3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Kabupaten Nias adalah terletak di sebelah Barat Pulau Sumatera yang mempunyai jarak ± 85 mil laut dari Sibolga (daerah Propinsi Sumatera Utara) dan dikelilingi oleh Samudera Hindia. Penelitian ini dilakukan di 6 (enam) kecamatan dari 33 kecamatan yang ada di Kabupaten Nias. Tempat yang dikunjungi adalah desa/kelurahan berdasarkan jumlah nelayan, luas wilayah atau jangkauan operasional penangkapan, dan jumlah serta jenis alat penangkapan ikan.
Tabel 4 Lokasi penelitian di Kabupaten Nias
No Kecamatan Kelurahan/Desa
1 Kecamatan Lahewa Balofadorotuho 2 Kecamatan Tuhemberua Botolakha 3 Kecamatan Gunungsitoli Utara Teluk Belukar 4 Kecamatan Gunungsitoli Moawo
Kelurahan pasar Gunungsitoli 5 Kecamatan Idanogawo Bozihona
6 Kecamatan Sirombu Sirombu
Penelilitian dilaksanakan selama 12 (dua belas) bulan, mulai dari bulan Desember 2007 s/d November 2008. Kegiatan penelitian dimulai dari penyusunan rencana penelitian, orientasi lapangan, pengumpulan data di lokasi penelitian, pengolahan data dan analisis data di IPB – Bogor serta penyusunan tesis.
Gambar 5 Peta lokasi penelitian. N Sa m ud era H ind ia 1 2 3 4 5 6
3.2 Metode Penelitian dan Pengumpulan Data
Berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai, pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan metode survei (Arikunto 2006). Pengumpulan data di lapangan dilakukan untuk mengetahui : (1) kondisi umum perikanan tangkap di Kabupaten Nias (2) jenis ikan unggulan (3) spesifikasi teknis unit-unit penangkapan ikan unggulan (4) wawancara terhadap responden. Responden tersebut terdiri atas
stakeholders baik pihak pemerintah atau swasta guna mengetahui persepsi mereka
terhadap pengembangan perikanan tangkap, serta untuk mengetahui kebijakan yang akan diambil dalam mengatasi permasalahan, dengan menggunakan kuesioner yang telah disediakan, antara lain; kuesioner untuk ikan unggulan, kuesioner untuk tujuan pembangunan perikanan tangkap, dan kuesioner untuk deskripsi penangkapan ikan unggulan. Rincian dari jenis data yang dikumpulkan mencakup peluang pengembangan perikanan tangkap yang didasarkan pada informasi trend potensi perikanan tangkap, kondisi perikanan pada saat ini yang meliputi armada penangkapan, nelayan, peralatan dan lain-lain.
Data dan informasi yang dikumpulkan berasal dari 3 sumber yaitu; (1) dokumen yang relevan dengan tujuan penelitian (2) responden dengan wawancara menggunakan kuisioner dan (3) mengikuti operasi penangkapan dengan jaring insang
(gill net) dan informasi penangkapan ikan unggulan dengan pancing diperoleh
melalui wawancara terhadap nelayan. Rincian jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian
No Peruntukkan analisis Data yang dikumpulkan Sumber data 1 Analisis potensi
perikanan.
Komposisi hasil tangkapan, trend hasil tangkapan per tahun, trend produktivitas perikanan tangkap (ton/armada/tahun). Analisis ini menggunakan aplikasi microsoft excel. Sedangkan data yang digunakan adalah data time series 6 Tahun. Data Sekunder : Statistik Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nias. Data Primer :
Hasil wawancara dari nelayan, pedagang ikan, dan pengusaha perikanan tangkap. 2 Deskripsi unit penangkapan ikan unggulan. Inventarisasi spesifikasi unit penangkapan. Data primer : Nelayandan pengusaha perikanan tangkap.
No Peruntukkan analisis Data yang dikumpulkan Sumber data 3 Seleksi komoditas
unggulan dengan analisis AHP.
Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan
Data Sekunder :
Statistik DKP Kabupaten Nias dan Nias dalam angka. Data primer : DKP Kab. Nias, Nelayan, pedagang ikan, pengusaha perikanan tangkap, masyarakat umum, LSM/NGO. 4 Penentuan Tujuan pembangunan perikanan tangkap di Kabupaten Nias melalui analisis AHP Persepsi responden (stakeholder) tentang tujuan utama pembangunan perikanan tangkap di Kabupaten Nias
Data Sekunder :
Renstra DKP
Kabupaten Nias Data Primer :
Hasil kuisioner dan wawancara dengan responden
(stakeholder) 5 Optimasi perikanan
tangkap terpilih dengan linear goal
programming (LGP)
Berdasarkan hasil analisis dari potensi Data potensi 6 Strategi pengembangan perikanan tangkap terpilih dengan analisis SWOT.
SWOT pada aspek biologi, teknis, sosial, dan ekonomi. Data primer : Wawancara mendalam dengan Kadis DKP Kabupaten Nias, Komisi D DPRD Kabupaten Nias, dan Peneliti.
Data sekunder :
Renstra, Lakip, Laporan Tahunan DKP Kabupaten Nias, dan Nias dalam angka.
