Nama
Nama : A: Andani R.B ndani R.B ArerosAreros
Nim
Nim : : 1406106214061062
Kelas
Kelas : : B/Semester B/Semester VIIIVIII
Essay
Essay
EAREAR LY GOAL DILY GOAL DIRERE CTED TCTED THERAPYHERAPY (EGDT) SEBAGAI TATALAKSANA PASIEN SYOK(EGDT) SEBAGAI TATALAKSANA PASIEN SYOK SEPTIK
SEPTIK
A.
A. Latar Latar BelakangBelakang
Penanganan kegawatdaruratan pada pasien syok perlu dilakukan secara cepat Penanganan kegawatdaruratan pada pasien syok perlu dilakukan secara cepat dan tepat. Syok septik adalah bagian dari sepsis dimana terdapat kelainan sirkulasi, dan tepat. Syok septik adalah bagian dari sepsis dimana terdapat kelainan sirkulasi, seluler atau metabolic yang cukup parah yang meningkatkan mortalitas (Nainggolan, seluler atau metabolic yang cukup parah yang meningkatkan mortalitas (Nainggolan, Kumaat, & Laihad, 2017). Pasien dengan sepsis berat atau syok septik yang datang ke Kumaat, & Laihad, 2017). Pasien dengan sepsis berat atau syok septik yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) sering kali terlambat terdiagnosis disebabkan harus Instalasi Gawat Darurat (IGD) sering kali terlambat terdiagnosis disebabkan harus menunggu pemeriksaan laboratorium/ kurangnya sumber daya manusia sehingga menunggu pemeriksaan laboratorium/ kurangnya sumber daya manusia sehingga pasien terlambat diidentifikasi. Ketika sepsis teridentifikasi awal di IGD, tindakan pasien terlambat diidentifikasi. Ketika sepsis teridentifikasi awal di IGD, tindakan resusitasi EGDT (
resusitasi EGDT (Early goal directed therapy Early goal directed therapy ) dapat dilakukan segera untuk) dapat dilakukan segera untuk menurunkan angka kematian (Silviana, Tavianto, & Kadarsah, 2015).
menurunkan angka kematian (Silviana, Tavianto, & Kadarsah, 2015).
Angka
Angka mortalitas mortalitas sepsis sepsis sangat sangat tinggi tinggi yang yang didukundidukung g oleh oleh berbagaberbagai i macammacam penelitian. Insidensi kasus sepsis di Amerika Serikat lebih dari 1.665.000 dengan angka penelitian. Insidensi kasus sepsis di Amerika Serikat lebih dari 1.665.000 dengan angka kematian 20-50%, meningkat lebih dari 50% pada pasien yang mengalami sakit berat. di kematian 20-50%, meningkat lebih dari 50% pada pasien yang mengalami sakit berat. di Afrika,
Afrika, 50% 50% kematian kematian anak anak di di rumah rumah sakit sakit dapat dapat terjadi terjadi dalam dalam 24 24 jam jam pertama pertama sejaksejak anak masuk rumah sakit, dan syok menjadi komplikasi pada banyak kasus di antaranya. anak masuk rumah sakit, dan syok menjadi komplikasi pada banyak kasus di antaranya. Angka ke
Angka kematian pasimatian pasien akibat sepen akibat sepsis dan sysis dan syok septik di ruaok septik di ruang ICU RSUP ng ICU RSUP Prof. Dr. R. D.Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selama periode Agustus 2016-September 2017 yaitu sebanyak 52 Kandou Manado selama periode Agustus 2016-September 2017 yaitu sebanyak 52 orang meninggal (77,6%) dan sebanyak 15 (22,4%) orang berhasil pindah ruangan atau orang meninggal (77,6%) dan sebanyak 15 (22,4%) orang berhasil pindah ruangan atau keluar dari ICU.
keluar dari ICU.
