Pentingnya Manajemen Perpajakan Untuk Perusahaan
Manajemen pajak ( Tax Explaning ) adalah sarana untuk memenuhi kewajiban perpajakan dengan benar artinya tidak melanggar undang-undang. Dapat dimaknai sebagai suatu kegiatan untuk merekayasa agar beban pajak serendah mungkin dengan memanfaatkan celah-celah aturan yang ada, tetapi tidak secara tegas melawan undang-undang, dan tidak dapat dipersalahkan sebagai upaya penggelapan pajak.
Pendahuluan
Setiap perusahaan biasanya enggan menjalankan menejemen perpajakan atau perencanaan perpajakan (tax planning ). Pada masalah ini wajib pajak, badan usaha, atau pribadi merencanakan serta mengendalikan hak dan kewajiban perpajakannya secara efektif dan efisien agar dapat memberikan kontribusi maksimum dalam bentuk peningkatan laba taua penghasilan. Tax planning bukanlah upaya untuk mengelak dari kewajiban membayar pajak atau melanggar peraturan. Banyak perusahaan dengan nilai profit yang tinggi sehingga tidak menutup kemungkinan banyak juga yang tidak membayar pajak atau dengan cara memanipulasi pajak dengan kecurangan. Dalam hal ini bagaimana mensiasati pengenaan pajak pada perusahan agar tidak terkena pajak yang terlalu yang tinggi tetapi juga sesuai dengan ketentuan peratuaran perpajakan.
Pajak memang mempunyai kontribusi cukup tinggi dalam penerimaan negara nonmigas. Pada tahun terakhir, penerimaan dari sektor fiskal mencapai lebih dari 70% dari total penemrimaan APBN. Berbagai kebijakan dalam bentuk ekstentifikasi dan intensifikasi telah dibuat oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan penerimaan negara dari sektor fiskal. Kebijakan tersebut berdampak pada masyarakat, dunia usaha, dan pihak-pihak lain sebagai penyebar/pemotong/pemungut pajak. Self assessment system yang mengharuskan Wajib Pajak untuk secara proaktif menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak sendiri, menuntut pihak-pihak tersebut mampu memahami dan menerapkan setiap peraturan perpajakan.
Perencanaan Pajak
Perencanaan pajak adalah merupakan tindakan penstrukturan yang terkait dengan konsekuensi potensi pajak, yang tekanannya kepada pengendalian setiap transaksiyang ada konsekuensi pajaknya. Tujuannya adalah bagaimana pengendaliannya tersebuat dapat mengifisienkan jumlah pajak yang akan ditransfer ke pemerintah, melalui apa yang disebut sebagai penghindaran pajak (tax avoidance) dan bukan penyelundupan pajak ( tax evasion ) yang merupakan tindakan pidana fiskal yang tidak akan ditoleransi. Walaupun kedua cara tersebut kedengarannya memepunyai konotasi yang sama sebagai tindakan kriminal, namun satu hal yang jelas berbeda di sini, bahwa penghindaran pajak adalah perbuatan legal yang masih dalam ruang lingkup pemajakan dan tidak melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, sedang penyelundupan pajak jelas-jelas merupakan perbuatan ilegal yang melanggar ketentuan perundang-undangan perpajakan.
Hal-Hal Penting dalam Tax Planning
Pertama, mengerti peraturan perpajakan atau peraturan lainnya yang terkait. Seseorang yang tidak menegetahui sistematika perpajakan akan sangat sulit sekali untuk dapat melakukan tax planning yang tidak melangar aturan bila tax planning dirancang tidak dalam koridor undang-undang perpajakan yang berlaku. Jika pelaksanaanya dipaksakan melanggar undang-undang akan berakibat fatal dan bahkan mengancam keberhasilan tax planning.
Kedua, menentukan tujuan yang ingin dicapai dalam tax planning. Dalam hal menghindari dari tindakan yang melanggar hukum sudah tentu tidak dapat melakukan tax planning untuk menghindarai kewajiban perpajakan. Menurut suandy (2001 ) tax planning paling tidak memiliki dua tujuan yakni menerapkan peraturan perpajkan secra benar dan dalam rangka efisiensi untuk mencapai laba yang diharapkan.
Keempat, memahami tingkat kewajaran atas transaks-transaksi yang diatur dalam tax planning, karena bila pelaksanaan tax planning mengabaikan kewajaran sudah tentu akan menimbulkan kesulitan-kesulitan karena adalnya hal-hal yang janggal yang memancing kecurigaan fiskus, dan ini dapat berimplikasi dengan pemeriksaan, karena bisa dilandasi adanya kecurangan pajak.
Kelima, tax planningharus didukung oleh kebijakan akuntansi ( accounting treatment ) dan didukung dengan bukti-bukti yang memadai, seperti adanya faktur, perjanjian dan lain sebaginya. Dalam hal ini semua data yang di kelurakan kebijakan akuntansi harus kongkrit.
Persyaratan tersebut adalah persyaratan yang tidak dapat diabaikan, karena hal yang berhubungan dengan pajak merupakan hal ayang pokok tidak bisa keluar dari peraturan perpajakan dan tentu saja bila persyaratan tersebut dapat dipenuhi secara menyeluruh akan meluluskan pelaksanaan tax planning.
