BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Dasar Teori
Data logger yang didapatkan dari sensor-sensor pendukung stasiun cuaca diolah oleh badan terkait kemudian dianalisa sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat luas untuk berbagai kepentingan. Pada penulisan ini, akan dibahas teori yang berhubungan langsung dengan instrumentasi dalam perancangan ”Sistem Monitoring Suhu dan Kecepatan Angin” yang meliputi perangkat keras dan perangkat lunak, antara lain yaitu teori Mikrokontroller AVR ATmega8535, sensor Infrared Fotodioda, sensor SHT-11, LCD, komunikasi serial RS232, bahasa program yang digunakan.
2.2 Anemometer
Anemometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur arah dan kecepatan angin. Umumnya pengamatan angin permukaan (horizontal wind speed) adalah rata-rata pengamatan selama periode 10 s/d 60 menit sesuai dengan kebutuhan Forecast. Statistik klimatologi biasanya memerlukan data rata-rata pengamatan untuk setiap jam, rata-rata periode siang hari dan periode malam hari. Untuk laporan sypnotic pengamatan dilakukan dalam rata-rata 10 menit.
harus ditempatkan di daerah terbuka. Alat ini juga dapat digunakan untuk mengukur kecepatan angin dalam satuan m/s, km/jam, mil/jam, knots. Hubungan antara masing-masing satuan ini adalah:
1. 6.28 m/s = 22.08 km/jam =2.25 mil/jam. 2. 1 m/s = 3.6 km/jam = 2 knots.
3. 1 km/jam = 10.36 m/s = 0.62 mil/jam. 4. 1 mil/jam = 0.447 m/s = 1.6 km/jam. 5. 1 knots = 0.5 m/s = 1.8 km/jam.
2.2.1 Prinsip Kerja Anemometer
Angin mengadakan tekanan yang kuat pada bagian tekanan yang kuat pada baling-baling yang berbentuk cekung (mangkuk). Bagian yang cekung akan berputar ke satu arah. Poros yang berputar dihubungkan dengan dynamo kecil. Bila baling-baling berputar maka terjadi arus listrik yang besarnya sebanding dengan kecepatan putaran. Besarnya arus listrik dihubungkan dengan galvanometer yang telah ditera dengan satuan kecepatan dalam knots, m/s, km/h dan beaufort.
Berikut contoh perhitungan sederhana kecepatan angin yang diukur dengan anemometer tiga mangkok. Panjang lingkaran susunan mangkok-mangkok adalah 3 m dan susunan itu berputar pada suatu waktu berputar 20 kali dalam waktu 10 detik, maka kecepatan angin dapat dihitung [(20x3)/10] = 6 m/s, untuk memudahkan menghitung putaran dari pada piringan anemometer maka salah satu mangkok di beri warna lain. Perhitungan juga dapat disederhanakan dengan persamaan sebagai berikut:
Besar Kecepatan = u SelangWakt asan PanjangL int w = banyak putaran r = jari-jari lingkaran.
2.3 Sensor Infrared Fotodioda
Pengertian : piranti semikonduktor dengan struktur p-n atau p-i-n untuk mendeteksi cahaya.
Mode operasi
Fotodioda dapat dioperasikan dalam 2 mode yang berbeda:
1. Mode fotovoltaik: seperti solar sel, penyerapan pada fotodioda menghasilkan tegangan yang dapat diukur. Bagaimanapun, tegangan yang dihasilkan dari tenaga cahaya ini sedikit tidak linier, dan range perubahannya sangat kecil.
2. mode fotokonduktivitas : disini, fotodioda diaplikasikan sebagai tegangan revers (tegangan balik) dari sebuah dioda (yaitu tegangan pada arah tersebut pada dioda tidak akan menhantarkan tanpa terkena cahaya) dan pengukuran menghasilkan arus foto. ( hal ini juga bagus untuk mengaplikasikan tegangan mendekati nol). Ketergantungan arus foto pada kekuatan cahaya dapat sangat linier .
Karakteristik bahan fotodioda:
1. silikon (Si) : arus lemah saat gelap, kecepatan tinggi, sensitivitas yang bagus antara 400 nm sampai 1000 nm ( terbaik antara 800 sampai 900 nm).
2. Germanium (Ge): arus tinggi saat gelap, kecepatan lambat, sensitivitas baik antara 600 nm sampai 1800 nm (terbaik 1400 sampai 1500 nm).
3. Indium Gallium Arsenida (InGaAs): mahal, arus kecil saat gelap, kecepatan tinggi sensitivitas baik pada jarak 800 sampai 1700nm (terbaik antara 1300 sampai 1600nm).
Gambar fotodioda ditunjukkan pada gambar 2.1 berikut:
2.4 DT - Sense SHT11 Module
SHT11 adalah sebuah single chip sensor suhu dan kelembaban relative dengan multi modul sensor yang outputnya telah dikalibrasi secara digital. Dibagian dalamnya terdapat kapasitas polimer sebagai eleman untuk sensor kelembaban relative dan sebuah pita regangan yang digunakan sebagai sensor temperatur. Output kedua sensor digabungkan dan dihubungkan pada ADC 14 bit dan sebuah interface serial pada satu chip yang sama. Sensor ini menghasilkan sinyal keluaran yang baik dengan waktu respon yang cepat. SHT11 ini dikalibrasi pada ruangan dengan kelembaban yang teliti menggunakan hygrometer sebagai referensinya. Koefisien kalibrasinya telah diperogram kedalam OTP memory. Koefisien tersebut akan digunakan untuk mengkalibrasi keluaran dari sensor selama proses pengukuran.
Spesifikasi SHT11 Module
Spesifikasi dari SHT11 adalah sebagai berikut:
1. Berbasis sensor suhu dan kelembaban relatif Sensirion SHT11.
2. Mengukur suhu dari -40°C hingga +123,8°C, atau dari -40°F hingga +254,9°F dan kelembaban relative dari 0% RH hingga 1%RH.
3. Memiliki ketetapan (akurasi) pengukuran suhu hingga ±0,5°C pada suhu 25°C dan ketetapan (akurasi) pengukuran kelembaban relatif hingga ±3,5%RH. 4. Jalur antarmuka yang telah dilengkapi dengan rangkaian pencegah kondisi
sensor lock-up.
5. Membutuhkan catu daya ±5V DC dengan konsumsi daya rendah 30µW. 6. Memiliki antarmuka serial synchronous 2-wire, bukan 12C.
Bentuk fisik dari SHT11 dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 2.2 Bentuk fisik SHT11
2.4.1 Prinsip Kerja Sensor SHT11
Sistem sensor yang digunakan untuk mengukur suhu dan kelembaban adalah SHT11 dengan sumber tegangan 5V dan komunikasi bidirectional 2-wire. Sistem sensor ini mempunyai 1 jalur data yang digunakan untuk perintah pengalamatan dan pembacaan data. Pengambilan data untuk masing-masing pengukuran dilakukan dengan memberikan perintah pengalamatan oleh mikrokontroller. Kaki serial data yang terhubung dengan mikrokontroller memberikan perintah pengelamatan pada PIN SHT11 ”00000101” untuk mengukur kelembaban relatif dan ”00000011” untuk pengukuran temperatur. SHT11 memberikan keluaran data kelembaban dan temperatur pada pin Data secara bergantian sesuai dengan clock yang diberikan mikrokontroller agar sensor dapat bekerja. Sensor SHT11 memiliki ADC (Analog to Digital Converter) di dalamnya sehingga keluaran data SHT11 sudah terkonversi dalam bentuk data digital dan tidak memerlukan ADC eksternal dalam pengolahan data pada mikrokontroller.
Skema pengambilan data SHT11 dapat dilihat pada gambar 2.3 berikut ini:
Tabel 2.1 Konfigurasi pin SHT11
Pin Name Comment
1 GND Ground
2 DATA Serial data bidirectional 3 SCK Serial clock input 4 VDD Supply 2.4-5.5V
2.4.2 Konversi Keluaran Sensor
SHT11 adalah sebuah single chip multisensor yang berfungsi sebagai sensor kelembaban dan temperature yang terkalibrasi sempurna. Sensor ini bekerja berdasarkan prinsip kelembaban kapasitif dan semikonduktor.
2.4.2.1 Kelembaban Relative
Adanya kompensasi ketidaklinieran nilai data keluaran terhadap kelembaban dan untuk mendapatkan ketelitian yang akurat, maka mengkonversikan data keluaran yang merupakan data digital disederhanakan dengan persamaan sebagai berikut:
RHlinear
= C
1+ C
2x SO
RH+ C
3x SO
RH 2
Dimana niai C1, C2 dan C3 pada tabel berikut.
Tabel 2.2 Konstanta Konversi Pengukuran Kelembaban
SORH C1 C2 C3
Dari rumus persamaan konversi diatas, dapat diketahui bahwa hubungan RH dan Temperatur tidak linearitas dan kelembaban sensor tidak dipengaruhi oleh tegangan.nilai yang terbaca sensor akan dikonversikan kedalam tegangan.
2.4.2.2 Temperatur Relative
Berdasarkan PTAT (Proportional To Absolute Temperature), nilai sensor terhadap temperatur sudah sangat linear. Untuk mengkonversi nilai suhu terhadap nilai keluaran sensor mengikuti persamaan:
Temperatur = d
1+ d
2x SO
TDimana :
d1 dan d2 : konstanta nilai konversi temperatur
SOT : data keluaran digital sensor
Nilai d1 , d2 dipengaruhi tegangan power sensor yang digunakan dan jumlah bit yang
dikeluarkan oleh sensor. Nilai d1 , d2 dapat dilihat pada tabel 2.3 berikut.
Tabel 2.3 Konstanta Konversi Pengukuran Temperatur
2.5 Mikrokontroller AVR ATmega8535
ATmega8535 adalah mikrokontroler CMOS 8-bit daya-rendah berbasis arsitektur RISC (Reduce Instruction Set Computing) yang ditingkatkan. Instruksi dikemas dalam kode 16 bit dan kebanyakan instruksi dikerjakan pada satu siklus clock, Struktur I/O yang baik dengan sedikit komponen tambahan diluar. Fasilitas internal yang terdapat pada mikrokontroller ini adalah oscilators, timers, UART, SPI, pull-up resistors, pulse width modulation (PWM), ADC, analog comparator dan watch-dog timers. AVR merupakan singkatan dari Alf (Egil Bogen) and Vegard (Wollan)’s Risc processor.
2.5.1 Konfigurasi PIN ATmega8535
IC mikrokontroller dikemas (packaging) dalam bentuk yang berbeda. Namun pada dasarnya fungsi kaki yang ada pada IC memiliki persamaan. Pin-pin pada ATmega8535 dengan kemasan 40-pin DIP (dual in-line package) ditunjukkan oleh gambar 2.4.
Berikut penjelasan umum fungsi susunan kaki ATmega8535:
1. VCC merupakan Pin masukan positif catu daya. Setiap peralatan elektronika digital membutuhkan sumber catu daya yang umumnya sebesar 5V, itulah sebabnya di PCB kit mikrokontroller selalu ada IC regulator 7805.
2. GND merupakan Pin Ground.
3. Port A (PA.0…PA.7) merupakan Pin I/O dua arah dan Pin masukan ADC. Setiap Pinnya menyediakan internal pull up resistor yang dapat diatur per bit. Outputnya dapat menyalakan LED secara langsung.
4. Port B (PB.0…PB.7) merupakan Pin I/O dua arah dan Pin fungsi khusus yaitu, Timer/Counter, Komperator Analog dan SPI.
Tabel 2.4 Fungsi Tiap Pin pada PortB
Port Pin Fungsi Alternatif
P.B0 T0 (Timer/Counter0 External Counter Input) XCK (Usart External Clock Input/Output)
P.B1 T1 (Timer/Counter1 External Counter Input) P.B2 AIN0(Analog Comparator Positive Input)
INT2 (External Interrupt2 Input)
P.B3 AIN1(Analog Comparator Negative input)
OC0(Timer/Counter0 Output Compare Match, Output) P.B4 SS (SPI Slave Selec Input)
P.B5 MOSI (SPI Bus Master Output/Slave Input) P.B6 MISO (SPI Bus Master Input/Slave Output) P.B7 SCK (SPI Bus Serial Clock)
5. Port C (PC.0…PC.7) merupakan port I/O dan Pin fungsi khusus, yaitu TWI, Komperator Analog dan Timer Oscillator.
Tabel 2.5 Fungsi Pin khusus pada PortC
Port Pin Fungsi Alternatif
P.C0 SCL (Two-wire Serial Bus Clock Line)
P.C1 SDA (Two-wire Serial Bus Data Input/Output Line) P.C6 TOSC1 (Timer Oscilator Pin1)
6. Port D (PD.0...PD.7) merupakan port I/O dan Pin fungsi khusus, yaitu Komperator Analog, interupsi eksternal, dan komunikasi serial.
Tabel 2.6 Fungsi Pin khusus pada Port D
Port Pin Fungsi Alternatif P.D0 RXD (USART Input Pin) P.D1 TXD (USART Output Pin) P.D2 INT0 (External Interupt 0 Input) P.D3 INT1 (External Interrupt 1 input)
P.D4 OC1B (Timer/Counter1 Output Compare B Match Output) P.D5 OC1A (Timer/Counter1 Output Compare A Match Output) P.D6 ICP1 (Timer/Counter1 Input Capture Pin)
P.D7 OC2 (Timer/Counter2 Output Compare Match Output)
7. RESET merupakan pin 9 digunakan untuk mereset mikrokontroller. Aktif low. Artinya jika pin ini di beri input logika 0, maka mikrokontroller akan ter-reset. 8. XTAL1 merupakan pin yang tersambung ke kristal eksternal. Dilihat dari
rangkaian internal, pin ini sebagai input ke inverting Oscilator amplifier dan input ke rangkaian operasional clock internal.
9. XTAL2 merupakan pin yang tersambung ke kristal eksternal. Merupakan keluaran dari inverting Oscilator amplifier.
10. AVCC merupakan kaki masukan tegangan bagi A/D Converter. Kaki ini harus secara eksternal terhubung ke Vcc melalui lowpass filter.
11. AREF merupakan pin masukan tegangan referensi bagi A/D Converter. Untuk operasionalisasi ADC, suatu level tegangan antara GND dan Avcc harus diberikan ke kaki ini.
12. AGND merupakan pin analog Ground.
2.6 Komunikasi Serial
Komunikasi data serial ialah komunikasi dilakukan per bit dengan mengirimkan dan menerima data 8 bit secara satu per satu, sedangkan komunikasi data parallel dilakukan dengan mengirimkan dan menerima data 8 bit secara bersamaan atau sekaligus. Dikenal 2 cara komunikasi data secara serial, yaitu komunikasi data serial sinkron dan komunikasi data serial asinkron. Pada komunikasi data serial asinkron, clock dikirimkan bersama-sama dengan data serial tetapi clock tersebut dibangkitkan sendiri-sendiri baik pada sisi pengirim maupun sisi penerima. Sedangkan komunikasi data serial asinkron tidak diperlukan clock karena data dikirimkan dengan kecepatan tertentu. Baik pada pengirim maupun penerima.
2.6.1 Port Komunikasi Serial
Untuk menghubungkan antara 2 buah PC, biasanya digunakan format null mode, dimana Pin TxD dihubungkan dengan RxD pasangan, Pin Sinyal Ground (5) dihubungkan dengan SG dipasangan, dan masing-masing Pin DTR, DSR dan CD dihubung singkat, dan Pin RTS dan CTS dihubung singkat di setiap Devaice.
Tabel 2.4 Funsi Susunan Pin Konektor DB9 Pin
DB9 Pin DB25
Nama Signal Fungsi
1 8 DCD (Data Carrier
Detect)
Saat modem mendeteksi suatu ”carier” dari modem lain maka sinyal ini akan diaktifkan
2 3 RD (Received Data) Untuk penerimaan data serial (RDX)
3 2 TD (Transmitte Data) Untuk pengiriman data serial (TDX)
4 20 DTR (Data Terminal Ready)
Untuk memberitahukan bahwa UART siap melakukan hubungan komunikasi dan mengaktifkan modem
5 7 SG (Signal Ground) Sinyal Ground
6 6 DSR (Data Set
Ready)
Memberitahukan UART bahwa modem siap untuk melakukan pengiriman dan menerima data
7 4 RTS (Request To
Send)
Sinyal untuk menginformasikan modem bahwa UART siap menerima data
8 5 CTS (Clear To Send) Digunakan untuk memberitahukan bahwa modem siap untuk melakukan pertukaran data.
9 22 RI (Ring Indicator) Akan aktif jika modem mendeteksi adanya sinyal dering dari saluran telepon
Tabel 2.8 Alamat Register dari COM1 dan COM2
Alamat Register Alamat Register Sifat
COM1 COM2 Read / Write
3F8 H 2F8 H TX Buffer W
3F8 H 2F8 H RX Buffer, Rx R
3F8 H 2F8 H Divisor Latch LSB R/W 3F9 H 2F9 H Divisor Latch MSB R/W 3F9 H 2F9 H Interrupt Enable Register W 3FA H 2FA H Interrupt Identification Register R 3FB H 2FB H Line Control Register R/W 3FC H 2FC H Modem Control Register R/W 3FD H 2FD H Line Status Register R 3FE H 2FE H Modem Status Register R
2.6.2 Komunikasi Serial RS232
Standar komunikasi serial untuk komputer ialah RS-232, mempunyai standar tegangan yang berbeda dengan serial port mikrokontroller. Devais pada komunikasi serial port dibagi menjadi 2(dua) kelompok, yaitu Data Communication Equipment (DCE) dan Data Terminal Equipment (DTE). Ada dua hal pokok yang diatur standar RS232, antara lain adalah :
1. Bentuk sinyal dan level tegangan yang dipakai.
2. Penentuan jenis sinyal dan konektor yang dipakai, serta susunan sinyal pada kaki- kaki di konektor. Beberapa parameter yang ditetapkan EIA (Electronics Industry Association) antara lain:
1. Logika ”0” disebut ”spasi (space)” antara tegangan +3 s/d +25 volt. 2. Logika ”1” disebut ”tanda (mark)” antara tegangan -3 s/d -25 volt.
3. Tegangan rangkaian terbuka tidak boleh lebih dari 25 volt (dengan acuan ground)
Syarat sinyal RS232 dapat berfungsi adalah dengan hubungan ke ground antara PC dengan alat (commond ground). Jarak maksimal jalur komunikasi sangat terbatas hanya 100/200 kaki untuk komunikasi data secara asinkron dan hanya 50 kaki untuk komunikasi sinkron. Kecepatan transfer data RS232 cukup rendah, kecepatan maksimal hanya 19200 bits/detik. Pengiriman data dilakukan secara bit per bit, kecepatan transfer data harus sama antara pengirim dan penerima. Kecepatan transmisi transfer data sering disebut dengan baudrate. Baudrate yang umum dipakai adalah 300, 600, 1200, 2400, 9600, dsb (bit/detik). Panjang data bit yang sering digunakan diantaranya adalah 4, 5, 6, 7, dan 8 bit.
Format transmisi satu byte pada RS232 Data yang ditransmisikan pada format diatas adalah 8 bit, sebelum data tersebut ditransmisikan maka akan diawali oleh start bit dengan logik 0 (0 Volt), kemudian 8 bit data dan diakhiri oleh satu stop bit dengan logika 1 (5 Volt).
2.6.3 Komunikasi Serial Max232
Gambar 2.9 IC MAX232 dalam rangkaian.
2.6.4 Komunikasi Serial pada ATmega8535
Peralatan komunikasi Serial pada ATmega8535 sudah terintegrasi pada system Chip. Dan masing-masing registernya baik data maupun kontrol dihubungkan dengan register Input-Output atau Port, sebagaimana peralatan lainnya. Sehingga User (kita) cukup hanya mengakses register-register yang berhubungan dengan Serial inilah untuk mempengaruhi atau memanipulasi peralatan tersebut. Pada prisipnya register-register peralatan ini hanya 5 buah. UDR, UCSRA, UCSRB, UCSRC, dan UBRR.
1. UDR (USART Data Register)
yang baru. Demikian tansfer data pada Serila ini, dilakukan byte demi byte dengan menggunakan UDR.
2. UCSRA, UCSRB, UCSRC (Usart Control and Status Register)
3 register ini adalah register-register untuk mengontrol panampilan dari USART. Bagaimana data ditangani, jumlah bit setiap datanya, apakah mengguunakan paritas, jumlah stop bitnya, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan pengaturan. Termasuk juga berisi bendera-bendera yang digunakan untuk mengatahui smapai di mana proses yang sedang terjadi. Setiap bit dalam 3 register tersebut mengandung sebuah arti yang khusus, dan berpengaruh yang khusus pula.
3. UBRR (Usart Baud Rate Register)
Register ini pencacah (counter) yang digunakan untuk membentuk baud rate. Beberapa mikro-kontroller membutuhkan sebuah timer untuk membuat baud rate, namun dalam AVR keperluan tersebut didapat dari sebuah peralatan khusus sehingga tidak perlu menggangu peralatan lain.
UBRR ini mirip dengan sebuah counter Auto reload yang setiap overflownya akan menghasilkan clock untuk baud rate. Dengan lebar total 12-bit, maka akan memberikan kita banyak kemungkinan tinggi baud rate yang bisa kita gunakan.
Tabel 2.9 Rumus Perhitungan Nilai UBRR untuk Berbagai Mode Operasi
Mode Operasi Rumus nilai UBBR
Ansinkron mode kecepatan normal (U2X=0)
UBBR = 1
_
16xbaud rate−
fosc
Asinkron mode kecepatan ganda (U2X=1)
Proses membangun hubungan komunikasi data serial memerlukan suatu kecepatan data (data transfer rate) yang sesuai, baik di sisi komputer maupun di sisi mikrokontroller. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membangun hal tersebut di mikrokontroller, yaitu nilai baud rate yang di pergunakan. Pengaturan baud rate dilakukan dengan memberikan nilai pada register UBRR. Rumus yang di pergunakan adalah:
Nilai UBRR = 1
*
16 baud − fclock
Sebagai contoh digunakan baud_rate 9600 dengan kristal 11.0592MHz, maka salah satu timer dibutuhkan untuk menghasilkan tunda selama 1 detik. Dengan demikian didapatkan 11.059.200 Hz siklus. Maka, UBRR = 71
2.6.5 Keuntungan Menggunakan Komunikasi Serial
Antar muka komunikasi serial menawarkan beberapa kelebihan dibandingkan dengan komunikasi pararel, diantaranya:
1. Kabel untuk komunikasi serial bisa lebih panjang dibandingkan dengan paralel. Datadata dalam komunikasi serial dikirimkan untuk logika ‘1’ sebagai tegangan
-3 s/d -25 volt dan untuk logika ‘0’ sebagai tegangan +-3 s/d +25 volt, dengan demikian tegangan dalam komunikasi serial memiliki ayunan tegangan maksimum 50 volt, sedangkan pada komunikasi pararel hanya 5 volt. Hal ini menyebabkan gangguan pada kabel-kabel panjang lebih mudah diatasi dibanding dengan pararel.
3. Komunikasi serial dapat menggunakan udara bebas sebagai media transmisi. Pada komunikasi serial hanya satu bit yang ditransmisikan pada satu waktu
sehingga apabila transmisi menggunakan media udara bebas (free space) maka dibagian penerima tidak akan muncul kesulitan untuk menyusun kembali bit bit yang ditransmisikan.
4. Komunikasi serial dapat diterapkan untuk berkomunikasi dengan mikrokontroller. Hanya dibutuhkan dua pin utama TxD dan RxD (diluar acuan ground).
2.7 Modul LCD (Liquid Crystal Display) M1632
M1632 adalah merupakan modul LCD dengan tampilan 16 x 2 baris dengan konsumsi daya yang rendah. Modul ini dilengkapi dengan mikrokontroler yang didisain khusus untuk mengendalikan LCD. Mikrokontroler HD44780 buatan Hitachi yang berfungsi sebagai pengendali LCD ini mempunyai CGROM (Character Generator Read Only Memory), CGRAM (Character Generator Random Access Memory) dan DDRAM (Display Data Random Access Memory).
DDRAM
DDRAM adalah merupakan memori tempat karakter yang ditampilkan berada. Contoh, untuk karakter ‘A’ atau 41H yang ditulis pada alamat 00, maka karakter tersebut akan tampil pada baris pertama dan kolom pertama dari LCD. Apabila karakter tersebut ditulis di alamat 40, maka karakter tersebut akan tampil pada baris kedua kolom pertama dari LCD.
CGRAM
CGRAM adalah merupakan memori untuk menggambarkan pola sebuah karakter di manabentuk dari karakter dapat diubah-ubah sesuai keinginan. Namun memori ini akan hilang saat power suppltidak aktif, sehingga pola karakter akan hilang.
CGROM
CGROM adalah merupakan memori untuk menggambarkan pola sebuah karakter di mana pola tersebut sudah ditentukan secara permanen dari HD44780 sehingga pengguna tidak dapat mengubah lagi.Namun karena ROM bersifat permanen, maka pola karakter tersebut tidak akan hilang walaupun power supply tidak aktif .
2.7.1 Susunan kaki LCD M1632
Untuk keperluan antarmuka suatu komponen elektronik dengan mikrokontroler, perlu diketahui fungsi dari setiap kaki yang ada pada komponen tersebut.
Gambar 2.7 Pin Out LCD M1632 Standard 1. Kaki 1 (GND)
Kaki ini berhubungan dengan tegangan +5 Volt yang merupakan tegangan untuk sumber daya dari HD44780 (khusus untuk modul M1632 keluaran hitachi, kaki ini adalah VCC).
2. Kaki 2 (VCC)
Kaki ini berhubungan dengan tegangan 0 volt (ground) dan modul LCD (khusus untuk modul M1632 keluaran hitachi, kaki ini adalah GND)
3. Kaki 3 (VEE/VLCD)
4. Kaki 4 (RS) Register Select, kaki pemilih register yang akan diakses. Untuk akses ke register
data, logika dari kaki ini adalah 1 dan untuk akses ke register perintah, logika dari kaki ini adalah 0.
5. Kaki 5 (R/W)
Logika 1 pada kaki ini menunjukkan bahwa modul LCD sedang pada mode pembacaan dan logika 0 menunjukkan bahwa modul LCD sedang pada mode penulisan. Untuk aplikasi yang tidak memerlukan pembacaan data pada modul LCD, kaki ini dapat dihubungkan langsung ke ground.
6. Kaki 6 (E)
Enable Clock LCD, kaki ini mengaktifkan clock LCD. Logika 1 pada kaki ini diberikan pada saat penulisan atau pembacaan data.
7. Kaki 7-14 (D0-D7)
Data bus, kedelapan kaki modul LCD ini adalah bagian dimana aliran data sebanyak 4 bit atau 8 bit mengalir saat proses penulisan maupun pembacaan data. 8. Kaki 15 (Anoda)
Berfungsi untuk tegangan positif dari backlight modul LCD sekitar 4,5 volt (hanya terdapat untuk M1632 yang memiliki backlight).
9. Kaki 16 (Katoda)
Tegangna negatif backlight modul LCD sebesar 0 volt (hanya untuk M1632 yang memiliki backlight).
2.8 Perangkat Lunak
2.8.1 Bahasa BASIC Untuk Pemrograman Mikrokontroller.
Pemrograman perangkat lunak pendukung mikrokontroler ATmega8535 yang digunakan adalah BASCOM AVR. BASCOM-AVR adalah program BASIC Compiler berbasis Winsows untuk mikrokontroller keluarga AVR seperti ATmega8535, ATmega16, dan yang lainnya. Bascom-AVR merupakan pemrograman dengan bahasa tingkat tinggi BASIC yang dikembangkan dan dikeluarkan oleh Elektronik. Beberapa instruksi yang sering digunakan dalam pemrograman IC mikrokontroller ATmega8535 antara lain adalah:
1. Variabel dan Tipe Data
Di dalam pemrograman tipe data adalah hal yang sangat penting untuk diketahui
sebelum kita memulai pemrograman itu sendiri.
Cara mendeklarasikan sebuah variabel pada BASCOM-AVR adalah sebagai berikut : Dim namavariabel tipedata,
contoh : Dim x as Byte.
Khusus untuk tipe data String ada sedikit tambahan yakni jumlah karakter maksimal yang bisa ditampung oleh variabel tersebut.
contoh : Dim x as String * 10,
berarti variabel x mampu menampung karakter sepanjang 10 karakter.
2. Konstanta
Konstanta merupakan suatu nilai yang tidak dapat diubah selama proses program berlangsung. Nilai konstanta harus didefinisikan terlebih dahulu di awal program. Konstanta dapat bernilai integer, pecahan, karakter ataupun string. Contoh penulisan: Dim A As Const 5
3. Alias
Dengan menggunakan alias, variabel yang sama dapat diberikan nama yang lain. Tujuannya adalah mempermudah proses pemrograman. Umumnya, alias digunakan
untuk mengganti nama variabel yang telah baku, seperti port mikrokontroller.
LEDBAR alias P1 Tombol1 alias P0.1 Tombol2 alias P0.2
4. Struktur Perulangan ”Do... loop”
Dengan menggunakan sturktur do...loop maka sekurang-kurangnya akan terjadi satu
kali perulangan. Contoh program: Do Data1 = 0 Portb = Data1 Loop
2.8.2 Bahasa BASIC Untuk Pemrograman PC
Bahasa pemrograman yang paling banyak digunakan untuk pengaksesan Port Serial Komputer ke mikrokontroller digunakan bahasa Visual Basic, karena fasilitas yang dimiliki sangat handal untuk membangun berbagai bentuk aplikasi.
Pengaksesan Secara Langsung Melalui Register USART
Untuk Pengaksesan port serial kita dapat mengaksesnya secara langsung melalui
Tabel 2.10 Alamat dan lokasi bit pada register USART Nama Pin Nomor Pin pada DB-9
COM1 COM2 Bit Arah
TxD 3 3FBh 2FBh 6 Output
DTR 4 3FCh 2FCh 0 Output
RTS 7 3FEh 2FCh 1 Output
CTS 8 3FEh 2FEh 4 Input
DSR 6 3FEh 2FEh 5 Input
RI 9 3FEh 2FEh 6 Input
DCD 1 3FEh 2FEh 7 Input
Untuk dapat mengaksesnya, kita dapat menggunakan fungsi Port_Out dan fungsi Port_In yang terdapat pada Port_IO.DLL dan untuk menset atau meng-clearkan bit-bit tertentu kita dapat menggunakan prosedur Set_Bit atau prosedur Clear_Bit.
Berikut adalah contoh penggunaannnya, dengan menset bit DTR, yaitu membuat saluran DTR berlogika low yang dalam Port serial IBM PC kompatibel bertegangan +12V. Alamat register pengontrol DTR adalah 3FCh untuk Com1 pada bit 0. Perintahnya adalah sebagai berikut:
Set_Bith (&H3FC, 0)
Untuk mengclearkannya, yaitu membuat saluran DTR berlogika high yang dalam port serial IBM PC kompatibel bertegangan -12V, dan menggunakan perintah: