61
BAB III
POTENSI DASAR PENDAPATAN ASLI DAERAH
3.1. Dinas Kelautan dan Perikanan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor perikanan dan kelautan DIY bersumber dari berbagai aktivitas di UPTD Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislautkan) DIY. Dislautkan DIY dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2001, Jo Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2004 tentang Pembentukan dan Organisasi Dinas Daerah di Lingkungan Pemerintah Provinsi Daerah Yogyakarta. Dislautkan mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintah daerah di bidang kelautan dan perikanan, kewenangan dekonsentrasi serta pembantuan yang diberikan oleh pemerintah. Terkait dengan PAD, fungsi Dinas Kelautan dan Perikanan seperti yang dituangkan dalam situs resminya adalah sebagai pelaksana koordinasi perizinan di bidang kelautan dan perikanan, pengujian dan pengawasan muut perikanan, pelayanan umum sesuai kewenangannya, dan pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Gubernur sesuai dengan fungsi dan tugasnya.
Sesuai dengan struktur organisasi Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, satuan kerja yang ada di Dinas Kelautan dan Perikanan terdiri atas satu kesekretariatan, tiga bidang (bidang
kelautan dan pesisir, perikanan, dan bina usaha), dan 2 Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yaitu UPTD Balai Pengembangan Teknologi Kelautan dan Perikanan (BPTKP) berkedudukan di Cangkringan, Kabupaten Sleman dan UPTD Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng, di Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul. Unit kerja penghasil PAD di Dinas Kelautan dan Perikanan DIY berasal dari UPTD BPTKP, UPTD PPP, dan kantor Dinas Kelautan dan Perikanan. Penyumbang terbesar PAD di Dinas Perikanan adalah UPTD BPTKP sehingga UPTD BPTKP merupakan tulang punggung sumber penerimaan PAD di sektor Perikanan dan Kelautan DIY.
62 Retribusi Perizinan Tertentu. Retribusi jasa usaha di Dinas Kelautan dan Perikanan DIY terdiri atas retribusi pemakaian kekayaan daerah (sewa penggunaan lahan, jasa sertifikasi pengawasan mutu hasil perikanan di LPPMHP, dan jasa pengujian laboratoium di BPTKP), retribusi jasa usaha (pengelolaan pelabuhan perikanan pantai), retribusi penjualan produksi usaha daerah di unit kerja budidaya air tawar, payau, dan laut, sedangkan retribusi perizinan tertentu meliputi izin usaha perikanan (SIUP, SIPI, dan SIKPI). Penjelasan rinci mengenai unit penghasil PAD dan sumber penerimaannya adalah sebagai berikut:
3.1.1. Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Pengembangan Teknologi Kelautan dan
Perikanan.
Balai Pengembangan Teknologi Kelautan dan Perikanan (BPTKP) adalah salah satu Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) pada Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Balai Pengembangan Teknologi Kelautan dan Perikanan memiliki tugas dan fungsi yang tercantum dalam Peraturan Gubernur Nomor 39 Tahun 2008 tentang Rincian Tugas dan Fungsi Dinas dan Unit Pelaksana Teknis pada DInas Kelautan dan Perikanan. BPTKP bertugas menyelenggarakan pengembangan teknologi budidaya air Tawar, air payau, dan air laut. Dalam melaksanakan teknis operasional, BPTKP mengelola kegiatan
pengembangan budidaya air tawar, air payau dan air laut. Tugas utama BPTKP adalah di bidang perbenihan dan pengelolaan induk atau calon induk ikan/udang serta pengembangan dan penerapan teknologi budidaya. Selain itu, BPTKP juga memberikan layanan teknis pengendalian hama dan penyakit ikan (HPI). Dalam melaksanakan tugasnya, BPTKP memiliki tujuh unit kerja yaitu: Unit Kerja Budidaya Air Tawar (UK BAT) sebanyak empat unit, Unit Kerja Budidaya Air Payau (UK BAP) sebanyak dua unit, dan Unit Kerja Budidaya Air Laut (UK BAL) sebanyak unit. Unit Kerja Budidaya Air Tawar (UK BAT) meliputi UK BAT Cangkringan, Wonocatur, Sendangsari, dan Bejiharjo. Unit Kerja Budidaya Air Payau (UK BAP) meliputi UK BAP Samas dan UK BAT Congot, sedangkan Unit Kerja Budidaya Air Laut (UK BAL) adalah UK BAL Sundak.
1. Unit Kerja Budidaya Air Tawar (UK BAT) Cangkringan
63 Negeri Sipil (PNS) dan 2 orang tenaga honorer (PTT). Rincian fasilitas yang ada di UK BAT Cangkringan adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1.
Fasilitas di UK BAT Cangkringan
No. Peruntukan Jumlah (buah) Luas Keterangan
1. Kolam 103 4,7179 ha Kondisi baik
2. Bak 122 1.826 m 2 Kondisi baik
3. Gedung 26 1.251,5 m 2 Kondisi baik
4. Bangsal kerja 2 433,8 m 2 Kondisi baik
5. Laboratorium 3 211 m 2 Kondisi baik
6. Pasar ikan petani 1 220 m 2 Kondisi baik
7. Conical tank 2 20 m 3 Kondisi baik
8. Jalan aspal, parkir, halaman 1 300m2 x 2 Kondisi baik
Sumber: Laporan Tahunan BPTKP, 2008
Penerimaan PAD di UK BAT Cangkringan bersumber pada retribusi penjualan produksi usaha daerah dan penyewaan aset. Produk yang dijual UK BAT Cangkringan meliputi
64
Gambar 3.1.
Target dan Capaian Penerimaan PAD UK BAT Cangkringan, 2006-2013
Sumber: Laporan Tahunan BPTKP, 2007-2013 (diolah)
Target PAD yang dibebankan kepada UK BAT Cangkringan selama periode 2006-2013 dapat dikatakan selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hanya pada tahun 2010 dan 2011, tidak terjadi peningkatan target PAD. Target PAD yang dibebankan pada tahun 2006 adalah sebesar Rp160.002.200 dan meningkat menjadi Rp250.700.000 pada tahun 2013. Rata-rata peningkatan target PAD selama periode 2006-2013 adalah sebesar 7% per tahun, bahkan pada tahun 2012 dan 2013 pertumbuhan target PAD yang dibebankan pada UK BAT Cangkringan mencapai 21%. Penerimaan PAD di UK BAT Cangkringan dapat dikatakan cenderung fluktuatif dimana pada tahun 2009, 2011, dan 2013 mengalami pertumbuhan penerimaan, sedangkan pada tahun 2007, 2008, 2010, dan 2012 mengalami penurunan penerimaan. Secara agregat, rata-rata peningkatan penerimaan PAD UK BAT Cangkringan adalah sebesar 11,19% (realisasi penerimaan tahun 2006 sebanyak Rp160.680.500 dan tahun
2013 sebanyak Rp250.774.00) dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar 58,1%, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 30,58%.
Penurunan tersebut disebabkan adanya erupsi Gunung Merapi yang mengakibatkan banyak induk dan benih yang mengalami kematian karena debu erupsi. Jika dilihat dari rasio antara target dan realisasi penerimaan PAD, UK BAT Cangkringan selalu mencapai target yang dibebankan dengan rasio pencapaian tertinggi terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar 159,1% (target sebesar Rp170.000.000 dan realiasai sebesar Rp270.476.800). Hanya pada tahun 2008,
100 100 96
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
65 UK BAT Cangkringan tidak mampu mencapai target dimana rasionya hanya sebesar 95,73% (target sebesar Rp164.000.000 dan realisasi sebesar Rp157.000.000). Dengan demikian, dengan trend pertumbuhan yang positif dan sumbangan yang cukup besar terhadap pendapatan asli daerah, UK BAT Cangkringan diharapkan mampu mempertahankan atau meningkatkan perfoma kerja untuk peningkatan mutu hasil produksi dan sumbangan yang lebih besar terhadap pendapatan asli daerah.
2. Unit Kerja Budidaya Air Tawar (UK BAT) Wonocatur
Pada awalnya Unit Kerja Budidaya Air Tawar (UK BAT) Wonocatur berlokasi di Desa Tegalmulyo, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul dengan luas lahan sekitar 2 hektar, namun pada bulan Juli 2008 lokasi Unit Kerja BAT Wonocatur pindah ke Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. UK BAT Wonocatur menempati sebagian dari area UK BAT Cangkringan tepatnya di bagian barat. UK BAT Wonocatur menempati tanah seluas 1,155 hektar, yang terdiri atas lahan untuk perkolaman 0,575 ha, lahan hatchery, gudang pupuk dan kapur serta bangunan kantor 0,192 ha dan untuk lain-lain 0,388 ha. Kondisi kolam secara umum dapat dikatakan baik dengan bangunan permanen dan berdinding tembok/beton.Pelaksanaan kegiatan teknis dan administrasi di UK BAT Wonocatur didukung
oleh 5 karyawan yang semuanya berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS).
66
Gambar 3.2.
Target dan Capaian Penerimaan PAD UK BAT Wonocatur, 2006-2013
Sumber: Laporan Tahunan BPTKP, 2007-2013 (diolah)
Penerimaan PAD yang ditargetkan kepada UK BAT Wonocatur selama tahun 2006-2011 tidak mengalami peningkatan yaitu hanya sebesar Rp15.000.000, peningkatan target PAD baru terjadi pada tahun 2012 menjadi Rp20.000.000, kemudian meningkat menjadi Rp29.000.000 pada tahun 2013. Penerimaan PAD di UK BAT Wonocatur selama tahun 2006-2010 cenderung stagnan yaitu pada kisaran angka Rp15.066.000.000-15.456.000. Kenaikan penerimaan PAD secara signifikan terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar Rp41.506.350 (173,12%), kemudian mengalami penurunan pada tahun 2012 menjadi Rp28.440.000 (-31,48%), dan meningkat kembali menjadi Rp31.485500 (10,78%). Rata-rata peningkatan target selama tahun 2006-2013 adalah sebesar 11,16%, sedangkan rata-rata peningkatan realisasi penerimaan adalah sebesar 21,63%. Jika dilihat dari rasio antara target dan realisasi penerimaan PAD, UK BAT Wonocatur selalu mencapai target yang dibebankan dengan rasio pencapaian tertinggi terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar 276,71% (target sebesar Rp15.000.000 dan realiasai sebesar Rp41.506.250), sedangkan rasio pencapaian terendah terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 100,44% (target sebesar Rp15.000.000 dan realisasi sebesar Rp15.066.000).
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
67
3. Unit Kerja Budidaya Air Tawar (UK BAT) Bejiharjo
Unit Kerja Budiddaya Air Tawar (UK BAT) Bejiharjo berada di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. UK BAT Bejiharjo memiliki luas lahan seluas 1,8 Ha yang terdiri atas bangunan dan gedung kantor seluas 0,7 Ha dan kolam seluas 1,1 Ha. Tenaga kerja berjumlah 4 orang, terdiri dari 1 orang PNS dan 3 orang tenaga honorer. Rincian fasilitas yang ada di UK BAT Bejiharjo adalah sebagai berikut:
Tabel 3.2. daerah. Produk yang dijual di UK BAT Bejiharjo diantaranya adalah induk, ikan konsumsi, dan benih. Komoditas ikan yang diproduksi selama periode 2007-2013 adalah ikan mas, nila hitam, nila merah, tawes, dan lele. Setelah adanya reorientasi produksi yang dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, UK BAT Bejiharjo difokuskan untuk memproduksi komoditas lele (induk dan benih). Produksi induk tertinggi di UK BAT Bejiharjo terjadi pada tahun 2010 yaitu sebanyak 577 kg, sedangkan produksi ikan konsumsi hanya terjadi pada tahun 2007 yaitu sebanyak 102,75 kg (tahun 2008-2013 tidak memproduksi ikan konsumsi). Dari sisi
68 lele menyumbang produksi tertinggi yaitu sebanyak 1.288.000 ekor, diikuti tawes sebanyak 917.000 ekor, ikan mas (848.000 ekor), dan nila merah (28.000 ekor). Produksi benih pada tahun 2013 masih di bawah produksi puncak, namun jika dibandingkan produksi pada tahun 2012 yang hanya 2.617.000 ekor yang mana berartoi telah terjadi kenaikan produksi benih sebanyak 464.000
Gambar 3.3.
Target dan Capaian Penerimaan PAD UK BAT Bejiharjo, 2006-2013
Sumber: Laporan Tahunan BPTKP, 2007-2013 (diolah)
Rata-rata pertumbuhan target PAD yang dibebankan kepada UK BAT Bejiharjo selama periode 2007-2013 adalah sebesar 24,61% dengan pertumbuhan target tertinggi terjadi pada tahun 20o9 yaitu sebanyak 100%. Target PAD pada tahun 2006 adalah sebesar Rp11.016.000, pada tahun 2008 target meningkat menjadi Rp12.500.000, kemudian meningkat 100% menjadi Rp25.000.000 pada tahun 2009, hingga kemudian meningkat menjadi Rp41.000.000 pada
tahun 2013. Dari sisi penerimaan PAD, realisasi penerimaan PAD pada tahun 2006 adalah sebesar Rp11.348.000 hingga kemudian meningkat menjadi Rp41.609.500 pada tahun 2013. Rata-rata pertumbuhan realisasi PAD selama periode 2006-2013 adalah sebesar 25,34%, dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2009 yaitu sebanyak 106,23%. Kenaikan pertumbuhan realisasi penerimaan yang tinggi pada tahun tersebut berjalan seiring dengan kenaikan target PAD yang signifikan (100%) sehingga dapat disimpulkan selama periode tersebut bahwa kenaikan realisasi penerimaan PAD di UK BAT Bejiharjo bergantung pada
103 112 101 104 103
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
69 target yang ditetapkan.Jika dilihat dari rasio antara target dan realisasi penerimaan PAD, UK BAT Bejiharjo selalu mencapai target yang dibebankan dengan rasio pencapaian tertinggi terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar 163,84% (target sebesar Rp25.000.000 dan realisasi sebesar Rp40.959.100), sedangkan rasio pencapaian terendah terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 101,34% (target sebesar Rp12.500.000 dan realisasi sebesar Rp12.667.000).
4. Unit Kerja Budidaya Air Tawar (UK BAT) Sendangsari
Unit Kerja Budidaya Air Tawar (UKBAT) Sendangsari merupakan salah satu unit kerja Budidaya Air Tawar UPTD BPTKP pada Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki tugas pokok dan fungsi sebagai pusat pengembangan budidaya air tawar khususnya untuk komoditas gurame. UK BAT Sendangsari berada di Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo dan dibangun pada tahun 1980 dengan sumber Anggaran Proyek Bangun Desa. UK BAT Sendangsari berada pada ketinggian 200 m dpl dengan luas areal seluruhnya adalahsebesar 2,5 Ha yang meliputi bangunan kolam seluas 1,7 Ha dan sisanya seluas 0,8 Ha digunakan untuk bangunan kantor, gudang, dan pekarangan. Tenaga kerja berjumlah 6 orang. Rincian fasilitas yang ada di UK BAT Sendangsari adalah sebagai berikut:
Tabel 3.3.
Fasilitas di UK BAT Sendangsari
No. Peruntukan Jumlah (buah) Luas total Keterangan
1. Kolam 24 1,8 ha Baik
70 dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, UK BAT Sendangsari difokuskan untuk memproduksi komoditas gurami (induk, benih dan telur). Pada periode 2007-2103, produksi benih tertinggi terjadi pada tahun 2011 yaitu sebanyak 3.307.900 ekor, sedangkan produksi terendah terjadi pada tahun 2007 yaitu sebanyak 155.225 ekor. Untuk induk, produksi tertinggi terjadi pada tahun 2010 yaitu sebanyak 2.149 kg, namun produksi induk tidak kontinyu setiap tahun dimana produksi induk hanya terjadi pada tahun 2008, 2010, dan 2012. Produksi ikan konsumsi tertinggi terjadi pada tahun 2007 yaitu sebanyak 519 kg, sama seperti produk induk, produksi ikan konsumsi juga tidak kontinyu setiap tahun dengan produksi hanya terjadi pada tahun 2007, 2008, dan 2013. Produksi telur gurami di UK BAT Sendangsari dimulai pada tahun 2010 dengan produksi sebanyak 269.300 telur dan berlanjut hingga tahun 2013 dengan
produksi sebanyak 332.800 telur. Pada tahun 2013, UK BAT Sendangsari hanya memproduksi benih, ikan konsumsi, dan telur ikan. Produksi benih pada tahun 2013 adalah sebanyak 385.650 ekor (gurami sebanyak 209.250 ekor dan nila hitam sebanyak 176.400 ekor), produksi ikan konsumsi sebanyak 78 kg dimana seluruhnya adalah komoditas nila hitam, dan produksi telur gurami sebanyak 332.800 telur.
Gambar 3.4.
Target dan Capaian Penerimaan PAD UK BAT Sendangsari, 2006-2013
Sumber: Laporan Tahunan BPTKP, 2007-2013 (diolah)
Target PAD yang dibebankan kepada UK BAT Sendangsari selama tahun 2006-2011 tidak mengalami peningkatan yang signifikan yaitu hanya berkisar antara
Rp30.000.000-100
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
71 35.000.000 dengan target PAD selama tahun 2009-2011 tidak mengalami peningkatan yaitu hanya sebesar Rp35.000.000. Target PAD kemudian naik 11,43% pada tahun 2012 menjadi Rp39.000.000 dan pada tahun selanjutnya meningkat 12,82% menjadi Rp44.000.000. Pola realisasi penerimaan PAD di UK BAT Sendangsari juga mengikuti pola target PAD yang dibebankan dimana penerimaan PAD berkisar antara Rp31.513.000-37.178.000. Kenaikan penerimaan PAD secara signifikan terjadi pada tahun 2012 yaitu menjadi Rp44.319.000 (19,08%), kemudian mengalami penurunan pada tahun 2013 menjadi Rp44.084.000 (-0,53%). Nila rata-rata peningkatan target PAD dan realisasi penerimaan selama periode 2006-2013 di UK BAT Sendangsari dapat dikatakan sama dimana rata-rata peningkatan target PAD adalah sebesar 4,86%, sedangkan rata-rata peeningkatan realisasi penerimaannya sebesar 4,90%. Jika
dilihat dari rasio antara target dan realisasi penerimaan PAD, UK BAT Sendangsari selalu mencapai target yang dibebankan dengan rasio pencapaian tertinggi terjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar 113,64% (target sebesar Rp39.000.000 dan realisasi sebesar Rp44.319.000), sedangkan rasio pencapaian terendah terjadi pada tahun 2006 yang hanya sebesar 100,00% (target sebesar Rp32.004.400 dan realisasi sebesar Rp32.005.000).
5. Unit Kerja Budidaya Air Payau (UK BAP) Samas
Unit Kerja BAP Samas sebelumnya bernama Balai Benih Udang Galah (BBUG) Samas, yang dibangun pada tahun 1983/1984 melalui Anggaran APBN (Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian) dan mulai beroperasional pada tahun 1985. Sesuai dengan SOTK tahun 2009 nama Balai Benih Udang Galah (BBUG) Samas diganti menjadi Unit Kerja Budidaya Air Payau (UKBAP) Samas. UK BAP Samas mempunyai lahan seluas 5,5 Ha yang terletak di tepi pantai Samas dengan topografis berupa dataran pasir. UK BAP Samas terletak di Dusun Ngepet, Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul. Unit Kerja Budidaya Air Payau (UK BAP) Samas sebagai salah satu pusat hatchery udang galah memproduksi benih yang unggul, untuk memenuhi kebutuhan benih petani khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam rangka meningkatkan produksi benih yang bermutu baik dan kontinyu, UK BAP Samas senantiasa melakukan kerjasama penelitian (cooperative breeding system/ CBS ) dengan Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar (LRPTBPAT) Sukamandi yang berada dalam struktur organisasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
72 Mada dan dan Laporan Hasil Uji Laboratorium Uji BBPBAP Jepara, maka induk dan calon induk harus dimusnahkan dengan cara dibakar kemudian dikubur. Pemusnahan induk udang galah sebanyak 2.200 ekor (219 kg) dilakukan pada tanggal 22 Maret 2012. Unit Kerja BAP Samas terhitung sejak tahun 2013 sudah menjalin kerjasama dengan pihak perguruan tinggi/akademisi dalam rangka pemuliaan udang galah, yaitu Jurusan Perikanan dan Fakultas Biologi UGM. Kerjasama ini diharapkan bersifat saling menguntungkan dan bersinergi sehingga kegiatan pemuliaan udang galah di UK BAP Samas dapat berjalan lancar. Segala bentuk kerjasama yang sudah terjalin diharapkan dapat terus berjalan, dan dapat menghasilkan sesuatu yang lebih berguna kepada para pelaku budidaya udang galah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tahun 2008, karyawan UK BAP Samas berjumlah 13 orang yang seluruhnya
berstatus PNS. Menurut pendidikannya, karyawan di UK BAP Samas yang berpendidikan S1 sebanyak 3 orang, sarjana muda sebanyak 2 orang, SMAsebanyak 2 orang, dan SMP sebanyak 6 orang. Rincian fasilitas yang ada di UK BAP Samas adalah sebagai berikut:
73 memproduksi udang galah konsumsi. Produksi udang galah konsumsi tertinggi terjadi pada tahun 2008 dengan produksi sebanyak 60 kg, sedangkan produksi terendah terjadi pada tahun 2010 yaitu sebanyak 20 kg. Produksi induk udang galah di UK BAP Samas hanya berlangsung selama tiga tahun (2007-2009) dengan produksi tertinggi terjadi pada tahun 2007 dan 2008 yaitu sebanyak 140 kg dan produksi tersebut kemudian menurun menjadi 28 kg pada tahun 2009. Produksi calon induk di UK BAP Samas hanya berlangsung pada tahun 2007 dan 2008 dengan produksi masing-masing sebanyak 200 kg. Produksi tokolan udang galah di UK BAP Samas berlangsung dari tahun 2007-2010 dengan produksi tertinggi terjadi pada tahun 2007 yaitu sebanyak 350.000 ekor dan produksi terendah terjadi pada tahun 2010 yang hanya memproduksi sebanyak 12.000 ekor. Produk yang rutin diproduksi di UK BAP Samas setiap
tahun adalah juvenil dengan rata-rata produksi sebanyak 3.297.293 ekor. Produksi juvenil tertinggi tertinggi terjadi pada tahun 2008 dengan produksi sebanyak 3.769.250 ekor dan produksi terendah terjadi pada tahun 2012 yang hanya memproduksi juvenil sebanyak 2.224.000 ekor.
Gambar 3.5.
Target dan Capaian Penerimaan PAD UK BAP Samas, 2003-2013
Sumber: Laporan Tahunan BPTKP, 2007-2013 (diolah) 60
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
74 Target PAD yang dibebankan kepada UK BAP Samas selama periode 2003-2013 dapat dikatakan fluktuatif dan nilainya berkisar antara Rp65.000.00-132.000.000. Pada tahun 2003, target PAD untuk UK BAP Samas adalah sebesar Rp105.000.000, mengalami penurunan menjadi Rp95.000.000 pada tahun 2005, naik kembali menjadi Rp120.000.000 pada tahun 2007, turun kembali menjadi Rp117.500.000, naik kembali menjadi Rp132.000.000 pada tahun 2011, turun kembali menjadi Rp65.000.000 pada tahun 2012 (penurunan target yang mencapai 50,76% disebabkan semua induk dan calon induk yang dimiliki harus dimusnahkan karena terkena virus), dan kemudian naik kembali pada tahun 2013 menjadi Rp124.000.000. Secara keseluruhan kenaikan target PAD per tahun adalah sebesar 6,53% dengan peningkatan target tertinggi terjadi pada tahun 2013 yaitu sebesar 90,77%. Tidak berbeda jauh dengan target PAD,
realisasi penerimaan PAD UK BAP Samas juga dapat dikatakan fluktuatif, penurunan penerimaan PAD terjadi pada tahun 2009, 2010, dan 2012 (tertinggi pada tahun 2012 mencapai 43,62%). Realisasi penerimaan PAD UK BAP Samas selama periode tahun 2003-2013 berkisar antara Rp62.673.000-141.073.000 dengan realisasi penerimaan tertinggi terjadi pada tahun 2008 dan realisasi terendah terjadi pada tahun 2003. Secara keseluruhan, rata-rata peningkatan realisasi penerimaan PAD di UK BAP Samas selama periode 2003-2013 adalah sebesar 10,53% dengan pertumbuhan realisasi penerimaan tertinggi terjadi pada tahun 2013 yaitu sebesar 59,16%. Jika dilihat dari rasio antara target dan realisasi penerimaan PAD, UK BAP Samas selama periode 2005-2013 selalu mampu mencapai target yang dibebankan dengan rasio pencapaian tertinggi terjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar 120,06% (target sebesar Rp65.000.000 dan realisasi sebesar Rp78.040.000), sedangkan rasio pencapaian terendah terjadi pada tahun 2013 yaitu sebesar 100,17% (target sebesar Rp124.000.000 dan realisasi sebesar Rp124.210.000). Berdasarkan data trend penerimaan pada Gambar 3.5 nampak BAP Samas pada tingkat pengelolaan sampai saat ini, penerimaan tertinggi adalah sebesar Rp124.210.000.
6. Unit Kerja Budidaya Air Payau (UK BAP) Congot
75 Congot. Fasilitas yang ada di UK BAP Congot diantaranya adalah rumah jaga, sumur air tawar, gedung pertemuan, kantor, rumah dinas, jalan pavling block, pagar kawat, rumah pompa air, saluran pemasangan, kincir air, kolam pembesaran, dan reservoir. Unit Kerja Budidaya Air Payau Congot hanya memiliki 4 orang karyawan.
Penerimaan PAD di UK BAP Congot bersumber pada penjualan produksi usaha daerah. Komoditas ikan/udang yang diproduksi selama periode 2007-2013 adalah udang windu, udang vanamei, ikan bandeng, dan udang galah dimana semua komoditas tersebut dijual dalam bentuk ikan/udang konsumsi.Produksi udang galah di UK BAP Congot hanya terjadi pada tahun 2007 dan 2009 dengan produksi masing-masing sebanyak 30 dan 160 kg. Selama periode 2007-2012, UK BAP Congot tidak memproduksi udang windu. Produksi udang windu hanya pada
76
Gambar 3.6.
Target dan Capaian Penerimaan PAD UK BAP Congot, 2006-2013
Sumber: Laporan Tahunan BPTKP, 2007-2013 (diolah)
Target PAD yang dibebankan kepada UK BAP Congot selama periode 2007-2013 dapat dikatakan selalu meningkat setiap tahun dimana hanya pada tahun 2011 target PAD tidak mengalami kenaikan. Target PAD yang dibebankan pada tahun 2006 adalah sebesar Rp8.010.000 dan pada tahun 2013 meningkat menjadi Rp75.000.000. Rata-rata kenaikan target
PAD setiap tahunnya adalah sebesar 43,54% dengan kenaikan target tertinggi terjadi pada tahun 2009 yaitu sebesar 130,77% (target PAD tahun 2008 sebesar Rp13.000.000 dan target
PAD tahun 2009 sebesar Rp30.000.000). Realisasi penerimaan PAD di UK BAP Congot selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya dengan rata-rata kenaikan realisasi penerimaan sebesar 55,04% per tahun. Peningkatan realisasi penerimaan tertinggi terjadi pada tahun 2013 yaitu sebesar 167,88% (realisasi penerimaan tahun 2012 sebesar Rp41.467.000 dan pada tahun 2013 meningkat menjadi Rp111.080.300) dan kenaikan realisasi penerimaan terendah terjadi pada tahun 2010 yang hanya sebesar 6,66% (realisasi penerimaan tahun 2009 sebesar Rp30.165.000 dan pada tahun 2010 meningkat menjadi Rp32.174.500). Realisasi penerimaan PAD di UK BAP Congot pada tahun 2006 adalah sebesar Rp8.090.000, kemudian meningkat menjadi Rp30.165.000 pada tahun 2009, dan meningkat menjadi Rp111.080.300 pada tahun 2013. Pola kenaikan realisasi penerimaan PAD di UK BAP Congot yang selalu meningkat sepanjang tahunnya sangat berbeda dengan unit kerja lainnya yang realisasi penerimaanya cenderung
101 101 102 101 101
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
77 fluktuatif. Kenaikan pertumbuhan realisasi penerimaan berjalan seiring dengan kenaikan target PAD yang signifikan (100%) sehingga dapat disimpulkan selama periode tersebut bahwa kenaikan realisasi penerimaan PAD di UK BAP Congot bergantung pada target yang ditetapkan. Jika dilihat dari rasio antara target dan realisasi penerimaan PAD, UK BAP Congot selama periode 2006-2013 selalu mampu mencapai target yang dibebankan dengan rasio pencapaian tertinggi terjadi pada tahun 2013 yaitu sebesar 148,11% (target sebesar Rp75.000.000 dan realisasi sebesar Rp111.080.300), sedangkan rasio pencapaian terendah terjadi pada tahun 2009 dan 2010 yaitu sebesar 100,55%.
UK BAP Congot dengan trend pertumbuhan yang bersifat exponensial diharapkan berperan lebih besar sebagai penghasil penerimaan PAD sektor perikanan ke depan. Hal ini
didasari oleh perkembangan positif produksi dan pasar udang yang menjadi komoditas utama kegiatan produksi di Congot. Hasil lain yang diharapkan dari pengelolaan BAP Congot diperoleh dari produksi bandeng konsumsi. Perkembangan positif dan ekspetasi tersebut jga didukung oleh tersedianya sarana prasarana produksi yang memadai seperti tambak permanen (6 unit tamba beton) dan beberapa unit tambak plastik.
7. Unit Kerja Budidaya Air Laut(UK BAL) Sundak
Unit Kerja Balai Air Laut (BAL) Sundak adalah unit kerja yang mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengembangan teknologi perikanan budidaya air laut yang difokuskan untuk memproduksi benih bandeng (Nener). UK BAL Sundak berada di pantai Sundak dengan ketinggian 5 m dpl dan termasuk wilayah Desa Tepus, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, dengan lahan seluas 23.009 m2. Untuk pengelolaan UKBAL Sundak terdapat karyawan berjumlah 5 orang terdiri dari satu orang pimpinan dan 4 orang petugas.
78 memproduksi udang vanamei konsumsi. Selama periode 2007-2013, rata-rata produksi benih
bandeng adalah sebanyak 400.372 ekor dengan produksi tertinggi terjadi pada tahun 2008 yaitu sebanyak 1.204.500 ekor dan produksi terendah terjadi pada tahun 2012 yang hanya memproduksi benih bandeng sebanyak 348.750 ekor. Produksi udang vanamei konsumsi di UK BAL Sundak dimulai pada tahun 2010 dengan produksi sebanyak 300 kg, kemudian pada tahun 2011 sebanyak 302,5 kg, dan produksi pada tahun 2012 sebanyak 43 kg, namun pada tahun 2013, UK BAL Sundak tidak memproduksi udang vanamei konsumsi.
Target PAD yang dibebankan kepada UK BAL Sundak selama periode tahun 2004-2011 cenderung stagnan dan berkisar antara Rp20.000.000-28.000.000. Pada tahun 2012 terjadi kenaikan target PAD sebesar 25% menjadi Rp35.000.000 dan pada tahun 2013 meningkat sebesar 14,28% menjadi Rp40.000.000. Rata-rata peningkatan target PAD selama tahun 2004-2013 adalahs sebesar 8,31% per tahun. Realisasi penerimaan PAD di UK BAL Sundak dapat dikatakan selalu meningkat dengan rata-rata kenaikan realisasi sebesar 5,13%. Pada tahun 2004-2010, realisasi PAD yang bersumber dari UK BAL Sundak selalu mengalami kenaikan dimana realisasi penerimaan PAD pada tahun 2004 sebesar Rp20.000.000 dan pada tahun 2010 meningkat menjadi Rp34.100.000. Realisasi penerimaan PAD mengalami
1 Rumah genset dan bengkel 1 25 18 Kolam pendederan 1 (3 kolam) 600 (200) 2 Sumur air laut 1 d 3 m 19 Bak phytoplankton 1 (6 bak) 300 (50 ) 3 Rumah jaga 1 T 36 20 Bak zooplankton 1 (4 bak) 100 (25)
T 36 21 Canal 1 140m
T 72 22 Laboratorium kecil 1 45
5 Kantor 1 50 23 Reservoir 1 30
6 Rumah dinas 1 T 60 24 Hetchery 1 (6 kolam) 200
7 Jalan paving block 1 200 m 25 Bak larva luar 1 (4 bak) 40 (10)
8 Pagar tembok 1 75 m 26 Bak pelimpasan air 1 60
9 Rumah pompa air 1 28 27 Pipa pengambilan air laut 1 40m
10 Bak larva 2 ton 3 2 28 Sumur air tawar 1 d 0,8m
11 Kolam pematangan induk 2 d 10 m (t 3m) 29 Menara air (tower) 1 t 4,5m 12 Sumur air tawar 1 d 0,8m 30 Sumur air laut 1 d 10m 13 Bak larva atap 1 (5 bak) 50 (10) 31 Bak pengendapan 1 100
14 Bak kolektor 1 4 32 Conical tank 2
15 Laboratorium besar 1 100 33 Instalasi pengambilan air laut 1 unit 1000 m 16 Kolam pematangan induk 2 d 10m (t 3m)
17 Kolam pembesaran 1 (2 kolam) 750 (365)
No Nama Bangunan Jumlah (Unit) Luas (m²)
79 kontraksi pada tahun 2011 sebesar 9,53% sehingga berkurang menjadi Rp30.850.000. Pada tahun 2012, realisasi penerimaan PAD tumbuh sebesar 13,6% (Rp35.050.000), namun pada tahun 2013, realisasi penerimaan PAD mengalami kontraksi kembali sebesar 14% sehingga berkurang menjadi Rp30.075.000. Jika dilihat dari rasio antara target dan realisasi penerimaan PAD, UK BAP Congot selama periode 2004-2012 selalu mampu mencapai target yang dibebankan dengan rasio pencapaian tertinggi terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 121,79% (target sebesar Rp28.000.000 dan realisasi sebesar Rp34.100.000), sedangkan rasio pencapaian terendah terjadi pada tahun 2004yang hanya sebesar 100% (Rp20.000.000). Pada tahun 2013, UK BAL Sundak tidak mampu mencapai target yang ditetapkan dengan persentase pencapaian target sebesar 75,19% (target sebesar Rp40.000.000 dan realisasi sebesar Rp30.075.000).
80
Gambar 3.7.
Target dan Capaian Penerimaan PAD UK BAL Sundak, 2006-2013
Sumber: Laporan Tahunan BPTKP, 2007-2013 (diolah)
3.1.2. Unit Pelaksana Teknis Daerah Pelabuhan Perikanan Pantai (UPTD PPP) Sadeng
Unit Pelaksana Teknis Daerah Pelabuhan Perikanan Pantai (UPTD PPP) Sadeng merupakan salah satu UPTD yang berada di bawah Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta yang bertanggung jawab dalam pengelolaan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng. Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP/10/MEN/2005 pada tanggal 13 Mei 20o5, Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Sadeng
mengalami peningkatan status menjadi Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng. Keberadaan PPP Sadeng ditetapkan dengan Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 7 tahun 2005 tentang Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Terkait dengan PAD, unit kerja yang menjadi sumber penghasil PAD di UPTD PPP Sadeng adalah unit kerja Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng semula bernama Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Sadeng. PPP Sadeng terletak di Sadeng, Songbanyu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul. Secara geografis, PPP Sadeng terletak diantara 8°11'26,6" LS dan 110°47'53,1" BT. Fasilitas Pelabuhan Perikanan Pantai Sadeng terdiri dari fasilitas pokok, fasilitas fungsional, dan fasilitas penunjang.
101 101 101 104
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
81 a) Fasilitas pokok adalah sarana yang diperlukan untuk kepentingan aspek keselamatan pelayaran, selain itu termasuk juga tempat berlabuh dan bertambat serta bongkar muat yang meliputi:
sarana pelindung, yaitu pemecah gelombang (break water), penangkap pasir (groin), tempat penahan tanah (revertment) dll.
Sarana tambat labuh, yaitu dermaga, tiang tambat (border), pelampung tambat (bolard), kolam pelabuhan, pier, dll.
Sarana transportasi, yaitu jembatan, jalan komplek, dan area parkir
Lahan yang dicadangkan untuk kepentingan instansi pemerintah.
b) Fasilitas fungsional adalah sarana yang langsung dimanfaatkan untuk kepentingan
manajemen pelabuhan perikanan dan atau yang dapat dimanfaatkan/diusahakan oleh perorangan atau badan hukum yang meliputi:
Sarana pemeliharaan kapal dan alat perikanan yang terdiri dari workshop, slipway, dockyard, dan netfloat.
Lahan untuk kawasan industry.
Sarana pemasokan bahan bakar untuk kapal dan keperluan pengolahan.
Sarana pemasaran, biasanya tempat pelelangan ikan (TPI), penanganan
pengolahan dan penyimpanan hasil tangkap.
Sarana navigasi dan komunikasi
c) Fasilitas penunjang adalah sarana yang secara tidak langsung dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan dan atau memberikan kemudahan bagi masyarakat umum yang meliputi:
Sarana kesejahteraan nelayan, yaitu tempat penginapan, kios bahan perbekalan
dan alat perikanan, tempat ibadah, balai pertemuan nelayan, sarana hiburan dan informasi serta olahraga.
Sarana pengelolaan pelabuhan yaitu kantor, pos pemeriksaan, perumahan karyawan dan rumah tamu.
Detail mengenai, fasilitas yang ada di Pelabuhan Perikanan Pantai baik fasilitas pokok,
82
Tabel 3.6.
Rincian Fasilitas di PPP Sadeng
No. Jenis Fasilitas Volume/Kapasitas
1. Fasilitas Pokok
Tempat Pelelangan Ikan 225 m2
Kantor PPP 144 m2
Balai Pertemuan Nelayan 144 m2
Bengkel 60 m2
Instalasi Listrik (PLN) 1 unit
Genset (2 unit) 25 KVA
Jalan lingkungan (Paving Blok) 337 m2
Mini Ice plan kapt 25 ton
Prossesing room 169 m2
Pos Pengawasan SDI 52 m2
83
No. Jenis Fasilitas Volume/Kapasitas
Rambu Penuntun 2 buah
Rambu Suar 1 buah
3. Fasilitas Penunjang
Mess Operator (rumah pegawai) 2 unit, 81 m2
Kantin -
Rumah Nelayan Andon 660 m2
Rumah tamu 2 unit, 110 m2
Tempat Ibadah (Masjid) 80 m2
Sumber: Laporan Tahunan BPTKP, 2008
84
Tabel 3.7.
Target dan Realisasi Penerimaan PAD di PPP Sadeng, 2006-2008
Sumber: Laporan Tahunan BPTKP, 2007-2008
Pada tahun 2013, target PAD yang dibebankan kepada PPP Sadeng adalah sebesar Rp13.000.000 dengan realisasi penerimaan PAD sebesar Rp13.329.000. Rincian realisasi penerimaan PAD yang berasal dari PPP Sadeng pada tahun 2013 adalah sebagai berikut: pendapatan jasa tambat sebesar Rp2.225.000, jasa labuh sebesar Rp1.104.000, pas masuk sebesar 1.500.000, sewa penggunaan tempat terbuka sebesar Rp3.500.000, sewa penggunaan tempat tertutup sebesar Rp2.500.000, dan air bersih sebesar Rp2.500.000.
Target Realisasi Persentase (%) Target Realisasi Persentase (%) Target Realisasi Persentase (%) Pendapatan Lain-lain
1 Pemanfaatan Asset PPP Sadeng 10,000,000 9,900,000 99 - - - - - -
2 Retribusi Jasa Usaha - - - - - - - - - Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah
(Pemanfaatan Aset) - - - - - - - - -
Unit Kerja PPP - - - 10,000,000 11,650,000 116.50 - - -
Pabrik Es - - - - - 6,000,000 - -
Sewa tempat terbuka/tertutup - - - - - 2,000,000 4,500,000 225.00
Sewa kamar nelayan andun - - - - - 2,500,000 2,500,000 100.00
SPDN - - - - - 3,500,000 2,000,000 57.14
Air bersih - - - - - 1,000,000 700,000 70.00 Retribusi Pelayanan Pelabuhan - - - - - - - -
Jasa Tambat labuh - - - 400,000 1,450,000 362.50 2,500,000 2,500,000 100.00
Jasa Pas Masuk - - - 200,000 440,000 220.00 500,000 500,000 100.00 10,000,000 9,900,000 99 10,600,000 13,540,000 127.74 18,000,000 12,700,000 70.56
2008
3
4
Jumlah (Rp)
85
Gambar 3.8.
Realisasi Penerimaan PAD PPP Sadeng, 2013
Sumber: Rekapitulasi PAD DPPKA, 2013
3.1.3. Seksi LPPMHP Yogyakarta
Seksi Pengolahan dan Pengawasan Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP)berada di bawah koordinasi bidang perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta. LPPMHP Yogyakarta menempati gedung eks Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta dan berlokasi di Jl. Sagan III/4 Yogyakarta. LPPMHP Yogyakarta mempunyai luas bangunan 384 m² yang terdiri atas :
1. Gedung perkantoran/ruang analisa dan gudang seluas 48 m². 2. Gedung laboratorium terdiri atas :
- Ruang Mikrobiologi / ruang Preparasi - Ruang Inokulasi / inkubasi
- Ruang Organoleptik
- Ruang Workshop dan dapur uji. - Toilet.
3. Rumah jaga LPPMHP DIY
4. Fasilitas listrik dan Sumur artetis.
86
Tabel 3.8.
Fasilitas Laboratorium Pengujian di LPPMHP Yogyakarta
No. Nama Peralatan Spesifikasi Jumlah
1. Tabung reaksi tanpa tutup 16 x 150 mm 50 buah
Dalam rangka melaksanakan pengendalian sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan sebagaimana Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.19/MEN/2010, tentang Pengendalian Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan serta berdasarkan Keputusan Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) selaku Otoritas Kompeten Nomor KEP.115/KEP-BKIPM/2013 tentang Pendelegasian Kewenangan kepada Lembaga Inspeksi dan Sertifikasi dalam Penerbitan Sertifikat Kesehatan, LPPMHP mempunyai tiga peranan penting yaitu sebagai laboratorium pengujian, lembaga inspeksi dan lembaga sertifikasi mutu produk perikanan,
sehingga LPPMHP dituntut untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat guna menunjang kelancaran proses sertifikasi. Fasilitas laboratorium pengujian merupakan bagian penting dalam rangka mendukung tugas LPPMHP (Tabel 3.8).
88
Gambar 3.9.
Target dan Capaian Penerimaan PAD LPPMHP Yogyakarta, 2004-2008
Sumber: Laporan Tahunan BPTKP, 2007-2008 (diolah)
3.1.4. Pendapatan Lain-lain Sah
Pendapatan lain-lain sah di Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta berasal dari beberapa unit kerja di UPTD BPTKP, UPTD PPP, dan kantor dinas. Pendapatan tersebut tidak dimasukkan dalam target PAD yang dibebankan kepada unit kerja (seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya) agar proyeksi potensi penerimaan PAD dapat mudah digambarkan dan menghindari perhitungan ganda (overvalued). Jenis retribusi yang dimasukkan ke dalam pendapatan lain-lain sah terdiri atas retribusi perizinan tertentu (SIUP, SIPI, SIKPI, dan surat keterangan asal ikan), retribusi pemakaian kekayaan daerah (sewa penggunaan pasar ikan Cangkringan, sewa penggunaan hasil samping tambak Congot1, jasa pengujian laboratorium Cangkringan, sewa SPDN), dan retribusi penjualan produksi usaha
daerah (penjualan hasil samping uji coba di BPTKP).
1
89
Tabel 3.9.
Pendapatan Lain-lain Sah di Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, 2009-2013
No. Unit Penghasil Jumlah Penerimaan
2009 2010 2011 2012 2013
1. Kantor Dinas Kelautan dan
Perikanan 1.765.000 - - - 1.900.000
Retribusi Izin Usaha Perikanan
(SIUPkan) 1.765.000 - - - 1.900.000
2. UPTD BPTKP 65.500.000 74.415.000 80.006.000 58.380.000 64.460.000 Sewa pasar ikan di BAT
Cangkringan 2.000.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000
Jasa pengujian laboratorium di
BPTKP - - - - 7.800.000
Hasil samping uji coba di
BPTKP 63.500.000 71.915.000 77.506.000 55.880.000 54.160.000
3. UPTD PPP - - - - 2.500.000
Surat keterangan asal ikan - - - - 2.500.000
Sumber: Laporan Tahunan BPTKP, 2009-2012 dan Rekapitulasi PAD DPPKA, 2013
Berdasarkan Tabel 3.9, penerimaan PAD lain-lain yang sah di Dinas Kelautan dan Perikanan selama periode 2009-2013 cenderung fluktuatif. Pendapatan lain-lain sah pada tahun 2009 adalah sebesar Rp67.265.000 yang terdiri atas retribusi izin usah perikanan sebesar
Rp1.765.000.000, sewa pasar ikan di BAT Cangkringan sebesar Rp2.000.000, dan hasil samping ujicoba di BPTKP sebesar Rp63.500.000. Pendapatan tersebut kemudian meningkat menjadi Rp80.006.000 pada tahun 2011 (disumbang seluruhnya oleh UPTD BPTKP), dan berkurang menjadi Rp58.380.000 pada tahun 2012 (disumbang seluruhnya oleh UPTD BPTKP). Pada tahun 2013, pendapatan lain-lain sah meningkat kembali menjadi Rp68.860.000 yang berasal dari retribusi izin usaha perikanan sebesar Rp1.900.000, sewa pasar ikan Cangkringan sebesar Rp2.500.000, jasa pengujian laboratorium di BPTKP sebesar Rp7.810.000, hasil samping uji coba di BPTKP sebesar Rp54.160.000, dan surat keterangan asal ikan sebesar Rp2.500.000.
3.2. Dinas Kehutanan dan Perkebunan
90 diberikan wewenang dan tanggungjawab untuk mengelola sektor kehutanan dan perkebunan untuk dapat berkontribusi dalam pengembangan pembangunan di DIY. Pada tiap-tiap kabupaten yang ada di wilayah DIY terdapat beberapa potensi hasil kehutanan dan perkebunan aats asset yang dikelola oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY.
Dinas Kehutanan dan Perkebunan Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki potensi aset daerah yang dikembangkan yaitu dalam bentuk: (1) Balai Sertifikasi, Pengawasan Mutu Benih dan Proteksi Tanaman Kehutanan dan Perkebunan (2) Balai Pengembangan Perbenihan dan Percontohan Kehutanan dan Perkebunan (BP3KP) (3) Balai Kesatuan Pengelolan Hutan (BKPH). Balai Sertifikasi, Pengawasan Mutu Benih dan Proteksi Tanaman Kehutanan dan Perkebunan berfungsi untuk mensertifikasi benih-benih yang layak dan unggul setelah
dilakukan pengamatan dan pengujian terhadap benih tersebut. Untuk fungsi dari Balai Pengembangan Perbenihan dan Percontohan Kehutanan dan Perkebunan (BP3KP) yaitu sebagai tempat untuk pembibitan tanaman hutan dan perkebunan serta sebagai lahan percontohan untuk semua kalangan.Sedangkan fungsi dari Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) adalah menciptakan hutan lindung. Hutan lindung yang dikelola oleh Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) ditanami tanaman pinus, dimana getah dari tanaman pinus disadap untuk dikelola menjadi karet pinus. Balai Kesatuan Pengelolan Hutan (BKPH) yang menangani hutan pinus berada di Wilayah Mangunan, Kabupaten Bantul. Selain itu juga Balai Kesatuan Pengelolan Hutan (BKPH) menangani pabrik penyulingan minyak kayu putih yang berada di Wilayah Playen, Gunungkidul. Fungsi dari BKPH pengolahan minyak kayu putih ini mengolah daun dari pohon kayu putih untuk diolah menjadi minyak kayu putih.
Secara keseluruhan, pendapatan asli daerah yang dihasilkan oleh Balai Sertifikasi, Pengawasan Mutu Benih dan Proteksi Tanaman Kehutanan dan Perkebunan, Balai pengembangan Perbenihan dan Percontohan Kehutanan dan Perkebunan (BP3KP) dan Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) yang dikelola oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan dalam 5 tahun terakhir pada tahun 2013, 2012, 2011, 2010, dan 2009 secara berturut-turut sebesar : (1) 7,853,271,520, (2) 7,879,345,254, (3) 6,517,196,180, (4) 5,092,247,190 dan (5) 4,173,592,342.
91 tanaman kakao, (3) Daerah Ngipik Sari, Sleman dengan hasil potensi berupa tanaman kopi, dan (4)Hutan Bunder, Gunungkidul dengan hasil potensi berupa persemaian pinus.Sedangkan Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH)mengelola Pabrik Penyulingan Minyak Kayu Putih, Sendang Mole, Playen dan Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Mangunan.
Struktur pendapatan dan belanja Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY cenderung meningkat. Secara rinci, komposisi total pendapatan dan total belanja Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY pada tahun 2010 sampai dengan 2013 disajikan pada tabel berikut.
Secara makro, dalam beberapa tahun terakhir target dan realisasi PAD di lingkungan
Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY selalu meningkat dan pencapaian PAD rata-rata per tahun di atas 100%.
Komposisi Pendapatan dan Belanja Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY 2010-2013
No Tahun Uraian Target (Rp) Realisasi (Rp)
Persen Pencapaian
(%)
1 2010 Pendapatan 5,081,341,000 5,092,247,190 100.2
Belanja 28,069,683,600 26,373,684,488 94.0 % Pendapatan/Belanja 18.10 19.31
2 2011 Pendapatan 5,226,002,000 6,517,196,180 124.7
Belanja 28,469,365,135 26,212,956,641 92.1 % Pendapatan/Belanja 18.36 24.86
3 2012 Pendapatan 7,665,745,000 7,879,345,254 102.8
Belanja 29,436,261,366 28,077,836,649 95.4 % Pendapatan/Belanja 26.04 28.06
4 2013 Pendapatan 7,866,030,000 7,853,271,520 99.8
92 Total PAD di lingkungan Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kontribusi yang fluktuatif jika dibandingkan dengan total belanja SKPD. Target dan realisasi Total PAD dibandingkan Total Belanja SKPD bervariasi antara 18% sampai dengan 28%. Rencara rinci komposisi dan proporsi Total PAD dibandingkan dengan Toal Belanja disajikan dalam grafik berikut.
No
Tahun
Uraian
Target (Rp)
Realisasi (Rp)
Persen
Pencapaian
(%)
1
2010 Pendapatan
5,081,341,000
5,092,247,190 100.2
2
2011 Pendapatan
5,226,002,000
6,517,196,180 124.7
3
2012 Pendapatan
7,665,745,000
7,879,345,254 102.8
4
2013 Pendapatan
7,866,030,000
7,853,271,520 99.8
5,092,247,190 6,517,196,180
7,879,345,254 7,853,271,520
0 5,000,000,000 10,000,000,000 Pendapatan
Pendapatan Pendapatan Pendapatan
2010
2011
2012
2013
Realisasi (Rp)
Target (Rp)
93 Mendasarkan pada rincian komposisi atau struktur PAD di lingkungan Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY, diketahui bahwa PAD yang bersumber dari retribusi
penjualan jasa usaha daerah merupakan penyumbang terbesar PAD dengan proporsi
93,7% dari total PAD. Kontributor PAD terbesar berikutnya adalah penjualan hasil kehutanan dengan sumbangan sebesar 5,31%.
18.1 18.4
26.0 19.3
19.3
24.9 28.1 20.9
- 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 30.0
2010 2011 2012 2013
Realisasi
Target
Komposisi PAD Dinas Kehutanan dan Pekerbunan DIY Tahun 2013
Sumber Penerimaan
Jumlah (Rp)
%
Ranking
Retribusi pemakaian kekayaan daerah
11,777,755
0.15
4
Retribusi penjualan usaha daerah
7,358,475,000
93.70
1
Penjualan hasil kehutanan
417,036,765
5.31
2
Sewa tanah dan bangunan
66,000,000
0.84
3
94 Penyumbang utama PAD Dinas Kehutanan dan Perkebunan berasal dari penjualan minyak kayu purih. Potensi produksi kayu putih menyebar di wilayah DIY. Total kawasan hutan kayu putih yang merupakan kawasan dalam pengelolaan Dinas Kehutanan dan Perkebunan seluas 4.472 ha. Kawasan hutan kayu putih tersebut tersebar di 4 BDH. Secara rinci sebaran luas tanaman kayu putih disajikan pada tabel berikut.
Nama BDH Nama RPH Jumlah Petak Luas (ha)
- 2,500,000,000 5,000,000,000 7,500,000,000 10,000,000,000
Retribusi pemakaian kekayaan daerah Retribusi penjualan usaha daerah Penjualan hasil kehutanan Sewa tanah dan bangunan
95
Hutan Kayu Putih Pabrik/Minyak Kayu Putih
Kondisi umum tentang potensi sumber daya terkait dengan potensi dasar PAD di lingkungan Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY secara lebih rinci diuraikan pada bagian selanjutnya.
3.2.1. Balai Sertifikasi, Pengawasan Mutu Benih dan Proteksi Tanaman Kehutanan dan
Perkebunan
Balai Sertifikasi, Pengawasan Mutu Benih dan Proteksi Tanaman Kehutanan dan Perkebunan (BSPMBPTKP) untuk mengurusi dan mengawasi sertifikasi calon-calon benih yang layak dijadikan benih agar benih tersebut bisa menjadi benih yang bermutu dan berkualitas. Lokasinya berada di Jl. Argolubang No.19, Baciro, Yogyakarta. Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat kepada suatu sumber benih/benih/lot benih/lot bibit yang menginformasikan kebenaran mutu benih yang dikomersialkan. Sertifikat mutu benih adalah
dokumen yang menyatakan kebenaran mutu sumber benih/benih/bibit. Sertifikasi benih bertujuan untuk:
a. Menjaga kemurnian varietas b. Memelihara mutu benih
c. Memberikan jaminan mutu kepada pengguna benih d. Memberikan legalitas kepada produsen benih
BSPMBPTKP memiliki sarana dan prasarana yang antara lain: 1. Bangunan gedung:
96 b. Kantor Unit II : Jalan Purworejo km 2 Triharjo, Wates , Kulon Progo
Yogyakarta
c. Sub lab hayati : Harjobinangun Pakem Sleman d. Lab benih : Harjobinangun Pakem Sleman
e. Base Cam POPT : Tambak Kulon Progo, Sanden Bantul, Gading Gunung Kidul 2. Transportasi:
a. Kendaraan roda 2 : 21 Unit
b. Kendaraan roda 4 : 1 Unit (Toyota Kijang Tahun 1994) 3. Komunikasi/Informasi:
No Jabatan Nominasi Formasi Keterangan
1 Kepala Balai 1 1 -
Pada Balai Sertifikasi, Pengawasan Mutu Benih dan Proteksi Tanaman Kehutanan dan Perkebunan terdapat dua seksi yaitu seksi pengujian sertifikasi dan pengawasan benih dan seksi peramalan dan pengamatan. Seksi pengujian sertifikasi dan pengawasan benih memiliki tugas menyelenggarakan pengujian sertifikasi dan pengawasan bibit/benih tanaman kehutanan dan perkebunan. Prosedur untuk melakukan sertifikasi:
97 2. BSPMBPTKP memberitahukan pelaksanaan sertifikasi.
3. BSPMBPTKP melakukan pemeriksaan lapangan selama 1-7 hari (keluar sertifikat SKMB) dan melakukan pengujian laboratorium selama 1-15 hari (keluar laporan hasil pengujian laboratorium).
4. Keluar Label dan siap untuk diedarkan.
Peraturan Gubernur DIY No. 6 Tahun 2012 tentang Retribusi Jasa Usaha: 1. Penyelenggara perbenihan dikenakan biaya retribusi jasa usaha.
2. Besarnya sesuai jenis komoditas.
3. Biaya tersebut disetor ke kas daerah sebagai Pendapatan Asli Daerah.
4. Tarif : bibit yaitu Rp. 10/batang, Uji lab yaitu 10.000/ulangan, Kebun bibit tebu yaitu
Rp.50.000/Ha.
Seksi peramalan dan pengamatan memiliki tugas yaitu menyelenggarakan peramalan, pengamatan, dan pengendalian OPT. Kegiatan pokok seksi peramalan dan pengamatan yaitu: 1. Peramalan pengamatan meliputi serangan OPT (luas serangan, intensitas serangan, taksasi
kerugian hasil), daerah sebar OPT (kantong-kantong OPT, komoditas).
2. Pengendalian meliputi cara pengendalian (PHT) dan waktu pengendalian (daur hidup OPT, musim).
3. Operasional sub lab hayati meliputi pengembangan agen hayati, uji kualitas agen hayati, dan bimbingan masyarakat.
Persyaratan prosedur permohonan agen hayati meliputi dijelaskan jenis OPT yang akan dikendalikan, komoditas, jenis agen hayati, intensitas, luas serangan OPT; permohonan agen hayati diajukan 3 hari sebelum pengambilan di sub lab hayati; dan agen hayati diaplikasikan segera setelah diambil dari sub lab hayati. Pada pengendalian OPT ini belum masuk PAD.
Kendala:
1. Kondisi SDM yang ada masih kurang memadai dalam jumlah maupun kualifikasi. 2. Permintaan benih yang kurang.
3. Proses pembiayaan dibayar saat sertifikat sudah keluar sedangkan benih yang tidak lulus uji maka tidak membayar sehingga mengalami kerugian baik dari segi tenaga, waktu, dan
biaya.
4. Permasalahan terkait dengan pemenuhan target PAD yang berbasis bulanan sangat menyulitkan terlebih target yang selalu naik karena yang menjadi obyeknya adalah makhluk hidup.
98 1. Melakukan rekruitmen staf dengan kuantitas dan kualitas yang memadai sesuai dengan
kebutuhan sesuai dengan kebutuhan yaitu kurang 43 orang. 2. Melakukan kegiatan promosi.
3. Perlu adanya usulan terkait pembayaran benih yang tidak lulus uji. 4. Perlu dikaji ulang dan dipertimbangkan pemenuhan target PAD.
3.2.2. Balai Pengembangan Perbenihan dan Percontohan Kehutanan dan Perkebunan
A. BP3KP Wilayah Tambak, Kabupaten Kulonprogo
Kebun Kelapa dan Kebun Kakao (Kabupaten Kulonprogo)
Balai Pengembangan Perbenihan dan Percontohan Kehutanan dan Perkebunan
(BP3KP) wilayah Tambak berada di Kota Wates, Kabupaten Kulonprogo. Secara keseluruhan total luas lahan Balai Pengembangan Perbenihan dan Percontohan Kehutanan dan Perkebunan (BP3KP) di Tambak, Wates adalah 1,3 ha, namun sebesar 2000 m2 dari lahan tersebut digunakan untuk bangunan kantor BP3KP sehingga luasan untuk pengelolaan tanaman sebesar 1,1 ha.Tanaman yang diusahakan yaitu kelapa dan kakao. Masing-masing terdapat 125 batang untuk tanaman kelapa dan 700 batang untuk tanaman kakao. Sarana dan prasarana yang digunakan di BP3KP wilayah Tambak, Kabupaten Kulonprogo masih terbilang manual dan sederhana.
Penjualan hasil panen tanaman kelapa langsung bertransaksi dengen tengkulak, sedangkan hasil panen tanaman kakao dijual berupa biji yang dijual dengan pihak Pagilaran. Tenaga kerja di BP3KP wilayah Tambak, Kabupaten Kulonprogo ada 2 yaitu untuk kebun PNS 1 staf dan untuk kebun outsourching terdapat 1 staf. Kedua tenaga kerja ini meng-handle semua pekerjaan kebun yang ada di BP3KP wilayah Tambak, Kabupaten Kulonprogo. Adapun untuk kegiatan yang membutuhkan tenaga banyak pihak BP3KP melibatkan masyarakat sekitar dengan sistem pembayaran HOK.
Peralatan yang digunakan untuk budidaya dan pasca panen terbilang manual dan sederhana, namun cukup membantu tenaga kerja untuk dalam membudidayakan dan mengolah tanaman. Misalnya saja tanaman kakao, untuk fermentasi dan pengeringan menggunakan ruang
kaca sehingga membantu kakao cepat kering dan terhindar dari pembusukan yang diakibatkan karena faktor cuaca.
99 Sedangkan untuk tanaman kakao merupakan jenis tanaman yang rentan akan hama Helopeltis, sehingga hal ini yang dapat mempengaruhi jumlah tiap panenan. Sedangkan untuk pengairan (irigasi) tidak ada masalah karena pada intinya tanaman kelapa dan tanaman kakao tidak membutuhkan air yang banyak, hanya saja penyesuaian terhadap musim perlu diperhatikan.
Selain dari aspek budidaya, permasalahan yang dialami di BP3KP Tambak, Kabupaten Kulonprogo adalah terkait dengan sumber daya manusianya. Dengan jumlah SDM yang sangat terbatas yaitu 1 staf PNS dan 1 staf outsourching mengakibatkan tidak optimalnya dalam pemeliharaan tanaman kelapa dan kakao yang ada di BP3KP. Idealnya untuk jumlah SDM yang menangani masalah kebun yaitu 1 staf PNS dan 3 staf outsourching. Dan permasalahan lain yang dihadapi oleh BP3KP Tambak yaitu terkait dengan luas lahan, dimana lahan yang
tersedia terpotonguntuk bangunan dan beberapa tanaman yang tidak masuk dalam PAD seperti tanaman panili dan lada.Solusi yang dilakukan oleh BP3KP Tambak sendiri adalah dengan menaikkan harga kelapa dan kakao serta menaikkan produksi dengan meningkatkan pemeliharaan secara optimal.
Kebun Kelapa dan Kakao Kebun Kakao
B. BP3KP Wilayah Imogiri, Kabupaten Bantul
Kebun Kakao (Kabupaten Kulonprogo)
Balai Pengembangan Perbenihan dan Percontohan Kehutanan dan Perkebunan (BP3KP) wilayah Imogiri berada di Kabupaten Bantul. BP3KP wilayah Imogiri memiliki satu
100 belum tertata secara baik. Selain jarak tanam yang tidak teratur, varietas kakao yang ditanam di kebun BP3KP wilayah Imogiri bukan merupakan bibit unggul. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut pihak BP3KP wilayah Imogiri melakukan perbaikan tanaman dengan sambung samping ataupun sambung pucuk dengan varietas unggul dan selain itu melakukan penanaman baru dengan varietas unggul pada tanaman yang rusak atau mati.Untuk rumah jaga di BP3KP wilayah Imogiri, Kabupaten Bantul baru dibangunberukuran 2 x1 yang berfungsi untuk mengawasi kebun. Bangunan kantor yang lama rusak karena bencana alam gempa sehingga perlu diperbaiki. Untuk sementara ada bangunan yang berfungsi sebagai tempat persinggahan bagi pengawas kebun.
Permasalahan yang hadapi oleh BP3KP wilayah Imogiri, Kabupaten Bantul terkait
dengan keamanaan. Secara sosial keamanan ini terjadi karena banyak pengembala ternak yang masuk ke kebun sehingga dapat merusak tanaman kakao. Selain itu gangguan sosial lainnyayaitu dikarenakan banyaknya anak kecil yang main ke kebun dan memakan biji kakao yang masih di pohon. Gangguan sosial semacam ini disebabkankarena kondisi kebun di BP3KP wilayah Imogiri, Kabupaten Bantul tidak terdapat pagar pembatas sehingga orang ataupun hewan dari luar dapat masuk ke dalam kebun secara leluasa. Selain itu masalah lain di BP3KP wilayah Imogiri adalah karena luasan areal tanaman hanya 0,8 ha dengan tipe varietas yang bukan bibit unggul maka hasil yang dicapai tidak maksimal. Oleh karena sarana prasarana yang digunakan juga seadanya. Biasanya apabila hasil panen dikit maka kegiatan fermentasi yang dilakukan hanya menggunakan keranjang saja, namun ketika hasil panen banyak maka panenan dibawa ke tambak.
Dari segi jumlah SDM untuk wilayah kerja BP3KP wilayah Imogiri, Kabupaten Bantul juga masih kurang yaitu dengan komposisi 1 staf PNS dan 1 staf oursourching. Hal ini menyulitkan petugas kebun dalam hal pemeliharaan dan pengawasan keamanan. Namun untuk pengairan secara umum tanaman kakao tidak mengalami kendala walaupun tidak tersedia irigasi, tetapi terdapat sumur resapan atau sumur penampungan.
C. BP3KP Wilayah Ngipik Sari, Kabupaten Sleman
Kebun Kopi (Kabupaten Sleman)
101 Untuk tanaman kleresede, alpukat, lada, dan kelapa merupakan tanaman pelindung yang bermanfaat untuk melindungi tanaman kopi agar waktu kemarau tidak kering.
Sejarah tanaman kopi di Ngipik Sari di BP3KP pertama ditanam pada tahun 1985, kemudian diadakan tanaman susulan hingga sekarang ini. Untuk jumlah tanaman kopi yang ada di kebun BP3KP wilayah Ngipik Sari terdapat 600 tanaman dengan jarak tanam 2 x 3 dan 2,5 x 3. Hal ini dikarenakan topografi atau lahan yang tidak rata sehingga kondisi tanaman yang satu dengan tanaman yang lainnya tidak sama.
Tanaman kopi ini merupakan tanaman tahunan, dimana kondisi tanaman, iklim, cuaca, curah hujan, dan keadaan lapangan sangat menentukan produksi dari tanaman kopi tersebut. Misalnya saja ketika musim penghujan tanaman kopi tidak berproduksi secara optimal, namun
ketika curah hujan tidak terlalu berlebih maka tanaman kopi dapat berproduksi secara maksimal. Hal ini dikarenakan pada musim penghujan bunga dari tanaman kopi banyak yang rontok sehingga fase pertumbuhan generative tidak berkembang. Faktor lain yang mengganggu pertumbuhan tanaman kopi adalah bencana. Pada tahun 2010 Yogyakarta terjadi letusan gunung merapi yang mengakibatkan daerah sekitar merapi menjadi gersang, banyak tanaman yang mati dan penduduk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Hal ini mengakibatkan kebun BP3KP yang berada di wilayah Ngipik Sari, Jalan Kaliurang, Kabupaten Sleman mati karena terkena abu vulkanik. Selain itu juga produksi tanaman kopi menurun dapat disebabkan karena penyakit ataupun hama.
Untuk SDM di kebun BP3KP terdapat pegawai PNS 3 orang dan 1 orang tenaga kontrak. Untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja di kebun ketika masa deadline tiba terkait untuk persiapan lahan maka mengambil tenaga dari luar. Pekerjaan yang biasanya mengambil dari luar yaitu menyangkul. Pengambilan tenaga dari luar biasanya dilakukan dalam waktu tertentu yaitu seminggu/bulan. Tenaga yang dibutuhkan dari luar berkisar 3-4 orang yang diambil dari masyarakat sekitar. Pembayaran dilakukan berdasarkan sistem HOK. Untuk jam mulai dari jam 08.00 - jam 16.00 upah yang diberikan sebesar Rp 50.000,00, padahal seharusnya pengupahan berkisar antara Rp 60.000,00 – Rp 70.000,00. Idealnya untuk lahan tanaman kopi dengan luas 1 ha memerlukan pekerja 5 – 7 orang.
102 Permasalahan tanaman kopi di kebun BP3KP wilayah Ngipik Sari adalah media tanam yang belum cukup. Hal ini mengingat areal lahan yang sangat terbatas. Kemudian bahan dasar dari areal pertanaman berupa batu dan pasir. Batu dan pasir ini masih ditemui dalam kisaran kedalaman 15-20 cmsehingga mengganggu dalam pengolahan lahan. Selain itu juga mengganggu perkembangan akar sehingga akar tidak mampu menembus ke dalam tanah. Hal ini menyebabkan tanaman tidak kokoh dan sulitnya pada saat pemupukan karena akar tidak mampu menyerap zat-zat yang terkandung dalam pupuk. Kemudian permasalahan selanjutnya adalah hama dan penyakit tanaman. Untuk mencegah terserangnya hama dan penyakit tanaman di kebun BP3KP wilayah Ngipik Sari menggunakan bahan-bahan kimia seperti insektisida. Selain itu permasalahan yang dihadapi di kebun kopi BP3KP wilayah Ngipik Sari adalah
perubahan iklim yang menyebabkan cuaca tidak menentu sehingga pada waktu pembungaan di musim yang tidak tepat (musim hujan) menjadikan terhambatnya pembuatan bunga pada tanaman kopi.
Untuk kebutuhan pengairan, tanaman kopi tidak memerlukan terlalu banyak air. Kebutuhan air hanya dibutuhkan pada saat awal untuk pertumbuhan namun pada saat pembuahan air yang butuhkan tidak banyak. Untuk bibit yang dipakai di kebun BP3KP wilayah Ngipik Sari sudah masuk dalam bibit yang tersertifikasi. Bibit ini diambil dari daerah Jember yang sudah teruji dan bersertifikat.
Terkait dengan keamanan kebun di BP3KP wilayah Ngipik Sari dapat terbilang aman karena terdapat pagar yang mengelilingi kebun. Namun terkait dengan penjagaan malam belum tersedia tenaga resmi, hanya saja terdapat tenaga kerja yang memiliki rumah dekat dengan kebun sehingga sewaktu-waktu dapat mengecek keamanan kebun.
103 Untuk alat-alat di kebun masih minim walaupun terkadang memakai alat sendiri. Untuk kebun di BP3KP wilayah Ngipik Sari belum memiliki lantai jemur dan rumah untuk pengeringan juga belum tersedia. Pengolahan hasil masih bersifat tradisional yaitu berupa alat pengupasan, alat pengeringan, dan alat penggilingan. Tahapan pengolahan hasil tanaman kopi yaitu; (1) Pemilihan biji kopi yang sudah matang, (2) Menyortir dan menggrading biji yang berkualitas, (3) Pengupasan yang dilakukan alat tradisional berupa along, (4) Pengeringan, (5) Penumbukan menggunakan alat lesung, (6) Dan terakhir ditapeni untuk mendapatkan bubuk kopi yang halus.
D. BP3KP Wilayah Hutan Bunder, Kabupaten Gunungkidul
Kebun Pembibitan Tanaman Pinus (Kabupaten Gunungkidul)
Balai Pengembangan Perbenihan dan Percontohan Kehutanan dan Perkebunan (BP3KP) wilayah Hutan Bunder, Kabupaten Gunungkidul memiliki luasan sebesar 3 ha. Fungsi dari BP3KP wilayah Hutan Bunder yaitu untuk menyediakan bibit pinus untuk bantuan masyarakat secara suka rela dan penjualan untuk kalangan umum. Total bibit yang tersedia di BP3KP wilayah Imogiri yaitu sebesar 700.000. Selain pembibitan pinus BP3KP wilayah Imogiri juga menyediakan bibit lain seperti kayu putih, mahoni, sengon, dan lain-lain. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.11. sebagai berikut.
Tabel 3.11.
Jenis Tanaman Hutan di BP3KP Hutan Bunder, Gunungkidul
Jenis Tanaman Jumlah (bibit)
Kayu putih 625.000
Jati 25.000
Mahoni 10.000
Sengon 10.000
Munggur 10.000
Gmelina 5.000
Stek Jati 5.000
Jabon 2.500
Pule 2.500
Tanjung 5.000
Total 700.000
Sumber: BP3KP Wilayah Hutan Bunder
104 BP3KP hanya terdapat 4 PNS dan 3 tenaga kontrak yang mengurusi semua kegiatan baik itu pembibitan, kegiatan pendidikan, dan wisata khusus.
Kebun Pembibitan Hutan Jati
Permasalahan lain selain ketenagakerjaan yaitu mengenai sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan persemaian masih bersifat manual artinya alat yang digunakan tergolong sederhana dan kebanyakan menggunakan tenaga manusia. Selain itu juga daya listrik yang digunakan tidak mampu mengangkat alat mesin pencacah sehingga penggunaan alat tidak optimal. Alat-alat lain yang menunjang persemaian BP3KP wilayah Imogiri, Gunungkidul yaitu diesel, jester, cangkul, sabit, dan spriyer. Namun untuk peralatan diesel jumlahnya masih
sangat terbatas. Ketersediaan diesel di BP3KP wilayah Imogiri hanya 1 buah, padahal idealnya diesel yang dibutuhkan 4 buah untuk mencukupi kebutuhan persemaian bibit.Karena untuk
105 Hutan Jati
Tebangan Kayu Jati
Untuk pendistribusiannya menggunakan alat angkut viar (tiga roda) yang merupakan inventaris kantor. Biasanya bibit dipesan oleh orang luar, KPH, ataupun rekanan lain yang rata-rata merupakan pembeli dari Yogyakarta. Sedangkan bibit yang tidak laku diperbantukan untuk masyarakat dengan cara pembuatan proposal.
Permasalahan-permasalahan lain yang ada di kebun BP3KP wilayah Imogiri, Gunungkidul adalah dana cair biasanya terlambat pada bulan Februari-Maret padahal sudah mulai pembersihan lahan, musim buah (biji) terkait dengan tata waktu persemaian, dan hama dan gulma tanaman yang mengganggu persemaian. Di mana pada waktu persemaian gulma
lebih cepat subur dibandingkan tanaman pokok yang diusahakan.
Untuk aspek keamanan, kebun BP3KP wilayah Imogiri Gunungkidul tergolong aman.
Pada saat siang hari dijaga oleh perempauan dan pada saat malam hari dijaga oleh 2 orang yang tugasnya pengadaan sekam dan pupuk kandang. Selain itu juga melakukan kegiatan penyiangan dan pendangiran apabila tanaman di polibag, namun untuk membasmi gulma yang ada di jalan-jalan menggunakan herbisida.
3.2.3. Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan
A. Balai Kesatuan Pengelolan Hutan (BKPH) Wilayah Mangunan
Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Mangunan, Kabupaten Bantul
106 namun yang produktif ditanami tanaman pinus berkisar 110 ha. Jumlah pohon pinus yang ditanami sejumlah 57.636 batang.
Tahapan pengelolaan tanaman pinus agar dapat dimanfaatkan getahnya adalah pada awal 1 – 10 tahun merupakan tahapan persiapan penyadapan, ketika tanaman pinus sudah berusia 11 tahun maka tanaman pinus sudah dapat dilakukan penyadapan. History tanaman pinus di RPH Mangunan, Kabupaten Bantul bahwa tanaman pinus ditanam pada tahun 1995. Ketika umur pinus berkisar 10 – 30 tahun tanaman pinus dapat memberikan getah pinus yang banyak atau dapat dikatakan pinus berada dalam masa subur. Namun ketika pinus sudah berusia di atas 30 tahun maka getah pinus akan mengalami penurunan sebesar 40 – 50 %.
Fasilitas yang ada di RPH Mangunan, Kabupaten Bantul ini adalah terdapatnya kantor
pemungut kayu sekaligus digunakan untuk pengawasan. Terdapat tenaga kerja sebanyak 6 orang PNS. Untuk sementara dengan jumlah SDM yang sangat terbatas 2 orang yang termasuk 6 orang PNS tersebut merangkap 2 blok. Padahal agar perlindungan dan pengawasan maksimum maka diperlukan 1 orang meng-handle 10 ha tanaman hutan pinus. Oleh karena itu untuk mengatasi hal tersebut 1 orang petugas diharapkan dapat berhubungan langsung dengan masyarakat dan kelompok yang ada di sekitar hutan pinus tersebut.
Dari faktor keamanan tanaman hutan pinus ini tergolong aman kira-kira 99% aman. Kerusakan pernah terjadi pada tahun 1982 yang diakibatkan karena banyak yang roboh dan peristiwa kebakaran hutan sebesar 6 ha pada musim kemarau.
Untuk jenis tanaman pinus ini membutuhkan banyak air. Namun hal ini terbantu dengan adanya sumber air yang tersedia di sekitar lokasi dimana total sumber air yang masih dapat digunakan untuk pengairan berkisar 6.
Untuk peralatan sendiri yang digunakan untuk keamanan dan penyadapan sudah lengkap dan tersedia, namun untuk asuransi jiwa pekerja belum diadakan sehingga hal ini perlu diperhatikan untuk keselamatan kerja pegawai khususnya yang bertugas di kebun pinus. Selain 6 tenaga PNS yang berfungsikan untuk mengelola dan mengawasi hutan pinus di RPH Mangunan, ini juga dibantu oleh mitra kerja sejumlah 73 orang dan 4 kelompok dari masyarakat setempat. Satu kepala keluarga ditugasi untuk menyadap sebanyak 500-700 pohon
pinus dengan sistem pembayaran Rp 2.600/kg.