Early goal directed therapy
Early goal directed therapy (EGDT) merupakan suatu tindakan resusitasi untuk (EGDT) merupakan suatu tindakan resusitasi untuk memperbaiki kondisi pasien dalam keadaan sepsis berat atau syok septik. Early goal memperbaiki kondisi pasien dalam keadaan sepsis berat atau syok septik. Early goal directed therapy dilaksanakan dalam waktu 6 jam pertama diagnosis berdasarkan directed therapy dilaksanakan dalam waktu 6 jam pertama diagnosis berdasarkan
parameter hemodinamik spesifik seperti tekanan arteri rata-rata (MAP), tekanan vena sentral (CVP), dan saturasi oksigen vena sentral (SCVO2). Terapi dengan tujuan awal (EGDT) telah terbukti menurunkan mortalitas di rumah sakit dan meningkatkan morbiditas dengan mengurangi terjadinya disfungsi organ berat.
EGDT kini telah banyak diterapkan di berbagai rumah sakit, sebagai bentuk implementasi Surviving Sepsis Campaing . Meskipun protokol EGDT telah terbukti pada banyak penelitian mampu menekan angka mortalitas pasien sepsis, penelitian menunjukkan EGDT hanya dikerjakan pada 50-60% pasien yang terindikasi. Penelitian yang dilakukan di 150 ruang perawatan intensif pada 16 negara di benua Asia (termasuk Indonesia) bahkan menunjukkan EGDT hanya dikerjakan pada 7,6% pasien sepsis berat dan renjatan septik. Berbagai faktor yang berhubungan dengan tidak terlaksananya EGDT antara lain Faktor kemampuan tenaga kesehatan, tidak tersedianya fasilitas pemeriksaan parameter EGDT, maupun ketidaksetujuan beberapa ahli terhadap konsep EGDT. Selain itu dalam penanganan sepsis terkini diketahui bahwa waktu memegang penanganan penting dan krusial.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik mengambil judul Early goal directed therapy (EGDT) sebagai tatalaksana pasien syok septik di ruang Instalasi Gawat Darurat.
B. Manfaat
Berdasarkan judul/tema tersebut adapun manfaatnya adalah sebagai berikut: 1. Bagi pasien
Agar pasien mendapatkan penanganan Early goal directed therapy (EGDT) dengan cepat dan tepat serta meningkatkan harapan hidup pasien dengan syok septik.
2. Bagi pendidikan
Dapat digunakan sebagai informasi bagi institusi pendidikan dalam pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan di masa yang akan datang, terutama masalah keperawatan gawat darurat.
3. Bagi kemajuan keperawatan
Bermanfaat bagi perawat khususnya di Instalasi gawat darurat (IGD) untuk menambah pengetahuan mengenai tatalaksana pada syok septik dengan Early goal directed therapy (EGDT).
C. Analisis Literatur
Unit gawat darurat (UGD) adalah salah satu bagian di rumah sakit yang menyediakan penanganan awal bagi pasien yang menderita sakit dan cedera, yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya. Di UGD dalam memberikan pelayanan kesehatan, harus cepat dalam mengambil keputusan untuk bisa memberikan tindakan medis dan keperawatan secara cepat, tepat, aman dan efektif.
Syok adalah sindrom klinis dimana terdapat kegagalan dalam pengaturan peredaran darah sehingga terjadi kegagalan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Kegagalan sirkulasi ini biasanya disebabkan oleh kehilangan cairan (hipovolemik), karena kegagalan pompa jantung ataupun karena perubahan resistensi vaskuler perifer. Syok secara garis besar dapat dibedakan menjadi beberapa jenis antara lain syok hipovolemik, syok kardiogenik, syok obstruktif, syok septik, syok neurogenic, dan syok anafilaksis.
Sepsis adalah suatu sindroma klinik yang terjadi oleh karena adanya respon tubuh yang berlebihan terhadap rangsangan produk mikroorganisme. Ditandai dengan panas, takikardia, takipnea, hipotensi dan disfungsi organ berhubungan dengan gangguan sirkulasi darah. Syok septik didefinisikan sebagai sepsis-induced hypotension atau sepsis berat yang menetap meskipun sudah dilakukan resusitasi cairan yang adekuat. Sepsis-induced hypotension adalah sepsis dengan tekanan darah sistolik <90 mmHg atau tekanan arteri rerata (MAP – mean arterial pressure) <70 mmHg, atau tekanan darah sistolik berkurang >40 mmHg atau turun >2 SD (standar deviasi) di bawah nilai normal tekanan darah sesuai usia, tanpa ada penyebab lain hipotensi.
