ISSN : 1978-0370
MITRA HUTAN TANAMAN
Vol. 5 No. 2, Agustus 2010
Mitra Hutan Tanaman adalah media resmi publikasi ilmiah semi populer dalam bidang hutan tanaman dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman,
dengan frekuensi terbit tiga kali setahun
Penanggung Jawab
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman
Dewan Redaksi
Ketua Merangkap Anggota Drs. Riskan Effendi, M.Sc
Anggota
Ir. A. Syaffari Kosasih, MM Ir. Harbagung Dra. Illa Anggraeni
Sekretariat Redaksi
Ketua Merangkap Anggota
Kepala Bidang Pelayanan dan Evaluasi Penelitian P3HT
Anggota
Kepala Sub Bidang Pelayanan Penelitian Kristina Yuniati, S. Hut
Rohmah Pari, S. Hut
Diterbitkan oleh:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
Kementerian Kehutanan
Alamat
Kampus Balitbang Kehutanan Jl. Gunung Batu Nomor 5, Bogor, Po. Box 331
Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005 E-ma
ISSN : 1978-0370
MITRA HUTAN TANAMAN
Vol. 5 No. 2, Agustus 2010
DAFTAR ISI
1. KERAGAMAN DAN STRATEGI KONSERVASI GENETIK JENIS MERBAU (Intsia bijuga (Colebr.) O. Kuntze) DI PAPUA The Diversity and Genetic Conservation Strategies of Merbau
(Intsia bijuga(Colebr.) O. Kuntze) in Papua
Faisal D. Tuheteru _____________________________________ 39-50
2. TINJAUAN KERAGAMAN GENETIK DAN IMPLIKASI KONSERVASI PULAI (Alstonia scholaris (L). R. Br.)
Review of Genetic Variety and the Implication on the Conservation of Pulai (Alstonia scholaris (L).R.Br.)
Agung Yudhi Nugroho _________________________________ 51-55
3. MEMAHAMI SIFAT-SIFAT TANAH GAMBUT UNTUK OPTIMASI PEMANFAATAN LAHAN GAMBUT Understanding the Characteristics of Peat Soil towards the Optimization of Peat Land’s Utilization
Enny Widyati dan/and Tati Rostiwati _____________________ 57-68
4. POTENSI JENIS KAYU UNGGUL BAHAN BAKU KERAJINAN DI NUSA TENGGARA TIMUR
Potency of Superior Wood Species as Material for Wood-Craft in East Nusa Tenggara
Slamet Edi Sumanto ___________________________________ 69-79
5. TEKNIK PENANAMAN LANGSUNG DAN
PENGGUNAANNYA DALAM RANGKA REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN
Direct Seeding Method and Its Application for Forest and Land Rehabilitation
KERAGAMAN DAN STRATEGI KONSERVASI GENETIK
JENIS MERBAU (
Intsia bijuga
(Colebr.) O. Kuntze)
DI PAPUA
The Diversity and Genetic Conservation Strategies of Merbau
(
Intsia bijuga
(Colebr.) O. Kuntze) in Papua
Faisal Danu Tuheteru
Staf Pengajar Jurusan Kehutanan, Universitas Haluoleo, Kendari
Kampus Bumi Tridharma Anduonohu Kendari Telp. 0401-3199108/Fax : 0401-391692 email: [email protected]
I. PENDAHULUAN
Merbau (Intsia bijuga O. Kuntze) merupakan salah satu jenis tumbuhan hutan pantai dan hutan hujan tropika dataran rendah di Indonesia. Jenis tersebut dapat menghasilkan kayu komersial dengan nilai ekonomi tinggi (Rimbawanto et al., 2006b).
Didasarkan pada sifat kuat dan awet, kayu merbau saat ini dianggap sebagai jenis kayu paling berharga di daerah Asia Tenggara, dan biasanya dimanfaatkan untuk bahan bangunan rumah, jembatan, perkapalan, perabot rumah, veneer, jendela, pintu, dan lain-lain. Secara tradisional jenis kayu ini banyak digunakan oleh masyarakat lokal untuk bahan ukiran, perahu, dan bahan bangunan rumah tradisional (Martawijaya et al., 2005). Harga kayu merbau berkisar ±US$ 200 tiap meter kubik kayu bulat dan US$ 450-600 tiap meter kubik kayu gergajian. Penghasil kayu merbau terbesar di dunia saat ini adalah Indonesia (Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat) dan Papua New Guinea (Telapak dan EIA, 2005). Secara resmi Indonesia mengekspor kayu bulat merbau pada tahun 1998 sebesar 50.000 m3 dan dalam kurun waktu kurang dari 4 tahun (tahun 2001) meningkat sepuluh kali lipat menjadi 660.000 m3
Dampak dari eksploitasi merbau yang berlebihan tersebut di atas berakibat status konservasi merbau di Indonesia telah masuk dalam Red List IUCN sebagai jenis yang beresiko punah karena eksploitasi komersial, sedangkan menurut the Convention on the Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES) merbau diklasifikasikan sebagai jenis yang vulnerable
(CITES Appendix III). Demikian pula menurut the World Conservation
.
Monitoring Centre (WCMC) jenis ini tergolong jenis yang terancam (threatened) (Telapak dan EIA, 2005). Akhir-akhir ini berbagai organisasi konservasi mengusulkan agar merbau dapat masuk ke dalam CITES Appendix II (ER:
endangered). Apabila usul ini terealisasi dan penebangan merbau dilarang maka akan sangat merugikan bagi pendapatan daerah Papua. Oleh karena itu, langkah antisipasi untuk menjawab kampanye negatif tersebut perlu segera dilakukan.
Berdasarkan uraian di muka maka perlu dilakukan upaya penyelamatan dan perlindungan merbau untuk menghindari jenis tersebut dimasukkan ke dalam
CITES Appendix II. Upaya-upaya konservasi sumberdaya genetik serta rehabilitasi hutan merbau di daerah penyebaran alaminya perlu segera direalisasikan. Diharapkan dengan upaya tersebut jenis merbau dapat dikonservasi, mendapatkan benih berkualitas untuk pembangunan hutan tanaman, serta menyediakan IPTEK di bidang konservasi genetik, perbanyakan, dan silvikultur.
II. KARAKTERISTIK MERBAU
1. Taksonomi dan Morfologi
Intsia bijuga O. Kuntze tergolong dalam famili Fabaceae, subfamili Caesalpinoideae. Dalam perdagangan kayu, jenis ini dikenal dengan sebutan merbau, namun secara lokal di beberapa daerah di Indonesia memiliki nama berbeda. Di Maluku dan Papua lebih banyak dikenal dengan sebutan kayu besi
karena kayunya yang keras, di Sumatera disebut merbau, di Kalimantan disebut
maharan, di Buton disebut bayam, serta di Muna dinamai ogifi. Sebutan merbau ataupun kayu besi mencakup juga kerabat dekatnya Intsia palembanica Miq. (Soerianegara and Lemmens 1994; Martawijaya et al., 2005) .
Pohon I. bijuga dapat mencapai tinggi 50 m dengan diameter batang 160-250 cm; tinggi batang bebas cabang 25 m. Biasanya berbanir dengan rata-rata mencapai lebar 2 m dan tebal 10 cm. Kulit batang mengandung banyak hijau daun (Martawijaya et al., 2005; Hendromono et al., 2006).
Tajuk agak rapat dan berwarna tua. Daun majemuk bersirip genap, berselang (Martawijaya et al., 2005; Hendromono et al., 2006).
Keragaman dan Strategi Konservasi Genetik Jenis Merbau (Intsia bijuga (Colebr.) O. Kuntze) di Papua
Faisal Danu Tuheteru
Gambar 1. a. Biji/benih (Foto: Danu), b. Kecambah (Foto: Danu) dan c. Tegakan merbau di Manokwari (Foto: Mahfudz)
2. Habitat dan Sebaran
Intsia bijuga sering ditemukan di daerah pantai dengan curah hujan lebih dari 2.000 mm/tahun. Tumbuh dominan di hutan hujan tropis dataran rendah. Di Papua, baik di hutan alam primer maupun hutan alam sekunder, pada umumnya jenis ini tumbuh berasosiasi dengan jenis-jenis lain seperti Intsia palembanica Miq., Pometia pinnata Forst., Calopyllum inophyllum L., dan
Palaquium amboinensis Burck. I. bijuga tumbuh baik pada berbagai tipe tanah, tetapi tidak pada gambut dengan iklim A-D (Martawijaya et al., 2005; Mahfudz
et al., 2006).
Sebaran alami I. bijuga meliputi Australia, Burma, Kamboja, India, Malaysia, Madagaskar, Papua New Guinea, Philipina, Tanzania, Thailand, Vietnam, Indonesia (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Maluku, Nusa Tenggara Timur dan Papua) dan pulau-pulau Pasifik. Di Papua, merbau dijumpai di seluruh dataran rendah yang mencakup 9 kabupaten, seperti di daerah kepala burung yaitu Kabupaten Manokwari (Sidei, Oransbari, Wandoswaar, Prafi, Bintuni, Bobo, Wariki, dan Boustiga) dan Kabupaten Sorong (Teminambuan, Ayamaru, Pulau Batanta dan Pulau Salawati), di pantai utara yaitu di Kabupaten Jayapura (Demta, Sarmi, Sentani, Skou, Tannusa, Borowai, Bahongko dan Kemtuk), Kabupaten Biak Numfor (Pulau Biak dan Pulau Numfor), Kabupaten Serui (Pulau Serui dan Waropen), Kabupaten Nabire dan kabupaten lainnya (Merauke sebelah utara, Fakfak di Kabupaten Jayawijaya) (Martawijaya et al., 2005; Mahfudz et al., 2006).
3. Sifat dan Struktur Kayu
Ciri umum kayu merbau (Mandang dan Pandit, 1997; Martawijaya et al., 2005):
Warna : - kayu teras berwarna sangat bervariasi dari kelabu coklat dan kuning coklat sampai coklat merah cerah atau hampir hitam, - kayu gubal berwarna kuning pucat sampai kuning muda, tebal
5-7,5 cm dan dapat dibedakan dengan jelas dari kayu teras.
Tekstur : - kasar merata.
Serat : - panjang serat 1,181μ dengan diameter 21,6 μ.
- arah serat kebanyakan lurus, kadang tidak teratur dan berpadu. Kesan raba : - permukaan kayu licin.
Kilap : - permukaan kayu mengkilap indah. Berat jenis : - berkisar 0,63-1,04 dengan rata-rata 0,84. Elastisitas : - modulus elastisitasnya sebesar 158.
Pori : - susunan pori tersebar, soliter dan bergabung 2-3 arah radial, jarang sekali berkelompok,
- pori berbentuk lonjong, diameter 150-200 μ, frekuensi 1-2 tiap mm2,
- pori jarang sekali berisi tilosis, tetapi sering berisi endapan berwarna kuning.
Parenkim : - termasuk tipe paratrakeal, berbentuk selubung lengkap dan tebal sampai berbentuk aliform dan sedikit konfluen,
- terdapat juga parenkim apotrakeal berbentuk pita,
- jari-jari homoseluler, uniserat dan multiserat, lebar 50-125 μ, tinggi 300-400 μ, frekuensi 4-6 tiap mm.
Kandungan : - selulosa 46,9%, lignin 22,6%, pentosan 17,1%, abu 0,9%, dan silika 0,2%.
4. Potensi dan Produksi Kayu Merbau
Beberapa kalangan menilai bahwa potensi kayu merbau di Papua sebenarnya rendah. Latumahina (2003) dalam
No.
Malik et al. (2005) menyebutkan bahwa potensi kayu merbau layak tebang dalam hutan produksi Papua adalah 10-11 pohon/ha. Hal ini juga dipertegas oleh aktivis Conservation International (CI) dan World Wild Foundation (WWF) yang menyatakan bahwa potensi kayu merbau di Papua rendah. Seiring dengan eksploitasi yang terus menerus, maka dalam beberapa tahun terakhir produksi kayu merbau cenderung terus menurun (lihat Tabel 2).
Tabel 1. Potensi kayu merbau di Papua menurut kabupaten
Kabupaten
Sumber: Dinas Kehutanan Provinsi Papua (2003) dalam Malik et al. (2005) Keterangan: *) Luas hutan berdasarkan jumlah luas Hak Pengusahaan Hutan
Keragaman dan Strategi Konservasi Genetik Jenis Merbau (Intsia bijuga (Colebr.) O. Kuntze) di Papua
Faisal Danu Tuheteru
Tabel 2. Jumlah produksi kayu bulat di Papua dalam tahun 1994-2003
No. Tahun Produksi kayu bulat (m3 Produksi kayu bulat merbau (m
) 3
)
1 704.882,79
2 1995/1996 1.640.662,70 492.198,81 3 1996/1997 1.889.614,10 569.884,23 4 1997/1998 2.180.655,82 654.196,74 5 1998/1999 1.506.755,71 452.026,71 6 1999/2000 762.325,33 228.697,60 7 2001 828.041,30 248.412,39 8 2002 484.292,57 251.816,41 9 2003 170.722,23*) 65.588,93*)
Sumber: Dinas Kehutanan Papua (2003) dalam Malik et al. (2005)
Keterangan: *) Data sampai Agustus 2003 dan banyak perusahaan yang belum melaporkan produksi kayunya terutama dari perusahaan Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK) dan Ijin Pemanfaatan Kayu Masyarakat Adat (IPKMA)
5. Aspek Silvikultur
Biji merbau termasuk dalam golongan benih orthodoks yang masa dormansinya cukup lama dengan dormansi tergolong dalam dormansi fisik. Untuk mematahkan dormansi tersebut dapat dilakukan skarifikasi. Teknik skarifikasi yang efisien adalah dengan mengikir atau mengampelas sedikit bagian strophile benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan pengikiran dan direndam air dingin 24 jam memberikan keberhasilan perkecambahan 93,33%, sedangkan perendaman dengan menggunakan H2SO4
selama 30 menit bisa menghasilkan persen kecambah 100%.
Perbanyakan vegetatif merbau dapat dilakukan dengan teknik stek pucuk dan stump. Teknik stek pucuk dengan menggunakan hormon NAA konsentrasi 100 ppm bisa memberikan hasil persen tumbuh 71%. Apabila menggunakan teknik stump, bahan stump yang baik adalah anakan (seedling) yang diameter leher akar antara 0,5-1,0 cm, dan stump dibuat dengan panjang bagian batang 10 cm dan panjang bagian akar 15 cm. Persen tumbuh stump yang langsung ditanam (tanpa penyimpanan) bisa mencapai 70%, sedangkan yang terlebih dahulu melalui penyimpanan secara berturut-turut adalah 56,7% apabila disimpan 1 minggu, 43,3% apabila disimpan 2 minggu, dan 30% apabila penyimpanan mencapai 4 minggu (Suripatty, 2001 dalam Mahfudz et al., 2006; dan Mahfudz
et al., 2006).
III. KERAGAMAN GENETIK MERBAU
Diversitas genetik sangat penting karena merupakan faktor utama yang memungkinkan populasi beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, evolusi jangka panjang, serta menjadi fondasi untuk pemuliaan gehetik (Lande and
Shannon, 1996 dalam Rimbawanto dan Widyatmoko, 2006).
Keragaman genetik jenis merbau telah diteliti oleh Rimbawanto dan Widyatmoko (2006). Penelitian mengambil contoh daun dari semai di bawah pohon induk merbau yang berasal dari 4 populasi, yakni Hutan Penelitian Carita (Banten), Ternate (Maluku Utara), Manokwari dan Nabire (Papua) dengan jarak antar pohon induk minimal 100 m pada populasi hutan alam. Analisis dilakukan dengan penanda molekuler DNA yaitu Random Amplified Polymorphic DNA
(RAPD) yang menggunakan 15 primer menghasilkan 77 loci (locus) polimorfik. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata keragaman genetik di dalam populasi adalah 0,296 (rata-rata nilai diagonal lihat dalam Tabel 3) yang mengindikasikan bahwa keragaman genetik ke empat populasi masih cukup tinggi. Angka ini lebih besar dari rata-rata keragaman genetik kelompok jenis tropis maupun jenis konifer, yaitu 0,211 dan 0,207 (Hamrichk, 1989 dalam Rimbawanto dan Widyatmoko, 2006). Rata-rata jarak genetik antar populasi adalah 0,141; artinya 86% dari keragaman genetik berada di dalam populasi. Angka ini jauh lebih besar daripada Intsia palembanica Miq. sebesar 0,04 (Lee
et al., 2004, dalam
Populasi
Rimbawanto dan Widyatmoko, 2006), Shorea leprosula Miq. sebesar 0,04 (Rimbawanto dan Suharyanto, 2005), dan Santalum album L. sebesar 0,038 (Rimbawanto et al., 2006a); tetapi lebih kecil dari Eusideroxylon zwageri T et B. sebesar 0,182 (Sulistyawati et al., 2005) dan Araucaria cunninghamii D. Don. sebesar 0,194 (Widyatmoko et al., 2005).
Tabel 3. Nilai keragaman genetik dalam populasi (diagonal) dan antar populasi (bawah diagonal) merbau berdasarkan Nei’s gene diversity, 1973 dan
Nei’s original measures of genetic distance, 1972
Carita Manokwari Ternate Nabire Carita 0,317
Manokwari 0,039 0,315
Ternate 0,216 0,212 0,257
Nabire 0,176 0,168 0,032 0,294 Sumber : Rimbawanto dan Widyatmoko (2006)
IV. STRATEGI KONSERVASI GENETIK MERBAU
Keragaman dan Strategi Konservasi Genetik Jenis Merbau (Intsia bijuga (Colebr.) O. Kuntze) di Papua
Faisal Danu Tuheteru
(Cochen et al., 1991, dalam Soekotjo, 2004). Salah satu jenis pohon tropis di Indonesia yang diprioritaskan (jenis target) untuk dikonservasi genetik dan pemuliaannya adalah merbau (Rimbawanto et al., 2006b).
Soekotjo (2004) menjelaskan bahwa konservasi SDGH sangat bergantung pada tujuan yang ingin dicapai, yakni: 1) bagi pemulia pohon, konservasi sumberdaya genetik (SDG) bertujuan agar SDG telah tersedia dengan mudah pada saat pemulia akan menggunakan SDG tersebut, 2) bagi ahli biologi evolusioner, konservasi SDG bertujuan untuk menjamin dan memelihara kemampuan adaptasi, evolusi dan seleksi dari jenis dalam populasinya agar mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang akan terjadi khususnya dari persyaratan ekologi, ekonomi, serta viabilitas yang mendukung ekosistem, 3) bagi ahli kehutanan, konservasi bertujuan agar jenis-jenis target dan habitatnya lestari, dan 4) pendapat awam, konservasi bertujuan agar keanekaragaman hayati terjamin.
Beberapa literatur menyebutkan bahwa upaya konservasi dan pemuliaan merbau masih sangat terbatas dan belum banyak dilakukan (Mahfudz, 2006; Rimbawanto dan Widyatmoko, 2006; Rimbawanto et al., 2006b). Secara umum, konservasi genetik merbau dapat dilakukan dengan strategi konservasi in-situ
dan ex-situ.
1. Konservasi Genetik Merbau Cara Ex-Situ
Menurut Finkeldey and Hattemer (2007), konservasi ex-situ dapat didekati dengan 2 pendekatan sekaligus, yakni dinamis dan statis. Koservasi genetik ex-situ dinamis adalah preservasi populasi di dalam hutan buatan yang terdiri dari tanaman hasil perbanyakan seksual di luar habitat alaminya untuk tujuan pemuliaan dan pembangunan hutan tanaman. Pada jenis merbau, sampai saat ini konservasi genetik ex-situ dinamis belum dilakukan. Oleh karena itu pengumpulan materi genetik (baik generatif maupun vegetatif) yang unggul harus segera dilakukan untuk mendukung program pemuliaan seperti uji species, uji provenans, uji keturunan, serta pembangunan kebun benih unggul (lihat Gambar 2). Selain untuk kepentingan konservasi genetik, hal ini juga dimaksudkan untuk mendukung pembangunan hutan tanaman merbau, ketersediaan tanaman pengayaan, reforestasi dan rehabilitasi lahan.
