• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KONDISI UMUM PARIWISATA KOTA BOGOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III KONDISI UMUM PARIWISATA KOTA BOGOR"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

KONDISI UMUM PARIWISATA KOTA BOGOR

III.1 Kondisi Umum dan Permasalahan

Pemilihan objek studi kawasan beserta batasan-batasan yang ditentukan adalah berdasarkan permasalahan, potensi dan prospek yang ada pada kawasan tersebut. Berikut penjelasan dari pernyataan di atas :

Permasalahan :

Banyaknya pilihan objek wisata yang menarik, baik itu objek wisata ilmiah, kuliner maupun belanja merupakan potensi yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pelaku industri wisata kota Bogor. Hal tersebut pun sudah berjalan cukup baik. Ini terbukti dari jumlah wisatawan yang datang berkunjung ke kota Bogor semakin meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2005 tercatat sebesar 1.856.991 orang wisatawan yang datang berkunjung, dengan uraian sebagai berikut : 1.807.115 orang wisatawan domestik dan 49.876 orang wisatawan mancanegara. Namun dengan besarnya potensi yang dimiliki, kota Bogor seharusnya dapat menarik lebih banyak wisatawan. Jarak yang hanya 60 km dari pusat ibukota Jakarta, iklim yang sejuk dan suasana kota yang teduh merupakan keuntungan tersendiri bagi kota Bogor. Dengan berbekal potensi yang dimiliki tersebut, kota Bogor diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan setiap tahunnya.

Kenyamanan merupakan hal utama bagi para wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah baru. Kejelasan akan suatu informasi mengenai hal-hal menarik serta seluk beluk kota tujuan merupakan unsur penting dan penentu apakah wisatawan tersebut akan kembali lagi untuk berkunjung atau tidak. Maka dari itu, diperlukan suatu strategi jitu, salah satunya adalah dengan perencanaan sistem informasi pariwisata kota yang jelas, padat dan menarik untuk dapat memberikan kenyamanan bagi para wisatawan dalam berwisata di kota tujuan, dalam hal ini adalah kota Bogor. Dan dalam tesis ini, akan digali bagaimana peranan desain komunikasi visual dalam sistem informasi visual pariwisata kota Bogor. Dalam sistem informasi visual pariwisata ini akan dikhususkan pada marka grafis yang berkaitan dengan kegiatan pariwisata. Dengan adanya marka grafis yang terpadu, maka akan memperlancar kegiatan kepariwisataan di daerah tersebut.

(2)

Berdasarkan Perda No.1 Tahun 2000 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (Tahun 1999-2009) fungsi Kota Bogor adalah :

1. Sebagai Kota Perdagangan 2. Sebagai Kota Industri 3. Sebagai Kota Pemukiman 4. Kota Wisata Ilmiah 5. Kota Pendidikan

Dari kelima fungsi yang ada, kota wisata ilmiah merupakan keunggulan kota Bogor. Dibandingkan dengan kota-kota tetangga, seperti Jakarta, Depok, Bekasi, Cianjur, dan Tangerang, Bogor memiliki ciri khas sebagai kota wisata ilmiah. Hal ini dikarenakan kota Bogor memiliki Kebun Raya Bogor, objek wisata yang bertaraf internasional. Selain dari Kebun Raya Bogor, di Bogor juga terdapat beberapa museum yang menyimpan benda-benda bersejarah dan ilmiah, balai-balai penelitian ilmiah, serta objek wisata sejarah lainnya.

Tabel III.1 Data jumlah kunjungan wisatawan ke kota Bogor Tahun 2002-2006

JUMLAH PERKEMBANGAN PER TAHUN

NO. JENIS USAHA

JENIS WISATAWAN 2002 2003 2004 2005 2006 1 2 3 4 5 6 7 8 1 OBYEK WISATA NUSANTARA 1,858,820 1,380,477 1,360,374 1,267,839 1,370,119 MANCA NEGARA 53,702 32,421 11,211 13,732 18,714 JUMLAH 1,912,522 1,412,898 1,371,585 1,281,571 1,388,833 2 AKOMODASI NUSANTARA 213,549 149,095 173,139 539,276 716,807 MANCA NEGARA 15,605 9,472 13,330 36,144 31,443 JUMLAH 229,154 158,567 186,469 575,420 748,250 JUMLAH NUSANTARA 2,072,369 1,529,572 1,533,513 1,807,115 2,086,926 MANCA NEGARA 69,307 41,893 24,541 49,876 50,157 JUMLAH 2,141,676 1,571,465 1,558,054 1,856,991 2,137,083

(3)

Dalam kota Bogor, dibagi menjadi sembilan ruang kawasan objek wisata yang dimaksudkan untuk memperjelas dan mempermudah pengawasan terhadap perkembangan objek wisata. Pembagian ruang kawasan obyek wisata didasarkan atas penentuan wilayah yang dipertimbangkan swebagai prioritas pengembangan pariwisata. Masing-masing dari ruang kawasan objek wisata tersebut memiliki objek pendukung dan daya tarik wisata.

Sembilan ruang kawasan objek wisata kota Bogor adalah sebagai berikut: a. Kawasan Kebun Raya Bogor (Juanda)

Objek pendukung dan daya tarik wisata, antara lain : • Kebun Raya Bogor

• Istana Bogor • Museum Zoologi • Gedung Balaikota

• Museum dan Balai Penelitian Etno Botani • Museum dan Balai Penelitian Tanah

• Balai Penelitian dan Pengembangan Industri hasil Pertanian

• Pusat perbelanjaan Pasar Bogor (Bogor Plaza, kawasan perdagangan Suryakencana)

• Pusat penjualan bunga Pasar Bogor • Tugu Kujang

• Hotel Salak the Heritage b. Kawasan Situ Gede

Objek pendukung dan daya tarik wisata, antara lain : • Situ Gede

• Situ Leutik/Alit • Situ Panjang

c. Kawasan Jl. Sudirman – Ahmad Yani

Objek pendukung dan daya tarik wisata, antara lain : • Museum PETA (Pembela Tanah Air)

• Kawasan Pusat Jajanan Air Mancur

d. Kawasan Jl. Kapten Muslihat – Merdeka – Gunung Batu Objek pendukung dan daya tarik wisata, antara lain :

(4)

• Taman Topi

• TIC (Tourist Information Center) • Plaza Matahari

• Stasiun Kereta Api e. Kawasan Pajajaran

Objek pendukung dan daya tarik wisata, antara lain :

• Kawasan jajanan makanan malam hari (sepanjang Jl. Pajajaran) • Perbelanjaan Factory Outlet

• Pusat jajanan Jl. Binamarga dan showroom produk kerajinan (Dekranasda)

• Pusat perbelanjaan Jambu Dua f. Kawasan Jl. Siliwangi - Tajur

Objek pendukung dan daya tarik wisata, antara lain : • Kawasan Perbelanjaan Sukasari

• Industri tas Tajur

g. Kawasan Batutulis Jl. Pahlawan - empang Objek pendukung dan daya tarik wisata, antara lain :

• Prasasti Batutulis • Istana Batutulis

• Situs Makam Raden Saleh • Industri kerajinan Gong Home h. Kawasan Sempur – Taman Kencana

Objek pendukung dan daya tarik wisata, antara lain : • Lapangan Olahraga Sempur

• Taman Kencana • Kafe-kafe

i. Kawasan Jl. KH Soleh Iskandar

Objek pendukung dan daya tarik wisata, antara lain : • Pusat perbelanjaan Plaza Yogya

• Pusat perbelanjaan Matahari • Industri kerajinan batu gading • Industri kerajinan frame wayang

(5)

Satuan ruang objek wisata tersebut membentuk suatu jalur wisata. Jalur wisata tiap kawasan ini terhubungkan dengan jalur wisata yang lainnya sehingga memudahkan wisatawan untuk berpindah ke jalur wisata kawasan lainnya.

III.1.1 Kelompok Objek Wisata di Kota Bogor A. Wisata Alam

1. Kebun Raya Bogor

Kebun Raya Bogor merupakan objek wisata alam yang juga merupakan objek wisata ilmiah, terdapat di pusat kota Bogor dengan luas areal sebesar 87 ha. Daya tarik utamanya adalah dengan adanya lebih dari 20.000 koleksi tanaman dari berbagai penjuru dunia, terutama tanaman-tanaman yang langka dan dilestarikan. 2. Objek Wisata Situ

Objek wisata situ di kota Bogor terdiri dari Situ Gede, Situ Alit dan Situ Panjang. Situ-situ tersebut termasuk dalam kawasan Situ Gede. Kawasan Situ Gede merupakan kawasan yang bernuansa alam pedesaan yang terletak di kelurahan Situ Gede Kecamatan Bogor Barat dengan daya dukung hutan disekitarnya.

B. Wisata Ilmiah 1. Museum Zoologi

Museum Zoologi adalah museum yang mempunyai koleksi ribuan spesies binatang mamalia, serangga, reptilia, burung, ikan dan molusca. Museum ini memiliki luas 1.500m2 terletakk di Jalan Ir. H. Juanda No.9 bersebelahan dengan Kebun Raya Bogor.

2. Museum Etno Botani

Museum Etno Botani merupakan museum yang didalamnya memperagakan pemanfaatan tumbuhan yang ada di Indonesia, koleksi fosil kayu, tumbuh-tumbuhan obat tradisional, pemanfaatan kulit kayu untuk pakaian orang dayak, dan koleksi daun-daun yang diawetkan.

3. Museum Tanah

Museum Tanah merupakan tempat penyimpanan model tanah sebagai koleksi berbagai macam tanah yang ada di Indonesia.

(6)

Kota Bogor memiliki balai-balai penelitian yang dapat dijadikan aset pariwisata dan mendukung pembentukan citra kota. Balai penelitian tersebut diantaranya adalah :

a. CIFOR (Center for International Forestry Research) b. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat

c. Balai Penelitian Veteriner

d. Balai Penelitian Tanaman Pangan e. Balai Penelitian Perkebunan

f. Balai besar Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Pertanian g. Pusat Penelitian Pengembangan Hasil Hutan

h. Pusat Perpustakaan Pertanian dan Biologi i. Balai Pusat Penelitian Tanah

j. Balai Penelitian Perikanan Air Tawar k. Balai Penelitian dan Pengembangan Botani

C. Wisata Budaya

Wisata budaya yang terdapat di kota Bogor, antara lain adalah pemilihan Mojang Jajaka kota Bogor yang diadakan setiap tahunnya, untuk dapat kemudian mengikuti kontes tingkat lanjut di tingkat propinsi Jawa Barat. Contoh lainnya adalah pengadaan pagelaran seni Sunda di kota Bogor untuk memperingati hari jadi kota setiap tahunnya.

D. Wisata Budaya

Objek wisata sejarah di kota Bogor dibagi ke dalam dua jenis yiatu sejarah perjuangan bangsa (museum) dan sejarah perkembangan kota Bogor yang meninggalkan situs-situs sejarah, bangunan-bangunan bersejarah. Objek wisata tersebut diantaranya :

1. Museum Pembela Tanah Air (PETA)

Museum PETA menampilkan diorama perjalanan proses pergerakan kebangsaan, dimaan kota Bogor merupakan tempat pertama kali diselenggarakan pendidikan Perwira Tentara Sukarela Pembela Tanah Air yang merupakan tentara kebangsaan Indoensia.

(7)

2. Istana Bogor

Istana Bogor merupakan Istana Kepresidenan Republik Indonesia yang menjadi salah satu landmark Kota Bogor.

3. Museum Perjuangan

Museum Perjuangan merupakan museusm yang menyimpan macam-macam senapan yang digunakan para pejuang kemerdekaan, senapan-senapan hasil rampasan dari tentara Jepang dan Inggris serta dokumentasi sejarah perjuangan bangsa.

4. Prasasti Batutulis

Prasasti Batutulis merupakan objek peninggalan bersejarah kerajaan Pajajaran. Lokasinya berseberangan dengan Istana Batutulis.

5. Situs Makam Raden Saleh

Raden Saleh adalah seorang pelukis Indonesia yang beraliran naturalis yang terkenal sampai ke mancanegara. Makam Raden Saleh yang terletak di kelurahan Empang dilestarikan sebagai salah satu objek wisata daerah.

E. Wisata Belanja

Wisata belanja di kota Bogor dibagi menjadi beberapa kategori, diantaranya adalah wisata belanja makanan khas (kuliner), wisata belanja cindera mata atau kerajinan tangan khas kota Bogor, dan wisata belanja factory outlet yang telah beberapa tahun belakangan ini berkembang pesat di kota Bogor, khususnya factory

outlet tas.

Diantara berbagai produk kerajinan tangan ataupun home industry yang dikembangkan di kota Bogor antara lain adalah gong home, kerajinan buah kenari, bingkai wayang, batu gading, wayang duduk, tas imitasi (tas tajur), produk bordir, perak dan kuningan, sepatu dan sandal Ciapus, boneka kain.

III.2 Analisis Kondisi Eksisting Sistem Informasi Pariwisata Kota Bogor Saat Ini

Dengan jumlah wisatawan yang terus meningkat setiap tahunnya, menjadikan kota Bogor sebagai kota tujuan wisata yang cukup diperhitungkan. Keadaan tersebut

(8)

membuat kota Bogor harus memiliki sebuah sistem informasi pariwisata yang memadai. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kenyamanan, kemudahan dan keamanan bagi wisatawan pendatang, baik itu wisatawan domestik maupun mancanegara.

Mengacu kepada kondisi umum kepariwisataan yang ada pada awal bab ini, menyimpulkan bahwa kota Bogor memiliki banyak aset yang merupakan objek wisata menarik. Dari pernyataan tersebut maka didata jumlah marka grafis yang berkaitan dengan kegiatan pariwisata yang ada di kota Bogor berdasarkan kawasan wisata yang ada. Dari data yang berhasil dihimpun, kondisi eksisting pariwisata dapat diamati dari kondisi marka grafis pariwisata yang tersebar di dalam kota Bogor dan juga di dalam lokasi objek wisata ada pada tabel di bawah ini.

Selain dari marka grafis, sistem informasi pariwisata kota Bogor juga terdiri dari website kota Bogor di www.kotabogor.ac.id dan buku panduan wisata. Kedua media tersebut dapat digunakan sebagai bahan informasi untuk berwisata di kota Bogor. Selain media cetak, pemberian informasi pariwisata juga didukung dengan adanya TIC (Tourist Information Centre) yang berfungsi sebagai kantor pusat informasi pariwisata kota Bogor. Namun masih terdapat banyak kekurangan dalam buku panduan yang ada, yaitu desain tidak menarik dan informasi yang ada tidak lengkap.

III.2.1 Pengelompokkan Marka Grafis di Kota Bogor Berdasarkan Fungsi A. Directional Sign

Dengan data jumlah objek wisata potensial yang telah diketahui, kota Bogor tidak memiliki jumlah marka grafis yang sebanding. Berikut adalah sebagian dari

(9)

B. Identifying Sign

Pada umumnya objek wisata di kota Bogor memiliki identifying sign yang tidak menarik. Pada beberapa lokasi objek wisata, bentuk identifying sign menyerupai papan nama sebuah instansi pemerintah sehingga terlihat kurang atraktif bagi pengunjung. Namun pada lokasi wisata tertentu, seperti Kebun Raya Bogor, marka grafis secara keseluruhan sudah didesain dengan baik. Berikut gambaran umum

(10)

C. Informational Sign

Informational sign merupakan salah satu marka grafis penting dalam kegiatan

pariwisata di kota Bogor. Namun pada kenyataannya kota Bogor tidak memiliki

informational sign dalam kuantitas yang memadai. Dari informational sign yang

sudah dimiliki sekarang kualitasnya sudah baik. Informasi yang disediakan lengkap, jelas, universal dan disajikan dengan atraktif.

(11)

D. Restrictive Sign

Di dalam kota Bogor, restrictive sign belum menjadi marka grafis yang umum dijumpai. Jumlahnya sangat sedikit dan hanya terdapat di lokasi objek wisata Kebun Raya Bogor.

(12)

III.2.2 Hasil Analisis terhadap Marka Grafis Pariwisata dalam Kelompok berdasarkan Fungsi

Tabel di halaman berikut adalah hasil analisis terhadap beberapa contoh marka grafis pariwisata yang ada di kota Bogor. Alasan pemilihan beberapa contoh tersebut dilandasi oleh faktor fungsi, lokasi penempatan, jenis wisata yang diinformasikan dan bentuk fisik. Contoh-contoh tersebut merupakan gambaran umum kondisi marka grafis yang berkaitan dalam kegiatan pariwisata di kota Bogor.

Marka grafis merupakan salah satu alat penting dalam kegiatan berwisata. Menurut survey yang dilakukan penulis kepada 65 responden wisatawan di kota Bogor, mengemukakan bahwa 32,3% wisatawan memanfaatkan marka grafis sebagai alat pemandu dalam kegiatan wisata. Namun dari kondisi di lapangan, 62,9% wisatawan menganggap bahwa marka grafis untuk kegiatan pariwisata yang ada sekarang kurang memenuhi kebutuhan yang seharusnya. Untuk memperbaiki kekurangan yang ada pada kondisi marka grafis pariwisata setempat, 10,6% dari 65 responden mengatakan bahwa diperlukan perbaikan pada lokasi penempatan yang lebih strategis dan kuantitas marka grafis diperbanyak, 32,3 % mengatakan bahwa perlunya perbaikan fisik secara menyeluruh baik dari bentuk fisik dan semua faktor yang terkait dengannya, sedangkan 56,9 % mengatakan bahwa diperlukan penyediaan informasi yang lebih lengkap pada marka grafis (khususnya informational sign).

Dalam salah satu fungsi kota Bogor tertera bahwa Bogor merupakan kota tujuan wisata ilmiah, diantaranya adalah museum-museum, balai-balai penelitian ilmiah dan Kebun Raya Bogor. Hal tersebut diperkuat dengan 41,5% responden setuju dengan pendapat tersebut. Namun dari analisis dapat dilihat bahwa marka grafis yang ada di kota Bogor belum menecrminkan citra Bogor sebagai kota wisata ilmiah. Masing-masing bagian dari sistem marka grafis tersebut tidak mempunyai konsistensi bentuk dan desain.

Berikut adalah analisis marka grafis yang berkaitan dengan kegiatan pariwisata di kota Bogor berdasarkan 4 fungsinya yaitu directional, identifying,

(13)

III.3 Analisis Kritis terhadap Kondisi Marka Grafis Pariwisata

Dari hasil analisis terhadap beberapa contoh marka grafis yang berkaitan dengan kegiatan pariwisata di beberapa wilayah kawasan wisata kota Bogor, terdapat kesimpulan akan minimnya ketersediaan sarana informasi yang mendukung kegiatan pariwisata, khususnya kegiatan pariwisata yang dikelola oleh pemerintah daerah setempat. Dari keadaan di lapangan, sarana informasi banyak didominasi oleh pihak swasta yang menginformasikan tempatnya. Obyek wisata yang dikelola swasta umumnya adalah wisata kuliner dan wisata belanja.

Hasil analisis terhadap marka grafis yang berhubungan dengan kegiatan pariwisata yang dikelola dan diadakan oleh pihak pemerintah, dibagi berdasarkan empat kategori sebagai berikut :

a. Directional Sign

Dari hasil pengamatan terhadap directional sign yang berhubungan dengan kegiatan pariwisata di kota Bogor, terdapat kesimpulan bahwa directional sign yang ada umumnya belum berfungsi secara maksimal. Untuk directional sign yang ada di jalan raya, umumnya jika dikaitkan dengan indikator/komponen pengamatan, yang sesuai hanya manfaatnya sebagai alat penunjuk arah. Namun berdasarkan unsur estetis dan desain baik dari segi fisik, psikologis maupun lingkungan, hal-hal tersebut belum dapat dipenuhi secara total. Kekurangan umumnya terdapat pada komponen fisik marka grafis itu sendiri. Banyaknya kekurangan dalam komponen tipografi, misalnya penggunaan jenis huruf yang kurang tepat maupun jarak antar huruf yang terlalu dekat sehingga menyebabkan informasi yang ada tidak dapat diidentifikasi dengan baik.

Selain dari segi fisik, kekurangan juga banyak terdapat pada lokasi penempatan yang kurang tepat. Tidak adanya pengulangan directional sign menyebabkan informasi mengenai arah baru dapat diketahui setelah pengunjung dekat dengan lokasi tujuan. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah penempatan

directional sign yang dapat terlihat jelas oleh pengguna jalan tanpa harus terhalangi

dengan gangguan dari faktor lingkungan. Selain dari beberapa komponen yang telah disebutkan, unsur desain juga merupakan hal yang harus diperhatikan. Dari sekian banyak marka grafis directional yang ada, tidak memiliki desain yang menarik dan menggambarkan citra dari kota Bogor itu sendiri.

(14)

b. Identifying Sign

Dari hasil pengamatan terhadap identifying sign yang terdapat di beberapa lokasi wisata dalam daerah penelitian, umumnya identifying sign tersebut tidak mempunyai desain yang mencerminkan sebuah lokasi wisata yang menarik. Hampir 80% obyek wisata utama yang dikelola resmi oleh pemerintah kota Bogor dan instansi terkait adalah obyek wisata ilmiah. Dari sekian banyak obyek wisata tersebut, umumnya desain pada identifying sign tidak menarik perhatian pengunjung karena memiliki desain yang kaku dan nampak seperti instansi pemerintah bukan seperti sebuah obyek wisata. Sebuah identifying sign yang terletak dalam lokasi sebuah tempat wisata seharusnya memiliki citra dari tempat wisata itu sendiri. Namun kenyataan di lapangan, dari sekian banyak identifying sign, tidak menggambarkan citra dari lokasi wisata yang diidentifikasi oleh marka grafis tersebut. Umumnya hanya memberikan informasi nama dan alamat lokasi.

Dalam faktor penempatan juga mengalami beberapa gangguan, misalnya ketinggian yang kurang sehingga sebagian dari identifying tertutup pagar lokasi obyek wisata. Hal tersebut menyebabkan kesulitan pengidentifikasian bagi pengamatan wisatawan. Dengan tidak adanya pencitraan oleh marka grafis tersebut, ditambah dengan faktor lokasi penempatan yang kurang baik, maka pada akhirnya identifying

sign tersebut tidak dapat berfungsi dengan maksimal.

c. Informational Sign

Jumlah informational sign di kota Bogor masih sangat sedikit dan tidak sebanding dengan luas wilayah yang dijangkau. Dengan luas kota dan pembagian 9 lokasi kawasan wisata seharusnya kota Bogor memiliki informational sign yang lebih banyak. Informational sign tersebut dapat berupa pedestrian map yang dapat memberikan informasi mengenai peta dan informasi mengenai pariwisata kota secara lebih jelas dan lengkap.

Dari hasil pengamatan, kota Bogor saat ini hanya memiliki 2 pedestrian map dan salah satunya memiliki banyak kekurangan sehingga tidak bisa digunakan dengan baik. Pedestrian map yang terletak di Taman Topi sudah berfungsi dengan baik. Penampilannya pun cukup menarik sehingga dapat mendukung fungsinya sebagai salah satu marka grafis pariwisata kota Bogor. Namun pedestrian map atau peta pariwisata yang terletak di kawasan Pajajaran sama sekali tidak dapat dimanfaatkan

(15)

grafis teresbut tidak dapata dimanfaatkan. Penempatannya yang terlalu tinggi dan pada lokasi yang lebih tinggi dibandingkan jalur pedestrian membuat peta pariwistaa tersebut susah diidentifikasi dengan baik.

Wujud informational sign lainnya adalah papan informasi rute trayek angkot yang melewati halte tersebut. Informasi yang terdapat pada papan informasi teresbut cukup jelas dan bermanfaat. Secara fisik mempunyai ketinggian dan dimensi yang sesuai dengan pengamat. Namun kekurangannya adalah logo sponsor yang terlalu besar dan medominasi serta papan informasi belum mencerminkan citra kota Bogor.

d. Restrictive Sign

Sepertinya di kota Bogor restrictive sign belum menjadi marka grafis yang umum. Tanda larangan untuk tidak membuang sampah sembarangan tidak terlihat di tempat umum. Hanya di Kebun Raya Bogor yang memiliki marka grafis larangan yang jelas. Restrictive sign tidak harus berisi larangan, nemun juga dapat memberikan informasi tegas mengenai kegunaan jalur maupun tanda khusus menjelaskan informasi tertentu lainnya.

III.4 Kesimpulan Sementara

Dari hasil pengamatan pada keadaan di lapangan dan wawancara terhadap wisatawan baik lokal maupun mancanegara, teridentifikasi beberapa hal yang perlu diperhatikan pada marka grafis yang ada pada sistem informasi pariwisata di kota Bogor. Secara umum dapat diambil kesimpulan dari keadaan yang ada sebagai berikut:

a. Dari hasil pengamatan terhadap berbagai marka grafis pariwisata di kota Bogor, dapat diidentifikasi bahwa antara satu marka grafis dengan lainnya tidak memiliki konsistensi dalam bentuk dan desain. Umumnya masing-masing marka grafis tersebut memiliki desain individual yang tidak memiliki patokan desain dan kurang terencana dengan baik. Kecuali untuk daerah Kebun Raya Bogor, marka grafis yang ada sudah cukup terencana dengan baik. Mengacu pada teori yang dikemukakan dalam www.graphicsystems.net bahwa terdapat 4 unsur untuk menciptakan wayfinding yang baik dalam sebuah lokasi. Keempat hal tersebut adalah arrival points, floor numbering, destination names dan sign placement. Dalam daerah penelitian, dapat terlihat bahwa unsur-unsur tersebut belum

(16)

seluruhnya diterapkan dengan maksimal. Masing-masing marka grafis yang tersedia umumnya tidak mampu memenuhi keempat unsur tersebut.

b. Arrival points merupakan alat penanda utama yang wajib diketahui oleh wisatawan sesaat setelah sampai ke daerah wisata tujuan. Umumnya dari beberapa pintu masuk ke kota Bogor tidak memiliki arrival points yang jelas. Hal tersebut menyulitkan wisatawan untuk mengidentifikasi lokasi dimana ia sedang berada, sehingga kemudian akan menimbulkan masalah baru yaitu kesulitan untuk berpindah posisi dari lokasi satu ke lokasi lainnya. Dimana akhirnya akan menyulitkan kegiatan berwisata bagi wisatawan. Dari peta pada lampiran tergambar dengan jelas area pintu masuk kota Bogor dari 6 arah. Pada area tersebut seharusnya kota Bogor memiliki arrival points yang jelas dan didukung dengan keberadaan directional serta informational sign.

c. Dalam penelitian ini, terdeteksi bahwa tipografi juga merupakan salah satu masalah penghambat pengidentifikasian marka grafis yang ada. Dari pengamatan terhadap marka grafis pariwisata di kota Bogor, umumnya fungsi dari marka grafis tersebut tidak didukung dengan penggunaan tipografi yang sesuai. Pada kenyataannya banyak dari marka grafis memiliki tipografi yang terlalu kecil dengan jarak antar huruf yang terlalu dekat. Hal tersebut tidak sesuai dengan teori tipografi yang telah dikemukakan.

d. Kuantitas dari masing-masing marka grafis tersebut sangat minim sehingga fungsinya kurang terasa mendukung kegiatan pariwisata di daerah setempat. Tidak semua tempat lokasi wisata yang tercantum pada citymap kota Bogor tidak memiliki marka grafis petunjuk arah menuju lokasi yang dimaksud. Seperti yang dikemukakan dalam sumber Technical Memorandum 4. Proposed Regional

Wayfinding Signage Program bahwa jarak normal untuk penempatan alat

penanda, khususnya directional sign, adalah pada periode 1 mil atau sekitar 1,6 km di dalam kota. Dengan perkecualian menempatkan penambahan pada persimpangan-persimpangan yang memerlukan informasi pengarahan jalan. e. Banyak dari marka grafis yang ada tidak dapat diidentifikasi dengan baik karena

terdapat beberapa kekurangan. Kekurangan tersebut banyak dari faktor fisik marka grafis itu sendiri serta faktor lingkungan sekitar lokasi penempatan marka grafis tersebut. Dari faktor lingkungan adalah masih kurang diperhatikannya lingkungan lokasi penempatan marka grafis. Lingkungan yang terlalu ramai akan

(17)

pengidentifikasian marka grafis yang ada. Di kota Bogor, hal demikian masih banyak terjadi. Penempatan marka grafis pariwisata kurang diperhatikan sehingga mengakibatkan marka grafis tersebut tenggelam diantara banyaknya papan reklame swasta yang tersebar.

Gambar

Tabel III.1 Data jumlah kunjungan wisatawan ke kota Bogor Tahun 2002-2006

Referensi

Dokumen terkait

Musibah yang terjadi belakangan ini baik yang disebabkan oleh alam ataupun faktor manusia atau sabotase nampaknya telah memacu perlunya pemikiran-pemikiran yang lebih nyata

Pengaturan ini akan tetap berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu 1 (satu) tahun berikutnya dengan persetujuan tertulis dari Para Pihak (Pasal X,

“PEMBICARAAN TINGKAT I TAHAP KEDUA (PENYAMPAIAN PEMANDANGAN UMUM DEWAN) ATAS RAPERDA TENTANG PERTANGGUNGJAWABAN PELAKSANAAN APBD KABUPATEN GROBOGAN TAHUN ANGGARAN 2020”

Berdasarkan hasil rekam medis yang telah dilakukan di RSUD Deli Serdang Lubuk Pakam tahun 2005-2009 dikumpulkan dan diolah, maka didapat data yang disajikan dalam bentuk

Berdasarkan pemaparan di atas, tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui perbedaan hasil belajar membaca bahasa Inggris antara kelompok siswa yang

Mengenai hal ini, Alkitab mencatat bahwa “langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada

Sitem produksi atau teknologi apapun yang dipakai, pekerjaan konstruksi pada dasarnya tetap memerlukan lebih banyak tenaga kerja. Pekerja yang lebih banyak menggunakan

Guru mengawasi siswa dalam bekerja secara berkelompok dengan cara berkeliling dan memberikan bantuan seperlunya pada kelompok yang mendapat kesulitan dalam kegiatan