• Tidak ada hasil yang ditemukan

Layout Pola Penanaman dan Pembagian Areal Kerja Pelaksanaan Ground Thruting Pembangunan Plot Pengayaan Biodiversitas...

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Layout Pola Penanaman dan Pembagian Areal Kerja Pelaksanaan Ground Thruting Pembangunan Plot Pengayaan Biodiversitas..."

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ... 1

TUJUAN ... 5

Tujuan Umum ... 5

Tujuan Khusus ... 5

LUARAN ... 5

MANFAAT ... 6

BAB II METODE DAN PENDEKATAN TEKNIS ... 7

LOGICAL FRAMEWORK ... 7

INDIKATOR KEBERHASILAN RISET AKSI ... 7

LOKASI RISET AKSI ... 11

DESKRIPSI KEGIATAN RISET AKSI ... 11

Work Package 1 (WP 1): Pengkajian kondisi sosial ekonomi kelembagaan dan revitalisasi penghidupan ... 11

Work Package 2 (WP 2): Pengembangan insentif untuk mendorong partisipasi masyarakat ... 16

Work Package 3 (WP 3): Perbaikan kondisi lahan gambut melalui pengayaan biodiversitas pada kebun kelapa sawit bekas terbakar... 17

BAB III HASIL KEGIATAN DAN PEMBAHASAN ... 20

PENGKAJIAN KONDISI SOSIAL EKONOMI KELEMBAGAAN DAN REVITALISASI PENGHIDUPAN (WP # 1) ... 20

Kondisi Umum Desa Sinar Wajo ... 20

Kondisi Pola Penghidupan Masyarakat ... 23

PENGEMBANGAN INSENTIF UNTUK MENDORONG PARTISIPASI MASYARAKAT (WP# 2). ... 31

Sosialisasi dan FGD untuk mendorong partisipasi ... 31

Pengembangan Insentif dan Partisipasi Petani melalui Kesepakatan Kerjasama ... .32

Tata Hubungan Kerja untuk Peningkatan Partisipasi ... 33

Pengembangan Insentif melalui Capacity Building... 34

PERBAIKAN KONDISI LAHAN GAMBUT MELALUI PENGAYAAN BIODIVERSITAS PADA KEBUN KELAPA SAWIT BEKAS TERBAKAR (WP# 3) ... 39

Pemilihan Lokasi Demplot Pengayaan Biodiversitas ... 39

Kondisi Umum Hutan Desa Sinar Wajo ... 39

Kondisi Umum Biofisik Parit Sungai Nek sebagai Lokasi Demplot ... 41

Rancangan Penanaman Pengayaan Biodiversitas ... 45

(3)

Layout Pola Penanaman dan Pembagian Areal Kerja ... 50

Pelaksanaan Ground Thruting ... 53

Pembangunan Plot Pengayaan Biodiversitas ... 54

Hasil Kajian Data Dasar Biofisik Plot Pengayaan Biodiversitas ... 56

Simpulan ... 68

BAB IV MONITORING DAN EVALUASI ... 69

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 71

DAFTAR PUSTAKA ... 72

LAMPIRAN ... 73

(4)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

Perkebunan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Indonesia berkembang sangat pesat khususnya dalam dua dekade terakhir. Propinsi Jambi merupakan salah satu propinsi dengan perkembangan lahan perkebunan kelapa sawitnya yang semakin meningkat pesat dalam dekade terakhir. Data BPS (2013) menunjukkan bahwa tahun 2005 areal perkebunan kelapa sawit di Jambi seluas 3.593,4 hektar dan meningkat menjadi 5.995,7 hektar pada tahun 2012. Pengembangan perkebunan kelapa sawit yang berjalan sangat cepat di Indonesia tersebut sering diduga sebagai penyebab utama deforestasi hutan hujan tropis oleh masyarakat internasional. Isu sawit dan deforestasi yang mengemuka belum lama ini adalah adanya Report on Oil Palm and Deforestation of Rainforest yang disusun oleh Committee on the Environment, Public Health and Food Safety of European Parliament yang disahkan oleh Parlemen Eropa pada tanggal 4 April 2017 di Starssbourg. Laporan tersebut bahkan secara khusus menyebutkan Indonesia sebagai salah satu negara terjadinya isu tersebut dan menyatakan bahwa persoalan sawit merupakan persoalan besar yang dikaitkan dengan isu korupsi, pekerja anak, pelanggran HAM, penghilangan hak masyarakat adat dan lain-lain. Hal tersebut tentu saja merupakan “penghinaan” bagi bangsa Indonesia, oleh karena itu pemerintah Indonesia melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) telah menyatakan penolakan terhadap “penghinaan’ resolusi sawit Parlemen Eropa yang secara langsung disampaikan Menteri LHK saat kunjungan kerja ke Finlandia pada tanggal 7 April 2017 (Press Release Kementerian LHK, 7 April 2017). Bagi masyarakat Indonesia isu kelapa sawit merupakan isu yang sangat sensitif karena menyangkut hajat hidup orang banyak, dimana tidak kurang dari 16 juta orang penghidupannya adalah dari usaha kelapa sawit dari hulu sampai hilir. Press Release Menteri LHK (7 April 2017) juga menyebutkan bahwa areal tanaman kelapa sawit di Indonesia saat ini mencapai 11,6 juta hektar dimana 41%

merupakan tanaman petani atau smallholders.

(5)

2 Kontribusi kelapa sawit terhadap peningkatan perekonomian masyarakat (Rist et al. 2010; Sayer et al. 2012), dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) (Sandker et al. 2007), memberikan daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk mengembangkannya, bahkan adapula masyarakat di Jambi yang merubah hutan karet yang secara tradisonal merupakan mata pencaharian mereka menjadi kebun kelapa sawit. Tidak dipungkiri pula bahwa pengembangan perkebunan kelapa sawit khususnya sawit rakyat tidak seluruhnya pada lahan milik. Terdapat pula pengembangan kebun kelapa sawit rakyat di lahan-lahan terlantar dan di kawasan hutan negara yang telah terdegradasi dan terbengkalai. Kelapa sawit sangat baik ditanam di dataran rendah. Oleh karena itu, pengembangan kelapa sawit yang tidak terkontrol terkadang juga sampai di kawasan lahan gambut yang nota bene berada di kawasan dataran rendah, seperti yang terjadi di Propinsi Jambi khususnya di kawasan gambut sekitar Taman Nasional Berbak.

Pembukaan kawasan gambut untuk pertanaman kelapa sawit sangat rawan terhadap kebakaran karena pola pembersihan lahan dengan cara tebas bakar telah memicu kebakaran lahan gambut yang merupakan tumpukan bahan organik yang belum terurai sehingga sangat rentan terhadap api khususnya pada musim kemarau. Dalam decade terakhir hampir setiap tahun terjadi kebakaran lahan gambut di Propinsi Jambi akibat pembukaan lahan kelapa sawit yang bukan hanya mengancam kelestarian lingkungan bahkan lebih jauh mengancam kesehatan masyarakat akibat asap yang ditimbulkannya bisa bertahan berminggu-minggu.

Berbagai upaya pencegahan kebakaran lahan gambut sampai saat ini belum mampu menurunan tingkat kebakaran lahan dan hutan di kawasan gambut.

Edukasi terhadap masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan telah dikalahkan oleh kebutuhan masayarakat yang meningkat akan penghidupan yang layak. Kelapa sawit sebagai komoditas pertanian yang memiliki produktivitas tinggi dengan permintaan dan harga yang cukup baik belum dapat dikalahkan oleh jenis komoditas pertanian lainnya.

(6)

3 Penanaman kelapa sawit baik oleh perusahaan perkebunan besar maupun oleh petani dilakukan secara monokultur. Pola pertanaman monokultur ini dilakukan untuk memaksimalkan produksi dan keuntungan. Namun pola tanam monokultur memiliki kelemahan apabila terjadi serangan hama penyakit dapat menyebar secara cepat. Selain itu, bagi petani khususnya petani kecil pola monokultur telah menjadikan petani tergantung kepada satu jenis komoditas sebagi sumber penghidupan keluarganya. Hal tersebut tentunya menjadikan ekonomi keluarga petani kecil rentan khususnya manakala terjadi penurunan harga buah kelapa sawit, padahal biaya produksi kelapa sawit cukup tinggi karena tanaman kelapa sawit membutuhkan pemeliharaan yang intensif dan pemberian pupuk yang banyak. Pola pertanaman monokultur juga menjadikan tingkat biodiversitas khususnya flora menurun drastis di lokasi-lokasi perkebunan kelapa sawit tersebut, sehingga dianggap sebagai tidak ramah lingkungan.

Pola-pola pertanaman sistem agroforestri telah dikenal sebagai pola yang ramah lingkungan karena mengintegarasikan pepohonan dengan tanaman pertanian setahun serta dengan dan atau ternak serta ikan. Namun pola pertanaman agroforestri dengan mengintegrasikan kelapa sawit belum banyak atau bahkan mungkin belum ada petani maupun pengusaha perkebunan kelapa sawit yang melakukan. Beberapa percontohan penanaman pohon meranti diantara tegakan sawit pernah dilakukan di Sumater Utara dan di Kabupaten Batanghari Jambi, namun masih dalam skala percobaan (Muryunika, 2015).

Agroforestri juga dikenal sebagai salah suatu sistem yang mampu menyelesaikan masalah pengelolaan lahan, sehingga dapat mendorong perluasan hutan, meningkatkan keanekaragaman hayati (Sanchez 1995), pengurangan emisi (Rusolono 2006; Murthy et al. 2013), menyediakan pakan ternak (Cubbage et al.

2012), penurunan erosi dan banjir, meningkatkan produktivitas lahan (Yusra 2005) dan profitabilitas terhadap total pendapatan usahatani (Graves et al. 2007;

Sundawati 2010). Spesifik keunggulan agrforestri dilahan kelapa sawit menurut Bhagwat dan Willis (2009) adalah manfaat konservasi, sebagai cadangan hutan, dan sumber kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, praktek agroforestri sangat

(7)

4 perlu untuk dikembangkan di lahan kelapa sawit, mengingat ketersediaan lahan yang masih luas.

Upaya percobaan penanaman pepohonan yang diintegrasikan pada kebun kelapa sawit telah dan sedang dilakukan oleh Konsorsium Penelitian CRC990 dimana IPB selaku ketua konsorsium bekerjasama dengan Universitas Goettingen, Jerman. Penelitian dengan judul “Biodiversity Enrichment Experiment in Oil Palm Plantation” dilakukan sejak tahun 2013 dan direncanakan akan berlanjut selama sekitar 12 tahun. Percobaan pengayaan biodiversitas di kebun kelapa sawit ini memang membutuhkan jangka waktu yang panjang, mengingat pertumbuhan pohon-pohonan membutuhkan waktu yang lama. Hasil riset awal telah dipublikasikan pada jurnal internasional menunjukkan bahwa walaupun penanaman pengayaan ini baru berjalan sekitar 3 tahun namun telah menunjukkan adanya peningkatan biodiversitas dengan diidentifikasinya kehadiran burung- burung dan serangga yang sebelumnya tidak Nampak di kebun sawit (Teuscher et.al. 2016). Selain itu, percobaan pengayaan ini juga menunjukkan adanya peningkatan hasil produksi sawit dari tanaman kelapa sawit yang berada di dalam plot percobaan serta yang berdekatan dengan plot percobaan pengayaan biodiversitas (Gerard et.al. 2017).

Model penanaman pengayaan biodiversitas di perkebunan kelapa sawit ini perlu dikembangkan selain sebagai alternatif upaya restorasi lahan dan hutan termasuk restorasi lahan gambut bekas terbakar yang di atasnya juga terdapat pertanaman kelapa sawit masyarakat sebagi sumber penghidupan yang ramah lingkungan (ecofrendly livelihood alternative). Selain itu upaya-upaya restorasi lahan gambut perlu didukung dengan upaya perbaikan penghidupan masyarakat sehingga kawasan lahan gambut yang terdegradasi dapat direstorasi dengan baik dan didukung oleh masyarakat sekitarnya. Pemerintah tidak akan mampu melakukan restorasi dan pengelolaan lahan gambut yang begitu luas tanpa ada partisipasi aktif dari masyarakat. Oleh karena itu, perlu pula dilakukan pengembangan berbagai kebijakan insentif untuk mendorong partsipasi masyarakat.

(8)

5 Muryunika (2015) menyatakan bahwa hampir tidak adanya pengembangan kelapa sawit dengan pola agroforestri membutuhkan strategi pengembagan agroforestri berbasis kelapa sawit di Propinsi Jambi diantaranya sebagai berikut: (1) Merumuskan kebijakan dalam mendukung agroforestri sebagai bentuk pengelolaan berkelanjutan, (2) Mengembangkan insentif dengan regulasi yang mendukung, (3) Pendidikan dan pelatihan penyuluh, sebagai penguatan peran penyuluh, sehingga terjalin hubungan baik antar masyarakat, peneliti, LSM dan dinas terkait, dan (4) Membentuk kelompok petani andalan untuk mendorong keberhasilan pengelolaan agroforestri.

1.2. TUJUAN Tujuan Umum

Tujuan umum riset aksi ini adalah untuk merestorasi lahan gambut bekas terbakar yang diatasnya terdapat pertanaman kelapa sawit melalui pengayaan biodiversitas, revitalisasi kehidupan perekonomian masyarakat, dan pengembangan insentif.

Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari riset aksi ini adalah untuk:

a. Mengkaji kehidupan sosial, ekonomi dan kelembagaan masyarakat petani sawit di sekitar kawasan gambut bekas terbakar untuk pengembangan dan revitalisasi perekonomian masyarakat,

b. Mengembangkan kebijakan insentif untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam restorasi lahan gambut bekas terbakar, dan

c. Perbaikan kondisi pertanaman dan biodiversitas lahan gambut yang telah mengalami kebakaran dimana diatasnya terdapat pertanaman kelapa sawit melalui pembangunan percontohan pengayaan biodiversitas khususnya pepohonan yang ramah gambut pada kebun kelapa sawit.

1.3. LUARAN

Luaran yang diharapkan dari riset aksi ini adalah:

(9)

6 a. Alternatif pola penghidupan (livelihood) masyarakat sekitar kawasn

gambut yang resilien,

b. Rumusan berbagai bentuk strategi kebijakan insentif untuk mendorong partisipasi masyarakat, dan

c. Model pengayaan biodiversitas pada kebun kelapa sawit bekas terbakar di lahan gambut.

1.4. MANFAAT

Hasil riset aksi diharapkan memberikan manfaat dalam berbagai bentuk, yaitu:

a. Penghidupan masyarakat tidak lagi tergantung kepada satu jenis komoditas kelapa sawit, sehingga penghidupan masyarakat menjadi resilien atau tahan terhadap berbagai perubahan, diantaranya melalui pengembangan kebun kelapa sawit yang diperkaya biodiversitas maupun produktivitasnya dan pola-pola penghidupan laternatif lainnya sesuai dengan potensi sumberdaya lokal,

b. Melalui kebijakan insentif yang dibangun maka akan menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam upaya restorasi lahan gambut yang terbakar, c. Model penanaman kelapa sawit dengan pengayaan biodiversitas, selain meningkatkan biodiversitas lahan gambut, juga akan memperbaiki kondisi biofisik dan produktivitas lahan.

(10)

7 BAB II

METODE DAN PENDEKATAN TEKNIS 2.1. LOGICAL FRAMEWORK

Kerangka kerja logis dari riset aksi yang memperlihatkan relasi berbagai elemen serta tahapan kegiatan disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Logical framework kegiatan riset aksi

2.2. INDIKATOR KEBERHASILAN RISET AKSI

Tabel 1 menyajikan beberapa indikator keberhasilan kegiatan sebagai bagian penting dalam kegiatan monitoring dan evaluasi riset aksi.

Manfaat Luaran Tujuan khusus Tujuan Umum

Restorasi lahan gambut bekas terbakar dan revitalisasi penghidupan

masyarakat

Pengkajian sosial ekonomi kelembagaan dan revitalisasi penghidupan masyarakat sekitar gambut

Alternatif-alternatif pola penghidupan

Pengembangan insentif untuk mendorong partisipasi masyarakat dlm

restorasi gambut

Rumusan strategi kebijakan insentif

Perbaikan kondisi lahan gambut melalui pengayaan

biodiversitas pada kebun kelapa sawit bekas

terbakar

Model pengayaan biodiversitas pada kebun

sawit di lahan gambut

Tersedianya alternatif pola penghidupan yang

resilien

Tumbuhnya partisipasi masyarakat dan

stakeholder

Perbaikan kondisi biofisik, biodiversitas

dan produktivitas lahan

(11)

8 Tabel 1. Tujuan, Output, Outcome, Indikator, Verifier dan Asumsi Kegiatan Riset Aksi

No Tujuan khusus

Luaran Akhir

Target Capaian Tahunan Manfaat Indikator Verifier Asumsi

2017 2018 2019

1. Pengkajian kondisi sosial ekonomi kelembagaan dan

revitalisasi penghidupan

Teridentif ikasinya alternatif- alternatif pola penghidu pan

a. Survey kondisi sosial ekonomi dan

kelambagaa n

masyarakat b. Focus group discussion (FGD) untuk penjaringan persepsi dan aspirasi masyarakat tingkat desa c.

Pengenalan pola

pertanaman kelapa sawit dengan model

a.Monitorin g perubahan kondisi perekonomi an

a.Monitor ing perubaha n kondisi perekono mian

Tersediany a pola penghidupa n

masyarakat yang resilien

Model pengayaan biodiversita s sebagai pola penghidupa n yang resilien

a. Jumlah alternatif pola penghidupan baru lebih resilien b.Jumlah petani

yang bersedia mengadopsi pola

penghidupan baru

c. Jumlah petani yang bersedia mengadopsim odel

pengayaan biodiversitas

Pada awal kegiatan semua petani melakukan budidaya sawit

monokuktur

(12)

9 Tabel 1. Tujuan, Output, Outcome, Indikator, Verifier dan Asumsi Kegiatan Riset Aksi

No Tujuan khusus

Luaran Akhir

Target Capaian Tahunan Manfaat Indikator Verifier Asumsi pengayaan

biodiversita s

2. Pengembang an insentif untuk mendorong partisipasi masyarakat

Rumusan strategi kebijakan insentif

a. Kajian terhadap berbagai kebijakan terkait gambut dan sawit dari tingkat pusat sampai daerah b. Analisis stakeholder terkait kelapa sawit rakyat dan restorasi gambut

a.FGD bersama seluruh stakeholder tingkat kabupaten b.

Menyusun strategi pengemban gan insentif untuk mendorong partisipasi masyarakat c.

Monitoring pelaksanaan kebijakan dan partisipasi masyarakat

a.Monitor ing pelaksana an

kebijakan dan partisipas i

masyarak at

Tumbuhny a

partisipasi masyarakat dan

stakeholder

Keterlibata n

masyarakat dalam kegiatan restorasi gambut

a. Tersedianya kebijakan paling tidak pada level desa (Perdes) terkait insentif yang mendorong partisipasi petani b.Jumlah

petani yang terlibat dalam berbagai kegiatan riset aksi

Pada awal kegiatan tidak ada petani yang melakukan upaya restorasi lahan gambut

(13)

10 Tabel 1. Tujuan, Output, Outcome, Indikator, Verifier dan Asumsi Kegiatan Riset Aksi

No Tujuan khusus

Luaran Akhir

Target Capaian Tahunan Manfaat Indikator Verifier Asumsi 3. Perbaikan

kondisi lahan gambut melalui pengayaan biodiversitas pada kebun kelapa sawit bekas

terbakar

Model pengayaa n

biodiversi tas pada kebun sawit di lahan gambut

a. Survey kondisi biofisik lahan b.

Participator y Rural Appraisal dan

Participator y Planning c. Persiapan pengemban gan model pengayaan biodiversita s

d.

Pembangun an plot pengayaan biodiversita s

a.Membang un

mekanisme monitoring dan evaluasi partisipatif b.

Monitoring plot-plot pengayaan c.

Workshop hasil kegiatan penelitian

a.

Monitorin g plot- plot pengayaa n

e.

Worksho p hasil kegiatan penelitian

Perbaikan kondisi biofisik, biodiversita s dan produktivit as lahan

Peningkata n

kesuburan lahan, jumlah jenis tanaman dan produksi per satuan hektar

a. Peningkatan kondisi biofisik lahan gambut b.Berkurangnya

/tidak terjadinya kebakaran lahan

c. Jumlah jenis tanaman non sawit yang tumbuh

Pada awal kegiatan kondisi lahan gambut bekas terbakar dan sudah ditanami kelapa sawit secara monokultur

(14)

11 2.3. LOKASI RISET AKSI

Kegiatan riset aksi ini dilakukan di KHG Sungai Batanghari-Sungai Mendahara, Kecamatan Mendahara Hulu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Sebagai desa contoh diambil Desa Sinar Wajo yang terletak di Kecamtan Mendahara Ulu dan merupakan salah satu desa prioritas restorasi gambut. Akses ke Desa Sinar Wajo dari Kota Jambi melalui jalan darat sekitar 2,5 jam. Letak desa penelitian disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2. Peta lokasi riset aksi (Sumber peta: WARSI, 2017)

2.4. DESKRIPSI KEGIATAN RISET AKSI

Kegiatan ini merupakan riset aksi yang dikelompokkan ke dalam tiga paket kegiatan atau Work Package (WP) berdasarkan tujuan yang ingin dicapai.

Untuk mencapai tujuan riset aksi tersebut maka dilakukan berbagai kegiatan berupa kegiatan penelitian atau riset dan kegiatan terapan (kegiatan aksi) yang melibatkan partisipasi masyarakat. Deskripsi dari masing-masing kegiatan riset aksi pada setiap WP diuraikan sebagai berikut:

Work Package 1 (WP 1): Pengkajian kondisi sosial ekonomi kelembagaan dan revitalisasi penghidupan

(15)

12 Tujuan:

Mengkaji kehidupan sosial, ekonomi dan kelembagaan masyarakat petani sawit di sekitar kawasan gambut bekas terbakar untuk pengembangan dan revitalisasi penghidupan masyarakat.

Kegiatan yang dilakukan:

a. Survey kondisi umum sosial ekonomi dan kelambagaan masyarakat sekitar kawasan gambut

Survey dilakukan dengan metode Landscape and Lifescape (L-L) Analysis.L-L Analisis menyangkut kajian terkait dengan berbagai aspek landskap dan kajian aspek kehidupan masyarakat di lokasi penelitian. Kajian aspek landskap mencakup elemen-elemen landskap (Natural Capital) yaitu struktur landskap seperti tataruang wilayah dan pola-pola penggunaan lahan serta nilai dan fungsi dari landskap. Adapun kajian aspek Lifescape mencakup elemen-elemen Human and Social Capital yaitu struktur penduduk dan struktur social (termasuk pola migrasi penduduk) atau social mapping, serta kajian ekonomi dan kelembagaan masyarakat yang dipengaruhi oleh aspek kondisi landskapnya. Dalam L-L Analisis termasuk juga kajian tentang berbagai success story program-program yang ada di lokasi penelitian, local knowledge, sejarah perkembangan kelapa sawit di lokasi penelitian termasuk migration history apabila ada.

Gambar 3. Survey Awal Tim Riset IPB ke Desa Sinar Wajo

Data dan informasi umum tentang kondisi wilayah studi aksi diperoleh dari data sekunder berupa data Kecamatan Dalam Angka, RPJM Desa Sinar Wajo

(16)

13 2016-2022, laporan dari KKI WARSI, serta berdasarkan wawancara dengan perangkat Desa Sinar Wajo, informan kunci dan observasi lapang.

b. Pengkajian Kondisi Pola Penghidupan Masyarakat

Pengkajian kondisi pola penghidupan masyarakat dilakukan dengan metode survey dengan rancangan berdasarkan data populasi dari jumlah rumah tangga petani berdasar data desa total petani di Desa Sinar Wajo sebanyak 849 orang sedangkan berdasarkan data populasi dari jumlah rumah tangga petani berdasar data kajian Survei Petani dalam Hutan Desa Sinar Wajo yang dilakukan oleh KKI WARSI pada bulan Februari 2017 yakni sebesar 365 orang dengan jumlah luas kebun dan lahan sebesar 755,25 hektar yang tersebar di 6 dusun yang ada di Desa Sinar Wajo. Penentuan ukuran sampel rumah tangga petani dilakukan dengan Metode Slovin’s Formula.

n = N/N(d)2 + 1 dimana;

n = sampel N = populasi;

d = nilai presisi 90% atau sig. = 0,1.

Sehingga dari jumlah populasi 365 orang petani dan tingkat kesalahan yang diharapkan adalah sebesar 10%, maka jumlah minimal petani yang akan di jadikan sampel menurut metode tersebut sebanyak 78,5 ≈ dibulatkan menjadi 79 orang petani, namun dalam penelitian ini sampel yang akan diambil sebanyak 100 orang petani untuk menjaga informasi yang tidak valid dan tidak konsisten. Sebaran sampel rumah tangga petani disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Sebaran sampel responden di lokasi riset aksi berdasarkan pembobotan

Wilayah Nama Dusun Bobot Jumlah Sample

Dusun I Sinar Wajo 0.25 25

Dusun II Makmur Indah 0.15 15

Dusun III Suka Jaya 0.15 15

Dusun IV Rotan Udang 0.15 15

Dusun V Sungai Putat 0.15 15

Dusun VI Kalimantan 0.15 15

J u m l a h 1 100

(17)

14 Gambar 4. Wawancara dengan responden rumah tangga petani Desa Sinar Wajo

Strategi yang dilakukan untuk pengambilan data di lapang sebagai berikut:

Gambar 5. Strategi pengambilan data di lapang

Secara rinci kegiatan survey rumah tangga petani ini dijelaskan pada Tabel 3.

Tabel 3. Rancangan tatawaktu survey rumah tangga Moving

(Dusun)

Jumlah

Sample Uraian Kegiatan

Estimasi HOK (Hari) Jambi

Sungai Putat

 Sinar Wajo (Parit Sungai Nek)

25 1. Istirahat dan bersosialisasi dengan masyarakat (Memilih rumah tangga petani yang akan dijadikan sampel lalu membuat kesepakatan untuk siap diwawancara.

2. Menginap di Lokasi Parit Sungai Nek

3. Wawancara dengan rumahtangga petani terpilih sebanyak 25 Petani.

4. Cleaning dan penomoran Kuesioner

2

Sinar Wajo (Parit Sungai nek)

Sungai Putat

Makmur Indah

15 5. Moving dari parit sungai nek ke Dusun Sungai Putat.

6. Menginap di Dusun Sungai Putat 7. Melakukan wawancara di Dusun

Makmur Indah (sampel acak) sebanyak 15 petani

8. Kembali ke Penginapan di Sungai Putat

9. Cleaning dan penomoran Kuesioner

1

Dusun Sinar Wajo

(Parit Sungai

2 HariNek)

Dusun Makmur

Indah 1 Hari

Dusun Sukajaya

1 Hari

Dusun Rotan Udang 1 harii

Dusun kalimanta

n 1 Hari

1Dusun Sungai Putaut 1 Hari

(18)

15 Moving

(Dusun)

Jumlah

Sample Uraian Kegiatan

Estimasi HOK (Hari) Sungai

Putat Suka Jaya

15 10. Menginap di Dusun Sungai Putat 11. Melakukan wawancara di Dusun

SukaJaya (sampel acak) sebanyak 15 petani

12. Kembali ke Penginapan

13. Cleaning dan penomoran Kuesioner

1

Sungai

Putat Rotan Udang

15 14. Melakukan wawancara di Dusun Rotan Udang (sampel acak) sebanyak 15 petani

15. Kembali ke Penginapan

16. Cleaning dan penomoran Kuesioner

1

Sungai Putat

Kalimantan

15 17. Melakukan wawancara di Dusun Kalimantan (sampel acak) sebanyak 15 RT petani 18. Kembali ke Penginapan

19. Cleaning dan penomoran Kuesioner

1

Sungai Putat 15 20. Melakukan wawancara di Dusun Sungai Putat (sampel acak) sebanyak 15 petani

21. Kembali ke Penginapan

22. Cleaning dan penomoran Kuesioner

1

Sungai Putat

 Jambi

23. Menyerahkan Kuesioner yang sudah dianggap bisa langsung di entry dan di analisis

1

Selain wawancara terhadap responden rumah tangga petani, dilakukan juga wawancara terhadap informan kunci yaitu para pedagang pengumpul tingkat desa. Wawancara dilakukan terhadap pedagang pengumpul pinang, kelapa sawit dan kelapa (Gambar 6).

Tujuan wawancara untuk mengidentifikasi rantai pemasaran pinang, kelapa dan kelapa sawit yang merupakan tiga komoditas utama yang menjadi sumber penghasilan petani Desa Sinar Wajo.

(19)

16 Gambar 6. Wawancara dengan pengepul pinang (kiri) dan bedeng pengeringan

pinang milik pengepul Desa Sinar Wajo (kanan)

Work Package 2 (WP 2):

Pengembangan insentif untuk mendorong partisipasi masyarakat Tujuan:

Mengembangkan kebijakan insentif untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam restorasi lahan gambut bekas terbakar.

Kegiatan yang dilakukan:

a. Sosialisasi dan FGD untuk mendorong partisipasi

Untuk mendorong partisipasi masyarakat telah dilakukan kegiatan sosialisasi tentang kegiatan riset aksi pada tingkat desa dan pada kelompok tani sasaran.

Selain itu dilakukan juga Focus Group Discussion (FGD) dengan kelompok tani yang akan diajak bekerjasama dalam upaya restorasi lahan gambut (Gambar 7).

Gambar 7. Sosialisasi dan FGD dengan petani Sungai Nek, Desa Sinar Wajo

(20)

17 b. Pengembangan Insentif dan Partisipasi Petani melalui Kesepakatan

Kerjasama

Dalam kegiatan penelitian ini, Tim Peneliti IPB bekerjasama dengan petani di Sungai Nek yang tergabung dalam kelompok tani yang diikat dalam perjanjian kerjasama yang ditandatangani oleh Ketua Tim Peneliti IPB mewakili seluruh anggota tim peneliti sebagai pihak pertama dan ketua kelompok tani Sungai Nek mewakili seluruh petani mitra sebagai pihak kedua.

c. Penyusunan Tata Hubungan Kerja untuk Peningkatan Partisipasi

Untuk meningkatkan partisipasi berbagai pihak, maka disusun tata hubungan kerja dari kegiatan riset aksi ini. Tatahubungan kerja ini merupakan gambaran kerangka hubungan kerja antar stakeholder yang terlibat dalam kegiataan riset aksi untuk menjamin keberlanjutan hasil-hasil kegiatan riset aksi.

d. Pengembangan Insentif melalui Capacity Building

Pengembangan insentif bagi masyarakat agar berpartisipasi dalam kegiatan restorasi lahan gambut juga dilakukan melalui peningkatan kapasitas masyarakat khususnya petani melalui kegiatan studi banding dan pelatihan.

Work Package 3 (WP 3):

Perbaikan kondisi lahan gambut melalui pengayaan biodiversitas pada kebun kelapa sawit bekas terbakar

Tujuan:

Mengetahui bagaimana penanaman pengayaan dengan berbagai tingkat keragaman 1,3 dan 6 jenis pohon dapat mempengaruhi fungsi ekosistem, keanekaragaman tumbuhan, dan produktivitas lahan. Dapatkah keanekaragaman hayati dan ecosystem services dipulihkan melalui penanaman pengayaan dan apakah strategi pengayaan dengan melakukan peningkatan ecosystem services, secara positif mempengaruhi aspek ekonomi tanaman kelapa sawit? Dari penelitian ini diharapkan adanya peningkatan keanekaragaman flora dan fauna

(21)

18 pada plot-plot pengamatan, yang secara berangsur akan mengembalikan fungsi lahan gambut kembali.

Kegiatan yang dilakukan:

a. Survei kondisi biofisik lahan gambut bekas terbakar yang diatasnya terdapat pertanaman kelapa sawit rakyat

Survei kondisi biofisik lahan gambut di lokasi penelitian bertujuan memperoleh data dasar (baseline data) kondisi biofisik yang meliputi kajian terhadap kondisi vegetasi, kondisi fisik, kimia dan biologi tanah, termasuk kedalaman gambut dan tinggi muka air. Survei ini juga ditujukan untuk mengidentifikasi dan memilih calon lokasi plot percobaan pengayaan biodiversitas.

b. Melakukan Participatory Rural Appraisal dan Participatory Planning untuk pengembangan model pengayaan biodiversitas di kebun sawit bekas terbakar di kawasan gambut

Pembangunan plot model pengayaan melibatkan masyarakat dengan metode learning by doing. Oleh karena itu, pelibatan masyarakat dimulai dari sejak awal yaitu melalui pengkajian kondisi awal secara partsipatif sehingga tumbuh pengetahuan dan pemahaman masyarakat akan kondisi lingkungan penghidupan mereka, serta pelibatan masyarakat dalam perencanaan kegiatan melalui participatory planning. Dengan demikian diharapkan partisipasi masyarakat akan terus tumbuh dan berkembang menjadi kemandirian dan inisiatif masyarakat.

c. Melakukan persiapan pengembangan model pengayaan biodiversitas melalui pelatihan pembibitan jenis tanaman yang akan ditanam dalam model pengayaan biodivesitas, persiapan lahan dan pengadaan input produksi Persiapan penerapan model pengayaan biodiversitas dilakukan dengan persiapan bibit, lahan pada calon lokasi model dan penyediaan input produksi yang dilakukan bersama masyarakat.

d. Pembangunan plot pengayaan biodiversitas melalui partisipasi masyarakat.

Demplot pengayaan biodiversitas pada kebun kelapa sawit di lahan gambut bekas terbakar akan menerapkan konsep pengayaan biodiversitas dengan pola

(22)

19 tanam “island enrichment planting” dimana beberapa jenis pohon yang sesuai ditanam di lahan gambut akan ditanam secara berkelompok membentuk

“pulau pepohonan” yang tersebar secara teratur pada hamparan kebun kelapa sawit. Konsep pengayaan biodiversitas yang diterapkan mengacu kepada riset CRC990 dengan beberapa modifikasi jenis tanaman dan jumlah plot.

Dalam kegiatan riset aksi ini, tidak seperti dalam penelitian CRC990 jumlah plot yang akan dibangun sebanyak 30 buah dengan ukuran, 20x20 m, 10x10m, dan 5x5m masing-masing sebanyak 10 plot dimana satu diantaranya menjadi kontrol. Plot diletakan secara acak terstruktur dengan jarak antar plot sekitar 50 m, sehingga total luas plot sekitar 0.525 ha tersebar pada lahan kebun sawit sekitar seluas 50 ha. Jarak tanam untuk tanaman pengayaan 2 x 2 m . Plot-plot akan memiliki 3 tingkat diversitas tanaman yaitu 1 jenis pohon, 3 jenis pohon, dan 6 jenis pohon. Jenis pohon yang ditanam berdasarkan preferensi petani melalui FGD dengan kelompok tani sasaran.

(23)

20 BAB III

HASIL KEGIATAN DAN PEMBAHASAN

3.1.PENGKAJIAN KONDISI SOSIAL EKONOMI KELEMBAGAAN DAN REVITALISASI PENGHIDUPAN (WP # 1)

3.1.1. Kondisi Umum Desa Sinar Wajo Letak Desa

Secara geografis, Desa Sinar Wajo berada di bagian tengah kecamatan dan berbatasan langsung dengan desa di Kecamatan Mendahara. Jarak Desa ke Ibukota Kecamatan ± 18 Km, dapat ditempuh lewat perjalanan darat dan sungai.

Jika melalui jalan darat lebih kurang 60 menit perjalanan dengan menggunakan kenderaan roda dua dan roda empat. Namun jika menggunakan transportasi sungai waktu tempuhnya lebih cepat 20 menit. Jarak ke Ibukota Kab. ± 72 Km ditempuh dengan waktu lebih kurang 2 Jam dan ± 90 Km dari Ibukota Propinsi yang ditempuh lebih kurang 2 jam 30 menit perjalanan darat dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Desa ini berada di pinggiran kiri kanan Sungai Mendahara. Jarak dari desa ke pusat kecamatan, kabupaten dan provinsi dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini.

Tabel 4. Jarak Desa ke Pusat Pemerintahan/Ekonomi.

Jarak (km)

Desa Sungai Sinar Wajo

Ibu Kota Kec.

Ibu Kota Kab.

Ibu Kota Prov.

