• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Perilaku Konsumtif berdasarkan Metode Pembayaran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perbandingan Perilaku Konsumtif berdasarkan Metode Pembayaran"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

Perbandingan Perilaku Konsumtif berdasarkan Metode Pembayaran

Fransisca & P. Tommy Y. S. Suyasa

Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

ABSTRACT

Consumptive behavior is an action to buy a goods that actually not to fulfill the daily needs demand but just to fulfill the desire, conducted redundantly causing and extravagance of inefficiency the expense. The aim of this research is to prove that there is a difference in consumptive behavior between subjects who prefer to use credit card and subjects who prefer to use cash. Subjects are 293 young adult women, 171 subjects prefer to use cash payment and 122 subjects prefer to use credit card payment method. The result shows that there is a significant difference in consumptive behavior between two groups of subjects.

Keywords: credit card, consumptive behavior, payment method

Latar Belakang

Perilaku konsumtif adalah suatu tindakan yang tidak rasional dan bersifat kompulsif sehingga secara ekonomis menimbulkan pemborosan dan inefisiensi biaya (Neufeldt dikutip Zebua & Nurdjayadi, 2001). Tindakan konsumsi yang irasional dan kompulsif dapat dicontohkan seperti ketika seorang wanita pergi ke sebuah toko untuk membeli beberapa baju yang disukainya walaupun baju tersebut tidak cocok dan sebenarnya tidak dibutuhkannya (Solomon, 2002). Istilah konsumtif biasanya digunakan untuk menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal (Tambunan, 2001).

Fromm (1995) menyatakan manusia dalam mengkonsumsi barang tidak lagi melihat nilai pakainya yaitu mencukupi kebutuhan tetapi juga digunakan untuk memenuhi keinginan-keinginannya, sehingga pengkonsumsian barang menjadi berlebihan. Hal tersebut disebabkan rasa puas pada manusia yang tidak berhenti pada satu titik saja melainkan selalu meningkat. Oleh karena itu manusia selalu mengkonsumsi sesuatu secara berlebihan untuk memenuhi rasa puasnya, walaupun

(2)

sebenarnya tidak ada kebutuhan akan barang tersebut. Menurutnya, keinginan untuk mengkonsumsi sesuatu secara berlebihan dapat membuat seseorang menjadi konsumtif.

Menurut Yulianti (2003) dan Kasmir (2003), penyebab terjadinya perilaku konsumtif dipengaruhi oleh metode pembayaran kartu kredit. Pemakaian kartu kredit dapat mempengaruhi pengambilan keputusan dalam berbelanja sehingga penggunanya seringkali membeli dan mengkonsumsi barang secara berlebihan (Schiffman & Kanuk, 2000). Hal tersebut dikarenakan kartu kredit menyediakan fasilitas kredit bagi penggunanya. Batas fasilitas kredit yang diberikan dapat melebihi sumber penghasilan yang dimiliki para pemegang kartu, sehingga para pemegang kartu dapat menggunakan batas kredit yang ada (Yulianti, 2003).

Metode pembayaran kartu kredit merupakan pembayaran sistem elektronik yang terkait dengan kemajuan teknologi dan menjadikan segalanya praktis (Yulianti, 2003). Teknologi yang memberikan kenyamanan dalam kehidupan manusia tersebut, dapat menyebabkan orang berperilaku konsumtif (Chitrakar, 2002). Kartu kredit hanya merupakan alat untuk memudahkan orang berhutang atau mengkredit dalam jumlah maksimal yang ditentukan (Yudana, 1997). Seiring dengan perkembangan jaman, kartu kredit sangat mudah untuk ditemui di masyarakat sekarang (Arifin, 2002).

Penggunaan kartu kredit secara tidak bijaksana dapat mengakibatkan orang terlilit hutang (Norvitilis & Maria, 2002). Menurutnya kejadian tersebut terjadi pada individu di Amerika Serikat yang menggunakan kartu kredit sehingga pada akhirnya mereka terlilit hutang. Hal tersebut disebabkan mereka tidak tahu besarnya bunga pinjaman yang harus dibayar ketika menunda membayar tagihan, dan akibatnya hutang terus melambung tinggi dari penumpukan bunga pinjaman atas penggunaan kartu kredit. Penggunaan kartu kredit yang berlebihan juga mengakibatkan mereka mengalami kebangkrutan dan secara psikologis mereka akan mengalami stres yang mengakibatan tindakan bunuh diri (Holub, 2002).

Menurut Tambunan (2001), ada beberapa perbedaan pola konsumsi antara pria dan wanita. Wanita lebih tertarik pada warna dan bentuk serta lebih cenderung subjektif dalam berbelanja, sedangkan pria lebih tertarik pada hal teknis dan kegunaannya serta lebih objektif. Munandar (2001) juga menyatakan ada perbedaan

(3)

pria dan wanita dalam berbelanja. Pria kurang berminat dalam berbelanja, sering tertipu karena tidak sabar untuk memilih dahulu sebelum membeli, sedangkan wanita senang berbelanja karena lebih tertarik pada gejala mode, mementingkan status sosial, kurang tertarik pada hal-hal teknis dari barang yang akan dibelinya.

Menurut Sudarto (2003), terdapat perbedaan dalam pengkonsumsian barang antara wanita lajang dan wanita yang sudah menikah. Pada wanita lajang, mereka mengkonsumsi lebih banyak dalam hal penampilan sehingga memiliki pengeluaran lebih banyak dibandingkan dengan wanita yang berkeluarga. Hal tersebut bukan berarti wanita yang berkeluarga tidak memperhatikan penampilan, akan tetapi mereka lebih menitikberatkan pengeluaran untuk kebutuhan keluarga terlebih ketika mereka sudah mempunyai anak. Setiadi (2000) juga mengungkapkan bahwa wanita lajang lebih leluasa menggunakan penghasilannya dikarenakan mereka tidak mempunyai tanggung jawab terhadap keluarga sehingga seluruh pengeluaran dapat digunakan untuk dirinya sendiri.

Demikian pula individu yang sudah bekerja dan tidak bekerja juga memiliki perbedaan dalam hal pengeluaran (Sudarto, 2003). Pada individu yang bekerja, mereka lebih leluasa dalam pengeluaran dibandingkan dengan individu yang tidak bekerja. Hal tersebut disebabkan mereka ingin menikmati uang hasil kerja keras untuk memenuhi kebutuhannya. Sebaliknya pada individu yang tidak bekerja, pemenuhan kebutuhan mereka masih berasal dari orang lain sehingga mereka tidak leluasa dalam menggunakan uang.

Perilaku konsumtif adalah suatu fenomena yang menarik untuk diteliti, terutama berkaitan dengan cara pembayaran yang dilakukan oleh wanita dewasa muda. Hal tersebut mengingat wanita memandang berbelanja sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan sehingga cenderung konsumtif. Selain itu adanya metode pembayaran khususnya kartu kredit yang menyediakan batas fasilitas kredit yang melebihi penghasilan seseorang sehingga membuatnya menjadi praktis dalam berbelanja. Kadangkala kepraktisan tersebut membuat individu menjadi konsumtif (Yulianti, 2003). Dengan demikian perilaku membeli tidak lagi menempati fungsi yang sesungguhnya dan menjadi suatu ajang pemborosan biaya (Zebua & Nurdjayadi, 2001).

(4)
(5)

Perilaku Konsumtif

Perilaku konsumtif menurut Neufeldt (dikutip Zebua & Nurdjayadi, 2001), adalah suatu tindakan yang tidak rasional dan bersifat kompulsif sehingga secara ekonomis menimbulkan pemborosan dan inefisiensi biaya. Orang dengan tindakan tidak rasional dan kompulsif selalu merasa “belum lengkap” dan mencari-cari kepuasan akhir dengan mendapatkan barang-barang baru (Abdams, 1991).

Anggarasari (dikutip Sumartono, 2002) menyatakan perilaku konsumtif adalah tindakan membeli dan mengkonsumsi barang yang tidak bermanfaat secara berlebihan untuk memenuhi keinginannya. Oleh karena itu, dalam pembelian barang individu tidak lagi melihat nilai pakainya yaitu untuk mencukupi kebutuhan tetapi digunakan untuk memenuhi keinginannya. Individu tidak lagi mengenali kebutuhan sesungguhnya, namun justru selalu tergoda untuk memuaskan keinginan sesaat.

