c. Pengabulan gugatan juga dapat berbentuk mengabulkan sebagian serta tidak dapat diterima sebagian. Dalam putusannya memuat amar yang berisi tiga jenis penegasan:
d. Mengabulkan sebagian gugatan, meliputi petitum yang dalil gugatannya berhasil dibuktikan penggugat.
e. Menolak sebagian gugatan, meliputi petitum yang dalil gugatannya tidak terbukti.
f. Menyatakan bagian yang lain tidak dapat diterima, misalnya dalil yang bersangkutan tidak mempunyai dasar hukum atau dalil gugatan itu masih prematur. (Harahap 2014, 894-896)
3.3.2.3. Gugatan Ditolak
Suatu gugatan yang diajukan oleh penggugat ke pengadilan dan di depan sidang pengadilan penggugat tidak dapat mengajukan bukti-bukti tentang kebenaran dalil gugatannya, maka gugatannya ditolak. Penolakan itu dapat terjadi seluruhnya atau hanya sebagian saja, tergantung si penggugat dapat mengajukan bukti gugatannya. (Manan 2005, 302) Perbedaannya dengan gugatan yang tidak dapat diterima adalah:
a. Putusan akhir yang menyatakan gugatan tidak dapat diterima, didasarkan pada cacat formil yang terkandung atau melekat pada gugatan penggugat, seperti surat kuasa tidak memenuhi sarat, error in persona, gugatan di luar yuridiksi absolut atau relatif, obscuur libel, nebis in idem, prematur atau daluwarsa.
b. Putusam akhir dengan amar menolak gugatan penggugat seluruhnya, landasan dasar pertimbangannnya, penggugat tidak berhasil atau tidak mampu membuktikan dalil gugatannya. (Harahap 2014, 892)
3.3.2.4. Gugatan Didamaikan
Pasal 130 ayat (1) HIR dan pasal 154 ayat (1) R.Bg mengemukakan bahwa hakim harus berusaha untuk mendamaikan kedua belah pihak yang bersengketa sebelum diputus. Jika hakim lalai tidak melaksanakan perdamaian, maka akibat hukum tehadap pelaksaan persidangan pihak tergugat/termohon dapat mengajukan eksepsi bahwa pelaksanaan persidangan batal demi hukum. Putusan yang dijatuhkan oleh hakim tingkat pertama dapat dimintakan pembatalan dalam tingkat banding. Jika terhadap sengketa yang berhubungan dengan perkawinan (seperti perceraian),
berhasil didamaikan atau jika kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri persengketaannya, maka hakim menjatuhkan putusan perdamaian atau akta vanvergelijke (pasal 154 ayat (2) R.Bg atau pasal 130 ayat (2) HIR. (Manan 2005, 303)
Terhadap akta perdamaian di luar masalah perkawinan dapat dilaksanakan eksekusi dengan pasal 154 ayat (2) R.Bg atau pasal 130 HIR, sedangkan dalam masalah perkawinan tidak dapat dieksekusi dan oleh karena itu tidak perlu dibuat akta perdamaian, kalau terjadi perdamaian maka perkara yang diajukan itu dicabut. Pada asasnya perdamaian hanya terjadi pada sidang pertama di tingkat pertama, sebelum pemeriksaan pada pokok perkara sebagaimana tersebut dalam pasal 130 ayat (1) HIR Pasal 154 ayat (1) R.Bg. jika mereka sepakat untuk berdamai dan mengakhiri sengketa di antara mereka, maka dibuat akta perdamaian (acte van dading) sesuai dengan pasal 1851 BW. Lain halnya dalam perkara perkawinan, perdamaian dapat dilaksanakan terus-menerus dalam setiap persidangan, sesuai dengan pasal 31 ayat (2) Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1875 jo. Pasal 82 ayat (4) Undang-Undang No 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.
Mengenai teknis pencabutan gugatan ada dua pendapat.
Pendapat pertama mengatakan bahwa apabila terjadi perdamaian maka perkara dicabut, tentang pencabutan ini cukup dicatat dalam Berita Acara Sidang, tidak perlu dibuat produk putusan atau penetapan. Pendapat kedua mengatakan bahwa terhadap perkara yang dicabut apabila terjadi perdamaian maka perlu dibuat produk putusan atau penetapan, tidak hanya sekedar ditulis dalam Berita Acara Sidang Pengadilan. Pendapat kedua lebih banyak diikuti oleh Pengadilan Agama, sebab hal ini lebih memudahkan dalam
minutasi dan juga memudahkan perhitungan biaya perkara.
(Manan 2005, 304-305) 3.3.2.5. Gugatan Digugurkan
Berdasarkan pasal 124 HIR dan pasal 148 R.Bg, apabila penggugat tidak hadir menghadap pengadilan pada hari sidang yang telah ditentukan, dan tidak menyuruh orang lain sebagai wakilnya padahal ia telah dipanggil secara patut, sedangkan tergugat hadir, maka untuk kepentingan tergugat yang sudah mengorbankan waktu dan mungkin juga uang, putusan haruslah diucapkan. Dalam hal ini gugatan penggugat dinyatakan gugur dan dihukum untuk membayar ongkos perkara. Sebelum gugatan digugurkan, hakim harus terlebih dahulu dengan teliti memeriksa berita acara pemanggilan para pihak yang berperkara, apakah panggilan telah dilaksanakan secara resmi dan patut. Sekiranya pemanggilan tidak dilakukan sebagaimana mestinya, maka hakim tidak dibenarkan menggugurkan gugatan penggugat, melainkan harus memerintahkan jurusita untuk memanggil penggugat sekali lagi. (Manan 2005, 305)
Tentang biaya pemanggilan yang tidak sah itu, seharusnya menjadi tanggung jawab dari juru sita yang telah melakukan pemanggilan tidak sah itu. Untuk memutus gugur gugatan yang diajukan oleh penggugat, isi gugatan tidak diperiksa, sehingga putusan yang ditetapkan oleh hakim hanya mengenai gugatannya saja tidak mengenai isi atau pokok perkaranya. Dengan dinyatakan gugur gugatan penggugat, maka perkaranya dianggap sudah selesai diperiksa. Kepada penggugat diberi kesempatan untuk mengajukan gugatan lagi dalam bentuk perkara baru. Kalau penggugat hadir pada hari sidang pertama, tetapi pada hari sidang berikutnya tidak hadir,
maka perkaranya diperiksa secara contrdictoir dan bukan digugurkan. (Manan 2005, 306)
3.3.2.6. Gugatan Dibatalkan
Apabila penggugat sudah pernah hadir dalam sidang pengadilan, kemudian pada sidang-sidang selanjutnya tidak pernah lagi, maka panitera berkewajiban untuk memberitahukan kepada penggugat agar ia hadir dalam sidang dan membayar ongkos perkara tambahan sesuai dengan yang ditetapkan. Apabila dalam tempo satu bulan sejak tanggal pemberitahuan itu penggugat tidak juga hadir untuk menghadap sidang dan membayar tambahan biaya perkara, maka gugatannya dinyatakan dibatalkan. Teknis pembatalan perkara tersebut adalah dengan membuat produk penetapan.
Berkas perkara tetap diminutasi dan tetap harus dilaporkan sesuai pola Bindalmin. (Manan 2005, 306)
3.3.2.7. Gugatan Dihentikan (aanhanging)
Penghentian gugatan disebabkan karena adanya perselisihan kewenangan mengadili antara Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri. Kalau terjadi hal seperti ini, maka baik Pengadilan Agama maupun Pengadilan Negeri harus menghentikan pemeriksaan tersebut, dan kedua badan peradilan itu hendaknya mengirimkan berkas perkara ke Mahkamah Agung Republik Indonesia untuk ditetapkan siapa yang berwenang memeriksa dan mengadili perkara tersebut.
Penghentian sementara pemeriksaan gugatan tersebut bisa ditempuh dengan cara mencatat dalam Berita Acara Sidang, atau bisa juga dengan Pentapan Majelis. (Manan 2005, 306)
3.3.3. Dilihat dari Jenisnya 3.3.3.1. Putusan Sela
Putusan sela disebut juga putusan sementara (tempory award, interim award). Ada juga yang menyebutnya dengan incidenteel vonnis atau putusan insidentil. Bahkan disebut juga tussen vonnis yang diartikan putusan sementara. Megenai putusan sela disinggung dalam pasal 185 ayat (1) HIRatau pasal 48 Rv. Menurut pasal tersebut, hakim dapat mengambil atau menjatuhkan putusan yang bukan putusan akhir (eind vonnis), yang diajatuhkan pada saat proses pemeriksaan berlangsung. Namun, putusan itu tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan satu kesatuan dengan putusan akhir menegenai pokok perkara. Jadi, hakim sebelum menjatuhkan putusan akhir dapat mengambil putusan sela baik yang berbentuk putusan prepatoir atau interlocutoir. Putusan sela berisi perintah yang harus dilakukan para pihak yang berperkara untuk memudahkan hakim menyelesaikan pemeriksaan perkara, sebelum menjatuhkan putusan akhir. (Harahap 2014, 880)
Putusan sela ialah putusan yang diajatuhkan masih dalam proses pemeriksaan perkara denga tujuan untuk memperlancar jalannya pemeriksaan. Putusan sela tidak mengakhiri pemeriksaan, tetapi akan berpengaruh terhadap arah dan jalannnya pemeriksaan. Putusan sela dibuat seperti putusan biasa tetapi tidak dibuat secara terpisah melainkan ditulis di dalam Berita Acara Persidangan (BAP) saja. (Lubis, Marzuki dan Dewi 2005, 150) Putusan sela adalah putusan yang belum merupakan putusan akhir. Putusan sela tidak mengikat hakim. Bahkan hakim yang menjatuhkan putusan
sela berwenang mengubah putusan sela tersebut jika ternyata mengandung kesalahan. Perlunya putusan sela diantaranya : a. Adanya eksepsi dari tergugat
b. Pihak mengajukan hak ingkarnya
c. Adanya permintaan dari pihak agar pihak ketiga diikutsertakan ke dalam proses yang sedang berjalan (vrijwaring) atau ada pihak ketiga yang berkeinginan ikut serta ke dalam proses yang sedang berjalan (intervensi);
d. Adanya permohonan sita (beslag);
e. Adanya gugatan/ permohonan provisional, seperti istri dalam gugatan cerai meminta ditetapkan nafkah anak atau berpisah rumah dari suaminya selama perkara sedang berlangsung.
f. Dan lain-lain.
jika tergugat mengajukan eksepsi relatif pada sidang pertama maka hakim wajib memutusnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan pemeriksaan atas pokok perkara dan putusan di sini disebut putusan sela. Akan tetapi, jika majelis hakim mengabulkan eksepsi tergugat, hal mana berarti pemeriksaan terhadap pokok perkara akan stop (tidak jadi) berarti putusan sela disitu akan menjadi putusan akhir, karenanya penggugat boleh naik banding atas putusan tersebut. Jika pihak mengajukan keberatan perkaranya diperiksa oleh hakim atau panitera yang sedang menyidangkan perkaranya karena hakim atau panitera ada diantaranya yang terhalang oleh peraturan perundang-undangan untuk menyidangkan perkara itu maka hakim harus mengambil putusan sela. (Rasyid 2015, 212)
Jika permohonan sita diajukan setelah sidang berjalan maka hakim harus mengambil keputusan sela apakah
permohonan sita tersebut dikabulkan atau ditolak. Jika perkara sedang berlangsung antara dua pihak, salah satu pihak meminta kepada hakim agar pihak ketiga diikutsertakan ke dalam proses maka hakim harus mengambil keputusan apakah permohonan itu diakabulkan atau tidak. Begitu juga kalau ada pihak ketiga yang mengajukan permohonan untuk turut ke dalam proses yang sedang berjalan (vrijwaring). Jika seorang istri sedang menggugat suaminya untuk cerai misalnya tetapi selama sidang berjalan istri memohon kepada Pengadilan Agama agar diizinkan suami-istri tidak tinggal serumah dengan pertimbangan kemungkinan bahaya yang akan ditimbulkan maka majelis hakim harus mengambil keputusan sela apakah permohonan tersebut dikabulkan atau ditolak. (Rasyid 2015, 212)
Dalam teori dan praktik dikenal beberapa jenis putusan yang muncul dari putusan sela, antara lain sebagai berikut : a. Putusan preparatoir yaitu putusan sela guna
mempersuapkan putusan akhir, tanpa ada pengaruhnya atas pokok perkara atau putusan akhir. Contohnya adalah putusan untuk menggabungkan dua perkara atau untuk menolak diundurkannya pemeriksaan saksi-saksi.
b. Putusan interlocutoir yaitu putusan putusan yang isinya memerintahkan pembuktian dan dapat mempengaruhi putusan akhir. Misalnya putusan untuk memeriksa saksi- saksi atau pemerikaaan setempat.
c. Putusan insidentil yaitu putusan atas suatu perselisihan yang tidak begitu mempengaruhi atau berhubungan dengan pokok perkara. Misalnya dalam hal terjadi voeging, tussenkom, prodeo, penetapan sita dan lain-lain.
d. Putusan provisi yaitu putusan yang menjawab tuntutan provisionil, yaitu permintaan para pihak yang bersangkutan agar untuk sementara diadakan tindakan pendahuluan. Misalnya dalam hal istri menggugat suaminya, di mana gugatan pokoknya adalah cerai, akan tetapi sebelum itu karena suami yang digugatnya itu telah melalaikan kewajibannya untuk memberi nafkah kepada istrinya itu, pihak istri karena sangat membutuhkan biaya hidup, memohon kepada majelis hakim agar ditetapkan nafkah yang dilalaikan oleh suaminya itu sebelum putusan akhir dijatuhkan terhadap gugatan cerai yang diajukannya.
3.3.3.2. Putusan Akhir
Setelah hakim selesai memeriksa perkara dan tidak ada lagi hal-hal yang perlu diselesaikan dalam persidangan, maka hakim menjatuhkan putusan terhadap perkara yang diperiksanya. Putusan tersebut dinamakan putusan akhir.
Putusan akhir adalah suatu pernyataan yang oleh hakim, sebagai penajabat Negara yang diberi wewenang untuk itu, diucapkan dalam persidangan dan bertujuan untuk mengakhiri atau menyelesaikan perkara atau sengketa antara para pihak yang berperkara dan diajukan kepada pengadilan.
Mahkamah Agung RI dengan Surat Edaran Nomor 5 Tahun 1959 dan Nomor 1 Tahun 1962 tanggal 7 Maret 1962 menginstruksikan agar pada waktu putusan diucapkan, konsep putusan harus sudah selesai dibuat. Jika ada perbedaan antara yang diucapkan dengan yang ditulis, maka yang sah adalah yang diucapkan dalam persidangan yang terbuka untuk umum.
Lahirnya putusan itu sejak diucapkan oleh hakim dalam persidangan. (Manan 2005, 308)
3.4. Kekuatan Putusan
Putusan pengadilan mempunyai 3 kekuatan, yaitu : (1) kekuatan mengikat (bindende kracht), (2) kekuatan bukti (bewijzende kracht), dan (3) kekuatan eksekusi (executoriale kracht). Suatu putusan mempunyai kekuatan mengikat dan menpunyai kekyatan bukti ialah setelah putusan tersebut memperoleh kekuatan hukum tetap (in kracht). Suatu putusan dikatakan in kracht ialah apabila upaya hukum seperti verzet, banding, kasasi tidak dipergunakan dan tenggang waktu itu sudah habis, atau telah mempergunakan upaya hukum tersebut dan sudah selesai.
Upaya hukum terhadap putusan yang telah in kracht tidak ada lagi, kecuali permohonan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung tetapi hanya dengan alasan-alasan sangat tertentu sekali. Putusan yang sudah in kracht, sekalipun ada dimohonkan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung, tidak terhalang untuk dieksekusi, itulah yang dikatakan mempunyai kekuatan eksekusi. Suatu putusan dikatakan mempunyai kekuatan bukti misalnya putusan cerai. Ia merupakan bukti otentik terjadi perceraian. (Rasyid 2015, 213) berikut penjelasan macam-macam kekuatan putusan :
3.4.1. Kekuatan Mengikat
Putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap tidak dapat diganggu gugat lagi. Putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum pasti bersifat mengikat. Dalam pribahasa hukum disebut “res judicata proveritate habitur”
artinya putusan yang pasti dengan sendirinya mengikat, apa yang diputus oleh hakim dianggap benar dan pihak-pihak yang berperkara berkewajiban untuk memenuhi isi putusan tersebut.
(Manan 2005, 309)
Pada prinsipnya putusan pengadilan itu untuk menyelesaikan perselisihan antara mereka sebagaimana yang
mereka kehendaki. Pihak-pihak yang berperkara tersebut harus tunduk dan patuh kepada putusan yang dijatuhkan oleh pengadilan. Mereka harus patuh dan menghormati putusan itu dan tidak boleh melakukan tindakan yang bertentangan dengan putusan tersebut, karena putusan mempunyai kekuatan hukum mengikat terhadap pihak-pihak yang berperkara (pasal 1917- 1920 BW). Ini dalam arti yang positif. Dalam arti negatif kekuatan mengikat pada suatu putusan ialah bahwa hakim tidak boleh memutus perkara yang pernah diputus sebelumnya antara pihak yang sama serta mengenai pokok perkara yang sama.
Ulangan dari tindakan itu tidak akan mempunyai akibat hukum yang seperti disebutkan “nebis in idem” (pasal 134 Rv). Di dalam hukum acara kita putusan mempunyai kekuatan hukum mengikat baik dalam arti positif maupun dalam arti negative, sebgaimana pasal 1917-1920 BW.Sifat mengikat dari putusan itu bertujuan untuk menetapkan suatu hak atau suatu hubungan hukum antara pihak-pihak yang berperkara. (Manan 2005, 309) 3.4.2. Kekuatan Pembuktian
Sebagaimana telah diterangkan di muka, bahwa putusan harus dibuat secara tertulis. Tujuannnya adalah untuk dapat dipergunakan untuk keperluan banding, kasasi atau juga untuk eksekusi. Putusan itu sendiri merupakan akta otentik yang dapat dipergunakan sebagai alat bukti. Putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap dapat dipergunakan sebagai alat bukti oleh pihak-pihak yang berperkara, sepanjang mengenai peristiwa yang telah ditetapkan dalam putusan itu. Karena putusan hakim itu membentuk secara konkret (concreto) maka peristiwa yang telah ditetapkan itu dianggap benar, sehingga memperoleh
bukti sempurna yang berlaku baik antara pihak-pihak yang berperkara, maupun pihak ketiga. (Manan 2005, 310)
3.4.3. Kekuatan Eksekutorial
Putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap atau memperoleh kekuatan hukum yang pasti, mempunyai kekuatan yang pasti, mempunyai kekuatan untuk dilaksanakan (executorialekracht, executionary power). Bagi pihak yang dinyatakan kalah berkewajiban melaksankan putusan tersebut secara sukarela. Jika sekiranya pihak yang kalah tidak mau melaksanakan isi putusan tersebut, maka putusan itu dapat dilaksanakan secara paksa oleh Ketua pengadilan. Putusan pengadilan itu baru dapat dilaksanakan apabila ada title eksekutorial yang berbunyi “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”, apabila tidak mencantumkan kata-kata tersebut maka putusan itu tidak dapat dilaksanakan eksekusinya (pasal 4 ayat (1) Undang- Undang No 14 Tahun 1970 jo. Pasal 57 ayat (1) Undang- Undang No 7 Tahun 1989). Hanya putusan yang bersifat condemnatoir saja yang memerlukan eksekusi, sedangkan putusan yang bersifat declratoir dan constitutive tidak memerlukan eksekusi. (Manan 2005, 310)