1 Jurnal Desa
Dicetak di Indonesia, hak cipta dilindungi Undang-undang
PIANO CENTRE
Edward CaesarDr. Salmon P. Martana
Program Studi Teknik Arsitektur - Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer - Universitas Komputer Indonesia Bandung
Email : [email protected] Abstrak
Musik merupakan salah satu cabang seni yang telah menjadi kebutuhan dalam kehidupan manusia. Keberadaan musik di Indonesia membuat hal-hal yang banyak berdampak pada industri kreatif seperti prestasi maupun produk musik dalam negeri. Piano merupakan salah satu jenis alat musik yang telah banyak berkontribusi dan menyumbangkan prestasi di Indonesia hingga ke kancah Internasional. Akan tetapi hal tersebut tidak banyak diketahui oleh masyarakat umum. Oleh karena itu diperlukan satu wadah yang berfungsi untuk mewadahi semua yang berkaitan dengan alat musik piano. Tujuan dari perancangan Piano Centre ini adalah untuk memberikan informasi tentang alat musik piano baik secara umum maupun secara khusus dan juga sebagai salah satu fungsi fasilitas Community Center pada kawasan Pramestha sebagai kota mandiri.
Kata Kunci : Musik, Piano, Komunitas, Industri Kreatif, Pramestha
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di era modern saat ini, perkembangan musik semakin cepat dan memiliki banyak inovasi dengan teknologinya masing-masing. Berbagai jenis musik dari seluruh belahan dunia dapat kita dengar setiap waktu tentunya dengan bantuan teknologi komunikasi saat ini. Hal tersebut juga sedikit banyak berpengaruh terhadap perkembangan musik tanah air yang beberapa jenis musik di Indonesia dicampurkan dengan jenis musik yang berasal dari negara lain, akan tetapi hal tersebut juga menambah perbendaharaan musik sebagai seni baik di skala Nasional maupun Internasional. Berikut kerangka latar belakang pada Gambar 1.1 menjelaskan alur dari terbentuknya projek.
2
Gambar 1.1 Latar belakang Projek
Sumber : Dokumen Pribadi
Musik juga telah menjadi ilmu pengetahuan yang mana terdapat juga disiplin ilmunya di dalam dunia pendidikan. Hal tersebut dikarenakan luasnya cakupan musik sebagai ilmu pengetahuan dan besarnya potensi akan inovasi dan teknologi di bidang seni khususnya musik sehingga menjadikan musik layak untuk dipelajari lebih jauh karena sifatnya yang progresif dan juga eksploratif.
Berbagai jenis musik dari seluruh belahan dunia dapat kita dengar setiap waktu tentunya dengan bantuan teknologi komunikasi saat ini. Hal tersebut juga sedikit banyak berpengaruh terhadap perkembangan musik tanah air yang beberapa jenis musik di Indonesia dikolaborasikan dengan jenis musik yang berasal dari negara lain, akan tetapi hal tersebut juga menambah perbendaharaan musik sebagai seni baik dalam skala Nasional maupun Internasional.
Musik yang terdapat di Indonesia sangat beragam mulai dari jenis dan bahan baku alat musik tersebut. Hal tersebut dikarenakan setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas dan jenis musik yang berbeda-beda. Hal ini menjadikan Indonesia menjadi negara yang memiliki karakter dan identitas yang kuat akan seninya serta menjadi kekayaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Beberapa jenis alat musik yang banyak beredar di masyarakat adalah sebagai berikut :
Piano Pianika Drum
3 Bass Gitar Seruling Saxophone Trumpet Violoin Cello
Dan lain sebagainya.
Diantara jenis alat musik tersebut di atas, banyak yang telah ditekuni di dunia pendidikan serta terdapat kurikulum untuk alat musik tersebut. Salah satu alat musik yang banyak digemari yaitu alat musik piano.
Alat musik piano adalah alat musik telah banyak ditekuni oleh banyak orang dan telah banyak berkontribusi bagi negara Indonesia di bidang ekonomi kreatif. Hal tersebut terlihat dari prestasi pianis Indonesia yang telah diakui oleh dunia. piano buatan Indonesia juga tidak kalah berprestasi di Internasional. Beberapa negara maju banyak yang menyukai alat musik piano buatan perajin Indonesia
Pramestha Mountain City adalah projek pertama PT. Lembang Permata Recreation Estate. Pramestha Mountain City terletak di Jl. Akaza Utama No.9, Mekarwangi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Pramestha Mountain City memiliki luas lahan 180 hektare yang telah memiliki masterplan pada rencana pengembangannya. Berdiri sebagai kota yang mandiri adalah tujuan utama dari pengembangan Pramestha Mountain City. Terdapat banyak fasilitas yang disediakan oleh Pramestha Mountain City, di antaranya :
Hotel Apartmen Resort Villa Residensial Retail Village Café Thematic Garden Community centre
Berdasarkan visi dari masterplan pengembangan Pramestha Mountain City salah satu community centre yang akan diterapkan pada kawasan Pramestha Mountain City adalah Piano Centre.
4
Sebuah wadah ini juga diharapkan akan memberikan dampak positif kepada komunitas maupun non-komunitas piano serta kepada orang-orang yang ingin tahu mengenai alat musik piano maupun orang yang sudah mengenal alat musik piano agar mengetahui tentang alat musik piano, proses memperdalam kemampuan memainkan alat musik piano, serta proses pembuatan alat musik piano. Wadah ini akan terdapat kegiatan-kegiatan atraktif berupa entertainment (hiburan) sebagai daya tarik bagi masyarakat awam untuk mengenalkan projek Piano Center serta terdapat suasana bermusik secara audial maupun visual, sumber literatur, proses pengenalan, dan juga informasi dari berbagai jenis musik. Hal ini disebabkan oleh tipikal wisatawan yang memiliki motivasi tidak hanya sekedar berisata melainkan juga untuk menambah pengalaman serta wawasan (Martana, 2002: 3)
Perkembangnan alat musik piano di Indonesia saat ini memberikan kemajuan yang signifikan baik pada sisi komersil maupun sisi edukasi. Hal tersebut dapat dilihat dari antusiasme masyarakat akan alat musik piano tersebut baik ketika menonton konser musik maupun menghadiri acara-acara seminar musik untuk menambah wawasan serta kemampuan bermain mereka akan alat musik piano.
Secara spesifik, berbagai alat musik banyak berasal dan diproduksi di Jawa Barat hal ini terlihat dari banyaknya perajin seni alat musik yang berada di Jawa Barat. Alat-alat musik yang diproduksi di Jawa Barat beberapa di antaranya telah dikirim ke luar negri dan hasil produksinya sangat baik dan tidak mengecewakan bahkan beberapa brand alat musik yang sudah terkenal menjalin kerja sama dengan perajin seni Jawa Barat untuk menghasilkan alat musik yang berkualitas, akan tetapi hal tersebut belum banyak diketahui oleh kalangan masyarakat luas karena minimnya data dan berita dari media yang membahas tentang hal tersebut.
Piano merupakan salah satu alat musik yang banyak diminati oleh orang-orang saat mulai belajar (les) musik. Hal tersebut juga dapat menjadikan piano sebagai bahan edukasi bagi kalangan yang meminati les piano. Piano juga menjadi salah satu alat musik dasar bagi para musisi untuk dapat lebih mengenal nada lebih jauh karena sifatnya yang kompleks sehingga dapat membuat orang yang mempelajari alat musik piano melakukan kreasi-kreasi pada setiap nada dan irama yang dimainkan.
Di Indonesia sendiri, wadah untuk pengetahuan tentang alat musik piano masih terbilang sangat minim, karena pengetahuan akan alat musik piano hanya didapatkan di toko-toko alat musik, yang mana pada toko alat musik hanya
5
menjelaskan tentang produk yang dikeluarkan oleh toko alat musik tersebut tidak secara rinci mengenalkan alat musik piano kepada masyarakat.
1.2 Masalah Perancangan
1. Tidak adanya wadah yang terintegratif serta interaktif bagi para pianis. 2. Tidak adanya wadah yang berfungsi sebagai sarana edukasi serta bahan
pustaka tentang piano.
3. Tidak adanya wadah bagi para perajin seni alat musik piano yang terintegratif. 1.3 Tujuan
Tujuan dari projek Piano Centre dibagi menjadi beberapa skala, diantaranya sebagai berikut :
1. Menyediakan wadah yang integratif serta interaktif bagi para pianis.
2. Menyediakan sarana edukasi untuk memperkenalkan dan juga memberi pengetahuan berupa literatur serta informasi yang lebih mendetail tentang alat musik piano masyarakat umum.
3. Menyediakan wadah untuk perajin alat musik piano yang mendukung ekonomi kreatif di Indonesia.
1.4 LIMITASI PERANCANGAN
1. Lokasi tapak adalah telah ditentukan oleh Pramestha Mountain City selaku pemberi tugas kepada penulis sebagai perancang.
2. Struktur bangunan eksisting tidak dapat dibongkar atau diganti karena merupakan permintaan dari pemberi tugas.
2. METODE
2.1 Studi Kepustakaan
Metode kepustakaan dilakukan pada perancangan yang diperoleh dari beberapa sumber yang berhubungan dengan proyek perancangan yang dikerjakan. 2.2 Wawancara
Kegiatan wawancara dilakukan terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil rancangan yang efektif dan maksimal dengan narasumber dari beberapa pihak yang yang terkait, dalam hal ini pihak Pramestha sebagai pemilik lahan dan juga pemilik dari bangunan Piano Center ini nantinya.
6 2.3 Tinjauan Proyek
Piano Center ini adalah sebuah projek yang memiliki fungsi sebagai pusat informasi dan sarana edukasi serta wadah untuk pecinta dari alat musik piano. Piano Center ini juga berfungsi untuk mewadahi kegiatan-kegiatan seni musik khususnya piano, seperti konser piano, kursus piano, menciptakan lagu, dan kegiatan lain yang berhubungan serta informasi terkini mengenai inovasi dan teknologi alat musik piano di tanah air dan juga di manca negara yang sedang berkembang.
Beberapa fungsi berdasarkan ruang pada projek Piano Center : Galeri Piano
Museum Piano
Pelatihan (kursus) Piano
Pusat literatur piano (perpustakaan) Ruang konser piano
Proses sederhana pembuatan piano (workshop)
Kegiatan yang berhubungan dengan seni musik banyak ditemukan di sekitar Kota Bandung, oleh karena itu wadah untuk kegiatan-kegiatan tersebut masih terbilang kurang untuk memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan seni musik di Kota Bandung.
2.3 Pemahaman Projek
Secara garis besar projek ini merupakan gabungan dari beberapa tipologi fungsi yang secara umum berfungsi sebagai sarana sumber pengetahuan dan informasi kemudian secara khusu berfungsi sebagai sarana edukasi. Dari segi fungsi secara umum projek ini memberikan fungsi sumber pengetahuan dan informasi melalui beberapa fungsi yang sejenis seperti galeri piano, koleksi piano, sejarah-sejarah tentang perkembangan piano di dunia dan di Indonesia, dan juga literatur tentang piano yang dalam projek ini berupa perpustakaan.
Dari segi fungsi secara khusus fungsi pada projek ini berupa pelatihan seperti kursus piano dan juga workshop piano yang dapat juga membantu memberikan edukasi tambahan kepada orang-orang yang hendak mengetahui proses dan cara membuat sebuah piano yang mana hal tersebut juga dapat membangkitkan industri kreatif di bidang alat musik piano.
2.4 Metoda Perancangan
7
Lokasi projek Piano Center ini beradi di Jl. Akaza Utama No.9, Mekarwangi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40391.
Gambar 2.1
Sumber : Google Maps
BCR : 28 %
FAR : 3.80
GSB : 10
Lokasi proek berada di kawasan Pramestha cikal bakal kota mandiri yang mana lokasi tersebut memiliki kondisi fisik lahan alami dan berkontur sehingga lokasi ini memiliki potensi akan keindahan alam yang sangat baik serta didukung dengan banyaknya pariwisata di lingkungan sekitar lokasi. Hal tersebut juga mendukung prinsip ecotourism yang telah menjadi trend dalam bisnis kepariwisataan di Indonesia [1].Lokasi projek ini berada di kawasan Pramestha cikal bakal kota mandiri yang mena lokasi tersebut memiliki kondisi fisik lahan alami dan berkontur sehingga lokasi ini memiliki potensi akan keinddahan alam yang sangat baik dan sekaligus menjadi tantangan pada saat proses perancagannya.
Batas-batas wilayah pada lokasi tapak dibagi menjadi empat bagian berdasarkan arah orientasinya. Seperti yang dijelaskan pada Tabel 2.1 beberapa batas tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1 Batas-batas wilayah
Sumber : Dokumen pribadi
No. Batas-batas Wilayah Data
1. Sebelah Utara
Area sebelah utara tapak berbatasan dengan tebing dan juga Jalan Maribaya Lembang.
8 2. Sebelah Barat
Area sebelah barat dari tapak berbatasan dengan Jalan Akaza Utama (Dago Giri) menuju Jalan Maribaya Lembang.
3. Sebelah Selatan Sebelah selatan tapak berbatasan dengan zona pengembangan retail village.
4. Sebelah Timur
Sebelah timur dari tapak berbatasan dengan tebing pembatas antara lokasi site dengan area hutan dan pemukiman warga.
3. HASIL STUDI DAN PEMBAHASAN
3.1 Lokasi
Lokasi projek Piano Center ini berada dekat dengan wisata alam yang berada tidak jauh dari letak projek tersebut. Pada lokasi site perancangan Piano Center ini juga terdapat kondisi alam yang masih alami yang mana hal tersebut bisa dimanfaatkan menjadi potensi akan daya tarik wisatawan maupun pengunjung umum untuk datang ke proyek Piano Center ini.
Beberapa potensi akan alam pada projek Piano Center ini tidak hanya berpengaruh pada daya tarik semata tetapi juga dapat meningkatkan tingkat kenyamanan serta daya fokus saat sedang memainkan piano. Alam dan manusia saling memiliki keterkaitan secara khusus [2] Oleh karena itu potensi alam haruslah dimanfaatkan sebaik mungkin dalam perancangan Piano Center.
3.2 Pengguna Pianis Pengunjung umum Pengunjung Khusus Pelajar/ mahasiswa Siswa kursus Disabilitas 3.3 Kebutuhan Ruang Galeri Piano Museum Piano
Pelatihan (kursus) Piano
Pusat literatur piano (perpustakaan) Ruang konser piano
9
Proses sederhana pembuatan piano (workshop) 3.4 Tema
Tema yang akan diusung pada projek Piano Center ini adalah tema yang berhubungan dengan jenis projek yang dikerjakan yaitu “Symphony” yang mana tema ini akan dijabarkan ke dalam beberapa unsur yang terdapat dalam arti kata tema.
3.4.1 Penjabaran Tema
Symphony secara etimologi berasal dari Bahasa Yunani yang terdii atas 2 suku kata yaitu Sym (bersama) dan Phony yang berasar dari kata Phone (berbunyi) maka kemudian Symphony diartikan sebagai sebuah karya orkestra yang kemudian komposisi musiknya digubah dan diperluas akan tetapi tetap sebagai satu kesatuan dan biasanya terdiri dari empat bagian.
Adapun unsur-unsur yang terdapat pada tema Symphony adalah sebagai berikut : 1. Kontras 2. Unity (kesatuan) 3. Ritme 4. Kolaborasi 5. Dinamika 6. Repetisi 7. Harmony 8. Relasi 9. Komposisi
10 3.5 Rencana Tapak
Gambar 3.1 Rencana Tapak
sumber : dokumen pribadi
Pada perencanaan tapak yang terlihat pada gambar tersebut diatas, terdapat dua akses untuk menuju bangunan Piano Center, yaitu akses utama untuk pengunjung dan juga akses untuk servis yang dibuat terpisah agar tidak mengganggu aktifitas pada area plaza.
3.5.1 Site Plan Keterangan =Entrance =Akses servis =Open Space =Bangunan 1 =Bangunan 2 =Area parkir
11
Gambar 3.2 Site Plan
sumber : dokumen pribadi
12
Gambar 3.3 Denah Lantai 1 Bangunan 1
(sumber : dokumen pribadi)
Gambar 3.4 Denah Lantai 1 Bangunan 2
sumber : dokumen pribadi
Bentuk denah dibuat dari bentuk dasar persegi panjang yang kemudian dilakukan subtraktif dan aditif pada bentuk massa bangunan sesuai dengan kebutuhan ruang serta bentuk dari tapak yang kemudian dilakukan sesuai dengan salah satu konsep dari tema perancangan yaitu dibuat kontras dengan bentuk alaminya.
3.7 Tampak
Gambar 3.5 Tampak T-01 Bangunan 1
13 3.8 Potongan
Gambar 3.6 Potongan A-A bangunan 1
(sumber : dokumen pribadi)
Gambar 3.6 Potongan A-A bangunan 1
14 3.8 Perspektif Suasana
Gambar 3.8 Suasana Eksterior
(sumber : dokumen pribadi)
Gambar 3.9 Suasana Eksterior
15
Gambar 3.10 Suasana Interior
(sumber : dokumen pribadi) Material Akustik Ruang Konser
Terdapat bebrapa panel akustik yang diterapkan pada perancangan uagn konser, di antaranya sebagai berikut :
a. Acoustic Panel Wall
Acoustic panel wall atau dinding panel akustik digunakan pada bagian sisi kiri dan kanan ruang konser. Dinding panel akustik yang digunakan adalah reflected panels. Reflected panels adalah material panel akustik yang berfungsi untuk memantulkan suara sehingga dapat menghasilkan efek reverb pada sebuah ruang.
b. Acoustic Panel Ceiling
Acoustic panel ceiling atau langit-langit panel akustik digunakan pada bagian atas ruang konser
c. Acoustic Perforated Wall Panel
Acoustic Perforated Wall Panel atau dinding akustik berpori adalah panel akustik yang berfungsi untuk meredam bunyi suara. Tujuan dari panel akustik dinding berpori ini adalah meredam bunyi suara agar suara tidak terlalu bergema pada sebuah ruang sehingga bunyi sumber suara tersebut dapat terdengar jelas. Prinsip panel akustik dinding berpori ini adalah dengan cara menyerap pantulan dengan pantulan yang ada
16
pada panel akustik dan menyimpannya ke dalam bagian por-pori panel yang berisi material rockwool pada bagian penyerapnya.
4. KESIMPULAN
Bangunan Piano Centre sebagai sarana untuk mewadahi seputar alat musik piano yang juga merupakan bagian dari memajukan industri kreatif adalah hal yang sangat positif untuk diterapkan keberadaannya karena hal tersebut akan berdampak besar pada industri musik di Indonesia saat ini .
Hal tersebut tidak lepas dari banyaknya prestasi pianis dari tanah air yang telah meraih banyak prestasi di kancah internasional. Badan Ekonomi Kreatif menegaskan bahwa subsektor musik merupakan prioritas dari Badn Ekonomi Kreatif karena memegang peranan yang sangat penting di dunia ekonomi kreatif.
17 DAFTAR PUSTAKA
1. Martana, S. (2002) Pelatihan Perencanaan Ecotourism, Bandung: Warita Sekarya. 2. Koswara, I. H. (2002). Karakteristik Wisatawan: Siapa dan Bagaimana MerekaBerwisata. Warta Pariwisata, 3, 1.
3. Martana, S. (2002). The impact of tourism on the development of Ubud painting art. ASEAN Journal on Hospitality and Tourism, 1(2), 117-132.
4. Isfiaty, T., & Natalia, T. W. (2017). Thematic Interior at the Indischetafel Café As a Media for Forming Bandung Tempo Dulu’s Athmosphere. Panggung, 27(4).
5. Susanti, A., & Natalia, T. W. (2018, August). Public space strategic planning based on Z generation preferences. In IOP Conference Series: Materials Science and Engineering (Vol. 407, No. 1, p. 012076). IOP Publishing.
6. Abioso, W. S. (2008, June). “IT” Approach To Sustainable Architecture. In Proceedings Knowledge Management International Conference.
7. Rohmawati, T., Natalia, T. W., Dosen, D. I. P. F. U., & Unikom, T. A. (2018). TINGKAT KEPUASAN PEJALAN KAKI TERHADAP TROTOAR DI KOTA BANDUNG. Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi Volume VIII No.
8. Kodijat L. (1989). Istilah-istilah Musik. Jakarta: Djambatan
9.Tribuawani Wiwien, (2002) Pariwisata Berkelajutan Dan Ecotourism, Bandung: Wacana
10.Bekraf, Retas (2018) Membanahi Musik Dan Film Indonesia, Jakarta
11. De Chiara, Joseph. Time-saver standards for building types. McGraw-Hill Professional Publishing, 2001.
12. Barron, M. (2009). Auditorium acoustics and architectural design. New York: Routledge.