BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penelitian ini hendak mengkaji bagaimana perdagangan suara bekerja dalam pemilihan kepala desa di Bandaragung, Kecamatan Sragi pada tahun 2015. Secara khusus kajian ini akan berfokus pada upaya untuk menjawab bagaimana praktik perdagangan suara (vote trading) terjadi antara kandidat kepala desa sebagai pembeli suara (vote buyer) dengan pemilih sebagai entitas yang melakukan penawaran suara (vote seller). Tidak hanya itu, penelitian ini juga akan berfokus pada upaya untuk mengungkap bagaimana kandidat dan pemilih menyikapi pelaksanaan pemilihan kepala desa dengan unsur perdagangan suara di dalamnya.
Kajian mengenai politik uang dalam literatur ilmu politik di Indonesia akhir-akhir ini menjadi primadona yang menghiasi wacana perpolitikan Indonesia. Politik uang dianggap sebagai ancaman yang nyata terhadap proses demokratisasi dan dari sisi hukum dapat dikualifikasi sebagai perbuatan suap-menyuap. Kajian yang sebelumnya berfokus pada perputaran uang dalam birokrasi sudah meluas pada perputaran uang dalam proses elektoral. Fenomena ini diperkuat dengan proses liberalisasi demokrasi di Indonesia pasca jatuhnya orde baru yang mendorong kompetisi atau persaingan elektoral menjadi lebih tinggi terutama dalam upaya menduduki jabatan publik dalam tingkatan manapun, mulai dari
grass root hingga kancah nasional. Setiap kandidat yang berkontestasi pada
akhirnya akan mengerahkan seluruh sumber daya terutama uang sebagai objek yang akan ditransaksikan untuk menjadi pemenang dalam persaingan elektoral tersebut.
Bukan lagi menjadi rahasia umum bahwa praktik demokrasi prosedural kontemporer selalu diwarnai modus yang bersifat transaksional. Transaksional dalam arti merujuk pada distribusi keuntungan terutama distribusi uang antara satu pihak dengan pihak lain. Transaksi yang berwujud pada pertukaran uang dengan harapan akan dipilih pada saat pemilihan menjadi instrumen wajib yang dirasa kurang kalau tidak ada. Kondisi ini semakin melembaga karena paradigma
peserta pemilu masih menganggap bahwa politik uang adalah satu strategi pemenangan yang paling instan dan dianggap lebih efektif dibanding menawarkan visi dan misi atau cara-cara konvensional lainnya1. Akhirnya politik uang menjadi
satu-satunya pilihan bagi kandidat untuk memenangi kontestasi. Mendapatkan suara terbanyak sebagai syarat menduduki jabatan publik juga semakin memicu proses marketisasi sistem representasi melalui praktik pembelian suara oleh kandidat2.
Selama ini, kajian mengenai praktik politik uang dalam persaingan elektoral kebanyakan berfokus pada praktik pembelian suara atau dalam literatur ilmu politik lebih dikenal dengan istilah vote buying. Vote buying merupakan distribusi pembayaran uang tunai dari kandidat kepada pemilih dengan harapan bahwa pemilih akan memberikan suaranya kepada si ‘pemberi’3
. Dengan demikian, uang sebagai sumber daya utama dalam praktik korup ini ditempatkan sebagai ‘instrumen’ untuk memobilisasi dukungan dalam upaya memenangi kontestasi pada pemilihan umum. Salah satunya dapat dilihat dalam kajian yang dilakukan oleh Anis Chabibah tentang bagaimana uang bekerja pada pemilihan kepala desa di Ngampel, Kediri4. Dalam kajiannya, Chabibah berargumen bahwa uang menjadi faktor penentu kemenangan kandidat yang berkompetisi. Uang bahkan memiliki peran besar dalam upaya mendapatkan perolehan suara karena pemilih cenderung tidak akan menggunakan hak pilihnya tanpa adanya distribusi uang. Kajian lain dengan core yang sama dilakukan oleh Halili5. Dalam studinya, Halili menunjukkan bahwa uang bekerja sebagai strategi kampanye oleh kandidat kepala desa untuk mendulang perolehan suara dan terbukti berbanding lurus dengan pilihan pemilih yang menggunakan hak suaranya sesuai dengan ‘siapa yang memberi berapa’. Artinya uang dengan nalarnya yang instrumentalis
1
Devi Darmawan, Tinjauan terhadap Pengaturan Politik Uang dalam Peraturan Kepemiluan. Jurnal Pemilu dan Demokrasi. Edisi September 2012, h.104.
2
Fatih Gama Abisono Nasution, Uang dalam Kontestasi Politik: Studi Etnografi Praktik Politik
Uang dalam Pemilukada di Kota Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada: 2011 , h.1.
3
Edward Aspinall dan Mada Sukmajati, Politik Uang di Indonesia: Patronase dan Klientelisme
pada Pemilu Legislatif 2014, Yogyakarta: PolGov, 2015, h.24.
4
Anis Chabibah,Fenomena Politik Uang dalam Pemilihan Kepala Desa Ngampel Kecamatan
Papar Kabupeten Kediri. Skripsi. Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FIP
Universitas Negeri Malang, 2009.
5
Halili. 2009. Praktik Politik Uang dalam Pemilihan Kepala Desa (Studi Di Desa Pakandangan
Barat Bluto Sumenep Madura). Jurnal Humaniora (Lemlit UNY), Volume 14, Nomor 2, Oktober
berperan penting dalam upaya mempengaruhi suara pemilih. Kajian dengan aras serupa juga dilakukan oleh Fuji Hastuti6. Dalam tulisannya, Hastuti menunjukkan bahwa uang mempengaruhi tingkat partisipasi pemilih dalam pemilihan kepala desa. Terlepas dari keefektifannya, uang tetap menjadi salah satu tema utama dalam upaya memobilisasi pemilih.
Jika dilihat melalui logika ekonomi7, kajian-kajian tersebut sebenarnya melihat politik uang hanya pada sisi permintaan yang berwujud pada praktik pembelian suara (vote buying), menempatkan kuasa uang dalam logika yang instrumentalis8. Kajian-kajian sebelumnya juga membaca uang sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan dan kunci memenangi kompetisi elektoral. Logika di balik praktik pembelian suara mengandaikan uang sebagai sarana dalam mencapai kekuasaan politik. Uang menjadi alat mobilisasi untuk meraih dukungan yang dikonversi menjadi perolehan suara. Padahal, jika pemilihan umum dibayangkan sebagai pasar dengan praktik perdagangan atau jual beli suara yang mempertemukan penjual dan pembeli, maka akan melibatkan dua fungsi penting yakni fungsi permintaan dan penawaran. Akan tetapi, seperti apa yang sudah disampaikan sebelumnya, kajian yang menjelaskan politik uang kebanyakan hanya melihat dari sisi permintaaan dengan wujud vote buying, sementara sisi penawaran melalui praktik penawaran suara (vote selling) nyaris tak tersentuh9.
Ada suatu kajian terbaru mengenai politik uang yang memfokuskan penelitian pada sisi penawaran melalui praktik vote selling oleh pemilih dilakukan oleh Fatih Gama Abisono Nasution dengan skope pemilukada Yogyakarta10. Nasution menekankan kajiannya pada makna praktik politik uang dalam perspektif warga yang menunjukkan bahwa politik uang tidak dapat bekerja seperti pengandaian transaksi komersial dalam arena kontestasi politik. Artinya, suara pemilih tidak dapat diperlakukan sebagai komoditas yang bisa dipertukarkan dengan uang. Jika dimaknai lebih jauh, kajian ini sebenarnya juga mengukur keefektifan politik uang dalam pemenangan kontestasi pemilu melalui perspektif
6
Fuji Hastuti, Politik Uang dalam Pemilukades Desa Cangkring dan Desa Dawuahan Kecamatan
talang Kabupaten Tegal, Semarang: Universitas Diponegoro, 2012.
7Pada prinsipnya, politik uang berhubungan dengan ide sebagai ‘transaksi komersial’, lebih
jelasnya lihat tulisan Schaffer dan Schelder, What is Vote Buying. Tahun 2005 h.3
8
Fatih Gama Abisono Nasution, Op.cit , h.3.
9
Ibid, h.1
10
warga dengan hasil yang menunjukkan bahwa politik uang tidak memiliki dampak yang signifikan dalam upaya meningkatkan dukungan suara. Persepsi ini terjadi disebabkan oleh konsekuensi logika pasar yang digunakan dalam upaya memahami perdagangan suara (yang melibatkan penjual dan pembeli). Logika pasar menekankan bahwa ketika ‘buyer’ memberikan materi maka ‘seller’ harus benar-benar memahami bahwa materi tersebut merupakan bagian dari hubungan perdagangan dan ada konsekuensi dari transaksi tersebut, yakni pemberian suara. Maksudnya bahwa vote buying dan vote selling tidak dapat dikaji secara terpisah melainkan harus dikaji dalam satu payung.
Secara teoritis, tetap dengan logika ekonomi, istilah buying dan selling dalam konteks ini tidak mengandaikan pada situasi dimana uang atau benda lainnya berpindah tangan, melainkan merujuk lebih khusus pada pertukaran goods untuk mendapatkan uang. Oleh karena itu, penelitian ini akan menggunakan istilah vote trading sebagai upaya untuk menjaga kedekatan makna dari jual beli suara untuk mobilisasi pemilih dengan logika transaksi yang benar-benar menyerupai pasar.
Aksentuasi kajian ini akan melihat bagaimana sisi permintaan dengan wujud vote buying oleh kandidat kepala desa bekerja, begitu pula dengan sisi penawaran dalam wujud vote selling melalui praktik penawaran suara oleh pemilih bekerja. Tidak hanya itu, kajian ini juga akan mencoba mengungkap bagaimana kandidat dan pemilih memaknai proses penyelenggaraan pemilihan kepala desa sebagai bentuk pelaksanaan demokrasi yang terdapat praktik perdagangan suara di dalamnya. Pengungkapan ini diperlukan karena ada kemungkinan bahwa kedua entitas yang terlibat dalam praktik perdagangan suara tersebut memaknai pemilihan kepala desa semata-mata hanya sebagai ajang untuk memperoleh manfaat baik secara politik (kekuasaan) maupun ekonomi (uang). Demokratis atau tidaknya penyelenggaraan event pemilihan kepala desa tidak penting bagi mereka. Mereka memandang kekuasaan identik dengan uang dan uang identik dengan kekuasaan. Fenomena ini bisa saja sebagai akibat dari proses demokrasi itu sendiri yang kerap melahirkan suguhan praktik penyelenggaraan pemerintahan (kekuasaan) yang cenderung feodalistik dan korup. Dari situ kemudian muncul benih-benih perilaku materialistis yang menganggap segala
urusan bisa diselesaikan dengan uang (materi). Salah satu fenomenanya adalah dengan melakukan praktik perdagangan suara dalam pemilihan kepala desa yang semakin terbuka dan masif. Ketika logika ekonomi masih menguasai perilaku politik masyarakat maka logika politik yang mengedepankan prinsip demokrasi tidak akan berkembang.
Mengapa peneliti menempatkan pemilihan kepala desa sebagai setting penelitian? Alasannya sederhana. Persoalan politik uang yang terjadi pada level nasional ataupun lokal baik eksekutif maupun legislatif sebenarnya bisa saja berasal dari praktik politik uang yang terjadi pada level paling lokal yakni pemilihan kepala desa. Hal ini disebabkan pemilihan kepala desa telah dilaksanakan secara langsung jauh sebelum dimulainya pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah secara langsung. Artinya kandidat kepala desa dan pemilih bisa saja sudah akrab dengan praktik tersebut sehingga memungkinkan praktik yang sudah terjadi sedemikian lama itu, ketika pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah secara langsung dilaksanakan praktik politik uang tersebut ikut terbawa11.
Lokus penelitian ini yaitu Desa Bandaragung, Kecamatan Sragi, yang pada tahun 2015 melaksanakan pemilihan kepala desa. Desa Bandaragung dipilih dengan pertimbangan bahwa desa ini menjadi salah satu desa paling pertama yang menyelenggarakan pemilihan kepala desa berdasarkan pada undang-undang terbaru tentang desa. Selain itu ada keunikan yang membedakannya dengan desa-desa lain yang juga melaksanakan pemilihan kepala desa-desa. Keunikan tersebut terlihat dari beragamnya latar belakang etnis dan budaya penduduk yang mendiami desa ini begitu juga para kandidat yang telah ditetapkan panitia pun
11
Pada awalnya gejala politik uang ini berupa ikatan primordialisme yang sudah terstruktur dan melembaga sebagai suatu entitas yang hidup di kelompok-kelompok masyarakat desa. Ketika terjadi persaingan untuk memperebutkan tahta kekuasaan (kepala desa) yang cenderung feodalistik maka sentimen-sentimen primordialisme semakin menguat dan menunjukkan eksistensinya sebagai pembeda antar kelompok. Masing-masing anggota kelompok rela berkorban baik materi maupun nonmateri demi memperjuangkan harga diri dan kehomatan kelompoknya. Lama kelamaan seiring dengan perkembangan keadaan dan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berpengaruh terhadap gaya hidup mereka dan pola pergaulan antar kelompok masyarakat semakin pragmatis dan fleksibel (rasional), sekat-sekat primordial yang menjadi pemisah dan pembeda antar kolompok semakin tereduksi. Perubahan kondisi ini semakin intens ketika ekspektasi mereka terhadap kinerja kepala desa yang mereka pilih mengecewakan. Akhirnya terjadilah pergeseran orientasi masyarakat terhadap nilai-nilai material dan memandang materi sebagai simbol status sosial yang dapat digunakan untuk apa saja termasuk alat perekat pergaulan (alat politik).
berasal dari etnis yang berbeda-beda pula. Ada Sunda, Banten, Bugis, dan Semendo. Hanya kandidat dari etnis Jawa yang tidak ada. Ikatan etnis bisa menjadi sarana pengikat antara kandidat dengan pemilih. Etnisitas menjadi faktor penting dalam upaya membangun jalinan sosial yang baik terutama terkait dengan rasa senasib-sepenanggungan serta memiliki asal daerah dan cita-cita yang sama. Ikatan etnis yang kuat pada akhirnya memungkinkan memperlancar terjadinya transaksi.
Secara teoritis penyelenggaraan pemilihan kepala desa diakui sebagai bentuk pelaksanaan demokrasi paling murni dibanding dengan kontestasi untuk mendapatkan jabatan publik lainnya. Dalam aktualisasinya pemilihan kepala desa melibatkan partisipasi seluruh rakyat dan dilakukan secara langsung oleh rakyat desa tanpa terpengaruh oleh konstelasi unsur infrastruktur politik. Namun demikian, ternyata dalam praktiknya tidak luput oleh kontaminasi gejala politik transasksional. Bahkan, ada sinyalemen yang berkembang akhir-akhir ini dari masyarakat pemilih bahwa tidak ada suara yang gratis untuk kandidat yang tidak sanggup mengeluarkan biaya dan dari sudut pandang kandidat fenomena ini dianggap sebagai suatu investasi yang akan dipetik hasilnya nanti ketika sudah terpilih. Realita ini menunjukkan bahwa hubungan transaksional tersebut dibangun atas dasar kesadaran akan keuntungan material yang dapat dipertukarkan oleh kedua belah pihak.
Perdagangan suara (vote trading) pun menjadi isu sentral menjelang digelarnya pemilihan kepala desa. Suara, sebagai komoditas yang akan dipertukarkan, melibatkan kandidat kepala desa sebagai pembeli berhadapan dengan pemilih sebagai entitas penjual. Dalam hubungan ini, kedua entitas tersebut secara sadar menempatkan dirinya ke dalam proses transaksi yang memahami betul bahwa akan ada konsekuensi dari setiap transaksi yakni ketika uang diterima maka suara harus diberikan kepada yang melakukan permintaan. Fungsi permintaan dalam logika pasar ini dilakukan oleh kandidat kepala desa. Modus pembayarannya beragam, mulai dari pemberian perlengkapan ibadah, pembagian hasil budidaya pertanian seperti ikan dan udang, sembako, hingga distribusi uang tunai.
Selain kandidat yang secara aktif melakukan strategi kampanye distributif dengan bentuk penyebaran keuntungan material (vote buying), pemilih sebagai entitas penting dalam hubungan ini juga melakukan hal yang serupa. Penawaran-penawaran suara dilakukan untuk mendapatkan keuntungan. Skemanya dengan melakukan pendekatan baik secara langsung maupun melalui perantara sejak jauh hari sebelum pelaksanaan pemungutan suara dan menjelang pelaksanaan pemungutan suara.
Dalam praktik perdagangan suara yang terjadi antara kandidat kepala desa dengan pemilih di Desa Bandaragung bahwa setiap kandidat memiliki basis massa pemenangan sendiri-sendiri sesuai dengan latar belakang etnis kandidat yang bersangkutan. Meskipun demikian, mereka juga melayani transaksi untuk dusun atau kelompok masyarakat lintas etnis yang dianggapnya berpotensi besar untuk bisa meningkatkan suara. Di samping itu, pemilih sebagai seller juga akan menawarkan suaranya kepada kandidat yang juga secara pribadi merupakan preferensi politiknya. Sehingga hubungan yang terjalin antara dua entitas ini di samping mewakili logika pasar juga mewakili kedekatan sosial sebagai basis penting untuk memperlancar terjadinya praktik ini.
Praktik perdagangan suara ini tumbuh subur di level pemilihan kepala desa mungkin juga disebabkan oleh cara mereka memaknai penyelenggaraan pemilihan kepala desa sebagai suatu kompetisi yang memerlukan finansial besar guna meraih suara terbanyak. Pemilihan kepala desa hanya dianggap ajang mencari pemimpin yang pemenangnya ditentukan dengan suara terbanyak. Oleh karena itu sikap politik entitas yang terlibat hanya berfokus pada upaya memperoleh suara tertinggi terlepas dari persoalan demokratis atau tidaknya cara-cara yang dilakukan itu. Cara-cara demikian di level pemilihan kepala desa sudah mentradisi sebagai upaya yang wajar dilakukan mungkin karena para kandidat dan para pendukungnya secara sosiologis hidup berdampingan sebagai tetangga, sudah saling mengenal dan bergaul, bahkan mungkin ada yang mempunyai ikatan persaudaraan sehingga tidak ada yang mau mempersoalkannya secara hukum. Hal ini juga yang menjadikan perbedaan antara praktik perdagangan suara antara
kandidat dengan pemilih dalam skope pemilihan kepala desa dengan pemilu-pemilu tingkat atas12.
B. Rumusan Masalah Dan Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan di atas, maka kemudian muncul pertanyaan penelitian . Pertanyaan tersebut adalah:
“Bagaimanakah transaksi perdagangan suara yang terjadi antara kandidat sebagai vote buyer dan pemilih sebagai vote seller pada pemilihan kepala desa di Bandaragung, Kecamatan Sragi pada tahun 2015?"
Penelitian ini mengemban dua misi utama. Pertama menjelaskan bagaimana praktik perdagangan suara bekerja dalam pemilihan kepala desa (pilkades) di Bandaragung, Kecamatan Sragi pada tahun 2015 dan kedua mengungkap bagaimana transaksi dilakukan antara kandidat kepala desa dan pemilih serta bagaimana kandidat dan pemilih menerima praktik tersebut dalam penyelenggaraan pilkades sebagai perbuatan yang lazim.
C. Kerangka Teori
Studi ini hendak memulai suatu gambaran mengenai politik uang melalui praktik perdagangan suara dalam arena politik modern yakni pemilu. Misi studi ini adalah mengungkap jual beli suara dengan mengandaikan pemilu sebagai pasar yang mempertemukan permintaan dan penawaran, pembeli dan penjual dalam transaksi. Untuk mencapai itu peneliti mengajukan sebuah konsep utama yakni politik uang yang kemudian akan diturunkan ke dalam wujud perdagangan suara (vote trading) sebagai upaya untuk menjawab pertanyaan penelitian. Pada bagian ini peneliti kemudian akan menguraikan mengenai bagaimana politik uang bekerja melalui ide pertukaran berdasarkan konsep perdagangan suara. Uraian selanjutnya akan berfokus pada berbagai persepsi dari penerima dan pemberi dalam praktik politik uang.
12
Dari sini dapat dilihat bahwa sebenarnya distribusi keuntungan untuk skope pemilihan kepala desa sama saja dengan memanfaatkan dan mengkombinasikan hubungan sosial yang ‘dekat’ antara kandidat dan pemilih dengan financial incentives (Chang dan Chen dalam Kurzman dan Wang, dalam Schaffer 2007:68)
1. Politik Uang
Bagian ini berisi penegasan tentang batasan politik uang agar tidak terjadi kekaburan pengertian terhadap permasalahan yang akan dikupas serta peranan uang dalam politik kemudian dilengkapi dengan sajian tentang spektrum politik uang.
1.1 Definisi Politik Uang
Secara definitif, terdapat kekaburan makna terhadap definisi dari politik uang. Kekaburan tersebut karena ditempatkannya makna politik uang dalam beragam konteks. Pertama, pengetahuan umum yang berkembang selama ini menempatkan politik uang sebagai upaya untuk meraih atau mempengaruhi dukungan suara pemilih dalam kontestasi elektoral melalui distribusi keuntungan materi. Padahal praktik suap pelaku bisnis, kelompok kepentingan, dan sebagainya kepada pejabat pemerintah guna mempengaruhi proses kebijakan yang menguntungkan pelaku, baik keuntungan secara ekonomi maupun politis, dapat pula dikategorikan sebagai politik uang13. Bahkan dalam konteks strategi pemenangan dengan kasus strategi partai yang berkuasa mendistribusikan imbalan kepada masyarakat melalui kebijakan negara jauh sebelum pemilihan diselenggarakan juga termasuk dalam kategori politik uang14.Kedua, makna politik uang juga sering dikaitkan dengan pembiayaan partai politik. Dalam upaya meraih kekuasaan, mempertahankan, dan memperluas basis dukungan, partai sebagai institusi penting demokrasi yang berorientasi untuk mencapai kekuasaan membutuhkan sumber dana. Dengan demikian, partai politik dibenarkan menerima donasi dari kelompok-kelompok masyarakat atau individu dalam batas tertentu yang diatur melalui pengaturan dana kampanye sebagai upaya meminimalkan dominasi kelompok atau individu terhadap partai politik.
Kekaburan maknanya muncul dalam hal bagaimana membedakan praktik tersebut ke dalam ranah politik uang atau pembiayaan politik. Jika masuk ke dalam ranah politik uang, bagaimana dengan persoalan legalitasnya karena
13Fatih Gama Abisono Nasution, Op.cit, h.12 14
persolan pendanaan sering berhimpitan dengan persoalan korupsi politik. Hal ini juga semakin memperluas spektrum kajian politik uang15.
Untuk menghindari kekaburan makna tersebut, penelitian ini akan membatasi konteks politik uang dalam persaingan elektoral dengan fokus utama ingin mengungkap praktik jual beli suara dalam momen kontestasi yaitu pada pemilihan kepala desa. Pada bagian ini, kerangka analisis akan disajikan dengan lebih dahulu mengkonstruksikan bagaimana uang dan politik bekerja dalam ide pertukaran. Selanjutnya bagaimana karakter perdagangan suara bekerja dengan mengikuti model pasar dengan segala hambatan-hambatannya dan terakhir bagaimana uang dimaknai dalam proses elektoral. Upaya ini dilakukan untuk menghindari kekaburan makna dari politik uang sekaligus memberikan batasan-batasan dalam penelitian ini.
1.2 Uang dalam Politik
Uang dan politik merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, terutama mengenai peran uang dalam kontestasi elektoral untuk menduduki jabatan publik. Dalam proses politik ini, uang bermain melalui dua entitas penting. Pertama, dimainkan oleh kandidat yang bertarung dengan tujuan untuk mendulang suara, dan kedua, dimainkan oleh masyarakat yang memiliki suara sebagai komoditas yang bisa dijual untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Dari sisi kandidat, dalam upaya memenangi pertarungan politik, kapasitas pembiayaan yang memadai sangat dibutuhkan. Uang mampu memperkuat pengaruh politiknya apalagi ketika kandidat memiliki kapasitas untuk mendistribusikannya16. Hal ini disebabkan oleh fungsi uang yang dapat membeli sesuatu yang tidak bisa secara sukarela didapatkan. Dalam logika tersebut, uang diletakkan sebagai instrumen dan yang paling penting adalah bagaimana uang digunakan untuk memperkuat pengaruh, ditukar, atau dikombinasikan dengan sumber daya lain untuk mendapat kekuasaan politik17. Karakter uang yang demikian membuat uang dengan mudah ditransformasikan dari sarana pertukaran ekonomi menjadi sarana pertukaran politik. Di sisi lain, pemilih juga memiliki kepentingan dalam pertarungan ini 15 Ibid.13 16 Ibid 17
Herbert E Alexander, Financing Politics: Money, Election, and Political Reform. Washington DC: CQ Press, 1980
yaitu untuk mendulang keuntungan dengan memanfaatkan kontestasi antar kandidat yang bertarung. Caranya dengan memanfaatkan komoditas yang dimilikinya (suara) untuk dipertukarkan dengan uang kepada kandidat. Tujuannya tidak lain yaitu untuk mendapatkan keuntungan ekonomi18.
1.3. Spektrum Politik Uang
Karakter uang dengan konvertabilitas yang tinggi juga pada akhirnya sangat membantu pelaku (baca: kandidat dan pemilih) dalam melakukan transaksi (-politik). Ketika pelaku membangun kesepakatan, maka spektrum yang bekerja bukan hanya pada spektrum ekonomi melainkan juga pada spektrum kekuasaan19. Penggunaan uang sebagai ‘instrumen’ dalam proses elektoral memainkan dua peranan penting yakni sebagai alat akumulasi sumber daya ekonomi dan juga sebagai alat untuk meraih kekuasaan politik. Bagi pemilih, uang menjadi instrumen akumulasi kekayaan dan bagi kandidat uang menjadi instrumen meraih dukungan dimana fokus utamanya berada pada kekuasaan20. Karakter uang yang demikian membuat pelaku mampu membangun posisi tawar dalam transaksi.
Kajian ini akan melihat uang sebagai bagian yang masuk ke dalam dimensi politik yang menempatkan uang dengan karakter instrumentalnya yang bekerja dari dua sisi yang berbeda yakni dari sisi kandidat yang bertarung dalam proses elektoral dan pemilih. Dari sisi kandidat, uang ditafsirkan sebagai sarana untuk memenuhi permintaan politik yang kuasanya merujuk pada kemampuan uang membeli segala macam komoditas, baik kebutuhan ekonomi maupun nonekonomi. Kebutuhan nonekonomi yang dimaksud dalam kajian ini adalah kekuasaan politik dengan membeli pengaruh atau suara. Sedangkan uang dari sisi pemilih dimaknai sebagai alat akumulasi kekayaan melalui penawaran suara. Untuk memudahkan memahami bagaimana putaran keran politik uang, dapat dilihat pada bagan di bawah ini.