Desa Sinar

Wajo 0 18 72 90

Ibu Kota Kec. 18 0 55 72

Ibu Kota Kab. 72 55 0 129

Ibu Kota Prov. 90 72 129 0

Sumber : RPJM Desa Sinar Wajo tahun 2016 - 2022 Batas dan Luas Wilayah

Berdasarkan data RPJM Desa Sinar Wajo 2016-2022, luas Desa Sinar Wajo adalah ± 7.364,83 Ha. Desa ini terbagi dalam enam dusun dan 24 RT. Dusun tersebut meliputi: Dusun Sinar Wajo, Dusun Makmur Indah, Dusun Suka Jaya, Dusun Rotan Udang, Dusun Sungai Putat, dan Dusun Kalimantan. Wilayah desa

(24)

21 ini bagian Timur dan Barat terbelah oleh Sungai Mendahara yang dipengaruhi oleh pasang surut dan langsung mengalir menuju laut Pantai Timur Sumatera.

Hingga saat ini sungai tersebut masih menjadi jalur transportasi utama masyarakat di desa ini. Secara administratif, desa ini berbatasan dengan :

- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Sungai Beras.

- Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Pematang Rahim.

- Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Mencolok.

- Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Pandan Sejahtera.

Dari luas wilayah Desa Sinar Wajo tersebut di atas, menurut penggunaan lahan adalah :

- perumahan / pemukiman dan pekarangan : 20,5 Ha

- Sawah : -

- Ladang / huma : - - Perkebunan Rakyat :

 Kebun Kelapa Sawit : 1050 Ha

 Kebun Kelapa Lokal : 523 Ha

 Kebun Karet : 10 Ha

 Kebun Pinang : 960 Ha - Kolam / tambak : - - Sungai / kali : 5 Ha

- Jalan : 9 Ha

- Situ : -

- Pemakaman / kuburan : 3 Ha - Perkantoran : 0,3 Ha - Pasar / tempat parkir : - - Lapangan olah raga : 1,5 Ha - Bangunan industri : - - Bangunan pendidikan : 1,2 Ha - Bangunan peribadatan : 2 Ha - Bangunan kesehatan : 0,04 ha - Tanah pengangonan : - - Lain-lain penggunaan (hutan desa) : 4780,79 Ha

Kependudukan

Berdasarkan data Desa Dalam Angka 2017, jumlah penduduk Desa Sinar Wajo sebanyak 691 KK. Dari jumlah KK tersebut, total penduduk desa ini berjumlah 2.283 jiwa. Sedangkan jumlah rumah tangga adalah 691, sehingga rata-rata anggota rumah tangga adalah 3.30 jiwa/rumah tangga. Komposisi jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin adalah laki-laki sebanyak 1.207 jiwa dan perempuan 1.076 jiwa. Perbandingan ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk

(25)

22 berdasarkan jenis kelamin, jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan. Selisih antara jumlah penduduk laki-laki dan perempuan ini hanya berkisar di angka 131 jiwa. Persentasi perbandingan jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat di lihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Perbandingan Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin.

Laki-Laki % Perempuan % Jumlah Total % 1.207 Jiwa 52,87 1.076 Jiwa 47,13 2.283 Jiwa 100 Sumber : Desa dalam Angka 2017.

Kepadatan penduduk di Desa Sinar Wajo adalah sebesar 33.24 jiwa/km2. Jika dibandingkan dengan tingkat kepadatan desa lainnya dalam Kecamatan Mendahara Ulu, tingkat kepadatan di desa ini termasuk dalam desa dengan kepadatan penduduk di atas rata-rata (kepadatan rata-rata kecamatan 32.86 jiwa/km2).

Ketersediaan Tenaga Pendidik Dan Kesehatan

Menurut Data Kecamatan dalam Angka 2016, ketersediaan tenaga pendidik yang ada di Desa Sinar Wajo adalah sebagai berikut:

 Guru SD/MI sebanyak 9 orang yg mengajar 218 siswa dalam 1 (satu) unit fasilitas tingkat sekolah dasar.

 Guru SLTP /MTs sebanyak 6 orang yg mengajar 67 siswa dalam 1 (satu) unit fasilitas tingkat sekolah menengah pertama.

Sedangkan untuk tenaga kesehatan yang ada di Desa Sinar Wajo adalah sebanyak 4 orang bidan yang tersebar di 1 (satu) Puskesmas Pembantu (Pustu) dan 2 (dua) Posyandu serta terdapat 1 (satu) praktek bidan dengan izin khusus.

Kondisi Sosial Kemasyarakatan

Berdasarkan data Kantor Desa dalam Kecamatan Dalam Angka 2016, suku mayoritas yang tinggal di Desa Sinar Wajo adalah Suku Bugis. Banyaknya pemeluk agama di Desa Sinar Wajo mayoritas adalah penduduk beragama Islam sebanyak 2.165 orang dengan ketersedian 5 (lima) masjid atau mushola sebagai

(26)

23 tempat beribadah serta sisanya adalah beragama Kristen. Banyaknya lembaga sosial kemasyarakatan berupa yayasan adalah sebanyak 7 lembaga dan 1 majelis ta’lim, serta 6 perkumpulan kesenian musik.

3.1.2. Kondisi Pola Penghidupan Masyarakat Karakteristik Umum Responden Petani

Data demografis untuk responden petani (114 responden) dilihat dari asal suku didominasi oleh Suku Jawa dengan jumlah persentase 35.1% disusul oleh Suku Bugis sebesar 31.6% dan Banjar sebesar 28.1%, serta sisanya adalah suku Melayu dan Minang. Berikut adalah daftar lengkap hasil olahan data asal suku masyarakat Desa Sinar Wajo:

Tabel 6. Asal Suku Masyarakat Desa Sinar Wajo

Frequency Percent Valid

Percent

Cumulative Percent

Valid

Banjar 32 28.1 28.1 28.1

Bugis 36 31.6 31.6 59.7

Jawa 40 35.1 35.1 94.8

Melayu 3 2.6 2.6 97.4

Minang 3 2.6 2.6 100.0

Total 114 100.0 100.0

Adapun pendidikan terakhir responden petani berdasarkan jenjang pendidikan didominasi oleh lulusan SD sebanya 52.6%.

Tabel 7. Pendidikan Terakhir Responden Petani Frequency Percent

Valid Percent

Cumulative Percent Valid Tidak

Sekolah 22 19,3 19,3 19,3

SD 60 52,6 52,6 71,9

SLTP 22 19,3 19,3 91,2

SLTA 10 8,8 8,8 100,0

Total 114 100,0 100,0

Anasisis Mata Pencaharian

Berdasarkan kajian sosial ekonomi diperoleh beberapa mata pencaharian meliputi:

Petani sawit, petani pinang, petani kopi, petani kelapa, buruh tani, pedagang, peternak pencari sarang wallet, petani kopra, guru, pegawai desa, dan lainnya.

(27)

24 Mata pencaharian sebagai petani sawit menjadi mata pencaharian utama masyarakat Desa Sinar Wajo.

Rata-rata luas lahan kepemilikan petani responden terhadap kebun kelapa sawit di Desa Sinar Wajo adalah sebesar 1.62 Ha dengan maksimum kepemilikan petani mencapai 6.5 Ha. Sedangkan, rata-rata kepemilikan lahan untuk komoditas kelapa dalam dan pinang adalah masing-masing sebesar 1.26 Ha dan 1.09 Ha. Berikut merupakan table data rekapitulasi pengelolaan aset dari masyarakat Desa Sinar Wajo.

Tabel 8. Data Rekapitulasi Pengelolaan Aset Petani Desa Sinar Wajo

Mean

Standar d Deviatio

n

Maximum Minimum Median Mode

Kebun Sawit_Luas (Ha) 1,62 1,33 6,50 ,40 1,00 1,00

Kebun Kelapa Dalam_Luas

(Ha) 1,26 1,03 4,00 ,25 1,00 ,50

Kebun Pinang_Luas (Ha) 1,09 0,85 4,00 ,25 1,00 ,50

Rumah_Luas (Ha) 0,1097 0,2258 1,0000 ,0012 ,0090 ,5000

Sawah_Luas (Ha) . . . 0

Kolam_Luas (Ha) . . . 0

Jika dilihat lebih jauh kepemilikan lahan petani per komoditas (kelapa sawit) menunjukkan bahwa luas lahan kebun kelapa sawit yang dimiliki oleh petani sebagian besar hanya terdiri dari satu persil atau hamparan (78.1%) sisanya terbagi menjadi beberapa persil.

Tabel 9. Jumlah Persil Lahan Kelapa Sawit Petani Desa Sinar Wajo

Frequency Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid 1 89 78,1 78,1 78,1

2 13 11,4 11,4 89,5

3 7 6,1 6,1 95,6

4 5 4,4 4,4 100,0

Total 114 100,0 100,0

(28)

25 Berdasarkan hasil kajian sosial ekonomi menunjukan bahwa status lahan hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat adalah hak milik (pribadi, lahan milik orang tua dan warisan) (95.6%), sisanya adalah hutan negara, HGU/HPH/HGH. Akses petani ke kebun sawit sebagian besar diakses menggunakan motor, sisanya petani mengakses kebun kelapa sawit dengan berjalan kaki atau menggunakan pompong (perahu).

Gambar 6. Status Lahan Hutan yang Dimanfaatkan Masyarakat Desa Sinar Wajo

Gambar7. Rata-rata Produksi Kelapa Sawit Petani Desa Sinar Wajo (Ton/Ha)

95%

3% 2%

Hak Milik Hutan Negara HGU/HGH/HPH

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00

12.60 12.38

2015 2016

(29)

26 Rata-rata produksi petani kelapa sawit Desa Sinar Wajo mengalami penurunan dari 12.6 ton/ha pada tahun 2015 menjadi 12.38 ton/ha pada tahun 2016. Dari segi aspek pengelolaan lahan kebun kelapa sawit masyarakat setempat sebagian besar tidak melakukan pemupukan pada lahannya (47%). Sisanya melakukan pemupukan dengan variasi 1-3 kali dalam setahun. Beberapa jenis pupuk yang digunakan untuk pemupukan lahan kebun kelapa sawit: dolomit, paratop, NPK, SP36, urea, phonska, suburin, kandang dan lainnya.