Berdasarkan pengertian-pengertian yang telah disebutkan di atas, dapat disimpulkan perilaku konsumtif adalah tindakan membeli barang bukan untuk mencukupi kebutuhan tetapi untuk memenuhi keinginan, yang dilakukan secara berlebihan sehingga menimbulkan pemborosan dan inefisiensi biaya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif

Ada empat faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku konsumtif yaitu: (1) hadirnya iklan (Sumartono,2002; Dittmann,2004), (2) konformitas (Kersting, 2004; Zebua & Nurdjayadi, 2001), (3) gaya hidup (Chaney, 2004) dan (4) kartu kredit (Yulianti, 2003; Kasmir, 2003).

Iklan merupakan pesan yang menawarkan sebuah produk yang ditujukan kepada khalayak lewat suatu media yang bertujuan untuk mempersuasi masyarakat untuk mencoba dan akhirnya membeli produk yang ditawarkan. Iklan mengajak masyarakat untuk melakukan suatu tindakan memakai produk yang tidak habis. Artinya, belum habis sebuah produk yang dipakai, seseorang telah menggunakan produk jenis yang sama dari merk yang lainnya. Selain hal tersebut, iklan dapat membuat seseorang membeli barang bukan karena kebutuhan akan tetapi karena adanya hadiah yang ditawarkan (Sumartono, 2002).

Iklan mempengaruhi seseorang berperilaku konsumtif dapat dicontohkan dengan banyaknya kartu prabayar yang ditawarkan dari berbagai merk operator.

(6)

Masyarakat disuguhi berbagai fasilitas menarik yang ditawarkan mulai pulsa paling murah sampai dengan program bebas roaming nasional. Hal tersebut membuat masyarakat tertarik untuk membelinya dan bahkan memiliki lebih dari satu kartu prabayar.

Faktor lain yang juga mempegaruhi perilaku konsumtif adalah adanya konformitas (Kersting, 2004; Zebua & Nurdjayadi, 2001). Konformitas umumnya terjadi pada remaja, khususnya remaja putri. Hal tersebut disebabkan keinginan yang kuat pada remaja putri untuk tampil menarik, tidak berbeda dengan rekan-rekannya dan dapat diterima sebagai bagian dari kelompoknya. Konformitas yang jelas terlihat pada remaja putri adalah konformitas pada mode, seperti dalam hal berpakaian, berdandan, dan gaya potong rambut.

Menurut Chaney (2004) munculnya perilaku konsumtif disebabkan gaya hidup budaya barat. Hadirnya pusat-pusat perbelanjaan yang menyajikan segala nama merk terkenal yang berasal dari luar negeri, untuk segala pakaian dan barang mewah membuat seseorang lebih tertarik untuk berbelanja. Pembelian barang bermerk dan mewah yang berasal dari luar negeri dianggap dapat meningkatkan status sosial seseorang. Selain itu, tersedianya restoran cepat saji (fast food) membuat individu cenderung lebih suka mengkonsumsi makanan dari barat daripada produk lokal. Gaya hidup barat juga dapat dilihat dari semakin banyaknya café-café yang ada di kota besar dan dijadikan sebagai salah satu sarana untuk bersosialisasi.

Faktor lainnya yang juga mempengaruhi seseorang menjadi konsumtif adalah penggunaan kartu kredit (Yulianti, 2003; Kasmir, 2003). Pemakaian kartu kredit dapat mempengaruhi pengambilan keputusan dalam berbelanja sehingga penggunanya seringkali membeli dan mengkonsumsi barang secara berlebihan (Schiffman & Kanuk, 2000). Hal tersebut disebabkan kartu kredit menyediakan fasilitas kredit bagi penggunanya. Batas fasilitas kredit yang diberikan bisa melebihi sumber penghasilan yang dimiliki para pemegang kartu, sehingga pemegang kartu dapat menggunakan batas kredit yang ada (Yulianti, 2003).

(7)

Ciri-ciri Perilaku Konsumtif

Menurut Sumartono (2002) ada delapan ciri perilaku konsumtif. Empat perilaku pertama yang dimaksud adalah membeli produk karena ingin mendapatkan hadiah, kemasan menarik, menjaga penampilan diri dan gengsi serta program potongan harga. Empat perilaku konsumtif lainnya adalah pembelian barang untuk menjaga status sosial, pengaruh model yang mengiklankan barang, penilaian bahwa membeli barang dengan harga mahal akan menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi, dan mencoba lebih dari dua produk sejenis dengan merk berbeda.

Ciri perilaku konsumtif pertama adalah membeli karena penawaran hadiah yang menarik. Pembelian barang tidak lagi melihat manfaatnya akan tetapi tujuannya hanya untuk mendapatkan hadiah yang ditawarkan. Ciri perilaku konsumtif kedua yaitu membeli karena kemasannya menarik. Individu tertarik untuk membeli suatu barang karena kemasannya yang berbeda dari yang lainnya. Kemasan suatu barang yang menarik dan unik akan membuat seseorang membeli barang tersebut.

Ciri perilaku konsumtif yang ketiga adalah membeli karena menjaga penampilan diri dan gengsi. Gengsi membuat individu lebih memilih membeli barang yang dianggap dapat menjaga penampilan diri, dibandingkan membeli barang lain yang lebih dibutuhkan. Ciri perilaku konsumtif yang keempat adalah membeli barang karena program potongan harga. Pembelian barang bukan atas dasar manfaat atau kegunaannya, akan tetapi barang dibeli karena harga yang ditawarkan menarik.

Ciri perilaku konsumtif yang kelima adalah kecenderungan membeli barang yang dianggap dapat menjaga status sosial. Individu menganggap barang yang digunakan adalah suatu simbol dari status sosialnya. Ciri perilaku konsumtif yang keenam adalah memakai sebuah barang karena pengaruh model yang mengiklankan barang. Individu memakai barang karena tertarik untuk bisa menjadi seperti model iklan tersebut, ataupun karena model yang diiklankan adalah seorang idola dari pembeli.

Ciri perilaku konsumtif yang ketujuh adalah penilaian bahwa membeli barang dengan harga mahal akan menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi. Individu membeli barang atau produk bukan berdasarkan kebutuhan tetapi karena memiliki harga yang mahal untuk menambah kepercayaan dirinya. Ciri perilaku konsumtif yang terakhir menurut Sumartono (2002) adalah individu membeli lebih dari dua

(8)

barang sejenis dengan merk yang berbeda. Membeli barang sejenis dengan merk berbeda akan menimbulkan pemborosan karena individu hanya cukup memiliki satu barang saja.

Splores (dalam Engel, Blackwell & Miniard, 1994) menyatakan ada delapan gaya konsumen dalam berbelanja, yaitu (1) mencari produk dengan kualitas terbaik, (2) konsumen yang menyukai barang bermerek, (3) konsumen yang menyukai produk baru dan mengikuti mode, (4) konsumen menganggap berbelanja sebagai rekreasi, (5) kesadaran konsumen akan harga, (6) konsumen berbelanja secara mendadak, (7) konsumen yang bingung akan banyaknya pilihan dan (8) konsumen yang setia pada merk tertentu.

Dari delapan gaya belanja yang telah disebutkan di atas, ada empat gaya belanja yang dapat digolongkan sebagai ciri perilaku konsumtif. Empat ciri yang dimaksud adalah konsumen menyukai barang bermerk, konsumen yang menyukai produk baru dan mengikuti mode, berbelanja dianggap sebagai kegiatan rekreasi dan konsumen suka berbelanja secara impulsif atau mendadak.

Ciri konsumtif yang pertama yaitu konsumen menyukai barang bermerk. Individu cenderung menyukai dan membeli barang bermerk karena menganggap barang bermerk merupakan barang terbaik untuk digunakan, Ciri perilaku konsumtif yang kedua adalah menyukai produk baru dan mengikuti mode. Individu cenderung menggunakan produk-produk yang dianggap sedang digemari atau trend. Individu memperoleh kesenangan dengan membeli poduk baru yang sedang trend tersebut. Hal tersebut dikarenakan rasa keingintahuan untuk mencoba produk baru yang sedang mode.

