• Tidak ada hasil yang ditemukan

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 3 TAHUN 2007

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 3 TAHUN 2007"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

GUBERNUR JAWA TIMUR

PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 3 TAHUN 2007

TENTANG

PENANGANAN FLU BURUNG DALAM MENGANTISIPASI PANDEMI INFLUENZA PADA MANUSIA

DI JAWA TIMUR

GUBERNUR JAWA TIMUR,

Menimbang : a. bahwa Flu burung merupakan penyakit hewan menular yang strategis dan sangat berbahaya serta bisa menular kepada manusia, yang diprediksi bisa menjadi pandemi di Indonesia khususnya Jawa Timur sebagai daerah yang beresiko tinggi.

b. bahwa Jawa Timur sudah dinyatakan sebagai daerah endemis sejak tanggal 24 Januari 2004 yang sampai saat ini masih berlaku, untuk mencegah mewabahnya penyakit flu burung, telah diusahakan program pencegahan, pemberantasan dan pengendaliannya melalui kordinasi antar lembaga dan seluruh masyarakat perunggasan serta dengan memenuhi kebutuhan vaksinasi, desinfeksi, sosialisasi, isolasi, survilan dan monitoring, penegakan hukum serta upaya lain-lain kegiatan, yang hasilnya sampai dengan saat ini masih diragukan keberhasilannya.

c. bahwa keberhasilan program pencegahan pemberantasan dan penanggulangan penyakit flu burung sangat bergantung kepada kesadaran masyarakat luas, yang sampai saat ini dengan budaya, cara pemeliharaan dan tataniaga unggas yang masih tradisional serta keterlambatan masyarakat dalam mencari pertolongan pelayanan kesehatan menyebabkan adanya kendala dan kesulitan didalam mencapai target pencegahan pandemi flu burung di segmen ini. d. bahwa sehubungan dengan maksud tersebut pada huruf a, b, dan c

serta menindaklanjuti Surat Menteri Dalam Negeri tanggal 18 Januari 2007 Nomor 440/93/SJ perihal Penanganan Flu Burung, dan Surat Gubernur Jawa Timur tanggal 10 Oktober 2005 Nomor 524/9603/021/2005 perihal Gerakan Lingkungan Bersih dan Sehat serta Surat Gubernur Jawa Timur tanggal 17 Oktober 2006 Nomor 524/13270/021/2006 perihal Peningkatan Kewaspadaan terhadap terjadinya Pandemi Flu Burung pada Manusia, perlu dilakukan

(2)

langkah-Iangkah antisipasi dengan menetapkan Penanganan Flu Burung dalam Mengantisipasi Pandemi Influenza pada Manusia di Jawa Timur dalam Peraturan Gubernur Jawa Timur.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2824).

2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3273).

3. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3482 ).

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495).

5. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3821 ).

6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4548).

7. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1977 tentang Penolakan, Pencegahan, Pemberantasan dan Pengobatan Penyakit Hewan (Lembaran Negara Tahun 1977 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3101 ).

8. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1977 tentang Usaha Peternakan (Lembaran Negara Tahun 1977 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3102 ).

9. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3253).

10. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular.

11. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi Sebagai Daerah Otonom Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3982).

Dok. Informasi Hukum - JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim / 2007

(3)

12. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2006 tentang Komite Nasional Pengendalian Flu Burung (Avian Influenza) dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza.

13. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 487/Kpts/Um/6/1981 tentang Pencegahan, Pemberantasan dan Pengobatan Penyakit Hewan Menular.

14. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 284/Kpts/OP/4/1983 tentang Penunjukan Pejabat Penerima Wewenang Mengatur Tindakan Penolakan, Pencegahan, Pemberantasan dan Pengobatan Penyakit Hewan yaitu Direktur Jenderal Peternakan.

15. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 50/Permentan/OT.140/10/2006, tentang Pedoman Pemeliharaan Unggas di Pemukiman.

16. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 949/MENKES/SKNIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Oini Kejadian Luar Biasa (KLB).

17. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1371/ MENKES/ SK/IX/2005 tentang Penetapan Flu Burung (Avian Influenza) sebagai Penyakit yang Oapat Menimbulkan Wabah serta Pedoman Penanggulangannya.

18. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1372/MENKES/SK/IX/2005, tentang Penetapan Kondisi Kejadian Luar Biasa Flu Burung (Avian Influenza).

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN GUBERNUR TENTANG PENANGANAN FLU BURUNG DALAM MENGANTISIPASI PANDEMI INFLUENZA PADA MANUSIA DI JAWA TIMUR

Pasal 1

Dengan Peraturan ini ditetapkan Penanganan Flu Burung dalam Mengantisipasi Pandemi Influenza pad a Manusia di Jawa Timur.

Pasal 2

Penanganan Flu Burung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 meliputi Tata cara pemeliharaan unggas, Tata cara tata niaga unggas, Bahan asal unggas dan Hasil bahan asal unggas, serta Penatalaksanaan Kasus Flu Burung pada Manusia, Perlindungan Pada Kelompok Risiko Tinggi, Surveilans Epidemiologi Flu Burung serta Peningkatan Kesadaran Masyarakat sebagaimana tersebut dalam Lampiran.

(4)

Pasal 3

(1) Tata cara pemeliharaan unggas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 diarahkan untuk mencegah kontak yang tidak aman antara unggas hidup dengan manusia dan timbulnya penyakit flu burung dengan cara memisahkan antara pemukiman penduduk dengan kandang unggas, dan selanjutnya melarang pemeliharaan unggas yang tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). (2) Tata cara tata niaga unggas dan bahan asal unggas serta hasil

bahan asal unggas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 diarahkan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap bahaya penyakit flu burung, dan selanjutnya melarang tata niaga unggas dan bahan asal unggas serta hasil bahan asal unggas yang tidak sesuai dengan SOP.

Pasal 4

(1) Penatalaksanaan Flu Burung pada manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 untuk menegakkan diagnosa penyakit dengan cepat dan tepat serta penatalaksanaan pengobatan dan perawatan sesuai SOP di unit pelayanan kesehatan untuk menurunkan kematian. (2) Perlindungan pada Kelompok Risiko Tinggi sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 2 dilakukan terhadap peternak, pekerja peternakan, pedagang unggas, petugas medis-paramedis kesehatan hewan, petugas medis-paramedis di rumah sakit, laboratorium, dan sarana pelayanan kesehatan lainnya, petugas penyelidik lapangan, masyarakat pemilik unggas kesayangan serta masyarakat di sekitar peternakan.

(3) Surveilans Epidemiologi Flu Burung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 bertujuan untuk deteksi dini dan mengetahui penyebaran penyakit flu burung dengan cara menerapkan sistem surveilans flu burung integrasi (hewan-manusia) dengan memperkuat kapasitas surveilans di semua fasilitas pelayanan kesehatan sebagai upaya untuk menghadapi pandemi.

(4) Peningkatan Kesadaran Masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dengan cara pemberdayaan masyarakat untuk ikut aktif dalam surveilans melalui Desa Siaga dan membangun jejaring (networking) terutama pada peternak.

Pasal 5

Teknis Pelaksanaan Penanganan Flu Burung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 akan diatur lebih lanjut oleh Instansi yang bersangkutan sesuai dengan kewenangannya.

Dok. Informasi Hukum - JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim / 2007

(5)

DIUNDANGKAN DALAM BERITA DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR

TGL 24-1-2007 No. 3 Th 2007/E1

Pasal 6

Peraturan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Gubernur ini dengan menempatkannya dalam Berita Daerah Provinsi Jawa Timur.

Ditetapkan di Surabaya pada tanggal 24 Januari 2007

GUBERNUR JAWA TIMUR ttd

(6)
(7)

LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR TANGGAL : 24 JANUARI 2007

NOMOR : 3 T AHUN 2007

PENANGANAN FLU BURUNG DALAM MENGANTISIPASI PANDEMI INFLUENZA PADA MANUSIA

DI JAWA TIMUR I. Pendahuluan

Penyakit Flu Burung mulai berjangkit di Indonesia pada tahun 2003, ditandai dengan adanya kematian ayam dalam jumlah besar karena terinfeksi virus influenza A H5N1 di 10 Provinsi. Kemudian sepanjang tahun 2003, Flu Burung telah tersebar di 17 Provinsi di Indonesia yaitu Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta, DI Jogjakarta, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Yang dimaksud unggas (termasuk aves) adalah : ayam, itik, entok, angsa, unggas air lainnya burung merpati (burung dara), burung puyuh, burung kesayangan (burung berkicau), burung liar lokal, burung liar migrasi. Bahan Asal Unggas adalah bahan yang berasal dari unggas yang dapat diolah lebih lanjut. Hasil Bahan Asal Unggas adalah bahan asal unggas yang diolah dan dipergunakan untuk makan manusia, penyusunan makanan hewan dan bahan baku untuk industri dan farmasi serta penelitian ilmiah.

Pada awal tahun 2005 Kejadian Luar Biasa Flu Burung pada unggas kembali di beberapa wilayah di Indonesia yang semula masih merupakan daerah bebas Flu Burung ataupun di daerah yang telah tertular Flu Burung antara lain di Sulawesi Selatan, yang menyebabkan kematian pada unggas di Kabupaten Maros, Pinrang, Sidrap, Wajo dan Soppeng, sampai dengan tahun 2006, penyebaran virus Flu Burung sudah mencapai ke 30 Provinsi di Indonesia.

Pada tanggal 9 Juli 2005 terjadi kematian pertama kali pada manusia yang diduga tertular oleh virus flu burung (pemberitaan pada Harian Kompas tanggal 15 Juli 2005 ) dan sampai dengan bulan Januari 2007 penularan flu burung kepada manusia semakin meningkat dengan kasus konfirmasi sebanyak 63 orang meninggal dunia.

Di Provinsi Jawa Timur penyakit Flu Burung pada unggas sampai akhir tahun 2006 sudah menyebar di 32 Kabupaten/Kota. Kasus Flu Burung pada manusia di Jawa Timur ditemukan sejak bulan Mei 2006 sampai dengan 19 Januari 2007 terjadi di 3 Kabupaten/Kota dengan jumlah 5 penderita yang positif, 3 orang diantaranya meninggal dunia. Penderita yang meninggal berasal dari Kabupaten Tulungagung, Kota Surabaya, dan Kabupaten Kediri.

Adanya kasus flu burung pada manusia yang masih terus berlangsung sampai saat ini menjadi khawatir, mengingat virus influenza tersebut mampu bermutasi menjadi jenis virus baru yang dapat menular dari manusia ke manusia sehingga dapat menimbulkan pandemi influenza.

(8)

Sebagai salah satu tindak antisipasi kewaspadaan penularan pandemi flu burung pada manusia, Pemerintah Provinsi Jawa Timur secara cepat dan tepat mengambillangkah-Iangkah Penanggulangan flu burung dengan petunjuk sebagai berikut:

A. Pada bidang peternakan dan kesehatan hewan.

Langkah-Iangkah yang dilakukan dengan tujuan utama segera melokalisir kasus dan mengadakan pemberantasan melalui optimalisasi 9 (sembilan) langkah strategis dan 5 (lima) prinsip Pengendalian, Pencegahan dan Pemberantasan Flu Burung pada peternakan unggas rakyat, sebagai berikut :

1. 9 (sembilan) langkah strategis :

1) Biosecurity yang ketat, dengan penyemprotan desinfektan dan insektisida satu minggu dua kali.

2) Depopulasi pada kasus dengan radius 1 km.

3) Vaksinasi dengan vaksin H5N1 secara periodik satu tahun dua kali. 4) Pengendalian.

5) Surveillance (penelusuran dan pengamatan).

6) Public awarennes (Sosialisasi Peningkatan Kepercayaan Masyarakat). 7) Re-stocking (pengisian kandang kembali).

8) Stamping out untuk daerah tertular berat. 9) Monitoring dan evaluasi.

2. 5 (lima) prinsip :

1) Virus dimatikan dengan cara desinfektansi dan insektisida.

2) Sumber penularan dimusnahkan dengan cara Stamping out dan Depopulasi.

3) Hewan yang mudah tertular dikebalkan dengan cara Vaksinasi, memprioritaskan Pengendalian pada ayam kampung pada Backyard Farm dan Unggas lainnya seperti burung merpati, itik, entok, angsa dan burung puyuh.

4) Wilayah dijauhkan/dihindarkan dengan diisolasi dari sumber penularan. 5) Public Awarness melalui : Media elektronik, media cetak, penyebaran

brosur dan leaflet. B. Pada bidang kesehatan.

Melakukan secara terpadu dengan menggunakan 8 strategi yaitu : 1. Pengendalian flu burung pada hewan.

2. Restrukturisasi sistem perunggasan. 3. Penatalaksanaan kasus manusia. 4. Perlindungan kelompok risiko tinggi. Dok. Informasi Hukum - JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim / 2007

(9)

5. Surveilans Epidemiologi pada hewan dan manusia. 6. Peningkatan Kesadaran Masyarakat.

7. Penguatan dukungan peraturan (Law Inforcement). 8. Pemantauan dan Evaluasi.

Bahwa dengan keterbatasan SDM, teknologi dan fasilitas pendukung untuk menanggulangi flu burung serta masih rendahnya kesadaran masyarkat sampai dengan saat ini terjadi kasus flu burung secara sporadis dibeberapa wilayah yang semula dinyatakan belum tertular (terancam) dan wilayah bekas tertular.

Bagi pejabat Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan sampai dengan tingkat Desa/Kelurahan di Jawa Timur, sesuai petunjuk Komisi Nasional Flu Burung dan Kesiapsiagaan menghadapi Pandemi Influenza, harus lebih meningkatkan kepekaan terhadap adanya serangan flu burung dan segera melaporkannya sebagai prioritas utama ke Posko diatasnya.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas untuk mencegah terjadinya penularan flu burung antar manusia dan melindungi masyarakat dari ancaman pandemi influenza perlu diatur penanganannya secara terpadu.

II. MAKSUD DAN TUJUAN

A. MAKSUD:

Mencegah dan menanggulangi penyakit flu burung melalui kesiapsiagaan terjadinya wabah atau pandemi influenza pad a manusia.

B. TUJUAN:

1. Mencegah penyebaran penyakit flu burung pad a unggas dan manusia melalui tindakan langkah-Iangkah strategis.

2. Mengatur tata cara pemeliharaan dan tata niaga unggas, bahan asal unggas serta hasil bahan asal unggas.

3. Melarang tata cara pemeliharaan unggas dan tata niaga unggas , bahan asal unggas serta hasil bahan asal unggas yang tidak sesuai dengan SOP. 4. Mengadakan upaya perlindungan kelompok risiko tinggi.

5. Mengoptimalkan Surveilans Epidemiologi pada hewan dan manusia. 6. Meningkatkan kesadaran masyarakat.

III. RUANG LINGKUP PENGATURAN A. Arah Pengaturan :

1. Pemeliharaan unggas sektor industri (sektor I dan II), unggas rakyat komersial (sektor III) dan backyard farm (peternakan rakyat/sektor IV).

(10)

3. Unggas, dan bahan asal unggas yang diperlakukan pada laboratorium dan 4. lembaga penelitian.

5. Penatalaksanaan kasus Flu Burung pad a manusia. 6. Perlindungan kelompok risiko tinggi.

7. Surveilans Epidemiologi pada hewan dan manusia. 8. Peningkatan Kesadaran masyarakat.

9. Pasar Unggas atau tempat penjualan unggas harus menjadi perhatian utama dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.

B. Lokasi dan Obyek Pengaturan di Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan dilakukan pada Pintu-pintu masuk sebagai sumber penularan :

1. Sektor industri (Sektor I dan II) Breeding farm, komersial farm, pabrik pakan dan pabrik obat hewan.

2. Sektor peternakan komersial unggas rakyat (sektor III) dan backyard farm (sektor IV).

3. Tataniaga hewan dan produk hewan termasuk peralatan dan kendaraan transportasinya.

4. Rumah potong unggas, tempat pemotongan unggas, tempat pengumpulan unggas, tempat pnjualan unggas, pasar unggas, tempat penjualan unggas , pasar daging unggas dan pasar burung.

5. Peredaran obat hewan, vaksin, sera dan bahan diagnostik lainnya. 6. Laboratorium penelitian, klinik hewan dan rumah sakit hewan. 7. Vektor, burung air dan burung liar.

8. Kebun binatang dan taman wisata fauna. 9. Burung kesayangan dan budidaya burung.

C. Lokasi dan Obyek di bidang Kesehatan sebagai berikut :

1. Unit Pelayanan Kesehatan meliputi Rumah Sakit, Puskesmas, Praktik Dokter Swasta, Balai Pengobatan, Klinik Praktik Bersama.

2. Kelompok risiko tinggi yang meliputi Peternak, pekerja peternakan, pedagang unggas, Petugas medis-paramedis kesehatan hewan, Petugas medis-paramedis di rumah sakit, laboratorium, dan sarana pelayanan kesehatan lainnya, petugas penyelidik lapangan, masyarakat pemilik unggas kesayangan serta masyarakat di sekitar peternakan.

D. Daerah endemis yang beresiko tinggi

1. Daerah tertular pada 32 Kabupaten/Kota yakni : Kabupaten Blitar, Kediri, Malang, Tulungagung, Pacitan, Mojokerto, Pamekasan, Probolinggo, Magetan, Lamongan, Pasuruan, Banyuwangi, Ponorogo, Trenggalek, Sidoarjo, Jombang, Nganjuk, Madiun, Bojonegoro, Tuban, Gresik, Ngawi, Bondowoso, Situbondo, Jember, Lumajang dan Kota Surabaya, Probolinggo, Dok. Informasi Hukum - JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim / 2007

(11)

Blitar, Mojokerto, Kediri serta Kota Batu.

2. Daerah terancam pada 6 Kabupaten/Kota yakni : Kabupaten Sumenep, Sampang, Bangkalan dan Kota Pasuruan, Malang serta Kota Madiun.

E. Langkah - langkah :

1. Pengawasan lalu lintas unggas dan produk unggas secara lebih ketat.

2. Pengaturan periodik dan kontinyu pada pasar unggas termasuk test keberadaan virus.

3. Pelarangan pemotongan unggas selain di TPA/TPU (Tempat Pemotongan Ayam/Tempat Pemotongan Unggas) dan RPAIRPU (Rumah Potong Ayam/Rumah Potong Unggas).

4. Pelarangan lalu-Iintas Iimbah yang belum diolah.

5. Peningkatan sanitasi lingkungan serta penyemprotan desinfektan pada lingkungan dan kandang.

6. Vaksinasi unggas secara lengkap dan benar.

7. Pendataan per Dusun / RT : kepemilikan unggas, pola pemeliharaan, tempat pemotongan, tempat penampung, pasar unggas.

8. Penyiapan dan penambahan rumah sakit rujukan utama disertai peningkatan keberdayaannya.

9. Memantapkan Desa Siaga terhadap bencana yang memadukan antara kesehatan, manusia dan hewan.

10. Peningkatan dan penguatan pelayanan kesehatan.

11. Daerah/wilayah yang disinyalir sebagai pusat endemis/kasus pengawasan-nya harus diperketat melalui monitoring dan pengamatan.

12. Perluasan sistem Participatory Disease Searching (PDS) dan Participatory Disease Response (PDR).

13. Mengadakan sosialisasi terhadap kewaspadaan flu burung dengan menjaga kesehatan dan kebersihan baik perorangan maupun Iingkungan.

14. Perusahaan peternakan unggas komersial harus bertanggung jawab terhadap kesehatan dan lingkungan serta melakukan tindakan penanggulangan flu burung secara mandiri.

IV. TATA CARA PEMELIHARAN UNGGAS

Bagi masyarakat yang memelihara unggas dipemukiman, khususnya diwilayah perkotaan harus memenuhi kewajiban sebagai berikut :

1. Menyediakan perkandangan khusus unggas.

2. Semua jenis unggas (ayam, itik, entok, angsa, burung merpati dan burung puyuh) wajib dikandangkan.

(12)

3. Kandang harus selalu dibersihkan.

4. Memelihara unggas yang sehat dengan surat keterangan kesehatan hewan dari instansi yang berwenang.

5. Membersihkan dan membuang kotoran di tempat khusus yang memenuhi syarat kesehatan.

6. Dalam melaksanakan aktivitasnya menggunakan alat pelindung perorangan (Personal Protective Equipment/PPE).

7. Melaksanakan kewajiban budidaya ternak sesuai dengan SOP yang ditetapkan. Apabila tidak dapat memenuhi kewajiban sebagaimana angka 1 sampai dengan angka 7 maka dilarang memelihara unggas di wilayah pemukiman.

V. TATA CARA TATANIAGA UNGGAS DAN PRODUK UNGGAS

A. Tata Niaga Unggas

Bagi masyarakat yang melaksanakan tataniaga unggas di wajibkan :

1. Menyediakan alat pengangkutan khusus sesuai dengan persyaratan teknis. 2. Menyediakan tempat pengumpulan unggas.

3. Menyediakan tempat penjualan khusus unggas.

4. Menjaga kebersihan dengan melaksanakan disposal kotoran dan Iimbah serta penyemprotan dengan desinfektan.

Apabila tidak dapat memenuhi kewajiban sebagaimana angka 1 sampai dengan angka 4 dilarang melaksanakan tataniaga unggas.

Khusus unggas yang didatangkan dari luar negeri dan dari luar Provinsi dilarang masuk tanpa rekomendasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

B. Tataniaga Daging Unggas

Bagi masyarakat yang melaksanakan tataniaga daging unggas di wajibkan : 1. Menyediakan alat pengangkutan khusus sesuai dengan persyaratan teknis. 2. Menyediakan ruang penyimpanan.

3. Menyediakan tempat penjualan khusus daging unggas.

4. Daging unggas yang dijual keliling rumah ke rumah harus ditempatkan wadah khusus yang memenuhi syarat teknis.

5. Menjaga kebersihan dengan melaksanakan disposal kotoran dan Iimbah serta penyemprotan dengan desinfektan.

Apabila tidak dapat memenuhi kewajiban sebagaimana angka 1 sampai dengan angka 5 dilarang melaksanakan tataniaga daging unggas.

Dok. Informasi Hukum - JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim / 2007

(13)

C. Tataniaga Telur Konsumsi dan Produk Telur

Bagi masyarakat yang melaksanakan tataniaga Telur Konsumsi dan Produk Telur di wajibkan :

1. Menyediakan alat pengangkutan khusus telur sesuai dengan persyaratan teknis.

2. Menyediakan ruang penyimpanan khusus telur. 3. Menyediakan tempat penjualan khusus telur.

4. Menjaga kebersihan dengan melaksanakan disposal kotoran dan limbah serta penyemprotan dengan desinfektansi secara periodik.

Apabila tidak dapat memenuhi kewajiban sebagaimana angka 1 sampai dengan angka 4 dilarang melaksanakan tataniaga telur konsumsi dan produk telur.

D. Perlakuan Unggas dan Bahan Asal Unggas di Laboratorium/Lembaga Penelitian Bagi lembaga penelitian/laboratorium dan perorangan yang akan membawa masuk unggas dan bahan asal unggas serta hasil bahan asal unggas yang diduga tertular flu burung, untuk keperluan diagnostik dan kajian wajib memperoleh rekomendasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

E. Apabila tidak dapat menunjukkan rekomendasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur dimaksud dilarang untuk membawa masuk unggas dan bahan asal unggas serta hasil bahan asal unggas yang diduga tertular flu burung ke wilayah Provinsi Jawa Timur.

VI. SERTIFIKASI KESEHATAN HEWAN TERHADAP KEPEMILIKAN UNGGAS DAN PEREDARAN BAHAN ASAL UNGGAS, SERTA HASIL BAHAN ASAL UNGGAS. A. Pemeliharaan Unggas :

Semua pemeliharaan unggas yang sesuai dengan SOP akan diberikan Surat Keterangan Kesehatan Hewan dan atau rekomendasi teknis tanpa dikenakan biaya dari Dinas yang membidangi Peternakan dan Kesehatan Hewan di Kabupaten/Kota ;

B. Tata Niaga Unggas, Bahan Asal Unggas dan Hasil Bahan Asal Unggas :

Semua Tata Niaga Unggas, Bahan Asal Unggas dan Hasil Bahan Asal Unggas antar Pulau dan antar Provinsi yang sesuai dengan SOP akan diberikan surat keterangan kesehatan hewan dan atau rekomendasi teknis oleh Dinas yang membidangi peternakan dan Kesehatan Hewan di Provinsi, sedangkan antar Kabupaten/Kota dalam wilayah Provinsi Jawa Timur oleh Dinas yang membidangi Peternakan dan Kesehatan Hewan di Kabupaten/Kota.

(14)

VII. PEMUSNAHAN

Semua pelanggaran terhadap peraturan ini akan dikenakan tindakan pemusnahan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).

Setiap tindakan pemusnahan unggas non komersial (peternakan rakyat) pada daerah kasus dengan radius 1 km akan diberikan ganti rugi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

VIII. TATALAKSANA KASUS FLU BURUNG PADA MANUSIA

A. Kasus Flu Burung pad a manusia menggunakan definisi kasus sesuai ketentuan yang ada yaitu :

1. Seseorang Dalam Penyelidikan. 2. Kasus dicugai (suspek).

3. Kasus mungkin (Probabel). 4. Kasus pasti (Konfirmasi).

B. Tatalaksana kasus Flu Burung pada manusia di Unit Pelayanan Kesehatan meliputi:

1. Penetapan kasus Flu Burung pada manusia dilakukan oleh dokter atau pejabat kesehatan yang berwenang yang ada di Unit Pelayanan Kesehatan. 2. Penatalaksanaan kasus meliputi penegakan diagnosis, pengobatan dan 3. perawatan dan pemeriksaan laboratorum dilakukan sesuai dengan SOP. 4. Pengambilan spesimen dilakukan oleh petugas khusus.

5. Pemeriksaan spesimen dilakukan di Laboratorium yang telah ditunjuk.

6. Kasus Flu Burung di Jawa Timur dirujuk ke Rumah Sa kit Rujukan yang telah ditunjuk yaitu RSUD Dr. Soetomo Surabaya, RSUD Dr. Sudono Madiun, RSUD Dr. Syaiful Anwar Malang, dan RSUD Dr. Subandi Jember, bila diperlukan akan dikembangkan rumah sakit rujukan yang dipersiapkan yaitu RSUD dr. Hariyono Ponorogo, RSUD Gambiran Kediri, RSUD dr. Sosodoro Bojonegoro, RSUD dr. Moh. Saleh Probolinggo dan RSUD Pamekasan. 7. Menyiagakan Puskesmas untuk melakukan perawatan suspek flu burung

dan segera merujuk ke rumah sakit rujukan terdekat.

8. Jenazah perlu penanganan khusus sesuai SOP penyakit infeksi menular dengan memperhatikan norma agama atau kepercayaan.

9. Unit Pelayanan Kesehatan yang telah menetapkan kasus Flu Burung harus melaporkan kepada Bupati/Walikota melalui Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan secara berjenjang untuk selanjutnya melaporkan kepada Gubernur melalui Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur dalam waktu kurang dari 24 jam dengan menggunakan form laporan W1.

Dok. Informasi Hukum - JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim / 2007

(15)

10. Biaya yang timbul selama melaksanakan tatalaksana penanggulangan flu burung dibebankan pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

IX. PERLINDUNGAN KELOMPOK RISIKO TINGGI

Pada kelompok masyarakat yang berisiko tinggi terinfeksi Flu Burung diharuskan menggunakan alat pelindung perorangan sesuai standar dalam melaksanakan aktivitasnya.

X. SURVEILANS EPIDEMIOLOGI PADA HEWAN DAN MANUSIA

1. Kegiatan surveilans epidemiologi berupa pemantauan penyebaran dan perkembangan kasus Flu Burung pada hewan atau manusia yang bermanfaat untuk deteksi dini dan identifikasi ancaman Kejadian Luar Biasa (KLB), wabah atau Pandemi.

2. Pelaksanaan surveilans epidemiologi dilaksanakan secara terpadu oleh petugas Kesehatan dan petugas yang membidangi Peternakan dan kesehatan hewan yang berwenang sesuai SOP pedoman surveilans epidemiologi Avian Influenza di Indonesia dengan memperkuat kapasitas surveilans di semua Unit Pelayanan Kesehatan.

3. Penyelidikan epidemiologi segera dilakukan setelah ada informasi awal kasus Flu Burung.

4. Bupati/Walikota se Jawa Timur segera menindaklanjuti hasil pelaksanaan surveilans epidemiologi.

5. Biaya yang timbul selama melaksanakan surveilans epidemiologi flu burung dibebankan pad a Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

XI. PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT

1. Perangkat Desa/Kelurahan, Ketua RT-RW, Tokoh Masyarakat aktif melakukan sosialisasi pencegahan Flu Burung agar tidak membuat resah masyarakat.

2. Masyarakat aktif melaporkan bila ditemukan ayam, burung atau jenis unggas yang mati mendadak kepada ketua RT-RW atau ke petugas yang membidangi peternakan dan kesehatan hewan dan atau petugas kesehatan yang berwenang sebagai perwujudan Desa Siaga.

(16)

DIUNDANGKAN DALAM BERITA DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR

TGL 24-1-2007 No. 3 Th 2007/E1

3. Masyarakat segera memberikan informasi bila ada seseorang atau sekelompok orang dengan gejala Flu Burung (demam tinggi, pilek, batuk, sesak napas, sakit tenggorok) kepada Tokoh masyarakat, Ketua RT-RW, perangkat Desa/Kelurahan dan Kepala Unit Pelayanan Kesehatan terdekat.

4. Masyarakat mampu melakukan upaya pencegahan agar tidak terinfeksi Flu Burung secara perorangan.

5. Tokoh masyarakat, Ketua RT-RW, perangkat Desa/Kelurahan, petugas yang menangani kematian atau kerabat dekat kasus Flu Burung yang meninggal agar memberlakukan jenazah secara khusus sesuai ketentuan penanganan jenazah penyakit infeksi yang sangat menular dengan tetap memperhatikan norma agama atau kepercayaan.

6. Perangkat Desa/Kelurahan, Tokoh masyarakat, Ketua RT-RW agar membantu kelancaran penyelidikan epidemiologi.

7. Seseorang atau sekelompok orang yang diputuskan oleh pejabat kesehatan yang berwenang untuk dilakukan penyelidikan epidemiologi terhadap kemungkinan terinfeksi Flu Burung tidak boleh menolak untuk diperiksa.

XII. PENUTUP

Demikian Peraturan Penanganan Flu Burung dalam Mengantisipasi Pandemi Influenza pada Manusia di Jawa Timur disampaikan untuk dilaksanakan sebaik-baiknya.

GUBERNUR JAWA TIMUR ttd

IMAM UTOMO. S

Dok. Informasi Hukum - JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim / 2007

Referensi

Dokumen terkait

menyiapkan bahan pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan sarana, prasarana promosi penanaman modal dan kerjasama dengan lembaga dan/atau pemerintah daerah di luar

PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENGANGGARAN, PELAKSANAAN DAN PENATAUSAHAAN, PERTANGGUNGJAWABAN DAN PELAPORAN

menyiapkan bahan koordinasi penegakan hukum bidang kehutanan, bimbingan, supervisi, konsultasi pemantauan dan evaluasi kegiatan perlindungan hutan lintas

Ikhtisar Jabatan : Menyusun rencana dan program teknis pemeliharaan jalan, mengkoordinasikan, mengarahkan, mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan,

Menimbang : bahwa sehubungan dengan penurunan harga Bahan Bakar Minyak serta dalam rangka menjamin kelangsungan pelayanan penyelenggaraan angkutan penumpang antar

bahwa sehubungan adanya perubahan dalam tata keprotokolan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 54 Tahun 2015 tentang Standardisasi Biaya Kegiatan Dan Honorarium, Biaya Pemeliharaan, Dan

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas Dan Wewenang Serta Kedudukan Keuangan Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah Di Wilayah