PEMANFAATAN HASIL HUTAN LESTARI
DALAM RANGKA MENINGKATKAN DAYA
SAING INDUSTRI KEHUTANAN NASIONAL
Oleh:
Dr. Ir. Dwi Sudharto, M.Si
Direktur Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan
Disampaikan pada acara :
Rapat Kerja Kementerian Perindustrian Tahun 2013
Jakarta, 12 Februari 2013
Hutan Indonesia
Konservasi
(26,8 juta ha) Hutan Lindung (28,8 juta ha) Hutan Produksi (32,6 juta ha) Hutan Produksi Terbatas (24,4 juta ha)
Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi (17,9 juta ha) IUPHHK-HT IUPHHK-RE IUPHHK-HTR
IUPHHK Unit Luas (x 1000 ha)
HA 295 23.600
HT 247 10.000
RE 4 199
3
Kayu Lapis
dan LVL
Veneer
Kayu
Gergajian
Chip
12.533.565
(149 unit)
2.601.045
(79 unit)
6.296.396
(250 unit)
43.754.296
(26 unit)
3.204.707,52
812.343,01
907.118,69
1.778.435,25
Kapasitas (m3)
Produksi (m3)
Jumlah, Kapasitas dan Produksi
Industri Primer 2011
KONDISI INDUSTRI PRIMER
Iklim Usaha Kurang Kondusif Kinerja Industri
Mesin Sudah Tua Boros BB Tidak Efisien dan Daya
Saing Produk Industri Tutup / Berhenti / Mengurangi Produksi PHK Pengangguran KONDISI BB Potensi HA Pembangunan HT Lamban Bahan Baku
Sumber BB Jauh dari Lokasi Industri Biaya Transportasi
Harga BB Kurang Layak Masih Dijumpai Gangguan Aliran BB ke Industri Biaya Ekonomi
KONDISI PASAR
Krisis Ekonomi Global Permintaan Ekspor
Devisa
Promosi ke Pasar (DN & LN) Belum Optimal
Diversifikasi Produk Sesuai Permintaan Pasar
Belum Optimal
KONDISI DAN
PERMASALAHAN
5
KONDISI INDUSTRI PRIMER
Iklim Usaha Kondusif Kinerja Industri Mesin baru efisien BB
Daya Saing Produk
Industri berkembang/ manembah Produksi angkatan kerja KONDISI BB Potensi HT/HR Bahan Baku Sumber BB dekat dengan Lokasi Industri Biaya
Transportasi Harga BB kompetitif Biaya Ekonomi KONDISI PASAR Permintaan Ekspor Devisa
Promosi ke Pasar (DN & LN) menuju Optimal Peluang Diversifikasi Produk Sesuai Permintaan Pasar (Termasuk Legalitas)
KONDISI DAN
PERMASALAHAN
IPHHK dari HT/HR
Situasi Hutan Jawa
Produksi
DI Yogyakarta Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat dan Banten TOTAL
P Pdv P Pdv P Pdv P Pdv P Pdv
Hutan Produksi 67,55 0.01 340,000.00 0.62 441,143.00 0.54 177,388.96 0.38 958,599.51 0.52
Hutan Rakyat 95,000.00 0.86 1,700,000.00 2.29 2,192,534.00 3.58 1,720,712.94 2.72 5,708,246.94 2.72 TOTAL 95,067.55 0,43 2,040,000.00 1.45 2,633,677.00 2.06 1,898,101.90 1.55 6,666,846.46 1.62
--Pasokan
BB--Master Plan Industri Perkayuan di Wonosobo - 2010
Dishut Jatim - 2012
Dishut Jateng - 2011
Diolah dari : Dishutbun DI Yogyakarta (2009), Dishut Jabar (2010), BPKH XI (2009, 2010), Dishut Jateng (2012), Dishut Jatim (2012)
Keterangan: P = Produksi (m3) Pdv = Produktivitas (m3/ha/th)
7
Situasi Industri Primer Kehutanan di Pulau
Jawa
