KIRAB BUDAYA & TRADISI TEBAR MINO
DI PUCANGSAWIT, SURAKARTA
Disusun untuk memenuhi Ujian Tengah Semester Wawasan Budaya Nusantara (MKK00102)
Program Studi Televisi dan Film Jurusan Seni Media Rekam
Oleh :
FANNY SETIAWATI NIM. 14148149
FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN
INSTITUT SENI INDONESIA
SURAKARTA
2015
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan YME, yang telah memberikan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Adapun penyusunan makalah ini di maksudkan sebagai syarat memenuhi Ujian Tengah Semester ganjil pada mata kuliah Wawasan Budaya Nusantara.
Kami menyadari bahwa keterbatasan pengetahuan dan pemahaman kami terhadap kebudayaan Jawa ini, menjadikan keterbatasan kami dalam penjabaran yang lebih dalam tentang pembahasan ini. Oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca terutama pembimbing yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan laporan ini.
Semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Menyadari bahwa makalah ini masih perlu di sempurnakan, segala kritik dan saran sangat di harapkan gunapenyempurnaan makalah ini.
Surakarta, Desember 2015
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR GAMBAR ... iii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 2 1.3 Tujuan Penulisan ... 3 1.4 Tinjauan Teori ... 3 1.5 Metode Penelitian... 3
BAB II WUJUD BUDAYA 2.1 Budaya Ide/ Konsep Tradisi Tebar Mino ... 6
2.2 Budaya Tindakan/ Aktivitas Tradisi Tebar Mino ... 6
2.3. Budaya Fisik/ Artefak Tradisi Tebar Mino ... 10
BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan ... 15
3.2 Saran ... 15
DAFTAR ACUAN ... 16
LAMPIRAN ... 17
DAFTAR GAMBAR
Daftar Gambar
Gambar 1. Tumpeng 6
Gambar 2. Pelepasan Burung 7
Gambar 3. Bapak FX. Hadi Rudyatmo melepaskan burung 7 Gambar 4. Bapak Rudy menebarkan benih ikan di sungai Bengawan Solo 8 Gambar 5. Panggalian Tanah untuk Penanaman Pohon 9
Gambar 6. Penanaman Pohon 9
Gambar 7. Suasana saat berebut buah dan sayur 10
Gambar 8. Tumpeng 11
Gambar 9. Gunungan buah dan sayur 11
Gambar 10. Gunungan jajanan pasar 12
Gambar 11. Gunungan buah dan jahe dari PT. Jahe Wangi 12 Gambar 12. Baju lurik yang dikenakan pejabat kelurahan 13
Gambar 13. Baju lurik coklat 13
Gambar 14. Kebaya wanita 14
Gambar 15. Kebaya modern 14
Gambar 16. Fanny dan Narasumber ibu Sri 17 Gambar 17. Fanny dan Narasumber Sdr. Bachtiar 17
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah, merupakan salah satu negara yang menjadi paru-paru dunia karena sebagian besar dari daratan Indonesia di tumbuhi tanaman hijau yang subur. Berbagai tanaman-tanaman langka tumbuh di tanah Indonesia seperti
Rafflesia Arnoldy. Tidak hanya kekayaan hutannya yang melimpah, namun
kekayaan alam bawah laut Indonesia juga sangat beragam. Terumbu karang yang indah dengan berbagai macam jenis biota laut memenuhi perairan Indonesia. Maka dari itu tidak heran jika Indonesia di sebut sebagai negara seribu surga karena beragamnya kekayaan alam yang ada di Indonesia.
Keagungan Tuhan menciptakan itu semua seharusnya patut di syukuri oleh masyarakat Indonesia, menjaga dan melestarikannya untuk kehidupan keturunan di masa yang akan datang agar di masa mendatang anak cucu kita dapat melihat dan menikmati Indonesia dengan segala kekayaan alamnya yang sangat berlimpah. Namun, sebagian masyarakat Indonesia justru malah merusak alam yang telah Tuhan berikan untuk Indonesia. Alam yang begitu indah dan menjadi sumber sumber mata pencaharian bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya, justru malah di eksploitasi besar-besaran oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab karena ingin meraup keuntungan yang besar dan berlipat kali ganda tanpa memikirkan dampak yang akan di dapat bagi orang-orang di sekitarnya dan di masa yang akan datang oleh anak cucunya. Pembakaran hutan untuk perluasan lahan, perburuan liar hewan-hewan langka dan di lindungi, penebangan hutan secara liar, pengeboman terumbu karang untuk mendapatkan ikan yang berlimpah, membuang sampah ke sungai. Pada akhirnya dampak yang didapat dari itu semua adalah hewan dan terumbu karang terancam punah, tanah longsor, banjir, dan juga kebekaran hutan seperti yang ada di bagian barat Indonesia. Dalam 10 tahun terakhir, Indonesia telah mengalami penurunan tanah sebanyak 46 cm2 dan itu
mengancam indonesia dalam beberapa puluh tahun kedepan. Terjadinya bencana-bencana alam dan pembangunan pabrik, gedung-gedung pencakar langit merupakan beberapa penyebab terjadinya penurunan tanah di Indonesia, limbah pabrik menjadi sebuah ancaman bagi ekosistem sungai. Itu semua tidak hanya berdampak pada kekayaan alamnya saja namun akan berdampak pula pada dunia karena semakin bertambahnya efek rumah kaca yang akan berakibat pada Global Warming atau Pemanasan Global yang akan semakin memperburuk lapisan ozon di bumi karena semakin berkurangnya lahan hijau di permukaan bumi.
Melihat keprihatinan itu, maka Pemerintah Kota Surakarta mengajak masyarakat Surakarta terutama warga Pucangsawit untuk bersama-sama melestarikan alam di sekitar Pucangsawit agar ada lahan hijau untuk anak cucu di masa yang akan datang. Pogram Pemerintah Kota Surakarta yang baru adalah dengan berinisiatif mengadakan Tradisi Tebar Mino, yaitu tradisi menebar ribuah benih ikan, melepaskan ratusan ekor burung, dan menanam pohon untuk memperluas lahan hijau di bantaran sungai Bengawan Solo tepatnya di Taman Urban Forest Pucangsawit tidak hanya itu, kirab budaya yang diikuti 15 RW juga ikut memeriahkan acara ini. Tradisi Tebar Mino ini sudah kali kelima di adakan oleh PEMKOT Surakarta, dimulai pada tahun 2011 dan sampai sekarang masih diadakan guna mengajak masyarakat Surakarta khusunya masyarakat Pucangsawit untuk peduli terhadap lingkungan yang ada di sekitar mereka, mencintai dan menjaga lingkungannya baik air, tumbuhan, maupun udara agar kelak generasi selanjutnya dapat merasakan suburnya tanah Indonesia dan kekayaan alam yang berlimpah didalamnya.
1.2 Rumusan Masalah
Penulisan makalah ini untuk mengetahui wujud budaya pada tradisi
Tebar Mino di kampung pucangsawit, dengan rumusan masalah sebagai
berikut:
1.2.2 Bagaimana wujud budaya tindakan/kegiatan pada tradisi Tebar
Mino?
1.2.3 Bagaimana wujud budaya artefak/fisik pada tradisi Tebar Mino?
1.3 Tujuan Penelitian
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud budaya yang terdapat pada tradisi Tebar Mino yang ada di wilayah kampung
Pucangsawit.
1.4 Tinjauan Teori
Di dunia ini terdapat banyak sekali aturan dan norma yang berlaku di masyarakat, tujuan dari norma dan aturan itu adalah mengatur masyarakat agar lebih teratur dalam menjalani kehidupan di lingkungannya. Aturan dan norma yang ada di masyarakat tentu juga di pengaruhi oleh tradisi-tradisi yang ada sejak zaman dahulu yang masih melekat pada masyarakat zaman sekarang. Menurut Rendra dalam bukunya yang berjudul Mempertimbangkan
Tradisi(1984:3), tradisi ialah kebiasaan yang turun menurun dari sebuah
masyarakat.
Berbeda daerah berbeda pula tradisi yang melekat pada setiap masyarakatnya. Seperti pada contohnya tradisi yang ada pada masyarakat Jawa, pada malam satu suro Keraton Surakarta dan Yogyakarta mengadakan pemandian keris dan mengiring kerbau mengitari sekitar keraton. Kemudian pada setiap Maulud Nabi, Keraton Surakarta dan Yogyakarta mengadakan sekaten. Tradisi itu masih melekat hingga sekarang, dilestarikan dan dijaga keberadaannya.
Dalam masyarakat Surakarta ada sebuah tradisi yang bertujuan untuk pelestarian lingkungan, tradisi ini di sebut Tradisi Tebar Mino. Pengertian
Tebar Mino Tradisi ini diselenggarakan di Taman Urban Forest, Pucangsawit.
1.5 Metode Penelitian
Metode penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan permasalah dari objek yang dikaji. Dalam mengungkapkan permasalahan yang ada, hal
yang perlu dilakukan adalah melakukan serangkaian langkah– langkah pada metode penelitian ini, baik dengan objek kajian serta metode pengumpulan data. Beberapa hal yang terkait dengan langkah - langkah dalam penelitian sebagai berikut:
1.5.1 Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yang bersifat diskriptif. Pada dasarnya metode kualitatif ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang sistematis untuk memberikan pemahaman tentang objek yang dikaji yaitu tradisi Tebar Mino.
1.5.2 Stategi Penelitian
Strategi penelitian yang digunakan yaitu observasional, wawancara narasumber dan kajian teori. Dimana penulis mengamati objek yang ada, mewawancarai narasumber yang terkait dan mengerti tentang subbab ini dan mengkaji ulang sumber-sumber dari buku. Objek yang dikaji adalah tradisi Tebar
Mino.
1.5.3 Lokasi dan Tanggal Penelitian
Dalam penelitian ini, lokasi sangat menentukan keabsahan dalam mengkaji objek penelitian. Lokasi penelitian bertempat dikelurahan Pucangsawit, Surakarta, tepatnya di TamAN Urban Forest Pucangsawit. Yang mana pada saat itu terselenggara tradisi
Tebar Mino. Hal ini membuat penulis mengambil objek kajian pada
lokasi tersebut. Penelitian dilaksanakan pada hari Minggu, 20 Desember 2015, pukul 08..00 sampai selesai.
1.5.4 Metode pengumpulan data 1.5.4.1 Dokumentasi
Dalam penelitian ini, dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah foto hasil dari pemotretan penulis. Objek yang didokumentasikan adalah suasana pada saat jalannya proses tradisi
Tebar Mino, pakaian yang digunakan oleh masyarakat dalam acara
ini berbeda-beda, karena mereka memakai pakaian berdasarkan RW-nya masing-masing. Foto atau dokumentasi ini digunakan untuk mendukung materi dari isi makalah ini dan sebagai bukti otentik pada saat melakukan penelitian. Dalam makalah ini, penulis melakukan observasi dan wawancara menggunakan kamera Canon 60D dan Samsung Galaxy Prime, kamera untuk mengambil foto objek yang ada dan Samsung Galaxy Prime untuk mewawancarai narasumber yang terkait dengan tradisi Tebar Mino ini.
1.5.4.2 Wawancara (narasumber belum)
Wawancara dalam penelitian ini ada dua narasumber yaitu, Ibu Sri dan Sdr. Bachtiar. Ibu Sri adalah peserta dari Tebar Mino dan dan Sdr. Bachtiar adalah panitia dari Tebar Mino. Wawancara dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang ada dan terkait dengan objek yang dikaji.
1.5.4.3 Kajian Pustaka
Kajian Pustaka dilakukan dengan mengumpulkan dan mengkaji secara mendalam mengenai uraian dan penjelasan yang berkaitan dengan Tebar Mino dari sumber data yang berupa tertulis. Sumber tersebut meliputi beberapa majalah dan blog. Data – data tersebut dapat berguna bagi panutan, pijakan atau landasan pemikiran untuk mendeskripsikan dan menyimpulkan penelitian ini.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.1 Wujud Budaya Ide/Konsep
Budaya ide atau konsep lebih mengacu pada pemikiran ataupun sistem yang ada dalam Tradisi Tebar Mino, Terdapat budaya ide/konsep yang ada dalam Tradisi Tebar Mino diantaranya
1.1.1 Tumpeng
Pada tumpeng mengandung makna dan arti tersendiri, makna dari tumpang adalah bentuk manusia memanjatkan syukurnya kepada Tuhan karena limpahan rahmat yag telah Tuhan berikan kepada umat manusia. Menurut ibu Sri, bentuk tumpeng yang mengerucut keatas itulah simbol dari tumpeng itu sendiri.
Gambar 1. Tumpeng (Foto: Fanny Setiawati 2015)
1.2 Wujud Budaya Tindakan
Suatu tradisi memiliki beberapa wujud budaya tindakan yang dicerminkan pada prosesi pada tradisi tersebut. Budaya tindakan mengacu pada tindakan yang dilakukan pada Tradisi Tebar Mino.
1.2.1 Pelepasan Burung
Dalam prosesi ini, pelepasan burung di lakukan oleh Walikota dan Wakil Walikota Surakarta dengan mengucapkan bismillah diharapkan burung-burung yang dilepaskan dapat berkembangbiak supaya memperbaiki populasi burung-burung yang sering diburu dan akan bermanfaat di kemudian hari.
Gambar 2. Pelepasan Burung (Foto: Fanny Setiawati 2015)
Gambar 3. Bapak FX. Hadi Rudyatmo melepaskan burung (Foto: Fanny Setiawati 2015)
1.2.2 Pelepasan Bibit Ikan
Prosesi selanjutnya adalah penebaran benih ikan lele di Sungai Bengawan Solo. Penebaran dilakukan oleh Walikota dan Wakil Walikota Surakarta. Menurut Bachtiar penebaran ini bertujuan agar ekosistem sungai Bengawan Solo dapat terus hidup dan akan sebisa mungkin di lindungi karena sungai Bengawan Solo adalah aset
yang berharga dan patut untuk di lestarikan, baik kondisi airnya maupun ekosistem yang ada disekitarnya dan didalamnya.
Gambar 4. Bapak FX. Hadi Rudyatmo menebarkan benih ikan di sungai Bengawan Solo
(Foto: Fanny Setiawati 2015)
1.2.3 Penanaman Pohon
Kemudian prosesi selanjutnya adalah penanaman pohon di Taman Urban Forest Pucangsawit penanaman ini bertujuan untuk mengurangi abrasi yang ada di bantaran sungai Bengawan Solo. Menurut ibu Sri, penanaman ini diharapkan bisa memperbaiki lahan hijau yang ada di taman ini agar taman bisa asri dan sejuk, juga diharapkan kelak taman ini bisa menjadi taman yang banyak manfaat bagi warga pucangsawit sendiri untuk melakukan berbagai aktivitas seperti olahraga, nongkrong, bercengkrama, menjadi sarana belajar karena banyak bibit buah-buahan dan tanaman yang di tanam di taman ini.
Gambar 5. Panggalian Tanah untuk Penanaman Pohon (Foto: Fanny Setiawati 2015)
Gambar 6. Penanaman Pohon (Foto: Fanny Setiawati 2015)
1.2.4 Ruyukan
Ruyukan atau rayahan adalah sebuah tradisi berebut
gunungan yang berisi hasil bumi atau jajanan pasar, biasanya ruyukan ini bisa ditemui ketika acara sekaten saat gunungan dilakukan. Menurut ibu Sri Ruyukan atau rayahan ini dipercaya masyarakat jika siapapun yang mendapatkan jajanan pasar atau hasil bumi akan mendapatkan berkah yang berlimpah.
Gambar 7. Suasana saat berebut gunungan (Foto: Fanny Setiawati 2015)
1.3 Wujud Budaya Artefak
Artefak lebih mengacu kepada benda-benda yang terdapat pada Tradisi Tebar Mino. Dalam Tebar Mino terdapat tiga artefak yang akan di bahas dalam makalah ini yaitu Tumpeng, Gunungan, dan Pakaian.
1.3.1 Tumpeng
Tumpeng merupakan nasi kuning yang di bentuk mengerucut yang di atas di taruh tampah, kemudian di sekelilingnya diberi lauk-pauk untuk pelengkap Tumpeng tersebut lauk yang di sajikan dalam Tumpeng adalah irisan telur dadar yang di potong memanjang, orek tempe, timun, serondeng. Dalam masyarakat Jawa, biasanya Tumpeng di gunakan pada saat melakukan syukuran atau acara-acara lain. Tumpeng sendiri memiliki arti yaitu sebagai simbol rasa syukur manusia kepada sang Pencipta karena telah melimpahkan rahmatnya kepada manusia.
Gambar 8. Tumpeng (Foto: Fanny Setiawati 2015)
1.3.2 Gunungan
Gunungan memiliki makna yang sama dengan tumpeng, yaitu sebagai simbol untuk mengungkapkan rasa syukur manusia kepada sang pencipta karena limpahan rahmat yang sudah diberikan. Hanya saja dalam Gunungan bukan nasi kuning yang di gunakan untuk pengungkapan rasa syukur itu, melainkan berbentuk jajanan pasar maupun hasil bumi yang di susun tinggi dan mengerucut seperti tumpeng. Biasanya Gunungan bisa di jumpai ketika sekaten diselenggarakan.
Gambar 9. Gunungan buah dan sayur (Foto: Fanny Setiawati 2015)
Gambar 10. Gunungan jajanan pasar (Foto: Fanny Setiawati 2015)
Gambar 11. Gunungan buah dan jahe dari PT. Jahe Wangi (Foto: Fanny Setiawati 2015)
1.3.3 Pakaian
Pakaian yang digunakan dalam Kirab Budaya dan Tradisi
Tebar Mino ini adalah pakaian yang di gunakan oleh para pejabat
kelurahan dan peserta kirab. Berbagai pakaian mereka kenakan untuk menyemarakkan acara Kirab Budaya dan Tradisi Tebar Mino ini. 1.3.3.1 Baju Lurik
Dalam acara ini baju lurik di kenakan pejabat kelurahan mereka memakai baju lurik berwarna coklat hijau. Dan juga
beberapa peserta mengenakan baju lurik hanya saja berbeda warna, peserta mengenakan baju lurik coklt tua dan coklat muda.
Gambar 12. Baju lurik yang dikenakan pejabat kelurahan (Foto: Fanny Setiawati 2015)
Gambar 13. Baju lurik coklat (Foto: Fanny Setiawati 2015)
1.3.3.2 Kebaya
Kebaya di gunakan oleh beberapa peserta Kirab
Budaya dan Tradisi Tebar Mino dan juga kebaya juga di
gunakan oleh pejabat kelurahan wanita untuk menghormati kebudayaan Jawa.
Gambar 14. Kebaya wanita (Foto: Fanny Setiawati 2015)
Gambar 15. Kebaya modern (Foto: Fanny Setiawati 2015)
BAB III
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Tradisi Tebar Mino merupakan salah satu tradisi tahunana yang ada di Kota Surakarta, tradisi ini rutin diadakan setiap setahun sekali dan ini adalah kali kelimanya Tradisi Tebar Mino ini di selenggarakan. Tradisi Tebar Mino di selenggarakan di Urban Forest, Kelurahan Pucangsawit, Jebres, Surakarta. Tradisi Tebar Mino sendiri adalah tradisi menyebarkan ribuan benih-benih ikan dan ratusan burung di Taman Urban Forest Sungai Bengawan Solo.
1.2 Saran
Setelah penulisan makalah, semoga makalah mengenai Tradisi Tebar
Mino ini dapat bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan mengenai
tradisi-tradisi yang ada di Indonesia. Serta dapat membuka mata masyarakat akan pentingnya nilai kearifan lokal dan lingkungan hidup manusia yang harus di jaga kelestariannya.
DAFTAR ACUAN
Buku:
Rendra. 1984. Mempertimbangkan Tradisi. Jakarta : Gramedia
Skripsi:
Yulianto. 2014. Skripsi: Dampak Negatif Perusakan Hutan Sebagai Sumber
Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis. Institut Seni Indonesia Surakarta
Narasumber:
Bachtiar Nur Rizky, 21 Tahun, Pegawai Swasta, Pucangsawit Rt:02/Rw:07 Sri Rahayu, 45 Tahun, Pegawai Swasta, Pucangsawit Rt:02/Rw:07
LAMPIRAN
Gambar 16. Fanny dan Narasumber ibu Sri (Foto: Fanny Setiawati 2015)
Gambar 16. Fanny dan Narasumber Sdr. Bachtiar (Foto: Fanny Setiawati 2015)