• Tidak ada hasil yang ditemukan

Agraria-Januari 2009

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Agraria-Januari 2009"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

VOLUME VII JANUARI 2009

(2)

Berkhas merupakan salah satu media Akatiga yang menyajikan kumpulan berita dari

berbagai macam surat kabar, majalah, serta sumber berita lainnya. Jika pada awal

penerbitannya kliping yang ditampilkan di Berkhas dilakukan secara konvensional, maka

saat ini kliping dilakukan secara elektronik, yaitu dengan men-

download

berita dari

situs-situs suratkabar, majalah, serta situs-situs berita lainnya.

Bertujuan untuk menginformasikan isu aktual yang beredar di Indonesia, Berkhas

diharapkan dapat memberi kemudahan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam

pencarian data atas isu-isu tertentu. Berkhas yang diterbitkan sebulan sekali ini setiap

penerbitannya terdiri dari isu Agraria, Buruh, dan Usaha Kecil.

(3)

D a f t a r I si

HPP keluar, pendapatan petani dijamin naik --- 1

Padi Terendam Banjir --- 3

Petani Strowbery Telan Kerugian --- 5

Petani Protes Kehadiran Pengembang

---

6

Sulteng butuh urea 60.000 ton --- 7

Sulteng Butuh Pupuk Urea Bersubsidi 60.000 Ton --- 8

Beri Petani Kompensasi Lain --- 9

Masalah Pupuk Belum Teratasi --- 11

Beras Karawang Menjadi Primadona --- 13

Mentan: Industri benih agar dampingi petani --- 14

Nilai tukar petani makin turun --- 15

Sektor pertanian butuh proteksi --- 17

2,4 Juta Petani Tak Bisa Mengakses Pupuk Bersubsidi --- 19

Akhir Bulan, Bisa Ekspor Beras Super --- 20

Petani Sulit Prediksi Musim--- 21

Pertanian Sulut Dikembangkan --- 22

Pertanian: Petani Sambut Gembira Kenaikan HPP Gabah

---

23

Harga Beras Turun--- 24

Hujan Berkurang, Petani Kembali Pakai Pompa --- 25

Lahan Sawah Produktif Tak Akan Dikorbankan --- 26

Petani Lampung Nikmati Harga Tinggi --- 27

Produksi padi Kediri Turun 40 Persen --- 28

Petani Harus Dibantu Kurangi Susut Gabah dan Beras --- 29

Pengadaan Beras Bulog Dinaikkan 20 Persen --- 30

Petani Belum Rasakan Jaminan Ketersediaan

---

32

Petani Mulai Menjual Kebun --- 33

Sebagian Petani Beralih ke Pupuk Organik --- 34

Beras, Impor atau Ekspor? --- 35

Ketahanan Vs Kedaulatan Pangan --- 37

Ribuan Hektar Tanaman Padi Terendam--- 39

(4)

Mungkinkah HPP Dongkrak Kesejahteraan Petani? --- 41

Perlu Upaya Nyata Lindungi Petani --- 44

Distribusi Pupuk Tertutup Belum Berjalan Penuh --- 45

Pupuk Bersubsidi Belum Disalurkan --- 47

KTNA: Bulog agar fokus pengadaan beras --- 48

Petani di Padang Cemaskan Kelangkaan Pupuk --- 49

Petani Sawit dan Karet Masih Terpuruk

---

50

6.090 Hektar Lahan Masih Kritis --- 51

Beras Jateng Tersedot Bulog Divre Jabar --- 52

Petani Singkong Bingung Jual Hasil Produksi --- 53

Monopoli pedagang dianggap rugikan petani --- 54

15.000 Hektar Padi Puso--- 56

Spekulasi Petani yang Berujung Rugi --- 57

Ratusan Hektar Padi Diserang Hama --- 58

Sulut Sediakan Dana Untuk Sukseskan Revitalisasi Pertanian --- 59

Bulog Mulai Membeli Beras --- 60

Kelangkaan Pupuk Merata di Sumut --- 61

Masyarakat Karawang Masih Trauma --- 62

Produksi Padi Jabar Ditargetkan 10,78 Juta Ton --- 64

Ribuan Hektar Padi Gagal Panen --- 65

Harga BBM Tak Pengaruhi Biaya Produksi Pertanian --- 66

Kredit Petani Tak Dibatasi --- 67

Mayoritas Petani Memakai Benih Palsu --- 68

Panen Dimulai, Harga GKP Rp 2.700 --- 69

114 Hektar Lahan Pertanian di Jember Puso --- 70

Ekspor Beras Tunggu Izin Depdag --- 71

Bulog Tunggu Izin Ekspor Beras Super --- 72

Sumatera Utara Targetkan Produksi Padi Sebanyak3,5 Juta Ton --- 73

Petani Tembakau Terancam Menganggur --- 74

Mentan: Pemerintah Bertekad Terus Sejahterakan Petani --- 75

Pemerintah Diminta Selesaikan Kasus Penyerobotan Tanah --- 76

Produksi Pupuk Organik Jadi Alternatif --- 77

(5)

Bisnis I ndonesia Jumat, 02 Januari 2009

H PP k e lu a r , pe n da pa t a n pe t a n i dij a m in n a ik

JAKARTA: Pemerintah menjamin peningkatan pendapatan petani menyusul kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) baru untuk gabah dan beras rata-rata 7,76% per 1 Januari 2009 dalam Instruksi Presiden No. 8 Tahun 2008.

Menteri Pertanian Anton Apriyantono menegaskan peningkatan HPP komoditas spesifik itu telah memperhitungkan biaya produksi petani yang tinggi dan tingkat inflasi ekonomi di dalam negeri.

"Besaran kenaikan HPP sudah cukup bagus. Sudah bisa meningkatkan pendapatan petani padi," kata Anton menanggapi penerbitan Inpres No.8 Tahun 2008 tentang Kebijakan Perberasan pekan ini.

Kebijakan baru yang diumumkan Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi memutuskan kenaikan HPP gabah kering panen (GKP) di tingkat petani sebesar 9,1% dari Rp2.240 per kilogram (kg) menjadi Rp2.400 per kg mulai 1 Januari 2009.

Selain itu, HPP gabah kering giling (GKG) di penggilingan naik 7,2% dari Rp2.400 per kg menjadi Rp3.000 per kg. Sementara HPP beras di gudang Bulog naik 7% menjadi Rp4.600 per kg dari sebelumnya Rp4.300 per kg.

Meskipun biaya produksi pertanian tinggi, Anton menyatakan pemerintah masih mengalokasikan subsidi pertanian pada 2009, a.l. dalam bentuk subsidi pupuk dan subsidi benih.

Diperluas

Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir sebelumnya menyatakan pemerintah seharusnya juga memperluas perhitungan kebutuhan produksi pertanian padi, selain pupuk dan benih.

"Sekarang ini petani juga harus membeli air. Padahal, selama ini kebutuhan air tidak masuk dalam perhitungan biaya produksi. Untuk mendapatkan pengairan, selain mengandalkan irigasi, petani juga harus menggunakan pompa yang butuh BBM."

Di lain pihak, pengamat perberasan M. Husein Sawit menuturkan pemerintah semestinya mulai mengkaji penerapan HPP multikualitas untuk, sehingga lebih menguntungkan untuk petani yang dapat memproduksi beras atau gabah yang lebih berkualitas.

Namun, Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi mengatakan pemerintah belum akan mengubah skema perhitungan HPP yang selama ini ditetapkan.

Selain kenaikan HPP, Bayu menambahkan kebijakan perberasan juga akan mengatur upaya peningkatan penggunaan benih padi unggul bersertifikat, pupuk organik dan anorganik secara imbang dalam usaha tani padi.

(6)

Bisnis I ndonesia Jumat, 02 Januari 2009

Terkait dengan ekspor impor beras, Bayu menyatakan inpres tersebut juga mengatur pengendalian perdagangan komoditas itu agar terkendali, sehingga menjaga kepentingan petani dan konsumen sekaligus menjaga stabilitas harga beras dalam negeri. (19) ([email protected])

(7)

Kompas Jumat, 02 Januari 2009

Pa di Te r e n da m Ba n j ir

Longsor Ambil Lima Korban Jiwa di Jawa Barat

Jumat, 2 Januari 2009 | 01:36 WIB

KUDUS, KOMPAS - Puluhan hektar tanaman padi dan tebu di Kabupaten Kudus, Demak, Pati, dan Jepara, Jawa Tengah, hingga Kamis (1/1) masih terendam air sedalam 15-30 sentimeter. Beberapa hari terakhir turun hujan lebat sehingga sejumlah anak sungai meluap, sementara Laut Jawa pasang.

Sunarto (45), warga Desa Kasiyan, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, mengeluh karena tiga-empat tahun terakhir setiap awal musim hujan seluruh areal pertanian hingga pekarangan warga tergenang air selama 3-4 bulan. ”Kali ini tampaknya akan lebih parah karena ada peninggian jalan, gorong-gorong di bawah jembatan tersumbat batu, kerikil, pasir, dan tanah,” katanya.

Melihat kondisi itu, lembaga swadaya masyarakat Society for Health, Education, Environment, and Peace Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Pati membangun gedung serbaguna untuk menampung pengungsi.

Bupati Demak Tafta Zani khawatir terhadap tanggul kiri Sungai Wulan yang berhulu di pintu pembagi banjir Wilalung dan melintas di Kecamatan Karanganyar, Mijen, Wedung, yang belum ditinggikan. Padahal, sebagian besar tanggul kanan yang berada di Kudus sudah ditinggikan dari dari 8 meter menjadi 11 meter. Untuk itu, Pemkab Demak menganggarkan Rp 2 miliar untuk bantuan penanganan bencana alam.

Sebaliknya, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemkab Pati Desmon Hastiono menyatakan tidak bisa menganggarkan lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk biaya penanggulangan bencana karena belum bisa diprediksi kapan terjadi bencana dan berapa besar tingkat kerusakan.

Sementara itu, di Jawa Barat, yakni di Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Kuningan, terjadi longsor yang menewaskan lima orang.

Empat warga Kampung Kawungluwuh, Desa Sirnaraja, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, tertimbun longsor ketika membuat saluran irigasi hari Rabu (31/12) pukul 11.30.

Menurut Encas, warga yang ikut membuat saluran irigasi, lokasi longsor ada di sebelah bukit yang berjarak sekitar 2 kilometer dari perkampungan warga. ”Kami berniat membuat saluran irigasi baru sepanjang 200 meter untuk sawah baru,” katanya.

Sembilan orang warga Kawungwuluh bergotong royong membangun saluran irigasi di bawah tebing setinggi 15 meter. Mereka bekerja setiap hari mulai pukul 07.30 sejak Minggu (28/12). Empat korban meninggal tertimbun adalah Domo (58), Sa’an (55), Ateng (50), dan Empud (60). Satu korban luka, Atep (50), dirawat di Rumah Sakit Tinewati, Singaparna.

Evakuasi korban dilakukan puluhan warga selama dua jam. Korban tewas langsung dimakamkan pada sore harinya.

Camat Cigalontang Jamaludin Malik menduga, retakan pada tebing terjadi setelah hujan mengguyur daerah tersebut beberapa hari terakhir.

(8)
(9)

Kompas Jumat, 02 Januari 2009

Menurut Suhri (41), Ketua RT 21 RW 5, Kelurahan Citangtu, longsor terjadi pada Rabu pukul 10.30 di tebing sisi kiri rumah Bambang (35), paman korban. Tembok yang tertimpa tanah longsoran jebol dan menimpa Widia yang sedang tidur.

(10)

Pikiran Rakyat Jumat, 02 Januari 2009

Pe t a n i St r ow be r y Te la n Ke r u gia n

Jum'at, 02 Januari 2009 , 00:10:00

GARUT, (PRLM).- Sedikitnya 324 orang petani Strowbery di Desa Barudua dan Karang Mulya Kec. Malangbong, sejak memasuki musim hujan mengalami kerugian cukup besar. Sebagian besar tanaman strowbery mereka rusak parah akibat terjadinya pembusukan diterpa air hujan.

Seorang petani strowbery, Mulyadi (52) yang juga Ketua RW setempat mengatakan, strowbery merupakan salah satu jenis tanaman yang tidak tahan gempuran air hujan. Jangankan sudah berbuah, yang baru berbunga saja jika hujan turun tak hentinya, pohon itu langsung layu. Yang sudah menjadi buah juga bisa busuk.

Dia mengungkapkan, dari sebanyak 18.000 batang tanaman strowbery miliknya yang tumbuh di lahan seluas 350 tumbak atau setengah hektarw, saat musim kemarau bisa menghasilkan keuntungan tak kurang dari Rp 10 juta. ”Ya kalau kotornya sampai Rp 15 juta. Setelah dikurangi bekas pengeluaran pembiayaan keuntungannya tak kurang dari Rp 10 juta. Itu baru dari seluas 350 tumbak,” kata Mulyadi.

Namun lain lagi dengan sekarang ini, menurut Mulyadi, keuntungannya mengalami penurunan cukup drastis. Bahkan sampai ada para petani yang menelan kerugian cukup besar. ”Kalau bagi saya rugi sih tidak. Hanya keuntungannya sangat tipis, yatu sebesar Rp 120.000,00. Jika dibandingkan pada musim kemarau jauh sekali. Itu sudah risiko bagi para petani strowbery,” ujar Mulyadi.

Pendapat yang sama juga diungkapkan petani asal Desa Karang Mulya, Yayan Sofiyan. Menurut dia, jumlah petani yang kini menekuni tanaman strowbery di desanya tak kurang dari 118 orang. Sedangkan lahan yang sudah baku ditanami tanaman primadona bagi warga Kec. Malangbong luasnya mencapai 25 hektare.

”Setiap musim kemarau dari seluas 25 hektare tanaman strowbery keuntungan yang diperoleh petani di Desa Barudua ini tak kurang Rp 500 juta,” ungkap Yayan.

Namun, karena buah strowbery mudah busuk ketika musim hujan, kata Yayan, para petani kini terancam kerugian yang cukup besar. ”Jika buah Strobery mampu bertahan dari terjangan air hujan, maka nasib kehidupan para petani yang berada di Desa Barudua ini akan lebih baik lagi dibandingkan warga lainnya di Kec. Malangbong. Pada musim hujan kita hanya bisa pasrah saja. Mau beralih menanam padi lagi sudah kurang tertarik,” ucapnya.

Camat Kec. Malangbong, Drs. Nadang Sulaksana, M.Si. membenarkan atas adanya keluhan para petani strowbery yang terdapat di Desa Barudua dan Karangmulya. ”Dua hari kemarin kita dari Desa Barudua dan Karang Mulya. Para petani di sana mengeluhkan tentang tak mampu bertahannya buah strowbery pada musim penghujan sekarang ini,” tutur Nandang.

(11)

Pikiran Rakyat Senin, 02 Januari 2009

Pe t a n i Pr ot e s Ke h a dir a n Pe n ge m ba n g

Jum'at, 02 Januari 2009 , 00:07:00

BANDUNG, (PRLM).- Petani dan pembudi daya ikan air tawar di Kab. Bandung bagian selatan, memprotes kehadiran sejumlah perusahaan pengembang yang berniat membangun projek perumahan di sentra produksi.

Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kab. Bandung H. Nono Sambas mengatakan, para petani yang menolak kehadiran perusahaan pengembang tersebut, di antaranya berasal dari sekitar Katapang, Majalaya, Ciparay, Cangkuang, dan Soreang. Daerah-daerah bersangkutan belakangan sering diganggu dan diintimidasi sejumlah pihak untuk mengalihfungsikan lahan pertanian bagi kepentingan lain, terutama bisnis perumahan.

"Semakin banyak pemilik lahan pertanian, petani, dan para pembudi daya ikan di Kab. Bandung bagian selatan menyadari pentingnya eksistensi lahan dan usaha mereka. Mereka kini menilai semakin pentingnya usaha pertanian demi generasi mendatang, yang memiliki keterkaitan sumber pangan, sumber pendapatan, kelestarian lingkungan, dan sosial-budaya lokal, sebagai peluang lolos dari imbas krisis ekonomi pada 2009," kata Nono, yang juga pengurus Asosiasi Pengusaha Ikan Air Tawar Indonesia (Aspatindo) Kab. Bandung.

Disebutkan pula, banyak golongan petani dan pembudi daya ikan belakangan ini "tak mempan" lagi dengan bujukan pengusaha pengembang dan para calo tanah, dengan iming-iming akan disalurkan menjadi tenaga kerja pada projek mereka. Para petani dan pembudi daya ikan lebih melihat jaminan kelanjutan mata pencaharian yang sudah digeluti selama ini, dibandingkan dengan beralih mata pencaharian menjadi buruh bangunan yang sifatnya hanya sampai projek habis.

Menurut Nono, Kab. Bandung bagian selatan selama ini sebagai salah satu dari dua sentra produksi beras kelas premium, yang memiliki pasaran sangat tinggi di kota-kota besar, terutama Jakarta dan Bandung, misalnya ciparay wangi dan jembar. Bahkan, belakangan dikembangkan produk beras organik, sebagai salah satu usaha produksi padi yang mampu mendukung usaha pemulihan lingkungan.

(12)

Bisnis I ndonesia Senin, 05 Januari 2009

Su lt e n g bu t u h u r e a 6 0 .0 0 0 t on

PALU: Provinsi Sulawesi Tengah membutuhkan sedikitnya 60.000 ton pupuk urea bersubsidi pada 2009 guna mempertahankan swasembada beras yang sudah dicapai selama beberapa tahun terakhir.

"Kebutuhan pupuk sebanyak itu untuk meningkatkan produktivitas lebih 200.000 hektare areal tanam padi milik petani selama musim tanam 2009," kata Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sulteng, Abdul Rauf Toramai, di Palu pekan lalu.

(13)

Jurnal Nasional Senin, 05 Januari 2009

Nusantara | Palu | Minggu, 04 Jan 2009 17:58:09 WIB

Su lt e n g Bu t u h Pu pu k Ur e a Be r su bsidi 6 0 .0 0 0 Ton

PROVINSI Sulawesi Tengah (Sulteng) membutuhkan sedikitnya 60.000 ton pupuk urea bersubsidi tahun 2009, guna mempertahankan swasembada beras yang sudah dicapai selama beberapa tahun terakhir.

"Kebutuhan pupuk sebanyak itu untuk meningkatkan produktivitas lebih 200.000 hektar areal tanam padi milik petani selama musim tanam 2009," kata Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sulteng, Abdul Rauf Toramai, di Palu.

Ia menjelaskan, untuk satu hektare luas areal tanam padi di daerahnya dalam satu kali musim tanam, membutuhkan pupuk urea sebanyak 300 kilogram.

Dengan demikian, bila target produksi padi yang direncanakan Pemprov Sulteng di tahun 2009 masih tetap lebih 200.000 hektare seperti yang diprogramkan tahun 2008 lalu, maka pupuk urea bersubsidi yang dibutuhkan paling sedikit 60.000 ton.

Menjawab pertanyaan, Toramai yang mantan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sulteng itu mengatakan, perlu instansi teknis setempat melakukan lobi ke pemerintah pusat untuk memperbesar jatah pupuk urea bersubsidi untuk Sulteng pada tahun 2009.

"Jatah 35.000 ton yang dialokasikan ke Sulteng dan didistribusikan oleh PT Pupuk Kaltim pada tahun ini terlalu sedikit, sebab sebagian besar petani padi dan palawija di daerah kami masih sangat bergantung pada ketersediaan pupuk bersubsidi karena kondisinya belum mapan," ujarnya.

Ia menambahkan, kebutuhan pupuk urea 60.000 ton itu belum termasuk untuk padi ladang, palawija, sayur-sayuran, serta tanaman perkebunan yang tentunya memerlukan tambahan stok hingga sekitar 30 persen.

Menurutnya, apabila pasokan pupuk urea bersubsidi di daerahnya hanya separuh dari total kebutuhan petani, maka dapat dipastikan produksi padi Sulteng pada tahun ini terancam menurun tajam.

(14)

Kompas Senin, 05 Januari 2009

Be r i Pe t a n i Kom pe n sa si La in

Turunnya Harga BBM Tidak Berdampak pada Biaya Produksi Padi Senin, 5 Januari 2009 | 00:52 WIB

Jakarta, Kompas - Rendahnya kenaikan harga pembelian pemerintah untuk gabah dan beras tahun 2009 harus dikompensasi dengan berbagai bantuan. Ini untuk mendorong petani menjual hasil panennya bukan dalam bentuk gabah, tetapi beras. Cara ini dinilai efektif untuk menambah pendapatan petani.

Melalui Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2008 tentang Kebijakan Perberasan, pemerintah menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering giling (GKG) di tingkat penggilingan tahun 2009 sebesar Rp 3.000 per kilogram, atau naik 7,2 persen dibanding 2008. Adapun harga pembelian beras di gudang Perum Bulog naik 7 persen menjadi Rp 4.600 per kg.

Menurut anggota Komisi IV DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-PDIP) Jacobus Mayong Padang, Minggu (4/1) di Jakarta, kenaikan HPP itu tidak mampu meningkatkan daya beli petani. Ini karena laju inflasi 2008 mencapai dua digit, dan itu menggerus daya beli petani.

HPP yang ideal sesuai harapan petani, menurut Jacobus, seharusnya untuk GKG Rp 3.250 per kg dan beras Rp 5.100 kg. Namun, karena pemerintah tidak bersedia menaikkan setinggi itu, maka pemerintah harus memberi kompensasi agar kesejahteraan petani dapat meningkat.

Kompensasi itu antara lain berupa sarana pengeringan, agar pada panen musim rendeng kualitas gabah petani dapat ditingkatkan, sehingga harga jual berasnya menjadi relatif tinggi. Selain itu, petani membutuhkan peralatan pascapanen seperti alat perontok, terpal, dan fasilitas penyimpanan.

Jacobus juga menyarankan agar diberikan subsidi dalam jumlah besar dan bersifat langsung, khususnya kepada petani dengan lahan garapan 0,25 hektar ke bawah. Subsidi itu berupa benih, pupuk, dan obat-obatan yang diberikan gratis. ”Semua itu harus didapatkan petani dengan sistem yang tertata sehingga mudah diakses,” tuturnya.

Kenaikan HPP yang tidak sesuai harapan petani juga diakui oleh Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar. Namun, menurut Mustafa, di tengah situasi ekonomi yang tidak terlalu baik saat ini, kenaikan HPP rata-rata 6-7 persen cukup layak.

Dikatakan, saat ini harga beras di pasar dunia terus menurun. Harga beras kualitas medium dari Vietnam di bawah 400 dollar AS per ton, sedangkan dari Thailand sekitar 500 dollar AS. ”Harga beras Myanmar bahkan sekitar 300 dollar AS per ton,” katanya.

Namun, Mustafa mengakui, sulit untuk memprediksi apakah harga beras saat ini sudah berada pada level terendah. Saat ini Indonesia mengalami surplus beras, untuk mengekspor kelebihan beras itu Indonesia harus melihat tren harga beras dunia.

”Apabila harga beras Indonesia terlalu tinggi akibat tingginya HPP, akan sulit bagi kita mencari pasar ekspor karena harga jadi kurang kompetitif,” katanya.

(15)

Kompas Senin, 05 Januari 2009

Namun, Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir berpendapat sulit mengharapkan turunnya harga BBM bisa menurunkan biaya produksi. ”Kenyataannya sekarang, upah buruh tani tidak mungkin turun. Biaya sewa dan mengolah lahan juga tidak turun,” ujarnya.

Ekspor beras super

Menurut Mustafa, pihaknya tengah melakukan pendekatan kepada para pemangku kepentingan perberasan nasional agar Bulog bisa mulai mengekspor beras pada Januari 2009. Beras yang diekspor adalah beras kualitas super dengan kadar patahan 0-5 persen. ”Volume beras yang diekspor 5.000-10.000 ton per bulan. Kami akan membicarakannya dengan Departemen Pertanian,” katanya.

Ia menjelaskan, pertimbangan melakukan ekspor perdana pada Januari 2009 karena di berbagai daerah panen mulai Januari.

(16)

Kompas Senin, 05 Januari 2009

M a sa la h Pu pu k Be lu m Te r a t a si

Alokasi Pupuk Bersubdisi di Jateng Sudah Lebih

Senin, 5 Januari 2009 | 00:59 WIB

Brebes, Kompas - Kelangkaan dan tingginya harga pupuk urea bersubsidi di Jawa Tengah hingga Minggu (4/1) belum teratasi. Sejumlah petani di Kabupaten Brebes dan Kabupaten Demak, misalnya, masih sulit mendapat pupuk untuk memulai musim tanam tahun 2009 ini.

Kondisi itu berbeda dengan yang dialami petani di Kabupaten Banyumas. Mereka tidak sulit mendapatkan urea, tetapi harganya di atas harga eceran tertinggi.

Petani di Brebes yang tidak tergabung dalam kelompok tani masih kesulitan memperoleh pupuk. Itu terjadi karena mereka tidak memiliki Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani (RDKK). Oleh karena itu, kelompok tani yang aktif harus ikut mendukung mereka dengan membantu proses pendataan.

Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Brebes Masrukhi Bachro, Minggu, mengatakan, dari laporan yang diterimanya, sejumlah petani yang tidak tergabung dalam kelompok tani kesulitan mendapatkan pupuk dari distributor.

Wagimin (48), petani di Desa Ploso, Kecamatan Karangtengah, Demak, juga mengaku kesulitan memperoleh pupuk. Akibatnya, pemupukan tanaman padi miliknya terlambat hingga 20 hari. ”Seharusnya, padi dengan usia tanam 8-10 hari sudah dipupuk, tetapi saya baru bisa memupuk ketika tanaman sudah berusia sebulan,” ujarnya.

Berdasarkan pengalamannya pada musim tanam padi sebelumnya, Wagimin memperkirakan produktivitas panen dari lahan sawahnya seluas 7.500 meter persegi bakal turun hingga 30 persen. ”Hasil panen saya biasanya sekitar 7 ton gabah kering panen (GKP), tetapi kalau memupuknya terlambat seperti sekarang ini, hasilnya akan turun menjadi 5 ton,” keluhnya.

Sudiro (39), petani di Desa Cilongok, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, mengaku merasa cukup diringankan dengan kelancaran distribusi pupuk di daerahnya selama setengah bulan belakangan ini. Dia langsung diberi jatah dua zak pupuk urea dari kepala desa setempat karena lahan sawah miliknya hanya 700 meter persegi.

Meskipun distribusinya sekarang ini lancar, ungkap Sudiro, hargan pupuk masih di atas harga eceran tertinggi (HET), yakni Rp 75.000 per zak (isi 50 kilogram). Dengan harga pupuk sebesar itu, hasil penjualan gabah pada musim panen belum bisa memberikan keuntungan buat petani.

”Prinsipnya, petani masih rugi karena biasanya harga gabah di musim panen selalu anjlok,” ujar Sudiro.

Terus berupaya

(17)
(18)

Kompas Senin, 05 Januari 2009

(19)

Pikiran Rakyat Senin, 05 Januari 2009

Be r a s Ka r a w a n g M e n j a di Pr im a don a

Senin, 05 Januari 2009 , 12:10:00

KARAWANG, (PRLM). - Kendati Karawang disebut sebagai daerah lumbung padi Jawa Barat, namun Bulog hanya mampu menyerap 6 persen dari keseluruhan hasil panen di Karawang.

Hal itu dikarenakan kompetisi yang cukup ketat di Karawang sebagai daerah yang strategis.

Kepala Bulog Sub Divre Karawang Dadang Edi Jumana, Senin (5/1), mengatakan beras-beras di Karawang menjadi primadona. Lokasinya yang strategis dimungkinkan banyak kompetitor merebut gabah-gabah yang dihasilkan petani.

"Mereka berani membeli kualitas bagus tanpa mengurangi keuntungan karena ongkos pengiriman yang relatif murah dari Karawang," katanya.

(20)

Bisnis I ndonesia Selasa, 06 Januari 2009

M e n t a n : I n du st r i be n ih a ga r da m pin gi pe t a n i

JAKARTA: Pemerintah meminta industri benih tanaman pangan melakukan pendampingan kepada petani untuk mengamankan program pertanian 2009.

Permintaan yang diajukan oleh Mentan Anton Apriyantono itu lantaran petani belum terbiasa dengan padi hibrida. "Perlu teknologi tersendiri. Bahkan penyuluh pertanian, harus diajari produsen benih," tuturnya kepada Bisnis di Jakarta, kemarin.

Seruan ini terutama untuk petani pengguna padi hibrida. Pasalnya, tahun ini, pemerintah menargetkan luasan areal padi hibrida di seluruh Indonesia mencapai 500.000 hektare.

Karena itu, katanya, yang dimintakan kepada produsen padi hibrida adalah mendampingi petani dalam penggunaan padi hibrida.

Namun, selain itu, produsen diminta untuk memperbesar produksi benih padi hibrida di dalam negeri.

Dalam rangka mewujudkan swasembada beras lestari pemerintah telah mencanangkan program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) dengan target peningkatan produksi beras 2 juta ton atau setara dengan peningkatan 6,4 % pada 2007 dan 5% untuk tahun-tahun selanjutnya sampai dengan 2009.

Hingga saat ini Departemen Pertanian telah melepas 31 varietas unggul padi hibrida, 6 varietas dirakit oleh BB Padi, 25 varietas padi hibrida lainnya dimiliki oleh perusahaan berupa dua padi hibrida rakitan Indonesia, 14 padi hibrida introduksi dari China, lima dari Jepang, dan empat dari India.

Sejumlah produsen benih padi hibrida terus melakukan aksinya. PT Dupont Indonesia, misalnya, 2008 menargetkan memproduksi benih padi hibrida varietas Pioneer P1 (PP1) 500-1.000 ton untuk memenuhi tingginya permintaan pasar dalam negeri sejak diluncurkan 2005.

Kemudian PT Sang Hyang Seri (Persero), selaku BUMN produsen benih utama di Indonesia, sukses melakukan uji coba produksi benih padi hibrida SL-8 pada musim kemarau 2007.

Produksi benih padi hibrida SL-8 pada musim tanam kemarau 2008 mencapai lebih dari 2 ton per hektare. Pada uji coba penanaman musim tanam kemarau 2007 hanya 1,4-1,7 ton per ha.

Lainnya PT Agribisnis Center (PT ABC), yang beberapa waktu lalu panen perdana jenis long ping. Perusahaan ini melakukan kemitraan yang bersifat konsorsium dengan Kelompok Tani Suryadi di Kampung Pakancilan, Desa Batubantar, Kecamatan Cimanuk, Jawa Barat.

Pada saat ini padi hibrida jenis long ping pusaka hanya dipasarkan oleh PT. ABC di mana potensi produksi padi hibrida jenis long ping pusaka ini bisa mencapai 8-10 ton per hektare.

(21)

Bisnis I ndonesia Selasa, 06 Januari 2009

Selasa, 06/01/2009

N ila i t u k a r pe t a n i m a k in t u r u n

Harga barang kebutuhan naik lebih cepat

JAKARTA: Nilai tukar petani selama November 2008 sebesar 98,36 atau turun sebesar 0,84% dibandingkan dengan Oktober 99,20. Harga produk pertanian cenderung stabil bahkan turun, sedangkan barang-barang kebutuhan yang harus dibayar petani naik lebih cepat.

Nilai tukar petani (NTP) adalah perbandingan harga yang diterima petani terhadap harga yang dibayar petani dalam persentase, yang menjadi indikator untuk melihat kemampuan atau daya beli petani dan menunjukkan daya tukar produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi ataupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi nilai tukar petani, semakin kuat pula tingkat kemampuan dan daya beli mereka.

Penurunan NTP selama November disebabkan oleh indeks yang harus dibayar petani naik 0,09% menjadi 116,77 dibandingkan dengan bulan sebelumnya 116,68. Padahal, indeks yang diterima petani turun sebesar 0,76% dari 115,74 menjadi 114,86.

Direktur Statistik Keuangan dan Harga Badan Pusat Statistik (BPS) Ali Rosidi mengatakan NTP selama November turun disebabkan oleh persentase kenaikan harga-harga barang dan jasa yang harus dibayar petani lebih besar dibandingkan dengan persentase kenaikan harga yang diterima petani.

Kenaikan harga-harga barang konsumsi dan barang lainnya yang harus dibayar petani naik lebih cepat dibandingkan dengan kenaikan produk-produk pertanian. Harga beras dan gabah relatif stabil, sedangkan barang-barang kebutuhan pokok cenderung naik. "Jelas, nilai tukar petani turun," ujarnya kepada Bisnis, seusai konferensi pers, kemarin.

Ali menjelaskan NTP mengalami kenaikan di 10 provinsi, sedangkan 22 provinsi lainnya turun.

Kualitas gabah

Data BPS menunjukkan NTP tertinggi selama November terjadi di Sumatra Selatan, sedangkan Yogyakarta sebagai provinsi yang penurunan NTP-nya terbesar.

Sementara itu, harga rata-rata gabah di tingkat petani selama Desember 2008 untuk kualitas gabah kering giling (GKG) naik 1,76% dan gabah kering panen (GKP) turun 2,34% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. (lihat tabel)

Berdasarkan observasi sebanyak 735 transaksi gabah di 14 provinsi, rata-rata harga GKG di tingkat petani mencapai Rp3.017 per kg, berada di atas harga pembelian pemerintah sebesar Rp2.840 per kg.

Harga GKP sebesar Rp2.638 per kg di tingkat petani dan Rp2.698 di tingkat penggilingan, sedangkan HPP sebesar Rp2.200 per kg. HPP itu mengacu pada HPP 2008, sedangkan HPP yang baru berdasarkan Instruksi Presiden No. 8/2008, mulai berlaku 1 Januari 2009.

(22)
(23)

Bisnis I ndonesia Selasa, 06 Januari 2009

"HPP beras dan gabah naik sekitar 7%-9%. Seharusnya, sama dengan inflasi selama 2008 atau lebih besar yakni 11,06%. Meskipun bahan bakar minyak turun, ongkos produksi dan barang kebutuhan petani naik," ujarnya.

Menurut dia, saat ini harga gabah dan beras berada di atas HPP, karena sudah mulai sedikit yang panen. Namun, saat panen raya, harga beras dan gabah akan turun, sehingga HPP sangat penting untuk menjaga harga tetap stabil.

Winarno menuturkan, HPP telah diputuskan, tetapi pemerintah harus membantu petani dalam sarana pertanian seperti benih unggul dan menjamin ketersediaan pupuk. (19) ([email protected])

(24)

Bisnis I ndonesia Selasa, 06 Januari 2009

Se k t or pe r t a n ia n bu t u h pr ot e k si

"Ranca bana..." Begitu penilaian untuk kinerja sektor pertanian pada 2008. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sektor pertanian melampaui target. Pertumbuhan 5,3%, lebih baik dari rekor 2007 yang mencapai 4,6%. Dalam Rencana Kegiatan Pembangunan (RKP) 2008, Departemen Pertanian mencantumkan target pertumbuhan 3,6%.

Atas dasar harga berlaku, pada triwulan II/2008, sektor pertanian penghasil nilai tambah bruto sebesar Rp180,6 triliun atau 14,7% dari total PDB nasional, yang mencapai Rp1.230,9 triliun. Secara nilai, PDB triwulan II itu, naik 9,65% dari nilai PDB pertanian triwulan I yang mencapai 164,7 triliun. Bila di-ranking, posisi pertanian hanya kalah dari PDB sektor industri pengolahan yang mencapai Rp335,9 triliun atau 27,3% dari total PDB.

Kinerja setinggi itu, diakui, nyaris tak pernah terjadi. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan, saat menjelaskan tentang pertumbuhan ekonomi triwulan III/2007, menuturkan dalam 20 tahun terakhir, pertumbuhan sektor pertanian di atas 3% baru tiga kali.

Selain itu, pada 2 tahun terakhir, secara berturut-turut, tumbuh bagus. Pada 2007, produksi padi naik 4,96% dan 2008, angka produksi padi diprediksi kembali naik sampai 5,4% dari tahun lalu.

Hal itu terpapar pada 3 November 2008, setelah BPS merilis angka ramalan (aram) III produksi pangan 2008. Produksi padi diperkirakan 60,28 juta ton GKG atau naik 5,46% dibandingkan dengan produksi 2007. Produksi jagung mencapai 15,86 juta ton (naik 19,36%), dan produksi kedelai 761.210 ton (naik 28,47%).

Angka yang dilaporkan BPS itu perkiraan yang bisa dicapai berdasarkan pantauan terhadap realisasi panen Januari-Agustus 2008 plus ramalan pada periode September-Desember 2008. Aram III biasanya selalu lebih kecil dari angka sementara (asem) dan angka tetap (atap) yang telah memperhitungkan realisasi periode Januari-Desember.

Begitu pun ekspor. Selama periode Januari-September 2008, ekspor pertanian meningkat 42,64% dibandingkan dengan periode yang sama 2007. Angka ini lebih tinggi dari capaian sektor industri dan sektor pertambangan.

Hasil mengesankan juga dicatat dari hasil ekspor. Pada 1 Agustus 2008, BPS melaporkan ekspor hasil pertanian Januari-Juni 2008 meningkat 50,13% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penyumbang utama kenaikan ekspor hasil pertanian adalah minyak sawit mentah yang mencapai 16,85% dan karet 7,18% dari nilai total ekspor nonmigas.

Secara kumulatif, sampai Juni 2008, ekspor nonmigas Indonesia mencapai 54,38% atau naik sekitar 23,2% dibandingkan dengan capaian Januari-Juni 2007. Bila ekspor komoditas lemak hewan dan minyak nabati serta karet dan barang dari karet dijumlahkan, nilai ekspor selama periode semester I 2008 mencapai US$13.105,9 juta atau naik 92,11% dari hasil ekspor periode yang sama 2007 yang mencapai US$6.821,9 juta.

Pertanyaan kemudian adalah bagaimana 2009? Sudah terlihat jelas, pemerintah hendak menggenjot sektor ini agar membuahkan hasil yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

(25)
(26)

Bisnis I ndonesia Selasa, 06 Januari 2009

Subsidi pertanian dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2009 ditetapkan Rp 32 triliun. Anggaran itu dibagi untuk subsidi pangan, benih, dan pupuk. Subsidi pertanian itu untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan mengurangi kemiskinan di pedesaan. Adapun nilai subsidi pertanian 2008 mencapai Rp19 triliun. Naiknya anggaran subsidi antara lain karena harga pupuk naik.

Pemberian subsidi untuk benih dan pupuk dimaksudkan untuk mendorong peningkatan produksi beras, jagung, dan kedelai nasional.

Dalam rencana kerja Deptan 2009, terungkap sasaran pencapaian PDB sektor pertanian 2009 sebesar 4,6% atau naik 0,40% dibandingkan dengan 2008.

Penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian diharapkan mencapai 44,2 juta jiwa, dari sebelumnya 43,4 juta jiwa, atau meningkat 800.000 tenaga kerja. Adapun tingkat rawan pangan ditargetkan turun 1%, nilai tukar petani menjadi 115-120, dan neraca perdagangan pertanian mencapai US$16,22 miliar, dari sebelumnya US$12,41 miliar.

Total alokasi anggaran untuk subsidi pertanian itu di luar anggaran yang dialokasikan ke Deptan sebesar Rp8,3 triliun. Dari total subsidi Rp 32 triliun, sebesar Rp20,4 triliun untuk pupuk, Rp1,5 triliun untuk benih, dan sisanya untuk pangan, antara lain beras untuk rakyat miskin.

Target tetap

Bahkan, meski pembangunan pertanian 2009 butuh Rp9,20 triliun dan RAPBN 2009, Deptan hanya mendapat sekitar Rp8,3 triliun, Deptan, konon, tidak akan mengubah target. Khusus tanaman pangan, ditargetkan produksi gabah 63 juta-64 juta ton gabah kering giling, jagung 18 juta ton, dan kedelai 1,5 juta ton.

Untuk meningkatkan produksi beras, pemerintah fokus pada penyediaan benih unggul bermutu bersertifikat dan perluasan pelaksanaan sekolah lapang. Apabila tahun ini pelaksanaan sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu 1,5 juta hektare, 2009 menjadi 2 juta hektare. Arah utama kebijakan pembangunan pertanian 2009 antara lain peningkatan ketahanan pangan nasional, kualitas pertumbuhan pertanian, penyempurnaan dan perluasan cakupan program pembangunan berbasis masyarakat pertanian.

Namun, yang mungkin masih sedikit merisaukan produsen dalam negeri adalah akankah pasar dalam negeri terlindungi? Pasalnya, akibat krisis keuangan global, mendorong produsen pertanian dari negera lain akan mengalihkan pasar ke kawasan yang bukan pasar tradisionalnya, salah satunya, mungkin ke Indonesia. Terutama produk dari China, lantaran pasar utama mereka seperti Jepang, AS, Eropa mengalami penurunan daya beli.

Kita belum melihat program perlindungan seperti apa untuk pelaku di sektor pertanian di Tanah Air? Seyogianya Indonesia bukan pasar untuk produk pertanian asing, dan bukan keranjang sampah produk impor. ([email protected])

(27)

Kompas Selasa, 06 Januari 2009

Pertanian

2 ,4 Ju t a Pe t a n i Ta k Bisa M e n ga k se s Pu pu k Be r su bsidi

Selasa, 6 Januari 2009 | 00:52 WIB

Jakarta, Kompas - Sekitar 2,4 juta petani dengan lahan garapan maksimum 2 hektar tidak bisa mengakses pupuk bersubsidi. Ini karena mereka belum tergabung dalam kelompok tani.

Mulai 1 Januari 2009, pemerintah menetapkan sistem distribusi tertutup untuk pupuk bersubsidi. Oleh karena itu, untuk mendapatkan pupuk bersubsidi, petani harus tergabung dalam kelompok tani dan mengisi kebutuhan pupuknya dalam rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK). Hanya petani dengan lahan garapan maksimum 2 hektar yang mendapatkan pupuk bersubsidi.

Menurut Kontak Tani Nelayan Andalan, jumlah itu merupakan 10 persen dari total rumah tangga petani di Indonesia. Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir mengatakan, banyak petani yang belum tahu tentang kebijakan sistem distribusi tertutup untuk pupuk bersubsidi itu.

”Sekitar 80 persen petani berpendidikan SD dan sudah tua sehingga tidak langsung bisa merespons kalau ada kebijakan baru,” kata Winarno, Senin (5/1), saat dihubungi di Yogyakarta.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Departemen Pertanian Ato Suprapto mengakui belum semua petani tergabung dalam kelompok tani. Para petani itu, menurut Ato, umumnya di luar Jawa atau di daerah terpencil yang sulit dijangkau. ”Kalau petani di Jawa, semuanya sudah tergabung dalam kelompok tani,” ujarnya.

Tahun 2009, pemerintah menetapkan jumlah pupuk urea bersubsidi sebanyak 5,5 juta ton. Jumlah ini meningkat 700.000 ton dibandingkan dengan jumlah pupuk urea bersubsidi tahun 2008.

Berdasarkan pengamatan Kompas, dalam masa transisi distribusi pupuk dari sistem terbuka ke tertutup, yaitu September-Desember 2008, banyak menimbulkan masalah. Banyak petani yang tidak kebagian pupuk. Kalaupun mendapatkan, jumlahnya tidak sesuai dengan kebutuhan.

Akibatnya, banyak tanaman padi yang pertumbuhannya terhambat. Hal ini berpotensi menurunkan produktivitas padi.

Cepat bergabung

Menurut Kepala Pusat Pengembangan Penyuluhan Pertanian Deptan Mulyono Machmur, hingga saat ini jumlah kelompok tani yang sudah didata sebanyak 200.000-300.000. Kelompok- kelompok tani ini tergabung dalam 20.000 gabungan kelompok tani.

Sistem pendataan dilakukan mulai dari nama petani, nama kelompok tani, luas lahan garapan, hingga komoditas usaha taninya.

(28)

Pikiran Rakyat Selasa, 06 Januari 2009

Ak h ir Bu la n , Bisa Ek spor Be r a s Su pe r

Selasa, 06 Januari 2009 , 00:11:00

JAKARTA, (PRLM).- Pemerintah akan mengekspor beras dalam negeri pada akhir Januari ini. Ekspor dilakukan untuk beras jenis super, seperti Pandanwangi, Cianjur, Padi Mulia, beras organik super quality. Beras dengan kerusakan di bawah 5 persen.

Direktur Utama Perusahaan Umum Bulog Mustafa Abubakar mengatakan, beberapa perusahaan telah menyatakan kesiapannya untuk mengekspor beras jenis itu. Saat ini perusahaan-perusahaan tersebut sedang dikaji oleh Departemen Pertanian, Departemen Perdagangan, dan Bulog.

"Mudah-mudahan akhir bulan ini sudah bisa ekspor. Kalau tidak, awal bulan depan," katanya usai menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla, di Jakarta, Senin (5/1).

Dia mengatakan, pemerintah memilih beras super karena beras jenis ini lebih fleksibel tidak sensitif terhadap stok beras nasional. Selain itu, harga beras jenis ini sangat tinggi, di Jepang mencapai US$ 1 - 2 per kilogram. Diperkirakan, Indonesia mampu mengeskpor beras jenis ini sebanyak 10.000 – 20.000 ton per bulan.

Sedangkan untuk beras medium, pemerintah belum bisa menentukan besaran ekpsor itu. Paling tidak menunggu pertengahan 2009. Untuk itu, pemerintah menargetkan produksi beras nasional sebesar 3,8 juta ton. Angka ini meningkat 600.000 ton dibandingkan perolehan tahun lalu sebesar 3,2 juta ton.

"Perhitungan Departemen Pertanian, ekspor baru dilakukan setelah cadangan beras mencapai 5 juta ton," kata Mustafa. Jika angka itu tercapai, ekspor beras kualitas medium bisa mencapai 1 juta – 1,5 juta ton.

(29)

Pikiran Rakyat Selasa,06 Januari 2009

Pe t a n i Su lit Pr e dik si M u sim

Selasa, 06 Januari 2009 , 11:47:00

KARAWANG, (PRLM).- Pertanian di enam kecamatan Kab. Karawang menghadapi masalah sulitnya air, pengadaan pupuk, dan sulitnya petani menduga pergantian musim. Akibatnya, masa panen sering terganggu dan pada akhirnya mempengaruhi harga jual. Hal itu mencuat dalam lokakarya dan penyuluhan kepada petani di Kecamatan Tempuran, Kab. Karawang, Selasa (6/1).

Penyuluhan tersebut terselenggara atas kerja sama, LSM Nastari, CSF, Dina Pertanian dan petugas penyuluhan lapangan (PPL). Sementara, peserta loka karya terdiri atas 35 petani.

(30)

Suara Pembaruan Selasa, 06 Januari 2009

Pe r t a n ia n Su lu t D ik e m ba n gk a n

Sektor pertanian akan terus dikembangkan dalam pembangunan Sulawesi Utara (Sulut) 2009. Pertanian menjadi andalan daerah ini, karena memang sebagian besar masyarakatnya adalah petani dan tersedia lahan pertanian cukup subur.

"Jadi, ini menjadi prioritas tahun 2009, karena sudah terbukti rakyat bisa meningkat pendapatan bila pertanian maju," kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut, Herry Rotinsulu, di Manado, Senin (5/1).

(31)

Kompas Rabu,07 Januari 2009

Pe r t a n ia n : Pe t a n i Sa m bu t Ge m bir a Ke n a ik a n H PP

Ga ba h

Rabu, 7 Januari 2009 | 12:31 WIB

Cilacap, Kompas - Kenaikan harga pembelian pemerintah untuk gabah dan beras per 1 Januari 2009 disambut gembira para petani di Cilacap. Kenaikan tersebut dianggap tepat ketika harga pupuk urea bersubsidi tidak menentu dan beban hidup masyarakat, khususnya petani, terus naik.

"Sebagai petani yang bergantung pada panen padi, saya senang sekali. Harga gabah sudah waktunya naik terus. Harga pupuk saja tidak menentu, uang sekolah anak juga naik terus," kata Wagino (43), petani di Desa Kesugihan Lor, Kecamatan Kesugihan, Cilacap, Selasa (6/1).

Pemerintah menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah dan beras mulai 1 Januari 2009. HPP gabah kering panen (GKP) di tingkat petani naik 9,1 persen menjadi Rp 2.400 per kilogram (kg) dari sebelumnya Rp 2.240 per kg. HPP gabah kering giling di penggilingan naik 7,2 persen menjadi Rp 3.000 per kg dari sebelumnya Rp 2.400 per kg. HPP beras naik 7 persen dari Rp 4.300 per kg menjadi Rp 4.600 per kg.

Menurut Wagino, kenaikan harga gabah itu masih rendah dibanding biaya tanam padinya yang seluas 100 ubin, terutama untuk pembelian pupuk yang harganya Rp 80.000 per zak.

Sofyan, tengkulak gabah di Kecamatan Kesugihan, mengatakan, kenaikan HPP gabah dan beras belum dapat dinikmati banyak petani karena sebagian besar belum memasuki masa panen. Saat ini, sebagian besar petani di Cilacap baru memasuki masa pascapemupukan dengan usia padi antara satu-dua bulan. Panen baru terjadi pada Februari- Maret nanti.

Sementara itu, di Tegal, pedagang beras di Pasar Induk Beras Martoloyo, Mahrudi (31), mengatakan, dua hari terakhir harga beras naik sekitar Rp 200 per kg. Kini, harga beras Rp 4.600-Rp 5.500 per kg.

Menurut dia, kenaikan tersebut karena berkurangnya pasokan dan bukan imbas penetapan kenaikan HPP gabah oleh pemerintah. Alasannya, meski HPP sudah naik, Bulog belum merealisasikannya. Selain itu, kini sebagian petani masih memiliki persediaan gabah.

(32)

Kompas Kamis, 08 Januari 2009

H a r ga Be r a s Tu r u n

Bulog Harus Konsisten Membeli Gabah Petani Kamis, 8 Januari 2009 | 01:05 WIB

Jakarta, Kompas - Perdagangan beras di pasar dunia 2009 melesu. Harga beras terus merosot sejak puncak kenaikan harga pada Mei 2008. Oleh karena itu, agar Indonesia tetap bisa swasembada beras, Perum Bulog diminta konsisten membeli gabah dan beras petani pada musim panen rendeng.

Menurut Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Siswono Yudo Husodo, konsistensi kinerja Perum Bulog diperlukan untuk menjaga tingkat harga gabah dan beras di petani tinggi.

Harga gabah dan beras yang tinggi, kata Siswono di Jakarta, Rabu (7/1), akan memberi insentif bagi petani untuk menanam padi sehingga swasembada beras bisa dipertahankan.

Tahun 2009 ditargetkan produksi padi Indonesia 63 juta ton gabah kering giling (GKG), atau setara 36 juta ton beras. Apabila target produksi itu tercapai, Indonesia akan mengekspor 1 juta - 1,5 juta ton beras.

Namun, ekspor beras akan sulit dilakukan jika harga di pasar dunia terus turun. Apalagi kalau harga beras Indonesia di atas harga dunia.

Harga beras Thailand pada Mei 2008 mencapai 949 dollar AS per ton, saat ini harga beras Thailand dengan kadar patahan 0-5 persen hanya 555 dollar AS per ton. Adapun yang kadar patahannya 15 persen harganya 500 dollar AS, dan 25 persen harganya 425 dollar AS.

Harga beras super Vietnam dan Pakistan 400 dollar AS per ton. Adapun dengan kadar patahan 15 persen harganya 350 dollar AS per ton, dan patahan 25 persen 325 dollar AS per ton.

Padahal, sebelumnya, harganya 500 dollar AS per ton. Adapun di AS harga beras patahan 4 persen 640 dollar AS per ton.

Di bawah inflasi

Menurut Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar, pemerintah menyadari adanya penurunan harga beras dunia. Oleh karena itu, harga pembelian pemerintah (HPP) kenaikannya di bawah tingkat inflasi.

Ketua Asosiasi Beras Ekspor Thailand Chookiat Ophaswongse, seperti dikutip The Nation, pada 5 Januari, menyatakan, banyak eksportir beras menjalani ”liburan panjang” pada 2009.

Tingginya biaya produksi beras ekspor Thailand, kata Chookiat, akan membuat Thailand sulit mengekspor beras. Apalagi harga beras Vietnam dan India, dua negara yang menjadi pesaing Thailand di pasar beras dunia, relatif lebih murah.

(33)

Kompas Kamis, 08 Januari 2009

Pertanian

H u j a n Be r k u r a n g, Pe t a n i Ke m ba li Pa k a i Pom pa

Kamis, 8 Januari 2009 | 16:54 WIB

Purwakarta, Kompas - Sebagian petani sawah tadah hujan di Kabupaten Purwakarta memompa air sumur untuk mengairi sawah pada musim tanam rendeng ini. Hujan jarang turun sepekan terakhir dan menyebabkan sawah mereka kekurangan air.

Kondisi itu dialami petani di Desa Benteng, Kecamatan Campaka, dan Desa Cirangkong, Kecamatan Cibatu. Petani telah memompa air 2-3 kali untuk menyelamatkan padi mereka yang kini berusia 10-28 hari. Hadiya (62), petani di Desa Cirangkong, Rabu (7/1), mengatakan, gerimis mengguyur desanya dua kali dalam sepekan terakhir. Itu tidak cukup membasahi empat petak sawahnya seluas 2.000 meter persegi. Salah satu petak bahkan tampak retak-retak.

"Padi baru berumur 10 hari dan masih membutuhkan banyak air. Jika tidak diairi, sawah akan mengering dalam dua hari dan tanaman bisa layu atau mati," ujarnya.

Saib (44), petani di Desa Benteng, menambahkan, petani memperkirakan curah hujan cukup tinggi pada Januari-Februari ini. Mereka mulai memindahkan bibit dari persemaian sejak 1-4 pekan lalu. Namun, ketika sebagian besar bibit telah ditanam pekan pertama Januari ini, intensitas hujan justru berkurang.

Petani Desa Benteng dan Cirangkong menghabiskan 7-8 liter bensin sebagai bahan bakar pompa untuk mengairi 1 hektar sawah. Petani memompa sumur air dangkal yang mereka buat di tengah sawah dua hari sekali pada pukul 06.00-18.00.

"Perubahan cuaca sulit diprediksi beberapa tahun terakhir. Sawah juga cepat mengering. Sawah saya baru dua hari lalu diairi, tapi sekarang kering lagi," kata Saib.

Di luar prediksi

Kepala Bidang Bina Produksi Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Purwakarta Dedi Setyadi memperkirakan, curah hujan yang terjadi padapekan pertama Januari lebih rendah daripada perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan data yang dikirimkan BMKG Stasiun Klimatologi Darmaga Bogor ke Dinas Pertanian Purwakarta, curah hujan di sebagian wilayah Purwakarta selama Januari 2009 diperkirakan normal dengan 200-300 milimeter. Kondisi itu juga berlangsung di sebagian besar wilayah Jawa Barat.

Dedi menambahkan, sejauh ini belum ada ancaman kekeringan di lahan pertanian Purwakarta akibat berkurangnya curah hujan. Sebab, petani masih bisa mengusahakan pengairan dari sumber-sumber setempat. Potensi kekurangan air akan mengancam 5.925 hektar sawah tadah hujan dan 6.129 hektar lahan kering jika hujan tidak turun beberapa pekan mendatang. Selain itu, debit air untuk sawah irigasi teknis dan setengah teknis juga terancam berkurang.

(34)

Kompas Kamis,08 Januari 2009

Ibu Kota

La h a n Sa w a h Pr odu k t if Ta k Ak a n D ik or ba n k a n

Kamis, 8 Januari 2009 | 16:53 WIB

Tasikmalaya, Kompas - Proses pemindahan ibu kota Kabupaten Tasikmalaya ke Kecamatan Singaparna dan sekitarnya dikhawatirkan mengorbankan lahan sawah produktif di area itu. Mengantisipasi hal itu, Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya berupaya mengatasi alih fungsi lahan ini dengan meningkatkan produktivitas.

Berdasarkan rencana detail tata ruang wilayah ibu kota Kabupaten Tasikmalaya, yang diperoleh Rabu (7/1), kawasan inti perkantoran pemerintah daerah akan menempati lahan seluas lebih kurang 50 hektar di Desa Sukaasih dan Sukamulya, Kecamatan Singaparna. Mayoritas lahan tersebut, menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya Henry Nugroho, adalah sawah produktif.

Henry mengatakan, alih fungsi lahan dalam proses pemindahan ibu kota kabupaten tidak terelakkan. Untuk mengantisipasi menurunnya produksi padi akibat alih fungsi lahan, Dinas Pertanian akan lebih mengintensifkan pola budidaya untuk mendongkrak produktivitas.

"Untuk meningkatkan produktivitas bisa dengan berbagai cara. Ada dengan pola system of rice intensification (SRI) organik atau bisa juga dengan cara pengelolaan tanaman terpadu (PTT)," kata Henry di sela-sela peletakan batu pertama pembangunan Masjid Agung Kabupaten Tasikmalaya di Desa Sukamulya, Kecamatan Singaparna.

Dengan pola SRI organik dan PTT, rata-rata produktivitas lahan sawah di Kabupaten Tasikmalaya bisa mencapai 63 kuintal per hektar, bahkan pada beberapa lokasi bisa lebih dari itu. Ini jelas lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata produktivitas dengan pola tanam konvensional yang hanya sekitar 50 kuintal per hektar.

Henry menambahkan, infrastruktur pertanian, seperti irigasi desa dan irigasi usaha tani, yang sebagian besar hancur, pun akan terus diperbaiki.

Ia juga berharap pengembangan pusat permukiman, industri dan perdagangan, serta sarana penunjang lain di kawasan ibu kota tidak akan mengorbankan sawah produktif. "Kalau nanti undang-undang tentang lahan abadi pertanian sudah berlaku, insya Allah lahan sawah produktif bisa dipertahankan," ujar Henry.

Ibu kota Kabupaten Tasikmalaya akan menempati lahan di 16 desa di enam kecamatan, yakni Kecamatan Singaparna, Mangunreja, Sariwangi, Leuwisari, Padakembang, dan Sukarame, seluas 4.139,7 hektar. Saat ini sudah berdiri gedung kantor Dinas Permukiman, Tata Ruang, dan Lingkungan; Dinas Pekerjaan Umum; Dinas Perhubungan; dan Dinas Pendidikan.

Bupati Tasikmalaya Tatang Farhanul Hakim mengutarakan, tahun 2009 pembangunan pendapa, kantor bupati, gedung DPRD dan sekretariat DPRD, serta kantor sekretariat daerah akan mulai dilakukan. Pembangunan yang diperkirakan berlangsung dua tahun itu menelan biaya Rp 108 miliar. Diharapkan, tahun 2010 pembangunan gedung tersebut selesai sehingga bisa secepatnya ditempati.

(35)

Kompas Kamis, 08 Januari 2009

PERTANIAN

Pe t a n i La m pu n g N ik m a t i H a r ga Tin ggi

Kamis, 8 Januari 2009 | 03:00 WIB

Bandar Lampung, Kompas - Memasuki musim tanam, harga gabah di tingkat petani pada Desember 2008 meningkat hingga 5,63 persen dibandingkan harga gabah November 2008. Kenaikan harga gabah juga terjadi di tingkat penggilingan sebesar 5,77 pada Desember 2008 dibandingkan November 2008.

Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik Lampung Dody Gunawan Yusuf, Rabu (7/1), mengatakan, peningkatan harga tersebut sangat membantu petani di Lampung.

Harga rata-rata gabah kering panen (GKP) di tingkat petani pada Desember 2008 mencapai Rp 2.850 per kilogram, sementara pada bulan November 2008 harga rata-rata GKP mencapai Rp 2.698 per kilogram. Adapun harga rata-rata GKP di tingkat penggilingan pada Desember 2008 mencapai Rp 2.927 per kilogram atau meningkat dibandingkan harga rata-rata November sebesar Rp 2.767 per kilogram.

Menurut Dody, harga tersebut sangat bagus, mengingat sejak dikeluarkannya Instruksi Presiden 2008 mengenai kebijakan perberasan untuk mengantisipasi kenaikan harga beras yang terus terjadi seiring dengan krisis pangan dunia, harga di pasaran justru ikut naik.

”Petani bisa memperoleh harga yang cukup layak,” ujar Dody.

Menurut Dody, dari 21 titik pengamatan harga produsen gabah, empat titik observasi di Lampung termasuk ke dalam kelompok kualitas rendah dengan kadar air lebih dari 25 persen dan empat observasi termasuk dalam kualitas gabah dengan kadar air di bawah 14 persen.

Akan tetapi, kendati kualitas bervariasi, seluruh transaksi terjadi di atas harga pembelian pemerintah (HPP). Sesuai HPP, harga beli untuk gabah di tingkat petani sebesar Rp 2.200 per kilogram, sementara di tingkat penggilingan sebesar Rp 2.240 per kilogram.

(36)

Kompas Kamis,08 Januari 2009

Pr odu k si pa di Ke dir i Tu r u n 4 0 Pe r se n

Hanya Satu Kecamatan yang Masukkan Data

Kamis, 8 Januari 2009 | 16:54 WIB

Madiun, Kompas - Produksi padi di Kabupaten Kediri pada musim panen raya pertama tahun 2009 diprediksi turun sampai 40 persen dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya. Penyebabnya, serangan hama tikus yang sulit dikendalikan di hampir semua areal tanaman padi.

Produktivitas padi di Kediri, yang rata-rata 5,9 ton per hektar, diprediksi hanya sekitar 3-4 ton per hektar. Adapaun luas areal tanaman padi tahun ini diprediksi 55.000 hektar.

Menurut petani, luas areal sawah yang diserang tikus mencapai ribuan hektar. Sementara Pemerintah Kabupaten Kediri tidak memiliki data rinci mengenai luas areal yang terserang hama tikus. Dari 24 kecamatan di Kediri, hingga Rabu (7/1) baru satu kecamatan yang memasukkan laporan, yakni Kecamatan Semen.

"Survei petugas lapangan menyebutkan, sernagan tikus terjadi di tiga desa di kecamatan Semen, yakni Pohsarang, Kedak, dan Selopanggung," kata Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Kediri Sigit Rahardjo.

Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Dinas Pertanian Kabupaten Kediri Kantiyono mengemukakan, luas serangan hama tikus di Semen mencapai 55 hektar.

Selain Semen, tikus juga menyerang apdi di Kecamatan Pare, Kecamatan Gampengrejo, Kecamatan Plemahan, Kecamatan Badas, Kecamatan Grogol, dan Kecamatan Banyakan.

Serangan ikus di Kecamatan Pare, badas, dan Plemahan terjadi setiap tahun. bahkan pada 2008, tahun serangan tikus terjadi setiap bulan. Daerah itu temasuk daerah endemis hama tikus. Adapun di empat kecamatan lain, serangan tikus terjadi dalam siklus lima tahun.

Umpan

Jaelani (50), petani di Desa Pohsarang, mengatakan, tikus menyerang tanaman mulai umur 40 hari hingga panen. Saat tanaman padi masih muda, batangnya dikerat hingga patah. Setelah bulir padi menyembul, giliran bulir itulah yang dimakan tikus.

Menurut Ali Lurtadho (47) petani di Desa Kedak, penanganan serangan tikus dilakukan dengan memasnag umpan di lubang-lubang tikus di sawah. Umpan itu berupa makanan kesukaan tikus, seperti nasi dan ketela, yang telah dibubuhi racun tikus.

"namun, metode umpan ini hanya cespleng saat pertama kali diberikan. kalau sudah ada yang mati, tikus-tikus yang lain tidak mau memakannya. Mereka hewan cerdik," katanya.

Hama tikus pernah merajalela di kediri pada tahun 2006. Serangannya sulit dikendalikan walaupun dilakukan gropyokan secara serentak. Bupati Kediri Sutrisno kemudian mendatangkan 10 burung hantu (Tyto alba) dari Medan, Sumatera Utara. Burung ini dibeli dengan harga Rp 2 juta per ekor.

(37)

Suara Pembaruan Kamis, 08 Januari 2009

Pe t a n i H a r u s D iba n t u Ku r a n gi Su su t Ga ba h da n Be r a s

[JAKARTA] Semua pihak diminta membantu petani untuk mengurangi tingkat kehilangan hasil atau susut gabah dan beras saat panen dan pascapanen, walaupun secara nasional sudah menurun sampai 10,82 persen (dari 20,51 persen pada 1996). Bantuan menyeluruh bisa menghindari potensi kerugian sampai triliunan rupiah.

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir, kepada SP, di Jakarta, Kamis (8/1), mengakui masih banyaknya kehilangan hasil gabah dan beras saat panen dan pascapanen, terutama pada usaha tani tradisional. Namun, menurutnya, petani sendiri tidak merasa kehilangan karena sudah bekerja maksimal sesuai kemampuannya.

Winarno mengatakan, dibutuhkan teknologi dan peralatan yang cukup mahal untuk menghindari atau mengurangi kehilangan hasil. Alat pengering gabah, misalnya, harganya mencapai puluhan juta rupiah. Pemerintah diminta meningkatkan bantuan pengadaaan kebutuhan petani, khususnya usaha tani yang masih tradisional.

KTNA sudah menyarankan kepada para petani untuk memanen padi menggunakan arit bergerigi, merontokkan padi dengan mesin perontok (bukan dibanting atau dipukul-pukulkan).

Bagi yang tidak memiliki alat pengering disarankan menjemur gabah menggunakan terpal agar tidak tercecer atau terbuang.

Berdasarkan angka ramalan III Badan Pusat Statistik (BPS), produksi gabah nasional pada 2008 sebanyak 60 juta ton atau setara dengan 35 juta ton beras.

Ini berarti tingkat kehilangan hasil sekitar 6,5 juta ton gabah atau sekitar 3,7 juta ton beras. Jumlah ini bisa bernilai sekitar Rp 14,8 triliun jika harga rata-rata beras Rp 4.000 per kg.

Berbagai Upaya

Berkaitan dengan itu, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHP) Departemen Pertanian, Zaenal Bachruddin, kepada SP, di Jakarta, Kamis (8/1), men- jelaskan, pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan tingkat kehilangan hasil. Penurunan itu juga menunjukkan, semakin majunya teknologi pasca-panen.

Zaenal mengemukakan, Departemen Pertanian melalui Ditjen PPHP telah mendorong dan menggerakkan petani serta pemangku kepentingan (stakeholders) di pusat maupun daerah, khususnya dalam menangani panen-pascapanen yang baik dan benar (good handling practices) untuk komoditas padi.

(38)

Kompas Jumat, 09 Januari 2009

Pe n ga da a n Be r a s Bu log D in a ik k a n 2 0 Pe r se n

Sesuai Kebutuhan Beras untuk Rakyat Miskin

Jumat, 9 Januari 2009 | 14:00 WIB

Indramayu, Kompas - Rencana pengadaan beras Perum Bulog Subdivisi Regional Cirebon dan Indramayu tahun 2009 naik 20 persen dibandingkan dengan rencana pengadaan tahun 2008. Kenaikan prognosa pengadaan disesuaikan dengan perkiraan kebutuhan beras untuk rakyat miskin (raskin) yang naik sekitar 1 persen tahun ini.

Kepala Bulog Subdivre Indramayu Surasno mengatakan, prognosa pengadaan beras di Indramayu tahun 2009 sebesar 75.000 ton setara beras. Target itu naik 25 persen dibandingkan dengan prognosa pengadaan awal 2008 yang hanya 60.000 ton. Penambahan prognosa disesuaikan dengan kemungkinan peningkatan kebutuhan raskin di Indramayu yang bertambah sekitar 10 ton per bulan.

Jumlah keluarga miskin di Indramayu sementara ini naik dari 169.701 keluarga menjadi 170.352 keluarga sehingga kebutuhan raskin naik dari 2.545 ton menjadi 25.555 ton per bulan. Karena itu, kebutuhan raskin di Indramayu dalam setahun diperkirakan 30.663 ton. "Pendekatan yang digunakan Bulog adalah kenaikan kebutuhan raskin," ujar Surasno, Kamis (8/1).

Sementara itu, di Cirebon, prognosa penyerapan beras Bulog Subdivre Cirebon tahun 2009 naik 15 persen, dari 65.000 ton menjadi 75.000 ton. Menurut Kepala Bulog Subdivre Cirebon Slamet Subagio, serupa dengan di Indramayu, kebutuhan raskin diperkirakan naik sehingga Bulog memperbesar prognosanya.

Biasanya kebutuhan raskin di Subdivre Cirebon, yaitu wilayah Kota/Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka, mencapai 6.229 ton per bulan. Diperkirakan kebutuhan raskin tahun 2009 sekitar 6.400 ton per bulan sehingga pagu yang dihitung Subdivre Cirebon sebesar 6.500 ton per bulan. Hal itu sengaja dilakukan agar tidak terjadi kekurangan beras untuk memenuhi kebutuhan raskin, seperti terjadi di Subdivre Cianjur.

Surasno mengatakan, apabila cuaca kondusif dan hasil panen raya melimpah, Bulog optimistis penyerapan beras dan gabah petani melebihi prognosa yang ditargetkan. Bahkan, Subdivre Indramayu yakin mampu memenuhi kekurangan beras di subdivre lain, seperti Cianjur dan Bandung. "Kami surplus beras. Sebab, kebutuhan raskin di Indramayu hanya 30.000 ton, sedangkan produksinya mencapai 90.000 ton," ujar Surasno.

Realisasi penyerapan beras di Subdivre Indramayu selama tahun 2008 sangat tinggi, mencapai 92.000 ton atau 50 persen di atas target. Adapun di Subdivre Cirebon, kelebihan pengadaan beras sebesar 18 persen dengan penyerapan 77.100 ton setara beras hingga akhir 2008. Tingginya realisasi penyerapan beras di Indramayu dan Cirebon didukung program pengadaan dengan nonharga pembelian pemerintah (HPP) pada pertengahan 2008.

(39)

Kompas Jumat, 09 Januari 2009

Mengenai pemberlakuan HPP baru, sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2008 tentang Perberasan, yang berlaku mulai 1 Januari 2009, Surano dan Subagio yakin penyerapan beras tahun ini tetap akan optimal. Mulai pekan pertama Januari, Bulog telah menyosialisasikan dan mendata ulang mitra yang akan menyerap beras dari petani. Adapun beras HPP yang dibeli Bulog saat ini seharga Rp 4.600 per kilogram (kg) dengan ketentuan kadar air maksimal 14 persen, bulir patah 20 persen, derajat sosoh 95 persen, dan kadar menir maksimal 2 persen.

(40)

Kompas Jumat, 09 Januari 2009

PUPUK BERSUBSIDI

Pe t a n i Be lu m Ra sa k a n Ja m in a n Ke t e r se dia a n

Jumat, 9 Januari 2009 | 00:04 WIB

Padang, Kompas - Beberapa petani di Provinsi Sumatera Barat belum merasakan jaminan ketersediaan pupuk urea bersubsidi pada masa tanam kali ini. Padahal, pemerintah sudah memberlakukan sistem distribusi baru untuk pupuk urea bersubsidi.

Ros, petani di Jorong Muko- muko Kanagarian Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam, Kamis (8/1), mengaku masih harus memesan dan membayar uang muka untuk membeli pupuk urea. Itu pun harus ditunggunya sekitar dua minggu sebelum mendapatkan pupuk.

”Terakhir, saya harus mengeluarkan uang Rp 4.000 untuk membeli satu kilogram pupuk urea. Entah mengapa harga pupuk urea ini sangat mahal. Padahal, pembelian pupuk sudah dikoordinasikan oleh kelompok tani,” ujar Ros.

Kondisi ini, menurut Ros, sudah terjadi setidaknya enam bulan terakhir. Dia juga belum mengetahui dan merasakan dampak kebijakan penyaluran pupuk urea bersubsidi oleh pemerintah pada tahun 2009 ini.

Kelangkaan pupuk juga dirasakan Zaherman, petani di Kecamatan Nanggalo, Kota Padang. Dia mengatakan, pupuk urea sulit diperoleh, baik di tingkat agen maupun pengecer.

”Dari sejumlah pupuk yang dibutuhkan untuk tanaman padi, hanya urea yang sulit didapatkan. Pupuk jenis lain masih bisa diperoleh dengan mudah,” kata Zaherman.

(41)

Kompas Jumat, 09 Januari 2009

KRISIS EKONOMI

Pe t a n i M u la i M e n j u a l Ke bu n

Jumat, 9 Januari 2009 | 00:51 WIB

Banyuasin, Kompas - Sebagian petani karet di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, mulai menjual kebun mereka. Petani tak sanggup memenuhi kebutuhan hidup dan kewajiban kredit setelah harga karet turun akibat krisis keuangan yang berkepanjangan. Mereka umumnya menjual murah, berkisar Rp 30 juta per bidang (hektar) atau di bawah harga normal Rp 45 juta-Rp 60 juta.

Di beberapa perkebunan, Kamis (8/1), tampak papan pengumuman penjualan kebun karet. Harga jual kebun bervariasi. Harga lahan karet yang siap panen Rp 50 juta-Rp 60 juta per bidang. Adapun harga lahan yang masih ditanami bibit dengan usia 1-3 tahun Rp 30 juta per bidang.

Wantjik (45), petani karet di Sukajadi, berniat menjual kebun karet miliknya seluas dua bidang atau 4 hektar. Di kalangan petani, sebidang lahan karet luasnya sama dengan 2 hektar.

”Dua pekan memasang pengumuman, sudah ada empat penawar. Peminat cukup banyak karena dua bidang lahan yang sudah siap panen ini dijual Rp 60 juta. Biasanya, harga bisa Rp 80 juta,” katanya.

Pertimbangan Wantjik menjual murah karena terdesak kebutuhan ekonomi dan kewajiban membayar kredit. Sebagian hasil penjualan akan digunakan untuk modal berdagang. Sejak harga karet anjlok, penghasilannya menurun tajam sehingga dia kesulitan memenuhi kebutuhan hidup seorang istri dan tiga anak yang masih sekolah.

(42)

Kompas Senin, 12 Januari 2009

PERTANIAN

Se ba gia n Pe t a n i Be r a lih k e Pu pu k Or ga n ik

Senin, 12 Januari 2009 | 00:54 WIB

Cirebon, Kompas - Sebagian petani di Cirebon, Jawa Barat, kini mulai melirik pupuk organik sebagai pengganti pupuk kimia. Hal itu dipicu oleh langkanya pupuk kimia saat musim tanam dan mahalnya harga pupuk tersebut di pengecer.

Surmaja dan Casba, petani Desa Cikulak Kidul, Kecamatan Waled, Minggu (11/1), mengatakan, setiap musim tanam pupuk selalu langka. Kalaupun ada, harganya mahal. Musim tanam kali ini, misalnya, ia harus membeli dengan harga Rp 1.300 per kg.

Surmaja menyebutkan, membuat pupuk organik butuh tenaga ekstra karena harus mengumpulkan banyak bahan, mulai dari sampa rumah tangga hingga kotoran ternak. Petani pun bisa membeli pupuk organik yang sudah siap pakai. ”Hasilnya memang tidak sebanyak saat memakai pupuk kimia. Namun, murahnya harga pupuk organik, modal bertani bisa lebih kecil.”

Jaja Mulyanto, Koordinator Petugas Penyuluhan Unit Pelaksana Teknis Daerah Waled, mengakui minat petani terhadap pupuk organik kian tinggi karena pupuk kimia yang sulit didapat.

Di Takalar, Sulawesi Selatan, penggunaan pupuk organik fermentasi kotoran hewan dan buah nanas meningkatkan produktivitas tambak dan memperpendek masa budidaya bandeng di Dusun Soreang, Desa Patani. Tambak berpupuk organik yang dipanen Minggu menghasilkan bandeng berbobot 250-340 gram per ekor dalam waktu 3,5 bulan.

(43)

Kompas Selasa, 13 Januari 2009

Be r a s, I m por a t a u Ek spor ?

Selasa, 13 Januari 2009 | 00:33 WIB

Soekartawi

Belakangan ini muncul lagi wacana ekspor beras. Padahal, pada awal 2008 ekspor beras dilarang.

Maka, muncul pro-kontra dalam ekspor beras. Keinginan pemerintah untuk mengekspor kelebihan beras dikritik dan saat impor juga dikritik. Pemerintah seakan serba salah.

Tampaknya, kini beras tidak lagi merupakan komoditas ekonomi saja, tetapi juga komoditas sosial, bahkan komoditas politik. Karena itu, analisis soal beras harus lebih komprehensif, bukan saja dibahas dengan pisau analisis ilmu ekonomi, tetapi juga ilmu sosial dan politik.

Dengan demikian, paling tidak, ada tiga kriteria yang harus dijawab dalam melakukan analisis perberasan di Indonesia. Pertama, apakah secara teknis dapat dilaksanakan? Kedua, apakah secara ekonomi-finansial menguntungkan dan biayanya tidak mahal? Ketiga, apakah secara sosial diterima masyarakat?

Singkatnya, politik perberasan nasional harus dapat dilaksanakan efektif dan efisien, secara ekonomi menguntungkan semua stakeholder (terutama petani, buruh tani, dan konsumen miskin), serta tidak menimbulkan masalah sosial-politik.

Mengapa politik perberasan menjadi sedikit rawan karena alasan yang ketiga.

Alasannya, eksternalitas, yaitu faktor luar yang biasanya tidak ada dalam sistem, tetapi amat memengaruhi gagal dan berhasilnya kebijakan perberasan nasional. Meski secara teknis dan ekonomi-finansial tidak ada masalah, tidak menutup kemungkinan kebijakan yang diambil pemerintah tidak diterima masyarakat. Di sinilah peran beras berubah menjadi komoditas sosial, bahkan komoditas politik. Karena itu, tidak keliru jika ada parpol yang mulai ancang-ancang bermain dengan komoditas beras sebagai ”alat pemukul” suksesnya kampanye pada April 2009.

Serba salah?

Kesulitan yang dihadapi pemerintah sepertinya serba ”salah”. Mengapa? Pertama, pangan atau beras di Indonesia sering dihadapkan pada berbagai paradoksal, seperti sekeping uang dengan dua sisi berbeda. Negara kita disebut gemah ripah loh jinawi, tetapi beras masih impor. Produksi padi yang sukses dan melimpah membuat pemerintah senang, tetapi petani sering susah karena harga turun saat panen.

Di satu sisi, di sana-sini berita banjir hampir selalu terdengar, tetapi di daerah lain tanaman padi kekurangan air. Katanya, kita siap ekspor beras, tetapi saat ada pembagian beras/sembako, terjadi rebutan beras. Dan banyak contoh lain.

Kedua, wilayah pertanaman padi tidak merata, bahkan lebih terkonsentrasi di daerah tertentu (misalnya provinsi di Jawa dan Sulawesi Selatan) sehingga memunculkan masalah distribusi jika beras mau diangkut ke semua wilayah Indonesia. Dengan demikian, dalam waktu relatif sama, daerah tertentu cukup beras, tetapi daerah lain kekurangan beras.

(44)
(45)

Kompas Selasa, 13 Januari 2009

Keempat, karena diperlakukan istimewa, beras seakan sebagai penentu banyak hal. Beras dipakai sebagai dasar penentuan kriteria kemiskinan, upah minimum regional, inflasi, status sosial masyarakat, dan lainnya. Dengan demikian, bila ada masalah beras, cepat berdampak pada kehidupan masyarakat.

Kelima, kini beras benar-benar dianggap sumber utama kecukupan pangan. Katanya, belum makan kalau belum makan nasi meski sebenarnya ia kenyang karena makanan yang lain. Jadi, diperlukan perubahan cara pandang atau perubahan budaya bahwa kecukupan pangan bukan berarti bersumber pada beras, tetapi dari sumber pangan lain.

Solusinya?

Lantas, apa solusinya?

Pertama, terapkan paham pareto optimum, artinya kebijakan perberasan kita, apa pun alasannya, harus memuaskan produsen (petani) dan konsumen (terutama petani, buruh tani, penduduk miskin), serta konsumen lain. Karena itu, pemuasan ini harus dinikmati mereka yang paling besar terkena dampak negatif apabila ada kenaikan harga beras.

Kedua, lakukan instrumen fiskal sebagai kebijakan (misalnya melalui perpajakan), tetapi harap diingat, fluktuasi harga pangan sering sulit diprediksi.

Ketiga, mulai sekarang hentikan keistimewaan beras sebagai alat ukur.

Keempat, giatkan diversifikasi pangan.

Kelima, adakan gerakan nasional kurangi konsumsi beras dan menggantinya dengan pangan berserat yang lain, seperti sereal dan jagung.

(46)

Kompas Selasa, 13 Januari 2009

Ke t a h a n a n V s Ke da u la t a n Pa n ga n

Selasa, 13 Januari 2009 | 00:32 WIB

Dwi Andreas Santosa

Kedaulatan pangan (food sovereignty) merupakan istilah politik, kurang tepat digunakan dalam sebuah semiloka.

Demikian dikatakan Deputi Menko Perekonomian Bayu Krisnamurthi saat menjadi pembicara pada semiloka nasional ”Penanganan Krisis Sumber Daya Lahan untuk Mendukung Kedaulatan Pangan dan Energi” di IPB, 22-23 Desember 2008.

Di banyak negara dan Indonesia, konsep yang dianut dan mendasari hampir seluruh kebijakan dan strategi pertanian dan penyediaan pangan adalah ketahanan pangan (food security), yang oleh sebagian ekonom dianggap konsep teknis meski ada lebih dari 200 definisi tentang ketahanan pangan (Smith et al, 1992) dengan berbagai kepentingan politis di baliknya.

Definisi ketahanan pangan yang paling banyak dianut adalah hasil kesepakatan Pertemuan Puncak Pangan Dunia (World Food Summit) 1996, yang menekankan akses semua orang terhadap pangan pada setiap waktu, tidak memandang di mana pangan itu diproduksi dan dengan cara bagaimana. Ketahanan pangan lalu bias ke kemampuan untuk menyediakan pangan pada level global, nasional, maupun regional yang menjadikan perdagangan internasional menjadi suatu keniscayaan.

Sistem perdagangan internasional diawali pertemuan Bretton Woods, Juli 1944, yang diinisiasi Dana Moneter Internasional (IMF), International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) yang lalu menjadi Bank Dunia (World Bank), serta Organisasi Perdagangan Internasional (ITO). Sejumlah pertemuan itu disusul pertemuan berikut dan terakhir pertemuan Doha pada Juli 2006.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait