62 BAB V ANALISIS
5.1. ANALISIS KELUHAN SUBJEKTIFDENGAN NORDIC BODY MAP
Hasil tertinggi persentase operator yang menggalami keluhan (pegal) secara subjektif yaitu pada stasiun kerja unloading dengan nilai persentase sebesar 36,43%, hal ini menunjukan bahwa stasiun kerja unloading merupakan stasiun kerja paling kritis. Rekapitulasi persentase Nordic Body Map dari tiga stasiun kerja dapat dilihat pada Tabel 5.1.
Tabel 5. 1 Rekapitulasi Persentase Hasil Kuesioner Nordic Body Map
No Stasiun Kerja Pegal Tidak
Pegal
1 Loading 31.70% 68.30%
2 Unloading 36.43% 63.57%
3 Picking 31.60% 68.37%
Pada stasiun kerja ini operator menurunkan tumpukan keranjang dengan cara manual handling. Tinggi tumpukan keranjang yaitu 120 cm dengan beban maksimal 18 kg, keranjang tersebut diturunkan dari mobil box untuk disimpan menuju gudang. Tinggi mobil box yaitu 100 cm dari lantai tempat penyimpanan sementara keranjang tersebut, oleh karena itu operator tidak dapat menghindari gerakan membungkuk dikarenakan tinggi tempat penyimpanan keranjang lebih rendah dari tinggi mobil box, jika dilakukan secara terus-menerus dan dalam jangka waktu yang cukup lama dapat mengakibatkan operator mengalami cidera pada bawah punggung atau pinggang dimana penyakit tersebut dinamakan low back pain (Widyastuti, 2009), low back pain merupakan gangguan pada tulang belakang bagian bawah yang diakibatkan oleh beban berat dengan postur tubuh yang buruk saat beraktifitas. Tabel 5.2 merupakan tabel yang menunjukan kelima operator unloading mengalami gangguan pegal-pegal pada pinggang.
63
Tabel 5.2 Rekapitulasi Kuesioner Nordic Body Map pada Operator Unloading
Berdasarkan Tabel 5.2 terdapat bagian tubuh yang memilliki bobot paling tinggi dengan nilai persentase sebesar 100% yaitu pada bagian pinggang. Pada proses ini operator menurunkan barang dari atas mobil box selama 8 jam kerja dengan lama waktu satu kali bongkar muat atau unloading selama 32,15 menit, dan dalam satu kali bongkar muat memiliki kapasitas barang sebanyak 30 tumpukan keranjang, hal inilah
Jml % Jml %
0 Leher bagian atas 1 20.00% 4 80.00%
1 Leher bagian bawah 0 0.00% 5 100.00%
2 Bahu kiri 3 60.00% 2 40.00%
3 Bahu kanan 4 80.00% 1 20.00%
4 Lengan atas kiri 1 20.00% 4 80.00%
5 Punggung 4 80.00% 1 20.00%
6 Lengan atas kanan 1 20.00% 4 80.00%
7 Pinggang 5 100.00% 0 0.00%
8 Bawah pinggang 3 60.00% 2 40.00%
9 Pantat 1 20.00% 4 80.00%
10 Siku kiri 1 20.00% 4 80.00%
11 Siku kanan 1 20.00% 4 80.00%
12 Lengan bawah kiri 2 40.00% 3 60.00%
13 Lengan bawah kanan 1 20.00% 4 80.00%
14 Pergelangan tangan kiri 1 20.00% 4 80.00%
15 Pergelangan tangan kanan 1 20.00% 4 80.00%
16 Tangan kiri 1 20.00% 4 80.00% 17 Tangan kanan 2 40.00% 3 60.00% 18 Paha kiri 1 20.00% 4 80.00% 19 Paha kanan 2 40.00% 3 60.00% 20 Lutut kiri 2 40.00% 3 60.00% 21 Lutut kanan 3 60.00% 2 40.00% 22 Betis kiri 0 0.00% 5 100.00% 23 Betis kanan 2 40.00% 3 60.00%
24 Pergelangan kaki kiri 1 20.00% 4 80.00%
25 Pergelangan kaki kanan 3 60.00% 2 40.00%
26 Kaki kiri 2 40.00% 3 60.00%
27 Kaki kanan 2 40.00% 3 60.00%
51 36.4% 89 63.57%
Jumlah Keseluruhan
Tingkat Keluhan
Pegal Tidak pegal
64
yang menyebabkan sikap punggung operator harus membungkuk serta dilakukan secara berulang sehingga pinggang menjadi tumpuan dan dapat mengakibatkan operator mengalami cedera pada bawah punggung atau pinggang.
5.2.ANALISIS SCOREOVAKO WORK POSTURE ANALYSIS SYSTEM (OWAS)
Hasil penilaian score OWAS terhadap kelima operator unloading dapat dilihat pada Tabel 5.3.
Tabel 5.3 Rekapitulasi hasil perhitungan metode OWAS
Operator Sikap OWAS
Nilai
OWAS Keterangan
1 4252 4
Kategori 4: Pada sikap ini sangat berbahaya pada sistem muskuloskeletal, postur kerja ini mengakibatkan risiko yang jelas. Perlu perbaikan secara langsung / saat ini juga.
2 4242 4
Kategori 4: Pada sikap ini sangat berbahaya pada sistem muskuloskeletal, postur kerja ini mengakibatkan risiko yang jelas. Perlu perbaikan secara langsung / saat ini juga.
3 4242 4
Kategori 4: Pada sikap ini sangat berbahaya pada sistem muskuloskeletal, postur kerja ini mengakibatkan risiko yang jelas. Perlu perbaikan secara langsung / saat ini juga.
4 1172 1
Kategori 1: Pada sikap ini tidak ada masalah pada sistem muskuloskeletal. Tidak perlu ada perbaikan.
5 1172 1
Kategori 1: Pada sikap ini tidak ada masalah pada sistem muskuloskeletal. Tidak perlu ada perbaikan.
65
Sikap OWAS terdiri dari empat digit. Digit pertama yaitu menunjukan klasifikasi sikap punggung, digit kedua yaitu menunjukan klasifikasi sikap lengan, digit ketiga menunjukan klasifikasi sikap kaki dan digit terakhir yaitu menunjukan klasifikasi beban yang diangkut. Hasil penilaian score OWAS dari 5 orang pekerja terdapat 3 orang yang memiliki nilai score OWAS tertinggi yaitu berada pada kategori 4, kategori 4 ini merupakan hasil tertinggi dari penilaian pada metode OWAS, dimana sikap operator sangat berbahaya pada sistem musculoskeletal maka diperlukan perbaikan secara langsung atau saat ini juga (Sriyanto, 2018). Ketiga operator memiliki nilai OWAS yang sama besar maka peneliti akan menganalisis skor OWAS hanya pada satu operator dikarenakan ketiga operator memiliki sikap kerja yang sama, dimana penjelasan secara lebih detail terdapat pada Tabel 5.4.
66 Tabel 5.4 merupakan penjelasan analisis secara lebih detail mengenai metode Ovako Work Posture Analysis System.
Tabel 5.4 Analisis Metode Ovako Work Posture Analysis System (OWAS)
Postur Tubuh Analisis Solusi
1. Sikap punggung
membungkuk kedepan dan menyamping. Proses yang dilakukan yaitu menurunkan barang dari mobil box ke lantai untuk disimpan ke gudang.
Bagian batang tubuh memiliki nilai 4 yang artinya adalah bagian batang tubuh belakang melakukan pekerjaan membungkuk dan menyamping, sebuah pekerjaan yang sulit dan tidak nyaman untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan ketinggian tempat untuk menyimpan benda yang diangkut terlalu tinggi. Dampak yang ditimbulkan yaitu gangguan pada punggung yang disebut low back pain. Low back pain merupakan gangguan pada tulang belakang diakibatkan oleh berat beban dengan postur tubur yang buruk saat beraktifitas.
a. Mempertinggi tempat penyimpanan atau mensejajarkan tempat penyimpanan dengan mobil box, sehingga operator tidak perlu melakukan pengangkatan yang cukup extreme.
b. Dibuatkan turunan berbentuk segitiga siku-siku yang terbuat dari plat bordes sebagai jalan turunnya benda dari mobil box ke bawah lantai sehingga operator hanya perlu mendorong barang tersebut dengan alat bantu tambahan yaitu handtruck
2. Sikap lengan satu lengan berada pada atau diatas bahu
Bagian tangan berada pada kategori 2 yang menandakan bahwa posisi tangan operator berada posisi kurang nyaman, dengan posisi satu tangan berada diatas bahu dan satu tangan lain
a. Sama dengan solusi pada point 1. Pada saat proses pemindahan keranjang ke hantruck menggunakan besi pengait, sehingga posisi lengan
67 Tabel 5.4 Analisis Metode Ovako Work Posture Analysis System (OWAS) (Lanjutan)
Postur Tubuh Analisis Solusi
berada dibawah bahu. Posisi kurang nyaman ini diakibatkan benda yang diangkat cukup tinggi, maka dari itu salah satu posisi tangan operator berada diatas bahu dengan tujuan agar operator tetap seimbang ketika menurunkan benda dari mobil box ke lantai. Dampak yang ditimbulkan yaitu terjadinya gangguan pada bahu yaitu bursitis, bursitis merupakan peradangan pada bursa (kantong lunak yang berisi cairan pelumas untuk melindungi sendi). Penyakit ini ditandai dengan nyeri dan gerakan sendi terbatas. Penyakit ini diakibatkan postur bahu yang canggung seperti mengangkat bahu diatas kepala dan bekerja dalam waktu yang lama.
tetap normal yaitu kedua lengan berada di bawah bahu. Seperti tampak pada gambar operator 4.