Penyebab dari sepsis terbesar adalah bakteri gram negatif dengan presentase 60-70% kasus yang menghasilkan berbagai produk yang dapat menstimulasi sel imun yang terpacu untuk melepaskan mediator inflamasi. Insidennya meningkat, antara lain karena pemberian antibiotik berlebihan, meningkatnya penggunaan obat sitotoksik dan imunosupresif, meningkatnya frekuensi penggunaan alat-alat invasive seperti kateter intravaskuler, meningkatnya jumlah penyakit rentan infeksi yang dapat hidup lama, serta meningkatnya infeksi yang disebabkan organisme yang resisten terhadap antibiotik.
Sebelum terjadinya syok sepsis biasanya didahului oleh adanya suatu infeksi sepsis. Infeksi sepsis bisa bisebabkan oleh bakteri gram positif dan gram negatif. Pada bakteri gram negatif yang berperan adalah lipopolisakarida (LPS). Suatu protein di dalam plasma, dikenal dengan LBP (Lipopolysacharide binding protein) yang disintesis
oleh hepatosit, diketahui berperan penting dalam metabolisme LPS. LPS masuk ke dalam sirkulasi, sebagian akan diikat oleh faktor inhibitor dalam serum seperti lipoprotein, kilomikron sehingga LPS akan dimetabolisme. Sebagian LPS akan berikatan dengan LBP sehingga mempercepat ikatan dengan CD14.1,2 Kompleks CD14-LPS menyebabkan transduksi sinyal intraseluler melalui nuklear factor kappaB (NFkB), tyrosin kinase (TK), protein kinase C (PKC), suatu faktor transkripsi yang menyebabkan diproduksinya RNA sitokin oleh sel. Kompleks LPS-CD14 terlarut juga akan menyebabkan aktivasi intrasel melalui Toll Like Receptor-2 (TLR2).
Sedangkan pada bakteri gram positif, komponen dinding sel bakteri berupa Lipoteichoic acid (LTA) dan peptidoglikan (PG) merupakan induktor sitokin. Bakteri gram positif menyebabkan sepsis melalui 2 mekanisme: eksotoksin sebagai super antigen dan komponen dinding sel yang menstimulasi imun. Super antigen berikatan dengan molekul MHC kelas II dari antigen presenting cells dan Vβ -chains dari reseptor sel T, kemudian akan mengaktivasi sel T dalam jumlah besar untuk memproduksi sitokin proinflamasi yang berlebih.
Sepsis merupakan proses infeksi dan inflamasi yang kompleks dimulai dengan rangsangan endo atau eksotoksin terhadap sistem imunologi, sehingga terjadi aktivasi makrofag, sekresi berbagai sitokin dan mediator, aktivasi komplemen dan netrofil, sehingga terjadi disfungsi dan kerusakan endotel, aktivasi sistem koagulasi dan trombosit yang menyebabkan gangguan perfusi ke berbagai jaringan dan disfungsi/ kegagalan organ multiple. Penyebaran infeksi bakteri gram negatif yang berat potensial memberikan sindrom klinik yang dinamakan syok sepsis.
