BAB II TINJAUAN PUSTAKA. suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, pengalaman individu

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hakikat Belajar dan Pembelajaran

Belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Hamalik (2011) mengungkapkan belajar bukan suatu tujuan tetapi merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan . Belajar merupakan suatu tindakan yang dilakukan secara sadar untuk memperoleh ketrampilan atau kompetensi tertentu melalui latihan dan interaksi dengan lingkungan. Di dalam proses belajar, belajar terjadi secara sengaja atau tidak sengaja. Seperti yang disampaikan oleh Suyono & Hariyanto (2014) belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan ketrampilan, memperbaiki perilaku, sikap dan mengokohkan kepribadian. Pengalaman yang terjadi berulang kali melahirkan pengetahuan (knowledge).

Belajar dimaknai sebagai suatu proses perubahan tingkah laku yang meliputi perubahan kecenderungan manusia seperti sikap, minat atau nilai dan perubahan kemampuannya yakni peningkatan kemampuan untuk melakukan berbagai jenis performance (kinerja). Menurut Sunaryo dalam Komalasari, (2011) belajar merupakan suatu kegiatan di mana seseorang membuat atau menghasilkan suatu perubahan tingkah laku yang ada pada dirinya dalam pengetahuan, sikap,

(2)

dan keterampilan. Lebih lanjut Trianto (2011) menjelaskan bahwa belajar bermakna merupakan suatu proses di mana seorang guru membantu siswa menanamkan pengetahuan baru dengan konsep-konsep pengetahuan awal yang sudah dimilki siswa yang berkaitan dengan konsep yang dipelajari. Pembelajaran konsep membuat siswa dapat memahami dan membedakan benda-benda, peristiwa atau kejadian yang ada dalam lingkungan sekitar.

Berdasarkan pendapat tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan perilaku sebagai hasil dari perolehan dan pengalaman individu yang didapatkan dari lingkungannya yang terjadi karena ada usaha dari diri setiap individu.

2.2 Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran yang sering juga disebut dengan belajar mengajar, sebagai terjemahan dalam istilah “instructional” terdiri dari dua kata, belajar dan

mengajar. Pembelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam proses transfer informasi,terdapat proses penyajian materi jika tidak ada penyajian materi maka suatu pembelajaran tidak terarah. Menurut Triyanto (2009), pembelajaran adalah usaha sadar dari seseorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarah iteraksi siswa dengan sumber belajar lainya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Dengan demikian, maka pembelajaran merupakan interaksi dua arah dari seorang guru dan peserta didik, dimana keduanya terjadi komunikasi (transfer) yang intens dan terarah menuju pada suatu target yang telah diterapkan sebelumnya.

(3)

2.3 Model Pembelajaran Kreatif-Produktif

2.3.1 Pengertian Model Pembelajaran Kreatif-Produktif

Kreativitas terkait menciptakan kemampuan yang baru sebagai kemampuan untuk melihat hubungan yang baru antara unsur-unsur sudah ada sebelumnya. Kreativitas terkait langsung dengan produktifitas dan merupakan bagian dari esensial dalam pemecahan masalah. Menurut Wena (2010) kreativitas terkait langsung dengan produktivitas dan merupakan bagian esensial dalam pemecahan masalah. Kreativitas dan produktivitas merupakan hal-hal yang saling berkaitan dan dalam proses pembelajaran hal tersebut harus ditumbuhkan secara bersamaan. Pembelajaran kreatif-produktif merupakan model yang dikembangkan dengan mengacu pada berbagai pendekatan pembelajaran yang diasumsikan mampu meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Pendekatan pembelajaran tersebut antara lain belajar aktif dan kreatif (CBSA) yang juga dikenal dengan strategi inkuiri, pembelajaran konstruktif, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif.

2.3.2 Model Pembelajaran Kreatif-Produktif

Pembelajaran kreatif-produktif merupakan model yang dikembangkan dengan mengacu pada berbagai pendekatan pembelajaran yang diasumsikan mampu meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar. Model pembelajaran ini diharapkan dapat menantang para siswa untuk menghasilkan sesuatu yang kreatif sebagai re-kreasi atau pencerminan

(4)

pemahaman. Strategi pembelajaran kreatif- produktif memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dari pembelajran lainya. Sedangkan menurut Zulkifli (2011) model pembelajaran kreatif-produktif merangsang siswa untuk lancar dan luwes dalam berfikir, mampu melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang dan mampu melahirkan banyak gagasan yang sangat menarik selama pembelajaran yang disertai usaha-usaha yang dapat menciptakan suasana yang bermakna.

2.3.3 Karateristik Pembelajran Kreatif-Produktif

Pembelajaran kreatif-produktif memiliki beberapa karakteristik

yang membedakannya dengan pembelajaran lainnya. Menurut

Suryosubroto (2009) karakteristik pembelajaran kreatif produktif antara lain sebagai berikut :

a. Keterlibatan siswa secara intelektual dan emosional dalam pembelajaran. Keterlibatan ini difasilitasi melalui pemberian kesempatan kepada siswa untuk melakukan eksplorasi dari konsep bidang ilmu yang sedang dikaji serta menafsirkan hasil eksplorasi tersebut. Siswa diberi kebebasan untuk menjelajahi berbagai sumber yang relevan dengan topik/konsep/masalah yang sedang dikaji. Eksplorasi ini akan meningkatkan siswa melakukan interaksi dengan lingkungan dan pengalamannya sendiri, sebagai media untuk mengkonstruksi pengetahuan.

b. Siswa didorong untuk menemukan/mengkonstruksi sendiri konsep yang sedang dikaji melalui penafsiran yang dilakukan dengan

(5)

berbagai cara seperti observasi, diskusi atau percobaan.Cara ini, konsep tidak ditransfer oleh guru kepada siswa, tetapi dibentuk sendiri oleh siswa berdasarkan pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang terjadi ketika melakukan eksplorasi serta interpretasi. Siswa didorong untuk memberikan makna dari pengalamannya, sehingga pemahamannya terhadap fenomena yang sedang dikaji menjadi meningkat. Disamping itu, siswa didorong

untuk memunculkan berbagai sudut pandang terhadap

topik/konsep/masalah yang sama, menggunakan argumentasi yang relevan. Hal hal ini merupakan salah satu realisasi hakikat konstruktiviance dalam pembelajaran.

c. Siswa diberi kesempatan untuk bertanggung jawab menyelesaikan tugas bersama. Kesempatan ini diberikan melalui kegiatan eksplorasi, interpretasi dan rekreasi. Disamping itu, siswa juga

mendapat kesempatan untuk membantu temannya dalam

menyelesaikan satu tugas. Kebersamaan, baik dalam eksplorasi, interpretasi serta rekreasi dan pemajangan hasil merupakan arena interaksi yang memperkaya pengalaman.

d. Pada dasarnya untuk menjadi kreatif seseorang harus bekerja keras, berdedikasi tinggi, antusias, serta percaya diri. Konteks pembelajaran, kreativitas dapat ditumbuhkan dengan menciptakan suasana kelas yang memungkinkan siswa dan guru merasa bebas mengkaji dan mengeksplorasi topik -topik penting kurikulum. Guru

(6)

mengajukan pertanyaan yang membuat siswa berpikir keras, kemudian mengejar pendapat siswa tentang ide-ide besar dari berbagai persepektif.

Menurut Black dalam Suryosubroto, (2009) guru juga mendorong siswa untuk menunjukkan/mendemonstrasikan pemahamannya tentang topik-topik penting dalam kurikulum menurut caranya sendiri. Dengan mengacu kepada karakteristik tersebut, strategi pembelajaran kreatif-produktif diasumsikan mampu memotivasi siswa dalam melaksanakan berbagai kegiatan pembelajaran sehingga siswa merasa tertantang menyelesaikan tugas-tugasnya secara kreatif.

2.3.4 Langkah-langkah Model Kreatif-Produktif

Dalam pelaksanaan pembelajaran, strategi kreatif-produktif harus dilakukan dengan tahap-tahap tertentu. Terdapat 5 tahap strategi pembelajaran kreatif produktif, yaitu (a) orientasi (b) eksplorasi (c) interpretasi (d) re-kreasi (e) evaluasi. Suryosubroto (2009) dan Wena (2010) merumuskan langkah-langkah kegiatan sebagai kreatif-produktif sebagai berikut :

a. Orientasi

Pada kesempatan ini siswa di beri kesempatan untuk mengungkapkan pendapat tentang langkah/cara kerja serta hasil akhir yang di harapkan serta penilaian. Dalam tahap ini terjadi negosiasi antara siswa dan guru tentang aspek-aspek tersebut,

(7)

namun pada akhirnya di harapkan terjadinya kesepakatan guru dan siswa.

b. Eksplorasi

Dalam tahap ini siswa melakukan eksplorasi terhadap masalah/konsep yang akan di kaji. Eksplorasi dapat di lakukan dengan berbagai cara, seperti membaca, melakukan observasi, wawancara, melakukan percobaaan, browsing lewat internet dan sebagainya. Melalui kegiatan eksplorasi siswa akan di rangsang untuk meningkatkan rasa ingin tahunya dan hal tersebut dapat memacu kegiatan belajar selanjutnya.

c. Interprestasi

Dalam tahap ini kegiatan eksplorasi diinterprestasikan melalui kegiatan analisis, diskusi, tanya jawab, atau bahkan percobaan kembali. Tahap interprestasi sangat penting di lakukan dalam kegiatan pembelajaran karena melalui tahap interprestasi siswa di dorong untuk berpikir tingkat tinggi (analisis, sintesis dan evaluasi) sehingga terbiasa dalam memecahkan masalah meninjau dari berbagai aspek.

d. Re-kreasi

Dalam tahap ini siswa ditugaskan untuk menghasilkan sesuatu yang mencerminkan pemahamannya terhadap konsep/ topik/ masalah yang di kaji menurut kajiannya masing-masing. Rekreasi dapat di lakukan secara individual atau kelompok sesuai

(8)

dengan pilihan siswa. Hasil rekreasi merupakan produk kreatif sehingga dapat dipersentasikan, dipajang atau ditindak lanjuti. e. Evaluasi

Evaluasi dilakukan selama proses pembelajaran dan ada akhir pembelajaran. Selama proses pembelajaran evaluasi di laksanakan dengan mengamati sikap dan kemampuan berpikir siswa. Hal-hal yang di nilai dalam proses pembelajaran adalah kesungguhan mengerjakan tugas, hasil eksplorasi, kemampuan berpikir, kritis dan logis dalam memberikan pandangan/ argumentasi, kemampuan unutk bekerja sama. Sedangkan evaluasi pada akhir pembelajaran adalah evaluasi terhadap produk kreatif yang di hasilkan siswa.

(9)

Secara operasional kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut.

Tabel 2.1 Kegitan guru dan siswa selama proses pembelajaran menurut Wena (2010).

No Tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa

1. Orientasi Mengomunikasikan

tujuan, waktu, langkah pembelajaran, hasil yang diharapkan dan penilaian.

Menanggapi/ mendiskusikan langkah

pembelajaran, hasil yang diharapkan dan penilaian.

2. Eksplorasi Fasilitator, motivator,

mengarahkan dan memberi bimbingan belajar. Membaca melakukan observasi,wawancara ,melakukan percobaan, browsing lewat internet,dan sebagaiya 3. Interpretasi Membimbing, fasilitator, mengarahkan Analisis, diskusi, tanya jawab,atau berupa percobaan kembali 4. Re-kreasi Membimbing, mengarahkan, memberi dororongan menumbuh kembangkan daya cipta Mengambil keputusan, mengasilkan sesuatu/ produk baru 5. Evaluasi Mengevaluasi, member balikan Mendiskusikan hasil evaluasi

(10)

2.4 Pengertian Kemampuan Analisis Siswa

Kemampuan analisis merupakan kemampuan untuk menguraikan elemen, unsur, faktor, dan sebab-sebab dari suatu fenomena. Kemampuan analisis ditunjukan dengan mampunya menguraikan pengetahuan ke bagian-bagaian yang lebih kecil dan mampu menunjukkan hubungan antar bagian tersebut. Anderson & Krathwohl (2010) menyatakan bahwa kemampuan analisis siswa adalah kemampuan siswa dalam menguraikan suatu informasi ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil untuk menentukan keterkaitan antar unsur. Kemampuan analisis ini mencakup tiga proses yaitu siswa dapat mengurai unsur informasi yang relevan, menentukan hubungan antara unsur yang relevan, dan menentukan sudut pandang tentang tujuan dalam mempelajari suatu informasi.

Harsanto (2005) menyatakan bahwa kemampuan analisis siswa adalah kemampuan siswa dalam menerangkan hubungan-hubungan yang ada dan menkombinasikan unsur-unsur menjadi satu kesatuan. Sedangkan menurut Kuswana (2012) kemampuan analisis artinya mampu memecah materi menjadi bagian-bagian pokok dan mengambarkan bagaimana bagian-bagian tersebut, dihubungkan satu sama lain maupun menjadi sebuah struktur keseluruhan. Kemampuan analisis ini dapat dibagi menjadi tiga subkatagori, yaitu analisis tentang bagian-bagian, analisis tentang hubungan-hubungan, dan analisis tentang prinsip-prinsip pengorganisasian.

(11)

2.4.1 Pentingnya Kemampuan Analisis Siswa

Kemampuan analisis penting dimiliki siswa karena siswa akan mampu mendudukan situasi, masalah, subjek, atau keputusan pada pemeriksaan yang mendalam. Siswa yang memiliki kemampuan analisis dapat menguji pernyataan berdasarkan standar objektif dan dapat menemukan akar permasalahan. Siswa juga dapat menimbang dan memutuskan atas dasar logika. Siswa dengan kemampuan analisis mampu membedakan hasil pemikiran analisisnya dengan perasaan dan prasangka yang ada pada dalam dirinya. Siswa yang memiliki kemampuan analisis dapat tekun, jujur, empati dan mengakui keterbatasan diri atas pengetahuan. Ciri ini mendorong pembelajaran diarahkan untuk melatih

berpikir analitis (pengambilan keputusan) bukan berpikir mekanistis (rutin). Kemampuan analisis berada pada domain proses kognitif tingkat empat, setelah mengingat (C1), memahami (C2), dan mengaplikasiskan (C3). Kemampuan ini merupakan salah satu fokus tujuan dari pendidikan.

2.4.2 Cara Mengukur Kemampuan Analisis Siswa

Pengukuran kemampuan analisis siswa dapat diketahui melalui Kata Kerja Operasional (KKO) taksonomi bloom memiliki karakteristik dapat diukur, dievaluasi, dan dibuktikan. KKO keampuan analisis meliputi : membandingkan, mempertentangkan, memisahkan, menghubungkan, membuat diagram, menunjukan hubungan, dan mempertanyakan. Anderson & Krathwohl (2010) mengemukakan juga bahwa kemampuan

(12)

analisis diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu membedakan, mengorganisasikan dan mengatribusikan.

2.5 Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan peristiwa yang bersifat internal dalam arti sesuatu yang terjadi di diri seseorang. Hasil belajar berkaitan dengan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil belajar yang berkaitan dengan kemampuan kognitif, mencakup kemampuan yang berhubungan dengan kemampuan intelektual (berfikir, mengetahui dan pemecahan masalah). Sedangkan hasil belajar yang berkaitan dengan kemampuan psikomotorik berkaitan dengan keterampilan (skill) dan kemampuan untuk bertindak setelah siswa menerima pengalaman belajar tertentu Proses belajar mengajar selalu berkaitan dengan siswa yaitu manusia yang belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar banyak jenisnya, tetapi menurut Dalyono (2005) dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu: faktor

internal (faktor dari dalam diri peserta didik) dan faktor eksternal

(faktor dari luar peserta didik).

a. Faktor Internal

Faktor intern individu merupakan faktor yang paling penting dalam pencapaian hasil belajar yang optimal. Dalam melakukan proses belajar, semua kemampuan yang dimiliki individu dicurahkan untuk mencerna materi yang akan dipelajari. Faktor yang berasal dari diri siswa sendiri

(13)

meliputi : a) kesehatan, b) Integelensi dan bakat, c) minat dan motifasi, d) cara belajar

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal individu dapat dibagi menjadi tiga faktor yaitu faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat. Ketiga faktor ini satu sama lain memberikan warna tersendiri pada perkembangan individu, terutama dalam kegiatan belajar. Beberapa faktor eksternal meliputi a) lingkungan keluarga, b) lingkungan sekolah, c) lingkungan masyarakat .

2.6 Hakikat Pembelajaran Biologi

Pembelajaran merupakan usaha sengaja, terarah dan bertujuan agar orang lain dapat memperoleh pengalaman yang bermakna . Pembelajaran biologi di sekolah menengah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar serta proses pengembangan lebih lanjut dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari. Menurut Hamalik (2010), bahwa bagi setiap guru memahami sebaik-baiknya tentang proses belajar siswa, agar dapat memberikan bimbingan dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi bagi siswa.

Biologi sebagai ilmu memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang lain. Biologi merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang mempelajari makhluk hidup dan kehidupannya dari berbagai aspek persoalan dan tingkat organisasinya. Menurut Sudjoko (2001), bahwa produk keilmuan biologi berwujud kumpulan faktafakta maupun konsep-konsep sebagai hasil dari proses keilmuan biologi.

(14)

Proses pembelajaran biologi merupakan penciptaan situasi dan kondisi yang kondusif sehingga terjadi interaksi antara subjek didik dengan objek belajarnya yang berupa makhluk hidup dan segala aspek kehidupannya. Melalui interaksi antara subjek didik dengan objek belajar dapat menyebabkan perkembangan proses mental dan sensori motorik yang optimal pada diri siswa. Mata pelajaran biologi di SMA merupakan kelanjutan IPA di SMP yang menekankan pada fenomena alam dan penerapannya meliputi aspek-aspek sebagai berikut:

1. Hakikat biologi, keanekaragaman hayati dan pengelompokan makhluk hidup, hubungan antar komponen ekosistem, perubahan materi dan perubahan energi, peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem. 2. Organisasi seluler, struktur jaringan, struktur dan fungsi organ

tumbuhan, hewan dan manusia serta penerapannya dalam konsep sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat.

3. Proses yang tejadi pada tumbuhan, proses metabolisme, hereditas, evolusi, bioteknologi dan implikasinya pada sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat.

4. Pembelajaran biologi di sekolah menengah juga harus memperhatikan karakteristik perkembangan peserta didik yang sedang berada pada periode operasi formal. Periode ini yang berkembang pada peserta didik adalah kemampuan berpikir secara simbolis dan bisa memahami hal-hal yang bersifat imajinatif (dari abstrak menuju konkrit). Dalam hal ini

(15)

harus diperhatikan karena peserta didik mempunyai kemampuan berpikir yang berbeda satu sama lain.

2.7 Penelitian Terkait

Menurut Rianawaty (2014) dalam jurnalnya bahwa model pembelajaran

kreatif-produktif dapat meningkatkan prestasi dan motivasi belajar IPA siawa kelas VIII SMP Negeri Magelang. Sementara Menurut Oya & Budiningsih (2014) dalam jurnalnya bahwa model pembelajaran kreatif dan produktif dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar pada pembelajaran bahasa Indonesia di kelas V SD Negeri Bhayangkara Yogyakarta.. Sedangkan Yennita (2009) model pembelajaran kreatif-produktif dapat meningkatkan hasil belajar Fisika pada aspek keterampilan psikomotor dan sosial siswa kelas X MAN 1Pekanbaru.

Figur

Tabel 2.1 Kegitan guru dan siswa selama proses pembelajaran

Tabel 2.1

Kegitan guru dan siswa selama proses pembelajaran p.9

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :