Isu Strategis Ketahanan dan Kedaulatan Pangan di Indonesia sebagai
Bentuk Implementasi Teori Malthus
Oleh: Risa Andini 3613100505
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Jumlah Penduduk di Indonesia yang terus meningkat setiap tahunnya dapat menimbulkan masalah strategis bagi kelangsungan hidup rakyat Indonesia. Masalah yang dapat ditimbulkan oleh pertambahan pertumbuhan penduduk ini antara lain seperti masalah kesejahteraan hidup, pemerataan lapangan pekerjaan, dan ketahanan dan kedaulatan pangan. Masalah ini tidak hanya berdampak pada rakyat Indonesia secara langsung, tetapi juga dengan tidak langsung seperti halnya eksistensi Indonesia di mancanegara, seperti kegiatan ekspor dan impor. Tidak hanya rakyat Indonesia yang akan merasakan masalah ini, tetapi begitu juga halnya dengan pemerintah. Pemerintah akan merasa kesulitan jika masalah ini ke depannya akan terus berlanjut.
Salah satu isu atau masalah strategis dampak dari pertumbuhan penduduk yang pesat, yang cukup fatal bagi kesejahteraan rakyat Indonesia adalah masalah ketahanan dan kedaulatan pangan. Ketahanan pangan merupakan cerminan seberapa jauh Indonesia dapat mempertahankan kondisi pangan yang baik bagi rakyatnya, bagaimana rakyatnya akan terus mendapatkan asupan bahan makanan. Kedaulatan pangan merupakan seberapa mandiri Indonesia dalam menghasilkan, mengolah, dan mendistribusikan makanan untuk rakyatnya. Kedua hal ini saling terkait, tidak dapat dipisahkan. Keterkaitan dua masalah ini tentu juga mempunyai kaitan juga dengan masalah pembangunan dan pemerataan kesejahteraan Indoneia. Masalah ini tidak hanya memengaruhi, namun juga dipegaruhi oleh berbagai kegiatan pembangunan.
bagaimana Malthus mengemukakan bahwa manusia butuh makan serta kebutuhan tersebut tidak dapat ditahan atau dicegah. Hal tersebut tentu saja mengarah pada hal bahwa semakin banyak jumlah penduduk, maka makin banyak makanan yang dibutuhkan. Dengan banyaknya penduduk pula, maka mau tidak mau harus diiringi pembangunan sarana dan prasarana secara besaran. Namun pembangunan sarana dan prasarana yang besar-besaran itu malah mengurangi lahan produktif dalam hal produksi makanan.
Ketahanan dan kedaulatan pangan tidak lepas dari adanya kebutuhan akan lahan produktif sebagai sarana pertanian. Lahan produktif menjadi suatu media untuk petani untuk menghasilkan bahan-bahan mentah untuk pangan. Secara pokok, lahan produktif untuk pertanian adalah sebagai awal mula pembangun ketahanan dan kedaulatan pangan karena ketahanan dan kedaulatan pangan berawal dari kegiatan produksi. Dalam halnya pembangunan dan pemerataan kesejahteraan Indonesia, pada jangka waktu beberapa tahun terakhir ini banyak sekali diadakan konversi lahan pertanian produktif. Konversi lahan produktif ini dianggap merugikan bagi ketahanan dan kedaulatan pangan.
Konversi lahan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang setiap tahunnya semakin banyak. Dilakukannya konversi lahan salah satunya untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan perumahan dan permukiman. Pertumbuhan penduduk yang pesat membutuhkan banyak lahan permukiman sebagai pemenuhan kesejahteraan, sehingga banyak terjadinya konversi lahan pertanian produktif. Lahan-lahan basah atau lahan-lahan gambut yang berpotensi untuk dijadikan lahan produktif banyak yang dikonversi menjadi lahan permukiman. Padahal, dalam pembangunan perumahan dan permukiman, di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah sudah ditetapkan kawasan-kawasan mana saja yang sesuai untuk dibangun perumahan dan permukiman ini, tentunya lahan-lahan yang tidak sesuai untuk kegiatan pertanian, misalnya lahan kering. Hal yang menyalahi aturan ini pada akhirnya juga menjadi salah satu hal yang menjadi faktor kemunduran dalam hal ketahanan dan kedaulatan pangan.
Dilihat dari hal-hal tersebut, maka perlu adanya kebijakan mengenai konversi lahan produktif. Pemerintah harus tegas dalam mengimplementasikan apa yang telah direncanakan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah baik dalam skala kota atau kabupaten, provinsi, maupun Nasional. Pemerintah perlu sebisa mungkin meminimalkan adanya alih fungsi lahan. Alih fungsi lahan ini terkait adanya konversi lahan yang mengubah lahan produktif pertanian menjadi lahan perumahan dan permukiman serta infrastruktur lainnya jika di suatu wilayah lahan produktif pertanian masih dianggap defisit. Hal ini dapat menjadi salah satu langkah perubahan dalam kemajuan di bidang ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia.
Tidak hanya mengenai alih fungsi lahan, pemerintah juga perlu melakukan pengembangan yang tepat untuk lahan pasang surut. Hal ini terkait bagaimana pemerintah mengelola lahan pasang surut dengan tepat. Hal ini jika dilaksanakan dengan baik diharapkan lahan pasang surut dapat bersungsi secara optimal. Urgensi dari hal ini adalah mengingat bahwa lahan di Indonesia semakin berkurang di kala jumlah penduduk semakin banyak. Hal ini juga menjadi salah satu faktor yang dapat menjadi langkah maju dalam pemerataan kesejahteraan dalam ketahanan dan kedaulatan pangan.