• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESAIN POMPA ELECTRICAL SUBMERSIBLE PUMP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DESAIN POMPA ELECTRICAL SUBMERSIBLE PUMP"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

DESAIN POMPA

ELECTRICAL SUBMERSIBLE PUMP

DI PT

PERTAMINA EP ASSET 5 BUNYU FIELD

LAPORAN TUGAS AKHIR Oleh

DONDY ZOBITANA 12010195

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN

AKADEMI MINYAK DAN GAS BALONGAN

(2)

DESAIN POMPA

ELECTRICAL SUBMERSIBLE PUMP

DI PT

PERTAMINA EP ASSET 5 BUNYU FIELD

LAPORAN TUGAS Oleh :

DONDY ZOBITANA 12010195

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN

AKADEMI MINYAK DAN GAS BALONGAN

(3)

ii

DESAIN POMPA

ELECTRICAL SUBMERSIBLE PUMP

DI PT

PERTAMINA EP ASSET 5 BUNYU FIELD.

Dondy Zobitana, 12010195. Pembimbing I Ismanu Yudiantoro, S.T, M.T. Pembimbing II Agustina Prihantini, S.T

ABSTRAK

Laju produksi fluida berpengaruh terhadap pemilihan jenis dan ukuran pompa. Hal ini terjadi karena setiap jenis pompa memiliki laju produksi optimum sesuai yang dianjurkan berdasarkan jenis dan ukuran pompa tersebut. Dengan berlalunya waktu tekanan dan jumlah fluida yang terproduksikan dari sebuah reservoir akan terus menurun, sehingga sudah tidak dapat lagi mengalirkan fluida resevoir secara natural flow dengan produksi water cut tinggi, maka digunakan artificial lift dalam hal ini yaitu Electric Submergible Pump. Tujuan dari dilakukannya tugas akhir ini adalah untuk mengetahui metode yang di gunakan dalam pemilihan pompaElectrical Submersible Pump, pengoperasiannya di lapangan, dan juga troubleshooting pada saat pengoperasiannya di lapangan. Metode penelitian yang digunakan penulis pada tugas akhir ini adalah teknik pengumpulan data dengan wawancara yaitu mengajukan pertanyaan bedasarkan objek penelitian kepada pembimbing lapangan, pengumpulan data tertulis yaitu mempelajari literature yang berhubungan dengan objek yang sedang diteliti, dan yang terakhir yaitu pengambilan dokumentasi adalah metode mengambil data dengan pengambilan gambar yang di gunakan penulis sebagai bahan laporan. Hasil analisa yang didapatkan pada penelitian ini adalah dari grafikInflow Perfomance Relationship vsTubing Perfomance Relationship untuk sumur “M-150” yang telah di buat maka dapat di pastikan fluida yang dari dalam formasi tidak dapat mengalir ke permukaan karena tidak adanya perpotongan antara kurva Inflow Performance Relationship dan Tubing Perfomance Relationship, untuk itu sumur tersebut harus menggunakan

(4)

Education Details

2013-Now Oil and Gas Academy of Balongan Indramayu

Petroleum Engineering, Program D3, Indramayu, Indonesia

2010-2013 Senior High School 02Kuala Kapuas, Central Kalimantan

2007-2010 Junior High School 04 Kuala Kapuas, Central Kalimantan

2001-2007 Elementary School 06 Kuala Kapuas, Central Kalimantan

Personal Detail

Name :Dondy Zobitana

NIM :12010195

Mailing Address :Sakapurun Street No.33 Kapuas

City,Central Kalimantan

Contact Number :082217584834

: [email protected]

2013-Now Member of IATMI (Association Of Indonesian

Petroleum Engineers)

2013-Now Basket Ball Player Of Oil and Gas Academy of Balongan

Indramayu

2013-Now Member of Student Units Activity in Departement

Basketball, Oil and Gas Academy of Balongan

2012-2013 Basket Ball Player Of senior High School SMAN 02 Kuala

Kapuas, Central Kalimantan

2010-2011 School Organization Of Senior High School SMAN 02

(5)

Practical Work

2015 Practicum Of “Penilaian Forrmasi”

2015 Practicum Of Mud Test

2015 Practicum Analysis Of Formation Fluid 2014 Practicum Of Chemistry II

2014 Practicum Of Physics II 2014 Practicum Of Geology 2013 Practicum Of Physics I 2013 Practicum Of Chemistry I

Workshop

2015 Conserving National Energy with Innovative Mindset

2014 Be Successful In Job Hunting

Field Travelling

2015 Educationand Training Centers Of Oil and Gas Cepu 2014 Museum Of Petroleum Indonesia

(6)

DESAIN POMPA

ELECTRICAL SUBMERSIBLE PUMP

DI PT

PERTAMINA EP ASSET 5 BUNYU FIELD

LAPORAN TUGAS AKHIR

Diajukan guna memenuhi syarat untuk meraih gelar Diploma III pada Program

Studi Teknik Perminyakan Akademi Minyak dan Gas Balongan

Oleh :

DONDY ZOBITANA NIM : 12010195

Proposal ini telah disetujui dan disahkan oleh

Dosen Pembimbing Tugas Akhir

Indramayu…….2016

Dosen Pembimbing I, Dosen Pembimbing II,

(7)

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan kasih-Nya

penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhiryang berjudul “Desain Pompa

Electrical Submersible PumpDi PT Pertamina EP Asset 5 Lapangan Bunyu”.

Pada kesempatan ini, saya mengucapkan terimakasih kepada :

1. Ibu Ir. Hj. Hanifah Handayani, M.T selaku ketua Yayasan Bina Islamy.

2. Bapak H. Drs. Nahdudin Islami, M.Si selaku Direktur Akamigas Balongan

Indramayu.

3. Bapak Ismanu Yudiantoro, M.T selaku Kepala Program Studi Teknik

Perminyakan Akamigas Balongan Indramayu.

4. Bapak Ismanu Yudiantoro, ST.MT, selaku Dosen Pembimbing dalam Tugas

Akhir ini.

5. Ibu Agustina Prihantini, S.T selaku Dosen Pembimbing II dalam Tugas Akhir

ini

6. Bapak Afrizal, selaku Junior Production Engineer dan pembimbing Tugas

Akhir PT. Pertamina EP Asset 5 Bunyu Field.

7. Kedua Orangtua yang telah memberi dukungan baik moril ataupun materil

Saya menyadari bahwa laporan ini masih belum sempurna, oleh karena itu

saya harapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.

Indramayu….November2016

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ...i

ABSTRAK ...ii

LEMBAR PENGESAHAN ...iii

LEMBAR PERSEMBAHAN ...iv

RIWAYAT HIDUP ...v

KATA PENGANTAR ...x

DAFTAR ISI...xii

DAFTAR TABEL ...xv

DAFTAR GAMBAR...xvi

DAFTAR LAMPIRAN ...xvii

DAFTAR SIMBOL ...xviii

BAB I PENDAHULAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Tema ...2

1.3 Tujuan...2

1.3.1 Tujuan Umum...2

1.3.2 Tujuan Khusus ...2

1.4 Manfaat...3

1.4.1 Bagi Perusahaan ...3

(9)

xiii

LANJUTAN DAFTAR ISI

Halaman

1.4.3 Bagi Mahasiswa...4

1.5 Waktu dan Tempat Pelaksanaan...4

1.6 Batasan Masalah ...4

BAB II DASAR TEORI...5

2.1 Produktivitas Formasi...5

2.1.1 Productivty Index(PI)...5

2.1.2 Inflow Performance Relationship (IPR)...6

2.1.2.2 Kurva IPR Aliran Satu Fasa...6

2.1.2.3 Kurva IPR Aliran Dua Fasa………9

2.1.2.5 Kurva IPR Aliran Tiga Fasa………...10

2.1.2.5 Sifat Fisik Fluida Reservoir………12

2.2 MetodeArtificial Lift... ...18

2.3 Electric Submersible Pump... 18

2.4 Peralatan Electrical Submersible Pump...20

2.4.1 Peralatan Permukaan(surface)...20

2.5.1 Peralatan Bawah Permukaan(sub surface)...24

2.5 Alasan Penggunaan ESP...34

2.6 Problem PadaElectrical Submersible Pump...35

2.7 Metode DesainElectrical Submersible Pump ...36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...40

(10)

LANJUTAN DAFTAR ISI

Halaman

3.2 Teknik Pengumpulan Data ...40

3.2.1 Wawancara ...40

3.2.2 Pengumpulan Data Tertulis ...41

3.2.3 Pengambilan Dokumentasi...41

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ...43

4.1 Sejarah PT. PERTAMINA EP ...43

4.2 Visi dan Misi PT. Pertamina EP...46

4.3 Profil PT. Pertamina EP Asset Field Bunyu ...47

4.4 Visi dan Misi PT. Pertamina EP Asset 5 Field Bunyu...49

4.5 Letak Geografis ...49

4.6 Stratigrafi Regional Subcekungan Tarakan ...51

4.7 BAB V ANALISA...54

5.1 Data Sumur “M-150”...54

5.2 IPR Sumur “M-150”...56

5.3 Langkah Perhitungan Desain ESP...59

5.3.1 PenentuanStatic Fluid Level(SFL) danDynamic Fluid Level(DFL) ...59

5.3.2 PenentuanPump Setting Depth...60

5.3.3 PerhitunganTotal Dynamic Head(TDH) ...60

(11)

xv

BAB VI KESIMPULAN ...63 DAFTAR PUSTAKA

(12)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Susunan Peralatan ESP... 23

Gambar 2.2Wellhead...24

Gambar 2.3Transformer...26

Gambar 2.4SwitchBoard... 27

Gambar 2.5Protector... 30

Gambar 2.6Gas Separator... 32

Gambar 2.7Bagian Pompa... 33

(13)

xvi

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 5.1 Data Sumur “M-150”... 55

Tabel 5.2 Hasil Perhitungan IPR dengan Metode Vogel ... 57

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Lampiran Pump Chart A2700N

(15)

xviii

DAFTAR SIMBOL

Bo = Faktor voleme formasi minyak, bbl/STB

C = Friction Factor Tubing

DFL = Dynamic fluid level, ft

F = Friction loss, ft/1000ft

FOP = Fluid over pump, ft

GF = Gradien fluida

h = Ketebalan lapisan, ft

HD = Vertical lift, ft

HF = Head friction, ft

HP = Hours power, HP

Ht = Well head tubing head, ft

k = Permeabilitas batuan, md

Pe = Tekanan formasi pada jarak re, psi

PI =productivity index, BPD / PSI. PIP = Pump intake pressure, psi

Ps = tekanan statik reservoir, Psi.

PSD = Pump setting depth, ft

Pwf = Tekanan alirsan dasar sumur, psi

Pwh = Tekanan di atas sumur, psi

q = Laju aliran fluida, bbl/day

(16)

Qtest = tes laju produksi BPD.

re = Jari–jari penguras sumur, ft

rw = jari–jari sumur, ft

SFL = Static fluid level, ft

SG = Spesific gravity

TDH = Total dynamic head, ft

Vo = Viskositas minyak, cp

(17)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Proses pengangkatan fluida dari sumur ke permukaan terdiri dari

beberapa metode, antara lain sumur sembur alam dan ada yang dibantu

dengan pengangkatan buatan yang sering disebut sumur sembur buatan

(artificial lift). Sumur sembur alam adalah sumur yang mengangkat fluida

reservoir dari dasar sumur ke permukaan dengan bantuan tekanan formasi

(natural flow). Ketika tekanan formasi sudah tidak mampu lagi untuk

mengangkat fluida formasi ke permukaan, maka digunakanlah

pengangkatan buatan yaitu salah satunya adalah dengan menggunakan

Electric Submersible Pump(ESP).

Penggunaan pompaelectrical submersible pump akan di sesuaikan

dengan spesifikasi sumur dan juga jenis liquid serta banyaknya liquid yang

akan di angkat, maka dari itu di perlukan desain pompa electrical

submersible pump yang tepat. Sehingga dalam pengoperasiannya

mendapatkan hasil yang effisien dan optimum serta tidak banyak

(18)

1.2 TEMA

Tema yang diambil dalam Tugas Akhir ini adalah tentangArtificial

Lift, adapun dari tema tersebut menyesuaikan dengan yang ada di kantor

maupun di lapangan.

1.3 TUJUAN

1.3.1 Tujuan Umum

1. Mengetahui informasi mengenai gambaran pelaksanaan

pekerjaan perusahaan atau di institusi tempat tugas akhir

berlangsung.

2. Menerapkan ilmu pengetahuan yang didapat dari bangku

perkuliahan.

3. Untuk meningkatkan daya kreativitas dan keahlian.

4. Mengetahui, mengenali dan memahami cara mendesain

Electrical Submersible Pumpyang ada di lokasi.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Menentukan desain pompa Electrical Submersible Pump

bedasarkan kondisi sumur.

2. Menentukanrateproduksi yang didesain pada sumur“M-150”.

3. Menentukan metode perhitungan yang sesuai dengan kondisi

(19)

3

4. Menentukan jumlah stage dan horse power yang digunakan

berdasarkan jenis pompa agar dapat memenuhi rate produksi

optimum.

5. Untuk menemukan permasalahan yang sering terjadi dalam

pengoperasian Electrical Submersible Pump atau

troubleshootingdi lapangan produksi Bunyu.

1.4 MANFAAT

1.4.1 BAGI MAHASISWA

1. Dapat memahami berbagai permasalahan yang terdapat

dilapangan sehubungan dengan tema yang diambil.

2. Mendapat pengetahuan dan keterampilan yang lebih aplikatif

dalam bidang yang diminati.

3. Dapat mengidentifikasi masalah, menganalisa, dan menentukan

solusi alternatif dalam memecahkan permasalahan di lapangan

sesuai dengan tema yang diambil.

1.4.2 BAGI AKADEMI MINYAK DAN GAS BALONGAN

1. Menciptakan jalinan kerjasama antara institusi tempat

dilaksanakannya tugas akhir dengan pihak kampus.

2. Memperbaharui kurikulum berdasarkan kebutuhan SDM yang

nyata di lapangan.

(20)

1.4.3 BAGI PERUSAHAAN

1. Dapat memanfaatkan tenaga mahasiswa untuk membantu

kegiatan operasional.

2. Mendapatkan pilihan alternatif dalam mencari calon karyawan

baru.

3. Dapat mengembangkan kemitraan dengan pihak kampus

sehubungan dengan kegiatan penelitian maupun

pengembangan.

1.5 WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN

Tugas Akhir dilaksanakan pada semester VI (enam), terhitung dari

tanggal 01 Februari 2016 sampai dengan 29 Maret 2016. Dengan tempat di

PT PERTAMINA EP ASSET 5 BUNYU FIELD.

1.6 BATASAN MASALAH

Masalah yang ditekankan dalam Laporan Tugas Akhir ini adalah

Metode Pemilihan Pompa Electrical Submersible Pump sehingga

(21)

5

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1. ProduktivitasProduksi

Produktivitas formasi adalah kemampuan suatu formasi untuk

memproduksikan fluida yang dikandungnya pada kondisi tekanan tertentu.

Pada umumnya sumur-sumur yang baru ditemukan mempunyai tenaga

pendorong alamiah yang mampu mengalirkan fluida hidrokarbon dari

reservoir kepermukaan dengan tenaganya sendiri, dengan berjalannya waktu

produksi kemampuan dari formasi untuk mengalirkan fluida tersebut akan

mengalami penurunan, yang besarnya sangat tergantung pada penurunan

tekanan reservoir.

2.1.1 Produktivitas Index(PI)

Index adalah Kualitas kinerja aliran fluida dari formasi

produktif masuk ke lubang sumur. Produktifitas formasi adalah

kemampuan suatu formasi untuk memproduksikan fluida yang

dikandungnya pada kondisi tekanan tertentu. Parameter yang

menyatakan produktifitas formasi adalahProductivity Index (PI) dan

Inflow Performance Relationship (IPR). PI dapat berharga konstan

atau tidak, tergantung pada kondisi aliran yang terjadi.

Harga PI didapatkan dari persamaan:

PI = Qtest

(22)

Keterangan :

PI =Productivity index, BPD / PSI.

Qtest = Tes laju produksi BPD.

Ps = Tekanan statik reservoir, Psi.

Pwf = Tekanan alir dasar sumur, Psi

2.1.2 Inflow Performance Relationship(IPR)

Kurva IPR adalah sebuah kurva yang menggambarkan

kemampuan suatu sumur untuk berproduksi, yang dinyatakan dalam

bentuk hubungan antara laju produksi (q) terhadap tekanan alir dasar

sumur (Pwf).

Dalam persiapan pembuatan kurva IPR terlebih dahulu harus

diketahui Productiivity Index (PI) sumur tersebut, yang merupakan

gambaran secara kwalitatif mengenai kemampuan suatu sumur untuk

berproduksi.

2.1.2.1 Kurva IPR Aliran Satu Fasa

Kurva IPR untuk aliran satu fasa akan merupakan suatu garis

lurus dengan harga PI yang konstan untuk setiap harga Pwf. Hal ini

terjadi apabila tekanan reservoir (Pr) lebih besar dari tekanan

gelembung (Pb).

Berdasarkan definisi PI diatas, untuk suatu saat tertentu

dimana Ps konstan dan PI juga konstan, maka variabelnya adalah

laju produksi (q) dan tekanan alir dasar sumur (Pwf). Sehingga

(23)

7

Grafik 2.1 Kurva IPR satu fasa (2007, Buyoun Buo,Petroleum Production Engineering)

Untuk membuat kurva IPR diperlukan data-data sebagai

berikut:

a. laju alir produksi

b. tekanan dasar sumur (Pwf)

c. tekanan statis atau tekanan reservoir (Pr)

Ketiga data tersebut diperoleh dari hasil test produksi dari

sumur yang bersangkutan.

Aliran fluida dalam media berpori telah dikemukakan oleh

Darcy(1856) dalam persamaan:

(24)

Persamaan tersebut mencakup beberapa anggapan,

diantaranya adalah:

a. Aliran mantap

b. Fluida yang mengalir satu fasa

c. Tidak terjadi reaksi antara batuan dengan fluidanya

d. Fluida bersifatincompressible.

e. Viskositas fluida yang mengalir konstan.

f. Kondisi aliran isotermal.

g. Formasi homogen dan arah aliran horizontal.

Persamaan diatas kemudian dikembangkan untuk kondisi

aliran radial, dimana dalam satuan lapangan persamaan tersebut

berbentuk:

q = Laju aliran fluida, bbl/day

Qo = Laju aliran fluida dipermukaan, STB/ day

h = Ketebalan lapisan, ft

k = Permeabilitas batuan, md

Vo = Viskositas minyak, cp

Bo = Faktor voleme formasi minyak, bbl/STB.

Pwf = Tekanan alirsan dasar sumur, psi

Pe = Tekanan formasi pada jarak re, psi

(25)

9 rw = jari – jari sumur, ft

Persyaratan yang harus dipenuhi untuk menggunakan

pesamaan (2.5) tersebut adalah:

a. Fluida berfasa tunggal

b. Aliran mantap(steady state)

c. Formasi homogen

d. Fluidaincompresible.

Dengan demikian apabila variable–viriable dari persamaan

diketahui, maka laju produksi (potensi) sumur dapat diketahui.

2.1.2.2 Kurva IPR Aliran Dua Fasa

Jika Pr dibawah Pb, maka gas membebaskan diri dari

minyak, maka bentuk kurva IPR akan merupakan suatu garis

lengkung, dan harga PI tidak lagi merupakan harga yang konstan,

karena kemiringan garis IPR akan berubah secara kontiniu untuk

setiap harga Pwf.

Untuk membuat kurva IPR dua fasa, Vogel menurunkan suatu persamaan dasar dengan anggapan skin sama dengan nol

(26)

Grafik 2.2 Kurva IPR dua Fasa (2007, Buyoun Buo,Petroleum Production Engineering)

Selain itu dalam pengembangannya dilakukan anggapan:

a. Reservoir bertenaga dorongan gas pelarut

b. Harga skin disekitaran lubang bor sama dengan nol

c. Tekanan reservoir dibawah tekanan saturasi (pb)

2.1.2.3 Kurva IPR Tiga Fasa Metode

Asumsi yang digunakan metode ini adalah:

a. Faktor skin sama dengan nol

b. Minyak, air dan gas berada pada satu lapisan dan mengalir

bersama–sama secara radial.

Untuk menyatakan kadar air dalam laju produksi total

digunakan parameter “ water cut (WC) “, yaitu perbandingan laju Q max

Pr

Pwf

(Psi)

(27)

11

produksi air dengan laju produksi total. Dimana harga water cut

dinyatakan dalam persen. Dalam perkembangan kinerja aliran tiga

fasa dari formasi produktif ke lubang sumur telah digunakan 7

kelompok data hipotensi reservoir, yang mana untuk masing-masing

kelompok dilakukan perhitungan kurva IPR untuk lima harga water

cutberbeda, yaitu 20 %, 40 %, 60 %, 80 %, dan 90 %.

Dalam metodePudjo Sukarnomembuat persamaan sebagai berikut:

= + 1 + 2 ... .(2.8)

Dimana :

An ( n = 0, 1 dan 2) adalah konstanta persamaan, yang

harganya berbeda untukwater cut yang berbeda.

An = Co + C1(water cut) +C2(water cut)2... (2.9)

Cn (n = 0, 1 dan 2) untuk masing – masing harga An

ditunjukan dalam tabel 2.1, sebagai berikut:

Tabel 2.1 Konstanta Cn unntuk masing-masing An

An Co C1 C2

Ao 0,980321 -0,115661.10-1 0,179050.10-4

A1 -0,414360 0,392799.10-2 0,237075.10-5

A2 -0,564870 0,762080.10-2 -0.202079.10-4

Sedangkan hubungan antara tekanan alir dasar sumur

terhadap water cut dapat dinyatakan sebagai Pwf/ Pr, terhadap WC

(WC @ Pwf = Pr) telah ditentukan dengan analisis regresi yang

(28)

@ = ( ⁄ )... ...(2.10)

Dimana P1dan P2tergantung dari hargawater cut. Dari hasil

analisa regresi menghasilkan persamaan berikut:

P1=1,606207 − (WC)... ...(2.11)

P2=− 0,517792+ 0,110604 (WC)... ...(2.12)

Dimana water cut dinyatakan dalam persen (%) dan

merupakan data uji produksi.

2.1.2.4 Sifat Fisik Fluida Reservoir

Sifat fisik fluida (gas, minyak dan air) perlu diketahui karena

merupakan variabel utama aliran fluida dalam media berpori maupun

dalam pipa. Sifat fisik fluida yang akan dibahas adalah sifat fisik

fluida yang mempengaruhi pererncanaanElectric Submersible Pump

(ESP) yaitu specific gravity fluida (SG), oAPI, tekanan bubble point

(Pb), gas oil ratio (GOR), kelarutan gas dalam minyak (Rs), faktor

volume (FV), faktor compresibilitas (Z factor), viskositas (µ).

A. Specific Gravity Fluida (SGf)

Specific gravity fluida (SGf) adalah perbandingan antara

densitas fluida dengan fresh water pada kondisi standard (14,7 psi,

60oF) yaitu 62,4 lb/cuft atau 1 gr/cc. Sehinggaspecific gravityfluida

(29)

13

Sedangkan besaran yang digunakan untuk menyatakan

spesific gravity (SG) dari minyak adalahoAPI . Adapun harga oAPI

dapat ditentukan besaran SG dengan hubungan sebagai berikut :

API

Specific gravity fluida campuran (SGf mix) dapat dihitung

apabila harga specific gravity air (SGw), specific gravity minyak

(SGo) dan water cut (WC) diketahui, yaitu dengan menggunakan

persamaan berikut:

o w

fmix WC SG WC SG

SG  1    ... (2.15)

Keterangan:

SGfmix =specific gravityfluida campuran

SGo =specific gravityminyak

SGw =specific gravityair

WC =water cut

B. Bubble Point Pressure(Pb)

Bubble point pressure adalah suatu tekanan dimana terjadi

pembentukan gas untuk pertama kali dari larutan minyak yang

disebabkan oleh penurunan tekanan secara isothermal pada reservoir.

Harga bubble point pressure dapat ditentukan dari uji laboratorium

(30)

C. Gas Oil Ratio (GOR)

Dalam teknik perminyakan terdapat banyak perhitungan dan

akan lebih mudah melakukan perhitungan dengan mengetahui aliran

suatu fasa sebagai rasio dari fasa yang mengalir lainnya. GOR adalah

perbandingan total besarnya laju alir gas terhadap laju alir minyak,

ditunjukkan dalam satuan SCF/STB.

o

D. FaktorKompresibilitas Gas (Z Factor)

Faktor Z adalah suatu pernyataan yang digunakan untuk

menyatakan bahwa kondisi gas nyata menyimpang dari kondisi gas

ideal, faktor Z merupakan factor koreksi yang biasa disebut factor

deviasi gas (factor penyimpangan gas). Faktor deviasi gas

menyatakan penyimpangan dari volume nyata terhadap volume

ideal. Faktor penyimpangan gas merupakan perbandingan volume

gas pada kondisi tekanan dan temperatur sebenarnya dengan volume

gas ideal pada kondisi standard (14,7 psi, 60oF)

Faktor deviasi gas secara umum sebagai fungsi dari

(31)

15

Untuk campuran gas yang mengandung komponen ikutan,

besaran kondisi kritis semu untuk tekanan dan temperatur menurut

Thomas, Hankinson, dan Philips dapat dibuat persamaan sebagai

berikut:

Dari harga tekanan dan temperatur tereduksi tersebut dapat

diketahui harga deviasi gas dari grafik compressibility factor. Secara

matematis faktor kompresibilitas dari gas dapat dibuat pada

persamaan berikut:

Z = Faktor penyimpangan gas nyata dengan gas ideal

P = Tekanan aktual, psi

T = Suhu aktual, R

Tpc =Pseudo critical temperatur, R

Ppc =Pseudo critical pressure,psi

Ppr =Pseudo reduced pressure

(32)

E. Kelarutan Gas Dalam Minyak (Rs)

Kelarutan gas dalam minyak didefinisikan sebagai

banyaknya cubic-feet gas dalam keadaan standard yang terlarut

dalam minyak mentah sebanyak satu barrel dalam tanki, dinyatakan

dalam satuan SCF/STB. Kelarutan gas dipengaruhi oleh tekanan,

temperatur, densitas, gas spesifik gravity, derajat API gravity

minyak.

Untuk menghitung gas terlarut pada tekanan dan temperatur

tertentu dapat menggunakan korelasi dari Standing yaitu:

205

Rs = kelarutan gas dalam minyak,

Bbl SCF

T = Temperatur,oF

P = Tekanan, psi.

F. Faktor Volume Formasi (FVF)

Faktor Volume Formasi didifinisikan sebagai perbandingan

volume fluida di dalam reservoir terhadap volume fluida pada

kondisi standard. Volume air, minyak maupun gas dalam reservoir

banyak dipengruhi oleh tekanan dan temperatur, hal ini berhubungan

(33)

17

Perubahan volume pada air sangat kecil sekali, ini

disebabkan karena kelarutan gas dalam air relatif kecil, maka harga

Bw sering dianggap 1 RB/STB, sehingga ini bisa diabaikan untuk

perhitungan air.

Perubahan volume minyak oleh perubahan tekanan dan

temperatur dihitung untuk menentukan faktor volume formasi

minyak. Faktor tersebut juga merupakan perubahan volume karena

masuknya fasa gas kedalam larutan minyak.

Faktor volume formasi didefinisikan sebagai perbandingan

volume fluida dalam reservoir dengan fluida pada kondisi standard.

G. Viskositas

Viskositas fluida adalah ukuran kekentalan fluida atau

keengganan fluida untuk mengalir, yang dipengaruhi oleh temperatur

dan tekanan. Viskositas biasanya dinyatakan dalam centipoise (Cp).

Apabila temperatur fluida naik maka harga viskositas cairan akan

berkurang (encer), jika temperatur fluida tetap maka viskositas

(34)

2.2. MetodeArtificial Lift

Suatu sumur produksi dapat mengalirkan fluida berdasarkan tenaga

pendorongnya dimana bila tenaga pendorong alami reservoir telah menurun

maka akan digunakan artificial lift. Artificial lift adalah metode untuk

mengangkathidrocarbon dari dalam sumur ke atas permukaan. Ini biasanya

dikarenakan tekanan reservoirnya tidak cukup tinggi untuk mendorong

minyak sampai ke atas ataupun tidak ekonomis jika mengalir secara

alamiah. Artificial lift juga merupakan suatu usaha untuk membantu

mengangkat fluida produksi sumur ke permukaan dengan jalan memberikan

energi mekanis dari luar.

Artificial lift umumnya terdiri dari beberapa macam yang

digolongkan menurut jenis peralatnnya sepertielectrical submersible pump,

gas lift, sucker rod pump, jet pump, progressive cavity pump, pungger

lift,dan otobial.

2.3. Electric submersible pump

Electric submersible pump yang merupakan jenis artificial lift

dengan harga yang cukup mahal dibandingkan dengan pengangkatan buatan

lainnya, tetapi dapat menghasilkan pengembalian biaya dengan cepat oleh

karena kemampuannya untuk menghasilkan laju produksi yang tinggi,

disamping itu dapat dioperasikan pada laju aliran fluida yang kandungan air

(water cut) yang tinggi. Electrical submersible pump adalah pompa yang

(35)

19

setiap tingkat mempunyai impeller, bagian berputar yang fungsinya

memberikan kecepatan terhadap cairan yang dipompakan dan diffuser

adalah bagian yang diam. Prinsip dasar Electric Submersible Pump adalah

dengan mengalirkan fluida dari satu tingkat ke tingkat selanjutnya, dimana

setiap tingkatnya terdiri dari bagian yang berputar (impeller) dan bagian

yang diam sebagai tempat fluidanya (diffuser). Impeller berfungsi untuk

mentransfer energi dengan memutar fluida sehingga meningkatkan energi

kinetiknya sedangkandiffuser berfungsi untuk megubahnya menjadi energi

potensial, sehingga meningkatkan tekanan keluar (discharge pressure) dan

fluida yang ada didiffuser akan diteruskan lagi ke tingkat yang di atasnya.

Dimana panjang pompa tergantung pada jumlahstagesyang digunakan.

Sistem kerja dari pompa submersible ini adalah dengan gerakan

centrifugal yang dimiliki stage yang banyak, dimana poros dari pompa

dihubungkan langsung dari motor penggerak. Motor penggerak ini

memanfaatkan energi listrik yang disuplai dari transformer dan

mengubahnya menjadi energi magnet pada laminasi stator kemudian stator

menginduksi arus pada rotor dan kemudian menyebabkan adanya medan

magnet pada rotor dan dengan adanya medan magnet yang berpindah maka

(36)

2.4. PeralatanElectrical submersible pump

Peralatan ESP terdiri dari dua bagian utama, yaitu komponen

permukaan dan komponen bawah permukaan.

Gambar 2.1 Susunan PeralatanElectrical submersible pump (Kermit E Brown, The Tecnology of Artificial Lift Methods, Voume 2b)

2.4.1 Peralatan Permukaan(Surface Equipment)

Pada Electrical submersible pump terdapat alat-alat

permukaan (surface equipment) seperti: wellhead, junction box,

switchboarddan transformer.

(37)

21

Wellhead atau kepala sumur dilengkapi dengan tubing

hangerkhusus yang mempunyai lubang untukcable pack-offatau

penetrator. Cable pack-off ini biasanya tahan sampai tekanan

3000 psi. Tubing hanger dilengkapi juga dengan lubang untuk

hidraulic control line, yaitu saluran cairan hidraulik untuk

menekansubsurface ball valveagar terbuka.

Wellhead juga harus dilengkapi dengan “seal” agar tidak

bocor pada lubang untuk kabel danline.Wellheaddi desain untuk

tahan terhadap tekanan 500 psi sampai 3000 psi.

Gambar 2.2Wellhead

(2013 ,Alwan Bate Bandera, Pengenalan Peralatan ESP)

2. Junction box

Junction box ditempatkan di antara kepala sumur dan

switchboard untuk alasan keamanan. Gas dapat mengalir keatas

melalui kabel dan naik ke permukaan menuju switchboard, yang

(38)

junction box ini adalah untuk mengeluarkan gas yang naik keatas

tadi. Junction box biasanya 15 ft (minimum) dari kepala sumur

dan normalnya berada diantara 2 sampai 3 ft di atas permukaan

tanah.

Fungsi darijunction boxantara lain:

a. Sebagai ventilasi terhadap adanya gas yang mungkin

bermigrasi kepermukaan melalui kabel agar terbuang ke

atmosfer.

b. Sebagai terminal penyambungan kabel dari dalam sumur

dengan kabel dariswichboard.

3. Switchboard

Switchboardadalah panel kontrol kerja di permukaan saat

pompa bekerja yang dilengkapi dengan motor controller,

overload dan underload protection serta alat pencatat (recording

instrument) yang bisa bekerja secara manual ataupun otomatis

apabila terjadi penyimpangan. Switchboard ini dapat digunakan

untuk tegangan dari 440 volt sampai 4800 volt.

Fungsi utama dariswitchboardadalah:

a. Untuk mengontrol kemungkinan terjadinya downhole

problem seperti: overloadatauunderload current.

b. Auto restartsetelahunderloadpada kondisiintermittent well.

(39)

23

Pada switchboard biasanya dilengkapi dengan ammeter

chart yang berfungsi untuk mencatat arus motor versus waktu

ketika motor bekerja.

Gambar 2.3 Switchboard

(2013, Alwan Bate Bandera, Pengenalan Peralatan ESP)

4. Transformer

Merupakan alat untuk mengubah tegangan listrik, bisa

untuk menaikan atau menurunkan tegangan. Alat ini terdiri dari

core (inti) yang dikelilingi oleh coil dari lilitan kawat tembaga.

Keduanya, baik coremaupuncoil direndam dengan minyak trafo

sebagai pendingin dan isolasi. Perubahan tegangan akan

sebanding dengan jumlah lilitan kawatnya. Biasanya tegangan

(40)

rendah pada jalur transmisi, sehingga tidak dibutuhkan kabel

(penghantar) yang besar. Tegangan input yang tinggi akan

diturunkan dengan menggunakan step-down transformer sampai

dengan tegangan yang dibutuhkan oleh motor.

Gambar 2.4 Transformer (2013 , Alwan Bate Bandera, Pengenalan Peralatan ESP)

2.4.2 Peralatan bawah Permukaan (Sub Surface) 1. Motor Listrik (Eletric Motor)

Jenis motor Pompa ESP adalah motor listrik induksi dua

kutub tiga fasa yang diisi dengan minyak Pelumas khusus yang

mempunyai tahanan listrik (dielectric strength) tinggi. Dipasang

paling bawah dari rangkaian, dan motor tersebut digerakkan oleh

arus listrik yang dikirim melalui kabel dari permukaan. Motor

berfungsi untuk menggerakan pompa dengan mengubah tenaga

listrik menjadi tenaga mekanik. Fungsi dari minyak tersebut

adalah:

(41)

25 b. Sebagai tahanan (isolasi)

c. Sebagai Media penghatar panas motor yang ditimbulkan oleh

perputaran rotor ketika motor tersebut sedang bekerja.

Jadi minyak tersebut harus mempunyai spesifikasi

tertentu yang biasanya sudah ditentukan oleh pabrik, yaitu

berwarna jernih, tidak mengandung bahan kimia, di electric

strength tinggi, lubricant dan tahan panas. Minyak yang diisikan

akan mengisi semua celah-celah yang ada dalam motor, yaitu

antara rotor dan stator. Motor berfungsi sebagai tenaga penggerak

pompa (prime mover), secara garis besar motor ini mempunyai

dua bagian pokok, yaitu

1. Stator

Stator Assembly adalah rangkaian komponen yang tidak

bergerak. Bentuknya seperti baja melingkar yang dililit oleh

kawat. Terdiri dari 3 komponen utama, housing, laminations,

danwindings.

Housing adalah tabung besi yang menutupi semua

komponen motor lainnya. Berfungsi sebagai cover dan

pelindung utama. Bagian ini adalah bagian yang langsung

bersentuhan dengan fluida formasi. Panas atau kalor dari hasil

penggerakan motor, akan ditransmisikan ke housing dan

kemudian dibawa oleh fluida yang terus mengalir melalui

(42)

Laminations adalah lembaran tipis seperti piringan yang

terbuat dari baja atau perunggu. Windings adalah kabel yang

terbuat dari Polyimid atau PEEK insulated magnet. Fungsi

utamanya untuk memberikan gaya magnet disekitar

laminations. Winding ini akan membentuk lilitan yang

mengelilingi laminations.

2. Rotor

Rotor adalah bagian yang berputar dari motor. Rotor

terdiri dari rotor lamination, copper bar, dan rotor bearing.

Rotor lamination memiliki diameter lebih kecil dari stator

lamination. Untuk copper bars didukung oleh copper dan

rings. Sedangkan bearing merupakan bagian yang vital dari

motor. Keguanaan utamanya adalah memberikan gaya axial

dan radial kepadashaftdan rotor. Tidak hanya itu, bearing juga

mempunyaifluid holes, tempat masuknya sirkulasi minyak dan

mendistribusikan pelumasan pada permukaan bearing. Jumlah

dari rotor dihitung darihorse poweer outputdari motor.

2. Protector

Protector merupakan suatu alat yang dipasang antara

intake atau gas separator dan motor. Protector digunakan untuk

menyamakan tekanan dalam motor dengan tekanan tenggelamnya

pompa. Dengan ini mencegah rusaknya dinding motor terhadap

(43)

27

kedalam motor. Protector juga memisahkan thrust pompa dari

bearing-bearing motor. Secara umum protector mempunyai 3

fungsi dasar yaitu:

1. Untuk melindungi tekanan dalam motor dari tekanan di

annulus.

2. Menjaga agar fluida sumur tidak masuk kedalam motor.

3. Tempat duduknya thrust bearing (yang mempunyai bantalan

axial dari jenis marine type) untuk merendam gaya axial yang

ditimbulkan oleh pompa

4. Memberikan ruang untuk pengembangan dan penyusutan

minyak motor sebagai akibat perubahan temperatur dari motor

pada saat bekerja dan saat dimatikan.

Gambar 2.5 Protector di Tempatkan diatas Motor ( 2009 ,Schlumberger, Tinjauan ESP)

3. Intake / Gas Separator

Sebelum memasuki pompa, minyak melalui intake yang

(44)

masuk kedalam pompa. Intake/gas separator dipasang antara

pompa dan protector. Pemakaian intake atau gas separator

tergantung jumlah gas yang masuk ke dalam pompa. Pompa

harus disuplay dengan fluida dalam hal ini berbentuk cairan dan

sedapat mungkin bebas dari gas.

Berdasarkan penggunaanya ada dua jenis intake section

yang umum digunakan,Standar Intake danGas Separator (GS).

Standar intake biasa digunakan jika kandungan gas tidak terlalu

tinggi. Digunakan karena jelas lebih murah operasionalnya dari

pada menggunakan GS. Hal penting yang harus ada pada standar

intake adalah adanya lubang tempat masuk fluida, adanya

saringan atau screenuntuk menyaring partikel-partikel berukuran

besar agar tidak masuk ke pompa, dan adanya terusan shaft dari

motor yang mentransmisikan putaran ke pompa. Ada dua tipe

standar intakeyang umum digunakan, yaitu tipeIntegral Standar

Intake dan tipe Bolt-on Standar Intake. Integral standar intake

biasa digunakan pada pompa berukuran besar, seri 562 keatas.

Gas Separatorharus digunakan jika kandungan gas relative

tinggi karena kalau tidak, keberadaan gas akan menyebabkan

efektifitas kerja pompa berkurang bahkan bisa menyebabkan

pompa kehilangan daya angkat sama sekali sehingga terjadi

under load. Perlu diketahui bahwa GS juga merupakan intake,

(45)

29

dari fluida formasi agar gas tidak ikut masuk ke pompa. Gas hasil

pemisahan biasanya dialirkan ke permukaan melalui annulus

antara tubing dengan separator. Ada dua macam tipe dari Gas

Separator yang umum digunakan, yaitu tipe Aliran Berlawanan

(Reverse Flow type)dan tipe Berputar(Rotary Type).

Gambar 2.6 Rangkaian Gas Separator (2010, Slide,Electric Submersible Pump)

4. Pump Unit

Unit pompa merupakan Multistages Centrifugal Pump,

yang terdiri dari: impeller, diffuser, shaft (tangkai) dan housing

(rumah pompa). Di dalam housing pompa terdapat sejumlah

(46)

diffuser. Jumlah stage yang dipasang pada setiap pompa akan

dikorelasi langsung dengan Head Capacity dari pompa tersebut.

Dalam pemasangannya bisa menggunakan Iebih atau satu

(tandem) tergantung dari Head Capacity yang dibutuhkan untuk

menaikkan fluida dari lubang sumur kepermukaan. Impeller

merupakan bagian yang bergerak, sedangkan diffuser adalah

bagian yang diam. Seluruh stage disusun secara vertikal, dimana

masing-masing stage dipasang tegak lurus pada poros pompa

yang berputar pada housing.

Gambar 2.7 Bagian-bagian dari sebuah Pompa (2010, Slide,Electric Submersible Pump)

Prinsip kerja pompa ini, yaitu fluida yang masuk kedalam

pompa melalui intake yang akan diterima oleh stage paling

bawah dari pompa kemudian impeller akan mendorongnya

masuk, sebagai akibat proses centrifugal, maka fluida tersebut

(47)

31

tenaga kinetis (velocity) fluida akan diubah menjadi tenaga

potensial (tekanan) dan diarahkan ke stage selanjutnya.

5. Check Valve

Check valvebiasanya dipasang pada tubing (2 – 3 joint) di

atas pompa. Bertujuan untuk menjaga fluida tetap berada di atas

pompa. Jika check valve tidak dipasang maka kebocoran fluida

dari tubing (kehilangan fluida) akan melalui pompa yang dapat

menyebabkan aliran balik dari fluida yang naik ke atas, sebab

aliran balik (back flow) tersebut membuat putaran impeller

berbalik arah, dan dapat menyebabkan motor terbakar atau

rusak. Jadi umumnya check valve digunakan agar tubing tetap

terisi penuh dengan fluida sewaktu pompa mati dan mencegah

supaya fluida tidak turun ke bawah.

6. Bleeder Valve

Bleeder valve dipasang satu joint di atas check valve,

mempunyai fungsi mencegah minyak keluar pada saat tubing

dicabut. Fluida akan keluar melaluibleeder valve.

7. Centralizer

Berfungsi untuk menjaga kedudukan pompa agar tidak

bergeser atau selalu di tengah-tengah pada saat pompa beroperasi,

sehingga kerusakan kabel karena gesekan dapat dicegah

(48)

8. PSI Unit

PSI atau Pressure Sensing Instrument adalah suatu alat

yang mencatat tekanan dan temperatur dalam sumur. Secara

umum PSI Unit mempunyai 2 komponen pokok, yaitu:

1. PSIDown Hole Unit

Dipasang di bawah motor Type Upper atau Center Tandem,

karena alat ini dihubungkan dari Electric Motor yang

seolah-olah merupakan bagian dari motor tesebut

2. PSISurface Readout

Merupakan bagian dari system yang mengontrol kerja Down

Hole Unit serta menampakkan (Display) informasi yang

diambil dariDown HoleUnit.

9. Electric Cable

Cablemerupakan komponen penting dalam menyalurkan

arus listrik dari permukaan ke pompa di dasar sumur. Untuk ESP

dibuat dari tembaga dan alumunium, kabel Al lebih murah dan

tahan korosi, tetapi lebih mudah patah dan sukar disambung

kembali. Bentuknya ada 2 macam yaitu bulat dan flat. Yang bulat

diletakkan pada tubing sedangkan yang flat untuk sekitar pompa

danprotectorkearah motornya.

Kabel yang digunakan harus berdiameter kecil, tahanan

listrik sedikit, tahan karat, dan bisa digulung. Dalam pemilihan

(49)

33

1000 ft. Kabel dengan bungkus polyethylene mempunyai

toleransi temperature sampai 130 F, polypropylene dengan armor

sampai 180 F, dan EPR lead sheath sampai 250 F. Kabel standar

didesain untuk maksimum temperatur 167 F dan 10 tahun masa

pakai.

(50)

2.5. Alasan Penggunaan ESP

Berikut beberapa alasan metodeElectric Submersibe Pump(ESP)

digunakan:

1. Jenis pompa ini dapat digunakan pada sumur-sumur yang relatif dalam

dengan laju produksi dari 200 BFPD sampai 60.000 BFPD.

2. Electrical submersible pump cocok digunakan untuk sumur dengan

kedalaman hingga 15000 ft.

3. Gas Oil Rate(GOR) yang rendah.

4. Panas yang dimiliki electrik motor dapat menurunkan viskositas

produksi fluida, dimana dapat mencairkan fluida dari sifat parafin.

5. Dapat digunakan sebagai sumur injeksi dengan membalikan arah putaran

dariimpeller.

6. Jenis pompa ini cocok untuk dipasang pada kondisi temperatur tinggi

hingga 250oF.

7. Dapat digunakan untuk sumur berarah (directional well) dengan

memasangcentralizer.

8. Dapat digunakan pada sumur korosif dengan syarat memasangResistant

(51)

35

2.6.

ProblempadaElectrical Sumbersibel Pump 1. Problem pasir

Untuk sumur-sumur yang memproduksi dari lapisan batuan pasir

yang kurang kompak (sementasinya kurang baik), rateyang terlalu besar

akan menyebabkan batuan tererosi sehingga problem pasir mungkin

timbul.

2. Water coning

Bila reservoirnya water drive, rate yang berlebihan bisa

menyebabkan terjadinya water coning. ESP memungkinkan rate yang

besar dengan memasang pompa yang besar.

3. Cavitationdangas lock

Bila reservoirnya solution gas drive, rate yang kebesaran akan

menghasilkan Pwf turun mencapai bubble point. Bila tidak dipasang gas

separator yang sesuai bisa timbul cavitasi ataugas lock.Cavitasi timbul

bila gas timbul di dalam impeller dan menyebabkan vibrasi yang akan

merusak bearing. Bila gas nya dalam jumlah besar akan timbul gas lock

yang akan memblock aliran.

4. Dynamic fluid leveldekat dengan kedalaman pompa

Pada rate besar dynamic fluid level akan turun terus sehingga

bisa sampai dekat pump intake dan pompa kemasukan gas

(52)

5. Pendinginan motor

Pendinginan motor dari luar dilakukan oleh aliran produksi

melewati dinding luar motor. Agar pendinginan sempurna maka

kecepatan aliran melewati motor harus paling rendah 1 ft/sec.

6. Perubahan-perubahan fluida reservoir

a. Sg berubah bila water cut berubah. Perubahan sg akan berakibat

perubahan HP yang diperlukan sehingga merubah ampere.

b. Viscositas berubah bila temperature turun atau karena gas sudah

meninggalkan cairan, juga bisa terjadi karena adanya emulsi. Naiknya

viscosity akan menaikkan friction loss dan berakibat naiknya

discharge head. Naiknya discharge head akan menaikkan HP dan

ampere.

Terbentuknya endapan scale atau paraffin. Perubahan

temperatur dan pressure di reservoir bisa mengakibatkan endapan

scale atau paraffin.

2.7. Metode DesainElectric Submersible Pump

1. Melengkapi data-data yang diperlukan yaitu data komplesi, data

produksi, data reservoir dan fluida.

2. Membuat kurva IPR berdasarkan harga Pwf asumsi dengan harga Q

fluida.

3. MenentukanSpesific Gravity Mixdan Gradien Fluida

(53)

37

Gradien fluida = 0,433 x SG mix...(2.23)

Keterangan :

WC = Water Cut

SG oil = Spesific Gravity Oil

SG water = Spesific Gravity Water

SG mix = Spesific Gravity Mixing

4. MenentukanStatic Fluid LeveldanDynamic Fluid Level

Penentuan static fluid level dan dynamic fluid level digunakan

untuk mengetahui kolom tinggi fluida atau fluid level dalam sumur pada

saat sumur mati dan tekenan reservoir turun (SFL) dan pada saat sumur

mengalir dan mencapai titik setabil (DFL). Pada saat nilai SFL bernilai

(-) maka berarti tinggi fluida berada di surface dan untuk perhitungan

penempatan Pump Setting Depth menggunakan harga DFL dengan

perkiraan PSD berada 800 ft dari nilai DFL yang diketahui

(submargenc).

SFL = Dmid perfo - ...(2.24)

DFL = Dmid perfo - ...(2.25)

Keterangan :

SFL = Static Fluid Level

Ps = Static Pressure

GF = Gradien Fluid

(54)

DFL = Dynamic Fluid Level

5. MenentukanPump Setting Depth

PSD = DFL + 800...(2.26)

Keterangan :

PSD = Pump Setting Depth

6. MenentukanTotal Dynamic Head

Total dynamic head adalah usaha yang dilakukan pompa pada

cairan untuk mengangkat dari satu level ke level lainnya yang di

nyatakan dalam head. Total dynamic head dapat diketahui dengan cara

mencari tahu vertical lift, friction loss dan system pressure terlebih

dahulu lalu ketiga item tersebut dikonversi satuannya dari PSI menjadi

feet. jumlah keseluruhan dari ketiga item tersebut ialah total dynamic

head. Perhitungan TDH pada laju alir 2800 bfpd terhadap tekanan alir

bawah permukaan 1093 psi ialah:

a. Vertical Lift(HD)

Vertical Liftadalah jarak yang harus di tempuh antara dynamic fluid

levelsampai ke permukaan. Dalam menentukan vertical lift langkah

pertama adalah mengetahuifluid over pump:

Fluid over pump = ... (2.27)

Setelah mengetahui ketinggian fluida di atas pompa, barulah bisa

mengetahuiVertical Liftdengan persamaan:

(55)

39

b. Head Friction (HF)

Head Frictionadalah kehilangan sebagian tenaga disepanjang tubing

antara pompa sampai ke permukaan akibat friksi aliran di dalam

tubing. Sebelum menentukan head friction, terlebih dahulu

menghitungfriction lossdengan menggunakan persamaan:

Friction loss =

Setelah mengetahui hasil kehilangan tenaga dalam setiap 1000 ft

pada tubing yang terpasang, maka bisa dapatkan hasil head friction

dengan persamaan:

Head Friction = F x PSD... (2.30)

Keterangan :

PIP = Pump Intake Pressure

FOP = Fluid Over Pump

C = Constanta Tubing

F = Friction Loss

c. Wellhead Tubing Head (HT)

Wellhead Tubing Head merupakan jarak yang di akibatkan karena

adanya tekanan tubing. Menentukan Wellhead Tubing Head (HT)

menggunakan persamaan sebagai berikut:

Well head tubing head =Pwh

GF...(2.31)

(56)

7. Menentukan jenis Pompa dan Perhitungan JumlahStage

Berdasarkan nilai Total Dynamic Head yang sudah di tentukan

maka selanjutnya adalah menentukan jenis pompa yang paling efisiensi

berdasarkan test pabrik dengan air tawar. Penyajiannya secara grafis dari

hasil test tersebut dibuat grafik karakteristik (performance curve). Pada

grafik ini akan digambarkan head yang dihasilkan, efisiensi pompa,

brake horse powerterhadaprate.

8. Menentukan banyaknya stage yang akan kita gunakan seperti dibawah

ini.

JumlahStage = TotalDynamicHead

Head/Stage ... (2.33)

9. MenentukanHorse PowerYang Dibutuhkan Pompa

Horse power berhubungan dengan berapa tenaga yang kita

butuhkan untuk running pompa yang kita pilih, horse power dapat

ditentukan dengan perhitungan seperti dibawah ini,

(57)

40

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Pelaksanaan tugas akhir ini di lakukan pada tanggal 1 Februari sampai

29 Maret 2016 di PT.Pertamina EP Asset 5 Pulau Bunyu Lapangan Fasilitas

Produksi Bunyu Nibung.

3.2 Teknik Pengumpulan Data

Dalam mendapatkan data-data yang berhubungan dengan objek yang

sedang diteliti, penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai

berikut.

3.2.2 Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan mengadakan

komunikasi secara langsung terhadap pembimbing lapangan dan para

pegawai di PT.Pertamina EP Asset 5 Lapangan Produksi Bunyu yang

berwenang memberikan data-data yang di butuhkan dalam pembuatan

laporan tugas akhir, serta membandingkan data yang di dapat selama

perkuliahan dengan data yang ada di lapangan. Penulis melakukan metode ini

sejak hari pertama melakukan tugas akhir di PT Pertamina EP Asset 5

Lapangan Produksi Bunyu, wawancara ini di lakukan kepada

operator-operator yang bertugas mengoperasikan sumur Electrical Submersible Pump

(58)

alat yang menunjang kegiatan produksi pada lapangan produksi bunyu. Hal

yang sama penulis lakukan juga kepada pembimbing lapangan dimana yang

di jelaskan adalah pengaruh desain pompaElectrcial Subemrsible pump pada

produksi.

3.2.3 Pengumpulan Data Tertulis

Dilakukan dengan mempelajari literature serta segala sesuatu yang ada

kaitannya dengan objek yang sedang di teliti dan dapat menunjang pembuatan

laporan tugas akhir ini sehingga dapat mempertegas teori dari keperluan

analisa mendapatkan data yang benar. Sehingga penulis dapat mengetahui

secara pasti dan jelas mengenai permasalahan yang ada kemudian dapat di

cari solusi pemecahannya. Dalam metode ini penulis melakukannya dengan

cara membaca katalog pompa Electrical Submersible Pump yang di gunakan

di fasilitas produksi tersebut, katalog tersebut di gunakan untuk mengetahui

spesifikasi yang tepat untuk di gunakan pada masing-masing sumur produksi

lapangan bunyu agar tidak mengalami kendala ketika sedang melakukan

proses produksi pada lapangan bunyu.

3.2.4 Pengambilan Dokumentasi

Pengambilan dokumentasi merupakan teknik pengambilan data secara

langsung berupa gambar yang dilakukan oleh penulis dengan mengambil foto

objek yang sedang di teliti. Metode ini di lakukan dengan maksud untuk

sebagai bahan laporan yang penulis kerjakan. Proses dokumentasi melalui

foto harus di lakukan dengan izin terlebih dahulu kepada Safety Officer

(59)

42

Pemilihan Jenis Pompa ESP

(60)

43

BAB IV

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

4.1. Sejarah PT. PERTAMINA EP

Pertamina adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki

Pemerintah Indonesia (National Oil Company), yang berdiri sejak tanggal

10 Desember 1957 dengan nama PT PERMINA. Pada tahun 1961

perusahaan ini berganti nama menjadi PN PERMINA dan setelah merger

dengan PN PERTAMIN di tahun 1968 namanya berubah menjadi PN

PERTAMINA. Dengan bergulirnya Undang Undang No. 8 Tahun 1971

sebutan perusahaan menjadi PERTAMINA. Sebutan ini tetap dipakai

setelah PERTAMINA berubah status hukumnya menjadi PT PERTAMINA

(PERSERO) pada tanggal 17 September 2003 berdasarkan Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2001 pada tanggal 23 November 2001

tentang Minyak dan Gas Bumi.

PT PERTAMINA (PERSERO) didirikan berdasarkan akta Notaris

Lenny Janis Ishak, SH No. 20 tanggal 17 September 2003, dan disahkan

oleh Menteri Hukum & HAM melalui Surat Keputusan No. C-24025

HT.01.01 pada tanggal 09 Oktober 2003. Pendirian Perusahaan ini

dilakukan menurut ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam

Undang-Undang No. 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, Peraturan Pemerintah

(61)

44

Pemerintah No. 45 tahun 2001 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah

No. 12 tahun 1998 dan peralihannya berdasarkan PP No.31 Tahun 2003

"TENTANG PENGALIHAN BENTUK PERUSAHAAN

PERTAMBANGAN MINYAK DAN GAS BUMI NEGARA

(PERTAMINA) MENJADI PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO)".

Sesuai akta pendiriannya, Maksud dari Perusahaan Perseroan adalah

untuk menyelenggarakan usaha di bidang minyak dan gas bumi, baik di

dalam maupun di luar negeri serta kegiatan usaha lain yang terkait atau

menunjang kegiatan usaha di bidang minyak dan gas bumi tersebut.

Adapun tujuan dari Perusahaan Perseroan adalah untuk:

A. Mengusahakan keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan Perseroan

secara efektif dan efisien.

B. Memberikan kontribusi dalam meningkatkan kegiatan ekonomi untuk

kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, Perseroan

melaksanakan kegiatan usaha sebagai berikut:

A. Menyelenggarakan usaha di bidang minyak dan gas bumi beserta hasil

olahan dan turunannya.

B. Menyelenggarakan kegiatan usaha di bidang panas bumi yang ada pada

saat pendiriannya, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi

(PLTP) yang telah mencapai tahap akhir negosiasi dan berhasil menjadi

(62)

C. Melaksanakan pengusahaan dan pemasaran Liquified Natural Gas

(LNG) dan produk lain yang dihasilkan dari kilang LNG.

D. Menyelenggarakan kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang

kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam nomor 1, 2, dan 3.

Sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang MIGAS baru,

Pertamina tidak lagi menjadi satu-satunya perusahaan yang memonopoli

industri MIGAS dimana kegiatan usaha minyak dan gas bumi diserahkan

kepada mekanisme pasar.

Gambar 4.1 Logo Pertamina

(Sumber www.pertaminaep.co.id)

Logo PT.Pertamina merupakan elemenyang membentuk huruf “P”

yang secara keseluruhan merupakan representasi bentuk panah yang terdiri

dari 3 warna. Semua itu mempunyai arti, yaitu :

Panah: Dimaksud bahwa PT.Pertamina yang bergerak maju dan progesif

Biru : Berani, handal dan dapat dipercaya serta tanggung jawab

Hijau : Mencerminkan sumber daya energi berwawasan lingkungan

(63)

46

4.2. Visi dan Misi PT. Pertamina EP

1. Visi

Menjadi Perusahaan Minyak Nasional Kelas Dunia

2. Misi

Menjalankan usaha inti minyak, gas, dan bahan bakar nabati

secara terintegrasi, berdasarkan prinsip-prinsip komersial yang kuat

3. Tata Nilai

a. Clean(Bersih)

Dikelola secara profesional, menghindari benturan kepentingan,

tidak menoleransi suap, menjunjung tinggi kepercayaan dan

integritas. Berpedoman pada asas-asas tata kelola korporasi yang

baik.

b. Competitive(Kompetitif)

Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional,

mendorong pertumbuhan melalui investasi, membangun budaya

sadar biaya dan menghargai kinerja

c. Confident(Percaya Diri)

Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional, menjadi pelopor

dalam reformasi BUMN, dan membangun kebanggaan bangsa

d. Customer Focused(Fokus Pada Pelanggan)

Beorientasi pada kepentingan pelanggan, dan berkomitmen untuk

(64)

e. Commercial(Komersial)

Menciptakan nilai tambah dengan orientasi komersial, mengambil

keputusan berdasarkan prinsip-prinsip bisnis yang sehat.

f. Capable(Berkemampuan)

Dikelola oleh pemimpin dan pekerja yang profesional dan

memiliki talenta dan penguasaan teknis tinggi, berkomitmen

dalam membangun kemampuan riset dan pengembangan.

4.3. Profil Perusahaan PT PERTAMINA EP BUNYU FIELD

PT Pertamina EP adalah perusahaan yang menyelenggarakan

kegiatan usaha di sektor hulu bidang minyak dan gas bumi, meliputi

eksplorasi dan eksploitasi. Di samping itu, Pertamina EP juga melaksanakan

kegiatan usaha penunjang lain yang secara langsung maupun tidak langsung

mendukung bidang kegiatan usaha utama. Saat ini tingkat produksi

Pertamina EP adalah sekitar 127.635 BOPD untuk minyak dan sekitar 1.054

million standard cubic feet per day(MMSCFD) untuk gas.

Wilayah Kerja (WK) Pertamina EP seluas 113,613.90 kilometer

persegi merupakan limpahan dari sebagian besar Wilayah Kuasa

Pertambangan Migas PT PERTAMINA (PERSERO). Pola pengelolaan

usaha WK seluas itu dilakukan dengan cara dioperasikan sendiri (own

operation) dan kerja sama dalam bentuk kemitraan, yakni 4 proyek

pengembangan migas, 7 area unitisasi dan 52 area kontrak kerjasama

(65)

48

kontrak Kerja Sama Operasi (KSO). Jika dilihat dari rentang geografinya,

Pertamina EP beroperasi hampir di seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang

sampai Merauke.

WK Pertamina EP terbagi ke dalam lima asset. Operasi kelima asset

terbagi ke dalam 19 Field, yakni Rantau, Pangkalan Susu, Lirik, Jambi, dan

Ramba di Asset 1, Prabumulih, Pendopo, Limau dan Adera di Asset 2 ,

Subang, Jatibarang dan Tambun di Asset 3, Cepu di Asset 4 serta Sangatta,

Bunyu, Tanjung, SangaSanga, Tarakan dan Papua di Asset 5.

Di samping pengelolaan WK tersebut di atas, pola pengusahaan

usaha yang lain adalah dengan model pengelolaan melalui proyek-proyek,

antara lain Pondok Makmur Development Project di Jawa Barat, Paku

Gajah Development Project di Sumatera Selatan, Jawa Gas Development

Project di Jawa Tengah, dan Matindok Gas Development Project di

(66)

4.4. Visi dan Misi PT. Pertamina EP Asset 5 Bunyu Field

a. Visi

Menjadi Pertamina EP Kelas Dunia

b. Misi

Melaksanakan pengusahaan sektor hulu minyak dan gas dengan

berwawasan lingkungan, sehat dan mengutamakan keselamatan serta

keunggulan yang memberikan nilai tambah bagi pemangku kepentingan

(Establish Green. Healthy, Save and Excellence Oil and Gas Upstream

Bussiness That Provides Added Values To Stakeholder).

4.5. Letak geografis

Lapangan Bunyu pertama kali dioperasikan oleh Bataafssche

Petroleum Maatchappi(BPM) pada 1901 dan pada tahun 1993 dioperasikan

oleh PT Ustraindo, kemudian diambil alih kembali oleh Pertamina dan

dioperasikan hingga sekarang dibawah PT Pertamina EP Asset 5.

Pertamina EP mengelola Wilayah Kerja di Lapangan Bunyu seluas

187.5 km2 yang terletak di Provinsi Kalimantan Timur untuk dieksplorasi

dan diproduksikan. Keadaan geografis Pulau Bunyu adalah berbukit-bukit

dan sebagian besar tanahnya berupa tanah pasir serta terdapat singkapan

batu bara. Blok Lapangan Bunyu secara geologi termasuk ke dalam

Sub-Cekungan Tarakan yang merupakan bagian dari Sub-Cekungan Tarakan, dan

mayoritas lapisan penghasil hidrokarbon di Lapangan Bunyu berasal dari

(67)

50

Gambar 4.1 Peta Lokasi Pulau Bunyu

Pulau Bunyu memiliki luas sekitar 187,5 km2 dengan produksi

minyak ratarata 8688 BOPD dan produksi gas sekitar 9978 mmscf /d (data

produksi November-Desember 2014). Formasi stratigrafi di pulau ini yaitu

Meliat, Tabul, Santul, Tarakan, dan Bunyu, formasi batu pasir yang

didistribusikan ke 150 lapisan dan disimpan di daerah delta. Untuk

karakteristik pembentukannya yaitu:

1. Tebal (h) = 1- 46 m

2. Porositas = 25 %

3. Permeabilitas (k) = 73400 mD.

Sumur minyak di pulau Bunyu ini memliki kedalaman rata rata

2000- 3000 meter dan prospek minyak kemungkinan berada pada

kedalaman 800 1500 meter, sementara prospek gas berada pada

kedalaman 1500 meter. Field Bunyu mempunyai daerah kerja meliputi

(68)

4.6. Stratigrafi Regional subCekungan Tarakan

Pada Formasi Tarakan dijumpai pasir, serpih, batupasir dan

perselingan batubara di sistem delta Pliosen. Di sub-Cekungan Tarakan,

formasi ini sebagai endapan muka delta dan dataran delta (Achmad dan Samuel, 1984). Pada Formasi Tarakan di subCekungan Tarakan telah dilakukan penelitian secara regional dan telah dinamakan sebagai sekuen II.

Pada sekuen II yang identik dengan Formasi Tarakan dibagi lagi menjadi

tiga sub-sekuen yaitu: II-A, II-B dan II-C(Noon, dkk. 2003).

Pada sub-sekuen IIC umur Pliosen Awal dialasi oleh bidang

ketidakselarasan regional dengan lapisan sedimen berprospek sebagai

batuan reservoir pada fasieslowstanddi laut- dalam pada bagian timur

Sub-Cekungan Tarakan. Kemenerusan lapisan sedimen berlanjut sampai

laut-dalam yang berpotensi menjadi reservoir sebagai endapan kanal intra-slope

dan tanggul kanal (Darman, 2001). Sub-sekuen IIB, di bagian bawahnya merupakan batas sekuen regresi. Secara litologi di Sub-Cekungan Tarakan,

sub-sekuen ini mirip dengan sub-sekuen IIC(Noon, dkk. 2003). Untuk sub-sekuen IIA, batas bawahnya sulit dibedakan dari penampang seismik,

namun hanya bisa dibedakan dari data sumur.

Formasi Bunyu yang menumpang secara tidak selaras diatas Formasi

(69)

52

1. Formasi Tarakan

Formasi Tarakan memiliki kontak erosional dengan Formasi Santul

dibawahnya dan dicirikan oleh perselingan batupasir, batulempung dan

batubara. Batupasir umumnya berbutir sedang sampai kasar,

kadang-kadang konglomeratan, lanauan atau lempungan. Batubara

berkembang tebal hingga 10-16 ft atau lebih. Berdasarkan data

palinologi, Formasi Tarakan berumur Pliosen dengan lingkungan

pengendapan supralitoral sampai litoral.

2. Formasi Domaring

Di sebelah selatan formasi ini berkembang dalam Sub-cekungan Muara

dan Sub-cekungan Berau sebagai Formasi Sajau yang berangsur

berubah menjadi batugamping. Formasi ini kemudian disebut sebagai

Formasi Domaring yang berkembang di cekungan selatan bagian barat.

Formasi Domaring terdiri dari platform batugamping yang semakin ke

arah timur, berubah menjadi napal dan serpih dari fasies neritik luar.

3. Formasi Bunyu

Sedimen siklus-5 diwakili oleh Formasi Bunyu yang menumpang

secara tidak selaras diatas Formasi Tarakan berumur Pleistosen/Kwarter

berdasarkan data palinologi dalam lingkungan delta plain-Fluviatil.

Litologi terdiri dari batupasi yang tebal yang berukuran sedang hingga

kasar dan kadang bersifat konglomeratan, dengan interbeded serpih dan

(70)

Batupasir Formasi Bunyu umumnya lebih tebal, lebih kasar dan kurang

(71)

54

BAB V

ANALISA

5.1 Data Sumur“M-150”

Untuk mendesain Electrical Submersible Pump pada sumur yang

di tentukan maka diperlukan data yang berhubungan dengan perhitungan

perencanaan Electrical Submersible Pump. Data yang dibutuhkan dalam

menganalisa sumur “M-150” adalah data profil sumur, data produksi

sumur, data fluida dan batuan reservoir, serta data pompa Electrical

Submersible Pump terpasang pada sumur“M-150”. Berikutdisajikan data

Gambar

Grafik 2.1 Kurva IPR satu fasa
Grafik 2.2 Kurva IPR dua Fasa
Tabel 2.1 Konstanta Cn unntuk masing-masing An
Gambar 2.1 Susunan Peralatan Electrical submersible pump
+7

Referensi

Dokumen terkait