• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN METODOLOGI PEN. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN METODOLOGI PEN. docx"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

Pendidikan Agama Islam menjadi sebuah pembahasan tersendiri dalam dinamikanya yang terus berkembang seiring terjadinya perkembangan dalam dunia pendidikan tanah air. Kurikulum yang berlaku secara nasional telah berganti juga member dampak pada tiap-tiap mata pelajarannya tidak terkecuali mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Sebagai sebuah mata pelajaran, masyarakat memiliki ekspektasi lebih pada PAI sebagai benteng aqidah dan moralitas peserta didik.

Besarnya ekspektasi ini harus direspon positif dan serius oleh para pendidik untuk meningkatkan kapasitasnya sebagai guru profesional. Selain penguasaan materi, pendidik juga perlu mengembangkan metode pembelajaran hingga metodologi berpikir. Jika pendidik senantiasa mengembangkan dirinya maka, ia akan mampu memotivasi peserta didik untuk terus mengembangkan potensinya.

Mengembangkan pola pikir harus dimiliki oleh pendidik dan diajarkan sesuai tingkat psikologis peserta didik. Di Indonesia pendidikan formal dimulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA hingga perguruan tinggi menunjukkan adanya penjenjangan. Akan sangat disayangkan jika metodologi berpikir bagi anak PAUD disamakan dengan SMA. Jika semakin bertambah usia peserta didik maka pola pikirnya makin berkembang maka kemampuan berpikir dari konkret menuju abstrak juga harus diterapkan.

(2)

BAB II

IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN METODOLOGI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PENDEKATAN DIALEKTIS

A. KONSEP PENGEMBANGAN METODOLOGI

Pengembangan memiliki makna perubahan. Ada situasi awal dan ada situasi setelah perubahan. Jika kita melihat asal dari kata perkembangan yaitu kembang memiliki makna mekarnya bunga. Perkembangan memiliki arti perihal berkembang. Ibarat bunga yang mekar yang menebarkan aroma harum maka makna perkembangan seharusnya menebarkan kemanfaatan yang lebih.

Dilihat dari sudut pandang bahasa, metode berasal dari dua perkataan, yaitu meta dan

hodos. Meta berarti “melalui” dan hodos berarti “jalan” atau “cara”. Metode juga dapat berarti cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pendidikan dan sebagainya), atau bisa berarti cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Selain itu ada pula yang mengartikan metode sebagai suatu sarana yang menemukan, menguji dan menyusun data, yang diperlukan bagi pengembangan disiplin tersebut.1

Dengan penambahan imbuhan –logi pada kata “metode” menjadi metodologi maka ini menjadi sebuah disiplin ilmu. Dalam kamus ilmiah populer, metodologi berarti ilmu metode; ilmu cara-cara dan langkah-langkah yang tepat (untuk menganalisa sesuatu); penjelasan serta penerapan cara.2 Munurut Muhbib Abdul Wahab sebagaimana dikutip Maksudin bahwa metodologi terkait dengan berpikir ilmiah. Menurut Maksudin berpikir ilmiah merupakan bagian dari proses saintifikasi. Metode adalah suatu rancangan secara menyeluruh yang saling berkaitan sebagai cara mencapai suatu tujuan. Metodologi berarti ilmu yang yang mengkaji suatu rancangan secara menyeluruh yang saling berkaitan masing-masing unsur sebagai cara untuk mencapai tujuan. Unsur-unsur metode meliputi seleksi, gradasi, repetisi, dan presentasi. Metodologi adalah ilmu tentang metode yang unsur-unsurnya adalah seleksi, gradasi, repetisi dan presentasi.3

1Robingatul Mutmainnah, Metode Pendidikan Karakter Dalam Pendidikan Islam (Sebuah Aplikasi),

(Yogyakarta:Idea Press, 2013), hlm. 10.

(3)

Maksudin mengemukakan bahwa keempat unsur metode pada intinya menjadi satu kesatuan utuh dan saling berkaitan erat dan tidak terpisahkan unsur satu dengan lainnya. Unsur seleksi, gradasi, repetasi, dan presentasi sebagai penjabaran metode tentang materi pembelajaran PAI.

1. Seleksi, dalam seleksi dilakukan identifikasi menjadi empat materi yaitu: materi berupa fakta empiris atau non empiris, berupa konsep atau definisi/takrif, berupa prinsip atau dalil-dalil atau rumus-rumus dan berupa prosedur atau langkah-langkah.

2. Gradasi, dalam gradasi materi PAI diurutkan dan diklasifikasi unsur-unsur materi PAI selanjutnya. Hasil klasifikasi ini menuntut dilakukan penggolongan sistemik yang memerlukan pembahasan secara komprehensif atau interdisipliner antara PAI dengan

ulum al-din dan saintifik yang dijadikan pondisi berpikir agama dan sains integrative/nondikotomik.

3. Repetasi, dilakukan pengulangan unsur-unsur materi PAI yang inti/pokok/ushuliyah

sebagai penguatan antara PAI yang bersifat ushuliyah dan dikuatkan materi yang bersifat

furu’iyah.

4. Presentasi, kesemua tahapan-tahapan itu perlu dipresentasikan ke dalam kesatuan utuh sehingga dapat diketahui kelebihan dan kelemahan jika dikaji dalam perspektif metodologis.4

B. TINGKAT PIKIRAN MANUSIA DENGAN POLA PIKIR DAN PETA KONSEP

Kegiatan berpikir adalah kegiatan yang pernah dilakukan oleh setiap manusia. Namun berpikir bukanlah hal yang mudah. Mungkin orang bisa salah dalam berpikir, bukan karena pengetahuannya yang salah, melainkan jalan pikirannya yang tidak lurus atau tidak sesuai aturan.5 Plato dan Aristoteles mengungkapkan berpikir bicara dengan dirinya sendiri di dalam batin. Dr. W. Poespoprodjo mengungkapkan bahwa berpikir ialah kegiatan akal manusia untuk mengolah pengetahuan yang telah diterima melalui pancaindera, dan ditujukan untuk mencapai suatu kebenaran. Kegiatan berpikir ialah mempertimbangkan, merenungkan, menganalisa, membuktikan sesuatu, menunjukkan alasan-alasan, menarik kesimpulan,

4Ibid., hlm. 206.

(4)

meneliti suatu jalan pikiran, mencari bagaimana berbagai hal berhubungan satu sama lain, mengapa atau untuk apa sesuatu terjadi, membahasakan suara realitas.6

Tentunya dalam berpikir harus memiliki pola. Pola pikir adalah cara otak dan akal menerima, memproses, menganalisis, mempersepsi, dan membuat kesimpulan terhadap informasi yang masuk melalui indera.7Judika Malau mengemukakan bahwa pola pikir adalah dasar segala bentuk tindakan seseorang sehari-hari.8Adi W Gunawan mengungkapkan bahwa pola pikir adalah kumpulan kepercayaan (belief) atau cara berpikir yang mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang yang akhirnya akan menentukan level keberhasilan hidupnya.9

Tony Buzan menyatakan bahwa mindmap adalah alat paling hebat yang membantu otak berpikir secara teratur. Mindmap akan mempermudah untuk memasukkan informasi ke dalam otak ataupun untuk mengambil informasi dalam otak. Mindmap mengefektifkan dalam membuat catatan sehingga benar-benar memetakan pikiran manusia.10

Maka berpikir ialah suatu pekerjaan batin untuk menganalisis sesuatu hal demi mencari kebenaran dengan pola yang teratur atau terpetakan dari yang konkret/sederhana hingga yang abstrak/rumit sehingga menimbulkan sebuah keyakinan akan kebenaran yang berdampak pada sikap dan perilaku.

Menurut R. Paryana Suryadiputra dalam Maksudin11 bahwa tingkat pikiran manusia dapat dilihat pada tabel berikut ini.

TABEL 2.1

6 W. Poespoprodjo dan T. Gilarso, Logika Ilmu Menalar. Cet ke-4 (Bandung: CV Remadja Karya, 1989), hlm. 4.

7 Rumah Kemuning, “Pengertian Pola Pikir” dalam http://rumahkemuning.com diakses tanggal 19 Oktober 2015.

8 Judika Malau, “Bagaimana Pola Pikir Terbentuk?” dalam www.putra-putri-indonesia.com diakses tanggal 19 Oktober 2015.

9Rumah Kemuning, “Pengertian Pola Pikir” dalam http://rumahkemuning.com diakses tanggal 19 Oktober 2015.

