1. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Riau
2. Bagian Anestesi dan Reanimasi RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau 3. Bagian Patologi Klinik RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau
Email : [email protected] +6285374079541
GAMBARAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN YANG MENJALANI BEDAH ORTOPEDI DENGAN ANESTESI SPINAL DI RSUD ARIFIN ACHMAD PROPINSI RIAU
Nurmuthmainnah1, R. Sutantri Edi Prabowo2, Wilfrid Pangaribuan3.
ABSTRACT
Anaesthesia and surgery could evoke a stress response. The stress response leads to elevate blood glucose level, hypertension, tachycardia, protein catabolism, suppress the immune system and alter renal function. As well as orthopaedic surgery. Spinal anaesthesia was known to block stress response greater than general anaesthesia by reducing the release of catecholamine and minimizing the neuroendocrine response. The purpose of this study was to illustrate blood glucose level of patients undergoing orthopaedic surgery with spinal anaesthesia. The samples were 31 orthopaedic’s surgery patients who met the inclusion and exclusion criterias. The result shown that 31 patients (100%) had normal blood glucose level in pre-anaesthesia, 30 minutes intra-surgery and post-surgery. The 13 patients (41.94%) had a decrease in blood glucose level from pre-anaesthesia to 30 minutes intra-surgery, the 25 patients (80.65%) had a decrease in blood glucose level from 30 minutes intra-surgery to post-surgery, and the 21 patients (67.74%) had a decrease in blood glucose level from pre-anaesthesia to post-surgery. The results shown that there was a decrease in blood glucose level from pre-anaesthesia to 30 minutes surgery, 30 minutes intra-surgery to post-intra-surgery, and pre-anaesthesia to post-intra-surgery.
Keywords: blood glucose level, orthopaedic’s surgery patients, spinal
anaesthesia.
PENDAHULUAN
Anestesi spinal adalah salah satu anestesi neuroaksial yang relatif sering digunakan pada pembedahan ekstremitas bawah karena tekniknya yang sederhana, cukup efektif dan mudah dikerjakan.1,2,3 Selain itu, kemampuan anestesi spinal dalam mengambat terjadinya respon stres lebih baik daripada anestesi umum.4,5 Anestesi spinal diperoleh dengan cara menyuntikkan anestetik lokal ke ruang subarachnoid.2
Anestesi spinal dapat menekan respon stres dengan mengurangi pelepasan katekolamin dan meminimalkan respon neuroendokrin, sebelum dilakukan insisi hingga periode post operasi. Trauma operasi menyebabkan timbulnya respon neuroendokrin melalui respon inflamasi lokal dan aktivasi jalur aferen saraf somatik dan viseral. Akibat dari respon tersebut, terjadi peningkatan sekresi hormon kortisol, aldosteron, glukagon, antidiuretic hormone (ADH), epinefrin dan norepinefrin. Hormon-hormon tersebut dikenal sebagai neuroendocrine hormone yang berperan dalam mekanisme kompensasi untuk mempertahankan fungsi fisiologis tubuh tetap berada dalam batas normal.1,6,7,8
Respon stres merupakan suatu keadaan dimana terjadi berbagai perubahan fisiologis di dalam tubuh sebagai reaksi terhadap kerusakan jaringan. Kerusakan
1. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Riau
2. Bagian Anestesi dan Reanimasi RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau 3. Bagian Patologi Klinik RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau
Email : [email protected] +6285374079541
jaringan tersebut dapat disebabkan oleh syok, trauma, operasi, anestesi, gangguan fungsi paru, infeksi dan kegagalan fungsi organ multipel.9
Respon stres yang terjadi sebanding dengan tingkat keparahan, intensitas dan durasi dari stimulus atau trauma yang diterima oleh tubuh.5,7,10,11,12
Abbreviated injury scale (AIS) menggolongkan tingkat keparahan trauma menjadi AIS-1 (minor), AIS-2 (moderate), AIS-3 (severe), AIS-4 (serious), AIS-5 (critical-to-life), AIS-6 (fatal). Berdasarkan kriteria tersebut, pasien yang mengalami fraktur femur, tibia, fibula, patella, maleolus atau tarsal tergolong dalam AIS 2, sedangkan pasien yang mengalami dislokasi panggul, fraktur dan atau dislokasi sakroiliaka tergolong dalam AIS 3.13
Manifestasi klinis yang muncul akibat respon stress, dapat terjadi perioperatif maupun postoperatif, seperti hipertensi, takikardi, hiperglikemi, katabolisme protein, penekanan fungsi sistem imun dan perubahan fungsi ginjal.1 Oleh sebab itu, respon stres perioperatif dengan segala akibatnya harus diwaspadai, sehingga dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas perioperatif maupun postoperatif.
Hormon-hormon yang berperan dalam respon stres adalah neuroendocrine hormone. Aldosteron bersifat retensi Na+ dan mengekskresikan K+ melalui urin. Sehingga pasien postoperasi cenderung mengalami hipervolemi, hipernatremi dan hipokalemi. ADH menyebabkan peningkatan retensi air oleh ginjal, dan dengan konsentrasi yang lebih tinggi, ADH menyebabkan konstriksi arteriol di seluruh tubuh sehingga meningkatkan tekanan arteri. Hal ini berhubungan dengan fungsi ADH untuk mempertahankan volume darah terutama pada saat terjadi penurunan volume darah akibat perdarahan. Kortisol, glukagon dan epinefrin bekerja sinergis menyebabkan peningkatan glukoneogenesis dan menurunkan
uptake glukosa di sel dan jaringan.5,6,14,15 Hal ini menyebabkan terjadinya hiperglikemi yang dapat memperpanjang masa penyembuhan luka operasi, serta meningkatkan biaya perawatan rumah sakit.
Dari semua hormon tersebut, hormon yang paling dominan berperan dalam respon stres adalah kortisol.11,12,16 Pada saat tubuh mengalami trauma, kortisol mengalami peningkatan secara cepat bahkan kadarnya dapat mencapai 20 kali lipat.14 Berdasarkan semua uraian di atas, besarnya pengaruh respon stres terhadap kadar gula darah, serta belum adanya penelitian mengenai gambaran kadar gula darah pada pasien bedah ortopedi dengan anestesi spinal, membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran Kadar Gula Darah pada Pasien yang Menjalani Bedah Ortopedi dengan Anestesi Spinal di RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain penelitian cross sectional
untuk mengetahui gambaran kadar gula darah pada pasien yang menjalani bedah ortopedi dengan anestesi spinal di RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau. Penelitian dilaksanakan di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau pada bulan Januari-Maret 2013. Populasi penelitian adalah pasien yang menjalani bedah ortopedi dengan anestesi spinal Pengambilan sampel dilakuan dengan teknik Consecutive sampling. Kriteria inklusi dalam penelitian
1. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Riau
2. Bagian Anestesi dan Reanimasi RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau 3. Bagian Patologi Klinik RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau
Email : [email protected] +6285374079541
ini adalah pasien bedah ortopedi yang akan menjalani operasi pada ekstremitas bawah dan dilakukan anestesi spinal, status fisik American Society of Anesthesiologists (ASA) I-II29, umur 17 – 50 tahun dan bersedia menjadi sampel penelitian. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah pasien menderita diabetes mellitus (DM), hipertensi, pasien mengalami hipoglikemi saat dilakukan penelitian, anestesi spinal gagal. Variabel dalam penelitian ini antara lain anestesi spinal, fraktur ekstremitas bawah, pasien bedah ortopedi, kadar gula darah normal, kadar gula darah pre-anestesi, kadar gula darah 30 menit intra-operasi dan kadar gula darah post-operasi.
Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari hasil pemeriksaan kadar gula darah pasien sebanyak 3 kali (pre-anestesi, 30 menit intra-operasi, post-operasi) dengan menggunakan alat Blood glucose meter Accu-Check Active. Pengolahan data dilakukan secara manual, kemudian ditabulasikan dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Subjek Penelitian
Karakteristik umum subjek penelitian yang tertera di bawah ini mencakup umur, jenis kelamin dan durasi operasi pada pasien yang telah menjalani operasi bedah ortopedi dengan anestesi spinal di Instalasi Bedah Sentral RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau. Adapun karakteristik umum subjek pada penelitian ini dapat dilihat dalam Tabel 4.1 berikut :
Tabel 4.1 Karakteristik subjek penelitian
Karakteristik Jumlah (N) Persentase (%)
Jenis kelamin Pria Wanita Jumlah 21 10 31 67.7% 32.3% 100% Usia (tahun) 17-20 21-30 31-40 41-50 Jumlah 8 14 5 4 31 25.8% 45.2% 16.1% 12.9% 100% Diagnosis
Fraktur femur tertutup Fraktur femur terbuka Fraktur femur terbuka dan fraktur tibia tertutup Fraktur tibia fibula tertutup Fraktur tibia fibula terbuka Fraktur patella
Fraktur maleolus Dislokasi hip
Union fraktur femur
12 1 1 4 3 1 1 1 1 38.7% 3.2% 3.2% 12.9% 9.7% 3.2% 3.2% 3.2% 3.2%
1. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Riau
2. Bagian Anestesi dan Reanimasi RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau 3. Bagian Patologi Klinik RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau
Email : [email protected] +6285374079541 Union fraktur femur fibula
Union fraktur tibia Union fraktur fibula Union fraktur tibia fibula Malunion fraktur tibia fibula Post ORIF tibia
Jumlah 1 1 1 1 1 1 31 3.2% 3.2% 3.2% 3.2% 3.2% 3.2% 100% Jenis tindakan ORIF Re-ORIF
Replacement dan ORIF
Remove implant Jumlah 23 2 1 5 31 74.2% 6.5% 3.2% 16.1% 100% Berdasarkan Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa jenis kelamin terbanyak adalah pria yaitu 21 pasien (67.7%), frekuensi usia terbanyak adalah pada pasien kelompok usia 21-30 tahun yaitu 14 pasien (45.2%) diikuti oleh kelompok usia 17-20 tahun. Diagnosis terbanyak yaitu fraktur femur sebanyak 12 pasien (38.7%) diikuti fraktur tibia fibula sebanyak 4 pasien (12.9%). Jenis tindakan terbanyak adalah open reduction and internal fixation (ORIF) yaitu 23 pasien (74.2%) diikuti remove implant sebanyak 5 pasien (16.1%).
Gambaran kadar gula darah pre-anestesi pada pasien bedah ortopedi dengan anestesi spinal
Gambaran kadar gula darah puasa pre-anestesi pada pasien bedah ortopedi dengan anestesi spinaldapat dilihat pada Tabel 4.2 di bawah ini.
Tabel 4.2 Distribusi frekuensi kadar gula darah puasa pre-anestesi pada pasien ortopedi dengan anestesi spinal
Kadar Gula Darah N %
< 70 mg/dl 0 0
70-125 mg/dl 31 100
≥ 126 mg/dl 0 0
Total 31 100
Tabel 4.2 menjelaskan bahwa 31 pasien (100%) seluruhnya memiliki kadar gula darah pre-anestesi normal. Tidak terdapat pasien yang mengalami penurunan ataupun peningkatan kadar gula darah dari standar kadar gula darah normal yaitu 70-125 mg/dl.
Gambaran kadar gula darah 30 menit intra-operasi pasien bedah ortopedi dengan anestesi spinal
Gambaran kadar gula darah 30 menit intra-operasi pada pasien bedah ortopedi dengan anestesi spinal dapat dilihat pada Tabel 4.3 di bawah ini.
Tabel 4.3 Distribusi frekuensi kadar gula darah 30 menit intra-operasi pada pasien bedah ortopedi dengan anestesi spinal
1. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Riau
2. Bagian Anestesi dan Reanimasi RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau 3. Bagian Patologi Klinik RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau
Email : [email protected] +6285374079541
< 70 mg/dl 0 0
70-125 mg/dl 31 100
≥ 126 mg/dl 0 0
Total 31 100
Berdasarkan Tabel 4.3 menunjukkan bahwa 31 pasien (100%) seluruhnya memiliki kadar gula darah pada 30 menit intra-operasi yang normal. Tidak terdapat pasien yang mengalami penurunan ataupun peningkatan kadar gula darah dari standar kadar gula darah normal yaitu 70-125 mg/dl.
Gambaran kadar gula darah post-operasi pasien bedah ortopedi dengan anestesi spinal
Gambaran kadar gula darah puasa post-operasi pada pasien bedah ortopedi dengan anestesi spinal dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut ini.
Tabel 4.4 Distribusi frekuensi kadar gula darah post-operasi pada pasien bedah ortopedi dengan anestesi spinal
Kadar Gula Darah n %
< 70 mg/dl 0 0
70-125 mg/dl 31 100
≥ 126 mg/dl 0 0
Total 31 100
Tabel 4.4 diatas menunjukkan bahwa 31 pasien (100%) seluruhnya memiliki kadar gula darah post-operasi yang normal. Tidak terdapat pasien yang mengalami penurunan ataupun peningkatan kadar gula darah dari standar kadar gula darah normal yaitu 70-125 mg/dl.
Diagram batang berikut ini menggambarkan secara keseluruhan tentang kadar gula darah pada pasien bedah ortopedi dengan anestesi spinal.
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% Kadar gula darah pre-anestesi kadar gula darah 30 menit intra-operasi kadar gula darah post-operasi 0% 0% 0% 100% 100% 100% 0% 0% 0% (% )
Kadar gula darah
Gambaran kadar gula darah
Hipoglikemia Normal Hiperglikemia
1. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Riau
2. Bagian Anestesi dan Reanimasi RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau 3. Bagian Patologi Klinik RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau
Email : [email protected] +6285374079541
Nilai perubahan kadar gula darah pada pasien bedah ortopedi dengan anestesi spinal
Nilai perubahan kadar gula darah pada pasien bedah ortopedi dengan anestesi spinal dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut:
Tabel 4.5 Perubahan kadar gula darah pada pasien bedah ortopedi dengan anestesi spinal
Kadar gula darah Meningkat (n) Menurun (n) Pre-anestesi ke 30 menit intra-operasi 18 pasien (58.06%) 13 pasien (41.94%) 30 menit intra-operasi ke post-operasi 6 pasien (19.35%) 25 pasien (80.65%) Pre-anestesi ke post-operasi 10 pasien (32.26%) 21 pasien (67.74%)
Dari Tabel 4.5 terdapat 18 pasien (58.06%) mengalami peningkatan kadar gula darah dari pre-anestesi ke 30 menit intra-operasi dan 13 pasien (41.94%) mengalami penurunan kadar gula darah dari pre-anestesi ke 30 menit
intra-operasi. Sebanyak 6 pasien (19.35%) mengalami peningkatan kadar gula darah dari 30 menit intra-operasi ke post-operasi dan 25 pasien (80.65%) mengalami penurunan kadar gula darah dari 30 menit intra-operasi ke post-operasi. Sebanyak 10 pasien (32.26%) mengalami peningkatan kadar gula darah dari pre-anestesi ke post-operasi dan 21 pasien (67.74%) mengalami penurunan kadar gula darah dari pre-anestesi ke post-operasi.
Nilai mean kadar gula darah pasien bedah ortopedi dengan anestesi spinal Gambaran nilai mean (rerata) kadar gula darah pada pasien bedah ortopedi dengan anestesi spinal dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut:
Tabel 4.6 Nilai mean kadar gula darah
Kelompok kadar gula darah Rata-rata kadar gula darah
Kadar gula darah pre-anestesi 97.4 mg/dl
Kadar gula darah 30 menit intra-operasi 101.1 mg/dl
Kadar gula darah post-operasi 94.7 mg/dl
Dari Tabel 4.6 terdapat rerata kadar gula darah pre-anestesi adalah 97.4 mg/dl, rerata kadar gula darah pada 30 menit intra-operasi adalah 101.1 mg/dl dan rerata kadar gula darah post-operasi adalah 94.7 mg/dl.
1. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Riau
2. Bagian Anestesi dan Reanimasi RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau 3. Bagian Patologi Klinik RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau
Email : [email protected] +6285374079541
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4.2 berikut :
Gambar 4.2 Nilai mean kadar gula darah pada pasien bedah ortopedi dengan anestesi spinal
4.3.3 Nilai selisih perubahan rata-rata kadar gula darah pasien bedah ortopedi dengan anestesi spinal
Gambaran selisih perubahan rata-rata kadar gula darah pada pasien bedah ortopedi dengan anestesi spinal dapat dilihat pada Tabel 4.7 berikut:
Tabel 4.7 Selisih perubahan rata-rata kadar gula darah subjek penelitian
Kadar gula darah Selisih perubahan rata-rata kadar gula darah Kadar gula darah pre-anestesi dan 30 menit intra-operasi 3.7%
Kadar gula darah 30 menit intra-operasi dan post-operasi 6.4% Kadar gula darah pre-anestesi dan post-operasi 2.7%
Dari Tabel 4.7 diperoleh adanya perubahan rata-rata kadar gula darah berupa peningkatan nilai rata-rata kadar gula darah dari pre-anestesi ke 30 menit
intra-operasi sebesar 3.7%. Selanjutnya rata-rata kadar gula darah mengalami penurunan dari 30 menit intra-operasi ke post-operasi sebesar 6.4%, sedangkan rata-rata kadar gula darah dari pre-anestesi ke post-operasi juga mengalami penurunan yaitu sebesar 2.7%.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Didapatkan nilai rata-rata kadar gula darah pre-anestesi, 30 intra-operasi dan post-operasi 100 % dalam batas normal dan tidak terjadi peningkatan atau penurunan kadar gula darah melebihi atau di bawah rentang nilai normal.
2. Terdapat peningkatan nilai rata-rata kadar gula darah dari pre-anestesi yaitu 97.4 mg/dl ke 30 menit intra-operasi yaitu 101.1 mg/dl, dan dari 30 menit intra-operasi ke post-operasi menjadi 94.7mg/dl.
3. Terjadi peningkatan kadar gula darah dari pre-anestesi ke 30 menit intra-operasi pada 18 pasien (58.06%) bedah ortopedi dengan anestesi spinal. 4. Terjadi penurunan kadar gula darah dari 30 menit intra-operasi ke
post-operasi pada 25 pasien (80.65%) bedah ortopedi dengan anestesi spinal. 5. Terjadi penurunan kadar gula darah dari pre-anestesi ke post operasi pada
21 pasien (67.74%) bedah ortopedi dengan anestesi spinal. 90 92 94 96 98 100 102
Kadar gula darah pre-anestesi
Kadar gula darah 30 menit
intra-operasi
Kadar gula darah post-anestesi 97.4 101.1 94.7 m g/ d l
Kadar gula darah
Rerata kadar gula darah
1. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Riau
2. Bagian Anestesi dan Reanimasi RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau 3. Bagian Patologi Klinik RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau
Email : [email protected] +6285374079541 DAFTAR PUSTAKA
1. Kleinman W, Mikhail M. Regional anesthesia and pain management. In: Morgan GE, Mikhail MS editors. Clinical Anesthesiology. 4th ed. New York: A Lange Medical Book; 2006. p. 289-309.
2. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Jakarta: FK UI; 2007. h.107-11.
3. Zauder HL. Anaesthesia for orthopaedic and microvascular surgery. In: Nunn JF, Utting JE, Brown BR editors. General anaesthesia. 5th ed. London: Anchor Press Ltd; 1989. p.933.
4. Valovska A, Valovski IT. Spinal anesthesia. In: Vacanti CA, Urman RD, Segal BS, Sikka PJ, Dershwitz M editors. Essential clinical anesthesia. New York: Cambridge University Press. 2011. p.340-7.
5. Singh M. Stress response and anaesthesia: altering the peri and post operative management. Indian J Anaesth; 2003. p. 47 (6) : 427-434.
6. Desborough JP. The stress response to trauma and surgery. Br J Anaesth; 2000. p. 85(1): 109-17.
7. Weissman C. Nutrition and metabolic control. In: Miller RD, editor. Miller’s anesthesia. 7th ed. Vol 2. Philadelphia : Churchill Livingstone; 2010.p.2923-4.
8. Stutz HR, Charchaflieh J. Postoperative and intensive care including head injury and multisystem sequel. In: Cottrell, Young, editors. Neuroanesthesia. 5th ed. 2010. New York: Mosby Elsevier. p.406.
9. Pemberton LB, Pemberton DK, Cuddy PG, Pharm. Treatment of water electrolyte, and acid-base disorders in the surgical patient. International ed. New York : McGraw-Hill; 1994. p.31-34.
10. Macintyre PE, Scott DA, Schug SA, Visser EJ, Walker SM. Acute pain management : scientific evidence. 3rd ed. Australian New Zealand College of Anesthetists and Faculty of Pain Medicine. 2010. p.15-18.
11. Burton D, Nicholson G, Hall G. Endocrine and metabolic response to surgery. Br J Anaesth; 2004. p. 4(5): 144-7.
12. Walsh T.S. The metabolic response to injury. In: Garden OJ, Bradbury AW, Forsythe JLR, Parks RW, editors. Principle and practice of surgery. 5th ed. Philadelphia : Churchill Livingstone; 2007. p. 2-12.
13. Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11, Jakarta : EGC; 2007. h. 794-1005.
1. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Riau
2. Bagian Anestesi dan Reanimasi RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau 3. Bagian Patologi Klinik RSUD Arifin Achmad Propinsi Riau
Email : [email protected] +6285374079541 14. Miller RD. Miller’s anesthesia. 7th
ed. Volume 2. New York : Churcill Livingstone; 2010. p.2923-2957.
15. Darmawan I, Santoso B. Parenteral fluid and nutrition therap. 1st ed. Indonesia : PT. Otsuka Indonesia. 2012. h.246-249.
16. Davison JK, Eckhardt WF, Peresa DA. Clinical anesthesia procedures of the Massachusetts General Hospital. 1993. p. 210.