Gambar 6 Diagram alir pendekatan penelitian. Survei
Strategi Pengembangan Perikanan Tangkap di Kabupaten Nias
Optimalisasi Alat Penangkapan Ikan Komoditas Unggulan Kinerja Usaha Perikanan Tangkap Ikan Unggulan di Kabupaten Nias: - SDI - Teknologi - Ekonomi - Sosial
Data Primer Data Sekunder
Tingkat Kepentingan dan Prioritas Tujuan Pembangunan Perikanan Tangkap di Kabupaten Nias
3.2.1 Evaluasi kinerja usaha perikanan tangkap unggulan di Kabupaten Nias Kinerja usaha perikanan tangkap unggulan dievaluasi melalui pendekatan aspek biologi, teknik, ekonomi, dan sosial. Analisis yang dilakukan pada penelitian ini berdasarkan pada batasan, yaitu; usaha perikanan pancing, gill net bermata besar, dan gill net bermata kecil yang berpangkalan di Kabupaten Nias.
3.2.1.1 Analisis aspek biologi
Analisis aspek biologi yaitu menganalisis komposisi hasil tangkapan, trend hasil tangkapan per tahun, trend produktivitas armada pancing dan gill net (ton/kapal/tahun) dengan menggunakan aplikasi microsoft excel.
Perhitungan potensi perikanan dilakukan dengan menggunakan data time
series selama 6 tahun (2002-2007) dan menganalisisnya dengan menggunakan
persamaan Schaefer (1954, 1957) dalam Widodo dan Suadi (2006) sebagai berikut :
EMSY = (a/2b)
CMSY = (a2/4b) dimana,
EMSY = upaya yang menghasilkan produksi yang maksimum CMSY = tingkat produksi maksimum
a = Intersep
b = Slope
3.2.1.2 Analisis aspek teknik
Analisis aspek teknik dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan menginventarisasi spesifikasi unit penangkapan sebagai berikut:
(1) Armada penangkapan (kapal) meliputi; kapasitas kapal (GT), dimensi utama (Panjang = L, lebar = B, dan dalam =D), dan spesifikasi mesin yang digunakan.
(2) Alat tangkap meliputi; spesifikasi mini purse seine (panjang, lebar, dalam, dan bahan yang digunakan)
(3) Nelayan meliputi; jangka waktu penangkapan, modus pengoperasian, sistem bagi hasil, dan harga penjualan ikan.
3.2.1.3 Analisis aspek ekonomi
Analisis ekonomi yang dimaksud dalam hal ini adalah analisis dari segi investasi dan keuntungan/pendapatan usaha penangkapan ikan oleh nelayan di Kabupaten Nias baik usaha perikanan pancing maupun gill net. Suatu usaha atau kegiatan ekonomi dianggap dapat dilaksanakan, bila dapat diharapkan: (1) memberikan keuntungan untuk memenuhi setiap kewajiban jangka pendek, (2) likuiditasnya terpelihara meskipun pada saat-saat tertentu perusahaan dalam kesulitan, (3) berkembang kemampuannya membiayai operasi terutama dari modal sendiri dan bukan kredit pada suatu saat, dan (4) dapat membayar semua beban pembiayaan. Dengan demikian, kelayakan finansial harus mengungkapkan secara terperinci apakah usaha atau kegiatan akan menguntungkan dalam suasana persaingan, resiko bisnis, kondisi perekonomian, tidak stabil dan lain-lain. Menurut Kasmir dan Jakfar (2007), untuk mengevaluasi kelayakan finansial dapat digunakan 3 (tiga ) kriteria investasi yang penting, yaitu net present value (NPV),
net benefit cost ratio (net B/C) dan internal rate of return (IRR).
Kriteria investasi yang digunakan untuk pengujian/ evaluasi kelayakan usaha secara finansial didasarkan pada discounted criterion. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar manfaat (benefit) serta biaya-biaya (cost) selama umur ekonomis usaha (in the future) nilai-nilai saat ini (at present=t0) diukur dengan nilai
uang sekarang (present value), yaitu dengan menggunakan discounting factor. Kriteria tersebut adalah:
(1) Perhitungan net present value (NPV),
NPV =
n t t i Ct Bt 1 (1 )dimana : Bt = benefit pada tahun ke – t Ct = biaya pada tahun ke-t
i = tingkat Bunga (%) n = umur ekonomis t = 1,2,3,...,n
Kriteria : NPV > 0, usaha layak/menguntungkan
NPV = 0, usaha mengembalikan sebesar biaya yang dikeluarkan NPV < 0, usaha tidak layak/rugi
(2) Perhitungan Internal Rate of Return (IRR) IRR = ij+ (2 1) 2 1 1 i i NPV NPV NPV ,
dimana i1 = tingkat bunga yang menghasilkan NPV positip i2 = tingkat bunga yang menghasilkan NPV negatip
Kriteria = apabila IRR lebih besar dari suku bunga yang berlaku (9,5%), maka usaha layak untuk dilaksanakan
(3) Perhitungan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)
Net B/C =
n t t n t t i Bt Ct i Ct Bt 1 1 , ) 1 ( , ) 1 (Kriteria : B/C > 1 = usaha layak untuk dilaksanakan (feasible) B/C = 1 = usaha layak dalam kondisi break event point
B/C < 1 = usaha tidak layak untuk dilaksanakan
Sedangkan analisis pendapatan usaha (keuntungan) pada umumnya digunakan untuk mengukur apakah kegiatan yang dilakukan pada saat ini berhasil atau tidak. Menurut Schaefer (1954); Gordon (1954) dalam Ghaffar et al (2007), model analisis pendapatan usaha ini disusun dari model parameter biologi, biaya operasi penangkapan, dan harga ikan. Asumsi yang digunakan adalah harga ikan per kg (P) dan biaya penangkapan per unit penangkapan (C) adalah konstan, sehingga total penerimaan nelayan dari usaha penangkapan (TR) adalah:
TR = P.C dimana:
TR = total revenue (penerimaan total)
P = harga rata-rata ikan hasil survey per kg (Rp) C = jumlah produksi ikan (kg)
Total biaya penangkapan (TC) dihitung dengan persamaan : TC = C.E
(Untuk Bt-Ct > 0) (Untuk Bt-Ct<0)
dimana:
TC = total cost (biaya penangkapan total)
C = total pengeluaran rata-rata unit penangkapan ikan (Rp)
E = jumlah upaya penangkapan untuk menangkap sumberdaya ikan (unit) Sehingga keuntungan bersih usaha penangkapan ikan (π) adalah:
π = TR – TC
Selanjutnya untuk perhitungan total penerimaan hasil tangkapan dari usaha penangkapan ikan oleh nelayan di Kabupaten Nias dihitung berdasarkan jenis alat tangkap yang digunakan, musim penangkapan, jumlah hasil tangkapan per trip, berat hasil tangkapan per trip (kg), hasil tangkapan utama, dan harga ikan hasil tangkapan per kg.
3.2.1.4 Analisis aspek sosial
Analisis aspek sosial dalam penelitian ini yaitu; (1) analisis kelembagaan dan, (2) analisis kepemilikan unit penangkapan.
(1) Analisis kelembagaan
Analisis kelembagaan dilakukan untuk melihat sejauh mana hubungan antara kelembagaan dengan pengembangan usaha perikanan tangkap ikan unggulan di Kabupaten Nias. Analisis ini dilakukan secara deskriptif yaitu dengan mempelajari karakteristik kelembagaan perikanan yang ada di Kabupaten Nias. Fakta yang ada selanjutnya dilakukan interpretasi mengenai keberadaan lembaga di tengah masyarakat, kemudian dikemukakan beberapa alternatif pemecahan yang memungkinkan, terutama berkenaan dengan pengaruh kelembagaan terhadap perkembangan usaha perikanan tangkap ikan unggulan di Kabupaten Nias. Analisis ini dilakukan secara deskriptif.
(2) Analisis kepemilikan unit penangkapan
Analisis kepemilikan unit penangkapan dilakukan untuk melihat seberapa besar status kepemilikan unit alat tangkap dan bagaimana sistem pembagian hasil. Analisis ini dilakukan secara deskriptif.
3.2.2 Pengumpulan data untuk pemilihan komoditas unggulan
Terdapat beberapa kriteria dan indikator yang digunakan untuk menentukan apakah suatu komoditas tergolong unggul atau tidak yang ada di Perairan Kabupaten Nias seperti yang disajikan pada Tabel 6 sedangkan untuk melakukan analisis jenis sumberdaya ikan sesuai dengan kriteria dan indikator tersebut di atas maka dilakukan analisis dengan proses hierarki analisis (PHA). Dengan analisis PHA tersebut maka dapat ditentukan prioritas komoditas unggulan yang akan dikembangkan di Kabupaten Nias.
Tabel 6 Kriteria dan indikator dalam menentukan komoditas unggulan
No Kriteria keunggulan Indikator
1 Produksi selalu ada dan Harganya tinggi Rata-rata produksi ≤ 200 kg/trip/kapal.
Harga rata-rata Rp. 20.000/kg.
2 Permintaan pasar lokal tinggi Menyuplai kebutuhan konsumsi ikan sebanyak 442.019 jiwa penduduk Kabupaten Nias
3 Peluang ekspor/antar pulau tinggi Eksport ≤ 10 ton/minggu/spesies. Daerah untuk ekport (lokal) antara lain;
Sibolga, Medan, Padang, Pekan Baru; sedangkan eksport untuk ke luar negeri pasar utamanya adalah Singapura.
4 Prasarana dan sarana penunjang ada Prasarana meliputi pelabuhan/PPI, pabrik es,TPI, sedangkan sarana yang dimaksud adalah kapal penangkap ikan, alat tangkap, nelayan, dan SDI (fishing ground).
5 Adanya keterkaitan ke depan dan ke belakang
Pengembangan usaha penangkapan ikan ini akan dapat mendorong
No Kriteria keunggulan Indikator tumbuhnya industri-industri baru, baik hulu maupun hilir. Industri hulu dalam hal ini adalah industri penyedia sarana produksi seperti kapal, alat tangkap, perbekalan, dan perbengkelan sedangkan industri hilir adalah industri pengolahan dan pengawetan ikan, pengiriman barang, koperasi/perbankkan, dan pasar.
6 Skala pengembangan yang besar Mempunyai peluang untuk dikembangkan dalam skala usaha yang besar.
7 Adanya dukungan dan peran dalam kebijakan regional dan nasional
Menunjang upaya peningkatan PAD
Meningkatkan
pendapatan masyarakat 8 Penyerapan tenaga kerja yang tinggi Jumlah tenaga kerja di
Kabupaten Nias adalah 155.053 jiwa. Dari jumlah itu dapat menyerap tenaga kerja sebesar 6 % untuk usaha penangkapan ikan baik di sektor produksi maupun di sektor pengolahan dan pemasaran produknya. 9 Adanya ketersediaan teknologi Teknologi penangkapan
ikan cukup tersedia dan selalu berkembang seperti fish finder, echo
sounder, dan satelit.
3.3 Teknik Pengambilan Contoh
Mengingat daerah penelitian yang luas, penyebaran nelayan, keterbatasan waktu, tenaga dan biaya serta pertimbangan, agar tujuan penelitian ini dapat dicapai,
maka ditentukan beberapa wilayah contoh yang mempunyai usaha perikanan tangkap yang dapat mewakili seluruh populasi yang ada di wilayah penelitian.