10 Tony Buzan, Mindmap Untuk Meningkatkan Kreativitas, terj. Eric Suryaputra, cet. ke-2 (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004), hlm. 6

(5)

Tingkat Pikiran Manusia

Bagaimana? Oleh sebab apa? Apa tujuannya?

Objek apa yang

Dari tabel diatas kita bisa memahami bahwa pikiran manusia dilihat dari alat pikir, bidang pikir, bentuk pikiran dan objek yang dijumpai yang berawal dari konkret (sederhana) berkembang menuju abstrak.

Dr. Maksudin, M. Ag12 menemukan relevansi tingkat pikiran manusia dengan pola pikir (mindset) dan peta konsep (mindmap) dapat dilihat lebih jelas pada tabel berikut ini.

Tabel 2.2 Relevansi Tingkat Pikiran I dan Pola Pikir/ Peta Konsep

Tingkat Pikiran I Pola Pikir (Mindset) Peta Konsep

(6)

(Mindmap)

Bidang pikiran Alam lahir Konkret dan riil Fakta-fakta riil

Bentuk pikiran Perkembangan akal

(verstanddelijkdenken

Benda nyata Segala yang ada Benda-benda yang

ada

Wujud Al-Makhluq Al-Khaliq

Tabel 2.3 Relevansi Tingkat Pikiran II dan Pola Pikir/ Peta Konsep

Tingkat Pikiran II Pola Pikir (Mindset) Peta Konsep

(Mindmap)

Alat-alat pikir Badan pikir

(mentaal lichaam)

Organ-organ pikir Unsur-unsur organ pikir

Bidang pikiran Ilmu pengetahuan Sains dan teknologi Agama dan sains nondikotomik

Soal Bagaimana? Pengertian bahasa dan

konsep

Sains dan teknologi Metodologi agama

dan sains

nondikotomik Hakikat yang relatif,

hukum-hukum alam

Hukum-hukum alam Sifat Aqliyah dan Naqliyah

Tabel 2.4 Relevansi Tingkat Pikiran III dan Pola Pikir/ Peta Konsep

Tingkat Pikiran III Pola Pikir (Mindset) Peta Konsep

(Mindmap) Alat-alat pikir Pancaindera batin

(sensus interior) dan

Alat dan fungsi pikir, hati dan fungsi rasa

(7)

budi

Bentuk pikiran Normative Hikmah Tahapan nilai

Soal Oleh sebab apa? Kausalitas Hubungan timbal

balik Objek apa yang

dijumpai

Latar belakang wujud Khaliq dan Al-Makhluq

Tabel 2.5 Relevansi Tingkat Pikiran IV dan Pola Pikir/ Peta Konsep

Tingkat Pikiran IV Pola Pikir (Mindset) Peta Konsep

(Mindmap)

Alat-alat pikir Atman (roh rohmani) Adanya roh Roh prerogratif al-Khaliq

Bidang pikiran Religi Agama Ditemukan dan

diperoleh

Bentuk pikiran Tauhid Nondikotomik Ke-Esaan dan

tahapan Naqliyah

Soal Apa tujuannya? Taat dan taslim Terhormat dan

selamat

Iman Ke-Imanan atas dalil

aqliyah dan naqliyah

(8)

C. KONSEP PENDIDKAN AGAMA ISLAM

Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Pendidikan juga memiliki makna proses, perbuatan dan cara mendidik.13 Pendidikan menurut Marimba dalam Ahmad Tafsir adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmanidan ruhani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Park juga berpendapat bahwa pendidikan adalah pembinaan keterampilan dan menggunakan pengetahuan.14 Maksudin mengemukakan bahwa pendidikan pada hakikatnya suatu upaya yang dilakukan seseorang atau lembaga secara sengaja untuk memanusiakan manusia sesuai dengan fitrahnya.15 Banyak pakar pendidikan yang mendefinisikan berbeda karena banyaknya kegiatan yang dinilai memiliki unsur pendidikan, perbedaan perspektif setiap pakar dan luasnya cakupan pendidikan itu sendiri. Bahkan pendidikan menjadi satu hal yang tidak ada habisnya untuk dibahas.

Agama adalah kepercayaan kepada Tuhan (dewa, dan sebagainya) dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu.16 Arti menurut kamus ini memiliki hubungan dengan asal kata agama itu sendiri yaitu berasal dari bahasa sansekerta. Agama dalam bahasa sansekerta terdiri dari dua kata yaitu a (tidak) dan gama

(kacau). Maka agama artinya tidak kacau. Maka agama berisi ajaran atau aturan yang mengatur kehidupan manusia dan menetapkan hukum-hukum yang ditaati dalam kehidupan mereka.17

Pendidikan Agama sebagai sebuah mata pelajaran dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti atau moral sebagai

13 Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia

(Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hlm. 204.

14 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Islam, cet. ke 2 (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 35. 15 Maksudin, Pengembangan Metodologi Pendidikan Agama Islam …, hlm. 212.

16 Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar …, hlm. 9.

(9)

perwujudan dari pendidikan agama. 18 Pendidikan Agama membutuhkan suatu warna sebagai landasan ajaran dan aturan. Salah satu corak tersebut adalah Islam.

Ada beberapa pendapat tentang akar kata yang membentuk kata Islam. Islam terbentuk dari tiga huruf yaitu sin, lam dan mim. Setidaknya ada empat akar kata yang berkaitan satu sama lain dengan Islam.19 Yaitu :

1. Aslama. Artinya menyerahkan diri, Orang yang masuk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah SWT. Ia siap mematuhi ajaran-Nya.

2. Salima. Artinya selamat. Orang yang memeluk Islam, hidupnya akan selamat.

3. Sallama. Artinya menyelamatkan orang lain. Seorang pemeluk Islam tidak hanya menyelematkan diri sendiri, tetapi juga harus menyelamatkan orang lain (tugas dakwah atau ‘amar ma’ruf nahyi munkar).

4. Salam. Salam. Aman, damai, sentosa. Kehidupan yang damai sentosa akan tercipta jika pemeluk Islam melaksanakan asalama dan sallama.

Pendidikan Agama Islam menurut Zuhairani adalah usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam.20 Syariat islam tidak akan dihayati dan diamalkan orang kalau hanya diajarkan saja, tetapi harus dididik melalui proses pendidikan nabi sesuai ajaran Islam dengan berbagai metode dan pendekatan dari satu segi kita lihat bahwa pendidikan islam itu lebih banyak ditujukan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan baik bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain. Dari segi lainnya, pendidikan islam tidak bersifat teoritis saja, tetapi juga praktis. Ajaran islam tidak memisahkan antara iman dan amal shaleh. Oleh karena itu, pendidikan islam adalah sekaligus pendidikan iman dan pendidikan amal dan juga karena ajaran islam berisi tentang ajaran sikap dan tingkah laku pribadi masyarakat menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama, maka pendidikan islam adalah pendidikan individu dan pendidikan masyarakat. Semula yang bertugas mendidik adalah para Nabi dan Rasul selanjutnya para ulama, dan cerdik pandailah sebagai penerus tugas, dan kewajiban mereka.21

18 Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi

19 Pusdai, “Arti Islam : Etimologis dan terminologis” dalam https://pusdai.wordpress.com diakses tanggal 5 Oktober 2015.

(10)

Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agama Islam, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran pada semua jenjang pendidikan.22 Maka Pendidikan Agama Islam merupakan sebuah konsep untuk melakukan proses pembelajaran yang mencakup ilmu (pengetahuan), aqidah (keyakinan keTuhan-an) dan menuntut suatu amal perbuatan sebagai implementasinya. Seyogyanya seseorang yang telah mendapatkan pendidikan Agama Islam ia menjadi pribadi yang memiliki aqidah yang kokoh, ibadah yang benar, dan akhlak yang mulia dan semua itu berproses sesuai fitrah manusia.

D. KONSEP BERPIKIR PENDEKATAN DIALEKTIS

Embrio berpikir dialektis telah ada pada masa yunani kuno dimana tokoh-tokoh filsuf yunani telah membuat definisi logika. Aristoteles telah membuat pola pikir menyelidiki argumentasi-argumentasi yang bertitik tolak dari hipotesa atau putusan yang tidak pasti kebenarannya.23 Hal ini dianggap sebagai awal mula konsep berpikir dialektik karena pada masa itu telah berkembang metafisik. Abad ke 19, seorang filsuf Jerman yang bernama George Wilhelm Friedrich Hegel mengemukakan metode berpikir dialektik yaitu suatu metode atau cara memahami dan memecahkan persoalan atau problem berdasarkan tiga elemen yaitu tesis, antitesis dan sintesis.

