• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mahasiswa UNAIR Ciptakan Pummach, Alat Penurun Logam Berat pada Kerang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Mahasiswa UNAIR Ciptakan Pummach, Alat Penurun Logam Berat pada Kerang"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Mahasiswa UNAIR Ciptakan

’Pummach’, Alat Penurun Logam

Berat pada Kerang

UNAIR NEWS – Kerang, merupakan biota laut yang kaya gizi yang sangat digemari masyarakat untuk dikonsumsi. Sayangnya, selama ini di dalam kerang terdapat kandungan kadar logam berat seperti timbal (Pb), cadmium (Cd) dan merkuri (Hg) yang sangat berbahaya. Jika seseorang mengonsumsi makanan yang terpapar timbal (Pb) tinggi bisa menyebabkan keracunan, diare, dan pingsan mendadak. Jika mengonsumsi makanan yang terpapar

cadmium (Cd) bisa merusak hati, paru-paru dan ginjal.

Sedangkan makanan yang terpapar merkuri (Hg) bisa menyebabkan rusaknya jaringan kulit hingga saraf.

Berangkat dari realitas itulah lima orang mahasiswa Universitas Airlangga membuat inovasi dan berhasil membuat alat yang bisa untuk menurunkan kadar logam berat tersebut. Alat tersebut diberi nama PUMMACH (Depuration Mini Machine) yang mudah dioperasionalkan di kalangan nelayan.

Kelima mahasiswa dari lintas fakultas di UNAIR itu adalah Oktavia Arini Zuhriastuti (S1 Budidaya Perairan, 2014) sebagai ketua tim, Moch. Yazid Abdul Zalalil Amin (D3 Higiene Perusahaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja, 2014), Luqmanul Hakim (S1 Pendidikan Dokter Gigi, 2014), Ria Setiawati (S1 Pendidikan Dokter, 2014) dan Abdul Hamid (D3 Otomasi Sistem Instrumentasi, 2015).

Dibawah bimbing Dr. Ir. Endang Dewi Masithah, MP., yang juga Wakil Dekan I Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR, inovasi dan kreativitas itu dituangkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penerapan Teknologi (PKM-T), dan berhasil lolos seleksi pendanaan Kemenristekdikti tahun 2017.

(2)

latar belakang digagasnya PUMMACH ini, karena laut sebagai tempat bermuaranya berbagai saluran air, sehingga menjadi tempat berkumpulnya berbagai zat pencemar lingkungan. Salah satu zat yang berbahaya itu adalah logam berat. Keberadaan logam berat di perairan sangat berbahaya, baik secara langsung untuk kehidupan biota laut maupun secara tak langsung bagi kesehatan manusia.

Disisi lain, diantara biota laut yang dapat terpapar logam berat adalah kerang. Hal ini karena kerang bisa hidup dengan cara menyerap dan menyaring makanan di lingkungan habitatnya

( f i l t e r f e e d e r ) , j a d i k e r a n g d a p a t m e n g o l a h d a n

mentransformasi setiap logam berat yang masuk dalam tubuh dan menyebabkan kerang dapat bertahan hidup.

”Tentu saja hal itu membuat masyarakat cemas, sebab kerang merupakan salah satu makanan favorit di masyarakat karena memiliki kandungan gizi sangat baik dan ekonomis. Karena itulah kami berusaha membuat alat untuk membantu para nelayan bisa menurunkan kadar logam berat pada kerang tangkapannya, sehingga mampu meningkatkan daya beli konsumen,” kata Oktavia. Oktavia dan timnya melakukan praktik PUMMACH ini sentra penangkapan kerang di Desa Banjar Kemuning, Kecmatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Disinilah masyarakat nelayan sekaligus diajari cara menurunkan kadar logam berat pada kerang tersebut.

(3)

Berlangsungnya Proses Depurasi pada Alat PUMMACH. (Foto: Dok PKMT PUMMACH)

Ditambahkan oleh Oktavia, untuk mengoperasionalkan mesin PUMMACH dibutuhkan daya listrik. Selain itu alat ini dirancang dari berbagai komponen, seperti kotak kontainer, pompa air, sinar UV, filter air, flow meter, pipa kran, dan rak kontainer.

Cara pengoperasian alat ini, pertama harus mengecek kran untuk memastikan jalur diluar aliran tertutup rapat, tidak ada kebocoran. Selanjutnya mengisi kontainer dengan air laut yang sudah diatur salinitas dan suhunya. Berikutnya menyalakan semua komponen seperti sinar UV dan filter air. Terakhir memasukkan kerang pasca-panen itu ke dalam rak kontainer. Jika langkah itu sudah dilakukan, maka proses depurasi pada alat PUMMACH mulai berlangsung untuk selama 24 jam. Dalam kurun waktu itu kerang akan mengalami puasa, sehingga akan terjadi proses ekskresi, yaitu kerang mengeluarkan logam berat yang ada dalam saluran pencernaannya. Dari hasil proses eksresi tersebut akan diserap melalui filter air yang berbahan

(4)

dari cangkang kerang. Proses itu akan berlangsung terus-menerus hingga kadar logam berat pada kerang menurun secara bertahap.

