• Tidak ada hasil yang ditemukan

ETUDE KACAPI GAYA MANG KOKO SEBAGAI BAHAN AJAR DI SMKN 10 BANDUNG.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ETUDE KACAPI GAYA MANG KOKO SEBAGAI BAHAN AJAR DI SMKN 10 BANDUNG."

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

v

ABSTRAK ……… i

KATA PENGANTAR………... ii

DAFTAR ISI ………. v

DAFTAR FOTO ………... v

BAB I PENDAHULUAN ……….. 1

A. Latar Belakang Permasalahan ………... 1

B. Rumusan Masalah ……….. 9

C. Tujuan Penelitian ………... 10

D. Manfaat Penelitian ………. 10

E. Definisi Istilah ……… 11

F. Metodologi Penelitian ………. 12

1. Metode Penelitian ……… 12

2. Teknik Pengumpulan Data ……….. 13

3. Teknik Pengolahan Data ………. 16

4. Asumsi Penelitian ………... 16

5. Lokasi Penelitian ………. 17

BAB II LANDASAN TEORITIS ……… 18

A.Pengembangan Bahan Ajar ……… 18

B.Sekilas Mengenai Mang Koko ………... 31

C.Ragam Kacapi ………. 34

D.Teknik Memainkan Kacapi ……… 36

BAB III PROSEDUR PENELITIAN ………... 41

A. Metode Penelitian ………... 41

B. Fokus Penelitian ………... 42

C. Teknik Pengumpulan Data ………... 42

D. Teknik Analisis Data ………... 46

(2)

vi

Bandung ……… 50

1. Etude Kacapi Gaya Mang Koko ………... 2. Analisis Etude Kacapi Gaya Mang Koko ………... 50 52 3. Teknik Permainan Kacapi Pada Etude Kacapi Gaya Mang Koko .. 101

B. Proses Pembelajaran Kacapi Menggunakan Etude Kacapi Gaya Mang Koko Di SMKN 10 Bandung ……… 107

C. Kesesuaian Materi Berdasarkan Tahapan Pembelajaran Etude Kacapi Gaya Mang Koko Di SMKN 10 Bandung ……… 144

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ……….. 148

A. Kesimpulan ……….. 148

B. Saran ……… 150

DAFTAR PUSTAKA ………... 152

(3)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

Bagi masyarakat Jawa Barat Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN)

10 Bandung bukan hal yang asing, karena beberapa tahun yang lalu sekolah ini

sangat populer dan familier di tengah-tengah masyarakat Jawa Barat dengan nama

Konservatori Karawitan yang berganti nama menjadi Sekolah Menengah Karawitan

Indonesia (SMKI) Bandung, di mana kini menjadi Sekolah Menengah Kejuruan

Negeri (SMKN) 10 Bandung. Lembaga pendidikan ini telah mengalami banyak

perubahan tidak saja dalam hal nama lembaganya, jumlah jurusan yang terdapat di

dalamnya, tetapi juga masa studi siswanya pun mengalami perubahan. Jika dahulu

para siswanya harus menempuh pendidikan selama 4 tahun (8 semester), maka pada

saat ini hanya 3 tahun (6 semester) saja.

Misi yang diemban oleh Sekolah Menengah Negeri (SMKN) 10 Bandung,

adalah untuk menghasilkan generasi muda yang mempu menguasai keterampilan

dalam bidang seni baik secara praktek maupun teori. Untuk mewujudkan misi yang

menjadi tujuan dari dikembangkannya lembaga pendidikan ini, maka

dikembangkanlah berbagai perangkat pembelajaran mulai dari fasilitas, kurikulum,

model pembelajaran, hingga pada pengembangan departemen atau jurusan yang

(4)

adalah terdiri dari 5 jurusan, yaitu; Seni Karawitan, Seni Tari, Seni Drama, Seni

Musik Modern, dan Broadcasting.

Berkaitan dengan uraian yang disampaikan tersebut di atas, pada kesempatan

ini peneliti sangat tertarik dengan pada masalah proses pembelajaran yang dilakukan

di dalam salah satu jurusan yang terdapat di dalam lembaga tersebut, yakni Jurusan

Karawitan. Alasan pemilihan Jurusan Karawitan sebagai objek penelitian pada

kesempatan ini, adalah karena jurusan tersebut merupakan jurusan yang paling tua di

antara jurusan-jurusan lainnya yang ada di SMKN 10 Bandung. Selain itu, beberapa

tahun yang lalu Jurusan Karawitan ini memiliki prestasi yang dapat dibanggakan

baik oleh masyarakat Jawa Barat maupun Indonesia. Keberhasilan mengukir prestasi

itu tidak bisa dilepaskan dari proses pembelajaran dan berbagai unsur lain sebagai

penunjangnya. Dengan demikian tingkat keberhasilan tersebut patut dikaji untuk bisa

diikuti oleh sekolah-sekolah lainnya yang sejenis.

Ketertarikan peneliti untuk melakukan kegiatan penelitian tentang etude

kacapi gaya Mang Koko dan proses pembelajarannya yang dilakukan di SMKN 10

Bandung, tentu saja tidak akan meneliti seluruh kegiatan pembelajaran yang biasa

dilakukan di lembaga ersebut. Perlu diketahui bahwa pada Jurusan Seni Karawitan

(Karawitan Sunda), mata pelajaran yang di berikan di kelas, selain mata pelajaran

umum seperti: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa inggris, Bahasa sunda, dsb,

juga sudah diberikan mata pelajaran keahlian seperti: Gamelan Degung, Gamelan

pelog salendro, Suling, Kendang, Rebab, Vocal kawih, Vocal Tembang Sunda

(5)

sekian banyak mata pelajaran yang dipelajari oleh siswa Jurusan Karawitan SMKN

10 Bandung, maka agar penelitian ini tidak terlalu luas peneliti akan memfokuskan

pada pembelajaran salah satu mata pelajaran saja, yaitu mata pelajaran Praktek

Kacapi. Mata pelajaran kacapi dibagi menjadi dua, yaitu praktek kacapi Tembang

Sunda Cianjuran dan Kacapi kawih gaya Mang Koko.

Di Jurusan Karawitan SMKN 10 Bandung, mata pelajaran praktek kacapi

diberikan di kelas satu selama satu tahun. Siswa di wajibkan belajar kacapi di kelas

satu, di mana di kelas satu di berikan dasar-dasar permainan kacapi dengan

menggunakan bahan ajar Etude Kacapi Gaya Mang Koko. Kemudian di kelas satu

pula siswa di wajibkan memilih spesialisasi penguasaan Instrumen Individu

Pilihan(IIP), dan Sekar Individu Pilihan(SIP) untuk di perdalam lebih lanjut di

antaranya yaitu instrument kacapi dan sekar kawih. Bagi peneliti digunakannya

Etude Gaya Mang Koko di dalam pembelajaran praktek Kacapi di lembaga tersebut

merupakan hal yang menarik. Disebut menarik karena etude karya Mang Koko

tersebut sudah sangat lama, sehingga pertanyaannya apakah etude yang digunakan

itu seluruhnya asli yang dibuat oleh Mang Koko? Atau merupakan pengembangan

yang dilakukan oleh gurunya? Kemudian, bagaimana guru tersebut

mengajarkannya kepada siswa sehingga memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi?

Dan banyak lagi hal-hal yang ingin digali dan diketahui oleh peneliti.

Berbicara mengenai Kacapi dapat dikatakan bahwa Karya karya kacapi

(6)

sampai saat ini masih di gemari masyarakat serta di pelajari di lembaga pendidikan,

baik sekolah seni, sekolah umum bahkan di perguruan tinggi di Jawa Barat.

Jawa Barat kaya akan kesenian daerah, baik kesenian vokal, instrumental,

maupun vokal-instrumental. Kekayaan dan keanekaragaman waditra yang

digunakan pada kesenian di atas salah satunya waditra kacapi. Kacapi adalah salah

satu waditra berdawai dengan cara dipetik, disintreuk, diranggeum, yang di

gunakan pada berbagai jenis kesenian. Kacapi dimainkan diantaranya pada

kesenian kawih, tembang, kacapi suling, celempungan, jenaka sunda dll.

Permainan kacapi pada setiap jenis kesenian memiliki ciri khas dan

keunikan masing-masing. Misalnya pada tembang sunda Cianjuran,

Wiradiredja,dkk.(2003) mengungkapkan bahwa:

Dalam konteks penyajian tembang sunda Cianjuran semua lagu mamaos pada umumnya diiringi oleh kacapi indung dengan menggunakan tekhnik tabuhan pasieupan ataupun kemprangan.Sementara itu, lagu-lagu panambih diiringi oleh kacapi indung dengan menggunakan tabuhan kait, (20)”.

Pendapat di atas apabila ditelaah mengandung arti bahwa salah satu petikan kacapi

pada Tembang Sunda Cianjuran itu adalah pasieupan, kemprangan dan kait.Ketiga

tekhnik tabuhan ini menghasilkan bunyi dan melodi yang memiliki keunikan, pada

teknik pasieupan misalnya tangan kiri dan kanan dengan telunjuk dan tengkepan

ibu jari, membentuk rangkaian melodi yang susul menyusul dan saling mengisi hal

itu merupakan tabuhan khas pada tabuhan kacapi Tembang Sunda Cianjuran.

Begitu pula kawih diiringi kacapi dengan tabuhan yang khas pula, salah

(7)

bunyi khas, mencerminkan gaya tersendiri. Bakat beliau dalam bidang kesenian,

adalah merupakan warisan dari ayahnya yang merupakan keturunan menak

Sumedang yang sangat mencintai kesenian Cianjuran, bahkan ayahnya yang

bernama Mochamad Ibrahim Sumarta pernah mendapat Bintang Mas (Juara) dalam

Konkoers (festival) Cianjuran. (Ruswandi, 2000).

Keterampilan Mang Koko dalam memainkan Kacapi diperolehnya sejak

beliau berusia 8 tahun. Dalam hal ini Ruswandi (2000:3) menyampaikan bahwa:

Dalam hal kesenian khususnya keterampilan vokal dan kacapi, pada mulanya diperoleh dengan hanya melihat dan mendengar proses latihan Tembang Sunda Cianjuran yang diselenggarakan ayahnya sekali seminggu bersama para menak (priyayi) dari Tasikmalaya. Oleh sebab itu tidaklah heran apabila dalam usia 8 tahun, Koko sudah mampu bermain kacapi berikut tembangnya.

Sejak kecil Mang Koko sudah memiliki minat yang tinggi untuk

mempelajari Karawitan Sunda. Bahkan semasa hidupnya beliau bercita-cita untuk

mengembangkan Karawitan Sunda agar tetap lestari dan digemari oleh para

generasi muda sebagai pewarisnya. Cita-cita Mang Koko untuk mengembangkan

Karawitan Sunda tersebut, salah satunya beliau buktikan dengan mengembangkan

Kacapi Sunda. Mang Koko tidak saja mengembangkan tentang teknik memainkan

kacapi Sunda, tetapi juga instrumen kacapi yang digunakannya. Mengenai hal itu

disampaikan Ruswandi (2000:35), bahwa;

(8)

menjadi 5 macam. Untuk keperluan tersebut wilah nada pun diperluas yang dalam satu permainan kacapi biasanya menggunakan 5 sampai 13 nada dari 18 nada menjadi seluruhnya digunakan. Bahkan untuk kepentingan komposisinya Koko menambah 2 nada, sehingga seluruh nada pada senar kacapi itu menjadi 20 nada yang semuanya digunakan dalam satu permainan.

Konsep kacapi yang telah dikembangkan oleh Mang Koko, mulai dari

jumlah nada yang terdapat di dalam instrumennya, hingga teknik yang dimainkan

oleh beliau, menjadi titik awal perkembangan kacapi sunda. Bahkan apa yang

dilakukan oleh Mang Koko, kini menjadi sebuah standar di dalam pembelajaran

kacapi, khususnya di sekolah-sekolah musik/karawitan mulai dari sekolah kejuruan

Karawitan hingga perguruan tinggi seni yang ada di Jawa Barat. Pada saat ini jika

memainkan kacapian seperti yang dimainkan oleh Mang Koko biasa disebut dengan

Kacapian gaya Koko. Dikatakan demikian karena “ide ini datangnya dari Koko,

maka masyarakat menyebutnya kacapian gaya Koko”. (Ruswandi, 2000:37).

Eksistensi Mang Koko dalam mengembangkan gaya tabuhannya merupakan

salah satu terobosan baru dalam kanca kesenian Jawa Barat, yang memberi warna

baru melalui hasil kreativitas pada zamannya bahkan sampai sekarang. Hal ini

menjadi daya tarik tersendiri untuk dikaji lebih lanjut.

Pada awalnya Mang Koko di dalam garapan pertunjukan memiliki bidang

garap kacapi jenaka, yang menampilkan hasil kreativitas Mang Koko Seperti

halnya kacapi jenaka pada umumnya, bahwa di dalam pertunjukkannya tidak hanya

menyajikan lagu-lagu dalam berbagai laras dengan diiringi oleh instrumen kacapi

(9)

yang sama, sehingga berbeda dengan kacapi jenaka pada grup yang lain. Periode

selanjutnya Mang Koko membuat beberapa karya yang bertema perjuangan,

ramalan kehidupan, kasih sayang bahkan keagamaan.Pada kacapi kawih struktur

penyajiannya tetap mencerminkan kekhasannya yang selalu melakukan komunikasi

dalam pertunjukannya, baik melalui dialog (obrolan) melodi lagu maupun melodi

pada tabuhan instrumen.

Eksistensinya tidak berhenti sampai di situ, kecintaanya terhadap kesenian

beliau curahkan dalam dunia pendidikan yaitu selain menjadi tenaga pendidik di

Kokar (SMKI) sekaligus sebagai salah seorang perintis, beliau membuat satu

bentuk pembelajaran kacapi kawih dengan membuat langkah – langkahnya dalam

sebuah etude kacapi.

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 10 Bandung adalah satu-satunya

sekolah kejuruan dalam bidang kesenian di Jawa Barat, di dalamnya terdapat lima

kejuruan, yaitu; Seni Karawitan, Seni Musik, Seni Tari, Seni Teater(Drama), dan

Broadcasting. Di Jawa Barat sekolah ini sangat dikenal oleh masyarakatnya karena

prestasi dan kualitas lulusannya di masyarakat, khususnya dalam bidang musik

tradisional dan seni tari. Dikatakan demikian karena lembaga ini sudah meluluskan

seniman-seniman besar di Jawa Barat, seperti; Nano Suratno, Tatang benjamin,

Riskonda, Euis Komariah, Eka Gandara, Ida Rosida, Tajudin Nirwan, Atang

Warsita, Engkos Warnika, dan banyak lagi seniman-seniman lain yang memiliki

(10)

Bahan ajar dan proses pembelajaran yang tidak terlepas dari SMKN 10

Bandung, Adapun bahan ajar yang dipergunakan pada mata pelajaran praktek

kacapi,yaitu Etude Kacapi Gaya Mang Koko. Bahan ajar kacapi ini sudah jelas di

ciptakan oleh Mang koko sendiri, karena Mang koko merupakan Tokoh kacapi

khususnya kacapi Kawih.Mang koko juga merupakan pengajar praktek kacapi di

mulai sejak Konservatori Karawitan sampai SMKI Negeri Bandung. Selama ini

bahan ajar yang di gunakan pada mata pelajaran kacapi di SMK 10 menggunakan

etude kacapi yang di ciptakan oleh mang Koko. Etude tersebut berbentuk sebuah

buku etude dan teknik permainan kacapi yang didalamnya berisi 53 etude.Etude ini

mengarahkan siswa pada teknik permainan kacapi dari tingkat yang mudah ke

tingkat yang sulit, sehingga siswa dapat terlatih mengenai teknik penjarian

permainan kacapi.

. Keunggulan-keunggulan dari bahan ajar kacapi yang diciptaan Mang Koko

dapat membantu siswa untuk mempermudah belajar kacapi. Proses Pemebelajaran

dengan menggunakan Etude kacapi Gaya Mang Koko, siswa dapat memahami

indikator-indikator dari bahan ajar tersebut seperti: Notasi, Tahapan tahapan

pembelajaran, Konten, Teknik penjarian, Teknik permainan, dan komposisi. Dari

uraian di atas, Sehingga penelitian ini penting untuk bisa dipelajaran secara bahan

dan metode pembelajaran yang dapat diterapkan di sekolah lain termasuk perguruan

tinggi seperti UPI.

Karyanya ini masih diterapkan di SMKN 10 (SMKI ) menjadi salah satu

(11)

Beliau selain karya lain yang masih digandrungi oleh pendukungnya. Dalam hal ini

yang menarik peneliti adalah bahan ajar kacapi di SMKN 10 dengan mengunakan

etode kacapi ciptaan Mang Koko, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul “Etude Kacapi Gaya Mang Koko Sebagai Bahan Ajar di

SMKN 10 Bandung”.

B. RUMUSAN MASALAH

Seperti telah disampaikan pada bagian sebelumnya bahwa pada kegiatan

penelitian ini peneliti berkeinginan untuk mengkaji tentang proses pembelajaran

Kacapi pada Jurusan Karawitan SMKN 10 Bandung. Adapun masalah yang ingin

dipecakan adalah Bagaimana proses pembelajaran Kacapi dengan menggunakan

etude karya Mang Koko di Jurusan Karawitan SMKN 10 Bandung? Untuk menjawab

atau memecahkan masalah penelitian tersebut, peneliti memiliki beberapa masalah

yang disampaikan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut.

1. Bagaimana bahan ajar etude kacapi gaya Mang Koko digunakan di dalam

pembelajaran kacapi di SMKN 10 Bandung?

2. Bagaimana proses pembelajaran etude gaya Mang Koko di SMKN 10

Bandung?

3. Bagaimana kesesuaian materi berdasarkan tahapan-tahapan pembelajaran etude

(12)

C. TUJUAN PENELITIAN

Kegiatan penelitian yang dilakukan ini tidak terlepas dari beberapa tujuan

yang ingin dicapai oleh peneliti. Tujuan inilah yang akan menjadi titik tolak

keberhasilan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Adapun hal-hal yang menjadi

tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui bahan ajar etude kacapi gaya Mang Koko digunakan di dalam

pembelajaran kacapi di SMKN 10 Bandung.

2. Untuk mengetahui proses pembelajaran etude gaya Mang Koko di SMKN 10

Bandung.

3. Untuk mengetahui kesesuaian materi berdasarkan tahapan-tahapan pembelajaran

etude gaya Mang Koko di SMKN 10 Bandung.

D. MANFAAT PENELITIAN

Kegiatan penelitian yang dilakukan ini hasil-hasilnya diharapkan dapat

memberikan nilai atau manfaat bagi peneliti sebagai pengkaji secara langsung,

maupun bagi orang lain yang memiliki kepentingan dengan kegiatan penelitian ini.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:

1. Memberi kontribusi pada lembaga UPI khususnya Sekolah Pascasarjana

program study Pendidikan Seni untuk menjadi salah satu kajian pembelajaran

(13)

2. Memberi informasi kepada masyarakat pendukungnya dan sebagai masukan

pada lembaga yang diteliti.

3. Memberi motivasi dan kontribusi kepada pelaku seni dalam mengembangkan

seni tradisional khususnya kacapi kawih.

4. Memberikan wawasan pada peneliti tentang kacapi kawih dan perkembangannya

serta proses pembelajaran di sekolah.

E. DEFINISI ISTILAH

1. Etude adalah latihan,komposisi musik yang mengandung teknik

latihan,lagu,untuk mengembangkan teknik main . (kamus istilah dalam dunia

music: Lombok musik)

2. Kacapi adalah instrumen musik tradisional Sunda yang tergolong kepada alat

musik kordofon, karena bunyi yang dihasilkannya bersumber dari getaran yang

dihasilkan oleh dawai. (Harahap, 2005). Lebih rinci Sukanda (1996) mengatakan

bahwa:

Ukuran panjangnya sekitar 95 cm, lebar bagian kanan (dari tempat pemain) sekitar 28 cm dan bagian kirinya sekitar 20 cm, tingginya 9 cm. Cara pengaturan nadanya seperti kacapi Rincik, yaitu tanpa pureut cukup dengan menggeser inang atau memutar paku tempat ujung dawaidikaitkan. Kedua ujung Kacapi Siter tanpa hiasan. Jumlah dawainya lebih banyak dari Kacapi Gelung yaitu sebanyak 20 utas(P.10).

3. Gaya adalah mempunyai bentuk khas, ciri khas, mempunyai ragam yang khusus.

(14)

4. Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru atau

instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.

Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru

atau instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan

yang di maksuk bisa berupa bahan tertulis atau tidak tertulis. (National Center

for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based

Training). (Sosialisasi KTSP).

F. Metodologi Penelitian

1. Metode Penelitian

Sebagaimana telah peneliti jelaskan pada bagian sebelumnya, bahwa

penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai kegiatan

proses pembelajaran kacapi dengan menggunakan etude kacapi karya Mang Koko.

Untuk memperoleh data mengenai hal-hal yang diinginkan khususnya mengenai

bagaimana guru menyampaikan materi, alasan digunakannya etude karya Mang

Koko di dalam kegiatan pembelajaran mata pelajaran kacapi di Jurusan Karawitan

SMKN 10 Bandung, serta data-data penunjang lainnya, peneliti tidak harus

melakukan rekayasa karena pembelajaran kacapi dengan menggunakan etude karya

(15)

Berkenaan dengan masalah tersebut di atas, dalam rangka kegiatan penelitian

ini peneliti menentukan metode yang dianggap paling tepat sesuai dengan

karakteristik data,

2.Teknik Pengumpulan Data

a. Observasi

Observasi terhadap obyek penelitian dilakukan secara langsung dengan

teknik tertera pada penjelasan di bawah. Pada pelaksananannya peneliti bertindak

sebagai participant obseration, hal ini dimaksudkan agar peneliti mengetahui secara langsung berbagai hal berkaitan dengan Bahan Ajar kacapi Gaya Mang Koko di

SMK N 10 termasuk fenomena-fenomena yang terjadi di dalamnya. Observasi ini

bertujuan agar peneliti mendapatkan data sedetail mungkin sehingga memudahkan

peneliti untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan memaknai gejala-gejala yang

terjadi di lapangan. Dengan demikian data yang diperoleh dari nara sumber dapat

diperoleh secara langsung. Suasana yang didengar dan terlihat merupakan data atau

informasi yang dapat mendukung, melengkapi atau menambah informasi hasil dari

wawancara.

Observasi dilakukan secara langsung langkah awal yaitu menyiapkan

instrumen penelitian dan peralatan yang diperlukan selama observasi, seperti alat

perekam audio untuk merekam selama kegiatan observasi dan foto digunakan untuk

medekomentasikan semua kegiatan observasi. Hal ini dilakukan untuk menggali

(16)

a) Mengamati proses aktifitas kegiatan yang terjadi pada pembelajaran

kacapi di SMK 10 Bandung.

b) Mencatat dan mendokumentasikan gerak gerik dan prilaku responden,

informan dan lingkungan sekitar.

c) Mencatat situasi peristiwa yang berhubungan dengan aktifitas kegiatan

pembejaran kacapi di SMK 10 Bandung.

b. Wawancara

Wawancara dilakukan secara langsung kepada narasumber sebagai responden

yaitu Bapak Riskonda S.Kar sebagai tenaga pendidik di sekolah tersebut dan juga

salah satu akhli dibidang kacapi gaya Mang Koko, serta pada tokoh seni lain yang

dianggap kompeten dalam bidang ini dengan mengajukan pertanyaan dalam bentuk

uraian. Keuntungan bentuk pertanyaan urian, peneliti dapat bertanya lebih terperinci

sehingga jawaban dari responden lebih leluasa bahkan sampai sedetail mungkin

wawancara dilakukan secara bertahap.

Wawancara dilakukan langsung kepada responden dan informan dengan

mempersiapkan pedoman wawancara secara terstruktur dalam bentuk uraian melalui

lisan. Responden yang dimaksud adalah pengajar kacapi di SMK 10 Bandung,

sedangkan informannya adalah tokoh kacapi dan pengajar kacapi yang lain. Adapun

data yang digali atau dikumpulkan yaitu mengenai:

a. Hal ihwal kacapi gaya mang Koko.

b. Perintisan pembelajaran kacapi gaya mang koko di SMK 10.

(17)

d. Bahan ajarnya.

e. fasilitas dan tim pengajarnya.

c. Kategorisasi dan Pemaknaan Data

Sebuah data terkumpul, peneliti melakukan write ups dan melakukan konding untuk mempertajam kepekaan terhadap data yang terkumpul, sehingga memudahkan

kategorisasi data. Semua ini merupakan upaya untuk memaknai data. Ancaman ini akan

timbul apabila dalam pemilihan dan pengolahan data tidak tepat, serta ketidak

lengkapan data yang didapat. Dengan demikian data yang didapat harus serinci dan

sedetail mungkin, sehingga dapat menghalau ancaman terhadap

kesahehan,keistiqomahan penelitian yang kita lakukan dalam hal ini adalah Etude

kacapi Gaya Mang Koko Sebagai Bahan Ajar di SMK 10 Bandung.

d. Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi dilakukan dengan mempelajari data dari sumber skunder baik

bentuk tulisan atau bacaan yang berupa buku sumber, tesis, jurnal, laporan penelitian,

artikel budaya, dokumen pribadi dan karya ilmiah lainnya yang terkait dengan topik ini.

Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya dupliklasi ihwal studi yang dilakukan

(18)

3.Teknik Pengolahan Data

Setelah semua data terkumpul, baik dalam bentuk catatan, rekaman atau bentuk

lainnya, kemudian dilakukan kegiatan analisis terhadap data-data tersebut dengan

beberapa langkah sebagai berikut:

a. Mengklasifikasikan setiap data yang diperoleh terkait dengan etude kacapi gaya

Mang Koko sebagai bahan ajar di SMKN 10 Bandung.

b. Menyesuaikan dan membandingkan antara data hasil lapangan dengan literatur atau

sumber lain yang berupa teori serta dengan narasumber yang menunjang sehingga

menghasilkan beberapa kesimpulan yang tekait dengan etude kacapi gaya Mang

Koko sebagai bahan ajar di SMKN 10 Bandung.

c. Mendeskripsikan hasil penelitian yang telah mengalami proses pengolahan, sebagai

kesimpulan dalam bentuk tulisan yang menjadi tema dalam penelitian ini.

d. Menganalisis data berdasarkan masalah penelitian.

4. Asumsi Penelitian

Penelitian yang dilakukan ini berpijak kepada sebuah asumsi bahwa etude

kacapi gaya Mang Koko sebagai bahan ajar di SMKN 10 Bandung menggunakan teknik

penjarian yang berbeda dibandingkan teknik petikan kacapi lain yang berkembang di

(19)

karena bahan ajar berupa etude kacapi gaya Mang Koko benar-benar mengarahkan

siswa untuk belajar kacapi dari dasar menuju ke tingkat yang sulit secara detail.

5.. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di SMK 10 Bandung Jl Cijawura hilir Kelurahan

Margasenang Kecamatan Margacinta Bandung. SMK N 10 Bandung berada di sebelah

(20)

41

PROSEDUR PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Sebagaimana telah peneliti jelaskan pada bagian sebelumnya, bahwa

penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai kegiatan

proses pembelajaran kacapi dengan menggunakan etude kacapi gaya Mang Koko.

Untuk memperoleh data mengenai hal-hal yang diinginkan khususnya mengenai

bagaimana guru menyampaikan materi, alasan digunakannya etude gaya Mang

Koko di dalam kegiatan pembelajaran mata pelajaran kacapi di Jurusan Karawitan

SMKN 10 Bandung, serta data-data penunjang lainnya, peneliti tidak harus

melakukan rekayasa karena pembelajaran kacapi dengan menggunakan etude gaya

Mang Koko sudah berlangsung sejak lama.

Berkenaan dengan masalah tersebut di atas, dalam rangka kegiatan

penelitian ini peneliti menentukan metode yang dianggap paling tepat sesuai dengan

karakteristik data. Karena data-data mengenai proses pembelajaran tentang

penggunaan etude kacapi gaya Mang Koko di SMKN 10 Bandung sudah ada sejak

pembelajaran kacapi di SMKN 10 Bandung dilaksanakan, dan data-data tersebut

bersifat alamiah, maka metode yang dianggap paling tepat untuk digunakan di

dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Dengan menggunakan

metode deskriptif ini peneliti berkeyakinan tidak hanya akan dapat memberikan

(21)

analisis tentang berbagai data yang diperoleh dikaitkan dengan hasil pembelajaran

yang telah dilakukannya.

B. Fokus Penelitian

Penelitian ini berkeinginan untuk dapat mengetahui tentang bagaimana

proses pembelajaran Mata Pelajaran Kacapi dengan menggunakan etude gaya

Mang Koko di SMKN 10 Bandung. Agar penelitian ini lebih terarah maka fokus

kajian dalam penelitian ini diarahkan sekitar bagaimana proses pembelajaran

Kacapi dengan menggunakan etude gaya Mang Koko di SMKN 10 Bandung.

C. Teknik Pengumpulan Data

Untuk dapat menjawab seluruh permasalahan yang dikaji di dalam penelitian

ini, peneliti memerlukan berbagai data khususnya mengenai proses pembelajaran

Kacapi dengan menggunakan etude gaya Mang Koko di SMKN 10 Bandung, baik

yang dilakukan oleh guru sebagai pengajar maupun siswa yang mempelajari mata

pelajaran tersebut. Namun demikian kualitas dan kuantitas data yang diperlukan

sangat bergantung kepada teknik yang digunakan di dalam mengumpulkan dan

menjaringnya. Oleh karena itu, untuk mencapai keberhasilan pengumpulan data

tersebut, peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data sebagai berikut.

a. Observasi

Langkah pertama yang dilakukan peneliti di dalam pengumpulan data adalah

(22)

penelitian ini peneliti bertindak sebagai observer yang tidak memiliki keterlibatan

apapun. Dengan teknik ini diharapkan peneliti dapat memperoleh data secara

objektif dan akan terhindar dari pengaruh keterlibatan emosional antara peneliti

dengan subjek yang diteliti. Selain itu, diharapkan bahwa data-data yang dihasilkan

melalui kegiatan observasi ini memiliki validitas tinggi.

Seperti telah diungkapkan pada beberapa bagian sebelumnya bahwa

penelitian ini ingin mengkaji mengenai proses pembelajaran etude gaya Mang Koko

di dalam mata pelajaran Kacapi di SMKN 10 Bandung. Oleh karenanya kegiatan

observasinya pun dilakukan terhadap kegiatan selama proses belajar mengajar di

lakukan oleh guru dan siswa di dalam kelas. Observasi terhadap guru adalah

kegiatan pengamatan tentang bagaimana guru mengajar, metode yang digunakan,

pendekatan mengajarnya, pemilihan etude yang diajarkan, dan evaluasi di akhir

pembelajaran yang dilakukannya. Sedangkan observasi/pengamatan yang dilakukan

terhadap siswa khususnya mengenai bagaimana respon siswa dalam menangkap

materi pelajaran, dan kendala siswa di dalam mempelajari etude yang diajarkan oleh

gurunya. Selain dua hal tersebut di atas, peneliti juga mengamati situasi selama

pembelajaran berlangsung di dalam kelas.

Kegiatan observasi ini dilakukan peneliti dalam beberapa kali kunjungan

terhadap proses pembelajaran Kacapi dengan menggunakan etude gaya Mang Koko

di SMK 10 Bandung yang diajarkan oleh Bapak Riskonda, S.Sn. Selama observasi

(23)

melakukan pengamatan, yaitu; 13, 20, dan 27 April 2011, 25 Mei 2011, 8, 15, 22

Juni 2011.

Berdasarkan data-data yang peneliti peroleh melalui kegiatan pengamatan

tersebut, peneliti memperoleh beberapa data yang memerlukan penjelasan baik dari

guru sebagai pengajar yang secara langsung mengaplikasikan etude hasil karya

Mang Koko, maupun siswa yang dituntut untuk mengaplikasikan semua karya etude

tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengumpulan data ini tidak dapat

dilakukan hanya dengan menggunakan teknik observasi di dalam pengumpulan

datanya.

b. Wawancara

Untuk melengkapi data-data yang tidak dapat digali melalui kegiatan

observasi yang telah peneliti lakukan, maka penelitian ini dilengkapi dengan

melakukan kegiatan wawancara. Wawancara ini sangat penting dilakukan utnuk

mengetahui seluruh fenomena yang dilakukan baik oleh guru maupun siswa yang

dilakukannya di dalam kegiatan proses pembelajaran Mata Pelajaran Kacapi dengan

menggunakan etude di SMKN 10 Bandung. Selain itu dengan wawancara ini akan

dapat menjawab seluruh masalah yang ingin diketahui peneliti secara jelas dari

informan yang diinginkan.

Kegiatan wawancara dilakukan dengan Bapak Riskonda, S.Sn, yaitu

satu-satunya guru yang mengajar Mata Pelajaran Kacapi Kawih di Jurusan Karawitan

(24)

guru yang pernah mengajar kacapi mendanpingi Bapak Riskonda, Ibu Elis Rosliani

S.Sn, yaitu ketua jurusan karawitan di SMKN 10 Bandung, dan Bapak Odi Kusnadi

S.Sn, yaitu wakil kepala sekolah bidang kurikulum di SMKN 10 Bandung. Mereka

dapat dipastikan dapat memberikan berbagai data yang diperlukan oleh peneliti

berkaitan dengan proses pembelajaran yang dilakukannya. Berkaitan dengan hal

tersebut peneliti telah melakukan wawancara beberapa kali dengan beliau, yaitu

tanggal 13, 20, 21, 27, dan 28 April 2011, 27 Mei 2011, 3, 8, 10, dan 20 Juni 2011.

Wawancara berikutnya dilakukan denganbeberapa orang siswa yang belajar

Kacapi dengan menggunakan etude gaya Mang Koko. Siswa yang diwawancara

terdiri dari tiga kategori, yaitu siswa yang memiliki prestasi sangat baik, baik, dan

kurang baik di dalam pembelajaran Kacapi yang diikutinya. Siswa dimaksud adalah

Dika Dzikriawan dan Hegar Paragina yang memiliki prestasi sangat baik, Gita

Rahmawati dan Ilham Firmansyah yang memiliki prestasi baik, dan Tanti dan Rizki

Mauludin yang memiliki prestasi kurang baik. Wawancara dengan para siswa ini

dilakukan pada tanggal 13, 20 dan 27 April 2011.

c. Studi Dokumentasi

Selain dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara, untuk

melangkapi pengumpulan data mengenai pembelajaran kacapi dengan

menggunakan etude gaya Mang Koko, peneliti merasa perlu menggunakan studi

dokumentasi, yaitu untuk memperkaya berbagai temuan data yang diperlukan. Studi

(25)

karya-pembelajaran kacapi, maupun karya-karya yang dibuat dalam bentuk iringan lagu.

Hal ini perlu dilakukan karena banyak sekali gaya yang dimainkan dengan kacapi

dan memiliki keterkaitan erat dengan etude kacapi yang dibuatnya.

D. Teknik Analisis Data

Setelah semua data terkumpul, baik dalam bentuk catatan, rekaman atau bentuk

lainnya, kemudian dilakukan kegiatan analisis data-data. Beberapa langkah yang

dilakukan sebagai berikut:

a. Mengklasifikasikan setiap data yang diperoleh terkait dengan proses pembelajaran

Mata Pelajaran Kacapi dengan menggunakan etude gaya Mang Koko di SMKN 10

Bandung.

b. Menyesuaikan dan membandingkan antara data hasil lapangan dengan literatur atau

sumber lain yang berupa teori serta dengan nara sumber yang menunjang sehingga

menghasilkan beberapa kesimpulan yang tekait dengan proses pembelajaran Mata

Pelajaran Kacapi dengan menggunakan etude gaya Mang Koko di SMKN 10

Bandung.

c. Mendeskripsikan hasil penelitian yang telah mengalami proses pengolahan, sebagai

kesimpulan dalam bentuk tulisan yang menjadi tema dalam penelitian ini.

(26)

dalam Rohidi (1992:18) mengungkapkan bahwa, “analisis data kualitatif merupakan

upaya berlanjut, berulang dan terus menerus. Menurut mereka ada tiga tahap analisis

data, yaitu: Reduksi data, Display atau penyajian data dan pengambilan kesimpulan

dan verifikasi data”.

Berdasar kepada uraian tersebut di atas, Pada penelitian ini dilakukan

analisis data dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Reduksi Data

Kegiatan reduksi data merupakan langkah awal dalam menganalisis data

suatu penelitian. Kegiatan ini bertujuan untuk memudahkan peneliti dalam

memahami data yang dikumpulkan dari lapangan. Kegiatan ini dilakukan dengan

membuat rangkuman terhadap aspek-aspek permasalahan yang diteliti agar mudah

untuk melakukan analisis data lebih lanjut. Adapun aspek-aspek permasalahan yang

direduksi dalam penelitian ini meliputi proses pembelajaran Mata Pelajaran Kacapi

dengan menggunakan etude gaya Mang Koko di SMKN 10 Bandung.

2. Display atau Penyajian Data

Langkah selanjutnya setelah melakukan kegiatan reduksi terhadap seluruh

data, adalah menyajikan data-data tersebut secara jelas dan singkat dengan mengacu

kepada judul dan rumusan masalah tentang proses pembelajaran Mata Pelajaran

(27)

mengambil suatu kesimpulan tekait dengan tema penelitian ini.

3. Pengambilan Kesimpulan dan Verifikasi Data

Menganalisis data dalam upaya mengambil suatu kesimpulan, merupakan

intisari dari hasil penelitian. Sedangkan verifikasi adalah suatu upaya untuk

mempelajari kembali data-data yang sudah dikumpulkan dengan meminta

pertimbangan dari berbagai pihak yang relevan dengan penelitian ini. Kegiatan

pengambilan kesimpulan di dalam penelitian ini merupakan hal yang sangat penting

untuk memberikan gambaran secara pasti tentang masalah yang diteliti. Sedangkan

kegiatan verifikasi data dilakukan agar hasil penelitian ini memiliki validitas yang

tinggi. Oleh karena itu, kegiatan seperti tersebut di atas sangat penting untuk

dilakukan dalam kegiatan penelitian yang menggunakan paradigma kualitatif ini

data penelitian dalam ini data proses pembelajaran kacapi dengan menggunakan

etude kacapi gaya Mang Koko diverifikasi dan kemudian hasilnya menjadi bagan

kesimpulan dari penelitian ini.

E. Lokasi Penelitian

Lokasi yang digunakan utuk melakukan penelitian yang mengambil judul

“Etude Kacapi Karya Mang Koko Sebagai Bahan Ajar di SMK Negeri 10

Bandung” ini, adalah di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 10 Bandung

Jl Cijawura hilir Kelurahan Margasenang Kecamatan Margacinta Bandung.

(28)

brgerak di bidang seni pertunjukan di kota bandung. Sekolah ini memiliki beberapa

jurusan, diantaranya: jurusan Karawita (karawitan sunda), jurusan musik modern,

(29)

148 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan pengolahan data yang berhasil dikumpulkan dari observasi,

wawancara, studi literatur, maupun studi dokumentasi terhadap Etude kacapi yang telah

dibuat oleh Mang Koko yang digunakan sebagai bahan ajar pada proses pembelajaran

kacapi di SMKN 10 Bandung dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Bahan ajar etude kacapi gaya mang koko dapat diketegorisasikan sebagai berikut:

a. Pengenalan susunan nada yaitu etude 1, dan etude 2.

b. Pengenalan not setengah (1/2 ketukan) pada birama 4/4 yaitu etude 3, 4, 5, 6, 7,

8, 9, dan 10.

c. Etude yang mengarah pada iringan lagu atau pirigan sedrhana menggunakan

jari telunjuk kanan dan kiri yaitu etude 11, dan 12.

d. Etude yang m engarah pada gelenyu yaitu etude 13, 14, 15, 16, dan 17.

e. Etude yang bersumber dari petikan kacapi Tembang Sunda Cianjuran yaitu

etude 18, 19, 20, dan 21.

f. Etude yang mengarah pada teknik diranggeum yaitu etude 22.

g. Etude yang mengarah pada teknik dikemprang versi 1, yaitu etude 24, 25, dan

26.

h. Etude yang mrengarah pada aransemen atau intro lagu yaitu etude 27 s/d 45.

(30)

2. Proses pembelajaran kacapi di SMKN 10 Bandung di laksanakan memlalui

tahapan-tahapan yang di berikan guru kepada peserta didiknya dengan berbagai strategi

pembelajaran yang di lakukan guru prngajarnya. Proses pembelajaran kacapi dengan

menggunakan etude kacapi gaya Mang Koko, di acak dan tidak di sampaikan secara

keseluruhan kepada siswa berkenaan dengan alokasi waktu yang sedikit, sehingga

materi bahan ajar etude kacapi yang di ajarkan di pilih sesuai dengan kebutuhan

siswa dalam mempelajari teknik permainan kacapi. Hasil observasi terdiri dari 10

pertemuan. Etude yang di npelajari dalam 10 pertemuan tersebut adalah etude 1, 2,

3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 13, 16, 22, 23, 24, 27, 29, dan 52. Hal diatas beralasan

karena etude –etude diatas sudah mewakili beberapa teknik petikan yang membantu

pada proses pembelajaran kacapi. Selain itu alasan diajarkannya etude-etude

tersebut berbebturan dengan alokasi waktu yang sedikit sehingga etude kacapi gaya

Mang Koko tidak dapat diajarkan secara keseluruhan.

3. Kesesuain bahan ajar etude kacapi berdasarkan tahapan-tahapan pembelajarannya,

dapat dikategorikan dengan pencapaian yang diharapkan guru pada tingkat dasar,

terampil, dan tingkat mahir. Tentunya untuk mencapai tingkatan-tingkatan tersebut,

siswa harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang diberikan oleh guru

pengajarnya. Untuk mengetahui tingkatan tersebut tetntunya berdasakan evaluasi

(31)

B. Saran

Setelah melakukan pengkajian terhadap Etude kacapi gaya Mang Koko Sebagai

bahan ajar di SMKN 10 Bandung, peneliti memiliki beberapa saran untuk

pengembangan materi bahan ajar permainan kacapi di Jawa Barat, khususnya bagi

Program Pendidikan Seni Musik sebagai lembaga pendidikan dalam bidang seni,

umumnya bagi masyarakat pendukung musik tradisional di Jawa Barat. Adapun

saran-saran yang ingin peneliti sampaikan adalah sebagai berikut.

1. Hasil penelitian dapat dijadikan bahan pelajaran yang memiliki kelengkapan yang

komplek.

2. Etude Mang Koko dapat digunakan sumber pengayaan teknik petikan kacapi.

3. Teknik-teknik petikan kacapi pada etude kacapi Gaya Mang Koko ini dapat

dijadikan sebagai sebuah literature atau pengayaan di dalam pembelajaran kacapi.

Hal ini didasarkan kepada alasan bahwa sampai saat ini literatur mengenai petikan

kacapi sangat kurang.

4. Pembelajaran kacapi yang dilakukan pada lembaga pendidikan yang memiliki

jurusan seni music seperti Universitas Pendidikan Indonesia(UPI) hendaknya lebih

difokuskan kepada masalah teknik petikan. Artinya para peserta didik lebih

diarahkan kepada masalah bagaimana menggunakan jari baik tangan kanan maupun

kiri di dalam memainkan instrument musik kacapi. Dengan demikian mahasiswa

akan memiliki keterampilan sesuai dengan yang diharapkan.

5. Untuk peneliti selanjutnya harus melihat perkembangan selanjutnya dari Etude

(32)

6. Teknik-teknik petikan kacapi pada etude kacapi Gaya Mang Koko ini dapat

dijadikan sebagai sebuah literature atau pengayaan di dalam pembelajaran kacapi.

Hal ini didasarkan kepada alasan bahwa sampai saat ini literatur mengenai petikan

kacapi sangat kurang.

7. Program Pendidikan Seni Pasca Sarjana dan Jurusan Musik FPBS Universitas

Pendidikan Indonesia sebagai satu-satunya lembaga pencetak calon guru di Jawa

Barat, sebaiknya memberikan penekanan kepada mahasiswanya untuk mempelajari

musik tradisional daerahnya. Dengan demikian diharapkan semua lulusan Program

Studi Pendidikan Seni Pasca Sarjana UPI memiliki wawasan dan keterampilan

dalam bidang musik tradisional daerahnya masing-masing.

8. Sehubungan dengan diberlakukannya kurikulum KTSP, di mana musik tradisional

daerah setempat memiliki porsi yang cukup besar, maka diperlukan wawasan dan

keterampilan tentang musik daerah setempat baik dari para calon guru musik

maupun bagi guru-guru yang sudah menjadi pegawai negeri. Salah satu instrument

musik yang relative fleksibel dan cukup murah yang perlu dipelajari adalah kacapi

kawih. Dengan memiliki keterampilan dalam memainkan kacapi kawih tersebut

diharapkan guru-guru musik di lapangan tidak akan menemui hambatan ketika

(33)

152

Alwasilah, (2009). Pokoknya Kualitatif. PT. Dunia Pustaka Jaya.

Benyamin, (1995). Pelajaran Bermain Kacapi Tingkat Dasar. PT. Harapan Masa

Cabang Jawa Barat.

Hariyono, (2011). Kamus Bahasa Jerman- Indonesia. Gita Media Press.

Hendrawati, Lilis. (2000). Teknik Petikan Kacapi Pada Penyajian Kesenian Jentreng Pimpinan H. Ma’mur (Alm) Desa Girimukti Kecamatan

Sumedang Utara Kabupaten Sumedang. Skripsi. Bandung: Universitas

Pendidikan Indonesia (UPI). tidak diterbitkan.

K. Denzin, (2009). Qualitative Research. Pustaka Pelajar.

Koko, (1990). Pelajaran Kacapi Etude dan Teknik. Mitra Buana Bandung.

Koswara, Tatang Benyamin, et all. (1992). Mang Koko (Haji Koko Koswara)

Pembaharu Karawitan Sunda. Bandung: Yayasan Cangkurileung

Pusat.

Kostawa, Iden. (1999). Teknik-teknik Petikan Kacapi dalam Penyajian Kesenian

Celempungan Motekar Dwi Tunggal Buah Batu. Skripsi. Bandung:

Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP). tidak diterbitkan.

Mack, (1996). Pendidikan Musik Antara Harapan dan Realitas. IKIP Bandung.

Miles B. dan Huberman. (1992). Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI Press.

Milyartini, (2009). Evaluasi Pendidikan Musik. CV. Bintang WarliArtika.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (1988). Kamus Besar Bahasa

(34)

Rohayani. (1998). Penerapan Gelenyu Kacapi Tembang di RRI Bandung. Skripsi. Bandung: Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI).

Ruswandi, Tardi. (1999). Karawitan Wanda Anyar Mang Koko. Laporan Karya Ilmiah. Bandung: Sekolah Tinggi Seni Indonesia.

_________. (1999). Peranan Kacapi dalam Pertunjukan Karawitan. Laporan Hasil Penelitian. Bandung: Sekolah Tinggi Seni Indonesia.

_________. (2000). Koko Koswara Pencipta Karawitan Sunda Yang

Monumental. Bandung: Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI).

_________. (2003). Perkembangan Karawitan Sunda Pasca Mang Koko. Laporan

Penelitian. Bandung: Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI).

Sabila, (2009). Proses Dan Tahapan Belajar.

Sukanda, Enip. (1996). Kacapi Sunda. Bandung: Direktorat Jenderal Kebudayaan DEPDIKBUD.

Wardhani, Deri (2007). Teknik Petikan Kacapi Kanca Indihiangan Pimpinan

Mang Koko. Universitas Pendidikan Indonesia(UPI).

http://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metode-pembelajaran/).

Referensi

Dokumen terkait

Guru bimbingan konseling BK sebagai sumber informasi mengenai hal yang berkaitan dengan sistem kegiatan belajar dan mengajar serta sarana dan prasarana di SMK Negeri 15 Bandung, serta