• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

67 4.1 Gambaran Umum

4.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan

Setelah mati selama hampir satu dekade, industri film Indonesia mulai bangkit lagi. Setiap tahun, jumlah produksi film Indonesia bertambah. Hal ini kemudian memicu PT Kharisma Starvision Plus, sebuah rumah produksi yang berlokasi di Jl. Cempaka Putih Timur XVI 11, Jakarta Pusat 10510 DKI Jakarta untuk terus memproduksi film-film terbaiknya.

4.1.2 Profil Lengkap Perusahaan

Kharisma Starvision Plus adalah salah satu rumah produksi di Indonesia. Didirikan pada tahun 1990 oleh Chand Parwez Servia. Starvision Plus mulai dikenal masyarakat sejak adanya sitkom "Spontan" yang ditayangkan di SCTV pada tahun 1994 hingga 2002. Saat ini Starvision telah memproduksi lebih dari 50 sinetron dan 20 film layar lebar.57

57

(2)

4.2 Profil Film Test Pack

Test Pack (You're My Baby) merupakan film yang diadaptasi dari novel laris karya Ninit Yunita berjudul serupa yang diterbitkan pada tahun 2005. Film Test Pack bergenre drama Indonesia ini memiliki durasi 105 menit yang disutradarai oleh Monty Tiwa. Sebuah film yang diperankan oleh Reza Rahadian sebagai Rahmat, Acha Septriasa sebagai Tata, dan Renata Kusmanto sebagai Shinta mengangkat kisah yang realistis atau sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Sikap saling mencintai yang meningkat ke jenjang pernikahan, biasanya berujung dengan pertanyaan kehamilan dari orang tua hingga para tetangga. Di awal pernikahan, biasanya pertanyaan itu cukup dijawab dengan senyuman, namun lambat laun hal itu bisa memicu kekhawatiran bahkan perselisihan.

4.2.1 Sinopsis

Rahmat (Reza Rahadian) dan Tata (Acha Septriasa) pasangan suami istri kelas menengah. Rahmat seorang psikolog dan Tata bekerja di perusahaan periklanan. Mereka sudah tujuh tahun menikah namun belum dikaruniai anak. Keinginan Tata untuk memiliki anak, lebih besar dari Rahmat karena Rahmat beranggapan bahwa mereka berdua cukup baginya. Tata merasa kehadiran seorang anak adalah wajib.

Shinta (Renata Kusmanto) seorang super model Indonesia yang mendunia. Reputasi, citra dan profesionalismenya sangat baik dan tinggi. Tidak banyak yang tahu bahwa Shinta baru bercerai dari suaminya, Heru (Dwi Sasono) karena Shinta

(3)

didiagnosa tidak dapat memberikan anak. Patah hati dan kesepian, Shinta berusaha memendamnya dengan kesibukan modeling dan rumah baru. Di saat yang sama dia teringat akan mantan pacar terdahulu yang ditinggalkan, Rahmat.

Rahmat dan Tata berobat ke Dr. Peni (Oon Project Pop). Tata mulai tidak stabil akibat hormon yang disuntik untuk kesuburan. Dr Peni baru menyadari bahwa ada satu step prosedur invitro yang tidak sengaja terlewatkan, yaitu tes kesuburan sperma Rahmat, dan mendapati hasilnya bahwa Rahmat mandul.

Rahmat menyembunyikan hasil tes ini dari Tata. Rahmat, yang hatinya hancur tidak dapat membahagiakan istri, bingung mencari teman yang dapat berbagi rahasia ini. Shinta senasib dengan Rahmat. Rahmat curhat pada Shinta. Tata menemukan rahasia kemandulan Rahmat.

Meski marah, Tata masih bingung bagaimana dia harus bersikap. Tata mulai tidak terkendali ketika mengetahui bahwa Rahmat menghabiskan waktunya bersama Shinta. Rahmat menyatakan bahwa kekurangan dirinya tidak mungkin dapat Tata rasakan.

Tata memutuskan ingin bercerai dan menerima tawaran kerja di luar negeri. Shinta melihat Rahmat yang hancur, berusaha masuk ke dalam kehidupan Rahmat. Shinta berusaha meyakinkan Rahmat bahwa mereka pasangan yang cocok karena memiliki nasib yang sama. Rahmat yang pelan-pelan mulai masuk ke dalam hidup Shinta, sebenarnya masih bimbang antara menerima takdirnya sebagai pria mandul dengan pasrah atau mengejar Tata.

(4)

Rahmat akhirnya memutuskan untuk mengejar Tata. Dari kawan Tata, Rahmat tahu bahwa Tata sedang dalam perjalanan ke airport. Rahmat mengejar sampai airport dan menemukan bahwa pesawat Tata telah pergi. Hati Rahmat remuk.

4.2.2 Cast and Crew

4.2.2.1 Cast

1. Acha Septriasa sebagai Tata 2. Reza Rahadian sebagai Rahmat 3. Agung Hercules sebagai Ahmad 4. Dwi Sasono sebagai Heru 5. Fitria Sechan sebagai Yani 6. Gading Marten sebagai Zuki 7. Jaja Mihardja sebagai Pak Sutoyo 8. Karissa Habibie sebagai Dian 9. Meriam Bellina sebagai Ibu Sutoyo 10. Oon Project Pop sebagai dr. Peni S. 11. Ratna Riantiarno sebagai Ibu Rahmat 12. Renata Kusmanto sebagai Shinta 13. Tora Sudiro sebagai Boss Tata 14. Uli Herdinansyah sebagai Markus 15. Ade Habibie sebagai Fotografer 16. Endhita sebagai Ibu Hamil

(5)

17. Poppy Sovia sebagai Pengunjung Klinik

4.2.2.2 Crew

Produser Eksekutif : Mithu Nisar, Reza Servia, Riza

Produser : D. D. Putranto, Dimas Projosujadi, Ika Muliana

Sutradara : Monty Tiwa

Penulis : Ninit Yunita (Novel) Adhitya Mulya (Skenario)

Pemilih Peran : Moviesta Management

Penata Kamera : Rollie Markiano

Perekam Suara : Adi Molana Machmud

Penata Artistik : Ananta Harhawardana

Penata Kostum : Jacqueline T. Slamet

Sumaryanto

Penata Rias : Rini May Fitri

(6)

Penata Musik : Bongky BIP

Ganden Bramanto

Penata Suara : Khikmawan Santosa

Fotografer : Andre Setiawan

Luqman Saputra

Production Companies : PT Kharisma Starvision Plus

4.3 Kecenderungan Isi Novel dan Film Test Pack 4.3.1 Tema

Tema adalah dasar dari sebuah cerita, tema adalah pandangan hidup atau perasaan tertentu mengenai rangkaian nilai-nilai tertentu yang membentuk atau membangun gagasan dari suatu karya sastra. Topik atau tema pokok pembicaraan dan tujuan yang akan dicapai oleh pengarang ialah yang menjadi dasar unsur gagasan sentral.

Tema dalam novel dan film masih mengandung makna yang masih umum yang nantinya akan diperinci lagi dalam bab maupun scene. Pada novel Test Pack, tema dimasukkan ke dalam 28 bab. Sedangkan pada film Test Pack, tema diperinci kembali ke dalam 15 scene. Berikut hasil analisis kecenderungan tema yang terdapat pada novel dan film Test Pack pada setiap bab dan scene.

(7)

Tabel 4.1

Perbandingan Tema Novel dan Film

Tema Novel Bab % Tema Film Scene % Percintaan Perselingkuhan 28 0 100% 0,00% Percintaan Perselingkuhan 0 15 0,00% 100% Jumlah 28 100% Jumlah 15 100%

Dari analisis di atas dapat dilihat bahwa, tema dalam sebuah novel menjadi sebuah identitas bagi novel tersebut. Kecenderungan tema yang terdapat dalam novel Test Pack adalah tema percintaan yang memiliki presentase sebesar 100%. Maka dapat disimpulkan bahwa pada novel ini memiliki kecenderungan pada tema percintaan.

Tema percintaan dalam novel Test Pack yaitu menceritakan rumah tangga yang dibangun oleh Arista Natadiningrat (Tata) dan Rahmat Natadiningrat (Kakang) selama 7 tahun yang belum juga dikarunia anak selalu dibumbui dengan cara-cara bercinta yang belum pernah mereka lakukan. Mereka berdua selalu berusaha untuk tetap saling memahami satu sama lain dan terus berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan seorang anak baik dengan mempelajari buku kamasutera, bercinta berdasarkah shio dan juga konsultasi kepada dokter.