Klasifikasi pada syok septik ada 2 fase yang berbeda. Fase pertama disebut sebagai fase hangat atau hiperdinamik ditandai oleh tingginya curah jantung dan fase dilatasi. Pasien menjadi sangat panas atau hipertemi dengan kulit hangat atau kemerahan. Frekuensi jantung dan pernafasan meningkat pengeluaran urine dapat meningkat atau tetap dalam kesadaran normal. Status gastroisntestinal mungkin teganggu seperti mual, muntah atau diare. Fase lanjut disebut sebagai fase dingin atau hipodinamik yang ditandai oleh curah jantung yang rendah dengan fasokontriksi yang mencerminkan upaya tubuh untuk mengkompensasi hipovilema yang disebakan oleh kehilangan volume melalui kapiler. Pada fase ini tekanan darah pasien turun dan kulit dingin serta pucat,.suhu tubuh mungkin normal atau dibawah normal. Frekuensi jantung dan pernafasan tepat cepat, pasien tidak lagi membentuk urine dan dapat terjadi kegagalan organ multiple
Pada perjalanan sepsis diperoleh sirkulasi abnormal yang berupa penurunan volume intravaskular, vasodilatasi perifer, depresi miokardium, serta peningkatan metabolism dan juga terjadi ketidakseimbangan antara pengiriman oksigen sistemik dan kebutuhan oksigen yang menyebabkan hipoksia jaringan secara global ataupun syok. Kompleksitas literatur tentang sepsis dan juga dampak potensial yang terjadi pada perawatan kesehatan pasien, mendorong para klinisi untuk membuat pedoman pengelolaan pasien sepsis sehingga membentuk surviving sepsis campaign (SSC). Pada tahun 2004 SSC menerbitkan pedoman internasional pertama untuk penanganan sepsis berat dan juga syok septik. Tujuan dalam manajemen syok septik adalah untuk menghindari hipovolemia dan komplikasi yang terkait, seperti hipotensi, cedera ginjal, dan kegagalan multi-organ.
Early goal directed therapy (EGDT) merupakan penatalaksanaan pasien dengan sepsis berat dan syok septik yang bertujuan memperbaiki penghantaran oksigen ke jaringan dalam jangka waktu tertentu. Early goal directed therapy diperkenalkan pertama
kali oleh Rivers dkk. pada tahun 2001 yang dilaksanakan dalam waktu 6 jam berhasil meningkatkan harapan hidup dan juga menurunkan angka kematian setelah hari ke-28 sebanyak 16%. Resusitasi EGDT juga dapat menstabilkan hemodinamik pasien dengan pemberian obat-obatan, cairan, antibiotik, mengontrol derajat infeksi sehingga mengurangi kerusakan organ-organ vital lebih lanjut, dan menurunkan angka kematian pada pasien.
Target yang dicapai selama 6 jam pertama resusitasi pada hipoperfusi yang dinduksi oleh sepsis yaitu: tekanan vena sentral 8- 12 mmHg, tekanan arteri (MAP) ≥ 65 mm Hg, Urin ≥ 0,5 mL / kg -1 / jam -1, saturasi oksigen vena kava superior [ScvO2] ≥ 70% atau saturasi oksigen vena campuran[SVO2] ≥ 65%, jika saturasi oksigen vena sentral atau vena campuran selama 6 jam resusitasi tidak dapat mencapai 70% dengan resusitasi cairan, dan tekanan vena sentral 8-12 mm Hg, maka dilakukan transfusi sel darah merah untuk mencapai hematocrit ≥ 30% dan / a tau diberikan infus dobutamin (hingga maksimum 20 μg/ kg -1 / menit -1).
Rangkaian tatalaksana resusitasi pada sepsis berat dijabarkan dalam beberapa tahapan yang harus segera dilakukan dan harus diselesaiakan dalam 6 jam pertama sejak pasien menunjukkan gejala sepsis berat atau syok sepsis. Beberapa tahapan mungkin tidak akan selesai dilakukan pada kondisi pasien tertentu, tetapi dokter harus menilai unsur – unsur yang terkandung di dalamnya. Hal ini bertujuan agar semua
tahapan dapat diselesaikan 100% dalam waktu 6 jam pertama setelah sepsis teridentifikasi.
Tahapan pertama adalah mengukur serum laktat. Kadar laktat dalam pasien syok sepsis cenderung meningkat, dan biasanya bertahan dalam kadar yang tinggi. Selain itu, kadar laktat yang tinggi dalam darah lebih memiliki kecenderungan menurunkan kadar oksigen. Mengetahui kadar laktat pada serum penting untuk mengidentifikasi hipoperfusi jaringan pada pasien yang belum terjadi hipotensi tetapi beresiko mengalami syok septik.
Tahapan kedua adalah melakukan kultur darah sebelum pemberian antibiotik. Melakukan kultur darah sebelum pemberian antibiotic dapat memberikan harapan terbaik untuk mengidentifikasi organisme yang menyebabkan sepsis berat dalam individu pasien. Tahap ketiga, memberikan terapi antibiotic spectrum luas dalam waktu 3 jam sejak pasien menunjukkan gejala untuk pasien gawat darurat dan 1 jam pada pasien tanpa kegawatdaruratan ICU.
