SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL, 14 Desember 2013
S 5
PENGARUH MATRIC SUCTION TERHADAP PERILAKU KEMBANG BEBAS TANAH
LEMPUNG EKSPANSIF
Agus Tugas Sudjianto, M. Cakrawala, Candra Aditya
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas TeknikUniversitas Widyagama Malang
Jalan Taman Borrobudur Indah No. 3 Malang 65142
email : [email protected]
ABSTRAK
Fluktuasi kadar air tanah di daerah tropis terjadi akibat hujan, evaporasi dan evapotranspirasi. Akibat perubahan kadar air, kondisi lapisan tanah aan mengalami kondisi jenuh sebagian. Tanah lempung ekspansif pada konisi jenuh sebagian akan mengalami perubahan volume. Tanah ekspansif akan mengalami fenomena kembang pada saat kondisi jenuh sebagian. Pada kondisi jenuh sebagian tersebut, tanah lempung ekspansif juga akan mengalami suction Perilaku kembang tanah ekspansif di lapangan terjadi secara bebas ke arah volumetrik. Fenomena kembang ini akan menyebabkan kerusakan pada struktur yang dibangun di atas maupun didalam tanah lempung ekspansif.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh sucion terhadap perilaku kembang bebas tanah lempung ekspansif. Sampel tanah lempung ekspansif diambil dari Karang Jati, Kabupaten Ngawi Propinsi Jawa Timur. Penelitian kembang bebas dilakukan pada benda uji terganggu dengan diameter 6,35 cm dan tinggi 1,70 cm, dengan kadar air awal 32% % dan berat volume kering 1,26 kg/cm3. Pengukuran kembang bebasdengan jangka sorong digital, sedangkan pengukuran
suction dengan metode matric suction dengan kertas filter Whatman No. 42.
Hasil penelitian memperlihatkan semakin besar matric suction tanah lempung ekspansif akan menyebabkan semakin kecil kembang bebas yang terjadi.
Kata-kata kunci : tanah lempung ekspansif, matric suction, kembang bebas.
PENDAHULUAN
Di Indonesia, ditinjau dari kejadian tanahnya, masalah tanah lempung ekspansif hampir terdapat di seluruh Indonesia, mulai dari Sumatra Utara sampai ke Papua. Jumlah kerugiannya belum dilaporkan, tetapi dari penelitian dan survei yang telah lakukan oleh pihak Bina Marga dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan Departemen Pekerjaaan Umum tahun 1992, banyak kerusakan yang terjadi pada beberapa ruas jalan di Pulau Jawa disebabkan oleh masalah tanah lempung ekspansif (Mochtar, 2000). Proses kembang tanah lempung ekspansif dipengaruhi oleh faktor lingkungan, di antaranya faktor perbedaan iklim, curah hujan, sistem drainasi dan fluktuasi muka air tanah. Myers (2005) menyebutkan bahwa perubahan kadar air pada tanah lempung, khususnya lempung ekspansif, akan menyebabkan perubahan volume.
Perilaku kembang pada tanah ekspansif merupakan kebalikan dari peristiwa kapiler. Bila kadar air dalam tanah naik dan tanah menjadi jenuh, maka tegangan kapiler berkurang dan tegangan air pori dengan sendirinya akan menurun dan dapat sama dengan tegangan hidrostatis. Menurunnya tegangan air pori ini mengakibatkan tanah ekspansif cenderung mengembang kembali pada posisi semula (Mochtar, 2000).
Fenomena kembang pada tanah ekspansif terjadi pada kondisi pembasahan dengan nilai derajat kejenuhan (Sr) < 1, berarti tanah berada pada kondisi
tidak jenuh. Pada kondisi tidak jenuh ini, maka tanah ekspansif terdiri dari tiga fase, yaitu : butiran, air dan udara, sehingga menghasilkan nilai suction. Akibat perubahan nilai derajat kejenuhan (Sr) dan angka pori
(e), maka nilai suction akan naik, sehingga suction yang terjadi pada tanah ekspansif akan mempengaruhi perilaku kembang – susut tanah tersebut.
Uji swelling di laboratorium selama ini, dilakukan pada ring yang terkekang arah lateral, sehingga tidak ada deformasi swelling arah horisontal. Dengan demikian
swelling diasumsikan terjadi hanya pada arah vertikal
saja. Kondisi ini agak berbeda dengan banyak kejadian di lapangan, dimana tanah yang mengembang adalah tanah yang sudah menyusut sebelumnya. Pada tanah yang telah menyusut tersebut menjadi retak – retak akibat penyusutan 3 dimensi. Sewaktu mengembang, tanah tersebut kembali mengembang bebas ke segala arah dari posisinya semula. Model kembang satu dimensi (arah vertikal) tentunya tidak akan cocok bila permukaan tanah lempung ekspansif miring, bila tanah lempung berada di belakang dindng penahan tanah, atau di tepi dinding suatu terowongan. Pada kasus – kasus tersebut,
Swelling arah horisontal sangat menonjol akibat gerakan
dinding (Coduto,1994).
TUJUAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh perubahan matric suction tanah (∆s) terhadap perilaku kembang bebas tanah lempung ekspansif baik kembang arah vertikal, kembang horisontal maupun kembang volumetrik.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini meliputi bahan penelitian, peralatan utama yang digunakandan prosedur uji matric
suction dan kembang bebas untuk mengkur kembang
vertikal dan horisontal dengan acuan standar ASTM, adapun uraian dari keduanya adalah sebagai berikut. Tanah Lempung Ekspansif
Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan contoh tanah lempung ekspansif yang diambil dari
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL, 14 Desember 2013
S 6
Karang Jati, Kabupaten Ngawi, Propinsi Jawa Timur.Peta lokasi pengambilan sampel tanah lempung seperti pada Gambar 1. Pengambilan sampel dilakukan dalam kondisi undisturbed dan disturbed. Sampel diambil ± 20 m dari bahu jalan. Sampel undisturbed diambil dengan menggunakan tabung sampel yang mempunyai dimensi panjang 30 cm dan diameter 7 cm. Sampel undisturbed akan dijaga agar tetap asli dari perubahan kadar air dan getaran serta bersih dari akar-akar tanaman. Untuk sampel disturbed, diambil dengan cangkul dan sekop dimasukkan ke dalam kantong yang sudah disiapkan. Sampel tanah diambil pada kedalaman 0,50 – 1,00 m dari permukaan tanah.
Gambar 1. Pengambilan sampel tanah di Karang Jati (Ngawi).
Prosedur Uji Matric Suction
Pengukuran suction di laboratorium ada beberapa cara , diantaranya : tensiometer, thermal conductivity, axis
translation, psychometer, humidity control dan filter paper. Pada penelitian ini, pengukuran suction dilakukan
dengan filter paper (kertas saring) Whatman No. 42 (Gambar 2). Pengukuran suction dengan kertas saring merupakan prosedur yang sederhana, jelas dan tidak membutuhkan peralatan khusus. Peralatan yang digunakan untuk mengukur matric suction seperti pada Gambar 3.
Uji suction dengan kertas saring menggunakan standar ASTM D 5298 – 2003. Ada 2 metode yaitu : kertas saring kontek langsung dengan tanah yang disebut dengan uji matric suction dan metode yang kedua adalah
total suction, dimana kertas saring tidak langsung kontak
dengan tanah. Pada penelitian ini digunakan metode
matric suction.
Gambar 2. kertas Filter Whatman No. 42.
Peralatan yang digunakan dalam uji matric suction adalah hot tare dan cold tare, seperti pada Gambar 6. Kotak sampel dengan volume 120 ml – 240 ml yang terbuat dari
gelas yang bebas karat dengan tutup yang rapat, seperti pada Gambar 4.
Gambar 3. Hot tare dan cold tare.
Gambar 4. Kotak sampel.
Pembuatan benda uji matric suction dilakukan dengan tahapan seperti pada Gambar 5. Contoh benda uji yang telah jadi digunakan untuk uji matrik suction yang telah diletakan dalam tabung isolasi seperti pada Gambar 6.
Gambar 5. Pembuatan sampel uji matric suction.
Gambar 6. Sampel uji matric suction di dalam tabung isolasi.
Prosedur Uji Kembang Bebas
Pada penelitian ini untuk mengukur kembang bebas digunakan jangka sorong digital tipe Modern dengan kapasitas pengukuran 150 mm, seperti pada Gambar 7 berikut ini.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL, 14 Desember 2013
S 7
Gambar 7. Jangka sorong digital.
Uji kembang bebas dilakukan pada sampel tanah dengan tanah yang dicetak dengan diameter 6,35 cm dan tinggi 1,70 cm, dengan kadar air awal 32 % dan berat volume kering 1,26 g/cm3, sesuai dengan hasil uji Proctor standar. Pembuatan sampel seperti pada Gambar 8 berikut ini.
Gambar 8. Sampel uji kembang bebas. Perhitungan kembang bebas dilakukan dengan persamaan oleh Holtz dan Gibbs (1956) sebagai berikut ini.
..…………..(1) …….…...…..(2) ……….…..(3)
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Uji Proctor Standar
Uji matric suction dan uji kembang bebas (free
swelling) dilakukan dengan kadar air awal (wi) dan
kepadatan (γd) dari hasil uji Proctor standar tanah lempung Karang Jati (Ngawi). Perancangan sampel uji
matric suction dan uji kembang bebas menggunakan hasil
uji Proctor standar. Hasil uji Proctor standar tanah lempung Karang Jati (Ngawi) seperti terlihat pada Gambar 6 berikut ini.
Gambar 9. Hasil uji Proctor standar tanah lempung Karang Jati.
Hasil uji Proctor standar pada Gambar 6 menghasilkan nilai kadar air optimum sebesar 32 % dan berat volume kering maksimum 1,26 g/cm3.
Hasil Uji Matric Suction Tanah
Proscdur uji suction tanah mengacu pada standar ASTM D 5298-2003. Pembuatan sampel suction dalam cetakan berdasarkan dengan kepadatan kering tanah yang konstan γd = 1,26 gram/cm3 dengan kadar air awal (wi)
sebesar 32%.
Nilai matric suction tanah ditentukan dengan kalibrasi
suction filter paper Whatman No. 42 berdasarkan
kalibrasi ASTM D 5298-2003, secara analisis besarnya
matric suction (s) tanah terhadap kadar air filter paper
dinyatakan dalam f w
s
10
5,3270,0779 untukw
f < 45,26 % ………...(4) f ws
10
2,4120,0135 untukw
f < 45,26 % ……….(5) Dengan : fw
: kadar air filter paper (%).Kadar air filter paper hasil uji laboratorium disubtitusikan ke Persamaan 4 dan Persamaan 5, ditampilkan pada Tabel 1. Hasil uji matric suction tersebut didasarkan pada kadar air tanah awal pada benda uji tanah lempung Karang Jati (Ngawi). Dari kadar air tanah tersebut dapat ditentukan besarnya nilai derajat kejenuhan (Sr) tanah lempung ekspansif.
Tabel 1 Perbandingan kadar air tanah dengan kadar air filter paper tanah Karang Jati (Ngawi)
Wtanah awal (W), % Sr tanah awal (Sr), % WFilter Paper (Wf), % mactric suction (s) (kN/m2) 5,00 12,14 5,3834 80802,1000 10,00 24,28 11,8556 25349,3000 15,00 36,42 16,6835 10651,1000 20,00 48,58 25,6250 2143,0000 25,00 60,70 32,1400 665,0000 30,00 72,82 39,1000 191,3100 35,00 84,94 45,5712 59,8793 42,00 100 56,0621 9,1142 % 100 % 100 H H awal tinggi awal tinggi akhir tinggi SZ % 100 % 100 D D al diameteraw awal diameter akhir diameter SX % 100 % 100 V V awal volume awal volume akhir volume SV
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL, 14 Desember 2013
S 8
Hasil uji matric suction (s) pada Tabel 1,digambarkan dalam hubungan antara kadar air awal (wi)
dengan matric suction (s) tanah Karang Jati (Ngawi) seperti pada Gambar 10 berikut ini.
1 10 100 1000 10000 100000 0 20 40 60 80 100 Kadar Air, w (%) m a tr ic s u c ti o n , (u a u w ) (K N /m 2)
Gambar 10. Kurva kadar air tanah dengan matric suction tanah Karang Jati (Ngawi).
Tanah lempung Karang Jati (Ngawi) dengan perubahan kadar air filter paper kecenderungan berperilaku linear (Gambar 10), sehingga dapat dianalisis dengan analisis regresi. Pengamatan perilaku matric
suction (s) dengan derajat kejenuhan (Sr) digambarkan
pada Gambar 11 berikut ini.
1 10 100 1000 10000 100000 1000000 0 20 40 60 80 100 Derajat Kejenuhan, Sr (%) m a tr ik s u c ti o n , (u a - uw ) (K N /m 2 )
Gambar 11 Kurva derajat kejenuhan dengan matric
suction
tanah Karang Jati (Ngawi).
Pada penelitian ini kalibrasi matric suction terbatas pada kebutuhan analisis, sehingga untuk kadar air tanah (wi) < 5,00 % dan w > 50,00 % belum dapat digunakan.
Hasil uji matric suction memperlihatkan semakin besar kadar air maka semakin kecil nilai matric suction (Gambar 10),.Demikian pula pengaruh derajat kejenuhan (Sr) menunjukkan perilaku yang sama dengan kadar air (w), semakin jenuh air maka semakin kecil matric suction tanah lempung Karang Jati (Ngawi).
Hasil Uji Kembang Bebas dengan Perubahan Matric Suction
Uji kembang bebas dapat digunakan untuk mengetahui nilai kembang vertikal, kembang horisontal dan kembang volumetrik tanah lempung ekspansif, seperti yang dilakukan oleh Holtz dan Gibbs (1956). Hasil uji kembang bebas tanah Karang Jati (Ngawi) pada
perubahan matric suction seperti pada Tabel 2. Hasil tersebut dibuat grafik hubungan antara matric suction dengan kembang vertikal, kembang horisontal dan kembang volumetrik seperti pada Gambar 12.
Tabel 2. Hasil uji kembang bebas tanah lempung Karang Jati
(Ngawi) pada perubahan matric suction
mactric suction (s) (kN/m2) Kembang vertikal (%) z S Kembang horisontal (%) x S Kembang volumetrik (%) v S 80802,1000 0,00 0,00 0,00 25349,3000 3,99 1,62 7,38 10651,1000 7,54 3,34 14,85 2143,0000 11,31 4,99 22,70 665,0000 15,09 6,72 31,10 191,3100 18,86 8,44 39,37 59,8793 20,10 9,83 44,89 9,1142 20,12 9,95 45,22 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 1 10 100 1000 10000 100000 Matric suction, ua-uw (kN/m2) S w e ll ing , S ( % ) Swelling Volumetric Swelling Vertical Swelling Horizontal
Gambar 12. Hubungan matrioc suction dengan kembang vertikal, horisontal dan volumetrik tanah Karang Jati.
Gambar 12 memperlihatkan hubungan antara
matric suction (W) dengan kembang vertikal, kembang
horisontal dan kembang volumetrik tanah Karang Jati (Ngawi). Pada uji kembang bebas tersebut. kembang vertikal, kembang horisontal dan kembang volumetrik menjadi kecil dengan naiknya matric suction dan berhenti mengembang pada matric suction 9,1142 kN/m2 . Hasil ini memperlihatkan bahwa pengaruh matric suction terhadap perilaku kembang bebas pada
tanah lempung ekspansif banding terbalik dengan pengaruh kadar air dan derajat kejenuhan (Sr).
Perbandingan Kembang Pada Uji Kembang bebas Uji kembang bebas terdiri dari uji kembang vertikal dan uji kembang horisontal. Kembang vertikal (Sz)
dalam penelitian ini adalah perubahan dimensi tinggi (ΔH) benda uji terhadap tinggi awal (Ho) benda uji tanah
lempung ekspansif, sedangkan Kembang horisontal (Sx)
adalah perubahan dimensi secara horisontal dalam hal ini diameter benda uji (ΔD) terhadap diameter awal (Do) benda uji tanah lempung ekspansif yang
dinyatakan dalam persen (%). Sedangkan nilai kembang volumetrik dihitung dengan persamaan 5.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL, 14 Desember 2013
S 9
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa, ujikembang bebas yang dihasilkan, nilai rata-rata kembang vertikal (Sz) tanah Karang Jati (Ngawi) lebih
besar 1,37 kali dari nilai rata-rata kembang horisontal (Sx). Hasil tersebut seperti terlihat pada kurva
perbandingan hubungan kembang vertikal dan kembang horisontal dengan matric suction (s), seperti pada Gambar 13 berikut ini.
0 5 10 15 20 25 1 10 100 1000 10000 100000 Matric suction, ua-uw (kN/m2) S w e ll ing , S ( % ) Swelling Vertical Swelling Horizontal
Gambar 13. Perbandingan kembang vertikal dan horisontal
tanah Karang Jat (Ngawi).
Hasil penelitian pada uji kembang bebas (free
swelling) pada tanah lempung Karang Jati (Ngawi)
dihasilkan juga kembang volumetrik (Sv) yang dihitung menggunakan persamaan/formula kembang volumetrik. Benda uji pada saat kembang akan mengalami perubahan dimensi secara volumetrik dalam hal ini volume benda uji (ΔV) tanah ekspansif terhadap volume awal (V0) benda uji tanah lempung ekspansif yang
dinyatakan dalam persen (%).
Hasil penelitian ini memperlihatkan, kembang volumetrik (Sv) yang dihasilkan oleh tanah Karang Jati
(Ngawi) lebih besar 2,65 kali dari kembang vertikal (Sz), seperti terlihat pada Gambar 14 berikut ini.
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 1 10 100 1000 10000 100000 Matric suction, ua-uw (kN/m2) S w e ll ing , S ( % ) Swelling Volumetric Swelling Vertical
Gambar 9. Perbandingan kembang volumetrik dan vertikal
tanah Karang Jat (Ngawi).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut. 1. Nilai matric suction sangat dipengaruhi oleh kadar
air (w) dan derajat kejenuhan (Sr) tanah lempung, semakin besar kadar air dan derajat kejenuhan semakin kecil nilai matric suction tanah lempung Karang jati (Ngawi).
2. Perilaku kembang bebas vertikal, kembang horisontal dan kembang volumetrik dengan kadar air awal dan kepadatan yang sama pada tanah Karang Jati (Ngawi) sangat dipengaruhi oleh perubahan
matric suction tanah, semakin besar matric suction
dalam tanah lempung ekspansif semakin kecil kembang bebas yang terjadi.
3. Perbandingan kembang vertikal terhadap kembang horisontal pada uji kembang bebas tanah Karang Jati (Ngawi) sebesar 1,37, sedangkan rasio kembang volumetrik terhadap kembang vertikal sebesar 2,65.
UCAPAN TERIMA KASIH
Disampaikan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DP2M) Dikti yang telah mendanai kegiatan penelitian ini dengan skim Penelitian Hibah Bersaing (PHB) dengan kontrak No : 019/SP2H/PDSTRL/K7/II/2013, tanggal 10 Pebruari 2013.
DAFTAR PUSTAKA
ASTM, 2003, Annual Books of ASTM Standards Section 4 Volume 04.08 Soil and Rock (I): D420-D4914. Chen, F.H., 1988, Foundation on Expansive Soils, 2nd ed
Amsterdam, pp 463, Elseveier Scientific Publication Company, New York, USA, Coduto, D.P., 1994, Foundation Design Principles and
Practices, Prentice Hall International, Inc.
Dakhshanamurthy, V. and Raman, V., 1975, Review of
Expansive Soils, Discusion, Journal of
geotechnical Enggineering Division, ASCE, Volume 101, , No. GT 6.
Dela, 2001, Measurement of Soil Moisture using Gypsum
Block, Measuretmen Enggineering Australia
(MEA), Adelaide, Australia.
Gourly, C.S., Newill, D., and Schreiner, H.D., 1993,
Expansive Soil, TRL”s Research Strategy, Proc.
Ist Inc. Symp. Engineering Characteristics of Arid Soils, London.
Hardiyatmo, H.C., 2006, Mekanika Tanah I, edisi 4, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Holtz, R.D., and Gibbs, H.J., 1956, Prediction on
Swelling Potential for Compacted Clay, Journal of
the Soil mechanics and Foundation devision , ASCE, Discussion, Vol 88, No.SM4.
Mochtar, I. B., 1994, Rekayasa Penanggulangan Masalah Pembangunan pada Tanah-tanah Sulit, Jurusan Teknik Sipil FTSP ITS, Surabaya.
Mochtar, I. B., 2000, Teknologi Perbaikan Tanah dan Alternatif Perencanaan pada Tanah bermasalah, Jurusan Teknik Sipil FTSP ITS, Surabaya. Myers, D., 2005, Expansive Clays and Road Subgrade an
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL, 14 Desember 2013
S 10
Nelson, J.D., and Miller, D.J., 1992, Expansive Soils;Problem and practice in Foundation and Pavement Engineering, John Wiley and Sons, New York.
Rifa’i A., 2002, Mechanical testing and Modelling of an
Unsaturated Silt ith engineering Application, Ph.D
Desertation , EPFL, Switzerland.
Sapaz, B., 2004, Lateral Versus Vertical Swell Pressure
in
ExpansiveClaySoils,etd.lib.metu.edu/upload/10530
40/index
Seed, H.B., Woodward R.J., Lundgren R., 1962,
Prediction of Swelling Potential for Cpmpacted Clays, Journal of the Soil Mechanics and
Foundation Division, ASCE, Vol.88. No. SM3. Proc. Paper 3169.
Sudjianto, A.T., Suryolelono, K.B., Rifa’i, A. and Mochtar, I.B., 2008, Behaviour of Vertical and Lateral Swelling Pressure on Disturbed Highly Expansive Clay Under Water Content Variation Condition, International Conference on
Geotechnical and Highway Engineering,
Universiti Teknologi Malaysia, Kuala Lumpur, Malaysia, 2008, Paper no G 21.
Sudjianto, A.T., Cakrawala, M, and Aditya, C., 2012, The Effects of Water Contents on Free Swelling of Expansive Soils, International Journal of Civil & Enviromental Engineering IJCEE/IJENS Volume 12, Issue 06, pp 13 – 17.
Taboada, M. A., 2003, Soil Shrinkage Characteristics in
Swelling
Soil,www.ictp.it/~pub_off/lectures/ins018/39taboa
da1, 9 November 2007.
Van Der Merwe, D.H., 1964, The Prediction of heave
from the Plasticity Index and percentage Clay Fraction of Soils, Civil engineers in south Africa,
6(6):103-107
Yong, R, N., and Warketin, B, P., 1975, Introduction to