KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 43 TAHUN 2000 (Tanggal 19 Mei 2000)
tentang
PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DARI PUNGUTAN BIAYA HAK PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI
MENTERI PERHUBUNGAN
Menimbang :
bahwa dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2000 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Perhubungan, dipandang perlu menetapkan Keputusan Menteri Perhubungan tentang Petunjuk Pelaksanaan Tarif Atas Penerimaan Negara Bukan Pajak dari Pungutan Biaya Hak Penyelenggaraan Telekomunikasi; Mengingat :
1. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1989 tentang Telekomunikasi (LN Tahun 1989 No.11, TLN No.3391);
2. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (LN Tahun 1997 No.43, TLN No.3687);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1997 tentang Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (LN Tahun 1997 No.57, TLN No.3694) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 1998 (LN Tahun 1998, No.85, TLN No.3760);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1999 tentang Tata Cara Penggunaan Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Bersumber Dari Kegiatan Tertentu (LN Tahun 1999 No.136, TLN No.3871);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 14Tahun 2000 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku pada Departemen Perhubungan (LN Tahun 2000 No.27, TLN No.3940);
6. Keputusan Presiden Nomor 136 Tahun 1999 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Presiden No.175 Tahun 1999;
7. Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
8. Keputusan Menteri Perhubungan No.KM.91/OT.002.Phb-80 dan No.Km.164.OT.002.Phb-80 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perhubungan, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Perhubungan No.KM.4 Tahun 2000;
M E M U T U S K A N : Menetapkan :
KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DARI PUNGUTAN BIAYA HAK PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI
BAB I
Pasal 1 Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan :
1. Penerimaan negara bukan pajak yang selanjutnya disebut PNPB adalah seluruh penerimaan pemerintah pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan;
2. Biaya hak penyelenggaraan telekomunikasi yang selanjutnya disebut PHB telekomunikasi adalah kewajiban yang harus dibayar oleh setiap penyelenggara telekomunikasi dan merupakan penerimaan negara bukan pajak;
3. Tahun Buku adalah jangka waktu 1 (satu) tahun yang dimulai dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember;
4. Surat Pemberitahuan Pembayaran (SPP) adalah sebagai alat bukti penagihan yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi;
5. Buku Pembayaran Sementara (BPS) adalah surat yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi sebagai alat bukti pembayaran sementara BHP Telekomunikasi; 6. Bendaharawan Penerima adalah Bendahara penerima Direktorat Jenderal Pos dan
Telekomunikasi yang diangkat oleh Menteri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
7. Menteri adalah Menteri yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang telekomunikasi;
8. Sekretaris Jenderal adalah Sekretaris Jenderal Departemen Perhubungan; 9. Inspektur Jenderal adalah Inspektur Jenderal Departemen Perhubungan; 10.Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi;
11.Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi selanjutnya disebut Ditjen Postel;
BAB II
BIAYA HAK PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI Pasal 2
Setiap penyelenggara telekomunikasi wajib membayar BHP Telekomunikasi.
Pasal 3
(1) BHP Telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 dipungut sebesar 1% (satu perseratus ) dari pendapatan kotor penyelenggara telekomunikasi per triwulan dari tahun buku berjalan.
(2) BHP Telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi pendapatan kotor penyelenggara telekomunikasi dari pendapatan penyewaan jaringan, interkoneksi, pasang baru / aktivasi, berlangganan, pemakaian, air time, jelajah, fitur dan penjualan kartu telepon.
Pasal 4
(1) Pembayaran BHP Telekomunikasi oleh setiap penyelenggara telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 berasal dari pendapatan per triwulan pada tahun buku berjalan berdasarkan audit dari Kantor Akuntan Publik atau dokumen pendukung lainnya yang dianggap setara.
(2) Pembayaran BHP Telekomunikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibayarkan paling lambat satu bulan setelah triwulan dari tahun buku berjalan.
BAB III
Pasal 5
Seluruh Penerimaan BHP Telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) disetor ke Kas Negara melalui rekening Bendahara Penerima Ditjen Postel pada Bank Pemerintah yang ditunjuk.
Pasal 6
(1) Setiap penyelenggara telekomunikasi yang telah membayar BHP Telekomunikasi wajib mengirimkan bukti pembayaran kepada Direktur Jenderal up. Kepala Direktorat Bina Telekomunikasi.
(2) Berdasarkan bukti pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Direktur Jenderal dalam hal ini Kepala Direktorat Bina Telekomunikasi menerbitkan BPS, dengan menggunakan formulir contoh 1 sebagaimana pada Lampiran Keputusan ini.
Pasal 7
(1) Untuk Keperluan perhitungan besarnya pembayaran BHP Telekomunikasi dari setiap penyelenggara telekomunikasi, secara berkala Ditjen Postel dapat melaksanakan pecocokan dan penelitian.
(2) Pencocokan dan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah diterbitkan Surat Perintah Pelaksanaan Tugas oleh Direktur Jenderal.
(3) Hasil pencocokan dan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan dasar untuk penerbitan berita acara atau SPP, dengan menggunakan formulir contoh II dan contoh III sebagaimana pada Lampiran Keputusan ini.
(4) Berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditandatangani oleh petugas Ditjen Postel dan pihak penyelenggara telekomunikasi sebagai dasar perhitungan pelunasan pembayaran BHP Telekomunikasi untuk setiap tahun buku.
Pasal 8
Setiap penyelenggara telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 ayat (3) wajib membayar seluruh tagihan BHP Telekomunikasi selambat-lambatnya 30 (tiga puluh ) hari setelah tanggal pengiriman SPP oleh Ditjen Postel.
Pasal 9
Berdasarkan bukti pembayaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 8, pihak Ditjen Postel dan pihak penyelenggara telekomunikasi mendatangani berita acara sebagai perhitungan pembangunan BHP Telekomunikasi.
Pasal 10
Dalam hal terjadi tunggakan atas pembayaran BHP Telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 9, perhitungan denda atas tunggakan ditetapkan 3 (tiga) bulan setelah tahun buku berakhir.
Pasal 11
Bendaharawan penerima setiap bulan wajib melaporkan seluruh penerimaan BHP telekomunikasi Kepada Sekretaris Jenderal paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya dengan tembusan Direktur Jenderal dan Inspektur Jenderal.
BAB IV
Pasal 12
Direktur Jenderal melaksanakan pembinaan dan pengawasan Keputusan ini.
BAB V PENUTUP
Pasal 13
Dengan berlakunya Keputusan ini, maka Keputusan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi No. KM 47/KU .506/MPPT-93 tentang Biaya Hak Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi, beserta peraturan pelaksanaannya dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 14
Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal 23 Mei 2000.
Ditetapkan di JAKARTA Pada tanggal 19 Mei 2000 MENTERI PERHUBUNGAN
ttd.