• Tidak ada hasil yang ditemukan

Baca Proposal Tugas Akhir docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Baca Proposal Tugas Akhir docx"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

Baca

 Klasik

 

 Kartu Lipat  

 Majalah

 

 Mozaik

 

 Bilah Sisi  

 Cuplikan

 

 Kronologis

1.

MAR 19

Proposal Tugas Akhir

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

(2)

Amri (2003) mengatakan bahwa, dari panjang pantai yang dimiliki Indonesia tersebut, yang berpotensi sebagai lahan tambak hanya ±1,2 juta Ha (hektar), dan yang berpotensi sebagai lahan tambak untuk udang, yakni mencapai 866.550 Ha, sementara luas tambak yang dibangun baru mencapai 344.759 Ha. Sisanya masih belum dimanfaatkan sama sekali. Hal ini tentu bisa menjadi peluang untuk membuka dan meningkatkan lahan baru untuk kegiatan budidaya tambak. Udang merupakan salah satu hasil perikanan yang menunjang perekonomian negara. Hal ini disebabkan harga pasarannya yang tergolong tinggi, pemasarannya yang luas dan tingginya kebutuhan dan permintaan pasar dalam negeri maupun luar negeri. Ini terlihat dari data yang telah masuk ke Badan Pusat Statistik, dimana Amerika Serikat menjadi negara pengimpor udang Indonesia yang dominan. Pada periode tahun 2014, Amerika Serikat menyerap udang Indonesia sebanyak 85.838.700 kg. dengan nilai US$ 1.027.223.500. Suatu peningkatan yang sangat berarti dari tahun sebelumnya, yaitu 64.520.600 kg. dengan nilai US$ 686.703.500. Terpaut sangat jauh dari Jepang yang berada di urutan kedua, pada tahun yang sama Jepang menyerap udang Indonesia sebanyak 27.597.800 kg. dengan nilai US$ 370.568.900 (BPS, 2015).

Haris (1988) hal tersebut menunjukan bahwa budidaya udang telah memberikan keyakinan kepada petani ataupun pengusaha sebagai suatu kegiatan usaha yang secara ekonomis sangat menguntungkan dan secara teknis dapat dengan mudah dilakukan. Salah satu komoditas udang yang memiliki permintaan yang tinggi dan pangsa pasar yang sangat luas baik di dalam negeri maupu di luar negeri adalah udang windu (penaeus monodon). Akan tetapi jumlah produksi udang windu masih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah produksi udang vanname di Indonesia.

Kamsari (2015) tingginya nilai dan jumlah ekspor udang ke Amerika Serikat atau negara lainnya disebabkan negara pesaing produsen udang yang mengalami penurunan produksi karena ancaman penyakit EMS (early mortality syndrome), seperti Thailand dan Vietnam. Sebaliknya Indonesia mengalami peningkatan jumlah produksi udang yang mana didominasi oleh komoditas udang vaname, sementara produksi udang windu masih sedikit. Pada tahun 2014 produksi udang Indonesia mencapai 623.000 ton, akan tetapi produksi udang windu baru mencapai sekitar 30% dari total produksi udang nasional, Sementara udang vaname berkontribusi sebesar 60% dan sisanya dari komoditas udang lainnya.

(3)

Budidaya udang windu ( Penaeus monodon) sudah lama di kenal oleh masyarakat Indonesia, sejak tahun 1970, pada awal tahun 1970 – 1990 produksi udang windu yang dihasilkan dari budidaya meningkat dengan pesat, namun seiring berjalannya waktu hingga pada tahun 2009 budidaya udang windu mengalami kemunduran. Salah satu faktor penyebab kegagalan budidaya udang di tambak adalah kurangnya pemahaman para pelaku budidaya akan teknik budidaya yang baik dan benar dalam suatu sistem budidaya, tidak jarang berujung pada munculnya serangan penyakit pada udang dan akhirnya gagal produksi, dan ini biasanya sering terjadi pada budidaya sistem tradisional (ekstensif), akan tetapi sistem intensif juga sangat rentan terkena penyakit. Oleh karena itu perlunya mengetahui konsep dasar pemeliharaan dari budidaya sebelum diterapkan (Suyanto dan Takarina, 2009).

1.2 Kerangka Pemikiran

Usaha pembesaran merupakan langkah akhir dalam suatu sistem budidaya udang windu (penaeus monodon). Faktor penentu keberhasilan suatu usaha pembesaran udang windu intensif adalah manajemen pemeliharaan yang terjaga dan terkontrol dengan baik, oleh sebab itu diperlukan upaya yang sangat maksimal dalam penerapannya. Proses pembesaran udang windu intensif sendiri terkadang menemui beberapa kendala seperti parameter kualitas air yang tidak terkontrol dengan baik, serta pengelolaan air dan pakan yang buruk. Jika kendala tersebut tidak ditangani dengan tepat, maka usaha pembesaran udang windu tersebut bisa mengalami kegagalan produksi (panen). Salah satu hal yang paling dihindari oleh pembudidaya adalah infeksi penyakit.

Infeksi penyakit itu sendiri salah satunya bisa diakibatkan oleh manajemen pemeliharaan yang tidak terkontrol dengan baik. Oleh karena itu sangat perlu memperhatikan manajemen pemeliharaan. Apabila manajemen pemeliharaan pada pembesaran udang windu telah dilaksanakan dan terkontrol dengan baik, maka tingkat produktivitas udang windu yang dibudidayakan pun akan meningkat. Tingkat produktivitas juga akan berpengaruh langsung pada pendapatan yang akan diterima.

Penerapan manajemen pemeliharaan yang baik akan meningkatkan pertambahan produktivitas udang windu. Selain tingkat produktivas yang tinggi ada beberapa faktor lain juga yang akan mempengaruhi pendapatan yang akan diterima dalam kegiatan pemeliharaan udang windu, yaitu tingkat harga dan permintaan. Semakin tinggi tingkatan harga dan permintaan yang ada maka akan semakin besar pula pendapatan yang akan diterima. Kegiatan manajemen pemeliharaan udang windu yang dilakukan memiliki biaya yang harus dikeluarkan untuk menunjang kegiatan pemeliharaan tersebut. Adapun biaya produksi yang harus dikeluarkan yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost). Jika total biaya produksi dan pendapatan sudah diketahui, maka akan bisa terlihat apakah usaha tersebut layak atau tidak untuk

(4)

Pembesaran Udang Windu Sistem Intensif

Manajemen Pemeliharaan

Pengelolaan Air

Parameter Kualitas Air

Pakan

Produktivitas

Analisis Finansial

Harga

Biaya

Permintaan

Pendapatan

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran

1.3 Tujuan

Tujuan dari kegiatan praktik kerja lapang (PKL) ini adalah untuk mengetahui teknik dan cara manajemen pemeliharaan pembesaran udang windu sistem intensif dengan baik, serta menganalisa secara ekonomi dari kegiatan pembesaran udang windu tersebut.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biologi Udang Windu

(5)

Udang windu (Penaeus monodon) memiliki sifat-sifat dan ciri khas yang dapat membedakannya dengan udang-udang yang lain. Udang windu bersifat euryhaline, yakni secara alami bisa hidup diperairan yang berkadar garam yang tinggi, yakni 5-45 ppt (part per thousand). Kadar garam yang ideal untuk pertumbuhan udang windu adalah 19-35 ppt. Sifat lain yang juga menguntungkan adalah ketahanannya terhadap perubahan suhu atau temperatur yang dikenal sebagai eurythemal (Suyanto dan Mujiman, 2004).

2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi

Agung (2007) dalam dunia internasional, udang windu (Penaeus Monodon) dikenal dengan nama black tiger, tiger shrimp atau tiger prawn. Adapun udang windu dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Animalia Phyillum : Arthropoda Class : Malacostraca Ordo : Decapoda Family : Penaeidae Genus : Penaeus

Species : Penaeus monodon Fabricus

Tubuh udang windu terdiri dari dua bagian yaitu kepala dan dada (cephalothorax) dan perut (abdomen). Pada bagian cephalothorax terdiri dari 13 ruas, yaitu 5 ruas kepala dan 8 ruas dada. Bagian kepala terdiri dari antenna, antenulle,mandibulla dan 2 pasang maxillae. Kepala dilengkapi dengan 3 pasang maxilliped dan 5 pasang kaki jalan (peripoda). Bagian perut atau abdomen terdiri dari 6 ruas yang tersusun seperti genting (atap). Pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang (pleopod) dan sepasang uropods (mirip ekor) yang membentuk kipas bersama-samatelson yang berfungsi sebagai alat kemudi (Tricahyo, 1995).

Gambar 2. Morfologi udang windu terlihat dari samping (Suwignyo, 1990).

2.1.2 Sifat dan Tingkah Laku

Benih udang yang biasanya masih kecil tidak menyukai cahaya yang terang, suka sembunyi dilumpur pada siang hari akan tetapi ia mengarahkan gerakannya ke arah cahaya yang lemah (Cholik, 1998).

(6)

Masalah itu terjadi bisa disebabkan oleh jumlah makanan yang kurang, kadar garam meningkat, temperatur meningkat, kadar oksigen menurun, atau pun karena timbulnya senyawa-senyawa beracun. Udang windu juga memiliki kebiasaan menyukai berenang melawan arus, sering berkerumun pada saluran air masuk, sedang bagian kepalanya dibenamkan atau ditenggelamkan pada air yang datangnya berlawanan arah (Suyanto dan Mujiman, 1989).

2.1.3 Habitat dan Kebiasaan Makan

Udang windu umumnya menyukai kondisi tekstur dasar perairan yang lempung atau lumpur berpasir. Selama daur hidupnya, udang windu memiliki fase hidup yang berbeda yaitu, fase hidup di laut, fase hidup diperairan muara sungai dan fase hidup di pantai. Fase hidup udang di laut yaitu pada saat stadia menuju dewasa, telur, nauplius, zoea, mysis hingga pasca larva. Sedangkan pada stadia awal, pasca larva akan hidup diperairan muara sungai dan pantai (Ghufran dan Kordi, 2010).

Suyanto dan Takarina (2009) mengatakan bahwa berdasarkan pada kebiasaan makan, udang dapat dikelompokkan kedalam golongan hewan pemakan segala (omnivora). Pada awal fase kehidupannya, udang mulai mencari pakan alami berupa plankton nabati seperti ganggang (diatomae). Selain dari makanan tersebut udang juga mulai makan plankton hewani dari jenis rotifera, protozoa, dan copepoda. Sedangkan apabila udang telah mencapai ukuran dewasa, maka mulai makan daging hewan lunak seperti moluska dan krustasea (jenis kerang-kerangan dan udang kecil). Namun, udang windu lebih cepat tumbuh bila makanannya mengandung kadar protein tinggi sekitar 35-40% dan cenderung menyukai makanan asal hewan (protein hewani). Selain pakan alami udang juga membutuhkan pakan buatan berupa pelet sebagai pakan tambahan untuk menunjang pertumbuhannya biasanya diberikan pada pembesaran udang semi intensif dan intensif.

Masih menurut Suyanto dan Takarina (2009) udang windu termasuk hewan yang memakan makanannya dengan lambat karena menguyahnya sedikit demi sedikit dengan menggunakan capitnya lalu dimasukkan kedalam mulut, tidak bisa sekaligus. Sifat lain yang juga perlu diperhatikan adalah caranya menemukan makanannya melalui penciumannya (chemosensory) dan bukan melalui penglihatannya (Cholik, 1998).

2.2 Pengelolaan Air

Penggantian air secara berulang-ulang dan teratur sangat perlu untuk menjaga agar kualitas air tetap baik. Kegiatan ini juga perlu dilakukan agar merangsang pergantian kulit udang (moulting) dan akan mempengaruhi laju pertumbuhan udang. Pergantian air bisa dilakukan dengan gerakan pasang surut atau pun menggunakan pompa air mekanis (Kungvankij et al, 1987).

(7)

dimaksudkan untuk membuang muatan bahan-bahan yang menyebabkan penurunan pada kualitas air, juga dimaksudkan untuk mengurangi kepekatan kadar kimia yang ada didalam air (Cholik, 1988).

Haris (1988) mengatakan bahwa upaya peningkatan oksigen pada umumnya dilakukan dengan aerasi. Peralatan untuk meningkatkan oksigen pada budidaya udang semi intensif yang umumnya ditemui adalah kincir. Cara kerja aerasi terjadi karena kontak air yang mengandung oksigen relatif lebih rendah dengan udara yang mengandung oksigen jauh lebih tinggi, sehingga terjadilah proses difusi.

Wardoyo dan Djokosetyanto (1988) dengan kata lain yang menjadi tujuan adanya aerasi adalah mentransfer oksigen dari udara agar terlarut di dalam air. Secara menyeluruh tujuan dari adanya pemberian aerasi adalah :

a. Meningkatkan konsentrasi oksigen yang yang terkandung dalam air.

b. Menguapkan senyawa atau bahan yang bisa menimbulkan bau dan rasa yang tidak diinginkan

dari dalam air.

c. Menghilangkan gas methana, ammonia dan hidrogen sulfida dari dalam dan dasar perairan yang

sifatnya sangat berbahaya.

Semakin besar udang yang telah dipelihara, maka akan semakin banyak oksigen yang dibutuhkan untuk proses pernafasan. Dalam hal ini, tambak dengan padat tebar udang yang tinggi sebaiknya harus memasang kincir untuk menambah kelarutan udara dalam air (Suyanto dan Mujiman, 1989).

2.3 Kualitas Air

Sumeru dan Anna (1992) mengatakan bahwa kualitas air merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam kegiatan budidaya udang windu. Pengelolaan kualitas air dalam kegiatan budidaya udang windu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh, karena kualitas air yang tidak terjaga bisa berakibat buruk terhadap keberlangsungan hidup udang yang dibudidayakan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemantauan kualitas air diantaranya adalah salinitas, suhu, pH (potensial of hidrogen), dan oksigen terlarut.

2.3.1 Salinitas

Sumeru dan Anna (1992) salinitas adalah tingkat atau jumlah kadar garam yang terdapat pada suatu perairan. Berdasarkan toleransinya terhadap salinitas, maka udang windu termaasuk kedalam golongan euryhalinelaut, yaitu hewan laut yang mampu hidup pada air tawar. Akan tetapi tidak jarang juga ditemukan di beberapa tempat udang windu mampu hidup pada salinitas 40 permil, namun terbukti mengalami pertumbuhan yang lambat. Nilai salinitas yang optimal bagi udang windu adalah 15-25 permil.

(8)

terkuras untuk keperluan tersebut. Dalam usahanya menghindari kelebihan kadar garam di dalam tubuhnya, maka akan terjadi pengerasan eksoskeleton yang dapat mengakibatkan gagal ganti kulit (moulting). Satu-satunya cara untuk mengatasi salinitas yang terlalu tinggi adalah melakukan pengenceran dengan menggunakan air tawar.

2.3.2 Derajat Keasaman (pH)

Keadaan pH (potential of hydrogen) air laut yang akan digunakan di tambak dapat menunjukan tingkat kesuburan (daya produktivitasnya). Kisaran pH 7,5-9,0 dikategorikan baik atau optimal untuk kehidupan udang windu. Pertumbuhan udang akan terhambat apabila pH terlalu tinggi (diatas 9,5) atau terlalu rendah (dibawah 5,0) bahkan dapat mengakibatkan kematian (Kungvankij et al, 1987).

Cholik (1988) mengatakan bahwa selama periode 24 jam pH air dapat berubah-ubah, sehubungan dengan kadar CO2 dalam air meningkat yang diiringi dengan turunnya tingkat pH.

Pada siang hari kadar CO2 digunakan tumbuhan untuk proses fotosintesis, sehingga pH pun

menjadi naik. Nilai pH air terendah biasanya ditemukan pada jam 04.00 dan pH mengalami titik tertinggi pada jam 16.00. Nilai pH dapat menurun karena adnya proses respirasi dan pembusukan zat-zat organik. Nilai pH rendah itu dapat menurunkan pH darah udang yang disebut denganacidosis sehingga fungsi darah untuk mengangkut oksigen juga menurun sehingga terjadi kesulitan pernafasan pada udang.

2.3.3 Suhu

Cholik (1998) suhu adalah salah satu faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme. Suhu air sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kehidupan udang. Kisaran suhu yang dianggap bagi pertumbuhan udang windu adalah 28º C-30º C.

Ahmad (1991) Pengaruh suhu secara langsung adalah pada suhu di bawah 25-18º C udang masih mampu bertahan hidup akan tetapi nafsu makannya mulai menurun. Suhu air 12-18º C mulai berbahaya dan pada suhu di bawah 12º C udang windu akan mati kedinginan. Selain pengaruh langsung yang dapat mematikan, suhu juga secara tidak langsung mempengaruhi metabolisme, daya larut gas-gas, termasuk oksigen serta berbagai reaksi kimia dalam air. Semakin tinggi suhu air, maka akan semakin tinggi pula laju metabolisme udang yang berarti semakin besar pula konsumsi oksigennya, padahal kenaikan suhu tersebut bahkan mengurangi daya larut oksigen di dalam air.

2.3.4 Oksigen Terlarut

(9)

hasil difusi dari udara, terbawa melalui air hujan (presipitasi) dan hasil fotosintesisfitoplankton. Sebaliknya, kandungan oksigen terlarut dalam air dapat berkurang karena dimanfaatkan oleh aktivitas respirasi dan perombakan bahan organik. Kekurangan oksigen dapat pula dialami akibat terhalangnya difusi karena stratifikasi salinitas yang dapat terjadi setelah hujan lebat.

Difusi oksigen hanya terjadi dengan cepat pada lapisan permukaan air, sedangkan pada lapisan di bawahnya, justru ditempat hidup udang, difusi berjalan sangat lambat. Untuk membantu distribusi oksigen ke lapisan bawah, diperlukan alat aerasi yang dapat berupa blower, atau pun kincir air (paddle wheel). Fungsi alat-alat aerasi tersebut selain dapat mempercepat difusi oksigen dan distribusinya ke lapisan bawah atau dasar air pada tambak, dapat juga membantu melepaskan oksigen ke atmosfir pada keadaan yang terlalu jenuh (Sumeru dan Anna,1992).

Boyd (1990) jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh organisme akuatik tergantung spesies, ukuran, jumlah pakan yang dimakan,aktivitas, suhu, dan lain-lain. Konsentrasi oksigen yang rendah dapat menimbulkan gangguan makan (anorexia), stress, dan kematian. Apabila dalam suatu kolam terdapat kandungan oksigen terlarut sama dengan atau lebih besar dari 5 mg/l, maka proses reproduksi dan pertumbuhan ikan atau udang akan berjalan dengan baik (Boyd, 1982).

2.4 Pakan

Cholik (1988) udang windu memiliki sifat dapat memakan pakan alami seperti udang-udang kecil, cumi-cumi dan sebagainya, tetapi dapat juga menggunakan pakan buatan. Oleh karena itu dalam kegiatan pembesaran dengan teknologi semi intensif atau intensif, udang harus diberi pakan buatan (tambahan) agar udang dapat tumbuh dengan baik dan maksimal. Dalam setiap kegiatan budidaya, pakan selalu diberikan dalam jumlah yang banyak sehingga mengambil bagian yang paling besar dalam hal pengeluaran biaya.

Wedjatmiko (1989) dalam melakukan suatu kegiatan usaha budidaya udang secara semi intensif selain faktor mutu pakan yang harus terpenuhi, faktor teknik pemberian pakan juga harus diperhatikan untuk menunjang keberhasilan budidaya

2.4.1 Cara Pemberian Pakan

Cara pemberian pakan hendaknya dilakukan uji pakan tersebut tenggelam atau tidak, selain itu juga perlu memperhatikan mutu dan masa berlaku pakan tersebut (Wedjatmiko, 1989)

Syarat mutlak untuk terpenuhinya cara pemberian pakan yang baik adalah merata, dalam arti diusahakan agar satu individu udang memperoleh bagian pakan yang sama dengan yang lainnya. Pada awal penebaran, umur PL (post larva) yang ditebar biasanya sama, sehingga dengan pemberian pakan yang merata pertumbuhannya diharapkan akan merata atau seragam (Nurdjana, Sumeru, dan Arifin, 1989).

(10)

dengan hanya melakukan pemberian dari pematang akan memerlukan waktu panen yang lebih lama (Wedjatmiko, 1989)

2.4.2 Waktu dan Frekuensi

Dalam pemberian pakan hendaknya disesuaikan dengan tingkah laku dan efektivitas udang yang dipengaruhi oleh intensitas cahaya, sehingga dalam pemberian pakan lebih efisien dan efektif dilakukan pada saat intensitas cahaya rendah atau gelap. Pada udang dewasa dilakukan lebih sering karena kemampuan metabolic rate dan kecepatan makan yang lebih dibanding ikan yang lebih muda (Nurdjana, Sumeru dan Arifin, 1989).

Sedangkan pada frekuensi pakan akan ditentukan oleh umur atau stadia udang, tingkat kesuburan tambak dan stabilitas pakan yang rendah hendaknya dilakukan lebih sering karena pakan yang hancur akan sulit dimakan oleh udang. Selain itu frekuensi pemberian pakan juga bisa dikatakan sangat bervariasi dan sangat tergantung daya tampung makan udang tersebut, makin kecil daya pakan yang ditampung maka akan semakin sering pula pakan akan diberikan (Wedjatmiko, 1989).

2.4.3 Jumlah

Kegunaan Pakan akan berperan secara efisien apabila diberikan dalam jumlah yang cukup, dalam arti tidak berlebihan. Jumlah pakan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan optimal akan berbeda pada setiap stadia perkembangan udang. Udang yang lebih muda membutuhkan persentase jumlah pakan yang lebih banyak dibandingkan dengan bobot tubuhnya (Nurdjana, Sumeru dan Arifin, 1989).

Ukuran atau dosis pakan yang diberikan tergantung dari bobot udang, pengukuran bobot udang dilakukan seminggu sekali dengan cara sampling pertumbuhan. Selain itu juga, jenis dan mutu daripada pakan yang digunakan akan sangat mempengaruhi dengan dosis pakan yang diberikan (Wedjatmiko, 1989).

2.4.4 Kontrol Pakan

Nurdjana, Sumeru, dan Arifin (1989) mengatakan bahwa dalam pemberian pakan perlu untuk memasang anco (feeding tray) yang mana tujuannya adalah sebagai alat kontrol. Dengan pemasangan anco tersebut akan dapat diketahui apakah pakan yang diberikan sudah tepat. Maksudnya dosis dan frekuensi pakan yang diberikan dapat diatur dan disesuaikan dengan pemberian pakan yang selanjutnya. Apabila pada anco masih terdapat sisa pakan yang diberikan sebelumnya, maka jumlah pakan yang akan diberikan pada pemberian pakan yang selanjutnya bisa dikurangi dosisnya.

2.5 Hama dan Penyakit

(11)

dikelompokkan dalam tiga golongan, yaitu golongan pemangsa (predator), golongan penyaing (kompetitor), dan golongan pengganggu. Contoh dari golongan predator antara lain, ular, burung, katak, dan lain-lain. Sedangkan dari golongan kompetitor antara lain ikan nila, ikan belanak, kepiting liar, atau udang-udang liar. Untuk hama pengganggu biasanya dari hewan-hewan liar yang bisa menularkan suatu penyakit, karena hewan liar yang ada di tambak merupakan pembawa (carrier) penyakit bagi udang meskipun hewan liar itu sendiri tidak menderita sakit. Misalnya, udang putih atau udang api-api.

Pada dasarnya penyakit pada udang windu timbul dan mewabah dapat dijelaskan dari hubungan keterkaitan antara inang, patogen (penyebab penyakit), dan lingkungan. Penurunan kualitas lingkungan akibat penumpukan bahan organik, dan sebagai dampak dari kegiatan intensifikasi tambak menyebabkan udang stress dan akhirnya rentan terhadap penyakit. Penyakit timbul pada udang disebabkan oleh patogen penyebab penyakit, diantaranya virus, bakteri, protozoa, dan lain-lain. Contoh penyakit yang disebabkan oleh virus salah satunya yaitu, penyakit bercak putih. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri biasanya didominasi oleh vibrio sp. Sedangkan pada protozoa (parasit) yang mana bersifat menempel pada tubuh udang yang dijangkiti, misalnya penyakit insang hitam (Herlina, 2004).

BAB III

METODE PENGUMPULAN DATA

3.1 Tempat danWaktu

Kegiatan Praktik Kerja Lapang (PKL) akan dilaksanakan di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang. Waktu kegiatan Praktik Kerja Lapang akan dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2016.

BLUPPB Karawang terletak di Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Cilebar, Km 7 Kota Karawang, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Letak BLUPPB itu sendiri berbatasan langsung dengan :

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Pantai Utara Jawa.

b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Dusun Cimunclak.

c. Sebelah Timur berbatasan dengan sungai Ciwadas.

Lahan komplek BLUPPB Karawang memiliki topografi yang relatif cukup baik dengan luas kawasan BLUPPB ±390 Ha, yang terdiri dari lahan berupa tambak/kolam inti, kawasan penyangga, fasilitas perumahan dan kantor serta lahan plasma. BLUPPB Karawang bersuhu rata-rata 26-35ºC, sumber untuk mengairi kolam yang berada di BLUPPB berasal dari Sungai Buntu dengan rata-rata debit air 50-150 liter/detik.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang akan digunakan dalam kegiatan praktik pemeliharaan pembesaran udang windu antara lain :

(12)

b. Timbangan

c. Jala atau jaring

d. Refraktometer

e. Thermometer

f. pH meter

g. Kincir air

h. Pompa

i. Generator set

Sedangkan untuk bahan yang akan digunakan dalam kegiatan praktik pemeliharaan pembesaran udang windu antara lain

a. Kapur

b. Desinfektan

c. Pupuk

d. Benih udang windu atau benur

e. Pakan

f. Probiotik

3.3 Metode Kerja Praktik

Metode yang digunakan pada Praktik Kerja Lapang ini adalah dengan partisipasi aktif dalam kegiatan pemeliharaan pembesaran udang windu di Balai Layanan Usaha produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Metode atau cara untuk mendapatkan data yang akan digunakan dalam penyusunan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut :

a. Data Primer

Data ini diperoleh dengan cara mahasiswa ikut terlibat langsung dalam kegiatan pembesaran udang windu mulai dari persiapan lahan hingga panen. Selain itu mahasiswa juga akan melakukan wawancara dengan pimpinan, karyawan dan staf serta pihak-pihak lain yang bersangkutan untuk mendapatkan informasi secara lengkap yang terdapat di lapangan mengenai kegiatan pembesaran udang windu untuk kesempurnaan penulisan Tugas Akhir (TA).

b. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dengan cara mengumpulkan literatur, membaca dari berbagai sumber buku, internet serta media cetak atau media elektronik yang ada kaitannya dengan masalah pengumpulan data.

(13)

Menganalisa data yang diperoleh dari kegiatan teknis pemeliharaan pembesaran udang windu. Data yang harus di analisa adalah, data pertumbuhan, data kualitas air dan lain-lain. Untuk memperoleh data tersebut harus mengikuti dan sesuai dengan rencana kerja yang telah direncanakan. Adapun rencana kerja dari pemeliharaan pembesaran udang windu adalah sebagai berikut:

a. Pengeringan

Air yang ada di dalam tambak dibuang menggunakan pompa, pastikan tambak benar-benar kering dengan sempurna. Pengeringan secara sempurna berfungsi untuk membunuh bakteri penyebab penyakit (patogen) yang ada di dalam tambak.

b.Pengapuran

Pengapuran bertujuan untuk menunjang perbaikan kualitas tanah dan air dengan menggunakan kapur zeolit dan dolomit dengan dosis masing-masing biasanya 1 ton/ha.

c. Pemupukan

Kemudian lakukan pemupukan yang penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan luas tambak, dengan tujuan mempercepat pertumbuhan plankton (pakan alami) dan menetralkan senyawa beracun.

d.Pengisian Air

Setelah dibiarkan selama 3 hari, masukkan air kedalam tambak. Isi air setinggi 10-25 cm dan biarkan selama beberapa hari lagi, untuk memberi kesempatan bibit-bibit plankton tumbuh secara merata. Setelah itu masukkan lagi air hingga mencapai ketinggian 80 cm. Untuk menyuburkan plankton sebelum benur ditebar, air dikapur lagi menggunakan dolomit atau zeolit dan biarkan selama 7-10 hari. Untuk pemberian probiotik diberikan seminggu sekali dengan dosis disesuaikan juga dengan kebutuhan dan luas tambak.

e. Penebaran Benur

Penebaran benur dilakukan setelah plankton tumbuh dengan baik. Penebaran benur harus dilakukan secara hati-hati, karena benur masih lemah dan mudah stress pada lingkungan baru. Oleh karena itu pada saat penebaran, benur harus dilakukan adaptasi suhu, adaptasi udara, dan adaptasi salinitas (aklimatisasi) terhadap benur, dengan cara merendam kantong plastik ke dalam kolam selama 15 menit, lalu buka plastik dan lipat pada bagian ujungnya dan biarkan selama 15 menit. Untuk adaptasi salinitas dilakukan dengan cara memasukkan air tambak ke dalam kantong plastik secara perlahan-lahan, setelah itu biarkan benur keluar dengan sendirinya.

f. Pengelolaan Pakan

(14)

disesuaikan dengan ukuran udang yang diukur (sampling). Pengamatan nafsu makan dilakukan disetiap pemberian pakan melalui kontrol pada anco (feeding tray).

g.Pengelolaan Kualitas Air

Pengamatan kualitas air yang harus dilakukan adalah : suhu, salinitas, oksigen terlarut, pH dan lain-lain. Dilakukan setiap hari untuk menghindari terjadinya fluktuasi pada parameter kualitas air tersebut.

h.Pergantian Air

Pergantian air dilakukan sesuai kebutuhan, jika dirasa air yang ada di tambak atau kolam sudah mulai menurun tingkat kecerahannya, yang mana artinya air yang ada di tambak sudah kotor oleh sisa pakan dan kotoran udang. Maka bisa dilakukan dengan cara penyiponan (membuang kotoran) menggunakan selang atau pompa air. Setelah itu air yang terbuang bisa diganti dengan air yang baru.

i. Monitoring Hama dan Penyakit

Dilakukan setiap hari untuk memastikan udang tidak terganggu atau terserang hama dan penyakit, agar tumbuh kembang udang sesuai dengan yang diharapkan.

j. Sampling

Kegiatan yang dilakukan pada sampling antara lain, Pengamatan, pengukuran laju pertumbuhan udang, dan perhitungan pakan yang dilakukan 7-10 hari sekali. Pengambilan contoh sampel udang menggunakan jala tebar dengan teknik diambil beberapa tititk sampel yang dianggap mewakili.

k.Panen

Pemanenan dilakukan apabila target umur pemeliharaan sudah cukup dan udang sudah mencapai ukuran pasar yang bernilai ekonomis. Namun pada umumnya udang windu dapat dipanen setelah mencapai ukuran berat rata-rata minimal 20-30 gram per ekor (>3 bulan).

3.5 Analisa Usaha

Analisa usaha merupakan suatu analisa untuk mengetahui biaya yang telah dikeluarkan pada pembesaran udang windu agar diketahui tingkat kelayakan usahanya. Analisa usaha yang digunakan dalam mengolah data yang dilaksanakan pada praktik kerja lapang, antara lain : a. Total Biaya Produksi

Total biaya produksi adalah biaya keseluruhan yang harus dikeluarkan untuk memproduksi suatu produk. Adapun rumus untuk mencari total biaya produksi, yaitu :

Total Biaya Produksi = Biaya Tetap + Biaya Variabel

(15)

Pendapatan adalah hasil dari nilai penjualan dan produksi selama satu siklus atau periode. Adapun rumus untuk mencari nilai pendapatan adalah sebagai berikut :

Pendapatan = Jumlah Produksi x Harga Jual

c. Laba/Rugi

Laba atau rugi merupakan selisih antara penerimaan atau pendapatan dan total biaya produksi. Laba diperoleh jika selisih antara pendapatan dan total biya produksi bernilai positif, sebaliknya jika selisih antara pendapatan dan total biaya produksi bernilai negatif, maka bisa dikatakan rugi. Rumus untuk mencari nilai laba/rugi adalah sebagai berikut :

Laba/Rugi = Pendapatan – Total Biaya Produksi

       

d. Break Event Point (BEP)

Rumus untuk mencari nilai titik impas (BEP) unit adalah sebagai berikut :

BEP Unit = Total Biaya

Harga/ekor - Biaya Variabel Jumlah produksi

Sedangkan untuk mencari nilai titik impas (BEP) harga adalah sebagai berikut :

BEP Harga = Biaya Tetap

(16)

Pendapatan

e. Return Cost Ratio (R/C)

R/C ratio merupakan perbandingan antara Total Pendapatan dengan Total Biaya. Suatu usaha dikatakan layak jika R/C ratio lebih dari 1. Semakin tinggi nilai R/C ratio, maka akan semakin besar pula keuntungan yang diperoleh. Adapun rumus untuk mencari nilai R/C ratio adalah sebagai berikut :

R/C = Total Pendapatan Total Biaya

DAFTAR PUSTAKA

Agung. M.U.K. 2007. Penelusuran Efektifitas Beberapa Bahan Alam Sebagai Kandidat Antibakteri Dalam Mengatasi Penyakit Vibriosis Pada Udang Windu. Makalah Kajian Kepustakaan UNPAD. Jatinangor.

Ahmad. M. dan T. Dahril. 1988. Biologi Udang Yang Dibudiyakan Dalam Tambak. Seminar Aquabisnis Bengkalis. Riau.

Ahmad. T. 1991. Pengelolaan Mutu Air Yang Penting Dalam Tambak Udang Intensif, Balai Penelitian Perikanan Budidaya, Maros.

Amri. K. 2003. Budidaya Udang Windu Secara Intensif. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Antaranews. 2015. KKP Bangkitkan Udang Windu Untuk Kemandirian Pangan. Kementerian Kelautan Dan Perikanan. Jakarta.

Boyd. C.E. 1982. Water Quality in Warm Water Fish Pond. Auburn University Agricultural Experimenta Satation. Auburn Alabama.

Boyd. C.E. 1990. Water Quality in Pond For Aquaculture. Binningham Publishing Co. [BPS] Badan Pusat Statistik, 2015. Ekspor Udang Menurut Negara Dan Tujuan Utama.

Cholik. F. 1988. Pengaruh Mutu Air Terhadap Produksi Udang Tambak. Makalah seminar sehari pentingnya pengelolaan mutu air dalam meningkatkan produktivitas tambak udang. Semarang.

(17)

[DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan, 2009. Statistik Perikanan Budidaya Indonesia. Direktorat Jendral Perikanan Budidaya. Jakarta

Ghufran. M. dan K. Kordi. 2010. Budidaya Udang Laut. Penerbit Andi. Yogyakarta.

Haris. E. 1988. Aspek Teknis Pembesaran Udang. Makalah untuk seminar memacu keberhasilan dan pengembangan usaha pertambakan. Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

Herlina. N. Editor, 2004. Pengendalian Hama Dan Penyakit Pada Pembesaran Udang. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Kamsari. 2015. Menuju Produsen Udang Nomor Satu. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. IPB. Bogor.

Kungvankij. F. Pudadera, B.J. Tiro, L.B. Potesta, I.O and Chua, T.E. 1987. Budidaya udang : Desain Kolam, Pengopersian Dan Pengelolaannya. Diterjemahkan oleh Suyanto dan Harjono. Direktoral Jendral Perikanan. Jakarta

Nurdjana M.L, Sumeru S.U, dan Arifin Z. 1989. Efisiensi Penggunaan Pakan Pada Budidaya Udang Intensif Dan Semi Intensif. Makalah untuk Lokakarya Efisiensi Penggunaan Pakan Udang. Jakarta.

Sumeru. S.U. dan S. Anna. 1992. Pakan Udang Windu (penaeus monodon). Kanisius. Bandung. Suyanto. R. dan A. Mujiman. 1989. Budidaya Udang Windu. Penebar Swadaya. Jakarta.

Suyanto. R. dan A. Mujiman. 2004. Budidaya Udang Windu. Penebar Swadaya. Jakarta. Suyanto. R. dan E.P. Takarina. 2009. Budidaya Udang Windu. Penebar Swadaya. Jakarta.

Suwignyo. S. 1990. Avertebrata Air. Lembaga Sumber Daya Informasi. Institut Teknologi Bogor. Bogor. Tricahyo. E. 1995. Biologi Dan Kultur Udang Windu (Penaeus monodon Fab). Akademika Pressindo.

Jakarta.

Wardoyo. S.T.H. dan D. Djokosetyanto. 1988. Pengelolaan Kualitas Air Di Tambak Udang.

Makalah untuk seminar memacu keberhasilan dan pengembangan usaha pertambakan. Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

Wedjatmiko. 1989. Teknik Pemberian Pakan Pada Budidaya Udang Windu Secara Intensif. Temu Karya Ilmiah Penelitian Menuju Program Swasembada Pakan Ikan Budidaya. Jakarta.

(18)

Lampiran 1

Ekspor udang menurut negara dan tujuan utama (Berat Bersih), 2009-2014

NO Negara Berat Bersih (Ton)

2010 2011 2012 2013 2014

1 Jepang 32.669,4 31.000,2 32.497,6 32.943,7 27.597,8

2 Hongkong 4.237,7 3.466,5 2.777,9 2.665,4 2.464

3 Tiongkok 5.958,8 5.843,4 6.315,4 5.600,1 5.531,1

4 Singapura 2.238,7 2.280,6 2.979,9 3.137,2 3.433,8

5 Malaysia 2.895,6 2.801,3 2.593,7 2.959,1 4.071,2

6 Australia 220,3 562,7 752,7 895,8 780,7

7 Amerika Serikat

43.560,9 55.007 59.137,9 64.520,6 85.838,7

8 Inggris 5.024,3 3.234,2 1.783,2 2.779 2.145

9 Belanda 891,9 593,9 614,6 530,2 1.095,2

10 Perancis 1.841,7 1.080,1 995 1.097,6 762,4

11 Jerman 557,8 475,9 277,2 145 380,9

12 Belgia 2.828,4 2.786 1.013,7 687 885

13 Italia 1.336,4 1.279,4 947 926,8 1.268,6

14 Lainnya 9.675,1 9.417,2 10.213 8.099,4 12.265

15 Jumlah 113.937 119.828,4 122.898,8 126.986,9 148.519,4 Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS), 2015

Lampiran 2.

Ekspor udang menurut negara dan tujuan utama (Nilai), 2009-2014

NO Negara Nilai (Ribu US$)

2010 2011 2012 2013 2014

1 Jepang 332.615,1 368.991,3 364.968,8 409.638,7 370.568,9

2 Hongkong 21.738,6 21.207,6 20.412,6 23.032,1 23.324,3

3 Tiongkok 11.812,2 25.206,7 39.711,9 58.643,7 52.117

(19)

5 Malaysia 4.829,8 4.106,2 6.790,1 9.460,4 14.029,6

6 Australia 1.993,3 6.507 7.809,6 11.858,1 11.727,8

7 Amerika Serikat

350.614,1 493.272,3 482.264,1 686.703,5 102.7223,5

8 Inggris 40.251,8 30.860,5 16.383,9 34.529,1 32.224,7

9 Belanda 5.477,9 4.384,9 5.002,9 5.346,9 12.552,7

10 Perancis 13.838,3 8.749,4 8.744,4 11.204,7 9.204,4

11 Jerman 4.687,1 4.219,3 3.162,1 1.806,1 5.503,2

12 Belgia 21.867,3 26.975,8 9.372,6 6.300,8 9.492,5

13 Italia 3.989 4.277,5 3.060,2 3.431,7 5.780,9

14 Lainnya 42.156,5 58.901,1 87.931,5 72.920,2 115.626,6

15 Jumlah 861.802,8 1.066.005,2 1.065.260,2 1.346.351,7 1.706.784,4 Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS), 2015

Lampiran 3

Kuesioner Tugas Akhir

1. Tentang Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya

a. Kapan didirikan Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya Karawang?

b. Apa yang melatarbelakangi didirikannya Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya

karawang?

c. Apa Visi dan Misi Balai Layanan Uasaha Produksi Perikanan Budidaya Karawang?

d. Bagaimana keadaan geografis serta batas wilayah Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan

Budidaya Karawang?

e. Bagaimana Struktur organisasi di balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya

Karawang?

f. Fasilitas apa saja yang di miliki oleh Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya

Karawang sebagai penunjang produksi perikanan ataupun kinerja pegawai?

g. Komoditas apa saja yang di produksi di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya

Karawang?

2. Sarana Produksi

a. Berapa banyak kolam yang dimiliki Balai layanan Usaha Perikanan Budidaya Karawang untuk

proses produksi pembesaran udang windu sistem intensif? b. Berapa ukuran masing-masing kolam udang windu?

c. Berapa kapasitas kolam dalam sekali produksi?

d. Berapa lama usia ketahanan kolam yang digunakan?

(20)

3. Bahan Baku Produksi

A. Benih

a. Darimana sumber benur udang windu yang digunakan untuk pembesaran?

b. Bagaimana ciri-ciri benur udang windu yang baik?

c. Bagaimana cara penangan benur udang windu yang baik sebelum dilakukan pembesaran?

B. Pakan

a. Jenis pakan apa yang di gunakan untuk pembesaran udang windu secara intensif?

b. Darimana pakan itu didapat?

c. Berapa persentase pemberian pakan yang digunakan?

C. Bahan Lain

a. Bahan pendukung apa saja yang digunakan dalam pembesaran udang windu sistem intensif?

b. Berapa jumlah dosis dari setiap bahan pendukung?

4. Teknik Pembesaran udang vaname secara intensif

A. Persiapan media

a. Apa saja alat yang dibutuhkan dalam persiapan media pembesaran udang windu sistem intensif?

b. Bagaimana mekanisme dalam penyiapan media?

c. Berapa waktu yang dibutuhkan dalam persiapan media?

B. Proses Pembesaran

a. Berapa jumlah udang windu yang diproduksi dengan menggunakan sistem intensif?

b. Berapa padat tebar yang digunakan dalam satu kolam budidaya?

c. Berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam proses pembesaran udang windu dengan

menggunakan sistem intensif?

d. Apa saja faktor penetu keberhasilan pembesaran udang windu dengan menggunakan sistem

intensif?

e. Bagaimana cara manajemen pakan yang baik?

f. Bagaimana cara manajemen kualitas air yang baik?

g. Bagaimana cara manajemen hama penyakit, dan cara pengendaliannya apabila ikan terserang

penyakit?

h. Bagaimana teknik pemanenan yang dilakukan?

(21)

Lampiran 4

Tabel Pemberian Pakan

No Umur Udang Jenis Pakan Dosis

Frekuensi (Kali/Hari) 1

(22)

27 28 29 30

Lampiran 5

Tabel Manajemen Kualitas Air

No Minggu Jenis Parameter

Oksigen Terlarut pH Salinitas Suhu

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Lampiran 6 Tabel Pertumbuhan

No Tanggal Jumlah Sampel Rata-Rata

(23)

4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Lampiran 7

Jadwal Praktik Kerja Lapang (PKL)

No KEGIATAN

BULAN

Maret April Mei

I II III IV I II III IV I II III IV

1 Perbaikan tambak X

2 Pengeringan tambak X

3 Pengapuran X

5 Pemupukan X

6 Pengisian air X

7 Penebaran benih X

8 Pengelolaan pakan X X X

(24)

10 Pergantian air X X X

11 Monitoring Hama dan

Penyakit X X X X X X X X

12 Sampling X X X X X X X X

Diposting 19th March 2016 oleh alfian nur

Lokasi: Sukamandijaya, Ciasem, Subang Regency, West Java, Indonesia   

Tambahkan komentar

Gambar

Tabel Pemberian Pakan
Tabel Pertumbuhan

Referensi

Dokumen terkait