Berpikir dengan pendekatan dialektis dapat dipergunakan untuk membahas suatu persoalan. Menurut Hegel tidak ada satu kebenaran yang absolut karena berlaku hukum dialektik, yang absolut hanyalah semangat revolusionernya (perubahan/pertentangan atas tesis oleh anti-tesis menjadi sintesis).24 Cara berpikir dengan pendekatan dialektis dapat dilakukan dengan memahami bagan berikut ini.25

22 Dirjen Pendis, Pengembangan Standar Nasional PAI, (Jakarta: Kementerian Agama RI, 2011), hlm. 13. 23 Cecep Sumarna, Filsafat Ilmu, (Bandung, CV. Mulia Press, 2008), hlm. 132.

24 Wikipedia, “Dialektik” dalam https://id.wikipedia.org diakses tanggal 19 Oktober 2015. 25 Maksudin, Pengembangan Metodologi Pendidikan Agama Islam …, hlm. 212.

PAHAMI ESENSI (HAKIKAT/INTI) KATA KUNCI

(11)

Pertama natural science, humanities sciences dan social sciences pahami body of knowledge-nya. Misalnya: PAI, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Sosiologi, Psikologi, Antropologi dan seterusnya. Kedua, pahami body of knowledge-nya menurut pengertian etimologi (kamus/ensiklopedi) dan terminology (definisi/istilah)/teori atau pendapat para ahli dalam bidangnya. Ketiga, pengertian istilah/definisi atau pendapat ahli (dicari dalam referensi). Tahap ketiga ini disebut tahap tesis (konsep/ide/gagasan/pendapat), dilanjutkan tahap berikutnya.

Keempat, pengertian istilah/definisi/teori atau pendapat ahli dianalisis dengan langkah-langkah berikut. (1) tulis istilah/definisi pendapat ahli/teori secara lengkap, (2) identifikasi dan klasifikasi istilah/definisi atau pendapat ahli. Klasifikasi yang dimaksud di sini adalah penggolongan sistemis berdasarkan unsur-unsur yang ada dalam makna bahasa dan konsep. Ketika penulis melakukan penggolongan sistemis berarti penulis harus mampu mengembangkannya sesuai dengan inti dan isi yang digali dari pengertian tersebut, (3) bahas unsur yang sama dan yang beda antara pengertian istilah/definisi atau pendapat ahli, (4) mengapa ada unsur yang sama dan ada yang beda dari istilah/definisi atau pendapat ahli, dan (5) penulis menemukan “benang merah” antara yang sama dan yang beda. Pada tahap ke

ANTI TESIS

1. Tulis Pengertian bahasa, terminologi dan sosial-historis 2. Identifikasi dan klasifikasi (penggolongan sistemik) 3. Bahas unsur yang sama dan unsur yang berbeda 4. Mengapa sama? Mengapa berbeda?

5. Temukan benang merah (titik temu)

ETIMOLOGI

Lihat kamus / Ensiklopedia

SINTESIS-KREATIF

Pendapat / Sikap Ilmiah Penulis

TERMINOLOGI

Pendapat Ahli/Teori/Referensi

SOSIAL-HISTORIS

Sosial, Politik, Budaya

PAHAMI SUBSTANSI (ISI/MATERI/BAHAN)

(12)

empat melalui proses point 1 sampai point 5 disebut proses anti tesis untuk mendapatkan sintesis. Tahap kelima, adalah merumuskan hasil pembahasan istilah/definisi atau pendapat ahli menjadi sikap ilmiah penulis. Jika penulis telah menemukan dan menentukan sikap ilmiah berarti penulis telah memahami esensi body of knowledge yang dikaji. Oleh karena itu, setiap penulis menemukan sintesis apa yang akan dibahas/dikaji.

E. CONTOH IMPLEMENTASI BERPIKIR PENDEKATAN DIALEKTIS

Penulis mencoba memaparkan untuk menjelaskan tentang alat peraga pendidikan dengan menerapkan pendekatan dialektis.