7 No Propinsi Di Bawah 2.000 m3 2.000-6.000 m3 Di Atas 6.000 m3 TOTALKap. JLH Kap. JLH Kap. JLH Kap. % JLH %
1 Jawa Timur 380,461 323 569,818 116 2,863,700 87 3,813,979 40 526 16 2 Jawa Tengah 525,855 356 698,940 154 1,833,700 43 3,058,495 32 553 16 3 DI Yogyakarta 28,128 35 10,800 4 - - 38,928 0 39 1 4 Jawa Barat - - - - 220,500 7 1,932,553 20 2,150 64 5 Banten 79,841 71 145,080 36 508,960 4 733,881 8 111 3 6 DKI Jakarta - - - - 50,400 1 50,400 1 1 0 TOTAL 1,014,285 785 1,424,638 310 5,477,260 142 9,628,236 100 3,380 100 Diolah dari :
Dephut (2009), BP2HP VIII (2012), Dishut Jateng (2012), Dishut Jatim (2012), Dishut Jabar (2011) Sumber: JAVLEC, 2012
Situasi Industri Kehutanan
Industri Lanjutan Berbahan Baku Kayu
9 9
PERKEMBANGAN STRUKTUR PEMENUHAN BB IPHHK KP > 6.000
M3/TH SELAMA 8 TH TERAKHIR (2005 - 2012 )
•Data berdasarkan RPBBI Online per 10 Januari 2013
SUMBER BAHAN BAKU (Jt m3) :
►HA : HUTAN ALAM ( IUPHHK-HA / HPH & IPK / ILS )
►HT : HUTAN TANAMAN ( IUPHHK-HT / HTI, HR, KAYU PERKEBUNAN, PERHUTANI & LC PENYIAPAN LAHAN IUPHHK-HT) ►L : SUMBER SAH LAINNYA (STOCK IPHHK, IMPOR KAYU BULAT, HASIL LELANG, PEMILIK/PEDAGANG, IPHHK LAIN)
2005
2006
2007
2008
2009
30
25
20
15
10
5
0
Th
± 20,50 Jt m3 (56,35%)HT
HA
2010
35
BB
2011
± 36,73 Jt m3 (77,91%) ± 35,47 Jt m3 (80,14%) ± 28,82 Jt m3 (77,10%) ± 24,50 Jt m3 (67,90%) ± 24,67 Jt m3 (68,53%) ± 23,46 Jt m3 (62,58%) ± 11,47 Jt m3 (31,53%) ± 11,26 Jt m3 (30,03%) ± 7,18 Jt m3 (19,94%) ± 7,40 Jt m3 (20,45%) ± 5,54 Jt m3 (14,83%) ± 6,02 Jt m3 (13,60%) ± 5,49 Jt m3 (11,64%)L
.± 4,41 Jt m3 (12,12%) ± 2,78 Jt m3 (7,39%) ± 4,16 Jt m3 (11,53%) ± 4,29 Jt m3 (11,65%) ± 3,00 Jt m3 (8,07%) ± 2,77 Jt m3 (6,26%) ± 4,94 Jt m 3 (10,45%) ± 5,82 Jt m3 (11,84 %) ± 4,68 Jt m3 (9,53%) ± 38, 61 Jt m3 (78,61 %)2012
SVLK
Pengertian
Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) merupakan
sistem
pelacakan
yang
disusun
secara
multistakeholder untuk memastikan legalitas sumber
kayu yang beredar dan diperdagangkan di Indonesia
Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) dikembangkan
untuk mendorong implementasi peraturan pemerintah
yang berlaku terkait perdagangan dan peredaran hasil
hutan yang legal di Indonesia.
11
Latar Belakang SVLK
• Illegal logging dan illegal trade.
• Image pengelolaan hutan Indonesia kurang baik.
• Bali FLEG Declaration 2001.
• Trend legalitas kayu di perdagangan internasional
(EU Timber Regulation, US Lacey Act, Australia
Illegal Logging Prohibiton Bill, Japan Green
Konyuho/Goho Wood).
• Rendahnya daya saing produk Indonesia.
• Rendahnya kesejahteraan masyarakat.
13
Landasan Hukum
UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
PP No. 6 Tahun 2007 jo. No. 3 tahun 2008 tentang Tata Hutan dan
Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan
Hutan.
Permenhut P.38/Menhut-II/2009 jo P.68/Menhut-II/2011 jo
P.45/Menhut-II/2012 tentang Standar dan Pedoman Penilaian
Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas
Kayu pada Pemegang izin atau pada Hutan Hak.
PerDirjen Bina Usaha Kehutanan No. BPPHH/2011 jo
P.8/VI-BPPHH/2012 Tentang Standard dan Pedoman Pelaksanaan
Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) dan
Verifikasi Legalitas Kayu (VLK), yang merupakan pembaharuan dari
PerDirjen Bina Produksi Kehutanan No. P.6/VI-Set/2009 dan No.
P.02/VI-BPPHH/2010.
Mengapa SVLK?
–
SVLK memberikan kepastian bagi pasar bahwa kayu
/produk kayu Indonesia dijamin legal dan berasal dari hutan
lestari.
• Memperbaiki tata kepemerintahan (governance)
kehutanan Indonesia.
• Meningkatkan daya saing produk perkayuan
Indonesia.
• Mereduksi praktek illegal logging dan illegal trading.
• Meningkatkan pendapatan masyarakat
15
Kayu Legal ?
Kayu disebut SAH/LEGAL jika kebenaran:
• Asal kayu,
• Ijin Penebangan,
• Sistem dan Prosedur Penebangan,
• Administrasi dan Dokumen Angkutan,
• Pengolahan
• Perdagangan / pemindahtanganannya
dapat dibuktikan memenuhi semua
persyaratan legal yang berlaku
15
Prinsip SVLK
1. Tata Kelola yang lebih baik
(Governance )
2. Keterwakilan
(Representativeness )
3. Transparansi/keterbukaan
(Credibility )
17
PHPL
VLK
VLK
VLK
VLK
INDUSTRI
PENGRAJIN
PEDAGANG EKSPOR
VLK
HA/HT/PEMEGANG
HAK PENGELOLAAN
(a.l. PERHUTANI)
HTR/HKm/HD
IPK/ILS/HTHR
HUTAN HAK/ TANAH
MILIK
1
2
3
4
5
6
17Kayu Sitaan
Hutan
Negara
Industri
Primer
Industri
Sekunder &
Barang Jadi
Hutan Hak /
Hutan Milik
Finished
Product
Ekspor
V-Legal
Lingkup SVLK
NO
LEMBAGA
POSISI FUNGSI DALAM SISTEM
1
KEMENHUT
Pembuat kebijakan, fungsi pembinaan, menetapkan
LP-PHPL atau LV-LK, Unit pengelola informasi VLK
2
KAN
Melakukan akreditasi terhadap LP-PHPL atau LV-LK
3
LP-PHPL &
LV-LK
Melakukan penilaian kinerja PHPL dan/atau melakukan
verifikasi legalitas kayu berdasarkan sistem dan standar
yang telah ditetapkan Kemenhut
4
AUDITEE
(Unit
Managemen)
Pemegang Izin Atau Pada Hutan Hak yang berkewajiban
memiliki Sertifikat PHPL (S-PHPL) atau Sertifikat Legalitas
Kayu (S-LK)
5
PEMANTAU
INDEPENDEN
Masyarakat madani baik perorangan atau lembaga yang
berbadan hukum Indonesia, yang menjalankan fungsi
pemantauan terkait dengan pelayanan publik di bidang
kehutanan seperti penerbitan S-PHPL/S-LK
Pelaku Utama SVLK
19KOMITE
AKREDITASI
NASIONAL (KAN)
Independent
Monitoring (PI)
UNIT
MANAJEMEN
LPPHPL /
LVLK
DOKUMEN V-Legal (FLEGT License)S - PHPL
S - LK
SERTIFIKAT AKREDITASIKEMENTERIAN KEHUTANAN (Regulator)
KELUHAN AKREDITASI AUDIT BANDING KELUHAN BANDING
SILK
EKSPOR21
Kronologi Perkembangan SVLK
Illegal logging dan
illegal trading
Penindakan Hukum
Tata Kelola Kehutanan
0
200
400
600
800
1000
1200
1400
1600
1800
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
Ju
m
la
h
K
a
su
s
Illegal logging
Encroachment
Wildlife Trade
Illegal Mining
23
Kerjasama Bilateral
dengan USA, Jepang,
Cina, Inggris dan
Australia
Negosiasi
FLEGT-VPA
Permenhut P.38/2009
Joint-Statement
FLEGT-VPA
Permenhut P. 68/2011
•
Pemberlakuan EUTR
•
Penandatanganan
FLEGT-VPA
•
Ratifikasi
2001
2002
2003 - ... 2009
2007
2
0
11
2
0
13
1 Januari
Implemention
of
SVLK
Pengembangan dan pelaksanaan SVLK
Permendag 64/2012
terkait ketentuan ekspor
produk industri
kehutanan
2
0
12
Deklarasi
Bali tentang
FLEG
Pengembangan SVLK
bersama multi
stakeholders
2010
EU TR 995/2010
Shipment
Test
24LPPHPL
No.
Nama
No. Akreditasi
1.
PT. Ayamaru Certification
LPPHPL-001-IDN
2.
PT. Sarbi International Certification
LPPHPL-004-IDN
3.
PT. SUCOFINDO SBU (SICS)
LPPHPL-005-IDN
4.
PT. Almasentra Certification
LPPHPL-006-IDN
5.
PT. Rensa Global Trust
LPPHPL-007-IDN
6.
PT. Forescitra Sejahtera
LPPHPL-009-IDN
7.
PT. Mutuagung Lestari
LPPHPL-008-IDN
8.
PT. Nusa Bakti Mandiri
LPPHPL-010-IDN
9.
PT. Equality Indonesia
LPPHPL-013-IDN
10.
PT. Multima Krida Cipta
LPPHPL-015-IDN
11.
PT. TUV International Indonesia
LPPHPL-016-IDN
12.
PT. Global Resource Sertifikasi
LPPHPL-017-IDN
13.
PT. Transtra Permada
LPPHPL-018-IDN
14.
PT. Trustindo Primakarya
LPPHPL-019-IDN
25
LVLK
(Diakreditasi berdasar ISO/IEC Guide 65)
No.
N a m a
No. Akreditasi
1.
PT. BRIK
LVLK-001-IDN
2.
PT. Sucofindo
LVLK-002-IDN
3.
PT. Mutuagung Lestari
LVLK-003-IDN
4.
PT. Mutu Hijau Indonesia
LVLK-004-IDN
5.
PT. TUV International Indonesia
LVLK-005-IDN
6.
PT. Equality Indonesia
LVLK-006-IDN
7.
PT. Sarbi Moerhani Lestari
LVLK-007-IDN
8.
PT. SGS Indonesia
LVLK-008-IDN
9.
PT. Transtra Permada
LVLK-009-IDN
10.
PT. Trustindo Primakarya
LVLK-010-IDN
11
PT. Ayamaru
LVLK-011-IDN
25
Dalamproses akreditasi :
1.
PT. Almasentra Konsulindo
2.
PT. Smartwood Rainforest Alliance
3.
PT. SCS
No. Certification
Passed
(unit&ha)
Failed
(unit&ha)
On Process
(unit&ha)
Total
(unit&ha)
1.
SFM
77
(9,970,346)
7
(443,746)
4
(534,799)
88
(10,948,891
)
2.
FOREST
LEGALITY
VERIFICATION
13
(856,783)
3
(143,475)
21
(1,330,289)
37
(2,330,547)
3.
COMMUNITY
FOREST
14
(7,688)
-
-
14
(7,668)
4.
