33
Presiden dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia
1. Kedudukan dan Wewenang Sekretariat Kabinet dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia
a) Sejarah Sekretariat Kabinet
Pada awal sejarah keberadaan Sekretariat Kabinet merupakan satu lembaga dengan Sekretariat Negara. Selama hampir 55 tahun sejak masa pemerintahan Kabinet Presidensial yang dipimpin oleh Presiden Ir. Soekarno hingga berakhirnya masa pemerintahan Kabinet Reformasi Pembangunan yang dipimpin oleh Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie, Sekretariat Negara merupakan induk organisasi bagi sekretariat yang berada di lingkungan lembaga kepresidenan (Siwi Kadarmo, 2001:1). Perkembangan Sekretariat Kabinet dari masa ke masa dimulai dari masa pemerintahan Presiden Soekarno (Orde Lama) sampai dengan masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Orde Reformasi).
Pada masa pemerintahan Presiden Ir. Soekarno (1945-1967), Sekretariat Kabinet yang pada saat itu disebut Sekretariat Presidium Kabinet merupakan salah satu unit kerja yang secara struktural berada di bawah Sekretariat Negara. Susunan organisasi Sekretariat Negara diatur dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 197 Tahun 1966 tentang Susunan Organisasi dan Pembagian Kerja Sekretariat Negara, yang terdiri dari 4 (empat) sekretariat, yaitu Sekretariat Kepresidenan, Sekretariat Presidium Kabinet, Sekretariat Presiden Pribadi untuk Hal-Hal Khusus, dan Sekretariat Urusan Militer.
Gambar 2
Sekretariat Negara Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 197 Tahun 1966 tentang Susunan Organisasi dan
Pembagian Kerja Sekretariat Negara
Sumber: Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 197 Tahun 1966 tentang Susunan Organisasi dan Pembagian Kerja Sekretariat Negara, diolah.
Sekretaris Kepresidenan, Sekretaris Presidium Kabinet, Sekretaris Presiden Pribadi untuk Hal-Hal Khusus, dan Sekretaris Urusan Militer mempunyai hubungan hierarkis dan memiliki tugas utama untuk membantu Sekretaris Negara dalam melaksanakan tugas kenegaraan. Jabatan Sekretaris Presidium Kabinet dipegang oleh Sudharmono menggantikan Hugeng Imam Santoso, sedangkan jabatan Sekretaris Negara dipegang oleh Mohammad Ichsan. Sekretariat Negara pada waktu itu tidak termasuk dalam jajaran komposisi Kabinet Ampera I, melainkan hanya sebagai pejabat yang berkedudukan sebagai menteri saja (Bibit Suprapto, 1985:290).
Susunan organisasi Sekretariat Negara terdiri dari:
a. Sekretariat Kepresidenan, dipimpin oleh Sekretaris kepresidenan bertanggung jawab secara operasional kepada Presiden (Soekarno) dan secara administratif termasuk dalam Sekretariat Negara, serta berada di bawah pimpinan Sekretaris Negara. Sekretariat ini terdiri dari tiga biro, yaitu Kabinet Presiden (Biro I), Biro Rumah Tangga (Biro II), dan Biro Bangunan (Biro III);
b. Sekretariat Presidium Kabinet, dipimpin oleh Sekretaris Presidium dan bertanggung jawab secara operasional kepada Ketua Presidium (Soeharto), terdiri dari lima biro yaitu Biro Tata Usaha, Biro Hukum dan Musyawarah, Biro Keuangan, Biro Urusan Dalam, dan Biro Khusus Hubunga dengan Lembaga-Lembaga;
c. Sekretaris Presiden Pribadi untuk Hal-Hal Khusus, bertanggung jawab secara operasional kepada Presiden; dan d. Sekretariat Urusan Militer, dipimpin oleh Sekretaris Militer dan bertanggung jawab secara operasional kepada Panglima tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, serta secara administratif termasuk dalam Sekretariat Negara (Bagian Kedua Angka 1-Angka 4 Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 197 Tahun 1966 tentang Susunan Organisasi dan Pembagian Kerja Sekretariat Negara).
Mohammad Ichsan masih tetap menjabat sebagai Sekretaris Negara ketika terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada Presiden Soeharto pada tahun 1967. Setelah serah terima jabatan, Presiden Soeharto segera membentuk keputusan presiden untuk menyempurnakan organisasi Sekretariat Negara sesuai dengan kebutuhan dan keadaan pemerintah pasca berlakunya TAP MPRS No.XXXIII/MPRS/1967 tentang Pencabutan Kekuasaan Negara dari Presiden Sukarno (Bibit Suprapto, 1985:313).
Presiden Jenderal Soeharto masih menempatkan Sekretariat Presidium Kabinet atau Sekretariat Kabinet sebagai salah satu unit kerja di bawah organisasi Sekretariat Negara, bersama dengan Sekretariat Kepresidenan dan Sekretariat Urusan Militer. Hal ini sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia
Nomor 53 Tahun 1967 tentang Susunan Organisasi dan Pembagian Kerja Sekretariat Negara. Meskipun diberi tugas untuk menyelenggarakan administrasi pemerintahan dalam arti luas, Sekretaris Presidium Kabinet dalam menjalankan tugasnya sehari-hari berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden selaku Ketua Presidium Kabinet.
Gambar 3
Sekretariat Negara berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 1967 tentang Susunan Organisasi dan
Pembagian Kerja Sekretariat Negara
Sumber: Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 1967 Susunan Organisasi dan Pembagian Kerja Sekretariat Negara, diolah.
Susunan organisasi Sekretariat Presidium Kabinet dipimpin oleh Sekretaris Kabinet yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden/Ketua Presidium Kabinet, serta bertugas untuk menyelenggarakan administrasi pemerintahan dalam arti luas. Sekretariat Presidium Kabinet terdiri dari 6 (enam) biro yakni Biro Tata Usaha, Biro Hukum dan Perundang-undangan, Biro
Sekretariat Negara
Sekretariat Presidium Kabinet/Sekretariat
Kabinet
Sekretariat
Analisa/Pembahasan Masalah, Biro Urusan Dalam, Biro Keuangan, dan Biro Penghubung Lembaga Negara (Bagian Pertama Angka (1) Keputusan Presiden Nomor 53 tahun 1967 tentang Susunan Organisasi dan Pembagian Kerja Sekretariat Negara).
Presiden Soeharto juga membentuk Sekretariat Pengendalian Operasional Pembangunan dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1969 tentang Pengendalian Operasional Pembangunan Lima Tahun 1969-1973. Sekretariat ini dibentuk sebagai bagian dari program pembangunan dalam rangka menyukseskan pelaksanaan rencana pembangunan lima tahun.
Sekretariat ini dikendalikan langsung oleh Presiden dan dibantu oleh Menteri Negara Operasionil Pembangunan. Sekretariat ini juga dipimpin oleh seorang sekretaris namun kedudukan Sekretariat Pengendalian Operasionil Pembangunan berada di luar struktur organisasi Sekretariat Negara karena dibentuk melaluhi peraturan yang berbeda tetapi segala pembiayaannya masih dibebankan pada anggaran Sekretariat Negara (Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1969 tentang Pengendalian Operasional Pembangunan Lima Tahun 1969-1973).
Pada saat itu Sekretaris Negara dijabat oleh Alamsyah Ratu Prawiranegara dan Sekretaris Kabinet dijabat oleh Sudharmono. Tetapi karena kapabilitas yang dimiliki Sudharmono dalam memahami hukum dan administrasi, Presiden Soeharto akhirnya memutuskan untuk tidak mempertahankan Alamsyah Ratu Prawiranegara sebagai Sekretaris Negara. Kemudian Sekretaris Kabinet dijabat oleh Sudharmono sekaligus sebagai Sekretaris Kabinet pada tahun 1972 (Kabinet Pembangunan I).
Gambar 4
Lembaga Pendukung Presiden pada Masa Awal Pemerintahan Presiden Soeharto
Sumber: Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1969 tentang Pengendalian Operasional Pembangunan Lima Tahun 1969-1973, diolah.
Setelah masa Kabinet Pembangunan I berakhir, dibentuk Kabinet Pembangunan II dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1973. Keputusan presiden tersebut menjelaskan Sudharmono diangkat menjadi Menteri Negara yang mengkoordinir administrasi dan keuangan dari Lembaga Pemerintah Non Departemen merangkap sebagai Sekretaris Negara, dengan sebutan Menteri/Sekretaris Negara. Pada saat itu kedudukan Sekretariat Kabinet masih berada di bawah Sekretaris Negara. Pada era Kabinet ini Menteri/Sekretaris Negara termasuk dalam jajaran Kabinet Pembangunan II, dimana Menteri/Sekretaris Negara termasuk menteri negara yang tidak mengepalai departemen tertentu. Pada saat itu Kabinet Pembangunan II terdiri dari 17 menteri departemen dan 5
menteri negara yang tidak mengepalai departemen tertentu (Bibit Suprapto, 1985:362).