Sedangkan dalam film Test Pack tema perselingkuhan memiliki presentase sebesar 100%. Maka dapat disimpulkan bahwa kecenderungan film Test Pack adalah tema perselingkuhan.

(8)

Tema perselingkuhan yang ada di film Test Pack adalah dimana munculnya kembali mantan pacar dari (Rahmat Natadiningrat) kakang suami Tata yaitu (Renata Kusmanto) Shinta seorang super model Indonesia, dan tidak banyak yang tahu bahwa Shinta baru bercerai dari suaminya, Heru (Dwi Sasono) karena Shinta didiagnosa tidak dapat memberikan anak. Disaat yang sama dia teringat akan mantan pacar terdahulu yang ditinggalkan yaitu Rahmat.

Rahmat dan Tata yang berobat ke Dr. Peni (Oon Project Pop) dan ia mendapati bahwa dirinya mandul. Hatinya hancur karena tidak dapat membahagiakan Tata. Rahmat menyembunyikan hasil tes kesuburannya dari Tata. Bingung mencari teman yang dapat berbagi rahasia, akhirnya Rahmat bercerita kepada Shinta yang memiliki nasib yang sama. Shinta berusaha meyakinkan kalau mereka adalah pasangan yang cocok. Tata benar-benar kecewa bahkan ingin memutuskan untuk bercerai dari Rahmat saat mengetahui bahwa Rahmat menghabiskan waktunya bersama Shinta.

4.3.2 Opening

Opening merupakan elemen awal dalam sebuah cerita novel dan film.

Pada novel opening adalah sebuah tanda adanya bab baru yang memiliki kesinambungan dengan bab selanjutnya, sedangkan pada film elemen ini digunakan untuk menarik perhatian penonton.

(9)

Tabel 4.2

Perbandingan Opening Novel dan Film

Opening Novel Bab % Opening Film Scene % Exposition Inciting Moment Rising Action 3 2 23 10,71% 7,14% 82,14% Exposition Inciting Moment Rising Action 1 4 10 6,66% 26,66% 66,66% Jumlah 28 100% Jumlah 15 100%

Hasil tabel di atas menunjukkan sebagian besar opening pada novel ini cenderung menggunakan Rising Action, yakni sebesar 82,14%. Secara umum

rising action ini yaitu dimana munculnya masalah antara tokoh utama dengan

sesuatu serta digunakan untuk membuat penonton bersimpati kepada tokoh protagonis yakni pada bab 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 14, 15, 16, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25 dan 27 yaitu menceritakan keinginan Tata yang begitu besar dalam mengharapkan kehadiran seorang anak. Bagi Tata kehadiran seorang anak adalah wajib.

Sedangkan kecenderungan opening pada film juga sama seperti novel, yakni dimana presentase untuk rising action sebesar 66,66%. Ini menunjukkan bahwa pencerita dihadapkan oleh sesuatu yaitu kejadian dimana Tata sangat menginginkan seorang anak dalam rumah tangganya.

(10)

4.3.3 Karakter Tokoh Utama

Tokoh utama dalam sebuah film merupakan tokoh tumpuan, dimana tokoh ini yang menjadi sorotan utama. Film dan novel Test Pack memiliki tokoh utama yaitu Tata. Dan tabel di bawah ini adalah hasil analisis penulis mengenai kecenderungan karakter tokoh utama dalam setiap bab dan scene.

Tabel 4.3

Perbandingan Karakter Utama Novel dan Film

Karakter Tokoh Utama Novel Bab % Karakter Tokoh Utama Film Scene % Protagonis Antagonis Sidekick 25 2 1 89,28% 7,14% 3,57% Protagonis Antagonis Sidekick 8 7 0 53,33% 46,66% 0,00% Jumlah 28 100% Jumlah 15 100%

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan karakter tokoh utama dalam novel Test Pack yaitu protagonis. Hal ini tergambar dari sosoknya yang begitu sabar, memiliki keyakinan dan tidak pernah putus asa dalam usahanya untuk mendapatkan seorang anak. Sang penulis yaitu Ninit Yunita membuat sosok Tata dan suaminya yang begitu berkeyakinan kuat kalau dalam rumah tangganya akan hadir buah hati yang mereka inginkan.

(11)

Pada hasil analisis di atas diketahui bahwa karakter tokoh utama Tata dalam film Test Pack adalah protagonis. Hal tersebut dapat terlihat dari data tabel di atas yang menunjukkan angka 100%. Karakter protagonis sering disebut karakter utama. Ia mewakili sisi kebaikan dan mencerminkan sifat-sifat kebenaran yang mewarnai setiap aktivitas dalam cerita. Ini terlihat pada karakter Tata yang sabar, ceria serta sikapnya yang penuh keyakinan dan selalu berusaha untuk mendapatkan anak.

4.3.4 Alur Cerita atau Plot

Alur cerita atau sering disebut juga plot merupakan rangkaian peristiwa yang dijalin berdasarkan hubungan waktu atau hubungan sebab akibat sehingga membentuk keutuhan cerita. Alur dalam sebuah novel menentukan bagaimana sebuah novel dapat menarik bagi pembacanya agar terhanyut ke dalam cerita yang dibawa novel itu. Maka berdasarkan analisa didapatkanlah mengenai kecenderungan film dan novel Test Pack.

Tabel 4.4

Perbandingan Alur Cerita/Plot Novel dan Film Alur Cerita/Plot Novel Bab % Alur Cerita/Plot Film Scene % Maju Mundur 26 0 92,85% 0,00% Maju Mundur 12 0 80% 0,00%

(12)

Campuran 2 7,14% Campuran 3 20%

Jumlah 28 100% Jumlah 15 100%

Dari hasil analisis diketahui, sebagian besar scene yang terdapat pada film Test Pack cenderung menggunakan alur maju atau lurus yang frekuensinya hingga mencapai 80%.

Penggambaran ini terlihat pada usaha Tata dan Kakang untuk mendapatkan seorang anak, yang dimulai dari ia sering membaca buku-buku kamasutera, melalukan hubungan berdasarkan shio, memakan makanan yang bisa meningkatkan hormon kesuburan seperti toge bahkan sampai tes kesuburan. Dan sama dengan film dalam novel pun alur cerita atau plot cenderung menggunakan alur maju.

4.3.5 Konflik

Konflik berarti persepsi mengenai perbedaan kepentingan atau suatu kepercayaan bahwa aspirasi-aspirasi pihak yang berkonflik tidak dapat dicapai secara stimulant. Konflik dapat terjadi pada berbagai macam keadaan dan berbagai tingkat kompleksitas. Tabel berikut ini menganalisa konflik yang terdapat dalam novel dan film Test Pack.

Tabel 4.5

Perbandingan Konflik Novel dan Film

(13)

Novel Bab Film Scene Internal Eksternal Flat 26 1 1 92,85% 3,57% 3,57% Internal Eksternal Flat 8 5 2 53,33% 33,33% 13,33% Jumlah 28 100% Jumlah 15 100%

Dari hasil analisa penulis diketahui bahwa dalam novel Test Pack konflik lebih dominan ke arah konflik internal yang mencapai 92,85%, dan konflik eksternal dan flat mendapatkan presentase yang sama sebesar 3,57%, ini terdapat pada bab 3 dan bab 10, dimana belum terlihat konflik yang signifikan.

Dan dalam film, konflik yang lebih menonjol adalah konflik internal sebesar 53,33% namun tidak sebesar dalam novel. Untuk konflik eksternal sebesar 33,33% dan flat sebesar 13,33% terjadi pada scene 1 dan 2 dimana masih belum diketahui secara signifikan dan penulis masih menjelaskan latar belakang dari keluarga Tata.

4.3.6 Gaya Bahasa

Novel dan film memiliki gaya bahasanya sendiri, meskipun novel dan film memiliki kesamaan yakni mengkomunikasikan pesan yang ingin disampaikan. Berikut adalah hasil analisa penulis mengenai gaya bahasa yang terdapat dalam novel serta film Test Pack.

(14)

Tabel 4.6

Perbandingan Gaya Bahasa Novel dan Film Gaya Bahasa Novel Bab % Gaya Bahasa Film Scene % Sehari-hari Resmi Bertutur 28 0 0 100% 0,00% 0,00% Sehari-hari Resmi Bertutur 15 0 0 100% 0,00% 0,00% Jumlah 28 100% Jumlah 15 100%

Gaya bahasa dalam film diwujudkan dengan audio dan visual. Dan dari analisa gaya bahasa yang digunakan pada film Test Pack cenderung pada gaya bahasa sehari-hari, ini terlihat dari presentasenya sebesar 100%. Gaya bahasa sehari-hari digunakan pada film untuk memudahkan penonton dalam mengartikan makna atau pun pesan yang ingin disampaikan.

Dan pada tabel untuk gaya bahasa pada novel pun tidak jauh berbeda dengan gaya bahasa pada film yaitu sebesar 100%. Hanya yang membedakan adalah pemvisualisasian makna terhadap pembaca dan penonton.

Pada gaya bahasa novel sehari-hari dapat terlihat pada setiap bab nya dalam novel, seperti pada bab 9 dimana pada saat Tata dan Kakang bertemu dengan Dr Peni di rumah sakit, gaya bahasa yang ia gunakan dalam percakapan tersebut santai dan tidak kaku.

(15)

4.3.7 Closing

Closing pada sebuah film digunakan untuk menandai berakhirnya satu

bagian cerita. Sedangkan pada novel, closing menandai berakhirnya satu bagian cerita yang terdapat dalam bab. Tabel di bawah ini adalah analisa penulis mengenai closing yang terdapat dalam film dan novel Test Pack, yang didasarkan pada scene per scene serta bab per bab.

Tabel 4.7

Perbandingan Closing Novel dan Film

Closing Novel Bab % Closing Film Scene % Happy Ending Sad Ending 28 0 100% 0,00% Happy Ending Sad Ending 15 0 100% 0,00% Jumlah 28 100% Jumlah 15 100%

Dalam film Test Pack, Closing digunakan sebagai ending cerita keseluruhan atau benang merah antar scene. Menurut hasil analisa, kecenderungan

closing film ini yaitu happy ending, begitu juga dengan novel yang memiliki closing dengan happy ending. Dimana closing pada novel dan film berakhir

(16)

4.3.8 Pesan

Film merupakan media yang memberikan pengaruh yang kuat untuk para khalayak. Untuk itu dalam film terdapat pesan yang terkandung di dalamnya. Pesan inilah yang nantinya akan membawa pengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap masyarakat. Dalam novel pun pesan dapat dikatakan sebagai amanat. Berikut ini adalah analisa penulis terhadap film dan novel Test Pack.

Tabel 4.8

Perbandingan Pesan Novel dan Film

Pesan Novel Bab % Pesan Film Scene % Agama Moral Sosial 0 12 16 0,00% 42,85% 57,14% Agama Moral Sosial 0 6 9 0,00% 40% 60% Jumlah 28 100% Jumlah 15 100%

Hasil penelitian di atas menunjukkan menunjukkan 57,14% pesan bersifat sosial, dan ditambah sedikit dengan moral yang mendapat presentase sebesar 42,85%. Hal tersebut menunjukkan kecenderungan pesan yang disampaikan adalah pesan sosial, dimana pada bab terakhir, dengan adanya komitmen yang kuat, Tata bisa menerima kakang apa adanya dan akhirnya Tata dan Kakang suaminya memutuskan untuk kembali dan mengadopsi seorang anak dari panti

(17)

asuhan. Dan untuk pesan moral terdapat pada bab 14, yaitu pada saat Kakang dinyatakan infertil, sebuah kenyataan yang merupakan cobaan untuk keluarganya terutama isterinya Tata. Novel ini berpesan bahwa pernikahan bukan hanya untuk memiliki anak. Tetapi perlu adanya komitmen untuk bisa saling menerima dan melengkapi kekurangan satu sama lain.

Hasil tabel di atas menunjukkan bahwa kecenderungan pesan yang terkandung dalam film Test Pack adalah sosial. Tidak jauh dengan novelnya, pada film pesan-pesan sosial lebih ditonjolkan dimana menerangkan bagaimana kesabaran dan usaha yang sangat keras dilakukan oleh pasangan Tata dan Kakang dalam rumah tangganya untuk mendapatkan seorang anak. Dimana kodrat seorang wanita yang ingin menjadi ibu seperti wanita-wanita lainnya yang bisa mengandung, melahirkan dan membesarkan buah hatinya.

4.3.9 Pola Alur atau Jalan Cerita

Pola alur dalam sebuah penceritaan novel serta film merupakan desain jalan cerita. Dimana menghubungkan bab yang satu dengan bab yang lain, juga

scene yang satu dengan scene yang lain. Berikut adalah hasil analisa penulis

terhadap novel dan film Test Pack.

Tabel 4.9

Perbandingan Pola Alur/Jalan Cerita Novel dan Film Pola alur/Jalan Cerita Novel Bab % Pola Alur/Jalan Cerita Film Scene %

(18)

Pola Cinta Pola Segitiga Pola Sukses Pola Keluarga Pola Kembali 21 0 0 7 0 75% 0,00% 0,00% 25% 0,00% Pola Cinta Pola Segitiga Pola Sukses Pola Keluarga Pola Kembali 6 8 0 1 0 40% 53,33% 0,00% 6,66% 0,00% Jumlah 28 100% Jumlah 15 100%

Dari data pada tabel di atas dalam novel dapat diketahui bahwa terdapat 75% untuk pola cinta, dan 25% untuk pola keluarga. Pada pola cinta yaitu dimana Tata dan Kakang yang selalu berusaha untuk melakukan intensifikasi penyerbukan baik dengan gaya baru atau bercinta berdasarkan shio, dan pola keluarga yaitu pada bab dimana Rahmat dan Tata pasangan suami istri kelas menengah. Rahmat seorang psikolog dan Tata bekerja sebagai pengacara. Mereka sudah tujuh tahun menikah namun belum dikaruniai anak. Keinginan Tata untuk memiliki anak, lebih besar dari Rahmat karena Rahmat beranggapan bahwa mereka berdua cukup baginya. Tata merasa kehadiran seorang anak adalah wajib.

Dari data pada tabel di atas dapat diketahui bahwa pola segitiga serta pola cinta menjadi kecenderungan pola yang dipakai pada scene film Test Pack dengan presentase pola segitiga sebesar 53,33% dan pola cinta sebesar 40%.

Berdasarkan hasil analisa yang diperoleh terlihat jelas jika film Test Pack lebih menonjol atmosfer segitiga. Pola segitiga yang digambarkan pada film ini adalah dimana munculnya kembali mantan pacar dari Rahmat suami Tata yaitu Shinta seorang super model Indonesia, dan tidak banyak yang tahu bahwa Shinta

(19)

baru bercerai dari suaminya, Heru karena Shinta didiagnosa tidak dapat memberikan anak. Disaat yang sama dia teringat akan mantan pacar terdahulu yang ditinggalkan yaitu Rahmat.

Rahmat dan Tata yang berobat ke Dr. Peni dan ia mendapati bahwa dirinya mandul. Hatinya hancur karena tidak dapat membahagiakan Tata. Rahmat menyembunyikan hasil tes kesuburannya dari Tata. Bingung mencari teman yang dapat berbagi rahasia, akhirnya Rahmat bercerita kepada Shinta yang memiliki nasib yang sama. Shinta berusaha meyakinkan kalau mereka adalah pasangan yang cocok. Tata benar-benar kecewa bahkan ingin memutuskan untuk bercerai dari Rahmat saat mengetahui bahwa Rahmat menghabiskan waktunya bersama Shinta.

4.3.10 Sudut Pandang Pencerita

Sudut pandang dalam sebuah novel digunakan untuk membatasi isi pencerita dalam menempatkan dirinya pada novel sedangkan pengambilan sudut pandang penceritaan dalam sebuah film adalah untuk memberi kesan akhir yang diinginkan. Tabel berikut ini adalah analisa sudut pandang pencerita novel dan film Test Pack.

