• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Pengertian Judul. 1. Pusat Konvensi dan Ekshibisi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Pengertian Judul. 1. Pusat Konvensi dan Ekshibisi"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

17

BAB I

PENDAHULUAN

Bab 1 menjelaskan mengenai esensi judul konsep perencanaan dan perancangan dengan menjelaskan maksud dari keseluruhan judul melalui penjelasan kata kunci pada judul dan dilengkapi dengan latar belakang, permasalahan dan poin - poin persoalan, tujuan dan sasaran, sistematika pembahasan penyusunan konsep perencanaan dan perancangan.

Kemudian penjelasan mengenai lingkup dan batasan proyek tugas akhir dalam konsep perencanaan dan perancangan.

A. Pengertian Judul

1. Pusat Konvensi dan Ekshibisi

Pusat Konvensi dan Eksibisi yang dimaksud pada proses perancangan tugas akhir ini adalah bangunan multi fungsi yang diperuntukan sebagai wadah kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) yang dapat mengakomodasi ribuan pengunjung dengan kapasistas tertentu. Selain itu juga bertujuan untuk menyewakan ruang pertemuan seperti konferensi perusahaan, pameran, seni, festival, budaya dan konser (Pendit, 1999:25). Harapannya, penyelenggaraan pusat konvensi dan eksibisi di suatu Kota diharapkan dapat menjadi dinamistator bagi perkembangan industri ekonomi daerah yang berhubungan dengan kegiatan hiburan, pariwisata, perdagangan, transportasi, dan jasa pada suatu kota tertentu.

2. New normal

Penanganan Covid-19 di era new normal merupakan perubahan berpola hidup atau berperilaku di kehidupan normal seperti biasa dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa namun selau dengan menerapan protokol kesehatan untuk mencegah terjadinya penularan virus covid-19. Perilaku baru tersebut adalah makan makanan empat sehat lima sempurna, memakai masker jika bepergian, berjaga jarak dengan siapapun, istirahat yang cukup dan selalu mencuci dan membasuh tangan, (https://Indonesia.go.id, diakses pada 20 Juni 2020).

3. Arsitektur Neo-Vernakular

Arsitektur Neo-Vernakular adalah prinsi arsitektur yang dalam penerapannya meninjau kaidah-kaidah kosmologis, normative, keselarasan dan kesinambungan antara bangunan, alam, dan lingkungan serta peran budaya lokal

(2)

18 dalam kehidupan masyarakat serta. Dalam penerapannya terdiri dari elemen non fisik yaitu budaya setempat, pola pikir, kepercayaan terhadap sesuatu, tata letak, religi dan elemen-elemen fisik yang diterapkan dalam bentuk modern.

(https://www.arsitur.com, diakses pada 20 Juni 2021).

Atas dasar pengetahuan diatas maka ‘Pusat Konvensi dan Ekshibisi pada Era New Normal dengan Pendekatan Arsitektur Neo-Vernakular di Surakarta’

merupakan suatu perancangan fasilitas kota berupa bangunan multi fungsi yang mengakomodasi berbagai kegiatan konvensi dan eksibisi di Surakarta dengan kapasitas tertentu dan dalam perancangaan bagunannya dirancang sedemikian rupa agar dapat merespon kondisi di era new normal serta menerapkan prinsip - prinsip budaya Jawa pada tampilan bangunan.

B. Latar Belakang

Kota Surakarta atau Kota Solo telah ditetapkan sebagai salah satu dari 16 daerah destinasi Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE) di Indonesia oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia pada tahun 2016 (https://Solopos.com, diakses pada 28 Februari 2021). Kota Surakarta juga pernah mendapatkan penghargaan dalam Indonesia MICE Award 2009 sebagai kategori Kepala Daerah Tingkat II Terbaik pada tahun 2009 dalam pengembangan MICE di wilayahnya. (https://nasional.kompas.com, diakses pada 28 Februari 2021). Kemudian Kota Surakarta telah menjadi opsi tujuan untuk penyelenggaraan konferensi, event, pertemuan, insentif, dan pameran atau expo hal ini didukung dengan banyaknya hotel di Kota Surakarta. Dalam Laporan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) Kota Surakarta, pada tahun 2016 terdapat 103 hotel non-bintang serta 44 hotel berbintang di kota ini (https://investasi.surakarta.go.id, diakses pada 28 Februari 2021) .

Dalam lima tahun terakhir yaitu pada tahun 2015 hingga tahun 2020 pertumbuhan ekonomi Kota Surakarta semakin stabil, potensi bisnis semakin besar, destinasi wisata meningkat, dan telah berhasil melakukan branding kota sehingga menambah potensi MICE di kota ini. Pemerintah Kota Surakarta juga senantiasa berupaya melakukan pengembangan di bidang industri pariwisata dan MICE melalui pengembangan sarana prasarana dan infrastruktur kota. Sehingga Kota Surakarta menjadi tempat bisnis dan investasi yang menjanjikan di masa depan (https://pariwisatasolo.surakarta.go.id, diakses pada 28 Februari 2021. Ketua Umum DPP Indonesia Congres and Convention Association Iqbal Alan Abdullah mengatakan bahwa potensi MICE yang ada di Surakarta cukup besar jika dikelola

(3)

19 secara baik. Beberapa potensi tersebut diantaranya convention, kuliner, wisata, budaya dan jumlah hotel yang memadai untuk kebutuhan akomodasi (https://antaranews.com, diakses pada 1 Maret 2021).

Sejalan dengan perkembangan Surakarta yang ditetapkan menjadi Kota MICE, Namun dalam perkembangan bisnis MICE di Surakarta masih belum memiliki fasilitas khusus untuk penyelenggaraan bisnis MICE yang terpusat, memadai dan representative.

Dilihat dari salah satu pelaksanaan kegiatan bertaraf nasional yang mendatangkan peserta dari seluruh provinsi di Indonesia yaitu kegiatan yaitu Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental Indonesia pada bulan Agustus 2017. Kegiatan ini membagi kegiatannya di tujuh tempat berbeda (https://kemenkopmk.go.id, diakses pada 1 Maret 2021). Permasalahan dan penguatan MICE di Kota Surakarta dibahas dalam Forum Group Discussion dalam Pengembangan Supporting System. Daryono ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies Solo, mengutarakan bahwa Permasalahan Kota Surakarta mengenai MICE yaitu belum adanya convention hall dan instansi khusus yang membidangi masalah MICE di daerah, minimnya data visitor atau wisatawan dan promosi kurang dan belum terkoordinasi, (https://Joglosemar.co, diakses pada 1 Maret 2021).

Pada tahun 2018 telah dilakukan rencana pembangunan Solo Konvention – Exhibition Hall oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Surakarta sejak (https://investasi.surakarta.go.id, diakses pada 1 Maret 2021). Tetapi kenyataannya sampai saat ini belum terealisasikan. Belum adanya bagunan khusus yang mewadahi kegiatan MICE juga dikerenakan terhambat oleh sejumlah permasalahan lahan. Kebutuhan fasilitas convention hall ini dibenarkan oleh Kepala Dinas Tata Ruang Kota Surakarta, Agus Djoko Witiarso yang mengutarakan bahwa untuk mendukung Kota Surakarta menjadi kota MICE sangat diperlukannya convention hall bertaraf internasional. Pembangunan convention hall ini akan ada multiplier effects yang luar biasa mengingat Kota Surakarta yang tidak memiliki Sumber Daya Alam. Oleh karena itu diperlukan adanya beberapa bangunan fasilitas pendukung untuk menunjang aktivitas dan dinamika Kota Surakarta dalam bidang MICE (https://Solopos.com, diakses pada 1 Maret 2021).

Surakarta memiliki tradisi pelaksanaan beberapa kegiatan festival budaya di kota di sepanjang Jalan Slamet Riyadi dengan cara memblokade jalan selama kegiatan berlangsung.

Tuujaanya agar dapat menampung banyak pengunjung. Salah satu contoh kegiatan festival internasional yang diadakan di sepanjang jalan raya tersebut adalah SBC (Solo Batik

(4)

20 Carnival). SBC merupakan fasion carnaval batik yang diadakan setiap tahun di kota ini dan pelaksanaannya sudah lebih dari satu dekade. Pelaksanaan SBC ke 12 telah berangsung pada 27 Juli 2019 dan diikuti oleh 11 delegasi negara Asia Tenggara yang terdiri dari Indonesia, Myanmar, Malaysia, Filipina, Laos, Vietnam, Brunei Darussalam, Timor Leste , Kamboja, Singapura dan Thailand. Pelaksanaan SBC di jalan raya dilakukan ( https://www.liputan6.com, diakses pada 1 Maret 2021). Pelaksanaan dijalanan ini terbilang unik namun di era new normal ini tidak dapat dilaksanakan secara langsung mengingat dapat memicu penyebaran virus. Sehingga pelaksanaannya dilaksanakan secara daring begitu pula dengan acara Solo International Performing Arts (SIPA). Hal ini sesuai dengan pernyataan pemerintah Kota Surakarta pada tahun 2020 bahwa terdapat puluhan festival tahunan yang berpotensi mendatangkan ribuan wisatawan batal digelar akibat pandemi covid-19.

Kemudian beberapa festival skala besar seperti SBC dan SIPA rencananya akan dilakukan secara virtual (https://Republika.co, diakses pada 1 Maret 2020).

Pandemi Covid-19 mulai terjadi pada bulan Maret 2020 lalu dan pandemi virus ini sudah menginjak hampir 1 tahun di Indonesia. Menurut beberapa ahli diperkirakan pandemi ini akan berlangsung lama dan tidak dapat secara pasti kapan akan berakhir, karena hal ini sangat bergantung pada vaksinasi dan kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan (https://www.cnbcindonesia.com, diakses pada 2 Maret 2021). Melihat kondisi pandemi yang belum dapat dipastikan kapan berakhir, maka penyelenggaraan kegiatan MICE di tahun 2021 juga akan terancam gagal dilaksanakan secara langsung.

Padahal rencana kegiatan di Kota Surakarta pada tahun 2021 selama satu tahun penuh telah tertulis dalam kalender event kota. Terdapat 29 agenda dan 237 pertunjukan yang akan digelar pada tahun 2021 nanti (https://rri.co.id, diakses pada 2 Maret 2021). Dari banyaknya kegiatan tersebut terdapat beberapa kegiatan konvensi dan eksibisi di kancah nasional hingga internasional yang mendatangkan ribuan pengunjung diantaranya yaitu:

Tabel 1. 1 Kegiatan Even Tahunan di Kota Surakarta

No Event Kategori

MICE

Tingkat Pengunjung Tempat Pelaksanaan

1. Konferensi Menteri Asia Pasifik mengenai

perumahan dan perkembangan kota (APMCHUD) ke-3

konferensi Internasional Diundang 68 negara dengan kehadiran 28 negara

The Sunan Hotel, 2010

(5)

21 2. Konferensi dan

ekspo kota-kota warisan budaya dunia (WHC)

konferensi Internasional 143 walikota dar 29 negara

Kirab dari Balai Kota Surakarta –Gendengan, 2008

3. World Heritage Cities Conference and

Expo (WHCCE)

konferensi Internasional 165 kota dari 37 dari kawasan Euro-Asia

The Sunan Hotel, istana Mangkunegaran,

4. National Congress APEKSI

konferensi Nasional 98 walikota ICCC) Solo, 2016

Haul Habib Ali Bin Muhammad

Eksebisi Internasional Ratusan –Ribuan jama’ah

Masjid Riyadh Pasar Kliwon Solo, 2019

5. SIEM (Solo

International Etnic Musik)

Eksebisi Internasional Ratusan -Ribuan Benteng Vastenberg Solo

2007 , Taman

Balekambang 2008 &

2010 6. Solo Batik Carnival Eksebisi Internasional 300-600 peserta,

pengunjung mencapai ribuan

Sepanjang jalan Slamet Riyadi 2008-2019

7. The International Performing Art Mart (IPAM)

Eksebisi Nasional Mengundang 50 impresiat, peserta 10 kelompok

Gedung Pertunjukan Teater Besar Institut Seni Indonesia, 2007

8. Solo Indonesian Culinary Craft and Festival

Eksebisi Nasional Ratusan UMKM Benteng Vastenburg Solo

9. seperti Solo International Performing Arts (SIPA)

Eksebisi Internasional Ratusan hingga Ribuan

pengunjung

Benteng Vastenberg Solo, 2019

10. Solo Investment Trade, Tourism Expo, and Business Meetings

Meetings Internasional Puluhan stan dari 23

kabupaten/kota se-Nusantara

Solo Square Mall 2015, Solo Paragon Mall 2017

Sumber: Dinas Pariwisata Surakarta, 2019

Pemerintah Republik Indonesia telah mencanangkan sebuah perubahan budaya hidup baru yang sekarang dikenal dengan istilah New normal. Hal ini diharapkan agar masyarakat terbiasa dengan perubahan tatanan hidup baru yang dapat memutus penyebaran virus covid- 19. Menurut Achmad Yurianto, juru bicara penanganan Covid-19, istilah new normal lebih menekankan pada perubahan kebiasaan masyarakat untuk terbiasa berperilaku hidup sehat seperti selalu menggunakan masker, menghindari kerumunan, menjaga jarak dan selalu mencuci tangan (https://www.wartaekonomi.co.id, diakses pada 3 Maaret 2021). Di era new normal perilaku hidup masyarakat berubah menyesesuaikan pola tatanan hidup yang baru serta merubah perilaku dan tatanan ruang publik yang ada baik dalam tatanan interior

(6)

22 maupun eksterior. Perubahan – prubahan tersebut mengacu pada Surat Edaran (SE) tentang Protokol Pencegahan Penularan Covid-19 No. HK.02.01/MENKES/335/2020 di Tempat Kerja Sektor Jasa dan Pedagangan (Area Publik) Dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha (M. K. R. Indonesia, 2020) yang menyebutkan beberapa penyesuaian desain tata ruang publik yang dapat mencegah penularan Covid -19.

Berdasarkan kebutuhan pusat konvensi dan exhibisi di Kota Surakarta dan berdasarkan studi literature yang telah dilakukan penulis, sudah banyak penelitian yang mengangkat tema bangunan publik konvensi dan eksibisi. Berikut adalah beberapa penelitian mengenai bangunan publik konvensi dan eksibisi.

Tabel 1. 2 Penelitian Mengenai Bangunan Publik Konvensi Dan Eksibisi

No Judul Jurnal Permasalahan yang diangkat

1. Penerapan Teori Arsitektur High Tech Dalam Strategi Perancangan Pusat Konvensi Dan Eksibisi Di Surakarta

Senthong, Dinutanayo, 2018

Desain khusus pada perancangan pusat konvensi dan eksibisi yang mengacu pada fleksibilitas peruangan dan ekspresi bangunan

2. Perancangan gedung konvensi dan eksibisi di Surakarta dengan pendekatan arsitektur neo vernakular

Repository Trisakti, Prasetyo, 2019

Memperkenalkan budaya kota solo kepada dunia internasional melalui wadah kegiatan konvensi dan eksibisi

3. Penerapan Arsitektur Neo- Vernakular Dalam Konsep Perancangan Pusat Pameran Dan Seni Pertunjukan Di Surakarta

Senthong, Febriansyah, 2021

Bangunan yang dapat menunjukkan karakter kota Surakarta dan dapat mewadahi berbagai kegiatan yang sangat beragam melalui penggunaan fleksibel ruang

Sumber: Digilib.uns.ac.id

Dari beberapa penelitian yang telah dibuat mengenai perencanaan dan perancangan pusat konvensi dan eksibisi atau MICE di Kota Surakarta, belum ada yang mempertimbangkan aspek new normal pada perancangan pusat konvensi dan eksibisi selain itu belum ada yang membahas secara spesifik mengenai respon desain di era new normal pada perancangan pusat konvensi dan eksibisi. Sehingga dalam proyek tugas akhir ini isu pertama yang diangkat adalah bagaimana merancang sebuah bangunan konvensi dan eksibisi sebagai pusat kegiatan MICE di Kota Surakarta yang menerapkan konsep desain di era new normal.

Konsep desain di era new normal diaplikasikan pada perencanaan dan perancangan pembangunan pusat konvensi dan eksibisi seperti pemilihan material yang tahan terhadap

(7)

23 virus pada bangunan, sistem sirkulasi udara yang baik, memperbanyak exhaust fan dalam ruangan, pemaksimalan cahaya matahari dalam bangunan, koridor satu arah, pembatasan atau perluasan kapasitas gedung dan sebagainya yang disinergikan menjadi sebuah bangunan sehat sehingga fungsi bangunan yang mengakomodasi ribuan pengguna di dalamnya dapat tetap berjalan di era kenormalan baru dengan kemungkinan penyebaran virus kecil. Kemudian konsep new normal ini dapat dijadikan sebagai solusi atas persoalan – persoalan bangunan konvensi dan eksibisi akibat pandemi. Selain itu perencanaan dan perancangan pusat konvensi dan eksibisi dengan tatanan yang sesuai dengan konsisi era new normal ini dapat kembali mewadahi pelaksanaan kegiatan – kegiatan festival di Surakarta yang tertunda dan kembali meningkatkan kepercayaan investor untuk mengembangkan usaha dan berinvestasi di Surakarta. Penyelenggaraan kegiatan konvensi dan eksibisi nantinya akan mengimplementasikan konsep hybrid atau kombinasi antara daring dan luring. Dengan syarat pelaksanaan kegiatan di dalam bangunan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Pusat konvensi dan eksibisi dengan konsep new normal ini dapat dijadikan sebagai landmark Kota Surakarta dengan menampilkan tampilan fasadnya yang menggambarkan nuansa budaya tradisional Surakarta sebagai citra dan karakter pada bangunan sehingga dapat dijadikan sebagai simbol kota MICE. Dengan melihat potensi peninggalan kesenian dan budaya yang ada di Surakarta maka konsep bangunan pusat konvensi dan eksibisi ini nantinya menggunakan pendekatan arsitektur Neo-Vernakular yang merupakan suatu penerapan elemen arsitektur yang telah ada di daerah setempat, khususnya pada elemen fisik dan non fisik pada arsitektur Jawa Tengah yang ada di Kota Surakarta. hal ini bertujuan untuk mengembangkan potensi budaya Surakarta dan melestarikan lokalitas yang telah terbentuk secara empiris oleh sebuah tradisi yang kemudian telah mengalami pembaruan dengan upaya eksplorasi yang tepat untuk mendapatkan suatu karya yang lebih maju atau modern tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi setempat. (Putra, 2013).

C. Permasalahan dan Persoalan 1. Permasalahan

Bagaimana konsep perencanaan dan perancangan bangunan Pusat Konvensi dan Eksibisi "pada era new normal" yang dapat mewadahi kegiatan konvensi, eksibisi di Surakarta dengan pendekatan Neo Vernakular.

(8)

24 2. Persoalan

Berdasarkan permasalahan diatas didapatkan beberapa persoalan sebagai berikut:

a. Bagaimana konsep pengolahan tapak Pusat Eksibisi dan Konvensi yang dapat memudahkan pengunjung dalam melakukan mobilisasi dan dapat diakses dari berbagai arah ?

b. Bagaimana merencananakan dan merancang Pusat Eksibisi dan Konvensi di era new normal dengan program ruang, hubungan ruang dan organisasi ruang yang dapat mewadahi seluruh kegiatan dan kebutuhan pengunjung dengan pendekatan neo-vernakular?

c. Bagaimana konsep bentuk, tampilan, struktur, konstruksi dan utilitas dalam perencanaan dan perancangan Pusat Eksibisi dan Konvensi di era new normal yang sesuai dengan kondisi lingkungan Kota Surakarta dengan pendekatan neo-vernakular?

D. Tujuan dan Sasaran 1. Tujuan

Mendapatkan rumusan konsep perencanaan dan perancangan Pusat Eksibisi dan Konvensi dengan pendekatan Neo Vernakular di Surakarta, yang dapat mewadahi aktivitas dan kegiatan konvensi dan ekshibisi di era new normal dan sebagai pengembangan fasilitas kota MICE di Surakarta.

2. Sasaran

Berdasarkan tujuan diatas maka didapatkan sasaran perancangan sebagai berikut:

a. Konsep tapak bangunan yang dapat mendukung kebutuhan Pusat Konvensi dan Eksibisi.

b. Konsep penataan ruang Pusat Konvensi dan Eksibisi di era new normal dengan pendekatan neo-vernakular yang sesuai dengan kebutuhan pengguna didalamnya.

(9)

25 c. Konsep bentuk, tampilan, struktur, konstruksi dan utilitas Pusat Konvensi dan Eksibisi di era new normal dengan pendekatan neo-vernakular yang sesuai dengan kondisi lingkungan Kota Surakarta.

E. Lingkup dan Batasan 1. Lingkup pembahasan

Lingkup pembahasan pada perumusan Pusat Konvensi dan Eksibisi bagi pengisi acara, pengelola dan pengunjung dibatasi pada ilmu seperti kebutuhan dan besaran ruang pada gedung konvensi dan eksibisi sebagai lingkup utama, sedangkan lingkup ilmu arsitektur neo-vernakular milik Charles A Jenck dan jurnal Tjok Pradnya dan lingkup ketentuan pembangunan di era new normal berdasarkan Surat Edaran Kementerian Kesehatan tentang Protokol Pencegahan Penularan Covid-19 di Tempat Kerja Sektor Jasa dan Pedagangan (Area Publik) Nomor HK.02.01/MENKES/335/2020 Dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha dalam masa “New Normal” sebagai teori pendekatan dan sebagai aspek pendukung.

2. Batasan pembahasan

Batasan dalam pembahasan perencanaan dan perancangan Pusat Konvensi dan Eksibisi ini bagi penyelenggara atau pengisi acara, pengelola dan pengunjung pusat konvensi dan eksibisi di Lokasi tapak terpilih di Kota Surakarta dengan memperhatikan kondisi lingkungan di sekitarnya dengan penekanan pada penyelesaian dari persoalan – persoalan diatas.

F. Sistematika

BAB I PENDAHULUAN

Bab 1 membahas latar belakang, permasalahan, persoalan objek rancang, tujuan dan sasaran, sitematika pembahasan dan sistematika studio dalam merancang sebuah konsep perencanaan dan perancangan desain Pusat Eksibisi dan Konvensi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Membahas tentang kajian kepustakaan yaitu teori tentang konvensi dan eksibisi milik Lawson 1981, teori arsitektur neo-vernakular milik

(10)

26 Charles A Jenck dan perencanaan dan perancangan di era new normal berpedoman pada pada Surat Edaran Kementerian Kesehatan tentang Protokol Pencegahan Penularan Covid-19 di Tempat Kerja Sektor Jasa dan Pedagangan (Area Publik) Nomor HK.02.01/MENKES/335/2020 Dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha dalam masa “New Normal”

BAB III METODE PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

Membahas tentang metode yang akan digunakan dalam menganalisis objek rancang bangun pada perencanaan dan perancangan Pusat Eksibisi dan Konvensi di era new new normal dengan pendekatan neo – vernakular yang diawali dengan kerangka berpikir yang meliputi alur berpikir dan alur sistematika penulisan serta alenia penjelasan mengenai kerangka berpikir tersebut kamudian identifikasi perumusan masalah dan persoalan, pengumpulan data. Kemudian data yang didapatkan diolah dan dipaparkan dalam bentuk deskripsi, tabel, grafik, dan grafis. Kemudian dirumuskan dengan metode analisis dan sintesis.

BAB IV TINJAUAN KOTA SURAKARTA SEBAGAI PUSAT KONVENSI DAN EKSIBISI

Pada bab ini dilakukan tinjauan umum mengenai lokasi tapak terpilih dan fasilitas penunjang lain pada perencanaan dan perancangan Pusat Eksibisi dan Konvensi di Surakarta. Menguraikan mengenai potensi, kendala dan kondisi di Kota Surakarta sebagai kriteria pemilihan tapak terpilih. Kemudian dilakukan pembahasan mengenai tinjauan khusus mengenai lokasi tapak terpilih.

BAB V ANALISIS PERENCANAAN

Membahas mengenai deskripsi proyek, visi - misi, fungsi, kelembagaan, lokasi proyek, pelaku, kegiatan pada Pusat Eksibisi dan Konvensi di era new normal dengan pendekatan neo – vernakular di Surakarta berdasarkan aspek peruangan, tapak, struktur, bentuk, utilitas.

(11)

27 BAB VI ANALISIS PERANCANGAN

Bab ini berisi aspek – aspek yang berkaitan dengan analisis pengolahan tapak terpilih di Kota Surakarta, kebutuhan ruang, massa bangunan, bentuk, tampilan dan struktur bangunan, utilitas kenyamanan bangunan. Kemudian penerapan teori neo-vernakular pada perancangan Pusat Eksibisi dan Konvensi pada era new normal di Surakarta.

BAB VII KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

Bab ini berisi konsep perencanaan dan perancangan yang didapat berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pada bab sebelumnya.

Berupa konsep perencanaan dan perancangan yang terdiri dari konsep peruangan, konsep penataan tapak, konsep struktur, konsep tampilan, bentuk dan gubahan masa bangunan, serta konsep utilitas pada objek rancang bangun Pusat Konvensi dan Eksibisi di Surakarta dan telah disesuaikan dengan desain yang mampu menerapkan konsep new normal dengan pendekatan neo-vernakular

DAFTAR PUSTAKA

Gambar

Tabel 1. 1 Kegiatan Even Tahunan di Kota Surakarta
Tabel 1. 2 Penelitian Mengenai Bangunan Publik Konvensi Dan Eksibisi

Referensi

Dokumen terkait

Menghasilkan landasan konseptual perancangan dan perencanaan Pusat Pelatihan DJ dan Modern Dance di Yogyakarta yang dapat mewadahi serta menunjang kegiatan

ƒ Spasial : Menggali mengenai propinsi Yogyakarta, dalam rangka perencanaan pembangunan Pusat Pendidikan Musik Di Yogyakarta yang yang mewadahi kegiatan musik, dengan

Pembahasan diungkapkan dalam disiplin ilmu Arsitektur yang dapat dipakai sebagai landasan konsep untuk perencanaan dan perancangan fisik Taman Rekreasi Bayanan Sebagai Wadah

Konsep perencanaan dan perancangan bangunan hotel bisnis dengan pendekatan arsitektur metafora yang mencakup aspek lokasi dan site hotel bisnis yang dapat mewadahi

Jadi pengertian Urban Gallery of Surakarta merupakan perencanaan dan perancangan suatu ruang atau bangunan yang digunakan sebagai pameran kota yang didalamnya

Kawasan karst Pegunungan Sewu dianggap sebagai wilayah yang berpotensi untuk dijadikan pusat pengembangan ilmu speleologi.. Karst Gunung Sewu berada di bagian

Arti keseluruhan dari judul “Pusat Informasi dan Pengembangan Kabupaten Kebumen (Pendekatan Arsitektur Tropis)” yaitu merupakan suatu pusat atau suatu wadah

architecturesworldidea77 Maka dengan demikian Kantor Sewa dengan Pendekatan Arsitektur Hemat Energi adalah bangunan yang dipinjam dengan membayar dan mewadahi transaksi bisnis dan