Menurut Parel et al. (1975) dalam Ihsan (2000), metode penarikan contoh yang sesuai untuk populasi yang menyebar pada wilayah yang luas adalah dengan metode penarikan contoh secara bertingkat (multi stage sampling). Penarikan contoh secara bertingkat berdasarkan wilayah dilakukan sebagai berikut :
(a) Populasi penarikan contoh tingkat pertama merupakan kecamatan yang terdapat pada wilayah penelitian, yakni 15 kecamatan yang merupakan jumlah wilayah pesisir yang ada di Kabupaten Nias. Dengan mempertimbangkan jumlah nelayan pemilik, usaha perikanan tangkap, produksi hasil tangkapan perikanan laut serta kemungkinan pelaksanaannya, dipilih 6 kecamatan contoh diantaranya : Kecamatan Lahewa, Kecamatan Tuhemberua, Kecamatan Gunungsitoli Utara, Kecamatan Gunungsitoli, Kecamatan Idanogawo dan Kecamatan Sirombu sebagai contoh pertama.
(b) Dari populasi contoh tingkat pertama, dilakukan penarikan contoh tingkat kedua untuk memilih desa/kelurahan contoh dengan menggunakan prosedur yang sama dengan penarikan contoh tingkat pertama. Pemilihan desa/kelurahan contoh dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah dan jenis unit perikanan tangkap yang ada diwilayah tersebut serta saran dan petunjuk dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nias. Berdasarkan pertimbangan tersebut, untuk kecamatan Lahewa dipilih satu desa yaitu Desa Balofadorotuho; Kecamatan Tuhemberua dipilih satu desa yaitu desa Botolakha; Kecamatan Gunungsitoli Utara dipilih satu desa yaitu Desa Teluk Belukar; Kecamatan Gunungsitoli dipilih dua desa/Kelurahan yaitu Kelurahan Pasar Gunungsitoli dan Desa Moawo;; Kecamatan Idanogawo dipilih satu desa yaitu Desa Bozihona; dan Kecamatan Sirombu dipilih satu desa yaitu Desa Sirombu.
(c) Dari contoh tingkat kedua, dilakukan pencatatan nelayan pemilik yang melakukan usaha penangkapan ikan menurut jenis alat tangkap yang digunakan. Untuk setiap desa/kelurahan contoh, diambil sampel secara purposive sebanyak 10 % berdasarkan jenis alat tangkap yang ada di wilayah tersebut. Penentuan dari jumlah nelayan yang diambil sebanyak 10 % tersebut mempunyai kriteria antara
lain; kehadiran pada saat di lapangan, kesediaan untuk berkomunikasi dengan penulis dan pengalaman nelayan dalam usaha perikanan tangkap. Secara statistik Ada 2 jenis alat tangkap yang dominan beroperasi di perairan Kabupaten Nias yaitu pancing (hand line) dan jaring insang hanyut (drift gill net) yang terdiri dari
drift gill net bermata besar dan drift gill net bermata kecil.
3.4 Analisis Hierarki Proses (AHP)
3.4.1 AHP untuk penentuan komoditas ikan unggulan di Kabupaten Nias Penentuan komoditas unggulan didasarkan pada kriteria-kriteria yang telah ditetapkan antara lain (1) tingkat produksi dan harga, (2) permintaan pasar lokal, (3) peluang ekspor/antar pulau, (4) sarana dan prasarana penunjang, (5) keterkaitan ke depan dan kebelakang, (6) skala pengembangan, (7) dukungan dan peran pemerintah, (8) penyerapan tenaga kerja, (9) ketersediaan teknologi, dan (10) pengembangan yang berkelanjutan dan lestari. Sementara calon alternatif yang menjadi komoditas unggulan di Kabupaten Nias dibagi atas 3 yaitu : (1) Tuna, (2) Cakalang/Tongkol, dan (3) Ikan Karang.
3.4.1.1 Membuat struktur hierarki untuk penentuan komoditas unggulan di di Kabupaten Nias
Hierarki pengambilan keputusan dalam penentuan komoditas unggulan (Gambar 7) dalam menunjang tujuan pembangunan perikanan tangkap di Kabupaten Nias dibagi atas 3 tingkatan yaitu tingkat 1 merupakan fokus pada komoditas unggulan, tingkat 2 merupakan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan, dan tingkat 3 adalah calon alternatif komoditas unggulan yang layak dikembangkan untuk menunjang tujuan pembangunan perikanan tangkap di Kabupaten Nias. Jumlah responden yang diambil untuk mengetahui bagaimana persepsi mereka tentang komoditas unggulan yang layak dikembangkan adalah berjumlah 8 orang dan masing-masing berjumlah 2 orang yang terdiri dari nelayan, pedagang ikan, pengusaha perikanan tangkap, dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nias. Pengambilan responden ini dianggap sebagai key informant yang benar-benar mengetahui permasalahan pokok perikanan tangkap di Kabupaten Nias.
3.4.2 AHP untuk penentuan tujuan pembangunan perikanan tangkap di Kabupaten Nias
Penentuan tujuan pembangunan perikanan tangkap di Kabupaten Nias dilakukan dengan menggunakan analisis AHP. Aktor atau pelaku yang berperan adalah nelayan, pengusaha perikanan tangkap, pedagang ikan, Dinas Kelautan dan Perikanan dan Bappeda Kabupaten Nias sedangkan faktor yang berperan adalah potensi sumberdaya ikan (SDI), sarana dan prasarana, potensi sumberdaya manusia (SDM), adopsi teknologi, peluang pasar, aspek kelembagaan, dan unit penangkapan. Dari analisis di atas akan diperoleh alternatif tujuan pembangunan perikanan tangkap yang diharapkan di Kabupaten Nias seperti penyerapan tenaga kerja, peningkatan ekonomi masyarakat, peningkatan gizi masyarakat, peningkatan PAD, dan usaha penangkapan yang berkelanjutan.
3.4.2.1 Membuat struktur hierarki untuk penentuan tujuan pembangunan perikanan tangkap di Kabupaten Nias
Hierarki pengambilan keputusan dalam penentuan tujuan utama pembangunan perikanan tangkap di Kabupaten Nias (Gambar 8) dibagi atas 4 tingkatan yaitu tingkat 1 merupakan fokus terhadap pembangunan perikanan tangkap di Kabupaten Nias, tingkat 2 merupakan aktor/ pelaku yang berperan dalam pembangunan perikanan tangkap di Kabupaten Nias, tingkat 3 merupakan faktor-faktor yang berperan dalam pembangunan perikanan tangkap di Kabupaten Nias, dan tingkat 4 merupakan alternatif tujuan pembangunan perikanan tangkap di Kabupaten Nias.
Jumlah stakeholders yang diambil dalam penentuan tujuan pembangunan perikanan tangkap di Kabupaten Nias adalah adalah sebanyak 10 orang dimana masing-masing aktor yang diambil adalah sebanyak 2 orang. Pengambilan responden ini dianggap sebagai key informant yang benar-benar mengetahui permasalahan pokok perikanan tangkap di Kabupaten Nias. Saaty (1991), teknik perbandingan berpasangan dilakukan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan langsung kepada stakholders, bisa seorang ahli, atau bukan ahli, tetapi yang penting adalah terlibat dan mengenal dengan baik permasalahan yang dinilai. Jika
stakeholders merupakan suatu kelompok, maka seluruh anggota kelompok itu
3.4.3 Pembuatan skala perbandingan
Pembuatan skala perbandingan ditujukan untuk menggambarkan pengaruh relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan atau kriteria/kepentingan yang setingkat di atasnya. Penentuan tingkat kepentingan pada setiap tingkat hierarki atau dilakukan dengan teknik komparasi berpasangan (pairwise
comparation).
Tabel 7 Skala banding berpasangan Tingkat
Kepentingan D e f i n i s i
Penjelasan
1 Kedua elemen sama pentingnya Dua elemen mempunyai pengaruh yang sama besar terhadap tujuan
3 Elemen yang atu sedikit lebih penting dari elemen yang lain
Pengalaman dan penilaian sedikit mendukung satu elemen dibanding elemen yang lain
5 Elemen yang satu lebih penting dari pada elemen yang lain
Pengalaman dan penilaian sangat kuat mendukung satu elemen dibanding elemen yang lainnya
7 Satu elemen jelas lebih penting dari elemen lainnya
Satu elemen dengan kuat didukung dan dominan terlihat dalam praktek
9 Satu elemen tidak mutlak lebih penting daripada elemen yang lainnya
Bukti yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen yang lain memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan
2,4,6.8 Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan yang berdekatan
Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi diantara dua pilihan
Kebalikan Jika untuk aktivitas i mendapat satu angka bila dibandingkan dengan aktivitas j, mempunyai nilai kebalikan bila dibandingkan dengan i
3.4.3.1 Menghitung matriks
Prinsip penilaian pada AHP bila terdapat m kriteria yang dibandingkan, maka harus dihasilkan m matriks, setiap sel Cij Formulasi matriks individu adalah sebagai berikut:
Tabel 8 Maktriks elemen n
C1 C2 …. Cn
C1 1 A12 …. Aln
C2 1/a12 1 …. A2n
…. …. …. …. ….
Cn 1/a1n 1/a2n …. 1
Keterangan : C1. C2, .. Cn = Set elemen satu tingkat keputusan dalam hierarki. Kuantifikasi pendapat dari hasil komparasi yang mencerminkan niiai kepentingan Citerhadap Cj.
Analisis selanjutnnya adalah menghitung nilai-nilai dari matrik untuk mendapatkan vektor prioritas (VP) . Selain itu juga dilakukan sintesis berbagai pertimbangan dan mendapatkan nilai konsistensi.
Tabel 9 Menjumlahkan nilai dalam setiap kolom, matrik normalisasi dan Vektor Prioritas
C1 C2 …. Cn Matriks normalisasi VP
C1 1 A12 …. a1n 1/J1 a12/J2 …. aln/Jn P1
C2 1/a1n 1 …. a2n A21/J1 1/J2 …. a2n/Jn P2
…. …. …. …. …. …. …. …. …. ….