INDUSTRY
LEGALITY
VERIFICATION
384
15
77
476
Progress of SVLK
27
PENERBITAN DOKUMEN V-Legal
PER Pebruary 11, 2013
TOTAL DITERBITKAN
7.233 (172/hari)
NEGARA TUJUAN
114
NEGARA ANGGOTA UE
24
HS CODE
29
PELABUHAN MUAT
39
PELABUHAN BONGKAR
449
BERAT
1.002.815,828 KG
JUMLAH LVLK YANG SUDAH
MENERBITKAN
9/11
VALUE
US $ 931,707,946.00
Ekspor Produk
Kehutanan
29
Permendag 64/2012
• Ekspor produk industri kehutanan wajib dilengkapi dengan Dokumen V-Legal kecuali terhadap produk industri kehutanan sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Kelompok C (Pasal 14 Ayat 1)
• Kewajiban melengkapi Dokumen V-Legal:
HS Kelompok A
HS Kelompok B
HS Kelompok C
1. Ex. 4407.10.00.00 s.d Ex. 4407.99.90.00 2. Ex. 4408.10.10.00 s.d Ex. 4408.90.00.00 3. Ex. 4409.10.00.00 s.d Ex. 4409.29.00.00 4. Ex. 4410.11.00.00 s.d Ex. 4410.90.00.00 5. Ex. 4411.12.00.00 s.d Ex. 4411.94.00.00 6. Ex. 4412.31.00.00 s.d Ex. 4412.99.00.90 7. Ex. 4413.00.00.00 8. Ex. 4415.10.00.00, Ex. 4415.20.00.00 9. Ex. 4418.10.00.00 s.d Ex 4418.90.90.00 10. Ex. 4421.90.99.00 11. 9406.00.92.00 12. 4701.00.00.00 13. 4702.00.00.00 14. 4703.11.00.00 s.d 4703.29.00.00 15. 4704.11.00.00 s.d 4704.29.00.00 16. 4705.00.00.00 17. 4803.00.30.00, 4803.00.90.00 18. 4804.21.10.00 dan 4804.21.90.00 19. 4806.10.00.00 s.d 4806.40.00.00 20. 4808.40.00.10 21. 4809.20.00.00 s.d 4809.90.90.00 22. 4812.00.00.00 23. 4813.10.00.00 s.d 4813.90.90.00 24. 4814.20.00.00 , 4814.90.00.00 25. 4816.20.10.00 s.d 4816.90.90.00 26. 4818.10.00.00 s.d 4818.90.00.00 1. Ex. 4401.21.00.00, Ex. 4401.22.00.00 2. Ex. 4404.10.00.00, Ex. 4404.20.10.00 3. Ex. 4414.00.00 4. Ex. 4416.00.10.00, Ex. 4416.00.90.00 5. Ex. 4417.00.10.00, Ex. 4417.00.90.00 6. Ex. 4419.00.00.00 7. Ex. 4421.90.20.00 8. 9401.61.00.00 9. 9401.69.00.10, 9401.69.00.90 10. 9403.30.00.00 11. 9403.40.00.00 12. 9403.50.00.00 13. 9403.60.10.00, 9403.60.90.00 14. 9403.90.90.00 1. 4601.22.00.00 2. 4602.12.00.00 3. 9401.51.00.10 4. 9403.81.00.10 5. 4802.10.00.00 s.d 4802.69.00.00 6. 4804.11.00.00 s.d 4804.19.00.00 dan 4804.29.00.00 s.d 4804.59.00.00 7. 4805.11.00.00 s.d 4805.93.90.00 8. 4807.00.00.00 9. 4808.10.00.00 dan 4808.40.00.90 dan 4808.40.00.90 s.d 4808.90.90.00 10. 4810.13.11.00 s.d 4810.99.90.00 11. 4811.10.21.00 s.d 4811.90.99.00 12. 4817.10.00.00 s.d 4817.30.00.00 13. 4821.10.10.00 s.d 4821.90.90.00 14. 4822.10.10.00 s.d 4822.90.90.00 15. 4823.20.10.00 s.d 4823.90.99.00
1 Januari 2013
1 Januari 2014
Peran BRIK dalam Proses Ekspor
(Sebelum SVLK)
ETPIK
BRIK
I
NATRADE
INSW
(Bea Cukai)
Ekspor Kayu oleh LVLK
(Setelah SVLK)
Customs
Negara Tujuan
Competent
Authority
Unit Manajemen
ETPIK/ETPIK Non
Produsen
LV-LK
48 HS Code
LP-PHPL
Dok. V-Legal Laporan Ketidaksesuaian Sertifikat LKUnit Informasi
VLK,
Ditjen BUK
31• Merupakan Unit yang mengelola informasi verifikasi
legalitas kayu yang berkedudukan pada Ditjen BUK
(setingkat Es III)
• Sistem Informasi VLK (utamanya untuk aktifitas
ekspor produk kayu), terkoneksi dengan InaTrade
(Kemendag) & National Single Window (Bea Cukai),
menggantikan endorsement BRIK.
