• Tidak ada hasil yang ditemukan

Budaya Komunitas Belajar sebagai Penunjang Profesi Guru di Sekolah. Yogi Kuncoro Adi, M.Pd. PGSD FKIP Universitas Kuningan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Budaya Komunitas Belajar sebagai Penunjang Profesi Guru di Sekolah. Yogi Kuncoro Adi, M.Pd. PGSD FKIP Universitas Kuningan"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

519 Budaya Komunitas Belajar sebagai Penunjang Profesi Guru di Sekolah

Yogi Kuncoro Adi, M.Pd. PGSD FKIP Universitas Kuningan

[email protected]

ABSTRAK

Artikel ini sebagai kajian literatur bertujuan untuk membahas budaya komunitas belajar para guru di tempat kerjanya, yaitu di sekolah. Pembelajaran guru dan pengembangan profesi guru menjadi salah satu urgensi di bidang pendidikan. Hal tersebut mengingat seorang guru sebagai pemegang peranan penting dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan jurnal penelitian tentang pengembangan profesi guru, diketahui bahwa guru belajar dari pengalaman, praktek yang disengaja, dan kolaborasi dengan rekan kerja. Oleh karena itu, guru harus dapat selalu mengembangkan kompetensinya guna mendukung profesinya di sekolah. Komunitas belajar guru merupakan salah satu reformasi di bidang pendidikan. Namun yang menjadi masalah adalah sulitnya mencanangkan program tersebut ketika sistem pendidikan di negara kita masih bersifat top down atau berpusat pada kekuasaan negara. Selain itu, mindset mayoritas guru kita sebagai pembelajar seumur hidup masihlah teramat minim. Sementara itu, kesuksesan komunitas belajar harus dibarengi dengan peningkatan kualitas guru dan fasilitas sekolah yang digunakan dalam menyukseskan program tersebut.

(2)

520 PENDAHULUAN

Reformasi pendidikan melalui komunitas belajar merupakan salah satu realisasi sekolah model abad 21. Dewasa ini, khususnya dalam bidang pendidikan adalah suatu keharusan bagi guru untuk terus belajar dan bersikap responsif terhadap perubahan abad 21. Demi menghadapi abad 21, guru dituntut belajar dengan pendekatan yang berbeda sebab zaman yang dilalui pun berbeda.

Guru sebagai ujung tombak pendidikan dituntut untuk mampu mengoptimalkan kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan siswanya melalui strategi dan pola pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Pada akhirnya, pendidikan diharapkan dapat memberikan yang terbaik dalam rangka mempersiapkan generasi seratus tahun Indonesia Merdeka, yaitu pada tahun 2045. Generasi tersebut lebih dikenal dengan nama “Generasi Emas”.

Indonesia memiliki sumber daya alam yang kaya, yang seharusnya diimbangi dengan sumber daya manusia yang unggul

baik dari segi kuantitas maupun kualitas sebab dijadikan modal utama pembangunan bangsa dan negara. Pendidikan harus selalu up to date dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga tetap relevan dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, diperlukan perubahan pada proses pembelajaran di kelas yang semula berorientasi pada hafalan menjadi pembelajaran berorientasi pada pemecahan masalah.

Sebelum guru membelajarkan siswanya dengan baik, tentunya guru tersebut haruslah menjadi guru pembelajar seumur hidup terlebih dulu. Artinya, seorang guru harus selalu memiliki kesiapan terhadap perkembangan zaman. Guru yang notabene sudah berumur dan mungkin menginjak masa pensiun, sulit untuk diajak berpikiran ke depan. Oleh karena itu, mengubah mindset setiap guru di negeri ini adalah agenda yang mendesak. Harapannya, guru yang kreatif dan inovatif mampu membelajarkan siswanya untuk memiliki beragam kompetensi sesuai dengan

(3)

521 perkembangan zaman yang cepat

berubah ini.

Komunitas belajar merupakan suatu budaya di dalam sebuah sekolah yang memfasilitasi guru menjadi seorang pembelajar. Budaya tersebut dilakukan dengan refleksi dan evaluasi kemampuan guru dalam proses dan hasil pembelajaran. Hal tersebut menjadi elemen yang belum terlaksana dengan baik sejauh ini. Kaitannya dengan profesi guru, komunitas belajar merupakan langkah untuk menuju keprofesionalan seorang guru. Artikel ini mencoba untuk membahas budaya komunitas belajar sebagai penunjang profesi guru di sekolah. PEMBAHASAN

Profesi Guru

Guru yang profesional dan mampu mengelola pembelajaran dengan baik akan berimplikasi pada peningkatan kemampuan siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya dalam penerapan kehidupan sehari-hari. Mengacu pada UU nomor 14 tahun 2005 pasal 10 ayat 1 tentang guru dan dosen, mensyaratkan bahwa guru profesional adalah guru yang

berkompeten. Kompetensi yang dimaksud meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Meskipun begitu, untuk saat ini pendidikan profesi guru banyak mendapatkan pro dan kontra oleh berbagai pihak. Hal tersebut berdampak pada hanya beberapa guru yang mengikuti program tersebut. Akan tetapi, guru yang belum mendapat pelatihan sebenarnya dapat belajar dari tempat kerjanya.

Meirink dkk (2009: 209) mengungkap beberapa penelitian bahwa “from research on teacher professional development it is known that teachers learn from-among other things-experience, deliberate practice, and collaboration with colleagues”. Berdasarkan konsep dalam penelitiannya tentang pengembangan profesi guru diketahui bahwa guru dapat belajar dari pengalaman, praktek yang disengaja, dan kolaborasi dengan rekan-rekan. Kolaborasi bersama kolega atau rekan kerja merupakan ciri khas guru pembelajar yang

(4)

522 menerapkan komunitas belajar dalam

pekerjaannya.

Kegiatan guru dalam berkolaborasi dibahas dalam penelitian oleh Henze, van Driel, & Verloop (2009: 196). Para guru yang belajar secara kolaboratif terus terlibat dalam kegiatan pembelajaran profesional yang spesifik dalam jangka waktu yang lebih lama (pengembangan evolusioner) dan merasa lebih cakap dalam berinovasi dibanding guru yang belajar secara individual. Para guru yang belajar secara kolaboratif juga lebih memilih metode mengajar yang menekankan kerja sama dan diskusi antar siswa. Hal tersebut dapat dimaknai bahwa guru yang belajar, berkolaborasi bersama rekan kerjanya secara terus-menerus, akan membangun pengetahuannya untuk selalu berinovasi dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian tersebut diperkuat oleh Marcus dalam Blair (2016: 131) bahwa tujuan dari pengembangan profesional adalah menumbuhkan hubungan kolaboratif lembaga dengan guru kelas dan mendorong untuk menggabungkan

apa yang telah mereka pelajari ke dalam pengajaran mereka.

Salah satu penyebab peningkatan profesionalisme guru adalah dengan diadakannya refleksi untuk perbaikan pembelajaran berikutnya (Winarsih & Mulyani, 2012: 50). Lebih lanjut dijelaskan bahwa untuk variasi pengembangan profesional guru dilakukan dengan memberikan kesempatan pembelajaran yang berkualitas kepada para guru, akan tetapi hal ini kadang-kadang dipersempit ke arah ceramah dan lokakarya sehingga tampak tidak untuk memfasilitasi pengembangan profesional guru yang efektif. Pembelajaran reflektif guru secara kolaboratif bersama kolega dalam komunitas belajar-lah yang dapat mengembangkan profesionalitas guru. Selain itu, Zhao (2013: 1369) menekankan cara berkembang kolaboratif yang menawarkan guru kesempatan untuk melihat diri mereka sebagai bagian dari profesi yang lebih luas, dimana guru didukung dalam memperluas pengetahuan dan keterampilan serta didorong untuk saling membantu dalam belajar, yang dapat

(5)

523 mengurangi perasaan terisolasi

dalam pengembangan profesional karena budaya kompetitif.

Berdasarkan berbagai kajian tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru dapat ditempuh melalui kolaborasi guru dalam komunitas belajar. Antar guru akan mampu dengan mudah merefleksikan apa yang kurang ketika dalam membelajarkan muridnya dengan berkolaborasi. Kurikulum negeri kita yang terbaru pun condong kepada sistem belajar guru tersebut.

Komunitas Belajar

Konstruktivisme adalah kerangka teoretis yang dianut sebagian besar lingkungan pendidikan dalam mendukung komunitas belajar profesional. Tujuan umum dari model "komunitas" adalah untuk mempromosikan kolaborasi antara guru dengan menciptakan budaya profesional kolaboratif. Peppers (2015: 26) menyatakan bahwa “it has been proposed that professional learning communities should be implemented as a vehicle to engage

school staffs in meaningful learning, which can lead to increased and improved student achievement in the 21st century, an era of globalization” Komunitas belajar profesional harus dilaksanakan sebagai wahana untuk melibatkan staf sekolah dalam pembelajaran bermakna, yang dapat berujung pada meningkatnya perbaikan prestasi siswa di abad 21, yang notabene adalah era globalisasi. Akan tetapi, agenda komunitas belajar yang mencanangkan pembelajaran kolaboratif bukan persoalan guru sebagai pembelajar saja.

Sato (2013: 15) mendefinisikan sekolah komunitas belajar sebagai tempat dimana siswa-siswa saling belajar dan berkembang, sekolah dimana guru-guru pun sebagai pakar pendidikan saling belajar dan berkembang, dan sekolah dimana para orangtua serta masyarakat pun mendukung dan terlibat dalam reformasi sekolah dengan saling belajar dan berkembang. Lebih lanjut, sekolah komunitas belajar mewujudkan misi publik sekolah, yaitu “mewujudkan hak belajar setiap anak, dan

(6)

524 meningkatkan kualitas pembelajaran

tersebut ”serta “menyiapkan masyarakat demokratis”.

Masaaki (2012: 84) memperkuat pendapat di atas bahwa, learning community (komunitas belajar) ditujukan agar setiap guru berubah menjadi ahli pembelajaran. Guru harus saling belajar dan membelajarkan sesamanya tentang dua aspek, yaitu keterampilan (teknik) mengajar dan pengetahuan dasar termasuk didalamnya teori pedagogi sebagaimana layaknya seorang ahli. Oleh karena itu, seorang guru perlu memiliki pengalaman mengamati cara mengajar guru lain, dimana dia sendiri mengalami kesulitan dan kesusahan dalam menyelenggarakan kegiatan pengajaran secara langsung. Berdasarkan pengetahuan dan wawasan yang diperoleh, setiap guru berupaya untuk memperbaiki mutu pengajarannya secara berkelanjutan, bagaimana cara melakukan pendekatan kepada siswa, sehingga bisa melihat senyuman siswa. Itulah alasan untuk belajar terus-menerus sebagai ahli mengenai pembelajaran.

Konsep komunitas belajar profesional sering dikaitkan dengan pengembangan profesional oleh banyak peneliti. Zhao (2013: 1365) mengusulkan lima dimensi komunitas belajar yang meliputi kepemimpinan yang mendukung dan berbagi, nilai-nilai dan visi bersama, belajar kolektif dan aplikatif, kondisi yang mendukung, dan praktek pribadi bersama.

a. Kepemimpinan yang mendukung dan berbagi

Kepala sekolah bertanggung jawab tidak hanya untuk memenuhi kapasitasnya sendiri, tetapi juga mendukung pengembangan profesional para staf-nya. Guru model dapat bertindak sebagai pemimpin kurikuler, membimbing pengembangan staf, berbagi praktek sukses, dan melayani sebagai pengawas mengajar, penasehat dan mentor. Harapannya tugas tersebut dapat membuka kekuatan kreatif dari guru dan solusi inovatif dari permasalahan.

(7)

525 b. Nilai-nilai dan visi bersama

Guru bekerja saling tergantung dalam tim kolaboratif sebagai upaya untuk mencapai tujuan bersama yaitu untuk peningkatan belajar siswa. Guru melihat rekan-rekan mereka sebagai sumber daya dan mengakui bahwa mereka ikut berkontribusi. Setelah nilai-nilai dan visi bersama ditetapkan, guru tidak lagi hanya bertanggung jawab untuk apa yang terjadi di dalam kelasnya, tetapi seluruh sekolah pada umumnya.

c. Belajar kolektif dan aplikatif Pembelajaran tim menyatukan guru menuju visi bersama dan koherensi. Guru komunitas belajar profesional berkolaborasi dalam keterampilan mengajar dan hal-hal yang berhubungan dengan siswa. Kolegialitas termasuk diskusi kolegial keterampilan mengajar, berbagi sumber daya pengajaran, atau mengamati kelas satu sama lain. Hal tersebut bukan hanya meliputi lokakarya dan pengembangan profesional

untuk semua guru. Akan tetapi mengenai kebiasaan sehari-hari bekerja bersama-sama.

d. Kondisi yang mendukung

Komunitas belajar profesional menyediakan lingkungan yang menguntungkan bagi studi guru dengan memelihara budaya kooperatif sekolah dan saling

mendukung. Guru

berkesempatan untuk melihat diri mereka sebagai bagian dari profesi yang lebih luas, dimana guru mempelajari pengetahuan dan keterampilan baru dan didorong untuk membantu orang lain dalam belajar. Guru juga difasilitasi ketika membutuhkan bantuan, bimbingan, dan pembinaan.

e. Praktek pribadi bersama

Komunitas belajar profesional guru adalah sebuah komunitas guru dan praktek mengajar, dimana guru dapat meningkatkan pekerjaan mereka dengan belajar pengetahuan yang tersirat dari rekan-rekan mereka Pada pembelajaran komunitas guru profesional, guru dapat berbagi pengetahuan

(8)

526 melalui perguruan tinggi dan

kegiatan kolaboratif dalam pekerjaan sehari-hari mereka seperti percakapan kolegial, sesi pelatihan, pengambilan keputusan bersama, serta acara interaktif lainnya.

Selain itu, Sato (2013: 18) juga memiliki pandangan yang sama bahwa reformasi sekolah dengan komunitas belajar dibentuk dengan beberapa sistem kegiatan yang meliputi pembelajaran kolaboratif (collaborative learning) di dalam kelas, pembentukan komunitas belajar profesional (professional learning community), kolegialitas (collegiality) di ruang guru, dan partisipasi orangtua serta masyarakat dalam reformasi. Dari kedua pendapat di atas, dimensi komunitas belajar selalu diidentikkan dengan adanya kolaborasi antar kolega para guru dan didukung oleh kondisi dan fasilitas yang memadai.

Salah satu tujuan utama reformasi sekolah dengan komunitas belajar terletak pada membentuk sekolah dimana setiap guru tanpa terkecuali dapat berkembang sebagai seorang profesional. Demi mencapai

tujuan ini, penting kiranya semua guru membuka kelasnya terhadap sesama rekan guru lainnya, dan melalui forum refleksi guru dapat membentuk kolegialitas saling belajar di dalam sekolah. Ketika semua guru membuka kelasnya, hubungan saling belajar dari satu sama lain diantara guru-guru tanpa terkecuali akan terbangun, sehingga reformasi sekolah dapat memberikan hasil yang bermanfaat.

Komunitas Belajar sebagai Penunjang Profesi Guru

Pendidikan seumur hidup itu merumuskan suatu asas bahwa proses pendidikan merupakan suatu proses kontinu, yang bermula sejak seseorang dilahirkan hingga meninggal dunia (Hasbullah, 2008: 64). Lebih lanjut, Hasbullah (2008: 84) mendefinisikan metode belajar seumur hidup sebagai orang-orang yang sadar tentang diri mereka sebagai pelajar seumur hidup, melihat belajar baru sebagai cara yang logis untuk mengatasi problema dan sangat terdorong untuk belajar di seluruh tingkat usia, serta menerima tantangan dan perubahan seumur hidup sebagai pemberi kesempatan

(9)

527 untuk belajar baru. Berdasarkan hal

tersebut, pendidikan bukan hanya tentang belajar di dalam kelas. Proses pendidikan seumur hidup mencakup belajar formal di sekolah, informal di keluarga, dan nonformal di masyarakat. Pendidikan dan belajar didapatkan dari berbagai sumber dan menjadi proses yang berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu, guru sebagai pembelajar seumur hidup harus dituntut atas hal tersebut.

Sebagai pembelajar seumur hidup, guru harus dipersiapkan dalam menghadapi tantangan yang bersifat global. Guru harus memiliki jati diri pembelajar yang sesuai dengan tujuan pendidikan negaranya. Hasbullah (2008: 65) memaparkan kebijaksanaan pemerintah dalam membangun pendidikan seumur hidup melalui prinsip-prinsip sebagai berikut.

a. Pembangunan bangsa dan watak bangsa dimulai dengan membangun subjek manusia Indonesia seutuhnya sebagai perwujudan manusia Pancasila. b. Pembangunan manusia

Indonesia, secara khusus merupakan tanggung jawab

lembaga dan usaha pendidikan nasional untuk mewujudkannya melalui institusi-institusi pendidikan.

Salah satu pengembangan profesional seperti program yang melibatkan kolaborasi guru dalam tim, umumnya diasumsikan membentuk lingkungan belajar yang sangat kuat bagi guru. Meirink dkk (2009: 211) menjelaskan bahwa dalam komunitas belajar guru dapat bertukar pengalaman dan ide-ide mereka sendiri, mengembangkan dan mendiskusikan bahan-bahan baru, serta menerima umpan balik dari rekan-rekan. Lebih lanjut, Shank dalam Meirink dkk (2009: 219) berpendapat bahwa “bercerita” dengan rekan-rekan adalah cara yang efektif untuk pengembangan profesi guru. Namun, dalam sebagian besar penelitian, “berbagi ide” mengacu pada situasi dimana guru belajar dengan mengatakan masalahnya atau pengalaman kepada rekan-rekan dan dengan kolektif merefleksikan pengalaman dengan langsung menerima umpan balik dari rekan-rekan. Berdasarkan kajian tersebut, hubungan kolegialitas guru dengan

(10)

528 rekan kerjanya menentukan

keberhasilan “berbagi” dalam komunitas belajar mereka.

Kesimpulan yang dapat diberikan untuk komunitas belajar yang menunjang profesi guru dipaparkan oleh Peppers (2015: 29) bahwa tema yang muncul dari temuan ini menunjukkan ada banyak faktor yang menggambarkan pentingnya komunitas belajar dan pengembangan profesional, seperti belajar terus menerus, eksplorasi berkelanjutan, kolaborasi, pemberdayaan, dan kepemimpinan yang efektif, yang merupakan elemen penting dalam mempertahankan komunitas belajar di sekolah-sekolah. Akibatnya, sekolah yang efektif dan secara akademik berhasil mendukung dan menerapkan paradigma baru komunitas belajar sebagai sarana untuk meningkatkan kinerja mengajar guru dan belajar siswa.

Komunitas belajar ada baiknya untuk diberikan pada waktu guru masih berstatus menjadi mahasiswa. Harapannya, para calon guru tersebut memahami dengan benar kaitannya dengan teknis

pelaksanaan kolaborasi guru contohnya. “A positive experience with a PLC as an undergraduate will lead these future teachers to be proactive in developing schools that provide ample opportunities for professional collaboration” (Kagle, 2014: 24). Pernyataan tersebut dapat diartikan sebagai pengalaman yang positif dengan komunitas belajar sebagai calon guru akan menyebabkan guru-guru masa depan untuk menjadi proaktif dalam mengembangkan sekolah-sekolah yang memberikan kesempatan yang cukup untuk kolaborasi profesional. Lebih lanjut, komunitas belajar bagi mahasiswa memiliki banyak manfaat, yaitu seperti yang dipaparkan oleh Kagle (2014: 23-24) adalah untuk membangun keterampilan pedagogis, berorientasi pada kebiasaan refleksi, memprakarsai identitas guru, dan realitas menghadapi kelas.

Berbicara mengenai komunitas belajar juga mengartikan bahwa adanya efektivitas program tersebut dalam pembelajaran pada khususnya dan pendidikan pada umumnya. Vescio dkk dalam Ning,

(11)

529 Lee, & Lee (2015: 338)

menunjukkan bahwa komunitas belajar sekolah yang efektif dapat mengarah pada perubahan signifikan dalam budaya dan praktek mengajar, seperti peningkatan penggunaan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan pedagogies otentik serta tingkat yang lebih tinggi dari dukungan sosial bagi sebuah prestasi. Lebih lanjut Ning, Lee, & Lee (2015: 338) masih pada halaman yang sama menyebutkan beberapa hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kolaborasi guru mengacu pada praktek kolaboratif dan kooperatif yang profesional dan aktivitas yang melibatkan guru untuk mencapai tujuan pendidikan mereka bersama. Kolaborasi yang efektif dalam budaya komunitas belajar diantara guru telah lama diakui sebagai komponen penting untuk pengembangan profesi guru dan keberhasilan siswa. Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa budaya komunitas belajar menjadi komponen penting dalam menunjang profesionalitas seorang guru.

KESIMPULAN

Kolaborasi antar guru akan mampu dengan mudah merefleksikan apa yang kurang ketika dalam membelajarkan muridnya. Kurikulum negeri kita yang terbaru pun condong kepada sistem belajar guru tersebut. Akan tetapi kembali pada jumlah sumber daya guru yang terbatas pada setiap sekolah dan sarana prasarana yang mendukung. Oleh sebab itu, pemerintah tidak boleh hanya mengeluarkan kebijakan, tetapi juga menyiapkan guru menjadi sumber daya yang profesional di bidangnya melalui pelatihan secara berkesinambungan.

Seorang pemimpin perlu menyusun jadwal pertemuan untuk para guru, agar terjadi interaksi yang baik dikalangan para guru. Rutinitas dan kesibukan yang terjadi di kalangan para guru, sesungguhnya tidak dapat menyelesaikan masalah sepenuhnya. Intinya harus ada ruang untuk saling berbagi. Guru perlu menjaga hubungan profesionalisme dengan guru lainnya. Ketika seorang kepala sekolah tidak memberikan ruang dan waktu untuk pertemuan, maka guru sebaiknya mencari cara

(12)

530 untuk melakukan interaksi dengan

guru lainnya.

Kolaborasi yang efektif dalam budaya komunitas belajar diantara guru telah lama diakui sebagai komponen penting untuk pengembangan profesi guru dan keberhasilan siswa. Sebagai penunjang profesionalitas seorang guru, komunitas belajar menjadi sarana yang menuntut guru untuk menjadi pembelajar seumur hidup.

DAFTAR PUSTAKA

Blair, D.J. (2016). Experiential learning for teacher professional development at historic sites. Journal of Experiential Education, 39 (2), 130-144.

Hasbullah. (2008). Dasar-dasar ilmu pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Henze, I., van Driel, J.H., & Verloop, N. (2009. Experienced science teachers' learning in the context of educational innovation. Journal of Teacher Education, 60 (2), 184-199.

Kagle, M. (2014). Professional learning communities for pre-service teachers. National Teacher Education Journal, 7 (2), 21-25.

Masaaki, S. (2012). Dialog dan kolaborasi di sekolah menengah pertama (praktek “learning community”) edisi kedua. Tokyo: Gyosei. Meirink, J.A., Meijer, P.C., Verloop,

N., & Bergen, T.C.M. (2009). How do teachers learn in the workplace? an examination of teacher learning activities. European Journal of Teacher Education, 32 (3), 209-224.

Ning, H.K., Lee, D., & Lee, W.O. (2015). Relationships between teacher value orientations, collegiality, and collaboration in school professional learning communities. Soc Psychol Educ, 18, 337-354. Peppers, G.J. (2015). Teachers’ perceptions and implementation of professional learning communities in a large suburban high school. National Teacher Education Journal, 8 (1), 25-31.

Republik Indonesia. (2005). Undang-undang RI nomor 14, tahun 2005, tentang guru dan dosen.

Sato, M. (2013). Mereformasi sekolah (konsep dan praktek komunitas belajar). Tokyo: Iwanami Shoten Publishers.

Winarsih, A., & Mulyani, S. (2012). Peningkatan

(13)

531 melalui lesson study dalam

pengembangan model pembelajaran pbi. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 1 (1), 43-50.

Zhao, Y. (2013). Professional learning community and college english teachers’ professional development. Journal of Language Teaching and Research, 4 (6), 1365-1370.

Referensi

Dokumen terkait