• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untuk Negeri Adil Makmur. Ridwan Hasan Saputra. Klinik Pendidikan MIPA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Untuk Negeri Adil Makmur. Ridwan Hasan Saputra. Klinik Pendidikan MIPA"

Copied!
190
0
0

Teks penuh

(1)

(2)

(3)

Untuk Negeri Adil Makmur

Ridwan Hasan Saputra

Klinik Pendidikan MIPA

(4)

Judul

Untuk Negeri Adil Makmur

ix + 182 halaman : 14,8 x 21 cm

ISBN : 978-623-5416-01-4 Penulis : Ridwan Hasan Saputra Editor : Tim KPM

Penata Letak : Tim KPM Desain Sampul : Tim KPM

Penerbit Klinik Pendidikan MIPA

Ruko 6 No. 1-3, Jl. Raya Laladon RT03/RW06, Ds. Laladon, Kec. Ciomas, Kab. Bogor

Telepon (0251)8630026 / 0812.8458.5755 Email: [email protected]

https://read1group.org

(5)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... v

PRAKATA ...vii

BAB 1. KONDISI MANUSIA INDONESIA ... 1

A. Membangun Orang Indonesia ... 3

B. Tujuan Hidup Manusia ... 7

C. Kondisi Manusia Indonesia Saat Ini. ... 13

BAB 2. KALBU DAN SOLUSI MASALAH ... 21

A. Apa Itu Kalbu ... 24

B. Kalbu dan Solusi Masalah ... 28

C. Tabungan Jiwa dan Masalah Negara ... 31

BAB 3. CIRI MANUSIA SUPRARASIONAL (Bagian 1) ... 37

A. Akhlak kepada Allah ... 41

B. Akhlak Terhadap Rasulullah Saw. ... 56

C. Manfaat Akhlak pada Allah dan Rasulullah ... 59

BAB 4. CIRI MANUSIA SUPRARASIONAL (Bagian 2) ... 61

A. Akhlak Terhadap Diri Sendiri ... 67

B. Akhlak Terhadap Keluarga ... 80

(6)

BAB 5. CIRI MANUSIA SUPRARASIONAL (Bagian 3) ... 85

A. Akhlak Terhadap Masyarakat ... 87

B. Akhlak Terhadap Lingkungan ... 96

BAB 6. KEGIATAN SUPRARASIONAL (Bagian 1) ... 103

A. Profil Klinik Pendidikan MIPA ... 107

B. Cabang, KMS, PJ Lomba dan KS-MIPA KPM ... 111

C. Informasi dan Narahubung KPM ... 122

BAB 7. KEGIATAN SUPRARASIONAL (Bagian 2) ... 124

A. Profil Read1 Human School ... 124

B. Profil Jaringan Suprarasional ... 130

C. Profil Koperasi Simpan Pinjam ... 137

D. Mengubah Sampah Jadi Berkah ... 145

BAB 8. MANUSIA SUPRARASIONAL ... 148

A. Presiden RI dan Saya ... 153

B. Membentuk Manusia Suprarasional ... 156

C. Indonesia Adil Makmur ... 164

DAFTAR PUSTAKA ... 174

(7)

PRAKATA

Alhamdulillah atas berkat dan rahmat Allah, akhirnya buku berjudul “Manusia Suprarasional” telah selesai dibuat.

Kegagalan saya naik haji furoda di awal Juli tahun 2022 membuat hati saya tergerak membuat buku ini. Gerakan hati yang awalnya kecewa berubah menjadi ke syukuran setelah buku ini bisa diselesaikan hanya dalam waktu kurang lebih 2 minggu. Bukan karena buku ini saja alasan saya bersyukur tetapi memang setelah saya renungkan lebih mendalam, ketidakberangkatan saya haji tahun ini adalah kehendak Allah yang terbaik untuk saya.

Rasa syukur akan adanya suatu kegagalan adalah suatu keterampilan yang ingin saya ajarkan melalui buku ini.

Keterampilan ini diperoleh karena saya terbiasa mengasah kalbu atau terbiasa berpikir suprarasional. Lebih jauh lagi, setelah saya berkaca pada penyebab kegagalan saya naik haji, saya ingin mengajak masyarakat untuk berpikir dan berkarakter suprarasional untuk membentuk manusia suprarasional agar kehidupan yang kita jalani indah dan penuh rasa syukur.

Awalnya saya menulis buku dengan judul “Manusia Suprarasional” adalah untuk memberi solusi masalah di

(8)

bidang haji, tetapi dalam proses perjalanannya penulisan buku ini membahas masalah kalbu yang berpengaruh dalam menyelesaikan masalah kehidupan manusia dan kehidupan bernegara. Tulisan-tulisan di buku ini banyak berkisah tentang perjalanan hidup saya yang mengandung hal-hal bersifat suprarasional. Di penghujung buku ini, saya menyimpulkan bahwa Indonesia saat ini membutuhkan banyak manusia suprarasional agar kehidupan bangsa dan negara Indonesia menjadi lebih baik. Seperti apa manusia suprarasional? Silakan nikmati dengan baik tulisan di buku ini.

Akhirnya sekali lagi saya bersyukur atas kegagalan saya naik haji tahun 2022 dan semoga Allah memberangkatkan saya haji bersama istri di tahun atau waktu yang terbaik. Saya berharap buku ini bermanfaat bagi para pembaca baik di dunia maupun di akhirat. Saya mohon maaf jika ada kekurangan dalam buku ini karena manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Semoga Allah memaafkan saya, keluarga dan, para pembaca serta memasukkan kita semua ke surga-Nya.

Bogor, 22 Juli 2022 Penulis

(9)

BAB 1. KONDISI MANUSIA INDONESIA

Kegagalan saya naik haji Furoda tahun 2022 ini membuat saya merasa menjadi salah satu orang yang beruntung. Sebab saya diyakinkan oleh Ustaz dari travel saya, bahwa orang yang gagal naik haji sedangkan dia sudah bersungguh-sungguh ingin naik haji, maka orang tersebut akan mendapat pahala haji yang sama dengan orang yang naik haji. Beliau kemudian menginformasikan dalilnya yang membuat saya yakin dengan hal itu. Inilah yang saya maksud beruntung, karena saya dapat pahala haji tanpa meninggalkan keluarga, biaya haji dikembalikan utuh dan pihak travel pun memberi bonus tas koper beserta berbagai perlengkapan haji. Perasaan beruntung itu, membuat hati saya yang awalnya kecewa berubah menjadi bahagia ketika mendapat informasi bahwa saya tidak jadi berangkat haji karena tidak mendapat visa. Kebahagiaan itu membuat saya setelah dari bandara langsung ke kantor dan besoknya masuk kerja dan pergi ke masjid seperti biasa.

Cara pandang untuk melihat segala sesuatu kejadian dari sudut pandang yang positif harus kita biasakan, agar

(10)

hidup kita selalu bersyukur dan bahagia. Cerita teman saya ketika gagal haji furoda, yang dilakukan adalah mengurung diri di rumah selama satu minggu karena malu bertemu dengan orang. Kemudian satu minggu berikutnya pergi jalan-jalan ke singapura untuk menenangkan diri. Bahkan ada cerita juga orang yang gagal haji furoda sengaja tidak pulang ke rumah sampai jadwal haji furodanya selesai. Sehingga orang mengira bahwa dirinya sedang naik haji. Memang banyak cara orang untuk bisa melepaskan diri dari rasa kecewa akibat kegagalan melaksanakan ibadah yang ke lima dalam rukun Islam tersebut. Sebab haji ini adalah keinginan besar banyak umat Islam.

Agar bisa mensyukuri suatu musibah atau kejadian yang tidak mengenakkan, memang perlu waktu dan perlu latihan tersendiri. Semoga buku yang saya tulis ini, membuat pembaca bisa punya kemampuan untuk mensyukuri apa yang terjadi. Buku ini dibuat karena dilatarbelakangi kegagalan saya naik haji dan saya buat pada saat orang- orang masih sibuk melontar jumrah dan melaksanakan berbagai ibadah di Mekkah dan Madinah. Motivasi saya adalah setelah musim haji selesai saya bisa menghasilkan karya yang bermanfaat buat umat dan saya berharap itulah

(11)

wujud kalau pahala haji saya diterima walaupun saya tidak berangkat haji. Sebab buat saya, manusia yang baik itu bukan dari banyaknya gelar yang dimiliki, tetapi dari seberapa banyak kemanfaatan yang bisa kita berikan untuk orang banyak. Saya doakan jamaah haji Indonesia tahun 2022 bisa menjadi haji yang mabrur dan setelah pulang haji bisa lebih memberi manfaat untuk umat.

A. Membangun Orang Indonesia

Cerita di atas, saya ungkapkan karena pengalaman saya yang baru gagal untuk mengikuti haji furoda di tahun 2022, membuat diri saya ingin memberikan solusi agar Indonesia menjadi lebih baik melalui buku ini. Haji furoda merupakan jalur alternatif bagi orang-orang yang ingin naik haji tanpa antre. Pandemi covid-19 yang berlangsung lebih dari 2 tahun, membuat minat orang-orang Indonesia untuk mengikuti haji furoda di tahun 2022 sangat banyak dan ternyata jauh melebihi kuota haji furoda yang tersedia di tahun 2022. Melihat kondisi ini tentunya pasti akan banyak jamaah haji furoda yang gagal berangkat.

