TINJAUAN PUSTAKA
Pakan Domba
Kebutuhan ternak ruminansia terhadap pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat bergantung pada jenis ternak, umur, fase (pertumbuhan, dewasa, bunting, menyusui), kondisi tubuh (normal, sakit) dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur, kelembaban, udara) serta berat badannya. Jadi setiap ekor ternak yang berbeda kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda (Kartadisastra, 1997).
Kebutuhan harian ternak domba akan zat-zat makanan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kebutuhan harian zat-zat makanan untuk ternak domba
BB Bahan kering Energi Protein Ca P
ME TDN Total DD Kg Kg %BB Mcal Kg Gr Gr (gr) (gr) 5 0.14 2.8 0.60 0.61 51 41 1.9 1.4 10 0.25 2.5 1.01 1.28 81 68 2.3 1.6 15 0.36 2.4 1.37 0.38 115 92 2.8 1.9 20 0.51 2.6 1.80 0.5 150 120 3.4 2.3 25 0.62 2.5 1.91 0.53 160 128 4.1 2.8 30 0.81 2.7 2.44 0.67 204 163 4.8 3.3 Sumber: NRC (1995).
Karena pakan yang baik akan menjadikan ternak sanggup melaksanakan kegiatan serta fungsi proses dalam tubuh secara normal. Selanjutnya Murtidjo (1993), menyatakan bahwa pemberian pakan harus dilandasi beberapa kebutuhan antara lain:
1.
Kebutuhan hidup pokok, yaitu kebutuhan pokok meskipun ternak domba
dalam keadaan hidup tidak mengalami pertumbuhan dan kegiatan berproduksi.
2.
Kebutuhan untuk pertumbuhan, yaitu kebutuhan pakan yang diperlukan ternak
domba untuk memproduksi jaringan tubuh dan menambah bobot tubuh.
3.
Kebutuhan untuk reproduksi, yaitu kebutuhan pakan yang diperlukan ternak
domba untuk proses reproduksi.
4.
Kebutuhan laktasi, yaitu kebutuhan ternak domba untuk memproduksi air susu.
Bahan baku makanan yang dapat diberikan untuk domba terdiri dari 2 jenis
yakni hijauan dan konsentrat. Hijauan pakan merupakan serat kasar yang
terdiri dari hijauan pakan yang dapat berupa rumput lapangan, limbah hasil
pertanian, rumput jenis unggul yang telah diintroduksikan juga beberapa jenis
leguminosa. Sedangkan konsentrat merupakan makanan penguat yang terdiri
dari bahan makanan yang kaya karbohidrat dan protein. Konsentrat untuk
ternak domba umumnya disebut makanan penguat yang memiliki kandungan
serat kasar kurang dari 18 % dan mudah dicerna.
Pakan yang di berikan sebaiknya jangan sekedar untuk mengatasi rasa lapar atau sebagai pengisi perut saja melainkan harus benar-benar bermamfaat untuk kebutuhan hidup, membentuk sel-sel baru, mengganti sel-sel yang rusak dan untuk produksi (Widayati dan Widalestari, 1996).
Pemberian pakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi ternak dapat mengakibatkan defisiensi nutrien sehingga ternak mudah terserang penyakit, penyediaan
dan pemberian pakan harus diupayakan secara terus-menerus sesuai dengan standar gizi menurut umur ternak (Cahyono, 1998).
Penggunaan Konsentrat
Ternak ruminansia membutuhkan konsentrat untuk mengisi kekurangan makanan yang diperolehnya dari hijauan. Pemberian konsentrat pada sapi tidak sama dengan hewan lainnya (Novirma, 1991).
Konsentrat adalah pakan yang memiliki protein dan energi yang cukup tinggi PK ≥ 18%. Pada ternak yang digemukkan semakin banyak konsentrat dalam pakan akan semakin baik asalkan konsumsi serat kasar tidak kurang dari 15% BK pakan. Oleh karena itu, banyaknya pemberian pakan konsentrat adalah formula pakan harus terbatas agar tidak terlalu gemuk (Siregar, 2003).