Cn 1/a1n 1/a2n …. 1 an1/J1 an2/J2 …. 1/Jn Pn
I J1 J2 …. Jn ∑VP
3.4.3.2 Menghitung matriks pendapat gabungan
Matriks pendapat gabungan merupakan matriks baru yang elemen-elemennya (gij) berasal dan rata-rata geometrik elemen matriks pendapat individu yang nilai ratio konsistensi (CR) memenuhi syarat. Tujuan dari penyususunan matriks pendapat gabungan ini adalah untuk membentuk suatu matriks yang mewakili matriks-matriks pendapat individu yang ada. Matriks ini selanjutnya digunakan untuk mengukur tingkat konsistensi serta vektor prioritas dari elemen-elemen hierarki yang mewakili semua responden. Pendapat gabungan ini menggunakan formula sebagai berikut :
gij= m
m k ij k a 1
keterangan :
m = jumlah responden dan aij= matriks/pendapat individu
3.4.3.3 Pengolahan horisontal
Pengolahan horisontal digunakan untuk menyusun prioritas elemen keputusan pada hierarki keputusan dengan tahapan sebagai berikut :
Perkalian baris (Zi) dengan menggunakan rumus :
Zi=n
n kj ij k a 1 Keterangan :Zi = vektor eigen/perkalian baris, N = Jumlah elemen yang dibanding m = jumlah responden, k = Kolom Pertama
aij= Nilai entri setiap matriks pada baris i dan kolom j
(1) Perhitungan vektor prioritas atau vektor ciri (eigen vektor)
Evpi =
n i n i n k ij n j n k ij n j Zi Zi a a 1 1 ) ( 1 ) ( 1 , dimana Vpi = Vektor prioritas elemen i
(2) Perhitungan akar ciri atau nilai eigen (eigen value] maksimum (λ max) dengan rumus ;
VA = aijX Vp dengan VA = (V aij) Keterangan : VA adalah vektor antara
VB = denganVB Vbi
Vp VA
Keterangan : VB adaiah nilai eigen
n VB n i
1 max Nilai pengukuran konsistensi diperlukan untuk menghitung penyimpangan konsistensi dan consistency ratio (CR) apakah jawaban dan responden berpengaruh terhadap keabsahan hasil.
Indeks konsistensi (CI) merupakan matriks acak/random dengan skala 1-9 dan kebalikannya sebagai Indeks random (RI). Perbandingan antara CI dan RI untuk suatu matriks didefinisikan sebagai ratio konsistensi (CR)
CR =
RI CI
Dimana : RI - Indeks acak (Random Indeks) dari matrik berordo 1-15 seperti tertera pada Tabel 11.
Tabel 10 Nilai indeks acak (RI) matriks berordo 1-15
n RI n RI n RI 1 0.00 6 1.24 11 1.51 2 0.00 7 1.32 12 1.48 3 0.58 8 1.41 13 1.56 4 0.90 9 1.45 14 1.57 5 1.12 10 2.49 15 1.59 3.4.3.4 Pengolahan vertikal
Pengolahan vertikal digunakan untuk menyusun prioritas pengaruh setiap elemen pada tingkat hierarki keputusan tertentu terhadap sasaran utama. Jika CVjj didefinisikan sebagai nilai prioritas ke-i pada tingkat ke-j terhadap sasan utama maka
CVij=
3 1 t CH : (t, i -1)xVWt(i-1) Untuk i = 1,2,3,...p, j = 1,2,3,...r, t= 1,2,3,...s Keterangan :CHij (t,i-1) = Nilai prioritas pengaruh elemen ke-j pada tingkat ke-i terhadap elemen ke-t pada tingkat diatasnya (t-1), yang diperoleh dari pengolahan horisontal
VW t(i-1) = Nilai prioritas pengaruh elemen ke-t pada tingkat ke (i-1) terhadap sasaran utama, yang diperoleh dari hasil pengolahan vertikal
p = Jumlah tingkat hierarki keputusan
r = Jumlah elemen yang ada pada tingkat ke-i ke (i-1)
3.4.3.5 Revisi pendapat
Revisi pendapat dapat dilakukan apabila nilai konsistensi ratio (CR) dapat cukup tinggi (>0,1) dengan mencari deviasi RMS (Rood Mean Square) dari baris (aij) dan perbandingan nilai bobot kolom (Wi/Wj) dan merevisi pendapat pada baris yang mempunyai nilai terbesar.
λ max n j j i ij W W a / ( 1
)Catatan dari beberapa ahli bahwa jika jumlah revisi terlalu besar, sebaliknya responden itu dihilangkan. Oleh karena itu revisi ini sangat terbatas mengingat akan terjadi penyimpangan dari jawaban (Saaty 1991)
Tingkat III ALTERNATIF Tingkat Produksi dan Harga Penyerapan Tenaga Kerja Ketersediaan Teknologi Permintaan Pasar Lokal Peluang Ekspor/Antar Pulau Sarana dan Prasarana Penunjang Keterkaitan Kedepan dan Kebelakang Skala Pengembangan Dukungan dan Peran Pemerintah Tingkat II KRITERIA Tingkat I
FOKUS KOMODITAS UNGGULAN
Gambar 7 Hierarki komoditas unggulan di Kabupaten Nias.
Ikan tuna Ikan
Tingkat III FAKTOR
POTENSI SDI
Gambar 8 Hierarki tujuan pembangunan perikanan tangkap di Kabupaten Nias. PEMBANGUNAN PERIKANAN TANGKAP
DI KABUPATEN NIAS Tingkat I FOKUS Tingkat IV ALTERNATIF TUJUAN PENYERAPAN TENAGA KERJA PENINGKATAN GIZI MASYARAKAT PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT NELAYAN PENGUSAHA PERIKANAN TANGKAP PEDAGANG IKAN
DKP NIAS BAPPEDA LSM / NGO
Tingkat II AKTOR POTENSI TEKNOLOGI POTENSI SDM UNIT PENANGKAPAN SARANA DAN PRASARANA PELUANG PASAR PENINGKATAN PAD USAHA PENANGKAPAN BERKELANJUTAN
3.5 Analisis Optimalisasi Alat Penangkapan Ikan
Model linear goal programming (LGP) merupakan perluasan dari model
linear programming yang mempunyai banyak tujuan ditambah dengan sepasang
variabel deviasional yang akan muncul difungsi tujuan dan difungsi kendala tujuan (goal constraint). Variabel deviasional berfungsi untuk menampung penyimpangan atau deviasi yang akan terjadi pada nilai ruas kiri suatu persamaan kendala terhadap nilai ruas kanannya (Sutisna 2007).
Berdasarkan hasil identifikasi, ada 19 macam sasaran yang hendak di capai dari upaya optimalisasi pengembangan perikanan tangkap tersebut, antara lain : (1) Mengoptimalkan hasil tangkap ikan kerapu sesuai Catch (C) MSY kerapu, (2) Mengoptimalkan hasil tangkap ikan kakap sesuai Catch (C) MSY kakap, (3) Mengoptimalkan hasil tangkap ikan bambangan sesuai Catch (C) MSY
bambangan,
(4) Mengoptimalkan hasil tangkap ikan kurusi sesuai Catch (C) MSY kurusi, (5) Mengoptimalkan hasil tangkap ikan tuna sesuai Catch (C) MSY tuna,
(6) Mengoptimalkan hasil tangkap ikan cakalang sesuai Catch (C) MSY cakalang, (7) Mengoptimalkan hasil tangkap ikan tongkol sesuai Catch (C) MSY tongkol, (8) Mengoptimalkan upaya tangkap ikan kerapu sesuai Effort (E) MSY kerapu, (9) Mengoptimalkan upaya tangkap ikan kakap sesuai Effort (E) MSY kakap, (10) Mengoptimalkan upaya tangkap ikan bambangan sesuai Effort (E) MSY
bambangan,
(11) Mengoptimalkan upaya tangkap ikan kurusi sesuai Effort (E) MSY kurusi, (12) Mengoptimalkan upaya tangkap ikan tuna sesuai Effort (E) MSY tuna, (13) Mengoptimalkan upaya tangkap ikan cakalang sesuai Effort (E) MSY
cakalang,
(14) Mengoptimalkan upaya tangkap ikan tongkol sesuai Effort (E) MSY tongkol, (15) Mengoptimalkan penggunaan BBM,
(16) Mengoptimalkan penggunaan air tawar, (17) Mengoptimalkan penggunaan es,
(18) Mengoptimalkan penggunaan tenaga kerja, (19) Mengoptimalkan retribusi terhadap PAD.
Model umum persamaan matematis dari LGP adalah: Fungsi Tujuan: Minimumkan
Kendala-kendala Tujuan: Atau : a11x1 +a12x2+...+ a1nxn+ dB1– dA1 = b1 a21x1 +a22x2+...+ a2nxn+ dB1– dA1 = b2 . ai1x1+ ai2x2+...+ ainxn + dBi - dAi = bi dimana : Pk = Urutan prioritas dBi = deviasi ke bawah dAi = deviasi ke atas
aij = Koefisien kendala tujuan, yaitu berhubungan dengan variabel tujuan Xj = variabel keputusan
bi = Tujuan atau target yang ingin dicapai
Secara umum ada 3 jenis kendala tujuan yang berlainan yaitu ;
1 Kendala tujuan pertidaksamaan lebih kecil sama dengan (≤). Untuk kendala tujuan jenis ini pertidaksamaannya dikurangi dengan variabel deviasi ke Atas (dA)
2 Kendala tujuan pertidaksamaan lebih besar sama dengan (≥). Untuk kendala tujuan jenis ini pertidaksamaannya ditambah dengan variabel deviasi ke Bawah (dB)
3 Kendala tujuan persamaan (=). Untuk kendala tujuan jenis ini persamaannya dikurangi dengan variabel deviasi ke Atas (dA) dan ditambah dengan variabel deviasi ke Bawah (dB) ) ( 0 1 i i l k m i k dB dA P Z
n j i i i j ijX dB dA b a 13.6 Prioritas Strategi Pengembangan Perikanan Tangkap Komoditas Unggulan yang Berkelanjutan dan Berkeadilan
Menyusun alternatif pengembangan perikanan tangkap yang berkelanjutan dan berkeadilan di Kabupaten Nias menggunakan analisis SWOT. SWOT adalah analisis yang digunakan para perencana strategis daerah atau bisnis (Rangkuti 2006).
3.6.1 Analisis strategi pengembangan usaha perikanan tangkap di Kabupaten Nias
Analisis strategi pengembangan menggunakan analisis SWOT, dilakukan agar dapat merencanakan ke depan tentang pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Nias yang meliputi aspek teknis, aspek biologi, aspek ekonomi, dan aspek sosial. Keempat aspek ini memegang peranan penting dalam pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Nias. Analisis ini memformulasikan keempat aspek di atas menjadi faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) dalam usaha pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Nias (Tabel 11).
Tabel 11 Formulasi aspek biologi, aspek teknik, aspek ekonomi, dan aspek sosial menjadi faktor internal dan faktor eksternal dalam pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Nias
Aspek biologi Aspek teknik Aspek ekonomi Aspek sosial
Faktor Internal
Kekuatan (Strengths)
Aspek biologi apa
yang menjadi faktor
kekuatan dalam
pengembangan
Perikanan tangkap
terpilih di
Kabupaten Nias.
Aspek teknik apa yang
menjadi faktor kekuatan dalam pengembangan Perikanan tangkap terpilih di Kabupaten Nias.
Aspek ekonomi apa yang menjadi faktor
kekuatan dalam
pengembangan
Perikanan tangkap
terpilih di
Kabupaten Nias.
Aspek sosial apa
yang menjadi faktor kekuatan dalam pengembangan Perikanan tangkap terpilih di Kabupaten Nias. Kelemahan (Weaknesses)
Aspek biologi apa
yang menjadi faktor
kelemahan dalam
pengembangan
Perikanan tangkap
terpilih di
Kabupaten Nias.
Aspek teknik apa yang
menjadi faktor kelemahan dalam pengembangan Perikanan tangkap terpilih di Kabupaten Nias.
Aspek ekonomi apa yang menjadi faktor
kelemahan dalam
pengembangan
Perikanan tangkap
terpilih di
Kabupaten Nias.
Aspek sosial apa
yang menjadi faktor
kelemahan dalam pengembangan Perikanan tangkap terpilih di Kabupaten Nias. Faktor eksternal Peluang (Opportunities)
Aspek biologi apa
yang menjadi faktor
peluang dalam
pengembangan
Perikanan tangkap
terpilih di
Kabupaten Nias.
Aspek teknik apa yang menjadi faktor peluang
dalam pengembangan
Perikanan tangkap
terpilih di
Kabupaten Nias.
Aspek ekonomi apa yang menjadi faktor
peluang dalam
pengembangan
Perikanan tangkap
terpilih di
Kabupaten Nias.
Aspek sosial apa
yang menjadi faktor
peluang dalam pengembangan Perikanan tangkap terpilih di Kabupaten Nias. Ancaman (Threats)
Aspek biologi apa
yang menjadi faktor
ancaman dalam
pengembangan
Perikanan tangkap
terpilih di
Kabupaten Nias.
Aspek teknik apa yang
menjadi faktor ancaman dalam pengembangan Perikanan tangkap terpilih di Kabupaten Nias.
Aspek ekonomi apa yang menjadi faktor
ancaman dalam
pengembangan
Perikanan tangkap
terpilih di
Kabupaten Nias.
Aspek sosial apa
yang menjadi faktor
ancaman dalam
pengembangan
Perikanan tangkap
terpilih di
3.6.2 Analisis Prioritas Strategi Pengembangan Perikanan Tangkap di Kabupaten Nias
Faktor internal dan eksternal kemudian dievaluasi untuk mengetahui seberapa penting kedua faktor ini dalam pengembangan usaha perikanan tangkap terpilih. Evaluasi yang dilakukan dalam faktor internal yaitu dengan membuat matriks internal factor evaluation (IFE) dan faktor eksternal yaitu membuat matriks external factor evaluation (EFE). Langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut:
(1) Menuliskan daftar kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh perikanan tangkap terpilih di Kabupaten Nias
(2) Memberikan nilai 1 sampai 4 pada skala kontribusi setiap komponen faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman terhadap faktor kunci internal dan eksternal. Nilai 4 = kontribusi sangat kuat; nilai 3= kotribusi kuat; nilai 2 = kontribusi lemah; dan nilai 1 = kontribusi sangat lemah.
(3) Penentuan nilai share untuk setiap komponen faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dari faktor kunci internal dan eksternal dengan menggunakan rumus: i i share nilai
dimana: i = nilai skala kontribusi setiap komponen faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.
Σi = Jumlah nilai skala kontribusi setiap komponen faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.
(4) Penentuan bobot dari share untuk setiap komponen faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman terhadap faktor kunci, dengan menggunakan rumus:
2
j Bobot
dimana: j = nilai share setiap komponen faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.
(5) Memberikan rating setiap komponen faktor SWOT terhadap faktor kunci internal dan eksternal dengan menggunakan nilai 1 – 4. Nilai 4 = kontribusi
sangat kuat; nilai 3 = kotribusi kuat; nilai 2 = kontribusi lemah; dan nilai 1 = kontribusi sangat lemah.
(6) Penentuan skor pengaruh setiap komponen faktor SWOT terhadap faktor kunci, dengan menggunakan rumus:
R B Skor
dimana: B = bobot
R = rating setiap komponen faktor SWOT
Mengembangkan pola strategi perlu adanya pengembangan alernatif strategi yang diambil untuk menghasilkan strategi yang tepat dalam pengembangan perikanan tangkap terpilih di Kabupaten Nias. Pola strategi yang dimaksud berpijak pada situasi ril kondisi eksternal maupun internal yang dibuat kedalam matriks SWOT (ancaman, peluang, kelemahan, dan kekuatan).
Alternatif yang ditentukan dalam strategi SWOT melalui pendekatan matriks quantitative strategic planing management (QSPM), sebagai berikut: (1) Menuliskan peluang, ancaman, kekuatan, dan kelemahan.
(2) Memberikan bobot pada masing-masing peluang, ancaman, kekuatan, dan kelemahan. Bobot ini harus identik dengan bobot yang diberikan pada matriks EFE dan IFE.
(3) Menuliskan alternatif strategi yang akan dievaluasi.
(4) Bila faktor yang bersangkutan ada pengaruhnya terhadap alternatif strategi yang sedang dipertimbangkan, maka pemberian nilai attractiveness score (AS) berkisar antara 1 sampai dengan 4. Nilai 1 = pengaruh strategi sangat lemah terhadap faktor SWOT; nilai 2 = pengaruh strategi lemah terhadap faktor SWOT; nilai 3 = pengaruh strategi kuat terhadap faktor SWOT; dan nilai 4 = pengaruh strategi sangat kuat terhadap faktor SWOT. Bila tidak ada pengaruhnya terhadap alternatif strategi yang sedang dipertimbangkan jangan berikan angka pada AS.
(5) Menghitung weighted attractiveness score (WAS) dengan menggunakan rumus:
WAS = B x AS dimana: B = bobot
(6) Menghitung total dari weighted attractiveness score (WAS)
(7) Alternatif strategi yang memiliki total weighted attractiveness score (WAS) terbesar merupakan alternatif strategi yang paling baik di gunakan dalam pengembangan perikanan tangkap terpilih di Kabupaten Nias.