(12)

Gambar 1. Pelaksanaan ibadah Haji di Mekkah

https://www.liputan6.com/news/read/4997799/cerita-jemaah-calon-haji-melihat- kabah-untuk-pertama-kali

Gagal berangkat dari jamaah haji furoda tentunya tidak akan menyebabkan kerugian yang banyak bagi jamaah dan perusahaan travel jika sistem haji furoda berjalan normal seperti tahun-tahun sebelumnya. Di tahun 2022 ini pembukaan visa haji furoda, waktunya sangat mendekati pelaksanaan puncak haji. Sehingga banyak perusahaan travel yang merugi karena tiket pesawat yang di pesan jauh-jauh hari akhirnya hangus, karena visa haji tidak kunjung terbit.

Walaupun katanya sistem visa haji furoda sudah menggunakan pendaftaran secara online, tetapi pada faktanya terjadi semacam tawar menawar harga untuk

(13)

mendapatkan visa, yang berani menawar lebih tinggi maka lebih berpeluang untuk mendapatkan visa. Saya pun termasuk orang yang harus menambah lagi untuk biaya visa, tetapi tidak jadi berangkat.

Lambatnya keluar visa haji furoda membuat banyak travel membawa para jamaah ke bandara, agar ketika visa sudah keluar, para jamaah bisa langsung berangkat. Faktanya para jamaah harus menunggu berhari-hari di bandara atau hotel dekat bandara untuk menunggu visa keluar. Kondisi jamaah yang sudah lelah dan jenuh membuat tidak sedikit jamaah yang berani membayar visa dengan harga yang tinggi, alasannya karena daripada menanggung rasa malu akibat tidak jadi naik haji. Situasi tidak ideal ini terjadi mungkin karena ada oknum-oknum yang memanfaatkan situasi haji furoda tahun 2022 untuk mendapatkan “cuan” di atas kesulitan orang-orang yang ingin beribadah Haji. Inilah yang membuat saya berpikir kalau Indonesia sulit maju, karena masih banyak orang yang tidak takut dengan Allah.

Saya mencoba melihat masalah dan mencari solusi masalah Indonesia dari sudut pandang suprarasional, karena hal ini sepertinya langka dibahas orang. Indonesia sebenarnya sangat berpotensi untuk menjadi negara maju,

(14)

tetapi masalah saat ini ada pada manusia-manusia Indonesia itu sendiri. Banyak manusia Indonesia saat ini yang otaknya cerdas tetapi kalbunya tidak cerdas dan sepertinya yang jauh lebih banyak adalah manusia-manusia Indonesia yang otaknya tidak cerdas dan kalbunya pun tidak cerdas, kedua jenis manusia ini tetap saja akan merepotkan untuk Indonesia.

Orang yang kalbunya tidak cerdas, yang menjadi fokus hidupnya biasanya adalah mencari uang, uang, dan uang dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. Dalam memperoleh uang pun sudah tidak lagi memikirkan apakah itu halal atau haram. Kondisi seperti ini terjadi tidak hanya di kalangan pejabat tetapi juga di kalangan masyarakat bawah.

Kesimpulan ini bisa saya buat berdasarkan pengalaman saya membina pengajian untuk orang-orang duafa, di mana para pesertanya akan mendapat pinjaman kalau rajin mengaji.

Tetapi setelah pinjaman itu mereka dapat ternyata mereka tidak mengaji lagi dan banyak yang tidak mengembalikan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka hari demi hari kondisi Indonesia akan semakin tidak baik, walaupun pembangunan yang bersifat fisik gencar dilakukan di mana- mana oleh pemerintah saat ini, tetapi jika mental orang

(15)

Indonesia rusak maka pembangunan fisik menjadi kurang berarti. Oleh karena itu, perlu ada program untuk memperbaiki kalbu orang Indonesia. Program perbaikan atau pendidikan kalbu harus segera dilakukan pemerintah secara serius sebelum terlambat, agar Indonesia bisa menjadi negara maju.

Tidak salah kalau para pendiri bangsa ini memberi pesan kalau ingin Indonesia raya, maka yang dilakukan

“bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Selama jiwa orang Indonesia tidak dibangun maka Indonesia tidak akan pernah menjadi negara maju. Sebab rakyat Indonesia akan menjadi beban negara bukan menjadi orang yang berjuang memajukan negara. Rasa saling curiga dan saling menjelekkan serta dendam akan menjadi budaya ketika jiwa orang Indonesia tidak diperbaiki. Hal ini akan mengganggu kehidupan baik pribadi maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.

B. Tujuan Hidup Manusia

Pada buku Karakter Suprarasional yang sudah saya tulis sebelumnya, manusia mempunyai tiga antena yaitu Panca Indera, akal, dan hati (kalbu). Sayangnya pendidikan di Indonesia hanya fokus pada mengasah Panca Indera dan akal

(16)

saja. Sehingga yang dikejar kebanyakan duniawi saja. Orang bekerja saat ini tujuannya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang berupa sandang, pangan, dan papan. Orang belajar pun tujuannya adalah agar mudah dapat pekerjaan, yang tujuan bekerjanya adalah untuk mudah memperoleh sandang, pangan, dan papan.

Kita lupa diajarkan bahwa ada kebutuhan primer manusia yang lain yaitu kebutuhan primer untuk jiwa manusia. Bentuk kebutuhan primer jiwa adalah mengingat Allah, yang implementasinya adalah beribadah kepada Allah.

Seharusnya bekerja itu adalah untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan serta memenuhi kebutuhan jiwa kita untuk bekerja. Biasanya para pelamar kerja bertanya saya akan digaji berapa? Jarang pelamar kerja yang bertanya apakah di sini saya boleh sholat, boleh mengaji, boleh sholat Dhuha, boleh puasa, dan lain sebagainya. Banyak yang tidak berpikir bahwa bekerja itu sebagai sarana untuk menambah tabungan jiwa, sarana untuk beribadah kepada Allah.

(17)

Gambar 2. Pelaksanaan Sholat berjamaah

(https://www.pexels.com/id-id/foto/salat-idul-fitri-12049053/)

Beribadah kepada Allah adalah sebagai wujud syukur.

Jika orang bersyukur maka Allah akan menambahkan nikmat atau rezekinya, salah satunya dalam bentuk ketenangan hati.

Jika orang hatinya tidak tenang maka akan selalu merasa tidak puas, walaupun segala macam kebutuhan hidup sudah terpenuhi. Ketidakpuasan itu akan membuat manusia jauh dari rasa syukur. Sikap seperti itu akan mendatangkan azab yang pedih. Sehingga kita sering mendengar orang-orang yang sudah kaya tetapi masih suka korupsi. Setelah korupsi akhirnya masuk penjara. Di sinilah pentingnya pendidikan

(18)

hati bagi manusia Indonesia agar kehidupan pribadi dan berbangsa menjadi lebih baik.

Jika manusia menyadari tujuan hidup manusia di dunia maka hidupnya akan menjadi lebih baik. Tujuan hidup manusia kalau dalam sudut pandang agama Islam adalah untuk beribadah kepada Allah. Sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an surah Az-Zariyat ayat 56.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”

Beribadah di sini artinya manusia harus melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Di sinilah letak keimanan dan ketakwaan yang ditunjukkan dengan ketaatan dalam beribadah. Pelaksanaan ibadah harus atas dasar ridho Allah dan sesuai dengan aturan Allah yang dicontohkan Rasulullah. Jika manusia taat beribadah, seperti yang saya tulis dalam buku Karakter Suprarasional, maka orang tersebut akan bertambah besar tabungan jiwanya. Semakin besar tabungan jiwanya maka akan semakin besar rezekinya dan semakin besar pula amanahnya.

Jika amanah semakin besar maka orang tersebut akan mendapat kuasa pada sesuatu. Bisa pada pemerintahan,

(19)

harta, ilmu, profesi, dan lain sebagainya. Amanah itu Allah berikan karena manusia tersebut berperan sebagai wakil Allah atau khalifah Allah di muka buni. Orang-orang inilah yang akan membawa kebaikan di muka bumi. Ketaatan itu insyaallah akan mendatangkan amanah atau kuasa pada seseorang. Oleh karena itu, jangan pernah malas untuk beribadah.

Menjadi khalifah Allah di muka bumi adalah juga tujuan dari manusia diciptakan sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 30

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi...”

Jadi, manusia diciptakan selain untuk beribadah kepada Allah juga untuk menjadi khalifah di muka bumi. Banyak manusia yang lupa akan hal ini, karena banyak manusia di dunia ini berlomba-lomba mengejar dunia sehingga melupakan ibadah. Akhirnya penyesalanlah yang didapat terutama setelah manusia tersebut meninggal dunia. Penyesalan itu bisa diketahui karena banyak orang yang sudah meninggal dunia ingin kembali ke dunia untuk beribadah. Sebagaimana yang tercantum pada Al-Qur’an surah Al-Munafiqun Ayat 10

(20)

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang

di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), "Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit

waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang sholeh."