Ciri perilaku konsumtif yang ketiga adalah kegiatan berbelanja dianggap sebagai rekreasi. Kegiatan berbelanja sebagai sesuatu yang menyenangkan bagi yang melakukannya. Individu suka dan menikmati kegiatan berbelanja serta menganggapnya sebagai kegiatan bersosialisasi. Ciri perilaku konsumtif yang keempat adalah kegiatan berbelanja impulsif atau mendadak. Individu cenderung berbelanja secara ”mendadak” tanpa memperdulikan seberapa banyak uang yang digunakan. Individu bahkan tidak mencari informasi terlebih dahulu untuk mendapatkan produk yang diinginkan.

(9)

Ciri konsumtif lain dikemukakan oleh yayasan Lembaga Konsumen Indonesia yang menyatakan perilaku konsumtif muncul karena individu lebih mementingkan faktor keinginan daripada kebutuhan (dikutip Sumartono, 2002). Oleh karenanya, keputusan individu dalam membeli barang seringkali tidak dipertimbangkan dengan matang karena hanya berdasarkan keinginan saja.

Ciri konsumtif berikutnya adalah pembelian barang secara berlebihan (Fromm, 1995). Individu cenderung membeli barang yang sama dengan jumlah lebih dari satu buah dan tidak lagi sesuai dengan kebutuhan. Ciri konsumtif terakhir adalah dalam pembelian barang individu mudah terpengaruh kelompok referensi (iklan, film dan lingkungan teman) dalam membeli barang (Glock dikutip oleh Loudon & Dela Bitta, 1993). Individu membeli barang setelah melihat iklan yang menawarkan produk atau teman yang mereferensikan produk tertentu.

Dampak Negatif Perilaku Konsumtif

Perilaku konsumtif mempunyai beberapa dampak negatif yaitu menimbulkan pemborosan dan inefisiensi biaya. Secara psikologis perilaku konsumtif menyebabkan seseorang mengalami kecemasan dan rasa tidak aman (Zebua & Nurdjayadi, 2001).

Pemborosan terjadi disebabkan perilaku membeli tidak lagi menempati fungsi yang sesungguhnya yaitu memenuhi kebutuhan tetapi untuk memenuhi kesenangan sesaat. Pembelian barang dilakukan hanya dikarenakan untuk mengikuti mode dan berdasarkan keinginan. Dana yang seharusnya digunakan untuk membeli barang yang dibutuhkan, dialihkan ke pembelian barang yang tidak bermanfaat sehingga menimbulkan inefisiensi biaya.

Dampak lainnya dari perilaku konsumtif yaitu dapat menyebabkan kecemasan. Hal tersebut dikarenakan individu selalu merasa bahwa ada tuntutan untuk membeli barang yang diinginkannya. Akan tetapi kegiatan pembelian tidak ditunjang dengan finansial yang mendukung sehingga timbul rasa cemas karena keinginannya tidak terpenuhi.

Rasa tidak aman yang disebabkan perilaku konsumtif adalah ketika individu melakukan pembelian barang secara berlebihan. Perilaku tersebut akan menyebabkan rasa tidak aman individu terhadap keuangannya. Rasa tidak aman timbul karena

(10)

menipisnya keadaan keuangan sedangkan masih ada kebutuhan lain yang harus dipenuhi.

Metode Pembayaran

Metode pembayaran adalah struktur transaksi keuangan terhadap barang dan jasa oleh pembeli dan penjual (Miller & VanHoose, 1993). Menurut Hubbard (1994) metode pembayaran adalah suatu mekanisme untuk melakukan transaksi dalam perekonomian. Struktur dan mekanisme transaksi keuangan merupakan tata cara dalam melakukan pertukaran antara barang atau jasa yang dinginkan pembeli, dengan sejumlah harga yang ditetapkan oleh penjual. Sebagai contoh, ketika individu ingin membeli suatu barang, maka individu tersebut harus menggunakan salah satu alat pembayaran yang tersedia. Alat pembayaran tersebut digunakan untuk melunasi harga (nilai jual) yang diminta penjual ataupun tertera pada label harga.

Berdasarkan pengertian di atas disimpulkan bahwa metode pembayaran adalah suatu mekanisme transaksi keuangan dalam perekonomian terhadap barang dan jasa yang dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu pembeli dan penjual. Dalam era pembangunan yang mengglobal bisa ditemui berbagai jenis metode pembayaran yang tersedia. Jenis-jenis metode pembayaran yang tersedia adalah cek, bilyet giro, traveler cheque, kartu plastik (kartu debit, kartu charge dan kartu kredit) dan uang tunai (Siamat, 1999).

Metode Pembayaran Uang Tunai

Uang tunai adalah alat yang digunakan untuk transaksi atau pertukaran yang diterima secara umum sebagai pembayaran untuk barang dan jasa (Dornbush, Fisher & Startz, 2001). Menurut Kasmir (2003), uang adalah sesuatu yang dapat diterima secara umum sebagai alat pembayaran hutang atau pembelian barang dan jasa dalam suatu wilayah tertentu. Jadi, metode pembayaran uang tunai adalah cara transaksi barang dan jasa yang menggunakan uang sebagai alat pembayarannya dalam suatu wilayah tertentu.

Kasmir (2003) menyatakan ada empat keuntungan menggunakan metode pembayaran uang tunai. Keuntungan pertama adalah mempermudah untuk memperoleh dan memilih barang maupun jasa yang diinginkan secara cepat.

(11)

Keuntungan kedua, mempermudah dalam menentukan nilai (harga) dari barang dan jasa. Keuntungan ketiga adalah memperlancar proses perdagangan secara luas. Keuntungan yang terakhir adalah uang dapat digunakan sebagai alat untuk menimbun kekayaan.

Selain keuntungan, uang tunai juga mempunyai kerugian. Kerugian menurut Arifin (2002) antara lain yaitu ketika jumlah uang tunai yang dibutuhkan banyak maka akan menjadi tidak efisien karena membutuhkan tempat yang banyak untuk menaruhnya. Selain itu, jika individu berpergian ke luar negeri maka akan sangat tidak praktis membawa uang tunai dalam jumlah yang besar. Kerugian lain dari uang adalah mudah rusak (uang kertas) serta masalah uang palsu.

Metode Pembayaran Kartu Kredit

Kartu kredit (credit card) adalah jenis kartu yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran transaksi jual beli barang atau jasa (Siamat, 1999). Pelunasan atau pembayaran atas tagihan dapat dilakukan dengan sekaligus atau dengan cara mencicil sejumlah minimum tertentu. Jadi, metode pembayaran kartu kredit adalah cara transaksi jual beli barang atau jasa dengan menggunakan kartu kredit sebagai alat pembayarannya.

Menurut Siamat (1999) keuntungan menggunakan metode pembayaran kartu kredit antara lain praktis, diterima di seluruh dunia, fleksibel, program merchandising, bantuan di saat tidak terduga, dan purchase protection plan. Keuntungan dari penggunaan kartu kredit yaitu lebih aman dan praktis karena tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar. Dengan tidak membawa uang tunai dalam jumlah besar, konsumen akan terhindar dari resiko tindak kejahatan. Selain itu, pengguna kartu kredit mendapatkan keleluasaan karena kartu kredit telah diterima sebagai alat pembayaran di seluruh dunia.

Kartu kredit merupakan alat pembayaran yang fleksibel karena pembayaran atas tagihan dapat diangsur. Keuntungan lainnya adalah kartu kredit juga menyediakan program merchandising yaitu kesempatan membeli barang-barang dengan mengangsur tanpa bunga. Program merchandising ini akan menyenangkan bagi pengguna kartu kredit yang ingin segera memiliki barang yang diinginkan.

(12)

Pengguna kartu kredit tidak perlu menyediakan sejumlah uang pada saat pembelian karena pembayaran atas barang tersebut dapat diangsur.

Penggunaan kartu kredit juga dapat memberi bantuan sebagai alat pembayaran di saat tidak terduga ketika uang tunai tidak tersedia. Sebagai contoh, pengguna kartu kredit dapat menggunakan kartu kreditnya sebagai alat pembayaran ketika seseorang mendapat musibah dan harus masuk ke rumah sakit. Di saat yang sama orang tersebut tidak memiliki uang tunai sehingga dapat menggunakan kartu kreditnya untuk membayar biaya rumah sakit. Keuntungan kartu kredit lainnya adalah kartu kredit juga memberikan asuransi perlindungan pembelian barang yang dikenal dengan purchase protection plan. Sebagai contoh, seorang pengguna kartu kredit akan mendapatkan barang pengganti yang baru ketika barang yang dibelinya mengalami kerusakan sebelum sampai ke rumah pembelinya.

Kasmir (2003) menyatakan ada dua kerugian dari metode pembayaran kartu kredit. Kerugian pertama adalah sebagian merchant membebankan biaya tambahan untuk setiap kali melakukan transaksi. Secara umum biaya tambahan yang dikenakan kepada pengguna kartu kredit antara 2 persen hingga 6 persen dari jumlah transaksi pembelian. Kerugian kedua adalah individu bisa leluasa dalam berbelanja sehingga muncul kecenderungan untuk berperilaku konsumtif. Walaupun kartu kredit memiliki batas maksimal dalam penggunaannya, namun terdapat kemungkinan pengguna tidak memperhatikannya hingga mencapai batas maksimalnya.

Perilaku Konsumtif Pada Wanita Dewasa Muda

Pada saat wanita memasuki tahap dewasa muda, mereka mulai terjun ke dunia kerja. Wanita pada tahap tersebut adalah wanita aktif yang cenderung mengikuti mode dan memperhatikan penampilannya (Clow & Baack, 2002). Kebutuhan untuk berpenampilan lebih baik membuat wanita memiliki pengeluaran yang lebih banyak (Sudarto, 2003). Bahkan lebih banyak wanita bekerja merasa memiliki kebutuhan tertentu sebagai bentuk penghargaan kepada dirinya seperti pergi ke spa kesehatan dan salon kecantikan (Clow & Baack, 2002). Chaney (2004) menyatakan bahwa pengeluaran utama wanita dewasa muda adalah untuk pembelanjaan pakaian.

Sama halnya dengan yang dialami Individu yang masih lajang yaitu cenderung membelanjakan penghasilannya pada barang yang mengikuti mode dan

(13)

barang yang sesuai dengan hobinya (Blythe, 1997). Hal tersebut juga dilakukan oleh wanita khususnya wanita lajang yang cenderung menggunakan penghasilannya untuk menjaga penampilan dirinya (Schiffman & Kanuk, 2004). Kaum wanita cenderung lebih memperhatikan segala sesuatu yang berkaitan dengan penampilan agar terlihat lebih menarik (Paludi, 1998). Oleh karenanya, penghasilan para wanita digunakan untuk perawatan kecantikan seperti pembelanjaan pakaian dan kosmetik (Hawkins, Best & Coney, 2001).

Munandar (2001) menyatakan ciri konsumsi wanita adalah wanita lebih tertarik pada gejala mode dan lebih mementingkan status sosial. Wanita dapat menghabiskan waktunya menelusuri hampir semua pusat perbelanjaan yang ada (Clendinning, 2001). Wanita merasa nyaman dan menganggap kegiatan berbelanja sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan (Schiffman & Kanuk, 2000). Ketertarikan dengan mode serta kenyamanan yang didapatkan ketika berbelanja, dapat menyebabkan timbulnya kecenderungan membeli sesuatu yang sebenarnya bukan merupakan kebutuhan (Lamd, Hair, & McDaniel, 2001). Jika pembelian barang tidak sesuai dengan kebutuhan dan berlebihan maka dapat membuat seseorang menjadi konsumtif (Fromm, 1995).

Wanita pada usia dewasa muda memiliki kecenderungan untuk lebih memperhatikan penampilan secara fisik. Penampilan fisik yang dimaksud mulai dari perawatan rambut, pakaian yang dikenakan hingga perawatan tubuh. Demi mendapatkan penampilan fisik yang baik, para wanita cenderung menghabiskan penghasilannya lebih banyak untuk membiayai perawatan. Selain itu, wanita lebih suka menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Oleh karenanya, wanita cenderung untuk berbelanja dan seringkali membeli barang yang diinginkan dan bukan yang dibutuhkan.

Hal lain yang dapat mendukung wanita dalam berbelanja adalah penggunaan metode pembayaran kartu kredit. Kepemilikan kartu kredit sangat mudah untuk didapatkan, individu hanya melampirkan kartu tanda penduduk (KTP) dan slip gaji. Pada dasarnya fungsi kartu kredit adalah memudahkan pembayaran ketika melakukan transaksi. Para pengguna kartu kredit tidak lagi harus membawa uang tunai ketika

(14)

berbelanja. Hal tersebut disebabkan adanya fasilitas kredit yang seringkali melebihi penghasilan individu. Oleh karenanya, segala keinginan dapat dipenuhi dengan segera karena adanya kartu kredit.

Kartu kredit menawarkan keamanan dan kenyamanan bagi penggunanya. Para pemegang kartu kredit dapat dengan leluasa melakukan transaksi tanpa harus membawa uang dalam jumlah yang besar. Selain fasilitas kredit, para pengguna mendapatkan beberapa keuntungan yang menarik. Keuntungan yang didapatkan adalah para pengguna kartu kredit dapat mencicil serta melihat secara rinci pengeluaran melalui tagihan yang datang setiap bulan. Keuntungan lainnya adalah penerimaan pembayaran kartu kredit di seluruh dunia serta pemberian poin dalam setiap transaksi. Keuntungan yang diberikan oleh pihak penerbit kartu kredit agar pengguna kartu kredit bisa mendapat kemudahan dan kenyamanan dalam bertransaksi. Tetapi, dengan fasilitas kredit yang seringkali melebihi penghasilan dan pembayaran tagihan yang dapat dilakukan dengan mencicil, seringkali membuat para pengguna kartu kredit menggunakannya secara berlebihan.

Adapun salah satu fenomena penggunaan kartu kredit yaitu adanya penawaran poin berganda bagi pengguna kartu kredit tertentu. Salah satu pusat perbelanjaan menawarkan poin dua kali lipat bagi para pengguna kartu kredit tertentu dibandingkan dengan membayar menggunakan uang tunai. Penawaran ini tampaknya membuat para pengguna kartu kredit tersebut antusias menggunakan kartu kreditnya ketika berbelanja. Hal tersebut disebabkan selain dapat mencicil perbelanjaan, pengguna juga dapat menukarkan poin dengan hadiah tertentu sesuai poin yang terkumpul. Keinginan untuk mengumpulkan poin, seringkali membuat individu menggunakan kartu kredit secara belebihan.

Berbeda dengan pengguna kartu kredit, pengguna uang tunai lebih dapat membatasi pengeluarannya. Pengguna uang tunai akan lebih bisa menggunakan penghasilannya untuk membeli barang yang benar-benar dibutuhkannya bukan sekedar keinginan saja. Para pengguna uang tunai akan memperhitungkan penghasilan secara jelas sebelum berbelanja untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka cenderung tidak membelanjakan uangnya untuk sesuatu yang bukan kebutuhannya ketika penghasilan tidak mencukupi. Oleh karenanya, para pengguna uang tunai

(15)

kemungkinan akan lebih hemat dalam pengeluaran dibandingkan pengguna kartu kredit.

Perilaku konsumtif akibat penggunaan kartu kredit dapat terjadi pada setiap individu. Namun wanita dewasa muda secara khusus memiliki kecenderungan berperilaku konsumtif. Wanita dewasa muda telah memasuki masa aktif. Hal ini disebabkan wanita dewasa muda telah memasuki dunia kerja sehingga mereka telah memiliki penghasilan sendiri. Wanita dewasa muda terlebih yang masih lajang dan telah mandiri dalam bidang keuangan dapat dengan leluasa menggunakan penghasilannya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Salah satu pengeluaran wanita dewasa muda yang cukup besar adalah biaya untuk merawat dan mendukung penampilan fisiknya.

