Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

KERAJINAN KESET DARI KAIN PERCA DI DESA CERME

KABUPATEN GRESIK

Kautsar Riza Salman Bayu Sarjono Mochammad Farid kautsar@perbanas.ac.id bayu@perbanas.ac.id farid@perbanas.ac.id

STIE Perbanas Surabaya

ABSTRACT

Community groups of poor households (RTM) doormat craft located in the district area is a cerme region.Cerme of lowland that the majority people work as factory workers (45 %), farmers (25 %) and wholesalers (10 %) . Doormat craftsman is one of the main groups communities of poor households are run by residents in the village of Lor Cerme . The majority of the rural communities in the field of craft are operating within a doormat fraction and other businesses in the fields of food and mini shop. Small doormat craftsmen in the village utilizing unused patchwork into a product that has a higher economic value is the product doormat. Doormat products from Cerme Lor village still has a great potential for growth if properly managed . This is evidenced by Citi awarded Microentrepreneurship Award (CMA) in 2009 organized by the Faculty of Economics, University of Indonesia. This community service activity took place from May to December 2013. Partners of the community service program is the craftsmen of patchwork doormat located in Cerme village Gresik . The main problem the partner facing is dealing with aspects of marketing, production and bookkeeping . Doormat selling price relatively low and the lack of proper media campaign to introduce this product to outsiders. Doormat products still have a simple design. In addition, there is a lack of books in the calculation of the cost of production. By understanding the partner`s problems, the solutions offered from this activity is 1. Improvements in the Production Process, 2. Use of the Right Media Marketing, and 3. Simple bookkeeping in the form of Production Calculation Cost. The target outcome is 1.Anti - Slip Doormat products, 2.Online Marketing website (www.kesetgresik.com) , and 3.Simple Financial Statement.

Keywords : Citi Microentrepreneurship Award , Craft Doormat , Anti- Slip Doormat , Online Marketing Website

1.

PENDAHULUAN

Kelompok masyarakat rumah tangga miskin (RTM) kerajinan keset berlokasi di wilayah kecamatan cerme. Cerme merupakan wilayah dataran rendah yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai buruh pabrik (45%), petani (25%) dan pedagang (10%). Pengrajin keset merupakan salah satu kelompok masyarakat rumah tangga miskin yang dijalankan oleh penduduk di Desa Cerme Lor. Mayoritas kelompok masyarakat di desa tersebut menjalankan usaha dalam bidang kerajinan keset dan sebagian kecil lainnya menjalankan usaha di bidang makanan (seperti makanan ringan, warung rujak, nasi bungkus, dan lain-lain) dan toko pracangan. Pengrajin keset di desa ini memanfaatkan kain perca yang tidak terpakai menjadi suatu produk yang mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi yaitu produk keset.

Selama ini dalam menjalankan usaha kerajinan keset, pengrajin usaha keset mempunyai kelemahan dengan modal yang terbatas dan tidak mempunyai akses ke dunia perbankan. Apabila membutuhkan modal kerja, pengrajin usaha keset dapat mengajukan pinjaman ke Lembaga Keuangan Mikro Masyarakat (LKMM) Latansa dengan tingkat bunga yang rendah. Namun karena LKMM La Tansa juga mempunyai keterbatasan dari sisi permodalan maka pinjaman yang diterima oleh pengrajin juga sangat kecil dan tidak mencukupi untuk melakukan pengembangan usaha. Kelemahan modal yang terbatas tersebut merupakan salah satu faktor penghambat dalam pengembangan usaha kerajinan keset ini.

Di samping permodalan, masalah lemahnya sumber daya manusia (SDM) dari usaha ini menjadi faktor penghambat untuk berkembang secara optimal. Mayoritas pengrajin usaha keset adalah berpendidikan formal rendah dan ketrampilan yang masih terbatas. Keterbatasan SDM ini mengakibatkan pengrajin tidak mampu mengembangkan usaha secara baik dan ketidakmampuan dalam mengadopsi teknologi informasi.

Selama ini, pengrajin memanfaatkan kain perca hanya untuk memproduksi produk kerajinan berupa keset. Kain perca merupakan kain sisa dari industri garmen atau sisa pabrik konveksi yang tidak terpakai lagi. Produk keset dari Desa Cerme Lor masih mempunyai potensi yang besar untuk berkembang apabila dikelola secara baik. Hal ini

(2)

dibuktikan dengan mendapat penghargaan Citi Microentrepreneurship Award (CMA) pada tahun 2009 yang diselenggarakan oleh FE UI. Berikut ini contoh jenis dan ukuran keset dari Desa Cerme.

Sebenarnya apabila pengrajin mempunyai kreatifitas untuk melakukan inovasi produk, produk perlengkapan rumah tangga yang lain bisa dihasilkan dari bahan baku kain perca diantaranya meliputi selimut, bed cover, hiasan dinding, karpet kecil, taplak meja, gorden, sprei, sarung bantal, sarung guling, sajadah dan lain-lain. Hal ini merupakan salah satu kelemahan dari pengrajin yaitu kurangnya kreatifitas dari pengrajin untuk mengolah produk lain dari bahan baku kain perca. Masalah kurangnya kreatifitas dialami baik oleh Ibu Sri Miyarti maupun Ibu Patikah, dua pengrajin keset dari desa Cerme Lor.

Ibu Sri Miyarti selama ini memperoleh bahan baku dari kain perca dari luar wilayah Jawa Timur yaitu dari Solo dan Semarang. Dalam setiap proses produksi sangat dibutuhkan adanya kontinuitas pasokan bahan baku. Dalam praktiknya di lapangan, bahan baku seringkali datang terlambat dan memerlukan ongkos transportasi yang mahal. Hal ini mengakibatkan seringkali pengrajin tidak mampu menghasilkan produk keset secara periodik. Hal ini juga dialami oleh Ibu Patikah yang memperoleh bahan baku dari luar Jawa Timur, bahkan lebih jauh yaitu dari Bandung. Hal yang sangat dibutuhkan adalah kontinuitas pasokan bahan baku. Ongkos transportasi yang mahal akan mengakibatkan keuntungan yang diterima oleh Ibu Sri Miyarti dan Ibu Patikah menjadi lebih kecil karena tidak mungkin untuk mengalokasikan ke harga jual karena menjadi produknya lebih mahal dan merugikan pembeli.

Kelemahan lainnya dari pasokan bahan baku adalah pada kualitas kain perca yang diperoleh tidak menentu kualitasnya, kadang diperoleh kain perca yang kualitasnya bagus tapi sering juga diperoleh kain perca yang kualitasnya jelek. Biasanya pengrajin keset membeli bahan baku kain perca tiap 3 minggu sampai 1 bulan sebanyak 6 ton kain perca dengan harga Rp1.000,- per kg sehingga total biaya pembelian adalah sebesar Rp6.000.000,- belum termasuk ongkos kirim.

Proses produksi yang dilakukan oleh pengrajin kerajinan keset masih bersifat tradisional. Dalam melakukan proses produksi keset, pengrajin menggunakan peralatan dan bahan diantaranya meliputi mesin jahit, gunting, jarum, dan benang. Seringkali pengrajin tidak mampu memenuhi pesanan dari pembeli yang menginginkan produk keset disebabkan karena keterbatasan jumlah mesin jahit dan model mesin jahitnya masih tradisional sehingga mempengaruhi jumlah unit keset yang dihasilkan.

Langkah-langkah dalam pembuatan keset dari kain perca berdasarkan hasil wawancara dengan para pengrajin adalah:

a) Memilah kain perca

Kain perca yang baru diterima dari supplier dan yang akan diproduksi dipilih sesuai dengan warna dan motif yang sama.

b) Memotong kain perca

Kain perca yang sudah dipilih selanjutnya dipotong menjadi potongan-potongan kain yang lebih kecil. c) Melipat kain perca dan merangkai

Kain perca yang sudah dipotong selanjutnya dilipat dan dirangkai menjadi bentuk lipata dan bentuk biasa segitiga. Untuk tahapan memilah kain perca sampai dengan merangkai kain perca menjadi suatu rangkaian sepanjang 1 meter dilakukan oleh satu orang pekerja dengan ongkos upah Rp500,- per 1 meter rangkaian. Biasanya pekerjaan untuk tahapan ini dilakukan oleh orang yang telah berusia lanjut. Rata-rata dalam sehari mereka dapat merangkai 6 – 8 meter, sehingga dalam sehari upah mereka antara Rp3.000,- sampai dengan Rp4.000,-. Mereka bekerja mulai pagi sampai dengan sore atau malam hari.

(3)

Bahan dasar keset berasal dari bekas spanduk yang tidak terpakai yang terbuat dari kain. Rata-rata satu spanduk dapat digunakan untuk 10 (sepuluh) alas/bahan dasar keset.

e) Menjemur kain perca

Kain perca yang sudah dicelup di kain kanji selanjutnya dijemur. Tujuan bekas spanduk dicelupkan ke dalam kain kanji dan dijemur adalah untuk memperoleh kain yang lebih kaku sebagai bahan dasar keset.

f) Membentuk bahan dasar sesuai dengan desain produk keset

Bahan dasar selanjutnya dibentuk sesuai dengan desain bentuk dari produk keset. Ada keset dengan bentuk dasar lingkaran, segi empat dan maupun bentuk dasar waru.

g) Menjahit kain perca yang sudah dirangkai

Kain perca yang telah dirangkai selanjutnya dijahit melingkar secara beraturan menyesuaikan dengan warna dan jenis kain percanya. Ada 9 (sembilan) putaran / lingkaran jahitan untuk masing-masing kain perca yang sejenis.

h) Menutup bagian tengah yang kosong dengan kain yang warnanya senada

Setelah jahitan sebanyak 9 (sembilan) putaran, bagian tengah yang kosong ditutup dengan kain perca yang dijahit secara melingkar. Demikian proses pembuatan kain perca mulai dari tahap pemilahan kain perca sampai dengan tahap penyelesaian yaitu menutup bagian tengah yang kosong. Berdasarkan wawancara tim pelaksana dengan Ibu Sri Miyarti dan Ibu Patikah, mereka dapat memproduksi keset sebanyak rata-rata 20 unit setiap harinya.

Produk keset dari Ibu Sri Miyarti dan Ibu Patikah masih mempunyai desain yang sederhana dan tidak adanya keamanan di dalam penggunaannya terutama agar tidak slip saat digunakan. Hal ini bertolak belakang dengan kebanyakan produk keset yang dijual di pasaran telah menggunakan desain anti-slip dalam rangka memberikan kenyamanan dan keamanan apabila dipakai. Masalah ini menjadi salah satu alasan mengapa produk keset tersebut kurang mempunyai harga jual yang tinggi di mata konsumen.

Dalam menghitung biaya produksi per unit, Ibu Sri Miyarti masih melakukan penghitungan biaya secara sederhana. Adapun Ibu Patikah tidak mempunyai sistem pembukuan yang baik. Ibu Sri Miyarti dalam penghitungan biaya produksi hanya memasukkan unsur biaya yang variabel tetapi tidak memasukkan unsur biaya yang tetap. Hal ini mengakibatkan total biaya produksi menjadi lebih kecil dan harga jual yang dibebankan ke konsumen lebih rendah. Sistem pembukuan yang buruk menyebabkan Ibu Patikah tidak mengetahui kinerja usahanya dan menjadi salah satu sebab tidak dapat menikmati fasilitas kredit dari perbankan.

Dilihat dari aspek pasar, permintaan produk keset hanya berasal dari wilayah Gresik dan Surabaya. Penjualan produk keset dilakukan secara langsung ke pedagang pengepul dan selanjutnya pedagang pengepul menjual produk tersebut ke pemesan. Ada rantai penjualan mulai dari pengrajin - pengepul dan terakhir ke pembeli. Hal ini akan mengakibatkan harga jual yang rendah dan keuntungan yang diterima pengrajin keset sangat rendah per unit keset. Apabila dibandingkan dengan harga keset produksi dalam negeri lainnya, maka harga yang ditawarkan oleh pengrajin keset di desa ini lebih murah. Adapun harga jual dari pengrajin ke pedagang Rp3.500,- per unit sedang harga dari pengepul ke konsumen adalah antara Rp3.750,- sampai dengan Rp4.000,- per unit. Rendahnya harga jual tersebut mengakibatkan keuntungan yang diterima pengrajin sangat rendah hanya sebesar Rp300,- per unit keset.

Selama ini pengrajin keset belum mempunyai program pemasaran yang baik dan hanya mengandalkan permintaan pesanan dari pedagang pengepul. Omzet penjualan sangat tergantung pada permintaan dari pedagang pengepul. Harga jual yang ditetapkan kepada pengepul juga sangat rendah karena nantinya pengepul juga akan menjual kembali kepada pembeli. Hal yang harus menjadi perhatian adalah bagaimana merancang suatu program pemasaran yang baik sehingga

(4)

produk keset di desa ini menjadi produk unggulan yang dikenal oleh masyarakat di seluruh Indonesia termasuk dengan memasarkan produk keset dari desa cerme lor di internet. Dampak positif yang diharapkan akan timbul adalah memperoleh pasar atau pembeli potensial yang pada akhirnya dapat meningkatkan market share dari produk keset ini.

2.

SUMBER INSPIRASI

Usaha kerajinan ini dapat akan mampu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak mulai dari tenaga kerja tahap pemilahan kain perca sampai dengan tahap penyelesaian produk jadi berupa keset siap pakai. Dengan demikian, diharapkan usaha kerajinan keset dapat memberikan dampak positif bagi pengrajin keset pada khususnya dan masyarakat di sekitarnya pada umumnya. Selain itu, adanya usaha kerajinan keset diharapkan dapat memberikan dampak positif di bidang ekonomi yaitu dengan meningkatkan pendapatan bagi pengrajin keset dan pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan bagi pengrajin keset dan masyarakat di sekirarnya.

Dengan memanfaatkan kain perca yang merupakan bahan kain sisa limbah dari pabrik atau sisa kain yang tidak terpakai dari industri garmen, maka usaha kerajinan keset dengan memanfaatkan kain perca merupakan usaha yang sangat berguna dalam mengurangi jumlah sampah di masyarakat. Apalagi kain perca merupakan jenis sampah non organic yang sulit dihancurkan oleh bakteri. Hal ini merupakan salah satu upaya yang dibisa ditempuh dalam memanfaatkan atau mendaur ulang sampah dari sesuatu yang tidak berguna menjadi sesuatu yang sangat berguna bagi kebutuhan rumah tangga.

Banyak permasalahan yang dihadapi oleh mitra selama ini meliputi aspek pasar dan pemasaran, aspek produksi, dan aspek pembukuan. Usaha kerajinan keset mempunyai media promosi yang tepat untuk memasarkan produk ini sehingga produk kerajinan keset di desa cerme lor belum banyak diketahui oleh masyarakat. Demikian pula, harga jual produk masih sangat rendah dibandingkan dengan harga produk sejenis di pasar. Dari harga jual yang ditetapkan adalah sebesar Rp3.500,-, pengrajin kerajinan keset hanya mendapatkan margin atau laba sebesar Rp300,- per unit keset.

Dilihat dari aspek produksi, desain produk masih relatif sederhana dengan bentuk hati, persegi dan bundar yaitu alas keset belum ada tambahan sol karet sehingga dalam pemakaiannya pengguna mudah untuk mengalami slip. Di samping itu, keterbatasan jumlah mesin jahit yang dimiliki sehingga mempengaruhi jumlah produksi keset. Proses produksi juga masih menggunakan mesin jahit manual atau tradisional dan belum memanfaatkan teknologi yang tepat guna sehingga jumlah produksi yang dihasilkan masih relatif kecil dan seringkali tidak mampu memenuhi jumlah pesanan yang banyak.

Sistem pembukuan yang ada di LKMM La Tansa masih sangat sederhana yaitu tidak mempunyai laporan keuangan (laporan laba rugi) sehingga tidak diketahui berapa laba atau rugi pada setiap periode-nya. Tidak adanya perhitungan harga pokok produksi per unit yang jelas sehingga penentuan harga jual juga kurang.

3.

METODE

Metode pelaksanaan yang digunakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah media pelatihan/penyuluhan dan pendampingan. Kegiatan Pelatihan/Penyuluhan yang dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan masyarakat pengrajin keset pada beberapa aspek produksi, pemasaran dan pembukuan. Pelatihan tersebut juga bertujuan untuk membentuk kesadaran pengrajin mengenai pentingnya efisiensi produksi, desain produk dan pengemasan yang baik sehingga akan produk keset yang dihasilkan akan mempunyai nilai tambah di mata konsumen.

Untuk mencapai tujuan pelatihan tersebut, maka rancangan pelatihan/penyuluhan yang diharapkan dapat

(5)

terlaksana adalah sebagai berikut: Pelatihan/penyuluhan di bidang produksi, pemasaran dan administrasi serta pembukuan. Pelatihan/penyuluhan di bidang produksi meliputi Pelatihan Keset dengan Desain Biasa, Pelatihan Keset dengan Desain Produk Keset Anti-Slip, Pelatihan Keset dengan Desain Produk Keset Anti-Slip dengan Bordiran yang Unik di Tengah, dan Pelatihan Pengenalan, Penggunaan dan Perawatan Mesin Jahit.

Pelatihan produksi bagaimana pengemasan produk keset secara lebih baik. Kemasan dalam bentuk plastik dan diberi logo. Selain itu, pelatihan ini diharapkan dapat menghasilkan produk keset yang lebih halus dari sebelumnya yaitu dengan menggunakan kain perca yang lebih halus Pada saat pelatihan ini, sekaligus ada acara serah terima barang (mesin jahit merk Singer tipe 8280).

Pelatihan/Penyuluhan di bidang pemasaran adalah Pelatihan Pengemasan Produk Keset dengan memberi logo dan diberi plastik dan Pelatihan Penggunaan Website Pemasaran Online. Adapun Pelatihan/Penyuluhan di bidang administrasi dan pembukuan adalah Pelatihan Perhitungan Harga Pokok Produksi.

Pendampingan ini bertujuan untuk memberikan bimbingan dalam proses produksi keset, proses pemasaran dan proses pembukuan serta untuk mencegah kerusakan pada saat penggunaan beberapa mesin jahit. Pendampingan dilakukan pada aspek proses produksi, pemasaran, dan pembukuan. Beberapa kegiatan yang memerlukan pendampingan antara lain pada proses produksinya yaitu pada aspek mendesain produk keset dengan menambahkan bordir yang menarik dan sol karet pada alas keset sehingga menghasilkan produk keset anti-slip. Selanjutnya, kegiatan pendampingan dilakukan pada saat penggunaan dan perawatan pada beberapa mesin jahit untuk mencegah kerusakan pada mesin jahit tersebut.

4.

Karya Utama dan Ulasan Karya

Beberapa karya utama dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah produk keset anti-slip, website pemasaran online dan laporan keuangan sederhana bagi usaha kerajinan keset.

Produk Keset Anti-Slip dengan desain yang unik dan menarik

Dalam program IbM ini, diharapkan dapat menciptakan produk keset dengan desain anti-slip di bagian alasnya diberi sol karet anti slip. Unik artinya produk keset ini dibagian tengahnya terdapat bordir gambar Gajah, Kupu-kupu dan lain-lain. Menarik artinya produk keset ini mempunyai corak warna yang cerah dan dikemas dengan baik. Produk keset anti-slip dengan desain ini diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi calon pembeli tidak hanya dalam negeri namun untuk luar negeri.

Website Pemasaran Online

Dalam program IbM, diharapkan dapat mengatasi persoalan pemasaran yang selama ini menjadi kendala UKM dalam memasarkan produknya. Selain media promosi diperluas, Program IbM ini didesain untuk membuat media promosi produk secara online yaitu dengan membuatkan website khusus untuk pemasaran produk keset, misalnya dengan nama situs: http://www.kesetgresik.com.

Laporan Keuangan Sederhana (LKS) bagi UKM

Dalam program IbM, diharapkan dapat membekali pengetahuan dan ketrampilan pengrajin keset mengenai pembukuan. Para pengrajin diharapkan mampu membuat perhitungan laporan harga pokok produksi.

(6)

5.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

Dari kegiatan IbM yang telah dijalankan, para pengrajin keset yang tergabung sebagai anggota LKMM La Tansa sangat antusias mengikuti setiap kegiatan yang kami jalankan. Hal ini diindikasikan pada setiap kegiatan pelatihan dihadiri lebih kurang 20 orang peserta yang mayoritasnya sebelumnya adalah para pengrajin. Masalah yang dihadapi oleh para pengrajin berhubungan dengan aspek produksi, pemasaran dan pembukuan. Masalah produksi berkaitan dengan desain produksi yang masih sederhana dan jumlah atau kuantitas produksi yang masih rendah. Dari hasil kegiatan ini, produk keset telah didesain dengan anti slip dengan menambahkan semacam karet pada alas keset dengan dijahit memutar. Selanjutnya, pada bagian tengah keset diberi desain bordiran yang menarik seperti gambar gajah dan gambar lainnya.

Agar produk keset dikenal oleh masyarakat luas, media pemasaran online digunakan sebagai media promosi produk keset khas daerah cerme gresik. Produk unggulan dengan harga tertinggi yaitu keset motif lipat double anti slip hanya dijual dengan harga Rp10.000,00. Beberapa produk unggulan lainnya dijual dengan harga dibawah harga tersebut. Selain produk keset yang dijual, LKMM La Tansa juga menawarkan jasa pelatihan Kerajinan Keset kepada masyarakat yang menginginkan untuk mempunyai ketrampilan dalam bidang kerajinan keset.

Saran

Melalui diskusi dengan pengurus dan anggota LKMM La Tansa, pihak pengurus juga sedang mengembangkan usaha dalam bidang produksi produk selain keset yang bahan bakunya juga dari kain perca. Peralatan yang sudah dimiliki seperti mesin jahit dan komputer dapat juga dimanfaatkan dalam pengembangan inovasi produk selain keset yang bahan bakunya dari kain perca. Bagi pihak pengrajin, diharapkan dapat menindaklanjuti hasil dari beberapa kegiatan pelatihan yang telah dijalankan untuk mengembangkan produk keset yang inovatif dengan desain yang unik dan menarik. Pengrajin juga dapat mengembangkan produk lainnya selain produk keset.

6.

Ucapan Terima Kasih

Kami panjatkan puji syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan hidayah dan rahmat-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyesaikan kegiatan hibah IbM dengan baik. Hibah ini telah berlangsung selama 8 (delapan) bulan mulai dari bulan Mei sampai dengan Desember 2013, meskipun proses perencanaan telah kami laksanakan beberapa waktu sebelumnya. Namun, kami memandang bahwa kegiatan hibah ini tidaklah dapat berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan dari beberapa pihak yang sangat membantu kelancaran kegiatan ini. Oleh karena disini kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mempunyai andil dalam hibah ini, yaitu Ketua LKMM ”La Tansa” dan Mitra Hibah IbM yaitu Ibu Sri Miyarti dan Ibu Patikah.

(7)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...