BAB II LANDASAN TEORI

Teks penuh

(1)

7 BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Pengaruh

Menurut Badudu (1994:1031), Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari suatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.

Dari definisi pengaruh diatas diambil kesimpulan bahwa pengaruh adalahdaya yang kemudian akan membentuk sesuatu.

2.2 Auditing

2.2.1 Definisi Auditing

Menurut Islahuzzaman (2012:47), pengertian dari auditing dinyatakan sebagai berikut :

“Suatu penugasan atestasi yang dihasilkan oleh profesi akuntan publik yang berupa pernyataan suatu pendapat tentang kesesuaian asersi yang dibuat oleh pihak lain dengan kriteria yang telah ditetapkan. Tujuannya adalah untuk memberikan kredibilitas (keterandalan) pada laporan keuangan”.

Sedangkan menurut Agoes (2012:44), definisi dari auditing dinyatakan sebagai berikut :

“Suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang independen, terhadap laporan keuangan yang disusun oleh manajemen,beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut”.

Menurut Arens et al yang diterjemahkan Wibowo (2008:04), auditing adalah pengumpulan dan evaluasi bukti tentang informasi untuk menentukan dan melaporkan derajat kesesuaian antara informasi dan kriteria yang telah ditetapkan.

(2)

Definisi auditing secara umum memiliki unsur – unsur penting sebagai berikut :

1. Suatu proses sistematik

2. Untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif. 3. Pernyataan mengenai kegiatan dan kejadian ekonomi 4. Menetapkan tingkat kesesuaian

5. Kriteria yang telah ditetapkan 6. Penyampaian hasil

7. Pemakai yang berkepentingan

Definisi auditing secara umum memiliki unsur – unsur penting yang diuraikansebagai berikut :

1. Suatu proses sistematik

Auditing merupakan suatu proses sistematik, yaitu berupa suatu rangkaian langkah atau prosedur yang logis, berkerangka, dan terorganisir.

2. Untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif.

Proses sistematik tersebut ditujukan untuk memperoleh bukti yang mendasari pernyataan yang dibuat oleh individu atau badan usaha, serta untuk mengevaluasi tanpa memihak atau berprasangka terhadap bukti – bukti tersebut. 3. Pernyataan mengenai kegiatan dan kejadian ekonomi

Yang dimaksud dengan pernyataan mengenai kegiatan dan kejadian ekonomi di sini adalah hasil proses akuntansi. Akuntansi merupakan proses pengidentifikasian, pengukuran dan penyampaian informasi ekonomi yang dinyatakan dalam satuan uang. Proses akuntansi inilah yang menghasilkan suatu pernyataan yang disajikan dalam laporan keuangan.

4. Menetapkan tingkat kesesuaian

Pengumpulan bukti mengenai persyaratan dan evaluasi terhadap hasil pengumpulan bukti tersebut dimaksudkan untuk menetapkan kesesuaian pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan.Tingkat kesesuaian antara pernyataan dengan kriteria tersebut kemungkinan dapat dikuantifikasikan, kemungkinan pula bersifat kualitatif.

(3)

5. Kriteria yang telah ditetapkan

Kriteria atau standar yang dipakai sebagai dasar untuk menilai pernyataan (yang berupa hasil proses akuntansi) dapat berupa :

a. Peraturan yang ditetapkan oleh suatu badan legislatif.

b. Anggaran atau ukuran prestasi lain yang ditetapkan oleh manajemen. c. Prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia (generally

acceptedaccounting principles). 6. Penyampaian hasil

Penyampaian hasil auditing sering disebut dengan atestasi (attestation).Penyampaian hasil dilakukan secara tertulis dalam bentuk laporan audit (audit report). Atestasi dalam bentuk laporan tertulis ini dapat menaikan atau menurunkan tingkat kepercayaan pemakai informasi keuangan atas asersi yang dibuat oleh pihak yang diaudit.

7. Pemakai yang berkepentingan

Dalam dunia bisnis, pemakai yang berkepentingan terhadap laporan audit adalah para pemakai informasi keuangan seperti : pemegang saham, manajemen, kreditur, calon investor dan kreditur, organisasi buruh, dan kantor pelayanan pajak.

2.2.2 Jenis Audit

Menurut Mulyadi (2002:30-32) Auditing umumnya digolongkan menjadi 3 golongan yaitu :

a. Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit) b. Audit Kepatuhan (Compliance Audit)

c. Audit Operasional (Operational Audit)

Auditing umumnya digolongkan menjadi 3 golongan yang dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit)

Audit laporan keuangan adalah audit yang dilakukan oleh auditor independen terhadap laporan keuangan yang disajikan oleh kliennya untuk menyatakan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.

(4)

b. Audit Kepatuhan (Compliance Audit)

Audit kepatuhan adalah audit yang tujuannya untuk menentukan apakah yang diaudit sesuai dengan kondisi atau peraturan tertentu.

c. Audit Operasional (Operational Audit)

Audit operasional merupakan review yang sistematik kegiatan organisasi, atau bagian daipadanya, dalam hubungannya dengan tujuan tertentu.

Menurut Agoes (2012) ditinjau dari jenis pemeriksaan, audit dapat dibedakan atas 4 (empat) yaitu:

a. Management Audit (Operational Audit) . b. Compliance Audit (Pemeriksaan Ketaatan) c. Internal Audit (Pemeriksaan Intern) d. Computer Audit (Audit Komputer)

Audit dapat dibedakan atas 4 (empat) yang dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Management Audit (Operational Audit)

Suatu pemeriksaan terhadap kegiatan operasi suatu perusahaan, termasuk kebijakan akuntansi dan kebijakan operasional yang telah ditentukan oleh manajemen, untuk mengetahui apakah kegiatan operasi tersebut sudah dilakukan secara efektif, efisien dan ekonomis.

b. Compliance Audit (Pemeriksaan Ketaatan)

Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah perusahaan sudah mentaati peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan yang berlaku, baik yang ditetapkan oleh pihak intern perusahaan (manajemen, dewan komisaris) maupun pihak eksternal (Pemerintah, Bapepam LK, Bank Indonesia, Direktorat Jendral Pajak, dan lain-lain). Pemeriksaan biasa dilakukan baik oleh KAP maupun bagian Internal Audit.

c. Internal Audit (Pemeriksaan Intern)

Pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan, baik terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan, maupun ketaatan terhadap kebijakan manajemen yang telah ditentukan.Laporan internal auditor berisi temuan pemeriksaan (audit findings) mengenai penyimpangan dan

(5)

kecurangan yang ditemukan, kelemahan pengendalian internal, beserta saran-saran perbaikannya (recommendations).

d. Computer Audit (Audit Komputer)

Pemeriksaan oleh KAP terhadap perusahaan yang memproses data akuntansinya dengan menggunakan Electronic Data ProcessingSystem.

2.3 Audit Internal

2.3.1 Definisi Audit Internal

Audit internal dapat diartikan sebagai aktivitas pemeriksaan dan penilaian dalam suatu perusahaan secara menyeluruh, yang bertujuan untuk membantusemua tingkatan manajemen dalam melaksanakan tanggungjawabnya secaraefektif. Sekarang ini profesi audit internal harus mengalami perkembangan sesuaidengan tuntutan berkembangnya dunia usaha dan perekonomian yang menuntut suatu perusahaan untuk menjalankan operasinya secara profesional yang berartti pemanfaatan sumber daya yang efektif dan efesien sesuai dengan tujuan perusahaan. Kebutuhan akan fungsi audit internal akan muncul seiring dengan perkembangan tersebut.

Audit internal merupakan suatu fungsi penilaian independen dalam suatu organisasi, yang bertujuan untuk mengevaluasi kegiatan organisasi melalui pemberian saran untuk memperbaiki kinerja organisasi dalam menjalankan kegiatan operasional secara keseluruhan dan membantu manajemen dalam melaksanakan tugas dalam mencapai tujuan yang maksimal dari organisasitersebut. Kegiatan audit internal adalah mengawasi dan menilai efektivitas dan kecukupan-kecukupan sistem pengendalian internal yang ada di organisasi.

Pengertian audit internal menurut Konsorsium Organisasi Profesi Auditor Internal dalam Standar Profesi Audit Internal (SPAI 2004) menyatakan bahwa:

“Audit internal merupakan kegiatan assurance dan konsultasi yang independen dan obyektif, yang dirancang untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan kegiatan operasi organisasi. Audit internal membantu organisasi untuk mencapai tujuannya, melalui suatu pendekatan yang sistematis dan teratur untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas pengelolaan risiko, pengendalian, dan proses governance”.