Gambar 8. Pemupukan Petani pada Lahan Kelapa Sawit

Beberapa permasalahan yang dihadapi masyarakat atau petani Desa Sinar Wajo dalam melakukan berbagai mata pencaharian (kelapa sawit, pinang, dan lainnya), meliputi: infrastruktur atau akses jalan, transportasi, pasang surut air sungai, tanaman tidak produktif, serta harga yang berfluktuasi, akses permodalan, akses bibit berkualitas, hama tanaman, akses pasar, dan lainnya. Organisme pengganggu tanaman (OPT) dilahan masyarakat sebagian besar kasus terjadi disebabkan oleh hewan babi yang seringkali merusak kebun, selain itu terdapat pula hewan tupai, monyet, landak, tikus serta burung sebagai organisme pengganggu tanaman.

Rantai Pemasaran Pinang dari Desa Sinar Wajo

Pinang merupakan salah satu komoditi utama yang diusahakan oleh masyarakat Desa Sinar Wajo. Rantai pemasaran pinang dari Desa Sinar Wajo disajikan pada Gambar 9.

Pinang dari petani dijual kepada pedagang pengumpul desa. Sebagian petani menjual pinang setelah dikupas, dibelah dua dan dikeringkan. Ada pula petani

32%

7% 14%

47% 1 Kali/tahun

2 Kali/tahun 3 Kali/tahun Tidak Pernah

(30)

27 yang menjual pinang basah tanpa dikeringkan setelah dikupas dan dibelah. Ketika membutuhkan uang dengan cepat, petani kadang menjual pinang secara gelondongan tanpa proses pengupasan.

Gambar 9. Rantai pemasaran pinang dari sinar wajo

Proses Produksi pinang Pengupasan Pengeringan

Pengupasan Pengeringan

Pengeringan Proses lanjutan Ekspor

Konsumen industri

Harga Rp 1.800/kg pinang gelondongan Rp 8000-9000/kg pinang kupas basah

Rp 17.000/kg pinang kupas kering

Rp 18.000/kg pinang kupas kering

Biaya Upah kupas Rp 1.500/kg pinang kupas

Upah kupas Rp 1.500/kg pinang kupas

Upah buruh angkut Rp 60.000/ton atau Rp 60/kg Ongkos angkut dengan

kendaraan Rp 100/kg pinang

Harga beli pada tingkat petani saat survey dilakukan untuk pinang yang memiliki kualitas bagus dan kondisi basah sekitar Rp 8.000 sampai dengan Rp 9.000/kg.

Afganistan India

Petani Pedagang

pengumpul desa

PT. Sena di Jambi

(31)

28 Harga beli pinang yang sudah dikeringkan dari petani yang memiliki kualitas bagus dengan kadar air 5 – 3% sekitar Rp 17.000/kg. Adapun harga pinang gelondongan Rp 90.000/karung dengan berat rata-rata sekitar 50 kg/karung atau sekitar Rp 1.800/kg buah pinang.

Pinang gelondongan yang dibeli pedagang pengumpul dari petani akan dikupas, dibelah dan dikeringkan. Pedagang pengumpul biasanya mempekerjakan wanita untuk proses pengolahan pinang gelondongan menjadi pinang kupas kering. Di rumah tangga petani, proses pengupasan dan pembelahan pinang juga umumnya menjadi pekerjaa wanita. Rumah tangga petani berlahan luas umumnya juga mempekerjakan tenaga upahan dalam memproses pengupasan dan pengeringan pinang. Upah pengupasan dan pembelahan pinang Rp 1500 per kg pinang kupas.

Rata-rata seorang pekerja wanita bisa mengupas pinang 30-50 kg/hari.

Pedagang pengumpul umumnya mengeringkan kembali pinang kupas yang dibeli dari petani untuk mencapai kualitas yang diinginkan oleh perusahaan pengolah pinang seperti PT Sena, yang berlokasi di kota Jambi. Pinang berkualitas baik bila kadar airnya mencapai 5% sampai 3%. Untuk menguji kadar air pinang, cara yang dilakukan pedagang adalah dengan menggunting pinang yang telah dikeringkan.

Pedagang pengumpul dari Desa Sinar Wajo menjual pinang yang telah dikeringkan ke PT. Sena yang berlokasi di kota Jambi. Pengangkutan pinang kering menggunakan kendaraan roda empat. Untuk menaikkan pinang ke kendaraan angkut dilakukan oleh buruh angkut yang mendapat upah Rp 60 000/ton. Ongkos kendaraan roda empat juga dihitung berdasarkan berat pinang yaitu Rp 100/kg.

Rantai Pemasaran Sawit dari Desa Sinar Wajo

Rantai pemasaran kelapa sawit dari Desa Sinar Wajo lebih sederhana dan tidak ada proses pasca panen baik pada tingkat petani maupun pada tingkat pedagang pengumpul karena kelapa sawit harus segera diolah di pabrik kelapa sawit pada waktu yang cepat dan lebih baik pada hari yang sama dengan pemanenan. Proses pengolahan yang cepat akan menghasilkan rendemen minyak sawit yang tinggi

(32)

29 dan berkualitas baik. Oleh karena itu petani hanya melakukan proses produksi buah kelapa sawit sampai pemanenan. Sedangkan pedagang pengumpul desa hanya menampung hasil panen petani. Petani juga yang mengantarkan hasil panen kelapa sawit dari kebun ke lokasi penampungan milik pedagang pengumpul.

Harga kelapa sawit yang diterima petani pada saat survey dilakukan sekitar Rp 1.250-Rp 1.350/kg. Pedagang pengumpul menjual kelapa sawit ke perusahaan pengolah minyak sawit atau Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dengan harga Rp 1.700/kg.

Gambar 10. Rantai pemasaran kelapa sawit dari Desa Sinar wajo

Rantai Pemasaran Kelapa di Desa Sinar Wajo

Rantai pemasaran kelapa atau yang diistilahkan petani sebagai kelapa dalam untuk membedakan dengan kelapa sawit tergolong sederhana. Namun pada tingkat petani selain memproduksi kelapa juga dilakukan pengolahan dalam bentuk kopra yaitu kelapa kupas yang telah dikeringkan atau kelapa gelondongan.

Proses Produksi sawit Panen

Pengangkutan

Pengumpulan Pengangkutan

Pengolahan menjadi minyak sawit Harga Rp 1.250 –

Rp 1.350/kg

Rp 1.700/kg

Proses Produksi kelapa Panen

Pengupasan Pengeringan Pengangkutan

Pengumpulan Pengupasan Pengeringan Pengangkutan

Pengolahan menjadi minyak sayur

Harga Kelapa

gelondongan Rp

Rp 5.700/kg

Petani Pedagang

pengumpul desa

Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT. Sena di Jambi

Petani Pedagang

pengumpul desa

Pabrik Pengolah Minyak Kelapa PT. KT di Jambi

(33)

30 Gambar 11. Rantai pemasaran kelapa dari Desa Sinar Wajo

Pedagang pengumpul menjual kelapa ke pabrik yang mengolah kopra menjadi minyak sayur dalam bentuk kopra. Oleh karena itu, pedagang harus melakukan proses pengolahan kopra untuk kelapa yang duijual petani dalam bentuk gelondongan.

Harga kelapa tergantung kualitas, dimana kelapa yang baik harganya Rp 1.500/butir sedangkan kelapa yang ada “tumbung”nya sehingga membuat daging kelapa menjadi tipis hanya diberi harga Rp 1200 per butir. Kelapa yang telah diolah menjadi kopra dibeli pedagang pengumpul dari petani seharga Rp 500.000/kuital atau Rp 5.000/kg. Pedagang pengumpul menjual kelapa ke pabrik pengolah yang berada di kota Jambi dalam bentuk kopra dengan harga Rp 5.700/kg.

Petani umumnya melakukan proses pengupasan dan pencungkilan daging buah kelapa langsung di kebun. Hal tersebut dilakukan untuk mempermudah proses pengangkutan ke rumah untuk seterusnya dilakukan pengeringan dengan cara dijemur di bawah sinar mata hari. Sedangkan bila petani menjaul buah kelapa gelondongan, maka petani biasanya langsung mengangkut buah kelapa ke tempat

1.200 – Rp 1.500/butir Kopra Rp 5.000/kg

Biaya Upah mengupas dan mencungkil kelapa Rp 130/butir

Upah mengupas dan mencungkil kelapa Rp 130/butir

Biaya angkut dari petani Rp 50/kg Biaya angkut ke Jambi Rp 500.000 dengan mobil bak L-300 atau Rp 1.000.000 dengan truk

(34)

31 pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul kemudian akan melakukan proses pengolahan kelapa tersebut menjadi kopra. Untuk proses pengupasan dan pencugkilan buah kelapa umumnya dilakukan oleh buruh laki-laki dengan upah Rp 130/butir kelapa.

Pengangkutan kopra dari dari petani ke lokasi pedagang pengumpul dilakukan oleh petani namun biaya angkut ditanggug oleh pedagang pengumpul dengan biaya Rp 50/kg. Pengangkutan dari petani umumnya menggunakan perahu pompon. Sedangkan pengangkutan kopra dari pedagang pengumpul ke pabrik pengolah di kota Jambi dilakukan menggunakan kendaraan roda emapat yaitu mobil bak L-300 dengan ongkos Rp 500.000/angkut atau dengan truk Rp 1.000.000/angkut.

3.2. PENGEMBANGAN INSENTIF UNTUK MENDORONG PARTISIPASI MASYARAKAT (WP# 2).

3.2.1. Sosialisasi dan FGD untuk mendorong partisipasi

Riset aksi restorasi lahan gambut melalui pendekatan pengayaan biodiversitas ini dilaksanakan di kawasan Hak Pengusahaan Hutan Desa dengan melibatkan petani pengelola lahan. Terdapat 10 orang petani kelapa sawit yang bersedia bekerjasama dalam kegiatan riset aksi ini khususnya bersedia lahan miliknya dengan total luas sekitar 21 Ha dijadikan sebagai lokasi plot pengayaan biodiversitas (Tabel 9).

Tabel 9. Daftar nama petani calon mitra riset aksi, luas lahan dan existing tanaman

No Nama Petani Luas lahan (Ha) Jenis tanaman di lahan

1 Masyuri 2 Sawit, Jelutung

2 Selamet 2 Sawit, Jelutung

3 Seni 3 Sawit, Jelutung, Pinang

4 Seno 2 Sawit, Pinang

5 Sumardi 2 Sawit, Pinang

6 Samuri 2 -

7 Jimat 1 Sawit

8 Jarwo 3 Sawit

9 Menir 2 Sawit

10 Udin 2 Sawit

Total 21

(35)

32 Para petani calon mitra riset aksi ini belum tergabung dalam kelompok tani.

Untuk mempermudah komunikasi dan pelaksanaan kegiatan riset aksi, maka dibentuk lembaga kelompok tani sebagai wadah dari petani mitra riset aksi ini.

Pembentukan kelompok tani difasilitasi oleh tim riset aksi dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) pada tingkat kelompok tani. FGD pembentukan kelompok tani akan melibatkan stakeholder pada tingkat desa, seperti ketua dan pengurus Kelompok Pengelola Hutan Desa (KPHD) serta aparat Desa Sinar Wajo.

Ketua kelompok tani mitra ini dijadikan sebagai kontak person utama dari riset aksi pada skala tapak.

3.2.2. Pengembangan Insentif dan Partisipasi Petani melalui Kesepakatan Kerjasama

Dalam kegiatan studi aksi ini tim peneliti bekerjasama dengan para petani yang sebelumnya merupakan petani individu yang belum menjadi anggota kelompok tani. Melalui kegiatan studi aksi ini dibentuk wadah kelompok petani mitra dengan nama Kelompok Tani Sri Rahayu yang beranggota 30 orang. Namun petani pemilik lahan sawit bekas terbakar yang menjadi lokasi plot penanaman pengayaan biodiversitas dalam studi aksi ini hanya berjumlah 10 petani. Hal tersebut karena 10 petani tersebut merupakan pemilik lahan yang saling berdekatan sehingga membentuk satu blok hamparan. Namun demikian, kegiatan studi aksi ini dilakukan dengan mengikut sertakan seluruh anggota kelompok tani.

Pembentukan kelompok tani sedang dalam proses legalisasi kelompok dengan melakukan pendaftaran ke Kantor Desa Sinar Wajo untuk dibuatkan berita acara dan surat keputusan kepala desa. Selain itu, telah dibentuk struktur organisasi kelompok tani berdasarkan hasil musyawarah kelompok tani dengan didampingi tim peneliti.

Untuk memperkuat hubungan kerjasama antara tim peneliti dengan kelompok tani maka dibuat perjanjian kerjasama yang ditandatangani oleh Ketua Tim Peneliti IPB mewakili seluruh anggota tim peneliti sebagai pihak pertama dan ketua kelompok tani Sungai Nek mewakili seluruh petani mitra sebagai pihak kedua. Di dalam perjanjian kerjasama tercantum nama, kegiatan dan jangka kerjasama, hak

(36)

33 dan kewajiban para pihak, serta pasal penyelesaian perselisihan. Perjanjian kerjasama akan ditandatangi oleh Kepala Desa sebagai saksi dan pemberi persetujuan dari pihak pertani dan oleh Direktur Riset dan Inovasi IPB sebagai saksi dan pemberi persetujuan dari tim peneliti. Draft surat perjanjian kerjasama sebagaimana pada Lampiran 2.

Untuk memperlancar kegiatan riset aksi, maka tim peneliti juga melakukan kerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat yang berada di Jambi yaitu KKI- WARSI. Dalam kegiatan ini WARSI menjadi salah satu pendamping lokal khususnya dalam pendekatan kepada masyarakat Desa Sinar Wajo karena WARSI telah dan sedang bekerjasama dengan masyarakat Desa Sinar Wajo sehingga mereka lebih mengenal baik kondisi masyarakat lokal. Untuk memperkuat kerjasama dan pendampingan dari WARSI kepada tim peneliti maka akan dibuat Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MOU) antara IPB dengan WARSI. Sampai kegiatan ini selesai dilakukan pembuatan MoU dengan WARSI belum dilaksanakan karena keterbatasan waktu.

3.2.3. Tata Hubungan Kerja untuk Peningkatan Partisipasi

Untuk meningkatkan partisipasi berbagai pihak, maka telah disusun tata hubungan kerja dari kegiatan riset aksi ini. Dalam kegiatan riset aksi ini, Tim Peneliti IPB bekerjasama dengan petani di Sungai Nek yang tergabung dalam kelompok tani yang diikat dalam perjanjian kerjasama.

Kelompok tani mitra tim peneliti merupakan bagian dari kelompok tani yang menjadi bagian dari Kelompok Pengelola Hutan Desa (KPHD) Sinar Wajao karena lokasi kebun-kebun sawit yang dilekola para petani tersebut terletak di kawasan hutan desa Sinar Wajo. KPHD Sinar Wajo merupakan lembaga kemasyarakatan formal yang berada di bawah Pemerintahan Desa Sinar Wajo dan dibentuk sebagai bagian dari kewajiban untuk memperoleh SK Menteri KLHK tentang Ijin Pengelolaan Hutan Desa (IPHD).

Dalam kegiatan riset aksi ini, Tim Peneliti IPB membangun demplot pengayaan biodiversitas di lahan kebun yang dikelola petani yang tergabung dalam kelompokm tani Sungai Nek yang berada dalam kawasan hutan desa.

(37)

34 Pembangunan demplot akan dilakukan bekerjasama dengan para petani pengelola lahan, dimana tanaman yang ditanam pada demplot tersebut akan menjadi milik petani pada akhir daur. Tim peneliti hanya mengambil data-data pertumbuhan dan memonitor perkembangan dari tanaman pada demplot tersebut. Untuk melakukan pembangunan dan memonitor perkembangan tanaman pada demplot maka dipekerjakan seorang pendamping lapang yang akan bekerja berdampingan dengan petani. Selain itu tim peneliti bekerjasama dengan LSM lokal yaitu KKI WARSI khususnya dalam melakukan pendekatan kepada masayarakat dan memonitor perkembangan dan pertumbuhan tanaman pada demplot percobaan.

Seluruh kegiatan penelitian ini dilaporakan kepada Badan Restorasi Gambut (BRG) sebagai penyandang dana dari kegiatan riset aksi (Gambar 12).

= Hubungan kerja langsung

= Hubungan kerja tidak langsung

Gambar 12. Tata hubungan kerja pengelolaan plot pengayaan biodiversitas sebagai bagian dari riset aksi

3.2.4. Pengembangan Insentif melalui Capacity Building

Untuk semakin meningkatkan motivasi dan mendorong partisipasi petani dalam restorasi lahan gambut, maka telah dilakukan kegiatan capacity building berupa studi banding atau kunjugan lapang petani ke plot percobaan pengayaan biodiversitas yang dilakukan oleh tim peneliti yang tergabung dalam kegiatan

Tim Peneliti IPB Petani

Kelompok Tani Sungai Nek

Plot Pengayaan Biodiversitas KPHD

Sinar Wajo

PemDes Sinar Wajo

Pendamping Lapang

LSM WARSI

BRG

(38)

35 penelitian CRC990 yang terletak di perkebunan sawit PT Humusindo di Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari. Sebanyak 20 orang petani mengikuti kegiatan kunjungan lapang tersebut.

Gambar 13. Kunjungan lapang petani ke plot pengayaan biodiversitas penelitian CRC990 di Kab Batanghari

Selain kunjungan lapang, kegiatan capacity building lainnya adalah pelatihan pembuatan arang briket dan pembuatan kompos. Hasil kajian kondisi penghidupan masyarakat menunjukkan bahwa kelapa dan pinang merupakan komoditas utama yang ditanam petani selaian kelapa sawit. Kelapa dan pinang umumnya dijual petani dalam bentuk kelapa kupas dan pinang kupas. Kelapa umumnya dikupas langsung di kebun untuk memudahkan pengangkutan sedangkan pinang karena berukuran lebih kecil maka umumnya dikupas di rumah oleh tenaga kerja wanita.

Limbah kelapa berupa batok kelapa dan sabut kelapa serta limbah pinang berupa batok dan sabut pinang umumnya belum dimanfaatkan oleh petani dan hanya dibuang begitu saja. Kadangkala dibakar di tempat apabila limbah sudah cukup banyak dan abu serta arangnya disebar di kebun sebagai pupuk. Namun umumnya limbah kelapa dan pinang hanya dibiarkan begitu saja atau dibuang ke pinggir parit dan sungai.

Limbah kelapa dan pinang tersebut merupakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan dan bisa bernilai ekonomi. Oleh karena itu, sebagai bagian dari revitalisasi penghidupan masyarakat maka dilakukan pelatihan pembuatan arang

(39)

36 briket berbahan batok kelapa serta pembuatan kompos dari limbah pinang dan limbah pertanian serta rumah tangga lainnya.

Kegiatan pelatihan pembuatan briket arang dan kompos yang dilaksanakan pada 12-13 Desember 2017, dengan jumlah peserta sebanyak 32 orang petani yang berasal dari kelompok tani Sri Rahayu, Desa Sinar Wajo.

Gambar 14. Limbah Kelapa Dalam dan Pinang Desa Sinar Wajo

Secara umum pelaksanaan pelatihan ini dibagi menjadi 3 sub-kegiatan yang dilaksanakan selama 2 hari, yaitu persiapan bahan dan alat pelatihan, pemberian materi, dan pelaksanaan pelatihan.

1. Persiapan bahan dan alat

Gambar 15. Peralatan Pelatihan Pembuatan Arang Bricket dan Kompos Bahan-bahan dan alat yang disiapkan untuk kegiatan pelatihan pembuatan briket arang diantaranya drum/tungku bakar, arang batok kelapa, dan pemotongan paralon untuk pencetakan briket arang, dan tepung tapioka. Sedangkan pelatihan

(40)

37 pembuatan kompos dipersiapkan formula EM4, gula merah, urea, larutan kelapa, dan bonggol pisang serta sabut kelapa.

2. Pemberian materi pelatihan

Pemberian materi pelatihan pembuatan briket arang dan kompos disampaikan oleh Bapak Dr. Andri Sukendro kepada peserta pelatihan.

Presentasi materi meliputi pengenalan, tahapan pembuatan briket arang dan kompos. Disampaikan pula video berdurasi rata-rata 30 menit yang menjelaskan tahapan masing-masing. Kegiatan pemberian materi ditutup dengan diskusi antara pemateri dengan peserta pelatihan.

Gambar 16. Penyampaian Presentasi Materi Pelatihan

3. Pelaksanaan pelatihan pembuatan briket arang dan kompos a. Pembuatan briket arang

Pelaksanaan pembuatan briket arang diawali dengan menumbuk arang hasil pembakaran hari sebelumnya. Pembakaran 1 drum batok kelapa menyisakan ¼ drum arang. Kecilnya rendemen arang yang dihasilkan diduga saat proses pembakaran terdapat ruang diantara batok kelapa. Sehingga direkomendasikan untuk memperkecil ukuran batok sehingga isi drum bisa lebih optimal. Tahapan selanjutnya adalah pencampuran arang dengan bahan perekat. Bahan perekat yang diunakan terbuat dari tepung tapioka dan air dengan perbandingan 1 : 10. Arang yang telah diberikan perekat kemudian dicetak dengan menggunakan paralon PVC. Briket arang yang dihasilkan dijemur dengan memanfaatkan sinar matahari selama 2 hari.

(41)

38 Gambar 17. Pelatihan Pembuatan Arang Bricket

b. Pembuatan kompos

Pembuatan kompos diawali dengan mempersiapkan sabut kelapa, kotoran kambing, dan cacahan batang pisang yang dihamparkan di atas kain terepal. Penggunaan cacahan batang pisang dimaksudkan untuk mempercepat degradasi dari sabut kelapa. Sisa arang pada proses pembuatan briket pun dapat ditambahkan ke dalam campuran kompos.

Larutan EM4 yang telah disiapkan sehari sebelumnya ditambahkan dengan menggunakan gembor. Campuran bahan kompos tersebut kemudian di tutup dengan menguanakan kain terepal dan didiamkan selama kurang lebih 3 sampai dengan 4 minggu hingga siap untuk digunakkan. Selama 1 minggu sekali kain terepal dibuka dan dilakukan pengadukan bahan supaya kompos matang merata dan melakukan pengecekan terhadap kelembapan bahan kompos. Bila dirasa kurang lembap bahan kompos dalam terepal bisa diberikan air secukupnya.

Gambar 18. Peserta Pelatihan Pembuatan Briket Arang dan Kompos

(42)

39 3.3.PERBAIKAN KONDISI LAHAN GAMBUT MELALUI PENGAYAAN

BIODIVERSITAS PADA KEBUN KELAPA SAWIT BEKAS TERBAKAR (WP# 3)

3.3.1. Pemilihan Lokasi Demplot Pengayaan Biodiversitas

Pembangunan demplot pengayaan biodiversitas dilaksanakan di Parit Sungai Nek, Dusun Sinar Wajo, Desa Sinar Wajo. Jarak lokasi dari pusat desa ke Sungai Nek

±5 Km, dapat ditempuh melalui jalan darat dan sungai lebih kurang 15 menit.

Lokasi demplot terletak di kawasan Hutan Desa Sinar Wajo yang dikelola oleh para petani. Pemilihan lokasi demplot berdasarkan arahan dari ketua Kelompok Pengelola Hutan Desa (KPHD), dimana lokasi tersebut merupakan kebun kelapa sawit yang telah mengalami kebakaran pada tahun 2015. Hal tersebut sesuai dengan tujuan dari riset aksi yaitu melakukan restorasi lahan gambut di lokasi yang telah terbakar khususnya yang di atasnya terdapat pertanaman kelapa sawit milik masyarakat.

3.3.2. Kondisi Umum Hutan Desa Sinar Wajo

Hutan Desa Sinar Wajo memiliki luas sekitar 5.088 Ha telah ditetapkan melalui SK Kepala BPMD-PPT Provinsi Jambi Nomor 16/KEP.BPMD-PPT.4/II/2016 atas dasar SK Menteri Kehutanan Nomor 706/Menhut-II/2014 tertanggal 21 Agustus 2014 tentang Penetapan Areal Kerja Hutan Desa Sinar Wajo. Areal Hutan Desa Sinar Wajo mencakup sekitar 67% dari luas Desa Sinar Wajo secara keseluruhan. Sebagian areal hutan desa telah dikelola oleh masyarakat menjadi lahan pertanian dan pemukiman yangmana hal tersebut dilakukan sebelum terdapat penetapan kawasan tersebut menjadi hutan desa. Sebelumnya kawasan hutan desa tersebut masuk ke dalam kawasan hutan negara. Secara umum kondisi biofisik Hutan Desa Sinar Wajo disajikan pada Tabel 7.

Tabel 10. Kondisi biofisik Hutan Desa Sinar Wajo

1. Letak dan Luas

a. Lokasi :Hutan Desa Sungai Nek

b. Desa :Sinar Wajo

c. Kecamatan :Mandahara Ulu

(43)

40 d. Kabupaten :Tanjung Jabung Timur

e Provinsi :Jambi

f. DAS/Sub-Das :Batang Hari/Mandahara

2. Luas :± 5,088 Ha

3. Status lahan :Hutan Desa

4. Topografi

a. Tinggi tempat :5 - 30 mdpl

b. Kelerengan : 0 – 25 %

c. Konfigurasi lapangan : Datar – landai

5. Tanah

a. Jenis tanah :Gambut

b. Ketebalan Solum tanah : 20 - 500 cm c. Tingkat kesuburan : Sedang

d. Tingkat erosi : Rendah – Sedang

6. Iklim : A (Schmidt Fergusson)

- Tipe iklim :500 -1000 mm/tahun - Curah hujan : 155 hari

- Rata-rata hari hujan : 189,8 mm/bulan - Suhu rata-rata :30 -32 °C

- Kelembaban 82-89 %

7. Vegetasi lokasi semak belukar, sawit, Jelutung, pulai, kelapa, pinang, kopi

8. Satwa babi, beruang

Gambar 19. Peta Hutan Desa Sinar Wajo

(44)

41 3.3.3. Kondisi Umum Biofisik Parit Sungai Nek sebagai Lokasi Demplot Demplot pengayaan biodversitas terletak di kebun sawit milik 10 orang petani yang tinggal di kawasan Hutan Desa Sinar Wajo di sekitar Parit Sungai Nek.

Sebagian besar areal kebun sawit petani tersebut pada tahun 2015 mengalami kebakaran. Gambar 3 memperlihatkan lokasi demplot di hutan desa dengan lokasi kawasan hutan yang bekas terbakar.

Gambar 20. .Lokasi Plot Pengayaan Biodiversitas di Hutan Desa Sinar Wajo (Sumber peta: BPPS 2010; Citra landsat 8 https://earthexplorer.usgs.gov/ 2017) Lokasi demplot pengayaan biodiversitas berada di pertengahan sampai dekat ujung Parit Sungai Nek. Demplot meliputi kebun-kebun sawit yang terletak di kanan dan kiri Parit Sungai Nek. Kondisi biofisik Parit Sungai Nek disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11. Kondisi Biofisik Wilayah Parit Sungai Nek

NO Uraian Parit Nek

1 Panjang Parit Keseluruhan 7.200 m 2 Panjang parit (Mendahara - batas

HD)

3.900 m 3 Panjang Batas HD - Ujung Parit 3.300 m

Referensi

Dokumen terkait