Tahapan empat, jika terjadi hipotensi dan / atau kadar laktat > 4 mmol / L (36 mg / dL), maka diberikan kristaloid minimum seawall mungkin sebesar 20 ml/kgBB (atau koloid yang setara), memberikan terapi vasopressor untuk hipotensi yang tidak memberikan respon pada cairan resusitasi awal untuk tetap mempertahankan tekanan arteri rata-rata (MAP)sebesar ≥ 65 mmHg. Tahapan lima, jika terjadi hipotensi persisten meskipun telah diberikan resusitasi cairan (syok septik) dan / atau kadar laktat pada serum > 4 mmol / L (36 mg / dL): mencapai tekanan vena sentral (CVP) dari ≥ 8 mm Hg, mencapai saturasi oksigen vena sentr al (ScvO2) lebih dari ≥ 70%, mencapai saturasi oksigen vena campuran (SVO2) ≥ 65 yang merupakan alternative yang dapat diterima.
Early Goal Directed Therapy merupakan upaya untuk meresusitasi pasien hingga titik akhir syok sepsis .Titik akhir yang digunakan bervariasi sesuai dengan studi klinis tetapi upaya dilakukan berguna untuk menyesuaikan preload jantung, kontraktilitas, dan afterload untuk menyeimbangkan pengiriman oksigen sistemik sesuai dengan permintaan. Setelah tatalaksana resusitasi sepsis, dengan laktat serum > 4 mmol / L (36 mg / dL), atau hipotensi yang dapat diatasi dengan resusitasi cairan awal kristaloid sebanyak 20 mL / kg atau koloid yang setara, kemudian CVP pasien harus dipertahankan ≥ 8 mm Hg. Rekomendasi in i sesuai dengan percobaan early goal directed therapy yang menggunakan ScvO2 sebagai salah satu poin utama akhir.
Implementasi EGDT di unit gawat darurat dalam tatalaksana sepsis berat dan syok septik dalam 1 jam pertama bertujuan untuk mengembalikan dan mempertahankan denyut jantung ke nilai normal, mencapai waktu pengisian kapiler ≤ 2 detik, serta menormalkan tekanan darah. Oksigenasi perlu dipantau secara terus-menerus dengan pulse oximetry . Penggunaan ventilasi mekanik membantu mengurangi peningkatan kerja napas. Target-target berikutnya diharapkan tercapai dalam waktu 6 jam di unit perawatan intensif.
Terdapat 3 parameter utama yang hendak dicapai dalam implementasi EGDT yaitu central venous pressure (CVP), mean arterial pressure (MAP), produksi urin, superior vena cava oxygen saturation (ScvO2) atau mixed venous oxygen saturation (SvO2). Hematokrit merupakan parameter perfusi jaringan lain yang perlu diperhatikan jika target SvO2 belum tercapai. Produksi urin tidak tercantum dalam protokol, namun dalam prinsip tatalaksana hemodinamik pasien sepsis berat produksi urin merupakan salah satu parameter akhir resusitasi yang harus dicapai.
EGDT di mulai dengan regimen 3-hour bundle, yaitu pemberian resusitasi cairan awal dengan kristaloid dengan dosis 30 mL/kgBB pada pasien yang dicurigai hipovolemik atau kadar laktat >4 mmol/L. Fluid challenge adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan periode pemberian cairan awal yang responnya dievaluasi secara hati-hati. Fluid challenge pada EGDT ini memerlukan 4 komponen: cairan yang diberikan, kecepatan cairan infus, target terapi, misalnya MAP/laju jantung. Fluid challenge dapat diulang sampai terjadi perbaikan pada tekanan darah, perfusi jaringan atau ditemukan tanda terjadinya edema paru atau pemberian cairan lebih lanjut gagal untuk meningkatkan perfusi jaringan.
Apabila 3-hour bundle tidak dapat memperbaiki perfusi jaringan maka regimen 6-hour bundle harus dilaksanakan dengan target untuk mencapai tekanan vena sentral 8-12 mmHg pada pasien dengan napas spontan atau 8-15 mmHg pada pasien dengan ventilasi mekanik (1 mmHg setara dengan 1,3 cm H2); tekanan arteri rerata >65 mmHg; saturasi oksigen vena sentral >70 mmHg, dan produksi urin >0,5 mL/kg/jam. Pemasangan kateter vena sentral perlu dilakukan pada sebagian besar pasien sepsis dan syok septik karena dengan pemasangan kateter vena sentral ini dapat dilakukan pengukuran tekanan vena sentral dan saturasi vena sentral. Fluid challenge dengan kristaloid 1000 mL atau koloid 300-500 mL dalam 30 menit dapat diulang sepanjang terjadi perbaikan hemodinamik dan harus dilakukan dibawah pengawasan yang ketat untuk menghindari terjadinya overloading cairan.
Target resusitasi berikutnya adalah tekanan arteri rerata >65 mmHg; bila tekanan vena sentral telah tercapai, tetapi tekanan arteri rerata belum tercapai, maka dapat diberikan vasopresor. Vasopresor pilihan utama yang dapat digunakan adalah norepinephrine hingga 0,03 unit/ menit dengan tujuan untuk meningkatkan tekanan arteri rerata. Alternatif vasopresor lainnya adalah dopamin, khususnya pada pasien yang beresiko rendah terjadinya takikardi.
Parameter lainnya dalam resusitasi dini pada pasien sepsis berat dan syok septik adalah saturasi vena sentral (ScvO2). Target ScvO2 yang harus dicapai adalah 70% dengan asumsi pengiriman oksigen ke jaringan akan tercukupi. Apabila tekanan vena sentral dan tekanan arteri rerata sudah tercapai, namun ScvO2 belum tercapai, maka dapat dilakukan optimalisasi hematokrit hingga 30% dan apabila hematokrit sudah tercapai, namun ScvO2 belum tercapai, maka dapat ditambahkan dengan inotropik, seperti dobutamin. Dengan terkoreksinya hipoperfusi jaringan, diharapkan produksi urin akan meningkat >0,5 mL/ kg/ jam pada pasien yang belum mengalami acute kidney injury (AKI).
Selain itu, evaluasi resusitasi cairan pada sepsis berat dan syok septik juga dapat di nilai berdasarkan parameter Pv-aCO2. Pv-aCO2 adalah perbedaan karbondioksida arteri terhadap vena. Parameter ini menggambarkan keadekuatan aliran darah selama fase syok. Berdasarkan peneitian terbaru, Pv-aCO2 yang meningkat menunjukkan pasien sepsis yang belum teresusitasi dengan adekuat meskipun sudah menunjukkan tercapainya target metabolisme oksigen. Hal ini menunjukkan bahwa Pv-aCO2 dapat digunakan sebagai marker perfusi global karena kemampuannya mendeteksi adanya gangguan aliran darah.
Meskipun hal ini penting, terutama pada tahap awal syok septik, ada konsekuensi potensial dari terlalu banyak akumulasi cairan, seperti hipertensi, edema perifer, edema paru, gagal napas, dan peningkatan kebutuhan jantung. Kelebihan cairan umum terjadi setelah perawatan dengan protokol standar EGDT pada pasien dengan syok septik dan sepsis berat dan dapat mengakibatkan hasil klinis yang buruk. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah ada ambang batas yang cocok untuk cairan setelah resusitasi yang tepat.
D. Clinical Significant
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Silviana, Tavianto, & Kadarsah, (2015) tentang Keberhasilan Early Goal-Directed Therapy dan Faktor Pengganggu pada Pasien
Sepsis Berat di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung yang Akan Menjalani Pembedahan menunjukkan hasil dari 30 pasien IGD berusia >14 tahun dalam kondisi sepsis berat yang menjalani pembedahan di dapatkan 27 pasien berhasil dilakukan EGDT, sedangkan 3 pasien meninggal. Faktor yang memengaruhi EGDT, yaitu faktor medis, kecepatan dalam mendiagnosis sepsis berat, lama pemeriksaan penunjang, faktor koagulasi yang memanjang, dan faktor nonmedis, yaitu lamanya keputusan keluarga, prosedur pengurusan administrasi, dan ketersediaan alat. Berdasarkan hasil penelitian ini, diperlukan standard operasional prosedure (SOP) yang telah disepakati bersama dalam pelaksanaan EGDT pasien sepsis berat yang akan menjalani pembedahan sehingga dengan menentukan diagnosis yang cepat dan juga terapi awal yang tepat dapat menurunkan angka morbiditas serta mortalitas. Resusitasi EGDT masih berhasil dilaksanakan terhadap pasien yang terlambat dilakukan pemasangan CVC tetapi kondisi pasien sepsis berat masih dapat membaik dengan pengawasan yang benar.
E. Kesimpulan
Unit gawat darurat (UGD) adalah salah satu bagian di rumah sakit yang menyediakan penanganan awal bagi pasien yang menderita sakit dan cedera, berperan penting sebagai pintu pertama dalam menyelamatkan kondisi pasien yang mengancam nyawa. Kondisi spesifik di UGD yaitu harus cepat dalam memberikan pelayanan, cepat dalam mengambil keputusan untuk bisa memberikan tindakan medis dan keperawatan secara cepat, tepat, aman dan efektif. Salah satu masalah kegawat daruratan yang dapat kita temui di UGD adalah syok.
Syok septik merupakan bagian dari sepsis dimana terdapat kelainan sirkulasi, seluler atau metabolik yang cukup parah dapat disebabkan oleh bakteri Gram negatif sebanyak 20-35%. Penanganan pada pasien dengan kasus sepsis dan syok septik dalam kegawatdaruratan dapat dilakukan dengan resusitasi EGDT pada 6 jam pertama. Pelaksanaan EGDT memiliki tujuan untuk memperbaiki penghantaran oksigen (delivery oxygen) ke jaringan. Pada pelaksanaan EGDT dilakukan pemberian resusitasi cairan, transfusi produk darah, penggunaan obat (vasoaktif inotropik) dengan pengukuran MAP, keluaran urin, dilakukan pemasangan kateter vena sentral untuk pengukuran CVP, dan juga pemeriksaan ScvO2 untuk menilai keseimbangan antara pengiriman oksigen
sistemik dan kebutuhan oksigen. Keberhasilan tatalaksana EGDT pada pasien dengan syok sepsis tergantung dari kecepatan dan ketepatan perawat maupun petugas
kesehatan di ruang instalasi gawat darurat, selain itu keluarga harus kooperatif dalam setiap tindakan yang dilakukan petugas kesehatan.
Daftar Pustaka
Katu, S., Suwarto, S., & dkk. (2015). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Terapi Antibiotik Empirik pada Pasien Sepsis Berat dan Syok Sepsis di Bangsal Rawat Inap
Penyakit Dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia , hal 96-106.
Nainggolan, J., Kumaat, L., & Laihad, M. (2017). Gambaran Sumber Terjadinya Infeksi pada Penderita Sepsis dan Syok Septik di ICU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jurnal e-Clinic , hal 300-304.
Silviana, M., Tavianto, D., & Kadarsah, R. (2015). Keberhasilan Early Goal-Directed Therapy dan Faktor Pengganggu pada Pasien Sepsis Berat di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung yang Akan Menjalani Pembedahan. Jurnal Anestesi Perioperatif , hal 131-138.
Sinto, R., & Suwarto, S. (2014). Parameter Akhir Resusitasi Makrosirkulasi dan Mikrosirkulasi pada Sepsis Berat dan Renjatan Septik . Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, hal 68-75.
http://jurnal.poltekkes-soepraoen.ac.id/index.php/HWS/article/download/182/84 24/03/2018 https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/biomedik/article/download/12699/12297 24/03/2018 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4269557/pdf/nihms-629443.pdf 24/03/2018 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20594464 24/03/2018 http://www.nejm.org/doi/pdf/10.1056/NEJMoa1500896 24/03/2018 https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/eclinic/article/view/18570/18097 24/03/2018 http://www.kalbemed.com/News/tabid/229/id/18810/Resusitasi-Dini-pada-Syok-Septik.aspx 24/03/2018