3. Sikap kaki berdiri bertumpu pada satu kaki dengan lutut ditekuk
Postur bagian kaki memiliki nilai 5 yang menunjukan bahwa salah satu kaki menjadi tumpuan dengan kondisi lutut ditekuk. Kondisi ini dikarenakan operator harus menyimpan beda
a. Penambahan alat bantu, agar posisi kaki operator tetap normal.
68 Tabel 5.4 Analisis Metode Ovako Work Posture Analysis System (OWAS) (Lanjutan)
Postur Tubuh Analisis Solusi
ke bawah lantai dengan posisi menyamping. Faktor yang menjadi tumpuan hanya dengan satu kaki, dikarenakan posisi operator miring ke samping sedangkan faktor lutut menekuk, dikarenan operator harus menyimpan benda dari mobil box dengan ketinggian ± 100 Centimeter ke bawah lantai. Dampak yang ditimbulkan yaitu munculnya gangguan pada lutut yang disebut musculoskeletal, Hal ini disebabkan karena adanya tekanan pada cairan diantara tulang dan tendon. Tekanan yang berlangsung secara terus menerus akan mengakibatkan cairan tersebut (bursa) tertekan, membengkak, kaku dan meradang atau biasa disebut bursitis. 4. Berat beban adalah 10 Kg –
20 Kg.
Berat beban yang diangkat memiliki nilai 2 yang menunjukan nilai yang cukup besar. Barang yang diangkut berupa tumpukan keranjang yang berisikan produk dengan maksimal tumpukan
a. Penambahan alat bantu berupa handtruck agar beban yang diangkat bisa dilakukan oleh satu operator
69 Tabel 5.4 Analisis Metode Ovako Work Posture Analysis System (OWAS) (Lanjutan)
Postur Tubuh Analisis Solusi
sebanyak 12 tumpukan. Berat satu keranjang adalah 1 Kg dan berat isi tergantung permintaan yang telah dipesan oleh pihak perusahaan tetapi biasanya berat isi satu keranjang tidak lebih dari 2 Kg. Berat total satu tumpukan bisa mencapai 36 Kg atau 79,2 lbs maka dari itu pengangkatan dilakukan oleh 2 orang.
sehingga proses pengangkutan menjadi lebih cepat.
70
5.3. ANALISIS HASIL CUMMULATIVE TRAUMA DISORDERS RISK INDEX
Hasil dari perhitungan metoda CTD’s Risk Index menyatakan bahwa index yang dihasilkan oleh semua operator menunjukan angka >1, ini berarti bahwa stasiun kerja tersebut memerlukan perbaikan (Grepo, 2013). Hasil index dari kelima operator terdapat pada Tabel 5.5.
Tabel 5.5 Rekapitulasi hasil perhitungan metode CTD’s Risk Index
Operator CTD's Risk Index 1 2.117 2 1.982 3 2.015 4 1.310 5 1.941
Index paling besar yaitu pada operator satu dengan nilai index 2,117 maka dilakukan analisis terhadap operator satu. Postur tubuh operator satu pada saat bekerja dapat dilihat pada Gambar 5.1.
71 Analisis lebih detail berdasarkan metode CTD’s Risk Index dijelaskan pada Tabel 5.6.
Tabel 5. 6 Analisis Metode CTD's Risk Index
Postur Tubuh Analisis Solusi
1. Faktor Frekuensi Faktor frekuensi ini terdiri dari lamanya jam kerja dan juga banyaknya gerakan tangan per hari, dalam satu siklus pengerjaan operator menghabiskan waktu selama 32,15 menit yang berarti setiap hari operator melakukan pekerjaan sebanyak 13,06 kali (menurunkan barang dari mobil box ke gudang), angka tersebut diperoleh dari hasil pembagian waktu total jam kerja dibagi waktu dimana operator mengerjaan pekerjaan persiklusnya. Faktor frekuensi juga melibatkan banyaknya gerakan tangan setiap siklus dikali dengan jumlah total siklus operator dalam satu hari. Ada 4 gerakan tangan yang dilakukan setiap siklus, yaitu tangan operator meraih barang yang akan di angkut, tangan operator menarik barang untuk menggeserkan posisi dari dalam mobil box sampai ke ujung pintu mobil box, ketiga yaitu mengangkat dan terakhir yaitu meletakan.
Dilihat dari uraian analisis ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi yaitu lamanya jam kerja, waktu setiap siklus dan juga banyaknya gerakan tangan yang dilakukan, dikarenakan lama jam kerja dan waktu siklus bersifat given atau tidak dapat dirubah makan dari ketiga faktor tersebut yang mungkin dapat dirubah yaitu banyaknya jumlah gerakan tangan. Solusi yang direkomendasikan yaitu dengan mengurangi gerakan tangan tersebut, dengan cara misalnya penggunaan alat bantu.
72 Tabel 5. 6 Analisis Metode CTD's Risk Index (Lanjutan)
Postur Tubuh Analisis Solusi
2. Faktor postur tubuh
Faktor postur tubuh meliputi postur kerja operator, postur tangan, tipe jangkauan, deviasi tangan, putaran lengan, sudut-sudut lengan dan juga leher. Postur kerja operator yaitu berdiri dikarenakan penurunan barang yang dilakukan dari atas mobil box ke bawah lantai, postur tangan yang dilakukan yaitu palm pinch (jari menggenggam benda dengan telapak tangan terbuka) hal ini dikarenakan operator harus mengangkat barang dengan posisi tangan menahan barang dari pinggir dan dari bawah.
Tipe jangkauan yaitu up/down atau vertical, hal ini dikarenakan perbedaan ketinggian tempat pengangkutan dengan penyimpanan.
Deviasi tangan yang dilakukan yaitu extension dikarenakan tangan operator menekuk ke arah luar atau punggung tangan.
Putaran lengan bersifat netral karena pergerakan putaran lengan statis.
1. Merubah tipe jangkauan yang semula gerakannya vertical, dirubah menjadi horizontal dengan bantuan alat bantu berupa turunan tangga sehingga operator tidak harus mengangkat barang dari atas ke bawah, operator hanya perlu melalui turunan tangga dan tentunya menggunakan alat bantu lain berupa hantruck untuk pengangkutan barang.
2. Memperkecil sudut-sudut lengan, dengan tujuan agar operator tidak mudah merasakan pegal. Solusi yang di rekomendasikan yaitu penggunaan alat bantu hantruck yang telah dirancang secara ergonomis berdasarkan data antopometri.
73 Tabel 5. 6 Analisis Metode CTD's Risk Index (Lanjutan)
Postur Tubuh Analisis Solusi
Sudut-sudut lengan terdiri dari sudut dari elbow angle yaitu sudut yang dibentuk antara lengan atas dengan lengan bawah, pada operator yang diamati sudut yang dibentuk adalah sebesar 132°, shoulder abduction yaitu besarnya sudut yang dibentuk oleh lengan dengan arah menyamping, pada operator yang diamati membentuk sudut 19°. Shoulder flextion yaitu besar sudut yang dibentuk antara lengan dengan badan ke arah depan, pada operator yang diamati membentuk sudut 66°. Neck angle merupakan besar sudut yang dibentuk oleh leher, pada operator yang diamati membentuk sudut sebesar 11°.
3. Faktor beban Beban yang diangkut oleh operator yaitu sebesar 35,64 lb, setelah dilakukan analisis bahwa faktor beban yang menjadi penyumbang angka terbesar dalam perhitungan metoda CTD’s Risk Index ini dikarenakan rentan antara berat beban yang diangkat dengan berat maksimum
Merekomendasikan agar beban berat yang diangkut lebih diperhatikan dan disesuaikan dengan frekuensi penangkutan.
74 Tabel 5. 6 Analisis Metode CTD's Risk Index (Lanjutan)
Postur Tubuh Analisis Solusi
terlalu sempit seehingga faktor pengalipun akan lebih besar.
4. Faktor lain-lain 1. Barang yang diangkut merupakan tumpukan keranjang, jadi tidak termasuk dalam kategori sharp edge (tepi yang tajam).
2. Operator bekerja tidak menggunakan sarung tangan (glove)
3. Stasiun kerja unloading bukan merupakan stasiun kerja yang dimana di dalamnya melibatkan getaran (vibration) seperti halnya pada pekerja konstruksi dan pemeliharaan jalan raya.
4. Type of action dari operator kerja unloading yaitu dynamic karena gerakan yang dilakukan bersifat dinamis.
5. Temperature pada stasiun kerja ini yaitu warm (hangat) karena pekerjaan dilakukan diluar ruangan.
Tidak ada solusi yang direkomendasikan, karena kondisi pada point ini sudah baik.
75
5.4.REKOMENDASI PERBAIKAN STASIUN KERJA
Rekomendasi yang diajukan oleh penulis yaitu pembuatan alat bantu berupa handtruck dan juga turunan untuk proses pengangkutan barang. Dimensi alat bantu ini dibuat berdasarkan data antopometri Indonesia dan hanya menggunakan 6 dimensi dari 36 dimensi yang telah disebutkan pada bab 4, data yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 5.7.
Tabel 5. 7 Dimensi Antropometri Yang Digunakan
Dimensi Keterangan 5th 50th 95th SD
D3 Tinggi bahu 132,69 141,9 151,11 5,6
D4 Tinggi siku 95,62 105,98 116,33 6,29
D17 Lebar sisi bahu 36,74 44,81 52,89 4,91
D29 Lebar tangan 7,63 12,09 16,55 2,71
D31 Lebar kaki 6,98 9,88 12,78 1,76
D36 Panjang genggaman tangan kedepan 58,61 73,01 87,41 8,76 Terdapat dua rekomendasi alat, alat yang pertama yaitu berupa handtruck yang berfungsi untuk mengangkut barang dengan ketinggian handle bisa diadjust sesuai tinggi operator yang menggunakan dan alat yang kedua yaitu turunan sebagai jalannya handtruck dari mobil box menuju pintu gudang sehingga tidak ada proses pengangkatan, berikut spesifikasi alat tersebut:
1. Handtruck
Spesifikasi handtruck dapat dilihat pada Tabel 5.8.
Tabel 5.8 Spesifikasi Handtruck
Spesifikasi Rancangan Dimensi Tubuh Target Persentil (%) Alasan Tinggi pegangan handtruck pertama Tinggi bahu P95 Dan P5
Jika menggunakan P95 saja, maka orang yang memiliki postur tubuh pendek tidak akan bisa menjangkau pegangan handtruck tersebut, dan jika menggunakan P5 saja maka orang yang
76
Tabel 5.8 Spesifikasi Handtruck (Lanjutan)
Spesifikasi Rancangan Dimensi Tubuh Target Persentil (%) Alasan
memiliki postur tubuh tinggi akan membungkuk, maka target persentil yang digunakan yaitu P5 dan P95, penggunaan dua persentil ini juga bertujuan agar alat bisa diadjust dengan cara menaik turunkan ketinggian handle sesuai kebutuhan. Tinggi pegangan handtruck kedua Tinggi siku P95 Dan P5
Jika menggunakan P95 saja, maka orang yang memiliki postur tubuh pendek tidak akan bisa menjangkau pegangan handtruck tersebut, dan jika menggunakan P5 saja maka orang yang memiliki postur tubuh tinggi akan membungkuk, maka target persentil yang digunakan yaitu P5 dan P95, penggunaan dua persentil ini juga bertujuan agar alat bisa diadjust dengan cara menaik turunkan ketinggian handle sesuai kebutuhan. Lebar antara pegangan (handle) desain pertama Lebar sisi bahu
P95 Penggunaan P95 agar pekerja dengan lebar bahu yang lebih besar dapat memegang pegangan (handle) pada handtruck dengan leluasa, nyaman dalam mengoperasikan handtruck dan pekerja yang memilki lebar bahu lebih
77
Tabel 5.8 Spesifikasi Handtruck (Lanjutan)
Spesifikasi Rancangan Dimensi Tubuh Target Persentil (%) Alasan
kecilpun hanya harus melebarkan sedikit rentan tangannya, lain halnya dengan penggunaan P5 maka pekerja yang memilki lebar bahu lebih besar harus menyempitkan lebar rentan tangannya ketika mengoperasikan handtruck sehingga terlihat lebih tidak nyaman. Lebar antara pegangan (handle) desain kedua Lebar sisi bahu
P95 Penggunaan P95 agar pekerja dengan lebar bahu yang lebih besar dapat memegang pegangan (handle) pada handtruck dengan leluasa, nyaman dalam mengoperasikan handtruck dan pekerja yang memilki lebar bahu lebih kecilpun hanya harus melebarkan sedikit rentan tangannya, lain halnya dengan penggunaan P5 maka pekerja yang memilki lebar bahu lebih besar harus menyempitkan lebar rentan tangannya ketika mengoperasikan handtruck sehingga terlihat lebih tidak nyaman.
Diameter pegangan
Lebar tangan P5 Alasan penggunaan persentil P5 yaitu operator dengan diameter genggaman lebih kecil dapat menggenggam handle
78
Tabel 5.8 Spesifikasi Handtruck (Lanjutan)
Spesifikasi Rancangan Dimensi Tubuh Target Persentil (%) Alasan
dengan baik, begitu pula operator yang memiliki diameter genggam lebih besar tidak terganggu dengan ukuran handle yang ada, sehingga P5 dan P95 masih dapat terakomodasi, sedangkan apabila menggunakan P95 operator dengan diameter genggam lebih besar merasa nyaman tapi tidak untuk operator dengan diameter genggam paling kecil, dia akan merasa terganggu dengan diameter genggam lebih besar dari diameter genggam yang dimilikinya. Perhitungan
Panjang
genggam handle (pegangan)
Lebar tangan P95 Penggunaan P95 bertujuan agar pekerja yang memiliki telapak tangan yang lebih besar dapat menggenggam pegangan handtruck dengan nyaman dan pekerja yang memiliki lebar tangan lebih kecilpun masih bisa menggunakannya dengan baik, lain halnya jika penggunaan P5, pekerja yang memiliki lebar tangan lebih besar akan kesulitan dikarenakan Panjang handle tidak sesuai dengan dimensi lebar tangannya.
79
Tabel 5.8 Spesifikasi Handtruck (Lanjutan)
Spesifikasi Rancangan Dimensi Tubuh Target Persentil (%) Alasan Perhitungan jarak antara posisi operator dengan handtruck ketika sedang digunakan Panjang genggaman tangan ke depan
P5 Ini merupakan jarak antara berdirinya operator dengan posisi handtruck. Menggunakan P5 agar operator dengan Panjang genggaman tangan kedepan terpendek dapat menjangkau handle handtruck, begitupun dengan operator yang memiliki postur Panjang genggaman tangan kedepan lebih Panjang juga tetap bisa menggunakan handtruck tersebut dengan nyaman.
Ukuran spesifikasi handtruck dapat dilihat pada Tabel 5.9. Tabel 5.9 Ukuran Handtruck
No Bagian Handtruck Dimensi
antropometri
Ukuran (cm) 1 Tinggi pegangan handtruck pertama P95
P5
Min: 132.69 Max: 151.11
2 Tinggi pegangan handtruck kedua P95
P5
Min: 95.62 Max: 116.33 3 Lebar antara pegangan (handle) desain
pertama
P95 52.89
4 Lebar antara pegangan (handle) desain kedua P95 52.89
5 Diameter pegangan P5 7.63
6 Perhitungan Panjang genggam handle (pegangan)
P95 16.55
7 Perhitungan jarak antara posisi operator dengan handtruck ketika sedang digunakan
P5 58,61
8 Panjang alas handtruck - 52.89
80
2. Turunan Tangga
Spesifikasi turunan tangga dapat dilihat pada Tabel 5.10. Tabel 5.10 Spesifikasi Turunan Tangga
Spesifikasi Rancangan Dimensi Tubuh Target Persentil (%) Alasan Lebar karet pijakan operator Lebar kaki
P95 Pemilihan P95 agar pekerja yang memilki lebar kaki besar nyaman untuk menggerakan kaki karena alas karet luas begitu pula dengan pekerja dengan lebar kaki kecil akan tetap nyaman menginjak pijakan karet tersebut.
Ukuran turunan tangga dapat dilihat pada Tabel 5.11.
Tabel 5.11 Ukuran Turunan Tangga
No Bagian Dimensi Ukuran
(cm) 1 Lebar karet pijakan operator Lebar kaki 12.78
2 Tinggi turunan Tinggi mobil box 100
3 Lebar turunan Lebar mobil box 200
4 Panjang alas atas Lebar mobil box 200
5 Lebar alas atas Estimasi 100
6 Panjang alas bawah Estimasi 250
7 Lebar track roda 1 dan 2 Lebar roda handtruck 5
8 Jarak track roda 1 dan 2 Lebar handtruck 50
9 Jarak track handtruck 1 dan track handtruck 2
Dimensi barang yang diangkut
81
A. Rekomendasi Hasil Rancangan 1. Handtruck
Rekomendasi hasil rancangan alat pertama yaitu handtruck dapar dilihat pada gambar 5.2.
Gambar 5.2 Rekomendasi Handrtruck
2. Turunan Tangga
Rekomendasi hasil rancangan alat pertama yaitu handtruck dapar dilihat pada gambar 5.3.
82
B. Penjelasan Bagian-bagian Alat
Gambar 5.4 Rekomendasi Handrtruck
Berikut penjelasan alat bantu berupa handtruck 1. Pegangan (handle) pertama
Panjang handle dibuat berdasarkan ukuran lebar tangan operator dan jarak antara handle diukur berdasarkan lebar bahu operator, handle tersebut berfungsi sebagai penarik untuk memposisikan barang dalam posisi miring sehingga pada saat didorong tidak ambruk ke arah depan (posisi barang menyender ke tiang belakang). Tiang handtruck dibuat dari besi hollow dengan ketebalan 2,5mm ukuran diameter 6 cm dan 7 cm.
2. Peganan (handle) kedua
Lebar handle kedua diukur berdasarkan lebar bahu operator dan diameter pegangan sebesar 7,63cm. Handle tersebut berfungsi sebagai pendorong ketika handtruck digunakan.
83
3. Besi pengatur ketinggian
ketinggian handtruck diambil dari data tinggi bahu berdiri maksimal dan minimal orang Indonesia dari usia 18 tahun sampai denga 30 tahun, besi ini dapat mengatur ketinggian handtruck sehingga handtruck nyaman digunakan untuk operator dengan postur tubuh yang berbeda.
4. Plat penyangga
Plat penyangga dibuat dari plat besi bordes hal ini bertujuan agar alas tidak licin, sehingga barang yang diangkut aman.
5. Roda utama
Lebar roda 5cm dengan diameter 12cm. 6. Roda tambahan
Roda tambahan berfungsi sebagai penopang agar operator tidak menyangga berat beban yang sedang diangkut. Lebar roda tersebut sekitar 5cm dengan diameter 12cm.
84
Berikut merupakan penjelasan dari rancangan turunan sebagai alat bantu jalannya handtruck
1. Panjang alas atas
Ukuran dari panjang alas tersebut yaitu mengikuti dimensi lebar pintu mobil box. 2. Lebar alas atas
Lebar alas atas merupakan estimasi, agar handtruck dan operator dapat berdiri di atas turunan tangga dengan nyaman.
3. Tinggi turunan
Tinggi turunan tersebut dibuat berdasarkan tinggi mobil box. 4. Panjang alas bawah
Dimensi panjang alas bawah dibuat berdasarkan perkiraan kemiringan turunan agar tidak terlalu curam.
5. Track roda handtruck
Track roda pada turunan dibuat dengan tujuan agar handtruck berada posisi yang tetap saat melewati turunan tersebut sehingga mempermudah operator dalam pengangkutan barang. Track tersebut memiliki cekungan dengan kedalaman cekungan 2 cm dan dilapisi oleh rubber.
6. Rubber pijakan kaki operator
Rubber pijakan kaki dibuat berdasarkan ukuran lebar kaki operator dengan target persentil 95.
5.4. SIMULASI SETELAH PERBAIKAN
Rekomendasi perbaikan dilakukan pada operator satu, karena dari perhitungan nilai OWAS dan juga CTD’s Risk Index operator satu memilki nilai paling tinggi yang berarti kondisi tersebut memerlukan perbaikan sesegera mungkin, akan tetapi perbaikan ini bisa digunakan untuk semua operator unloading untuk mempermudah pekerjaannya. Berikut contoh simulasi postur tubuh operator dalam penggunaan handtruck:
85
A. Metoda OWAS
Tabel 5.12 Penilaian Metode OWAS Setelah Perbaikan
Gerakan Gambaran Keterangan Nilai
OWAS Sikap Punggung Lurus 1 Sikap Lengan
Kedua lengan berada
dibawah bahu 1
Sikap Kaki Berjalan 7
Berat - Berat beban adalah 10 Kg –
20 Kg (10 Kg < W ≤ 20 Kg) 2
Kode OWAS : 1-1-7-2
Tabel 5.13 Perhitungan Metode OWAS Setelah Perbaikan
B. Metoda CTD’s Risk Index
Perubahan yang terjadi pada operator terhadap postur tubuh saat bekerja dan dilakukan perhitungan ulang dengan metode CTD’s Risk Index, terdapat beberapa point
LEGS 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 USE OF FORCE 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 2 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2 3 3 2 2 2 3 2 2 3 2 3 3 3 4 4 3 4 4 3 3 4 2 3 4 3 2 2 4 2 2 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 3 3 3 4 4 4 1 1 1 1 1 1 2 2 2 3 1 1 1 1 1 2 4 4 4 4 4 4 3 3 3 1 1 1 3 2 2 3 1 1 1 2 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 2 3 3 2 2 3 2 2 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 2 3 3 4 2 3 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 3 4 4 4 2 3 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 3 4 4 5 6 7 1 2 3 4 BACK ARMS 1 2 3
86
mengalami perubahan diantaranya yaitu besar sudut lengan yang dibentuk oleh operator.
Gambar 5. 6 Elbow Angle
Gambar 5.6 menunjukan sudut yang dibentuk oleh elbow angle ketika sebelum dilakukan rekomendasi perbaikan dan sesudah dilakukan rekomendasi perbaikan. Sebelum dilakukan perbaikan sudut yang terbentuk adalah 1320
dan sesudah perbaikan sudut yang terbentuk 1530.
Gambar 5. 7 Shoulder Abduction
Gambar 5.7 menunjukan sudut yang dibentuk oleh Shoulder Abduction ketika sebelum dilakukan rekomendasi perbaikan dan sesudah dilakukan rekomendasi perbaikan. Sebelum dilakukan perbaikan sudut yang terbentuk adalah 190
dan sesudah perbaikan sudut yang terbentuk 00.
87
Gambar 5. 8 Shoulder Flextion
Gambar 5.8 menunjukan sudut yang dibentuk oleh Shoulder Flextion ketika sebelum dilakukan rekomendasi perbaikan dan sesudah dilakukan rekomendasi perbaikan. Sebelum dilakukan perbaikan sudut yang terbentuk adalah 660
dan sesudah perbaikan sudut yang terbentuk 500.
Gambar 5. 9 Neck Angle
Gambar 5.9 menunjukan sudut yang dibentuk oleh Neck Angle ketika sebelum dilakukan rekomendasi perbaikan dan sesudah dilakukan rekomendasi perbaikan. Sebelum dilakukan perbaikan sudut yang terbentuk adalah 110
dan sesudah perbaikan sudut yang terbentuk 00.
88
Perhitungan metode CTD’s Risk Index setelah dilakukan rekomendasi perbaikan dapat dilihat pada Tabel 5.14.
Tabel 5.14 Perhitungan Metode CTD’s Risk Index Setelah Perbaikan
Setelah dilakukan simulasi ternyata hasil perhitungan metode OWAS mengalami penurunan tingkat risiko yang dapat dialami oleh operator sebesar 75%, sebelum
Job Title: Unloading
Job Description: membongkar barang dari mobil box
① 32.15 ② 13.06 ③ 120.00 ④ 1567.65 0.1568 0 1 2 3
Working Posture Sit Stand
Hand Posture 1: Pulp Pinch No Yes
Hand Posture 2: Lateral Pinch No Yes
Hand Posture 3: Palm Pinch No Yes
Hand Posture 4: Finger Press No Yes
Hand Posture 5: Power Grip Yes No
Type of Reach Horizontal Up/Down
Hand Deviation 1: Flexion No Yes
Hand Deviation 2: Extension No Yes
Hand Deviation 3: Radial Dev. No Yes
Hand Deviation 4: Ulnar Dev. No Yes
Forearm Rotation Neutral In/Out
Elbow Angle =90° ≠90° Shoulder Abduction 0 <45° <90° >90° Shoulder Flexion 0 <90° <180° >180° Back/Neck Angle 0 <45° <90° >90° Balance Yes No 3 0.3
Grip or Pinch Force Used on Task 35.64 lbs. ⑥
Max Grip or Pinch Force 39.6 lbs. ⑦
6
0 1 2 3
Sharp Edge No Yes
Glove No Yes
Vibration No Yes
Type of Action Dynamic Intermittent Static
Temperature Warm Cold
0
0
VCR Counter No.: Date: 3 juni 2019
Department: gudang Analyst: laelawati
Cycle Time (in minutes; obtain from videotape)
(Circle appropriate condition) Points
Cycle/Day = = = Handmotions / Cycle
Handmotions / Day ( ② x ③)
Frequency Factor (Divide ④by 10,000) =
(Circle appropriate condition) Points
Total the Points for the Circled Condition ⑤
Posture Factor (Divide ⑤ by 10) =
⑧ Divide ⑥ by ⑦: 0.9
Force Factor (Divide ⑧ by .15) =
Total the Points for the Circled Conditions ⑨
Miscellaneous Factor (Divide ⑨ by 3) =
CTD Risk Index = .3 x (Frequency + Posture + Force Factors) + .1 x (Miscellaneous Factor) CTD Risk Index = .3 x ( 0.1568 + 0.3 + 6 ) + .1 x ( 0 ) = 1.937
( ) .
( ) .
89
perbaikan nilai OWAS yang didapat berada pada angka 4, tetapi setelah dilakukan perbaiakan nilai OWAS berada pada angka 1 yang artinya postur tubuh operator merupakan postur yang aman. Tetapi metoda OWAS ini hanya melihat dari sisi postur tubuh saja, berbeda dengan metoda CTD’s Risk Index penurunan tingkat risiko hanya 8,5%, metoda ini juga memperhatikan faktor frekuensi yang akan menjadi bahan pertimbangan dalam perhitungannya, berdasarkan metoda CTD’s Risk Index perhitungan setelah dilakukan perbaikan tidak mengalami penurunan yang signifikan, hasil index sebelum dilakukan perbaikan yaitu sebesar 2,117 dan setelah dilakukan perbaikan index yang dihasilkan adalah sebesar 1,937 hal ini dikarenakan beban yang diangkut oleh operator terlalu berat dengan frekuensi yang tinggi, oleh karena itu pengajuan penurunan berat beban kerja harus dilakukan agar operator tidak mudah mengalami kelelahan otot.