18
Steven Rieber, Vote Selling and Self-Interested Voting, University of Illinois Press, 2001, h.37
19
Indra Ismawan, Op.cit
20
Dalam bagan tersebut, dapat dilihat bahwa roda kerja politik uang melibatkan dua aktor utama. Aktor utamanya tentu saja kandidat yang bersaing dengan kepemilikan sumber daya ekonomi yakni uang dan pemilih sebagai entititas yang memiliki sumber daya politik yakni suara. Kandidat berorientasi pada keinginan untuk meraih dukungan sebanyak-banyaknya sedangkan pemilih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan ekonomi sebanyak-banyaknya. pada intinya, setiap praktik politik uang secara umum dapat terlihat seperti gambar di atas.
2 Cara Kerja Politik Uang
Bagian ini akan menjelaskan bagaimana politik uang bekerja melalui ide pertukaran ekonomi. Untuk itu perlu diuraikan tentang pembahasan mengenai
vote selling-vote buying, berbagai hambatan yang terjadi, termasuk juga teori
klientelisme yang dipinjam untuk menjelaskan bagaimana jaringan intermediary
agent bekerja sebagai faktor penting keberhasilan praktik politik uang dan terakhir
beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan praktik politik uang yang berfokus pada faktor timing, darimana sumber pendanaan berasal, dan aktor-aktor yang secara tidak langsung menjadi kunci keberhasilan praktik ini.
2.1 Vote Buying dan Vote Selling
Dalam praktiknya, perdagangan suara memiliki dua proses penting di dalamnya yakni proses pembelian suara (vote buying) yang dilakukan oleh
pembeli suara (vote buyer) dan proses penawaran suara (vote selling) yang dilakukan oleh penjual suara (vote seller). Praktik ini melibatkan apa yang disebut oleh Schaffer dan Schelder sebagai ‘pasar dukungan politik’ atau electoral
market. Pembeli suara (vote buyers) memberikan uang baik dalam bentuk utuh
berdasarkan besaran nominalnya ataupun dalam bentuk barang dan jasa sesuai dengan apa yang diinginkan oleh ‘penjual suara’ (vote seller). Penjual suara menyerahkan suaranya sebagai wujud imbalan atas uang atau barang dan jasa yang telah di terimanya21.
Praktik vote buying atau pembelian suara ini dilakukan dalam bentuk pemberian uang berupa fresh money dari kandidat kepada pemilih. Kandidat sebagai entitas yang melakukan pembelian suara akan mengupayakan membayar dengan penawaran tertinggi terhadap suara pemilih karena dalam logika transaksi komersial pemilih hanya akan menjual suaranya kepada penawar tertinggi. Namun demikian, tidak semua bentuk transaksi komersial dalam pemilu dapat diartikan sebagai vote buying. Menurut Schaffer dan Schelder, setidaknya terdapat dua logika transaksi yang dapat dikategorikan sebagai pembelian suara. Pertama, para aktor yang terlibat (penjual dan pembeli) dalam pertukaran yang efektif antara uang dengan suara paham bahwa jika pembeli tidak membayar maka penjual tidak akan memberikan suaranya. Kedua, pembeli dan penjual mengerti apa yang sedang mereka lakukan, bahwa mereka memasuki hubungan timbal balik dari pertukaran antara uang dengan suara22. Dengan demikian, upaya pembelian suara melalui distribusi materi baik uang maupun barang oleh kandidat kepada pemilih memiliki harapan untuk memperoleh dukungan suara pemilih pada saat pemungutan suara. Secara sederhana, pembelian suara dibayangkan ke dalam situasi dimana terjadi pertukaran antara uang dengan suara pemilih.
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa praktik ini bergerak dalam arena pasar dukungan politik dengan jenis barang-barang privat yang akan dipertukarkan dengan suara pemilih. Ciri-ciri utama barang privat adalah uang dalam bentuk fresh money atau uang yang sudah dibelanjakan oleh kandidat menjadi bentuk barang yang berasal dari kantong pribadi kandidat dengan sasaran
21Schaffer & Schedler.Op.,cit 22
individu atau rumah tangga dimana distribusi materi tersebut dapat dirasakan secara personal.
Dalam vote selling atau penawaran suara ada dua jenis karakter pemilih yang terlibat. Pertama adalah kelompok oportunis, yang menganggap perhelatan pemilihan kepala desa sebagai sarana memperoleh manfaat secara ekonomi sehingga mereka aktif menjajakan suaranya kepada kandidat-kandiat yang berkompetisi. Dalam kelompok ini, vote seller akan menjual suara mereka kepada
vote buyer tertentu yang sangat tergantung dengan pertimbangan besarnya
keuntungan yang akan mereka terima. Artinya, seller akan menentukan partner perdagangan kepada buyer yang dianggapnya memiliki kemampuan ekonomi lebih tinggi dibandingkan dengan kandidat lain, barulah kemudian terjadi penawaran suara23. Pada akhirnya pasar akan memaksa kedua entitas tersebut untuk secara konsekuen menentukan nilai dari hubungan perdagangan komersil sehingga ada nilai yang melekat di dalamnya yakni pembagian keuntungan bersama24. Berikutnya adalah kelompok yang realistis. Kelompok ini sifatnya lebih selektif, mereka hanya menawarkan suaranya kepada pihak kandidat yang mereka anggap layak dan memenuhi kualifikasi untuk menduduki jabatan kepala desa. Subjektifitas penilaian kepantasan tersebut dapat menjadi penentu kesetiaan pemilih untuk memberi dukungan kepada kandidat. Pemilih mungkin melihat kepantasan kandidat tidak hanya dari segi pengalaman kandidat melainkan juga dari kedekatan personal dan kesamaan latar belakang etnis dan budaya antara kandidat dan pemilih. Dalam kelompok ini, ketika seller sudah menetapkan untuk mendukung kandidat tertentu yang dinggapnya memiliki kapasitas lebih untuk menduduki jabatan publik dalam hal ini adalah kepala desa, penawaran suara akan dilakukan hanya kepada kandidat tersebut, dan seller tidak akan melayani transaksi lintas kandidat.
Meskipun demikian kedua kelompok tersebut tetap mewakili logika pasar dalam ide pertukaran. Pemilih yang masuk kategori kelompok pertama ataupun kedua akan tetap berada pada situasi dimana mereka harus memberikan suaranya kepada kandidat yang telah membayar mereka pada saat pemungutan suara
23
Ibid. h.181
24
terlepas kandidat tersebut sesuai dengan preferensi pribadi pemilih secara ekonomi maupun secara politik.
2.2 Perdagangan Suara dan Perspektif Objektif-Intersubjektif
Dalam konteks persaingan elektoral, uang kerap dipahami sebagai sumber daya ekonomi yang menjadi penentu bagi tiga faktor pemenangan kandidat lainnya yakni profil kandidat, program kerja dan isu yang diangkat, serta organisasi kampanye25. Tanpa uang, maka ketiga faktor lainnya itu menjadi tidak bisa bekerja karena uang merupakan faktor yang diperlukan dalam proses kampanye. Diperlukan, karena proses kampanye tidak dapat dijalankan tanpa uang sedangkan kampanye memiliki dampak terhadap hasil perolehan suara pada pemilu. Dengan demikian, logika tersebut menempatkan uang sebagai alat untuk memobilisasi faktor-faktor pemenangan lainnya.
Logika mobilisasi sumber daya ekonomi ini bekerja dalam dua aras.
Pertama, bagaimana uang atau sumber daya ekonomi itu diperoleh dan, kedua,
bagaimana sumber daya ekonomi tersebut didistribusikan oleh kandidat untuk memenangi persaingan elektoral26. Dua wilayah tersebut dapat dijelaskan dengan sederhana. Aras pertama masuk ke dalam kajian pembiayaan politik khususnya mengenai pembiayaan kampanye, sedangkan aras kedua masuk ke dalam kajian praktik politik uang dengan wujud perdagangan suara yang mempertemukan pembeli (buyer) dan penjual (seller) dalam persaingan elektoral27.
Selanjutnya fokus uraian pada bagian ini akan menyajikan karakter perdagangan suara dalam upaya untuk mencapai makna dari praktik perdagangan suara itu sendiri. Perdagangan suara sendiri memiliki dua perspektif yakni perspektif objektif dan intersubjektif. Perspektif pertama mengacu pada model pasar sedangkan perspektif kedua menempatkan konteks sosial-budaya masyarakat dalam memaknai praktik perdagangan suara.
Secara harfiah perspektif objektif meletakkan jual beli suara ke dalam logika pertukaran ekonomi layaknya pada transaksi dalam model pasar pada umumnya, kandidat membeli dan pemilih menjual suara. Praktiknya, perspektif
25
Fatih Gama Abisono Nasution. Op.cit
26
Ibid
27
ini melihat jual beli suara seperti pada kasus kontrak atau lelang yaitu pemilih akan menjual suaranya kepada penawar tertinggi28. Perspektif ini cenderung mengadopsi perspektif rational choice atau pendekatan formal lainnya yang berakar pada pendekatan ekonomi. Sedangkan perspektif intersubjektif menempatkan konteks kultural dalam upaya mencapai makna perdagangan suara. Masyarakat dianggap memiliki cara sendiri dalam membangun preferensi tindakannya terutama ketika dihadapkan dengan penggunaan uang dalam politik. Skema penawaran dan permintaan dalam model pasar bisa tidak bekerja dalam perspektif ini karena pilihan masyarakat justru dimulai dari keyakinan politik yang dibangun dari konteks kultural yang menyejarah yang bekerja dalam lanskap budaya. Secara harfiah, perspektif ini melihat bahwa pilihan politik pemilih tidak sepenuhnya didefinisikan dalam ukuran-ukuran ekonomistik karena jual beli suara mengandung makna yang berbeda dalam konteks sejarah dan budaya yang berbeda pula.
