• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH AGAMA HUKUM MENINGGALKAN SHALAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH AGAMA HUKUM MENINGGALKAN SHALAT"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH AGAMA

HUKUM MENINGGALKAN SHALAT 5

WAKTU

GINA AFRA ARDELIA

214017

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Ibadah SHALAT merupakan ibadah yang paling besar dalam mendekatkan para ’abid (hamba) kepadaMa’budnya (Allah), dan seteguh shalih (pertumbuhan) yang menghubungkan makhluk manusia dengan Khalid-nya, namun keadaan sekarang di lingkungan kita ini pemahaman mengenai kedudukan SHALAT semakin memudar masa demi masa. Sikap dan perilaku orang yang mengaku beragama Islam terhadap SHALAT amat beragam. Ada yang SHALAT, ada yang tidak SHALAT, ada pula yang kadang-kadang SHALAT, dan tanpa merasa berdosa tidak mengerjakan SHALAT. Sekarang kita dapat menerawang diri kita berada di posisi manah sebenarnya, apakah kita komitmen akan SHALAT kita ataukah kita menganggap SHALAT itu ritual formalitas belaka. Dari hal tersebut kita juga dapat menilai orang-orang yang berada di sekitar kita, apakah mereka komitmen sama dengan kita ataukah sama saja menganggap SHALAT adalah ritual formalitas saja.

Allah Ta’ala telah mengancam kepada orang yang meninggalkan SHALAT, bahkan Rasulullah Sallallahi’laihi wa Sallam menggolongkannya termaksud ke dalam orang yang kufur, sebagaimana Sabda beliau “Sesungguhnya pembeda antara seorang Muslim dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan SSHALAT”. Orang yang meninggalkan SHALAT itu mempunyai dua kemungkinan: Pertama, mungkin ia meninggalkan SHALAT karena menolak kewajibannya atau mengingkarinya. Kedua, mungkin orang itu meninggalkan SHALAT karena enggan dan malas mengerjakannya sementara ia masih mengakui kewajiban SHALAT itu baginya.

(3)

memperbaiki kekeliruan kita terhadap kedudukan SHALAT selama ini. Sebagaimana hal yang dapat membentuk pola perilaku kehidupan kita melalui pergaulan itu sendiri. Termaksud halnya dengan pergaulan yang membengkok, pergaulan yang salah tersebut dapat menjerumuskan siapa saja dalam kezaliman.

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN SHALAT

Secara bahasa SHALAT bermakna do’a, sedangkan secara istilah, SHALAT merupakan suatu ibadah wajib yang terdiri dari ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam dengan rukun dan persyaratan tertentu.

Menurut hakekatnya, SHALAT ialah menghadapkan jiwa kepada Allah SWT, yang bisa melahirkan rasa takut kepada Allah & bisa membangkitkan kesadaran yang dalam pada setiap jiwa terhadap kebesaran & kekuasaan Allah SWT.

Menurut Ash Shiddieqy, SHALAT ialah menggambarkan rukhus shalat atau jiwa shalat; yakni berharap kepada Allah dengan sepenuh hati dan jiwa raga, dengan segala kekhusyu’an dihadapan Allah dan ikhlas yang disertai dengan hati yang selalu berzikir, berdo’a & memujiNya.

(4)

SHALAT memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Dengan SHALAT kita menghambakan diri kita sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun kedudukan yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1. SHALAT sangat ditekankan dalam Islam

Merupakan kewajiban yang paling ditekankan dan paling utama setelah dua kalimat Syahadat, serta merupakan salah satu Rukun Islam. Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah MuhammadSallallahi Alaihi wa Sallam berSabda:

”Agama Islam itu dibangun atas lima perkara yaitu: Persaksian bahwasanya tidak ada Illah yang haq kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan SHALAT, membayar Zakat, Shaum Ramadhan dan Haji”.

Perlu juga kita pahami bahwa kewajiban melaksanakan SHALAT sangat berkaitan erat dengan Amalan di dalam Islam lainnya dimana bila seorang tersebut giat berpuasa, ringan dalam berinfaq, bahkan sering berhaji namun ia tak melaksanakan SHALAT maka Amalan yang ia kerjakan tersebut secara tidak langsung maka akan tertolak karena ia tidak melaksanakan hal pokon atau wajib sebelum melaksanakan yang ditekankan dalam beramal yaitu SHALAT.

2. Allah Sebhanahu wa Ta’ala mengancam orang-orang yang meninggalkan SHALAT

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengemukakan ancaman berat terhadap orang yang meninggalkan SHALAT. Rasulullah Sallahi’alaihi wa Sallam telah menjelaskan ancaman tersebut dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

(5)

Rasulullah Sallahi’alaihi wa Sallam bahkan menggolongkan mereka termasuk ke dalam perbuatan Kufur, sebagaimana Sabda beliau:

”Sesungguhnya pembeda antara seorang Muslim dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan SHALAT”

3. SHALAT adalah tiang agama Islam

SHALAT merupakan tiang agama Islam dan ia tidak akan tegak kecuali dengan SHALAT sebagaimana Sabda Rasulullah Shallahi’alaihi wa Sallam: ”Pokok perkara itu adalah Islam, tiangnya adalah SHALAT dan adapun puncak ketinggiannya adalah Jihad di jalan Allah Ta’ala”.

4. Tidak SHALAT menyebabkan Amal kebajikan ditolak

Meninggalkan SHALAT dapat berakibat sangat fatal bagi Amalan kita yang lain, dengan tidak mengerjakan SHALAT maka tidak diterima Amalan kita satupun sebagaimana tidak diterimanya sesuatu karena ada Syirik. Dipembahasan sebelumnya kita juga telah mengetahui bahwa SHALAT adalah Imadul Islam, tiang Islam. Tidak melaksanakan SHALAT pada satu waktu atau beberapa waktu, akan menggugurkan semua Amal ibadah yang lain yang dilakukan pada waktu itu atau menyebabkan ditolaknya semua amal kebajikan yang dikerjakan dalam waktu itu.

Apabila seseorang meninggalkan SHALAT Ashar pada suatu hari, ditolaklah (tidaklah dipahalai) segala kebajikan yang dikerjakan pada hari itu. Al- Bukhari meriwayatkan, bahwa Abu Malih mengatakan,

(6)

C.

AKIBAT BURUK MENINGGALKAN SHALAT

Kecelakaanlah bagi mereka yang meninggalkan Salat. Keburukan-keburukan akan ia peroleh dari kesombongannya itu, murka Allah Subhanahu wa Ta’ala tak henti-hentinya menghujam dirinya sekarang walau ia tak menyadarinya secara langsung.

Ada beberapa penjelasan dari akibat buruk meninggalkan Salat yang di antaranya sebagai berikut:

1. Hukum meninggalkan Salat Fardhu

Mengenai hukum meninggalkan Salat Fardhu, Rasulullah Shallahi’alaihi wa Sallam telah mengingatkan kepada kita melalui Sabdanya,

”Antara seorang Islam dan kekafiran ialah meninggalkan Salat.” (HR. Ahmad dan Muslim dari Jabir, At- Targhib I:342)

”Urusan yang memisahkan antara kita (para Muslimin) dengan mereka (orang kafir) itu, ialah Salat. Maka barangsiapa meninggalkannya, sungguh ia telah menjadi kafir.” (HR. Ahmad dan Daud dari Buraidah, At Targhib I: 342)

(7)

2. Orang yang meninggalkan Salat karena malas dan enggan tetapi ia tidak

mengingkari kewajibannya.

Tidak ada perbedaan di tengah-tengah kaum Muslimin, bahwa orang yang meninggalkan Salat wajib dengan sengaja (tidak karena Udzur Syar’i) merupakan dosa besar, bahkan dosa terbesar daripada dosa membunuh, mengambil harta orang lain, dosa berzina, mencuri dan minum Khamr. Dan orang itu berhak mendapatkan hukuman dari Allat Subhanahu wa Ta’ala, kebencian-Nya, serta mendapatkan kerendahan dan kehinaan di dunia dan di akhirat.

3. Keburukan menunda Salat dari waktunya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,

”Maka mereka tinggalkan di belakang mereka sesuatu yang menyia-nyiakanm Salat dan mengikuti Syahwat, mereka akan menjumpai Ghaiy (mala petaka).” (QS. Maryam 19 : 59)

Ibnu Mas’ud mengatakan, dimaksud dengan menyia-nyiakan Salat ialah menunda Salat dari waktunya, seperti mengerjakan Salat Dhuhur setelah tiba waktu Ashar, mengerjakan Ashar setelah tiba waktu Magrib. Orang seperti itu, kelak akan masuk ke dalam Ghaiy yaitu suatu alur di dalam neraka Jahannam. Barangsiapa Salat tidak dalam waktunya lagi karena memudah-mudahkan, karena harta atau anak, atau karena suatu urusan, maka orang tersebut termaksuk dalam golongan orang-orang yang rugi sebagaimana termaktum pada QS. Al- Munafiqun ayat ke-69.

BAB III

(8)

A. KESIMPULAN

Sebagai kesimpulan bahwa kita sebagai Muslim yang taat beragama hendahnya kita menjaga Salat-salat kita dan tak lupa tentunya menambahnya dengan Salat-salat lain yang disunnatkan oleh Nabi kita MuhammadShallallahi’alaihi wa Sallam. Ketahuilah, salah satu hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan karunia-Nya atas hamba-hamba-Nya adalah Dia mensyariatkan kepada mereka beberapa Amalan Sunnat untuk menutupi kekurangan Salat-salat Fardhu dan untuk mengangkat derajar mereka.

Ada banyak sekali kedudukan Salat dalam Islam yang mesti kita ketahui termaksud yang sempat kami sebutkan di atas yang mungkin hanya sedikit sekali namun yang perlu kami tekankan kembali bahwa Salat adalah Ibadah yang paling ditekankan dalam agama kita, selain hal tersebut kami juga telah menerangkan bahwa AllahTa’ala secara tegas mengancam siapa saja yang tidak mendirikan Salat, olehnya itu marilah kita memprioritaskan Salat itu dari kegiatan-kegiatan kita yang lain agar kita kelak tidak merugi.

Referensi

Dokumen terkait