Pemberian konsentrat terlalu banyak akan meningkatkan konsentrasi energi pakan yang dapat menurunkan tingkat konsumsi sehingga tingkat konsumsi energi sendiri dapat berkurang (Parakkasi, 1995).
Jerami Padi
Jerami padi merupakan salah satu pakan alternatif yang paling banyak
dipakai untuk memenuhi kekurangan hijauan pakan ternak. Namun bahan pakan
tersebut berkualitas rendah karena rendahnya kandungan nutrien dan kurang dapat
dicerna. Dinding sel jerami padi banyak mengandung lignin dan silika, sehingga
menyebabkan selulosa dan hemiselulosa yang merupakan sumber energi bagi
ternak tidak dapat dicerna oleh mikroba di dalam rumen. Oleh karena itu agar
jerami padi dapat memenuhi syarat sebagai bahan pakan yang baik, maka
kualitasnya harus ditingkatka
Tidak semua bagian hijauan disukai oleh domba. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa hijauan yang dicincang sekitar 5 - 10 cm akan lebih efisien
dikonsumsi oleh domba, karena bentuknya yang kecil-kecil. Dengan
pencincangan, batang-batang muda yang jika diberikan secara utuh kurang atau
tidak disukai, akan dikonsumsi oleh domba yang bersangkutan. Dengan
pencincangan, domba akan mengambil cincangan hijauan tersebut sesuai dengan
kapasitas mulutnya. Berbeda halnya dengan hijauan yang masih utuh, domba
mengambilnya dalam jumlah yang lebih banyak, dan sesekali berebut dengan
domba lainnya. Ada kalanya hijauan tersebut terlepas dan jatuh ke lantai kandang
yang kotor. Akhirnya hijauan tidak terkonsumsi. Pencincangan hijauan
membutuhkan beberapa tindakan lain agar tujuan efisiensi pemberian pakan
tercapai (Sodiq dan Abidin, 2002). Kandungan nutrisi jerami padi dapat dilihat
pada Tabel 2.
Tabel 2. Kandungan nutrisi jerami padi
Uraian
Kandungan (%)
Bahan kering
31,87
Protein kasar
4,50
Serat kasar
35,00
Lemak kasar
1,55
TDN
43,00
Sumber: Anggorodi ( 1995).Tabel 3. Komponen Jerami Padi Komponen Kandungan (%) Selulosa 39 Hemiselulosa 27 Lignin 12 Abu 11 Sumber: Wordpress.com (2012).
Pengolahan Pakan Ternak dengan Fermentasi
Fermentasi adalah proses metabolisme dimana enzim dari mikroorganisme melakukan oksidasi, reduksi, hidrolisa dan reaksi kimia lainnya sehingga terjadi perubahan kimia pada suatu substrat organik produk tertentu (Saono, 1974 disitasi sinaga, 2002).
Menurut jenis mediumnya proses fermentasi dibagi menjadi dua yaitu fermentasi medium padat dan fermentasi medium cair. Fermentasi medium padat merupakan fermentasi yang digunakan tidak larut tetapi cukup mengandung air untuk keperluan mikroorganisme, sedangkan fermentasi medium cair adalah proses fermentasi yang substratnya larut atau tersuspensi didalam fase cair (Hardjo dkk., 1989).
Hardjo dkk
.,
(1989) mengemukakan keuntungan penggunaan medium
padat antara lain:
1. Tidak memerlukan tambahan lain kecuali air.
2. Persiapan inokulum lebih sederhana.
3. Dapat menghasilkan produk dengan kepekatan tinggi.
4. Kontrol terhadap kontaminan lebih mudah.
5. Kondisi medium mendekati keadaan tempat tumbuh alamiah.
6. Produktifitas tinggi.
7. Aerasi optimum.
8. Tidak diperlukan kontrol terhadap pH maupun suhu yang teliti.
Selain itu dalam menyiapkan proses fermentasi medium padat perlu memperhatikan beberapa faktor, yaitu sifat substrat terutama yang berhubungan dengan derajat kristalisasi dan derajat polimerisasi, sifat organisme karena masing-masing mikroba mempunyai kemampuan yang berbeda dalam memecah komponen substrat untuk keperluan metabolismenya, kinetika metabolisme dan kinetika enzim (Hardjo dkk.,
1989).