Kelebihan dari alat PUMMACH ini, meskipun ukuran yang ditawarkan mini (kecil), tetapi kapasitas kerang yang dapat dimasukkan bisa 10 kg. Selain itu, Efektifitas penurunan logam berat pada kerang mampu mencapai hingga 40%. Kemudian yang terakhir, dengan adanya sinar UV pada PUMMACH maka kerang akan steril dari bakteri (salmonella, campylobacter, shigella,

cholerae) dan virus (norovirus, hepatitis A, astrovirus). (*)

Editor: Bambang Bes

Inovasi Pakan Ternak untuk

Hadapi Musim Paceklik

UNAIR NEWS – Tim Pengmas Prodi D-3 Kesehatan Ternak Fakultas Vokasi Universitas Airlangga melakukan alih teknologi kepada masyarakat di Desa Selogabus dan Desa Margorejo, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban. Pengmas yang berlangsung pada Sabtu (22/7) ini merupakan program Iptek bagi Masyarakat (IbM) dengan tema “Teknologi Pembuatan Pakan Complete Feed Herbal dan Pengolahan Limbah Sapi Potong Menjadi Biogas”.

Retno Sri Wahjuni selaku ketua pelaksana mengatakan, potensi sumber daya lokal yang banyak tersedia akan lebih bermanfaat dan berguna bagi masyarakat setempat dengan sentuhan teknologi tepat guna, salah satunya temulawak yang mudah diperoleh di masyarakat. Selain itu, temulawak juga mempunyai banyak manfaat bagi ternak seperti anti cacing, dan juga berguna sebagai penambah nafsu makan.

(5)

“Tujuan dari pengmas IbM ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pendapatan peternak setempat dengan pakan complete feed herbal dan pakan fermentasi berbasis tanaman lokal. Pakan ini menjadi alternatif pada musim paceklik dan pemanfatan limbah peternakan sebagai biogas,” ungkap Retno.

Sementara itu, Prof. Dr. Mirni Lamid, drh., MP selaku pemateri sekaligus Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR mengatakan, rumput atau hijauan adalah makanan pokok untuk sapi. Sedangkan makanan pelengkap menggunakan konsentrat.

Berdasarkan penuturannya, complete feed adalah pakan yang terdiri hijauan dan konsentrat dengan temulawak sebagai makanan tambahan. Complete feed dapat dibuat dengan menggunakan bahan yang mudah didapat di daerah dan harganya relatif murah.

“Complete feed herbal ini mempunyai nilai gizi tinggi dan angka kecernaan tinggi. Disamping itu, untuk mengatasi masalah musim rawan paka, peternak dilatih membuat pakan fermentasi yang bahan bakunya menggunakan jerami padi dibantu dengan probiotik sehingga menghasilkan pakan yang bergizi tinggi,” ucapnya.

Program IbM ini juga membahas masalah penanganan limbah peternakan menjadi biogas sebagai alternatif gas rumah tangga. Hal ini disampaikan oleh Gandul Atik, drh., M.Kes. dosen FKH UNAIR. Pada pengmas kali ini juga disampaikan cara pengukuran

body scoring pada sapi yang disampaikan Sunaryo Hadi Warsito,

drh., MP.

Peserta program IbM adalah Kelompok Tani Ternak Sari Tani Desa Selogabus dan Kelompok Tani Ternak Maju Jaya Desa Margorejo, dengan total peserta tak kurang dari 40 orang. Pengmas IbM ini juga dihadiri oleh aparat pemerintah setempat.

Sugiman selaku Sekretaris Desa Selogabus mengatakan, kegiatan ini sangat berguna dan bermanfaat bagi masyarakat. Sebab,

(6)

sebagian besar masyarakat adalah peternak sapi potong tradisional.

“Sehari-hari, pakan yang diberikan kepada ternak adalah pakan ala kadarnya. Dengan pelatihan dan pengembangan sumber daya masyarakat di bidang peternakan, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan skill peternak,” ungkap Sugiman.

Sugiman berharap, dengan diadakannya pelatihan dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi peternak dan masyarakat pada umumnya. Sugiman juga mengimbau agar kerjasama ini tetap berjalan dengan baik.

Pengmas IbM di Kecamatan Parengan Kabupaten Tuban diikuti oleh tujuh orang tim dan dua mahasiswa prodi D-3 Kesehatan Ternak. Untuk keberlanjutan program ini, akan dilakukan monitoring terhadap pertambahan berat badan sapi selama 30 hari pasca pelatihan. (*)

Editor : Binti Q. Masruroh

Isolat Sponge-6.1, Kandidat

Obat

Penghambat

Bakteri

’Streptococcus’

Pebabkan

’Pneumonia’

UNAIR NEWS – Indonesia sebagai negara kepulauan yang dikelilingi oleh perairan sangat luas, hampir 70%, dikenal memiliki biodiversitas yang tinggi karena terdapat berbagai jenis hewan, tumbuhan, dan terumbu karang yang tumbuh di wilayah perairan Indonesia. Kekayaan alam inilah yang

(7)

menggugah semangat anggota tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga melakukan penelitian mengenai sponge.

Isolat yang diberi nama Sponge-6.1 ini diharapkan dapat menjadi salah satu kandidat obat yang dapat berguna bagi bidang kesehatan Indonesia. Isolat Sponge-6.1 yang mengandung berbagai jenis zat aktif, seperti flavonoid dan senyawa lainnya diduga dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen misalnya Streptococcus pneumoniae.

Menurut Dina Lutfiana, Ketua Tim PKMPE ini, isolat Sponge-6.1 diyakini dapat dijadikan kandidat obat untuk menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus pneumoniae yang menyebabkan penyakit pneumonia.

“Kami berhipotesis bahwa isolat ini dapat menghambat

Streptococcus pneumoniae, karena saat Praktik Kerja Lapangan

(PKL), saya meneliti bahwa isolat Sponge-6.1 dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus sp., Staphilococcus sp., dan beberapa bakteri lain. Berawal dari hal inilah tim kami mengajukan proposal dan berhasil lolos untuk mendapat pendanaan dari Kemenristekdikti, dan penelitian bisa dilanjutkan,” katanya.

Selain Dina Lutfiana, tim ini juga beranggotakan Jefpry Supryanto Sianturi, William Khodry, Denika Liyan Nor Wibowo, dan Dwi Yulian Fahruddin.

Mereka melakukan penelitian bekerja sama dengan LIPI, dan dilakukan sekitar dua minggu di Laboratorium LIPI Bandung. Tahapan awal yang dilakukan dengan mengisolasi sponge, yang kebetulan sponge yang akan digunakan ada di lab LIPI itu, sehingga lebih memudahkan pengerjaan. Setelah mengisolasi

Sponge-6.1, penelitian dilanjutkan dengan menguji aktivitas

(8)

isolat. Dari penelitian panjang itu diperoleh hasil, yaitu isolat dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus

pneumoniae dengan pemberian pada konsentrasi tertentu.

Sebagai ketua kelompok PKM, Dina berharap isolat Sponge-6.1 itu dapat digunakan sebagai salah satu kandidat obat yang kelak dapat diproduksi, sehingga bisa memberikan manfaat pada dunia kesehatan.

“Sejauh ini penelitian kami telah sampai pada tahap pengujian kandungan metabolit sekunder dari isolat Sponge-6.1,” imbuh Dina, Jika kandungan metabolit sekunder yang ada pada isolat tersebut dapat diidentifikasi, maka dimungkinkan untuk melakukan sintesis senyawa sejenis untuk dijadikan obat

pneumoniae, sehingga tidak perlu mengganggu keseimbangan

ekosistem perairan. (*) Editor: Bambang Bes

Mahasiswa

UNAIR

Temukan

Solusi

Efektif

untuk

Osteoarthritis

UNAIR NEWS – Osteoarthritis merupakan kasus yang sering terjadi dan memiliki prevalensi cukup besar di dunia ini. Osteoarthritis merupakan suatu keadaan patologis yang melibatkan degenerasi pada tulang rawan artikular yang mendasari peradangan pada membran sinovial, sehingga mengakibatkan nyeri, gerakan sendi terbatas, deformitas dan disfungsi. Kerusakan tulang rawan ini biasanya disebabkan oleh cedera saat berolahraga, trauma saat kecelakaan, ataupun penuaan.

(9)

Sekelompok mahasiswa S-1 Teknik Biomedik Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga Surabaya berhasil menciptakan bahan yang dapat membantu dengan cepat mengatasi peradangan tulang rawan akibat degenerasi jaringan tulang rawan yang disebut Osteoarthritis.

Keberhasilan menemukan alternatif atas penanganan kasus Osteoarthritis itu kemudian dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE) ”Inovasi

Injectable Hydrogel Berbasis Chitosan-Hyaluronic Acid (HA)

sebagai Regenerasi Cartilage pada Kasus Osteoarthritis (OA).”

HIDROGEL siap disuntikkan kepada pasien Osteoarthritis. (Foto: Dok PKMPE)

Ketua Tim PKM-PE kelompok ini, Ainia Rahmah Aisyah mengabarkan, dibawah bimbingan dosennya, Dr. Prihartini Widiyanti, drg., M.Kes, proposal PKM-nya ini telah lolos pendanaan penelitian dari Kemenristekdikti pada program PKM tahun 2016-2017.

Dijelaskan oleh Ainia Rahmah, bahan yang biasa digunakan dalam penggantian tulang rawan seperti logam banyak menimbulkan reaksi, seperti infeksi maupun serangan dari respon imun tubuh

(Host), selain itu bahan logam yang baik harganya sangat

mahal.

Berangkat dari permasalahan inilah Ainia Rahmah Aisyah, Wilda Khilida Annaqiyah, Amalia Nur Hayati, Novita Putri Rahayu, dan

(10)

Ahda Nur Laila Nabilah mencari paduan bahan yang tepat dan efektif untuk penyembuhan Osteoarthritis.

”Selama ini, penanganan yang ada masih memerlukan proses lama melalui operasi dan bisa memakan waktu berjam-jam. Di sini kami mengupayakan penanganan berupa penyuntikan hidrogel langsung ke tempat yang dirasa nyeri, sehingga kondisi dapat langsung teratasi,” tutur Ainia.

Ainia juga menjelaskan bahwa hidrogel merupakan salah satu pilihan yang tepat untuk mengatasi Osteoarthritis, karena kompatibel dengan sel dan jaringan sekitarnya, sehingga dianggap sebagai bahan yang sangat cocok untuk matriks ekstraseluler (Extracellular Matrix/ECM) buatan untuk teknik jaringan.

”Harapan kami kedepannya, penelitian ini dapat lebih diperbaiki dan dikembangkan sehingga dapat benar-benar diimplementasikan pada penanganan pasien Osteoarthritis,” ujar Ainia Rahmah Aisyah menambahkan. (*)

Editor: Bambang Bes

“Jelly Exterminator Obesity”,

Terobosan

Baru

Minuman

Pendamping Diet Sehat Alami

UNAIR NEWS – Anda merasa gendut, chubby, gemuk, dan tumbuh ke samping? Kata-kata tersebut seakan sudah sering kita dengar. Biasanya kaum hawa sangat sensitif jika mendengar kata-kata tersebut. Dari gambaran tersebut tersirat bahwa tubuh ideal merupakan dambaan setiap orang, khususnya kaum perempuan.

(11)

Tampak cantik, tubuh ideal merupakan harapannya.

Dalam upaya ikut menstimulir menuju tubuh ideal seseorang, inovasi mahasiswa Universitas Airlangga menemukan produk minuman terobosan baru sebagai pendamping diet. Minuman tersebut dinamai ”Jelly Exterminator Obesity” (JLEB) sebuah minuman yang hadir dengan kemasan unik dan berbahan dasar lidah buaya yang tidak berbahaya bagi tubuh. Minuman pendamping diet ini bebas bahan pengawet dan tanpa menggunakan pemanis buatan.

Mahasiswa Universitas Airlangga yang terlibat dalam kreativitas ini adalah Revien Dwi Nuarinta, Parida Listiana, Rizka Anggraini, Dita Permatasari, dan Rahmandita Putri. Mereka kemudian menuangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKMK), dan telah lolos penilaian untuk memperoleh dana pengembangan dalam program PKM Kemenristekdikti tahun 2016-2017.

Dijelaskan oleh Revien Dwi Nuarinta, proses pembuatan JLEB ini tergolong mudah karena hanya memanfaatkan lidah buaya sebagai bahan utama yang bertekstur kenyal layaknya jelly yang dapat mengenyangkan walau tidak memakan nasi dalam porsi yang banyak. Rasa manis dalam produk ini didapat dari campuran gula dan madu. Komposisi gula dengan madu ini berfungsi sebagai salah satu cara untuk mendapatkan perpaduan rasa manis yang unik dan dapat mengurangi kadar kalori yang diserap tubuh.

Tim PKM JLEB ini telah memasarkan produknya ke berbagai kawasan di Kota Surabaya. Produk ini berpotensi menghasilkan keuntungan yang menjanjikan.

”Saat ini usaha minuman JLEB sudah mengumpulkan omzet sebesar Rp 1.500.000/bulan. Harapan kami kedepan, produk JLEB ini mampu berkembang dan dapat dipasarkan di berbagai daerah di Indonesia sehingga meluas seperti produk minuman populer lainnya,” ujar Revien, Ketua Tim PKM.

(12)

perkebunan di kawasan Kediri, sehingga untuk keberlanjutan proses produksi JLEB harus “gercep” istilah keren gerak cepat. Karena jika tidak begitu maka lidah buaya akan cepat membusuk. Selain itu, ketika produk ini sudah menjadi minuman dalam cup, maka juga harus segera dipasarkan supaya tidak basi.

Produk minuman JLEB ini tahan selama tiga hari diluar kulkas, dan tahan selama lima hari didalam kulkas. Masa konsumsi yang tergolong cepat ini dikarenakan produk JLEB tidak menggunakan pengawet buatan.

”Semoga adanya minuman ini membuka wawasan kita bahwa diet tidak harus dengan pil, senam ekstra, maupun bersikeras untuk tidak makan. Karena dengan mengonsumsi JLEB ini saja sudah mampu menggantikan kalori secara cukup yang dibutuhkan tubuh seseorang,” kata Revien. (*)

Editor: Bambang Bes

Sedang

Dikembangkan,

Metabolite Product Amniotic

Membrane Stem Cell untuk

Peremajaan Kulit

UNAIR NEWS – Teknologi stemcell terus berkembang di Indonesia. Baru-baru ini tim dokter dari Departemen Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga-RSUD Dr. Soetomo bekerja sama dengan Institute of Tropical Disease (ITD) UNAIR Surabaya sedang berinovasi mengembangkan penelitian produk r e j u v e n a t i o n ( p e r e m a j a a n k u l i t ) b e r b a h a n d a s a r metabolite product stem cell dari amnion.

(13)

Beberapa bulan terakhir, tim peneliti dari Departemen Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga-RSUD Dr. Soetomo, Surabaya sedang melakukan serangkaian tahap uji coba atas produk topikal yang mereka teliti.

Tim pengembang penelitian tersebut yaitu DR. Dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa. Sp.KK(K), FINS-DV, FAA-DV, dr. Dwi Murtiastutik, Sp.KK(K), FINS-DV, dr. Evy Ervianti, Sp.KK(K), FAA-DV, dr. Diah Mira, Sp.KK, dr. Irmadita Citrashanty, Sp.KK, dr. Febrina Dewi Pratiwi, dr. Zada Febrial, dan dr. Dewi Nurasrifah. Penelitian ini juga bekerjasama dengan Prof. Dr. Fedik Abdul Rantam, drh. dari ITD UNAIR serta didukung dana riset FK UNAIR.

Ditemui UNAIR NEWS, Cita mengungkapkan saat ini sedang dikembangkan metabolite product stem cell dalam bentuk topikal untuk peremajaan kulit yang berasal dari amnion. Serum ini dikembangkan untuk mengatasi dua kasus. Pertama, untuk meremajakan kulit yang mengalami penuaan dini (premature skin aging). Kedua, untuk mengobati luka kronis pada penderita kusta.

“Kemiripan kondisi luka kronis dan penuaan dini. Keduanya sama-sama terjadi disregulasi pada growth hormone, atau kekurangan beberapa unsur growth factor dan growth hormone. Pemberian produk topikal ini, diharapkan dapat memberikan efek peremajaan sel kulit dengan cepat,” ungkapnya.

Produk rejuvenation topikal yang sedang dikembangkan saat ini berbahan dasar metabolite product stemcell dari amnion. Amnion merupakan bagian dari plasenta. Penggunaan amnion ini tentu saja yang sudah tidak terpakai dan mendapat persetujuan dari pasien. Setelah melalui proses karakterisasi dan memastikan bahwa amnion yang digunakan telah memenuhi syarat tertentu untuk penjaminan keamanan, maka selanjutnya amnion di ambil sebagai bahan metabolite product stem cells.

(14)

ditemukan bahwa metabolite product stemcell yang berasal dari membran amnion lebih baik dibandingkan Platelet Rich Plasma maupun metabolite product stemcell yang berasal dari Peripheral Blood Mononuclear Cells, Umbilical cord, dan jaringan lemak,” ujar Cita.

Melihat kenyataan itu, Cita dan tim memutuskan untuk memilih amnion. Ia dan tim kemudian bekerjasama dengan Departemen Obstetri dan Ginekologi FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo.

Saat ini, problem penuaan dini semakin banyak ditemui. Banyak ditemui seseorang dengan wajah yang terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.

“Kita harus dapat membedakan antara menua dengan wajar, dengan menua secara dini. Misal seseorang yang berumur 50 tahun tampak seperti 70 tahun, itu namanya penuaan dini,” ungkapnya. Premature skin aging atau penuaan dini ini bisa disebabkan oleh banyak faktor. Gaya hidup serta pola manajemen stres amat berpengaruh dalam proses penuaan dini. Selain itu, paparan sinar ultra violet secara berlebihan tanpa proteksi krim tabir surya juga memicu penyebab penuaan dini.

“Sayangnya penggunaan sunblock maupun sunscreen belum membudaya secara merata pada masyarakat. Perlu edukasi pada masyarakat agar menyadari pentingnya sunblock untuk menangkal efek buruk sinar UV,” ungkapnya.

Untuk hasil maksimal, Cita bahkan menggabungkan metabolite product stemcell dengan menggunakan teknik micro needling, yaitu suatu teknik peremajaan kulit dengan memanfaatkan jarum-jarum berukuran mini. Jarum-jarum-jarum ini kemudian diaplikasikan pada wajah, setelah itu dilanjutkan dengan mengoleskan metabolite product stemcell.

“Kami coba bandingkan antara kelompok pasien yang wajahnya diterapi menggunakan metabolite produk stemcell dan micro needling, dengan kelompok pasien yang hanya diterapi dengan

(15)

micro needling tanpa dioles metabolite produk stemcell. Hasilnya, 20 pasien yang diberi metabolite produk stemcell dan micro needling menunjukkan hasil yang lebih memuaskan. Parameter perbaikan menggunakan Janus Methods yaitu tone, wrinkle, pigmen dan tekstur kulit,” ungkap Cita.

Pada dasarnya, teknik micro needling sudah berperan untuk peremajaan kulit. Karena teknik ‘mengamplas’ kulit wajah ini akan memberikan hasil akhir dimana kulit jadi lebih segar. Sementara penambahan unsur metabolite product stem cell, diharapkan dapat mempercepat proses peremajaan kulit. Sehingga, hasil yang diperoleh lebih optimal, khususnya dalam mengatasi problem penuaan dini.

Selain untuk tujuan estetika, rejuvenation serum ini juga ditujukan untuk mengatasi problem luka kronis pada penderita kusta.

“Pasien penderita kusta seringkali mengalami luka kronis di bagian telapak kaki. Luka tersebut sulit sekali disembuhkan. Kalaupun sembuh hanya sebentar, kemudian muncul lagi lukanya. Ini merupakan masalah bagi kami,” ungkapnya.

Setelah dilakukan penelitian, Cita dan tim mencoba membuktikan keampuhan metabolite product stemcell. Dari beberapa sampel luka, Cita membandingkan antara luka yang dioles dengan metabolite product stemcell dibandingkan dengan luka yang hanya diberi terapi standar selama tiga bulan.

“Ternyata kelompok metabolite product stemcell tidak mengalami luka kembali, sementara kelompok terapi standar ada yang mulai terjadi luka kembali,” ungkapnya.

Sejauh ini terbukti bahwa dibandingkan dengan pengobatan standar selama ini, pemberian metabolite product stemcell pada luka kronis berdampak lebih baik dalam mempercepat penyembuhan luka serta mencegah munculnya kembali luka. (*)

(16)

Editor : Binti Q. Masruroh

Laserpunktur, Harapan untuk

Kedaulatan

Bibit

Ternak

Indonesia

UNAIR NEWS – Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Prof. Dr. R. Tatang Santanu Adikara, MS, drh., yang baru dikukuhkan Rabu (24/5) lalu memiliki gagasan tentang pengembangan soft laser untuk titik-titik akupunktur pada h e w a n . G u r u B e s a r F K H a k t i f k e - 2 6 i t u m e n y e b u t n y a laserpunktur.

Laserpunktur temuan Prof Tatang ini berfungsi menentukan titik akupunktur yang bisa diterapkan pada makhluk hidup, utamanya hewan. Menurutnya, titik akupunktur bisa dilacak dengan listrik sekecil apapun. Jika ditekankan pada permukaan tubuh, saat laserpunktur berbunyi, maka disitulah letak titik akupunktur.

“Dengan catatan, seluruh permukaan (tubuh) harus kering ketika laserpunktur difungsikan,” ujar Tatang dalam konferensi pers pengukuhan guru besar Selasa (23/5).

Penemuan Tatang dan tim membuktikan, titik akupunktur itu jika dirangsang dengan energi antara 0,1-0,5 Joule akan menyebabkan terjadinya stimulasi. Sedangkan, jika rangsangan energi lebih besar dari 0,5 Joule, akan menyebabkan sedasi. Permainan stimulasi dan sedasi itulah yang dimanfaatkan untuk kepentingan pengobatan hewan atau perawatan kesehatan dan peningkatan produktivitas.

(17)

Selain di bidang kesehatan, laserpunktur dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan atau penggemukan ternak.

“Kami sudah mendapatkan titik akupunktur yang berhubungan dengan organ. Misalkan pada meridian atau pada titik organ paru-paru, jantung, dan lambung atau pencernaan, kita lakukan stimulasi, ternyata terjadi peningkatan berat badan,” ujar Prof Tatang.

Pada hewan, peningkatan tersebut cukup signifikan, yakni antara 0.9-1.00 kg per hari. Hal itu menunjukkan bahwa rangsangan atau stimulasi pada titik-titik akupunktur bisa meningkatkan pertumbuhan. Sedangkan untuk reproduksi, ternyata rangsangan pada titik akupunktur bisa meningkatkan hormon reproduksi, dan hal itu terjadi peningkatan yang signifikan. Prof Tatang memaparkan, ia dan tim telah mendirikan grup bernama Kelompok IPTEK Akupunktur Veteriner. Kegiatan yang dilakukan antara lain membantu pemerintah dalam upaya membesarkan dan menyehatkan ternak.

“Kita bisa bikin berahi massal, bunting massal, dan hamil massal. Karena kalau kita lakukan itu bisa juga diikuti dengan inseminasi dengan mengambil bahan sperma segar. Dibandingkan kawin secara alami, itu bisa untuk betina berahi sampai 500 ekor. Ini sesuatu yang efisien, walaupun kelihatannya masih belum dikembangkan secara formal,” tandasnya.

Terakhir, Prof Tatang dan melakukan tim dengar pendapat dengan komisi B DPRD Surabaya dan Dinas Peternakan Provinsi Jatim. Ia mengusulkan gagasan kedaulatan bibit. Sebab selama ini menurutnya, Indonesia belum memiliki kedaulatan teknologi. “Kita hanya sebagai perakit industri. Kita hanya sebagai peracik. Tidak ada pabrik yang betul-betul milik Indonesia yang menghasilkan produk Indonesia. Mungkin dulu pernah di zaman Pak Habibie, tapi tidak sempurna. Itu merupakan sesuatu bisa dilanjutkan,” tegasnya.

(18)

“Kita ingin ilmuwan dan mahasiswa kita di masa mendatang, bisa menciptakan kedaulatan dengan produk teknologinya,” tambah Prof Tatang.

Prof Tatang meyakini, teknik akupunktur bisa menghasilkan bibit yang bagus dan unggul. Sekaligus, bisa dikembangkan pada ternak lokal di Indonesia. Yang digunakan Prof Tatang terutama adalah ternak sapi Madura. Ia sudah melakukan prototipe. Hasilnya, berat badan sapi cukup bagus.

“Tinggal kita butuh provider DNA supaya nanti menjadi suatu produk kedaulatan bibit ternak Indonesia dengan fenotip dan genotip unggulan. Suatu saat kita nanti bisa menjadi eksportir ternak unggulan,” ungkap Prof Tatang mantap. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh Editor: Defrina Sukma S

Dosen Sastra Inggris Jadi

Salah Satu Pionir Riset Studi

Maskulinitas

UNAIR NEWS – Ranah studi maskulinitas menjadi suatu fokus penelitian yang masih jarang sekali diteliti. Hal tersebut diungkapkan oleh pakar gender Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Nur Wulan, Ph.D. Wulan, sapaan akrabnya, merasakan tantangan kesulitan menemukan referensi saat ia menyelesaikan disertasi sebelum tahun 2011 lalu.

“Saya tertarik dengan studi maskulinitas ini karena penelitian terkait maskulinitas sangat jarang untuk dilakukan. Kebanyakan peneliti lebih kepada studi perempuan baik feminisme maupun

(19)

femininitas. Isu mengenai laki-laki yang dipresentasikan sangat sedikit yang membahas,” tutur dosen Sastra Inggris itu. “Pada zaman 1980-an adalah rezim di mana femininitas dan gerakan feminisme sangat sering diperbincangkan di bumi bagian Barat. Mulai tahun 1960-an banyak gerakan feminisme di Barat. Hal ini memang membuat masyarakat lebih suka menguak bagaimana peran seorang perempuan dibandingkan laki-laki. Karena pada zaman itu, orang mulai sadar perempuan harus diberdayakan. Saatnya perempuan bergerak. Semangat itulah yang membawa situasi semangat para peneliti,” lanjutnya.

Meski masih jarang diteliti, ia berani mengambil tantangan untuk meneliti hal tersebut saat ia menyelesaikan pendidikan doktor di Universitas Sydney, Australia. Perempuan kelahiran Malang ini kemudian meneruskan fokus maskulinitas sampai saat ini.

Wulan mengatakan, sebagian besar orang masih belum menyadari kesetaraan laki-laki dan perempuan. Tak mungkin kesetaraan gender diperoleh jika hanya perempuan saja yang diberdayakan tanpa menyinggung maskulinitas.

“Percuma saja jika tidak menyentuh ranah itu, karena sampai sekarang yang membuat kebijakan adalah kaum laki-laki. Perubahan nasib seorang perempuan bisa terjadi jika didukung dengan perubahan kebijakan,” papar pengajar Studi Asia Tenggara ini.

Terkait sumber penelitian yang masih sedikit, peneliti yang berkecimpung dalam studi maskulinitas harus menjadi pioner bagi peneliti yang akan datang, karena minimnya jumlah peneliti di bidang tersebut di Indonesia.

“Istilahnya seperti babat alas. Masih pionir dan harus memberi arahan yang tepat untuk penelitian selanjutnya,” tutur Wulan yang saat ini sedang meneliti tentang representasi maskulinitas pada sastra anak Indonesia sejak masa kolonial sampai masa reformasi.

(20)

Ditanya soal tujuan pencapaian dari hasil risetnya, master lulusan Universitas Auckland ini menuturkan, adalah kesadaran kaum lelaki untuk mendukung kesejahteraan perempuan.

Dalam prosesnya, Wulan juga menggandeng banyak pihak antara lain peneliti maskulinitas, dan mahasiswanya untuk terlibat dalam aktivitas penelitiannya.

Penulis: Ainul Fitriyah Editor: Defrina Sukma S

Kini, Ekstrak Eugenol Daun

Kemangi Bisa Bius Ikan Nila

UNAIR NEWS – Berbekal keilmuannya selama kuliah, lima mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga mengekstraksi eugenol daun kemangi (Ocimum

citriodorum) untuk membius ikan nila (Oreochromis niloticus).

Manfaatnya, ekstraksi tersebut bisa menjadi anestesi yang ramah lingkungan.

Kelima mahasiswa yang memiliki inovasi tersebut adalah Nila Dian Margareta, Masfiatus Sholikhah, Kartika Yulita Damayanti, Arinda Fadilah Anggi, dan Tenry Nesya Almira Hartono.

Mereka menuangkan gagasan tersebut dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa– Penelitian (PKM–PE) berjudul “Ekstraksi Eugenol pada Daun Kemangi (Ocimum citriodorum) sebagai Anestesi Ikan Nila yang Ramah Lingkungan (Eksis Tenar).

“Kandungan utama pada minyak atsiri ini adalah eugenol. Daun kemangi mengandung eugenol tinggi sebanyak 61,2 persen sebagai komponen antibakteri dan kandungan fenolik lain seperti metal

(21)

eugenol dan carvacrol,” tutur Nila.

Nila mengatakan, umumnya bahan anestesi alami merupakan bahan kimia organik hasil metabolit sekunder jenis senyawa saponin dan rotenone. Kali ini, ia dan timnya yang berada di bawah bimbingan Dr. Laksmi Sulmartiwi, S.Pi, MP, meneliti konsentrasi pemberian ekstrak eugenol minyak atsiri sebagai bahan anestesi pada ikan nila stadia benih.

Dalam penelitiannya, ia menggunakan uji statistika deskriptif, homogenitas, anova, post hoc test, dan homogenous. Berdasarkan hasil uji yang telah mereka lakukan, konsentrasi minyak atsiri daun kemangi yang diberikan sebagai anastesi berpengaruh nyata terhadap mortalitas benih ikan nila.

“Berdasarkan uji homogeneous, konsentrasi terbaik diperoleh dengan dosis minyak atsiri daun kemangi sebesar 25ppt dan 50ppt,” terang Nila.

Editor: Defrina Sukma S

Mahasiswa UNAIR Ubah Kulit

Pisang Jadi ’Bapeelon Tea’,

Minuman Segar Antioksidan

UNAIR NEWS – Kreativitas mahasiswa Universitas Airlangga terus mengalir. Kali ini, limbah kulit buah pisang yang ternyata memiliki kandungan antioksidan lebih tinggi dari daging buahnya, sehingga diinovasi oleh mahasiswa UNAIR menjadi minuman menyegarkan antioksidan. Diberi nama cukup menarik,

Bapeelon Tea kependekan dari Banana Peel and Cinnamon Tea.

(22)

Farmasi UNAIR Dian Retno, Alistya Rizky, Alfis Zahroh, Lia Ahyuni, dan Istianah. Keberhasilan ini kemudian dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKMK), dan telah lolos dari penilaian Dikti untuk memperoleh dana dari program PKM Kemenristekdikti tahun 2016-2017.

Latar belakang dipilihnya kreativitas ini, menurut Dian Retno, ketua Tim PKMK ini, karena buah pisang di Indonesia ini cukup berlimpah. Sedang kebanyakan yang diolah selama masih pada buah pisangnya, sehingga meninggalkan banyak limbah kulit pisang. Padahal kulit pisang tersebut memiliki antioksidan yang lebih tinggi dari daging buahnya.

Mengutip penelitian Someyaet al. (2002) bahwa kulit pisang mengandung aktivitas antioksidan yang tinggi dibanding daging buahnya. Senyawa antioksidan flavoniod yang terkandung berupa

katekin, galokatekin, dan epikatekin. Sehingga kulit pisang

memiliki potensi sebagai bahan pangan dengan antioksidan tinggi.

SEORANG anak dan remaja memperebutkan Bapeelon Tea (Foto : Dok Tester Bapeelon Tea)

(23)

Padahal mengonsumsi bahan pangan yang antioksidan tinggi diantaranya dapat menghambat penurunan fungsi sel, jaringan dan organ tubuh. Sehingga dapat mencegah dan menurunkan penyakit degeneratif seperti kanker, jantung, dan stroke. Penyebab penyakit degeneratif itu disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat dan pola makan yang tidak tepat. Misalnya aktivitas yang tinggi, konsumsi makanan cepat saji, merokok, polusi udara, dan minuman beralkohol.

Diterangkan oleh Dian, produksi Bapeelon Tea ini cukup praktis. Pertama memilih dan mencuci kulit pisang. Lalu bagian dalam kulit pisang dipilih/diambil, dan dikeringkan dengan oven. Kulit yang sudah kering tersebut lantas dibuat serbuk, lalu diseduh bersama serbuk kayu manis. Sentuhan akhir diberi gula secukupnya dan Bapeelon Tea siap dikemas dan dikonsumsi. Dikatakan, minuman ini cocok untuk kalangan segala umur, mulai dari anak-anak hingga dewasa dapat menikmati kesegaran

Bapeelon Tea. Apalagi saat seseorang menjalankan puasa, Bapeelon Tea sangat cocok untuk dikosumsi saat berbuka puasa.

”Selain menyehatkan, minuman ini harganya relatif murah. Cukup dengan harga Rp 5.000 sudah dapat memperoleh minuman segar isi 300 ml Bapeelon Tea dalam kemasan botol,” kata Dian.

Meski usaha ini baru berjalan, lanjut Dian Retno, namun dalam produksi tahap pertama sudah cukup memuaskan. Dengan membuka pesan order pertama pada tanggal 5 Juni lalu, dimana pesan order ditutup hari itu juga, mendapatkan pemesanan 50 buah. Hal ini menunjukkan bahwa banyak konsumen yang antusias terhadap Bapeelon Tea.

”Saat ini kami telah membuka pemesanan Bapeloon tea untuk order yang kedua dengan pemesanan melalui Instagram dengan id

bapeelon_tea dan melaui line dengan id @acb7223s. (*)

Referensi

Dokumen terkait