Hal lain yang juga mendukung wanita dewasa muda cenderung berperilaku konsumtif adalah menggunakan metode pembayaran kartu kredit yang diterima hampir di seluruh pusat perbelanjaan. Apabila faktor kegemaran berbelanja didukung dengan kepemilikan kartu kredit, maka kemungkinan wanita dewasa muda akan menjadi konsumtif. Faktor kondisi dan situasi seperti kepemilikan kartu kredit dan kebutuhan untuk menjaga penampilan dapat menyebabkan wanita dewasa muda yang mempunyai kartu kredit cenderung berperilaku konsumtif dibandingkan wanita dewasa muda pengguna tunai. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti memiliki hipotesis “Wanita dewasa muda yang menggunakan metode pembayaran kartu kredit cenderung lebih (berperilaku) konsumtif daripada wanita dewasa muda yang menggunakan metode pembayaran uang tunai”.

METODE PENELITIAN

Subjek

Peneliti menggunakan subjek sebanyak 400 orang. Tetapi setelah dilakukan screening, didapatkan 3 orang subjek yang menjawab secara tidak konsisten sehingga tidak diikutsertakan dalam proses pengolahan data. Selanjutnya subjek terbagi tiga kelompok dengan masing-masing 171 subjek pengguna metode pembayaran uang tunai, 122 subjek pengguna metode pembayaran kartu kredit aktif dan 104 subjek

(16)

pengguna metode pembayaran kartu kredit tidak aktif. Karena tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan perilaku konsumtif antara metode pembayaran uang tunai dan kartu kredit, maka dalam pengolahan data hanya melibatkan subjek pengguna metode pembayaran uang tunai dan kartu kredit aktif. Total keseluruhan subjek berjumlah 293 orang. Subjek yang digunakan memiliki karakteristik (1) wanita dewasa muda, (2) berusia antara 20 – 40 tahun, (3) berstatus lajang dan (4) bekerja.

Desain penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah quasi experimental. Desain quasi experimental yang digunakan adalah two-group design, dengan dua variabel penelitian. Variabel pertama adalah metode pembayaran sebagai variabel bebas (IV). Variabel kedua adalah perilaku konsumtif sebagai variabel terikat (DV). Untuk mendekati desain eksperimen yang sesungguhnya, maka dalam penelitian ini, peneliti mencoba melakukan kontrol terhadap 8 variabel lain. Tujuan melakukan kontrol terhadap variabel lain tersebut adalah untuk menghilangkan efek yang dapat mempengaruhi variabel bebas pada pengukuran variabel terikat (Kerlinger, 1992). Variabel kontrol tersebut antara lain usia, jenis kelamin, status perkawinan, jenjang pendidikan, status bekerja, pendapatan, status tempat tinggal, jenis kartu kredit dan jumlah kartu kredit.

Peneliti membatasi subjek berusia antara 20-40 tahun. Menurut Papalia et al. (1998) individu dengan usia 20-40 tahun telah memasuki tahap dewasa muda. Subjek penelitian yang dipilih adalah wanita dewasa muda. Rata-rata usia pada kelompok subjek yang menggunakan metode pembayaran uang tunai adalah 25,15 (SD = 3,79). Sedangkan rata-rata usia kelompok subjek yang menggunakan metode pembayaran kartu kredit adalah 26,26 (SD = 3,67). Artinya usia kelompok subjek yang menggunakan metode pembayaran kartu kredit lebih besar daripada usia kelompok subjek yang menggunakan metode pembayaran uang tunai. Kedua rata-rata usia tersebut berbeda secara signifikan, t(291) = -2,52, p < 0.01. Karena perbedaan tersebut, maka dengan demikian usia pada kedua kelompok tersebut akan dikontrol lebih lanjut dengan memperlakukan usia sebagai IV2 selain metode pembayaran (IV1).

Secara keseluruhan subjek penelitian berjenis kelamin perempuan, sehingga baik pada kelompok subjek dengan metode pembayaran kartu kredit dan uang tunai

(17)

memiliki karakteristik jenis kelamin yang sama. Pilihan status perkawinan pada kuesioner yaitu belum menikah, sudah menikah dan pernah menikah. Subjek penelitian yang digunakan adalah yang berstatus lajang atau belum menikah. Individu yang lajang cenderung membelanjakan penghasilannya pada barang yang mengikuti mode dan barang yang sesuai dengan hobinya (Blythe, 1997). Selain itu penggunaan subjek yang berstatus lajang dimaksudkan untuk menghindari bias dalam pengeluaran. Bias dalam pengeluaran artinya subjek menggunakan pendapatannya bukan hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Individu yang sudah menikah diperkirakan akan menggunakan sebagian pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga terlebih jika telah memiliki anak. Oleh karena itu dalam penelitian ini, secara keseluruhan subjek penelitian adalah wanita yang belum menikah. Dengan demikian subjek penelitian dari kelompok metode pembayaran kartu kredit dan uang tunai memiliki karakteristik status perkawinan yang sama yaitu belum menikah.

Jenjang pendidikan adalah tahap terakhir pendidikan yang telah diselesaikan oleh subjek. Subjek yang digunakan adalah individu dengan minimal pendidikan SMU atau setingkatnya. Diharapkan dengan tingkat pendidikan tersebut subjek penelitian tidak mengalami kesulitan untuk memahami pertanyaan-pertanyaan kuesioner sehingga mereka dapat mengisi kuesioner tanpa perlu dibimbing. Melalui uji Chi-Square, diperoleh X² (4) = 20,79, p < 0,01 diketahui bahwa ada perbedaan tingkat pendidikan antara kelompok subjek metode pembayaran kartu kredit dan uang tunai. Karena perbedaan tersebut, maka dengan demikian jenjang pendidikan pada kedua kelompok tersebut akan dikontrol lebih lanjut dengan memperlakukan jenjang pendidikan sebagai IV2 selain metode pembayaran (IV1).

Subjek penelitian secara keseluruhan adalah individu yang telah bekerja, sehingga baik pada kelompok subjek dengan metode pembayaran kartu kredit dan uang tunai memiliki karakteristik yang sama yaitu telah bekerja. Range pendapatan subjek yang digunakan dalam penelitian adalah Rp. 1,5 – 4 juta per bulan. Range tersebut didapatkan dari batasan pihak bank bagi pemilik kartu kredit utama classic/silver. Pemilik kartu kredit classic/silver harus memiliki pendapatan pertahun minimal Rp. 18 juta dan maksimal Rp. 48 juta. Rata-rata pendapatan pada kelompok subjek yang menggunakan metode pembayaran uang tunai adalah Rp 2.077.573,10 (SD = 653721,10), sedangkan rata-rata pendapatan pada kelompok subjek yang

(18)

menggunakan metode pembayaran kartu kredit adalah Rp. 2.811.065,57 (SD= 850243,34). Artinya, pendapatan subjek yang menggunakan metode pembayaran kartu kredit lebih besar daripada pendapatan kelompok subjek yang menggunakan metode pembayaran uang tunai. Kedua rata-rata tersebut berbeda secara signifikan, t(291) = -8,344, p < 0,01. Karena perbedaan tersebut, maka dengan demikian pendapatan pada kedua kelompok tersebut akan dikontrol lebih lanjut dengan memperlakukan pendapatan sebagai IV2 selain metode pembayaran (IV1).

Subjek penelitian paling banyak tinggal bersama dengan orang tua yaitu sebanyak 189 orang atau 64,51%. Subjek penelitian yang memiliki rumah sendiri sebanyak 27 orang atau 9,22%. Selain itu, sebanyak 59 orang atau 20,4 % subjek tinggal di rumah milik tuan rumah (kontrak/kos). Subjek penelitian yang tinggal bersama saudara atau teman sebanyak 13 orang atau 4,44%. Terakhir, 5 orang atau sekitar 1,71% memiliki status tempat tinggal yang lain selain 4 pilihan di atas. Melalui uji Chi-Square, diperoleh X² (4) = 5,03, p > 0,05 diketahui bahwa tidak ada perbedaan status tempat tinggal antara kelompok subjek metode pembayaran kartu kredit dan uang tunai.

Pemilik kartu kredit yang menjadi subjek penelitian adalah individu yang memiliki kartu kredit utama. Peneliti menggunakan batasan kartu kredit utama untuk menghindari pemilik kartu kredit tambahan atau dengan kata lain menghindari individu yang tidak bekerja tetapi memiliki kartu kredit. Secara keseluruhan subjek penelitian pengguna aktif metode pembayaran kartu kredit menggunakan kartu kredit utama.