• SILK mulai operasional 1 Januari 2013 (diatur pada
Permendag 64/2012).
Unit Informasi Verifikasi Legalitas Kayu
atau LIU (License Information Unit)
33
•
Ditetapkan melalui SK.641/Menhut-II/2011, 10
Nov 2011
Tanda bahwa kayu/produk kayu telah dijamin
legalitasnya melalui proses verifikasi, serta
fungsi promosi kayu legal
•
Hak Paten di KEMENKUMHAM Nomor
C.00201202497 tanggal 30 Mei 2012.
•
Dibubuhkan pada kayu/produk kayu bagi auditi
yang telah mendapatkan S-LK / S-PHPL
•
Terdapat juga pada Dokumen V-Legal (ekspor)
yg diterbitkan LVLK
33
•
Merupakan dokumen lisensi ekspor produk
kayu
•
Berlaku untuk 26 HS-Code pada tanggal 1
Januari 2013, dan total 40 HS-Code pada 1
Januari 2014 (Permendag No. 64/2012)
•
Diterbitkan oleh LVLK
•
Diterbitkan untuk setiap invoice, bagi ETPIK
yang telah memiliki S-LK atau melalui
35
No
Jenis Produk
Total
industri/exportir
Total
industri/exportir
bersertifikat LK
Persentase
(%)
1
Woodworking
289
149
50,10
2
Panel
37
31
83,80
3
Pulp dan
Kertas
15
11
73,33
Industri Woodworking, Panel, dan Pulp & Kertas
Bersertifikat Legalitas Kayu (Tujuan Ekspor UE)
PENGUATAN KELEMBAGAAN
SERTIFIKASI
HUTAN RAKYAT / HUTAN HAK
DAN
Kelembagaan Sertifikasi Hutan Hak dan IKM
•
Jumlah pemegang Hutan Rakyat dan IKM/Pengrajin di P. Jawa >
100.000.
•
Pembentukan kelembagaan kelompok/koperasi membutuhkan waktu
yang lama dan biaya yang cukup besar
•
Dalam rangka mendorong percepatan sertifikasi, Pemilik HR dan IKM/
Pengrajin dapat menggunakan KUD Berkualitas yang telah ada
sebagai alternatif lembaga/wadah untuk sertifikasi secara kelompok
•
Saat ini terdapat 948 unit KUD dengan kategori Cukup Berkualitas, 247
unit KUD dengan kategori Berkualitas, dan 1 unit KUD dengan kategori
sangat berkualitas. Sertifikasi secara kelompok dengan memanfaatkan
KUD dilakukan dengan cara menambah Unit Usaha Kehutanan ke
dalam struktur usaha KUD.