Selama ini perdagangan suara dibayangkan sebagai praktik yang menempatkan model pasar sebagai basis utama transaksi. Ketika pembeli suara (vote buyer) dan penjual suara (vote seller) bertemu dalam pasar transaksi maka mereka diasumsikan memahami nature dari transaksi tersebut. Mereka juga diasumsikan memahami makna sosial dari perdagangan bahwa menerima pembayaran dalam proses jual beli suara tidak bisa disamakan dengan menerima pembayaran sebagai hadiah dalam proses elektoral. Jika buyer dan seller tidak memahami common understanding dari transaksi maka mereka akan kesulitan dalam melengkapi keseluruhan proses transaksi. Analoginya, ketika kandidat melakukan pembayaran melalui uang tunai atau barang kepada pemilih, vote
trading akan terdeteksi apabila pemilih memahami konsekuensi dari proses
pembayaran tersebut. Jika salah satu pihak menganggap pemberian tersebut bukan merupakan perilaku dari hubungan pertukaran ekonomi maka transaksi komersial dari perdagangan suara tidak bekerja
Model pasar sebagaimana yang diuraikan di atas tidak dapat diterima secara sederhana dengan mengandalkan transaksi bekerja dalam pertukaran ekonomi yang normal. Menurut Schaffer, pasar suara memiliki
28
Frederic Charles Schaffer, 2007. Election for Sale : The Causes and Consequences of Vote
hambatan. Hambatan tersebut datang melalui perspektif dari perdagangan suara itu sendiri29. Pertama, hambatan objektif yang menunjukkan bahwa perdagangan
suara berhadapan dengan kepatuhan penjual yang tidak pasti. Ketidakpastian ini terjadi karena upaya pembelian suara merupakan transaksi tanpa lisensi yang terjadi di pasar gelap, sehingga norma-norma sosial atau hukum tidak mampu melindungi transaksi tersebut selayaknya pasar normal yang dilindungi secara legal30. Hal ini menunjukkan betapa problematisnya praktik perdagangan suara karena pembeli suara tidak memiliki jaminan bahwa penjual suara akan patuh memberikan kontribusi suara sebagai balasan dari proses transaksi saat pemungutan suara dilaksanakan. Pembeli berhadapan dengan hukum dan norma yang mengatur bahwa suara bukan merupakan komoditas yang dapat diperjualbelikan, baik secara legal maupun moral, dan bertentangan dengan prinsip demokrasi. Selain itu, pembeli juga dihadapkan pada permasalahan pengawasan untuk memastikan kepatuhan penjual. Dengan keadaan demikian pada dasarnya gagasan pertukaran ekonomi yang sederhana dalam perdagangan suara sulit dipertahankan sebab tidak ada jaminan praktik pertukaran yang adil.
Kedua, hambatan intersubjektif yang melihat bahwa praktik perdagangan suara
dapat dimaknai bergantung dengan konteks sosial-budaya masyarakat31. Praktik jual beli suara tidak hanya diletakkan dalam model pertukaran ekonomi yang mengandaikan bekerjanya pasar, namun juga diletakkan dalam konteks kultural32. Lanskap budaya masyarakat dan hubungan sosial yang sudah lama terjalin bisa menjadi pusat polarisasi kekuatan kultural yang bisa menghambat bekerjanya praktik perdagangan suara. Distribusi materi bisa saja dipahami berbeda antara kandidat dan pemilih. Uang yang dianggap sebagai instrumen pembayaran yang diberikan kepada warga bisa saja dimaknai sebagai pemberian yang tidak mengikat. Sekali lagi hal ini dipengaruhi oleh konteks kultural warga yang memiliki cara tersendiri dalam membangun makna sosial uang.
Schelder menunjukkan bahwa distribusi materi yang diberikan oleh kandidat akan dimaknai oleh pemilih dengan cara-cara yang berbeda. Pertama,
29 Ibid., h.17 30 Ibid.h.19 31 Ibid 32 Ibid
dimaknai sebagai payments yang merupakan bagian dari hubungan komersial dimana kandidat dan pemilih ‘memperjualbelikan’ nilai yang sama. Komoditas yang dimiliki pemilih adalah suara. Artinya ketika pemilih mendapatkan keuntungan material, secara otomatis mereka sadar bahwa mereka harus menggunakan suaranya untuk kandidat. Hal ini juga diamini oleh Schaffer yang meletakkan cara ini ke dalam perspektif pertukaran dengan mengikuti model pasar. Bentuk ini menempatkan pemilih dalam model pasar karena pemilih merasa bahwa penawaran sebagai bentuk pembayaran atas jasa yang mereka berikan pada kandidat merupakan hak politik mereka. Ketika pemilih menerima pembayaran materi maka otomatis pemilih mengetahui bahwa mereka memiliki kesepakatan dengan kandidat hingga ke bilik pemungutan suara. Makna selanjutnya, kedua, berkaitan dengan kemungkinan makna yang secara simbolik berada di balik transaksi yaitu dimaknai sebagai gifts. Gifts merupakan sebuah pemberian yang tidak berekspektasi pada adanya pembalasan. Menerima gifts tidak berarti menciptakan perjanjian memilih kandidat. Ketika pemilih menerimanya, pemilih bisa menggunakan suaranya untuk kandidat lain. Namun dari sisi yang berbeda, bentuk ini dapat dimanfaatkan oleh kandidat dengan menggunakan latar belakang budaya yang sama dengan pemilih. Pemilih bisa saja menganggap bahwa pemberian tersebut bukan merupakan pemberian yang mengikat. Meskipun kandidat mungkin sudah mengetahui bahwa dirinya adalah preferensi politik pemilih namun distribusi materi tetap dilakukan sebagai upaya untuk memperkuat jalinan sosial antara kandidat dan pemilih. Akhirnya, pemilih tetap menggunakan suaranya kepada kandidat yang mencerminkan bahwa kampanye distributif dengan penyebaran keuntungan material bekerja melalui ikatan budaya. Ketiga, dimaknai sebagai retribution yang merupakan pembayaran untuk layanan yang diberikan di luar electoral connection. Di bawah persepektif ini, pemilih mengambil keuntungan material bukan untuk memulai hubungan pertukaran melainkan pemilih menganggap keuntungan yang didapatkan dari kandidat merupakan distribusi kekayaan negara. Keempat, dimaknai sebagai signs, pemilih mungkin melihat bahwa keuntungan material yang ditawarkan kurang memiliki dampak. Lebih dari kegunaan praktis terhadap keuntungan material dan layanan yang ditawarkan itu, pemilih melihat adanya nilai informasi terhadap kandidat
yakni kualitas personal yang dimiliki kandidat33. Ragam makna ini kemudian melibatkan pemilih dalam menanggapi permintaan kandidat. Pemilih dapat menempatkan diri mereka di luar logika pertukaran komersial atau termasuk ke dalam ide pertukaran ekonomi yang bisa menandakan bekerjanya perdagangan suara.
2.3 Teori Klientelisme dan Jaringan Broker
Skema bekerjanya praktik perdagangan suara dalam pemilihan umum cukup beraneka ragam. Mulai dari dilakukan secara tertutup atau bahkan dilakukan secara terbuka layaknya transaksi yang terjadi di pasar normal. Namun demikian, menurut Schaffer dan Schelder, praktik tersebut tetaplah merupakan kegiatan terlarang yang sebagian besar dilakukan secara tersembunyi dari inspeksi publik dan langkah-langkah yang dilakukan tidak mudah diamati34. Bahkan secara lebih luas, perdagangan suara merupakan praktik yang terlarang hampir di seluruh dunia karena bertentangan dengan prinsif demokrasi35. Sehingga setiap aktor yang melakukan praktik ini, terutama kandidat, perlu berhati-hati meskipun cukup sulit untuk mencapai jumlah pemilih yang besar jika praktik ini harus dilakukan secara diam-diam.
Praktik vote selling yang dilakukan oleh pemilik suara ada yang secara langsung dan ada pula yang melalui perantara atau broker. Peranan broker ini diperlukan mengingat karakter rakyat jelata selaku pemilik suara biasanya sungkan atau merasa rendah diri bila berhadap-hadapan langsung dengan kandidat yang notabene adalah calon pejabat. Dari sudut pandang kandidat keberadaan broker ini berfungsi sebagai perpanjangan tangannya untuk menjangkau seluruh wilayah pemilik suara. Hal ini sejalan dengan pandangan Wang dan Kurzman bahwa setiap kandidat yang akan melakukan vote buying memerlukan sebuah
intermediary agent (agen penghubung) atau broker yang akan mendekati sejumlah
pemilih yang cakupanya luas dan tidak mungkin dilakukan oleh kandidat itu sendiri36. Teori mengenai klientelisme dapat membantu menjelaskan mengenai bekerjanya intermediary agent tersebut. Klientelisme adalah jaringan antara
33
Schaffer dan Schelder .Op.cit. h4-5.
34
Schaffer (ed.) 2007: 25
35Wang dan Kurzman (dalam Schaffer (ed.) 2007: 61 36
orang-orang yang memiliki ikatan sosial, ekonomi dan politik yang didalamnya mengandung elemen iterasi, asimetris dan resiprokal37. Selain itu Aspinall menambahkan satu elemen lagi di dalamnya yakni personalistik. Iterasi mengacu pada adanya interaksi yang terjadi secara berulang-ulang. Dengan kata lain, interaksi antara patron dan klien tidak hanya berlangsung satu kali. Proses ini biasanya melibatkan interaksi dalam ikatan sosial yang relatif stabil dalam waktu tertentu38. Dalam proses ini, patron akan berusaha untuk mendapatkan informasi mengenai apa yang dibutuhkan oleh klien. Sehingga patron dapat memberikan penawaran yang efektif untuk ditukar dengan dukungan dari klien. Karena dalam klientelisme, kegagalan patron untuk merumuskan distribusi keuntungan akan mengakibatkan lepasnya klien dari jaringan klientilistik39. Dalam elemen asimetris, patron merupakan seseorang yang memiliki status lebih tinggi, sedangkan klien adalah orang dengan status yang lebih rendah. Status ini dilihat dari kemampuannya dalam mengontrol sumber daya penting seperti informasi, kekuasaan, uang, barang publik, dan lain sebagainya40. Karena patron menguasai begitu banyak sumberdaya penting, maka patron memiliki superioritas tersendiri terhadap klien. Patron lebih memiliki keleluasaan dalam menentukan bagaimana berjalannya ikatan klientilistik dengan klien. Dalam elemen resiprositas, meskipun status antara patron dan klien tidak setara, namun pada prinsipnya kedua belah pihak akan mendapatkan keuntungan dari ikatan klientilistik yang terjalin. Klien akan mendapatkan sumberdaya yang selama ini sulit diakses dan patron akan mendapatkan dukungan dan suara dari klien. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa keuntungan yang diterima oleh patron jauh lebih besar dibandingkan dengan keuntungan yang didapatkan oleh klien41. Patron juga akan terus menjaga agar klien tidak dapat menjangkau sendiri sumberdaya yang selama ini dikontrolnya, sehingga seberapa pun keuntungan yang didapatkan oleh klien, kebergantungannya terhadap patron akan terus ada. Terakhir, elemen personalistik, klientelisme selalu terjadi dalam relasi personal dimana patron dan
37
Tomsa, D., dan A. Ufen. 2013. Political Parties and Clientelism in Southeast Asia. London and New York, Routledge, pp. 1-19
38
Ibid.h.5
39
Ibid
40 Wolfang Muno. 2010. Conceptualizing and Measuring Clientelism. h.5 41
klien memiliki hubungan tertentu, misalnya hubungan bisnis, hubungan pertemanan, hubungan politik dan lain sebagainya. Buah dari hubungan itu memunculkan sikap saling memahami satu sama lain. Pada akhirnya paham ini mengakibatkan tumbuhnya endurance atau ketahanan aktivitas klientelistik dalam waktu yang lama42.
Praktik klientelisme menekankan aspek jaringan yang bekerja antara patron dan kliennya43. Jaringan disini bisa berupa jaringan politik, ekonomi ataupun jaringan sosial44. Jaringan tersebut digunakan (oleh kandidat) untuk meraih suara. Lebih jauh, jaringan tersebut diisi oleh para broker atau penghubung antar kandidat dengan pemilih. Untuk mengetahui bagaimana jaringan tersebut bekerja dapat dilakukan dengan melacak bagaimana bekerjanya para broker. Keberadaan broker dalam proses distribusi ini sangat penting karena secara teoritis broker dapat menjangkau pemilih sampai level yang paling lokal. Dengan demikian, tingkat keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh seberapa banyak pengetahuan broker terhadap daerah setempat. Untuk itu, kandidat perlu memilih broker yang memiliki pengetahuan lokal secara terperinci dengan kriteria: seseorang yang mengetahui kepada siapa ia akan memberikan uang, seseorang yang dapat dipercaya, dan bagaimana hubungan ini dapat digunakan untuk mempengaruhi pemilih45. Pada akhirnya kandidat akan memilih broker yang secara pribadi memiliki kedekatan dengannya seperti kerabat dekat, tetangga, dan sebagainya.
Menurut Wang dan Kurzman terdapat tiga kategori hubungan sosial dalam proses perekrutan broker46. Pertama, keluarga dengan memanfaatkan salah satu pemilih yang berasal dari satu keluarga dengan kandidat (keponakan, sepupu, dsb) untuk menjadi penghubung dalam proses pendistribusian uang kepada keluarganya sendiri ataupun tetangga pemilih. Kedua, teman yakni memanfaatkan hubungan pertemanan antara kandidat dengan pemilih untuk mendistribuskan uang kepada saudara-saudara pemilih. Ketiga, tetangga yakni memanfaatkan
42 Muno. Op.Cit.h.8 43
Edward Aspinall. 2013. Money Politics : Patronage and Clientelism in South East Asia.h.1
44
Tomsa&Ufen. Op.cit. h.5
45 Wang dan Kurzman (dalam Schaffer (ed.) 2007: 64) 46
tetangga dimana kandidat tinggal untuk mendistribusikan uang dari tetangga satu ke tetangga lainnya.
Tidak hanya itu, Aspinall bahkan mencoba melihat cara bekerja pendistribusian uang dengan memanfaatkan broker dalam bentuk hierarki
top-down mulai dari level level provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa, sampai
dengan kordinator tempat pemungutan suara (TPS) dan relawan. Pola seperti ini biasanya disesuaikan dengan struktur tim kampanye yang dibuat oleh masing-masing kandidat. Selain itu aktor-aktor yang terlibat didalamnya tidak hanya berasal dari struktur formal tim pemenangan kampanye kandidat semata tetapi juga memanfaatkan orang-orang terdekat maupun aktor-aktor formal maupun informal dengan menggunakan pendekatan kekerabatan ataupun professional yakni dengan skema pemberian upah47. Secara lebih jauh Aspinall menjelaskan praktek pendistribusian melalui strtuktur tim sukses sebagai berikut:
Gambar 2. Struktur Tim Sukses Aspinall
47
Mada Sumkajati. 2014. Perilaku Pemilih Masyarakat DIY dalam Model Patronase-Klientelistik:
2.4 Faktor Timing dan Pendanaan
Dari segi teknis, keberhasilan praktik perdagangan suara sangat dipengaruhi oleh timing. Bagi kandidat penentuan waktu berkaitan dengan kapan dilaksanakannya distribusi materi kepada pemilih. Sedangkan dari sisi pemilih berkaitan dengan kapan akan melakukan pendekatan secara pribadi dengan kandidat. Menurut Schaffer, materi yang diberikan oleh politisi untuk ditukar dengan suara pemilih dibagikan beberapa hari atau beberapa jam menjelang pemilihan umum.
Selain itu, komponen dana dalam praktik perdagangan suara, bagi kandidat, hukumnya adalah wajib. Tanpa dana yang cukup kandidat akan kesulitan dalam pengumpulan suara, tanpa suara yang signifikan tentu kandidat tidak bisa memenangi pertarungan. Oleh karena itu meskipun mahal pembelian suara tidak bisa dihindari oleh kandidat. Memiliki dana yang cukup tidak hanya mendatangkan manfaat yang penting tetapi juga adalah sumber kerumitan bagi kandidat terkait dengan darimana sumber dana tersebut berasal. Kerumitan itu akan menjadi nyata apabila sumber dananya berasal dari bantuan pihak lain (penyokong dana) karena pasti ada kepentingan lain dibalik bantuan itu.
Campur tangan penyokong dana ini fungsinya lebih kurang sama dengan broker yaitu sama-sama sebagai vote getter. Perbedaannya terletak pada cara atau media yang digunakan dalam berkomunikasi kepada warga masyarakat. Penyokong dana dengan menggunakan uangnya sedangkan broker dengan tenaganya. Motifnya adalah untuk melanggengkan bisnis yang dijalankannya. Dukungan penyokong dana ini dapat dilihat dari bantuan materi yang diberikan kepada kandidat, ada yang berupa sejumlah uang namun ada juga yang berupa barang. Ada juga bantuan yang disampaikan langsung oleh penyokong dana kepada warga yang dilakukan secara terbuka disertai dengan permintaan kesetiaan untuk memilih kandidat tertentu pada saat pemungutan suara nanti. Akhirnya dengan pendistribusian bantuan tersebut diharap dapat menarik simpati warga guna memberikan hak suaranya sesuai dengan aspirasi dari mana sumber materi itu berasal. Secara tidak langsung dukungan ini juga berarti restu warga terhadap bisnis yang dijalankan oleh penyokong dana tersebut.
Terdapat dua aktor dalam praktik politik uang yaitu direct actor atau pelaku langsung yang terdiri dari kandidat kepala desa, pemilih, tim sukses, dsb, dan indirect actor atau pelaku tidak langsung yang terdiri dari penyokong dana yang sebelumnya sudah disebutkan di atas dan pemain judi48. Aktor yang termasuk ke dalam kategori direct actor akan melakukan distribusi materi secara langsung kepada pemilih, begitu juga sebaliknya, pemilih akan menawarkan suaranya secara langsung kepada kandidat. Sedangkan aktor lain yang menempatkan uang sebagai dorongan yang sangat menentukan pilihan pemilih adalah pemain judi49. Meskipun pemain judi tidak menjadi fokus utama dalam penelitian ini, namun akan tetap dibahas karena perilakunya mempengaruhi perolehan suara kandidat serta cara kerjanya hampir sama dengan praktik politik uang yang dilakukan oleh kandidat dan pemilih.
Dalam setiap pergelaran event pilkades selalu saja tidak sunyi dari campur tangan penjudi. Aktifitas penjudi bisa saja mempengaruhi hasil akhir perolehan suara para kandidat karena untuk memenangi taruhannya penjudi siap menggelontorkan uangnya dengan melakukan kegiatan yang menyerupai vote
buying. Ada dua macam cara kerja penjudi. Pertama, membeli suara dari pemilik
suara yang sudah mempunyai pilihan tertentu dengan maksud supaya pemilik suara yang bersangkutan mengalihkan pilihannya kepada kandidat lain sesuai dengan yang diharapkan penjudi atau setidak-tidaknya abstain alias tidak memberikan suara kepada kandidat manapun. Kedua, membeli suara dari pemilik suara yang belum mempunyai pilihan atau massa mengambang dengan maksud agar mereka memilih kandidat tertentu sesuai dengan pesanan penjudi.
Bila ditinjau dari aspek karakteristik, karakteristik penjudi dapat dikelompokkan menjadi dua macam. Pertama, adalah kelompok emosional. Kelompok ini biasanya datang dari pendukung atau simpatisan yang mempunyai loyalitas tinggi terhadap kandidat yang didukungnya. Mereka hanya bertaruh untuk memenangkan kandidat yang didukungnya saja. Barometer kepuasannya bukan uang taruhan semata tatapi yang lebih penting adalah kandidat yang didukungnya keluar sebagai pemenang. Kedua, adalah kelompok rasional.
48
Halili.Op.,cit.h.4
49
Tidak ada istilah khusus bagi penjudi pada pilkades di Kecamatan Sragi. Untuk di daerah lain, penjudi ini biasa disebut dengan botoh atau bobotoh.
Kelompok ini lebih berhati-hati dalam menentukan siapa kandidat yang akan dipertaruhkannya. Biasanya mereka melakukan survei dan pengamatan terlebih dahulu untuk memetakan besar kecilnya potensi dukungan yang akan didapat para kandidat. Baru kemudian menentukan siapa kandidat yang akan mereka pertaruhkan dan siapa lawan bertaruhnya. Pada prinsipnya kedua kelompok ini sama-sama melakukan pembelian suara dan sama-sama berandil dalam perolehan suara akhir para kandidat.
Bagaimana keseluruhan proses kerja perdagangan suara dapat dilihat pada bagan berikut ini.
Gambar 3. Cara Kerja Perdagangan Suara
Melalui gambar di atas, dapat dilihat bahwa suara pemilih merupakan komoditas yang akan dipertukarkan dengan uang atau sesuatu yang dapat dinilai dengan uang (barang) kepada kandidat di pasar suara melalui proses negosiasi baik secara langsung maupun melalui perantara sampai ditemui kesepakatan yang seimbang antara pembeli dan penjual. Proses negosiasi dan transaksi tersebut dipengaruhi oleh faktor timing yakni terkait dengan kapan waktu paling tepat untuk melakukan transaksi sehingga perolehan suara dapat diraih semaksimal mungkin, biasanya berlangsung sejak penetapan kandidat oleh pantia sampai menjelang pemungutan suara dilaksanakan. Keuntungan yang didapat oleh kandidat adalah perolehan suara, sementara keuntungan yang didapat pemilih
adalah keuntungan ekonomi baik berupa uang atau sesuatu yang dapat dinilai dengan uang.
3 Persepsi Penjual (Seller) dan Pembeli (Buyer)
Bagian ini akan berfokus pada bagaimana persepsi penjual dan pembeli dalam melakukan praktik politik uang dalam bentuk perdagangan suara. Di dalamnya terdapat uraian mengenai persepsi kandidat yang dibentuk perdasarkan pilihan rasional serta tiga nalar yang bekerja di balik politik uang.
3.1 Persepsi Pembeli (Buyer)
Penyelenggaraan pemilihan umum khususnya pemilihan kepala desa membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Eksistensi uang menjadi faktor utama yang berpengaruh pada rotasi politik pemilihan kepala desa (pilkades). Uang yang bekerja dalam politik atau kemudian biasa disebut dengan politik uang menjadi hal yang ‘wajib’ dilakukan oleh peserta pilkades atau kandidat yang bersaing merebut kursi kekuasaan tertinggi pada struktur pemerintahan desa. Pada perkembangan selanjutnya, politik uang menjadi instrumen wajib bagi kandidat karena persepsi kandidat yang menganggap bahwa politik uang merupakan strategi pemenangan yang dianggap paling instan meskipun kegiatan tersebut termasuk ke dalam kegiatan yang melanggar hukum50.
Pelaku politik uang dalam hal ini kandidat beserta jaringan tim pemenangannya pasti mempertimbangkan untung rugi dari praktik tersebut. Pertimbangan ekonomi dapat menjadi salah satu motivasi dari terjadinya praktik politik uang. Salah satu asumsi dasar dari ilmu ekonomi menegaskan bahwa
people behave in what they perceive to be their own best interest, setiap orang
akan melakukan apa saja yang mereka anggap sebagai kepentingan terbaik bagi mereka51. Dalam hal ini, proporsinya setiap orang tidak akan melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Hal tersebut juga terjadi dan diaplikasikan dalam kegiatan politik uang dengan proporsi bahwa setiap orang tidak akan melanggar hukum jika keuntungan yang diperoleh dari pelanggaran
50
Dermawan, op.cit h. 104
51
Kelly D. Hine, Vigilantism Revisited: An Economic Analysis Of The Law Of Extrajudicial
Self-Help Or Why Can’t Dick Shoot Henry For Stealingjane’s Truck?, (The American University Law
tersebut lebih kecil dari keuntungan yang akan diterimanya. Pelaku politik uang dalam hal ini kandidat, sudah tentu mengkalkulasikan segala kemungkinan yang dapat terjadi terutama mengenai bagaimana meminimalisasi konsekuensi tertangkap tangan melakukan politik uang. Untuk itu jaringan intermediary agent sebagai perpanjangan tangan kandidat disebar sedemikian rupa untuk menjangkau pemilih tanpa harus melibatkan kandidat secara langsung di lapangan. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa kandidat kepala desa memiliki pertimbangan rasional yang selalu menempatkan cost dan benefits dalam strategi pemenangannya melalui praktik politik uang. Cost dapat terdiri dari biaya material untuk melakukan pembayaran terhadap suara pemilih, sedangkan benefits dapat berupa keuntungan non material berupa kekuasaan yang pada akhirnya dapat menciptakan keuntungan material berupa uang atau materi berharga lainnya. Melalui kekuasaan yang diraih, oknum kepala desa berpeluang mendapatkan keuntungan untuk menggantikan cost yang sudah mereka keluarkan pada putaran pilkades.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa bagi kandidat kepala desa yang menghabiskan sejumlah uang untuk mengupayakan kemenangannya dengan berbagai konsekuensi dari pelanggaran hukum yang mereka lakukan tidak akan memberikan pengaruh apapun bagi mereka karena secara matematis keuntungan yang akan mereka peroleh melalui jabatan politik berdasarkan pemilihan masih lebih besar daripada hukuman yang belum tentu akan ditebus oleh mereka kelak52. Dengan demikian, persepsi kandidat sebagai pembeli sangat didasarkan pada perhitungan yang rasional.
3.2 Persepi Penjual Melalui Tiga Nalar yang Bekerja
Sikap pemilih terkait dengan pemaknaan mereka terhadap penyebaran materi oleh kandidat dapat diungkap melalui bagaimana bekerjanya tiga nalar yang membentuk makna dari praktik politik uang yakni nalar eksistensial, nalar instrumental dan nalar kewajaran53. Pertama, nalar eksistensial menempatkan moral dan etika sebagai basis dalam memaknai penggunaan uang dalam politik. Artinya, pemilih melihat bahwa penggunaan uang dalam politik haruslah memiliki
52 Dermawan. Op.Cit. h.15 53
akar moral seperti halal dan haram, ikhlas dan pamrih. Konsep halal dan haram mengacu pada darimana sumber pendanaan para kandidat berasal dan bagaimana kandidat mengumpulkan dana tersebut. Sedangkan konsep ikhlas dan pamrih diletakkan untuk mengukur motif kandidat saat melakukan praktek pemberian imbalan54. Kedua, nalar instrumental yang menempatkan uang sebagai sumber daya untuk mencapai kekuasaan yang terpresentasikan dalam jabatan publik. Nalar ini menempatkan politik uang lepas dari konteks moral. Uang yang bekerja dalam politik didudukkan sebagai sumber daya yang mampu membentuk penawaran maupun permintaan dan membuka negosiasi dalam membentuk pilihan-pilihan tindakan yang memungkinkan untuk meraih setiap peluang kemanfaatan material atau ekonomi. Dalam nalar ini, selama praktik tersebut dimungkinkan bekerja untuk meraih keuntungan maka politik uang dihalalkan untuk dilakukan. Hal ini membuktikan bahwa norma hukum maupun sosial tidak menjadi pertimbangan dalam menentukan tindakan tersebut55. Ketiga, nalar kewajaran yang menempatkan uang sebagai sumber daya namun pada penggunaannya berbasis pada etika kepantasan. Dalam nalar ini, praktek pemberian imbalan oleh kandidat dapat diterima dalam batas-batas tertentu. Nalar ini merupakan nalar hybrid yang mempertemukan nalar eksistensial dan instrumental. Nalar ini menempatkan nilai kepantasan untuk kandidat maupun untuk pemilih. Kewajaran dari sisi kandidat dalam kacamata pemilih adalah kandidat haruslah memiliki kapasitas finansial yang memadai. Dalam konteks pemenangan untuk meraih jabatan, seorang kandidat haruslah mendayagunakan sumber daya yang dimilikinya termasuk dengan uang. Namun demikian, nalar ini meletakkan pemberian dari kandidat hanya sebatas pembiayaan politik. Penerimaan pemilih terkait penggunaan uang dalam cara pandang ini adalah uang sebatas sebagai sarana dalam pembiayaan politik, bukan untuk membeli suara. Sedangkan dari sisi pemilih, nalar ini memunculkan sikap bahwa pemilih hanya akan menerima pemberian dari kandidat yang didukungnya. Makna dari preferensi tindakan ini adalah imbalan dipandang sebagai simbol penerimaan kandidat yang didukungnya. Pilihan politik pemilih dengan cara pandang ini ditentukan oleh kedekatan figur kandidat yang dibangun oleh dua hal, yaitu
54
Ibid
55
kesamaan basis sosial serta kecocokan visi yang memuat perlindungan terhadap kemanfaatan ekonomi-politik jangka panjang56.
Keseluruhan persepsi baik dari kandidat maupun pemilih dapat dirangkum dalam bentuk bagan berikut ini.
Gambar 4. Terbentuknya Persepsi
Bagi kandidat, sebagai buyer, persepktif rational choice sangat berpengaruh terhadap pembentukan persepsi mereka mengenai politik uang. Pertimbangan-pertimbangan rasional kemudian mengantarkan mereka pada pilihan bahwa politik uang merupakan upaya pemenangan yang strategis. Sementara bagi pemilih, sebagai seller, pembentukan persepsi sangat terpengaruh oleh nalar mana yang dominan merangsang pikiran mereka, dan terbukanya kesempatan ekonomi yang erat kaitannya dengan pembentukan karakter mereka turut pula mempengaruhi bagaimana persepsi mereka mengenai politik uang.
Jika diintegrasikan secara lebih luas, bagaimana persepsi kandidat dan pemilih yang telah terbentuk kemudian menciptakan praktik perdagangan suara dalam pasar suara dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
56
Gambar 5. Perdagangan Suara
Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa pertemuan persepsi yang sama antara kandidat dengan pemilih terjadi setelah pemilih menetapkan keputusan yang akan diambilnya berdasarkan kesempatan ekonomi yang tersedia dan nalar apa yang mempengaruhi keputusannya itu. Sementara kandidat dengan pilihan rasionalnya memutuskan bahwa politik uang merupakan praktik yang dapat diterima selama praktik tersebut dapat mengantarkannya menduduki kekuasaan politik. Persepsi yang sama ini kemudian secara riil bertemu di pasar suara hingga terjadi negosiasi dan transaksi antara kandidat dan pemilih yang hasilnya menguntungkan kedua belah pihak. Pemilih mendapatkan keuntungan ekonomi dan kandidat mendapatkan suara. Dengan demikian prinsip ekonomi melalui praktik perdagangan suara terjadi dalam proses ini.
D. Metodologi Penelitian
1. Definisi Konseptual dan Definisi Operasional
Definisi konseptual dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Politik uang adalah suatu strategi pemenangan oleh kandidat sebagai upaya untuk mempengaruhi atau meraih kekuasaan politik dengan cara mendistribusikan materi baik berupa uang maupun sesuatu yang dapat dinilai dengan uang (barang) kepada pemilih dalam momen kontestasi elektoral. Dalam penelitian ini, politik uang dikonstruksikan untuk melihat
bagaimana uang dan politik bekerja dalam ide pertukaran dengan wujud perdagangan suara antara kandidat dan pemilih. Dari sisi pemilih uang menjadi instrumen akumulasi kekayaan (ekonomi) dan bagi kandidat uang menjadi instrumen meraih dukungan dimana fokus utamanya berada pada kekuasaan (politik). Penelitian ini akan membatasi konteks politik uang dalam persaingan elektoral dengan fokus utama ingin mengungkap praktik perdagangan suara dalam momen kontestasi yaitu pada pemilihan kepala desa (pilkades).
2. Politik uang bekerja melalui praktik perdagangan suara (vote trading) yang merupakan praktik jual beli suara pada kontestasi elektoral dengan melibatkan pertukaran sumber daya ekonomi yakni uang dengan sumber daya politik yakni suara. Dalam penelitian ini, pemilihan umum (pilkades) dimaknai sebagai pasar yang mempertemukan penjual dan pembeli dengan fungsi permintaan dan penawaran sebagai konsekuensi digunakannya logika ekonomi sehingga hubungan antara penjual dan pembeli dalam momen kontestasi tersebut ditempatkan sebagai transaksi yang sifatnya komersial. Kandidat kepala desa memainkan fungsi permintaan dengan wujud vote
buying dan pemilih memainkan fungsi penawaran dengan wujud vote selling. Vote Buying merupakan praktik pembelian suara oleh kandidat
kepada pemilih dengan menggunakan alat tukar berupa uang atau sesuatu yang dapat dinilai dengan uang (barang) dengan harapan dapat memenangi kontestasi. Vote Selling merupakan praktik penawaran suara yang dilakukan oleh pemilih kepada kandidat dengan harapan mendapat keuntungan berupa uang atau sesauatu yang dapat dinilai dengan uang (barang). Konsekuensi dari praktik ini adalah pemilih harus menggunakan hak suaranya untuk memilih kandidat yang bertransaksi dengannya sebagai komoditas yang dipertukarkan pada saat pemungutan suara.
3. Persepsi pembeli (buyer) sangat dipengaruhi oleh pilihan-pilihan rasional yang membentuk anggapan bahwa kandidat berhak melakukan apa saja demi mendapatkan kekuasaan politik. Persepsi ini mengantarkan kandidat pada situasi bahwa politik uang telah dianggap sebagai instrumen strategis pemenangan pemilihan kepala desa. Sedangkan bagi penjual (seller), praktik
politik uang sangat dipengaruhi oleh nalar yang bekerja di alam bawah sadar mereka, termasuk juga kebutuhan ekonomi dan budaya yang turut membentuk karakter mereka (pragmatis) dalam memaknai praktik politik uang.
Operasionalisasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Kandidat menggunakan perspektif rational choice dalam membentuk persepsi mengenai perdagangan suara yang membawanya pada kondisi menerima praktik tersebut. Sementara penerimaan pemilih terhadap praktik perdagangan suara bergantung pada nalar mana yang digunakan dan kesempatan ekonomi apa yang tersedia.
2. Perdagangan suara terjadi antara kandidat sebagai pembeli yang memiliki materi berupa uang atau sesuatu yang dapat dinilai dengan uang dan pemilih sebagai penjual yang memiliki komoditas suara.
3. Transaksi yang terjadi di pasar suara dibagi menjadi dua yaitu transaksi langsung dan tidak langsung. Transaksi langsung terjadi antara pemilih dengan kandidat atau pemilih dengan intermediary agent, sementara transaksi tidak langsung terjadi antar intermediary agent baik dari pihak kandidat maupun dari pihak pemilih.
4. Waktu (timing) negosiasi dan transaksi dilakukan setelah penetapan kandidat yang berhak dipilih dan menjelang pemungutan suara.
5. Keuntungan yang didapat kandidat berupa akumulasi suara dan keuntungan yang didapat oleh pemilih berupa akumulasi kekayaan.
2. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Metode kualitatif digunakan untuk mengungkap dan memahami sesuatu dibalik fenomena yang baru sedikit diketahui dan memberi rincian yang kompleks tentang fenomena yang sulit diungkapkan oleh metode kuantitatif57. Metode kualitatif menjadi relevan untuk digunakan karena mampu memberikan pisau analisis yang lebih tajam dan detail dalam menjelaskan praktik
57
Anselm Strauss dan Juliet Corbin. Basics of Qualitative Research : Techniques and