270
AKTIVITAS KETERAMPILAN TANGAN KREATIF MEMBANGUN KARAKTER ENTREPRENEURSHIP ANAK
DI SD SANJAYA TRITIS
Yosia Pamardi, Dwi Agustina,
Kristiani Olivia Rasi dan Agnes Putri Wiraswasti Universitas Sanata Dharma
[email protected], [email protected], [email protected], [email protected]
DOI: doi.org/10.24071/snfkip.2018.29
Diterima 14 September 2018; diterbitkan 21 Desember 2018 Abstrak
Sisi ekonomi masyarakat yang tergolong rendah yaitu sebagai buruh penambang pasir yang kurang memahami sistem ekonomi berdampak pada semangat siswa dalam meraih cita-cita yang akan berhenti hanya sebatas pekerjaan orangtuanya.
Banyak dari siswa beranggapan bahwa mendapatkan penghasilan harus bekerja kepada pihak lain. Siswa juga tidak memahami pengetahuan entrepreneurship yang justru lebih penting sebagai bekal untuk menghadapi tantangan abad 21 dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Program ini bertujuan untuk membangun karakter entrepreneurship pada siswa-siswi SD Sanjaya Tritis, Purwobinangun, Pakem, Sleman, DIY melalui aktivitas keterampilan tangan kreatif. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan entrepreneurship pada anak, menghasilkan modul pendidikan entrepreneurship, terlaksananya pameran hasil karya serta memunculkan pendidikan entrepreneurship di SD Sanjaya Tritis.
Metode yang digunakan dalam program ini meliputi: 1) Pemodelan, 2) Mentoring guru, 3) Pendampingan dan pendeketan pada anak, 4) Pelatihan keterampilan tangan, 5) Penghargaan hasil karya, 6) Monitoring dan evaluasi. Secara keseluruhan pengetahuan entrepreneurship pada anak di SD Sanjaya Tritis mengalami peningkatan dari kategori cukup menjadi baik untuk kelas III dan kategori baik menjadi sangat baik untuk kelas IV dan V. Kemampuan siswa dalam menganalisis produk juga semakin baik. Hal tersebut terlihat dari jawaban siswa pada instrumen analisis produk (hasil karya) yang semakin baik disetiap pertemuan
Kata kunci:pendidikan, karakter entrepreneurship, keterampilan tangan Pendahuluan
Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam serta memiliki banyak jumlah penduduk. 3.49% dari jumlah penduduk dunia adalah penduduk Indonesia sehingga menjadikan Indonesia negara ke 4 yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia. Hal tersebut berpengaruh terhadap lapangan pekerjaan yang harus tersedia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.
Namun pada kenyataannya, tingkat pengangguran di Indonesia masih tergolong tinggi yaitu sejumlah 6,87 juta orang atau 5,13% dari jumlah penduduk Indonesia.
271
Salah satu faktor yang menyebabkan tingginya tingkat pengangguran di Indonesia adalah rendahnya minat masyarakat Indonesia untuk berwirausaha. Hanya 3,10%
penduduk di Indonesia yang menjadi wirausaha. Masih banyak penduduk Indonesia yang nyaman menjadi seorang pekerja atau pegawai.
Tingginya pengangguran di Indonesia merupakan indikator bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang kurang terpenuhi kesejahteraannya. Padahal, setiap orang berhak mendapatkan kesejahteraan dan hidup dengan layak termasuk dalam segi ekonomi. Oleh sebab itu, perlu adanya kesadaran tentang pentingnya berwirausaha agar penduduk Indonesia tidak hanya mencari pekerjaan namun menciptakan pekerjaan sendiri serta menciptakan lapangan pekerjaan. Karakter entrepreneurship perlu ditanamkan agar seseorang berani untuk berwirausaha.
Abu Marlo pada buku Entrepreneurship Hukum Langit (2013) menjelaskan bahwa entrepreneurship adalah kemampuan seseorang untuk peka terhadap peluang dan memanfaatkan peluang tersebut untuk melakukan perubahan dari sistem yang ada.
Dalam dunia entrepreneurship, peluang adalah kesempatan untuk mewujudkan atau melaksanakan suatu usaha dengan tetap memperhitungkan resiko yang dihadapi. Karakter entrepreneurship tidak hanya bisa ditanamkan sejak SMA maupun di jenjang kuliah melainkan akan lebih baik jika ditanamkan sejak dini.
Dalam pengabdian ini, siswa SD Sanjaya Tritis merupakan subyek utama dalam berlangsungnya program ini. SD Sanjaya Tritis beralamat di Desa Purwobinangun, Pakem, Sleman, DIY. Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah dan juga observasi diketahui bahwa lingkungan masyarakat disekitar SD Sanjaya Tritis tergolong kurang mampu dalam segi ekonomi. Banyak orangtua walimurid berprofesi sebagai buruh penambang pasir yang kurang memahami tentang sistem ekonomi terutama entrepreneur. Hal ini berpengaruh pada cara berpikir dan juga mental siswa. Cita-cita siswa hanya sebatas meneruskan pekerjaan orangtua. Siswa SD Sanjaya Tritis belum memiliki pengetahuan entrepreneurship.
Gambar 1. Lokasi Mata Pencaharian Orangtua
Berdasarkan latar belakang tersebut, terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi oleh siswa SD Sanjaya Tritis, yaitu (1) belum tertanamnya karakter entrepreneurship pada siswa di SD Sanjaya Tritis sebagai bekal masa depan (2) Tidak adanya pendidikan entrepreneurship di SD Sanjaya Tritis.
Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian Masyarakat (PKM- M) Atas Kentang Timbang Ternak melalui dukungan dana dari RISTEKDIKTI menawarkan solusi yaitu pembangunan karakter entrepreneurship pada anak melalui aktivitas keterampilan tangan kreatif. Tujuan dari program ini adalah (1) Membangun karakter entrepreneurship anak menjadi pribadi yang jujur, disiplin,
272 Pemodelan
Mentoring pada guru
Pendamping an anak
Pelatihan pada anak
Penghargaan hasil karya anak Monitoring dan Evaluasi
Keberlanjutan program Atas Kentang Timbang Ternak
mandiri, komitmen tinggi, kreatif dan inovatif melalui ragam aktivitas keterampilan tangan kreatif yaitu anyaman keranjang dari koran bekas, kerajinan kain flanel, batik jumputan dan tas blacu lukis (2) Terciptanya pendidikan entrepreneurship di SD Sanjaya Tritis (3) Memberikan modul pendidikan entrepreneurship sebagai pedoman dalam pelaksanaan pendidikan entrepreneurship.
Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat menanamkan pengetahuan entrepreneurship serta sikap-sikap entrepreneurship yaitu jujur, disiplin, mandiri, komitmen tinggi, kreatif dan inovatif sehingga mampu memutus mata rantai pekerjaan yaitu sebagai buruh tambang pasir melainkan menggunakan pengetahuan entrepreneurship ini sebagai bekal untuk masa depan. Selain itu, dengan adanya program ini diharapkan siswa semakin bersemangat dalam menggali pengetahuan entrepreneurship melalui kegiatan yang menarik.
Keberlanjutan dari program Atas Kentang Timbang Ternak ini didukung dengan penerapan pendidikan entrepreneurship untuk guru-guru di SD Sanjaya Tritis. Pendidikan entrepreneurship yang dapat diterapkan pada seluruh jenjang yaitu dari kelas I sampai VI. Harapannya tercipta modul pendidikan entrepreneurship ini dapat dijadikan sebagai pedoman bagi guru untuk menanamkan sikap-sikap entrepreneurship dan dalam pelaksanaan pendidikan entrepreneurship melalui aktivitas keterampilan tangan kreatif. Penerapan pendidikan entrepreneurship juga didukung dengan adanya lahan pertanian milik sekolah yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas bercocok tanam. Harapan kedepan adalah pendidikan entrepreneurship ini mampu diterapakan di SD lainnya sehingga perubahan karakter pada siswa tidak terjadi disatu tempat saja.