Gambar 5
Sekretariat Negara pada masa Sudharmono
Sumber: Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1972 tentang Organisasi Sekretariat Negara yang Disempurnakan.
Pada era Sudharmono, Presiden Soeharto juga membentuk Inspektur Jenderal Proyek-Proyek Pembangunan (Irjenbang) dengan Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 1974 tentang Pengangkatan Inspektur Jenderal Pembangunan untuk Pengawasan atas Pelaksanaan
Proyek-Proyek Pembangunan. Proyek yang dimaksud seperti proyek inpres, proyek bantuan desa, maupun proyek daerah, dengan cara melakukan penelitian dan peninjauan proyek dan melaporkan hasilnya kepada Presiden dan Wakil Presiden.
Berikutnya, pada masa Kabinet Pembangunan III, Sekretariat Negara disempurnakan kembali dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1978 tentang Organisasi Sekretariat Negara. Sekretariat Negara pada saat itu merupakan suatu wadah administrasi dari lembaga-lembaga pemerintah tingkat pusat yang tidak termasuk salah satu departemen. Sekretaris Negara tidak lagi merangkap sebagai Sekretaris Kabinet.
Pada masa Kabinet Pembangunan IV ditetapkan pengangkatan beberapa menteri muda, salah satunya adalah Menteri Muda Sekretaris Kabinet yang dijabat oleh Moerdiono. Menteri muda adalah menteri negara pembantu Presiden yang diperbantukan kepada menteri negara lainnya dengan tugas pokok mengikuti dan melakukan koordinasi pelaksanaan kebijakan dan program di bidang tertentu dalam kegiatan pemerintahan negara yang mendesak dan perlu ditangani secara lebih intensif. Secara keseluruhan, susunan organisasi Sekretariat Negara pada saat itu masih sama dengan sebelumnya, hanya saja terdapat penambahan unsur Wakil Sekretaris Kabinet dalam struktur organisasi Sekretariat Kabinet (Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2009:146).
Setelah Sudharmono menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia yang kelima, Moerdiono diangkat menjadi Menteri Negara/Sekretaris Negara. Selanjutnya, pada masa Kabinet Pembangunan VI, posisi jabatan Moerdiono dan Saadilah Mursyid disetarakan sebagai Menteri Negara Sekretaris Negara dan Menteri Negara Sekretaris Kabinet (www.setkab.go.id/profil-kabinet-34-kabinet-pembangunan-vi.html, diakses pada tanggal 29 Februari 2016).
Sebelum masa Orde Baru berakhir, organisasi Sekretariat Negara berubah signifikan dengan ditetapkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 1998 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, dan Susunan Organisasi Sekretariat Negara. Unit organisasi Sekretariat Negara menjadi 6 (enam) sekretariat, yaitu Sekretariat Kabinet, Sekretariat Militer, Sekretariat Pengendalian Operasional Pembangunan, Rumah Tangga Kepresidenan, Sekretariat Wakil Presiden, dan Staf (terdiri dari Sekretariat, Asisten, dan Staf Ahli). Dalam Keputusan Presiden tersebut, jabatan Sekretaris Kabinet ditempatkan kembali di bawah Sekretaris Negara, dan Sekretariat Negara tidak dipisahkan dengan Sekretariat Kabinet karena Presiden menjalankan peranan sebagai penyelenggara pemerintahan negara.
Gambar 6
Sekretariat Negara berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 1998 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,
Sumber: Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 1998, tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Sekretariat Negara, diolah.
Setelah Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada tanggal 21 Mei 1998, maka penyelenggaraan pemerintahan dilanjutkan oleh Wakil Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie yang kemudian diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Susunan organisasi dan tugas Sekretariat Negara tidak berbeda jauh dengan susunan organisasi Sekretariat Negara pada masa pemerintahan Presiden Jenderal Soeharto. Akbar Tanjung ditunjuk sebagai Menteri Sekretaris Negara menggantikan Saadilah Mursyid. Karier pria yang dilahirkan di Sibolga pada tanggal 14 Agustus 1945 ini lebih banyak dihabiskan dalam dunia politik. Hal itu pulalah yang menjadi faktor utama penyebab dirinya mengundurkan diri sebagai Menteri Sekretaris Negara, tatkala dirinya harus dihadapkan pada pilihan untuk menentukan sikap sebagai Ketua Umum Partai Golongan Karya, disamping adanya ketentuan peraturan perundang-undangan yang tidak memperbolehkan pejabat pemerintah untuk melakukan kampanye politik (www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/193-hidupnya-adalah-dunia-politik, diakses pada tanggal 1 Maret 2016).
Atas pengunduran dirinya itu lantas Muladi ditunjuk sebagai Sekretaris Negara menggantikan Akbar Tanjung. Namun tidak lama kemudian, pria kelahiran Surakarta tanggal 26 Mei 1943 ini juga harus melepaskan jabatannya sebagai Sekretaris Negara ketika akhirnya pidato pertanggungjawaban Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie di hadapan Sidang Umum MPR ditolak oleh mayoritas fraksi.
Sekretariat Kabinet masih dipertahankan sebagai bagian dari Sekretariat Negara, sebagaimana ditentukan dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 104 Tahun 1998 tentang Kedudukan,
Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Sekretariat Negara. Namun dalam Keputusan Presiden tersebut, susunan organisasi Sekretariat Negara bertambah menjadi 8 (delapan) unit organisasi, yaitu Sekretariat Militer, Sekretariat Pengendalian Operasional Pembangunan, Rumah Tangga Kepresidenan, Sekretariat Wakil Presiden, Sekretariat Sekretaris Negara, Asisten, dan Staf Ahli. Penambahan itu ditujukan untuk membangun Sekretariat Negara agar sama seperti Kantor Presiden (the Office of the President) Amerika (Sofian Effendi, 2010:94-96).
Guna menyempurnakan ketentuan pasal 21 dan Pasal 22 Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 104 Tahun 1998 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan tata Kerja Sekretariat Negara, Keputusan Presiden tersebut diatur kembali dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 104 Tahun 1998 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Sekretaris Negara. Selain di samping Sekretaris Negara masih ada Staf Khusus Presiden yang bertanggung jawab kepada Presiden dalam mengevaluasi, mengkaji, dan menganalisis berbagai kebijakan.
Pada masa pemerintahan berikutnya, yaitu masa pemerintahan Presiden K.H. Abdurrahman Wahid, mulailah terjadi pemisahan Sekretariat Kabinet dari Sekretariat Negara
(http://sofian.staff.ugm.ac.id/artikel/REORGANISASI-SEKRETARIAT-NEGARA/diakses tanggal 28 Oktober 2015 pukul 23.15 WIB). Presiden yang akrab disapa Gus Dur itu merombak besar-besaran struktur bangunan organisasi Sekretariat Negara karena tidak setuju dengan besarnya kekuasaan yang diwariskan Orde Baru pada Sekretariat Negara, yang justru menyulitkannya dalam memimpin birokrasi pemerintahan. Hal itu diwujudkan oleh Presiden Gus Dur dengan memecah organisasi Sekretariat Negara menjadi lima
sekretariat, yaitu Sekretariat Presiden, Sekretariat Militer Presiden, Sekretariat Wakil Presiden, Sekretariat Kabinet, dan Sekretariat Pengendalian Pemerintahan (Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2009:256). Sekretariat Kabinet ditetapkan dengan Keputusan Presiden Nomor 59 tahun 2000 tentang Sekretariat Kabinet. Kelima sekretariat tersebut tidak berkedudukan di bawah Sekretariat Negara dan/atau bertanggung jawab langsung kepada Sekretaris Negara, melainkan setingkat dengan Sekretariat Negara dan juga bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan Wakil Presiden.
Dengan pemecahan Sekretariat Negara seperti itu, setiap sekretariat diharapkan dapat semakin lancar, berdaya guna, dan berhasil dalam memberikan dukungan pelayanan kepada Presiden dan Wakil Presiden. Birokrasi yang berjenjang dipangkas sehingga Sekretaris Presiden, Sekretaris Wakil Presiden, Sekretaris Kabinet, Sekretaris Pengendalian Pemerintahan, dan Sekretaris Militer Presiden dapat melaporkan hasil pelaksanaan tugasnya langsung kepada Presiden dan Wakil Presiden tanpa melaluhi Sekretaris Negara.
Akan tetapi, kebijakan seperti itu ditentang oleh Sofian Effendi karena menurutnya pemecahan organisasi yang dilakukan Presiden Gus Dur itu bukan ditujukan untuk meningkatkan pelaksanaan tugas dan fungsi Sekretariat Negara, melainkan hanya untuk sekedar memecah konsentrasi kekuasaan yang terlalu besar pada Sekretariat Negara (Sofian Effendi, 2010:76). Selain itu menurut Djohan Effendi dengan banyaknya sekretariat di lingkungan lembaga kepresidenan pada masa Presiden Gus Dur merupakan suatu kelemahan mendasar karena dengan sistem birokrasi seperti itu, masing-masing sekretaris memiliki kepentingan langsung ke Presiden dan tidak mau berada di bawah sekretaris lainnya. Sehingga tidak akan terjalin koordinasi yang baik antarsekretariat di lingkungan lembaga kepresidenan (Ahmad Gaus AF, 2009:197).
Presiden Gus Dur tidak hanya memecah dan menyempurnakan tugas dan fungsi organisasi Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet, tetapi juga membedakan atau memisahkan fungsi kekuasaan Presiden sebagai kepala negara (head of state) dan sebagai kepala pemerintahan (head of government).
Setelah Presiden Gus Dur diberhentikan, Megawati Soekarnoputri yang ketika itu menjabat sebagai Wakil Presiden diangkat dan ditetapkan menjadi Presiden untuk memimpin penyelenggaraan pemerintahan hingga tahun 2004 (Ketetapan MPR Nomor: III/MPR/2001 tentang Penetapan Wakil Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden Republik Indonesia, yang ditetapkan pada tanggal 23 Juli 2001). Pada waktu itu posisi Sekretariat Negara sebagai menteri negara, sehingga Sekretariat Negara memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari pimpinan sekretariat/sekretaris lainnya (Keputusan Presiden Nomor 228/M Tahun 2001 tentang Pembentukan Kabinet Gotong Royong). Berdasarkan hal tersebut maka secara teknis operasional seluruh kegiatan kesekretariatan lembaga kepresidenan yang terdiri dari Sekretariat Negara, Sekretariat Kabinet, Sekretrariat Presiden, Sekretariat Militer Presiden, dan Sekretariat Wakil Presiden berada di bawah Sekretariat Negara sebagai anggota kabinet (Bambang Kesowo, 2004:7).
Setelah masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri berakhir, tugas penyelenggaraan pemerintahan negara dilanjutkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekaligus merupakan Presiden pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat selama 2 (dua) periode pemerintahan. Pada periode pemerintahannya yang pertama (22 Oktober 2004–23 Oktober 2009), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memisahkan jabatan Menteri Sekretaris Negara dan Sekretariat Kabinet dalam susunan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I agar tugas penyelenggaraan pemerintahan negara dapat berjalan lancar.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menyetarakan kedudukan Sekretaris Kabinet sebagai pejabat setingkat menteri negara. Pada saat itu Menteri Sekretaris Negara dijabat oleh Yusril Ihza Mahendra dan Sekretaris Kabinet dijabat oleh Sudi Silalahi.
Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2005 tentang Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet, tugas Sekretariat Negara dibedakan dengan Sekretariat Kabinet. Sekretariat Negara bertugas membantu Presiden dan Wakil Presiden dalam hal penyelenggaraan kekuasaan negara, sedangkan Sekretariat Kabinet bertugas membantu Presiden dalam hal penyelenggaraan kekuasan pemerintahan. Pembedaan tugas Sekretaris Negara dan Sekretariat Kabinet didasarkan pada pemisahan cakupan wilayah kekuasaan Presiden dalam menyelenggarakan kekuasaan negara (state power) dan kekuasaan pemerintahan (government power).
Pemisahan cakupan wilayah kekuasaan Presiden seperti itu menyebabkan organisasi Sekretariat Negara kembali mengalami penataan ulang atau direorganisasi. Sekretariat lain yang sebelumnya berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden, seperti Rumah Tangga Kepresidenan, Sekretariat Wakil Presiden, Sekretariat Militer, dan Sekretariat Menteri. Sekretaris Negara ditarik dan disatukan kembali ke dalam Lembaga Sekretariat Negara, kecuali Sekretariat Kabinet.
Penyatuan kembali keempat sekretariat tersebut mempengaruhi derajat struktur pertanggungjawaban organisasi masing-masing. Beberapa sekretariat yang pada pemerintahan sebelumnya bersifat mandiri (bertanggung jawab langsung kepada Presiden) turun derajat (downgrade) menjadi sekretariat non-mandiri (tidak bertanggung jawab langsung kepada Presiden). Selain itu, di antara Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet terbentuk garis pemisah antara urusan kenegaraan yang menjadi wilayah kewenangan Sekretaris Negara dan
urusan pemerintahan yang menjadi wilayah kewenangan Sekretaris Kabinet.
Sampai pada akhirnya penyempurnaan lembaga Sekretariat Negara dilakukan kembali dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara dan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 47 tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara. Sehingga Sekretariat Negara disamakan dengan kementerian dan nomenklaturnya berubah menjadi Kementerian Sekretariat Negara.
Meskipun mengalami perubahan, hingga periode pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang kedua (21 Oktober 2009-22 Oktober 2014). Sekretariat Kabinet masih dipertahankan dan dipisahkan dari Kementerian Sekretariat Negara dengan mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2010 tentang Sekretariat Kabinet. Pada saat itu Menteri Sekretaris Negara dijabat oleh Sudi Silalahi dan Sekretaris Kabinet dijabat oleh Dipo Alam (www.pelita.or.id/baca.php?id=81414, diakses pada tanggal 1 Maret 2016).
Gambar 7
Susunan Organ Pendukung Presiden pada Masa Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II
Meskipun Sekretariat Negara telah menjadi kementerian dan Sekretariat Kabinet tetap berstatus lembaga pemerintah setingkat kementerian, keduanya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Garis pemisah antara keduanya terletak pada tugas pokok yang diberikan, dimana Kementerian Sekretariat Negara mempunyai tugas untuk memberikan dukungan teknis dan administrasi serta analisis kepada Presiden dan Wakil Presiden dalam menyelenggarakan kekuasaan negara. Sedangkan Sekretariat Kabinet mempunyai tugas untuk memberi dukungan staf, administrasi, teknis, dan pemikiran kepada Presiden selaku kepala pemerintahan.
Setelah masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berakhir dan digantikan oleh Presiden Joko Widodo, keberadaan Kementerian Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet masih tetap dipisahkan satu sama lain. Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 Tentang Sekretariat
Presiden dan Wakil Presiden UKP-PPP Dewan Pertimbangan Presiden Sekretariat Kabinet Sekretariat
Negara Utusan Khusus Presiden,
Staf Khusus Presiden, dan Staf Khusus Wakil Presiden
Kabinet Pasal 1 ayat (1), yang dimaksud dengan Sekretariat Kabinet Republik Indonesia adalah lembaga pemerintah yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.
Sekretariat Kabinet RI dipimpin oleh seorang Sekretaris Kabinet. Sekretaris Kabinet pada masa Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo dijabat oleh Dr. Ir. Pramono Anung Wibowo, M.M. yang menggantikan Andi Widjajanto. Sekretaris Kabinet dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh Wakil Sekretaris Kabinet Bistok Simbolon, S.H., M.H. Sekretariat Kabinet RI mempunyai tugas memberikan dukungan teknis dan administrasi serta analisis kepada Presiden dan Wakil Presiden dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintah, pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan program pemerintah, penyiapan rancangan peraturan presiden, keputusan presiden, dan instruksi presiden, penyiapkan penyelenggaraan sidang kabinet, serta pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan pemerintah dan kepangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang kewenangannya berada di tangan Presiden dan Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Sekretariat Kabinet.
b) Kedudukan Sekretariat Kabinet
Sekretariat merupakan instansi pemerintahan yang tidak kurang pentingnya di dalam suatu negara. Dipandang dari sudut pekerjaannya sehari-hari (menulis, mengarang, mencatat, dan menyimpan segala arsip dan dokumen negara), dapat diketahui betapa penting fungsinya di dalam pekerjaan pemerintahan. Hal itu akan lebih dirasakan lagi apabila mengetahui bahwa sekretaris dapat memegang seluruh tugas kepemimpinan sebagai kepala kantor (kepala sekretariat) (Ahmad Z.A., 1952:113). Pada dasarnya pekerjaan sekretaris merupakan perpanjangan dari pekerjaan yang dilakukan oleh pimpinan agar pimpinan dapat lebih mengonsentrasikan diri dalam melakukan tugas manajerial suatu organisasi atau perusahaan. Bahkan seorang sekretaris
dapat menggantikan peran manajerial suatu perusahaan dengan menjadi pemimpin dalam unit pekerjaannya (memimpin sekretariat).
Selain kedudukannya sebagai figur politik, kedudukan yang tidak kalah penting adalah sebagai pegawai tinggi. Dalam kedudukannya ini, sekretaris hanyalah mesin yang bergerak menurut perintah atasannya. Apapun bentuk pemerintahannya baik di pusat maupun di daerah, jabatan sekretaris tetap selamanya ada dan senantiasa mengabdi kepada penguasa negara yang ada diatasnya (Ahmad Z.A., 1952:1).
Secara Yuridis atas dasar Pasal 4 ayat (1) UUD Tahun 1945 maka Presiden berhak membentuk beberapa lembaga-lembaga negara yang berada di bawah Presiden untuk melaksanakan fungsi-fungsi tertentu (wewenang atribusi). Dalam ketentuan tersebut tidak dijelaskan secara implisit mengenai wewenang Presiden dalam membentuk lembaga negara, namun sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan maka Presiden berhak untuk membentuk lembaga negara sebagai upaya untuk membantu tugas Presiden dalam menjalankan tugasnya. Salah satu lembaga negara yang dibentuk oleh Presiden dengan mengeluarkan peraturan presiden adalah Sekretariat Kabinet, yaitu Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet.
Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet, “Sekretariat Kabinet adalah lembaga pemerintah yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden”. Secara tersirat Sekretariat Kabinet merupakan lemabaga negara yang berkedudukan di bawah Presiden dan bertanggungjawab kepada Presiden. Artinya bahwa tugas-tugas yang melekat pada lembaga Sekretariat Kabinet tersebut merupakan tugas yang melekat pada Presiden secara umum yang kemudian tugas tersebut di distribusikan kepada Sekretariat Kabinet untuk membantu baik secara langsung maupun tidak langsung
dalam teknis pelaksanaannya. Selain itu secara kelembagaan Sekretariat Kabinet merupakan lembaga yang strukturnya berada di bawah Presiden secara langsung, yang nantinya tugas yang dimiliki oleh Sekretariat Kabinet tersebut dipertanggungjawabkan sepenuhnya kepada Presiden sebagai kepala tertinggi dalam pemerintahan.
Keberadaan Lembaga Sekretariat Kabinet dimaksudkan untuk memberikan dukungan pengelolaan manajemen kabinet kepada Presiden dan Wakil Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan, sesuai dengan ketentuan Pasal 2 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet yang berbunyi “Sekretariat Kabinet mempunyai tugas memberikan dukungan pengelolaan manajemen kabinet kepada Presiden dan Wakil Presiden”.
Oleh karena itu keberadaan Sekretariat Kabinet dalam ketentuan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet merupakan lembaga negara penunjang, dimana Sekretariat Kabinet merupakan perpanjangan tangan dari tugas Presiden berkaitan dengan membantu dalam pengelolaaan kabinet. Konsekuensi dari keberadaan dan tugas kelembagaan Sekretariat Kabinet tersebut adalah bahwa setiap tugas yang diamanatkan terhadap Sekretariat Kabinet tersebut harus dipertanggungjawabkan kepada Presiden.
Berdasarkan Tim Antarkementerian Pengkajian Penataan Lembaga Non Struktural, secara umum kehadiran lembaga penunjang dapat dilihat sebagai jalan keluar atas kondisi buruknya kinerja lembaga negara, tingginya beban kerja lembaga negara, tuntutan mayarakat sipil, penyesuaian negara terhadap perkembangan sistem ketatanegaraan, perkembangan kewenangan karena kompleksitas permasalahan yang dihadapi negara dan masyarakat. Menurut Firmansyah Arifin, ada beberapa hal yang menjadi inti dan mempengaruhi banyak pembentukan lembaga negara baru, yaitu:
1) Tiadanya kredibilitas lembaga negara yang telah ada akibat asumsi adanya korupsi yang sistemik, mengakar, dan sulit diberantas; 2) Tidak independennya lembaga negara yang ada karena satu sama
lain hanya tunduk di bawah pengaruh satu kekuasaan negara atau kekuasaan lainnya;
3) Ketidakmampuan lembaga negara yang ada untuk melakukan tugas yang urgen dilakukan dalam masa transisi demokrasi karena persoalan birokrasi dan KKN;
4) Pengaruh global, dengan pembentukan apa yang dinamakan auxiliary organ state agency atau watchdog institution di banyak negara;
5) Tekanan lembaga internasional, tidak hanya sebagai prasyarat untuk memasuki pasar global tetapi juga untuk membuat demokrasi sebagai satu-satunya jalan bagi negara yang asalnya berada di bawah kekuasaan otoriter (Firmansyah Arifin, 2005:67).
Menurut Jimly Asshidiqqie, lembaga negara dapat dibedakan berdasarkan fungsi dan hierarkinya. Menurut fungsinya, lembaga negara dibedakan menjadi lembaga utama atau primer (primary constitutional organ) dan lembaga pendukung atau penunjang (auxiliary state organ). Sedangkan menurut hierarkinya, lembaga negara dapat digolongkan menjadi organ lapis pertama, organ lapis kedua, dan organ lapis ketiga. Melihat pada hal itu juga, maka Sekretariat Kabinet termasuk kategori organ lapis kedua yang berfungsi sebagai lembaga negara pendukung atau penunjang (state auxiliary organ) di lingkungan eksekutif. Pembentukan, pengubahan, ataupun pembubaran Sekretariat Kabinet itu sepenuhnya merupakan kewenangan Presiden selaku kepala eksekutif (chief of executive).
Pembentukan lembaga negara Sekretariat Kabinet tidak hanya diartikan sebagai lembaga negara penunjang saja yang sifat dan tugasnya membantu Presiden dalam pengelolaaan kabinet. Lebih jauh
dari itu tujuan besar dari adanya Sekretariat Kabinet adalah sebagai alat untuk menunjukan adanya pembatasan kekuasaan dalam batas-batas tertentu terhadap penyelenggara negara dalam hal ini yang dilakukan oleh Presiden. Salah satu ciri negara demokrasi yang benar adalah adanya demokrasi dari, oleh, dan untuk rakyat. Oleh karena itulah dalam membentuk suatu negara yang demokratis konstitusional diperlukan karakteristik penting yaitu adanya pembatasan kekuasaan dalam artian kekuasaan penyelenggara negara harus dibatasi dengan berbagai cara dan mekanisme pembatasan, check and balances, dan sarana kontrol.
Berdasarkan Pasal 1 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet, Sekretariat Kabinet dipimpin oleh Sekretaris Kabinet dan Pasal 4 mengenai susunan organisasi Sekretariat Kabinet yang terdiri atas:
1) Wakil Sekretaris Kabinet;
2) Deputi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan; 3) Deputi Bidang Perekonomian;
4) Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan; 5) Deputi Bidang Kemaritiman;
6) Deputi Bidang Dukungan Kerja Kabinet; 7) Deputi Bidang Administrasi;
8) Staf Ahli; 9) Inspektorat; dan
10) Pusat Data dan Teknologi Informasi.
Sekretariat Kabinet merupakan bagian dari lembaga kepresidenan. Konsekuensi Sekretariat Kabinet berada di lembaga kepresidenan adalah bahwa Sekretariat Kabinet hanya bisa di bentuk, dirubah, atau dibubarkan oleh Presiden melaluhi sebuah keputusan presiden atau peraturan presiden. Selain itu jabatan sekretaris kabinet hanya diangkat dan diberhentikan oleh presiden saja melaluhi sebuah keputusan presiden.
Apabila dilihat dari sumber legitimasinya, seperti penjelasan di atas lembaga Sekretariat Kabinet merupakan lembaga negara tingkat ketiga karena sumber kewenangannya murni ditentukan oleh Presiden sebagai kepala pemerintahan. Sehingga pembentukannya sepenuhnya bersumber dari beleid Presiden (presidential policy). Artinya pembentukan, perubahan, ataupun pembubarannya tergantung pada kebijakan Presiden, bahkan pengangkatan anggotanya pun (Sekretaris Kabinet) dilakukan dengan keputusan presiden yang bersifat beschikking. Seperti halnya dalam ketentuan Pasal 56 ayat (1) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet, “Sekretaris Kabinet diangkat dan diberhentikan oleh Presiden” dan ayat (2) yang berbunyi “Wakil Sekretaris Kabinet, Deputi, dan Staf Ahli diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Sekretaris Kabinet”.
Selain itu berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet yang mengatur mengenai ekselonisasi, pengangkatan, dan pemberhentian pegawai pada lingkup Sekretariat Kabinet diatur dalam Pasal:
Pasal 54
1) Wakil Sekretariat Kabinet dan Deputi adalah jabatan struktural eselon I.a atau jabatan Pimpinan Tinggi Madya. 2) Staf Ahli adalah jabatan struktural eselon I.b atau Jabatan
Tinggi Madya.
3) Asisten Deputi, Kepala Biro, Kepala Pusat, dan Inspektur adalah jabatan struktural eselon II.a atau Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama.
4) Kepala Bagian dan Kepala Bidang adalah jabatan struktural eselon III.a atau jabatan administrator.
5) Kepala subbagian dan Kepala subbidang adalah jabatan struktural eselon IV.a atau jabatan pengawas.
Deputi dapat dibantu oleh 1 (satu) Sekretaris Deputi yang merupakan jabatan structural eselon II.a atau jabatan Pimpinan Tinggi Pratama
Pasal 56
1) Sekretaris Kabinet diangkat dan diberhentikan oleh Presiden.
2) Wakil Sekretaris Kabinet, Deputi, dan Staf Ahli diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Sekretaris Kabinet.
3) Asisten Deputi, Kepala Biro, Inspektur, Kepala Pusat, Kepala Bidang, Kepala Bagian, Kepala Subbidang, dan Kepala Subbagian diangkat dan diberhentikan oleh Sekretaris Kabinet.
Pasal 57
Sekretaris Kabinet diberikan hak keuangan, administrasi, dan fasilitas lainnya setingkat Menteri.
Berdasarkan penjelasan mengenai ekselonisasi, pengangkatan, dan pemberhentian pegawai pada lingkup Sekretariat Kabinet di atas, sebelumnya telah mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang sudah ada yakni Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Dalam ketentuan Pasal 57 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet, Sekretaris Kabinet mendapat hak keuangan, administrasi, dan fasilitas lainnya setingkat menteri.
Sesuai dengan Ketentuan Umum Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara, yang dimaksud dengan Menteri adalah pembantu Presiden yang memimpin Kementerian. Sedangkan pengertian Kementerian adalah perangkat pemerintah yang membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan. Urusan pemerintahan adalah setiap urusan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Urusan pemerintahan dalam Pasal 5 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara di golongkan sebagai berikut:
1) Urusan pemerintahan yang nomenklatur kementerian secara tegas disebutkan dalam UUD Tahun 1945, seperti urusan luar negeri, dalam negeri, dan pertahanan;
2) Urusan pemerintahan yang ruang lingkupnya disebutkan dalam UUD Tahun 1945, meliputi urusan agama, hukum, keuangan, keamanan, kesehatan, sosial, ketenagakerjaan, industri, perdagangan, pertambangan, energi, pekerjaan umum, transmigrasi, transportasi, informasi komunikasi, pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, kelautan, dan perikanan;
3) Urusan pemerintahan dalam rangka penajaman, koordinasi, dan sinkronisasi program pemerintah, meliputi urusan perencanaan pembangunan nasional, aparatur negara, kesekretariatan negara, badan usaha milik negara, pertanahan, kependudukan, lingkungan hidup, ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, koperasi, usaha kecil dan menengah, pariwisata, pemberdayaan perempuan, pemuda, olahraga, perumahan, dan pembangunan kawasan atau daerah tinggal.
Oleh karena Sekretariat Kabinet dalam menjalankan tugasnya bukan merupakan salah satu dari yang disebutkan diatas mengenai urusan pemerintahan, maka Sekretariat Kabinet bukan merupakan Kementerian melainkan Sekretariat Kabinet merupakan lembaga pemerintah setingkat menteri. Sesuai dengan ketentuan Pasal 121 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara, yang termasuk dalam Aparatur Sipil Negara (ASN) salah satunya adalah pejabat setingkat menteri. Karena Sekretariat Kabinet dipimpin oleh Sekretaris Kabinet yang merupakan pejabat negara yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden, maka Sekretaris Kabinet mendapat hak keuangan, administrasi, dan fasilitas lainnya setingkat menteri. Selain itu dalam menunjang pekerjaannya, Sekretariat Kabinet mendapatan anggaran biaya dari Anggaran Pendapatan dan belanja Negara (APBN).
Sekretariat Kabinet dalam menjalankan tugasnya dapat membuat Satuan Tugas, sesuai dengan ketentuan Pasal 38 ayat (2) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet yang berbunyi “Untuk kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsinya, pada Sekretariat Kabinet dapat dibentuk Satuan Tugas, Gugus Tugas, Kelompok Kerja, dan/atau tim sejenis lainnya”. Dilanjutnya dengan ketentuan ayat (3) “Dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya, Satuan Tugas, Gugus Tugas, Kelompok Kerja, dan/atau tim sejenis lainnya dapat melibatkan tenaga ahli/tenaga professional”. Kemudian ayat (4) “Tenaga ahli/tenaga professional sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diangkat berdasarkan Keputusan Sekretaris Kabinet”.
Pembahasan yang berkaitan dengan eksistensi Sekretariat Kabinet dalam sistem ketatanegaraan Indonesia menjadi sangat penting ketika terjadinya pemisahan antara Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet. Sepanjang sejarah perkembangan Sekretariat Kabinet yang telah diuraikan, pemisahan antara Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet pernah terjadi di tiga periode pemerintahan, yaitu pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, dan masa pemerintahan Joko Widodo. Ketika pemerintahan Presiden Soekarno pernah terjadi pemisahan penyelenggaraan administrasi negara antara Kantor Kabinet Presiden dan Kantor Kabinet Perdana Menteri, namun sebenarnya hal itu tidak mempresentasikan pemisahan Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet kerena kedua kantor tersebut memang dibentuk sebagai akibat dari kebutuhan untuk menunjang tugas Presiden dan Perdana Menteri dalam sistem pemerintahan parlementer.
Untuk pertama kali di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid Sekretariat Negara dipecah menjadi lima sekretariat mandiri yang terdiri dari Sekretariat Presiden, Sekretariat Militer Presiden, Sekretariat Wakil Presiden, Sekretariat Kabinet, dan
Sekretariat Pengendalian Pemerintahan (Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2009:256). Sekretariat Negara dipecah karena sangat powerful sehingga menyebabkan birokrasi pemerintahan tidak efisien dan tidak efektif.
Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet dipecah atas dasar konsep pertimbangan pemisahan fungsi jabatan Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Berdasarkan konsep pertimbangan itulah maka dalam melaksanakan tugas dan kapasitasnya sebagai kepala negara, Presiden dibantu oleh Sekretariat Negara sedangkan dalam melaksanakan tugas dan kapasitasnya sebagai kepala pemerintahan Presiden dibantu oleh Sekretariat Kabinet. Dasar pemecahan Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet terlihat pada bagian Menimbang Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2000 tentang Sekretariat Negara sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 117 Tahun 2000 tentang Sekretariat Negara dan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2000 tentang Sekretariat Kabinet sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 111 Tahun 2000 tentang Sekretariat Kabinet.
Pada ketentuan Menimbang Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2000 tentang Sekretariat Negara disebutkan:
“Menimbang: Bahwa dalam rangka memberikan dukungan staf dan pelayanan administrasi kepada Presiden
selaku Kepala Negara dalam
menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara secara terpadu sehingga dalam pelaksanaan tugasnya dapat berjalan lancar, berdaya guna, dan berhasil guna, dipandang perlu menetapkan Keputusan Presiden tentang Sekretariat Negara”
Kemudian, di dalam ketentuan Menimbang Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2000 tentang Sekretariat Kabinet disebutkan:
“Menimbang: Bahwa dalam rangka memberikan dukungan staf dan pelayanan administrasi kepada Presiden selaku Kepala Pemerintahan dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara secara terpadu sehingga dalam pelaksanaan tugasnya dapat berjalan lancar, berdaya guna, dan berhasil guna, dipandang perlu menetapkan Keputusan Presiden tentang Sekretariat Negara”.
Lalu, di dalam ketentuan Menimbang Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 111 Tahun 2000 tentang Sekretariat Kabinet disebutkan:
“Menimbang: Bahwa dalam rangka memberikan dukungan staf dan pelayanan administrasi secara lebih efisien dan efektif kepada Presiden selaku
Kepala Pemerintahan dalam
menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara sehingga dalam pelaksanaan tugasnya dapat berjalan lancar, berdaya guna, dan berhasil guna, dipandang perlu menyempurnakan organisasi Sekretariat Kabinet dengan menetapkannya dalam Keputusan Presiden”.
Selanjutnya, di dalam Menimbang Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 117 Tahun 2000 tentang Sekretariat Negara disebutkan:
“Menimbang: Bahwa dalam rangka memberikan dukungan staf dan pelayanan administrasi secara lebih efisien dan efektif kepada Presiden selaku Kepala Negara dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara sehingga dalam pelaksanaan tugasnya dapat berjalan lancar, berdaya guna, dan berhasil guna, dipandang perlu menyempurnakan organisasi Sekretariat
Negara dengan menetapkannya dalam Keputusan Presiden”.
Sementara, di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pemisahan Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet dilakukan untuk mengakomodasi kepentingan politik Presiden yang menginginkan agar jabatan Sekretariat Kabinet diisi oleh kolega terdekatnya. Kepentingan politik itu kemudian diakomodasi melaluhi pemisahan konsep penyelenggaraan kekuasaan negara dan kekuasaan pemerintahan yang pada hakikatnya sama dengan konsep kepala negara dan kepala pemerintahan. Konsep tersebut terlihat jelas bila memperhatikan ketentuan Menimbang Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2005 tentang Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2010 tentang Kementerian Sekretariat Negara, dan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2010 tentang Sekretariat Kabinet.
Ketentuan Menimbang Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2005 tentang Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet disebutkan:
“Menimbang: a. Bahwa dalam rangka membantu Presiden
dan Wakil Presiden dalam
menyelenggarakan kekuasaan negara dan pemerintahan, diperlukan peningkatan pemberian dukungan teknis dan administrasi secara terpadu, efisien, dan efektif”.
Kemudian, Ketentuan Menimbang Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2010 tentang Kementerian Sekretariat Negara disebutkan:
“Menimbang: Bahwa sebagai tindak lanjut dari ketentuan Pasal 47 Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi
Kementerian Negara dan dalam rangka meningkatkan kualitas pemberian dukungan teknis dan administrasi, serta analisis kepada Presiden dan Wakil Presiden dalam menyelenggarakan kekuasaan Negara, dipandang perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang Kementerian Sekretariat Negara”.
Lalu, di dalam ketentuan Menimbang Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2010 tentang Sekretariat Kabinet disebutkan:
“Menimbang: Bahwa dalam rangka meningkatkan dukungan staf, pelayanan administrasi, dan dukungan pemikiran kepada Presiden dan Wakil Presiden dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan pengelolaan serta pengendalian cabinet dapat berjalan lancer, efisien, dan efektif, dipandang perlu menyempurnakan organisasi Sekretariat Kabinet dengan Peraturan Presiden”.
Selanjutnya, di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, pemisahan Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet dilakukan untuk membantu tugas Presiden dan Wakil Presiden dalam bidang Pemerintahan Negara dan Pemerintahan. Menurut Roby Arya Brata pemisahan konsep pemerintahan negara dan pemerintahan, pada hakikatnya sama dengan konsep kepala negara dan kepala pemerintahan. Konsep tersebut dapat dilihat pada Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2015 tentang Kementerian Sekretariat Negara Pasal 2 dan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet Pasal 2.
Ketentuan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2015 tentang Kementerian Sekretariat Negara Pasal 2 disebutkan:
Pasal 2
Kementerian Sekretariat Negara mempunyai tugas menyelenggarakan dukungan teknis dan administrasi serta analisis urusan pemerintahan di bidang kesekretariatan Negara untuk membantu Presiden dan Wakil Presiden dalam menyelenggarakan Pemerintahan Negara.
Selanjutnya pada ketentuan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet disebutkan:
Pasal 2
Sekretariat Kabinet mempunyai tugas memberikan dukungan pengelolaan manajemen cabinet kepada Presiden dan Wakil Presiden dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Istilah yang digunakan pada bagian konsiderans maupun bunyi pasal peraturan tersebut, baik di masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Joko Widodo, untuk menyebut entitas jabatan Presiden tersebut bervariasi. Ada yang digabung dalam satu rangkaian kata tanpa kata penghubung, contohnya “kekuasaan pemerintahan negara”; ada yang digabung dalam satu rangkaian kata dengan kata penghubung, contohnya “kekuasaan negara dan pemerintahan” atau “kekuasaan pemerintahan dan negara” dan “penyelenggaraan pemerintahan negara” atau “penyelenggaraan pemerintahan”; ada yang dipisah menjadi rangkaian kata yang berdiri sendiri, contohnya “kekuasaan pemerintahan” dan “kekuasaan negara”; dan ada yang disebut berdasarkan kapasitas jabatan, contohnya “kepala negara” dan “kepala pemerintahan”.
Setelah UUD Tahun 1945 diubah tidak ada satu pasal pun yang menyatakan secara tegas mengenai kepemilikan jabatan Presiden sebagai kepala negara (Dhian Deliani, 2011:105). UUD Tahun 1945 juga ternyata tidak menegaskan apakah kekuasaan Presiden itu merupakan satu-kesatuan yang tidak terpisah-pisah atau kekuasaan
Presiden itu merupakan jabatan yang terpisah secara tegas satu dengan yang lainnya (Moh. Kusnardi dan Bintan R. Saragih, 1983:63). Setelah UUD Tahun 1945 diubah sebanyak empat kali, istilah yang dinyatakan secara tegas dalam UUD Tahun 1945 adalah istilah “kekuasaan pemerintahan”, sebagaimana disebutkan dalam ketentuan Pasal 4 ayat (1) UUD Tahun 1945 sebagai berikut:
“Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar”.
Sesungguhnya dalam UUD Tahun 1945 (Batang Tubuh), sebagaimana dalam konstitusi negara dengan sistem pemerintahan presidensiil seperti Amerika Serikat, pemisahan kekuasaan atau penyebutan Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan tidak dinyatakan secara tegas atau implisit. Tidak seperti sistem pemerintahan parlementer, di dalam sistem pemerintahan presidensiil sebenarnya tidak dikenal pemisahan kekuasaan antara kepala negara dan kepala pemerintahan.
Selain itu menurut Jimly Asshidiqqie, salah satu karakteristik sistem pemerintahan Presidensial adalah “Kepala pemerintahan adalah sekaligus kepala negara atau sebaliknya kepala negara adalah kepala pemerintahan”. Sebagai pemegang fungsi ganda, yakni sebagai kepala pemerintahan sekaligus kepala negara. Peran Presiden sebagai kepala negara dapat dikatakan sebagai simbol atas suatu negara dan sebagai kepala pemerintahan, Presiden merupakan pemegang kekuasaan tunggal dan tertinggi.
Pada sistem pemerintahan presidensial yang dibangun dan diperkuat sejak reformasi, (seharusnya) tidak dikenal lagi adanya pembedaan dan apalagi pemisahan antara kualitas Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Sebagaimana diterapkan dalam sistem monarki-parlementer di Eropa Barat, perlakuan terhadap kepala negara dalam sejarah masa lalu yang memberikan kedudukan
khusus kepada kepala negara sebagai simbol persatuan dan pusat seremoni kenegaraan juga sudah tidak relevan lagi untuk dikembangkan dewasa ini. Pemisahan tersebut juga tidak tepat jika dikembangkan di Indonesia mengingat sistem pemerintahan presidensial Indonesia diperkuat dalam kerangka sistem negara hukum (rechtsstaat atau the rule of law) dan negara demokrasi modern. Bahkan dalam konteks pengertian negara hukum (rechstaat), prinsip the rule of law dapat dikatakan bahwa secara simbolik yang dinamakan kepala negara dalam sistem pemerintahan presidensial itu adalah konstitusi (Jimly Asshiddiqie, 2006:7).
Dengan kata lain, kepala negara dari negara konstitusional Indonesia adalah UUD Tahun 1945, sedangkan Presiden dan Wakil Presiden beserta semua lembaga negara atau subjek hukum tata negara lainnya harusnya tunduk kepada konstitusi sebagai the symbolic head of state. Tidak ada keperluan untuk membedakan kapan Presiden bertindak sebagai kepala negara dan kapan Presiden bertindak sebagai kepala pemerintahan, seperti kebiasaan yang berlaku dalam sistem pemerintahan parlementer.
Menurut Roby Arya Brata (Kepala Asisten Deputi Bidang Politik dan Hubungan Internasional Kedeputian Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Sekretariat Kabinet Republik Indonesia), sesungguhnya di dalam konstitusi tidak detemukan pembedaan istilah atau jabatan antara kepala negara dan kepala pemerintahan sehingga pembedaan kekuasaan Presiden dalam struktur kelembagaan yang berbeda, seperti contoh pemisahan Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet tidaklah sesuai dengan hakikat dan struktur kekuasaan Presiden dalam UUD Tahun 1945.
c) Wewenang Sekretariat Kabinet
Seperti pada lembaga negara pendukung atau penunjang (state auxiliary organ) lainnya di lingkungan eksekutif, maka tugas
Sekretariat Kabinet hanyalah untuk membantu Presiden dan Wakil Presiden. Namun, keberadaan lembaga Sekretariat Kabinet dimaksudkan untuk memberikan dukungan pengelolaan manajemen kabinet kepada Presiden dan Wakil Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan, sesuai dengan ketentuan Pasal 2 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet yang berbunyi “Sekretariat Kabinet mempunyai tugas memberikan dukungan pengelolaan manajemen kabinet kepada Presiden dan Wakil Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan”.
Sekretariat Kabinet tidak hanya sebagai kesekretariatan yang bertugas memberikan dukungan administrasi kepada Presiden, tetapi juga mempunyai tugas memberi dukungan teknis dan pemikiran kepada Presiden selaku Kepala Pemerintahan. Selain itu, Sekretariat Kabinet juga melaksanakan fungsi manajemen kabinet untuk memastikan kebijakan, arahan, keputusan, dan instruksi Presiden dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh para anggota kabinetnya.
Dalam rangka melaksanakan manajemen kabinet, Sekretariat Kabinet memiliki peran strategis dalam memberikan dukungan kepada Presiden sebagai kepala pemerintahan (Chief Executive Officer of the Government). Penyelenggaraan pengelolaan dan pengendalian manajemen kabinet merupakan fungsi integral Sekretariat Kabinet dalam membantu Presiden menjalankan kekuasaan pemerintahan berdasarkan Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
Beberapa kewenangan yang dimiliki Sekretariat Kabinet dalam melaksanakan tugasnya tersebut dapat dilihat pada fungsi lembaga tersebut. Pasal 3 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet, menyatakan bahwa Sekretariat Kabinet menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:
1) Perumusan dan analisis atas rencana kebijakan dan program pemerintah di bidang politik, hukum, keamanan, perekonomian, pembangunan manusia, kebudayaan, dan kemaritiman.
2) Penyiapan pendapat atau pandangan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan di bidang politik, hukum, keamanan, perekonomian, pembangunan manusia, kebudayaan, dan kemaritiman;
3) Pengawasan pelaksanaan kebijakan dan program pemerintah di bidang politik, hukum, keamanan, perekonomian, pembangunan manusia, kebudayaan, dan kemaritiman;
4) Pemberian persetujuan kepada Menteri Sekretaris Negara atas permohonan izin prakasa penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan dan atas substansi rancangan peraturan perundang-undangan;
5) Penyiapan, pengadministrasian, penyelenggaraan, dan pengelolaan sidang kabinet, rapat, atau pertemuan yang dipimpin dan/atau dihadiri oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden, penyiapan naskah bagi Presiden dan/atau Wakil Presiden, pelaksanaan penerjemahan dan pembinaan jabatan fungsional penerjemah, serta penyelenggaraan hubungan kemasyarakatan dan keprotokolan; 6) Pemberian dukungan teknis dan administrasi pengangkatan,
pemindahan, dan pemberhentian dalam dan dari jabatan atau pangkat aparatur sipil negara di lingkungan Sekretariat Kabinet; 7) Pemberian dukungan pelayanan dan administrasi perencanaan,
keuangan, dan pengelolaan barang milik negara yang menjadi tanggung jawab Sekretariat Kabinet, fasilitas pendidikan dan pelatihan, penyediaan sarana dan prasarana, serta pelayanan, dan administrasi lainnya di lingkungan Sekretariat Kabinet;
8) Pengumpulan, pengolahan, dan pemberian dukungan data dan informasi dalam rangka pengambilan kebijakan dan pengelolaan operasional kabinet, serta penyediaan sarana dan prasarana pengembangan teknologi informasi di lingkungan Sekretariat Kabinet;
9) Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Sekretariat Kabinet;
10) Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden.
Kegiatan yang dilakukan oleh Sekretariat Kabinet dalam melaksanakan fungsinya dari huruf a sampai huruf j Pasal 3 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet tersebut merupakan tugas yang melekat pada Presiden secara umum yang kemudian tugas tersebut di distribusikan kepada Sekretariat Kabinet untuk membantu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam teknis pelaksanaannya. Tugas yang melekat pada diri Presiden secara umum disini merupakan tugas seorang Presiden sebagai kepala pemerintahan, dimana seorang Presiden harus memastikan berjalannya suatu pemerintahan Negara Republik Indonesia. Tugas tersebut tercantum dalam Pasal 2 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet, yakni untuk memberikan dukungan pengelolaan manajemen kabinet kepada Presiden dan Wakil Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan.
Sekretariat Kabinet melaksanakan manajemen kabinet dalam arti yang luas dan dalam arti sempit. Dalam arti luas, Sekretariat Kabinet melaksanakan fungsi manajemen kabinet dengan melaksanakan fungsi monitoring, evaluasi dan koordinasi kebijakan. Sekretariat Kabinet melakukannya tidak hanya pada tahap implementasi, namun juga pada tahap formulasi kebijakan. Karena itu, fungsi analisis kebijakan yang dilakukan oleh Sekretariat Kabinet bersifat terintegrasi, dari formulasi sampai dengan reformulasi kebijakan (integrated policy analysis). Fungsi monitoring, evaluasi dan koordinasi kebijakan (manajemen kabinet) Sekretariat Kabinet lebih difokuskan pada formulasi/perumusan dan implementasi kebijakan
baik dalam bentuk peraturan perundang-undangan maupun hasil sidang kabinet.
Esensi manajemen kabinet dalam arti luas diwujudkan dalam upaya memberikan saran atau rekomendasi kebijakan kepada anggota kabinet dan pimpinan lembaga pemerintah pusat dan daerah dengan tujuan:
1) Memastikan seluruh arahan, instruksi, keputusan dan kebijakan Presiden dapat dilaksanakan dengan baik oleh anggota kabinet dan pimpinan lembaga pemerintah (fungsi monitoring dan pengendalian kebijakan);
2) Mengkritisi kinerja kementerian/lembaga (fungsi evaluasi kebijakan); dan
3) Meluruskan pemberitaan negatif terhadap pemerintah (fungsi koordinasi).
Sedangkan pelaksanaan manajemen kabinet dalam arti sempit yaitu mengelola persiapan dan tindak lanjut sidang-sidang kabinet, dan pengangkatan dan pemberhentian pejabat eselon II. Dalam menjalankan fungsinya dari huruf a sampai dengan huruf c Pasal 3 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet, mengenai perumusan dan analisis, penyiapan pendapat atau pandangan, serta pengawasan pelaksanaan kebijakan dan program pemerintah di bidang politik, hukum, keamanan, perekonomian, pembangunan manusia, kebudayaan, dan kemaritiman. Sekretariat Kabinet melaksanakan fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), koordinasi (coordinating), dan pengendalian (directing) kebijakan dan program pemerintah.
Dukungan pada fungsi perencanaan (planning) kebijakan dan program dilakukan Sekretariat Kabinet dengan memberikan rumusan dan analisis kebijakan pemerintah, serta mekanisme pembahasan rencana kebijakan dan program dalam sidang kabinet dan pertemuan lainnya yang dipimpin oleh Presiden. Dalam merumuskan dan
menganalisa kebijakan pemerintah di bidang politik, hukum, keamanan, perekonomian, pembangunan manusia, kebudayaan, dan kemaritiman, Sekretariat Kabinet yang dipimpin oleh Sekretaris Negara dibantu oleh deputi dari masing-masing bidang tersebut (deputi bidang politik, hukum, dan keamanan, deputi bidang perekonomian, deputi bidang pembangunan manusia dan kebudayaan, deputi bidang kemaritiman, deputi bidang dukungan kerja kabinet, dan deputi bidang administrasi).
Masing-masing deputi tersebut merumuskan dan menganalisis sesuai dengan bidangnya, seperti halnya pada deputi bidang politik, hukum, dan keamanan. Pada deputi ini sesuai dengan Pasal 7 huruf a Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet, yang menyatakan perumusan dan analisis atas rencana kebijakan dan program pemerintah di bidang politik, hukum, dan keamanan. Dimana deputi ini salah satu kegiatannya adalah melakukan perumusan dan analisis atas rencana kebijakan dan program pemerintah di bidang politik, hukum, dan keamanan. Dalam menjalankan kegiatan tersebut, pada deputi bidang politik, hukum, dan keamanan dibantu oleh asisten deputi yang terdiri dari pertama asisten deputi bidang politik dalam negeri, kedua asisten deputi bidang hukum, hak asasi manusia, dan aparatur negara, ketiga asisten deputi bidang hubungan internasional, dan keempat asisten deputi bidang pertahanan, keamanan, komunikasi, dan informatika.
Selain itu Sekretariat Kabinet juga melaksanakan kegiatan terkait fungsi memberikan persetujuan kepada Menteri Sekretaris Negara atas permohonan izin prakasa penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan dan atas substansi rancangan peraturan perundang-undangan. Dilakukan dengan memberikan penyiapan persetujuan prakasa, penyusunan, dan penyampaian Peraturan Presiden. Sebagaimana diketahui, pelaksanaan penyelesaian Peraturan Presiden merupakan salah satu bentuk dukungan administrasi, teknis,
dan pemikiran kepada Presiden selaku kepala pemerintahan sehingga harus dilakukan secara tepat dan cepat.
Mekanisme pelaksanaanya sama dengan sebelumnya, dimana dibantu oleh deputi masing-masing bidang. Pada Sekretariat Kabinet pembagian kegiatan dilakukan berdasarkan bidang yang sudah ditetapkan, sehinga pelaksanaannya juga mengikuti alur yang sudah ada. Seperti halnya pada deputi bidang perekonomian, melakukan pemberian persetujuan atas permohonan izin prakasa penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan dan atas substansi rancangan peraturan perundang-undangan di bidang perekonomian (Pasal 12 huruf d Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet).
Sekretariat Kabinet juga melaksanakan kegiatan terkait administrasi, yaitu penyiapan, pengadministrasian, penyelenggaraan, dan pengelolaan sidang kabinet, rapat, atau pertemuan yang dipimpin dan/atau dihadiri oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden, penyiapan naskah bagi Presiden dan/atau Wakil Presiden, pelaksanaan penerjemahan dan pembinaan jabatan fungsional penerjemah, serta penyelenggaraan hubungan kemasyarakatan dan keprotokolan. Dalam hal ini deputi bidang dukungan kerja kabinet mempunyai tugas membantu Sekretaris Kabinet dalam menyelenggarakan pemberian dukungan pengelolaan manajemen kabinet dalam hal penyiapan, pengadministrasian, penyelenggaraan, dan pengelolaan sidang kabinet, rapat atau pertemuan yang dipimpin dan/atau dihadiri oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden, penyiapan naskah dan penerjemahan bagi Presiden dan/atau Wakil Presiden, serta pelaksanaan hubungan kemasyarakatan dan penyelenggaraan acara dan keprotokolan Sekretariat Kabinet (Pasal 23 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet).
Sebagai salah satu contoh pada deputi bidang dukungan kerja kabinet dimana terdapat asisten deputi bidang penyelenggaraan
persidangan yang memiliki tugas melaksanakan penyelenggaraan dukungan teknis dan administrasi penyiapan bahan-bahan sidang kabinet maupun rapat atau pertemuan yang dipimpin dan/atau dihadiri Presiden dan/atau Wakil Presiden (Pasal 282 Peraturan Sekretaris Kabinet Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Kabinet). Salah satu Kegiatan yang dilakukan untuk menunjang fungsi tersebut yaitu perencanaan jadwal dan agenda sidang kabinet maupun rapat atau pertemuan yang dipimpin dan/atau dihadiri oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden.
Sekretariat Kabinet juga memberikan dukungan pelayanan dan administrasi perencanaan, keuangan, dan pengelolaan barang milik negara yang menjadi tanggung jawab Sekretariat Kabinet, fasilitas pendidikan dan pelatihan, penyediaan sarana dan prasarana, serta pelayanan, dan administrasi lainnya di lingkungan Sekretariat Kabinet. berdasarkan Pasal 27 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet menjelaskan tugas Deputi bidang Administrasi adalah membantu Sekretaris Kabinet dalam pemberian dukungan teknis dan administrasi pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian dalam dan dari jabatan atau pangkat aparatur sipil negara di lingkungan Sekretariat Kabinet, pemberian dukungan pelayanan dan administrasi perencanaan, keuangan, dan pengelolaan barang milik negara yang menjadi tanggung jawab Sekretariat Kabinet, fasilitasi pendidikan dan pelatihan, penyediaan sarana dan prasarana, serta pelayanan dan administrasi lainnya di lingkungan Sekretariat Kabinet.
Terkait pemberian dukungan teknis dan administrasi pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian dalam dan dari jabatan atau pangkat aparatur sipil negara di lingkungan Sekretariat Kabinet, Sekretariat Kabinet melaksanakan perencanaan, pengadaan aparatur sipil negara dan pegawai lainnya, pengolahan data dan informasi kepegawaian, penyelenggaraan dan pengadministrasian pengangkatan,
pemindahan dan pemberhentian aparatur sipil negara dan pegawai lainnya di lingkungan Sekretariat Kabinet, pemberian dukungan teknis dan administrasi kepada Sekretaris Kabinet dalam melaksanakan tugas untuk penyiapan pengangkatan dan pemberhentian jabatan pimpinan tinggi madya dan/atau jabatan pimpinan tinggi utama, perencanaan, pelaksanaan, dan kerja sama dalam pengembangan kapasitas aparatur sipil negara, pembinaan aparatur sipil negara dan pegawai lainnya, serta pengkajian dan penyusunan organisasi dan ketatalaksanaan di lingkungan Sekretariat Kabinet.
Sedangkan Perencanaan keuangan disini salah satunya adalah pengoordinasian penyusunan, penelaahan, dan pembahasan rencana strategis, program kerja, kerangka acuan kerja dan rincian anggaran biaya, rencana kerja, rencana kerja dan anggaran, daftar isian pelaksanaan anggaran, petunjuk operasional kegiatan daftar isian pelaksanaan anggaran, serta dukungan teknis dan administrasi keuangan lainnya.
Sekretariat Kabinet dalam melaksanakan fungsinya dari huruf a sampai huruf j Pasal 3 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet, yang dipimpin oleh Sekretaris Kabinet yaitu Dr. Ir. Pramono Anung Wibowo, M.M dibantu oleh Wakil Sekretaris Kabinet dan beberapa struktur organisasi lainnya dalam struktur organisasi Sekretariat Kabinet. Pasal 4 Peraturan Sekretaris Kabinet Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Kabinet menjelaskan bahwa susunan organisasi Sekretariat Kabinet terdiri dari:
1) Wakil Sekretaris Kabinet;
2) Deputi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan; 3) Deputi Bidang Perekonomian;
4) Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan 5) Deputi Bidang Kemaritiman;
7) Deputi Bidang Administrasi;
8) Staf Ahli Bidang Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat; 9) Staf Ahli Bidang Politik dan Maritim;
10) Staf Ahli Bidang Komunikasi;
11) Staf Ahli Bidang Reformasi Birokrasi;
12) Staf Ahli Bidang Hukum dan Hubungan Internasional; 13) Inspektorat;
14) Pusat Data dan Teknonolgi Informasi.
Masing-masing susunan organisasi tersebut mempunyai tugas dan fungsi untuk membantu menyelenggarakan tugas Sekretariat Kabinet. Bukan hanya mengenai urusan diluar Sekretariat Kabinet saja, melainkan juga urusan rumah tangga dari Sekretariat Kabinet itu sendiri. Berikut ini merupakan tugas dan fungsi dari masing-masing struktur organisasi Sekretariat Kabinet yang diatur dalam Peraturan Sekretaris Kabinet Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Kabinet:
1) Wakil Sekretaris Kabinet
Wakil Sekretaris Kabinet merupakan jabatan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris Kabinet. Sehingga Wakil Sekretaris Kabinet mempunyai tugas untuk membantu Sekretaris Kabinet dalam memimpin pelaksanaan tugas dan fungsi Sekretaris Kabinet. Dalam keadaan yang ditentukan oleh Sekretaris Kabinet, Wakil Sekretaris Kabinet mengoordinasikan pelaksanaan tugas deputi, staf ahli, dan staf khusus di lingkungan Sekretariat Kabinet. Keadaan yang ditentukan oleh Sekretaris Kabinet disini seperti apabila Sekretaris Kabinet berhalangan hadir dalam suatu rapat dikarenakan adanya urusan yang lebih penting terkait tugasnya.
2) Deputi bidang Politik, Hukum, dan Keamanan
Deputi bidang politik, hukum, dan keamanan berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris Kabinet. Deputi