MENGEVALUASI PILKADA
MERUMUSKAN KEMENANGAN DENGAN CARA BARU
Makalah ini menawarkan evaluasi terhadap Pemilihan Kepala Daerah(Pilkada) yang berlangsung di negeri ini. Namun, sebelum membicarakan Pilkada itusendiri, perlu diingatkan arah pembicaraan bisa kesana-kemari kalau misi evaluasi itusendiri tidak ditegaskan dari awal.
3
Secara harfiah, evaluasi adalah perbandinganantara apa yang dirancang (dikehendaki) dengan yang senyatanya laksanakan.Evaluasi tidak banyak berarti sekiranya rancangan itu sendiri dibangun di atas asumsiatau pijakan yang salah. Jadi, kalaulah kita merujuk kembali misi yang ditetapkan,misi itu sendiri masih bisa dipersoalkan. Oleh karena itu, yang diperlukan adalah lesson drawing
: menarik pelajaran dari pengalaman.Yang kita evaluasi (Pilkada) adalah sistem yang keharusnya mengikat diri kitasemua. Dalam mengevaluasi hal seperti ini, seyogyanya kita memerankan diri sebagai‘orang dalam’, bukan hanya sebagai stake holders dengan enaknya menuntut ini danitu. Evaluasi kita perlukan agar dapat secara cerdas berkontribusi dalam memperbaikikeadaan, dengan kerelaan mengakui kealphaan yang sempat terjadi. Kalaulah acuandari evaluasi terhadap Pilkada harus dikembalikan kepada misi diselenggarakannya. Pilkada itu sendiri, kitalah yang semestinya memastikan misi itu terjadi. Dengan begitu kita dapat mendudukan persoalan secara tepat atau propossional, mengambil pelajaran dari kesalahan dan kesalahfahaman di masa lalu, dan dalam dinamika yangterjadi, meniti masa depan secara lebih cerdas
Purwo Santoso 16
Kapasitas diseminasi dan transformasi nilai ini mensyaratkan adanyakapasitas untuk memproduksi dan mereproduksi wacana yang kuat dari AMPImaupun GOLKAR. Untuk itu perlu dikembangkan suatu think tank di internal AMPI.Think tank ini tidak harus menjadi organ tersendiri, di mana hanya orang-orang
di internalAMPI maupun GOLKAR, dan mengelola pengetahuan yang dihasilkan dari perdebatan tersebut sebagai potensial input untuk pembuatan kebijakan.Ketika kesadaran sebagai demos sudah terdiseminasi dan terlembaga dalam perilaku keseharian publik, perdebatan tentang model pilkada seperti apa yang
lebihmenjamin terpilihnya kepala daerah yang representatif menjadi lebih
substantif dantidak lagi berkutat di kisaran prosedur. Ini untuk menjaga agar kita tidak lagi terjebak dalam kesalahan wrong-mixture sebagaimana ditunjukkan oleh hasil refleksi atas pengalaman Indonesia mempraktekkan dua model tersebut. Karena jika yang ingindicapai adalah tata pemerintahan yang demokratis, yang dibutuhkan adalahtransformasi yang lebih subtantif, yaitu transformasi tata nilai dan perilaku yangmenstruktur cara berpikir dan berperilaku dari publik yang hendak berdemokrasitersebut.Demikianlah evaluasi terhadap dua model pilkada yang saya tuangkan dalammakalah ini. Saya harap, pemikiran yang ada di sini bermanfaat bagi terwujudnyacita-cita kita bersama akan Indonesia yang lebih adil dan demokratis dan AMPI sertaGOLKAR mampu memainkan peran yang krusial dan positif didalamnya.
D. KESIMPULAN
Evaluasi yang diselenggarakan dalam telaah ini menunjukkan bahwa kitatelah menyerahan nasib publik ditangan para ahli yang menguasai peraturan perundang-undangan. Agenda reformasi, termasuk didalamnya agenda
electoral reform atau
electoral engeenering
kita biarkan menjadi praktikum ilmiah para ahli.kondisi yang diidealkan para ahli tidak kunjung terwujud karena kita, secara diam-diam, ternyata sanggup
menggagalkanya dengan tidak memenuhi kualifikasi yang,seharusnya dipersyaratkan oleh para reformer atupun
engeener . Para pakar
electoral engeenering
sepertinya berbaiksangka, bahwa kita dapat mengidentifikasi kesalahan-kesalahan yang kira perbuat manakala aturan main berkompetisi menjala kepaladaerah mereka ubah, lalu dikukuhkan oleh para wakil rakyat. Tapi nyatanya, selamaini kita tidak melakukannya. Apakah kita harus minta kepada
electoral engeeners dan
electoral reformers
untuk membenturkan kita pada kesalahan lama secara berulang-ulang ? Tidak !
17
Apapun model pemilihan kepala daerah yang diberlakukan, stock
pemimpinyang berkualitas harus diperbaiki dan diperbanyak. Yang jelas, praktek demokrasiyang mensyaratkan kompetisi diantara para kandidat akan membentuk elitisme, yangtidak lain adalah cacat bawaan demokrasi liberal.
10
Elitlah yang pada gilirannyamemanfaatkan demokrasi secara lebih maksimal. Sehubungan dengan santernyawacana untuk mengembalikan pemilihan gubernur ke model lama, model pemilihantidak langsung, hal ini dapat dibaca sebagai upaya untuk menekan biasa pemenangan,namun sama sekali tidak menjamin terwujudnya demokrasi lokal.Agar peluang elite untuk mencurangi massa bisa ditekan,
maka pengembangan demos adalah keniscayaan. Tanpa itu, demokrasi akan menjadiformalisme untuk penyembunyian dominasi elit. Ini adalah amanat yang harusdiemban oleh organisasi politik dan kemasyarakatan, tidak terkecuali AMPI. Hal initidak harus memnjadi beban sepihak kalau AMPI dan organisasi sejenis sanggupmemperlakukannya sebagai peluang untuk menang sambil memperbaiki demokrasikita.Selamat berjuang. Selamat merebut kemenangan dengan cara baru !
10
Thomas R. Dye, Harmon Ziegler, Late;
The Irony of Democracy: AnUncommon Introduction to American Politics , Wadsworth Cengage
BIBLIOGRAPHY
Erb, Maribeth dan Priyambudi Sulistiyanto, 2009,
Deepening Democracy in Indonesia? Direct Elections for Local Leader (PILKADA)