•
Diperlukan dukungan KemenKop&UKM melalui peningkatan kapasitas/
pendampingan di lapangan terhadap kelembagaan KUD Berkualitas
sebagai kelembagaan sertifikasi kelompok Hutan Rakyat, IKM, Industri
Rumah Tangga/Pengrajin
•
Pemerintah memfasilitasi sertifikasi Hutan Rakyat, HKm, dan Hutan
Desa melalui APBN, biaya donor, dan mitra lainnya
37
Fasilitasi kepada Hutan Hak/Hutan Rakyat
Surat Dirjen BUK No. S.575/VI-BPPHH/2012 Tgl 25 Juli 2012
TUJUAN: Agar pemilik hutan hak siap dalam proses verifikasi yang
dilakukan LVLK, dialokasikan biaya pendampingan kepemilikan SLK secara
kelompok dengan syarat:
•
Tergabung dalam Klpk hutan hak atau tergabung dlm unit usaha pd KUD
Berkualitas / Koperasi lainnya;
•
Susunan pengurus Klpk hutan hak, daftar anggota & alamatnya;
•
Luasan minimal 500 ha atau dalam satu kabupaten;
•
Peta/Sketsa lokasi kelompok hutan hak;
•
Memiliki bukti kepemilikan tanah (alas titel atas tanah), berupa: hak milik, hak
guna usaha, hak pakai, hak pengelolaan, hak eigendom, opstal, erfpacht,
landrente, girik, pipil, kekitir dan verponding Indonesia, surat keterangan
riwayat tanah, lain-lain bentuk alat pembuktian tertulis (dimaksud UU Pokok
Agraria);
•
Diajukan oleh KADIS Kabupaten/Kota yang membidangi Kehutanan kepada
Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan dengan tembusan kepada
39
Fasilitasi Industri Skala kecil/Pengrajin
Surat Dirjen BUK No. S.577/VI-BPPHH/2012 Tgl 25 Juli 2012
TUJUAN: Agar pemilik izin industri skala kecil/pengrajin siap dalam proses
verifikasi yang dilakukan LVLK, dialokasikan biaya pendampingan
kepemilikan SLK secara kelompok dengan syarat:
•
Dalam bentuk Klpk (ada akta notaris pembentukan Klpk yang telah diregistrasi
di Pemkab / kota setempat) atau tergabung dalam unit usaha pada KUD
Berkualitas / Koperasi lainnya;
•
Industri skala kecil/pengrajin;
•
Susunan pengurus kelompok industri skala kecil/pengrajin, daftar anggota
beserta alamatnya;
•
Jumlah minimal 25 unit atau minimal dalam satu desa/kelurahan;
•
Diajukan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota yang membidangi perindustrian
kepada Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan dengan tembusan kepada
Bupati/Walikota dan Kepala Dinas Provinsi yang membidangi Perindustrian.
39
REALISASI SERTIFIKASI HUTAN HAK
MELALUI FASILITASI*)
No Provinsi Jumlah Kabupaten Total Luas (ha) Keterangan1 Jawa Tengah 6 3.910,01 Lulus Sertifikasi LK: 1.729,01 ha (2011). Dalam proses verifikasi: 120 ha.
Dalam proses pendampingan: 2.061 ha. 2 Jawa Timur 6 6.867,43 Lulus Sertifikasi LK: 2.279,85 ha (2012).
Dalam proses pendampingan: 4.587,58 ha. 3 DIY 2 1.960,15 Lulus Sertifikasi LK: 594,15 ha (2011).
Dalam proses pendampingan: 1.366 ha. 4 Bali 1 123 Dalam proses verifikasi: 123 ha.
5 Lampung 1 275 Lulus Sertifikasi LK: 275 ha.
6 Sulawesi Tenggara 2 950,06 Lulus Sertifikasi LK: 950,06 ha (2011 dan 2012).
7 Sulawesi Selatan 1 168,708 Lulus Sertifikasi: 168,708 ha (2012)
TOTAL 19 14.524,358
41
REALISASI SERTIFIKASI INDUSTRI KECIL
MENENGAH MELALUI FASILITASI*)
No Provinsi Jumlah Unit/Kel
Jenis Produk Keterangan
1 Jawa Tengah 4 Furniture Dalam proses pendampingan: 4 unit. 2 Jawa Timur 1 Industri primer Dalam proses pendampingan: 1 unit.
3 DIY 4 Furniture,
Handycraft
Lulus Sertifikasi LK: 3 unit (2012). Dalam proses pendampingan: 1 unit.
4 Bali 2 Furniture,
Handycraft
Dalam proses verifikasi: 1 unit. Dalam proses pendampingan: 1 unit. 5 Sulawesi Utara 4 PreFab House Dalam proses pendampingan: 4 unit.
TOTAL 15
41
*) Difasilitasi oleh MFP-II
•
MoU penanggulangan Illegal Logging dengan Cina, Jepang, Inggris dan
Amerika Serikat.
•
Kerjasama bilateral Indonesia dengan Amerika Serikat (MoU tahun 2006)
telah beberapa kali melaksanakan pertemuan bilateral (WG-ILAT). Atas
inisiatif bilateral juga telah diadakan Regional Dialogue Forum sebanyak
dua kali (tahun 2009 di Jakarta dan tahun 2011 di Seatle), yang
melibatkan 10 negara, antara lain Cina, Malaysia, Australia, Jepang, dll.
•
Kerjasama Indonesia dengan Australia; Pemerintah Australia
mengindikasikan menerima SVLK dengan opsi :
-
Mencantumkan SVLK dalam UU;
-
MoU;
-
LoI;
-
Mutual Recognition;
-
Mekanisme WTO.
Kementerian
Luar Negeri
Melanjutkan dan mengawal proses
penandatanganan VPA dan proses ratifikasi;
Mengkoordinasi para Dubes untuk promote
SVLK
Kementerian
Perdagangan
Sosialisasi Permendag Nomor 64/2012 dan
regulasi impor hasil hutan agar dapat
dibuktikan legalitasnya
Kemenkeu cq.
Bea dan Cukai
Melaksanakan tata cara ekspor sesuai
regulasi Permendag No 64 /2012
POLRI
Mengawal implementasi SVLK
Sekretariat
Negara
Memfasilitasi proses ratifikasi
Peran dan dukungan instansi terkait
Kementerian
Kehutanan
Pembinaan pemegang izin dan menyiapkan
implementasi SILK
Kementerian Dalam
Negeri
Mendorong Gubernur/Bupati untuk memberikan
pelayanan perizinan cepat dan murah bagi
IKM/pengrajin/hutan rakyat
Kemeneg Koperasi
dan UKM
Membina KUD Berkualitas sebagai wadah
kelompok sertifikasi dan pengalokasian anggaran
pembinaannya.
Kemenperind
Regulasi kemudahan perizinan bagi IUI/TDI
LKPP
Mendorong kebijakan pengadaan barang
pemerintah agar menggunakan produk kayu yang
telah S-LK
Perbanas dan IAPI
Mempertimbangkan pemenuhan SVLK dalam hal
pemberian kredit dan audit perusahaan.
45
•
SVLK telah diakui Uni Eropa.
•
Kewajiban due diligence EU bagi negara produsen yang belum
menjalankan VPA dan belum siap dengan Sistem Verifikasi
Legalitasnya (mulai 3 Maret 2013), yang dapat dimanfaatkan
pangsa pasarnya oleh Indonesia.
•
Menunjukkan pada pasar dunia (EU, USA, Australia, dsb) bahwa
produk kayu Indonesia memenuhi prinsip legalitas dan SFM.
•
Terbukanya peluang kerja baru terkait proses-proses sertifikasi.
•
SVLK sebagai “leverage” atau standar legalitas kayu di tingkat
Internasional.
•
Komitmen negara eksportir untuk memiliki sistem verifkasi
legalitas kayu dan negara importir untuk hanya menerima kayu
legal.
• “Public Campaign” peningkatan awereness SVLK di
tingkat regional dan internasional.
• Mempercepat penandatangan VPA, Ratifikasi, dan
prosedur lainnya.
• Menyiapakan IKM/Pengrajin dan Hutan Hak mengikuti VLK
• Menyiapkan industri, ETPIK, ETPIK Non Produsen yang
produknya tercantum dalam Permendag 64/2012
sebagaimana target waktu dalam VPA (26 HS pada 1
januari 2013, 40 HS pada 1 Januari 2014).
• Permintaan pasar terhadap sertifikasi tertentu (FSC, PEFC
47
• Kejelasan Pasar kayu hutan rakyat, karena
industri menginginkan kayu yang telah ber-SLK.
• akan memperkuat manajemen pengelolaan hutan
skala masyarakat, baik yang didukung oleh LSM
pendamping maupun pemerintah daerah.
• SVLK akan mendorong penguatan administrasi
dan manajemen: penyediaan dokumen-dokumen
(pemilikan lahan, peta, batas lahan, dll). Sehingga,
Petani HR menjadi mengetahui “kekayaan” atau
asset terhadap kayu rakyat miliknya.
• HTR/HR ber-SLK akan mendapat kemudahan
dalam memperoleh pinjaman dari BLU-Setjen
Kemenhut
47