Lokasi Penelitian

Peneliti menyebarkan kuesioner di beberapa pusat perbelanjaan yang ada di Jakarta. Tempat pembagian kuesioner antara lain di Food court lantai 4, Plaza Semanggi jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. Selain itu, peneliti juga menyebarkan kuesioner di Food Court lantai 4 Mall Taman Anggrek, jalan S. Parman, Jakarta Barat. Pusat perbelanjaan yang terakhir adalah Food Court lantai 4 Mega Mall, jalan Pluit Raya, Jakarta Utara. Alasan peneliti menggunakan pusat perbelanjaan karena wanita lebih banyak menghabiskan waktunya menelusuri hampir semua pusat perbelanjaan yang ada (Clendinning, 2001). Selain itu peneliti

(19)

menggunakan ketiga pusat perbelanjaan dikarenakan letaknya yang dekat dengan pusat perkantoran.

Pengukuran

Variabel Metode Pembayaran

Alat ukur metode pembayaran digunakan untuk membedakan antara subjek pengguna uang tunai dan kartu kredit. Pada pernyataan terakhir data kontrol di bagian I berisi pernyataan mengenai kepemilikan kartu kredit. Jika subjek menjawab ya (memiliki kartu kredit) maka dilanjutkan dengan pengisian bagian II (alat ukur pengguna kartu kredit) dan bagian III (alat ukur perilaku konsumtif). Namun, jika subjek menjawab tidak, maka subjek langsung mengisi bagian III yang berarti bahwa subjek pengguna uang tunai.

Pengukuran bagian II akan dilihat dari jawaban subjek. Subjek harus memiliki kartu kredit utama. Selain kepemilikan kartu kredit utama, subjek harus memenuhi dua syarat agar bisa digolongkan pengguna aktif kartu kredit. Syarat pertama yaitu jika subjek menjawab pernyataan menggunakan kartu kredit (>= 7) maka subjek dikategorikan sering menggunakan kartu kredit. Contoh butir pernyataan alat ukur metode pembayaran: Dalam kehidupan sehari-hari saya lebih suka menggunakan metode pembayaran kartu kredit (butir positif); Saya lebih senang menggunakan uang tunai jika makan di restoran (butir negatif). Pada pernyataan positif, jika subjek menjawab benar atau sesuai maka akan mendapat skor 1. Sebaliknya pada pernyataan negatif, jika subjek menjawab benar atau sesuai maka akan mendapat skor 0. Dengan menggunakan metode perhitungan Kuder Richardson 20, didapatkan nilai reliabilitas 10 butir alat ukur metode pembayaran tersebut sebesar 0,71.

Syarat kedua yaitu dilihat dari penggunaan setengah dari limit kartu. Artinya, subjek dikatakan sering menggunakan kartu kreditnya jika minimal dan maksimal penggunaan kartu kredit dijumlahkan dan dibagi dua sehingga menghasilkan setengah dari limit kartu yang dimiliki. Pembatasan penggunaan limit kartu agar seorang individu dapat dikatakan sebagai pengguna aktif kartu kredit, didapatkan dari wawancara dengan pihak bank. Peneliti menanyakan kriteria yang dibuat oleh pihak bank agar dapat dikatakan individu adalah pengguna aktif kartu kredit. Dengan demikian, jika skor yang didapatkan subjek pada alat ukur bagian II semakin tinggi

(20)

(>=7) dan penggunaan kartu kredit mencapai setengah atau lebih besar dari limit maka subjek akan dikategorikan sering menggunakan kartu kredit (pengguna aktif kartu kredit).

Variabel Perilaku Konsumtif

Alat ukur variabel perilaku konsumtif menggunakan summated rating scale (skala 1–5). Contoh butir pernyataan pada alat ukur perilaku konsumtif tersebut adalah: Berbelanja adalah kegiatan yang menyenangkan (butir positif); Berbelanja adalah kegiatan yang melelahkan (butir negatif). Semakin tinggi skor variabel perilaku konsumtif maka subjek semakin menyukai kegiatan berbelanja, menyukai produk baru, lebih mementingkan keinginan daripada kebutuhan, membeli karena kemasannya menarik, suka berbelanja secara mendadak, mencoba produk lebih dari dua produk sejenis dengan merek yang berbeda dan lain-lain. Jumlah butir pertanyaan yaitu 76 butir, dengan nilai reliabilitas Alpha Cronbach sebesar 0,95.

Prosedur

Tahap pertama kuesioner dibagikan pada tanggal 3 - 5 November dan 8 - 11 November di Plaza Semanggi. Tahap kedua kuesioner dibagikan pada tanggal 22 – 26 November di Mall Taman Anggrek. Tanggal 29 November – 3 Desember kuesioner dibagikan di Mega Mall. Semua kuesioner dibagikan pada waktu makan siang yaitu pada pukul 12 – 13 siang.

Pembagian kuesioner kepada subjek diawali dengan penjelasan bahwa peneliti sedang mengerjakan tugas akhir. Pada pembagian kuesioner, peneliti mengalami cukup banyak penolakan dari para calon subjek. Hal ini dikarenakan, butir item yang terlalu banyak dan calon subjek tidak bersedia diganggu pada saat makan siangnya.

Kuesioner dibagikan kepada 500 wanita dewasa muda. Tetapi setelah dilakukan penyaringan dengan acuan variabel kontrol maka didapatkan sebanyak 400 kuesioner yang dapat diolah datanya. Sebanyak 100 kuesioner tidak dapat diikutsertakan dalam proses pengolahan data karena subjek tidak memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Kriteria yang dimaksud adalah usia, status perkawinan dan pendapatan.

(21)

HASIL PENELITIAN

Data penelitian diolah menggunakan program SPSS 12 for windows. Metode yang digunakan adalah independent samples t-test dan two way anova. Independent samples t-test digunakan untuk mengetahui perbedaan skor dependent variable (perilaku konsumtif) antara dua kelompok independent variable (metode pembayaran). Sedangkan two way anova digunakan untuk mengetahui perbedaan skor dependent variable (perilaku konsumtif) antara dua kelompok independent variable (metode pembayaran) yang dipengaruhi oleh independent variable lainnya. Dalam hal ini independent variables lainnya adalah variabel usia, jenjang pendidikan dan pendapatan.

Perbandingan Perilaku Konsumtif Berdasarkan Metode Pembayaran

Berdasarkan taraf signifikansi (α) pada level 0,01 dan one tailed test, didapatkan rata-rata perilaku konsumtif untuk kelompok metode pembayaran uang tunai (M = 2,38, SD = 0,31) secara signifikan berada di bawah rata-rata perilaku konsumtif kelompok metode pembayaran kartu kredit (M = 2,64, SD = 0,33), t (291) = -6,837, p < 0,01. Artinya, perilaku konsumtif kedua kelompok berbeda secara signifikan.

Perbandingan Perilaku Konsumtif Berdasarkan Metode Pembayaran Dengan Mengontrol Variabel Usia

Oleh karena adanya perbedaan usia pada kelompok metode pembayaran kartu kredit dan uang tunai maka dilakukan kontrol pada variabel usia.

Tabel 1.

Gambaran Perilaku Konsumtif berdasarkan Metode Pembayaran dan Usia

Usia Metode Pembayaran Rata-rata Perilaku Konsumtif

< 23 Uang tunai 2.38 Kartu kredit 2.66 23 – 24.99 Uang tunai 2.47 Kartu kredit 2.63 25 – 27,99 Uang tunai 2.31 Kartu kredit 2.69 ≥ 28 Uang tunai 2.38 Kartu kredit 2.52

(22)

Dari perhitungan two-way ANOVA, didapatkan bahwa metode pembayaran secara signifikan mempengaruhi perilaku konsumtif dengan F(1, 285) = 35,63, p < 0,01. Tetapi, variabel usia tidak mempengaruhi secara signifikan terhadap perilaku konsumtif dengan F (3, 285) = 1,04, p > 0,05. Dengan demikian pada saat variabel usia dimasukkan variabel kontrol, metode pembayaran tetap mempengaruhi perilaku konsumtif. Secara keseluruhan terlihat bahwa subjek yang menggunakan kartu kredit memiliki perilaku konsumtif yang lebih tinggi daripada yang menggunakan uang tunai, berapapun usia subjek.

Perbandingan Perilaku konsumtif Berdasarkan Metode Pembayaran Dengan Mengontrol Variabel Jenjang Pendidikan

Oleh karena adanya perbedaan jenjang pendidikan pada kelompok yang menggunakan metode pembayaran kartu kredit dan uang tunai maka dilakukan kontrol terhadap variabel jenjang pendidikan.

Tabel 2.

Gambaran Perilaku Konsumtif Berdasarkan Metode Pembayaran dan Jenjang Pendidikan

Jenjang Pendidikan Metode Pembayaran Rata-rata Perilaku konsumtif

Tamat SMU/Setingkatnya Uang Tunai 2.38

Kartu kredit 2.58

Tamat D1/D2/Diploma Uang Tunai 2.43

Kartu kredit 2.48

Tamat D3/Akademi Uang Tunai 2.41

Kartu kredit 2.48

Tamat S1 Uang Tunai 2.37

Kartu kredit 2.68

Tamat S2 Uang Tunai 2.46

Kartu kredit 2.77

Dari perhitungan two-way ANOVA, didapatkan bahwa metode pembayaran secara signifikan mempengaruhi perilaku konsumtif dengan F(1, 283) = 8,72, p < 0,01. Tetapi, variabel jenjang pendidikan tidak mempengaruhi secara signifikan terhadap perilaku konsumtif dengan F (4, 283) = 0,94, p > 0,05. Dengan demikian pada saat variabel jenjang pendidikan dimasukkan variabel kontrol, metode pembayaran tetap mempengaruhi perilaku konsumtif. Data juga menunjukkan bahwa pada tingkat pendidikan apapun, subjek yang memiliki kartu kredit memiliki perilaku konsumtif yang lebih tinggi daripada subjek yang menggunakan uang tunai.

(23)

Perbandingan Perilaku Konsumtif Berdasarkan Metode Pembayaran Dengan Mengontrol Variabel Pendapatan

Oleh karena adanya perbedaan pendapatan pada kelompok metode pembayaran kartu kredit dan uang tunai maka dilakukan kontrol terhadap variabel pendapatan.

Tabel 3.

Gambaran Perilaku Konsumtif Berdasarkan Metode Pembayaran dan Pendapatan

Pendapatan Metode Pembayaran Rata-rata Perilaku Konsumtif

< Rp.1.725.000 Uang Tunai 2.35 Kartu kredit 2.56 Rp.1.725.000 – Rp.1.999.999 Uang tunai 2.49 Kartu kredit 2.92 Rp.2.000.000 – Rp.2.999.999 Uang tunai 2.39 Kartu kredit 2.60 ≥ Rp.3.000.000 Uang tunai 2.42 Kartu kredit 2.69

Pada perhitungan two-way ANOVA metode pembayaran secara signifikan mempengaruhi perilaku konsumtif dengan F(1, 285) = 25,67, p < 0,01. Demikian pula variabel pendapatan mempengaruhi perilaku konsumtif secara signifikan dengan F(3, 285) = 2,95, p < 0,05. Pada saat variabel pendapatan dimasukkan sebagai variabel kontrol dalam pengujian perilaku konsumtif, variabel metode pembayaran tetap memiliki pengaruh yang signifikan. Berdasarkan hasil perhitungan Eta Square (η²), didapatkan variabel pendapatan bernilai 0,2 dan variabel metode pembayaran bernilai 0,7. Dengan demikian bisa disimpulkan variabel variabel metode pembayaran lebih mempengaruhi perilaku konsumtif daripada variabel pendapatan. Data di atas juga memperlihatkan bahwa perilaku konsumtif tertinggi ditampilkan oleh subjek pengguna kartu kredit dengan pendapatan antara Rp. 1.725.000 – Rp. 1.999.999, sedangkan perilaku konsumtif terendah pada subjek pengguna uang tunai dengan pendapatan < Rp. 1.725.000.

(24)

Alasan subjek menggunakan kartu kredit

Tabel 4.

Alasan subjek menggunakan kartu kredit

No. Alasan f %

1 Praktis 72 59,02

2 Pembayaran dpt dicicil 14 11,48

3 Aman 12 9,84

4 Ingin mendapat poin 11 9,02 5 Untuk keperluan mendadak 9 7,38 6 Diterima di seluruh pusat belanja 3 2,46

7 Trend 1 0,82

Dari tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa alasan kepraktisan menjadi alasan utama subjek menggunakan kartu kredit dengan frekuensi 72 orang (59,02%). Pembayaran bisa dicicil merupakan alasan kedua terbanyak dengan frekuensi 14 orang atau 11,48 %. Dua alasan utama tersebut, tampaknya dapat mendukung penjelasan mengenai perilaku konsumtif yang ada pada subjek pengguna kartu kredit.

PEMBAHASAN

Hal yang dapat menunjang wanita dewasa muda berperilaku konsumtif adalah penggunaan metode pembayaran kartu kredit. Metode pembayaran kartu kredit dapat menyebabkan perilaku konsumtif. Seringkali fasilitas kredit yang diberikan oleh pihak bank melebihi penghasilan individu. Oleh karena itu individu dapat menggunakan kartu kreditnya kapan saja untuk memenuhi keinginannya.

Selain fasilitas kredit, kartu kredit juga memberikan banyak keuntungan yang menyebabkan wanita dewasa muda cenderung menggunakan metode pembayaran kartu kredit. Keuntungan yang dimaksud antara lain seperti keamanan, pembayaran tagihan yang bisa dicicil, mendapatkan poin, bisa melihat semua transaksi secara rinci serta penerimaan kartu kredit hampir di semua pusat perbelanjaan. Keuntungan seperti mendapatkan poin dan penerimaan kartu kredit hampir di semua pusat perbelanjaan akan berguna dan mendukung khususnya bagi individu yang suka berbelanja berlebihan dan menganggap berbelanja sebagai rekreasi.

(25)

Selain keuntungan yang telah disebutkan di atas, kartu kredit juga menawarkan kepraktisan bagi penggunanya. Kepraktisan yang dimaksud adalah individu bisa berbelanja secara mendadak/impulsif. Selain itu, bagi pengguna kartu kredit keinginan untuk membeli barang yang diinginkan dapat segera dipenuhi. Kepraktisan kartu kredit juga mendukung bagi individu yang suka membeli barang secara berlebihan.

Berbeda dengan kartu kredit, penggunaan uang tunai tidak menawarkan kemudahan seperti penggunaan kartu kredit. Perbedaan yang paling jelas terlihat antara metode pembayaran katu kredit dan uang tunai, yaitu ketika keinginan berbelanja dapat dengan segera terpenuhi ketika menggunakan kartu kredit dari pada uang tunai.

Selain itu terdapat beberapa pemikiran yang tercerminkan dari indikator yang dominan dipilih oleh subjek pengguna metode pembayaran kartu kredit dibandingkan dengan subjek pengguna metode pembayaran uang tunai. Beberapa pemikiran tersebut antara lain menyukai barang bermerk, senang mengikuti mode dan lebih mementingkan faktor keinginan daripada kebutuhan. Pemikiran tersebut dapat mengindikasikan bahwa kartu kredit memudahkan memfasilitasi perilaku membeli bagi subjek yang menyukai barang bermerk, mendukung subjek untuk mengikuti mode dan memenuhi keinginan subjek dalam berbelanja.

Adanya fasilitas kredit pada kartu kredit mendukung dan memudahkan bagi subjek yang menyukai barang bermerk dan mode untuk dapat membelinya dengan segera. Hal tersebut berbeda dengan subjek pengguna uang tunai yang harus menunda pembelian ketika keberadaan uang tunai tidak mendukung. Selain itu kepemilikan kartu kredit dapat memenuhi faktor keinginan daripada kebutuhan subjek dalam berbelanja. Pemenuhan keinginan menjadi terhambat bagi pengguna uang tunai karena harus lebih mengutamakan terpenuhinya kebutuhanan karena adanya batasan penghasilan.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil pengolahan data yang diperoleh, maka peneliti menyimpulkan bahwa hipotesis penelitian diterima, yaitu: wanita dewasa muda yang

(26)

menggunakan metode pembayaran kartu kredit cenderung lebih (berperilaku) konsumtif daripada wanita dewasa muda yang menggunakan metode pembayaran uang tunai.

Saran Untuk Wanita Dewasa Muda

Saran penulis untuk wanita dewasa muda yaitu agar para wanita membiasakan diri melakukan kegiatan berbelanja secara terencana seperti dengan menyediakan daftar belanja. Berbelanja secara terencana diperkirakan akan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya perilaku konsumtif akibat pengeluaran yang berlebihan.

Dalam pembelian barang, para wanita dewasa muda diharapkan untuk menilai barang berdasarkan fungsi dan kebutuhan bukan berdasarkan keinginan. Hal tersebut diperkirakan dapat mengurangi kecenderungan terjadinya perilaku konsumtif akibat pembelian barang secara berlebihan.

Saran Untuk Individu Pengguna Kartu Kredit

Peneliti menyarankan bagi pengguna kartu kredit agar lebih mawas diri dalam penggunaan kartu kredit. Pemberian batas kredit yang diberikan oleh pihak bank seringkali melebihi penghasilan individu, sehingga diharapkan individu menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan yang dimiliki. Selain itu, kepada para pengguna kartu kredit disarankan mencermati tagihan kartu kreditnya sebagai alat bantu untuk mengontrol pengeluaran lebih baik sehingga terhindarkan dari perilaku konsumtif.

DAFTAR PUSTAKA

Abdams, I. (1991). Hubungan konsep diri dengan perilaku konsumtif pada buruh wanita di Jakarta. Skripsi sarjana. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Tidak diterbitkan.

Arifin, A. (2002). Tips dan trik memiliki kartu kredit. Jakarta: Gramedia. Blythe, J. (1997). The essence of consumer behaviour. London: Prentice hall.

Chaney, D. (2004). Life style: sebuah pengantar komprehensif. (Penerj. Nuraeni). Yogyakarta: Jalasutra. (karya asli diterbitkan tahun 1996).

(27)

Chitrakar, R. (2002). Energy consumption. Retrieved January 19, 2004 from http://www.Shantimarg.org/rohan/writings/energyconsumption.htm

Clendinning, A. (2001). Shopping for pleasure: women in the making of london’s west end. Canadian journal of history, 36(3). Retrieved August 24, 2004 from http://www.proquest.com.

Clow, K. E. & Baack, D. (2002). Integrated advertising, promotion, and marketing communications. NJ: Prentice-Hall.

Dittmann, M. (2004, June). Protecting children from advertising. Monitor on psychology, 35(6). Retrieved August 26, 2004 from http://www.apa.org/monitor/jun04/protecting/html

Dorbusch, R., Fisher, S. & Startz, R. (2001). Macroeconomics. (8th ed.). Boston: McGraw-Hill

Engel, J. F., Blackwell, R. D., & Miniard, P. W. (1994). Perilaku konsumen. (6th ed.). (F.X. Budiyanto, Penerj.). Jakarta: Binarupa aksara (karya asli diterbitkan tahun 1992).

________ . (1995). Consumer behavior. (8th ed.). Forth Worth: the Dryden press.

Fromm, E. (1995). Masyarakat yang sehat. ( M. Sutrisno SJ, Penerj.). Jakarta: Yayasan obor Indonesia (karya asli diterbitkan tahun 1955).

Hawkins, D. I., Best, R. J. & Coney, K. A. (2001). Consumer behavior: building marketing strategy. Boston: Irwin McGraw-Hill

Hubbard, R. G. (1994). Money the financial system and the economy. Massachusetts: Addison-Wesley Publishing Company.

Holub, T. (2002). Credit card usage and debt among college and university students. Eric Digest. Retrieved Desember 12, 2003 from http://www.eriche.org/digest/2002-1.pdf

Kasmir. (2003). Bank dan lembaga keuangan lainnya. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Kersting, K. (2004, June). Driving teen egos—and buying—through ‘branding’. Monitor on psychology 35(6). Retrieved August 26, 2004 from http://www.apa.org/monitor/jun04/driving.html

Kerlinger. F. N. (1992). Foundations of behavioral research. (3rd ed.) Fort Worth: Harcourt Brace College Publishers.

(28)

Lamb, C. W., Hair, J. F., & McDaniel, C. D. (2001). Pemasaran. (D. Octaveria, Penerj.). Jakarta: Salemba empat. (karya asli diterbitkan tahun 2000)

Loudon, D. L. & Bitta, A. J. D. (1993). Consumer behavior. (4th ed.). New York: McGraw-Hill.

Miller, R. L.. & VanHoose, D. D. (1993). Modern money and banking. (3rd ed.). New York: McGraw-Hill.

Munandar, A. S. (2001). Psikologi industri dan organisasi. Jakarta: UI Press

Norvitilis, J. M. & Maria, P. S. (2002, September). Credit card debt on college campuses: causes, consequences, and solutions. College student journal.

Retrieved Desember 20, 2003 from

http://www.findarticles.com/cf_dls/m0FCR/3_36/95356585/p1/article.jhtml Paludi, M. A.. (1998). The psychology of women. NJ: Prentice-Hall

Papalia, D.E., Olds, M. S., & Feldman, R. D. (1998). Human development (7th ed.). Boston: McGraw-Hill.

Schiffman, L. G., & Kanuk, L. L. (2000). Consumer behavior (7th ed.). NJ: Prentice hall.

__________ (2004). Consumer behavior. (8th ed.). NJ: Prentice hall.

Setiadi, N. J. (2003). Perilaku konsumen: konsep dan implikasi untuk strategi dan penelitian pemasaran. Jakarta: Prenada media.

Siamat, D. (1999). Manajemen lembaga keuangan (Edisi ke-4). Jakarta: FE-UI. Solomon, M. R. (2002). Consumer behaviour. (4th ed.). NJ: Prentice-Hall. Sudarto, T. (2003). Strategi manajemen rumah tangga. Jember: Target press. Sumartono. (2002). Terperangkap dalam iklan. Bandung: Alfabeta.

Tambunan, R. (2001). Remaja dan perilaku konsumtif. Retrieved April 17, 2003 from http://www.e-psikologi.com/masalah/office%20politik.htm

Yudana, I. G. A. (1997). Cara bijak mengelola kartu kredit. Retrived February 15, 2004 from http://www.indomedia.com/intisari/1997/desember/k_kredit.htm

Yulianti, Y. (2003). Faktor-faktor yang mempengaruhi pemggunaan kartu kredit berlebihan (studi kasus). Tesis tidak dipublikasikan. Depok: UI.

Yulianto, S. (2003). Ilmu sosial ekonomi. Jakarta: Bumi aksara.

Zebua, A. S. & Nurdjayadi, R. D. (2001). Hubungan antara konformitas dan konsep d

i r

Referensi

Dokumen terkait

Dan pada konsentrasi limbah cair garam 30˚ Be dengan konsentrasi 50 persen diperoleh kndungan NaCl murni sebesar 15,478 persen, namun untuk kontrol yang

Menurut Baker (1995: 26-42), strategi yang dapat digunakan dalam penerjemahan istilah- istilah, khususnya istilah budaya khusus adalah sebagai berikut: 1) penerjemahan dengan

Validitas empirik dan kecocokan model pengukuran dibuktikan dengan analisis faktor konfirmatori (CFA) dengan program Lisrel 8.30. Telaah praktisi melibatkan 60 orang

Faktor lain yang menyebabkan terjadinya anemia yaitu konsumsi tablet Fe tidak teratur, ibu hamil yang memmiliki pengetahuan yang baik namun tidak mengkonsumsi tablet

mengedepankan kompetisi dan kompetensi ASN dalam promosi dan pengisian jabatan. Hal ini menempatkan pegawai ASN sebagai sebuah profesi yang harus memiliki standar

Tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis dan membuktikan pengaruh faktor fundamental perusahaan terhadap risiko

Konsep akuntabilitas dalam pembangunan tahap II Jembatan Way Sekampung Kresnowidodo-Negara Saka Kabupaten Pesawaran dan juga merujuk pada penelitian terdahulu mengenai

( soft skills ) dan manusia dengan memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak ( hard skills ) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi