• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelayanan dalam Jemaat dilayani oleh satu pendeta, tetapi pendeta yang bertugas tidak tinggal menetap di jemaat Kanaan Kapa'

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pelayanan dalam Jemaat dilayani oleh satu pendeta, tetapi pendeta yang bertugas tidak tinggal menetap di jemaat Kanaan Kapa'"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

13

1. Sejarah Singkat Gereja Toraja Jemaat Kanaan Kapa’

Secara geografis jemaat Kanaan Kapa' berada di sebelah Selatan Tana Toraja, tepatnya di Lembang Gasing Kecamatan Mengkendek yang Lokasinya berjarak 13 Kilometer dari Makale.

Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani dan selebihnya adalah pegawai, dan wiraswasta.

Sejarah singkat berdirinya jemaat Kanaan Kapa' yaitu dimulai pada tanggal 17 April 1985 dimana terbentuknya tempat kebaktian di pangrorean/kapa' dari cabang Jemaat Silo Ge'tengan.

Pendiri pertama gereja ini yaitu Paulus Patting, Marthen Ta'dung, Matius Upa' Sampe, Lukas Tulak dan Benyamin Bu'tu dan pada tahun 1998 resmi menjadi cabang kebaktian. Seiring berjalannya waktu, pada tanggal 30 Agustus tahun 1999, dimulailah peletakan batu pertama oleh Bupati Tana Toraja yaitu Drs. Palimbong. Kemudian dilanjutkan pemasangan pondasi dan tiang bangunan oleh baksos PPGT Jemaat Labuang Baji Makassar yang dimulai tanggal 31 Agustus - 15 September 1999. Pada tahun 2005 cabang kebaktian di Kapa' resmi menjadi satu jemaat yang disebut Jemaat Kanaan Kapa' sampai sekarang.1

Jemaat Kanaan Kapa', saat ini memiliki anggota Jemaat 40 KK dan Jemaat ini membuka cabang kebaktian Baibo. Pelayanan dalam Jemaat dilayani oleh satu pendeta, tetapi pendeta yang bertugas tidak tinggal menetap di jemaat Kanaan Kapa'. Hal ini dikarenakan Pendeta di Jemaat ini melayani pada 3 Jemaat, serta satu cabang kebaktian. Jemaat-jemaat yang di layani yaitu Kanaan Kapa, Gasing, Padang dan cabang kebaktian Baibo, sehingga pelayanan Pendeta hanya satu kali dalam sebulan.2

3.1 Kebudayaan dan Agama asli Toraja

Agama dalam kehidupan orang toraja dikenal dengan istilah Aluk sedangkan untuk agama suku dalam masyarakat dikenal dengan istilah Aluk Todolo yang berarti agama para leluhur yang mana masih dianut oleh sebagian besar masyarakat Toraja. Aluk menurut Mitologi Toraja, berasal dari Alam atas, dari langit, dari alam dewa-dewa. Menurut kamus Toraja – Indonesia yang disusun oleh J. Tammu dan Dr. H. Van Der Veen, Aluk mengandung arti berbakti kepada Allah dan Dewa, Upacara adat atau agama, adat istiadat, perilaku dan tingkah.3

1 Buku Sejarah Gereja Toraja Kanaan Kapa’

2 Dokumen Gereja Toraja Kanaan Kapak Klasis Mengkendek.

3 Ib. Brata, “Kearifan budaya Lokal Perekat Identitas Bangsa,” 1.

(2)

14

Dari arti Aluk menjelaskan cakupan Aluk yang adalah suatu kepercayaan, upacara-upacara peribadatan menurut cara-cara yang telah ditetapkan berdasarkan ajaran agama yang bersangkutan, adat istiadat, dan tingkah laku sebagai ungkapan kepercayaan dalam kehidupan sehari-hari. Aluk bukan saja keyakinan semata-mata namun juga mencakup ajaran, upacara (ritus) dan larangan atau pemali. Dilihat dari luasnya daya cakupan dan jangkauannya dapat disimpulkan bahwa Aluk memang mencakup segala realitas kehidupan masyarakat Toraja. Segala sesuatu harus didasarkan pada Aluk yang bila tidak dilakukan dipercaya membuat segala usaha yang dilakukan sia-sia dan tidak membawa hasil. Bila melanggar aluk dan pemali serta ketentuan adat maka akan mendapatkan pembalasan dari dewa-dewa. Bahkan aluk sendiri terkadang dianggap sebagai dewa atau nenek moyang hal Ini tidak mengherankan karena asalnya yang dipercayai memang dari langit dan dibawa ke dunia oleh makhluk ilahi.

Masyarakat Toraja meyakini bahwa disaat malapetaka terjadi pada keluarga maka akan muncul asumsi mengenai adanya pelanggaran Aluk. Aluk dengan segala tata caranya dilandasi oleh suatu keyakinan bahwa Aluk mengandung berkat atau tulah, keselamatan atau malapetaka, kesejahteraan atau kesengsaraan. Dengan melaksanakan Aluk berarti berkat dan keselamatan sedangkan melanggar berarti tulah dan malapetaka akan menimpa. Dapat juga dilihat disini bahwa Aluk juga mengandung hukum, undang-undang yang harus ditaati oleh semua orang Barang siapa tidak melakukan sesuatu tidak seperti yang ditentukan oleh Aluk akan mendapat hukuman baik dari masyarakat umum maupun (teristimewa) dari dewa-dewa atau nenek moyang. Itulah Aluk dalam pengertian semula atau seperti yang dipahami oleh Aluk Todolo.4

3.2 Arti dan Prosesi Ritual Ma’pakatu

Berdasarkan penelitian yang penulis dapatkan dari para responden, upacara Ma’ Pakatu adalah upacara yang dilakukan keluarga kepada kerabat yang sudah meninggal. Hal ini dilakukan karena pada saat pelaksanaan penguburan kerbau yang disiapkan belum cukup. Sehingga di suatu saat keluarga mempunyai waktu maka keluarga bisa mengadakan upacara ma'pakatu agar arwah dapat masuk ke Puya.5

Menurut kepercayaan orang Toraja (Aluk Todolo), jika tidak ada korban sembelihan yang diberikan untuk dikorbankan kepada arwah, maka menurut kepercayaan Aluk Todolo arwah yang

4Brata, “Kearifan Budaya Lokal Perekat Identitas Bangsa”, 22.

5 Berdasarkan Wawancara dengan Pendeta JC Gereja Toraja Kanaan Kapak Klasis Mengkendek pada tanggal 5 September 2022.

(3)

15

ada akan gentayangan di dunia dan mendatangi keluarga serta memberikan dampak buruk bagi keluarga. Orang Toraja (Aluk Todolo), mempunyai keyakinan bahwa hubungan antara keluarga yang hidup di dunia dengan yang telah mati itu tidak terputus oleh kematian.

Persekutuan/hubungan itu terjadi lewat ritus-ritus yang dilakukan kemudian. Maka dari itulah keluarga berusaha untuk menyempurnakan korban sembelihan, selain sebagai pemenuhan tanggung jawab juga agar arwah keluarga yang meninggal dapat Mebali Puang dan dapat memberkati keluarga yang masih hidup. Melalui upacara ini orang Toraja menyatakan rasa cinta kasihnya terhadap keluarga yang meninggal. Itulah sebabnya orang Toraja berupaya melaksanakan upacara penguburan itu dengan baik, bahkan dengan cukup meriah.6

Ritus Ma’pakatu harus dilaksanakan ketika upacara Rambu Solo’ yang sedang berlangsung.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa ritus Ma'pakatu tidak ditujukan kepada mendiang yang upacara pemakamannya sedang berlangsung melainkan ditujukan kepada keluarganya yang telah lama meninggal. Jadi, ritus Ma'pakatu hanyalah bagian dari upacara Rambu Solo. Pada umumnya ritus Ma'pakatu ditempatkan di antara tahap menerima tamu dan tahap mantunu tedong (pemotongan kerbau). Jadi, setelah tahap menerima tamu selesai dilaksanakan di situlah ritus Ma'pakatu dapat dilangsungkan. Pada hari yang sama pada sore hari, Tomina pun dapat mengambil ahli untuk memimpin pelaksanaan ritus Ma’pakatu. Ketika ritus tersebut akan dilangsungkan, kerbau yang akan dikurbankan yang sebelumnya sudah disiapkan oleh keluarga yang bersangkutan haruslah diberi tanda, yakni mengikatkan sebuah tali yang terbuat dari serat bambu pada kaki kerbau. Tali tersebut haruslah diikat pada kaki kerbau bagian depan sebelah kanan dan bagian belakang sebelah kiri. Menurut responden, tujuan mengikatkan tali pada kaki kerbau adalah supaya arwah yang ditujukan akan lebih mudah mengenali bahwa masih ada bekal yang diberikan oleh keluarganya. Berdasarkan kepercayaan Aluk Todolo, hanya kerbau yang dianggap sebagai sebuah kendaran yang dapat ditunggangi oleh roh untuk masuk ke Puya. Itulah sebabnya mengapa kerbau yang dijadikan kurban dalam ritus Ma'pakatu. Setelah kerbau diberi tanda, Tominaa kemudian membangunkan arwah yang hendak diberi kerbau tersebut. Setelah Tominaa membangunkan arwah orang mati tersebut, kerbau yang disiapkan itu tidak langsung dipotong tetapi kembali disimpan untuk menunggu sampai tahap mantunu tedong (pemotongan kerbau) dilaksanakan keesokan harinya.7

6 Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan NO Ketua adat pada 10 Agustus 2022

7 Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan NO Ketua adat pada 10 Agustus 2022.

(4)

16 3.3 Pemahaman Jemaat terhadap Ritual Ma’Pakatu

Bagi jemaat Kanaan Kapa’ ritus Ma'pakatu merupakan salah satu aluk yang telah diwariskan secara turun-temurun yang sudah dilakukan leluhur dan tentunya pengadaannya dikarenakan memiliki makna yang tentunya dilakukan berdasarkan konsep yang diyakini di dalam Aluk Todolo.8

Jadi jelaslah bahwa ritus Ma'pakatu di kalangan warga jemaat Kanaan Kapa’ adalah warisan leluhur yang agaknya sulit untuk ditinggalkan. Konsep yang ada di dalam Aluk Todolo yang masih begitu kuat mempengaruhi kehidupan warga jemaat, sehingga mereka tetap melaksanakan ritus Ma'pakatu. Di balik pelaksanaan ritus tersebut tentu ada alasan atau motivasi lainnya dari pelaku ritus tersebut sehubungan dengan konsep yang diyakini dalam Aluk todolo.9 Adapun beberapa alasan atau motivasi yang membuat warga jemaat Kanaan Kapa’ melakukan ritus tersebut, diantaranya:

1) Adanya perasaan bersalah dan perasaan mengungkapkan terima kasih

Munculnya perasaan bersalah tersebut pada pelaku ritus Ma'pakatu karena ketika orang tuanya (ayah, ibu, kakek, nenek) ataupun keluarga lainnya meninggal lalu upacara pemakamannya dilaksanakan secara sederhana Karena yang bersangkutan belum mampu menyediakan pantunuan (kerbau), maka ketika ia mulai bekerja dan sukses, perasaan bersalah (seperti menuntut) pun mulai menghantuinya, oleh karena itulah masyarakat Toraja yang masih meyakini kepercayaan Aluk Todolo ini mengusahakan penyediaan kurban bagi leluhurnya sebagai tanda terima kasih kepada orang yang telah melahirkan dan menjaga.10

2) Masih melekatnya keyakinan mengenai bekal arwah dan To Membali Puang

Tidak semua ritus Ma'pakatu dilaksanakan dengan alasan belum memberinya apa-apa seperti mantunu (pemotongan kerbau). Terdapat juga alasan lainnya yaitu bekal arwahnya belum cukup.

Karena hal inilah pelaku Ritual memenuhi bekal kepada arwah leluhur dengan harapan arwah

8 Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan TK Pelaku Ritual Ma’ Pakatu pada 25 juli 2022

9 Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan Pelaku Ritual Ma’ Pelaku Ritual Ma’ TK pada 25 juli 2022 dan ND pada tanggal 20 juli 2022

10 Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan TK Pelaku Ritual Ma’ Pakatu pada 25 juli 2022

(5)

17

keluarga ditempatkan pada tempat yang baik di puya dan semakin menjamin arwah masuk ke Puya dan membali puang dan suatu saat bisa kembali memberkati keluarga.11

3) Adanya rasa tanggung jawab terhadap arwah keluarga

Keluarga memberikan pantunuan (kerbau) kepada arwah keluarga dikarenakan masih adanya pemahaman bahwa arwah yang tidak memiliki kendaraan (kerbau) pada saat meninggal tidak akan sampai ke Puya oleh karena itulah keluarga sebisa mungkin memberikan kurban agar arwah keluarga mereka sampai di puya. Responden mengatakan pemahaman bahwa kendaraan arwah orang yang meninggal ke puya itu adalah tanggung jawab keluarga yang masih hidup.12

Ma’pakatu’ dipahami sebagai ritual yang dilaksanakan oleh rumpun keluarga dengan harapan untuk mendapat berkat dari leluhur. Namun demikian ada juga pemaknaan lain dari Ma’Pakatu yaitu sebagai sarana perjumpaan keluarga. Pelaksanaan ritual Ma’Pakatu’ menjadi wadah dalam mempertemukan dan mempersatukan keluarga serta saudara yang memiliki jarak satu dengan yang lain karena adanya tanggung jawab yang diemban sebagai tenaga kerja dan sebagai pelajar yang melakukan tanggung jawabnya. Dalam pembincangan mengenai pelaksanaan ritual yang dilakukan oleh keluarga besar tentu mejadikan pertemuan keluarga untuk membicarakan mengenai perencanaa dari pelasanaan ritual Ma’pakatu bagi leluhur mereka. Jadi dapat dipahami bahwa Ma’pakatu bukan saja menjadi acara yang mewadahi segala ungkapan rasa cinta dan ungkapan terima kasih serta tanggung jawab terhadap leluhur tetapi juga sebagai media yang mempertemukan dan mempersatukan segenap keluarga yang terpisah satu dengan yang lain, sehingga tercipta solidaritas keluarga.13

3.4 Pandangan Pendeta mengenai ritual Ma’Pakatu oleh jemaat

Menurut seorang pendeta di jemaat Kanaan kapak klasis mengkendek bahwa ritual Ma’Pakatu merupakan salah satu ritual dari rambu solo yang kemudian masih diwarisi sampai hari ini dari agama leluhur orang Toraja yaitu agama Aluk Todolo. Jadi ritual Ma’Pakatu adalah memberikan korban hewan yang belum sempat anak cucu berikan kepada keluarga yang meninggal yang di kemudian hari saat anak cucu sudah berhasil, sudah ada berkat dan keberhasilan lalu rindu untuk memberikan kurban berupa kerbau maka hal itu dapat dilakukan dengan mengadakan Ma’Pakatu.

11 Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan TK Pelaku Ritual Ma’ Pakatu pada 25 juli 2022

12 Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan ND Pelaku Ritual Ma’ Pakatu pada 20 juli 2022

13 Berdasarkan Wawancara dengan Pendeta JC Gereja Toraja Kanaan Kapak Klasis Mengkendek pada tanggal 5 September 2022.

(6)

18

menurut pandangan narasumber, Kekristenan secara khusus gereja Toraja masih melakukan dan masih membenarkan kegiatan Ma’Pakatu untuk beberapa wilayah Toraja namun dengan sebuah kesadaran bahwa itu adalah bentuk rasa kerinduan, rasa penghormatan kepada nenek moyang atau orang tua yang telah meninggal, karena kita sebagai orang kristen juga tidak bisa terlepas dari identitas diri sebagai seorang toraja dan kekristenan yang hidup dan bertumbuh di dalam konteks Toraja, jadi yang perlu dilihat bagaimana memahami Ma’Pakatu itu dalam perspektif kekristenan, jadi bagaimana pemahaman narasumber, pemahaman narasumber mengenai ritual Ma’Pakatu ini tidak menjadi persoalan untuk diadakan dan baik adanya karena ritual ini adalah ritual orang Toraja yang kemudian diwarisi secara turun temurun dan menurut saya sulit juga untuk kemudian kita melarang karena kita tidak bisa menghalangi, membatasi kerinduan seseorang kepada leluhurnya, orang tuanya.14

Sehingga pandangan pendeta mengenai wajib tidaknya Ma’Pakatu ini dilihat dari pengaruhnya. secara positif ritual ini sebenarnya semakin mempererat tali persaudaraan dalam rumpun keluarga, karena melalui ritual ini keluarga pun diperjumpakan dan kenangan terbentuk yang nantinya dapat dinarasikan kembali saat perjumpaan terjalin kembali. Kenangan tentang sang almarhum yang kemudian menjadi ingatan bagi segenap rumpun keluarga dan melalui ingatan itu tali persaudaraan dapat semakin erat. Adapun pengaruh secara negatif yang jelas tetap menghadirkan kontroversi karena ada yang melihat bahwa mengapa kurban kepada yang meninggal harus dipersembahkan sedangkan dalam kekristenan di percaya bahwa melalui pengorbanan Yesus Kristus kita sudah selamat.15

14Berdasarkan Wawancara dengan Pendeta JC Gereja Toraja Kanaan Kapak Klasis Mengkendek pada tanggal 5 September 2022.

15Berdasarkan Wawancara dengan Pendeta JC Gereja Toraja Kanaan Kapak Klasis Mengkendek pada tanggal 5 September 2022.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam periode yang sama, Uni Emirat Arab (UEA) tercatat sebagai negara dengan jumlah dana terbesar dengan kontribusi 36.2% dari total penerbitan sukuk di dunia, diikuti

Indikasi keberhasilan penelitian ditunjukkan dengan terdapatnya perbedaan rerata skor pretes dan postes kemampuan komunikasi dan representasi matematis siswa, siswa tergolong

Sedangkan rata-rata sintasan untuk ikan ukuran 5–8 cm pada berbagai media salinitas menunjukkan bahwa LC 50 dari ikan ukuran 5–8 didapatkan setelah 36 jam dipelihara dalam

Pada ketika itu, Kandungan Kurikulum Standard Sekolah Menengah (KSSM) telah dijajarkan bagi tujuan kegunaan pengajaran dan pembelajaran bagi memenuhi keperluan pembelajaran

In summary, this part of the book discusses some foundational aspects of data ac- cess in semantics-based P2P systems in particular RDF query languages, distributed architectures

Tujuan dari pembahasan karya ini adalah untuk memenuhi penilaian Tugas Akhir Kriya Tekstil, namun secara spesifik pembahasan ini juga bertujuan untuk mengetahui hal-hal seperti

Sedangkan perlakuan pra tanam tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kerusakan umbi hal ini disebabkan karena konidia yang diaplikasikan rusak atau mati akibat