Metode
Program PKM-M Atas Kentang Timbang Ternak ini dilaksanakan selama periode tanggal 20 April – 10 Juni 2018. Tempat pelaksanaan program ini di SD Sanjaya Tritis, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Instrumen pelaksanaan demi keberlanjutan program ini adalah dengan melibatkan kerjasama dari: (1) Guru dan Kepala Sekolah SD Sanjaya Tritis (2) Gereja Katolik Maria Asumpta Pakem.
Gambar 2. Skema Metode Program Atas Kentang Timbang Ternak
273
Kegiatan pemodelan dalam tahap ini yaitu pelatihan mandiri yang dilaksanakan oleh pendamping untuk mengajarkan keterampilan tangan. Kegiatan ini dilakukan bertujuan agar pelaksana dapat memahami cara dalam pembuatan karya sebelum diajarkan kepada siswa.
Pelaksanaan mentoring guru terdapat tiga tahap, yaitu: (a) Encourager, tahapan bertujuan agar pihak sekolah memahami tujuan dan arah dari program Atas Kentang Timbang Ternak. Tahapan pertama yang dilakukan yaitu tim PKM- M menyampaikan tujuan pentingnya pendidikan entrepreneurship yang harus ditanamkan sejak dini, serta potensi hasil dari kegiatan PKM-M ini kepada pihak sekolah. (b) Discussion-Partner, pada tahapan ini tim PKM-M melakukan pertukaran pikiran bersama guru-guru mengenai pengetahuan entrepreneurship.
Hal ini bertujuan agar tim PKM-M dan guru memiliki pengetahuan yang sama mengenai entrepreneurship. (c) Director Process, pada tahap ini, tim PKM-M bertindak sebagai pengontrol kegiatan.
Pendampingan anak bertujuan untuk menjalin keakraban dengan anak sehingga memudahkan dalam penyampaian materi keterampilan tangan.
Pendampingan pada anak mecakup kegiatan sharing dan game.
Pelatihan pada anak melalui keterampilan tangan ini merupakan aksi nyata dari tahapan-tahapan sebelumnya. Melalui pelatihan ini anak mempelajari beberapa aspek dalam entrepreneurship, yaitu produksi, menganalisis produk (bahan baku dan harga), serta menentukan harga jual dari produk yang sudah mereka buat. Pelatihan pada anak dilakukan beberapa pertemuan dengan ragam keterampilan tangan yang berbeda-beda, yaitu: (1) Batik jumputan; (2) Anyaman dari koran bekas; (3) Kerajinan dari flanel; dan (4) Tas blacu lukis.
Gambar 3. Siswa membuat anyam koran
Gambar 4. Siswa menganalisis produk
Penghargaan hasil karya anak berupa pameran/bazar kreatif yang merupakan sarana untuk membangun karakter entrepreneurship. Saat kegiatan ini anak-anak mengetahui satu hal terpenting dari entrepreneurship tentang pemasaran, melalui
274 Persiapan
Program
Pelaksanaan Program
Evaluasi Program Laporan
Program
aktivitas menawarkan karya anak. Selain itu, kegiatan pameran ini sebagai salah satu media promosi sehingga masyarakat luas mengetahui bahwa karakter entrepreneurship tidak hanya bisa diajarkan kepada orang dewasa, melainkan dapat diajarkan kepada anak sejak dini.
Monitoring dan evaluasi oleh TIM PKM-M bertujuan untuk mengkaji apakah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan telah sesuai dengan rencana, dan evaluasi bertujuan sebagai pengukur kemajuan, alat perbaikan dan alat perencanaan.
Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan wawancara dam sharing bersama guru.
Hal ini bertujuan untuk mengamati hasil berdasarkan respon guru mengenai kegiatan kerajinan tangan mampu membangun karakter entrepreneurship apakah sudah terlaksana dan menarik bagi pihak sekolah sehingga dapat digunakan sebagai acuan untuk keberlanjutan program ini.
Keberlanjutan program oleh tim PKM-M yaitu dengan memberikan modul kepada sekolah untuk digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pendidikan entrepreneurship. Setelah pendidikan entrepreneurship berhasil dijalankan di SD Sanjaya Tritis, harapannya pendidikan entrepreneurship dapat diselenggarakan di sekolah-sekolah lain.
Teknik yang dipakai dalam program Atas Kentang Timbang Ternak
Gambar 5. Teknik Program Atas Kentang Timbang Ternak Keterangan teknik pelaksanaan:
1. Persiapan Program
Persiapan perlu dilakukan untuk kelancaran program yang akan diterapkan.
Bentuk persiapan yang tim lakukan berupa survei bahan baku dari empat keterampilan tangan yang akan dibuat oleh siswa, penyusunan jadwal kembali yang disesuaikan dengan jadwal SD Sanjaya Tritis dan pembuatan instrumen analisis keterampilan tangan yang akan dibagikan kepada siswa saat pelaksanaan program.
2. Pelaksanaan Program
Program Atas Kentang Timbang Ternak dilaksanakan menurut metode yang sudah disusun dan dibahas sebelumnya. Pada pelaksanaan program ini, sasarannya tidak hanya kepada siswa namun juga kepada guru sebagai penerus dari program ini sehingga penanaman karakter entrepreneurship terus terlaksana di SD Sanjaya Tritis. Guru-guru yang akan melanjutkan program ini mendapatkan modul sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan. Modul juga akan diperbaharui oleh tim agar semakin mampu memenuhi kebutuhan guru dalam menanamkan karakter entrepreneurship.
275 3. Evaluasi Program
Evaluasi program bertujuan untuk mengetahui kekurangan dari pelaksanaan program dan memperbaikinya pada pertemuan berikutnya. Evaluasi program kami laksanakan bersamaan dengan konsultasi kepada dosen pembimbing.
4. Pelaporan Program
Pelaporan program berfungsi sebagai kontrol dan tolok ukur keberhasilan pelaksanaan program. Pelaporan program dikemas melalui catatan harian yang mencakup laporan dari persiapan hingga kegiatan akhir di SD Sanjaya Tritis.
Selain itu, laporan program juga dilakukan sebagai persiapan dalam penyusunan laporan kemajuan dan laporan akhir PKM-M.
Tabel 1. Jadwal dan Rincian Kegiatan
Metode Jadwal / Tanggal
Pelaksanaan Bentuk Kegiatan
Pemodelan 14 April 2018 Pelatihan mandiri kerajinan tangan I (Anyam Koran)
03 Mei 2018 Pelatihan mandiri kerajinan tangan II (Batik Jumputan)
18 Mei 2018 Pelatihan mandiri kerajinan tangan III (Kerajinan dari kain flanel)
31 Mei 2018 Pelatihan mandiri kerajinan tangan IV (Tas Blacu Lukis)
Mentoring pada guru
20 April 2018 (Encourager) Menyampaikan tujuan program dan potensi hasil yang akan diterima oleh SD serta penjadwalan kegiatan
07 Juni 2018 (Discussion Partner) pemberian informasi pendidikan entrepreneurship kepada guru melalui pelatihan guru
Pendampingan pada anak
20 April 2018 Permainan dan sharing tentang kerajinan tangan yang pernah dibuat
Pelatihan pada anak
Pertemuan I : 27 April 2018
Pelaksanaan kerajinan tangan I (Anyam Koran)
Pertemuan II : 04 Mei 2018
Pelaksanaan kerajinan tangan II (Batik Jumputan)
Pertemuan III : 19 Mei 2018
Pelaksanaan kerajinan tangan III (Kerajinan kain dari kain flanel)
Pertemuan IV : 01 Juni 2018
Pelaksanaan kerajinan tangan IV (Tas blacu lukis)
Penghargaan hasil karya anak
10 Juni 2018 Pameran hasil karya anak Monitoring dan
evaluasi oleh Tim PKM-M
15 Juni 2018 Wawancara dan sharing bersama guru tentang kegiatan kerajinan tangan mampu membangun karakter entrepreneurship pada anak di SD
276 Pembahasan
Peningkatan Pengetahuan Pendidikan Entrepreneurship Pada Anak a. Sikap-sikap entrepreneurship
Pada indikator sikap-sikap entrepreneurship terdapat dua bentuk soal yaitu soal dengan pilihan jawaban Benar/ Salah dan soal essay. Pada soal dengan pilihan jawaban Benar/ Salah, terdapat beberapa soal yang berkaitan dengan sikap-sikap seorang entrepreneurship. Pada bagian kedua berupa soal essay, dijabarkan beberapa soal mengenai tindakan yang akan dilakukan oleh seorang entrepreneurship dengan hasil karyanya.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pengujian terhadap hipotesis yang dilakukan peneliti selama kegiatan pembelajaran, diperoleh kesimpulan: Pertama hasil penelitian menunjukan terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar dan kesadaran sejarah siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD berbantuan media film Situs Astana Gede Kawali dengan siswa yang tidak menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD berbantuan media film Situs Astana Gede Kawali. Kedua, adanya pengaruh kesadaran sejarah terhadap hasil belajar siswa.
Gambar 6. Rata-rata hasil Pre-test dan Post-test
Nilai rata-rata pre-test dan post-test pada gambar 1 menunjukkan kenaikan baik kelas III, IV, maupun kelas V. Tim PKM-M menggunakan “Skala Likert”
untuk mengukur peningkatan dari hasil pre-test dan post-test dengan interval 10 dan skala 5. Berdasarkan hasil ini, dapat di simpulkan bahwa, rata-rata terjadi peningkatan nilai Pre-test dan Post-test sebesar 78%.
b. Kemampuan menganalisa
Bentuk soal yang diberikan pada indikator ini yaitu soal dengan jawaban singkat dan uraian, untuk menganalisa setiap bahan baku, harga bahan baku, dan tempat ditemukannya bahan baku yang digunakan di pasaran. Pada soal ini, anak mendapatkan pemahaman tentang keuntungan, mengambil resiko, perubahan ekonomi, dan kemampuan mereka dalam berproses. Soal
0 5 10
Kelas III Kelas IV Kelas V 5,98,5 7,28,6 7,28,9
Pre-test Post-test
277
diberikan di setiap awal kegiatan keterampilan tangan yang dibuat. Nilai rata-rata kemampuan menganalisa siswa kelas III, IV, dan V pada indikator kemampuan menganalisa disajikan sebagai berikut.
Gambar 7. Peningkatan Rata-rata Nilai Kemampuan Menganalisis Keterampilan 1-4
Pada masing-masing kegiatan, tim pelaksana memberikan lembar kerja kepada anak-anak di SD Sanjaya Tritis. Pemahaman anak dalam menganalisa semakin baik, terlihat dari nilai rata-rata siswa pada 4 keterampilan mengalami kenaikan namun pada keterampilan 2 untuk kelas III dan IV mengalami penurunan hal ini disebabkan karena anak merasa asing barang baku yang digunakan dalam pembuatan kerajinan.
Kegiatan utama yang kami lakukan bukan untuk mengajarkan anak dalam pembuatan suatu keterampilan, melainkan lebih pada menanamkan karakter entrepreneurship pada diri anak, semangat pada diri anak dalam dunia wirausaha.
Pengukuran secara kualitatif dilakukan dengan cara refleksi dan juga kesan anak mengenai kegiatan. Tim PKM-M melakukan wawancara secara lisan kepada beberapa anak mengenai kesan dan refleksi mereka selama mengikuti kegiatan PKM-M. Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada beberapa anak, sebagian besar dari mereka merasa senang dengan adanya kegiatan ini serta kegiatan ini belum pernah dilakukan sebelumnya. Hal ini merupakan suatu kebanggan bagi anak karena mereka bisa mendapatkan uang dengan hasil usaha mereka sendiri.
Keberhasilan Metode Mentoring Pada Guru
Gambar 8. Mentoring guru
Mentoring pada guru bukanlah target luaran dari kegiatan PKM-M, namun dalam prosesnya tim pelaksana merasa bahwa metode mentoring berhasil dilaksanakan. Seluruh guru mendapatkan metode mentoring. Tim pelaksana mengukur keberhasilan tersebut dari jumlah guru yang secara aktif mendampingi
Keterampilan 1
Keterampilan 2
Keterampilan 3
Keterampilan 4
Kelas III 6,08 4,97 6,33 7,26
Kelas IV 6,25 4,81 6,87 9,5
Kelas V 7,33 8,12 7,07 8,87
0 2 4 6 8 10
Kelas III Kelas IV Kelas V
278
hingga akhir kegiatan. Hingga akhir kegiatan, ada 8 guru dari 13 guru yang tetap setia mendampingi. Hal itu menunjukkan bahwa 61% guru berperan aktif dalam pelaksanaan PKM-M Atas Kentang Timbang Ternak, merasa tertarik dengan adanya kegiatan ini, dan guru mengetahui sebagian besar kegiatan yang dilakukan dalam PKM-M.
Modul Pendidikan Entrepreneurship
Modul pendidikan entrepreneurship yang dibuat oleh tim PKM-M merupakan panduan dan referensi yang dapat digunakan oleh guru khususnya guru di SD Sanjaya Tritis untuk menerapkan pendidikan entrepreneurship.
Gambar 9. Modul PKM-M
Isi dari modul ini adalah model-model pembelajaran entrepreneurship yang dikemas dalam beragam aktivitas yang menyenangkan sehingga siswa tidak bosan. Setiap aktivitas memiliki tujuan dan indikator. Adapun tujuan dari semua aktivitas yang ada dalam modul adalah menanamkan sikap-sikap entrepreneur yaitu sikap jujur, disiplin, mandiri, komitmen tinggi, kreatif dan inovatif, realistis.
Pameran hasil karya anak
Gambar 4. Pameran hasil karya anak
Pameran yang dilakukan di Gereja Katolik Maria Assumpta sebagai sarana memahami entrepreneurship. Pada kegiatan ini anak-anak belajar secara langsung untuk menawarkan karya yang telah mereka buat selama ini. Selain itu, kegiatan pameran ini sebagai salah satu media promosi sehingga masyarakat luas mengetahui bahwa karakter entrepreneurship tidak hanya bisa diajarkan kepada orang dewasa, melainkan dapat diajarkan secara dini kepada anak-anak sehingga pada diri anak sudah tertanam karakter tersebut.
Kesimpulan
Atas Kentang Timbang Ternak merupakan program yang tepat dalam upaya membangun karakter entrepreneurship pada anak sejak dini melalui aktivitas keterampilan tangan kreatif baik di SD Sanjaya Tritis Pakem maupun di SD lainnya. Program ini dinilai telah berhasil di terapkan di SD Sanjaya Tritis dalam upaya meningkatkan taraf pengetahuan, keterampilan, kreatif, mandiri serta inovatif. Adanya program Atas Kentang Timbang Ternak perlu ditindak lanjuti
279
secara berkelanjutan sebagai upaya pengentasan masalah pendidikan demi masa depan generasi muda yang lebih baik.
Daftar Pustaka
Alma, B. (2000). Kewirausahaan: Panduan perkuliahan untuk perguruan tinggi.
Alfabeta: Bandung.
Drucker, P. F. (1986). Innovation and entrepreneurship. Gramedia. Jakarta.
Meredith, G. G. (1996). Kewirausahaan teori dan praktik. Jakarta: Pustaka Binaman Presindo.
Yoyon, B. I. (2006). Materi perkuliahan kewirausahaan dan pemasaran pendidikan. Bandung: Lab Adpend FIP IKIP Bandung.