Gambar 2. Bagan alur kegiatan konservasi ex-situ (program pemuliaan) merbau (dimodifikasi dari Prastyono et al., 2003)
Berdasarkan penelitian Rimbawanto dan Widyatmoko (2006), teknik
ex-situ menjadi fokus pendekatan konservasi jenis merbau. Untuk konservasi ex-situ, informasi keragaman genetik sangat diperlukan untuk menentukan jumlah populasi maupun jumlah individu di dalam populasi yang perlu dikoleksi agar dapat tetap mempertahankan dasar keragaman genetik yang dimiliki. Dari kegiatan eksplorasi untuk tujuan pemuliaan dan konservasi ex-situ, maka ditentukan untuk satu wilayah perlu dikoleksi jumlah individu yang cukup banyak dalam satu populasi, dengan jumlah populasi yang sedikit. Berdasarkan hasil analisis variasi genetik dan dendrogram kekerabatan populasi, maka disimpulkan bahwa keragaman genetik merbau di wilayah Papua dapat diwakili populasi Manokwari dan Nabire. Untuk kepentingan konservasi genetik merbau dari wilayah Papua, perlu dikumpulkan minimum 30 pohon tiap populasi.
Hutan Alam - Nilai jual tinggi/komersial
- Kebutuhan masyarakat tinggi - Tingkat eksploitasi tinggi
- Mengalami ancaman kepunahan dan erosi
genetik
- Proses regenerasi alami lambat - Kegiatan konservasi belum dilakukan
Spesies Target
Pohon Induk
Benih/bibit
Kebun Uji Ketrunan
Bank Klon
Uji Provenans
Kebun Benih & Kebun Pangkas
Benih/Bibit Unggul
- Hutan Tanaman - Tanaman Pengayaan - Reforestasi/rehabilitasi - Reboisasi
- Identifikasi/eksplorasi potensi dan daerah sebaran
- Melakukan sampling terhadap populasi yang mewakili seluruh daerah
sebaran dan keanekaragaman genetik
- Menentukan kandidat pohon induk yang memeiliki keunggulan
Keragaman dan Strategi Konservasi Genetik Jenis Merbau (Intsia bijuga (Colebr.) O. Kuntze) di Papua
Faisal Danu Tuheteru
Rimbawanto et al. (2006b) menyebutkan bahwa ada beberapa lokasi yang dijadikan sebagai tempat konservasi ex-situ merbau, diantaranya hutan-hutan penelitian Sumber Waringin (Bondowoso, Jawa Timur), Pasir Awi, Dramaga, Yanlapa, Haurbentes (Bogor, Jawa Barat), Carita (Banten), Pasir Hantap (Sukabumi, Jawa Barat), dan Cikampek (Jawa Barat).
2. Konservasi Genetik Merbau Cara In-Situ
Konservasi in-situ adalah konservasi genetik suatu jenis atau kelompok jenis di daerah sebaran alaminya (range and pattern of natural distribution). Secara teori konservasi ini paling cocok untuk konservasi genetik jangka panjang (long-term genetic conservation) pada sebagian besar jenis, terutama jenis yang sudah mulai langka dan terancam punah. Karena dilakukan pada ekosistemnya, maka interaksi genetik dengan lingkungan serta adaptasi dan evolusi yang ada tetap dapat dipertahankan secara lestari (Prastyono et al., 2003; Saparjadi, 2005). Menurut International Tropical Timber Organization (IITO) dan Regional Consultation Forum Meeting (RCFM) (2000) dalam Prastyono et al. (2003), tujuan konservasi in-situ adalah: 1) untuk memelihara dan mengabadikan keragaman genetik yang terancam erosi genetik, 2) mengintegrasikan pengelolaan genetik ke dalam keberadaan dan keberlanjutan tujuan dan rencana pengelolaan hutan, 3) memanfaatkan asal-usul sumber populasi untuk kepentingan reboisasi dan pengayaan tanaman, 4) memanfaatkan asal-usul sumber populasi sebagai sumber genetik potensial untuk seleksi dan pemuliaan.
Pengetahuan tentang informasi keragaman genetik dan hubungan kekerabatan populasi sangat diperlukan dalam konservasi in-situ, yaitu untuk menentukan jumlah lokasi yang harus ditetapkan (sebagai areal konservasi) serta luas areal dan jumlah individu di dalamnya (Rimbawanto dan Widyatmoko, 2006). Pertimbangan utama konservasi in-situ adalah minimal 1 (satu) populasi untuk masing-masing zona wilayah serta populasi yang dipilih harus memiliki keragaman genetik yang tinggi (Widyatmoko, 2007). Bawa (1994) dalam
Strategi konservasi genetik in-situ merbau sebenarnya telah dilakukan oleh pemerintah (Kementerian Kehutanan) dengan mewajibkan kepada setiap Pemegang Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu hutan alam (IUPHHK-HA) untuk membangun Areal Sumberdaya Genetik (ASDG) dalam areal kerjanya dengan 2 kategori, yaitu 1) tegakan benih di hutan produksi tetap (HP) seluas 100 hektar dalam setiap areal Rencana Kerja Lima Tahunan (RKLT) dan 2) kawasan plasma nutfah seluas 100-300 hektar dalam areal kerja. Salah satu tujuan pembangunan tegakan benih tersebut adalah untuk memenuhi kebutuhan materi genetik bagi kegiatan pengayaan (Juliaty et al., 1999). Menurut Tokede (2004), meskipun program-program konservasi in-situ melalui kegiatan Prastyono et al. (2003) menyatakan bahwa secara umum luas hutan alam yang diperkirakan cukup sebagai ukuran populasi untuk keperluan konservasi in-situ
adalah 100 hektar. Dengan luasan 100 hektar tersebut diperkirakan inbreeding
dan genetic drift dapat tercegah.
IUPHHK di Papua telah dilakukan, namun belum dilakukan evaluasi, bahkan pengamatan dan pelaporannya tidak terdokumentasi dengan baik.
V. PENUTUP
Sumberdaya genetik tanaman hutan (SDGTH) adalah bagian integral dari keanekaragaman hayati yang merupakan salah satu penyangga kehidupan manusia. Merbau (Intsia bijuga O. Kuntze) merupakan salah satu sumberdaya genetik hutan Indonesia, namun populasinya terus menurun dari tahun ke tahun akibat penebangan hutan alam yang berlebihan untuk memenuhi kebutuhan kayu baik di tingkat lokal maupun internasional, tanpa diimbangi dengan usaha penanaman yang memadai. Oleh karena itu merbau perlu dikonservasi untuk menyelamatkan jenis ini dari ancaman kepunahan. Konservasi jenis merbau dapat dilakukan melalui metode konservasi in-situ maupun konservasi ex-situ.
Eksplorasi bahan genetik merbau dari hutan alam untuk konservasi ex-situ dan kegiatan pemuliaan serta menjaga populasi yang memiliki keragaman genetik yang tinggi di habitat alaminya merupakan agenda mendesak yang harus dilakukan oleh semua pemangku kepentingan (stakeholders) seperti pemerintah (daerah dan pusat), dunia usaha perkayuan, lembaga penelitian, Perguruan Tinggi, dan masyarakat Papua secara khusus.
DAFTAR PUSTAKA
Finkeldey R and H.H Hattemer. 2007. Tropical Forest Genetics. Springer. Gottingen.
Hendromono, N. Mindawati, S. Bustomi, A.S. Kosasih, Mahfudz, A. Nirsatmanto, T. Rostiwati, I. Anggraini, R. Bogidarmanti, dan B. Rustaman. 2006. Informasi kesesuaian jenis pohon untuk hutan tanaman di Sumatera dan Kalimantan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Bogor.
Juliaty, N., W. Rusmantoro, dan D. Leppe. 1999. Areal sumberdaya genetik (ASDG) sumber benih berkualitas dan jangka panjang. Prosiding hasil-hasil penelitian Balai Penelitian Kehutanan Samarinda. 30 Maret 1999. Samarinda.
Mahfudz. 2006. Kondisi habitat merbau di hutan Gunung Meja Manokwari. Mitra Hutan Tanaman Vol. I No. 1 Agustus 2006: 23-28
Mahfudz, S. Pudjiono, T. Pamungkas, P.M. Utomo, dan A.S. Basteba. 2006. Merbau (Instia spp.) dan upaya konservasinya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Yogyakarta.
Malik, J., O. Rachman, J. Balfas, dan A. Supriadi. 2005. Kajian efisiensi pemanfaatan kayu merbau dan relokasi industri pengolahannya. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol: 2 No: 1 Maret 2005:59-76
Manan, S. 1997. Hutan, Rimbawan dan Masyarakat. IPB Press. Bogor.
Keragaman dan Strategi Konservasi Genetik Jenis Merbau (Intsia bijuga (Colebr.) O. Kuntze) di Papua
Faisal Danu Tuheteru
Martawijaya, A., I. Kartasudjana, Y.I. Mandang, S.A. Prawira, dan K. Kadir. 2005. Atlas Kayu Indonesia, Jilid II. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Bogor.
Prastyono, H.T.W. Teguh, dan B. Ismail. 2003. Ramin (Gonistylus spp.): primadona yang rentan kepunahan. Sylvatropika. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Jakarta.
Rimbawanto, A., A.Y.P.B.C. Widyatmoko, dan P. Sulistyawati. 2006a. Distribusi keragaman genetik populasi Santalum album berdasarkan penanda RAPD. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol: 3 No: 3 Juni 2006: 175-181.
Rimbawanto, A. dan A.Y.P.B.C. Widyatmoko. 2006. Keragaman genetik empat populasi Intsia bijuga berdasarkan penanda RAPD dan implikasinya bagi program konservasi genetik. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol: 3 No: 3 Juni 2006: 149-154.
Rimbawanto, A., dan Suharyanto. 2005. Keragaman genetik populasi Shorea leprosula Miq. dan implikasinya untuk program konservasi genetik. Prosiding Nasional Peningkatan Produktifitas Hutan – Peran konservasi sumberdaya genetik, pemuliaan dan silvikultur dalam mendukung rehabilitasi hutan. Hardiayanto, E.B. (Editor). Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada dan ITTO. Yogyakarta. Hal: 373-382
Rimbawanto, A., T. Pamungkas, L. Hakim, Prastyono, dan D. Eko. 2006b. Database jenis-jenis prioritas untuk konservasi genetik dan pemuliaan. Buku 2. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Yogyakarta.
Saparjadi, K. 2005. Kebijakan dan strategi konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia. Prosiding Nasional Peningkatan Produktifitas Hutan – Peran konservasi sumberdaya genetik, pemuliaan dan silvikultur dalam mendukung rehabilitasi hutan. Hardiyanto, E.B. (Editor). Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada dan ITTO. Yogyakarta. Hal: 315-321
Siran, S.A. 2007. Status Riset Pengelolaan Dipterokarpa di Indonesia. Balai Penelitian Kehutanan Kalimantan. Samarinda.
Soekotjo. 2004. Status riset konservasi genetik tanaman hutan indigenous species
di Indonesia. Prosiding Workshop Nasional Konservasi, Pemanfaatan dan Pengelolaan Sumberdaya Genetik Tanaman Hutan. Yogyakarta, 8 November 2004. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan dan Japan International Cooperation Agency. Hal: 81-86
Soerianegara, I and R.H.J. Lemmens. 1994. Plant Resources of South-East Asia
5.(1) Timber Trees : Major Commercial Timbers. Prosea. Bogor.
Sulistyawati, P., A.Y.P.B.C. Widyatmoko, dan A. Rimbawanto. 2005. Keragaman genetik empat populasi Eusideroxylon zwageri asal Kalimantan berdasarkan penanda RAPD. Prosiding Nasional Peningkatan Produktivitas Hutan – Peran konservasi sumberdaya genetik, pemuliaan dan silvikultur dalam mendukung rehabilitasi hutan. Hardiyanto, E.B. (Editor). Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada dan ITTO. Yogyakarta. Hal:383-395
Emerson Press. Diunduh dari:
Tokede, M.J. 2004. Status riset tentang sumberdaya genetik di Indonesia Timur (Papua). Prosiding Workshop Nasional Konservasi, Pemanfaatan dan Pengelolaan sumberdaya genetik tanaman hutan. Yogyakarta, 8 November 2004. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan dan Japan International Cooperation Agency. Hal : 63-74
Widyatmoko, A.Y.P.B.C. 2007. Pemuliaan dan Aplikasinya. Materi kuliah umum program studi manajemen hutan. Universitas Haluoleo. Kendari. Widyatmoko, A.Y.P.B.C., A. Rimbawanto, dan Suharyanto. 2005. Keragaman
genetik Araucaria cunninghamii menggunakan penanda RAPD. Prosiding Nasional Peningkatan Produktivitas Hutan – Peran konservasi sumberdaya genetik, pemuliaan dan silvikultur dalam mendukung rehabilitasi hutan. Hardiyanto, E.B. (Editor). Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada dan ITTO. Yogyakarta. Hal: 397-408
TINJAUAN KERAGAMAN GENETIK DAN IMPLIKASI
KONSERVASI PULAI (
Alstonia scholaris
(L).R.B)
Review of Genetic Variety and the Implication on the Conservation of
Pulai (
Alstonia scholaris
(L).R.Br.)
Agung Yudhi Nugroho
Mahasiswa Pascasarjana Mayor Silvikultur Tropika Fakultas Kehutanan IPB Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor
Kampus Dalam, Jl. Raya Darmaga Bogor
I. PENDAHULUAN
Indonesia mempunyai hutan yang sangat luas, sehingga keragaman jenisnya sangat banyak. Keanekaragaman jenis tumbuhan hutan di Indonesia meliputi 27.500 jenis tumbuhan berbunga (10% dari seluruh jenis tumbuhan di dunia didominasi oleh hutan tropis basah) (Suhartrislakhdi, 2007). Agar keanekaragaman jenis yang ada tetap stabil harus diimbangi dengan pengelolaan hutan yang lestari.
Alstonia scholaris merupakan salah satu spesies yang ada di hutan Indonesia. A. scholaris mempunyai manfaat yang sangat penting bagi kehidupan manusia, sebab hampir seluruh bagian pohon dapat dimanfaatkan. A. scholaris
dapat digunakan untuk konstruksi ringan, bahan-bahan kerajinan. Kulit batang dapat dimanfaatkan sebagai obat. Menurut Sutomo dan Dyan (2005), dalam masyarakat Hindu Bali kayu A. scholaris digunakan untuk upacara Pitra Yadnya. Selain itu A. scholaris merupakan salah satu spesies yang direkomendasikan untuk hutan tanaman, karena sifatnya yang cepat tumbuh dan kayunya yang lurus.
Pemanfaatan A. scholaris harus dilakukan secara lestari agar jenis ini tidak terancam punah, untuk menjaga kepunahan perlu adanya konservasi genetik. Sebagai langkah awal konservasi genetik perlu adanya pengetahuan keragaman genetik A. scholaris yang ada di Indonesia.
Berdasarkan data-data dan hasil laporan yang dikompilasikan dari berbagai sumber, penulis berharap agar tulisan ini dapat menambah wawasan akan pentingnya kergaman genetik A. scholaris.
II. DESKRIPSI Alstonia scholaris (L).R.B
A. Bioekologi
Alstonia scholaris termasuk dalam famili Apocynaceae. A.scholaris
disebut juga Echites scholaris L., E. pala Ham., Tabernaemontana alternifolia
banyak dijumpai di dataran rendah/pesisir dengan curah hujan tahunan 1000-3800 mm. A. scholaris juga dijumpai pada ketinggian di atas 1000 m dpl. dan dapat tumbuh di atas tanah dangkal, tetapi tidak dapat tumbuh pada daerah yang suhunya kurang dari 8o
B. Kegunaan
C. A.scholaris tersebar luas di Asia Pasifik mulai India dan Sri Lanka sampai daratan Asia Tenggara dan China Selatan, seluruh Maleisia hingga Australia Utara dan Kepulauan Solomon (Direktorat Perbenihan dan Tanaman Hutan, 2001). Menurut Sutomo dan Dyan (2005) penyebaran A. scholaris di Indonesia meliputi wilayah Jawa, Dompu, Sumbawa, Sumba Barat NTT, Gorontalo dan Sulawesi Utara.
Pohon A. scholaris mempunyai manfaat yang sangat penting, biasanya untuk obat tradisional sampai bahan bangunan dan industri pulp dan kertas. Bagian A. scholaris yang dimanfaatkan mulai dari kulit batang sampai pada kayunya. Kayu A.scholaris mempunyai struktur yang tidak awet, sehingga hanya dimanfaatkan untuk konstruksi di dalam ruangan dan untuk industri pulp dan
paper. Kayunya juga dipakai untuk papan tulis. A. scholaris di Amerika Utara digunakan sebagai tanaman hias (Direktorat Perbenihan dan Tanaman Hutan, 2001). Kulit A. scolaris dapat dimanfaatkan untuk obat malaria, penghilang nyeri pada gigi, gigitan ular dan rematik. Getah A. scholaris biasanya dimanfaatkan untuk obat batuk, sakit tenggorokan dan demam (Sutomo dan Mukaromah, 2006). Menurut Valkenberg dan Bunyapraphatsara (2002) kandungan kimia yang terdapat pada A. scholaris diantaranya adalah ekitamina
dan alstonamina.
C. Regenerasi
Alstonia scholaris mempunyai bunga terminalis dengan panjang tangkai perbungaan 7-13 cm. Bunga berbilang lima, panjang bunga lebih dari 1 cm, berwarna putih, krem atau hijau (Soerianegara dan Lemmens, 1993 dalam Tjitrosoepomo, 2002). Buah A. scholaris berbentuk bumbung bercuping dua dan ada lapisan kayunya. Panjang buah berkisar 15-32 cm, berisi banyak benih. Pada kondisi kering buah A. scholaris merekah. Benih panjang 4-5 mm, berwarna coklat, dan mempunyai bentuk pipih memanjang. Penyebaran benih dapat disebar oleh angin. Jumlah benih 37.000-87.000 butir/kg (Direktorat Perbenihan dan Tanaman Hutan, 2001).
Tinjauan Keragaman Genetik dan Implikasi Konservasi Pulai (Alstonia scholaris (L).R.Br.)
Agung Yudhi Nugroho
III. STATUS KONSERVASI
Pemanfaatan Alstonia scholaris semakin meningkat, tanpa diimbangi dengan pengelolaan yang lestari menyebabkan spesies ini berkurang di alam sehingga menyebabkan hampir terencam punah. A. scholaris dilindungi dengan Peraturan Pemerintah No. 7/1999, Keputusan Menteri Kehutanan No. 54/Kpts/UM/2/1972, Keputusan Menteri Kehutanan No .261/Kpts IV/1990. Pada tahun 1998 Alstonia scholaris oleh IUCN dimasukkan ke dalam redlist species pada kategori Lower risk dan Lower concern ver 2.3 atas dasar assesment World Conservation Monitoring Center (IUCN, 2010).
IV.KERAGAMAN GENETIK
Keragaman genetik A. scholaris yang ada di Indonesia berdasarkan Hartati et al. (2007) bernilai dari 0.1370 – 0.2254. Keragaman genetik terbesar terdapat pada populasi Lubuk Linggau yaitu 0.2254, keragaman tersebut melebihi nilai rata-rata keragaman genetik baik untuk kelompok jenis tropis maupun jenis konifer, yaitu 0.211 dan 0.207 (Hamrick,1989 dalam
V. IMPLIKASI DAN STRATEGI KONSERVASI SUMBERDAYA GENETIK
Hertati et al, 2007). Nilai keragaman terendah terdapat pada populasi Makassar yaitu sebesar 0.1370. Analisis keragaman genetik dilakukan dengan penanda RAPD dengan sampel 18 provenan dan setiap provenan diwakili oleh 6 pohon. Delapan belas provenan tersebut yaitu provenan Agam, Solok, Perawang, Lubuk Linggau, Pendopo, Benakat, Banten, Bantul, Gunung Kidul, Bali, Mataram, Sumbawa, Kupang, Timor Tengah Selatan, Gowa, Makassar, dan Kendari.
Analisis kelompok dari 18 provenan A. scholaris yang ada di Indonesia dilakukan dengan menggunakan UPGMA, hingga diperoleh 2 kelompok besar. Kelompok pertama terdiri dari 3 provenan yaitu Lubuk Linggau, Banten, dan Pendopo. Kelompok pertama terbagi menjadi 2 kelompok kecil (sub kelompok) yaitu populasi dari Lubuk Linggau dan Banten, serta Pendopo. Kelompok kedua terdiri dari 15 provenan lainnya yaitu Benakat, Perawang, Agam, Solok, Bali, Kendari, Bantul, Purworejo, Gunung Kidul, Mataram, Sumbawa, Gowa, Makassar, Kupang, dan Timor Tengah Selatan. Kelompok kedua terbagi menjadi 5 sub kelompok. Sub kelompok pertama terdiri dari populasi Benakat, Perawang, Agam, Solok; sub kelompok kedua terdiri dari populasi Bali dan Kendari; sub kelompok ketiga terdiri dari populasi Bantul dan Purworejo; sub kelompok keempat terdiri dari populasi Gunungkidul, Mataram, Sumbawa, Gowa, Makassar; sub kelompok kelima terdiri dari populasi Kupang dan Timor Tengah Selatan.
yang tinggi, strategi konservasi yang dapat digunakan untuk spesies A. scholaris
yaitu konservasi ex-situ dan in-situ. Konservasi in-situ untuk tanaman A. scholaris telah dilakukan di Taman Nasional (TN) Bukit Tiga Puluh di Riau, TN Meru Betiri di Jawa Timur, TN Manupea-Tana Daru di Sumba Barat, TN Laiwanggi-Wanggameti di Sumba Timur, TN Gunung Palung di Kalimantan Barat, TN Kayan Mentarang di Kalimantan Timur. Konservasi ex-situ untuk tanaman A. scholaris telah dilakukan di Plot Konservasi di Yogyakarta (P3HT) (Suhartrislakhadi, 2007 dalam Prihaningtyas, 2008).
Seleksi sumberdaya genetik dari 18 provenen dilakukan berdasarkan jumlah informasi genetik (diversity). Keragaman genetik dari 18 provenan di Indonesia provenan Lubuk Linggau mempunyai keragaman genetik yang paling tinggi diantara yaitu sebesar 0.2254. Keragaman genetik yang tinggi pada provenan Lubuk Linggau perlu dilakukan konservasi genetik, sebab dengan keragaman genetik yang tinggi telah mewakili keragaman genetik dari provenan yang lainnya, selain itu dengan menggunakan keragaman genetik yang paling tinggi akan lebih efisien dan ekonomis.
Strategi konservasi A. scholaris dapat diterapkan dengan metode konservasi ex-situ dinamis. Metode konservasi ex-situ dinamis direkomendasikan sebab jika dilihat dari analisis gerombol menurut UPGMA dari 18 provenan A. scholaris yang ada di Indonesia pengelompokan yang terbentuk tidak berdasarkan letak geografis tertentu, sehingga konservasi dapat dilakukan diluar habitatnya.
Sumber Daya Genetik
Assesment
Keragaman Genetik
Keragaman Rendah
Keragaman Tinggi
Konservasi
Konservasi
In situ
Konservasi
Ex situ
Ex situ
Statis Ex situ
Dinamis
Tinjauan Keragaman Genetik dan Implikasi Konservasi Pulai (Alstonia scholaris (L).R.Br.)
Agung Yudhi Nugroho
VI. KESIMPULAN
1. Nilai keragaman genetik A. scholaris dari 18 provenan yang ada di Indonesia 0.1370 – 0.2254. Keragaman genetik tertinggi terdapat pada populasi Lubuk Linggau yaitu 0,2254, dan nilai keragaman terendah terdapat pada populasi Makassar yaitu sebesar 0,1370 .
2. Analisis gerombol dari 18 provenan A. scholaris yang ada di Indonesia menggunakan UPGMA terdapat 2 kelompok besar. Kelompok pertama terdiri dari 3 provenan yang terbagi menjadi 2 sub kelompok yaitu Lubuk Linggau, Banten, dan Pendopo. Kelompok kedua terdiri dari 15 provenan lainnya, yang terbagi menjadi 5 sub kelompok.
3. Provenan Lubuk Linggau perlu dilakukan konservasi genetik sebab mempunyai keragaman yang paling tinggi. Metode konservasi yang dapat dilakukan dengan metode konservasi ex-situ dinamis. Metode konservasi
ex-situ dinamis direkomendasikan sebab dari hasil analisis pengelompokan tidak berdasarkan letak geografis tertentu, sehingga konservasi dapat dilakukan di luar habitatnya. Selain itu, A. scholaris mudah tumbuh dimana saja bahkan di tanah yang marjinal.
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Perbenihan dan Tanaman Hutan. 2001. Informasi Singkat Benih
Alstonia scholaris (L) R. Br. Departemen Kehutanan. Jakarta.
Hartati, D., Anto Rimbawanto, Taryono, Endang Sulistyaningsih dan AYPBC Widyatmoko. 2007. Pendugaan Keragaman Genetik Di Dalam Dan ntar Provenan Pulai (Alstonia scholaris (L.) R. Br. ) Menggunakan Penanda RAPD. Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol. 1 no. 2, September 2007 Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta.
IUCN. Redlist. 2010.
[29.04.2010].
Prihaningtyas, E. 2008. Perlunya Konservasi Genetik untuk Jenis Pulai (Alstonia scholaris (L) R. Br.). Mitra Hutan Tanaman. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Bogor.
Suhartrislakhadi, D. 2007. Konservasi Sumberdaya Genetik Tanaman Hutan. Majalah Kehutanan Indonesia Edisi II tahun 2007. Jakarta.
Sutomo dan Dyan M.S.P. 2005. Alstonia scholaris (L.) R. Br. Koleksi Kebun Raya “Eka Karya”. UPT Balai Konservasi Tumbuhan LIPI. Bali. Sutomo dan L. Mukaromah. 2006. Marga Alstonia dan Potensinya. Koleksi
Kebun Raya “Eka Karya”. UPT Balai Konservasi Tumbuhan LIPI. Bali.
Tjitrosoepomo, G. 2002. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Cetakan ke-7 Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Understanding the Characteristics of Peat Soil towards the Optimization
of Peat Land’s Utilization
Enny Widyati
1)dan/
and
Tati Rostiwati
2)1) Peneliti Biologi Tanah dan Kesuburan Lahan pada Puslitbang Hutan dan Konservasi
Alam, Jl. Gunung Batu No. 5 Bogor, Telp. (0251) 8633234 Fax. (0251) 8633111 2)
I. PENDAHULUAN
Peneliti Silvikultur pada Pusat Litbang Hutan Tanaman Kampus Balitbang Kehutanan, Jl. Gunung Batu No. 5 Po Box 331
Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005
Dalam komunitas ilmiah baik di tingkat akademisi maupun peneliti terdapat beberapa definisi mengenai lahan gambut. Agus dan Subiksa (2008) mendefinisikan lahan gambut sebagai lahan yang memiliki lapisan tanah kaya bahan organik (C-organik > 18%) dengan ketebalan 50 cm atau lebih. Sedangkan menurut Depnakertrans (2008), lahan gambut adalah lahan yang memiliki ketebalan gambut lebih dari 50 cm. Menurut BBP2SLP (2008), definisi lahan rawa gambut adalah lahan rawa yang didominasi oleh tanah gambut. Menurut Murdiyarso et al. (2004) lahan gambut (lahan rawa gambut) merupakan ekosistem lahan basah (wetlands) yang dicirikan dengan tingginya akumulasi bahan organik dengan laju dekomposisi yang sangat rendah.
Demikian juga dengan definisi tanah gambut. Menurut Balai Besar P2
Gambut terbentuk dari serasah organik yang terdekomposisi secara anaerobik dengan laju dekomposisi jauh lebih lambat dibandingkan dengan laju penambahan bahan organiknya (Chotimah, 2002). Oleh karena itu, dalam sistem klasifikasi taksonomi tanah, tanah gambut disebut Histosols (histos, tissue: jaringan) atau sebelumnya bernama Organosols (tanah tersusun dari bahan organik) (BBP
SLP (2008), yang dimaksud dengan tanah gambut adalah tanah-tanah yang jenuh air, tersusun dari bahan tanah organik berupa sisa-sisa tanaman dan jaringan tanaman yang telah melapuk dengan ketebalan lebih dari 50 cm. Menurut Chotimah (2002), tanah gambut ditujukan pada tanah yang mengandung gambut lebih dari 30%. Adapun menurut Peraturan Menteri Pertanian No. 14/2009, gambut merupakan tanah hasil akumulasi timbunan bahan organik dengan komposisi lebih dari 65% (enam puluh lima persen) yang terbentuk secara alami dalam jangka waktu ratusan tahun dari lapukan vegetasi yang tumbuh di atasnya yang terhambat proses dekomposisinya karena suasana anaerob dan basah.
Mitra Hutan Tanaman Vol.5 No 2, Agustus 2010, 51 - 68
beradaptasi dengan lingkungan jenuh air. Bahan organik penyusun tanah gambut terbentuk dari sisa-sisa tanaman yang belum melapuk sempurna karena kondisi lingkungan jenuh air dan miskin hara. Oleh karenanya lahan gambut banyak dijumpai di daerah rawa belakang (back swamp) atau daerah cekungan yang drainasenya buruk (Agus dan Subiksa, 2008). Penumpukan bahan organik secara terus menerus menyebabkan lahan gambut membentuk kubah (peat dome).
Sampai saat ini, terdapat data yang berbeda-beda mengenai luas lahan gambut di Indonesia. Menurut Setiadi (1995) dalam Chotimah (2002), luas lahan gambut di dunia diperkirakan seluas 38 juta ha, sekitar 26 juta ha (70%) berada di Indonesia. Sedangkan menurut Murdiyarso et al. (2004) menunjukkan bahwa luas lahan gambut dunia sekitar 40 juta ha dimana 50%-nya berada di Indonesia. Dari luasan tersebut, Pulau Sumatera memiliki sekitar 8,9 juta ha, Kalimantan 6,3 juta ha dan Irian Jaya sekitar 10,3 ha Departemen Kehutanan yang sekarang berubah menjadi Kementerian Kehutanan, sebagai pemegang mandat pengelolaan hutan (termasuk hutan rawa gambut) di Indonesia ironisnya tidak dimiliki data luas lahan gambut. Sedangkan data yang dikeluarkan oleh BBP2SLP (2008), luas lahan rawa gambut di Indonesia diperkirakan mencapai 20,6 juta ha atau setara dengan 10,8% dari luas daratan Indonesia. Dari luas tersebut tersebar di Sumatera 35%, Kalimantan 32%, Sulawesi 3%, dan Papua 30%.
II. PEMBENTUKAN GAMBUT
Gambut terbentuk dari timbunan sisa-sisa tanaman yang telah mati, baik yang sudah lapuk maupun belum. Timbunan terus bertambah karena proses dekomposisi terhambat oleh kondisi anaerob dan/atau kondisi lingkungan lainnya yang menyebabkan rendahnya tingkat perkembangan biota pengurai pada ekosistem tersebut. Menurut Hardjowigeno (1986), pembentukan tanah gambut merupakan proses geogenik yaitu pembentukan tanah yang disebabkan oleh proses deposisi dan tranportasi. Hal ini berbeda dengan proses pembentukan tanah mineral yang pada umumnya merupakan proses pedogenik (Hardjowigeno, 1986).
Menurut Andriesse (1994), pembentukan gambut diperkirakan terjadi antara 10.000-5.000 tahun yang lalu (pada periode Holosin) dan gambut di Indonesia terjadi antara 6.800-4.200 tahun yang lalu. Berdasarkan hasil pengukuran dengan teknologi carbon dating (penelusuran umur gambut menggunakan teknik radio isotop) umur gambut di Kalimantan Tengah lebih tua lagi yaitu 6.230 tahun pada kedalaman 100 cm sampai 8.260 tahun pada kedalaman 5 m (Siefermann et al.,1988 dalam
di Pontianak sekitar 0,13 mm per tahun. Di Sarawak Malaysia, laju pertumbuhan berjalan lebih cepat yaitu sekitar 0,22 –0,48 mm per tahun (Agus dan Subiksa, 2008).
Proses pembentukan gambut dimulai dari adanya danau dangkal yang secara perlahan ditumbuhi oleh tanaman air dan vegetasi lahan basah (Agus dan Subiksa, 2008). Tanaman yang mati dan melapuk secara bertahap membentuk lapisan yang kemudian menjadi lapisan transisi antara lapisan gambut dengan sub stratum (lapisan di bawahnya) berupa tanah mineral. Tanaman berikutnya tumbuh pada bagian yang lebih tengah dari danau dangkal ini dan secara membentuk lapisan-lapisan gambut sehingga danau tersebut menjadi penuh (Gambar 1).
Bagian gambut yang tumbuh mengisi danau dangkal tersebut disebut dengan gambut topogen karena proses pembentukannya disebabkan oleh topografi daerah cekungan. Gambut topogen biasanya relatif subur (eutrofik) karena adanya pengaruh tanah mineral. Bahkan pada waktu tertentu, misalnya jika ada banjir besar, terjadi pengkayaan mineral yang menambah kesuburan gambut tersebut. Tanaman tertentu masih dapat tumbuh subur di atas gambut topogen. Gambut yang tumbuh di atas gambut topogen dikenal dengan gambut ombrogen, yang pembentukannya ditentukan oleh air hujan. Gambut ombrogen lebih rendah kesuburannya dibandingkan dengan gambut topogen karena hampir tidak ada pengkayaan mineral (Agus dan Subiksa, 2008).
Mitra Hutan Tanaman Vol.5 No 2, Agustus 2010, 51 - 68
(c)
Gambar 1. Proses pembentukan gambut di daerah cekungan lahan basah: a. Pengisian danau dangkal oleh vegetasi lahan basah, b. Pembentukan gambut topogen, dan c. pembentukan gambut ombrogen di atas gambut topogen dikutip dari Agus dan Subiksa (2008)
Hasil pelapukan gambut topogen membentuk lapisan gambut baru yang lama kelamaan membentuk kubah gambut yang permukaannya cembung (Gambar 2). Menurut CCFPI (2009) pada tempat terbentuknya kubah gambut, tepi kubah yang mempunyai ketebalan gambut relatif lebih tipis biasanya terdapat hutan dengan kayu-kayu yang besar dan vegetasi bawah yang lebat. Makin ke tengah bagian kubah vegetasi menjadi makin jarang karena ketebalan gambutnya makin tebal dan karena tidak lagi mendapat pasokan hara dari limpasan sungai (Gambar 2).
II. SIFAT-SIFAT TANAH GAMBUT
Sifat-sifat tanah (kimia, fisik dan biologi) sangat menentukan tingkat kesuburan tanah. Memahami sifat-sifat tanah ini penting untuk optimasi produksi maupun untuk menunjang suksesnya reforestasi lahan terdegradasi. Demikian juga halnya dengan tanah gambut. Pada makalah ini akan dibahas sifat-sifat kimia dan fisik tanah gambut, sebagai berikut:
A. Sifat-sifat Kimia Tanah Gambut
Sifat-Sifat-sifat kimia tanah gambut di Indonesia sangat ditentukan oleh kandungan mineral, ketebalan, jenis mineral pada sub stratum (di dasar gambut), dan tingkat dekomposisi gambut. Kandungan mineral gambut di Indonesia umumnya kurang dari 5% dan sisanya adalah bahan organik yang terdiri dari senyawa-senyawa humat sekitar 10 hingga 20% dan sebagian besar lainnya adalah senyawa lignin, selulosa, hemiselulosa, lilin, tannin, resin, suberin, protein, dan senyawa lainnya (Agus dan Subiksa, 2008). Secara alamiah lahan gambut memiliki tingkat kesuburan rendah karena kandungan unsur haranya rendah dan mengandung beragam asam-asam organik yang sebagian bersifat racun bagi tanaman. Namun demikian asam-asam tersebut merupakan bagian aktif dari tanah yang menentukan kemampuan gambut untuk menahan unsur hara. Karakteristik dari asam-asam organik ini akan menentukan sifat kimia gambut. Selain meracuni tanaman, asam-asam organik juga mengakibatkan pH gambut sangat rendah. Tanah gambut umumnya bereaksi masam (pH 3,0 - 4,5). Gambut dangkal mempunyai pH lebih tinggi (pH 4,0 - 5,1) daripada gambut dalam (pH 3,1 - 3,9) (Handayani, 2008).
Di sisi lain kapasitas tukar kation (KTK) gambut tergolong tinggi, tetapi kejenuhan basa (KB) sangat rendah. Muatan negatif (yang menentukan KTK) pada tanah gambut seluruhnya adalah muatan tergantung pH (pH dependent charge), dimana KTK akan naik bila pH gambut ditingkatkan, atau sebaliknya. Muatan negatif yang terbentuk adalah hasil dissosiasi hidroksil pada gugus karboksilat atau fenol. Gambut di Kalimantan, mempunyai kandungan kation basa seperti Ca, Mg, K, dan Na sangat rendah terutama pada gambut tebal. Semakin tebal gambut, basa-basa yang dikandungnya semakin rendah dan reaksi tanah menjadi semakin masam (Driessen dan Suhardjo, 1976). Tanah gambut pedalaman di Kalampangan, Kalimantan Tengah mempunyai nilai KB kurang dari 10%, demikian juga gambut di pantai Timur Riau (Agus dan Subiksa, 2008). KTK tinggi menunjukkan kapasitas jerapan (sorption capacity) gambut tinggi, namun karena KB sangat rendah maka kekuatan jerapan (sorption power) lemah, sehingga kation-kation tersebut akan mudah tercuci (Agus dan Subiksa, 2008). Demikian juga halnya dengan unsur hara yang ditambahkan melalui pemupukan menjadi tidak efektif. Untuk efisiensi pemupukan sebaiknya dosis pupuk yang sama dibagi menjadi beberapa kali pemberian pupuk dalam satu rotasi tanaman.
Mitra Hutan Tanaman Vol.5 No 2, Agustus 2010, 51 - 68
Kandungan N total termasuk tinggi, namun umumnya tidak tersedia bagi tanaman karena rasio C/N tinggi. Kadar abu merupakan petunjuk yang tepat untuk mengetahui tingkat kesuburan alami gambut (Handayani, 2008). Pada umumnya gambut dangkal (<1 m) yang terdapat di bagian tepi kubah mempunyai kadar abu sekitar 15%, bagian lereng dengan kedalaman 1 - 3 m berkadar sekitar 10%, sedangkan di pusat kubah yang lebih dari 3 m berkadar <10% bahkan <5% (Handayani, 2008).
Gambut di Indonesia (dan di daerah tropis lainnya) mempunyai kandungan lignin yang lebih tinggi dibandingkan dengan gambut yang berada di daerah beriklim sedang, karena terbentuk dari pohon-pohonan (Driessen dan Suhardjo, 1976). Lignin yang mengalami proses degradasi dalam keadaan anaerob akan terurai menjadi senyawa humat dan asam-asam fenolat (Kononova, 1968) dalam (Agus dan Subiksa, 2008).
Asam-asam fenolat dan derivatnya bersifat fitotoksik (meracuni tanaman) dan menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat (Agus dan Subiksa, 2008). Asam fenolat merusak sel akar tanaman, sehingga asam-asam amino dan bahan lain mengalir keluar dari sel, menghambat pertumbuhan akar dan serapan hara sehingga pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, daun mengalami klorosis (menguning) dan pada akhirnya tanaman akan mati. Turunan asam fenolat yang bersifat fitotoksik antara lain adalah asam ferulat, siringat, p-hidroksibenzoat, vanilat, p-kumarat, sinapat, suksinat, propionat, butirat, dan tartrat (Agus dan Subiksa, 2008).
Berdasarkan sifat-sifat kimia gambut tersebut mengakibatkan bercocok tanam pada lahan gambut, baik untuk pertanian maupun HTI akan memerlukan biaya yang sangat besar. Biaya tersebut diperlukan untuk memberikan input seperti bahan untuk meningkatkan pH, meningkatkan kejenuhan basa, meningkatkan ketersediaan unsur hara makro dan mikro serta untuk menetralkan racun akibat dekomposisi lanjut lignin.
B. Sifat-sifat Fisik Tanah Gambut
Sifat-sifat fisik tanah gambut yang penting untuk dipertimbangkan baik dalam pemanfaatannya untuk pertanian maupun kegiatan rehabilitasi lahan gambut yang terdegradasi meliputi kadar air, berat isi (bulk density, BD), daya menahan beban (bearing capacity), subsiden (penurunan permukaan), dan mengering tidak balik (irriversible drying) (Agus dan Subiksa, 2008).
Gambut mempunyai daya ikat air (water holding capacity) 15 – 30 kali berat keringnya (Ambak dan Melling, 2000 dalam
Namun demikian, kadar air yang tinggi menyebabkan BD gambut menjadi rendah, gambut menjadi lembek dan daya menahan bebannya rendah (Widjaja-Adhi, 1997). BD tanah gambut lapisan atas bervariasi antara 0,1 sampai 0,2 g/cm
Chotimah, 2002). Data yang agak berbeda disampaikan oleh Agus dan Subiksa (2008), kadar air gambut berkisar antara 100 – 1.300% dari berat keringnya. Artinya bahwa gambut mampu menyerap air sampai 13 kali bobotnya. Oleh karena itu keberadaan gambut yang baik sangat penting peranannya sebagai pengatur tata air.
3
pendapat di atas, menurut laporan Rina et al. (2008), BD gambut berkisar antara 0,05 - 0,30 g/cm3.
Tanah gambut dengan kandungan bahan organik (> 65% C-organik) mempunyai BD bervariasi sesuai dengan tingkat kematangan dekomposisinya. Untuk gambut fibrik 0,11-0,12 g/cm3, untuk hemik 0,14-0,16 g/cm3, dan untuk saprik 0,18-0,21 g/cm3. Bila kandungan bahan organik antara 30-60%, kerapatan lindak untuk hemik adalah 0,21-0,29 g/cm3 dan saprik 0,30-0,37 g/cm3
Gambar 3. Pohon Akasia yang dikembangkan di HTI lahan gambut banyak yang tumbang (Foto: Enny, 2009; lokasi: HTI PT. Arara Abadi, Riau)
Rendahnya BD gambut menyebabkan daya menahan atau menyangga beban (bearing capacity) menjadi sangat rendah. Hal ini menyulitkan beroperasinya peralatan mekanisasi karena tanahnya yang lembek. Gambut juga tidak bisa menahan pokok tanaman tahunan untuk berdiri tegak. Hal ini karena akar tunjang tanaman tidak bisa mencengkeram tanah. Akibatnya tanaman perkebunan seperti karet, kelapa sawit atau kelapa, atau tanaman kehutanan misalnya Acasia crassicarpa atau Eucalyptus pellita, seringkali doyong atau bahkan roboh (Gambar 3).
Sifat fisik tanah gambut lainnya adalah sifat mengering tidak balik. Gambut yang telah mengering, dengan kadar air <100% (berdasarkan berat), tidak bisa menyerap air lagi kalau dibasahi. Gambut yang mengering ini sifatnya sama dengan kayu kering yang mudah hanyut dibawa aliran air dan mudah terbakar dalam keadaan kering (Widjaja-Adhi, 1988). Gambut yang terbakar menghasilkan energi panas yang lebih besar dari kayu/arang yang terbakar, sehingga ketika terbakar sulit dipadamkan dan apinya bisa merambat di bawah permukaan dan bisa meluas tidak terkendali.
. Nilai BD sangat ditentukan oleh tingkat pelapukan/dekomposisi bahan organik dan kandungan mineral. Porositas gambut yang dihitung berdasarkan BD dan bobot jenis berkisar antara 75 - 95% (Rina et al., 2008).
Jika tanah gambut dibuka dan mengalami pengeringan karena drainase maka gambut akan ’kempes’ atau mengalami subsidence sehingga terjadi penurunan permukaan tanah. Bila tanah gambut mengalami pengeringan yang berlebihan, koloid gambut menjadi rusak dan terjadi gejala kering tak balik
Mitra Hutan Tanaman Vol.5 No 2, Agustus 2010, 51 - 68
sehingga pertumbuhan tanaman dan vegetasi menjadi kerdil dan merana (Rina et al., 2008).
III. PERANAN EKOSISTEM LAHAN GAMBUT TERHADAP KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
Seperti halnya hutan pada umumnya, hutan yang terbentuk pada ekosistem rawa gambut mempunyai peranan yang sangat penting, baik secara ekonomi maupun secara ekologi. Lahan gambut mempunyai fungsi hidrologi dan lingkungan bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta makhluk hidup lainnya sehingga harus dilindungi dan dilestarikan (BBP2SLP, 2008). Secara
ekonomi ekosistem rawa gambut merupakan tempat konservasi sumber plasma nutfah yang spesifik secara lokal, merupakan habitat ikan dan biota air lainnya, penghasil kayu, dan sumber daya lainnya.
Berdasarkan fungsinya, lahan rawa gambut dibedakan ke dalam kawasan lindung, kawasan pengawetan, dan kawasan reklamasi (pemanfaatan lestari). Kawasan lindung dan pengawetan disebut juga kawasan preservasi atau non-budi daya, sedangkan kawasan reklamasi sebagai kawasan budidaya. Lahan gambut dengan ketebalan lebih dari 3 m termasuk dalam kawasan non-budi daya, dan sebaiknya tidak dibuka untuk pengembangan pertanian (BBP2
Keberadaan gambut yang tidak terganggu dapat menjamin air tetap mengalir secara konsisten dan dapat mencegah banjir dan kekeringan
SLP, 2008).
Dalam kaitan ini, keberadaan lahan gambut, terutama gambut sangat dalam (lebih dari 4 m), sangat penting untuk dipertahankan sebagai daerah konservasi air, terlebih bila pada bagian hilirnya terdapat kota-kota pantai seperti Pontianak, Banjarmasin, Balikpapan, dan Samarinda (BBP2SLP, 2008).
Penurunan permukaan gambut akibat subsiden, baik yang disebabkan oleh drainase maupun dekomposisi, akan menyebabkan menurunnya kemampuan gambut menahan air (Agus dan Subiksa, 2008). Apabila kubah gambut sudah mengalami penciutan setebal satu meter, maka lahan gambut tersebut akan kehilangan kemampuannya dalam menyangga air sampai 90 cm atau ekivalen dengan 9.000 m3/ha (Agus dan Subiksa, 2008). Dengan kata lain lahan disekitarnya akan menerima 9.000 m3
Menurut Keputusan Presiden No. 32 tahun 1990, kawasan lahan rawa gambut dengan ketebalan 3 m atau lebih yang terdapat pada bagian hulu sungai dan rawa, ditetapkan sebagai kawasan lindung bergambut, dan ditujukan untuk
mengendalikan hidrologi wilayah, sebagai penambat air dan pencegah banjir. Lahan gambut sangat dangkal (<50 cm) dapat digunakan untuk sawah, gambut dangkal <200 cm untuk tanaman palawija dan hortikultura, serta gambut sedang (2-<3 m) untuk perkebunan seperti kelapa sawit, karet dan sagu, dengan perencanaan dan penerapan teknologi yang sesuai (BBP2SLP, 2008).
Lahan gambut, terutama gambut sangat dalam di sekitar suatu hutan suaka alam mendapat prioritas untuk dijadikan kawasan preservasi. Demi pengamanan kawasan preservasi ditetapkan antara dua sungai dengan batas-batas alami yang jelas, walau di dalamnya terdapat juga lahan non-gambut dan ketebalan gambut kurang dari 3 m. Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1991 bertujuan mengatur ekosistem lahan rawa gambut sebagai kawasan tampung hujan dan sumber air. Sebagai sumber air, rawa (gambut) pedalaman sangat menentukan keadaan air daerah pinggiran atau hilirnya. Oleh karena itu, rawa di hulu sungai rawa atau rawa pedalaman perlu dipertahankan sebagai kawasan non-budidaya, yang berfungsi sebagai kawasan penampung hujan dan merupakan “danau” sumber air bagi daerah pertanian di sekitarnya. Kawasan lahan gambut sebaiknya ditetapkan sebagai kawasan penampung hujan (BBP2
Gambar 4. Beberapa jenis Kantong Semar asli ekosistem lahan gambut (Foto koleksi: Ignatius Adi, dapat diakses di Facebook)
Di samping peranan ekologi lahan gambut juga memainkan peranan penting dalam bidang ekonomi. Lahan gambut memiliki keanekaragam hayati yang unik yang hanya terdapat di ekosistem rawa gambut sehingga menjadi sumber plasma nutfah. Sudah diketahui bahwahutan rawa gambut yang masih utuh mempunyai keanekaragaman hayati flora fauna yang khas tetapi ekosistem rawa gambut bersifat fragile karena sangat rentan terhadap gangguan. Artinya ketika ekosistem lahan gambut terganggu akan sangat sulit untuk pulih kembali ke keadaan awalnya. Hutan rawa gambut merupakan habitat Rasau (Pandanus helicopus), Jelutung rawa (Dyera lowii), Ramin (Gonistilus bancanus), Kempas (Kompassia malaccensis), Rengas burung (Mellanorhoea wallichii), Punak (Testamerista glabra), Perepat (Combretocarpus rotundatus), Terentang (Camnosperma spp.), Bintangur (Callophylum spp.), Nyatoh (Palaqium spp.), Meranti rawa (Shorea pauciflora), Shorea balangeran, Pulai rawa (Alstonia pneumatophora) yang hanya tumbuh baik pada lahan gambut dan sangat sulit untuk dibudidayakan di lahan tanah mineral (CCPFI, 2009). Dari ekosistem lahan gambut dapat dijumpai berbagai varietas Kantong Semar (Nephenthes
spp.) yang banyak diminati sebagai tanaman hias (Gambar 4).
SLP, 2008).
Mitra Hutan Tanaman Vol.5 No 2, Agustus 2010, 51 - 68
Walaupun kondisi kimia lahan gambut banyak memiliki keterbatasan, lahan tersebut mampu mendukung fungsi ekonomi melalui budidaya pertanian, perkebunan dan HTI. Dengan ameliorasi yang tepat budidaya tersebut masih layak dilakukan. Namun demikian, karena sifat-sifat fisik tanah gambut yang sangat rentan terhadap gangguan (sekali terganggu sulit untuk dapat terpulihkan kembali), maka perubahan penggunaan lahan harus betul-betul direncanakan dengan matang dengan mempertimbangkan dampak yang mungkin terjadi. Upaya pemanfaatan lahan gambut yang paling menonjol saat ini adalah alih fungsi lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit. Hal ini karena adanya program pemerintah untuk mencari energi alternatif minyak kelapa sawit sebagai
biofuel. Untuk mencegah kerusakan lahan gambut Menteri Pertanian
mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 14/2009 tentang pedoman pemanfaatan lahan gambut untuk budidaya kelapa sawit. Dalam Peraturan Menteri tersebut diatur bahwa pengusahaan budidaya kelapa sawit dapat dilakukan di lahan gambut dengan memenuhi kriteria yang dapat menjamin kelestarian fungsi lahan gambut, yaitu: (a) diusahakan hanya pada lahan masyarakat dan kawasan budidaya, (b) ketebalan lapisan gambut kurang dari 3 (tiga) meter, (c) substratum tanah mineral di bawah gambut bukan pasir kuarsa dan bukan tanah sulfat masam; (d) tingkat kematangan gambut saprik (matang) atau hemik (setengah matang); dan (e) tingkat kesuburan tanah gambut eutropik.
IV. PENUTUP
Ekosistem lahan gambut memegang peranan yang sangat penting baik secara ekologi maupun ekonomi ketika berada dalam kondisi tidak terganggu. Namun karena ekosistem ini mempunyai sifat-sifat yang rapuh maka ketika terjadi gangguan sampai pada tingkat terlampauinya daya lenting maka akan sangat sulit untuk melakukan rehabilitasi lahan gambut. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ekosistem ini merupakan sumber daya alam yang tidak terbarui. Karena proses pembentukan ekosistem lahan gambut memerlukan waktu yang sangat lama.
Agar dapat dicapai pemanfaatan lahan gambut secara lestari harus mempertimbangkan sifat-sifat lahan gambut. Untuk lahan gambut dalam yang berperan dalam mendukung kebutuhan ekologis, pemanfaatan yang paling sesuai adalah sebagai kawasan konservasi. Pada lahan-lahan yang telah terdegradasi rehabilitasi lahan harus dilakukan. Sedangkan untuk lahan yang mampu mendukung kebutuhan ekonomi, walaupun termasuk lahan marginal ternyata lahan gambut dapat dijadikan sebagai lahan HTI, pertanian dan perkebunan. Namun karena sifat-sifat kimia dan fisik tanah gambut yang kurang baik, maka untuk pemanfaatan lahan tersebut untuk mendukung budidaya diperlukan banyak masukan dan teknologi yang tepat.
tanah gambut. Umumnya HTI pulp memanfaatkan campuran kompos dan abu terbang (10 kg/pohon) dan pemupukan NPK 650 kg/ha/tahun untuk optimasi pertumbuhan tanaman di lapangan.
DAFTAR PUSTAKA
Agus, F. 2008. Panduan metode pengukuran karbon tersimpan di lahan gambut. Panduan untuk bahan berdiskusi. Tersedia di internet
Agus, F. dan I.G. M. Subiksa. 2008. Lahan Gambut: Potensi untuk pertanian dan aspek lingkungan. Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre (ICRAF), Bogor, Indonesia
Andriesse, J.P. 1994. Constrainsts and opportunities for alternative use options of tropical peat land. In B.Y. Aminuddin (Ed.). Tropical Peat; Proceedings of International Symposium on Tropical Peatland, 6-10 May 1991, Kuching, Sarawak, Malaysia.
Anonimus. 2008a. Membuka lahan gambut sama artinya dengan membuat polusi
asap. Burning Issues.
Februari 2008]
Anonimus. 2008b. Lahan Gambut Indonesia, Salah satu kunci perubahan iklim dunia. Berita 26 Februari 2007. Tersedia di web. [dikunjungi 19 Februari 2008].
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. 2008. Pemanfaatan dan konservasi ekosistem lahan rawa gambut di Kalimantan. Pengembangan Inovasi Pertanian 1(2), 2008: 149-156
Chotimah, H.E.N.C. 2002. Pemanfaatan lahan gambut untuk tanaman pertanian. Makalah Pengantar Falsafah Sains. Program Pascasarjana IPB. Bogor (Tidak diterbitkan)
Climate Change on Forest and Peatlands in Indonesia Project, 2009. Keanekaragaman tumbuhan di hutan rawa gambut. (tersedia di internet). Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, 2008. Pemanfaatan lahan gambut
untuk transmigrasi.
2008]
Driessen, P.M., dan H. Suhardjo. 1976. On the defective grain formation of sawah rice on peat. Soil Res. Inst. Bull. 3: 20 – 44. Bogor.
Handayani, I.P. 2008. Studi pemanfaatan gambut asal Sumatera: Tinjauan fungsi gambut sebagai bahan ekstraktif, media budidaya dan peranannya dalam retensi karbon. tersedia di: www,wetlandsinternational.org. [diunduh: 10 Desember 2009].
Murdiyarso, D., U. Rosalina., K. Hairiah., L. Muslihat., I.N.N. Suryadiputra dan A. Jaya. 2004. Petunjuk lapangan: Pendugaan cadangan karbon pada lahan gambut. Proyek Climate Change Forest and Peatland in Indonesia. Wetlands International-Indonesia Program and Wildlife Habitat Canada. Bogor.
Mitra Hutan Tanaman Vol.5 No 2, Agustus 2010, 51 - 68
Peraturan Menteri Pertanian No. 14 tahun 2009 tentang Pedoman Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Budidaya Kelapa Sawit. Dapat diakses di: www.ditjenbun.deptan.go.id.
Rina, Y., Noorginayuwati dan M. Noor. 2008. Persepsi petani tentang lahan gambut dan pengelolaannya. Tersedia di: balittra.litbang.deptan.go.id lokalKearipan-8%20Yanti.pdf [diunduh: 5 Desember 2009]
Tie, Y.L. and J.S. Lim. 1991. Characteristics and classification of organic soils in Malaysia. Proc. International Symposium on tropical peatland. 6-10 May 1991, Kuching, Serawak, Malaysia.
Potency of Superior Wood Species as Material for Wood-Craft in East
Nusa Tenggara
Slamet Edi Sumanto
Balai Penelitian Kehutanan Kupang
Jl. Untung Surapati No. 07 (B) Po Box 67 Kupang 85115, Telp. (0380) 823357 Fax. (0380) 831068
Ema
I. PENDAHULUAN
Pengetahuan jenis kayu kurang dikenal yang memiliki nilai ekonomi tinggi di kalangan ilmuwan kehutanan sampai saat ini masih terbatas baik dalam hal jumlah ilmuwan yang berkutat di dalamnya maupun jumlah jenis kayunya. Jenis-jenis kayu sebagai bahan baku industri kerajinan misalnya, masih didominasi oleh jenis yang selama ini sudah dikenal seperti cendana (Santalum album L.), panggal buaya dan klicung (Diospyros malabarica Der Kostel). Salah satu industri kerajinan yang memiliki sedikit konsumen, bersifat ekslusif dan secara tradisional telah turun temurun adalah industri kerajinan keris terutama di Jawa, Madura, Bali dan Lombok (Bima). Pada dasarnya industri kerajinan ini memerlukan bahan baku kayu jenis unggul yang mampu menambah daya tarik dari bilah besi hasil tempaan tersebut. Jenis-jenis kayu unggul tersebut selama ini lebih dikenal di kalangan para pecinta benda seni itu daripada di kalangan masyarakat umum termasuk peneliti.
Hal mendasar yang seringkali menjadi persoalan adalah kebutuhan kayu yang digunakan untuk keperluan membuat kerajinan warangka (sarung) dan
deder (gagang) keris, masih mengandalkan hasil alam bukan hasil pengembangan hutan tanaman. Di sisi lain, disamping karena rata-rata faktor eksotisme bentuk pohon dan tempat tumbuh yang spesifik, informasi tentang sebaran dan teknik perkembangbiakan jenis-jenis tersebut belum banyak diketahui.
II. JENIS KAYU UNGGUL DOMINAN PENGHASIL BAHAN BAKU KERAJINAN
Mitra Hutan Tanaman
Vol.5 No 2, Agustus 2010, 69 - 79
1. Cendana (Santalum albumL.); Fam. Santalaceae a. Informasi botanis
Rudjiman (1987) dalam Surata (2006) menerangkan bahwa secara morfologis tanaman cendana memiliki ciri-ciri sebagai berikut : pohon kecil sampai sedang, menggugurkan daun, dapat mencapai tinggi 20 m dan diameter 40 cm, tajuk ramping atau melebar, batang bulat agak berlekuk-lekuk, akar tanpa banir, daun tunggal, berhadapan, agak bersilangan, bertangkai daun, gundul, bentuk elips, tepi rata, ujung runcing tetapi kadang-kadang tumpul atau bulat, perbungaan terminal atau eksiler,recimus articulatus, bunga pedicel 3-5 cm, gundul, tabung
perigonium berbentuk campanulatus, panjang 3 mm dan diameter 2
mm, memiliki 4 cuping perigonium, bentuk segi tiga, tumpul pada bagian ujung dan kedua permukaan gundul. Memiliki buah batu dan bulat, waktu masak daging kulit buah berwarna hitam, lapisan eksocarp,
mesocarp berdaging endocarp keras dengan garis dari ujung ke
pangkal.
Perbedaan yang cukup menyolok dalam hal penampilan fisik tanaman di lapangan antara cendana (Santalum album L.) dengan papi
(Exocarpus latifolia) adalah bentuk daun. Ketebalan daun kayu papi
lebih tebal, berwarna hijau gelap, sementara daun cendana lebih terang. Perbedaan kedua adalah tekstur kayu. Tekstur kayu cendana berwarna lebih terang, kandungan air lebih sedikit/sedikit berminyak pada permukaannya jika dikupas, sedikit lebih kasar. Sementara tekstur kayu papi lebih halus, berwarna lebih gelap (coklat tua), banyak mengandung air/berminyak.
Gambar 1. Penampilan fisik pohon dan kayu cendana