Penambahan bahan-bahan nutrien kedalam fermentasi dapat menyokong dan merangsang pertumbuhan mikroorganisme. Salah satu bahan yang dapat digunakan pada proses fermentasi adalah urea. Urea yang ditambahkan pada proses fermentasi akan diurai oleh enzim urease menjadi amonia dan karbon dioksida yang selanjutnya digunakan untuk pembentukan asam amino (Fardiaz, 1989).
Pertumbuhan kapang ditandai dengan adanya miselium dan konidia. Pada proses fermentasi tahap awal, pertumbuhan kapang belum terlihat karena masih dalam tahap adaptasi. Selanjutnya pertumbuhan sel kapang meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah spora yang tumbuh di permukaan substrat (Supriyati dkk., 1998).
Aspergillus niger
Aspergillus niger
adalah kapang anggota Genus
Aspergillus,
Famili
Eurotiaceae
, Ordo
Eurotiales
, Sub-klas
Plektomycetidae
, Klas
Ascomycetes
,
Subdivisi
Ascomicotina
dan Divisi
Amastiqmycota
(Hardjo dkk., 1989).
Aspergillus niger
mempunyai kepala pembawa konidia yang besar, dipak
secara padat, bulat dan berwarna hitam coklat atau ungu coklat. Kapang ini
mempunyai bagian yang khas yaitu hifanya berseptat, spora yang bersifat aseksual
dan tumbuh memanjang diatas stigma, mempunyai sifat aerobik, sehingga dalam
pertumbuhannya memerlukan oksigen yang cukup.
Aspergillus niger
termasuk
mikroba mesofilik dengan pertumbuhan maksimum pada suhu 35-37º C dan
membutuhkan kadar air media antara 65 % sampai 75 %. Derajat keasaman untuk
pertumbuhannya adalah 2 - 8,5 tetapi pertumbuhannya akan lebih baik pada
kondisi keasaman atau pH yang lebih rendah (Fardiaz, 1989).
Hardjo dkk
.,
(1989), menyatakan bahwa
Aspergillus niger
didalam
pertumbuhannya berhubungan secara langsung dengan zat makanan yang terdapat
dalam medium. Molekul sederhana seperti gula dan komponen lain yang larut
disekeliling hifa dapat langsung diserap. Molekul lain yang lebih kompleks seperti
selulosa, pati dan protein harus dipecah terlebih dahulu sebelum diserap kedalam
sel. Untuk itu
Aspergillus niger
menghasilkan enzim ekstraselluler seperti
amylase, amiglukosidase, selulase, katalase dan glukosidase, sangat baik
dipergunakan untuk fermentasi.
NaOH (Kaustik Soda)
Prinsip pengolahan jerami dengan Kaustik Soda (NaOH) adalah memutuskan sebagian ikatan selulosa dan hemiselulosa dengan lignin dan silika. Ada empat cara yang dapat dilakukan yaitu 1) cara basah dimana, rendam 50 kg jerami ke dalam 400 liter larutan NaOH dengan konsentrasi 2-3 % selama 24 jam. Setelah 24 jam jerami dicuci dengan air sampai bersih kemudian dikeringkan dalam tempat pemanas 100 derajat, setelah kering dapat diberikan pada ternak. 2) Cara setengah basah, sediakan larutan kaustik soda yaitu 50 gram NaOH dalam 2,5 liter air untuk setiap kilogram jerami. Campurkan larutan kaustik soda tersebut dengan jerami sedemikian rupa sehingga larutan terserap seluruhnya oleh jerami, kemudian didiamkan. Setelah 24-48 jam jerami olahan
tersebut sudah dapat diberikan pada ternak. 3) Cara setengah kering, teknik ini menggunakan mesin pengaduk yang dikonstruksi khusus untuk mengaduk jerami dengan 150 gram NaOH dalam bentuk larutan 32 % untuk setiap kilogram. Setelah diaduk dibiarkan di udara terbuka selama kurang lebih 8 hari, kemudian dapat diberikan pada ternak. 4) Cara kering, teknik ini digunakan pada industri pakan dengan peralatan besar yang bekerja sekaligus menggiling jerami dan mencampur dengan larutan kaustik soda konsentrasi sangat tinggi kemudian secara otomatis tepung jerami tersebut dijadikan pellet. Pengeringan tepung jerami menjadi pellet melalui sistem tekanan dengan temperatur tinggi. Pellet tersebut dapat diberikan langsung pada ternak atau disimpan lama (Ismail, 2011).
Penggunaan Molases pada Pakan Rendah Nutrisi
Hasil samping dari pabrik gula tebu yang berbentuk cairan kental
berwarna kekuning kuningan adalah molases. Molases dapat diganti sebagai
bahan pakan ternak yang berenergi tinggi. Disamping rasanya manis juga dapat
memperbaiki rasa pakan dan aroma. Manfaat penggunaan molases sebagai bahan
pakan ternak adalah kadar karbohidratnya yang tinggi, vitamin dan mineral yang
cukup
sehingga
dapat
digunakan
meskipun
sebagai
pendukung
(Rangkuti dkk., 1995) Kandungan nutrisi yang terdapat pada molases dapat dilihat
Tabel 4. Kandungan nutrisi pada molases
Zat Nutrisi Kandungan (%)
Bahan kering 92,6
Protein kasar 4,00
Lemak kasar 0,08
Serat Kasar 0,38
TDN 81,00
Sumber : Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak Program Studi Peternakan, FP USU (2000).
Penggunaan Urea pada Pakan Ruminansia
Urea sebagai bahan pakan ternak berfungsi sebagi sumber NPN
(Non Protein Nitrogen) dan mengandung lebih kurang 45% unsur Nitrogen
sehingga pemakaian urea mampu memperbaiki kualitas rumput yang diberikan
kepada domba, namun perlu diingat bahwa penggunaan urea terlalu tinggi
konsentratnya dalam rumen dapat menimbulkan keracunan (Hartadi, dkk., 1990).
Urea diberikan pada ruminansia, akan melengkapi sebagian dari
kebutuhan protein ternak, karena urea tersebut disintesis menjadi protein oleh
mikroorganisme dalam rumen, namun untuk hal itu dibutuhkan sumber energi
(Anggorodi, 1990).
Parakkasi (1995) menyatakan bahwa disamping dapat menguntungkan, urea dapat pula merugikan karena dapat menyebabkan keracunan (minimal tidak bermanfaat) bila penggunaannya tidak semestinya. Oleh karena itu beberapa prinsip dasar penggunaanya perlu diketahui, dimana batas penggunaan urea dalam ransum sekitar 8%.
Sistem Pencernaan Domba
Sistem pencernaan merupakan sistem yang terdiri dari saluran pencernaan dan organ-organ pelengkap yang berperan dalam proses perombakan bahan makanan, baik secara fisik, maupun kimia menjadi zat-zat makanan yang siap diserap oleh dinding saluran pencernaan (Parakkasi, 1990). Menurut Anggorodi (1990) pencernaan adalah penguraian bahan makanan ke dalam zat-zat makanan dalam saluran pencernaan untuk dapat diserap dan digunakan oleh jaringan-jaringan tubuh. Saluran pencernaan dari semua hewan dapat dianggap sebagai tabung yang dimulai dari mulut sampai anus yang fungsinya dalam saluran pencernaan adalah mencernakan dan mengabsorpsi makanan dan mengeluarkan sisa makanan sebagai tinja (Tillman dkk, 1991).
Proses utama dari pencernaan adalah secara mekanik, fermentatif dan hidrolisis. Proses mekanik terdiri dari mastikasi atau pengunyahan dalam mulut dan gerakan-gerakan saluran pencernaan yang dihasilkan oleh konstraksi otot sepanjang usus. Pencernaan secara fermentatif dilakukan oleh mikroorganisme rumen sedangkan secara hidrolisis dilakuakan oleh jasad renik dengan cara penguraian dalam rumen (Tillman dkk, 1991).
Bagian-bagian sistem pencernaan adalah mulut, parinks, (pada ruminansia terdapat rumen retikulum, omasum, abumasum). Usus halus, usus besar serta glandula aksesoris yaitu glandula saliva, hati dan pankreas (Frandson, 1992).
Ruminansia berasal dari kata latin “ruminate” yang berarti “mengunyah
berulang-ulang”. Proses ini disebut proses ruminansi yaitu suatu proses pencernaan pakan yang dimulai dari pakan dimasukkan ke dalam rongga mulut dan masuk ke rumen setelah menjadi bolus-bolus dimuntahkan kembali (regurgitasi), dikunyah kembali (remastikasi), lalu penelanan kembali (redeglutasi) dan dilanjutkan proses fermentasi di rumen dan ke
saluran berikutnya. Proses ruminansi berjalan kira – kira 15 kali sehari, dimana setiap ruminansi berlangsung 1 menit sampai 2 jam (Prawirokusumo, 1994).
Pertumbuhan dan aktivitas mikroba selulolitik yang efisien, sama halnya dengan mikroba rumen lain, membutuhkan sejumlah energi, nitrogen, mineral dan faktor lain (misalnya vitamin). Selanjutnya dinyatakan pula bahwa energi merupakan faktor essensial utama yang digunakan untuk pertumbuhan mikroba rumen. Mikroba rumen menggunakan energi untuk hidup pokok, teristimewa untuk melakukan transport aktif (Bamualim, 1994).
Kemampuan mencerna bahan makanan ditentukan oleh beberapa faktor seperti jenis ternak, komposisi kimia makanan dan penyiapan makanan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa daya cerna suatu bahan makanan tergantung pada keserasian zat-zat makanan yang terkandung didalamnya (Tillman dkk, 1991).
Pertumbuhan Domba
Pertumbuhan adalah perubahan ukuran yang meliputi perubahan berat hidup, bentuk, dimensi linier, dan komposisi tubuh, termasuk perubahan komponenkomponen tubuh seperti otot, lemak, protein dan abu pada karkas (Soeparno, 1994).
Anggorodi (1990) menyatakan bahwa pertumbuhan murni mencakup pertumbuhan dalam bentuk dan berat jaringan-jaringan pembangun seperti urat daging, tulang, jantung, otak, dan semua jaringan-jaringan tubuh lainnya (kecuali jaringan lemak) dan alat-alat tubuh. Dilihat dari sudut kimiawi pertumbuhan murni adalah suatu penambahan jumlah protein dan zat-zat mineral yang tertimbun dalam tubuh.
Herman (2003) menyatakan bahwa domba muda mencapai 75% bobot dewasa pada umur satu tahun dan 25% setelah enam bulan kemudian yaitu pada umur 18 bulan, dengan pakan sesuai kebutuhannya. Domba mengalami pertumbuhan yang sangat cepat
pada tahun pertama yaitu 50% bobot pada umur satu tahun dicapai dalam tiga bulan pertama, 25% pada tiga bulan kedua dan 25% berikutnya dicapai dalam enam bulan terakhir.
Domba jantan muda memiliki potensi untuk tumbuh lebih cepat daripada domba betina muda, pertambahan bobot badan lebih cepat, konsumsi pakan lebih banyak dan penggunaan pakan yang lebih efisien untuk pertumbuhan badan (Anggorodi, 1990). Hal ini dikarenakan adanya hormon kelamin jantan yaitu testoteron (dihasilkan oleh testis). Sekresi testoteron yang tinggi menyebabkan sekresi androgen tinggi sehingga mengakibatkan pertumbuhan yang lebih cepat, terutama setelah munculnya sifat-sifat kelamin sekunder pada ternak jantan (Soeparno, 1994).
Menurut Rasyaf (1994) faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan adalah managemen pemeliharaan. Ternak tidak akan memberikan jasa yang tinggi kepada pemeliharanya, bila ia sendiri tidak dirawat dengan baik. Dan sebaliknya bila ternak dipelihara dengan baik maka akan lain hasilnya.
Pertambahan bobot badan pada umumnya mengalami tiga tingkat kecepatan yang berbeda-beda, yang pertama pertumbuhan tulang, diikuti dengan pertumbuhan otot dan yang terakhir adalah pertumbuhan jaringan lemak (Anggorodi, 1990).
Konsumsi Ransum
Konsumsi ransum atau pakan merupakan kegiatan masuknya sejumlah unsur nutrisi yang ada dalam ransum yang telah tersusun dari berbagai bahan pakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak tersebut. Jumlah yang masuk ini harus sesuai dengan yang dibutuhkan untuk produksi dan untuk hidupnya. Untuk mengetahui jumlah ransum yang sesuai dengan kebutuhannya maka kita harus mengetahui standard konsumsi ransum yang sesuai dengan kebutuhan ternak tersebut (Rasyaf, 1994).
Sedangkan ransum adalah campuran dari beberapa jenis bahan makanan yang diberikan pada ternak dalam waktu 24 jam, makanan itu dapat diberikan seluruhnya sekaligus atau dalam beberapa kali sebagian – sebagian dari padanya. Ransum disebut sempurna apabila kombinasi beberapa bahan mkanan yang bila dikonsumsi secara normal dapat mensuplai zat –zat makanan kepada ternak dalam perbandingan jumlah dan bentuk sedemikian rupa sehingga fungsi – fungsi fisiologis tubuh berjalan dengan normal. Dalam mengkonsumsi ransum ternak di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tingkat energi, keseimbangan asam amino, tingkat kehalusan ransum, keaktifan ternak , berat badan kecepatan pertumbuhan dan suhu lingkungan (Parakkasi, 1995).
Daging
Daging merupakan salah satu bahan pangan dengan fungsi sebagai sumber
zat-zat makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan, pemeliharaan tubuh, aktivitas reproduksi dan menghasilkan air susu (Harper, 1984).
Menurut Soeparno (1994) daging didefinisikan sebagai semua jaringan hewan dan semua produk hasil pengolahan yang sesuai untuk dimakan serta tidak menimbulkan gangguan kesehatan bagi yang memakannya. Komponen utama daging terdiri dari otot, lemak dan sejumlah jaringan ikat (kolagen, retikulin dan elastin) serta adanya pembuluh darah dan syaraf. Lawrie (1995) menyatakan bahwa komposisi daging diperkirakan terdiri atas 75% air, 19% protein, 3,5% substansi non protein yang larut dan 2,5% lemak.
Daging domba mengandung protein 17,1% dan lemak 14,8%. Variasi distribusi perdagingan pada ternak ruminansia kecil disebabkan oleh beberapa faktor seperti spesies, bangsa, umur, nutrisi, jenis kelamin, aktifitas ternak dan tatalaksana pemeliharaan (Hendri, 1986). Herman (1984), mengemukakan bahwa persentase daging domba lokal adalah 60% sedangkan persentase tulangnya 30% dan menurut Wardjojo (1993), persentase daging dalam karkas sebesar 75%.
Tulang
Pulungan dan Rangkuti (1981) melaporkan bahwa pertumbuhan relatif tulang lebih kecil dibandingkan dengan bobot karkas dan dengan perkembangan yang lebih kecil pula. Dengan kata lain, persentase tulang berkurang dengan meningkatnya bobot karkas. Tulang akan bertambah selama hidup ternak dan pada ternak tua terjadi pembentukan tulang yang berasal dari tulang rawan yang mempertautkan tulang dengan tendon atau ligamentum. Sunarlim dan Setiyanto (2005) melaporkan bahwa persentase tulang masing-masing potongan karkas domba lebih tinggi dibandingkan kambing, kecuali pada bagian bahu. Sementara itu, persentase tertinggi berasal dari bagian paha (leg) yaitu sebesar
4,9-6,6% dan terendah berasal dari bagian lipat paha (0%) untuk kambing dan domba.
Lemak
Lemak merupakan salah satu sumber energi yang memberikan kalori paling tinggi. Lemak mempunyai pola pertumbuhan yang berbeda. Awalnya pertumbuhan lemak
sangat lambat, tetapi pada saat memasuki fase penggemukan, pertumbuhannya meningkat dan cepat (Berg dan Butterfield, 1976). Forrest et al (1975) mengatakan bahwa
perlemakan mula-mula terjadi disekitar organ-organ internal, ginjal dan alat pencernaan kemudian lemak disimpan pada jaringan ikat sekitar urat daging, dibawah kulit, sebelum urat daging dan antara urat daging. Jaringan lemak yang terdapat diantara serat-serat urat daging tidak hanya memperlunak daging, tetapi juga memperlezat rasa. Permatasari (1992) menyatakan bahwa timbunan lemak daging domba lebih putih dan padat daripada timbunan lemak daging kambing. Daging domba sedikit berbau prengus atau memiliki aroma yang hampir sama dengan kambing. Ransum tidak terlalu memberikan perubahan pada kandungan lemak ternak ruminansia dan hanya mempengaruhi persentase lemak dalam karkas (Soeparno, 1994).
Frandson (1992) menyatakan bahwa tidak ada perbedaan dalam proporsi daging, tulang dan jaringan ikat maupun pada perlemakan pada tingkat pemberian pakan yang berbeda pada domba, tetapi berbeda dalam depot lemak. Domba yang mendapat pakan lebih banyak mempunyai lemak subkutan lebih banyak.
Non Karkas
Bobot non karkas diperoleh dengan menimbang bagian non karkas. Persentase karkas diperoleh dengan membandingkan bobot karkas dengan bobot potong, sedangkan persentase non karkas diperoleh dengan membandingkan bobot non karkas dengan bobot potong. Penimbangan non karkas dilakukan untuk masing-masing komponen yaitu kepala, darah, organ-organ dalam kecuali ginjal, keempat kaki bagian bawah, ekor, kulit dan bulu (Purbowati dkk., 2005).
Non karkas adalah hasil pemotongan ternak yang terdiri dari kepala, kulit dan bulu, darah, organ-organ internal, kaki bagian bawah dari sendi carpal untuk kaki depan dan sendi tarsal untuk kaki bagian belakang (Soeparno, 1994).
Menurut Ridawan (1991) pakan dapat mempengaruhi pertambahan berat komponen non karkas domba yang mengkonsumsi pakan dengan kandungan energi yang tinggi mempunyai jantung, paru-paru yang lebih berat dari pada domba yang mengkonsumsi pakan dengan kandungan energi yang rendah.
Konsumsi nutrisi tinggi meningkatkan berat hati, rumen, omasum, usus besar, usus kecil dan total alat pencernaan, tetapi sebaliknya bagi berat kepala dan kaki perlakuan dan nutrisi serta spesies pastura dan pangonan pada domba tidak mempengaruhi berat kepala, kaki dan kulit pada berat tubuh yang sama (Soeparno, 1994).
Kadar laju pertumbuhan beberapa komponen non karkas hampir sama dengan kadar laju pertumbuhan tubuh, misalnya abomasum dan usus besar mencapai kedewasaan
hampir bersamaan dengan tubuh. Usus kecil tumbuh lebih cepat dari pada usus besar dan abomasum. Berat rumen retikulum dan omasum meningkat dengan cepat pada awal kehidupan post natal. Meskipun demikian berat total saluran pencernaan menurun pada saat mencapai kedewasaan (Berg dan Butterfield,1976 disitasi Ginting, 2011).
Herman (1993), semakin tinggi bobot potong yang diperoleh maka semakin tinggi pula bobot non karkas dan persentase no karkas yang didapat. Untuk menghasilkan bobot potong dan bobot non karkas maka erat kaitannya dengan konsumsi hewan ternak selama masih hidup. Konsumsi yang tinggi akan menghasilkan bobot tubuh dan bobot potong yang tinggi.