Partai Keadilan Sejahtera di Kota Medan
SKRIPSI
Audry Zaskia Qowariry 160904091
Jurnalistik
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
Partai Keadilan Sejahtera di Kota Medan
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana program Strata 1 (S1) pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Audry Zaskia Qowariry 160904091
Jurnalistik
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, atas rahmat dan berkat yang telah diberikan-Nya saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU).
Pertama sekali saya persembahkan hasil dari kerja keras ini kepada Alm.
Bapak Wiyardi Saputra yang selalu menjadi penyemangat saya. Terima kasih atas perhatian, kasih sayang, bimbingan dan segala hal yang telah dilalui bersama sehingga saya mampu menyelesaikan pendidikan S-1. Rasa terima kasih juga saya haturkan pada kedua orang tua saya, Drs. H. Surya Makmur Nasution M.Hum dan Hj. Wirahayu Ningsih, S.E. atas doa dan restu yang telah diberikan kepada saya dalam menggapai mimpi dan cita-cita. Berkat mereka berdua saya selalu bersemangat menjalani hari-hari dibangku kuliah hingga mampu menuntaskan pendidikan S1 ini.
Saya menyadari bahwa sejak masa perkuliahan hingga proses penyusunan skripsi ini tak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara
2. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
3. Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si, Ph.D selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU
4. Ibu Emilia Ramadhani, MA. selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU.
5. Bapak Drs. Syafruddin Pohan, M.Si., Ph.D selaku dosen pembimbing akademik. Saya mengucapkan terima kasih atas dedikasi bapak terhadap saya.
6. Bapak DR. H. Sakhyan Asmara selaku dosen pembimbing skripsi. Saya menyampaikan terima kasih atas waktu, perhatian, kesabaran dan dukungan sejak awal pengerjaan skripsi hingga selesai. Terima kasih
sungguh memudahkan saya dalam memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi.
7. Bapak dan Ibu dosen serta pegawai yang berada di lingkungan FISIP USU, khususnya Ilmu Komunikasi, atas pengajaran yang telah diberikan selama saya menjalani masa perkuliahan.
8. Kak Maya, Bagian Administrasi Departemen Ilmu Komunikasi yang selalu bersedia membantu peneliti dalam hal pengurusan administrasi.
9. Rasa terima kasih saya ucapkan kepada narasumber-narasumber yang telah bersedia membantu dan meluangkan waktu juga bersikap kooperatif untuk membantu saya menuntaskan skripsi ini.
10. Terima kasih kepada Tawaf TV sebagai tempat saya melakukan PKL selama satu bulan dan Bapak Buyung Wijaya Kusuma sebagai Pemimpin Redaksi Tawaf Tv telah memberikan kesempatan kepada saya untuk belajar dan mengembangkan diri selama melakukan magang di Tawaf TV 11. Paman dan Tante yang saya cintai bagai orang tua sendiri: Warsito
Suhendra, Wanto Wibowo, Warsiyo Supodiono, Bambang Wirawan, Warsiaty dan Wisniaty. Terima kasih atas segala perhatian doa, dan dukungan yang telah diberikan.
12. Teruntuk saudara laki-laki saya, Andrew Malay Naufalibna Nasution yang selalu menguatkan saya dalam mengisi hari-hari saya saat mengerjakan skripsi.
13. Seluruh keluarga besar yang turut mendukung dalam menjalani masa perkuliahan dan menjadi motivasi bagi peneliti untuk menyelesaikan studi.
14. Teman-teman SDIT Ulil Albab Batam, SMPN 3 Batam, SMAN 3 Batam yang sangat saya sayangi meskipun kita terpisah tetapi intensitas berkomunikasi diantara kita tetap terjalin Saya mengucapkan terima kasih banyak.
15. Kakak Ayulia Hasanah Pratami dan kakak Niki Fadillah yang telah menjadi teman dan sudah saya anggap seperti kakak sendiri.Terima kasih
16. Septy Rahma Sari yang selalu memberikan semangat kepada saya agar tetap semangat mengerjakan skripsi.
17. Riska Apsari, Indah Ramadhani, Dini Rahmadani, Arifa Qanitah, Cici Alhamdaina, Miranda Hanalia Gultom, Haridzar Muslim, Manna Nadhirah Nasution, Ainun Putri Lubis, Gaberiella Putri Benma Maha, Nur Annisa, Yogie Brian Purba, Christoper Aprilio Herdimas Siregar terima kasih saya ucapkan karena telah menjadi teman baik saya selama kuliah.
18. Keluarga besar SUARA USU dan Garda Media USU yang telah menjadi tempat berkembang dan belajar saya mengenal dunia jurnalistik sekaligus mengisi masa-masa perkuliahan, terima kasih atas kebersamaannya yang tidak bisa saya ungkapkan satu per satu.
19. Teman-teman belajar bahasa asing yang tidak pernah bosan-bosannya memberikan canda tawa bahkan selalu mengungkapkan rasa cinta kepada saya. Saya mendapatkan support system terbaik : Dameli, Genesis, Kathia, Milena, Helena, Niniya, Emmie, Elen, Alvaro, Wahiba, Hajer, Aroua, Reghlyn, Moona, Iliana, Anja, Sharon, Hayu, Juan.
20. Teman-teman Ilmu Komunikasi 2016 yang telah berjuang bersama dalam menempuh pendidikan dan menjadi bagian besar dalam hidup peneliti selama empat tahun. Semoga ilmu yang kita peroleh dalam masa perkuliahan dapat berbuah kesuksesan di masa depan.
Peneliti menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam skripsi ini, maka dari itu peneliti memohon maaf sebesar-besarnya. Peneliti juga menerima kritik dan saran yang bersifat konstruktif untuk perbaikan dan mendorong peneliti untuk dapat semakin maju. Semoga skripsi ini dapat menambah khasanah pengetahuan kita semua.
Medan, Agustus 2020
Audry Zaskia Qowariry
Sebagai civitas akademika Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Audry Zaskia Qowariry
NIM : 160904091
Departemen : Ilmu Komunikasi
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas : Universitas Sumatera Utara Jenis Karya : Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif (Non Exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
“PERANAN BERITA-BERITA POLITIK DI SURAT KABAR HARIAN WASPADA DALAM MENINGKATKAN ELEKTABILITAS PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN DAN PARTAI KEADILAN
SEJAHTERA DI KOTA MEDAN”
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non- Eksklusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalihmedia/
formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Medan Pada Tanggal : Yang menyatakan
(Audry Zaskia Qowariry)
Waspada dalam Meningkatkan Elektabilitas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Keadilan Sejahtera di Kota Medan. Penelitian ini menjadi menarik karena dalam setiap Pemilu surat kabar yang beroplah besar biasanya sarat dengan berita-berita politik terutama dalam memberitakan partai-partai tertentu. Tujuan Penelitian ini adalah : untuk melihat peranan berita-berita politik di Harian (SKH) Waspada dalam meningkatkan elektabilitas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Keadilan Sejahtera di Kota Medan. Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu komunikasi politik, media cetak dan partai politik. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme yang memandang individu sebagai pencipta realitas sosial yang bebas dan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, studi dokumentasi dan studi kepustakaan, sedangkan teknik analisis data kualitatif meliputi tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk keabsahan data penulis melakukan triangulasi data dengan tokoh Partai Golongan Karya (Partai Golkar) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Kota Medan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa berita-berita politik di Harian Waspada memiliki peranan penting bagi PDIP dan PKS dalam meningkatkan elektabilitasnya di Kota Medan sebagai alat kampanye, sosialisasi visi-misi, platform, dan program partai politik yang dimuat dalam bentuk berita hard news, soft news, maupun indepth news.
Kata kunci: Peranan Berita-berita Politik; Harian Waspada;
Elektabilitas; PDIP; PKS.
Waspada in Improving the Electability of the Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan and Partai Keadilan Sejahtera in Medan City. This research becomes interesting because in every Election a large newspaper is usually loaded with political news especially in preaching certain parties. The purpose of this research is: to see the role of political news in The Daily (SKH) Waspada in improving the electability of the Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan and Partai Keadilan Sejahtera in Medan City. The theory used in this study is political communication, print media and political parties. This study uses a paradigm of constructivism that views individuals as creators of free social reality and descriptive qualitative methods. Data collection techniques are carried out through observations, depth interviews,documentary studies and literature studies, while qualitative data analysis techniques includes three stages, namely data reduction, data presentation, and withdrawal of conclusions. For the validity of the data the author triangulated the data with the figures of the Partai Golongan Karya (Golkar Party) and the Partai Persatuan Pembangunan (PPP) in Medan City. The results of this study found that political news in Harian Waspada has an important role for PDIP and PKS in improving it’s electability in Medan as a campaign tool, socializing the vision-mission, platform, and program of political parties loaded in the form of hard news, soft news, and indepth news.
Keywords: The Role of Political News; Harian Waspada; Electability; PDIP;
PKS.
LEMBAR PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
HALAMAN PERNYATAAN DAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
DAFTAR ISI ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ………...1
1.2 Rumusan Masalah……….6
1.3 Tujuan Penelitian………..6
1.4 Manfaat Penelitian………....6
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Paradigma ……….7
2.1.1 Paradigma Konstruktivisme………...7
2.2. Kerangka Teoritis……….8
2.2.1 Komunikasi Massa……….8
2.2.2 Fungsi Komunikasi Massa……….10
2.2.3 Peran Komunikasi Massa………...11
2.2.4 Elemen-elemen Komunikasi Massa ………..12
2.3 Media Massa………..14
2. 4 Surat Kabar………17
2. 5 Pengertian Berita………22
2.8 Partai Politik………...30
2.9 Elektabilitas Partai Politk………...33
2.10. Kerangka Berpikir Peneitian………...35
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian………...36
3.2 Objek Penelitian……….37
3.3 Subjek Penelitian………37
3.4 Teknik Pengumpulan Data……….37
3.4.1 Penentuan Informan………...39
3.4.2 Keabsahan Data………..40
3.5 Teknik Analisis Data………..41
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian……….42
4.1.1 Hasil Wawancara………43
4.1.2 Sejarah Surat Kabar Harian Waspada Medan………53
4.1.3 Asal Kata “Waspada”……….54
4.1.4 Surat Kabar Harian Waspada sebagai media mainstream…………..55
4.1.5 Berita-berita Politik di Surat Kabar Harian Waspada……….55
4.2 Pembahasan………63
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan……….69 5.2 Saran………70
DAFTAR REFERENSI
LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dinamika pers di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perkembangan dan pengaruh politik di negara ini. Pers yang sering disebut-sebut sebagai pilar keempat demokrasi menjadi rujukan atau referensi bagi partai-partai politik (parpol) dalam meningkatkan suara elektoral pemilihnya atau elektabilitasnya.
Pers menjadi pilar demokrasi karena perannya sangat strategis dalam membangun kesadaran dan pendewasaan masyarakat untuk melek atau memahmi realitas politik.
Pers menjadi institusi yang dipercaya warga masyarakat karena memiliki kredibilitas yang dapat dipertanggungjawabkan. Kebebasan pers dalam meliput dan memproduksi peristiwa menjadi berita adalah sebuah keniscayaan yang tak dapat ditawar. Disinilah letaknya pers yang bebas akan melahirkan informasi yang kredibel sehingga berita yang diproduksi menjadi kredibel atau dipercaya.
Menurut Assegaf dalam buku Media dan Politik : Sikap Pers terhadap Pemerintahan Koalisi di Indonesia karya Salvatore Simarmata, “Pers mempunyai tiga fungsi utama, yaitu: memberikan informasi, memberikan hiburan, dan melaksanakan fungsi kontrol dari ketiga fungsi tersebut fungsi kontrol sosial (social control) adalah yang terpenting sebab pers pada hakekatnya dipandang sebagai kekuatan keempat (the fourth estate)”. (Simarmata, 2014:96).
Onong Uchjana dalam buku “Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi” pers di Amerika dan Inggris yang menganut teori libertarian, bebas dari pengaruh pemerintah dan bertindak sebagai Fourth Estate (kekuasaan keempat) dalam proses pemerintahan, setelah kekuasaan pertama (Lembaga Legislatif), kekuasaan kedua (Lembaga Eksekutif) dan kekuasaan ketiga (Lembaga Yudikatif).
(Effendy,2007:89). Atas dasar itulah, berita-berita dari pers menjadi masukan dan sumber atau rujukan pembahasan bagi parpol untuk melakukan evaluasi dan kajian strategis terhadap perkembangan dan dinamika parpol baik internal maupun eksternal.
Berita dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat. Berita ditampilkan melalui media berkala seperti surat kabar, radio, televisi, atau media online.
Sedangkan menurut Mitchell V. Charnley dalam buku Reporting menyebutkan,
“Berita adalah seni dan sarana utama bagi penyebaran berita dan menekankan surat kabar sebagai bentuk dominan diantara sistem penyebaran berita (Charnley, 1975).
Menurut Harsono Suwardi pada kata pengantarnya dalam buku Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa : Sebuah Studi Critical Discourse Analysis terhadap Berita – berita Politik karya Ibnu Hamad, “… salah satu karakteristik utama berita politik itu sendiri adalah pembentukan opini publik. Dengan menjadi saluran komunikasi politik saja, media bisa menyumbang pada pembentukan opini publik apalagi bertindak sebagai agen politik.” (Hamad, 2004, xvii).
Sudah menjadi keniscayaan bahwa setiap partai politik menghendaki agar suara elektoralnya dari waktu ke waktu meningkat dan berkembang bahkan memenangkan kontestasi pada Pemilihan Umum (Pemilu) setiap lima tahun.
Merebut dan memenangkan hati rakyat adalah tujuan untuk menjaga eksistensi parpol sebagai peserta dan pemenang Pemilu.
Salah satu elemen penting yang mendasari keberhasilan pemilu adalah keterlibatan partisipasi publik di dalamnya. Peran dan partisipasi publik dalam Pemilu sangat menentukan keberhasilan parpol dalam kontestasi Pemilu. Publik dapat menilai, merasakan, dan memilih parpol yang diyakininya dapat memperjuangkan aspirasi dan kepentingan suara elektoralnya setiap lima tahunan melalui pemilu.
Bagi parpol, memenangkan dan merebut suara elektoral rakyat atau pemilih adalah agenda utama dan strategis setiap kontestasi pemilu lima tahunan.
Parpol berupaya dan berusaha untuk memenangkan kontestasi dengan berbagai cara atau strategi, melalui institusional atau kelembagaan maupun individu- individu anggota atau kader parpol.
Cara parpol dalam mempertahankan, meningkatkan dan mempertahankan hegemoni kekuasaannya salah satunya adalah dengan memanfaatkan media massa, apakah media cetak, media penyiaran, ataupun media daring. Semua sarana komunikasi media massa oleh parpol digunakan dan dijadikan sebagai alat komunikasi yang efektif untuk menyampaikan pesan, message, dalam mempengaruhi pikiran, perasaan dan tindakan publik terhadap parpol yang disukai dan dipilihnya.
Dinamika media massa yang masih eksis di tengah masyarakat atau publik salah satunya adalah surat kabar. Juwito dalam bukunya : Menulis Berita dan Feature’s, menjelaskan bahwa surat kabar sebagai produk jurnalistik seperti halnya tabloid, majalah dan bulletin yang terbit secara berkala. Produk dari surat kabar berupa (1) berita (news) , (2) opini (views) , (3) iklan (advertising).
(Juwito, 2008, hal. 5)
Surat kabar juga memiliki fungsi social control yang digunakan kaum idealis agar bisa mempengaruhi rakyat sehingga surat kabar tidak hanya bersifat informatif namun persuasif. Selain menyiarkan informasi, tetapi membujuk dan mengajak khalayak untuk mengambil sikap berbuat sesuatu atau tidak sesuatu.
Selain bentuk persuasif, adanya tajuk rencana (editorial) (Effendy.2007.95).
Bahkan Onong mengatakan bahwa pada zaman modern sekarang ini surat kabar tidak hanya mengelola berita tetapi ada aspek lain, yaitu, tidak hanya menyiarkan informasi, tetapi juga mendidik, menghibur dan mempengaruhi agar khalayak melakukan kegiatan tertentu (Effendy, 2007:93).
Surat kabar dalam menyiarkan informasi bagi pembaca, memberikan ruang untuk menciptakan gagasan atau pikiran, melakukan sesuatu dan mengatakan apa yang dibacanya. Oleh karena itu, surat kabar memegang peran penting dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk mempengaruhi sikap elektoral masyarakat terhadap parpol yang disukai dan dipilihnya. Hanya saja dalam mempengaruhi pembaca, berita yang dimaksudkan adalah surat kabar yang independen, bebas menyatakan pendapat, bebas melakukan social control.
(Effendy, 2007:94).
Dengan kata lain surat kabar yang dapat mempengaruhi pembaca atas informasi berita adalah pers yang independen, yaitu bebas dari intervensi pemerintah atau kekuasaan. Di Indonesia kebebasan pers itu telah diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Pada pasal 1 (satu) ayat 1 UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menyebutkan bahwa pers sebagai lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melakukan kegiatan jurnalistik seperti mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik dan bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik dan segala jenis saluran lainnya.
Pada pasal 4 (empat) ayat 1 UU Nomor 40 Tahun 1999, menyebutkan bahwa kemerdekaan pers dijamin kepada setiap warga negara Indonesia. Pada ayat 2 bahwa pers tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran. Kemudian, ayat 3 menjamin kemerdekaan pers, pers memiliki hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. Terakhir, ayat 4 menyebutkan, pers mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum dan wartawan memiliki hak tolak.
Seorang wartawan atau jurnalis dalam menjalankan tugasnya harus mengikuti Kode Etik Jurnalistik. Pers merupakan ajang kebebasan berekspresi dan mengutarakan pendapat, namun pers dituntut untuk profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat. Maka dari itu wartawan Indonesia memerlukan Kode Etik Jurnalistik sebagai landasan moral dan etika profesi wartawan.
Kode Etik Jurnalistik Pasai 1 (satu) menyebutkan bahwa wartawan Indonesia harus independen dalam memberitakan berita yang akurat sesuai fakta tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers. Berita akurat yang dipercaya benar dan sesuai dengan keadaan objektif ketika peristiwa terjadi. Berita yang berimbang agar semua pihak mendapatkan kesetaraan dan tidak beritikad buruk secara sengaja dan semata- semata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.
Salah satu surat kabar lokal, terbesar di Kota Medan adalah Surat Kabar Harian (SKH) Waspada yang terbit di Medan sejak 11 Januari 1947. Harian ini didirikan oleh sepasang suami-istri, Alm. H. Mohammad Said dan Almh. Hj. Ani
Idrus. Hari pertama penerbitan, Surat Kabar Harian Waspada tercetak sebanyak 100 eksemplar dengan format pemberitaan hanya setengah halaman dan terjual habis dengan melewati berbagai lika-liku perjalanan pers di Indonesia.
(mediaindonesia. web.id/harian-waspada/)
Dalam pengamatan peneliti, Waspada adalah surat kabar yang populer dan mendapat perhatian pembaca surat kabar tersebut. Waspada konsisten dalam memberitakan tentang berita-berita politik lokal, nasional bahkan internasional hingga kini. Pembaca Waspada juga secara khusus memberi perhatian terhadap berita-berita pemilu seperti berita aktual, berita mendalam (investigasi), opini (tajuk rencana) dan berita advertorial atau iklan. Bahkan Waspada menjadi tempat bagi parpol sebagai bahan referensi atau rujukan, termasuk menjadikan alat kampanye dalam mempengaruhi masyarakat dan konstituennya. Selain itu, independensi Surat Kabar Harian Waspada yang tidak berafiliasi atau partisan terhadap partai politik manapun menjadikan Waspada sebagai media cetak yang menarik untuk dijadikan penelitian dalam skripsi ini. Menurut peneliti, sikap independensi Waspada sebagai media dalam memberitakan berita-berita politik terbebas dari intervensi pihak manapun. Sehingga, berita-berita politik di SKH Waspada dapat menyajikan informasi yang berimbang , objektif, netral sesuai dengan fakta peristiwa politik.
Hal lain yang diketahui oleh peneliti adalah SKH Waspada menyandang nama besar sebagai media cetak terbesar di Kota Medan. Oleh karena itu, SKH Waspada perlu mengembangkan inovasi-inovasi agar tidak ditnggal oleh pembaca, misal : mengembangkan media online secara profesional seperti halnya Kompas dengan Kompas.com , Majalah Tempo dengan Tempo.co. Hal yang tidak diketahui, SKH Waspada dengan sikap tradisional dan tidak mau melakukan inovasi dan keluar dari kebiasaannya, dengan mengandalkan nama besarnya membuat SKH Waspada suatu ketika para loyalis pembaca meninggalkannya.
Atas dasar itulah peneliti tertarik dan merasa perlu dan penting menjadikan SKH Waspada sebagai bahan penelitian dalam penulisan skripsi ini dengan judul
“Peranan Berita-berita Politik di Surat Kabar Harian Waspada dalam meningkatkan Elektabilitas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Keadilan Sejahtera di Kota Medan”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, rumusan masalahnya adalah :
Bagaimana peranan berita-berita politik di Surat Kabar Harian Waspada dalam meningkatkan elektabilitas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Keadilan Sejahtera di Kota Medan ?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana peranan berita-berita politik pada media cetak Surat Kabar Harian Waspada terhadap PDI-Perjuangan.
2. Untuk mengetahui bagaimana peranan berita-berita politik pada media cetak Surat Kabar Harian Waspada terhadap PKS.
3. Untuk mengetahui kebijakan redaksional Surat Kabar Harian Waspada dalam memuat berita-berita politk.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah :
1. Secara Akademis, penelitian ini bisa digunakan sebagai bahan penelitian dan perkembangan Ilmu Komunikasi FISIP USU khususnya mengetahui bagaimana sebuah media cetak dapat berperan melalui berita-berita politik terhadap elektabilitas partai politik.
2. Secara Teoritis, penelitian ini bisa digunakan pada bidang Ilmu Komunikasi khususnya dalam Ilmu Komunikasi Politik serta Komunikasi Media Massa.
3. Secara Praktis, penelitian ini dapat memberikan pengetahuan bahwa pemilu sangat penting dilakukan karena negara Indonesia merupakan negara demokrasi. Serta memberikan hal positif bagi pemilih serta pendukung partai politik dalam memajukan Indonesia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Paradigma
Paradigma merupakan kekuatan dasar dalam mempertahankan keberadaan ilmu pengetahuan. Paradigma menjadi seperangkat cara pandang dalam menetapkan nilai-nilai dan tujuan penelitian serta memberikan arah tentang bagaimana pengetahuan didapatkan dan teori-teori apa saja yang digunakan dalam sebuah penelitian. Pada hakikatnya, paradigma memberikan batasan-batasan tertentu apa yang harus dikerjakan, dipilih dan diprioritaskan dalam sebuah penelitian. Aspek lainnya, paradigma memberikan rambu-rambu tentang apa yang harus dihindari dan tidak digunakan pada penelitian. Dikutip dari Bogdan dan Biklen (1982), bahwa paradigma merupakan kumpulan dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proporsi yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian (Guntur. 2006:110).
2.1.1 Paradigma Konstruktivisme
Paradigma Konstruktivisme dalam hal ini terkait dengan konstruktivisme sendiri terbagi menjadi tiga bagian yaitu : konstruktivisme radikal , realisme hipotesis, konstruktivisme biasa. Konstruktivisme radikal hanya berupa mengakui apa yang dibentuk oleh pikiran, sehingga tidak dapat direpresntasikan secara nyata. Pengetahuan merefleksi suatu realitas objektif, namun sebuah realitas yang dibentuk oleh pengalaman seseorang. Pada realisme hipotesis, pengetahuan merupakan hipotesis dari struktur realitas mendekati realitas lalu menuju pengetahuan yang hakiki. Sedangkan konstruktivisme biasa, pengetahuan individu sebagai suatu gambaran yang dibentuk dari realitas objek dalam diri sendiri.
Pada intinya adalah konstruktivisme dapat dilihat sebagai sebuah kerja kognitif individu untuk menafsirkan dunia realitas yang ada karena terjadi relasi sosial antara individu dengan lingkungannya. Sehingga, inilah konstruktivisme
yang dimaksud oleh Berger dan Luckman (1990) dan disebut sebagai konstruksi sosial (Bungin. 2011).
2.2. Kerangka Teoritis
Kerangka teori adalah proses seorang peneliti menentukan pola pikirnya untuk membentuk teori-teori yang berkaitan dengan penelitian. Setiap peneliti memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berpikir dalam memecahkan sebuah permasalahan. Memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan sebuah sudut masalah penelitian yang akan disoroti (Nawawi, 2005:39).
Untuk memberikan kejelasan pada penelitian ini, peneliti mengemukakan beberapa kerangka teori yang berkaitan dengan penelitian. Teori-teori yang digunakan adalah Komunikasi Massa, Media Massa, Komunikasi Politik.
2.2.1 Komunikasi Massa
Menurut Gebner dalam buku Komunikasi Massa karya Khomsarial Romli,
“Mass communication is the technologically and institutionally based production and distribution of the most broadly shared continuous flow of messages in industrial sociates”, komunikasi massa menghasilkan pesan dalam jangka waktu yang tetap misalnya, harian, mingguan, bulanan, tahunan. Proses menghasilkan pesan tidak bisa dilakukan perorangan melainkan adanya organisasi atau lembaga yang menaungi dan memiliki teknologi tertentu sehingga pesan yang akan disampaikan melalui komunikasi massa akan tersebar luas. (Romli, 2016:2).
Sedangkan menurut Meletzke, komunikasi massa adalah penyampaian secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah dengan menunjukkan komunikan sebagai pihak penerima pesan yang tersebar dimana saja. Freidson membedakan komunikasi massa menjadi dua bagian, yaitu: komunikasi ditujukan pada sejumlah populasi tidak hanya dari individunya saja namun berbagai kelompok juga ikut dilibatkan, adanya anggapan tersirat bahwa komunikasi massa memiliki alat-alat khusus untuk menyampaikan pesan agar pesan tersebut sampai pada berbagai khalayak (Rakhmat seperti yang dikutip dalam Komala, dalam Karlinah, 2000).
Ngalimun mendefenisikan komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain.
Jadi, dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia.
Ngalimun juga merujuk pada Ruben dan Steward (1998:16) tentang komunikasi sebagai Human communication is the process through which individuals-in relationships, group, organizations and societies-respond to and create messages to adopt to the environment and one another. Bahwa komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organsiasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan satu sama lain (Ngalimun, 2017:21).
Mengutip Laswell, komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan, yaitu ;
1. Komunikator (siapa yang mengatakan?) 2. Pesan (mengatakan apa?)
3. Media (melalui saluran/channel/media apa?) 4. Komunikan (kepada siapa?)
5. Efek (dengan dampak/efek apa?)
Dari paradigma Lasswell tersebut, Ngalimun mengatakan, secara sederhana proses komunikasi adalah pihak komunikator membentuk (encode) pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran tertentu kepada pihak penerima yang menimbulkan efek tertentu (Ngalimun, 2017: 22).
Pada intinya, kata Hari Wiryawan, dalam bukunya Dasar-Dasar Hukum Media, bahwa, komunikasi massa adalah salah satu bentuk komunikasi yang menggunakan media massa sebagai alat komunikasi (Wiryawan, 42; 2007) .
2.2.2 Fungsi Komunikasi Massa
Komunikasi massa sebagai sebuah ilmu pengetahuan memiliki fungsi dalam aktifitasnya di masyarakat.
Menurut Onong Uchjana Effendy (2007), fungsi komunikasi antara lain : 1. Fungsi Informasi
Fungsi informasi yaitu menyebarkan informasi melalui media massa pada pembaca, pendengar atau pemirsa. Kebutuhan informasi bagi khalayak juga menyangkut kepentingan dari pribadi khalayak yang haus akan informasi.
Informasi tersebut dalam hal ini : mengenai peristiwa yang terjadi, gagasan atau pikiran orang lain, apa yang dilakukan orang lain, apa yang dikatakan orang lain dan lain sebagainya.
2. Fungsi Pendidikan
Fungsi pendidikan yaitu memberikan dan menyajikan hal-hal yang memiliki sifat mendidik pada khalayak. Dengan memuat pengajaran mengandung nilai, etika serta aturan yang berlaku bagi pembaca atau pemirsa. Media yang menunjang fungsi pendidikan dapat melalui cerita, diskusi, drama dan artikel.
3. Fungsi Mempengaruhi
Fungsi mempengaruhi dalam surat kabar berperan penting dalam kehidupan masyarakat. Secara implisit fungsi mempengaruhi terdapat pada berita, secara eksplisit terdapat pada tajuk rencana dan artikel.
4. Fungsi Menghibur
Fungsi Menghibur yaitu tujuannya untuk mengurangi ketegangan pikiran dengan melihat berita-berita ringan atau melihat tayangan hiburan televisi seperti acara music, komedi, olah raga, game show sehingga pikiran khalayak segar kembali.
Fungsi-fungsi diatas tidak lepas dari independensi sebuah surat kabar yang bebas mengutarakan pendapat, bebas melakukan social control, menjawab dengan sikap berani dan bijaksana,. Sehingga surat kabar memiliki dua pilihan, mati terhormat karena memegang prinsip atau hidup secara tidak terhormat, disebabkan tidak mempunyai kepribadian.
Secara garis besar komunikasi sebagai proses sosial di masyarakat memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut :
1. Komunikasi menghubungkan antar berbagai komponen masyarakat.
Komponen di sini tidak hanya individu-individu masyarakat saja, melainkan juga berbagai bentuk lembaga sosial (pers, humus, universitas).
2. Komunikasi membangun peradaban (civilization) baru manusia.
3. Komunikasi adalah manifestasi kontrol sosial dalam masyarakat.
4. Tanpa bisa diingkari komunikasi berperan dalam sosialisasi nilai-nilai masyarakat.
5. Seseorang akan diketahui jati dirinya sebagai manusia karena menggunakan komunikasi. Itu juga berarti komunikasi menunjukkan identitas sosial sekarang. (Ngalimun, 2017:26)
2.2.3 Peran Komunikasi Massa
Qudratullah dalam jurnalnya Peran dan Fungsi Komunikasi Massa (2016), mengutip pendapat McQuail dalam Halik, mendefinisikan fungsi komunikasi massa sebagai berikut :
1. Jendela pengaman yang meluaskan pandangan serta memahami apa yang ada di sekitar kita, tanpa campur tangan orang lain dan ti dak memihak.
2. Juru bahas yang memberikan penjelasan dan makna terhadap sebuah peristiwa yang secara terpisah dan ketidakjelasan sebuah peristiwa.
3. Pembawa dan pengantar sebuah informasi dan pendapat.
4. Jaringan interaktif yang mengubungkan antara pengirim pesan dan penerima pesan dengan berbagai macam umpan balik (feedback).
5. Petunjuk jalan yang memberikan instruksi, bimbingan dan sebagai penunjuk arah.
6. Penyaring yang perlu diberikan perhatian khusus pada pengalaman dengan menyisihkan aspek lainnya.
7. Cermin yang bisa menampilkan perubahan dari masyarakat karena adanya penonjolan dari masyarakat itu sendiri seperti segi yang ingin mereka hakimi dan cela.
8. Tirai yang sebagai penutup demi menutupi kebenaran dari sebuah kenyataan.
Dalam proses sosial, Ngalimun menjelaskan, bahwa komunikasi menjadi sebuah cara dalam melakukan perubahan sosial. Komunikasi bukan hanya berperan menjembatani perbedaan dalam masyarakat tapi juga mampu merekatkan kembali sistem sosial masyarakat dalam usahanya melakukan perubahan. Namun demikian komunikasi juga tak akan lepas dari konteks sosialnya. Artinya, komunikasi akan diwarnai oleh sikap, prilaku, pola, norma, pranata masyarakatnya. Jadi, keduanya saling mempengaruhi dan saling melengkapi seperti halnya hubungan antarmanusia dengan masyarakat (Ngalimun,2017:25).
2.2.4 Elemen-elemen Komunikasi Massa
Di dalam Buku Ajar Komunikasi Politik karya Khoirul Muslimin (2019), secara sederhana elemen komunikasi dilakukan oleh seorang komunikator yang mengirimkan pesan kepada komunikan. Sedangkan elemen komunikasi massa yaitu komunikator biasa disebut sumber, dengan penerima pesan berjumlah banyak disebut audiens atau komunikan. Saluran-saluran komunikasi massa dalam menyampaikan pesan diantaranya adalah televisi, radio, surat kabar, film, internet dan lain-lain. Berikut beberapa elemen-elemen komunikasi massa :
a. Komunikator
Komunikasi massa dalam menyampaikan pesan ke khalayak perlu adanya saluran komunikasi seperti jaringan, stasiun lokal, direktur dan staf teknis. Sehingga komunikator dalam komunikasi massa merupakan sekumpulan individu yang menjadi satu dalam membangun lembaga media massa.
b. Isi
Isi media bisa dikelompokkan menjadi lima kategori, yakni : berita dan informasi, analisis dan interpretasi, pendidikan dan sosialisasi, hubungan masyarakat dan persuasif, iklan dan bentuk penjualan lain, hiburan. (Ray Eldon Hiebert dkk, 1985)
c. Audiens
Audiens dalam komunikasi massa sangat beragam, dari jutaan penonton televisi, ribuan pembaca buku, majalah, koran atau jurnal ilmiah. Masing-masing memiliki perbedaan dalam menangkap pesan seperti cara berpikir, menanggapi, serta pengalaman dan orientasi hidup.
d. Umpan Balik
Terdapat dua jenis umpan balik dalam komunikasi, umpan balik langsung (immediate feedback) dan umpan balik tidak langsung (delayed feedback). Umpan balik langsung terjadi jika komunikator dan komunikan saling bertemu dan berbincang, umpan balik tidak langsung dilakukan oleh pembaca yang memberikan surat pembaca atau kritikan pada pemberitaan sebuah media guna mendapat respon dari media tersebut.
e. Gangguan
Terdapat dua tipe gangguan dalam komunikasi massa, yaitu : 1. Gangguan Saluran
Media memiliki kesalahan dalam mencetak berita, kata yang hilang, paragraf yang dihilangkan dari surat kabar, gelombang suara dan gambar pada televisi tidak bisa dilihat dengan jelas.
2. Gangguan Semantik
Gangguan semantik atau gangguan bahasa sering diakibatkan oleh pengirim dan penerima pesan itu sendiri.
f. Gatekeeper
Gatekeeper merupakan individu-individu atau kelompok yang memantau arus informasi dalam sebuah saluran komunikasi massa.
Mereka adalah reporter, editor berita atau film yang dapat menentukan arus informasi yang disebarkan.
g. Pengatur
Pengatur memiliki peran mengatur kebijakan redaksional dalam komunikasi massa. Pengatur tersebut antara lain pengadilan, pemerintah, konsumen, organisasi professional, narasumber dan pengiklan.
h. Filter
Merupakan sebuah bingkai yang diciptakan oleh audiens dalam menangkap sebuah gambar yang diamatinya.
Surat kabar merupakan media massa tertua diantara media massa lainnya dengan memuat realitas yang telah dikonstruksikan. Menjadi salah satu contoh elemen komunikasi massa. Surat kabar memiliki wartawan atau reporter yang bertugas menyampaikan pesan (komunikasi) dengan masyarakat (massa) secara meluas dengan memiliki nilai berita (news value) serta menjadi umpan balik (feedback) bagi siapa saja yang membacanya lalu memunculkan pembingkaian sebuah berita yang diciptakan oleh pembaca.
2.3
Media MassaSurat kabar dalam pendistribusiannya dibantu oleh banyak pihak, manajer distribusi, loper koran, agen, distributor, Semuanya memiliki peran agar surat kabar yang telah dicetak sampai tepat waktu ke pembaca setianya. Sambil
langganannya. Perangkat pesan yang digunakan dalam menyebarluaskan adalah dokumen cetak, televisi, radio, DVD, kaset dan internet.
Secara umum media massa adalah sebuah wadah dalam mentransmisikan pesan-pesan yang akan disampaikan pada sebuah saluran seperti pers, penyiaran (broadcasting) dan film. Media dipergunakan oleh komunikator untuk menyampaikan sebuah pesan pada komunikan atau massa dari berbagai lapisan agar pesan yang disampaikan dapat diterima dan dipahami. Media massa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sarana dan saluran resmi dalam menyebarluaskan berita dan pesan pada masyarakat luas.
Menurut Cangara dalam Buku Ajar Komunikasi Politik karya Khoirul Muslimin, media merupakan alat yang digunakan komunikator untuk menyampaikan pesan pada khalayak, sedangkan pengertian media massa alat yang digunakan oleh komunikator pada khalayak melalui saluran atau alat-alat komunikasi seperti surat kabar, televisi, radio dan film.
Media massa hadir pada tahun 1920-an dengan menjangkau masyarakat luas. Media yang menjadi saluran bagi masyarakat adalah surat kabar, majalah, radio, televisi dan film. Zaman telah berkembang dan media massa pun juga mengalami perubahan dengan hadirnya internet atau new media. Menjadi sarana hiburan masyarakat dalam mengisi waktu senggangnya serta memberikan fakta kepada masyarakat (Muslimin:2019:58).
Memproduksi berita pada media massa harus secara berkala dan topik yang dibahas masih hangat diperbincangkan. Pesan yang telah dikelola oleh perusahaan disebarluaskannya sehingga menimbulkan kolektif dari masyarakat terhadap sumber-sumber informasi berita dari wartawan lokal seperti dan wartawan berita internasional seperti Reuters, AFP, Bloomberg dan lain-lain.
(Nadie:2018:36)
Jakob Utama dalam bukunya Pers Indonesia : Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Tulus (2004) mengatakan bahwa media massa menjadi bagian dari masyarakat, media massa menjadi bagian suatu negara, media massa menjadi sebuah sistem di masyarakat. Sejak saat itulah media merupakan hasil pengaruh
dari masyarakat. Sistem sosial-politik sebuah negara juga berpengaruh pada media itu sendiri. Karena, media mengambangkan peran dan fungsinya di negara tersebut sehingga terbentuklah kategori peranan yang secara relatif otonom dan independen dalam sistem sosial-politik yang demokratis. Sistem ini menempatkan peran media massa berdasarkan jenis dan isi kebebasan dalam hal ini berkaitan dengan kebebasan pers. Media massa berperan aktif dalam sistem sosial- politiknya sekalipun, Karena, media massa merupakan sebuah bentuk lembaga dan menjadi kesatuan organis pada setiap penerbitan pers, serta memiliki visi sebagai nilai dasar dan membentuk sebuah kerangka referensi.
Secara kesadaran intelektual media massa aktif melihat kejadian dan permasalahan di sekitar lalu dipilih, disusun menjadi berita. Namun, masyarakat tidak hanya melihat sebatas itu saja, mereka akan menunggu dan mencari tahu perkembangan berita yang sedang dibacanya. Sehingga, masyarakat memiliki rasa kepekaan terhadap peristiwa dan permasalahan.
Eksistensi media massa berhubungan terhadap praktek sistem politik dan pemerintahan di suatu negara. Jika praktek sistem politik yang dilakukan secara demokratis otomatis media massa mampu menjalankan tugas dan fungsi sebagaimana mestinya, Sebaliknya, jika praktek sistem politik yang dilakukan secara otoriter dan sentralistik maka media massa menjadi terfokus kepada pemerintahan tanpa melibatkan suara dan partisipasi masyarakat.
Kegiatan media massa tidak terlepas dari perpolitikan yang sedang terjadi di suatu negara. Fungsi dari media massa dapat dijadikan alat untuk menyokong kegiatan politik. Misal, propaganda, kampanye politik, iklan politik (Heryanto, 2019:374). Media massa dari masa ke masa mengalami perubahan, ini terlihat jelas ketika media massa memasuki era pemerintahan orde reformasi, fenomena ini memperlihatkan adanya perubahan demokratisasi di bidang media massa dan kebebasan berekspresi pasca lengsernya Soeharto, pers meraih kebebasannya.
Selain itu, munculnya berbagai pers baru di kota-kota besar dan berlomba menemukan kebebasannya untuk mengungkap realitas sosial. Kebebasan pers masih melekat pada pegiat media. Sehingga, segal sesuatu yang berbau politik
adanya campur tangan pemilik media yang berpengaruh besar terhadap konten yang disajikan (Heryanto, 2019:379).
Media massa memiliki peran yang cukup penting dalam penguatan civil society organization (CSO) di Indonesia. Kontribusi media yang dilakukan melalui pemberitaan, saluran komunikasi, advokasi publik dan sebagai peran social control yang mengindikasikan bahwa tanpa media CSO akan memiliki keterbatasan (Heryanto, 2019:391).
2.4 Surat Kabar
Pers dalam arti sempit adalah media massa cetak, seperti surat kabar, tabloid dan sebagainya. Pers dalam arti luas adalah media massa cetak elektronik seperti radio, televisi yang menyiarkan berita-berita jurnalistik. (Effendy:2007:90).
Bagian terbesar dari media massa cetak adalah hasil karya pers yang disebut dengan karya jurnalistik. Jurnalistik adalah salah satu ilmu yang digunakan untuk melakukan komunikasi melalui media massa dengan cara mengumpulkan, mengolah, dan menjadikan fakta menjadi berita. Karya jurnalistik inilah yang menjadi inti dari media cetak (Wiryawan, 2007 : 62).
Lahirnya media cetak tidak lepas dari penemuan mesin cetak oleh Johann Guttenberg pada tahun 1456. Media cetak dikenal sebagai press media yang menggunakan kertas sebagai media penulisannya. Berkat mesin cetak Guttenberg media cetak dapat bersinergi membentuk medium informasi, berita yang enak, mudah dibaca dan bermanfaat bagi masyarakat (Fikri,2018. Sejarah Media Transformasi, Pemanfaatan dan Tantangan. Hal. 84). Kehadiran percetakan setidaknya mengubah cara orang berkomunikasi dari bentuk lisan menjadi tulisan dengan medianya berupa surat kabar.
Surat kabar merupakan media massa tertua di dunia. Pada zaman Romawi Kuno terdapat Acta Diurna, berupa ukiran batu yang memuat berita-berita publik, catatan proses dan keputusan hukum. Berita-berita yang disampaikan melalui Acta Diurna adalah berita perang, pidato seorang tokoh di dalam sebuah forum, atau
kabar yang terjadi di pemerintah dengan menggunakan bahasa yang menarik.
(Wikipedia. 2013. “Acta Diurna”). Acta Diurna sebagai produk jurnalistik pertama pada zaman Romawi Kuno ketika kaisar Julius Caesar.
Surat kabar dapat mencapai masyarakat lalu dipergunakan kaum idealis dalam melakukan social control. Surat kabar tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga persuasif dengan cara membujuk dan mengajak khalayak untuk mengambil sikap tertentu (Effendy, 2007:95).
Sejarah jurnalistik di Indonesia pada abad 20 ditandai dengan hadirnya
“Medan Prijaji” yang dikelola dan dimiliki oleh Tirto Sudirjo yang pada awalnya berbentuk media cetak mingguan lalu berubah menjadi media cetak harian.
Setelah proklamasi kemerdekaan bermunculan koran-koran baru seperti di Yogyakarta Kedaulatan Rakyat, di Bandung Soeara Merdeka, di Surabaya Suara Rakyat dan di Semarang Warta Indonesia.
Lalu, adanya Pers Pancasila yang secara resmi disiarkan Dewan Pers, dengan maksud agar insan pers Indonesia lebih sadar akan tugas, fungsi, hak dan kewajibannya. Pencanangan Pers Pancasila sebagai bentuk pers yang bebas dan bertanggung jawab.
Selanjutnya, jurnalistik pembangunan adalah jurnalistik yang membangun masyarakat, pemerintah dan pers itu sendiri. Dilihat dari sudut jurnalistik, pembangunan adalah merupakan proses kelangsunganmencapai sasaran yang dituju, yakni tingkat kehidupan masyarakat lebih tinggi dan merata (Effendy, 2007:111 dan 121).
Lain halnya yang dikemukakan oleh Siebert dan Denis McQuail dalam perkembangan pers melalui empat teori pers milik Siebert dan dua teori pers milik Denis McQuail, yaitu : Teori Otoriter, Teori Liberal, Teori Pers, Teori Media Soviet, Teori Media Pembangunan dan Teori Tanggung Jawab Sosial (Wiryawan.
2007).
a. Teori Otoriter
Pers berkembang pada zaman pra-demokrasi dengan negara sebagai pemegang kekuasaan. Pers melayani negara, kerajaan dan kaum bangsawan. Sistem ini diberlakukannya lembaga perizinan, sensor preventif dan negara memiliki wewenang untuk mencabut izin pers ketika tidak mengikuti kebijakan negara.
b. Teori Liberal
Diartikan sebagai pers bebas karena hasil perjuangan individualisme melawan kekuasaan otoriter. Kemenangan ini melahirkan prinsip liberal yaitu adanya keyakinan akan keunggulan individu.
c. Teori Pers
Teori ini terdapat dalam buku judul Four Theories of the Press dimana terdapat teori otoriter, teori liberal, teori tanggung jawab sosial dan teori media soviet. Teori pers ini memiliki sikap dalam melayani kepentingan dan tunduk pada sistem politik.
d. Teori Media Soviet
Teori ini menjelaskan bahwa kelas pekerja memiliki kekuasaan, semua media tunduk terhadap kendali dari kelas pekerja. Pers tidak boleh menimbulkan ketegangan dan debat umum.
e. Teori Media Pembangunan
Denis McQuail menjelaskan bahwa media pembangunan memiliki prinsip menerima dan melaksanakan tugasnya dan ditetapkan secara nasional, kebebasan media disesuaikan dengan prioritas ekonomi dan pembangunan masyarakat, isi dari sebuah media ditujukan pada kebudayaan dan bahasa nasional, berita dan informasi negara berkembang lainnya serta berkaitan dengan geografis, kebudayaan atau politik, wartawan dan karyawan media memiliki tangggung jawab terhadap informasi yang didapatkan dan disebarluaskan, negara juga memiliki kepentingan dalam pembangunan seperti membatasi, pengoperasian media, sarana penyensoran, subsidi dan pengendalian langsung terhadap media.
f. Teori Tanggung Jawab Sosial
Media memiliki rasa peduli terhadap masyarakat dengan menggabungkan unsur kemandirian dan kewajiban kepada masyarakat. Media menjadi fungsi esensial bagi masyarakat, media menyediakan informasi dan memberi tempat bagi keragaman informasi, adanya pedoman dalam pengendalian media. Kepemilikan media memiliki tugas dalam pengelolaan, bukan untuk kepentingan pribadi.
Awal kemunculan media cetak sebagai alat pemerintah dalam mempengaruhi masyarakat. Buku Komunikasi Massa Suatu Pengantar karangan Ardianto, dkk. (2012) mengatakan media cetak surat kabar memiliki fungsi primer dan fungsi sekunder.
Fungsi Primer :
a. To inform, informasi objektif yang disampaikan kepada pembaca mengenai kejadian atau peristiwa di dalam suatu komunitas, negara dan dunia.
b. To comment, memberikan komentar terhadap peristiwa berkembang melalui berita yang telah terbit di surat kabar.
c. To provide, mengenai keperluan informasi bagi pembaca ketika membutuhkan barang dan jasa dengan memasangkan iklan di surat kabar.
Fungsi Sekunder :
a. Kampanye kemasyarakatan dibutuhkan untuk menginformasikan bantuan dalam kondisi tertentu.
b. Sebagai hiburan pembaca ketika mengisi waktu santainya seperti membaca cerita-cerita kartun.
c. Melayani pembaca sebagai konselor yang ramah, menjadi agen informasi dan memperjuangkan hak.
Ciri-ciri dari surat kabar sebagai berikut (Effendy:2007:91) : a. Publisitas
Surat kabar bersifat umum sehingga penyampaian informasi ditujukan kepada masyarakat dengan tujuan melihat isi berita dari sebuah surat kabar berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Berdasarkan isi dari surat kabar, halaman yang banyak dimiliki surat kabar karena menyangkut kepentingan dari masyarakat.
Publisitas memiliki ciri-ciri surat kabar tidak bisa diperjualbelikan kepada sekelompok atau golongan orang tertentu, karena itu bukan merupakan surat kabar. Organisasi atau lembaga mempunyai penerbitan surat kabar dan dibagikan ke anggota kelompoknya dengan cara membeli eceran dan dalam hal ini itu tidak bisa disebut surat kabar.
b. Periodisitas
Periodisitas atau keteraturan dalam penerbitan surat kabar sangat diperlukan. Penerbitan bisa dilakukan satu kali sehari, dua kali sehari, satu atau dua kali seminggu. Periodisitas menandakan apakah surat kabar harian, mingguan, bulanan dan tahunan lalu disebarkan ke masyarakat.
c. Universalitas
Universalitas dalam ciri-ciri surat kabar adalah isinya sangat luas, aneka ragam berita di dunia terdapat di surat kabar. Meskipun ada majalah mengenai kedokteran, arsitektur atau pertanian, tidak termasuk dalam surat kabar. Berbeda dengan periodisitas yang memiliki keteraturan dalam penerbitan surat kabar dengan khalayak tertentu, universalitas dalam surat kabar berisi aspek kehidupan.
d. Aktualitas
Aktualitas yang berarti terkini dan keadaan sebenarnya. Menyampaikan sebuah berita atau laporan harus benar isinya dan menyangkut peristiwa yang terjadi kini. Aktualitas dalam surat kabar memiliki kecepatan laporan, tanpa menyampingkan pentingnya kebenaran berita meskipun pada kenyataannya, isi
surat kabar beraneka ragam dengan dimuatnya teka-teki silang, cerita pendek, cerita bersambung, artikel, gambar dan lain-lain. Semuanya demi menunjang minat pembaca untuk membeli sebuah surat kabar.
Surat kabar sebagai media massa tertua memikirkan bagaimana caranya tetap bertahan dengan strategi yang dimiliki masing-masing perusahaan media cetak di era sekarang. Mempertahankan konten (isi) berita, kualitas berita menjadi faktor utama dalam menarik minat pembaca, dengan memperhatikan dua faktor yaitu faktor verbal menekankan pada kemampuan memilih dan menyusun kata serta merangkai kalimat secara efektif dan komunikatif, visual diperlukan dalam menata, menempatkan, mendesain tata letak atau menyangkut segi perwajahan (Sumadiria.2014:4).
Di tengah persaingan media cetak dengan media online serta semakin bergesernya pembaca media cetak ke media online, salah satu penyebabnya adalah kemajuan teknologi didalamnya, seperti : media online, e-paper, e-books, radio streaming (Resmadi, Idhar dkk.2014).
Kondisi Pers Indonesia saat ini adalah media cetak harus memperbaharui dan menyegarkan diri, melakukan adaptasi. Surat kabar dan majalah harus memperoleh perlakuan sama, jika pers ingin bertahan. Media cetak terutama surat kabar harus lebih mendekatkan diri pada ke khalayak pembacanya juga memperkuat orientasi pasar. Selain itu, membangun jaringan pemasaran dengan menciptakan visual dari surat kabar tersebut. Wartawan atau jurnalis pers harus memperbaharui wawasan dan keterampilannya (Oetama, Jakob. 2004, Pers Indonesia Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Tulus. Penerbit Buku Kompas).
2.5 Pengertian Berita
Berita adalah informasi hangat yang disajikan kepada khalayak tentang apa yang terjadi, menarik perhatian serta memiliki peristiwa hangat dan dapat mempengaruhi kehidupan manusia (Tahrun,dkk, 2019:67). Dalam bahasa
Sansekerta, berita adalah Vrit dalam bahasa inggris yaitu Write yang berarti ada atau terjadi (Djuroto, 2004:46).
Berita merupakan salah satu bentuk komunikasi, dalam hal ini antara media massa dan masyarakat. Media menyampaikan berita pada masyarakat adalah media cetak seperti surat kabar, majalah, serta media elektronik seperti radio dan televisi. Kegiatan jurnalistik menghasilkan berita yang merupakan suatu bentuk pengulangan atau rekonstruksi suatu kejadian yang diwujudkan dalam bentuk laporan tertulis dan foto. Pada dasarnya, bahan-bahan yang dikumpulkan oleh wartawan atau jurnalis merupakan jawaban-jawaban dari pertanyaan berikut : apa yang terjadi, siapa saja yang terlibat dalam suatu peristiwa, mengapa kejadian itu terjadi, di mana peristiwa itu terjadi, kapan peristiwa itu terjadi, dan bagaimana kejadiannya. Dalam kaidah jurnalistik rangkaian pertanyaan ini dikenal dengan singkatan 5W+1H (what, who, why, where, when dan how) (Harahap, 2000 : 4-5).
Fajar Junaedi dalam bukunya Jurnalisme Penyiaran dan Reportase Televisi (2013) mengatakan berita merupakan kehidupan dari manusia dengan menghadirkan ribuan berita untuk dibaca melalui media cetak, didengar dan dilihat melalui media siar radio dan televisi. Perkembangan teknologi komunikasi berbasis internet juga turut mempercepat penyebaran berita.
Dengan menampilkan berita yang terdiri dari berbagai jenis, seperti : berita politik, ekonomi, sosial, budaya, hokum, olah raga dan lain-lain. Tingkat kejadian berita itu dihasilkan seperti tingkat lokal hingga ke tingkat nasional. Berkat kemajuan teknologi, masyarakat bisa mengakses berita internasional secara cepat.
Berita dikirimkan oleh wartawan atau reporter kepada redaktur, lalu redaktur akan memilih berita yang dikirim oleh wartawan atau reporter. (Junaedi, 2013:6)
Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, tidak disebutkan secara jelas atau eksplisit apa itu berita media cetak, selain tentang pers. Dalam Pasal 1 angka 1 yang berbunyi, yaitu :
“Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan dan mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk
tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lsinnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.”
Nilai-nilai berita yang harus diperhatikan oleh seorang wartawan atau reporter harus memiliki beberapa unsur berikut (Tahrun, dkk, 2019:68) :
a. Timeliness
Berita terkini, terbaru, yang sedang berlangsung dan terdapat kelanjutan dari berita hari ini untuk selanjutnya.
b. Significance
Kejadian yang kemungkinan dapat mempengaruhi masyarakat atau kejadian yang memiliki akibat terhadap kehidupan masyarkat.
c. Magnitude
Berkaitan pada peristiwa besar dan dapat menarik perhatian sekaligus menggugah rasa ingin tahu pembaca.
Dalam berita terdapat jenis-jenis berita yang dapat digolongkan menjadi hard news dan soft news (Tahrun, dkk, 2019:69) :
a. Hard News
Hard News merupakan jenis berita yang terikat oleh waktu. Berita jenis ini terikat pada aktualitas waktu dalam penyampaian informasi berita. Jika berita terlambat disebarluaskan berakibat berita tersebut basi dan tidak dapat ditayangkan, diterbitkan kepada khalayak. Contoh hard news adalah berita pemilihan umum, rapat kabinet, bencana alam dan lain-lain.
b. Soft News
Soft News merupakan jenis berita yang tidak terikat oleh waktu. Berita ini bisa dibaca, didengar dan dilihat kapan saja. Seperti berita advertorial yang merupakan bentuk periklanan lalu disajikan dengan gaya bahasa jurnalistik.
Selain itu, dalam karya jurnalistik menurut (Iskandar Muda, Deddy, 2003, Jurnalistik Televisi, Menjadi Reporter Profesional, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung : hal.40) menyebutkan bahwa berita karya jurnalistik pada umumnya dapat dikategorikan menjadi tiga jenis berita, yaitu :
1. Hard News (berita berat) 2. Soft News (berita ringan)
3. Investigative Reports (laporan penyelidikan)
Perbedaan dari ketiga jenis berita tersebut diatas adalah berdasarkan jenis peristiwa dan cara-cara penggalian data beritanya.
Dalam menyampaikan sebuah informasi, berita juga diharapkan bermakna persuasif untuk menjelaskan objek berita tersebut dari berbagai aspek. Berita bisa menjadi alat untuk mengubah sikap dan perilaku dan bila berhasil berita dapat berfungsi sebagai agent of change. Meskipun lambing-lambang (bahasa dan terminologi) yang digunakan dalam menyampaikan berita sudah dipahami, namun secara prakteknya makna suatu lambang tergantung pada wawasan pembacanya.
Maka diperlukan field of experience, yaitu ruang lingkup pengalaman, dan field of reference, yaitu ruang lingkup referensi. Wartawan memakai field of experience dan field of reference dalam menulis berita, sedangkan pembaca memakainya saat membaca berita (Harahap, 2000: 9).
2.6 Komunikasi Politik
Komunikasi terjadi ketika adanya kesamaan makna pada suatu pesan yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan sehingga membentuk sebuah pesan baik berupa pesan verbal atau pesan nonverbal. Komunikasi, merupakan bagian penting dari semua sistem sosial di dalam masyarakat manusia, termasuk komunikasi dalam politik. Pada komunikasi politik terdapat fakta-fakta sosial yang dihubungkan dengan peristiwa dan waktu dimana adanya sebuah momentum. Momentum adalah sebuah konstruksi sosial yang terjadi secara
kebetulan lalu direkayasa menjadi sebuah momentum untuk menciptakan kondisi yang dicitrakan untuk memberikan kesan kepada masyarakat khalayak atau lawan-lawan politik. Komunikasi politik menyediakan ruang bagi elite politik untuk berkomunikasi dan saling menjajaki peluang-peluang dan membincangkan masalah-masalah penting yang dihadapi sehingga memunculkan kesepakatan dalam melakukan hal-hal strategis di waktu sekarang dan akan datang (Bungin, 2018:174).
Menurut Robert A. Dahl dalam buku Pengantar Ilmu Politik karya Yusa Djuyandi mengatakan ilmu politik adalah suatu studi dari politik. Merupakan studi sistematis tentang studi politik dengan menerapkan sebuah prinsip dari makna yang luas dan lebih umum.
Harold Lasswell mengemukakan terdapat lima formula dalam ilmu komunikasi, yakni : Who, Says what, In which channel, To whom, Whith what effect. Formula sederhana ini sangat membantu dan mempemudah pemahaman terhadap fenomena komunikasi terutama komunikasi politik. Dari apa yang Lasswell kemukakan bahwa proses komunikasi berjalan searah atau linear.
Setelah mengetahui aspek komunikasi, selanjutnya terdapat aspek politik yang dikemukakan oleh Harold Lasswel (1958), mengartikan politik sebagai
“siapa memperoleh apa, bilamana dan bagaimana”.
Ilmuwan politik Mark Roelofs menyatakan, “politic is talk” atau kegiatan politik adalah berbicara, tetapi politik tidak hanya seputar pembicaraan, juga tidak semua pembicaraan menyangkut politik, tetapi pada hakikatnya pengalaman politik dan kondisi dasarnya adalah aktivitas komunikasi antarmanusia (Subiakto,2012: 14-17).
Seorang pakar politik, Maswadi Rauf mengatakan komunikasi politik adalah objek kajian ilmu politik karena adanya pesan-pesan yang diungkapkan dalam berkomunikasi yang berkaitan dengan kekuasaan politik negara, pemerintahan, dan aktivitas komunikator sebagai pelaku kegiatan politik (Harun, 2006).
Dalam sebuah demokrasi, komunikasi politik memiliki fungsi untuk mengolah keputusan-keputusan politik dari berbagai kepentingan sehinnga menjadi sebuah kebijakan publik. Seperti pada perdebatan kepentingan pihak elite dalam mengambil keputusan dan menghasilkan kebijakan publik. Kebijakan publik nantinya akan diserahkan kepada infrastruktur politik, yaitu massa.
Indonesia menganut sistem politik terbuka, sehingga pihak manapun berkompetisi untuk mempengaruhi. Komunikasi politik terlihat ketika kontestasi pemilihan umum legislatif, pemilihan presidan dan wakil presiden dan pemilihan kepada daerah dengan kampanye yang telah dimiliki masing-masing elite politik.
Sehingga dapat mempengaruhi publik serta media massa sebagai alat kampanye politik (Sulaiman. 2013:120).
Secara sederhananya proses kumunikasi dalam politik akan berjalan, dan fungsi komunikasi politik sangatlah penting seperti pada sosialisasi dan rekrutmen politik artikulasi kepentingan, agregasi kepentingan, membuat peraturan, dan membuat sebuah keputusan melalui proses komunikasi.
Tujuan dari komunikasi politik sendiri adalah pesan politik, seperti yang dikatakan oleh Meadow menekankan pada konsekuensi sistem politik “Any exchange of symbols or message that to a significant extent have been shaped by, or have consequences for the functioning of political system.” (Subiakto,2012).
Sehingga konsekuensi inilah yang membedakan komunikasi politik dan komunikasi sosial. Suatu komunikasi memuat pesan yang tidak mengandung pesan politik, namun ketika pesan tersebut berisi konsekuensi terhadap fungsi sistem politik maka pesan tersebut merupakan pesan politik.
Seiring perkembangan dan kemajuan teknologi, informasi politik bisa didapat dengan mudah dan pengemasan berita lebih menarik serta kompleks.
Itulah yang menjadi tantangan bagi surat kabar dalam memuat berita-berita politik terkini dan menjadikan surat kabar sebagai pers yang independen, berperan sebagai sumber informasi tentang kegiatan negara, dan sebagai forum untuk pembentukan dan pengungkapan pendapat publik dan menjadi aspek penting dalam mewujudkan sistem pemerintahan demokratik yang representatif (McNair.
2016).
2.7 Peranan Media Cetak Terhadap Elektabilitas Partai Politik
Media kini memiliki peranan besar terhadap membangun pemahaman masyarakat hingga perilaku politiknya. Dunia politik juga tidak lepas dari sorotan media, karena segala sesuatu yang berkaitan secara nyata atau simbolik, melalui institusi politik ke masyarakat luas. Media massa sebagai instrumen juga menjadi wadah untuk menyampaikan sebuah ide, pesan dan program kerja politik sehingga memakan biaya relatif murah (Firmanzah, 2007).
Salah satu faktor yang menjadi latar belakang publikasi media adalah kebebasan berekspresi dan berita yang ditampilkan cenderung independen.
Sehingga, munculnya perubahan perilaku politik masyarakat. Elemen penting dalam demokrasi adalah kebebasan pers yang membangun kesadaran politik masyarakat, membangun pemahaman politik serta mempengaruhi perilaku politik.
Jakob Oetama (2004) mengatakan penamaan “democracy in the making”
memberikan tempat bagi media massa terhadap peranan yang dilakukannya dalam membangun demokrasi. Pers ikut berperan didalamnya dan memiliki tugas-tugas pembangunan bangsa, pembangunan kebudayaan politik, infrastruktur politik, mensosialisasikan nilai-nilai dasar masyarakat untuk disepakati menjadi dasar dan kerangka referensi eksistensi nasional bangsa (Oetama. 2004).
Media massa menjadi sumber informasi selain sebagai saluran informasi bagi para politisi. Media menampilkan peristiwa-peristiwa politik dan mempengaruhi persepsi para aktor politik dan masyarakat. Sebagai fungsi kontrol sosial, secara meyakinkan media massa dapat memberikan partisipasi publik dan menyangkut kepentingan publik (Hamad. 2004).
Dahulu, pada zaman Orde Baru sebelum memasuki era Reformasi, pers diatur oleh Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) yang dikeluarkan oleh Menteri Penerangan. Melalui Peraturan Menteri Penerangan (Permenpen) No.01 Tahun 1984 oleh kalangan pers hal itu dinilai sebagai bentuk ancaman kebebasan pers. Ketika media cetak ingin melakukan penerbitan harus disertai SIUPP, namun jika tidak memiliki ma\ka media cetak tersebut dilarang untuk terbit.
kasus tersebut, ketika era reformasi melalui Menteri Penerangan Yunus Yosfiah mengumumkan pencabutan Permenpen No.01 dan mempersilakan penerbitan- penerbitan itu untuk mengajukan SIUPP baru agar bisa terbit kembali (Oetama, 2001:310).
Pers Indonesia menjadi sebuah refleksi dari kecenderungan masyarakat yang memiliki sifat kurang sportif, kurang berjiwa besar dan kurang solidaritas dan lain-lain. Pers berusaha agar mampu mengimplementasi bentuk dari kebebasan dan reformasi dengan semangat dan jiwa reformasi. Lalu, membentuk sendi-sendi yang menjadikan eksistensi masyarakat, bangsa dan negara sehingga dapat memberikan makna nyata bagi gerakan reformasi (Oetama, 2001:312).
Negara maju seperti Amerika Serikat, media massa atau pers disebut sebagai pilar keempat di dalam suatu pemerintahan (the fourth estate), setelah lembaga eksekutif, legislative dan yudikatif. Realitas menunjukkan bahwa di AS media massa memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan politik (Marijan, 2015:281).
Marijan menjelaskan, bahwa informasi yang diberikan oleh pers kepada pembaca, pemirsa, dan pendengar tidak hanya berisikan sesuatu yang masuk dan berlalu begitu saja. Informasi itu bisa berpengaruh terhadap perilaku politik seseorang, termasuk kepada pembuat kebijakan-kebijakan publik. Secara langsung , media massa bisa memberikan kontrol atau penekanan-penekanan kepada pemerintah berkaitan dengan isu-isu tertentu yang diberitakannya.
Sejarah politik Amerika juga mencatat, kata Marijan, jatuh bangunnya suatu pemerintahan tidak lepas dari peran media. Di negara-negara demokratis lainnya, media massa juga memiliki peran yang cukup penting di dalam kehidupan politik, meskipun tidak secara eksplisit disimbolkan sebagai pilar keempat di dalam pemerintahan. Bahkan Marijan berpandangan, posisi dan peran media massa begitu penting keberadaannya untuk mengaitkan apakah negara tersebut demokratis atau tidak demokratis. Negara yang menjadikan media massa sebagai salah satu instrument bagi adanya kebebasan berekspresi dan berpendapat,