• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN KURIKULUM PAI DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERKEMBANGAN KURIKULUM PAI DI INDONESIA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEM BANGAN KURIKULUM PAI DI INDONESIA

Ahmad Dhaifi

Em ail :

[email protected]

Abst ra ct ;

This research st udy exhaust ively regarding ow t h of curriculum in Indonesia. This research aim t o t o know how far grow t h of curriculum in Indonesia st art from pra-independent ing t ill now . This research use book st udy m et hod. Dat a collect ing conduct ed w it h docum ent at ion st udy t echnique. Result of t his research show grow t h of curriculum in Indonesia at educat ion dom ain specially very signifikan, com e up w it h curriculum 2013 (K-13) very orient ing at realizing educat ion w it h charact er, creat ing educat ion w it h vision of local and also creat e educat ion w hich is pure and frat ernize.

Penelit ian ini m em bahas secara m endalam m engenai perkem bangan kurikulum di Indonesia. Penelit ian ini bert ujuan unt uk m enget ahui sejauh m ana perkem bangan kurikulum di Indonesia m ulai dari pra-kem erdekaan sam pai saat ini. Penelit ian ini m enggunakan m et ode kajian pust aka. Pengum pulan dat a dilakukan dengan t eknik st udi dokum ent asi. Hasil penelit ian ini m enunjukkan perkem bangan kurikulum di Indonesia pada ranah pendidikan khususnya sangat signifikan, sam pai pada kurikulum 2013 (K-13) kali ini sangat berorient asi pada m ew ujudkan pendidikan berkarakt er, m encipt akan pendidikan ber w aw asan local sert a m encipt akan pendidikan yang ceria da n bersahabat .

(2)

Pendahuluan

Pendidikan Agam a jika m engacu pada PP. No. 55 t ahun 2007 t ent ang pendidikan

agam a dan keagam aan adalah akt ivit as pendidikan yang m engem bangkan kem am puan

pesert a didik dalam m em aham i, m enghayat i dan m engam alkan nilai -nilai agam a yang

m enyerasikan penget ahuannya dalam IPTEK dan seni (LPFT, 2009:103).

Secara hist oris, sam pai dengan abad XIX pendidikan islam yang berorient asi pada

keagam aan m asih banyak diselenggarakan oleh inst it usi m asjid m aupun pesant ren

(Hanun Asrahah, 1999:71).

Sejarah Kurikulum Pendidikan Agama Islam Pra Kemerdekaan

Pada dasarnya pendidikan agam a Islam sangat t idak diperhat ikan pada m asa ini.

Pendidikan pada prakem erdekaan ini dipengaruhi oleh kolonialism e. Hasilnya bangsa

ini dididik unt uk m engabdi kepada penjajah. Karena, pada saat penjajahan sem ua

bent uk pendidikan dipusat kan unt uk m em bant u dan m endukung kepent ingan

penjajah (Ali Hasan, 2003:47). Pada m ulanya, m ereka t idak pernah t erpikirkan unt uk

m em perhat ikan pendidikan nam un m urni hanya m encari rem pah -rem pah. M eski

dem ikian, bangsa Eropa ini juga m em iliki m isi penyebaran agam a. Karena it u pada

abad ke-16 dan 17, m ereka m endirikan lem baga pendidikan dalam upaya penyebaran

agam a Krist en di Nusant ara. Pendidikan t ersebut t idak hanya diperunt ukkan bagi

m ereka t api juga penduduk pribum i yang beragam a Krist en.

Selanjut nya, pihak penjajah yang m erasakan perlu adanya pegaw ai rendahan

yang dapat m em baca dan m enulis guna m em bant u pengem bangan usaha, khususnya

t anam paksa, m aka dibent uklah lem baga-lem baga pendidikan. Nam un kelas ini m asih

hanya diperunt ukkan unt uk kalangan t erbat as, yait u anak-anak priyai. Konsep ideal

pendidikan kolonialis adalah pendidikan yang m am pu m encet ak para pekerja yang

dapat dipekerjakan oleh penjajah pula. Tujuan pendidikan kolonial t idak t erarah pada

pem bent ukan dan pendidikan orang m uda u nt uk m engabdi pada bangsa dan t anah

airnya sendiri, akan t et api dipakai unt uk m enanam kan nilai-nilai dan norm a-norm a

m asyarakat penjajah agar dapat dit ransfer oleh penduduk pribum i dan m enggiring

(3)

Dari deskripsi diat as dapat disim pulkan bahw a pendidikan agam a Islam pada

m asa Prakem erdekaan sangat t idak diperhat ikan, pendidikan pada prakemerdekaan ini

dipengaruhi oleh kolonialism e yang berpusat pada agam a m ereka (Penjajah), selain it u

dari segi kelas hanya diperunt ukkan unt uk kalangan t erbat as, yait u anak-anak priyai.

Konsep ideal pendidikan kolonialis adalah pendidikan yang m am pu m encet ak para

pekerja yang dapat dipekerjakan oleh penjajah pula. Tujuan pendidikan kolonial t idak

t erarah pada pem bent ukan dan pendidikan orang m uda unt uk m engabdi pada bangsa

dan t anah airnya sendiri, akan t et api dipakai unt uk m enanam kan nilai -nilai dan norm

a-norm a m asyarakat penjajah agar dapat dit ransfer oleh penduduk pribum i dan

m enggiring penduduk pribum i m enjadi budak d ari pem erint ahan kolonial.

Sejarah Kurikulum Pendidikan Agama Islam M asa Orde Lama

Kurikulum pada era Orde Lam a dibagi manjadi 2 kurikulum , di ant aranya:

1. Kurikulum 1947

Oleh karena beberapa sebab, kurikulum ini dalam prakt eknya baru

dilaksanakan pada t ahun 1950. Oleh sebab it u, banyak kalangan

m enyebut kan bahw a perkem bangan kurikulum di Indonesia secara formal

dim ulai t ahun 1950. Keberadaan pendidikan agam a Islam t elah diat ur

pelaksanaannya dalam SKB dua m ent eri (M ent eri PP & K dan M ent eri

Agam a) t ahun 1946.

Kurikulum 1947 ini m asih kent al dengan corak syst em pendidikan

Jepang at aupun Belanda (Sut risno, 2012:63-64). Hal ini t erjadi m ungkin

disebabkan karena Negara ini baru m erdeka. Sehingga, proses pendidikan

lebih dit ekankan unt uk m ew ujudkan m anusia yang cint a Negara, sehingga

m enjadi berdaulat dan t um buh kesadaran berbangsa dan bernegara

2. Kurikulum 1952-1964

Dalam kurikulum ini m uat annya adalah pada pengajaran yang harus

disam paikan pada sisw a, dalam bent uk m at a pelajaran Bahasa Indonesia,

Bahasa Daerah, Ilm u Alam , Ilm u Hayat , Ilm u Bum i, dan sejarah. Sem ent ara

(4)

dalam UUPPP (Undang-Undang Pokok (Pendidikan dan Pengajaran) nom or

4 t ahun 1950. Selanjut nya, m uncul SKB dua m ent eri t ahun 1951 yang

m enegaskan bahw a pendidikan agam a w ajib diselenggarakan di sekolah

-sekolah, m inim al 2 jam perm inggu.

Selain it u, DEPAG juga t elah m engupayakan t erbent uknya kurikulum

agam a di sekolah m aupun pesant ren, akhirnya dibent uklah t im yang

diket uai oleh K.H. Im am Zarkasyi dari Pondok Pesant ren Gont or yang

berhasil m enyusun kurikulum agam a yang kem udian disahkan oleh m ent eri

agam a pada t ahun 1952. Disebut kan bahw a, set elah DEPAG berhasil

m enyusun kurikulum it u, pendidikan agam a m em peroleh porsi 25 % dari

keseluruhan m at a pelajaran yang diajarkan sekolah selam a sem inggu.

Dari pem aparan di at as dapat disim pulkan bahw a Kurikulum 1947 m asih kent al

dengan corak syst em pendidikan Jepang at aupun Belanda, adapun Kurikulum t ahun

1952-1964 diprakarsai oleh DEPAG dengan m em bent uk t im yang diket uai oleh K.H.

Im am Zarkasyi dari Pondok Pesant ren Gont or yang berhasil m enyusun kurikulum

agam a yang kem udian disahkan oleh m ent eri agam a pada t ahun 1952. Disebut kan

bahw a, set elah DEPAG berhasil m enyusun kurikulum it u, pendidikan agam a

m em peroleh porsi 25 % dari keseluruhan m at a pelajaran yang diajarkan sekolah

selam a sem inggu.

Sejarah Kurikulum Pendidikan Agama Islam M asa Orde Baru

Peralihan dari era orde lam a ke era orde baru pada akhirnya t urut berdam pak

pada w ajah pendidikan nasional, bukt inya kurikulum yang berlaku di era orde lam a

juga t urut bergant i, dan t id ak cukup disit u, di era orde baru sendiri kurikulum t elah

m engalam i beberapa perubahan. Dibaw ah ini adalah m odel kurikulum yang

berlangsung selam a era orde baru, ant ara lain:

1. Kurikulum 1968

Boleh dibilang, kurikulum 1968 ini adalah penyem purnaan dari kurik ulum

1964. Sejak kem erdekaan, kurikulum ini m enjadi m odel kurikulum t erint egrasi.

(5)

Hanya saja, pelaksanaan pendidikan agama kebijakannya kurang lebih sama

dengan kurikulum 1964.

2. Kurikulum 1975

Dalam kurikulum ini, orient asi pendidikan adalah unt uk meningkat kan

efekt ifit as dan efisiensi kegiat an belajar mengajar. Di era inilah dikenal ist ilah

sat uan pelajaran yang merupakan rencana pengajaran pada set iap bahasan.

Sement ara t ujuan pendidikan dan pengajaran t erbagi pada t ujuan pendidikan

umum, t ujuan inst it usional, t ujuan kurikuler, t ujuan inst ruksional umum dan

t ujuan inst ruksional khusus.

Pendidikan agama islam dalam kurikulum 1975 mengalami perubahan

cukup signifikan. Adanya SKB 3 ment er i (M ent eri Agama, M ent eri dalam Negeri

dan M ent eri P& K) sert a disusunnya kurikulum madrasah 1975, pendidikan

agama mendapat kan porsi 30%, sement ara pendidikan umum 70%. Sehingga

ijazah madrasah set ingkat dengan ijazah dari sekolah umum, dan murid

madrasah yang ingin pindah ke sekolah umumpun diakui/ diperbolehkan. Kondisi

demikian berbeda dengan masa-masa sebelum kurikulum 1975 ini dit erapkan.

3. Kurikulum 1984

Boleh dibilang, kurikulum 1984 ini adalah menyempurnakan kurikulum

1975. Peran sisw a dalam kurikulum ini menjadi mengamat i sesuat u,

mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. M odel ini disebut Cara

Belajar Sisw a Akt if (CBSA) at au St udent Act ive Leaming (SAL). CBSA

memposisikan guru sebagai fasilit at or, sehingga bent uk kegiat an ceramah t idak

lagi dit emukan dalam kurikulum ini. Pendidikan agama dikuat kan melalui SKB 2

M ent eri (M ent eri P& K dan M ent eri dalam Negeri) yang mempert egas lulusan

madrasah juga bisa juga melanjut kan pendidikannya ke sekolah umum

(M uhyidin, 2012:67).

4. Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999

Kurikulum 1994 merupakan hasil upaya unt uk memadukan kurikulum

-kurikulum sebelumnya, t erut ama -kurikulum 1975 dan 1984. Yang pat ut dicat at

(6)

menegaskan bahw a madrasah adalah lembaga pendidikan yang berciri khas

islam, art inya muat an kurikulum st rukt ur dan konsepnya senafas dengan nilai

-nilai islam. Lebih jauh, dengan UU SISDIKNAS ini, pendidikan agama Islam

akhirnya berjalan sat u paket dengan syst em pendidikan nasional.

Dari pemaparan di at as dapat disimpulkan bahw a pada masa orde baru ini

(Kurikulum t ahun 1968, 1975, 1984, 1994 dan suplemen kurikulum 1999) pendidikan

agama Islam akhirnya berjalan sat u paket dengan syst em pendidikan Nasional .

Sejarah Kurikulum Pendidikan Agam a Islam M asa Reform asi

Sejarah t elah mencat at bahw a bergant inya rezim maka akan berdampak pada

perubahan kebijakan yang berlaku. Era reformasi yang mengedepankan ket erbukaan,

t ransparansi dan akunt abilit as, nyat anya t elah pula berpengaruh pada dunia

pendidikan nasional. Kurikum di era reformasi juga t elah mengalami beberapa

perubaha, diant aranya:

1. Kurikulum KBK

Era reformasi t elah memberikan ruang yang cukup besar bagi perumusan

kebijakan-kebijakan pendidikan baru yang bersifat reformat if dan revolusioner.

Era ini memiliki visi unt uk mew ujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya

saing, maju, sejaht era dalam w adah NKRI (M ulyasa, 2003:3). Sebagai salah sat u

dampak dari laju reformasi adalah dibuat nya sist em Kurikulum Berbasis

Kompet ensi at au yang kerap disebut kurikulum KBK.

M enguat kan hal diat as, pemerint ah kemudian menet apkan UU No 20

t ahun 2003 t ent ang sist em pendidikan nasional menggant ikan UU No 2 t ahun

1989, dan sejak saat it u pendidikan dipahami sebagai: usaha sadar dan

t erencana unt uk mew ujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar

pesert a didik secara akt if mengembangkan pot ensi dirinya unt uk memiliki

kekuat an spirit ual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,

akhlak mulia, sert a ket erampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat , bangsa

dan Negara. . Diant ara karakt erist ik ut ama KBK, yait u:

(7)

b. Kurikulum dapat diperluas, diperdalam, dan disesuaikan dengan pot ensi

sisw a (normal, sedang, dan t inggi).

c. Berpusat pada sisw a.

d. Orient asi pada proses dan hasil.

e. Pendekat an dan met ode yang digunakan beragam dan bersifat

kont ekst ual.

f. Guru bukan sat u-sat unya sumber ilmu penget ahuan.

g. Buku pelajaran bukan sat u -sat unya sumber belajar.

h. Belajar sepanjang hayat ;

i. Belajar menget ahui (learning ho w t o know ),

j. Belajar melakukan (learning how t o do),

k. Belajar menjadi diri sendiri (learning how t o be),

l. Belajar hidup dalam keberagaman (learning how t o live t oget her).

Dalam KBM -nya, pendekat an belajar mengajar lebih pada jenis pendekat an

CTL (Cont ekst ual Teaching and Learning), menyangkut konst rukt uvisme, inkuiri,

bert anya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian ot ent ik.

Dengan dit et apkannya kurikulum 2004 ini, maka berimplikasi langsung

dengan pelaksanaan pendidikan agama islam, akhirnya madrasahpun

menjadikan kompet ensi , sebagai basisnya.

Apapun model dan bent uknya, harus diakui keberadaan kurikulum menjadi

unsur pent ing dalam dunia pendidikan. Tanpa kurikulum, maka sulit rasanya

menerjemahkan dan mew ujudkan t ujuan pendidikan (Suhart o, 2011:125).

2. Kurikulum Tingkat Sat uan Pendidikan (KTSP) at au Kurikulum 2006

Secara umum KTSP t idak jauh berbeda dengan KBK namun perbedaan yang

menonjol t erlet ak pada kew enangan dalam penyusunannya, yait u mengacu pada

desent ralisasi sist em pendidikan. Pemerint ah pusat menet apkan st andar

kompet ensi dan kompet ensi dasar, sedangkan sekolah dit unt ut unt uk mampu

mengembangkan dalam bent uk silabus dan penilaiannya sesuai dengan kondisi

(8)

Kurikulum Tingkat Sat uan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum

operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing sat uan

pendidikan (sekolah/ madrasah). Sedangkan pemerint ah pusat hanya memberi

rambu-rambu yang perlu dirujuk dalam pengembangan kurikulum. Jadi pada

kurikulum ini sekolah sebagai sat uan pendidikan berhak unt uk menyusun dan

membuat silabus pendidikan sesuai dengan kepent ingan sisw a dan kepent ingan

lingkungan. KTSP lebih mendorong pada lokalit as pendidikan.

Selanjut nya, penyelenggaraan pendidikan agama islam di

madrasah/ sekolah, dijabarkan dalam kurikulum agama yang dikeluarkan oleh

KEM ENAG, dan t epat pada bulan M ei 2008 ment eri Agama men andat angani

PERM ENAG no 02 t ahun 2008, menyangkut st andard kompet ensi lulusan dan

st andard isi PAI (Sut risno, 2012:73).

3. Kurikulum 2013

Berikut ini adalah ciri-ciri yang melekat dalam K-13 (Kurikulum 2013,

sebat as yang penulis ket ahui), yait u:

a. M ew ujudkan Pendidikan Berkarakt er

Pendidkan berkarakt er sebenarnya merupakan karakt er dan ciri

pokok kurikulum pendidikan sebelumnya. Dimana dalam kurikulum

t ersebut dit unt ut bagaimana mencet ak pesert a didik yang memiliki

karakt er yang baik, bermoral dan mmemiliki budi pekert i yang baik. Namun

pada implement asi kkurikulum ini masih t erdapat berbagai kekuragan

sehingga menuaiberbagai krit ik. sehingga kurikulum ber basis kompet ensi

ini direvisi guna mencipt akan sist em pendidikan yang berkelanjut an dan

dapat mencerdaskan kehidupan bangsa.

b. M encipt akan Pendidikan Berw aw asan Lokal

Waw asan lokal merupakan sat u hal yang sangat pent ing. Namun

pada kenyat aan yang t erjadi selama ini, pot ensi dan budaya lokal seaan

t erabaikan dan t ergerus oleh t ingginya pengaruh buudaya modern. Budaya

yang cenderung membaw a masyarakat unt uk melupakan cit a-cit a luhur

(9)

mendoronggg bagaimana penanaman budaya lokal dalam pendidikan

dapat dit erapkan. Sist em ini akan dit erapkan dalam konsep sint em

pendidikan kurikulum 2013. Sist em yang dapat lebih mengent alkan budaya

lokal yang selamaa ini dilupakan dan seakan diacuhkan. Olehnya it u dengan

sist em pendidkan kurikulum 2013 diharapkan pilar budaya lokal dapat

kembali menjadi inspirasi dan implement asi dalam kehidupan

bermasyarakat . Dihrapkan budaya lokal dapat menjadi ciri pent ing dan

menjadi raja di negeri sendiri dan t idak punah d it elan zaman.

c. M encipt akan Pendidikan yang Ceria dan Bersahabat

Pendidikan t idak hanya sebagai media pembelajaran. Tet api pada

dasarnya pendidikan merupakan t empat unt uk menggali seluruh pot ensi

dalam diri. Olehnya it u, dengan sist em pendidikan yang dit erapkan pada

kurikulum 2013 nant inya akan diharapkan dapat menggali seluruh pot ensi

diri pesert a didik, baik rest asi akademik maupun non akademik. M aka

dengan begit u pada kurikulum 2013 nant inya akan dit erapkan pendidikan

yang lebih menyenangkan, bersah abat , menarik dan berkompet en.

Sehingga dengan cara t ersebut diharapkan seluruh pot ensi dan kreat ivit as

sert a inovasi pesert a didik dapat t ereksploit asi secara cepat dan t epat .

Kurikulum adalah perangkat yang diberikan oleh suat u lembaga

pendidikan yang berisi rancangan pembelajaran yang akan diberikan

kepada pesert a didik dalam sat u periode jenjang pendidikan M ahmud,

2010:408). Curriculum is t he t ot ally of learning experiences provided t o

st udent so t hat t hey can at t ain general skills and know ledge at t he variet y

learning sit es(George Willis, 2007:11).

Dapat dipahami bahw a kurikulum dimaksudkan unt uk mengarahkan

pendidikan ke arah t ujuan yang t elah dirumuskan sebelumnya. Sebagai

rancangan pendidikan mempunyai kurikulum kedudukan sent ral dalam

sebuah kegiat an pendidikan, menent ukan proses pelaksanaan dan hasil

(10)

usaha mengembangkan pesert a didik sesuai dengan t ujuan yang ingin

dicapai.

Dari pemaparan dit asa dapat disimpulkan bahw a pada masa Reformasi dengan

dit et apkannya kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompet ensi) ini, maka berimplikasi

langsung dengan pelaksanaan pendidikan agama islam, akhirnya madrasahpun

menjadikan kompet ensi , sebagai basisnya.

Adapun Kurikulum Tingkat Sat uan Pendidikan (KTSP) t ahun 2006 merupakan

kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing sat uan

pendidikan (sekolah/ madrasah). Sedangkan pemerint ah pusat hanya memberi rambu

-rambu yang perlu dirujuk dalam pengembangan kurikulum. Jadi pada kurikulum ini

sekolah sebagai sat uan pendidikan berhak unt uk menyusun dan membuat silabus

pendidikan sesuai dengan kepent ingan sisw a dan kepent ingan lingkungan. KTSP lebih

mendorong pada lokalit as pendidikan. Selanjut nya, penyelenggaraan pendidikan

agama islam di madrasah/ sekolah, dijabarkan dalam kurikulum agama yang

dikeluarkan oleh KEM ENAG, dan t epat pada bulan M ei 2008 ment eri Agama

menandat angani PERM ENAG no 02 t ahun 2008, menyangkut st andard kompet ensi

lulusan dan st andard isi PAI.

Sedangkan kurikulum yang t ahun 2013 (K-13) ini berorient asi pada m ew ujudkan

pendidikan berkarakt er , mencipt akan pendidikan berw aw asan local sert a mencipt akan

pendidikan yang ceria dan bersahabat .

Kesim pulan

Set elah melakukan deskripsi diat as dapat dit arik kesimpulan sebagai berikut :

1. Pendidikan agama Islam pada masa Prakemerdekaan sangat t idak

diperhat ikan, pendidikan pada prakemerdekaan ini dipengaruhi oleh

kolonialisme yang berpusat pada agama mereka (Penjajah), selain it u dari

segi kelas hanya diperunt ukkan unt uk kalangan t erbat as, yait u anak-anak

priyai. Konsep ideal pendidikan kolonialis adalah pendidikan yang mampu

mencet ak para pekerja yang dapat dipekerjakan oleh penjajah pula. Tujuan

(11)

muda unt uk mengabdi pada bangsa dan t anah airnya sendiri, akan t et api

dipakai unt uk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma masyarakat

penjajah agar dapat dit ransfer oleh penduduk pribumi dan menggiring

penduduk pribumi menjadi budak dari pemerint ahan kolonial.

2. Kurikulum 1947 masih kent al dengan corak syst em pendidikan Jepang

at aupun Belanda, adapun Kurikulum t ahun 1952 -1964 diprakarsai oleh

DEPAG dengan membent uk t im yang diket uai oleh K.H. Imam Zarkasyi dari

Pondok Pesant ren Gont or yang berhasil menyusun kurikulum agama yang

kemudian disahkan oleh ment eri agama pada t ahun 1952. Disebut kan

bahw a, set elah DEPAG berhasil menyusun kurikulum it u, pendidikan agama

memperoleh porsi 25 % dari keseluruhan mat a pelajaran yang diajarkan

sekolah selama seminggu.

3. Pada masa orde baru ini (Kurikulum t ahun 1968, 1975, 1984, 1994 dan

suplemen kurikulum 1999) pendidikan agama Islam akhirnya berjalan sat u

paket dengan syst em pendidikan Nasional.

4. Pada masa Reformasi dengan dit et apkannya kurikulum 2004 (Kurikulum

Berbasis Kompet ensi) ini, maka berimplikasi langsung dengan pelaksanaan

pendidikan agama islam, akhirnya madrasahpun menjadikan kompet ensi ,

sebagai basisnya.

Adapun Kurikulum Tingkat Sat uan Pendidikan (KTSP) t ahun 2006 merupakan

kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing sat uan

pendidikan (sekolah/ madrasah). Sedangkan pemerint ah pusat hanya memberi rambu

-rambu yang perlu dirujuk dalam pengembangan kurikulum. Jadi pada kurikulum ini

sekolah sebagai sat uan pendidikan berhak unt uk menyusun dan membuat silabus

pendidikan sesuai dengan kepent ingan sisw a dan kepent ingan lingkungan. KTSP lebih

mendorong pada lokalit as pendidikan. Selanjut nya, penyelenggaraan pendidikan

agama islam di madrasah/ sekolah, dijabarkan dalam kurikulum agama yang

dikeluarkan oleh KEM ENAG, dan t epat pada bulan M ei 2008 ment eri Agama

menandat angani PERM ENAG no 02 t ahun 2008, menyangkut st andard kompet ensi

(12)

Sedangkan kurikulum yang t ahun 2013 (K-13) ini berorient asi pada m ew ujudkan

pendidikan berkarakt er , mencipt akan pendidikan berw aw asan local sert a mencipt akan

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Albarobis A. M uhyidin, Sut risno, 2012, Pendidikan Islam Berbasis Problem Sosial, Jakart a, Ar Ruzz M edia

Ali M ukt i, Hasan Ali, 2003, Kapit a Selekt a Pendidikan Agam a Islam, Jakart a, Pedom an Ilm u Jaya

Asrahah Hanun, 1999,Sejarah Pendidikan Islam, Jakart a, Logos W acana Ilm u

Lem baga Pendidikan Fakult as Tarbiyah, 2009, Bahan Ajar DIKLAT Profesi Guru, Sert ifikasi Guru, Pengaw as dalam Jabat an Kuot a 2009, Surabaya, Fakult as Tarbiyah

M ahm ud, 2010, Ensiklopedi Pendidikan Islam, Konsep, Teori, dan Tokoh, Bandung, Sahifa

M ulyasa E., 2003,Kurikulum Berbasis Kom pet ensi, Bandung, PT. Rem aja Rosdakarya

Suhart ono Tot o, 2011,Filasafat Pendidikan Islam, Jakart a, Ar Ruzz M edia

Referensi

Dokumen terkait

ability to consistently show 80% accuracy of “Narrating Number” techniques. In addition to keep reliability measure objective, Randy needs to maintain points at least 40

Penelitian ini menggunakan Response Surface Methodology dalam analisis dengan 2 faktor yang mempengaruhi kelarutan protein yaitu waktu inkubasi (pelarutan) (2, 4,

Dari beberapa teori diatas dapat disimpulkan bahwa service performance adalah penilaian menye- luruh konsumen terhadap hasil pelayanan yang dirasakan saat menerima pelayanan

Bagi Indonesia, dokumen ini akan menjadi rujukan dalam pelaksanaan rencana pembangunan nasional secara konkrit, termasuk dalam Rencana Pembangunan Jangka

dengan memisahkan pergerakan arus lalu lintas pada waktu yang berbeda.

Meskipun penyelenggaraan penuntutan atas perkara pidana pemilu pada dasarnya menggunakan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana / KUHAP (lex generalis) namun dalam UU

Tampilan akan berubah menjadi Step 2: Pada window ini Nama-nama variabel yang tersedia dalam file data dituliskan dalam kotak Variable (Field) list.. Kita dapat

nai bagaimana cara perusahaan memberikan moti- vasi kepada karyawan, agar karyawan mau berbagi pengetahuan dan menjadikan hal tersebut sebagai budaya yang tidak merugikan