Highlight KOPAPDI XV Medan
Susunan Redaksi: Penanggung Jawab:DR. Dr. Aru. W. Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP *Pemimpin Redaksi: Dr. Ika Prasetya Wijaya, SpPD, K-KV, FINASIM *Bidang Materi dan Editing: Dr. lndra Marki, SpPD, FINASIM; Dr. Agasjtya Wisjnu Wardhana, SpPD, FINASIM; Dr. Alvin Tagor Harahap, SpPD; Dr. Nadia A. Mulansari, SpPD *Koresponden:Cabang Jakarta, Cabang Jawa Barat, Cabang Surabaya, Cabang Yogyakarta, Cabang Sumut, Cabang
SJSN Solusi Wujud Indonesia Sehat
Profil DR. Dr. Aru W Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP
Besar Dengan KEBERSAMAAN
SJSN Solusi Wujud Indonesia Sehat
Profil DR. Dr. Aru W Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP:
Besar Dengan KEBERSAMAAN
Horas!
J
umpa kembali sejawat internis. Hari ini kita mulai melaksanakan kegiatan KOngres Nasional PAPDI XV di Medan setelah secara resmi dibuka oleh Menteri Kesehatan RI Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH, cq diwakili Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Dr. Supriyantoro, SpP, MARS.Ada beberapa catatan yang diberikan Menkes ke PAPDI di antaranya tentang keselamatan ibu hamil, penanggulangan HIV/AIDS, penyebaran dokter spesialis penyakit dalam, peran serta PAPDI di dalam SJSN, dan peningkatan kualitas internis melalui up date keilmuan dengan penggunaan teknologi telemedicine.
Kegiatan simposium yang berjalan di hari pertama sudah dipenuhi peserta kongres. Begitu pula dengan stand pameran. Sidang pleno pertama sudah dimulai dengan dihadiri oleh 36 cabang.
Selamat mengikuti KOPAPDI XV Medan.
BIDANG
HUMAS
PUBLIKASI
DAN
MEDIA
Redaksi Menerima Masukan, Saran
Hubungi
Amril 08158358554, 081287068835
Dibuka Bursa Calon Ketua
P
erhelatan Akbar Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Pe-nyakit Dalam Indonesia (KOPAP-DI) XV akhirnya resmi dibuka pada Rabu, 12 Desember 2012 kemarin pukul 12.00, di Hotel JW. Marriot, Medan, Suma-tera Utara. Sayangnya, Menteri Kesehat-an Republik Indonesia, Dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, yang dijadwalkan akan mem-buka Kongres dan memukul gong pembu-kaan tak dapat hadir secara langsung. Na-mun demikian, Menteri tetap menyampai-kan sambutan pembukaannya melalui vi-deo yang kemudian diputar di acara Kongres.Dalam sambutan tersebut Menkes me-nyatakan apresiasinya atas tema Kongres yang mengusung topik “55 Tahun Peran Profesional PAPDI, Menapak Era Globali-sasi di Tengah Masyarakat Indonesia dan Kedokteran Universal. Tema ini, menurut Menkes, relevan dengan misi pembangun-an kesehatpembangun-an 2010 – 2014 ypembangun-ang ingin me-wujudkan visi masyarakat sehat yang mandiri dan berkeahlian, juga relevan de-ngan upaya kemenkes dalam meningkat-kan daya saing sumber daya manusia ke-sehatan dan daya saing pelayanan kese-hatan di tingkal global.
Menkes juga mengingatkan akan dimu-lainya era globalisasi dan liberalisasi mela-lui diberlakukannya AFTA pada 2015 dan Perdagangan Bebas Se-Asia Pasific pada 2020. Sehingga dia berharap PAPDI dapat turut mengambil langkah-langkah yang perlu dalam memperkuat kompetensi dan profesionalisme pelayanan agar mampu bersaing dengan dokter asing dengan se-lalu mengupadate diri seuasi dengan ilmu perkembangan kedokteran demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap ke-mampuan dokter Indonesia.
Sejalan dengan prioritas pembangunan kesehatan 2010-2014 agar pelayanan ke-sehatan dapat terdistribusi secara menyu-ruh ke selumenyu-ruh wilayah di tanah air, ia juga berharap PAPDP sebagai organisasi
pro-fesi dapat mendorong anggotanya untuk bersedia dan merasa bangga di rumah sakit-rumah sakit di daerah. “Pengabdian tersebut hendaknya tidak hanya di kota besar saja, tapi juga kota kecil serta terus membantu pendidikan dokter umum mela-lui pendidikan kedokteran berkelanjutan di wilayah kerja masing-masing,” ungkapnya.
Menkes juga mengharapkan peran ak-tif PAPDI dalam mensukseskan target MDGs 5 terkait upaya mengurangi ke-matian ibu hamil dan melahirkan serta MDGs ke-6 terkait pengendalian dan upa-ya menurunkan infeksi baru HIV. Upaupa-ya pengendalian hendaknya dilakukan seca-ra total, intensif, komprehensift dan ter-koordinasi. Tidak hanya melalui upaya ku-ratif, tapi juga preventif dan promotif, se-hingga angka penularan dan kematian da-pat diturunkan, serta dada-pat membantu me-nurunkan serta menghilangkan stigma ne-gatif terhadap HIV/AIDS. Upaya pena-nganan penyakit tidak menulat yang kian hari kian meningkat, juga tetap perlu dita-ngani secara konprehesif, terorganisir, dan terkoordinasi. “Selain itu, PAPDI juga da-pat terus memperkuat kerjasama dengan pemerintah sector terkait, untuk
memper-luas cakupan penderita yang dilayani dan meningkatkan mutu pelayanan termasuk aspek kenyamanan,” harap Menkes.
Karena tidak dapat hadir secara lang-sung, maka pemukukan gong pembukaan diwakilkan pada Jenderal Bina Upaya Ke-sehatan dari Kemenkes, Dr. Supriantoro, SpP, MARS, yang didampingi oleh
Pelak-sana Tugas Gubernur Sumatera Utara Hj. Gatot Pujo Nugroho, ST, Ketua Umum PB IDI, Dr. Zaenal Abidin, MH.Kes, Ketua Umum PB PAPDI, Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP, dan Ke-tua PAPDI Cabang Sumatera Utara, Prof. DR. Dr. Harun Alrasyid, SpPD, FINASIM, SpGK. Dalam pembukaan ini juga diku-mandangkan lagu MARS PAPDI, dan turut diramaikan dengan traditional dance per-formance.
Dalam sambutannya yang pertama ka-li, Ketua PAPDI Cabang Sumatera Utara sekaligus Ketua Umum KOPAPDI XV, Prof. Dr. Harun Alrasyid Damanik, SpPD, SpGK, menyampaikan bahwa kegiatan kongres kali ini telah didhadiri oleh ribuan orang dari seluruh anggota PAPDI di ca-bang di Indonesia. Dan bahwa selain agenda organisasi dan sidang organisasi, kongres juga menghelat beragam kegiat-an ilmiah ykegiat-ang menghadirkkegiat-an 120 mode-rator dan keynot speaker, dengan total 17 symposium, serta 500 makalah ilmiah yang dikirimkan oleh berbagai cabang PAPDI di mana tertinggi datang dari PAPDI Cabang DI Yogyakarta yang dis-usul oleh tuan rumah. (HI)
Opening KOPAPDI XV
Menkes Sampaikan
Sambutan Melalui Video
P
rogram pelayanan kesehatan di Indonesia cukup banyak. Caranya juga beragam. Sayangnya, berba-gai pelayanan kesehatan itu be-lum dapat menyentuh masyarakat secara menyeluruh. Untuk itu, pemerintah me-luncurkan program Sistem Jaminan So-sial Nasional (SJSN) yang memberi pe-layanan kesehatan berkesinambungan. Tujuannya untuk mewujudkan Indonesia Sehat.”SJSN dimulai 2014 yang dijalankan secara bertahap hingga 2019 menda-tang. SJSN menjadi solusi mewujudkan solidaritas sosial dalam penyediaan pem-biayaan kesehatan yang berkesinam-bungan, teralokasi secara adil, dan ter-manfaatkan secara berhasil guna untuk menjamin terselenggaranya pembangu-nan kesehatan,” ucap Direktur Bina Upaya Kesehatan Kementrian Kesehatan RI, Dr Chairul Radjab Nasution SpPD, KGEH, FINASIM, FACP, Mkes saat sim-posium menjelang Konferensi Nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia XV (KOPAPDI-XV) di Hotel Grand Aston Medan, Rabu 12 Desember 2012 kemarin.
”Pada 2019 nanti, diharapkan tidak akan ada lagi masyarakat yang tidak memiliki jaminan sosial. Rumah sakit juga tidak boleh menolak masyarakat untuk
berobat. SJSN diharapkan merubah ta-tanan untuk lebih menjadi konprehensif,” ujar Direktur Utama Rumah Sakit Haji Jakarta tersebut.
Menurutnya, pelaksanaan SJSN me-rupakan kelanjutan dari sistem jaminan kesehatan masyarakat yang sudah dibu-at pemerintah. Hanya saja, pengelolaan SJSN lebih sistematis di seluruh Indo-nesia. ”Dengan diberlakukannya SJSN, seluruh warga akan dijamin pelayanan
kesehatan. Pemerintah membayar iuran premi untuk warga miskin, sementara pe-kerja informal yang gajinya tidak tetap, masih dalam pengkajian,” jelas alumnus Brevet Spesialis Penyakit Dalam FK UI 1991 tersebut.
Terkait pendanaan SJSN, tuturnya, setiap warga Indonesia berkewajiban membayar iuran bermodel premi, kecuali bagi warga miskin. Pasalnya, warga miskin masuk menjadi penerima bantuan iuran (PBI) yang akan dibayar oleh pe-merintah.
Program SJSN ini juga membuat PT Askes transformasi menjadi Badan nyelenggara Jaminan Sosial. ”Badan Pe-nyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) me-miliki fungsi mengelola iuran yang dida-pat dari masyarakat agar penggunaannya bisa efektif dan efisien. Iuran itu tidak ha-nya digunakan untuk biaya pengobatan,
tetapi juga untuk melengkapi infrastruktur kesehatan di Indonesia,” kata Chairul yang merupakan lulusan Health Services Mangement Royal MIT, Australia, 2001.
Sejauh ini pemerintah telah menyiap-kan dana awal sebesar Rp 25 triliun. Da-na ini merupakan investasi sektor kese-hatan masyarakat di seluruh pelosok ta-nah air agar mendapat kepastian kese-hatannya.
Meskipun Jamkesnas akan menjamin kesehatan masyarakat, kata Dr Chairul, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah tetap memiliki kewajiban meng-anggarkan biaya kesehatan untuk pro-gram yang lebih penting yakni menjaga agar masyarakat tidak jatuh sakit dan se-lalu sehat. ”Untuk mewujudkannya tentu membutuhkan biaya tersendiri dan upaya yang cukup substansial. Iuran yang akan dibayar warga nanti rencananya sebesar Rp22.200 perorang setiap bulan, tetapi angka itu belum ditetapkan karena masih akan dikaji berapa besaran yang ideal,” paparnya.
Jaminan kesehatan selama ini, tutur Dr Chairul, selalu mengalami masalah antara lain, belum semuanya penduduk tercakup menjadi peserta. Selain itu, kurang singkron dan kurang terintegrasi-nya kepesertaan masyarakat. Pengelo-laannya juga kurang optimal. Bahkan, belum semua jaminan kesehatan dapat memenuhi kebutuhan medis. Kondisi ini diperparah dengan struktur kelembagaan yang belum konsisten menjalankan visi misi, diakibatkan lemahnya koordinasi dan monitoring jaminan kesehatan. ”Pe-nerapan SJSN diharapkan mampu men-gatasi semua masalah itu,” tukas peraih gelar Magister Kesehatan Rumah Sakit dari UGM tahun 2000 tersebut.
Hal penting yang harus dipahami para medis, sebut Dr Chairul, yakni terkait UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN dan UU Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS. Dalam kedua undang-undang itu dijabar-kan bahwa BPJS wajib membayar dana kesehatan masyarakat paling lama 15 hari. Untuk itu, fungsi rumah sakit dan
Dr Chairul Radjab Nasution SpPD, KGEH, FINASIM, FACP, Mkes:
SJSN Solusi Wujud Indonesia Sehat
Puskesmas harus ditingkatkan dengan menempatkan tenaga medis terpadu. ”Penanganan pasien dilakukan secara kolektif, profesional dan memberikan edukasi kesehatan kepada pasien,” jelas Chairul seraya menjabarkan bahwa di se-tiap rumah sakit diharapkan memiliki te-naga medis yang praktik bersama dari dokter berbagai spesialis.
Hal urgen dalam menyongsong sjSN bidang kesehatan pada 2014 mendatang, yakni antara lain mempersiapkan Faskes, sistem rujukan dan infrastruktur. Selain itu pembiayaan, transformasi kelembagaan dan program. Kemudian regulasi, kefar-masian dan juga alat-alat kesehatan. Se-lanjutnya mempersiapkan SDM, capacity building dan sosialisasi serta advokasi.
Menyinggung sistem rujukan, Dr Chai-rul memaparkan, diawali dengan nguatan pelayanan primer. Kemudian layanan sekunder dan tertier. ”Semua pe-nguatan pelayanan itu sangat erat kaitan-nya dengan mekanisme merujuk pasien untuk mewujudkan pelayanan kesehatan prima,” paparnya seraya menjabarkan jenis-jenis penguatan pelayanan itu.
Lebih lanjut Dr Chairul menjelaskan, para dokter mesti menjaga mutu layanan medis yang mencakup standar pelayanan medis, audit medis dan peningkatan mutu berkesinambungan. ”Semuanya terang-kum melalui Clinical Pathways, yang me-rupakan kombinasi dari Clinical Gover-mance dan Sistem Pembiayaan Case-mix,” tukasnya.
Di akhir simposium, Dr Chairul meng-himbau semua anggota PAPDI untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi penerapan pelaksanaan SJSN. ”Mari
se-mua anggota PAPDI mempersiapkan diri dengan meningkatkan pelayanan prima dan profesionalitas kerja,” imbaunya.
Simposium yang dipandu Dr Sally Aman Nasution, SpPD-KKV, FINASIM itu
K
ongres Nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (KOPAPDI) XV-Medan adalah event tiga tahunan yang menjadi perhelatan terbesar organisasi profesi Perhimpunan Dokter Spesialis Pe-nyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Selain memilih calon ketua umum pengurus besar yang baru, event juga menggelar berbagai agenda strategis organisasi, serta berbagai kegiatan dalam rangka update penge-tahuan dapa para anggota seperti halnya melalui simposium. Salah satu simposium yang digelar adalah simposium pada Rabu, 12 Desember 2012, di Grand AstonHotel, tentang kardiologi dengan fokus penanganan pada Sindrom Koroner Akut. Dalam simposium ini, tiga speaker yang pakar di bidang kardiologi, Dr. Sally Aman Nasution, SpPD, KKV, FINASIM, Dr.Refli Hasan,SpPD, SpJP(K),FIHA, dan Idrus Alwi, SpPD, K-KV., FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC. Dalam kesempatan terse-but dr. Sally menyampaikan materinya ten-tang Peran Anti Koagulan pada Sindrom Koroner Akut, sedang Dr. Refli dan Dr. Idrus masing-masing menyampaikan ten-tang Peranan Anti Platelet Pada Sindrom Koroner Akut dan Terapi Revaskuleriasai Pada Sindrom Koroner Akut.
juga menampilkan pembicara dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr Zaenal Abidin MH Kes. Dalam paparannya, Dr Zaenal lebih menyoroti persiapan dalam meng-hadapi penerapan sistem internasional yang menjadikan dunia medis bagian dari industri. Kondisi ini akan memaksa dunia medis sedikit demi sedikit meninggalkan kemanusiaan. ”Sesuai dengan 9 butir ke-wenangan IDI yang terkait dengan UU praktik dokter, diharapkan tetap memberi-kan sistem pelayanan kesehatan yang berkeadilan sosial. Hal ini didukung de-ngan sistem kesehatan nasional yang bi-sa berintegrasi dengan SJSN,” paparnya. Ia juga menyarankan agar para dokter yang tergabung dalam IDI dapat memban-gun usaha bersama dalam bentuk kope-rasi. Tujuannya adalah selain dapat mem-bantu sesama anggota, juga dapat mela-hirkan rumah sakit yang mandiri. (HI)
Dr. Chairul Radjab dengan Ketua IDI Dr. Zaenal Abidin, MH.Kes.
Update Penanganan Sindrom Koroner Akut
Di KOPAPDI XV Medan
”PAPDI berpotensi
menjadi perhimpunan
yang kuat, dengan
jumlah spesialis dan
penyebarannya
di seluruh Indonesia.”
K
ongres Nasional PAPDI (KOPAP-DI) tahun 2006 di Palembang, resmi mengangkat DR. Dr. Aru W Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP menjadi Ketua Umum PB PAPDI periode 2006-2009. Sejak itu, sebuah tanggung jawab besar jatuh ke tangan pria kelahiran Washington DC, 29 Juni 1951 dengan memimpin sebuah organisasi profesi beranggotakan lebih dari 2.506 internis yang tersebar di selu-ruh Indonesia.Dengan besarnya jumlah anggota PAPDI, langkah pertama yang dilakukan Dr. Aru adalah konsolidasi anggota. Ia mengunjungi cabang-cabang PAPDI di daerah untuk membuat ikatan yang solid di tubuh PAPDI. Dan ia punya alasan kuat
untuk melakukan hal itu.
Saat KOPAPDI di Palembang, ia me-nanyakan kepada cabang, bagaimana PAPDI di mata mereka. ”Ternyata jawab-annya adalah, ”PAPDI adalah Jakarta, kami ikut saja”,” ujarnya mengisahkan. Kalimat itu mengusik lulusan FKUI 1976 ini bahwa yang harus diprioritaskan seba-gai Ketua Umum PAPDI, adalah mem-buat seluruh anggota PAPDI merasa ikut memiliki organisasi ini. PAPDI bukanlah Jakarta. PAPDI milik ahli penyakit dalam di seluruh nusantara, yang akan menen-tukan kekuatan organisasi ini.
Ia pun menyambangi daerah untuk mensosialisasikan visi dan misi PAPDI. Dalam satu bulan, 2-3 kali Dr. Aru dan pengurus PAPDI melakukan roadshow
dan kegiatan ilmiah di daerah. ”Malam-nya kami berkumpul dengan para pim-pinan cabang tersebut, kemudian berbi-cara dari hati ke hati mengenai masalah di daerah dan memberi informasi tentang apa yang terjadi di pusat,” ujar Dr. Aru menggambarkan yang ia lakukan.
Apa yang dilakukan dalam kepemim-pinan Dr. Aru membekas pada pengurus PAPDI cabang. Seorang pengurus ca-bang di wilayah Indonesia Timur, dalam sebuah kesempatan pernah melontarkan bahwa apa yang dilakukan Dr. Aru mem-buat cabang merasa diperhatikan oleh pusat. Meski demikian, Dr. Aru menampik jika yang ia kerjakan adalah sesuatu yang istimewa. ”Yang dilakukan tidak banyak sebenarnya, karena intinya adalah
silatu-DR. Dr. Aru W Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP
rahmi PB dan cabang, yang dilakukan di daerah.”
Pria ini mengatakan, ia justru menda-patkan hal-hal yang luar biasa dari setiap jengkal perjalanannya. Interaksinya de-ngan dokter internis dari daerah yang berbeda memberi kesan tersendiri bagi-nya. ”Saya mendapat kehormatan untuk bisa ikut dalam situasi sosio budaya ber-bagai daerah. Sesuatu yang mungkin tidak bisa saya dapatkan jika tidak menja-di ketua PAPDI,” ujarnya.
Totalitas yang dilakukan Dr. Aru mem-buatnya kembali terpilih menjadi ketua PAPDI untuk kedua kalinya, yaitu untuk periode 2009-2012. Ia mengatakan, bah-wa yang dilakukannya selama ini adalah kerja tim. ”Saya tekankan, ini bukan pe-kerjaan satu orang.”
Bersama timnya pula, Dr. Aru ber-upaya membuat General Internis, exist di negeri ini. ”Ini didasarkan atas suatu ke-prihatinan, bahwa bidang spesialisasi ini sedang mengalami fragmentasi menjadi bidang-bidang subspesialis,” ujarnya.
Menurutnya, memang dibutuhkan orang-orang ahli dalam bidang yang relatif sempit karena
perkembangan ilmu membutuhkan orang-orang yang berkecim-pung dan berdedikasi di bidangnya. Namun meli-hat kebutuhan masyara-kat dan rakyat, maka Indonesia masih mem-butuhkan spesialis pe-nyakit dalam umum.
Dalam situasi yang lebih makro, ia meng-gambarkan apa yang terjadi di negara luar. ”Beberapa negara, se-perti Australia atau Ame-rika, sudah sulit mencari penyakit dalam umum. Pasien ditangani oleh subspesialisasi terkait penyakitnya, akibatnya beban asuransi menjadi mahal. Oleh karena itu, negara-negara tersebut berupaya keras untuk mengembalikan peran penyakit dalam umum,” ujarnya panjang lebar.
Rakyat Indonesia saat ini belum sam-pai ke taraf untuk dilayani sub spesialis. ”Masyarakat kita belum cukup kaya jika semua dokter sub spesialis. Bahkan di negara kaya pun, situasi ini berupaya di-ubah. Di sini, penyakit dalam umum me-nangani dulu, jika diperlukan baru konsul. Itu yang paling prinsip,” ujar Dr. Aru. ”Oleh karena itu general internis harus menjadi sebuah profesi yang dibangga-kan yang mampu melayani masyarakat banyak.”
Apa yang dipaparkan Dr. Aru, lebih di-dasarkan pada pengalaman panjang se-bagai ahli medis. Perjalanan ke berse-bagai daerah di Indonesia sebagai Ketua PAPDI, semakin kuat mendorong Dr. Aru untuk melakukan upaya agar penyakit dalam umum diberi tempat yang penting dibanding subspesialis dalam konteks pelayanan kesehatan untuk rakyat.
Menjalankan tugas ke berbagai dae-rah yang dilakukan Dr. Aru, seperti me-ngulang siklus hidupnya ketika ia masih kecil, sebagai seorang anak korps diplo-mat Indonesia yang harus berkeliling ke berbagai negara tempat ayahnya
bertu-gas. Perjalanan itu, juga memberinya ke-sempatan untuk mengenal berbagai bangsa di dunia. Apakah sebagai anak diplomat, ia juga mendapat keuntungan untuk lebih memiliki kemampuan berko-munikasi dengan orang lain? ”Tidak,” ia menukas dengan cepat. ”Justru seharus-nya anak dokter yang seperti itu.” Profesi dokter, menurutnya, yang harus lebih me-miliki kemampuan tersebut dibanding profesi lainnya.
Tapi bukan soal komunikasi yang dulu membuatnya masuk fakultas kedokteran. Ia menyebut sebagai ‘pilihan’ ketika ia diterima di ITB dan FKUI. Nyatanya, pilih-annya tepat. Ia menjalani profesinya pe-nuh kesungguhan hati dengan berbagai konsekuensinya, meski kini, misalnya, ia hanya memiliki sisa waktu yang minimal untuk dirinya.
Dokter Aru mengaku saat ini ia hampir tidak memiliki waktu luang dengan kesi-bukan baik sebagai staf pengajar di FKUI/RSCM, dokter, maupun di organisa-si. Ia tertawa ketika ditanyakan, bagaima-na prakteknya sebagai dokter, dengan seringnya melakukan perjalanan PAPDI. ”Kalau ditanya, pasti ada sekian persen yang hilang. Tapi, bukan soal itu,” ujarnya.
Beberapa waktu ke depan, Dr. Aru tidak lagi menjabat sebagai Ke-tua PAPDI. AD/ART PAPDI tidak memperke-nankan seseorang dipi-lih menjadi ketua umum untuk ke-tiga kalinya. Meski demikian, Dr. Aru mengatakan akan siap melakukan berbagai hal untuk PAPDI. ”Saya te-tap ada ikatan dengan PAPDI,” ujarnya. Ia ber-harap, aktivitas dan warna PAPDI seperti saat ini tetap dilanjut-kan oleh kepemimpinan selanjutnya. Pada akhirnya PAPDI tetap akan menjadi perhim-punan yang solid dan diperhitungkan oleh banyak pihak. Bravo PAPDI. (HI)
B
ersamaan dengan Kongres Nasio-nal Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (KOPA-PDI) XV di Medan, diselenggara-kan pertemuan Asean Federation of Inter-nal Medicine (AFIM). Meeting yang dilaku-kan pada Selasa (11/12) malam dihadiri oleh Dr. Oscar T. Cabahug (President, Phi-lippine College of Physicians), Prof. Alan Ng Wei Keong (President, The College of Physician of Singapore), Prof. Dato’ Amin-uddin Ahmad (President, The College of Physicians of Malaysia), dan Dr. Priscilla B. Caguioa (Vice-President, Philippine Colle-ge of Physicians). Sementara dari tuanrumah Indonesia DR. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP sebagai Ketua PAPDI, Prof. DR. Dr. Harun Alrasyid Damanik, SpPD, SpGK, Dr. dr. Sally Aman Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM; Dr. Bam-bang Setyohadi, SpPD, K-R, dan beberapa dokter ahli penyakit dalam dari Medan. Sayang, Dr. Kriang Tungsanga, President The Royal College of Physicians of Thailand yang sedianya akan hadir ternya-ta tidak dapat daternya-tang ke Medan. Secreternya-tary General International Society of Internal Medicine, Hans Peter Kohler turut hadir di awal acara untuk memberi dukungan ter-hadap meeting tersebut.
Dengan Medan sebagai kota host AFIM, DR. Aru menyambut tamu-tamunya dengan memberikan kain ulos yang lang-sung disampirkan ke bahu para sejawat
manca negara tersebut. ”Dengan pem-berian ulos ini adalah lambang untuk menyambut Anda sebagai bagian dari ke-luarga,” ujar DR. Aru. Para tamu, nampak senang dengan tenunan tradisional batak itu, dan tetap mengenakannya sepanjang acara untuk menghalau rasa dingin di ruang ber-AC.
Meski suasana dingin, namun meeting yang dimulai pukul 19.30 tersebut mem-bicarakan topik yang hangat mengenai kiprah dokter penyakit dalam di kawasan ASEAN. Menjelang AFTA mendorong dok-ter-dokter berkepentingan untuk mem-bicarakan harmonisasi yang menyangkut
profesi ahli medis. ”Perjanjian AFTA bisa menjadi kelemahan sekaligus peluang,” ujar DR. Aru dalam pertemuan tersebut. ”Harmonisasi standarisasi menjadi hal penting untuk dibahas bersama.”
Dr. Oscar T. Cabahug dari Filipina me-ngatakan, yang harus dilakukan oleh ne-gara-negara ASEAN adalah membentuk working group dengan anggota masing-masing negara. Working group ini menurut Cabahug sebaiknya dibuat menjadi group formal. ”Setiap tahun harus dibuat forum pertemuan dan untuk memastikan konti-nuitas program, ketua dan wakil incum-bent dari organisasi profesi penyakit dalam tiap negara harus diundang dalam kon-vensi tahunan tersebut,” ujar Dr. Cabahug. Ia mengatakan, setiap negara juga harus merumuskan cara pandangnya mengenai
harmonisasi dan bagaimana mewujud-kannya.
Prof. Dato’ Aminuddin Ahmad dari Ma-laysia menyambut baik usulan pertemuan tahunan dan menggarisbawahi mengenai kontinuitas program, terutama ketika terja-di pergantian kepemimpinan terja-di organisasi penyakit dalam.
Prof. Alan Ng Wei Keong tidak me-mungkiri bahwa banyak yang harus dibi-carakan dengan perbedaan sistem tiap negara dalam menghasilkan ahli penyakit dalam. ”Mungkin kalau Malaysia dan Si-ngapore sistemnya tidak terlalu banyak berbeda,” ujarnya.
Media untuk meneruskan pembicaraan disepakati bisa melalui email, skype, atau teknologi lain, sebelum di-adakan meeting selanjutnya pada bulan April di Thailand.
Beberapa point penting yang akan dibahas menuju ASEAN Mutual Recognition Arrangement (MRA) untuk Medical Practitioner adalah proses akreditasi, certifieng arm, monitoring, residency training curriculum and licen-sure exam. Hal lain yang juga dipastikan akan memiliki ba-nyak halangan saat dimulai adalah me-ngenai opening of residency training pro-gram untuk warga negara ASEAN, dan ke-mungkinan lulusan luar negeri untuk me-nempuh ujian diploma di sebuah negara.
Selain point-point di atas masih terda-pat banyak hal yang memerlukan pem-bicaraan antar negara ASEAN seperti ker-jasama pengembangan guideline praktik klinik, atau kolaborasi di berbagai masalah kesehatan.
Harmonisasi ASEAN mau tidak mau akan terlaksana dalam waktu yang tidak lama lagi. Seluruh elemen, termasuk PAPDI harus bersiap agar sejajar dan di-perhitungkan oleh negara tetangga. Se-perti yang dikatakan Dr. Aru, ”Sekali pintu dibuka maka kita tidak dapat menutupnya kembali.” (HI)
AFIM Meeting
Menuju Harmonisasi ASEAN
”Sekali pintu dibuka,
maka kita tidak
dapat menutupnya
kembali.”
ing untuk menjaga kesehatan di usia tua, maka mengadopsi praktik hidup sehat sepanjang usia adalah hal yang sama penting.
Sistem pelayanan kesehatan, menurut Kohler harus dibuat dan terutama dida-nai. ”Pemerintah atau departemen kese-hatan berperan penting di sini,” ujar Kohler.
Alasan kedua, mengapa general internist begitu penting adalah adanya penyakit multimorbiditas yang juga umum terjadi pada usia tua. ”Multimorbiditas dicirikan oleh interaksi kompleks co-exist-ing diseasedan pendekatan medis yang berfokus pada penyakit tunggal tidak cukup,” ujarnya. Oleh karena itu, sistem pelayanan kesehatan yang terfragmen-tasi tidak cocok untuk pasien multimor-biditas.
Internis memainkan peranan penting di pelayanan kesehatan sebagai titik awal konsultasi untuk pasien. Pelayanan primer adalah tulang punggung sistem pelayanan kesehatan. Internis memiliki peran penting dalam pelayanan kese-hatan dan merupakan jawaban terkait
cost-effective. ”Inilah yang kita butuhkan,” ujar Kohler.
Namun, masih ada setumpuk masalah yang dihadapi. Yang pertama adalah kurangnya general internist di layanan primer. ”Banyak negara mengalami hal ini, dan saya yakin Indonesia juga meng-hadapi masalah ini,” ujarnya. Kekurangan internis umum juga terjadi di rumah sakit. Masalah lain adalah fragmentasi pela-yanan pasien seperti subspesialis yang semakin bertambah.
Ia mengatakan agar sistem yang men-empatkan internis sebagai tulang pung-gung berjalan baik, harus diupayakan karir sebagai general internistyang atrak-tif. Satu lagi dikatakan Kohler, ”Pertum-buhan subspesialis baru mesti dipertim-bangkan kembali.” (HI)
”G
eneral Internist are needed!”ujar Hans P. Kohler, MD, FACP di hadapan para peser-ta Kongres Nasional Perhim-punan Dokter Ahli Penyakit Dalam Indo-nesia (KOPAPDI) di Medan pada Rabu (12/12) lalu.
Kohler yang merupakan Secretary General Interational Society of Internal Medicine (ISIM) tegas mengatakan hal tersebut didasari berbagai alasan. Yang pertama menurutnya adalah bertambah-nya proporsi penduduk usia tua akibat angka harapan hidup yang semakin ting-gi dan menurunnya tingkat kelahiran. ”Tahun 2050, satu dari empat penduduk akan berusia di atas 60 tahun,” ujarnya mengutip data WHO. Ketika akses ke pelayanan kesehatan primer sangat
pent-Peran Penting
Internis Umum
Sistem pelayanan
kese-hatan yang
terfragmen-tasi tidak cocok dengan
kebutuhan pasien
multi-morbiditas.
S
atu persatu para internis memasu-ki Ballroom Aryaduta Hotel. Mesmemasu-ki agak sedikit lelah, namun mereka tampak sumringah. Bagai pejuang 45, dokter-dokter spesialis penyakit da-lam itu begitu bersemangat mengikuti si-dang pleno Konfrensi Nasional Perhim-punan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) ke-XV Medan.Pembukaan sidang pleno pembahas-an tata tertib konferensi seyogypembahas-anya di-gelar pukul 13.15, namun tertunda sam-pai pukul 14.45 WIB. Penyebabnya kare-na bus peserta yang mengikuti kegiatan di Hotel JW Marriott terjebak macet akibat aksi buruh yang menuntut kenaikan UMP. Sidang KOPAPDI XV dibuka setelah Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC menge-tuk palu. Kemudian peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya disusul Mars PAPDI. Setelah itu, Prof. Idrus melanjutkan kegiatan pemilihan pimpinan sidang, sesuai pasal 7 Anggaran Dasar dan pasal 5 Anggaran Rumah Tangga PAPDI tentang susunan kepengurusan.
Pemilihan pimpinan sidang digelar se-cara demokratis. Para peserta diminta mengusulkan nama pimpinan sidang. Dari usulan peserta, terpilih Dr. Bambang Setyohadi, SpPD, K-R, FINASIM Prof. DR. Dr. Ruli Rusli, SpPD, K-GH, FINASIM dan Prof. DR. Dr. Syamsu, SpPD, K-AI, FINASIM. Sedangkan
sekre-taris pimpinan sidang terpilih Dr. Mardian-to, SpPD, K-EMD, DR. Dr. Zulkhair Ali SpPD, K-GH, FINASIM.
Setelah itu, pimpinan sidang memper-silahkan Ketua Umum PB PAPDI 2009-2012, DR. Dr. Aru W. Sudoyo SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP menyampaikan laporan pertanggung jawaban.
Dr. Aru menyampaikan berbagai per-kembangan PB PAPDI selama dua perio-de kepemimpinannya, 2006-2009, 2009-2012. Untuk periode 2006-2009, terjadi penambahan 10 cabang. Sedangkan pe-riode 2009-2012, bertambah 2 cabang. ”Alhamdulillah, sekarang sudah ada 36 cabang PAPDI yang tersebar di semua provinsi NKRI,” ujarnya.
Ia juga memaparkan sejumlah pro-gram yang telah dilaksanakan. Selain konsolidasi, juga dilakukan sistem kaderi-sasi anggota baru. Kemudian membuat program database anggota dan melaku-kan report database anggota PAPDI per-cabang, Konsultan, FINASIM dan seba-gainya. ”Jumlah anggota PAPDI seluruh Indonesia per 1 Desember 2012 yakni 2.553 dokter dengan jumlah Konsultan sebanyak 557 dokter. Sedangkan anggo-ta yang telah meraih gelar FINASIM se-banyak 935 dokter,” tutur Dr Aru.
PB PAPDI juga mengembangkan sis-tem informasi secara online. Melalui web-site www.pbpapdi.org, seluruh anggota dapat mengakses segala informasi terkait
organisasi dan berbagai keilmuan per-kembangan dunia medis.
”Sebagai wajib pajak, PB PAPDI ber-upaya untuk taat dalam mengikuti pera-turan perundang-undangan yang ditetap-kan oleh Direktorat Jenderal Pajak, De-partemen Keuangan Republik Indonesia. Hal-hal yang dilakukan dalam hal perpa-jakan adalah membuat laporan pajak ma-sa dan laporan pajak tahunan. Selain itu, memotong dan memungut pajak sesuai dengan peraturan perpajakan,” tukasnya seraya menyebut PB PAPDI telah memi-liki NPWP.
Hal lain yang telah dilakukan PB PAPDI yakni mendaftarkan logo PAPDI ke Kementerian Hukum dan HAM dengan registerasi No: 049684 pada tanggal 31 Desember 2010. Sedangkan Hak Paten Logo tersebut masih menunggu dari Menkum-HAM.
Untuk peningkatan SDM, PB PAPDI secara kontiniu melaksanakan pendidik-an, penelitian dan pelayanan kesehatan. Pelaksanaan pendidikan berupa pening-katan pengetahuan dalam bentuk semi-nar/simposium, kursus/pelatihan, dan berbagai program ilmiah lainnya.
Laporan pertanggungjawaban yang disampaikan Dr Aru itu sangat rinci dan detail dari semua sektor kegiatan PB PAPDI. Laporan itu diterima oleh semua anggota PAPDI yang memiliki hak suara.
(HI)
D
alam usianya yang sudah ke-55 tahun, PAPDI telah menunjukkan berbagai kiprahnya dalam dunia kedokteran dan kesehatan di ta-nah air. Kiprah ini tidak hanya ditunjukkan melalui wujudnya sebagai sebuah organi-sasi profesi, melainkan juga ditorehkan oleh para anggotanya melalui berbagai pencapaian dan penghargaan yang dibe-rikan oleh lembaga maupun organisasi lebih tinggi seperti Kementrian Kesehatan dan Ikatan Dokter Indonesia. Diantara kiprah ini seperti ditunjukkan oleh tiga anggota PAPDI Prof. DR. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM, Prof. DR. Dr. Ali Ghanie, SpPD, KKV dan Dr. Pranawa, SpPD, KGH, FINASIM.Zubairi mendapat penghargaan seba-gai dokter terbaik 2012 oleh Kementrian Kesehatan RI, Prof. sedang Ali Ghanie memperoleh gelar sebagai Dokter Terpuji 2012 dari Ikatan Dokter Indonesia. Pra-nawa menunjukkan pencapaian kiprah-nya di level organisasi lebih tinggi dengan
terpilih ia sebagai ketua Majelis Pengem-bangan Pelayanan Keprofesian (MPPK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada Muk-tamar Makassar, November lalu. Bahkan ketua MPPK sebelumnya pun juga pegang oleh anggota PAPDI yang kini di-nobatkan sebagai dokter terbaik versi Ke-menkes tadi, yakni Prof. DR. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM.
Bagi Zubairi, terpilihnya dirinya seba-gai Dokter Terbaik adalah anugerah yang ia syukuri. Namun baginya menjadi dok-ter, bukanlah semata untuk mencari penghargaan. Dokter harus berpegang pada tujuan dasarnya sebagai pengobat. Karena itu, harus menempatkan kepen-tingan pasien di nomor satu.
Meskipun cita-cita masa kecilnya ke-cilnya adalah ingin menjadi pilot, namun ia mengaku sama sekali tak merasa me-nyesal, takdir membawanya menjadi se-orang dokter untuk memenuhi harapan ibunya. ”Ini adalah anugerah luar biasa bagi saya untuk bisa menolong dan
bela-jar berempati serta memahami perasaan orang,” ujarnya. Meski ia tidak memung-kiri turut mendapat rejeki dengan jalan itu, namun ia juga bersyukur dengan rejeki itu pula ia merasa mampu beramal lebih ba-nyak. Ia juga menyukai dunia dokter kare-na adanya rasa kesejawatan yang sangat kuat.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Ali Ghanie. Meskipun ia mengaku memang-ku beban yang berat, namun terpilihnya dirinya sebagai Dokter Terpuji dari IDI juga membuatnya bangga. “Tentunya
bangga atas apresiasi ini, tapi menyan-dang predikat ini juga bukanlah hal mu-dah untuk bagaimana terus bisa bersikap sesuai standar kode etik kedokteran,” ujar Ali.
Jika kedua internis di atas mencapai penghargaan, maka apa yang ditunjuk-kan oleh Pranawa adalah upaya kepedu-lian tak kenal henti terhadap dunia kepro-fesian kedokteran yang dijalaninya. Bah-kan Pranawa pasti aBah-kan sangat berse-mangat ketika diajak berbincang tentang topik ini. Tak heran jika organisasi kepro-fesian dokter tertinggi di Indonesia IDI, mendaulatnya sebagai ketua MPPK, sebuah majelis yang baginya menjadi semacam roh bagi organisasi profesi dokter, dimana harus menangani perihal bagaimana menjalankan profesi dokter, bagaimana standar-standar profesi pada masing-masing bidang ilmu tadi sampai pada organisasi yang mengelola bidang ilmu tersebut. (HI)
3 Kiprah Dokter Internis
Dalam Kancah Dunia
Kedokteran Indonesia
HARI/TANGGAL/JAM STADION MINI FISIP 1 FISIP 2 RABU 12 DESEMBER 2012
07.00 – 08.15 MEDAN VS BANDUNG MAKASAR VS PALEMBANG PADANG VS YOGYAKARTA 16.45 – 18.00 MEDAN VS SURAKARTA MAKASAR VS ACEH PADANG VS SURABAYA KAMIS 13 DESEMBER 2012
07.00 – 08.15 SURAKARTA VS BANDUNG ACEH VS PALEMBANG SURABAYA VS YOGYAKARTA 08.15 – 09.30 MANADO VS JAKARTA ---
---16.45 – 18.00 SEMIFINAL: JUARA SEMIFINAL: JUARA ---GRUP A VS ---GRUP B GRUP C VS GRUP D
JUMAT 14 DESEMBER 2012
07.00 – 08.15 FINAL JUARA 3-4 --- ---16.45 – 18.00 FINAL JUARA 1-2 ---