Sebelum kita menyesal, maka perbanyaklah ibadah dari sekarang. Ibadah akan menghasilkan amanah atau kuasa atau kita akan menjadi orang yang punya peran di muka bumi. Hal yang harus diingat, amanah atau kuasa yang kita miliki harus dimanfaatkan untuk kebaikan sebanyak- banyaknya manusia. Jika itu terjadi maka kita adalah benar- benar khalifah Allah di muka bumi dan kita akan menjadi sebaik-baiknya manusia. Hal ini sesuai hadis nabi.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”

(HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Ad-Daruqutni).

Sebaik-baiknya manusia ini sebenarnya bisa menjadi motivasi bagi semua orang untuk berbuat baik. Karena sebenarnya menjadi sebaik-baiknya manusia bukan karena banyaknya harta yang dimiliki, gelar yang disandang, atau

(21)

kekuasaan yang dipegang. Hal ini harus menjadi budaya berpikir di masyarakat agar setiap orang bangga dengan profesinya asalkan memberi manfaat kepada orang lain. Hal yang tidak kalah penting adalah budaya menghargai orang yang memberi manfaat tanpa membandingkan profesi yang disandangnya. Lebih baik menjadi tukang sampah yang mampu membersihkan lingkungan dengan baik daripada pejabat yang korupsi.

Kemanfaatan yang diberikan tergantung dari kapasitas dan usaha manusia tersebut. Berdasarkan hal ini maka akan ada manusia yang bermanfaat untuk keluarga, lingkungan RT, RW, kota, provinsi, negara, dan dunia.

Kemanfaatan pun tidak harus berhubungan dengan kekuasaan. Bisa saja orang memberi manfaat dari sisi keilmuan, harta, tenaga, dan lain sebagainya. Berdasarkan hal ini, maka setiap orang, baik orang miskin atau pun kaya bisa menjadi orang bermanfaat. Jika manusia ingin semakin bermanfaat maka harus ada proses belajar dan terus belajar.

C. Kondisi Manusia Indonesia Saat Ini.

Menurut saya Indonesia akan menjadi negara maju jika umat Islam yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia berperan dalam kemajuan di Indonesia. Berdasarkan data

(22)

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), jumlah penduduk muslim di Indonesia sebanyak 237,53 juta jiwa per 31 Desember 2021. Jumlah itu setara dengan 86,9% dari populasi tanah air yang mencapai 273,32 juta orang. Jumlah

Gambar 3. Data pemeluk agama di Indonesia

(https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/09/30/sebanyak-8688- penduduk-indonesia-beragama-islam)

ini merupakan potensi yang sangat luar biasa untuk kemajuan Indonesia, jika orang Islam taat beribadah kepada Allah. Saya mencoba melihat tentang ketaatan umat Islam dalam beribadah berdasarkan data yang diperoleh dari informasi berikut.

Departemen Kaderisasi Pemuda PP Dewan Masjid Indonesia (DMI) bekerja sama dengan Merial Institute melakukan survei terhadap generasi muda muslim. Survei

(23)

berlangsung pada tanggal 17 – 21 Juli 2018. Jumlah responden sebanyak 888 orang pemuda Islam yang berusia 16 – 30 tahun dan berdomisili di 12 kota besar yakni Jakarta, Depok, Bekasi, Tangerang, Bogor, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Makassar, Medan, dan Palembang.

Hasilnya adalah 33,6 persen selalu datang beribadah di masjid setiap hari.

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) mencatat realisasi pengumpulan dana zakat di Indonesia mencapai Rp14 triliun pada 2021. Jumlah ini hanya sekitar 4,28 persen dari proyeksi potensi zakat di dalam negeri yang seharusnya mencapai Rp327 triliun. "Total pengumpulan nasional Rp14 triliun," ucap Ketua BAZNAS Noor Achmad di acara penyerahan zakat dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Selasa (CNN Indonesia, 12/4). Realisasi ini katanya lebih baik dari pada tahun sebelumnya.

Informasi tentang ketaatan umat Islam dalam hal puasa Ramadan sampai saat ini belum bisa saya dapatkan datanya, mungkin karena belum ada yang melakukan penelitian atau survei tentang ini. Sebab penelitian tentang puasa kategorinya sangat sulit, karena berhubungan dengan kejujuran. Kejujuran sangat berhubungan dengan kalbu yang

(24)

cerdas, kalau kalbu orang Indonesia kurang cerdas maka survei tentang ketaatan berpuasa di bulan Ramadan hasilnya akan bias.

Saya mencoba menganalisis dari data sholat dan zakat saja. Berdasarkan data tersebut bisa dilihat bahwa orang Islam Indonesia saat ini kurang taat beribadah. Efek dari kurang taat ini adalah umat Islam di Indonesia akan kurang mempunyai kuasa. Hal yang sangat menyedihkan adalah dalam hal nilai realisasi zakat yang sangat jauh dengan proyeksi potensi zakat. Hal ini menunjukkan penyadaran untuk taat perintah Allah dalam zakat sangat rendah. Nilai ketidaktaatan umat Islam yang sangat ekstrem dalam bidang zakat yang sangat berhubungan dengan kemaslahatan umat di bidang ekonomi, menyebabkan kekuasaan umat Islam di Indonesia lemah atau umat Islam menjadi minoritas. Sebagai bukti berapa orang Islam yang masuk dalam 100 besar orang terkaya di Indonesia. Ini harus jadi bahan renungan kita bersama sebagai umat Islam.

(25)

Analogi yang sama, ibadah sholat sangat berhubungan dengan kekuasaan politik karena dalam sholat ada imam dan ada makmum. Artinya, ketika umat Islam ketaatannya dalam sholat sangat rendah, maka sangat mungkin walaupun jumlah umat Islam mayoritas, tetapi dalam kekuasaan politik akan menjadi minoritas. Oleh karena itu, pekerjaan besar bagi umat Islam saat ini adalah bagaimana umat Islam rajin beribadah supaya umat Islam tidak menjadi minoritas dalam kekuasaan politik dan Indonesia bisa menjadi maju. Jika rajin ibadah belum terwujud maka kemajuan Indonesia pun tidak akan terwujud.

Bagi saya sebagai seorang pendidik, tugas penting saat ini adalah bagaimana cara menyebarkan pendidikan kalbu ini ke dalam pendidikan formal, non formal, dan di masyarakat. Sebab pelajar, mahasiswa, petani, tentara, polisi, pengusaha, dan semua komponen bangsa lainnya hatinya harus cerdas. Saya bermohon orang yang membaca buku ini hatinya menjadi cerdas dan mau menyebarkan ilmu ini kepada orang-orang terdekatnya. Saya juga bermohon Indonesia dianugerahi orang-orang yang rajin beribadah dan mengajak orang untuk rajin beribadah.

(26)

Sebelum menutup bab pertama ini saya ingin bercerita tentang terselamatkannya saya dari sebuah musibah karena saya berusaha untuk selalu berpikir positif terhadap suatu kejadian. Beberapa tahun lalu setelah saya mengisi pelatihan di sebuah sekolah elite di Bandung. Saya mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakkan dari salah seorang petinggi di sekolah tersebut. Mungkin karena sistem pelatihan saya yang menerapkan bayaran seikhlasnya atau terkadang gratis. Orang-orang profesional banyak yang menganggap bayaran seikhlasnya atau gratis untuk sebuah jasa akan menganggap jasa tersebut kurang bagus, sehingga menganggap sebelah mata atau menganggap remeh dengan orang yang berperan dalam jasa tersebut

Saya berusaha untuk menerima perlakuan itu dengan senang hati dan menumbuhkan rasa syukur di hati. Rasa itu membuat saya selamat dari suatu kejadian yang sulit saya lupakan, ketika mobil saya berjalan ke arah pulang dari Bandung ke Bogor. Di pintu tol di daerah Bandung (saya lupa namanya) ketika itu mobil yang saya tumpangi ikut berjejer untuk keluar tol. Entah kenapa tiba-tiba sopir saya membelokkan mobil saya ke sebelah kanan untuk pindah jalur antrean. Setelah itu ada truk melaju keras di jalur antrean

(27)

mobil saya sebelumnya. Truk tersebut menabrak mobil-mobil di depannya. Hal yang terjadi adalah mobil-mobil yang ada di belakang mobil saya rusak dan mobil-mobil di depan saya pun rusak. Mobil yang saya tumpangi alhamdulillah aman karena sudah pindah jalur. Mayoritas mobil yang tertabrak rusak parah sehingga harus diderek. Saya merasa ini berkah saya berpikir positif kepada Allah atas kejadian kurang mengenakkan yang saya alami.

Menurut saya apa pun yang terjadi pada diri kita ketika itu kita sikapi dengan positif maka akan berhasil baik. Saya mendapatkan sebuah doa yang menurut saya bisa pembaca gunakan jika menghadapi masalah atau hal yang mengecewakan. Doa ini saya dapat dari calon jamaah yang juga gagal berangkat. Doa tersebut adalah “Ya Allah dan apa pun yang engkau takdirkan untukku, maka jadikanlah kebaikan pada akhirnya”.

Selesai.

(28)

(29)

BAB 2. KALBU DAN SOLUSI MASALAH

Pada saat saya akan bertemu dengan salah seorang Asisten Kasad (bintang 2) di Markas Besar Angkatan Darat, untuk membicarakan Program Permainan Matematika Pendidikan Pancasila dalam rangka mendukung Wisata Matematika Bela Negara yang biasa dilaksanakan di kalangan pelajar. Pertemuan itu juga akan membahas program belajar matematika secara online dan gratis untuk anak tentara pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Sebelum pertemuan saya mengalami suatu pengalaman yang sangat berharga dan menjadi perenungan yang menarik buat saya.

Seharusnya saya berangkat dari kantor di Bogor pukul 10.00 agar tidak terlambat, sebab saya bersepakat bertemu dengan beliau pukul 12.30, tetapi karena ada urusan dadakan, saya baru berangkat pukul 11.00 dari kantor di Bogor. Berdasarkan pengalaman, jika dalam keadaan normal perjalanan dari kantor saya di Bogor ke Mabes AD butuh waktu lebih dari 90 menit dan ini belum ditambah waktu untuk sholat zuhur. Kesimpulan saya adalah pasti saya akan terlambat, kejadian yang terjadi selanjutnya adalah mungkin

(30)

beliau tidak berkenan menerima saya (maklum karena belum kenal) atau mungkin saya harus menunggu sampai agenda beliau selesai. Hal yang pasti, tentunya saya merasa malu jika hal ini terjadi, karena dianggap tidak disiplin dalam janji.

Supaya hal yang tak diharapkan itu tidak terjadi maka yang saya lakukan adalah mengambil tasbih dan melakukan zikir baik di mulut maupun di kalbu sepanjang perjalanan.

Menjelang pukul 12.30 hati saya sudah tenang walaupun saya belum sampai Mabes AD. Tidak berapa lama saya mendapat telepon dari orang yang dipercaya perwira tinggi tersebut agar setibanya di Mabes AD, saya diminta untuk ke ruangan salah satu perwira di Mabes AD. Setibanya saya di ruangan perwira yang dimaksud, ternyata saya harus menunggu pejabat tinggi tersebut karena beliau harus menghadiri rapat mendadak, sehingga saya diminta menunggu. Informasi ini membuat saya lega karena Allah menyelamatkan saya dari rasa bersalah dan malu karena telat bertemu beliau. Kejadian ini membuat saya berpikir sejenak, kalau kita terlambat sholat kenapa kita kok tidak malu sama Allah ya?

Ada pengalaman menarik lain yang mungkin bisa jadi contoh bagi lembaga atau perusahaan lain yang sedang menghadapi masalah. Pada saat pandemi, lembaga

(31)

pendidikan yang saya pimpin mengalami masalah yang cukup besar. Lembaga pendidikan saya ini melaksanakan les dengan menggunakan sistem bayaran seikhlasnya, jadi siswa membayar saat datang sesuai dengan kemampuan. Pada saat pandemi covid-19, aktivitas belajar offline sempat dihentikan cukup lama, menyebabkan tidak ada murid yang belajar dan ini menyebabkan tidak ada pemasukan selama berbulan- bulan. Hal ini cukup merusak cash flow yang ada di lembaga saya, karena gaji karyawan harus tetap jalan. Di situasi seperti ini saya mulai berpikir apakah lembaga saya dapat bertahan di situasi ini. Pikiran ini timbul karena melihat banyak lembaga kursus yang sudah gulung tikar atau bangkrut.

Akhirnya untuk menyelamatkan lembaga saya dari kebangkrutan, saya memutuskan untuk mengajak teman- teman yang masih ada di lembaga saya untuk membuat program yang membuat teman-teman di lembaga semakin taat kepada Allah. Program yang saya lakukan adalah setiap minggu teman-teman di kantor melakukan khataman Al- Qur’an, masing-masing ditugaskan membaca Al-Qur’an sebanyak 1 juz per minggu dan setiap minggu pun diadakan zikir bersama serta memperbanyak sedekah. Setelah mulai rutin melakukan kegiatan tersebut, saya mulai merasakan

(32)

adanya perubahan. Program-program yang dibuat secara online mulai diminati orang, seperti program belajar online, pelatihan online dan lomba online. Bahkan lembaga saya dipercaya untuk menjadi tuan rumah beberapa lomba matematika internasional secara online yang diikuti lebih dari 20 negara. Alhamdulillah lembaga saya saat ini kembali stabil berkat pertolongan Allah. Sebagai wujud rasa syukur, program-program yang berhubungan dengan ketaatan ibadah terus ditambah di lembaga ini.

Berdasarkan dua kisah ini saya melihat pentingnya fungsi kalbu dan zikir dalam menyelesaikan masalah pribadi, lembaga dan insyaallah juga masalah bangsa. Dua kisah ini sangat berhubungan dengan kalbu. Saya akan memberikan penjelasan bagaimana memaksimalkan fungsi kalbu supaya bisa bermanfaat secara maksimal di bagian akhir dari bab ini.

Sebelumnya, ada hal yang tidak kalah penting untuk saya bahas, yaitu tentang apa itu kalbu dan beberapa hal yang berhubungan dengan kalbu.

A. Apa Itu Kalbu

Kalbu menurut bahasa adalah segumpal daging atau sesuatu yang dapat membalik atau berbolak-balik, dalam

(33)

bahasa arab disebut kal-bun atau jantung. Di Indonesia, biasanya orang mengartikan kalbu adalah hati. Hal ini masih bisa dimaklumi karena kalbu yang dimaksud di sini adalah sesuatu yang bersifat non fisik, karena kebiasaan orang Indonesia ketika berkata tentang hati biasanya sesuatu yang

Gambar 4. Jantung manusia

(https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3633236/pembesaran-jantung- masalah-kesehatan-yang-perlu-diwaspadai)

bersifat non fisik. Misalnya kalimat “Saya jatuh hati” (artinya jatuh cinta), atau ketika orang berbicara tentang penyakit hati, contohnya “sombong dan riya”.

Menurut Imam Al-Ghazali kalbu memiliki 2 pengertian.

1) pengertian pertama adalah daging yang berbentuk pohon cemara atau kerucut yang terletak di sisi kiri dada dan di

(34)

dalamnya terdapat rongga yang berisi darah hitam. Ia merupakan sumber dan pusat dari ruh. Kalbu dalam pengertian ini, juga ada di dalam jasad binatang dan orang yang sudah meninggal.

2) pengertian kedua adalah sesuatu yang halus (Al Lathiifah), ketuhanan (Rabbaniyah) dan kerohanian (rohaniah) yang memiliki hubungan dengan daging (kalbu) dalam pengertian pertama di atas. Hati inilah yang dapat memahami dan mengenal Allah serta segala hal yang tidak dapat dijangkau dengan angan-angan.

Imam Al-Ghazali membagi kalbu menjadi tiga yaitu.

a. Kalbun Maridh (hati yang sakit)

Hati yang senantiasa dipenuhi penyakit yang bersarang di dalamnya. Di antaranya riya, ingin dipuji, hasad, dengki, tamak, sombong, berprasangka buruk, dan sebagainya.

Orang yang hatinya sakit akan sulit menilai orang secara jujur apa pun yang tampak di depannya. Jika bertemu orang yang mempunyai kelebihan maka hatinya akan sibuk mencari kekurangan orang tersebut dan mengumbarnya ke orang lain. Al-Qur’an menyebutkan hati sakit dengan beberapa istilah, di antaranya adalah

(35)

tidak peka, sempit hati, hati yang lalai, condong pada keburukan, dan hati yang ragu.

b. Kalbun Mayyitun (Hati yang Mati)

Hati yang mati adalah kondisi yang lebih parah, karena hati ini sepenuhnya dikuasai hawa nafsu, sehingga ia terhalang dari mengenal Allah Swt. Hari-harinya penuh kesombongan terhadap Allah. Sama sekali tidak mau beribadah kepada Allah. Tidak mau menjalankan perintah dan semua yang diridhoi-Nya. Hati yang semacam ini berada dan berjalan bersama hawa nafsu dan keinginannya, walaupun sebenarnya hal itu dibenci dan dimurkai Allah. Ia sudah tidak peduli, apakah Allah ridho kepadanya atau tidak. Sungguh, ia telah menghamba kepada selain Allah. Bila mencintai sesuatu, ia mencintainya karena hawa nafsu. Begitu pula apabila dia menolak, mencegah, atau membenci sesuatu, juga karena hawa nafsu

c. Kalbun Salim (Hati yang Selamat)

Hati yang baik dan sehat adalah hatinya orang beriman.

Hati ini adalah hati yang hidup, bersih, penuh ketaatan dengan cahaya terangnya dan bertempat di nafsul mutmainnah (jiwa yang tenang). Hati yang salim adalah hati yang terpelihara kesucian fitrahnya, yakni yang masih

(36)

mempertahankan akidah tauhidnya, serta senantiasa memiliki kecenderungan untuk mempertahankan dan melakukan kebenaran dan kebajikan. Orang yang memiliki hati yang salim akan merasa tenang dan terhindar dari keraguan dan kebimbangan. Di antara ciri orang yang hatinya selamat adalah hidupnya diselimuti kecintaan dan tawakal kepada Allah.

B. Kalbu dan Solusi Masalah

Beberapa kali saya menghadapi masalah di mana akal sudah tidak bisa lagi menyelesaikan atau istilahnya sudah buntu. Masalah-masalah seperti ini sering membuat hati saya tidak tenang. Ketika hati tidak tenang masalah baru malah datang sehingga memperberat masalah sebelumnya.

Pengalaman saya menyelesaikan masalah dengan zikir ternyata baru tahapan awal dari proses penyelesaian masalah. Hal yang sangat penting adalah masalah akan selesai ketika hati kita menjadi tenang. Oleh karena itu, jika setelah zikir lisan dan zikir hati ternyata hati kita belum tenang berarti masalah belum selesai, maka harus dilanjutkan dengan zikir perbuatan. Salah satu bentuk zikir perbuatan adalah sedekah yang dilakukan dalam rangka mendapatkan

(37)

ridho Allah. Fenomena yang saya alami tentang masalah kalbu ternyata sesuai dengan hadis Nabi Muhammad saw.

”Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging.

Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh

tubuhnya. Segumpal daging itu bernama kalbu.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Saya melihat hadis ini memberikan petunjuk bagaimana cara menyelesaikan masalah dan petunjuk tersebut sudah saya gunakan selama ini. Petunjuknya adalah jika orang hatinya baik atau hatinya tenang maka akan baik pula seluruh jasadnya atau badannya. Orang yang baik jasadnya dalam pikiran saya adalah orang yang hidupnya tidak punya masalah. Hal ini saya maknai orang yang hatinya tenang maka orang tersebut tidak punya masalah. Analogi yang sama juga berlaku, orang yang hatinya tidak tenang maka orang tersebut mempunyai masalah.

Berdasarkan logika itu saya mengambil kesimpulan kalau orang mempunyai masalah maka hatinya tidak tenang.

Jika kita ingin masalahnya diselesaikan, maka yang harus dilakukan adalah buat hati orang tersebut tenang. Jika hati

(38)

orang tersebut tenang maka masalah akan selesai. Untuk membuat hati tenang caranya adalah mengingat Allah atau Dzikrullah, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah Ar Ra’du ayat 28:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan

mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Gambar 5. Orang sedang berzikir(nn)

Hal yang harus diingat agar zikir ini menjadi penolong adalah kita harus beriman terlebih dahulu. Setelah itu zikir yang kita lakukan harus disesuaikan dengan masalah yang

(39)

kita hadapi. Jika masalah semakin besar maka zikir yang lebih utama adalah zikir perbuatan. Seperti cerita pada awal bab ini, jika masalah terlambat, zikir yang dilakukan cukup di mulut dan di hati, tetapi untuk menyelamatkan perusahaan harus dilakukan dengan membaca Al-Qur’an, sedekah, dan ibadah lainnya.

Hati yang sering berzikir insyaallah merupakan cermin dari kalbun salim atau hati yang selamat. Hati yang seperti ini seharusnya dimiliki oleh orang Islam di Indonesia. Sebab hati ini akan membuat Indonesia menjadi damai dan Indonesia menjadi sehat.

C. Tabungan Jiwa dan Masalah Negara

Di buku kedua saya yang berjudul Karakter Suprarasional, ada konsep tentang tabungan jiwa dan ada konsep tentang kebutuhan hidup manusia. Suatu masalah terjadi ketika kebutuhan hidup manusia lebih besar dari pada tabungan jiwa yang dimiliki. Jika tabungan jiwa yang dimiliki volumenya sama maka masalah akan selesai dan jika tabungan jiwanya lebih besar maka manusia tersebut akan dapat keberuntungan.

(40)

Tabungan jiwa terdiri dari tiga komponen yaitu hati (sumbu-y), akal (sumbu-z) dan Panca Indera (sumbu-x).

Masalah yang jika akal dan Panca Indera tidak bisa lagi menyelesaikan atau diibaratkan sumbu-x dan sumbu-z nya berhenti bergerak, maka yang mungkin dilakukan adalah menggerakkan hati atau sumbu-y supaya tabungan jiwa bisa bertambah besar. Agar hati bergerak maka cara yang paling cepat dan efektif adalah mengingat Allah di mana salah satu bentuknya adalah zikir.

Jika kita lihat lebih jauh, masalah-masalah besar yang ada di Indonesia adalah karena total tabungan jiwa orang- orang Indonesia lebih kecil dari masalah kehidupan Indonesia. Jika ada orang yang mempunyai tabungan jiwa yang melimpah (anggap orang rajin ibadah), tetap saja tidak akan mampu menyelesaikan masalah Indonesia. Sebab tabungan jiwa itu akan dibagi dengan kebutuhan Indonesia.

Berdasarkan logika ini harus disadari bahwa untuk menyelesaikan Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan satu orang yang baik sekali, anggap saja dia ratu adil atau Satrio Piningit. Masalah Indonesia akan selesai jika kita mampu memunculkan sebanyak-banyaknya orang-orang baik yang tabungan jiwanya besar-besar. Kumpulan

(41)

tabungan jiwa yang besar-besar ini akan jadi sangat besar sekali yang akhirnya bisa melebihi masalah Indonesia. Tugas kita bersamalah untuk memunculkan orang-orang yang tabungan jiwanya besar. Insyaallah Indonesia akan jadi negara maju.

Pemahaman tentang konsep tabungan jiwa ini sebenarnya bisa diterapkan ketika bangsa sedang menghadapi masalah. Sebagai saran, jika pemerintah menghadapi masalah nasional yang pelik atau sulit dipecahkan, maka pemerintah bisa mengadakan program penambahan tabungan jiwa secara nasional dengan cara mengingat Allah bersama-sama secara nasional. Misalnya untuk orang yang beragama Islam mengadakan zikir bersama seluruh Indonesia, khataman bersama, sholat tahajud bersama, puasa sunah bersama, sedekah bersama.

Ibadah-ibadah itu harus dilakukan secara nasional dalam waktu yang bersamaan dan dilakukan secara konsisten.

Kemudian memohon kepada Allah agar diberikan pertolongan atau jalan atau solusi untuk menyelesaikan masalah yang ada. Menurut saya jika hal itu dilakukan, masalah pelik yang tiba-tiba datang akan segera bangsa ini selesaikan.

(42)

Sebelum menutup bab ini saya ingin cerita tentang seorang teman yang sering mengikuti sebuah majelis zikir yang jamaahnya tidak pernah menggunakan masker dan tidak menjaga jarak pada saat melakukan zikir. Uniknya hampir tidak pernah terdengar ada kasus jamaah terkena covid-19 padahal jamaah yang hadir ribuan. Ketika saya bertanya kenapa hal itu bisa terjadi, jawaban teman saya sederhana. Kata gurunya, zikir adalah vaksin dari covid-19.

Orang yang rajin berzikir akan kuat terhadap covid-19.

Pendapat itu sepertinya tidak ilmiah, ada pendapat lain diberikan oleh teman saya yang mempunyai profesi berbeda dari teman sebelumnya. Teman saya ini adalah aparat negara yang harus siap ditugaskan di mana pun. Pada saat covid-19 dia ditugaskan untuk di tempat-tempat yang sangat mungkin dia terkena covid-19, tetapi pada faktanya dia tidak terkena covid-19. Ketika saya tanya apa rahasianya, teman saya menjawab rahasianya adalah zikir.

Sebenarnya ada logikanya kenapa zikir bisa membuat kita selamat dari penyakit covid-19. Hal ini karena ketika berzikir maka tabungan jiwa kita akan bertambah. Tabungan jiwa yang bertambah itu akan menyebabkan rezeki kita bertambah. Salah satu bentuk rezeki kita bertambah adalah

(43)

Allah memberikan kesehatan kepada kita. Bisa jadi tabungan jiwa itu tidak diubah dalam bentuk kesehatan tetapi ke bentuk yang terbaik untuk orang tersebut. Artinya sangat mungkin ada orang yang rajin zikir tetapi masih terkena covid-19 dan itu bukanlah suatu aib dan menunjukkan tidak manjurnya zikir. Hal itu terjadi karena Allah menentukan dalam bentuk lain pahala zikir yang akan orang tersebut dapatkan.

Saya pribadi meyakini zikir bisa membuat kita mempunyai daya tahan terhadap covid-19, tetapi saya tetap akan menggunakan masker ketika covid-19 dianggap masih ada. Sebab menurut saya keyakinan akan terhindar

Gambar 6. Masyarakat menggunakan masker sebagai bagian dari protokol Kesehatan pencegahan Covid-19

(https://www.merdeka.com/uang/indonesia-ada-di-antara-new-normal-dan-death- zone.html)

(44)

dari covid-19 akan semakin kuat ketika secara zikir kuat dan secara protokol kesehatan taat. Keyakinan akan sempurna ketika panca indera, akal dan hati berjalan selaras.

Berdasarkan keyakinan ini sepertinya akan terjadi perubahan besar terhadap masalah covid-19 dan masalah besar lainnya di Indonesia kalau pemerintah mengadakan zikir secara nasional, secara konsisten dalam rentang waktu yang lama.

Ini hanya sekedar ide, semoga suatu saat nanti ada yang bisa mewujudkannya.

Selesai.

(45)

BAB 3. CIRI MANUSIA SUPRARASIONAL (Bagian 1)

Pada bab 3, 4 dan 5 di buku ini, saya akan menceritakan akhlak apa saja yang dimiliki oleh manusia suprarasional. Saya akan banyak menyajikan dalam bentuk cerita pengalaman pribadi dan tidak akan menampilkan secara detail tentang definisi akhlak tersebut. Sangat mungkin masih banyak ciri akhlak manusia suprarasional, hanya dalam buku ini coba saya sajikan yang memang sering saya lakukan dan kebetulan didukung oleh cerita yang berhubungan. Oleh karena itu, sangat mungkin para pembaca, yang mau menjadi manusia suprarasional, nantinya bisa menambah pengalaman baru yang bisa diceritakan suatu hari nanti. Kisah-kisah itu bisa dinikmati di paragraf- paragraf berikutnya.

Kisah pertama bermula ketika saya menunggu visa haji furoda selama berhari-hari di bandara. Saya mendapat kabar terakhir akan ada 4 visa yang diperuntukkan rombongan travel kami, tetapi siapa saja yang akan mendapat visa tersebut masih belum jelas. Ada seorang kawan jamaah yang memberikan analisis sebaiknya siapa yang harus

(46)

mendapatkan visa tersebut adalah si A, si B, si C, dan saya kemungkinan yang keempat. Saya melihat analisanya masuk akal, tetapi saya coba memasrahkan pemilihan 4 visa tersebut kepada pihak travel dan tentunya kepada Allah.

Saya berpikir usaha saya untuk mendapatkan visa melalui akal sudah mentok tinggal usaha saya adalah fokus menambah tabungan jiwa, sebab saya meyakini jika tabungan jiwa kita besar, insyaallah masalah yang kita hadapi akan selesai dengan baik. Selama masa menunggu visa, saya fokus memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah ke berbagai tempat yang saya anggap membutuhkan.

Setelah saya melakukan hal-hal tersebut hati saya menjadi tenang, sehingga menjelang pengumuman siapa 4 orang yang akan mendapat visa berikutnya, saya tidak khawatir.

Anehnya ketika disebutkan nama 4 orang yang mendapat visa, ternyata nama saya tidak ada di antara 4 orang itu. Ada beberapa orang yang kecewa dan bingung ketika dirinya tidak mendapat visa. Saya juga termasuk yang bingung, hanya kebingungan saya adalah kenapa saya tidak terpilih, padahal hati saya sudah tenang. Saya berpikir makna hati saya tenang di sini adalah saya akan mendapatkan visa haji. Uniknya hati saya tetap tenang, walaupun saya tidak

(47)

dapat visa. Akhirnya saya merenungi fenomena ini di hotel dekat bandara sambil menghabiskan jatah menginap yang tinggal satu malam lagi.

Pagi harinya saya masih belum menemukan jawaban, apa alasan Allah tidak memilih saya naik haji tahun ini.

Kemudian saya check-out dari hotel dan pulang ke rumah, tetapi sebelumnya saya ke kantor dulu untuk bertemu beberapa orang sambil memberikan informasi bahwa saya tidak jadi naik haji. Setelah itu saya pulang ke rumah untuk beristirahat dan menenangkan pikiran. Ketika diskusi panjang lebar dengan istri untuk mencari alasan dan hikmah kenapa saya tidak jadi naik haji tahun ini, saya mulai menyadari bahwa tidak naik haji tahun ini adalah keputusan terbaik, alasannya tentunya tidak bisa disampaikan di sini. Akhirnya saya mengucapkan syukur kepada Allah karena saya tidak jadi naik haji tahun ini. Setelah penyadaran ini, esok harinya saya masuk kantor seperti biasa, karena buat saya tidak jadi naik haji tahun ini adalah keberkahan.

Dari kejadian gagalnya saya naik haji tahun ini, saya mendapat ilmu baru yang sangat berharga dan ilmu itu serasa tertanam di dalam hati. Hal ini karena saya jadi orang yang praktik langsung ilmu ini. Ilmu barunya adalah

(48)

tabungan jiwa memang akan membuat kita sukses di dunia dan insyaallah di akhirat, tetapi ternyata ada yang lebih tinggi dari tabungan jiwa yang akan membuat hidup kita jauh lebih sukses. Apa itu? Jawabannya adalah berprasangka baik kepada Allah, sabar dengan ujian, bersyukur, tawakal, merendahkan diri kepada Allah, bertobat kepada Allah dan zikir yang benar. Saya menyebut hal ini akhlak kepada Allah.

Akhlak kepada Allah tadi, mudah diucapkan tetapi sulit untuk dipraktikkan terutama ketika kita sedang mendapatkan masalah atau musibah yang berakibat memunculkan kekecewaan yang besar. Kejadian gagal naik haji ini membuat saya sangat memahami nilai-nilai dari akhlak kepada Allah.

Saya sangat merasakan nilai-nilai ini bisa dipahami secara tiba-tiba, karena adanya tabungan jiwa yang saya miliki. Oleh karena itu, bagi yang ingin bisa mempraktikkan ilmu akhlak kepada Allah harus dibarengi dengan penambahan tabungan jiwa. Konsep tabungan jiwa ada di buku saya yang kedua yang berjudul “Karakter Suprarasional”. Saya ingin membahas secara khusus nilai-nilai baik ini, karena ini termasuk ciri dari manusia suprarasional.

(49)

A. Akhlak kepada Allah

Manusia untuk bisa menggunakan kalbunya dengan baik maka dia harus mengenal Allah. Agar bisa mengenal Allah maka manusia harus belajar ilmu tauhid. Pengertian tauhid yang digunakan dalam bahasa Indonesia adalah

“keesaan Allah”. Ilmu tauhid adalah ilmu yang mempelajari tentang sifat keesaan Allah. Di mana Allah itu satu, Zat yang memiliki segala kesempurnaan dan tidak ada satu pun yang menggantikannya. Tauhid dapat berupa pengakuan bahwa Allah Swt. adalah satu-satunya yang memiliki sifat Rububiyah dan Uluhiyah, serta kesempurnaan asma dan sifat. Berikut akan dijelaskan ketiga hal tersebut.

a. Tauhid Rububiyah

yaitu meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang menciptakan alam ini, yang memilikinya, yang mengatur perjalanannya, yang menghidupkan, dan yang mematikan. Dialah yang menurunkan rezeki kepada makhluk, yang berkuasa mendatangkan manfaat dan menimpakan mudarat. Zat yang mengabulkan doa dan permintaan hamba-Nya, yang berkuasa melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya, yang memberi dan mencegah. Di tangan-Nya terletak segala kebaikan dan segala urusan

(50)

b. Tauhid Uluhiyah

yaitu mengimani Allah sebagai satu-satunya Al-ma’bud (yang disembah). Tauhid Uluhiyah disebut juga dengan tauhid iradah (kehendak) dan tauhid qasdhi (tujuan).

c. Tauhid Asma dan Sifat,

yaitu menerangkan nama-nama dan sifat-sifat yang Dia tetapkan bagi Zat-Nya, dan yang ditetapkan oleh Rasulullah saw. Sebaliknya, tauhid ini meniadakan nama- nama dan sifat-sifat yang ditiadakan Allah dari Zat-Nya, dan yang ditiadakan oleh Rasulullah saw.

Selain itu, Imam Al-Ghazali membagi tauhid menjadi empat tingkatan,

Tingkatan pertama dari tauhid itu adalah bahwa seseorang mengucapkan dengan lidahnya lafaz “La ilaha illallah”, sementara hatinya lalai akan maknanya, atau malah mengingkarinya; ini seperti tauhidnya orang munafik.

Tingkatan kedua adalah bahwa seseorang dengan hatinya mengakui makna yang terkandung dalam kalimat tauhid itu, sebagaimana yang diakui dan dibenarkan oleh kebanyakan umat Islam; tauhid semacam ini adalah keyakinan kaum awam.

(51)

Tingkatan ketiga adalah bahwa seseorang memandang dan menyaksikan [dalam makna kalimat itu]

dengan hatinya akan keesaan Allah dengan jalan kasyaf (penyingkapan, relevation) melalui perantara cahaya al-Haq.

Tauhid seperti ini adalah maqam orang-orang muqarrrabin, orang-orang yang dekat dengan Allah; yakni, dengan cara ini, mereka melihat banyak hal, tapi sebenarnya yang mereka lihat dalam kejamakan itu adalah sesuatu yang terlahir dari Yang Esa dan Maha Kuasa jua.

Tingkatan keempat dari tauhid itu adalah bahwasanya tiada yang mereka lihat dalam wujud ini selain Wujud Yang Esa jua. Tauhid seperti ini adalah kontemplasi dan visi (Musyahadah) orang-orang shiddiq, orang-orang yang percaya penuh dan tulus.

Berdasarkan tingkatan tauhid, maka tauhid dapat meningkat sejalan dengan bagaimana kita mengenal Allah.

Dalam buku saya yang pertama “Cara Berpikir Suprarasional”, di situ saya mengatakan pentingnya kita mengenal Allah, sehingga kita tidak ragu untuk menjadi karyawan Allah.

Sebab jika kita ingin jadi orang kaya, orang besar dan orang berilmu, maka kita harus dekat dengan yang Mahakaya, Mahabesar dan Maha Mengetahui artinya harus dekat

(52)

dengan Allah. Keyakinan ini, sulit kita dapatkan kalau kita belum mengenal Allah dengan baik.

Saya ingin memberikan sedikit cara bagaimana agar kita bisa menjadi orang-orang yang bisa mempunyai akhlak kepada Allah setelah kita mengenal Allah. Mari kita mulai dengan kalimat yang sering kita baca. Sebagai umat Islam, tentunya kita sering membaca kalimat basmalah yaitu Bismillahirrahmanirrahim yang artinya dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kalimat ini seharusnya tertanam dalam diri kita bahwa Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hal ini karena kita sering mengulang-mengulang membacanya.

Gambar 7. Kaligrafi Bismillah

(https://pixabay.com/id/vectors/bismillah-kaligrafi-arab-desain-910299/)

Saya bisa memaknai basmalah dengan cara agak berbeda setelah mengalami kegagalan naik haji. Dimulai cara

(53)

berpikir bahwa kasih sayang Allah itu lebih besar dari orang tua kita dan dari apa pun yang ada di muka bumi. Orang tua kita saja ketika kita menginginkan sesuatu belum tentu dikasih, karena orang tua punya pertimbangan bahwa hal itu belum saatnya. Pertimbangan itu pasti karena sayang kepada kita. Logika sederhananya apa lagi Allah yang jauh Maha Pengasih, Maha Penyayang, Mahakuasa, dan Maha Mengetahui. Tentunya ketika permintaan atau keinginan kita belum terpenuhi, itu pasti karena Allah tahu yang terbaik untuk kita. Bacaan basmalah yang tertanam di dalam hati seharusnya menghasilkan kepasrahan dan berprasangka baik kepada Allah.

Berprasangka baik kepada Allah

Berprasangka baik kepada Allah akan tertanam dengan kuat ketika akal dan hati sering merenungi makna basmalah dengan baik. Ketika kita mendapatkan musibah atau masalah atau sesuatu yang mengecewakan, jika kita sadari bahwa itu adalah datangnya dari Allah, maka kita harus berprasangka baik bahwa itu pasti akan ada hikmah yang terbaik untuk kita. Prasangka baik itu bisa membalikkan situasi atau keadaan, awalnya sesuatu itu akan terjadi keburukan tetapi ketika kita berprasangka baik yang terjadi

(54)

malah hal yang menggembirakan. Prasangka baik ini akan membuat hidup kita selalu gembira dan selalu bersyukur atas apa yang terjadi. Hal ini terjadi pada diri saya yang gagal naik haji tahun 2022, setelah saya berprasangka baik salah satu manfaatnya saya bisa membuat buku.

Syukur

Syukur ini sangat penting kita miliki, karena kalau kita bersyukur maka Allah tambahkan nikmat, kalau kita tidak bersyukur maka kita bisa mendapat azab dari Allah, sebagaimana ada pada Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 7. Rasa syukur akan tumbuh ketika dalam hal dunia kita melihat ke bawah. Hal ini agar kita mensyukuri keadaan kita saat ini. Jika kita mensyukuri kondisi kita saat ini, insyaallah kondisi kita akan lebih baik. Hal yang sangat berbahaya kalau kita selalu membandingkan urusan dunia dengan yang lebih atas, maka hari-hari yang kita lewati akan jauh dari rasa syukur. Saya sangat bersyukur tidak jadi naik haji karena saya masih punya biaya naik haji di masa yang akan datang, sementara banyak orang ingin naik haji tetapi tidak mempunyai biaya.

Banyak yang saya syukuri dalam hidup ini ketimbang saya mengeluh karena saya tidak naik haji. Saya terbiasa

(55)

untuk melihat ke bawah ketika hati mulai merasa kecewa atau jika ada sesuatu di mana kita kalah dengan orang lain.

Kebiasaan itu ternyata efektif untuk kita selalu bersyukur.

Sebab jika dalam pergaulan kita mudah tergoda untuk iri terhadap kepemilikan harta, kekuasaan, dan prestasi yang diraih orang lain, maka hidup kita penuh dengan kekecewaan dan masalah.

Sabar

Sabar adalah akhlak yang penting untuk kita miliki.

Sabar adalah menerima keadaan yang tidak mengenakkan.

Jika kita bersabar ketika sedang menjalani ujian atau penderitaan yang kita hadapi, maka tabungan jiwa kita pasti bertambah. Agar kita bisa sabar maka kita harus selalu berprasangka baik kepada Allah. Jika prasangka baik sudah tertanam maka insyaallah kita tidak akan berkeluh kesah dengan penderitaan yang datang walaupun dalam masa yang cukup panjang. Kesabaran ini akan menjadi penolong atas masalah atau musibah yang kita hadapi. Kesabaran ini akan membuat musibah atau masalah menjadi anugerah bahkan kita akan mendapat rezeki tak terduga.

(56)

Oh ya, sedikit cerita tentang sabar adalah ketika saya sedang mengantre di sebuah bank BUMN yang antreannya sangat panjang. Biasanya situasi itu yang menyebalkan untuk saya, tetapi karena saya pernah punya pengalaman buruk akibat ketidaksabaran, akhirnya saya mencoba untuk bersabar pada situasi itu dengan banyak berzikir. Saya sangat menikmati zikir itu dan sampai lupa kalau saya sedang mengantre. Ada yang unik ketika saya sudah di depan teller, tiba-tiba ada telepon dari Sekjen Kemendikbud pada masa pemerintah Pak Jokowi periode pertama, pesan beliau saya diharapkan menunggu sebentar karena pak menteri mau berbicara. Benar saja ternyata Pak Menteri langsung menelepon saya, beliau meminta saya untuk membantu pembinaan guru-guru di bidang matematika di beberapa kegiatan Kemendikbud. Langsung saya menjawab “siap, siap”. Saya merasa aneh dan bingung, kok sampai pak menteri langsung yang minta saya melakukan kegiatan seperti itu. Di sini saya merasakan manfaat langsung dari sabar. Saat kejadian itu, saya lihat teller di depan saya, bingung karena melihat saya sedang komunikasi dengan serius.

(57)

Tobat

Tobat dan mohon ampun kepada Allah atas kesalahan yang telah kita perbuat merupakan akhlak yang harus selalu kita pegang. Sebab bisa jadi masalah atau penderitaan yang kita jalani adalah karena ada dosa kita di masa lalu. Sehingga Allah memberikan masalah dan penderitaan untuk menghapus dosa-dosa yang kita perbuat. Jika kita berprasangka baik, maka hal ini akan melahirkan optimisme dalam diri, karena Allah pasti akan menerima tobat kita walaupun sebesar apa pun dosa yang kita perbuat. Jika kita bersih dari dosa, maka kehidupan kita pasti akan menjadi lebih baik.

Tobat itu adalah wujud betapa Allah itu sayang terhadap manusia. Saya ingin cerita pengalaman saya marah kepada Allah dan saya sudah tobat akan hal itu. Sekitar satu tahun sebelum pandemi saya berniat untuk wakaf membangun gedung sekolah yang nantinya wakaf tersebut diperuntukkan atas nama orang tua saya, mertua saya dan tokoh-tokoh yang saya kagumi. Saya bilang kepada pihak pengelola waktu itu, gedung sekolah ini akan dibangun insyaallah total semua biaya dari saya dan tidak boleh ada yang bantu tanpa seizin saya.

(58)

Mulailah pembangunan gedung tersebut, tetapi ketika pandemi terjadi, mulailah saya kebingungan untuk pendanaan bangunan tersebut. Sebab untuk operasional lembaga saya saja bermasalah. Akhirnya saya berusaha menjual tanah dan rumah yang saya miliki untuk membangun gedung tersebut tapi tidak laku-laku. Akhirnya pembangunan gedung tersebut dihentikan. Tetapi karena bangunan tersebut harus segera dipakai maka pembangunan harus dilanjutkan, tetapi pada saat pandemi itu saya tidak punya uang karena yang mau dijual tidak ada yang laku. Di sinilah saya marah kepada Allah, selesai sholat saya berdoa dengan marah dan protes yang intinya “katanya kalau sedekah nanti akan dibalas sampai 700 kali lipat, tapi kenapa saya ingin membangun gedung untuk wakaf, tapi uang saya habis”. Ini pengalaman pribadi yang insyaallah tidak akan terulang.

Ternyata setelah marah dan bertanya tentang hal itu, saya mendapatkan pencerahan, bukan mendapatkan langsung dana. Saya mendapat pencerahan untuk jangan serakah dalam bersedekah, berilah orang lain kesempatan untuk juga berbuat baik atau berinvestasi dalam kebaikan.

Akhirnya saya mencoba membuka diri untuk memberikan

(59)

kesempatan orang lain bersedekah. Ada orang yang akhirnya ikut menyumbang semen dll. Setelah adanya penyadaran itu akhirnya rezeki saya lancar kembali dan gedung tersebut selesai terbangun. Totalnya ada 12 kelas dan saya ikut meresmikan.

Saya akhirnya bertobat kepada Allah karena telah marah dan berprasangka buruk kepada Allah. Kejadian itu membuat saya sangat sadar betapa Maha Pengasih dan Maha Penyayang Allah. Ketika saya marah, Allah tidak menghukum saya tetapi memberikan saya pencerahan.

Setelah pertobatan itu saya lebih berusaha mengajak orang- orang bergotong royong dalam bersedekah. Saya pun mengajak berhati-hati dalam bersedekah, sebab berdasarkan pengalaman ada beberapa lembaga sedekah yang lebih memperkaya para pengurusnya daripada menyalurkan dana sedekah.

Tawakal

Tawakal adalah akhlak yang terlahir karena adanya prasangka baik kepada Allah, karena kita tahu Allah yang Mahatahu atas segala sesuatu, maka kita pasrahkan atau menyerahkan semua urusan kita kepada Allah. Hal yang

(60)

penting diingat, tawakal ini tidak boleh menghilangkan proses usaha, karena tawakal yang sempurna setelah melalui proses usaha yang maksimal. Menjadi orang yang tawakal itu tidak mudah apalagi bagi orang yang terbiasa menggunakan akalnya untuk melakukan analisa dan berpikir tentang masa depan. Seperti yang saya alami, pada awalnya saya berpikir hal yang terbaik adalah naik haji tahun ini, karena ini proses ibadah dan sebaiknya jangan ditunda-tunda, tetapi kenyataan yang saya dapatkan adalah saya tidak jadi naik haji. Akhirnya setelah saya renungkan secara mendalam ternyata yang terbaik adalah tidak naik haji tahun ini.

Dzikrullah

Dzikrullah atau mengingat Allah adalah cara kita merasa dekat dengan Allah untuk menumbuhkan rasa berprasangka baik dengan Allah. Zikir bisa dilakukan secara lisan, di dalam hati dan secara perbuatan. Dzikrullah adalah ibadah yang ringan dan mudah untuk dilakukan. Di dalamnya tersimpan hikmah dan pahala yang besar serta berlipat ganda. Zikir bahkan lebih utama nilai kebajikannya dibandingkan jihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Banyak kata-kata yang bisa dibaca dalam Dzikrullah seperti

(61)

Subhanallah wal hamdulillah wallahu akbar (33x). Laa ilaha illallah wahda, laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Ini hanya contoh, jika para pembaca terbiasa melafalkan bacaan lain yang berbeda tidak masalah.

Gambar 8. Zikir Kuat maka Wirausaha Sehat (nn)

Saya sudah sangat merasakan manfaat zikir ketika menghadapi masalah dalam berbagai kondisi. Hal yang

(62)

menarik, ternyata zikir itu ada metodenya yang membuat hati kita cepat menjadi tenang dan kita cepat merasakan manfaatnya. Metode yang dilakukan ketika berzikir yang pernah saya dapatkan yaitu kita harus merendahkan diri di hadapan Allah, fokus hanya mengingat Allah, dan sudah tidak ingat lagi masalah-masalah kita. Kemudian pikiran juga fokus pada posisi kalbu kita, sehingga kondisi zikir itu akan cepat membuat hati kita tenang. Banyak tarekat yang mengajarkan cara berzikir, kalau para pembaca berminat silakan belajar cara berzikir yang diajarkan oleh para ahli tarekat. Semoga itu akan membuat hidup kita lebih baik.

Sholat

Sholat adalah bentuk yang paling utama dalam ketaatan kita kepada Allah. Sholat ini sesuatu yang sangat penting tetapi sudah banyak disepelekan oleh orang Islam.

Dalam pengalaman saya berinteraksi dengan orang yang susah (baik orang kaya maupun orang miskin), ternyata mereka kebanyakan adalah orang-orang Islam yang banyak meninggalkan sholat. Ketika orang yang masih sibuk kerja ditanya kapan mereka akan rajin sholat, jawabnya adalah kalau sudah pensiun dan kalau sudah tua. Faktanya banyak orang yang pensiun ternyata tetap tidak rajin sholat dan

(63)

sudah tua pun tetap tidak rajin sholat. Saya lihat rata-rata hidupnya susah. Oleh karena itu, mari kita rajin sholat dan ajak orang-orang yang belum rajin sholat untuk rajin. Jangan sampai kita disibukkan mengkritik orang yang sudah rajin sholat dan lupa mendakwahi orang-orang yang tidak sholat atau belum rajin sholat.

Salah satu hikmah sholat, saya dapatkan dari tukang martabak langganan saya. Pada waktu pulang kerja saya terkadang ingin membeli martabak. Entah kenapa saya suka membeli martabak di tempat ini, mungkin salah satu keunikannya adalah tidak perlu menunggu. Kalau tukang martabak ini suka membuat martabak terlebih dahulu dan orang yang beli tinggal ambil, kecuali memesan martabak dengan rasa yang berbeda.

Keunikan tukang martabak ini kalau saya membeli waktunya mendekati waktu sholat magrib atau pas magrib, maka tukang martabak ini tidak ada, dia meninggalkan gerobaknya begitu saja tanpa penjagaan. Beberapa kali saya menemukan fenomena tersebut. Sampai akhirnya saya mendapat informasi kalau tukang martabak itu sedang sholat magrib. Kemudian suatu hari ketika saya membeli martabak, saya bertanya apakah setiap hari martabaknya habis.

(64)

Jawabnya iya. Saya kemudian berkata, “Hebat kalau orang rajin sholat mah rezekinya di mudahkan Allah”. Dia tanya dari mana saya tahu dia rajin sholat. Jawab saya pas saya mau beli di waktu magrib, si akang suka tidak ada. Itulah salah satu manfaat sholat yaitu Allah mudahkan rezeki.

Itulah akhlak kepada Allah yang harus dimiliki oleh manusia-manusia suprarasional. Dimulai dengan meyakini makna basmalah kita bisa mendapatkan rasa prasangka baik kepada Allah, sabar, bersyukur, tawakal, dzikrullah, dan rajin sholat. Ada hal yang tidak kalah penting untuk menjadi manusia suprarasional, yaitu sikap kita kepada Nabi Muhammad saw. sebab ada suatu rahasia yang jarang disadari banyak orang tentang manfaat kita mengikuti dan taat kepada Nabi Muhammad saw.

B. Akhlak Terhadap Rasulullah Saw.

Ada analisa menarik kenapa saat kita berdoa sangat dianjurkan untuk membaca sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw. terlebih dahulu. Banyak orang yang kurang paham manfaatnya sehingga tak jarang orang langsung berdoa tanpa membaca sholawat terlebih dahulu. Agar lebih

(65)

paham analisanya mari kita simak firman Allah pada Al- Qur’an surah Al-Ahzab ayat 56.

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman!

Bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”.

Pada ayat ini diketahui kalau Allah dan malaikat bersholawat kepada Nabi dan orang-orang beriman diperintahkan untuk bersholawat pula kepada Nabi. Jadi, jika orang beriman, bersholawat, dan memberi salam kepada Nabi, maka kondisinya akan sama dengan Allah dan Malaikat.

Artinya ketika orang beriman sedang bersholawat kondisinya sedang satu frekuensi dengan Allah dan malaikat. Otomatis ketika satu frekuensi peluang orang berdoa untuk bisa tersambung dengan Allah akan lebih mudah dan tentunya punya peluang besar doanya akan dikabulkan.

Gambar 9. Kaligrafi Sholawat (https://www.pngdownload.id/png-42u818/)

(66)

Sholawat juga mempunyai pahala yang besar, sehingga bisa mempercepat proses memperbesar tabungan jiwa. Jika tabungan kita semakin besar maka peluang doa kita untuk dikabulkan pun akan semakin besar. Sebenarnya, bersholawat ini juga punya makna yang lain, yaitu sebagai bukti cinta kepada Nabi Muhammad saw. manusia suprarasional harus mencintai Nabi Muhammad saw. dan salah satu bentuk cintanya adalah bersholawat kepada Nabi Muhammad saw.

Saya punya pengalaman menarik dengan Sholawat.

Ketika saya mengisi kegiatan Kawah Kepemimpinan Pelajar (KKP) yang diadakan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, acaranya diadakan di daerah Semarang tetapi di wilayah dataran tinggi. Pada waktu pelaksanaan ternyata langit sudah mendung dan pada waktu itu memang sedang musim hujan. Di saat itu kami sebagai salah satu pengisi acara agak panik sebab acara yang saya pegang kegiatannya di luar ruangan guna mengajarkan permainan matematika bela negara.

Di situlah saya mulai memperbanyak sholawat sambil bermohon kepada Allah agar hujan tidak turun. Awalnya sebelum acara dimulai hujan mulai turun, tetapi tak lama

Referensi

Dokumen terkait

Dengan menggunakan model tersebut diperoleh variabel yang signifikan terhadap TPAK perempuan Jawa Timur adalah TPAK laki-laki, persentase penduduk miskin, PDRB perkapita, UMK,

Gagasan utama yang direpresentasikan melalui Batu dan Täbä adalah pemeliharaan Allah dalam sejarah masyarakat setempat.. Menghidupkan kembali makna inilah yang

Mencari Deduct Value (DV) yang berupa grafik jenis-jenis

Pada Gambar 7, nilai pada perlakuan kombinasi eceng gondok dan pelepah pisang menunjukan semakin banyak penambahan bahan serat maka akan semakin besar pula daya serap dan

Dalam aplikasinya di proses pengeringan kayu nilai di ujung-ujung ruas garis atau di sisi-sisi luar persegi panjang tersebut adalah temperatur yang diberikan

Pada bagian ke empat ini akan menjelaskan tentang proses yang terjadi di enkripsi dan dekripsi teks secara umum, langkah permainan engklek atau sunda manda yang dilakukan

Sehubungan dengan surat Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Oaerah (BPKAO) Nomor 1032/-078.72 tanggal 16 Maret 2015 Perihal Listing Gaji dan Listing TKO, dan

Sedangkan definisi Rumah Susun menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun yang terdapat dalam Pasal 1 ayat (1) adalah:“Bangunan gedung bertingkat yang dibangun