• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pesan liberalisme dalam situs www.islamlib.com: analisis wacana pendekatan Norman Fairclough dalam karya Ulil Abshar Abdala periode 2002-2016.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pesan liberalisme dalam situs www.islamlib.com: analisis wacana pendekatan Norman Fairclough dalam karya Ulil Abshar Abdala periode 2002-2016."

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

PESAN LIBERALISME DALAM SITUS WWW.ISLAMLIB.COM

(Analisis Wacana Pendekatan Norman Fairclough dalam Karya Ulil Abshar Abdala Periode 2002-2016)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Guna Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Memperoleh

Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom)

Oleh :

Arya Raghil Prayitno NIM.B76213059

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

JURUSAN KOMUNIKASI

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

viii

ABSTRAK

Arya Raghil Prayitno, B76213059, 2017. Pesan Liberalisme Dalam Situs www.islamlib.com (Analisis Wacana Pendekatan Nourman Fairclough dalam Karya Ulil Abshar Abdala Periode 2002-2016).Skripsi.Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya.

Kata Kunci : Pesan Liberalisme, Karya Ulil Abshar Abdala, Norman Fairloucgh, www.islamlib.com

Perang pemikiran menjadi tema utama yang jika dibahas dalam diskusi-diskusi atau artikel-artikel ilmiah masih membingungkan bagi kalangan awam, apa itu liberal?, dalam setiap tema, artikel-artikel ini secara lugas menyatakan tentang perang pemikiran umat Muslim di dunia, khususnya di Negara kita Republik Indonesia, dan yang paling terpenting isu Mahasiswa sebagai manufer perkembangan paham liberal tidaklah menjadikam regenerasi masa depan yang enggan dengan ideology serta pemikiran Islam sesuai syari’at Al- Qur’an dan hadits. Perang ini sangat tersembunyi, sampai-sampai kita tidak sadar bahwa setiap saat kita bisa menghadapinya ataupun menjadi korbannya.

Peneliti menggunakan pendekatan analisis teks media Norman Fairlogh dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Ada 105 artikel dengan beberapa kolom dari tulisan 2002 sampai 2016 yang di post oleh Ulil Abshar Abdala. Sebagai instrumen penelitian, peneliti menggunakan metode representasi serta dokumentasi. Dari data yang terkumpul kemudian peneliti menggunakan teori Norman Fairclough atas dasar representasi, relasi dan identitas sebagai ukuran pesan liberalisme dan mengkonfirmasinya dengan teori kontruksi sosial.

(7)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA PENULISAN SKRIPSI ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Fokus Penelitian ... 5

C. Tujuan Masalah ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

E. Kajian Penelitian Terdahulu ... 6

F. Definisi Konsep Penelitian ... 8

G. Kerangka Pikir Penelitian ... 11

H. Metode Penelitian... 14

I. Sistematika Pembahasan ... 24

BAB II : KAJIAN PESAN LIBERALISME A. Pesan Liberalisme ... 25

B. Bentuk- bentuk Liberalisme ... 29

C. Katagori Paham Liberalisme ... 38

D. Metode Analisis Wacana Norman Fairclough ... 45

BAB III : KAJIAN DATAPESAN LIBERALISME A. Deskripsi Subjek Penelitian ... 52

B. Diskripsi Data Penelitian Pendekatan Norman Fairclough ... 59

BAB IV : ANALISIS DATA PESAN LIBERALISME A. Temuan Pesan Liberalisme Dalam Karya Ulil Abshar Abdala ... 98

B. Konfirmasi Data Dengan Teori Norman Fairclough ... 99

BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 109

B. Rekomendasi ... 112 Daftar Pustaka

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitian

Dalam diri seseorang atau individu mempunyai sifat, kebiasaan, temperamen, watak, dan kepribadian tersendiri yang unik dan berbeda, sehingga tingkah lakunya dan gaya yang dimiliki mampu membedakan dirinya dengan orang lain atau yang disebut dengan identitas. Dan tak pelak kadang seseorang ingin tampak berbeda dengan individu yang lain sehingga identitas dirinya lebih menonjol dari pada orang lain. Sehingga individu tersebut akan selalu berusaha membangun atau mengkonstruks identitasnya melalui berbagai macam cara. contoh kecil, melalui cara dia berpakaian, berjalan, berbicara, sampai cara individu tersebut berpendapat atau bahkan melaui cara individu tersebut mengambil keputusan. Entah melalui teks yang berwujud tulisan yang tentunya tulisan-tulisan tersebut membawa pesan melalui peng-kode-an yang mana ‘kode’ tersebut adalah seperangkat simbol yang telah disusun secara sistematis dan teratur sehingga memilki arti.1

“Setiap agama memulai karirnya sebagai kepercayaan minoritas. Tak ada agama yang begitu lahir ujug-ujug menjadi agama besar. Ia pastilah akan bermula dengan sejumlah pengikut yang kecil jumlahnya setelah itu, ada agama yang sukses meraih pengikut besar lalu menjadi agama mayoritas tetapi juga ada agama gagal meraih banyak pengikut sehingga hanya menjadi agama minoritas atau bahkan punah”.2

Representasi penulis diatas mengedepankan pemikiran transendental, dimana zaman sekarang paham liberal menjadi paham yang oleh sebagian umat Islam diakui,

1

Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis dan Framing, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), 10.

2

(9)

2

bahwa paham liberal ini adalah agama yang objektif di zaman masa kini namun juga ada yang mengeklaim paham liberal sebagai agama komunis.

“A prophet is not without honor, but in his own contry, and among his own kin,

and his own house” (KJB) seorang nabi dihormati dimana-mana kecuali ditempat asalnya sendiri diantara kawan keluarganya dan dirumahnya” (markus 6: 4).3

Alasan yang diprioritaskan bahwa paham liberal tidak kuno dan menyesuaikan keadaan pada zaman saat ini. Hidup manusia memang tidak pernah puas dan selalu menginginkan yang lebih mudah dari pada yang sulit untuk dilakukan. Walaupun agama Islam ialah agama yang mudah. Namun pada dewasa kini justru menjadi titik kehidupan yang harus mempelajari berbagai macamnya tendensi paham-paham yang masuk ke negara Indonesia, entah itu ideologi kiri sebagai paham transendental atau ideologi kanan menjadi sebagai manusia yang berbudi luhur berimplementasi manusia berbasis Al-Qur’an dan Hadist. Setiap insan harus bisa membedakan takdir “mabruk” (yang tidak bisa dirubah) dan juga takdir “mu’allaq” (yang masih bisa dirubah) “Sesungguhnya sesuatu yang dikehendakiNya, apabila Allah telah menghendaki sesuatu itu, jadi, maka terjadilah” (Q.S. Yasin: 82). Sosok tokoh paham liberal ini adalah manusia cendekiawan serta pengetahuan tentang agama yang mengesankan namanya dikancah nasional bahkan internasional, karena media yang dia gunakan bukan cuma dari web namun juga di jejaring media sosial dan ini juga yang menjadi strategi komunikasi persuasif yang segmentednya berbau kepentingan untuk mendekati para remaja dan pemuda di semua sektor dan dimanapun mereka bertempat tinggal.

3

(10)

3

“Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian” (Q.S. Al-Ashr: 02). Dalam dewasa kini berbagai banyak hal yang tidak bisa, semuanya pasti bisa terjadi, mungkin begitulah anggapan dalam memperdebatkan hidup yang dituntut untuk menjadi seorang yang sukses. Bahkan segala carapun dihalalkan. Sungguh menghawatirkan, apalagi kalau sampai doktrin pendidikan yang dipelajari mengarahkan pada orientasi persaingan. Jika ini terjadi kehidupan manusia tidak ada lagi toleransi sosial, tidak saling menghargai sesama, tidak saling menghormati sesama ubudiyah dan tidak ada lagi silaturrahim antar sesama. Na’udzubillah.

“Maha suci engkau ya Allah, tak ada ilmu bagi kami selain dari apa yang telah engkau ajarkan kepada kami, Sesungguhnya Engkau adalah Tuhan yang senantiasa mengetahui lagi maha bijaksana” (Q.S. Al-Baqarah: 32). Tetapi yang sangat berpengaruh sebenarnya ialah bergantung pada individu sendiri. Pabila tatanan dan keyakinan yang dipercaya sangat mendasar (Tauhid), maka akan menjadi kekuatan iman dan niat ketulusan suci dan besar. Kata “individu” berasal dari kata latin yakni Individum, yang berarti “yang tak terbagi”, jadi merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan tebatas, individu dalam hal ini adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas di dalam lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik tentang dirinya. Akan tetapi dalam banyak hal ada pula persamaan disamping hal-hal yang spesifik tentang dirinya dengan orang lain.4 Manusia tidaklah sama antar satu dengan yang lainnya begitu juga dalam masalah sosial yang dihadapi oleh setiap masyarakat, hal ini disebabkan perbedaan tingkat perkembangan kebudayaan dan masyarakatnya, serta keadaan lingkungan alam

4

(11)

4

tempat manusia hidup. Masalah tersebut terwujud sebagai masalah sosial, moral, politik, ekonomi, agama dan lain-lain. Namun yang membedakan masalah sosial dari masalah lainnya adalah bahan masalah sosial selalu berkaitan dengan nilai moral dan pranata sosial, serta selalu berkaitan dengan hubungan manusia.

Istilah “liberalisme”, dari kata Latin “liber” yang berarti “bebas”, merujuk pada falsafah kebebasan.5 Yang sebagaimana artikel-artikel ini cukup berani dengan mengangkat tema-tema “Liberalisme”. Perang pemikiran menjadi tema utama yang jika dibahas dalam diskusi-diskusi atau artikel-artikel ilmiah masih membingungkan bagi kalangan awam, apa itu liberal?, dalam setiap tema, artikel-artikel ini secara lugas menyatakan tentang perang pemikiran umat Muslim di dunia, khususnya di negara Republik Indonesia, dan yang paling terpenting isu Mahasiswa sebagai manufer perkembangan paham liberal tidaklah menjadikam regenerasi masa depan yang enggan dengan ideology serta pemikiran Islam sesuai syari’at Al- Qur’an dan hadist. Perang ini sangat tersembunyi, sampai-sampai tidak sadar bahwa setiap saat bisa menghadapinya ataupun menjadi korbannya. Peneliti menemukan ada 105 artikel yang Ulil Abshar Abdala tulis dengan beberapa kolom mulai dari 2002 sampai 2016. Dan tidak sekedar dalam tulisan artikel ini Ulil Abshar Abdala menyinggung soal kehidupan dengan kacamata paham liberalisme. Peneliti mengharapkan paling tidak sedikit banyak belajar memahami ilmu tentang liberal untuk bermusahabah, muraqabah dan mujahada pada yang maha kuasa Allah SWT. Walaupun esensi kebenaran hanyalah milik YME semata, namun memahami paham pemikiran baru bukanlah upaya semata-mata untuk perdebatan, dan juga bagaimana seharusnya bisa memetakan pemahaman yang baik sesuai dengan keyakinan.

5

(12)

5

B. Fokus Penelitian

Adapun fokus penelitian ini ialah:

1. Bagaimana realitas tentang pesan liberalisme dalam artikel Ulil Abshar Abdala? 2. Bagaimana bahasa yang digunakan oleh Ulil Abshar Abdala dalam

mengembangkan wacana paham liberalisme dan apa fungsi dari bahasa bersangkutan?

3. Simbol-simbol pesan apa dan bagaimana yang dilakukan oleh Ulil Abshar Abdala dalam megembangkan wacana tentang paham liberalisme?

C. Tujuan Penelitian

1. Menjelaskan realitas tentang pesan liberalisme dalam artikel karangan Ulil Abshar Abdala.

2. Mengurai bahasa yang digunakan oleh Ulil Abshar Abdala dalam mengembangkan wacana paham liberalisme dan apa fungsi dari bahasa bersangkutan.

3. Merepresentasikan simbol-simbol pesan apa dan bagaimana yang dilakukan oleh Ulil Abshar Abdala dalam mengembangkan wacana tentang paham liberalisme. D. Manfaat Penelitian

1. Teoritis

(13)

6

dan menentukan keyakinan beragama, baik bagi peneliti sendiri maupun oleh mahasiswa lainnya.

2. Praktis

Hasil penelitian berguna menjadi barometer bahan rujukan dalam kehidupan muslim yang semakin berputarnya zaman semakin banyak berbagai macam-macam perpecahan golongan. Khususnya dalam Universitas Negeri Islam UIN Sunan Ampel Surabaya sendiri dan makna yang di artikan dapat menjadi cerminan untuk memumpuni ilmu dalam berinteraksi sosial dengan efektif. Secara otomatis hal ini juga bisa menjadikan pelajaran agar berhati-hati dalam bergaul, memilih teman serta dalam menilai seseorang dan juga diharapkan dalam penelitian ini menjadi salah satu dampak pada pengembangan secara operasional agar mewaspadai tergelincirnya keyakinan, kesepahaman, serta bisa mengarahkan pemikiran yang ideal dalam pengembangan teologi mahasiswa muslim.

E. Kajian Hasil Penelitian Terdahulu

Pertama, dengan Judul: Pandangan Greg Barton tentang Islam Liberal dan Eksistensi Politik Islam di Indonesia (Studi Pemikiran Nurcholis Madjid dan Abdurrahman Wahid)6 yang diteliti oleh M. Syafi’i (C33205011), Institut Agama Islam Negeri Sunan ampel Surabaya. Adapun persamaan dengan penelitian ini sama meneliti paham dan pemikiran tokoh liberalisme yang genrenya ialah sama-sama dakwah dalam mensyiarkan intelektualitas pemikiran agama Islam. Dalam kajiannya secara esensial penelitian ini sama-sama menafsirkan nilai-nilai pesan intelektual cyber dalam perubahan zaman yang selalu tidak ada habisnya.

6

(14)

7

Sedangkan perbedaan dengan penelitian ini ialah memiliki sudut pandang yang berbeda, selain itu juga rule penelitian yang berbeda dengan penelitian sebelumnya, serta penelitian sebelumnya meneliti mengenai nilai-nilai dakwah yang terdapat dalam pesan dakwah dalam pemikiran Nurcholis Madjid dan Abdurrahman Wahid. Selain itu menggunakan pendekatan Greg Barton yang relevansinya mengarah ke tinjauan politik. Sedangkan penelitian ini difokuskan pada paham liberal dalam Artikel Ulil Abshar di www.islamlib.com dengan menggunakan pendekatan analisis wacana Norman Fairlough.

Kedua, dengan Judul : Analisis Wacana Konsep Agama Privat dan Publik Ulil Abshar Abdala serta implikasinya terhadap Dakwah.7 Yang diteliti oleh Moh Anhar (1199140), Fak.Dakwah IAIN Walisongo. Adapun Persamaannya ialah Sama-sama meneliti paham dan pemikiran tokoh liberalisme juga tokoh yang di telitipun sama yaitu Ulil Abshar Abdallah. Sama meneliti artikel, juga sama menggunakan teori analisis wacana. Secara esensial penelitian ini sama-sama menafsirkan nilai-nilai pesan intelektual Islam masa kini dalam perubahan zaman yang selalu tidak pernah bosan selalu diperbincangkan. Sedangkan yang menjadi pembeda dengan penelitian penelitian sebelumnya ialah penelitian ini memiliki focus hanya meneliti artikel Ulil Abshar Abdala yang berada di w.w.w.islamlib.com dalam periode 2002-2016. Juga pendekatan yang digunakan berbeda yang sebagaimana penelitian terdahulu menggunakan pendekatan Teun Van Dijk yang melingkupi analisis teks, analisis kognisi sosial, dan analisis sosial sedangkan penelitian ini menggunakan pendekatan

7

(15)

8

Norman Fairclough yakni dengan menempatkan wacana sebagai praktik sosial yang karenanya melihat wacana paham liberal yang dikembangkan Ulil Abshar Abdallah.

F. Definisi Konsep

Perlunya untuk memahami lebih signifikan tentang perihal yang diteliti membutuhkan pernyataan berkenaan dengan apa yang di teliti. Hal ini terurai sebagai berikut:

1. Pesan liberalisme Ulil Abshar Abdala

Liberalisme Ialah salah satu konsep untuk memahami gejolak pemikiran-pemikiran kontemporer. Istilah “liberalisme”, dari kata Latin “liber” yang berarti “bebas”, merujuk pada falsafah kebebasan.8 liberalisme adalah paham yang berusaha memperbesar wilayah kebebasan individu dan mendorong kemajuan sosial. Liberalisme merupakan paham kebebasan, artinya manusia memiliki kebebasan atau kalau di lihat dengan perspektif filosofis, merupakan tata pemikiran yang landasan pemikirannya adalah manusia yang bebas. Bebas, karena manusia mampu berpikir dan bertindak sesuai dengan apa yang di inginkan. Liberalisme adalah paham pemikiran yang optimistis tentang manusia. Prinsip-prinsip liberalisme adalah kebebasan dan tanggung jawab. Tanpa adanya sikap tanggung jawab tatanan masyarakat liberal tidak akan pernah terwujud. Namun dermikian liberalisme bukan berarti tanpa kritik, tetapi walaupun demikian ia merupakan pilihan yang paling logis di dunia politik dewasa ini. Salah satu agenda liberalisme adalah mengandalkan rasio dan kesadaran sosial para individu untuk menunaikan kewajiban- kewajibannya.

8

(16)

9

Selain itu, ia juga mengandalkan pembangunan mandiri masyarakat tanpa intervensi yang berlebihan dari negara.9

Mungkin bagi umat Islam tidak asing lagi perihal liberalisme di Indonesia. Begitu juga tokoh liberalisme (Ulil Abshar Abdala) yang umat Islam sendiri pasti sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Wacana dan karya-karyanya sangat diakui sebagai kaum modernitas esensial. Namun sampai saat ini tidak menyadari bahwa prilaku apa saja dan bagaimana dalam liberalisme. Sering dibilang orang lain itu liberal tapi tidak paham batasan-batasan prilaku dan macam-macam paham liberalisme. Dalam penelitian ini peneliti akan menguraikan sudut pandang tokoh liberalisme dalam mengupayakan dapat megetahuinya.

2. Situs www.islamlib.com

Adalah forum terbuka untuk membahas dan menyebarluaskan konsep liberalisme Islam di Indonesia. Prinsip yang dianut oleh Jaringan Islam Liberal yaitu Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. "Liberal" di sini bermakna dua: kebebasan dan pembebasan. Jaringan Islam liberal percaya bahwa Islam selalu dilekati kata sifat, sebab pada kenyataannya Islam ditafsirkan secara berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirnya. Jaringan Islam Liberal memilih satu jenis tafsir, dan dengan demikian satu kata sifat terhadap Islam, yaitu "liberal". Sebagaimana jargonya human right, freedom, local wisdom (HAM, kebebasan dan kearifan lokal).

Di dalam web ini banyak wacana yang sepaham aliran liberalisme yang acap kali sebagian umat islam membuka dan membacanya. Wacana ini memuat dari berbagai tokoh Islam yang sepaham. Dari berbagai etnis dan daerah sampai manca Negara.

9

(17)

10

3. Analisis Wacana Norman Fairlougch

Secara singkat dapat dinyatakan bahwa analisi wacana (discourse analysis) adalah suatu cara untuk metode untuk mengkaji wacana (discourse) yang terdapat atau terkandung di dalam pesan-pesan komunikasi baik secara tekstual maupun kontestual. Analisis wacana berkenan dengan isi pesan komunikasi, yang sebagian diantaranya berupa teks, seperti naskah pidato, transkip sidang atau perdebatan di forum sidang parlemen, artikel yang termuat disurat kabar, buku-buku (essay, novel, roman) dan iklan kampanye umum.

Analisis wacana memungkinkan dilihat bagaimana pesan-pesan diorganisasikan, digunakan dan dipahami. Di samping itu, analisi wacana juga dapat memungkinkan dilacak variasi dengan cara yang digunakan oleh komunikator (penulis, pembicara, sutradara) dalam upaya mencapai tujuan atau maksud-maksud

tertentu melalui pesan-pesan berisi wacana-wacana tertentu yang disampaikan.10

Dalam penelitian ini menganalisis wacana pesan liberalisme dalam karya ilmiah tokoh Islam Ulil Absar Abdala dengan menggunakan analisis wacana Norman Fairclough.

10

(18)

11

G. Kerangka Pikir Penelitian

Gambar.1. Kerangka Pikir

Istilah konstruksi realitas menjadi terkenal sejak diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckman melalui bukunya The Sosial Construction of Reality: A Treatise in The Sociological of Knowledge, yang kemudian diterbitkan dalam edisi bahasa Indonesia dengan judul tafsir sosial atas kenyataan: Risalah tentang sosiologi pengetahuan (1990).

Dalam buku tersebut digambarkan proses sosial melalui tindakan dan interaksinya, dimana individu secara intens menciptakan suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif.11 Menurut Berger dan Luckman (1990) realitas sosial di kontruksi melalui proses eksternalisasi, obyektivasi dan internalisasi: (1) Eksternalisasi, yaitu usaha pencurahan atau ekspresi diri manusia ke dalam dunia, baik dalam kegiatan mental maupun fisik. Proses ini merupakan bentuk ekspresi diri untuk menguatkan eksistensi individu dalam

11

Alex Sobur, Analisis Teks Media, Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik dan Analis Framing (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), 91.

Pesan Liberalismee Analisis Wacana Situs www.islamlib.com

Realita Bahasa Simbol

(19)

12

(20)

13

realitas subyektif adalah realitas yang terbentuk sebagai proses penyerapan kembali realitas obyektif dan simbolik ke dalam individu melalui proses internalisasi. Menurut Mc. Nair suatu peristiwa, termasuk peristiwa politik memiliki 3 kategori realitas, yakni: Pertama, Realitas politik obyektif, yaitu realitas yang ditampilkan sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kedua, realitas politik subyektif, yaitu realitas yang dipersepsikan oleh khalayak atau aktor politik itu sendiri. Ketiga, realitas politik yang dikonstruksi, yaitu realitas yang juga subyektif tapi dicover melalui media.

Media pada hakekatnya adalah mengkontruksi realitas. Isi media adalah hasil para pekerja media mengkonstruksikan berbagai realitas yang dipilihnya, di antaranya realitas politik. Dengan demikian, isi media pada hakekatnya adalah hasil konstruksi realitas dengan bahasa sebagai perangkat dasarnya. Bahasa bukan saja sebagai alat merepresentasikan realitas, namun juga bisa menentukan relief seperti apa yang akan diciptakan oleh bahasa tentang realitas tersebut. Akibatnya, media massa mempunyai peluang yang sangat besar untuk mempengaruhi makna dan gambaran yang dihasilkan dari realitas yang dikonstruksikannya. Bagi media bahasa bukan sekedar alat komunikasi untuk menyampaikan fakta, informasi atau opini. Bahasa juga bukan sekedar alat komunikasi untuk menggambarkan realitas, namun juga menentukan gambaran atau citra tertentu yang hendak ditanamkan kepada publik.

(21)

14

yang lain. Individu menjadi penentu dalam dunia sosial yang dikonstruksi berdasarkan kehendaknya. Individu bukanlah korban fakta sosial, namun sebagai media produksi sekaligus reproduksi yang kreatif dalam mengkonstruksi dunia sosialnya.12 Menurut teori ini Suatu proses pemaknaan yang dilakukan oleh setiap individu terhadap lingkungan dan aspek diluar dirinya terdiri dari proses eksternalisasi, internalisasi dan obyektivasi. Eksternalisasi adalah penyesuaian diri dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia, obyektivasi adalah interaksi sosial dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi, dan internalisasi adalah individu mengidentifikasi diri ditengah lembaga-lembaga sosial dimana individu tersebut menjadi anggotanya. Istilah konstruksi sosial atas realitas (sosial construction of reality) di definisikan sebagai proses sosial melalui tindakan dan interaksi dimana individu menciptakan secara terus-menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif.13

H. Metode Penelitian

a. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Metode penelitian adalah suatu cara atau teknis yang dilakukan dengan upaya untuk memperoleh fakta-fakta dan prinsip dengan sabar, hati-hati dan sistematis untuk mewujudkan kebenaran dalam bidang ilmu pengetahuan. Adapun metode yang digunakan dalam metode ini adalah pendekatan kualitatif, yakni suatu metodologi atau prosedur penelitian yang menurut Bogdan dan Taylor akan menghasilkan data deskriptif yang diarahkan pada latar atau individu secara utuh (holistik).14 Yakni

12

Basrowi dan Sukidin, Metode Penelitian Perspektif Mikro: Groundedtheory, Fenomenologi, Etnometodologi, Etnografi, Dramaturgi, Interaksi Simbolik, Hermeneutik, Konstruksi Sosial, Analisis Wacana, dan Metodologi Refleksi, ( Surabaya: Insan Cendekia, 2002), 194.

13

Margareth Poloma,“Sosiologi Kontemporer”, (PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004), 301. 14

(22)

15

sebuah metode atau prosedur penelitian menghasilkan data deskriptif dengan diarahkan pada latar belakang individu secara utuh atau menyeluruh (holistik) disebut dengan kualitatif.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan secara garis besar penelitian ini menggunakan pendekatan kritis. Pendekatan kritis menurut peneliti sangatlah penting, karena teks yang terdapat di media massa bukan sekedar untuk dikonsumsi atau ditelan begitu saja. Akan tetapi, teks dibaca untuk dicerna lebih dalam agar pembaca tidak begitu saja mudah terhegemoni oleh teks media massa. Peneliti memilih pendekatan wacana kritis yang ditawarkan oleh Norman Fairclough. Norman fairclough yang menawarkan teori wacana kritis perubahan sosial (Sosiocultural Change Approach). Dimana wacana disini dipandang sebagai praktik sosial. Dengan memandang wacana sebagai praktik sosial, maka ada hubungan dialektis antara praktik diskursif tersebut dengan identitas dan relasi sosial. Wacana juga melekat pada situasi, instuisi dan kelas sosial tertentu. Memaknai wacana demikian, menolong dan menjelaskan bagaimana wacana dapat memproduksi dan mereproduksi status quo dan menstransformasikannya.15

Sedangakan jenis penelitian yang digunakan adalah analisis wacana. Eriyanto mendifinisikan analisis wacana sebagai suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subjek yang mengemukakan suatu pernyataan. Wacana merupakan praktik sosial (mengkonstruksi realitas) yang menyebabkan sebuah hubungan dialektis antara peristiwa yang diwacanakan dengan konsteks sosial, budaya, ideologi tertentu. Disini bahasa dipandang sebagai faktor penting untuk mempresentasikan maksud pembuat wacana.16

15

Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LKIS, 2006), 17.

16

(23)

16

Dalam analisis wacana ini peneliti mengindentifikasi teks tertentu untuk diteliti secara cermat. Sementara Analisis tekstual ini berpusat pada pesan, hal ini berarti bahwa analisis tekstual berfokus pada kata-kata atau simbol yang digunakan dalam wacana17 kualitatif. Kualitatif disini dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistic dan dengan deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai macam metode ilmiah.18

b. Unit Analisis

Unit analisis adalah sesuatu yang berkaitan dengan fokus atau komponen yang akan diteliti. Unit analisis merupakan suatu penelitian yang dapat berupa benda, individu, kelompok, wilayah dan waktu tertentu sesuai dengan fokus penelitiannya.

Unit of analysis adalah pesan yang akan diteliti melalui analisis isi pesan yang dimaksud berupa gambar, judul, kalimat, paragraf, adegan dalam isi film atau keseluruhan isi pesan.19 Pada penelitian ini digunakan unit analisis berupa dokumen atau teks, yakni menganalisis pesan faham liberalisme yang direpresentasikan dalam artikel Ulil Abshar Abdala di www.islamlib.com.

Penelitian ini dilakukan karena peneliti tertarik untuk mengerti dan memahami lebih dalam gambaran kepribadian paham liberalisme dalam pemikiran Ulil Abshar tersebut. Mengingat banyak pesan dakwah yang disampaikan oleh penulis yang cendekiawan dengan kemasan yang sangat baik dan menarik. Artikel tersebut disajikan dengan cara yang berbeda, dan menantang.

17

Richard West & lynn H.Turner, Pengantar Teori Komunikasi, Jakarta: salembahumanika, 2007, 84.

18

Moleong & Lexy j, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. RemajaRosdakarya, 2006), 6. 19

Dody M. Ghozali, Comunication Measurement; Konsep Dan Aplikasi Pengukuran Kinerja Public Relation

(24)

17

c. Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini bersifat kualitatif-deskriptif dan merupakan penelitian kepustakaan. Sumber data terdiri dari data primer dan sekunder. Data adalah salah satu yang paling

vital dalam sebuah penelitian. Kesalahan dalam menggunakan atau memahami sumber

data, maka data yang diperoleh juga akan meleset dari apa yang diharapkan. Oleh karena

itu peneliti harus mampu memahami sumber data yang mesti digunakan dalam penelitian,

karena kegiatan penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang sangat menjunjung tinggi

validitas, kredibilitas dan objektivitas serta konsistensi yang tinggi dengan peneliti.

Adapun jenis data dalam penelitian ini adalah berupa teks. Peneliti menggunakan dua

macam sumber data tersebut dan diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Sumber data primer

Yakni merupakan data utama yang berupa teks tertulis yang ada dalam Artikel

Ulil Abshar Abdala di Website islamlib.com.

b. Sumber data sekunder

Yakni data tambahan atau pelengkap, yang sifatnya untuk melengkapi data yang

sudah ada dari sumber lain yang mampu mendukung penelitian ini. Data tersebut

berupa buku-buku, majalah, novel dan semua bacaan yang ada hubungannya

dengan penelitian ini, serta internet dan beberapa informan yang terkait dalam

(25)

18

d. Tahapan Penelitian

Adapun tahapan-tahapan penelitian yang telah, sedang dan akan dilakukan oleh

peneliti antara lain.

1. Penjajakan

Tahapan penelitian ini adalah orientasi untuk memperoleh gambaran umum

melalui membaca artikel mengenai obyek yang akan diteliti oleh peneliti. Yakni,

Artikel Ulil Abshar Abdala di www. islamlib.com.

2. Mencari dan Menemukan Tema/ Alasan Pemilihan Topik

Tahapan ini adalah tahapan awal untuk memperoleh gambaran umum mengenai

kepribadian liberalisme. Langkah pertama adalah mencari dan menemukan tema

yang sesuai dengan penelitian ini, yakni artikel Ulil Abshar Abdala di

www.islamlib.com, yang dalam asumsinya sangat nyentrik dan menantang dan

pesan pesan yang menarik dikaji.

3. Merumuskan penelitian dengan mempertimbangkan topik, tujuan dan

alasan (rationale) mengapa topik diputuskan untuk dikaji.

4. Penentuan jenis penelitian, dimana peneliti menggunakan metode penelitian

kualitatif deskriptif interpretatif dengan analisis wacana Nourman Fairclough.

5. Melakukan Klasifikasi Data:

Penetapan dan penentuan nilai-nilai liberalisme dalam artikel Ulil Abshar Abdala.

Yaitu:

a. Mengidentifikasi teks;

b. Memberikan alasan mengapa teks tersebut dipilih dan perlu di identifikasi; c. Menentukan pola semiosis yang umum dengan mempertimbangkan

hirearki maupun sekuennya atau, pola sintagmatik dan paradigmatik; d. Menentukan kekhasan wacana dengan mempertimbangkan elemen

(26)

19

6. Melakukan Analisis Data berdasarkan:

a. Ideologi, intelektualitas, kecenderungan, interpretasi kelompok, frame work

budaya;

b. Pragmatik, aspek sosial, komunikatif;

c. Lapisan makna, intekstualitas, kaitan dengan tanda lain, hukum yang mengaturnya;

d. Kamus VS ensiklopedi 7. Penulisan Kesimpulan.

Deskripsi jawaban atas pertanyaan yang diajukan pada bagian rumusan masalah.

e. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh melalui teknik observasi dan teknik dokumentasi.

1) Observasi

Pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik observasi dan dokumentasi

pada artikel Ulil Abshar Abdala. Dalam hal ini peneliti mengamati gambaran

kepribadian liberalisme yang disampaikan dalam artikel tersebut serta bentuk

penulisannya dan mencari dokumentasi gambaran kepribadian liberalisme dalam

referensi lain untuk membandingkannya, dalam artian memahami individu

mengenai realita yang dibangun, menganalisis bahasa dan juga menandai

simbol-simbol yang terkait pesan liberal serta merepresentasikannya.

2) Dokumentasi

(27)

20

membedakan antara manusia yang paham liberalisme dengan muslim- muslim lainnya.

f. Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan analisis wacana Norman Fairlocgh dengan

menggunakan pendekatan sosiokultural dalam etnografi komunikasi melalui teori Jhon

Powers (perspektif Kritis) . Hymes menyarankan seyogyanya para antropolog meneliti

relativisme linguistik tidak hanya mengenai struktur bahasa serta fungsi-fungsinya

dengan cara membandingkannya dengan budaya lain (cross-curtural comparison).

Bagan 1. Analisis Wacana dalam Perspektif Kritis

No Jenis Karakter Umum Dan Posisi Peneliti Kritis

1 Wacana

Representasi

Bersifat positivik modernisme. Peneliti terpisah dari objek yang diteliti dan mempersepsi objek serta membuat representasirealitas dalam bentuk pengungkapan bahasa.

Tidak bersifat kritikal

2 Wacana

Pemahaman

Bersifat interpretive modernism.

Antara peneliti dengan objek (realitas yang diteliti) tidak terpisah. Realitas didefinisikam oleh peneliti melalui interaksi antara yang mengetahui (subjek penelitian/informan) dengan pengetahuan (terutama dari sumber-sumber literatur). Peneliti menstruktur observasi yang karena itu menstruktur apa yang diketahui (realitas).

Tidak bersifat kritikal

3 Wacana

Keragu-raguan (discourse suspicion)

Bersifat struktural dan critical modernism. Peneliti mengontruksi realitas berdasarkan frame sosial arrangement.

Bersifat kritikal

4 Wacana

Postmodernisme

Bersifat postsructural dengan menolak segala sosial arrangement.

Bersifat kritikal

(28)

21

merupakan hal yang bersifat sentral dalam komunikasi. Dalam kaitan ini pesan memiliki tiga unsur pokok yang bersifat struktural, yakni sebagai berikut:

a. Lambang atau simbol sebenarnya relatif bersifat indenpenden. Artinya antara lambang dan realitas yang dilambangkan sebenarnya tidak ada hubungan yang logis.

b. Bahasa merupakan suatu kode yang bersifat formal. Artinya, kata-kata serta kalimat-kalimat dan tanda-tanda bahasa lain dikembangkan dan dimaknai sesuai dengan kesepakatan-kesepakatan yang ada atau berkembang dalam masyarakat dalam menggunakan bahasa. Oleh karena itu, harus mengikuti aturan-aturan tertentu yang telah menjadi kelaziman di dalam masyarakat atau budaya tertentu.

c. Wacana pada umumnya memiliki struktur tertentu sebagai konsekuensi dari sifat saling kait mengait antara unsur wacana yang satu dengan unsur wacana lainnya.20

Sosiocultural practice berhubugan dengan konteks diluar teks, konteks sosial yang ada diluar media mempengaruhi bagaimana wacana muncul dalam media. Ruang redaksi atau wartawan bukanlah bidang atau kotak kosong yang steril, tetapi sangat ditentukan oleh faktor diluar dirinya. Konteks memasukkan banyak hal, konteks situasi, lebih luas adalah konteks dari praktik instuisi media sendiri dalam hubungannya dengan masyarakat atau budaya dan politik tertentu. Misalnya politik media, ekonomi media, tau budaya media tertentu yang berpengaruh terhadap berita yang dihasilkannya. Sosiocultural practice ini memang tidak berhubungan langsung

20

(29)

22

dengan produksi teks, tetapi ia menentukan bagaimana teks diproduksi dan dipahami.

Sosiocultural practice dimediasi oleh discourse practice.21

Bagan 2. Hubungan Tiga Dimensi Analisis Wacana Norman Fairclough

Pertama, analisis pada teks (mikrostruktur), pada tingkatan ini peneliti menganalisis teks dengan cermat dan fokus supaya dapat memperoleh data yang dapat menggambarkan representasi teks secara detail. Seperti tersebut diatas setiap teks memiliki tiga fungsi, yaitu representasi, relasi dan identitas. Kedua, analisis pada level wacana (mesostrukstur) yang berfokus pada dua aspek yaitu produksi teks dan konsumsi teks. Praktik wacana meliputi cara-cara para pekerja media memproduksi teks. Hal ini berkaitan dengan pekerja media itu sendiri selaku pribadi. Ketiga, analisis makrostruktur (proses wacana) terfokus pada fenomena dimana teks dibuat. Praktik sosial budaya ini menganalisis tiga hal yaitu ekonomi, politik yang khususnya berkaitan dengan isu-isu kekuasaaan dan ideologi, dan budaya yang khususnya ini berkaitan dengan nilai dan identitas yang juga mempengaruhi istitusi media dan wacananya. Fairclough berusaha membangun suatu model analisis wacana yang mempunyai konstribusi pada analisis sosial dan budaya. Fairclough membagi analisis

21

(30)

23

wacana kritis (CDA) ke dalam tiga dimensi yakni dimensi teks, discourse practice, dan sosio practice.22

Bagan 3. Level Teks Dalam Penelitian Analisis Wacana Norman Fairclough

Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis bedasarkan representasi realitas tentang pesan liberalisme dalam artikel karangan Ulil Abshar Abdala. Relasi bahasa yang digunakan oleh Ulil Abshar Abdala dalam mengembangkan wacana paham liberalisme dan apa fungsi dari bahasa bersangkutan. Merepresentasikan identitas simbol-simbol

22

Fairclough, Critical Discourse Analysis (The Critical Study Of Language), (New York, 1998), 131-132.

Level Teks Dalam Penelitian Struktur Struktur

Wacana Hal yang ingin diamati Menganalisis

bagaimana strategi wacana yang dipakai untuk

menggambarkan seseorang atau peristiwa tertentu.

Representasi Kalimat

Bagaimana peristiwa orang, kelompok, keadaan, atau apapun, ditampilkan dalam teks pesan liberalisme karya Ulil Abshar Abdala dalam w.w.w.islamlib.com

Bagaimana strategi tekstual yang dipakai untuk menyingkirkan atau memarjinalkan suatu kelompok, gagasan atau peristiwa tertentu.

Relasi Pola Hubungan

Bagaimana hubungan antara penulis dan khalayak, dan tokoh dengan masyarakat pesantren ditampilkan dalam teks pesan liberalisme karya Ulil Abshar Abdala dalam w.w.w.islamlib.com

Sebuah teks bukan hanya menampilkan bagaimana suatu objek digambarkan tetapi juga bagaimana hubungan antar objek

Identitas

Identifikasi tampilan/konstruksi

(31)

24

pesan apa (bagaimana) yang dilakukan oleh Ulil Abshar Abdala dalam mengembangkan wacana tentang paham liberalisme.

I. Sistematika Pembahasan

Untuk mempermudah dalam pemahaman semi penelitian ini, maka peneliti menyusun sistematika pembahasan yang terdiri dari lima bab dan terbagi atas sub bab yang lebih terperinci diantaranya sebagai berikut:

Bab Pertama : Pendahuluan, membahas tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi konseptual dan sistematika pembahasan.

Bab Kedua : Kajian Kepustakaan, berisi beberapa penjelasan tentang kajian pustaka, kajian teoritik, kajian kepustakaan terkait atau hasil penelitian terdahulu yang relevan. Bab Ketiga : Metode penelitian, meliputi: pendekatan dan jenis penelitian, unit analisis dan tahapan penelitian.

Bab Keempat : Penyajian dan analisis data, berisikan tentang diskripsi obyek penelitian, penyajian data dan analisis data.

(32)

25 BAB II

KAJIAN PESAN LIBERALISME

A.Kajian Pustaka 1. Pesan Liberalisme

Pesan merupakan peristiwa simbolis yang menyatakan suatu penafsiran pada perilaku yang menyatakan suatu penafsiran pada perilaku tentang kejadian fisik baik oleh sumber maupun penerima.1 Pesan adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator. Pesan mempunyai inti pesan atau tema sebagai pengaruh didalam usaha mencoba mengubah sikap dan tingkah laku komunikan. Pesan dapat disampaikan panjang lebar, namun yang perlu diperhatikan dan diarahkan adalah tujuan akhir dari pesan itu sendiri. Istilah “liberal” berarti “open minded (berpikiran terbuka), generous

(ramah), moderate (moderat), noninventionist (tidak memaksakan), free thinking

(berpikir bebas), tolerant (toleran), laissez faire (santai)”, antonimnya adalah “narrow

minded” (berpikir sempit). Terminologi “Islam liberal” berasal dari gagasan Leonard Binder dan Charles Kurzman. “Pengertian Islamic Liberalisme Leonard Binder dan Liberalisme Islam Charles Kurzman (dua pemikir yang gagasannya memicu polemik “Islam Liberal” di Indonesia) sebenarnya mempunyai pengertian dan sudut pandang yang berbeda. Sebagaimana diakuinya Charles Kurzman bahwa Leonard Binder menggunakan sudut pandang “Islam bagian dari liberalisme” (a subset of Islam) sedangkan Charles Kurzman berusaha menghadirkan kembali masa lalu untuk kepentingan modernitas, sebagai counter terhadap Islam postradisionalis adalah : tidak

1

(33)

26

terjebak pada ortodoksi, membebaskan diri dari keterkungkungan teks keagamaan dan sekulerisasi (pemisahan kekuasaan pemerintah dan agama). Perbedaannya terletak kepada pandangan terhadap lokalitas – karena Islam Liberal menganggap modernitas sebagai rahmat.”2

Pesan liberalisme adalah setiap sesuatu yang di sampaikan oleh komunikator kepada komunikan dalam konteks tidak berpikir sempit dalam memutuskan segalanya. Modernitas yang melanda dunia Islam, dengan segala efek positif dan negatifnya, menjadi tantangan yang harus dihadapi umat Islam di tengah kondisi keterpurukannya. Umat Islam dituntut bekerja ekstra keras mengembangkan segala potensinya untuk menyelesaikan permasalahannya. Tajdid sebagai upaya menjaga dan melestarikan ajaran Islam menjadi pilihan yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh umat Islam. Liberal adalah satu istilah asing yang diambil dari kata liberalisme dalam bahasa Inggris dan liberalisme dalam bahasa perancis yang berarti kebebasan. Kata ini kembali kepada kata Liberty dalam bahasa Inggrisnya dan liberalisme dalam bahasa prancisnya yang bermakna bebas.3

Sementara menurut Syamsuddin Arif paham Liberalisme mencakup tiga hal : 1. Kebebasan berfikir tanpa batas alias free thinking

2. Senantiasa meragukan dan menolak kebenaran alias sophisme

3. Sikap longgar dan semena-mena dalam beragama (loose adherence to and free exercise of religion).4

Paham kebebasan ini secara resmi digulirkan oleh kelompok free Mason yang mulai berdiri di Inggris tahun 1717. Kelompok ini kemudian berkembang pesat di AS mulai tahun 1733 dan berhasil menggulirkan revolusi tahun 1776. Patung liberty

2

Rumadi. Masyarakat Post-Teologi, (Bekasi: Gugus Press, 2002), 116-118. 3

Sulaiman al-Khirasyi, Hakikat Liberaliyah wa mauqif Muslim minha, l 12. 4

(34)

27

menjadi simbol kebebasan (freedom). Gerakan ini berhasil menggerakkan Revolusi Prancis dengan mengusung jargon “liberty, egality, fraternity”.5

Tantangan yang dihadapi dewasa ini sebenarnya bukan dalam bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya, akan tetapi tantangan pemikiranlah yang sedang kita hadapi saat ini. Sebab persoalan yang ditimbulkan oleh bidang-bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya ternyata bersumber dari pemikiran. Diantara tantangan pemikiran yang paling serius saat ini adalah bidang pemikiran keagamaan. Tantangan yang sudah lama disadari adalah tantangan internal yang berupa kejumudan, fanatisme, taklid buta, bid’ah, khurafat, dan sebagainya.6

Sedangkan tantangan eksternal yang sedang kita hadapi saat ini adalah paham liberalisme, sekularisme, relativisme, pluralisme agama dan lain sebagainya, kedalam wacana pemikiran keagamaan kita. Hal ini disebabkan oleh melemahnya daya tahan umat Islam dalam menghadapi gelombang globalisasi dengan segala macam bawaannya.7

Gagasan liberalisasi Islam, dikenal dengan sebutan Islam liberal dalam dunia pemikiran Islam akhir-akhir ini, khususnya di Indonesia, telah menimbulkan kontroversi dan perdebatan panjang. Ini karena banyaknya ide dan gagasan yang mereka usung sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar aqidah dan syariat Islam. Diantara ide yang paling menonjol adalah seperti mempertanyakan kesucian dan otentisitas Al-Qur’an, mengkritik otoritas Nabi beserta hadits-hadits sahihnya, menghujat serta mendiskreditkan sahabat-sahabat Nabi dan para ulama.8

5

Adian Husaini. Islam versus Kebebasan/ Liberalismee. 2010.DDII. 32. 6

Muhammad Nurdin Sarim, Telaah Kritis Pluralisme Agama (sejarah, faktor, dampak dan solusinya), 1. 7

Ibid, Muhammad Nurdin Sarim, 1.

8

(35)

28

Disamping itu kalangan Islam liberal juga menolak terhadap penerapan syariat Islam secara formal oleh negara. Dan untuk tujuan itu mereka mencoba berbagai alasan, terkadang penolakan tersebut dibuat atas dasar budaya dengan mengatakan bahwa hukum Islam tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai dan budaya masyarakat hari ini. Dan kerap kali penolakan tersebut dibuat atas anggapan bahwa syariat Islam bertentangan dengan prinsip hak-hak asasi manusia (HAM).9

Pada waktu Abu Bakar R. A dilantik sebagai khalifah, ia mengucapkan pidato, antara lain sebagai berikut:

“Saya telah terpilih menjadi pemimpin kalian, padahal saya bukanlah orang terbaik diantara kalian. Jika saya berbuat baik, maka dukunglah saya. Sebaliknya, jika saya berbuat salah luruskanlah. Taatlah kepada saya selama saya taat kepada Allah, tetapi janganlah kalian taat apabila saya durhaka kepadaNya.”

Pidato Abu Bakar diatas mengandung dua pernyataan penting. Pertama, bahwa pemimpin dan rakyatnya mempunyai kedudukan yang sama di hadapan Allah. Ketaatan kepada pemimpin, hanya dituntut selama pemimpin tersebut kepada Allah. Kedua, bahwa jabatan khalifah adalah jabatan yang dipercaya oleh umat. Kerena itu, umat berhak memonitor dan melakukan evaluasi terhadap segala tindakan khalifah dan kebijaksanaannya. Sebagai konsekuensinya, khalifah bertanggung jawab kepada umat atas pelaksanaan tugas tugas kekhalifaannya.

9

(36)

29

2. Bentuk- bentuk Liberalisme

Menurut Robert Jackson & George Sorensen bentuk-bentuk liberalisme dibedakan menjadi 4 bentuk, antara lain liberalisme sosiologis, liberalisme interdepedensi, liberalisme institusional, dan liberalisme republikan. Dari 4 bentuk tersebut akan dijabarkan sebagai berikut:10

a. Liberalisme Sosiologis

Hubungan Internasional tidak hanya mempelajari hubungan antar pemerintah, tetapi juga hubungan antar individu, kelompok dan masyarakat swasta. Hubungan non-pemerintah lebih bersifat kooperatif dibanding hubungan non-pemerintah. Dunia dengan jumlah transnasional yang besar akan lebih damai. Bagi kaum realis HI adalah studi tentang hubungan antara pemerintah negara- negara berdaulat. Kaum liberal sosiologis menolak pandangan ini karna fokusnya terlalu sempit dan satu sisi. HI bukan hanya tentang hubungan negara-negara; tetapi juga tentang hubungan transnasional, yaitu hubungan antara masyarakat, kelompok-kelompok, dan organisasi-organisasi yang berasal dari negara berbeda. Penekanan ini telah mengakibatkan sebagian mengenali pemikiran kaum liberal dengan istilah “pluralism”.

Hubungan transnasional dianggap oleh kaum liberal sosiologis sebagai aspek Hubungan Internasional yang semakin penting. James Rosenau mendefinisikan transnasionalsme sebagai berikut: “Proses dimana Hubungan Internasional yang dilaksanakan oleh pemerintah telah disertai hubungan individu-individu, kelompok-kelompok, masyarakat swasta yang dapat dan memiliki konsekuensi penting bagi berlangsungnya berbagai peristiwa”. Richard Cobden, pemikir kaum liberal terkemuka abad ke 19, menyatakan pemikirannya sebagai berikut: “Semakin kecil keterlibatan

10

(37)

30

pemerintah, semakin banyak hubungan antara bangsa-bangsa di dunia”. Dengan “bangsa-bangsa” Cobden mengacu pada masyarakat-masyarakat dan keanggotaannya.

Karl Deutsch adalah figure terkemuka dalam Hubungan Internasional sepanjang 1950. Deutsch berpendapat bahwa derajat Hubungan Internasional yang tinggi antara berbagai masyarakat mengakibatkan hubungan damai yang memuncak lebih dari sekedar ketiadaan perang. Keadaan tersebut menuju pada komunitas keamanan: “sekelompok masyarakat yang telah menjadi “terintegrasi”. Integrasi berarti bahwa “rasa komunitas” telah dicapai; masyarakat bersepakat bahwa konflik dan masalah mereka dapat diselesaikan “tanpa mengarah pada kekuatan fisik dalam skala besar”. Ia menata jumlah kondisi yang kondusif bagi munculnya komunitas keamanan: komunikasi sosial yang meningkat; mobilitas manusia lebih besar; hubungan ekonomi lebih kuat; dan jangkauan transaksi timbal balik manusia yang lebih luas.

Banyak kaum liberal sosiologis menegaskan pemikiran bahwa Hubungan Internasional diantara rakyat dari negara- negara berbeda membantu menciptakan bentuk baru masyarakat manusia yang hadir sepanjang atau bahkan dalam persaingan negara- bangsa. Dalam bukunya yang berjudul World Society John Burton (1972) mengajukan suatu “model jaring laba-laba” Hubungan Internasional. Menurut kaum liberal sosiologis seperti Burton. “Jika kami meletakkan pola- pola komunikasi dan transaksi antara berbagai kelompok kami akan mendapakan gambar dunia yang lebih akurat, sebab gambar itu akan mewakili pola-pola aktual perilaku manusia dari pada perbatasan Negara yang tidak terlihat.

(38)

31

berbeda, konflik akan berubah jika tidak dihilangkan; keanggotaan yang tumpang tindih mengurangi resiko konflik serius antara dua kelompok manapun.

James Rosenau lebih jauh mengembangkan pendekatan kaum liberal sosiologis pada Hubungan Internasional. Rosenau berpendapat bahwa transaksi individu memiliki implikasi dan konsekuensi penting dalam masalah-masalah global. Pertama, para penduduk individu telah banyak memperluas aktifitasnya mengharapkan pendidikan yang lebih baik dan akses pada alat-alat komunikasi elektronik serta pelajaran ke luar negri. Kedua, kapasitas negara dalam tindak pengendalian dan peraturan mulai menurun dalam dunia yang semakin kompleks. Rosenau kemudian melihat transformasi system internasional yang mendalam yang sedang berlangsung: state-centric, system anarkis tidaklah menghilang tetapi suatu dunia “multi-centric telah muncul yang terdiri dari berbgai macam kumpulan ‘bebas

kedaulatan’ yang hidup terpisah dari dan dalam persaingan dengan dunia state-centric

dari aktor-aktor ‘terikat-kedaulatan’”. Rosenau kemudian mendukung pemikiran kaum liberal bahwa dunia yang semakin pluralis, yang dicirikan dengan jaringan internasional individu dan kelompok akan menjadi lebih damai.

(39)

32

b. Liberalisme Interdepedensi

Modernisasi meningkatkan tingkat interdepedensi antar negara. Aktor transnasional semakin penting, kekuatan militer adalah instrumen yang kurang berguna dan kesejahteraan menjadi tujuan dominan negara-negara, bukan keamanan. Interdepedensi kompleks menunjukan Hubungan Internasional yang lebih damai. Berarti ketergantungan timbal balik rakyat dan pemerintah dipengaruhi oleh apa yang terjadi dimana pun, oleh tindakan rekannya di negara lain. Dengan demikian tingkat tertinggi hubungan transnasional antara negara berarti tingkat tertinggi interdependensi.

Abad ke 20an telah memperlihatkan kebangkitan sejumlah besar Negara industrialis. Richard Rosecrance (1986;1995) telah menganalisis dampak dari pembangunan ini pada kebijakan negara.

Negara – negara periode pasca perang yang paling berhasil secara ekonomi adalah “negara dagang” seperti Jepang dan Jerman, mereka menahan diri dari politik militer tradisional dengan anggaran militer yang tinggi dan mencukupi kebutuhan ekonomi sendiri, melainkan mereka memilih pilihan berdagang dengan pembagian tenaga kerja internasional yang terus menerus menigkatkan interdependensi.

Menurut Rosecrance, akhir perang dingin telah menjadikan pilihan tradisioanal kurang penting dan oleh karena itu kurang mentarik. Akibatnya, pilihan negara dagang semakin disukai bahkan oleh negara- negara besar.

Pada dasarnya, kaum liberal ini berpendapat bahwa pembagian tenaga kerja yang tinggi dalam dunia perekonomian internasioanal meningkatkan interdependensi antara negara, dan hal itu menekan mengurangi konflik kekerasan antar negara.

(40)

33

ekonomi yang rendah, tanah seterusnya menjadi faktor produksi yang dominan, dan modernisasi sedangkan interdependensi jauh lebih lemah.

David mitrany (1966), seorang fungsionalis yang mengajukan teori integrasi, berpendapat bahwa interdependensi yang lebih besar dalam bentuk hubungan interdependensi yang lebih besar dalam bentuk hubungan transional antar negara dapat mewujudkan perdamaian, Mitrany percaya bahwa kerjasama seharusnya diatur oleh para ahli bidang teknik, bukan oleh politisi.

Ernst Haas menegembangkan apa yang disebut teori integrasi internasional neofungsionalis yang di ilhami oleh kerjasama yang semakin intensif di antara negara negara Eropa barat yang dimulai tahun 1950an. Argument has didasarakan atas argument Mitrany. Tetapi ia menolak pemikiran bahwa masalah masalah teknis dapat dipisahkan dari politik. Intergrasi harus dilakukan dengan mengambil elit politik yang mementingkan kepentingan sendiri untuk meningkatkan kerjasama mereka.

Haas menyimpulkan bahwa integrasi regional harus dipelajari dalam konteks yang lebih besar. “teori integrasi kawasan harus disubordinasi pada teori interdependensi”.

(41)

34

Dalam kompleks interdependensi negara- negara lebih tertari dengan politik tingkat rendah kesejahteraan dan kurang hirau dengan “ politik tingkat tinggi” keamanan nasional.

Interdependensi kompleks jelas menyatakan hubungan yang jauh lebih bersahabat dan kooperatif diantara negara. Menurut Keohane dan Nye beberapa konsekuensi muncul. Pertama negara- negara akan mengejar terus tujuan yang berbeda dan aktor aktor transnasional. Seperti LSM akan mengajar tujuan mereka sendiri yang terpisah bebas dari kendali negara. Kedua sumber daya kekuatan akan sering menjadi spesifik pada bidang isu. Ketiga arti penting organisasi internasional akan semakin menigkat.

Dalam garis besar liberalisme interdependensi dapat diringkas sebagai berikut. Modernisasi meningkatkan derajat dan ruang lingkup interdependensi antara negara- negara. Dalam interdependensi kompleks aktor- aktor trnasnasioanal semakin penting, kekuatan militer merupakan instrument yang kurang berguna dan kesejahteraan bukan keamanan menjadi tujuan utama dan hirauan hirauan negara -negara. Hal ini dunia hubungan Internasional yang lebih kooperatif.

c. Liberalisme Institusional

(42)

35

tanpa organisasi formal: sebagai contoh, konferensi hukum laut yang diselenggarakan di bawah pengawasan PBB tidak memiliki organisasi internasional yang formal.

Kaum liberal intitusional menyatakan bahwa institusi internasioanal menolong memajukan kerjasama di antara negara- negara.

Penelitian terhadap institusi internasional pada saat ini memiliki dua tujuan utama : pertama ada upaya mengumpulkan lebih banyak data dari keberdaan rejim dalam berbagai macam bidang isu hubungan internasional. Kedua sejumlah teoritis memebutuhkan studi lebih lanjut.

Salah satu cara menilai pandangan kaum liberal institusional adalah dengan menempatkannya dengan bertentangan dengan analisis kaum neorealis. Kaum neorealis berpendapat bahwa akhir perang dingin kemungkinan besar membawa ketidak stabilan ke Eropa barat yang dapat mengarah ke perang besar.

Perdamaian di Eropa barat selama perang dingin bertumpu pada dua pilar yang memebentuk perimbangan kekuatan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dua pilar tersebut yaitu : pertama, bipolaritas dengan distribusi kekuatan militernya yang stabil, dan kedua gudang senjata nuklir yang besar yang hampir seluruhnya dimonopoli oleh superpower. Dengan kebangkitan multipolaritas, bagaimanapun juga ketidakstabilan dan ketidakamanan semakin meningkat. Akar dari semua ini adalah struktur system internasional yang anarkis. Menurut realis John mearsheimer, “ anarki memiliki dua konsekuensi yang mendasar. Pertama ada sedikit ruang kepercayaan di antara negara- negara. Kedua masing masing negara harus menjamin kelangsungan hidupnya sendiri sejak tidak adanya aktor lain yang memberikan keamanannya.”

(43)

36

kekuatan lain dan mengimplementsikan komitmennya sendiri, oleh karena itu kemampuannya membuat komitmen yang dapat dipercaya berda pada urutan pertama, dan yang terakhir memperkuat harapan yang muncul tentang keaslian dan kesepaktan internasional.

Secara umum liberlisme institusional dapat diringkas sebagai berikut. Intitusional membantu memajukan kerjasama antara negara- negara , oleh karena itu membantu mengurangi ketidakpercayaan antar negara- negara dan rasa takut negara satu sama lain yang dianggap menjadi masalah tradisional ynag dikaitkan dengan anarki internasional. Peran positif institusi internasional dalam memajukan kerjasama antar negara berlanjut menjadi permasalahan bagi kaum realis.

d. Liberalisme Republikan

Negara-negara demokratis tidak berperang satu sama lain. Hal ini disebabkan budaya dalam negeri yang menyelesaikan konflik secara damai, tergantung pada nilai-nilai moral bersama dan pada hubungan kerjasama ekonomi dan interdepedensi yang saling menguntungkan. Liberalisme republikan dibangun pada pernyataan bahwa negara- negara demokrasi liberal bersifat lebih damai dan lebih patuh pada hukum dibandingkan system politk lain.

(44)

37

Liberalisme republikan:

Tiga kondisi perdamaian di antara negara- negara demokrasi liberal  Norma demokratis atas resolusi konfilk secara damai

 Hubungan damai antara negara - negara demokratis, berdasarkan atas landasan

moral yang sama

 Kerjasama ekonomi antara negara- negara demokrasi: hubungan

interdependensi

Dari aliran liberalisme yang berbeda yang dipertimbangkan dalam bab ini, liberlisme republikan adalah salah satu aliaran dengan elemen normative yang terkuat. Bagi kebanyakan kaum liberal republikan tidak hanya harapan tetapi juga keyakinan bahwa politik dunia akan berkembang dan sudah berkembang jauh di luar persaingan, konfilk dan perang di negara- negara merdeka.

Akhir perang dingin membantu meluncurkan gelombang baru demokratis, yang mengarah pada tumbuhnya optimisme liberal mengenai masa depan demokratis. Tetapi banyak juga kaum liberal menyadari kerapuhan kemajuan demokrasi.

Munculnya persatuan global yang damai mencakup semua warga negara demokrasi baru dan lama tidak dapat dianggap sebagaimana adanya. Malahan, sebagian besar negara- negara demokrasi baru gagal mencapai paling tidak dua dari tiga kondisi perdamaian yang demokratis yang ditunjukan diatas. Dan selain menunjukan kemajuan yang lebih jauh, mereka tergelincir menuju aturan yang otoriter.

(45)

38

Liberalisme republikan dapat diringkas sebagai berikut. Negara- negara demokrasi tidak berperang melawan satu sama lain, dikarenakan budaya demokratisnya dalam menyelesaikan konflik secara damai, nilai- nilai moral bersamanya, dan hubungan kerjasama ekonomi dan interdependensi yang saling menguntungkan. Hal - hal tersebut merupakan batu pondasi yang dijadikan dasar bagi hubungan damainya. Untuk alasan inilah seluruh dunia negara- negara demokrasi liberal yang kuat dapat diharapkan menjadi dunia yang damai.

3. Katagori Faham Liberalisme

a. Pemikiran Liberalisme Charles Kurzman

Menurut Kurzman, pencarian otentitas Islam dari sudut pandang (pemikir) muslim

liberal, melahirkan tiga model utama Islam liberal. Pertama, pemikiran dan sikap liberal

memang secara otentik dilegitimasi oleh syari’at Islam, yang oleh Kurzman disebut liberal

sharia. Sepanjang syari’at Islam dipahami secara tepat, sesungguhnya ia bersifat liberal,

piagam Madinah misalnya, dimana memberikan jaminan atas hak-hak non-Muslim untuk

hidup secara aman dan damai dibawah pemerintahan Muslim, menjadi bukti sejarah semasa

Rasulullah SAW tentang bagaimana syari’at Islam memecahkan problem-problem

kontemporer secara liberal. Inilah model pencarian otentis Islam, yang jika kita berfikir dan

bertindak liberal, maka sesungguhnya hal ini merupakan perintah Tuhan. Kedua, berbeda

dengan liberal sharia, model Islam liberal ini berpandangan bahwa syari’at justru tidak

memberikan jawaban-jawaban yang jelas atas problem-problem tertentu. Bentuk negara

misalnya, syari’at tidak memberikan juklak secara khusus model negara yang harus di ikuti

Muslim. Disinilah syari’at diam, Kurzman menyebutkan silent sharia. Ketiga, berbeda

dengan liberal sharia maupun silent sharia, model ketiga dari mazhab Islam liberal ini

(46)

39

dari produk penafsiran manusia. Setiap penafsiran manusia atas syari’at, tentu hasilnya

berbeda satu sama lain. Diakuilah multi interpretationatas syari’at. Inilah model ketiga yang

disebut Kurzman sebagai interpreted sharia (syari’at yang ditafsirkan).11

b. Pemikiran Liberalisme Fazlur Rahman

Adalah sebagai tokoh pertama Islam liberal yang melakukan aksi gerakan, selain juga tulisan-tulisan. Fazlur Rahman (1919-1988) dilahirkan di Indo Pakistan (sebelum terpecah dengan India). Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berlatar belakang tradisi mazhab Hanafi.12

Dalam sistem pemikiran Fazlur Rahman, Islam – sebagaimana tercermin dalam al-Qur’an dan “sunnah” – merupakan alternatif satu-satunya yang memungkinkan bagi kaum muslim dewasa ini. Setiap aspek dan rincian kehidupan mereka haruslah merupakan penjelmaan nilai-nilai Islam. Bagi Rahman, kemajuan kaum Muslim dicapai bukan dengan meninggalkan Islam, tetapi harus bermula dari tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang diletakkan Islam. Memang, Islam yang ditampilkannya sangat ketara bercorak rasional dan kontemporer, namun ia memiliki basis yang kokoh dalam akar-akar spiritual Islam. Itulah sebabnya Rahman menentang keras bentuk-bentuk Islam yang tampil dalam sejarah. Lebih jauh, Islam yang ditampilkannya bukanlah sesuatu yang terpilah-pilah, melainkan Islam yang koheren secara keseluruhannya. Bagian-bagian teologis, etika, dan hukum merupakan suatu kesatuan yang organis dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Gagasan ini tercermin dengan jelas dalam rumusan dan operasi metodologi sistematisnya yang memang dimaksudkan untuk membangun suatu visi Islam yang padu dan kohesif. Dengan demikian, dalam analisis final, neo modernisme Fazlur Rahman

11

Charles Kurzman. Wacana Islam Liberal Pemikiran Islam Kontemporer Tentang Isu-Isu Global, (Jakarta: Paramadina, 2001), xxxiii – xlii.

12

(47)

40

dapat dilihat sebagai suatu pergulatan serius dalam tiga bidang utama yang berkaitan antara satu dengan lainnya secara organis dan koheren. Tiga komponen tersebut adalah:

 Upaya perumusan pandangan dunia atau teologi yang setia terhadap matriks

Al-Qur’an dan dapat dipahami oleh kaum muslim kontemporer.  Upaya perumusan etika al-Qur’an yang merupakan mata rantai

penghubung esensial antara teologi dan hukum.

 Upaya reformasi hukum-hukum dan pranata-pranata Islam modern yang

ditarik dari etika al-Qur’an dengan mempertimbangkan situasi ekologis masa kini.13

c. Pemikiran Liberalisme Abdurrahman Wahid

Liberal adalah paham yang berusaha memperbesar wilayah kebebasan individu dan mendorong kemajuan sosial. Liberalisme merupakan paham kebebasan, artinya manusia memiliki kebebasan atau dapat dilihat dengan perspektif filosofis, merupakan tata pemikiran yang landasan pemikirannya adalah manusia yang bebas. Bebas, karena manusia mampu berpikir dan bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan. Liberalisme adalah paham pemikiran yang optimis tentang manusia.14

Tipologi artikulasi kelompok ini, lebih melihat Islam sebagai komponen dan pengisi kehidupan bermasyarakat, dan oleh karenanya harus diarahkan sebagai faktor yang komplomenter, bahkan faktor yang disintegratif terhadap negara atau komunitas lain. Islam bagi kelompok ini tidak terkait langsung dengan kekuasaan politik dan urusan yang sungguh sungguh bersifat negara, karena dalam Islam tidak terdapat sistem politik yang berdasarkan agama, tetapi agama berperan mengatur kehidupan umat manusia, Nabi Muhammad juga tidak mendirikan

13

Taufik Adnan Amal. Islam dan Tantangan Modernitas (Studi Atas Pemikiran Hukum Fazlur Rahman), (Bandung: Penerbit Mizan), 232.

14

(48)

41

negara Islam, malah justru mendirikan negara yang pluralistik dengan keberagaman suku, agama, dan keyakinan masyarakat.15

Kalangan Islam liberal ingin selalu menunjukan tampilan Islam yang inklusif-pluralis. Wajah Islam harus dicitrakan bukan wajah kekerasan, melainkan kesejukan dan toleran. Islam juga lebih relevan diperjuangkan lewat kultural dinilai lebih memberikan makna.16

Ada lima hal yang menjadi perhatian Abdurrahman Wahid yaitu: 1.) Kekuatan Islam Tradisional dan Sistem Pesantren, 2). Kelemahan Islam tradisional di Indonesia saat ini, 3). Dinamisasi- tanggapan terhadap Modernitas, 4.) Pluralisme, dan 5.) Humanitarianisme dan Kebijakan sosio-politik. Sesuai dengan kategori yang dipungut, penelusuran ini menegaskan bahwa Abdurrahman Wahid memang seorang neomodernis, seorang yang melakukan pembaruan dengan tetap berpegang teguh pada dan mendayakan seluruh warisan intelektual Islam yang ada. Pengaruh ini tampak misal dalam hal diterimanya ‘tajdid’ (pembaharuan) sebagai suatu jalan yang dimungkinkan di dalam NU yang sebelumnya telah dicap tradisional dan anti-tajdid. Tajdid ini membuka jalan ‘ijtihad’ dan penolakan pada taqlid, perumusan baru dalam bermazhab, dari bermazhab secara hukum, yang semula terbatas pada Imam Syafi’i saja menjadi bermazhab secara manhaji, bermazhab secara metodologi, yang melingkupi tiga pemikiran Imam Mazhab lainnya. Dengan rumusan ini, bermazhab menjadi suatu yang tak lagi membatasi tapi memberikan keleluasaan. Pilihan ‘mauquf’, yakni menunda jawaban atas suatu persoalan lantaran dianggap tidak atau belum ditemukan pendapat hukum atasnya, yang kerap membuat umat gamang, kini (bisa) dihindari. Bermazhab secara metodologis memungkinkan para kiai untuk ‘merumuskan’ jawaban, bukan sekadar ‘menemukan’ jawaban yang sudah tersedia di dalam kitab-kitab keagamaan.

15

Syarifudin Jurdi, Sosiologi Islam dan Masyarakat Modern Teori, Fakta, dan Aksi Sosial, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2010), 129.

16

(49)

42

Dunia berkembang, masalah yang dimunculkannya berkembang, karena itu responnya pun juga harus berkembang.

Adalah tidak mengejutkan jika pemikiran dan gerakan Abdurrahman Wahid memiliki jejak dan pengaruhnya. Di antara sejumlah cendikiawan muslim Indonesia yang disebut-sebut sebagai ‘pembaharu,’ Abdurrahman Wahidlah yang memiliki pengikut yang riil dan paling besar. Keterkaitan dengan massa pengikut yang luas ini membawakan gaya pemikiran Abdurrahman Wahid yang khas juga. Di satu sisi, ia seperti hendak menggebrak kejumudan yang melingkupi umatnya, sehingga ia membuat beberapa gagasan yang mengejutkan dan kontroversial, tapi di sisi lain, ia menggunakan bahasa-bahasa, contoh dan perumpamaan-perumpamaan setempat yang telah diakrabi warganya, sehingga seolah-olah tak ada yang baru yang hendak ditawarkannya.

Gus Dur adalah penulis dan pembicara yang baik. Ia menguasai bahasa arab dan inggris. Kefasihannya berbicara tentang teori ilmu sosial sama baiknya dengan uraiannya tentang khazanah Islam. Gus Dur banyak melontarkan gagasan yang mencerahkan dan membangkitkan kuriositas orang.

Sumbangan paling besar bagi Indonesia adalah gagasannya tentang pribumisasi. Gus Dur dan Nurcholis Majdid cendikiawan pertama yang meyakinkan kaum muslim Indonesia: menjadi seorang muslim yang baik tidak harus berafiliasi kepada partai Islam. Memperjuangkan Islam tidak harus lembaga atau partai dengan nama Islam. Baginya, Islam bisa diperjuangkan dengan berbagai cara, lewat berbagai medium. Dan pandangan ini cukup ampuh.

(50)

43

Harun Nasution, Abdurrahman Wahid, Munawir Sdajali, dan Ahmad Syafi’i Maarif adalah diantara para eksponen pembaruan yang mewarnai kancah pemikiran Islam dasawarsa 1980-an dan 1990-an.

Semua intelektual ini menganggap diri

Gambar

Tabel. 1 : Representasi Teks Pesan Liberalisme dalam Karya Ulil Abshar abdala
Tabel. 2 : Relasi Teks Pesan Liberalisme dalam Karya Ulil Abshar abdala
Tabel. 3 : Identitas Teks Pesan Liberalisme dalam Karya Ulil Abshar abdala
Tabel. 4. Anak kalimat
+7

Referensi

Dokumen terkait