Tabel 4.10

Perbandingan Sudut Pandang Novel dan Film Sudut Pandang Pencerita Bab % Sudut Pandang Scene %

(20)

Novel Pencerita Film Orang Pertama Tunggal Orang Ketiga Serba Tahu Orang Ketiga Terbatas 28 0 0 100% 0,00% 0,00% Orang Pertama Tunggal Orang Ketiga Serba Tahu Orang Ketiga Terbatas 12 3 0 80% 20% 0,00% Jumlah 28 100% Jumlah 15 100%

Dari analisa di atas menunjukkan bahwa pencerita dalam novel Test Pack lebih menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal yaitu dengan presentase sebesar 100%. Dimana pencerita menempatkan dirinya pada tokoh Arista Natadiningrat atau Tata.

Hasil analisa menunjukkan kecenderungan sudut pandang pencerita film Test Pack menempatkan dirinya sebagai orang pertama tunggal dengan presentase 80%. Dimana sang narator atau pencerita adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita.

4.3.11 Unsur Dramatik

Unsur dramatik dalam novel digunakan sebagai “bumbu” cerita agar pembaca dapat ikut masuk ke dalam cerita dan berimajinasi secara liar dengan pikirannya. Maka dalam film unsur dramatik dibutuhkan untuk melahirkan gerak

(21)

cerita pada film itu sendiri. Berikut hasil analisa penulis mengenai unsur dramatik pada novel dan film Test Pack.

Tabel 4.11

Perbandingan Unsur Dramatik Novel dan Film Unsur Dramatik Novel Bab % Unsur Dramatik Film Scene % Suspense Curiosty Surprise 0 22 6 0,00% 78,57% 21,42% Suspense Curiosty Surprise 0 13 2 0,00% 86,66% 13,33% Jumlah 28 100% Jumlah 15 100%

Dari analisa unsur dramatik pada novel kecenderungan terdapat pada

curiosty yang mendapat presentase sebesar 78,57% dan ini terjadi pada bab

1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,17,18,19,20,21,22,23,24 dan 25. Selain unsur

curiosty, terdapat juga surprise yang mendapat presentase sebesar 21,42%.

Dari analisa, unsur dramatik yang terkandung pada film Test Pack adalah

curiosty yang mendapatkan presentase sebesar 86,66%. Yaitu dimana banyak

sekali hal-hal yang dinanti dalam keluarga Tata dan Kakang seperti informasi mengenai kesuburan antara Tata dan Kakang. Dan terdapat presentase sebesar 13,33% untuk surprise yaitu pada scene terakhir dimana akhirnya Tata tidak jadi pergi meninggalkan Kakang ke luar negeri, melainkan Tata kembali ke Kakang dan menerima setiap kekurangan Kakang.

(22)

4.4 Pembahasan

Film Test Pack karya Monty Tiwa yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Ninit Yunita merupakan film bergenre drama yang dibalut dengan unsur komedi. Film ini merupakan film yang menarik untuk ditonton oleh pasangan muda karena memperlihatkan esensi cinta, perkawinan, rumah tangga dan eksistensi anak-anak dalam sebuah keluarga. Berdasarkan hasil penelitian dengan metode analisis isi dengan pendekatan kuantitatif. Peneliti akan menjelaskan mengenai perbandingan isi dari film dan novel Test Pack yang dilihat dari struktur penceritaannya, maka ditemukan beberapa perbedaan dan kesamaan yang mendasar.

Dalam hal ini konsep yang digunakan adalah teori komunikasi dua tahap dimana menurut teori ini media massa tidak bekerja dalam suatu situasi sosial yang pasif, tetapi memiliki suatu akses ke dalam jaringan hubungan sosial yang sangat kompleks, dan bersaing dengan sumber-sumber gagasan, pengetahuan, dan kekuasaan yang lainnya.

Studi dalam bidang ini memusatkan perhatian pada struktur penceritaan seperti tema, opening, karakter tokoh utama, alur cerita/plot, konflik, gaya bahasa, closing, pesan, pola alur/jalan cerita, sudut pandang, dan unsur dramatik dimana novel sebagai acuan yang diadaptasi ke film dan divisualisasikan ke dalam gambar untuk mendapatkan nilai lebih dari sebuah novel dihati penontonnya.

Berdasarkan hasil dari kedua koder dan peneliti novel yang diadaptasi ke dalam film dengan judul yang sama yaitu “Test Pack” merupakan film adaptasi yang juga membawa maksud elemen penceritaan dalam teks asal digugurkan dan

(23)

tidak dimasukkan ke dalam film, banyak juga elemen dalam film itu diganti atau ditambah.

Dari hasil tersebut dan dikaitkan dengan teori yang digunakan, menyatakan bahwa novel dan film mempunyai fungsi yang sama sebagai media yaitu sama-sama menyampaikan pesan dengan cara yang berbeda. Namun tidak sepenuhnya masyarakat dipengaruhi oleh media yang ia lihat, ada pula campur tangan orang terdekat yang bisa lebih mempengaruhi dalam menangkap makna dari pesan yang disampaikan.

Pada tema dalam novel lebih menceritakan mengenai percintaan dan dalam film tema yang diceritakan adalah perselingkuhan. Itu berarti adanya sebuah elemen yang diganti agar lebih menarik yaitu perselingkuhan. Opening dalam novel dan film sama-sama memiliki nilai yang terbesar yairu rising action, dimana munculnya masalah pada tokoh utama. Karakter tokoh utama dalam novel dan film pun sama-sama memiliki nilai yang besar yaitu protagonis dimana penulis selalu membuat sosok yang mewakili sisi kebaikan yang mewarnai setiap aktivitas dalam cerita. Alur cerita/plot disajikan dengan menggunakan alur maju yang bercerita berdasarkan urutan kronologis namun dalam film sedikit ditambahkan alur campuran ketimbang di novel. Konflik internal pun mendominasi dalam novel dan film, namun dalam film sedikit ditambahkan dengan konflik eksternal. Gaya bahasa dalam novel dan film cenderung menggunakan bahasa sehari-hari. Closing dalam novel berakhir pada happy

ending, begitu pula dengan film closing berakhir dengan happy ending. Pesan

(24)

kuat untuk saling melengkapi satu sama lainnya. Pola alur dalam novel yang menonjol adalah pola cinta, sedangkan dalam novel pola segitiga lebih ditonjolkan. Sudut pandang yang memiliki nilai paling besar adalah orang pertama tunggal dimana pengarang terlibat dalam cerita sebagai tokoh utama. Unsur dramatik yang menonjol adalah curiosty dimana penulis membuat cerita yang memancing keingintahuan penonton dengan cara mengulur informasi tentang sebuah masalah. Secara keseluruhan dapat ditarik kesimpulan bahwa film Test Pack merupakan salah satu yang terdapat sedikit perombakan terhadap karya sastra aslinya yaitu novel.

Referensi

Dokumen terkait

Suawardi Endraswara (2005:5) membuat definisi bahwa, “penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan dengan tidak menyertakan angka-angka, tetapi mengutarakan kedalaman

 Client: CacheHIT Bandwidth: 10240 Limit: 10240 Burst: 32 Priority: 1 Mark: 4 ( sesuai dengan mangle MARK iptables ) Klik tulisan SAVE untuk menyimpan.  Client:

mengakses sumber-sumber dan bahan-bahan pembelajaran tersebut. Kondisi seperti ini diharapkan dapat menjamin pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan. Portal

Bir sürücü üzerindeki hiyerar¸sik dosya veya dizin toplulu ˘gudur (örne ˘gin; CD–ROM, disket, sabit disk üzerindeki dosyasistemleri.) veya i¸sletim sisteminin dosyaları

Terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan diare pada anak sedangkan pendidikan ibu dengan diare pada anak tidak didapatkan hubungan yang bermakna.

Model time se- ries stasioner Auto Regressive - AR(1) memberikan nilai pendekatan nilai tukar yang baik bahkan memberikan nilai peramalan yang baik pula, na- mun demikian model

Hasil analisis lintas menunjukkan bahwa di Kabupaten Konawe Selatan unsur cuaca yang mempunyai pengaruh langsung positif besar terhadap peningkatan intensitas penyakit busuk

Sejumlah fakta yang dimaksud mencakup: (1) Kekerasan yang menimpa masyarakat di pinggir hutan di Pulau Jawa dinilai sudah sangat memprihatinkan; (2) Selama kurun waktu 1998