• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata kunci : radar cuaca, debu vulkanik, HYSPLIT, trayektori, dispersi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kata kunci : radar cuaca, debu vulkanik, HYSPLIT, trayektori, dispersi"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

IDENTIFIKASI DEBU VULKANIK DAN KETINGGIAN ERUPSI

MENGGUNAKAN CITRA RADAR SEBAGAI DATA INPUT MODEL

HYSPLIT

(Studi Kasus Letusan Gunung Sangeang Api Tanggal 30 Mei 2014)

I Kadek Mas Satriyabawa1 , Eko Wardoyo2

1

Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Jakarta

2

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Jakarta Email : [email protected]

Abstrak

Informasi sebaran debu vulkanik sangat dibutuhkan untuk meminimalisir bahaya yang ditimbulkan, terutama di wilayah Indonesia yang mempunyai banyak gunung api aktif. Dalam penelitian ini identifikasi debu vulkanik menggunakan radar cuaca untuk mengetahui pola erupsi, karakteristik dan ketinggian erupsi debu vulkanik serta memanfaatkan ketinggian erupsi yang didapatkan menggunakan radar cuaca sebagai salah satu data yang digunakan untuk membuat trayektori dan dispersi debu vulkanik dengan mengambil kejadian erupsi Gunung Sangeang Api di Nusa Tenggara Barat tahun 2014. Produk radar cuaca yang digunakan untuk melakukan analisis adalah CMAX, VCUT, dan VVP serta sebagai data masukan model digunakan data GDAS dengan resolusi spasial 1o x 1o. Hasil penelitian menunjukkan secara horizontal dan vertikal semakin menjauhi puncak gunung nilai reflektivitas maksimum echo material vulkanik semakin kecil. Ketinggian erupsi erupsi Gunung Sangeang Api mencapai 16 km dengan nilai reflektivitas maksimum mencapai 55 – 60 dBZ. Debu vulkanik kasar seluruhnya terdeteksi oleh radar cuaca sedangkan debu halus hanya jenis Prolate. Model HYSPLIT mampu menampilkan arah dan sebaran debu vulkanik dalam bentuk trayektori dan dispersi pada setiap level ketinggian dengan lebih detail dan real time serta informasi ketinggian maksimum sebaran debu vulkanik yang ditampilkan lebih objektif. Debu vulkanik Gunung Sangeang Api dominan tersebar ke arah tenggara pada ketinggian 2 – 14 km di atas puncak gunung.

Kata kunci : radar cuaca, debu vulkanik, HYSPLIT, trayektori, dispersi

Abstract

Distribution of volcanic ash information is urgently needed to minimize the inflicted dangers, especially in Indonesia which has many active volcanoes. In this study the identification of volcanic ash using weather radar to find out patterns characteristic of the eruption and height of volcanic ash eruptions and utilizing height of the eruption obtained from weather radar as one of the data used to create the trajectory and dispersion of volcanic ash by taking case of eruption of Mount Sangeang Api in West Nusa Tenggara in 2014. Weather radar products used to conduct the analysis are CMAX, VCUT, and VVP. Then GDAS data with spatial resolution 10 x 10 usedas input data for model. The results showed that the more volcanic materials getting away from the mountain top horizontally and vertically, the less maximum reflectivity values echo of the volcanic material. Height of Mount Sangeang Api eruption reaches 16 km with maximum reflectivity value reaches 55 – 60 dBZ. Rough Volcanic ash detected by weather radar entirely while the fine ash is just kind of Prolate. HYSPLIT model is able to display the direction and distribution of volcanic ash in form of the trajectory and dispersion at each height level with more detail and real time as well as the information of the maximum height of the volcanic ash’s spread appear more objective. Volcanic ash of Sangeang Api Mountain dominant spread to South at 2 – 14 km height above the top of the mountain.

(2)

I. PENDAHULUAN

Indonesia mempunyai ratusan gunung api aktif yang berpotensi untuk sering terjadi erupsi. Salah satu dampak erupsi gunung api adalah ditutupnya bandara dan aktivitas penerbangan di wilayah yang diliputi oleh debu vulkanik. Debu vulkanik sangat berbahaya bagi pesawat dan keselamatan penerbangan, contohnya pesawat Boeing B747-200 pada tahun 1982 mengalami kematian mesin mendadak dan turun dengan cepat akibat debu vulkanik dari letusan Gunung Galunggung, Garut (Casadevall, 1993).

Radar cuaca memiliki kemampuan untuk mendeteksi debu vulkanik dengan resolusi spasial dan resolusi temporal yang tinggi serta dapat memberikan informasi ketinggian kolom erupsi (Marzano dkk., 2006). Wardoyo (2015) menyatakan bahwa ketinggian erupsi debu vulkanik yang teramati menggunakan radar selalu lebih tinggi daripada informasi ketinggian erupsi yang diberikan oleh PVMBG.

Tujuan penulisan ini adalah mengidentifikasi debu vulkanik menggunakan radar cuaca dan memanfaatkan ketinggian erupsi yang didapatkan menggunakan radar cuaca sebagai salah satu data yang digunakan untuk membuat trayektori dan dispersi debu vulkanik dengan model HYSPLIT.

II. DATA DAN METODE

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Data mentah radar Gematronik di Stasiun Meteorologi M. Salahudin Bima pada tanggal 30 Mei 2014. Radar cuaca Bima adalah tipe C-Band single polarization yang pada saat kejadian erupsi, memakai metode operasional VCP 21 dengan 9 elevasi (0.5o-19,5o), kecepatan antena 12 derajat/detik, dual PRF (staggered PRF) 5/4 600/480 Hz, dengan range sampling 2 dan range step 500 m serta jarak dari radar ke lokasi gunung adalah sekitar 57 km. Data ini di peroleh dari Sub Bidang Pengelolaan Citra Radar BMKG Pusat. 2. Data mentah satelit MTSAT dalam format

.Z pada tanggal 13 Februari 2014 dan 30 Mei 2014 diperoleh dari Sub Bidang Pengelolaan Citra Satelit BMKG Pusat.

3. Data GDAS pada tanggal 8-13 Februari 2014 dan 29-31 Mei 2014 dengan resolusi spasial 1o x 1o dapat diakses di

http://ready.arl.noaa.gov/ready2-bin/extract/extractfile.pl

Pengolahan data mentah radar Gematronik Stasiun Meteorologi M. Salahudin Bima untuk menghasilkan produk CMAX, VVP, VCUT serta melakukan perubahan pallete pada tampilan produk radar untuk fokus melihat jenis debu vulkanik berdasarkan nilai intensitas reflektivitasnya yaitu antara -20 dBZ sampai 20 dBZ seperti pada tabel 2.1

Tabel 1. Klasifikasi nilai intensitas reflektivitas debu vulkanik

dBZ

Fine Ash, Tumbling -13.1592 Fine Ash, Oblate -12.7484 Fine Ash, Prolate -12.0257 Coarse Ash, Tumbling 16.8287 Coarse Ash, Oblate 17.1295 Coarse Ash, Prolate 17.8018

Trayektori dan dispersi debu vulkanik dibuat dengan input data ketinggian erupsi yang didapat dari produk VCUT radar dan data GDAS.

Sebagai pembanding identifikasi debu vulkanik menggunakan citra radar akan dibandingkan dengan hasil identifikasi citra satelit MTSAT. Sedangkan untuk trayektori dan dispersi debu vulkanik menggunakan HYSPLIT4 akan dibandingkan dengan informasi sebaran debu vulkanik dari VAAC Darwin.

(3)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut adalah hasil – hasil pengolahan data yang telah dilakukan pada kejadian erupsi Gunung Sangeang Api tanggal 20 Mei 2014.

a. Sebaran echo erupsi material vulkanik Berdasarkan gambar 1. dapat dilihat pola perkembangan echo material vulkanik dari citra produk CMAX radar Gematronik Bima pada tanggal 30 Mei 2014 jam 07.49 UTC sampai 08.19 UTC yang dominan mengarah ke tenggara dan sebagian kecil mengarah ke barat dari lokasi Gunung Sangeang Api. Pada jam 07.49 UTC terlihat bahwa sebaran echo baru muncul dan sangat terbatas yang mengindikasikan proses erupsi baru mulai terjadi pada jam ini dengan nilai

reflektivitas maksimum mencapai 35 - 40 dBZ dan pada interval 10 menit kemudian yaitu pada jam 07.59 UTC sebaran echo sudah mulai berkembang lebih luas diikuti dengan meningkatnya nilai reflektivitas menjadi 50 – 55 dBZ. Perkembangan sebaran echo masih terus terjadi dimana pada jam 08.09 UTC nilai reflektivitas maksimum terlihat mampu mencapai 55 – 60 dBZ walaupun pada area yang tidak terlalu luas, sedangkan pada jam 08.19 UTC nilai reflektivitas maksimum 50 – 55 dBZ. Terdapat pola yang khas echo erupsi material vulkanik pada kedua gunung untuk semua jam yaitu nilai reflektivitas maksimum selalu berada di dekat lokasi gunung dan semakin menjauhi gunung nilai reflektivitas semakin berkurang.

Gambar 1. Perkembangan echo material vulkanik Gunung Sangeang Api dari citra produk CMAX mulai jam 07.49 UTC sampai jam 08.19 UTC.

b. Struktur vertikal erupsi material vulkanik

Gambar 2. menunjukkan skema VCUT yang dilakukan pada citra CMAX pada jam 07.59 UTC sampai jam 08.09 UTC yang mewakili tahap perkembangan echo material vulkanik, untuk mendapatkan struktur vertikal dan ketinggian echo erupsi material vulkanik

Gunung Sangeang Api. VCUT skema A dilakukan pada koordinat 8.118o LS dan 118.945o BT sampai 8.456o LS dan 119.383o BT sedangkan skema B dilakukan pada koordinat 8.259o LS dan 119.011o BT sampai 8.180o LS dan 119.146o BT. Hasil VCUT dengan skema A dan B pada gambar 2. menunjukkan ketinggian erupsi material

(4)

vulkanik mencapai 16 km. Pada saat perkembangan echo erupsi pertama kali jam 07.59 UTC ketinggian erupsi telah mencapai 16 km dengan nilai reflektivitas maksimum mencapai 50 – 55 dBZ. Kondisi pada jam 08.09 UTC tidak jauh berbeda untuk ketinggian erupsi namun terlihat adanya peningkatan nilai reflektivitas maksimum di sekitar ketinggian puncak gunung menjadi 55

– 60 dBZ. Daerah puncak gunung secara vertikal pada gambar 2. ditunjukkan oleh daerah yang dibatasi warna merah. Secara vertikal struktur echo erupsi juga mempunyai pola yang khas dimana semakin ke atas nilai reflektivitas maksimumnya semakin kecil namun sebagian echo erupsi terlihat hilang terutama pada daerah di atas puncak gunung

Gambar 2. Struktur vertikal erupsi Gunung Sangeang Api dari citra produk VCUT Skema A (kiri) dan skema B (kanan) mulai jam 07.59 UTC sampai jam 08.09 UTC.

c. Karakteristik debu vulkanik

Citra produk CMAX dan VCUT dengan perubahan pallete yang ditampilkan pada gambar 3. pada jam 08.19 UTC. Berdasarkan citra produk CMAX terlihat debu vulkanik dominan memiliki nilai reflektivitas maksimum 10 – 20 dBZ menyebar jauh dari lokasi gunung dan hanya sedikit yang terlihat memiliki nilai reflektivitas maksimum 0 – 15 dBZ sedangkan dari VCUT didapatkan ketinggian debu vulkanik ini mencapai 16 km

dan debu vulkanik halus terlihat mencapai jarak yang lebih jauh dari lokasi gunung daripada debu yang lebih kasar, debu kasar ditunjukkan dengan nilai reflektivitas maksimum 17 dBZ atau lebih sedangkan debu halus kurang dari 17 dBZ. Pada area yang terbatas disekitar puncak gunung juga terlihat adanya echo debu vulkanik halus dengan reflektivitas -5 – 0 dBZ.

(5)

Gambar 3. Debu vulkanik Gunung Sangeang Api dari citra produk CMAX (kiri) dan VCUT (kanan) dengan perubahan pallete pada jam 08.19 UTC

d. Profil arah dan kecepatan angin tiap ketinggian

Gambar 4. menunjukkan arah dan kecepatan angin pada setiap ketinggian mulai dari ketinggian puncak Gunung Sangeang Api yaitu 1909 m di atas permukaan laut dengan interval ketinggian 1 km dan interval waktu 10 menit mulai jam 07.09 UTC sampai 08.19 UTC dan berubah menjadi interval 6 menit dari jam 08.25 UTC sampai 09.55 UTC. Arah dan kecepatan angin yang dapat ditampilkan hanya pada ketinggian puncak gunung, dimana menunjukkan arah pergerakan ke barat daya sampai barat laut dengan kecepatan 2.5 m/s sampai 5 m/s.

Gambar 4. profil arah dan kecepatan angin pada erupsi Gunung Sangeang Api dari citra produk

VVP e. Citra satelit MTSAT

Pengolahan data satelit MTSAT untuk mengidentifikasi debu vulkanik menghasilkan citra komposit RGB dimana debu vulkanik akan digambarkan dengan daerah berwarna merah muda. Citra komposit RGB satelit MTSAT yang ditampilkan dalam penelitian

ini mulai dari waktu terdekat dengan jam kejadian erupsi pada Gunung Sangeang Api sampai dengan 3 jam kedepan seperti yang ditunjukkan oleh gambar 5. Citra komposit RGB menunjukkan pola perkembangan debu vulkanik yang teramati oleh satelit MTSAT mulai jam 08.00 UTC sampai 11.00 UTC. Pada jam 08.00 UTC belum terlihat adanya daerah perkembangan dan pergerakan debu vulkanik, pada jam 09.00 UTC, 10.00 UTC, dan 11.00 UTC perkembangan sebaran debu vulkanik semakin meluas dengan arah dominan ke tenggara dan barat.

f. Trayektori dan dispersi debu vulkanik Berdasarkan gambar 6 (kiri), terlihat bahwa trayektori debu vulkanik Gunung Sangeang Api pada tanggal 30 Mei 2014 mulai jam 08.00 UTC sampai 12 jam ke depan dengan interval waktu 3 jam dari ketinggian puncak gunung sampai ketinggian erupsi. Pada ketinggian puncak gunung terlihat lintasan debu vulkanik mengarah ke barat daya dalam waktu 6 jam sampai 12 jam hanya mencapai jarak kurang dari 100 km dari lokasi gunung setelah terjadinya erupsi. Pada ketinggian 2 km sampai 14 km di atas puncak gunung lintasan debu mengarah ke tenggara dengan jarak yang dicapai selama 6 jam rata-rata mencapai lebih dari 200 km sedangkan selama 12 jam dapat mencapai lebih dari 300 km. Pada ketinggian 16 km di atas puncak gunung lintasan debu vulkanik terlihat mengarah ke timur laut dalam waktu 6 jam mencapai jarak lebih dari 200 km sedangkan selama 12 jam dapat mencapai lebih 300 km. Pergerakan debu vulkanik ke arah tenggara dan timur laut lebih jauh daripada ke arah barat daya.

(6)

Gambar 6. (kanan), menunjukkan dispersi debu vulkanik selama 12 jam ke depan dengan interval waktu 6 jam dari permukaan sampai ketinggian 55000 ft di atas permukaan laut. Kondisi sebaran debu vulkanik selama 6 jam setelah terjadinya erupsi dari permukaan sampai ketinggian 20000 ft (± 4 km di atas puncak gunung) dominan mengarah ke tenggara dan sebagian kecil ke arah barat, kondisi cukup berbeda terjadi di atas ketinggian 20000 ft dimana sebaran debu vulkanik yang mengarah ke barat tidak terlihat lagi dan hanya dominan mengarah ke tenggara, pada ketinggian 35000

ft (± 9 km di atas puncak gunung) sampai 55000 ft (± 15 km di atas puncak gunung) debu vulkanik terlihat sudah menjauhi lokasi gunung dengan sedikit bergeser ke timur laut. Pada interval waktu 12 jam setelah terjadinya erupsi secara umum arah sebaran debu vulkanik relatif sama dengan 6 jam sebelumnya, dari permukaan sampai ketinggian 20000 ft sebaran debu vulkanik yang mengarah ke tenggara dan barat semakin meningkat, sedangkan pada ketinggian di atas 20000 ft terlihat debu vulkanik sudah menjauhi posisi gunung terutama pada ketinggian 35000 ft sampai 55000 ft.

Gambar 5. Citra komposit RGB debu vulkanik Gunung Sangeang Api dari jam 08.00 UTC sampai jam 11.00 UTC

Gambar 6. Trayektori (kiri) dan dispersi (kanan) debu vulkanik dari model HYSPLIT

(7)

g. Sebaran debu vulkanik dari model VAAC Darwin

Gambar 7. menunjukkan informasi awal yang diberikan oleh VAAC Darwin terkait sebaran debu vulkanik pada jam 10.30 UTC sampai 12 jam ke depan dengan interval waktu 6 jam mulai dari permukaan sampai ketinggian 50000 ft di atas permukaan laut (± 13 km diatas puncak gunung). Pada jam 10.30 UTC sampai 6 jam ke depan, sebaran debu vulkanik dari permukaan sampai ketinggian 50000 ft terlihat dominan ke tenggara dengan area terbatas. Sedangkan pada jam 16.30 UTC sampai 6 jam ke depan, arah sebaran debu vulkanik terbagi menjadi dua arah, sebagian kecil debu vulkanik yang menyebar ke barat berada pada ketinggian permukaan sampai 20000 ft (± 4 km diatas puncak gunung), sedangkan debu vulkanik yang dominan menyebar ke tenggara berada pada ketinggian permukaan sampai 50000 ft.

Gambar 7. informasi sebaran debu vulkanik yang dikeluarkan oleh VAAC Darwin

h. Pembahasan

Perkembangan sebaran echo disertai dengan peningkatan nilai reflektivitas maksimum menunjukkan proses erupsi yang masih terus berlangsung dimana nilai reflektivitas maksimum berasal dari material vulkanik yang memiliki ukuran yang lebih besar dan terkonsentrasi di area dekat dengan lokasi gunung. Semakin jauh dari lokasi gunung maka nilai reflektivitas maksimum echo juga berkurang karena hanya material vulkanik yang berukuran kecil yang mampu bergerak jauh dari lokasi erupsi gunung akibat tertiup oleh angin, sedangkan material yang lebih besar dan berat akan jatuh di dekat area gunung api, hal ini sejalan dengan yang

dinyatakan Sparks (1997) dan Wardoyo (2015). Penurunan reflektivitas maksimum mengindikasikan bahwa material vulkanik yang dihasilkan tidak lagi berukuran sebesar sebelumnya. Nilai reflektivitas maksimum yang dihasilkan oleh material erupsi Gunung Sangeang Api mencapai 55 – 60 dBZ.

Pada kasus erupsi Gunung Sangeang kecepatan angin yang relatif lemah pada ketinggian puncak gunung juga menyebabkan sebaran material vulkanik ke arah barat daya sampai barat laut tidak signifikan. Analisis angin hanya dapat dilakukan pada ketinggian puncak karena arah dan kecepatan angin pada ketinggian lainnya tidak muncul pada produk VVP yang disebabkan penggunaan dual PRF pada mode operasional radar Bima mempengaruhi sensitivitas radar khususnya pada kualitas data velocity, sejalan dengan penelitian Dazhang dkk. (1984) yang menyatakan estimasi kecepatan dengan dual PRF kurang baik karena standar deviasi yang besar.

Secara vertikal terlihat material vulkanik yang memiliki nilai reflektivitas maksimum lebih besar berada pada ketinggian yang lebih rendah atau di dekat ketinggian puncak gunung, sedangkan semakin bertambahnya ketinggian nilai reflektivitas maksimumnya semakin berkurang. Pola ini mengindikasikan material vulkanik yang berukuran lebih kecil dapat mencapai ketinggian yang lebih tinggi dibandingkan material vulkanik besar, hasil ini juga menjelaskan jarak yang dicapai oleh sebaran material vulkanik. Pada erupsi Gunung Sangeang Api arah sebaran material vulkanik yang mengarah ke barat daya sampai barat laut pada ketinggian puncak gunung tidak terlihat jelas, hal ini disebabkan karena ukuran material vulkanik yang besar dan kecepatan angin yang sangat lemah. Hasil VCUT ketinggian erupsi yang didapatkan melalui citra radar cukup baik dan lebih bersifat objektif dibandingkan dengan hasil pengamatan visual yang memiliki keterbatasan untuk melihat material vulkanik yang sangat kecil dan tinggi sehingga lebih bersifat subjektif, namun pada citra hasil VCUT juga terdapat beberapa echo yang hilang pada ketinggian tertentu yang disebabkan oleh resolusi data yang kurang baik yang dipengaruhi oleh parameter – parameter metode operasional scanning

(8)

strategy yang digunakan pada saat kejadian erupsi.

Debu vulkanik kasar dapat diidentifikasi dengan baik oleh radar cuaca pada kasus erupsi Gunung Sangeang Api, sebgaian besar debu vulkanik kasar menyebar lebih dekat dari lokasi gunung dan pada jam – jam awal erupsi selalu bercampur dengan debu vulkanik halus. Sedangkan debu vulkanik halus tidak teridentifikasi dengan sempurna berdasarkan nilai reflektivitasnya, terutama untuk nilai reflektivitas negatif. Pada kasus erupsi Gunung Sangeang Api ditemukan debu vulkanik halus dengan reflektivitas -5 dBZ walaupun pada area yang terbatas. Berdasarkan penelitian Wardoyo (2015) dan nilai reflektivitas pada produk 3DVAD seharusnya radar cuaca mampu untuk mendeteksi debu vulkanik sampai lebih kecil dari -10 dBZ.

Penyebab yang memungkinkan untuk menjelaskan keterbatasan radar untuk mendeteksi nilai reflektivitas negatif pada penelitian ini adalah terkait hal teknis yaitu metode operasional radar yang diterapkan. Radar cuaca Bima pada kejadian erupsi ini menggunakan mode scanning VCP 21 yang biasa diterapkan untuk mengamati hujan, sedangkan debu vulkanik memiliki nilai reflektivitas yang lebih kecil dari hujan dan dibutuhkan mode scanning yang lebih sensitif untuk mendeteksinya. Debu vulkanik halus yang diidentifikasi oleh radar cuaca adalah jenis Prolate berdasarkan nilai reflektivitas pada produk 3DVAD dan debu ini menyebar lebih jauh dari lokasi gunung.

Pantauan dari Satelit MTSAT yang memiliki resolusi waktu 1 jam menyebabkan erupsi Sangeang Api baru teramati sekitar 1 jam setelah erupsi pertama yang teramati oleh radar cuaca. Pada erupsi Gunung Sangeang api, debu vulkanik dapat teridentifikasi dengan baik karena kondisi cuaca pada kasus ini mendukung dimana tidak banyak awan di sekitar lokasi, namun citra RGB belum dapat digunakan menentukan ketinggian debu vulkanik yang bergerak dengan arah berbeda.

Satelit MTSAT mampu mengamati debu vulkanik yang telah menyebar jauh dari lokasi erupsi gunung api, sedangkan radar cuaca terbatas pada jarak maksimum dan kemampuan radar dalam mengamati ukuran partikel yang sangat kecil sehinga semakin jauh dari pusat radar debu vulkanik tidak

dapat teramati. Dari segi waktu kejadian, radar cuaca mampu memberikan informasi yang lebih baik dimana informasi yang diberikan selalu lebih real time dibandingkan satelit MTSAT yang memiliki resolusi temporal 1 jam, sejalan dengan penelitian Marzano dkk. (2006) dan Zulqisthi (2015). Radar cuaca juga mampu memberikan informasi karakteristik debu vulkanik serta ketinggian erupsi dengan baik dan dapat digunakan sebagai dasar untuk memberikan informasi lanjutan.

Ketinggian erupsi berpengaruh terhadap ketinggian trayektori dan dispersi yang dihasilkan model. Pada kasus erupsi Gunung Sangeang Api trayektori debu vulkanik terbagi menjadi arah yaitu sebagian kecil ke barat sampai barat daya pada ketinggian bawah dan dominan ke tenggara pada ketinggian atas yang didukung hasil dispersi debu vulkanik yang menunjukkan sebaran debu vulkanik ke arah yang sama dengan trayektori. Sedangkan infomasi sebaran debu vulkanik yang dikeluarkan oleh VAAC Darwin pertama kali pada jam 10.30 UTC yang berarti terdapat perbedaan waktu sekitar 1 jam 30 menit dari waktu terjadinya erupsi, selain itu informasi ketinggian maksimum yang diberikan sampai 50000 ft, namun pada informasi ini arah sebaran debu vulkanik yang berbeda sudah ditampilkan dalam ketinggian yang berbeda.

Arah dan sebaran debu vulkanik yang terlihat dari kedua model relatif sama namun Model HYSPLIT memiliki keunggulan dari segi waktu pemberian informasi awal yang lebih real time dan informasi ketinggian sebaran maksimum debu vulkanik yang lebih tinggi dengan perbedaan arah sebaran vulkanik yang terlihat jelas secara vertikal. IV . KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan radar cuaca mampu memberikan informasi terkait pola, karakteristik dan ketinggian debu vulkanik dengan baik dan real time. Secara horizontal dan vertikal semakin menjauhi puncak gunung nilai reflektivitas maksimum echo material vulkanik semakin kecil, ketinggian erupsi Gunung Sangeang Api mencapai 16 km dengan nilai reflektivitas maksimum mencapai 55 – 60 dBZ. Debu vulkanik kasar

(9)

seluruhnya terdeteksi oleh radar cuaca sedangkan debu halus hanya jenis Prolate.

Sebaran debu vulkanik di atmosfer dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin, ukuran debu vulkanik serta ketinggian erupsi. Model HYSPLIT mampu menampilkan arah dan sebaran debu vulkanik dalam bentuk trayektori dan dispersi pada setiap level ketinggian dengan lebih detail dan real time serta informasi ketinggian maksimum sebaran debu vulkanik yang ditampilkan lebih objektif. Debu vulkanik Gunung Sangeang Api dominan tersebar ke arah tenggara pada ketinggian 2 – 14 km di atas puncak gunung

DAFTAR PUSTAKA

Abdillah, M. R., 2012, Prediksi Sebaran Abu Vulkanik di Udara dengan Menggunakan Model Puff, Skripsi, Program Studi Meteorologi, ITB, Bandung.

Casadevall, T. J., 1993, Volcanic Hazards and Aviation Safety, FAA Aviation Safety Journal.

Dazhang, T., S. G. Geotis, R. E. Passarelli Jr., A. L. Hansen, and C. L. Frush, 1984, Evaluation of an Alternating-PRF Method for Extending the Range of Unambiguous Doppler Velocity, 22nd conference on Radar

Meteorology, Z¨urich,

Switzerland, Amer. Meteor. Soc., 523–527.

Kurniawan, A., Pengaruh letusan Gunung Sinabung pada 15 September 2013 terhadap pengukuran deposisi asam di SPAG Bukit Kototabang, Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 5, No. 1 (April 2014), halaman 19 -38

Marzano, Frank S., Barbieri, S., Ferrauto, G., Vulpiani, G., Piciotti, E., Karlsdottir, S., Rose, W.I., 2006, Can We Use Weather Radar to

Retrieve Volcanic Ash Eruption Clouds? A Model and Experimental Analysis, Proceedings of ERAD 2006. Sparks, R. S. J., Bursik, M. I., Carey, S.

N., Gilbert, J. S., Glaze, L. S., Siggurdsson, H., dan Woods, A. W., 1997, Volcanic Plumes, Wiley, New York.

Wardoyo, Eko, 2013, Detecting Volcanic Ash with C-Band Weather Radar (Case Study Eruption of Mount Lokon December 6, 2012), 1st Asian Conference on Radar Meteorology, Jeju Island, South Korea.

Wardoyo, Eko, 2015, The Capabilities Single Polarization C-Band Weather Radar for Detecting Volcanic Ash in Indonesia, 37th

Conference on Radar

Meteorology, Oklahoma, U.S. Webley, P. W., dan Mastin, L., 2009,

Improved Prediction and Tracking of Volcanic Ash Clouds, Journal of Volcanology and Geothermal Research, 186, 1-9.

Zulqisthi, H. T. 2015, Pemanfaatan Radar Cuaca Dalam Mengidentifikasi Awan Debu Vulkanik (Studi Kasus Letusan Gunung Kelud dan Gunung Sinabung), Skripsi, Program Studi Meteorologi ,STMKG, Tangerang Selatan.

Gambar

Tabel 1. Klasifikasi nilai intensitas reflektivitas
Gambar 1.  Perkembangan echo material vulkanik Gunung Sangeang Api dari citra produk CMAX mulai
Gambar 2.  Struktur vertikal erupsi Gunung Sangeang Api dari citra produk VCUT Skema A (kiri) dan
Gambar 3.  Debu vulkanik Gunung Sangeang Api dari citra produk CMAX (kiri) dan VCUT (kanan)
+3

Referensi

Dokumen terkait