Perencanaan pajak, akan lebih terarah dan optimal apabila merujuk pada teori manajemen. Dimana sebuah manajemen sebagai perencanaan, pengorganisasia, penarahan dan pengawasan usah-usaha untuk mencapai tujuan bersama, salah satu konten dari teori manajemen mengidentifikasi adanya perencanaan, perencanaan tersebut akan memberikan tujuan dan arah, menetukan apa yang akan dikerjakan, bagai mana teknik pengerjaanya, dan siapa yang akan melaksanakannya ada empat langkah pokok yang harus dilakukandalam perencanaan diantaranya :
1. Tetapkan sasaran atau perangkap tujuan
2. Tentukan situasi sekarang
3. Identifikasi pendukung dan penghambat tujuan, dan
4. Kembangkan rencana atau tindakan untuk mencapai tujuan
Tujuan Penerapan Tax Planning dalam Penyajian Laporan Keuangan
melakukan tax planning. Sehingga tax planning yang efektif paling tidak memiliki tujuan ( dapat mencapai ) yang diantaranya :
1) Mengatur cahsflow perusahaan agar pembayaran setoran pajak bulanan tidak menggangu cahsflow perusahaan, dan itu artinya laporan arus kas yang di sajikan oleh akuntansi akan semakin baik.
2) Mengatur jumlah kredit pajak agar tidak terjadi lebih bayar pada perhitungan SPT PPh badan pada akhir tahun pajak.
3) Mengatur agar tidak terjadi pemeriksaan pajak yang mengakibatkan terbitnya surat ketetapan pajak kurang bayar (SKPB) yang jumlahnya memberatkan perusahaan.
4) Pemenuhan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Keempat alasan di atas sangat relevan dengan diterapkanya tax planning dalam penyajiannya laporan keuangan, karena laporan keuangan tidak hanya sebatas pemberi informasi tetapi juga merupakan pertanggungjawaban pihak manajemen perusahaan baik tanggung jawab intenal maupun tanggung jawab eksternal.
Penerapan Tax Planning dalam Penyajian
Penerapan Tax Planning harus mengacu pada aturan pajak yang berlaku, langkah-langkah dalam penerapan tax planning yang dilakukan meliputi :
PPh Pasal 21
komponennya meliputi : penghasilan bruto biaya jabatan ( 5% x penghasilan bruto, maksimal Rp 500.000 / bulan ), Penghasilan tidak kena pajak (PTKP) wajib pajak tidak kawin (TK) Rp.1.320.000 / bulan, kawin (K) Rp.1.320.000 + Rp 110.000 bila memiliki tanggungbjawab maksimal 3 orang msing-masing diberikan PTKP Rp 110.000? bulan, tarif pasal 17 UU No. 36 Tahun 2008 (tarif progresif 5%, 15%,25%, dan 30 %), berlaku mulai 1 januari 2009. Ketiga, Sebagai langkah lanjutan dalam menyusun tax planning PPh pasal 21 adalah menyesuaiakan berapa gaji yang akan di bayarakan pada tahun berjalan, hal ini sangat penting dilakukan karena jumlah gaji yang dibayarkan menjadi komponen pengurangan penghasilan perusahaan yang akan mempengarui PPh badan (SPT 1771).
PPh badan ( termasuk dalam setoran PPh Pasal 25)
Untuk melakukan tax planning dalam pemenuhan kewajiban pencicilan PPh pasl 25, dilakukan langkah-langkah sebagai berikut (1) data pajak terutang pada tahun sebelumnya. (2) proyeksi laba-rugi tahun berjalan. (3) Penjualan kepada pemungut yang dipotong PPh Pasal 22 (sebagi kredit pajak). (4) SPT Masa PPN pada tahun berjalan dibandingkan dengan proyeksi laba-rugi berjalan. (5) data PPH Pasal 21 dan proyeksi kenaikangaji pegawai.
Dalam penyusunan tax planning PPh badan hal terpenting yang harus dijadikan acuan pokok adalah SPT PPh Badan dalam tahun berjalan tidak boleh dalam kondisi “lebih bayar”, untuk itu perlu dirancang berapa cicilan PPh Pasal 25 yang harus disetor setiap bulan. Jumlah potongan PPh pasal 22 yang di potong oleh pihak ketiga (dalam hal ini instansi pemerintah ), jumlah potongan PPh pasal 23 yang di potong oleh pihak ketiga atas penjualn jasa dan lain sebagainya. Angsuran PPh pasal 25 dan potongan PPh pasal 22 tersebut menjadi “kredit pajak” yang akan diperhitungkan pada akhir tahun pajak. Selisih antara jumlah pajak terutang dikurangi kredit pajak adalah pajak yang harus dibayar (kurang bayar) yang disebut PPh pasal 29.
Kesimpulan
penghasilan (deuctable), PPN, dan PPh pasal 25 dan potongan PPH Pasal 22 dan PPh pasal 23 oleh pihak ketiga.
Daftar Pustaka
Undang-undang nomor 6 tahun 1983 tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan sebagimana telah diubah dengan undang-undang No. 16 tahun 2009
Alfian, Tjakradwidja Salamun.” PAJAK: CITRA DAN UPAYA PEMBARUANNYA.” Binarena Pariwara (1993).
Hidayat, Nur.” PEMERIKSAAN PAJAK: MENGHINDARI DAN MENGHADAPI,” PT Elex Media Komputindo KOMPAS GRAMEDIA (2013).
RESMI, SITI.”PERPAJAKAN: TEOI DAN KASUS EDISI 8.” Salemba Empat (2014).
HANDOKO, T HANI.” MANAJEMEN: EDISI 2,” BPFE-Yogyakarta (2012).