• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PENCANTUMAN LABEL HALAL TERHADA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH PENCANTUMAN LABEL HALAL TERHADA"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

JUDUL : PENGARUH PENCANTUMAN LABEL HALAL TERHADAP PERILAKU PEMBELIAN PRODUK BAHAN PANGAN OLEH MASYARAKAT MUSLIM

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Dalam islam umat muslim diwajibkan mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal, karena setiap makanan dan minuman yang kita konsumsi akan mendarah daging dalam tubuh dan menjadi sumber energi yang penting

untuk kehidupan. Ketidakinginan masyarakat muslim untuk mengonsumsi produk-produk haram akan meningkatkan kejelian dalam proses pemilihan

produk.

Kehalalan sebagai parameter utama dalam proses pemilihan produk. Ketentuan ini membuat keterbatasan pada produk-produk makanan dan

minuman untuk memasuki pasar umat muslim. Memastikan makanan dan minuman yang dikonsumsi halal menjadi tanggung jawab bagi setiap

muslim.untuk mempermudah memngetahui makanan dan minuman yang dikonsumsi halal, maka dapat dilihat dari label halal yang tercantum pada kemasan minuman tersebut. Label pada produk pangan hal yang sangat penting

untuk diperhatikan.

Label halal adalah pemberian tanda halal atau bukti tertulis sebagai

jaminan produk yang halal dengan tulisan Halal dalam huruf Arab, huruf latin dan nomor kode dari Menteri yang dikeluarkan atas dasar pemeriksaan halal dari lembaga pemeriksa halal yang dibentuk oleh MUI, fatwa halal dari MUI,

(2)

adalah halal di konsumsi serta di gunakan oleh masyarakat sesuai dengan ketentuan syari’ah. Label halal mempunyai tujuan untuk memenuhi tuntutan

pasar (konsumen) secara umum.

Produk makanan dan minuman yang memiliki kualitas terbaik dan

mampu membuat konsumen percaya selain itu rasa aman saat mengkonsumsinya menjadi pertimbangan bagi konsumen dalam membeli produk. Seperti yang banyak diketahui saat ini banyak sekali para pedagang curang yang

mencampurkan bahan-bahan yang tidak halal bahkan tidak layak untuk dikonsumsi, tetapi demi meraih keuntungan yang besar produk yang tidak halal

bahkan tidak layak untuk dikonsumsi tersebut tetap saja diproduksi dan disebar luaskan di masyarakat. Hal ini memicu kekhawatiran sebagian masyarakat khususnya umat muslim untuk mengkonsumsi berbagai makanan dan minuman

yang beredar dipasaran saat ini.

Konsumen Islam cenderung memilih produk yang telah dinyatakan halal

dibandingkan dengan produk yang belum dinyatakan halal oleh lembaga berwenang (Sumarwan, 2012).

Seperti yang diterangkan oleh Sandi, Marsudi, dan Rahmawanto (2011) keterangan tentang halal pada produk yang dijual terutama di Indonesia mempunyai arti yang sangat penting dan dimaksudkan untuk melindungi

masyarakat yang beragama Islam agar terhindar dari melakukan pengkonsumsian pangan yang tidak halal (haram).

(3)

dapat dilihat dari label halal yang tercantum pada kemasan makanan ataupun minuman tersebut.

Label adalah suatu alat penyampai informasi tentang produk yang tercantum pada kemasan. Selain memberikan informasi mengenai nama produk,

label juga memberikan informasi daftar bahan yang terkandung dalam produk, berat bersih, daya tahan, nilai ataupun kegunaan produk serta keterangan tentang halal. Labelisasi atau labeling yang dimaksud dalam penulisan ini adalah proses

pencantuman label halal atas makanan dalam kemasan yang dilakukan oleh lembaga yang berwenang (Departemen Kesehatan, dalam hal ini ditangani oleh

Balai Pengawasan Obat dan Makanan (Balai POM)).

Sebagaimana Menurut Ferrinadewi (2012), salah satu cara pemasar membedakan produknya dengan pesaing adalah dengan menyediakan atribut

produk yang unik, oleh karena itu penting bagi pemasar untuk mengetahui sejauh manakah atribut produknya mampu menghantarkan kebutuhan psikologi yang

diharapkan konsumen.

Dari sisi produsen sertifikat halal mempunyai peran antara lain;

1) Sebagai pertanggungjawaban produsen kepada konsumen muslim, mengingat masalah halal merupakan bagian dari prinsip hidup muslim,

2) Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan konsumen, 3) Meningkatkan citra dan daya saing perusahaan, dan

(4)

KEPMENAG RI No. 518 Tahun 2013 Tentang pemeriksaan dan Penerapan Pangan halal adalah: “ tidak mengandung unsur atau

bahan haram atau dilarang untuk dikonsumsi umat Islam, dan pengolahannya tidak bertentangan dengan syariat Islam.”

Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh informasi yang lebih jelas serta disertai bukti ilmiah menganai bagaimana pengaruh label halal dan harga terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap suatu produk tertentu, perlu dilakukan

penelitian ilmiah. Untuk itu, akan dilakukan penelitian dengan menjadikan masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti sebagai studied Population, karena Masyarakat

Kabupaten Kepulauan Meranti dapat memahami dan mempertimbangkan tentang hukum yang berlaku mengenai labelissi halal dan pengaruh harga produk tersebut. Atas dasar latar belakang tersebut maka penelitian akan melakukan penelitian dengan judul

“PENGARUH PENCANTUMAN LABEL HALAL TERHADAP PERILAKU

PEMBELIAN BAHAN PANGAN OLEH MASYARAKAT MUSLIM”.

B. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian yang ada dapat kita tarik beberapa permasalahan yang terjadi, Antara lain:

1. Bagaimana tanggapan responde tentang pencantuman label halal di setiap produk bahan pangan ?

2. Bagaimana tanggapan responde tentang daya tarik dari pencantuman

(5)

3. Seberapa besar pengaruh pencantuman label halal terhadap daya tarik dan minat beli secara parsial maupun simultan?

C. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:

1. Untuk mengetahui tanggapan responden tentang pencantuman label halal disetiap Produk Pangan.

2. Untuk mengetahui tanggapan responden tentang daya tarik

terhadap label halal disetiap bahan Pangan.

3. Untuk mengetahui besarnya pengaruh pencantuman label halal

terhadap daya tarik dan minat beli konsumen di setiap Produk Pangan.

4. Untuk mengetahui persepsi dan korelasi label halal terhadap

keputusan pembelian kosumen pada setiap bahan pangan Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah :

1. Penulis

Diharapkan dapat menambah wawasan dan pengalaman penulis

tentang persepsi konsumen terhadap kriteria makanan dan minuman halal serta sertifikat halalnya.

2. Bagi masyarakat umum

Penulisan skripsi ini juga bertujuan untuk menambah wawasan kepada masyarakat luas bahwa dalam menghadapi masalah

(6)

yang ada jaminan kehalalannya agar bukan saja mematuhi aturan agama tetapi juga tidak resah terhadap apa yang dikonsumsi.

3. Akademis

Dengan penelitian ini penulis mengharapkan dapat berguna untuk

mengangkat kepermukaan tentang pentingnya sertifikat halal pada jaman global ini. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat pula bagi seluruh akademis khusunya sebagai bahan informasi dan

bahan penelitian tentang persepsi, makanan halal, dan sertifikat halal.

D. SISTEMATIKA PENULISAN BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini akan membahas mengenai latar belakang masalah,

perumusan masalah, tujuan, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : TELAAH PUSTAKA

Bab ini membahas tentang konsep teoritis, kerangka pemikiran,

hipotesis dan Variabel penelitian. BAB III : METODE PENELITIAN

Bab ini akan membahas tentang lokasi penelitian, jenis dan

sumber data, Operasional Variabel, Populasi dan Sampel, metode pengumpulan data dan analisa data.

(7)

Bab ini membahas tentang sejarah singkat tempat penelitian, struktur organisasi dan aktivitas dan tempat penelitian.

BAB V : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini akan membahas tentang hasil penelitian yang telah

dilakukan.

BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini menguraikan tentang kesimpulan dan saran untuk

penelitian sebagai langkah yang dapat diambil untuk kedepannya.

E. TELAAH PUSTAKA

Labelisasi atau labeling yang dimaksud dalam penulisan ini adalah proses pencantuman label halal atas makanan dan minuman dalam kemasan yang

dilakukan oleh lembaga yang berwenang (Departemen Kesehatan, dalam hal ini ditangani oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan (Balai POM)).

“Hadirnya Undang-Undang No. 7 Tahun 2012 tentang Pangan

mempunyai fungsi penting dalam tata pengaturan pangan di Indonesia,

diantaranya: Pertama, memberikan landasan hukum atau legalitas bagi pengelolan kebijakan pangan itu sendiri secara umum. Kedua, melegalisasi hak-hak dan kewajiban pihak-hak yang berkepentingan dalam penyediaan pangan, salah satunya konsumen”. (Thobieb Al-Asyhar, Bahaya Makanan Haram, Al-Mawardi

Prima, Jakarta, 2014, hal.153). Sehingga pada akhirnya kepentingan konsumen

(8)

Keberadaan Undang-Undang tentang Pangan ini dilengkapi dengan kehadiran Undang-Undang No. 8 Tahun 2014 tentang Perlindungan Konsumen, Pasal 4 (a) disebutkan: “hak konsumen adalah hak atas kenyamanan, keamanan,

dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa.

Pasal ini menunjukkan, bahwa setiap konsumen, termasuk konsumen muslim yang merupakan mayoritas konsumen di Indonesia, berhak untuk mendapatkan barang yang nyaman dikonsumsi olehnya. Salah satu pengertian

nyaman bagi konsumen muslim adalah bahwa barang tersebut tidak bertentangan dengan kaidah agamanya, alias halal.

Ketentuan dalam Islam telah menjelaskan bahwa masalah halal dan haram, termasuk dalam hal makanan tidak terbatas pada masalah regulasi semata, melainkan terkait dengan hubungan transendental antara hamba dengan

Tuhannya. Apabila seorang muslim memakan makanan yang diharamkan oleh syara’, maka perilaku tersebut dapat mengganggu tali silaturahim-nya dengan

Allah.

Kehalalan suatu produk makanan sangat begitu penting, oleh karena itu

regulasi maupun lembaga yang mengatur tentang masalah tersebut harus dilaksanakan secara konsekuen, agar regulasi dan lembaga tersebut diharapkan mampu memberi kenyamanan kepada konsumen, khususnya yang beragama

Islam, agar tidak ada keraguan mengenai kehalalan produk makanan yang dikonsumsinya.

(9)

suatu produk disamping diberi merek, kemasan juga harus diberi label. Menurut Gitosudarno (2012;1990) label halal adalah bagian dari sebuah produk

yang berupa keterangan/penjelasan mengenai barang tersebut atau penjualnya. Label merupakan suatu bagian dari sebuah produk yang membawa informasi

verbal tentang produk atau tentang penjualannya.

Angipora (2013,154) mengatakan bahwa label pada dasarnya dapat merupakan bagian dari sebuah kemasan (pembungkus) atau dapat merupakan

etikat lapas yang ditempelkan pada produk. Dengan demikian, sudah sewajarnya kalau antara kemasan, merek dan label dapat terjalin satu hubungan yang erat

sekali.

Menurut Stanton dan William (2013:282) label adalah bagian sebuah produk yang membawa informasi verbal tentang produk atau tentang penjualnya.

Sebuah label bisa merupakan bagian dari kemasan atau pula etiket (tanda pengenal) yang dicantumkan pada produk

Gitosudarmo (2012;199) dalam bukunya menjalaskan bahwa ada beberapa hal terkait dengan label, seperti fungsi label dan beberapa macam label.

Berkut penjelasannya: Fungsi label, yaitu :

a. Label mengidentifikasi produk atau merek.

Contoh : nama Bintang menggolongkan produk b. Label berfungsi menggolongkan produk.

(10)

membuat, dimana dibuat, kapan dibuat, apa isinya, bagaimana cara menggunakan dengan aman.

c. Sebagai alat promosi

Label dapat dibedakan tiga macam yaitu:

a) Brand Label (Label Merek)

Brand Label adalah label yang semata – mata sebagai Brand (merek)

Contoh : pada tepi kain tertera tulisan TETERON, TETREX b) Grade Label (Label Mutu)

Grade Label adalah label yang menunjukkan tingkatan mutu (kualitas) tertentu dari suatu produk. Contoh : pada oli kendaraan dengan brand name MESRAN ada yang memakai tambahan kata

SUPER. Tambahan kata SUPER disini adalah grade label. Jadi super menunjukkan tingkatan mutu.

c) Descriptive Label / Imformative Label (Label Deskriptif)

Descriptive Label adalah label yang menggambarkan tentang cara

penggunaan, formula atau kandungan isi, pemeliharaan, hasil kerja, dari suatu produk dan sebagainya.

2.1.2. Pengertian halal

Menurut LPPOM MUI (lembaga Pengkajian pangan, obat, dan, kosmetik

(11)

Syarat kehalalan produk tersebut meliputi :

a. Tidak mengandung babi dan bahan – bahan yang berasal dari

babi

b. Tidak mengandung bahan – bahan yang diharamkn seperti, bahan

yang berasal dari organ manusia, darah , dan kotoran – kotoran c. Semua bahan yang berassal dari hewan yang disembelih dengan

syariat islam

d. Semua tempat penyimpanan tempat penjualan pengolahan dan tranpotasinya tidak boleh digunakan untuk babi; jika pernah

digunakan untuk babi atau barang yang tidak halal lainnya terlebih dahulu debersihkan dengan tata cara yang diatur menurut syariat.

2.1.3. Pengertian Labelisasi Halal

Label adalah bagian dari sebuah produk yang berupa

keterangan/penjelasan mengenai barang tersebut atau penjualnya (Gitosudarmo,2012:199). Sedangkan yang dimaksud dengan produk halal

menurut LPPOM MUI (lembaga Pengkajian pangan, obat , dan Kosmetik Majlis Ulama Indonesia), adalah produk yang memenuhi syarat kehalalan sesuai syari’at islam. Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa

labelisasi halal adalah pencantuman keterangan/penjelasan halal pada kemasan sebuah produk yang memenuhi syarat kehalalan sesuai dengan syariat islam.

(12)

atau pernyataan halal pada kemasan produk untuk menunjukkan bahwa produk yang dimaksud berstatus sebagai produk halal. Label halal sebuah produk dapat

dicantumkan pada sebuah kemasan apabila produk tersebut telah mendapatkan sertifikat halal oleh BPPOM MUI.

Sertifikasi dan Labelisasi halal bertujuan untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan terhadap konsumen, serta meningkatkan pendapatan Nasional. Tiga sasaran utama yang ingin dicapai adalah:

a. Menguntungkan konsumen dengan memberikan perlindungan dan kepastian hukum

b. Menguntungkan produsen dengan peningkatan daya saing dan omset produksi dalam penjualan.

c. Menguntungkan pemerintah dengan mendapatkan tambahan pemasukan

terhadap kas Negara

Indikator labelisasi halal menurut Mahwiyah (2012:48) ada tiga, yaitu pengetahuan, kepercayaan, dan penilaian terhadap labelisai halal. Berikut ini

adalah arti dari masing – masing indikator diatas berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan Wikipedia:

1. Pengetahuan, merupakan informasi atau maklumat yang diketahui atau

disadari oleh seseorang. Pengetahuan adalah informasi yang telah dikombinasikan dengan pemahaman dan potensi untuk menindaki ; yang

(13)

2. Kepercayaan, merupakan suatu keadaan psikologis pada saat seseorang menganggap suatu premis benar. Atau dapat juga berarti anggapan atau

keyakinan bahwa sesuatu yang dipercayai itu benar atau nyata.

3. Penilaian terhadap labelisasi halal, merupakan proses, cara, perbuatan

menilai, pemberian nilai yang diberikan terhadap labelisasi halal.

2.1.4 Proses Labelisasi Halal

ada beberapa proses yang harus dilalui oleh para pemasar yang ingin mendapatkan keterangan halal untuk produk yang diproduksinya. Tetapi sebelum

mendapatkan keterangan halal. Sebuah produk yang diproduksi oleh sebuah perusahaan harus terlebih dahulu memperoleh sertifikat halal dari lembaga pengkajian pangan Obat – Obatan dan Kosmetik Majlis Ulama Indonesia tau

sering disebut dengan LPPOM MUI.

Untuk memperoleh sertifkat halal, maka LPPOM MUI memberikan

ketentuan bagi perusahaan, seperti yang terdapat pada situs (www.riau1.kemenag.go.id).

Ketentuan aadalah sebagi berikut :

a. Sebelum produsen mengajukan sertifikat halal terlebih dahulu harus mempersiapkan Sistem Jaminan Halal. Penjelasan rinci tentang Sistem

(14)

b. Berkewajiban mengangkat secara resmi seorang atau tim Auditor Halal Internal (AHI) yang bertanggung jawab dalam menjamin pelaksanaan

produksi halal

c. Berkewajiban menandatangani kesedian untuk diinspeksi secara

mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya oleh LPPOM MUI.

d. Nenbuat laporan berkala setiap 6 bulan tentang pelaksanaan Sistem Jaminan Halal.

Setelah semua ketentuan diatas telah dipenuhi, maka produsen dapat

lanjut ke proses produser yang harus dijalani adalah sebagai berikut :

a. Pertama – tama produsen yang menginginkan permohonan sertifikat halal mendaftarkan ke secretariat LPPOM MUI

b. Setiap produsen yang mengajukan permohonan sertifikat halal bagi produknya, harus mengisi borang yang telah disediakan. Borang tersebut

berisi informasi tentang data perusahaan, jenis dan nama produk serta bahan – bahan yang digunakan.

c. Borang yang sudah diisi beserta dokumen pendukungnya dikembalikan ke secretariat LPPOM MUI untuk diperiksa kelengkapannya, dan bila belum memadai perusahaan harus melengkapi sesuai dengan ketentuan.

d. LPPOM MUI akan memberitahukan perusahaan mengenai jadwal audit. Tim Auditor LPPOM MUI akan melakukan pemeriksaan/audit kelokasi

(15)

e. Hasil pemeriksaan/audit dan hasil labolatorium (bila diperlukan) dievaluasi dalam rapat Auditor LPPOM MUI. Hasil audit yang belum

memenuhi persyaratan diberitahukan kepada perusahaan melalui audit memorandum. Jika telah memenuhi persyaratan. Auditor akan membuat

laporan hasil audit guna diajukan pada sidang komisi fatwa MUI untuk diputuskan status kehalalannya.

f. Laporan hasil audit disampaikan oleh pengurus LPPOM MUI dalam

sidang Komisi Fatwa Mui pada waktu yang telah ditentukan.

g. Sidang komisi Fatwa Mui dapat menolak laporan hasil audit jika

dianggap belum memenuhi semua persyaratan yang telah ditentukan, dan hasilnya akan disampaikan kepada produsen pemohon sertifikasi halal. h. Sertifikasi halal dikeluarkan oleh Majlis Ulama Indonesia setelah

ditetapkan status kehalalannya oleh Komisi Fatwa MUI.

i. Sertifikat halal berlaku selama 2 (dua) tahun sejak tanggal penetapan

fatwa

j. Tiga bulan sebelum berlaku sertifikat halal berakhir, produsen harus

mengujukan perpanjangan sertifikat halal sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan LPPOM MUI.

Kemudian dilakukan tata cara pemeriksaan (Audit) mulai dari manajmen, bahan – bahan baku, dll. Pemeriksaan (Audit) produk halal mencakup :

(16)

b. Pemeriksaan dokumen – dokumen spesifikasi yang menjelaskan asal – usul bahan, komposisi dan proses pembuatannya dn/atau ssertifikat halal

pendukungnya, dokumen pengadaan dan penyimpanan bahan, formula produksi serta dokumen pelaksanaan produksi halal secara keseluruhan.

c. Observasi lapangan yang mencakup proses produksi secara keseluruhan mulai dari penerimaan bahan, produksi, pengemasan dan penggudangan serta penyajian untuk restoran/Catering/outlet.

d. Keabshan dokumen dan kesesuaian secara fisik untuk setiap bahan harus terpenuhi.

e. Pengambilan contoh dilakukan untuk bahan yang dinilai perlu

Setelah semua proses dilalui dan dinyatakan kehalalannya, maka

sertifikat halal dapat dikeluarkan. Proses selanjutnyaadalah pencantuman tabel halal di kemasan produk yang yang dinyatakan halal. Pencantuman label halal

inilah yang sering kita dengar dengan sebutan labelisasi halal.

Bagi perusahaan yang ingin mendaftarkan sertifikasi Halal ke LPPOM

MUI, baik industri pengolahan (pangan, obat, kosmetik), rumah potong Hewan (RPH), restoran/catering, maupun industry jasa (distributor, warehouse, transporter, retailer ) harus memenuhi persyaratan sertifikasi halal yang tertuang

dalam buku HAS 23000 (Kebijakan, Prosedur, dan Kriteria).

2.2 keputusan Pembelian

(17)

Keputusn pembelian merupakan salah satu bagian dalam tahap-tahap proses pembelian konsumen. Sebelum membahas tahap – tahap tersebut dan untuk memberikan

gmbaran mengenai keputusan pembelian, maka akan dikemukakan terlebih dahulu definisi mengenai keputusan pembelian menurut para ahli.

Schiffman dn kanuk (2012) dalam sumarwan (2012:289) mendefinisikan bahwa suatu keputusan sebagai pemelihan suatu tindakan dari dua atau lebih pilihan alternative. Seorang konsumen yang hendak melakukan pilihan maka ia harus memiliki pilihan

alternative. Artinya bahwa seseorang dalam membuat keputusan, haruslah tersedia beberapa alternative pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah kepada

bagaimana proses dlm pengambilan keputusan tersebut.

Menurut Setiadi (2012:413), pengambilan keputusan konsumen (consumer decision making) adalah suatu proses pengintegrasian yang mengkombinasikan

pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternative dan memilih salah satu dintaranya. Hasil dari proses pengintegrasian ini adalah suatu pilihan (choice) yang

disajikan secara kognitif sebagai keinginan berprilaku.

Dari beberapa definisi yang dijelaskan oleh para ahli di atas, maka dapat

disimpulkan bahwa keputusan pembelian merupakan sebuah proses yang dijalani oleh konsumen untuk melakukan kegiatan pembelian salah satu produk diantara berbagai macam alternatif pilihan yang ada.

(18)

Lamb, et al. (2012:201-202) mengatakan bahwa proses pengambilan keputusan konsumen tidak bisa terjadi dengan sendirinya, sebaliknya malah kebudayaan, sosial,

individu dan psikologis secara kuat mempengaruhi proses keputusan tersebut. Mereka memiliki pengaruh dari waktu konsumen menerima rangsangan melalui perilaku pasca

pembelian. Faktor budaya yang termasuk di dalamnya adalah budaya dan nilai, sub-budaya dan kelas sosial, secara luas mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen. Faktor sosial menunjukkanb interaksi sosial antara konsumen dan mempengaruhi

sekelompok orang, seperti pada referensi kelompok, opini para pemimpin dan para anggota keluarga. Faktor individu termasuk jenis kelamin, umur, keluarga, dan daur

hidup keluarga (family life cycle stage), pribadi, konsep hidup, dan gaya hidup adalah unik pada setiap individu dan memerankan aturan utama pada produk dan jasa yang diinginkan konsumen. Faktor psikologis menentukan bagaimana menerima dan

berinteraksi dengan lingkungannya dan pengaruh pada keputusan yang akan diambil oleh konsumen yang di dalamnya terdiri dari persepsi, motivasi, pembelajaran,

(19)

Gambar 2.1

Faktor yang mempengaruhi Proses Pengambilan Keputusan Konsumen

(20)

Berikut ini adalah penjelasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan konsumen menurut Sunarto (2012:83-96).

a. Faktor Budaya

Budaya, sub-budaya, dan kelas sosial merupakan hal yang sangat penting dalam perilaku pembelian.

- Budaya

Budayamerupakan penentu perilaku yang paling mendasar. Anak- anak mendapatkan kumpulan nilai, persepsi, preferensi, dan perilaku dari

keluarganya serta lembaga-lembaga penting lain.

- Sub-budaya

Masing-masing budaya terdiri dari sub-budaya yang lebih kecil yang lebih memberikan banyak ciri-ciri dan sosialisasi khusus bagi

anggota-anggotanya. Sub-budaya terdiri dari kebangsaan, agama, kelompok ras, dan daerah geografis. Banyak sub-budaya yang membentuk segmen pasar penting, dan pemasar sering merancang produk dan program

pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.

- Kelas Sosial

Sedangkan kelas sosial adalah pembagian masyarakat yang relatif

homogen dan permanen, yang tersusun secara hierarkis dan yang anggotanya menganut nilai-nilai, minat, dan perilaku yang serupa. Kelas sosial berbeda dalam hal busana, cara berbicara, preferensi rekreasi, dan

(21)

b. Faktor Sosial

Selain faktor budaya, perilaku seorang konsumen dipengaruhi oleh faktor-

faktor seperti kelompok acuan, keluarga, serta peran dan status sosial.

- Kelompok acuan

Kelompok acuan seseorang terdiri dari semua kelompok yang

memiliki pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang.

Orang sangat dipengaruhi oleh kelompok acuan mereka sekurang-

kurangnya melalui tiga jalur. Kelompok acuan menghadapkan seseorang pada perilaku dan gaya hidup baru. Kelompok acuan juga mempengaruhi perilaku dan konsep pribadi seseorang. Dan kelompok acuan menciptakan

tekanan untuk mengikuti kebiasaan kelompok yang mungkin mempengaruhi pilihan produk dan merek aktual seseorang.

- Keluarga

Keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat, dan ia telah menjadi obyek penelitian yang luas. Anggota keluarga merupakan kelompok acuan primer yang paling

berpengaruh. Kita dapat membedakan antara dua keluarga dalam kehidupan pembeli. Keluarga orientasi terdiri dari orang tua dan saudara

kandung seseorang. Dari orang tua seseorang mendapatkan orientasi atas.

- Peran dan status

Seseorang berpartisipasi ke dalam banyak kelompok keluarga,

(22)

kelompok dapat ditentukan berdasarakan peran dan status. Peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan dilakukan oleh seseorang. Masing-masing

peran menghasilkan status.

c. Faktor Pribadi

Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi. Karakteristik meliputi usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan, dan lingkungan, gaya hidup, serta kepribadian.

- Usia dan Tahap Siklus Hidup

Orang pembeli barang dan jasa berbeda sepanjang hidupnya. Mereka makan makanan bayi selama tahun-tahun awal hidupnya, banyak

ragam makanan selama tahun-tahun pertumbuhan dan kedewasaan, serta diet khusus selama tahun-tahun berikutnya. Selera orang terhadap pakaian, perabot, dan rekreasi juga berhubungan dengan usia.

Konsumsi juga dibentuk oleh siklus hidup keluarga. Sembilan tahap siklus hidup keluarga, bersama dengan situasi keuangan dan minat produk yang berbeda-beda untuk masing-masing kelompok. Pemasar

sering memilih kelompok-kelompok berdasarkan siklus hidup sebagai pasar sasaran mereka.

- Pekerjaan dan Lingkungan Ekonomi

Pekerjaan seseorang juga mempengaruhi pola konsumsinya.

(23)

perjalanan dengan pesawat udara. Pemasar berusaha mengidentifikasikan kelompok profesi yang memiliki minat di atas rata-rata atas produk dan

jasa mereka. Perusahaan bahkan dapat mengkhususkan produknya untuk kelompok profesi tertentu.

- Gaya Hidup

Orang-orang yang berasal dari sub-budaya, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama dapat memiliki gaya hidup yang berbeda. Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam

aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” yang berinteraksi dengan lingkungannya.

- Kepribadian

Masing-masing orang memiliki kepribadian yang berbeda yang mempengaruhi perilaku pembeliannya. Kepribadian adalah karakteristik psikologis seseorang yang berbeda dengan orang lain yang menyebabkan

tanggapan yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap lingkungannya.

d. Faktor Psikologi

Pilihan pembelian banyak kebutuhan oleh empat faktor psikologi utama- motivasi, persepsi, pembelajaran serta keyakinan dan pendirian.

- Motivasi

(24)

intensitas yang memadai. Motif adalah kebutuhan yang cukup mendorong seseorang untuk bertindak.

Para psikolog telah mengembangkan teori-teori motivasi manusia. Tiga teori yang paling terkenal-teori Sigmund Freud, Abraham Maslow, dan Frederick Herzberg-mempunyai implikasi yang berbeda terhadap

analisis konsumen dan strategis pemasaran.

- Persepsi

Persepsi adalah proses yang digunakan oleh seorang individu untuk

memilih, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi guna menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti.

Kata kunci dalam definisi persepsi adalah individu. Seseorang mungkin menganggap wiraniaga yang berbicara dengan cepat sebagai

seorang yang agresif dan tidak jujur; yang lain mungkin menganggap orang yang sama sebagai seseorang yang pintar dan suka membantu. Orang dapat memiliki persepsi yang berbeda atas obyek yang sama karena

tiga proses persepsi: perhatian selektif, distorsi selektif, dan ingatan selektif.

- Pembelajaran

Saat orang bertindak, mereka bertambah pengetahuannya. Pembelajaran meliputi perubahan perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman.

(25)

perpaduan kerja antara dorongan, rangsangan, petunjuk, tanggapan, dan penguatan.

- Keyakinan dan sikap

Melalui bertindak dan belajar, orang mendapatkan keyakinan dan sikap. Keduanya kemudian mempengaruhi perilaku pembelian mereka.

Keyakinan (belief) adalah gambaran pemikiran yang dianut seseorang tentang suatu hal. Sikap (attitude) adalah evaluasi, perasaan emosional, dan kecenderungan tindakan yang menguntungkan atau tidak

menguntungkan dan bertahan lama dari seseorang terhadap suatu obyek atau gagasan.

2.2.3 Tahap-Tahap Proses Pembelian Konsumen

Kotler dan Keller (2009:184-186) dalam bukunya mengatakan bahwa proses psikologis dasar memainkan peranan penting dalam memahami bagaimana

konsumen benar-benar membuat keputusan pembelian mereka. Periset pemasaran telah mengembangkan “modeltingkat” proses keputusan pembelian (lihat gambar

2.2), konsumen melalui lima tahap : pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan perilaku pasca pembelian. Jelas,

proses pembelian dimulai jauh sebelum pembelian aktual dan mempunyai konsekuensi dalam waktu lama setelahnya.

(26)

menangkap kisaran penuh pertimbangan yang muncul ketika konsumen menghadapi pembelian baru yang memerlukan keterlibatan tinggi.

a. Pengenalan Masalah

Proses pembelian dimulai ketika pembeli menyadari suatu masalah atau kebutuhan yang dipicu oleh rangsangan internal atau eksternal. Dengan

rangsangan internal, salah satu dari kebutuhan normal seseorang naik ke tingkat maksimum dan menjadi dorongan; atau kebutuhan bisa timbul akibat rangsangan eksternal.

b. Pencarian Informasi

Ternyata, konsumen sering mencari jumlah informasi yang terbatas.

Survei memperlihatkan bahwa untuk barang tahan lama, setengah dari semua konsumen hanya melihat satu toko, dan hanya 30% yang melihat lebih dari satu

merek peralatan. Kita dapat membedakan antara dua tingkat keterlibatan dengan pencarian. Keadaan pencarian yang lebih rendah disebut perhatian tajam. Pada tingkat ini seseorang hanya menjadi lebih reseptif terhadap informasi tentang

sebuah produk. Pada tingkat berikutnya, seseorang dapat memasuki pencarian

informasi aktif: mencari bahan bacaan, menelepon teman, melakukan kegiatan online, dan mengunjungi toko untuk mempelajari produk tersebut.

Sumber informasi utama di mana konsumen dibagi menjadi empat kelompok:

(27)

- Komersial: Iklan, situs Web, wiraniaga, penyalur, kemasan, dan tampilan.

- Publik: Media massa, organisasi pemeringkat konsumen.

- Eksperimental: Penanganan, pemeriksaan, dan penggunaan produk. Jumlah dan pengaruh relatif dari sumber-sumber ini bervariasi dengan

kategori produk dan karakteristik pembeli. Secara umum, konsumen menerima informasi terpenting tentang sebuah produk dari komersial. Meskipun demikian, informasi yang paling efektif sering berasal dari sumber pribadi atau sumber

publik yang merupakan otoritas independen.

Setiap sumber informasi melaksanakan fungsi yang berbeda dalam mempengaruhi keputusan pembelian. Sumber komersial biasanya melaksanakan fungsi informasi, sementara sumber pribadi melaksanakan fungsi legitimasi atau

evaluasi.

c. Evaluasi Alternatif

Tidak ada proses tunggal yang digunakan oleh semua konsumen, atau oleh seorang konsumen dalam semua situasi pembelian. Ada beberapa proses, dan

sebagian besar model terbaru melihat konsumen membentuk sebagian besar penilaian secara sadar dan rasional.

Beberapa konsep dasar yang akan membantu kita memahami proses

(28)

masing-masing produk sebagai sekelompok atribut dengan berbagai kemampuan untuk menghantarkan manfaat yang diperlukan untuk memuaskan kebutuhan ini.

d. Keputusan Pembelian

Lamb, et al. (2001:193) mengatakan bahwa sejalan dengan evaluasi atas

sejumlah alternatif-alternatif tadi, maka konsumen dapat memutuskan apakah produk akan dibeli atau diputuskan untuk tidak dibeli sama sekali. Jika konsumen memutuskan untuk melakukan pembelian, maka langkah berikutnya dalam proses

adalah melakukan evaluasi terhadap produk tersebut setelah dibeli.

e. Perilaku Pascapembelian

Kotler dan Keller (2014:190) mengatakan bahwa setelah pembelian, konsumen mungkin mengalami konflik dikarenakan melihat fitur

mengkhawatirkan tertentu atau mendengar hal-hal menyenangkan tentang merek lain dan waspada terhadap informasi yang mendukung keputusannya. Komunikasi pemasaran seharusnya memasok keyakinan dan evaluasi yang memperkuat pilihan konsumen dan membantunya merasa nyaman tentang merek tersebut.

(29)

Gambar 2.2

Model Lima Tahap Proses Pembelian Konsum en

Sumber : Kotler dan Keller (2014:190)

2.2.4 Model Perilaku Pembelian Konsumen

Menurut Simamora (2013:31-33), sebelumnya telah dibahas tentang tahap- tahap proses pembelian konsumen. Pada tahap itu belum menggambarkan

perilaku konsumen secara utuh. Kalau kita bicara sistem input-proses-output, apa yang disajikan pada gambar 2.2 baru proses. Input da output baru tampak dalam

model perilaku konsumen secara utuh.

Banyak model yang dikembangkan oleh para ahli tentang model perilaku konsumen, mulai dari yang paling sederhana sampai lengkap. Dapat dilihat pada

(30)

(black box) untuk proses pengambilan keputusan dan faktor-faktor internal yang mempengaruhinya.

Gambar 2.3

Model Perilaku Pembelian Konsumen

Sumber : Simamora (2013:31-33)

2.2.5 Peran Individu Dalam Keputusan Pembelian

Pada saat yang bersamaan seseorang dapat memerankan beragam peran yang dapat dilakukannya pada suatu proses pembelian.Peran pembelian yang

dapat dilakukan seorang individu dapat terbagi menjadi lima peran.

Sunarto (2014:97) mengatakan bahwa kita dapat membedakan lima peran

yang dimainkan orang dalam keputusan pembelian :

a. Pencetus: Seseorang yang pertama kali mengusulkan gagasan untuk

membeli suatu produk atau jasa.

(31)

c. Pengambil keputusan: Seseorang yang mengambil keputusan untuk setiap komponen keputusan pembelian-apakah membeli, tidak membeli,

bagaimana membeli, dan di mana akan membeli.

d. Pembeli: Orang yang melakukan pembelian yang sesungguhnya.

e. Pemakai: Seseorang yang mengkonsumsi atau menggunakan produk atau

jasa.

Amir (2013:67) dalam bukunya mendiskusikan peran-peran yang dimainkan individu dalam proses pembelian yaitu seperti inisiator, pemberi

pengaruh, pengambil keputusan, pembeli, atau pengguna.

Peran inisiator terjadi ketika orang mencetuskan keinginan untuk membeli sebuah barang. Sementara itu, pemberi pengaruh mendorong seseorang untuk segera membeli atau tidak membeli sebuah barang. Anggota keluarga, seperti

kakak, orang tua, dapat menjadi pemberi pengaruh yang kuat untuk kebutuhan seorang mahasiswa. Pengambil keputusan biasanya banyak diambil oleh orang

yang sedang “punya kuasa”. Misalnya, seorang anak (sebagai inisiator) bisa merayu ibunya (untuk bertindak sebagai influencer) agar sang ayah memutuskan membelikannya sebuah alat musikyang ia idam-idamkan.

2.3 Pengaruh Labelisasi Halal terhadap Keputusan Pembelian

(32)

dan barang gunaan lain, atau yang sering disebut produk halal yang beredar di Indonesia.

Di Indonesia pemerintah membuat suatu kebijakan untuk melindungi para konsumennya yaitu melalui suatu lembaga khusus yaitu LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia).

Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia atau yang disingkat LPPOM MUI adalah lembaga yang bertugas untuk

meneliti, mengkaji, menganalisa dan memutuskan apakah produk-produk baik pangan dan turunannya, obat-obatan dan kosmetika apakah aman dikonsumsi baik

dari sisi kesehatan dan dari sisi agama Islam yakni halal atau boleh dan baik untuk dikonsumsi bagi umat Muslim khususnya di wilayah Indonesia, selain itu memberikan rekomendasi, merumuskan ketentuan dan bimbingan kepada

masyarakat (www.wikipedia.org).

Menurut Rangkuti (2014:8), labelisasi halal adalah pencantuman tulisan atau pernyataan halal pada kemasan produk untuk menunjukkan bahwa produk yang dimaksud berstatus sebagai produk halal. Produk tersebut harus sesuai

syariat Islam.

Menurut LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat, dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia), yang dimaksud dengan produk halal adalah produk

yang memenuhi syarat kehalalan sesuai syari’at islam (www.wikipedia.org).

Syarat kehalalan produk tersebut meliputi:

(33)

b. Tidak mengandung bahan-bahan yang diharamkan seperti; bahan yang berasal dari organ manusia, darah, dan kotoran-kotoran.

c. Semua bahan yang berasal dari hewan yang disembelih dengan syariat Islam.

d. Semua tempat penyimpanan tempat penjualan pengolahan dan

transportasinya tidak boleh digunakan untuk babi; jika pernah digunakan untuk babi atau barang yang tidak halal lainnya terlebih dahulu dibersihkan dengan tata cara yang diatur menurut syariat.

Schiffman dan Kanuk (2012) dalam Sumarwan (2014:289) mendefinisikan bahwa suatu keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif. Seorang konsumen yang hendak melakukan pilihan maka ia harus memiliki pilihan alternatif. Artinya bahwa seseorang dalam membuat

keputusan, haruslah tersedia beberapa alternatif pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah kepada bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut.

Dengan adanya label halal yang tercantum pada kemasan produk, maka secara langsung akan memberikan pengaruh bagi konsumen untuk menggunakan produk tersebut. Munculnya rasa aman dan nyaman dalam mengkonsumsi produk

(34)

Berdasarkan uraian tersebut, maka dibuat kerangka teori sebagai berikut :

Gambar 2.4 Kerangka Teori

Labelisasi Halal (X) Keputusan Pembelian

(Y)

Sumber :

Rangkuti (2014:8) dan Sumarwan (2014:289)

F. PENELITIAN TERDAHULU

Ada beberapa penelitian terdahulu yang telah melakukan penelitian

berhubungan dengan labelisasi halal dan keputusan pembelian. Beberapa penelitian terdahulu yang memiliki hubungan dengan penelitian ini adalah

sebagai berikut :

1. Zuliana Rofiqoh (2012), merupakan mahasiswa dari Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang dengan skripsi yangberjudul “Pengaruh

Labelisasi Halal Terhadap Keputusan Konsumen Membeli Produk Mie Instant Indofood (Studi Kasus Pada Mahasiswa Jurusan Muamalah Dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Semester VIII IAIN Walisongo Semarang). Dari

hasil penelitian ini menunjukkan bahwa labelisasi halal berpengaruh positif terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk mie instan

(35)

diperoleh nilai sebesar 0,240, ini artinya bahwa variasi perubahan variabel keputusan konsumen (Y) dipengaruhi oleh perubahan variabel bebas labelisasi halal (X) sebesar 24%. Sedangkan

sisanya 76% dipengaruhi oleh faktorlain diluar penelitian ini.

2. Ramadhan Rangkuti (2013), merupakan mahasiswa dari Universitas Sumatera Utara dengan skripsi yang berjudul “Pengaruh Labelisasi

Halal terhadap Keputusan Pembelian Produk Makanan dalam Kemasan (snack merek Chitato) Pada Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhamadiyah Sumatera Utara”. Dari hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa labelisasi halal berpengaruh signifikan dengan nilai signifikan

0,000 akan tetapi memiliki kontribusi yang kecil karena

menghasilkan nilai R square 0,221 atau 22,1 %.

3. Mahwiyah (2012), merupakan mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dengan skripsi yang berjudul “Pengaruh Labelisasi Halal Terhadap Keputusan Pembelian

Konsumen (Studi Pada Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta)”.Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa labelisasi halal

berpengaruh secara signifikan sebesar

(36)

antara labelisasi halal terhadap keputusan pembelian konsumen.

G. HIPOTESIS

Hipotesis adalah dugaan sementara atau jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian yang diperoleh dari teori atau preposisi yang di

gunakan oleh peneliti. Berdasarkan latar belakang masalah serta kerangka pemikiran yang telah disampaikan diatas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :

1. Hipotesis kerja (Ha), label halal berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan membeli konsumen di daerah Kabupaten

kepulauan meranti, melalui Merk, kemasan dan harga

2. Hepotesis Nol(H0), lbel halal tidak berpeengaruh secara

signifikan terhadap keputusan membeli Konsumen di daerah kabupaten kepulauan meranti, melalui Merk, kemasan dan harga.

H. VARIABEL PENELITIAN

Variable penelitian ini terdiri dari dua variable independen (bebas) dan satu variable dependen (terikat). Variable yang digunakan pada penelitian ini adalah Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel

(37)

Likert, dengan skor 1-5. Dimana semakin tinggi angka skor menunjukkan semakin yakin konsumen tentang kehalalan produk. Sedangkan, variabel

minat beli memiliki indikator yaitu: Perhatian, Kepercayaan, Minat, Tindakan. Di ukur dengan Skala Likert, dengan skor 1-5. Dimana semakin tinggi angka

skor menunjukkan semakin yakin konsumen untuk melakukan keputusan pembelian.

I. KERANGKA FIKIR PENILITIAN

Penelitian ini mengawali kerangka berfikir dari kebutuhan makhluk

hidup yang paling dasar dalam menjaga keberlangsungan hidupnya, yaitu kebutuhan pangan. Perubahan pola hidup masyarakat yang semakin modern,

manusia semakin sibuk dengan pekerjaannya. Masyarakat dituntut selalu cepat dalam beraktifitas sehingga cenderung memilih hal yang praktis. Produk pangan kemasan dapat menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi

kebutuhan pangan masyarakat karena produk pangan kemasan dapat langsung dikonsumsi dan mudah dalam memasaknya. Oleh karena itu produk pangan

kemasan harus senantiasa tersedia, aman, bergizi, dan beragam dengan harga yang terjangkau oleh daya beli masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Salah satu yang menjadi acuan penting lainnya adalah terjaminnya kehalalan

(38)

oleh LPPOM MUI menjadi satu-satunya indikator bahwa suatu produk pangan tersebut halal dan baik dikonsumsi untuk masyarakat Muslim. Namun,

baru 34.502 produk kemasan yang telah bersertifikat halal dari 276.573 produk yang beredar di Indonesia. Ibu rumah tangga memiliki peran penting

dalam penyedia makanan dan pengambilan keputusan konsumsi pangan dalam keluarga. Menurut Sajogyo (2012) menyatakan bahwa istri lebih mengetahui kebutuhan pokok dalam rumah tangga dibanding suami, sehingga

istri akan mendapatkan kepercayaan dari suaminya dalam membuat keputusan untuk membelanjakan semua kebutuhan pokok yang dibutuhkan sehari-hari.

Konsumen berhak memilih pangan yang baik untuk dikonsumsi. Dalam penelitian ini akan dilihat pengaruh dari kepatuhan halal, pengetahuan halal,

halal awareness, motivasi, pendapatan rumah tangga, dan pengeluaran

konsumsi sebagai faktor independen terhadap preferensi konsumen (memilih atau tidak memilih produk pangan kemasan berlabel halal MUI) sebagai

(39)
(40)

J. METODE PENELITIAN 1. Lokasi penelitian

Lokasi penelitian merupakan tempat dimana penelitian dilakukan. Penelitian ini dilakukan pada Masyarakat Kabupaten Kepulauan

Meranti di Kota Selatpanjang Riau. 2. Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan data primer sebagai data utama

dan data sekunder sebagai data pendukung. Pengumpulan data primer diperoleh melalui pengisian kuesioner yang diajukan kepada

responden yaitu Masyarakat Muslim Kota Selatpanjang. Kuesioner dibagikan kepada Masyarkat di Kota Selatpanjang yang beragama

Islam dengan cara disebar secara langsung melalui wawancara maupun dalam jaringan (online) menggunakan email dan aplikasi kuesioner online. Data sekunder didapatkan dari literatur-literatur yang

relevan seperti skripsi, jurnal, buku, dan dari instansi seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Undang-Undang Republik Indonesia, dan

Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta sumber lainnya yang dapat membantu ketersediaan data untuk menunjang penulisan skripsi.

3. Populasi dan Sampel

(41)

karena jumlah populasi tidak diketahui maka pengambilan jumlah sampel dilakukan dengan menggunakan rumus (Supramono, 2012:62):

Dimana :

n = Jumlah Sampel

Zα = Nilai standard normal yang besarnya tergantung α

Bila α = 0,05 Z = 1,96

Bila α = 0,01 Z = 1,67

p = estimasi proporsi populasi q = 1-p

d = penyimpangan yang ditolerir.

Peneliti memperoleh n (jumlah sampel) yang besar dan nilai p belum diketahui maka dapat digunakan p = 0.5.

4. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode

survei yang dilakukan dengan cara menyebar kuesioner dan wawancara kepada ibu rumah tangga Muslim di Kota Selatpanjang Riau. Metode yang digunakan untuk pengambilan sample dalam

penelitian ini adalah non-probability dengan teknik purposive

(42)

2013). Pertimbangan tersebut adalah Masyarakat yang beragama Islam, mengetahui label halal MUI, dan domisili di Kota Selatpanjang.

Jumlah sample dalam penelitian ini adalah 90 responden Masyarakat Muslim yang tersebar di Kota Selatpanjang. Jumlah ini sudah

mewakili populasi karena Masyarkat Muslim kota Selatpanjang memiliki keragaman populasi yang tinggi, konsumen sudah teregulasi dengan peraturan yang sama, dan sudah sesuai dengan teori

pengambilan sample. Berdasarkan teori Gay et al (2012) yang menyatakan bahwa untuk studi korelasi, setidaknya dibutuhkan 30

responden yang diperlukan untuk menentukan ada atau tidaknya suatu hubungan.

5. Defenisi Oprasional Variabel

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel dependen pencantuman label halal dan variabel independen minat beli.

Variabel Pencantuman Label Halal memiliki indikator, yaitu: Proses pembuatan, Bahan baku utama, Bahan pembantu, Efek. Diukur dengan

Skala Likert, dengan skor 1-5. Dimana semakin tinggi angka skor menunjukkan semakin yakin konsumen tentang kehalalan produk. Sedangkan, variabel minat beli memiliki indikator yaitu: Perhatian,

(43)

6. Analisa Data

Data hasil wawancara diolah dan dianalisis. Metode analisis

data menggunakan analisis deskriptif dan regresi logistik. Analisis desktiptif digunakan untuk menganalisis karakteristik responden.

Regresi logistik digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan perangkat lunak

(44)

DAFTAR PUSTAKA

Abadi T. 2011. Tim Pengkajian Hukum tentang Peran Serta Masyarakat dalam

Pemberian Informasi Produk Halal. Jakarta (ID): Kemenhum dan HAM.

Agustian, EH, Sujana. 2013. Pengaruh Labelisasi Halal terhadap Keputusan

Pembelian Konsumen (Studi Kasus pada Produk Wall’s Conello). Jurnal

Ilmiah Manajemen Kesatuan, Vol. 1. No 2, 2013. [Jurnal]. Bogor (ID): STEI

Kesatuan.

Apriyantono A. 2005. Pengaruh perkembangan teknologi pangan dalam menentukan status kehalalan produk pangan. Jakarta (ID): Makalah Seminar Good

Manufacturing.

Arrezia N. 2015. Pengaruh Sertifikat Halal Terhadap Peningkatan Penjualan UMKM Jasa Boga Kota Bogor [Skripsi] . Bogor (ID): Institut Pertanian

(45)

Asriwandari H, Sari NA. 2011. Peran Wanita dalam Pengambilan Keputusan dalam

Keluarga (Studi Tentang Wanita Bekerja pada Sekretariat Daerah provinsi

Riau) [Jurnal]. Riau (ID)

Fajrin E. 2016. Tingkat Pemahaman Konsumen Ibu Rumah Tangga terhadap Daging

Sapi yang Halal dan Thayyib di Kota Bogor [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Fatkhurohma. 2015. Pengaruh Pemahaman Label Halal dan Faktor Sosial Terhadap

Niat Membeli Produk Makanan Kemasan Berlabel Halal (Studi Pada Santri Mahasiswa Pondok Pesantren Al Barokah) [Skripsi]. Yogyakarta (ID):

Universitas Negeri Yogyakarta.

Firdaus M, Harmini, Farid MA.2013. Aplikasi Metode Kuantitatif untuk Manajemen

dan Bisnis. Bogor (ID): IPB Press.

Gay LR, Milis GE, Airasian P. 2013. Educational Research Competencies for Analysis and Aplications 8th Edition. New Jersey (US): Prentice Hall.

Ghozali I. 2013. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS Edisi 3. Semarang (ID): Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Girindra A. 2013. Menjamin Kehalalan dengan Label Halal. Perspektif Food Review Indonesia. 1(9):12-13.

Hancar, Talha, John ES, Kucukemiroglu O. 2005. Amulti-National Study of Family

Gambar

Gambar  2.1 Faktor yang mempengaruhi Proses Pengambilan Keputusan
Gambar 2.2 Model Lima Tahap Proses Pembelian
Gambar 2.3 Model Perilaku Pembelian Kon
Gambar 2.4 Kerangka Teori
+2

Referensi

Dokumen terkait

pencantuman label halal, ditegaskan dalam Pasal 38 dan Pasal 39 UU JPH yang menyebutkan bahwa pelaku usaha yang telah memperoleh sertifikat halal wajib mencantumkan label halal

Tujuan penelitian ini adalah : 1) Untuk mengetahui pengaruh label halal dan harga secara simultan terhadap keputusan pembelian. 2) Untuk mengetahui pengaruh label halal

Hipotesis dalam penelitian ini, dengan judul Pengaruh Label Halal, Citra Merek, Dan Harga Terhadap Keputusan Pembelian kosmetik wardah pada mahasiswi manajemen

Simpulan Dari penjabaran penelitian tentang Pengaruh Label Halal, Kualitas Produk,Harga,dan Promosi Terhadap Keputusan Pembelian Produk Makanan Impor dalam Kemasan Studi pada

Penulis, yaitu memberikan informasi mengenai pengaruh label halal, kualitas produk dan harga terhadap keputusan pembelian pada toko Bread Boy Bakery & Cake

Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh informasi yang lebih jelas disertai bukti ilmiah mengenai bagaimana Pengaruh Tingkat Pemahaman Dosen UNISKA MAB Terhadap

Label Halal Label Halal adalah pemberian tanda halal atau bukti tertulis sebagai jaminan produk yang halal dengan tulisan Halal dalam huruf Arab, huruf lain dan moto dari Menteri yang

Pencantuman Label Halal dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan konsumen Konsumen berasal dan alih bahasa dari kata Consumer inggris- Amerika, secara harafiah