• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BATANG NOMOR 14 TAHUN 2000 SERI D NO. 13

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BATANG NOMOR 14 TAHUN 2000 SERI D NO. 13"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BATANG NOMOR 14 TAHUN 2000 SERI D NO. 13

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BATANG NOMOR 14 TAHUN 2000

TENTANG

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BATANG,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka memantapkan penyelenggaraan Otonomi Daerah dan Otonomi Desa dipandang perlu lebih mengutamakan prinsip-prinsip demokrasi yang mencerminkan peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan serta memperhatikan potensi keanekaragaman masyarakat desa ;

b. bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa merupakan pedoman pengaturan penerimaan dan pengeluaran Desa agar penyelenggaran Pemerintahan Desa berjalan efektif dan efisien, maka dipandang perlu adanya Peraturan Daerah tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa ; c. bakrwa sehubungan dengara hal tersebut huruf a

dan hurut b, maka perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah ;

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1965 tentang Pembentukan Daerah Tingkat Il Batang (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara Nomor 27-57);

(2)

2. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839) ;

3. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan lembaran negara Nomor 38,5) ;

4. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1988 tentang Perubahan batas wilayah kotamadya daerah Tingkat II Pekalongan, Kabupaten Daerah tingkat II Pekalongan, dan Kabupaten Daerah Tingkat II Batang (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3381) ;

5. Keputusan Presiden Nomor 14 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Rancangan Undang-undang, Rancangan Peraturan Pemerintah, dan Rancangan Keputusan Presiden;

6. Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1993 tentang Pencabutan Beberapa Peraturan Menteri Dalam Negeri, Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Instruksi Menteri Dalam Negeri mengenai Pelaksanaan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa;

7. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 63 Tahun 1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan dan Penyesuaian Peristilahan Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Desa dan Kelurahan;

8. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 1999 tentang Pedonaan Umum Pengaturan Mengenai Desa;

9. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 65 Tahun 1999 tentang Pedoman Umum Mengenai Pengaturan Pembentukan Kelurahan;

(3)

Dengan persetujuan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BATANG

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN BATANG TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : a. Daerah adalah Kabupaten Batang ;

b. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Batang ; c. Bupati adalah Bupati Batang;

d. Desa adalah Desa di wilayah Kabupaten Batang ;

e. Pemerintah Desa adalah Pemerintah Desa diwilayah Kabupaten Batang; f. Badan Perwakilan Desa yang selanjutnya disingkat BPD adalah Badan Perwakilan Desa di wilayah Kabupaten Batang yang berfungsi mengayomi adat istiadat, membuat Peraturan Desa, menampung aspirasi masyarakat serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan ;

g. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa yang seIanjutnya disingkat APBD adalah rencana operasional tahunan dari program umum pemerintah dan pembangunan desa yang dijabarkan dan diterjemahkan dalam angka-angka rupiah yang memuat target penerimaan dan perkiraan batas tertinggi pengeluaran keuangan Desa; h. Bendaharawan adalah seorang yang ditugaskan untuk menerima, meinyimpan dan membayar atau menyerahkan uang daerah, surat-surat berharga dan barang milik Daerah serta bertanggungjawab kepada Bupati;

i. Kerugian Daerah adalah berkurangnya kekayaan Daerah yang disebabkan oleh suatu tindakan melanggar hukum atau kelalaian Bendahawaran atau pegawai bukan bendaharawan dan atau disebabkan sesuatu diluar dugaan dan diluar kemampuan manusia ; j. Tuntutan Perbendaharaan Dan Tuntutan ganti Rugi yang selanjutnya

disingkat TPTGR adalah suatu proses tuntutan melalui TP dan TGR bagi Bendaharawan atau Pegawai bukan Bendaharawan yang merugikan keuangan dan barang Daerah ;

(4)

k. Majelis Pertimbangan TPTGR yang selanjutnya disebut MajeIis Pertimbangan adalah para Pejabat yang secara ex-oficio ditunjuk dan ditetapkan oleh yang bertugas untuk membantu Bupati dalam penyelesaian kerugian Daerah;

BAB II PENYUSUNAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA Bagian Pertarna

Penetapan Anggaran Desa, Pasal 2

Setiap menjelang tahun anggaran Bapati memberikan penyusunan APBD kepada Pemerintah Desa dan BPD.

Pasal 3

(1) APBD ditetapkan setiap tahun anggaran dengan Peraturan Desa, paling lambat 1 (satu) bulan setelah ditetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

(2) APBD ditetapkan oleh Kepala Desa bersama BPD dengan Peraturan Desa.

Bagian Kedua

Bentuk dan Susunan Anggaran Desa Pasal 4

(1) APBD terdiri atas Bagian Pendapatan dan Bagian Belanja.

(2) Bagian Belanja terdiri atas Pengeluaran Rutin dan Pengeluaran Pembangunan.

Pasal 5

Bentuk dan Susunan Peraturan Desa tentang APBD berikut lampirannya diatur lebih lanjut oleh Bupati.

Bagian Ketiga Perubahan Anggaran Desa Pasal 6

(5)

(1) Apabila terjadi perubahan APBD yang memperoleh pengesahan dilakukan perubahan Anggaran dengan penetapan Peraturan Desa. (2) Penetapan Peraturan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (i)

dilakukan segera setelah perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan.

(3) ApabiIa terjadi perubahan anggaran sepanjang tidak menyangkut perubahan APBD segera dilapurkan ke Bupati melalui Camat.

Pasal 7

Bentuk, Isi dan Susunan Peraturan Desa tentang Perubahan APBD berikut lampirannya diatur lebih lanjut oleh Bupati.

Bagian Keempat Perhitungan Anggaran

Pasal 8

(1) Kepala Desa mempertanggungjawabkan perhitunggan anggaran dalam bentuk perhitungan APBD kepada BPD.

(2) Pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya tahun anggaran.

Pasal 9

Bentuk dan Susunan Peraturan Desa tentang perhitungan Anggaran berikut lampiran-lampirannnya diatur lebih lanjut oleh Bupati.

Bagian kelima

Tata Cara dan Pungutan Objek Pendapatan dan Belanja Desa Pasal 10

Tata Cara dan Pungutan Objek Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan bersama antara Kepala Desa dan BPD.

BAB III PENDAPATAN DAN BELANJA Bagian Pertama Pendapatan

Pasal 11

(6)

a. sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu ; b. pendapatan asli Desa ;

c. pemberian dari Pemerintah ;

d. pemberian dari Pemerintah Propinsi ; e. pemberian dari Pemerintah Daerah ; f. lain-lain pendapatan yang sah. (2) Setiap pos terdiri dari ayat-ayat.

Pasal 12

(1) Sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) adalah sisa perhitungan anggaran tahun lalu yang merupakan penerimaan tahun anggaran berikutnya.

( 2 ) Pendapatan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) terdiri dari :

a. hasil dari kekayaan Desa ;

b. hasil dari swadaya dan partisipasi masyarakat Desa; c. hasil dara gotong royong masyarahat Desa :

d. hasil dari pungutan Desa ;

e. lain-lain dari usaha Desa yang sah.

(3) Pemberian dari Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) meliputi dana Pembangunan Desa dan sumbangan lainnya. (4) Pemberian dari Pemerintah Propinsi sebagaimana dimaksud dalam

Pasai 11 ayat (1) terdiri dari :

a. penyisihan sebagian penerimaan Pajak dan Retribusi Pemerintah Propinsi ;

b. penyisihan penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan Bagian Pemerintah Propinsi ;

c. sumbangan lainnya.

(5) Pemberian dari Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) terdiri dari :

a. penyisihan sebagian penerimaan Pajak dan Retribusi Daerah ; b. penyisihan penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan Bagian Daerah ; c. sumbangan lainnya.

(6) Lain-lain pendapatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) adalah pendapatan-pendapatan yang berasal dari sumbangan dan atau bantuan dari pihak ketiga yang sah tidak mengikat sesuai dengan Perundang-undangan yang berlaku.

(7)

Pasal 13

Sumber Pendapatan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan penyelenggaraan Pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pelayanan masyarakat di Desa yang bersangkutan.

Bagian Kedua Pengeluaran Pasal 14

(1) Pengeluaran sebagaimana dimaksud dalarn Pasal 4 ayat (2) terdiri dari : a. Pengeluaran Rutin meliputi :

1) belanja pegawai ; 2) belanja barang ;

3) belanja pemeliharaan ; 4) biaya perjalanan dinas ; 5) belanja lain-lain ;

6) pengeluaran tidak tersangka ; b. pengeluaran pembangunan meliputi :

1) pembangunan sarana dan prasarana Pemerintah; 2) pembangunan sarana produksi ;

3) pembangunan prasarana pemasaran; 4) pembangunan prasarana perhubungan; 5) pembangunan prasarana sosial ; 6) pembangunan lain-lain.

(2) Pos-pos pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan terdiri atas Pasai-pasal.

Pasal 15

(1) Pengeluaran tidak dapat dibebankan kepada Belanja Desa jika untuk pengeluaran tersebut tidak tersedia dan atau tidak cukup dananya dalam anggaran Desa.

(2) Kepala Desa dilarang melakukan atau menjanjikan pengeluaran atas beban anggaran Desa untuk tujuan lain dari pada yang telah ditetapkan dalam anggara Desa.

Pasal 16

Pelaksanaan pengeluaran dilakukan berdasarkan prinisip hemat, terarah dan terkendali sesuai dengan rencana program/kegiatan serta fungsi Pemerintah Desa.

(8)

BAB IV TATA USAHA KEUANGAN DESA Pasal 17

(1) Pada Sekretariat Desa tiap tahun anggaran mengisi buku administrasi keuangan Desa menurut pedoman yang ditetapkan.

(2) Pengisian buku administrasi keuangan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh bendaharawan desa.

(3) Setiap Pendapatan dan Belanja Desa harus dicatat dalam buku administrasi keuangan Desa dan Setiap pengeluaran keuangan Desa harus mendapat persetujuan dari KepaIa Desa sesuai dengan bukti pengeluaran yang dapat dipertanggunjawabkan.

Pasal 18

(1) Bendaharawan Desa diangkat oleh Kepala Desa setelah mendapat persetujuan BPD.

(2) Bendaharawan Desa diangkat dari Perangkat Desa yang dipandang cakap dan mampu.

Pasal 19

(1) Bendaharawan Desa berfungsi membantu Kepala Desa dalam administrasi pengelolaan keuangan Desa.

(2) Bendaharawan Desa bertugas menerima, menyimpan, membayar atau menyerahkan uang, surat-surat berharga dan barang milik Desa serta bertanggungjawab kepada Kepala Desa.

BAB V PENGAWASAN ANGGARAN Pasal 20

(1) Pengawasan atas ketertiban dan kelancaran pelaksanaan anggaran Desa dilakukan oleh Bupati atau Pejabat lain yang ditunjuk.

(2) Dalam rangka pengawasan Peraturan Desa sebagiarnana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Bupati melalui Camat paling lama 15 (lima belas) hari setelah ditetapkan.

(9)

Pasal 21

(1) Bupati dapat membatalkan Peraturan Desa dan Keputusan Kepala Desa yang bertentangan dengan kepentingan umum atau perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya:

(2) Keputusan pembatalan Peraturan Desa dan Keputusan Kepala Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diheritahukan kepada Pemerintah Desa yang bersangkutan dan BPD dengan menyebutkan alasan-alasannya.

(3) Apabila Pemerintah Desa tidak menerima hembatalan Peraturan Desa dan Keputusan kepala Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat mengajukan keberatan kepada Gubernur setelah mengajukan keberatan kepada Bupati.

BAB VI

TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI Pasal 22

(1) Karena kedudukan, fungsi, tugas dan kewenangan maka Kepala Desa dan Kepala Dukuh dipersamakan dengan pegawai didalam pertanggungjawan keuangan dan kekayaan Daerah/Desa.

(2) Kepala Desa, Perangkat Desa dan Kepala Dukuh adalah subyek dan obyek dari TPTGR.

Pasal 23

(1) Pada prinsipnya pelaksanaan TPTGR mengacu pada upaya damai. (2) Penyelesaian TPTGR sebagiamana dimaksud pada ayat (1)

pelaksanaannya sebagai berikut :

a. penyelesaian dengan upaya damai dilakukan secara tunai (sekaligus) atau angsuran ;

b. penyelesaian dengan upaya damai sebagaimana dimaksud huruf a dilakukan oleh lnspektorat Wilayah Kabupaten dan penyelesaian lebih lanjut dilakukan oleh Majelis Pertimbangan ;

(10)

c. kerugian Daerah/Desa yang tidak dapat diselesaikan oleh Pemerintah Daerah dapat diserahkan penyelesaiannya melalui Badan Peradilan dengan mengajukan gugatan Perdata.

BAB VII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 24

(1) Anggaran Pendapatan (APPKD) yang sudah ada pada saat berlakunya Peraturan Daerah ini sepanjang tidak bertentangan belum disesuaikan dengan Peraturarr Daerah ini, masih berlaku.

(2) Penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan mulai tahun anggaran 2001.

BAB VIII KETENTUAIlT PENUTUP Pasal 25

Peraturan Daerah ini merupakan pedoman bagi pemerintah Desa dan BPD dalam menetapkan Peraturan Desa tentang Anggaran pendapatan dan Belanja Desa.

Pasal 26

Dengan ditetapkannya Peraturan Daerah ini, semua ketentuan yang mengatur mengenai Anggaran Pendapatan dan belanja Desa bertentangan dan atau tidalk dinyatakan tidak berlaku iagi.

Pasal 27

Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai pelaksanaannya akan ditetapkan lebih lanjut uleh Bupati.

Pasal 28

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Batang.

(11)

Ditetapkan di Batang

pada tanggal 11 Maret 2000 BUPATI BATANG,

dto

DJOKO POERNOMO Diundangkan di Batang

pada tanggal 20 Maret 2000

SEKRETARIS KABUPATEN BATANG, dto

M. SUSIGIT KUSBANDRIJO

LEMBARAN DAERAH KEBUPATEN BATANG TAHUN 2000 NOMOR 14 SERI D NO. 13

(12)

PENJELASAN ATAS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BATANG NOMOR 14 TAHUN 2000

TENTANG

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA I. UMUM

Dengan beriakunya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, dan ditindaklanjuti dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 63 Tahun 1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan dan Penyesuaian Peristilahan Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Desa dan Kelurahan dan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 1999 tentang Pedoman Umum Pengaturan Mengenai Desa.

Atas dasar pertimbangan tersebut diatas, maka perlu disahkan Peraturan Daerah Kabupaten Batang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa sebagai salah satu Peraturan Daerah yang merupakan penjabaran dan pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1 s/d 28 : Cukup jelas.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka mendorong penulis untuk melakukan penelitian tentang “ Pengembangan Pembelajaran Matematika

Dari pengamatan secara keseluruhan terhadap parameter mutu buah selama penyimpanan serta uji verifikasi mortalitas lalat buah yang terinfestasi di dalam buah, diketahui bahwa

Peralatan P3K dan cara penggunaannya Disajikan wacana tentang P3K, peserta didik dapat menjelaskan pengertian Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) dengan benar C2

Kualifikasi akademik guru yang penting untuk diungkap di sini adalah bahwa semua guru harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum Diploma empat (D-IV)

Hal ini merupakan tantangan bisnis ke depan yang dihadapi PDAM Kota Bandung yaitu semakin tingginya permintaan baik penyediaan air bersih maupun pengolahan air kotor

Mesin penyangrai kopi memiliki beberapa komponen penting yang harus dibuat diantaranya adalah rangka mesin yang dibuat dari pipa hollow, tabung mesin yang dibuat dari

Katakanlah anda telah memiliki asuransi dari kantor yang meng-cover seluruh biaya rumah sakit anda, lalu anda ditawari lagi asuransi tambahan yang katanya bisa double claim