Langkah 1 Tesis

1. Pengertian Alat Peraga Secara Etimologi

Alat peraga merupakan sebuah frasa yang berasal dari dua kata yaitu alat dan peraga. Alat adalah benda yang dipakai untuk memudahkan pekerjaan.26 Sedangkan peraga adalah alat untuk memperlihatkan; alat untuk memperagakan.27 Jika dua kata tersebut kita satukan maka alat peraga adalah benda yang dipakai untuk memudahkan pekerjaan memperagakan. Menurut kamus, alat peraga ialah alat bantu untuk menyampaikan pelajaran atau mendidik agar dimengerti siswa.28

Langkah 2 Antitesis

1. Jika masing-masing kata dari “alat” dan “peraga” di artikan menurut kamus lalu digabungkan memiliki arti benda yang dipakai untuk memudahkan pekerjaan memperagakan.

2. Menurut kamus yang lain yang menunjukkan sebagai sebuah frasa “alat peraga” berarti alat bantu untuk menyampaikan pelajaran atau mendidik agar dimengerti siswa.

Identifikasi dan Klasifikasi

Pada point 1 terdapat unsur benda, dipakai untuk memudahkan pekerjaan, memudahkan untuk memberi keterangan atau penjelasan.

26 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ketiga, cet. ke-3 (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), hlm. 40.

27 Prihadi, Kamus Pintar Bahasa Indonesia, (Surabaya:Alfa, tth), hlm. 263

(13)

Pada point 2 terdapat unsur benda, alat bantu, memudahkan dalam menyampaikan pelajaran agar cepat dimengerti, umumnya dipakai dalam dunia pendidikan.

Langkah 3 Sintesis

Alat peraga adalah benda yang dipakai dalam dunia pendidikan sebagai alat bantu bagi guru dalam menyampaikan dan menjelaskan materi pelajaran agar siswa lebih mudah dalam memahami pelajaran.

2. Pengertian Alat Peraga secara Terminologi

Langkah 1 Tesis

Menurut para ahli tentang alat peraga adalah sebagai berikut:

a. Menurut Wijaya & Rusyan [1994] – yang dimaksud Alat Peraga Pendidikan adalah media pendidikan berperan sebagai perangsang belajar & dapat menumbuhkan motivasi belajar sehingga siswa tidak menjadi bosan dalam meraih tujuan – tujuan belajar.

b. Menurut Nasution [1985] – alat peraga pendidikan adalah alat pembantu dalam mengajar agar efektif.

c. Menurut Sudjana [2009] – Pengertian Alat Peraga Pendidikan adalah suatu alat yang dapat diserap oleh mata & telinga dengan tujuan membantu guru agar proses belajar mengajar siswa lebih efektif & efisien.

d. Menurut Faizal [2010] – Alat Peraga Pendidikan sebagai instrument audio maupun visual yang digunakan untuk membantu proses pembelajaran menjadi lebih menarik & membangkitkan minat siswa dalam mendalami suatu materi.29

e. Menurut Sumad (1972), mengemukakan bahwa alat peraga adalah alat untuk memberikan pelajaran atau yang dapat diamati melalui panca indera. Alat peraga merupakan salah satu dari media pendidikan adalah alat untuk membantu proses belajar mengajar agar proses komunikasi dapat berhasil dengan baik dan efektif.

f. Menurut Amir Hamzah, (1981) bahwa Alat Peraga Pendidikan adalah adalah alat-alat yang dapat dilihat dan didengar untuk membuat cara berkomunikasi menjadi efektif”.30

Langkah 2 Antitesis

Identifikasi dan klasifikasi

29 Sora N, “Pengertian Alat Peraga menurut Para Ahli” dalam www.pengertianku.net diakses tanggal 19 Oktober 2015.

(14)

a. Terdapat unsur media pembelajaran, sebagai stimulus dan motivasi, agar tidak bosan meraih tujuan belajar

b. Terdapat unsur alat bantu mengajar agar efektif

c. Terdapat unsur alat yang dapat dilihat dan didengar, tujuannya agar pembelajaran efektif dan efisien

d. Terdapat unsur audio visual, menarik, meningkatkan minat siswa

e. Terdapat unsur dapat diamati oleh panca indera, komunikasi yang efektif f. Terdapat unsur dapat dilihat dan didengar, komunikasi yang efektif.

Persamaannya semua menunjukkan alat peraga adalah sebuah benda untuk membantu proses pembelajaran. Sudjana, Faisal dan Amir Hamzah membatasi alat peraga sebagai alat yang dapat dilihat dan didengar saja sedangkan Sumad berpendapat alat peraga harus dapat dijangkau oleh semua panca indera. Penulis berpendapat sama dengan Sumad karena alat perga terkadang juga perlu sentuhan bahkan pengecapan seperti alat peraga sains. Dalam PAI misalnya alat peraga penyelenggaraan jenazah juga tidak sebatas audio visual saja. Tujuannya sama yaitu agar proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien dengan hasil yang sesuai target.

Langkah 3 Sintesis

Alat peraga adalah adalah benda yang dipergunakan sebagai alat bantu yang dapat diserap oleh panca indera untuk mengefektifkan proses pembelajaran, membuat pembelajaran menjadi lebih menarik, membuat peserta didik dapat termotivasi dan menjalin komunikasi timbal balik sehingga peserta didik dapat memahami pelajaran dengan baik.

BAB III PENUTUP

(15)

metode yang unsur-unsurnya adalah seleksi, gradasi, repetisi dan presentasi. Pikiran manusia dilihat dari alat pikir, bidang pikir, bentuk pikiran dan objek yang dijumpai yang berawal dari konkret (sederhana) berkembang menuju abstrak.

Metode berpikir dialektik yaitu suatu metode atau cara memahami dan memecahkan persoalan atau problem berdasarkan tiga elemen yaitu tesis, antitesis dan sintesis. Berpikir dengan pendekatan dialektis dapat dipergunakan untuk membahas suatu persoalan. Menurut Hegel tidak ada satu kebenaran yang absolut karena berlaku hukum dialektik, yang absolut

hanyalah semangat revolusionernya (perubahan/pertentangan atas tesis oleh anti-tesis menjadi sintesis). Dengan berpikir dialektis hingga menemukan sintesis kreatif maka seseorang tersebut telah memiliki sikap ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA

Buzan, Tony, Mindmap Untuk Meningkatkan Kreativitas, terj. Eric Suryaputra, cet. ke-2, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004

Dirjen Pendis, Pengembangan Standar Nasional PAI, Jakarta: Kementerian Agama RI, 2011.

(16)

Maksudin, Pengembangan Metodologi Pendidikan Agama Islam Pendekatan Dialektik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015.

Mutmainnah, Robingatul, Metode Pendidikan Karakter Dalam Pendidikan Islam (Sebuah Aplikasi),Yogyakarta:Idea Press, 2013.

Partanto, Pius A dan Al Barry, M Dahlan, Kamus Ilmiah populer, Surabaya: Arkola, 1994

Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1989.

Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi

Poedjawijatna, I. R., Logika Filsafat berpikir, cet. ke-7, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1992

Poespoprodjo, W dan Gilarso, T., Logika Ilmu Menalar. Cet ke-4, Bandung: CV Remadja Karya, 1989

Prihadi, Kamus Pintar Bahasa Indonesia, Surabaya:Alfa, tth.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ketiga, cet. ke-3, Jakarta: Balai Pustaka, 2003.

Sumarna, Cecep, Filsafat Ilmu, Bandung: CV. Mulia Press, 2008.

Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan Islam, cet. ke 2, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013

Tim Penulis Dosen PAI, Pendidikan Agama Islam Membangun Kepribadian Generasi Islam, Samarinda:MPK Universitas Mulawarman Kalimantan Timur, 2010.

Zuhairini, Metodik Khusus Pendidikan Agama, Surabaya: Usaha Nasional, 1983.

Judika Malau, “Bagaimana Pola Pikir Terbentuk?” dalam www.putra-putri-indonesia.com diakses tanggal 19 Oktober 2015.

Panji Amboro, “Pengertian, Tujuan, dan Manfaat Alat Peraga” dalam https://panjiamboro.wordpress.com diakses tanggal 19 Oktober 2015.

Pusdai, “Arti Islam : Etimologis dan terminologis” dalam https://pusdai.wordpress.com diakses tanggal 5 Oktober 2015.

(17)

Sora N, “Pengertian Alat Peraga menurut Para Ahli” dalam www.pengertianku.net diakses tanggal 19 Oktober 2015.

Gambar

Tabel 2.2 Relevansi Tingkat Pikiran I dan Pola Pikir/ Peta Konsep
Tabel 2.3 Relevansi Tingkat Pikiran II dan Pola Pikir/ Peta Konsep
Tabel 2.5 Relevansi Tingkat Pikiran IV dan Pola Pikir/ Peta Konsep

Referensi

Dokumen terkait