(6)

Tunggal (2010:14) menyatakan bahwa audit internal merupakan auditor yang dipekerjakan di dalam suatu perusahaan untuk melakukan suatu pemeriksaan secara internal.

Sedangkan menurut Halim (2008:11), menyatakan bahwa definisi dari audit internal adalah :

“Audit internal adalah suatu kontrol organisasi yang mengukur dan mengevaluasi efektivitas organisasi.Informasi yang dihasilkan ditujukan untuk manajemen organisasi itu sendiri.Audit internal itu sendiri merupakan karyawan suatu perusahaan tempat mereka melakukan audit”.

Menurut Institute of Internal Auditor (IIA) dalam Andayani (2011), mendefinisikan audit internal yaitu :

“suatu fungsi penilaian independen yang ada dalam organisasi untuk memeriksa dan mengevaluasi aktivitas organisasi sebagai pemberian jasa kepada organisasi. Berdasarkan beberapa pendapat dari para ahli mengenai pengertian audit internal, dapat disimpulkan bahwa audit internal adalah bagian dari perusahaan yang memberikan jaminan dan jasa konsultan dimana seorang auditor harus objektif dan independen untuk menguji dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan operasional perusahaan, serta memberikan nilai tambah dan inovasi-inovasi, membantu para anggota perusahaan agar mereka dapat melaksanakan tanggungjawabnya secara efektif sesuai dengan pengendalian intern yang telah ditetapkan dan membantu perusahaan dalam meminimalisir risiko atau manajemen risiko yang efektif”.

2.3.2 Unsur-unsur Sistem Pengendalian Internal

Menurut Mulyadi untuk menciptakan sistem pengendalian intern yang baik dalam perusahaan maka ada empat unsur pokok yang harus dipenuhi antara lain Mulyadi (2009: 166):

a. Struktur organisasi yang memisahkan tanggungjawab fungsional secara tegas.Struktur organisasi merupakan kerangka (framework) pembagian tanggung jawab fungsional kepada unit-unit organisasi yang dibentuk untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pokok perusahaan. Dalam perusahaan manufaktur misalnya, kegiatan pokoknya adalah memproduksi dan menjual produk. Untuk melaksanakan kegiatan pokok tersebut dibentuk departemen produksi, departemen pemasaran, dan departemen keuangan dan umum. Departemen-departemen ini kemudian terbagi-bagi lebih lanjut menjadi unit-unit organisasi yang lebih kecil untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan perusahaan. Pembagian tanggung

(7)

jawab fungsional dalam organisasi ini didasarkan pada prinsip-prinsip berikut ini :

a) Harus dipisahkan fungsi-fungsi operasi dan penyimpanan dari fungsi akuntansi. Fungsi operasi adalah fungsi yang memiliki wewenang untuk melaksanakan suatu kegiatan misalnya pembelian. Setiap kegiatan dalam perusahaan memerlukan otorisasi dari manajer fungsi yang memiliki kewenangan untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Fungsi penyimpanan adalah fungsi yang memiliki wewenang untuk menyimpan aktiva perusahaan. Fungsi akuntansi adalah fungsi yang memiliki wewenang untuk mencatat peristiwa keuangan perusahaan. b) Suatu fungsi tidak boleh diberi tanggung jawab penuh semua tahap

suatu transaksi

b. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan biaya. Dalam organisasi setiap transaksi hanya terjadi atas dasar otorisasi dari pejabat yang memiliki wewenang untuk menyetujui terjadinya transaksi tersebut. Oleh karena itu dalam organisasi harus dibuat sistem yang mengatur pembagian wewenang untuk otorisasi atas terlaksananya setiap transaksi dalam organisasi. Oleh karena itu penggunaan formulir harus diawasi sedemikian rupa guna mengawasi pelaksanaan otorisasi.

Di pihak lain, formulir merupakan dokumen yang dipakai sebagai dasar untuk pencatatan transaksi dalam catatan akuntansi. Prosedur pencatatan yang baik akan menjamin data yang direkam dalam formulir dicatat dalam catatan akuntansi dengan ketelitian dan keandalan (realibility) yang tinggi. Dengan demikian sistem otorisasi akan menjamin dihasilkannya dokumen pembukuan yang dapat dipercaya, sehingga akan menjadi masukan yang dapat dipercaya bagi proses akuntansi. Selanjutnya, prosedur pencatatan yang baik akan menghasilkan informasi yang teliti dan dapat dipercaya mengenai kekayaan, utang, pendapatan, dan biaya suatu organisasi.

c. Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit Organisasi

Adapun cara-cara yang umumnya ditempuh oleh perusahaan dalam menciptakan praktik yang sehat adalah:

a) Penggunaan formulir bernomor urut bercetak yang pemakaiannya harus dipertanggungjawabkan oleh yang berwenang. Karena formulir merupakan alat yang memberikan otorisasi terlaksananya transasksi. b) Pemeriksaan mendadak (surprised audit). Pemeriksaan mendadak

dilaksanakan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak yang akan diperiksa, dengan jadwal yang tidak teratur.

c) Setiap transaksi tidak boleh dilaksanakan dari awal sampai akhir oleh satu orang atau satu unit organisasi, tanpa campur tangan dari orang atau unit organisasi lain.

d) Perputaran jabatan (job rotation). Perputaran jabatan yang diadakan secara rutin akan dapat menjaga independensi pejabat dalam

(8)

melaksanakan tugasnya, sehingga persekongkolan diantara mereka dapat dihindari.

e) Keharusan mengambil cuti bagi karyawan yang berhak. Karyawan perusahaan diwajibkan mengambil cuti yang menjadi haknya.

f) Secara periodik diadakan pencocokan fisik kekayaan dengan catatan. Untuk menjaga kekayaan organisasi dan mengecek ketelitian dan keandalan catatan akuntansinya.

g) Pembentukan unit organisasi yang bertugas untuk mengecek efektivitas untur-unsur sistem pengndalian yang lain.

d. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggungjawabnya

Untuk mendapatkan karyawan yang kompeten dan dapat dipercaya berbagai cara berikut ini dapat ditempuh :

a) Seleksi calon karyawan berdasarkan persyaratan yang dituntut oleh pekerjaannya. Untuk memperoleh karyawan yang mempunyai kecakapan sesuai dengan tuntutan tanggung jawab yang akan dipikulnya, manajemen harus mengadakan analisis jabatan yang ada dalam perusahaan dan menentukan syarat-syarat yang dipenuhi oleh calon karyawan yang menduduki jabatan tersebut.

b) Pengembangan pendidikan karyawan selama menjadi karyawan perusahaan, sesuai dengan tuntutan perkembangan pekerjaannya.

c) Misalnya untuk menjamin transaksi penjualan dilaksanakan oleh karyawan yang kompeten dan dapat dipercaya, pada saat seleksi karyawan untuk mengisi jabatan masing-masing kepala fungsi pembelian, kepala fungsi penerimaan dan fungsi akuntansi, manajemen puncak membuat uraian jabatan (job description) dan telah menetapkan persyaratan jabatan (job requirements). Dengan demikian pada seleksi karyawan untuk jabatan-jabatan tersebut telah digunakan persyaratan jabatan tersebut sebagai kriteria seleksi.

2.3.3 Tujuan Audit Internal

Secara umum tujuan dari audit internal adalah untuk membantu semua anggota organisasi dalam melaksanakan tanggung jawabnya secara efektif dengan memberikan penilaian, rekomendasi yang objektif dan komentar penting mengenai aktifitas yang diaudit. Tujuan lainnya adalah meningkatkan pengendalian yang efektif dengan biaya yang wajar.

Menurut Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal (SPAI 2004) menyatakan bahwa:

“Tujuan, kewenangan dan Tanggungjawab fungsi audit internal harus dinyatakan secara formal dalam Charter Audit Internal, konsisten dengan Standar Profesi Audit Internal (SPAI) dan mendapat persetujuan daripimpinan dan Dewan Pengawas Organisasi”.

(9)

Sedangkan menurut Agoes (2008:221), mengatakan bahwa tujuan dari auditinternal yaitu :

“Tujuan pemeriksaan yang dilakukan oleh auditor internal adalah membantu semua pimpinan perusahaan (manajemen) dalam melaksanakan tanggungjawabnya dengan memberikan analisa, penilaian, saran dan komentar mengenai kegiatan yang diperiksanya”.

2.3.4 Fungsi dan Ruang Lingkup Audit Internal

Fungsi audit internal adalah membantu manajemen dengan caramemberikan landasan bagi manajemen untuk mengambil keputusan ataupun suatu tindakan. Menurut Robert Tampubolon dalam bukunya “ Risk and system-BasedInternal Auditing” (2005 :01) bahwa :

“fungsi audit intern lebih berfungsi sebagai mata dan telingga manajemen, karena manajemen butuh kepastian bahwa semua kebijakan yang telah ditetapkan tidak akan dilaksanakan secara menyimpang. Sedangkan tujuan pelaksanaan audit intern adalah membantu para anggota organisasi agar mereka dapat melaksanakan tanggung jawabnya secara efektif. Untuk hal tersebut, auditor intern akan memberikan berbagai analisis, penilaian, rekomendasi, petunjuk dan informasi sehubungan dengan kegiatan yang diperiksa. Tujuan pemeriksaan mencakup pula usaha mengembangkan pengendalian yang efektif dengan biaya yang wajar”.

Tujuan utama pengendalian intern menurut Hiro Tugiman (2006:44) adalah:

“Meyakinkan keandalan (reliabilitas dan integritas) informasi kesesuaian dengan berbagai kebijaksanaan, rencana, prosedur, dan ketentuan perundang-undangan; perlindungan terhadap harta organisasi; penggunaan sumber daya yang ekonomis dan efisien, serta tercapainya berbagai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan”.

Dari definisi di atas maka dapat dikatakan bahwa fungsi audit internaladalah untuk memantau kinerja pengendalian suatu organisasi, menelaah dan mempelajari, menilai kegiatan perusahaan memberiakan saran-saran kepada manajemen dalam pengendalian suatu keputusan serta memberikan nilai tambah organisasi.

(10)

Ruang lingkup audit intern yaitu menilai keefektifan sistem pengendalian intern, pengevaluasian terhadap kelengkapan dan keefektifan sistem pengendalian internal yang dimiliki organisasi, serta kualitas pelaksanaan tanggung jawab yang diberikan.

Ruang lingkup dari pekerjaan internal audit yang terdapat di dalam Standar Profesi Akuntan Internal yang dikeluarkan oleh Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal (2004) yaitu fungsi audit intern melakukan evaluasi dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan proses pengelolaan risiko, pengendalian, dan governance, dengan pendekatan yang sistematis, teratur dan menyeluruh.

Maksud yang terkandung dari pernyataan di atas adalah audit internalmembantu organisasi dengan cara mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko signifikan dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan pengelolaan risiko dan sistem pengendalian internal :

1. Evaluasi Pengelolaan Risiko 2. Evaluasi Pengendalian 3. Evaluasi Proses governance

Hal-hal tersebut diuraikan sebagai berikut: 1. Evaluasi Pengelolaan Risiko

Fungsi audit internal harus membantu organisasi dengan cara mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko signifikan dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan pengelolaan risiko dan sistem pengendalian intern.

2. Evaluasi Pengendalian

Fungsi audit internal harus membantu organisasi dalam memelihara pengendalian intern yang efektif dengan cara mengevaluasi kecukupan, efisien dan efektivitas pengendalian tersebut, serta mendorong peningkatan pengendalian intern secara berkesinambungan.

3. Evaluasi Proses governance

Fungsi audit internal harus menilai dan memberikan rekomendasi yang sesuai untuk meningkatkan proses governance dalam mencapai tujuan

(11)

2.3.5 Tanggung Jawab Audit Internal

Tanggung jawab audit internal adalah memberikan pelayanan semaksimal mungkin terhadap manajemen dan dewan direksi dengan menjaga agar tanggung jawab tersebut konsisten dan berpedoman kepada standar profesional auditinternal dan standar pelaksanaan professional kode etik. Selain itu juga melakukan koordinasi kegiatan audit internal dengan kegiatan bagian lainnya sebagai tujuan audit internal dan tujuan perusahaan dapat tercapai.

Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) dalam Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP, 2004) menyatakan bahwa tanggung jawab auditor internal yaitu:

“Auditor internal bertanggung jawab untuk menyediakan data analisis dan evaluasi, memberikan keyakinan dan rekomendasi, menginformasikan kepada manajemen satuan usaha dan dewan komisaris atau pihak lain yang setara dengan wewenang dan tanggung jawab tersebut. Audit internal mempertahankan objektivitasnya yang berkaitan dengan aktivitas yang diauditnya”.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tanggungjawab audit internal adalah memberikan informasi dan rekomendasi kepada manajemen mengenai aktivitas didalam perusahaan dan mengevaluasi pengendalian interal entitas.

2.3.6 Peran Auditor Internal

Internal auditor memiliki peran yang penting dalam membantu manajemen mencapai kinerja perusahaan yang baik dan ditujukan untuk membantu memperbaiki kinerja perusahaan. Internal Auditor membantu manajemen mencapai kinerja yang baik dengan memperkenalkan pendekatan yang sistematis untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas pengendalian intern serta memberikan catatam atas kekurangan yang ditemukan selama melakukan evaluasi.

Sedangkan menurut Agoes (2008:221), audit internal memiliki peranuntuk menilai efektivitas sistem manajemen risiko, yaitu dengan mengevaluasi sistem yang telah ada dan melakukan pemantauan terhadap perbaikan sistem tersebut.

(12)

Menurut Hiro Tugiman (2006:17) dalam perkembangannya, peran yang dijalankan auditor internal dapat digolongkan dalam tiga jenis, yaitu sebagai :

a. Watchdog b. Konsultan c. Katalis

Berikut merupakan penjelasan dari bagian tersebut: a. Watchdog

Watchdog adalah peran tertua dari auditor internal yang mencakup pekerjaan menginspeksi, observasi, menghitung dan cek dan ricek. Adapun tujuannya adalah memastikan ketaatan terhadap hukum, peraturan dan kebijakan organisasi. Proses audit yang dilakukan adalah audit kepatuhan.

b. Konsultan

Melalui peran ini, manajemen akan melihat bahwa selain sebagai watchdog, auditor internal dapat memberikan manfaat lain berupa saran untuk tujuan analisa dan penghitungan pajak.dalam pengelolaan sumber daya organisasi yang dapat membantu tugas para manajer. Peran konsultan membawa auditor internal untuk selalu meningkatkan pengetahuan baik tentang profesi auditor maupun aspek bisnis, sehingga dapat membantu manajemen dalam memecahkan masalah.

c. Katalis

Katalis adalah suatu zat yang berfungsi untuk mempercepat reaksi namuntidak ikut bereaksi. Peran auditor internal sebagai katalisator yaitu memberikan jasa kepada manajemen melalui saran-saran konstruktif dan dapat diaplikasikan bagi kemajuan perusahaan namun tidak ikut dalam aktivitas operasional perusahaan.

(13)

2.3.7 Program Audit Internal

Program audit internal adalah tindakan atau langkah kerja yang terperinci yang akan dilaksanakan dalam audit berdasarkan atas tujuan dan sasaran yang ditetapkan serta informasi yang ada atas obyek yang diperiksa. Untuk dapat melakukan audit yang sistematis dan terarah maka pada saat audit dimulai, audit internal terlebih dahulu menyusun suatu perencanaan atau program audit yang akan dilakukan. Program audit ini dapat dipergunakan sebagai alat perencanaan dan pengawasan yang efektif atas pekerjaan audit secara keseluruhan.

Menurut Mulyadi (2002:29) menyatakan definisi program audit internal yaitu:

“Program audit merupakan daftar prosedur audit untuk seluruh audit unsur tertentu, sedangkan prosedur audit adalah intruksi rinci untuk menentukan tipe bukti audit tertentu yang harus diperoleh pada saat tertentu yang harus diperoleh pada saat tertentu dalam audit”.

Konsersium Organisasi Profesi Audit Internal (2004) menyatakan dalam merencanakan penugasan:

auditor internal harus mempertimbangkan sasaran penugasan, ruang lingkup penugasan, alokasi sumber daya penugasan, serta program kerja penugasan.

Tujuan yang ingin dicapai dengan adanya program audit antara lain : a. Memberikan bimbingan prosedur untuk melaksanakan pemeriksaan. b. Memberikan checklist pada saat pemeriksaan berlangsung.

c. Merevisi program audit sebelumnya, jika ada perubahan standard dan prosedur yang digunakan perusahaan.

Keunggulan program audit antara lain sebagai berikut : a. Meratanya pembagian kerja diantara auditor.

b. Program audit yang rutin hasilnya lebih baik dan menghemat waktu. c. Program audit memilih tujuan yang penting saja.

d. Program audit yang telah digunakan dapat menjadi pedoman untuk tahun berikutnya.

(14)

f. Program audit memberikan kepastian bahwa ketentuan umum akuntansi telah dijalankan.

g. Penanggung jawab pelaksanaan audit jelas. Kelemahan program audit antara lain :

a. Tanggung jawab audit pelaksanaan terbatas pada program audit saja. b. Sering menimbulkan hambatan untuk berpikiran kreatif dan membangun. c. Kegiatan audit menjadi monoton.

2.3.8 Pelaksanaan Audit Internal

Pelaksanaan audit menurut Konsersium Organisasi Profesi Audit Internal (2004): dalam melaksanakan audit, auditor internal harus mengidentifikasi informasi, menganalisi, mengevaluasi, dan mengdokumentasikan informasi yang memadai untuk mencapai tujuan penugasan. Dalam melaksanakan aktivitasnya, tahapan proses penugasan yang dilakukan audit internal adalah sebagai berikut:

a. Perencanaan penugasan b. Pelaksanaan penugasan c. Komunikasi hasil penugasan d. Pemantauan tindak lanjut

Tahapan proses penugasan yang dilakukan audit internal dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Perencanaan penugasan

Auditor internal harus mengembangkan dan mendokumentasikan rencanauntuk setiap penugasan yang mencakup ruang lingkup, sasaran , waktu dan alokasi sumberdaya.

b. Pelaksanaan penugasan

Dalam melaksanakan audit, auditor internal harus mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan mendokumentasikan informasi yang memadai untuk mencapai tujuan penugasan.

c. Komunikasi hasil penugasan

Auditor internal harus mengkomunikasikan hasil penugasannya secara tepat waktu.

(15)

d. Pemantauan tindak lanjut

Penanggungjawab fungsi audit internal harus menyusun dan menjaga sistem untuk memantau tindak lanjut hasil penugasan yang telah dikomunikasikan kepada manajemen.

2.3.9 Norma Praktek Profesional Internal Audit

Dalam melakukan pekerjaannya harus mengikuti standar profesi dan kode etik serta aturan lain yang berkaitan. Menurut Tugiman (2001:06), norma internal audit adalah sebagai berikut :

1. Indpendensi

2. Kemampuan Profesional 3. Lingkup Pekerjaan

Norma internal audit dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Independensi

Independensi yaitu sikap mental yang bebas. Suatu kejujuran yang tidak memihak dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya. Hal ini berarti bahwa dalam mempertimbangkan fakta-fakta yang dipakai sebagai dasar pemberian pendapatnya auditor harus obyektif dan tidak berprasangka. Independensi menyangkut dua aspek :

a. Status Organisasi, haruslah berperan sehingga memungkinkan untuk melaksanakan tugas dengan baik serta mendapat dukungan dari pimpinan tingkat atas, status yang dikehendaki adalah bahwa bagian audit internal harus bertanggungjawab pada pimpinan yang memiliki wewenang yang cukup untuk menjamin jangkauan audit yang luas, pertimbangan dan tindakan yang efektif atas temuan audit dan saran perbaikan.

b. Obyektivitas, yaitu bahwa auditor internal dalam melaksanakan fungsi dan tanggungjawab harus memperhatikan sikap netral dan kejujuran dalam melaksanakan pekerjaannya. Agar dapat mempertahankan sikap tersebut hendaknya auditor internal dapat dibebaskan dari tanggungjawab oprasionalnya.

(16)

2. Kemampuan Profesional

Seorang auditor internal harus memiliki tingkat kemampuan teknis yang tinggi agar dapat mempertanggungjawabkan dengan benar. Kemampuan teknis meliputi penyusunan staf, pengetahuan, kererampilan dan disiplin ilmu, keseuaian dengan standar profesi, hubungan antar manusia, pendidikan berkelanjutan, serta keahlian profesional. Kemampuan profesional meliputi:

1) Departemen Audit Internal a) Penyusunan staf

Adanya kesesuaian antara kemampuan teknis dan latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh para auditor internal

b) Pengetahuan, keterampilan, dan disiplin

Dalam melaksanakan tanggung jawab audit bagian audit internal harus memiliki atau mendapatkan penegtahuan, keterampilan dan disiplin ilmu yang diperlukan.

c) Supervisi

Bagian audit internal harus memberikan keyakinan bahwa audit internal telah disupervisi dengan benar.

2) Audit Internal

a) Ketaatan terhadap standar perilaku

Standar professional harus ditaati oleh semua auditor internal. b) Pengetahuan, keterampilan, dan disiplin ilmu

Dalam melakukan audit internal para auditor harus memiliki pengetahuan, keterampilan dan disiplin ilmu yang esensial.

c) Hubungan dan komunikasi antarkaryawan

Para auditor internal harus terampil dalam berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain secara efektif.

d) Pendidikan yang berkelanjutan

Para auditor internal harus mengembangkan kemampuan teknisnya melalui pendidikan yang berkelanjutan.

(17)

e) Keahlian professional

Dalam pelaksanaan audit internal para auditor harus menggunakan keahlian professional.

3) Lingkup Pekerjaan

Lingkup pekerjaan audit internal meliputi keandalan informasi, kesesuaian dengan kebijaksanaan, perlindungan terhadap harta, penggunaaan sumber daya secara ekonomis dan efisien, serta pencapaian tujuan. Lingkup pekerjaan meliputi: a) Keandalan Informasi

Auditor internal harus memeriksa keandalan informasi keuangan dan pelaksanaan pekerjaan dengan cara-cara yang dipergunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, mengklasifikasi, dan melaporkan informasi tersebut.

b) Kesesuaian dengan kebijaksanaan, rencana, prosedur, dan peraturan perundang-undangan

Auditor internal harus memeriksa sistem yang ditetapkan untuk memastikan ketaatan terhadapkebijaksanaan, rencana, prosedur, dan peraturan perundang-undangan.

c) Perlindungan terhadap harta

Auditor internal harus memeriksa kesesuaian sarana yang digunakan untuk melindungi harta kekayaan organisasi.

d) Penggunaaan sumber daya secara ekonomis dan efisien

Auditor internal harus menilai keekonomisan dan efisiensi sumber daya yang digunakan.

e) Pencapaian tujuan

Agar tujuan dan sararan yang telah ditetapkan sesuai dengan apa yang dicapai maka auditor internal harus memeriksa operasi dan program.

4) Pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan

Pelaksanaan kegiatan pemeriksaan yang dilakukan oleh internal auditor adalah untuk membantu semua pimpinan perusahaan (manajemen) dalam melaksanakan tanggung jawabnya dengan memberikan analisa, penilaian, saran dan komentar mengenai kegiatan yang diperiksanya.

(18)

a) Perencanaan pemeriksaan

Setiap audit harus direncanakan terlebih dahulu oleh auditor internal. b) Pengujian dan pengevaluasian informasi

Untuk mendukung hasil audit auditor internal harus mengumpulkan,menganalisis,menginterpretasi,dan mendokumentasikan informasi.

c) Penyampaian hasil pemeriksaan

Auditor internal harus menyampaikan hasil-hasil pemeriksaan yang diperoleh dari kegiatan pemeriksaannya.

d) Tindak lanjut hasil pemeriksaan Auditor internal harus meninjau untuk memastikan bahwa telah dilakukan tindakan yang tepat atas temuan audit yang dilaporkan.

5) Manajemen Bagian Internal Audit

Agar dapat bekerja secara efektif, fungsi audit internal harus dikelola secara tepat. Pimpinan audit internal bertanggungjawab mengelola bagian audit internal secara tepat, sehingga pekerjaan pemeriksaan memenuhi tujuan umum dan tanggung jawab disetujui oleh manajemen senior dan diterima oleh dewan.

a) Tujuan, kewenangan dan tanggung jawab

Pimpinan audit internal harus memiliki pernyataan tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab bagi bagian audit internal.

b) Perencanaan

Pimpinan audit internal harus merencanakan segala sesuatu untuk pelaksanaan tanggung jawab bagian audit internal.

c) Kebijaksanaan

Sebagai pedoman bagi para staf audit maka pimpinan audit internal harus membuat kebijakan dan prosedur secara tertulis.

d) Manajemen personel

Untuk memilih dan mengembangkan sumber daya manusia bagian audit internak maka pimpinan audit internal harus menetapkan program.

(19)

e) Auditor eksternal

Pimpinan audit internal harus mengkoordinasikan upaya antara auditor internal dan auditor eksternal.

f) Pengendalian mutu

Untuk mengevaluasi berbagai kegiatan bagian audit internal, pimpinan audit internal harus menetapkan dan mengembangkan pengendalian mutu atau jaminan kualitas.

2.3.10 Laporan Audit

Hasil akhir dari pelaksanaan audit internal dituangkan dalam suatu bentuk laporan tertulis melalui proses penyusunan yang baik dan teratur. Laporan ini merupakan suatu alat penting untuk menyampaikan pertanggungjawaban kepada manajemen. Menurut Arens et al (2008:06), tahap terakhir dalam proses audit adalah menyiapkan laporan audit (audit report), yang menyampaikan temuan-temuan auditor kepada pemakai.

Menurut Tampubolon (2005:128), menjelaskan tentang kriteria laporan audit adalah sebagai berikut:

a. Hasil audit yang dikomunikasikan harus mencakup tujuan luas atau ruang lingkup, kesimpulan, rekomendasi, dan rencana tindak perbaikan yang telah disepakati.

b. Observasi dan rekomendasi yang dimuat dalam laporan harus didasarkan pada atribut-atribut sebagai berikut:

1) Kondisi, yaitu keadaan sebenarnya sesuai bukti yang ditemukan auditor dalam kegiatan pemeriksaannya. Dalam hal ini auditor mengidentifikasi sifat dan luasnya temuan atau sebuah jawaban dari kondisi yang tidak memuaskan.

2) Kriteria, yaitu standar, ukuran, atau harapan yang ditetapkan dan digunakan untuk melakukan evaluasi dan/atau verifikasi.

3) Akibat yang mungkin ditimbulkan ( effect), yaitu risiko atau eksposur yang diperoleh karena kondisi tidak konsisten dengan kriteria. Tingkat signifikasnsi dari kondisi atau temuan yang ada biasanya ditentukan dari nilai risikonya.

4) Penyebab ( cause), yaitu alasan yang menyebabkan adanya perbedaan antara yang diharapkan ( criteria) dan kondisinya yang nyata. Mengidentifikasi penyebab dari kondisi atau temuan yang tidak

(20)

memuaskan merupakan prasyaray bagi rekomendasi atau tindak perbaikan yang tepat.

5) Rekomendasi, yaitu saran auditor untuk megatasi risiko atau untuk mengatasi masalah yang ada. Hubungan antara rekomendasi dan penyebab yang mendasarinya haruslah jelas dan logis. Rekomendasi harus secara tepat mengarah kepada apa yang harus diperbaiki atau diubah dan siapa yang bertanggung jawab melakukannya. Biaya untuk mengimplementasikan dan memelihara rekomendasi tersebut harus selalu dibandingkan dengan risiko.

c. Auditor harus mengkomunikasikan pendapatanya secara menyeluruh. d. Laporan mengenai progress audit,baik format maupun isi harus ditetapkan

dan disesuaikan dengan sifat pemeriksaan dan kebutuhan dari pengguna laporan.

2.4 Kinerja Keuangan 2.4.1 Definisi Kinerja Keuangan

Kinerja keuangan adalah gambaran setiap hasil ekonomi yang mampu diraih oleh perusahaan pada periode tertentu melalui aktivitas-aktivitas perusahaan untuk menghasilkan keuntungan secara efisien dan efektif.Kinerja keuangan perusahaan merupakan salah satu faktor yang dilihat oleh calon investor untuk menentukan investasi saham.Bagi sebuah perusahaan, menjagadan meningkatkan kinerja keuangan adalah suatu keharusan agar saham tersebut tetap eksis dan tetap diminati oleh investor.

Kinerja perusahaan adalah suatu usaha formal yang dilaksanakan perusahaan untuk mengevaluasi efisien dan efektivitas dari aktivitas perusahaan yang telah dilaksanakan pada periode waktu tertentu.

Menurut Sucipto (2003:01) ,pengertian kinerja keuangan adalah penentuan ukuran-ukuran tertentu yang dapat mengukur keberhasilan suatu organisasi atau perusahaan dalam menghasilkan laba.

Sedangkan menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) (2007) definisi dari kinerja keuangan adalah kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengendalikan sumberdaya yang dimilikinya.

Istilah kinerja atau performance sering dikaitkan dengan kondisi keuangan perusahaan. Menurut Sutrisno (2009:53) kinerja keuangan adalah prestasi yang

(21)

dicapai perusahaan dalam suatu periode tertentu yang mencerminkan tingkat kesehatan perusahaan tersebut. Sedangkan menurut Fahmi (2011:02) kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar.

Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja keuangan adalah usaha formal yang telah dilakukan oleh perusahaan yang dapat mengukur keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan laba, sehingga dapat melihat prospek, pertumbuhan, dan potensi perkembangan baik perusahaan dengan mengandalkan sumber daya yang ada.Suatu perusahaan dapat dikatakan berhasil apabila telah mencapai standar dan tujuan yang telah ditetapkan.

2.4.2 Pengukuran Kinerja Keuangan

Pengukuran kinerja keuangan merupakan analisis data serta pengendalian bagi perusahaan. Pengukuran kinerja keuangan digunakan perusahaan untuk mengetahui kemampuan dan kelemahan keuangan suatu perusahaan.

Menurut Hanafi (2005:42) pengukuran kinerja keuangan dinyatakan sebagai berikut:

“Salah satu rasio untuk menilai prestasi perusahaan atau kinerja keuangan perusahaan adalah rasio profitabilitas yang menghubungkan dua data keuangan yang satu dengan yang lainnya. Rasio profitabilitas ini mengukur perusahaan menghasilkan keuntungan ( profitable) pada tingkat penjualan, asset dan modal saham”.

Menurut Kasmir (2008:197) pengukuran kinerja keuangan dapat digunakan sebagai berikut:

“Hasil pengukuran dapat dijadikan sebagai alat evaluasi kinerja manajemen selama ini, apakah mereka telah bekerja secara efektif atau tidak. Kegagalan atau keberhasilan dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk perencanaan laba ke depan, sekaligus kemungkinan untuk menggantikan manajemen yang baru terutama setelah manajemen lama mengalami kegagalan. Oleh karena itu, rasio profitabilitas ini sering disebut sebagai salah satu alat ukur kinerja manajemen”.

(22)

Dalam melakukan pengukuran kinerja keuangan, perusahaan biasanya menggunakan rasio yang menghubungkan kinerja keuangan. Menurut Jumingan (2006), rasio keuangan adalah :

“Analisis rasio keuangan merupakan analisis dengan membandingkan satu pos laporan dengan dengan pos laporan keuangan lainnya, baik secara individu maupun bersama-sama guna mengetahui hubungan diantara pos tertentu, baik dalam neraca maupun dalam laporan laba rugi.”

Menurut Nainggolan (2004) ada beberapa rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan yaitu:

a. EPS (Earning Per Share) b. DER (Debt to Equity Ratio) c. PER (Price Earning Ratio) d. ROI (Return on Investment) e. ROE (Return on Equity)

Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dapat diuraikan sebagai berikut :

a. EPS (Earning Per Share)

Merupakan laba yang diperoleh perusahaan per lembar saham. Laba per saham merupakan alat ukur yang berguna untuk membandingkan laba dari berbagai entitas usaha yang berbeda dan untuk membandingkan laba suatu entitas dari waktu ke waktu jika terjadi perubahan dalam struktur modal.

b. DER (Debt to Equity Ratio)

Merupakan rasio yang mengukur besarnya hutang yang ditanggung melalui modal sendiri yang dimiliki perusahaan. Debt to Equity Ratio adalah instrumen untuk mengetahui kemampuan ekuitas atau aktiva bersih suatu perusahaan untuk melunasi seluruh kewajiban.

c. PER (Price Earning Ratio)

Rasio harga dengan penghasilan atau Price Earning Ratio sering digunakan untuk membandingkan peluang investasi. Suatu rasio harga dan penghasilan saham dihitung dengan membagi harga pasar per lembar saham (market price share) dengan penghasilan perlembar saham (PER).

(23)

d. ROI (Return on Investment)

Merupakan rasio untuk mengukur kemampuan manajemen dalam menghasilkan pendapatan dari pengelolaan aset.

Rumus : ROI = ( Total Penjualan – Investasi ) / Investasi x 100% e. ROE (Return on Equity)

Merupakan rasio untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengelola modal yang ada untuk mendapatkan net income.

Banyak penulis yang memberi masukan jenis rasio yang biasdigunakan untuk memahami kondisi perusahaan. Beberapa rasio yang umumnya dikenal antara lain rasio likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas, akan tetapi masih banyak lagi rasio yang dapat dihitung dari laporan keuangan perusahaan yang kemudian dapat memberikan informasi bagi para pemakai laporan keuangan.

Dalam penelitian inimenggunakan indikator yang didapat pada penelitian Sariah (2010:26) yaitu:

1. Kinerja Laba 2. Kinerja Investasi

Berikut indikator dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Kinerja Laba

Meliputi laba yang dapat diukur secara keuangan yang merupakan selisih antara pendapatan dan biaya.Laba sering digunakan sebagai suatu dasar untuk pengenaan pajak, kebijakan deviden, pedoman investasi, serta pengambilan keputusan dan unsur prediksi.

2. Kinerja Investasi

Kinerja investasi dapat dibedakanmenjadi dua yaitu pengambilan (return) atas aset (selain kas) yang dimanfaatkan dalam menjalankan bisnis, dan yang kedua adalah pengambilan atas investasi lainnya yang didanai oleh surplus kas yang dimiliki perusahaan. Cara sederhana untuk melakukan pengukuran investasi pada unit bisnis adalah dengan menghitung return on investmen (ROI).

(24)

2.4.3 Tujuan Pengukuran Kinerja Keuangan

Menurut Munawir (2010:05), pengukuran kinerja keuangan perusahaan mempunyai beberapa tujuan diantaranya :

1. Untuk mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi pada saat ditagih.

2. Untuk mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi.

3. Untuk mengetahui tingkat profitabilitas dan rentabilitas, yaitu kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu yang dibandingkan dengan penggunaan aset atau ekuitas secara produktif.

4. Untuk mengetahui tingkat aktivitas usaha, yaitu kemampuan perusahaan dalam menjalankan dan mempertahankan usahanya agar tetap stabil, yang diukur dari kemampuan perusahaan dalam membayar pokok utang dan beban bunga tepat waktu, serta pembayaran dividen secara teratur kepada para pemegang saham tanpa mengalami kesulitan atau krisis keuangan.

2.4.4 Pentingnya Kinerja Perusahaan

Kinerja perusahaan merupakan suatu gambaran tentang kondisi keuangansuatu perusahaan yang dianalisis dengan alat-alat analisis keuangan, sehingga dapat diketahui mengenai baik buruknya keadaan keuangan suatu perusahaan yang mencerminkan prestasi kerja dalam periode tertentu. Menurut Hasibuan (2007:34), menyatakan bahwa:

“kinerja adalah Kinerja merupakan perwujudan kerja yang dilakukan oleh karyawan yang biasanya dipakai sebagai dasar penilaian terhadap karyawan atau organisasi. Kinerja yang baik merupakan langkah untuk tercapainya tujuan organisasi.Sehingga perlu diupayakan usaha untuk meningkatkan kinerja”.

Menurut Srimindarti (2004:53) Kinerja merupakan hasil atau prestasi yangdipengaruhi oleh kegiatan operasional perusahaan dalam memanfaatkan sumber-sumber daya yang dimiliki.

Sedangkan menurut Rivai (2004:309) menyatakan kinerja merupakan perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan.

(25)

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan kegiatan yang diselenggarakan dengan tujuan mencari keuntungan yaitu denganmenghasilkan sesuatu yang mengadakan suatu transaksi atau usaha.

2.4.5 Manfaat Penilaian Kinerja

Mengenai manfaat penilaian kinerja, Sedarmayanti (2009:264) mengemukakan, sebagai berikut:

1. Meningkatkan prestasi kerja.

2. Memberikan kesempatan kerja yang adil. 3. Kebutuhan pelatihan dan pengembangan. 4. Penyesuaian kompensasi.

5. Keputusan promosi dan demosi

6. Mendiagnosis kesalahan desain pekerjaan. 7. Menilai proses rekrutmen dan seleksi.

Manfaat penilaian kinerja dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Meningkatkan prestasi kerja.

Dengan adanya penilaian, baik pimpinan maupun karyawan memperoleh umpan balik dan mereka dapat memperbaiki pekerjaan/prestasinya.

2. Memberikan kesempatan kerja yang adil.

Penilaian akurat dapat menjamin karyawan memperoleh kesempatan menempati posisi pekerjaan sesuai kemampuannya.

3. Kebutuhan pelatihan dan pengembangan.

Melalui penilaian kinerja, terdeteksi karyawan yang kemampuannya rendah sehingga memungkinkan adanya program pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mereka.

4. Penyesuaian kompensasi.

Melalui penilaian, pimpinan dapat mengambil keputusan dalam menentukan perbaikan pemberian kompensasi, dan sebagainya.

5. Keputusan promosi dan demosi.

Hasil penilaian kinerja dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk mempromosikan atau mendemosikan karyawan.

6. Mendiagnosis kesalahan desain pekerjaan.

(26)

pekerjaan.Penilaian kinerja dapat membantu mendiagnosis kesalahan tersebut. 7. Menilai proses rekrutmen dan seleksi.

Kinerja karyawan baru yang rendah dapat mencerminkan adanya penyimpangan proses rekruitmen dan seleksi.

2.4.6. Definisi Good Corporate Governance

Diantara pencapaian tujuan ekonomi dan tujuan masyarakat. Menurut Daniri (2005:8) definisi Good Corporate Governance adalah :

“Suatu pola hubungan, sistem dan proses yang digunakan oleh organ perusahaan (Direksi, Dewan Komisaris, RUPS) guna memberikan nilai tambah kepada pemegang saham secara berkesinambungan dalam jangka panjang, dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan norma yang berlaku.”

Menurut Sutedi (2011:1) definisi Corporate Governance adalah :

“Suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organ perusahaan (Pemegang Saham/Pemilik Modal, Komisaris/Dewan Pengawas dan Direksi) untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundang-undangan dan nilai-nilai etika.”

Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor : KEP-117/MMBU/2002 tentang Penerapan Praktek Good Corporate Governance pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Bab 1 : Ketentuan Umum, Bagian Pertama, Pasal1, dalam peraturan ini yang dimaksud dengan Corporate Governance adalah

“Seperangkat proses dan struktur yang digunakan oleh organ BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan nilai-nilai etika.”

Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER - 01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara, Bab 1 : Ketentuan Umum, Bagian Kesatu, Pasal 1, Ayat 1, dalam peraturan ini yang dimaksud dengan Good Corporate Governance adalah :

(27)

“Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance), yang selanjutnya disebut GCG adalah prinsip-prinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme pengelolaan perusahaan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan etika berusaha.”

Menurut Nogi (2003:11) definisi Good Corporate Governance adalah :

“Sistem dan struktur untuk mengelola perusahaan dengan tujuan meningkatkan nilai pemegang saham (stakeholder’s value) serta mengalokasi berbagai pihak yang berkepentingan dengan perusahaan (stakeholders) seperti kreditor, supplier, asosiasi usaha, konsumen, pekerja, pemerintah dan masyarakat luas.”

Menurut Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal (2004:27) definisi Corporate Governance adalah :

“Kombinasi proses dan struktur yang digunakan oleh aparat organisasi untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya, berdasarkan peraturan dan nilai-nilai etika.”

Berdasarkan definisi-definisi good corporate governance tersebut, maka dapat diperoleh penjelasan bahwa good corporate governance merupakan sistem yang mengelola proses pengendalian usaha untuk meningkatkan nilai saham, sekaligus sebagai bentuk perhatian kepada stakeholders, karyawan, kreditor dan masyarakat sekitar. Good corporate governance berusaha menjaga keseimbangan diantara pencapaian tujuan ekonomi dan tujuan masyarakat.

2.4.7 Prinsip-prinsip dan Tujuan Good Corporate Governance

Menurut Kurniawan (2012:37) agar implementasi dari tata kelola organisasi berjalan dengan seharusnya, maka harus dibuat prinsip-prinsip mengenai tata kelola organisasi sebagai pedoman di dalam menciptakan mekanisme tata kelola yang baik. Di Indonesia, prinsip-prinsip tata kelola organisasi yang baik yang berlaku terdiri atas lima macam, antara lain :

1. Transparansi 2. Independensi 3. Akuntabilitas

(28)

5. Kewajaran

Dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Transparansi

Prinsip transparansi adalah penyediaan informasi yang relevan dan material serta mudah diakses dan dipahami oleh pemegang saham dengan tujuan menciptakan dan memelihara objektivitas di dalam menjalankanbisnis. Organisasi harus memiliki inisiatif untuk tidak hanya mengungkapkan seluruh informasi yang diharuskan oleh hukum namun juga informasi-informasi lain yang dirasa diperlukan di dalam pengambilan keputusan.

2. Independensi

Dalam rangka mempercepat pelaksanaan prinsip-prinsip GCG maka organisasi harus dikelola secara independen dengan keseimbangan kekuasaan yang tepat sehingga tidak akan terjadi dominasi oleh salah satu komponen di dalam organisasi terhadap komponen organisasi lain.

3. Akuntabilitas

Berdasarkan prinsip ini maka setiap organisasi harus menunjukkan akuntabilitas dalam kaitannya dengan kinerjanya dengan wajar dan transparan. Dengan demikian maka organisasi harus dikelola dengan carayang layak dan terukur agar dapat memenuhi kepentingan organisasi dan kepentingan para pemegang saham.

4. Pertanggungjawaban

Organisasi harus mematuhi semua peraturan yang berlaku dan menjalankan tanggung jawabnya kepada masyarakat dan lingkungan agar dapat mempertahankan keberadaan organisasi dalam jangka panjang dan memperoleh pengakuan sebagai organisasi yang baik.

5. Kewajaran

Di dalam menjalankan bisnisnya, suatu organisasi harus mempertimbangkan kepentingan pemegang saham dan para stakeholders lain berdasarkan prinsip kewajaran.

Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER - 01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good

(29)

Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara, Bab 2 : Prinsip, Bagian Kesatu, Pasal 3, mengenai prinsip-prinsip GCG yang dimaksud dalam peraturan ini, meliputi : 1. Transparansi (transparency) 2. Akuntabilitas (accountability) 3. Pertanggungjawaban (responsibility) 4. Kemandirian (independency) 5. Kewajaran (fairness)

Dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Transparansi (transparency)

yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai perusahaan.

2. Akuntabilitas (accountability)

yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban Organsehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif.

3. Pertanggungjawaban (responsibility)

Yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.

4. Kemandirian (independency)

yaitu keadaan di mana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan daripihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat. 5. Kewajaran (fairness),

yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak Pemangku Kepentingan (stakeholders) yangtimbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan.

Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER - 01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara, Bab 2 : Tujuan, Bagian Kedua, Pasal 4, mengenai penerapan prinsip-prinsip GCG pada BUMN, bertujuan untuk :

(30)

1. Mengoptimalkan nilai BUMN agar perusahaan memiliki daya saing yang kuat, baik secara nasional maupun internasional, sehingga mampu mempertahankan keberadaannya dan hidup berkelanjutan untuk mencapai maksud dan tujuan BUMN.

2. Mendorong pengelolaan BUMN secara profesional, efisien, dan efektif, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian Organ Persero/Organ Perum.

3. Mendorong agar Organ Persero/Organ Perum dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, serta kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial BUMN terhadap Pemangku Kepentingan maupunkelestarian lingkungan di sekitar BUMN.

4. Meningkatkan kontribusi BUMN dalam perekonomian nasional.

5. Meningkatkan iklim yang kondusif bagi perkembangan investasi nasional.

2.4.8 Manfaat Penerapan Good Corporate Governance

Menurut Kurniawan (2012:31) manfaat dari penerapan tata kelola organisasi yang baik di dalam organisasi adalah :

1. Dengan adanya good corporate governance, proses pengambilan keputusan akan berlangsung lebih baik sehingga akan menghasilkan keputusan yang optimal, dapat meningkatkan efisiensi serta terciptanya budaya kerja yang lebih sehat. Ketiga hal ini berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan sehingga kinerja perusahaan akan mengalami peningkatan.

2. Meminimalisasi kemungkinan dilakukannya penyalahgunaan wewenang oleh direksi di dalam pengelolaan perusahaan. Hal ini tentu akan menekan kemungkinan kerugian bagi perusahaan maupun pihak berkepentingan lainnya sebagai akibat tindakan tersebut.

3. Nilai perusahaan dimata investor akan meningkat sebagai akibat dari meningkatnya kepercayaan mereka kepada pengelolaan perusahaan tempat mereka berinvestasi. Peningkatan kepercayaan investor kepada perusahaan akan dapat memudahkan perusahaan mengakses tambahan modal yang diperlukan untuk berbagai keperluan operasional perusahaan.

4. Meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja karyawan karena dalam konsep tata kelola organisasi, karyawan ditempatkan sebagai salah satu stakeholders yang seharusnya dikelola dengan baik oleh perusahaan.

5. Penerapan corporate governance yang konsisten juga akan meningkatkan kualitas laporan keuangan perusahaan karena adanya kewajiban bagi

(31)

organisasi yang menerapkan prinsip tata kelola organisasi yang baik untuk mematuhi berbagai peraturan yang berlaku termasuk diantaranya adalah standar akuntansi yang berlaku.

Menurut Daniri (2005:14) jika perusahaan menerapkan GCG secara konsisten dan efektif maka akan dapat memberikan manfaat antra lain :

1. Mengurangi agency cash, yaitu biaya yang harus ditanggung pemegangsaham akibat pendelegasian wewenang kepada pihak manajemen.

2. Mengurangi biaya modal ( cost of capital).

3. Meningkatkan nilai saham perusahaan sekaligus dapat meningkatkancitra perusahaan di mata publik dalam jangka panjang. 4. Menciptakan dukungan para stakeholder dalam lingkungan perusahaan

terhadap keberadaan perusahaan dan berbagai strategi dan kebijakan yang ditempuh perusahaan.

Menurut Tunggal dan Imam (2002:9) manfaat penerapan corporate governance yaitu :

1. Perbaikan dalam komunikasi, 2. Minimalisasi potensial benturan, 3. Fokus pada strategi-strategi utama,

4. Peningkatan dalam produktivitas dan efisiensi, 5. Kesinambungan manfaat (suistanability of benefits), 6. Promosi citra korporat (corporate image),

7. Peningkatan kepuasan pelanggan, 8. Perolehan kepercayaan investor,

9. Dapat mengukur target kinerja manajemen perusahaan.

2.4.9 Unsur-unsur Good Corporate Governance

Menurut Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance (2006:25) pada dasarnya ada sembilan pihak yang terlibat di dalam penerapan GCG, diantaranya : 1. Pemegang saham 2. Dewan komisaris 3. Direksi 4. Komite Audit 5. Auditor Eksternal 6. Internal Auditor 7. Sekretaris Perusahaan 8. Manajer dan Karyawan

(32)

Dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Pemegang saham

Pemegang saham adalah orang atau individu-individu atau suatu instansi yang mempunyai hak dan kewajiban akan suatu perusahaan sesuai dengan saham yang disetornya. Hak pemegang saham, yaitu :

a. Menghadiri dan memberikan suara dalam rapat umum pemegang saham. b. Memeperoleh informasi perusahaan.

c. Menerima pembagian keuntungan. 2. Dewan komisaris

Menurut Undang-Undang Pasal 1 Tahun 1995, komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan ataukhusus serta memberikan nasihat kepada direksi dalam menjalankan perseroan.

3. Direksi

Dewan direksi bertugas mengelola perseroan dan direksi wajib mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya kepada pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

4. Komite Audit

Komite audit adalah organ tambahan yang diperlukan dalam pelaksanaan prinsipm GCG. Komite audit dibentuk oleh dewan komisaris untuk melakukan pemeriksaan atau penelitian yang dianggap perlu terhadap pelaksanaan fungsi direksi dalam melaksanakan tugas penting berkaitanvdengan sistem pelaporan keuangan. Komite audit dituntut untuk bertindak secara independen.

5. Auditor Eksternal

Auditor eksternal bertanggungjawab memberi opini atau pendapat terhadap laporan keuangan perusahaan.Laporan auditor independen adalah ekspresi dari opini profesi mereka mengenai laporan keuangan.Meskipun laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen, auditor eksternal bertanggung jawab untuk menilai kewajaran pernyataan manajemen dalam laporan audit yang dibuat.

(33)

6. Internal Auditor

Auditor internal bertanggung jawab kepada direktur utama dan memiliki akses langsung ke komite audit.Hal ini memberikan ruang gerak yang lebih fleksibel kepada auditor internal dalam melaksanakan tugasnya.Auditor internal membantu manajemen senior dalam menilai risiko-risiko utama yang dihadapi perusahaan dan mengevaluasi struktur pengendalian.

7. Sekretaris Perusahaan

Fungsi sekretaris harus dilaksanakan oleh salah seorang direktur perusahaan tercatat yang khusus ditunjuk untuk menjalankan fungsi tersebut. 8. Manajer dan Karyawan

Sumber kekuasaan manajer dari kombinasi keahlian manajerial mereka dan tanggung jawab organisasional yang diberikan untuk melaksanakan pekerjaan yang diperlukan.Manajer semakin cenderung mempertimbangkan tanggung jawab mereka terutama kepada perusahaan dan pemegang saham.Karyawan khususnya yang diwakili oleh serikat pekerja atau mereka yang memiliki saham dalam perusahaan dapat mempunyai kebijakan tata kelola perusahaan tertentu.

9. Pihak-pihak yang berkepentingan

Pemerintah terlibat dalam corporate governance melalui hukum dan peraturan perundang-undangan.Kreditor yang mempunyai pinjaman mungkin juga mempunyai kebijakan perusaahaan.

2.5 Laporan Keuangan

Laporan keuangan dapat dengan jelas memperlihatkan gambaran kondisi keuangan dari perusahaan. Laporan keuangan yang merupakan hasil dari kegiatan operasi normal perusahaan akan memberikan informasi keuangan yang berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Menurut Baridwan (2000:17) Laporan Keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan, merupakan suatu ringkasan dari suatu transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan.

Sedangkan Harahap (2009:105), menjelaskan tentang laporan keuangan adalah sebagai berikut :

(34)

“Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Adapun jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah neraca, laporan laba-rugi atau hasil usaha, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, laporan posisi keuangan”.

Menurut PSAK No.1 Paragraf ke 7 (Revisi 2009) laporan Keuangan adalah suatu penyajian terstuktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen – komponen berikut ini:

a. Neraca

b. Laporan Laba Rugi

c. Laporan Perubahan Ekuitas d. Laporan Arus Kas

e. Catatan Atas Laporan Keuangan

Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen – komponen berikut ini yang diuraikan sebagai berikut:

a. Neraca

Merupakan laporan posisi keuangan yang menggambarkan asset, kewajiban, dan modal suatu perusahaan dalam suatu tanggal tertentu .

b. Laporan Laba Rugi

Merupakan laporan operasi perusahaan selama periode akuntansi yang menyajikan seluruh hasil dan biaya untuk mendapatkan hasil, laba atau rugi perusahaan.

c. Laporan Perubahan Ekuitas

Merupakan laporan keuangan yang menunjukan perubahan ekuitas setelah digunakan untuk membiayai kegiatan usaha selama satu periode.

d. Laporan Arus Kas

Merupakan laporan keuangan yang berisi informasi aliran kas masuk dan aliran kas keluar dari suatu perusahaan selama periode tertentu.

(35)

e. Catatan Atas Laporan Keuangan

Merupakan catatan tambahan dan informasi yang ditambahkan ke akhir laporan keuangan untuk memberikan tambahan informasi kepada pembaca dengan informasi lebih lanjut

2.6 Kerangka Pemikiran

Audit internal adalah suatu fungsi penilaian yang independen dalam suatu organisasi untuk menguji dan mengevaluasi kegiatan organisasi yang dilaksanakan.Audit internal dapat dijadikan sebagai suatu pengawasan yang berkelanjutan.Tujuannya adalah untuk membantu pimpinan perusahaan (manajemen) dalam melaksanakan tanggungjawabnya dengan memberikan analisa, penilaian, saran, dan komentar mengenai kegiatan yang di audit. Dengan dilaksanakan audit internal akan mendapatkan kedisiplinan dalam pelaksanaan kegiatan usaha. Kedisiplinan dalam pelaksanaan kegiatan usaha yang dilaksanakan akan mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan tersebut.

Menurut Hardanto (2006:57), audit internal menjadi acuan ketepatan waktu seluruh pelaporan keuangan dan menentukan kinerja keuangan pada perusahaan.

Sedangkan menurut Umar (2002), menyatakan adanya pengaruh audit internal dengan kinerja keuangan yaitu sebagai berikut:

“Untuk membuat informasi keuangan data yang dibutuhkan antara lain dari hal-hal yang berhubungan dengan kinerja keuangan dalam perusahaan dari data internal perusahaan yang diperoleh dari hasil proses audit internal dan dari hasil intelijen keuangan”.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan perusahaan dipengaruhi oleh audit internal dalam melakukan pemeriksaan untuk mengetahui tingkat kewajaran keuangan perusahaan tersebut. Selain itu, audit nternal dapat memberikan saran-saran yang dibutuhkan di perusahaan untuk meningkatkan kualitas kinerja dalam menghasilkan informasi keuangan yang berguna untuk pihak-pihak yang berkepentingan.

(36)

Menurut penelitian yang dilakukan Hanifah (2009) menyatakan audit internal secara simultan dan parsial berpengaruh signifikan dengan arahan positif terhadap kinerja keuangan. Keberpengaruhan ini mengandung makna jika audit internal efektif bersama-sama saling bersinergi maka dapat meningkatkan kinerja keuangan. Sejalan dengan penelitian Hanifah (2009), menurut penelitian yang dilakukan oleh Sari (2013) Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis menunjukan bahwa audit internal berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan dan pengaruhnya bersifat positif. Maka dapat dikatakan bahwa semakin baik audit internal maka kinerja keuangan juga akan meningkat.

Menurut Daniri (2005:8) definisi Good Corporate Governance adalah Suatu pola hubungan, sistem dan proses yang digunakan oleh organ perusahaan (Direksi, Dewan Komisaris, RUPS) guna memberikan nilai tambah kepada pemegang saham secara berkesinambungan dalam jangka panjang, dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan norma yang berlaku.Good corporate governance merupakan sistem yang mengelola proses pengendalian usaha untuk meningkatkan nilai saham, sekaligus sebagai bentuk perhatian kepada stakeholders, karyawan, kreditor dan masyarakat sekitar. Good corporate governance berusaha menjaga keseimbangan diantara pencapaian tujuan ekonomi dan tujuan masyarakat

Dari beberapa penjelasan yang telah dikemukakan diatas, penulis beranggapan bahwa adanya pengaruh antara audit internal terhadap kinerja keuangan dalam pencapaian good corporate governance. Adapun anggapa ini dituangkan dalam bagan kerangka pemikiran sebagai berikut:

(37)

Gambar 2.1

Skema Kerangka Pemikiran 2.7 Hipotesis

Hipotesis adalah pernyataan atau dugaan yang bersifat sementara terhadap suatu masalah penelitian yang kebenarannya masih lemah (belum tentu kebenarannya) sehingga harus diuji secara empiris. Berdasarkan tinjauan teoritis, rumusan masalah dan tinjauan penelitian terdahulu yang telah dikemukakan di awal, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut:

HO: Audit internal berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan

Ha: Audit internal berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan dalam pencapaian good corporate governance.

Variable Independent Variable Dependent

Audit Internal (X) 1. Independen 2. Kemampuan Profesional 3. Lingkup Kegiatan Pemeriksaan 4. Pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan

5. Manajemen Bagian Audit Internal (Tugiman,2006)

Kinerja Keuangan Perusahaan (Y)

1. Profit Performance (Kinerja Laba)

2. Return On Investment (ROI) (Sariah,2010)

Good corporate governance (Z) 1. Transparansi 2. Kemandirian 3. Akuntanbilitas 4. Pertanggungjawaban 5. Kewajaran

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :