1 PROSES PENGEMASAN dan PENYIMPANAN BEKU (COLD STORAGE)
IKAN PELAGIS DI PT CILACAP SAMUDRA FISHING INDUSTRY
TUGAS AKHIR
OLEH:
WAHYUNI.A 1622030340
JURUSAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP 2019
2
3
4
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tugas akhir ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapatyang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Pangkep, 1 Juli 2019 Yang menyatakan,
Wahyuni.A
5
KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirahim
Alhamdulillah, dengan memanjatkan puji dan syukur Kehadiran Allah SWT. Atas segala limpahan Rahmat, Taufik serta Hidayahnya kepada segenap hambanya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini sesuai waktu yang direncanakan. Salawat dan salam selalu tercurahkan kepada Baginda Junjungan Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam gelap gulita menuju alam yang terang menderang yang penuh dengah ilmu pengetahuan seperti yang dapat kita rasakan saat ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat di dalam penyusunan. Oleh karena itu, penulis harapkan kritik dan saran dari pembaca. Selesainya penulisan Tugas Akhir ini tidak lepas dari bimbingan dan dorongan berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Kedua orang tua penulis Bapak Muh Amir & Ibu Norma yang telah memberikan dukungan penuh berupa moril dan material sehingga penulis dapat manyelesaikan Laporan Tugas Akhir tepat waktu.
2. Bapak Dr. Ir. Darmawan, MP selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep .
3. Ibu Ir. Nurlaeli Fattah. M.Si, selaku ketua Jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.
4. Pak Teguh selaku Direktur PT.Cilacap Samudera Fishing Industry, Pak 5. Wayan Sukesta selaku Kepala Produksi PT.Cilacap Samudera Fishing
Industry
6. Bapak/Ibu Staf dan Karyawan PT.Cilacap Samudera Fishing 7. Luthfiah,S.TP,M.Si selaku pembimbing Pertama
8. Syamsuar,S.Pi, M.Si selaku pembimbing Kedua.
6 9. Dosen serta pegawai dan teknisi jurusan Teknologi Pengolahan Hasil
Perikanan.
10. Serta teman-teman seperjuangan yang selalu memberikan semangat dan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan tugas akhir ini.
Pangkep, 1 Juli 2019
Penulis
7 DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
RINGKASAN ... xiii
BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Tujuan ... 2
1.3. Manfaat ... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Deskripsi Umum Ikan Pelagis ... 3
2.2. Klasifikasi Ikan Pelagis Besar ... 3
2.3. Sumber Daya Ikan Ikan Pelagis Besar ... 4
2.4. Klasifikasi Ikan Pelagis Kecil ... 5
2.5. Sumber Daya Ikan Pelagis Kecil... 6
2.6. Pengemasan ... 7
2.6.1. Pengertian Pengemasan ... 7
2.6.2. Fungsi Pengemasa ... 8
2.6.3. Jenis-Jenis Pengemasan ... 8
2.6.4. Frekuensi Pemakaian ... 9
2.6.5. Berdasarkan Tingkat Kesiapan Pakai ... 9
2.6.6. Berdasarkan Sifat Kekuatan Bahan Kemasan ... 9
2.6.7. Berdasarkan Sifat Perlindungan Terhadap Lingkungan ... 10
2.7. Penyimpanan Ikan Beku (Cold Storage) ... 10
BAB III. METODOLOGI
8
3.1 Waktu dan Tempat ... 11
3.2. Metode Pengumpulan Data ... 11
3.3. Alat dan Bahan ... 11
BAB IV. SEJARAH PERUSAHAAN 4.1. Sejarah Perusahaan... 13
4.2. Keadaan umum perusahaan... 15
4.2.1. Data Umum Perusahaan ... 15
4.2.2. Visi dan Misi Perusahaan ... 16
BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Bahan Baku ... 17
5.2. Pengemasan ... 18
5.2.1. Pengemasan Dengan MC(Master Carton) ... 18
5.2.2. Pengemasan Dengan Karung ... 20
5.2.2.1. Ikan pelagis kecil mutu C ... 20
5.2.2.2. Ikan pelagis besar mutu A, B, C ... 21
5.3. Golongan Kerusakan Produk Pada Pengemasan... 21
5.4. Penyimpanan Ikan Beku ... 22
5.5. Faktor yang mempengaruhi kondisi penyimpanan beku ... 22
5.6. Kerusakan Akibat Pembekuan dan Penyimpanan Beku ... 23
5.6.1. Dehidrasi ... 23
5.6.2. Denaturasi Protein ... 23
5.6.3. Discolorisasi ... 24
5.6.4. Pengeras Daging ... 24
5.6.5. Oksidasi Lemak ... 24
5.6.6. Drip Lost ... 24
5.7. Pencegah Kerusakan Akibat Pembekuan dan Penyimpanan Beku ... 25
5.7.1. Perendaman Dalam Brine ... 25
5.7.2. Pencelupan Dalam Larutan Fosfat ... 25
5.7.3. Glazing... 25
9 BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan ... 26
6.2. Saran ... 26
DAFTAR PUSTAKA ... 27
LAMPIRAN ... 29
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 33
10 DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 3.1. Alat dan bahan ... 12
11 DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1. Ikan pelagis besar ... 3
Gambar 2.2. Ikan pelagis kecil ... 6
Gambar 5.1. Pengemasan dengan MC ... 19
Gambar 5.2. Pengemasan karung dengan ikan kecil mutu C ... 20
Gambar 5.3. Pengemasan karung dengan ikan besar mutu A,B,C ... 21
Gambar 5.4. Penyimpanan dalam cold storage ... 22
12 DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1. Proses pengemasan ikan pelagis kecil mutu A, B. ... 30 Lampiran 2. Proses pengemasan ikan pelagis kecil mutu C ... 31 Lampiran 3. Proses pengemasan ikan pelagis besar mutu A, B, C ... 32
13 RINGKASAN
WAHYUNI.A, Proses Pengemasan dan Penyimpanan Beku(cold storage) Ikan Pelagis Di PT Cilacap Samudra Fishing Industry Kendari, Sulawesi Tenggara.Dosen
pembimbing Luthfiah dan Syamsuar.
Pengemasan merupakan suatu cara atau perlakuan pengamanan terhadap bahan jadi atau setengan jadi untuk mengindari produk dari kontaminasi luar , mengurangi kerusakan, melindung dari sinar matahari langsung serta gangguan fisik seperti gesekan, benturan, dan getaran.
Penulisan tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui teknik pengemasan ikan pelagis beku utuh, serta untuk memperoleh ilmu pengetahuan,keterampilan serta pengalaman kerja tentang salah satu objek studi perikanan.
Proses pengemasan dalam sistem non vakum mempunyai syarat bahan pengemasan yaitu bersifat tahan air, kuat, elastis, tidak mudah robek, fleksibel, dan transparan. Proses penyimpanan beku(cold storage) harus berdasarkan sistem FIFO (first in first out). FIFO dalam artian bahasa Indonesia yaitu pertama masuk pertama keluar yang berarti bahwa persediaan yang pertama kali masuk itulah yang pertama kali dicatat sebagai barang yang diual.
Penulisan tugas akhir ini didasarkan pada Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa(PKPM) yang berlangsung kurang lebih tiga bulan, di PT Cilacap Samudra Fishing Industry, Kendari, Sulawesi Selatan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini adalah pengumpulan data secara primer dan sekunder, yang dimana data primer didapatkan melalui wawancara langsung di tempat, sedangkan data sekunder didapatkan melalui internet.
Kata kunci : Pengemasan, Ikan pelagis, Penyimpanan beku.
14 BAB I
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Sektor perikanan Indonesia memiliki potensi yang cukup besar serta memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. Potensi perikanan sebesar 6,7 ton per tahun yang terdiri dari sumber daya perikanan Zona Ekonomi Eksklusif 2,3 juta ton pertahun. Menurut Iqbal (1997), dan merupakan produsen penangkapan ikan yang nomor empat di dunia, karena memiliki potensi dan sumber daya alam yang sangat besar. Indonesia sebagai Negara Maritim dimana salah satu daerah penghasilan ikan adalah daerah Sulawesi Selatan. Tetapi tingkat pemanfaatannya baru sekitar 665%, oleh karena itu pemanfaatannya perlu ditingkatkan Menurut Resosudarmo et al (2002).
Pengertian ikan pelagis adalah ikan yang umum berenang melewati permukaan hingga kedalaman 200m yang berenang secara berkelompok dalam jumlah yang banyak. Ikan pelagis tergolong dalam ikan pelagis kecil dan ikan pelagis besar. Pada umumnya ikan pelagis memiliki nilai jual yang tinggi dan banyak diburu oleh masyarakat karena memiliki kandungan gizi ynag tinggi
Mempertahankan kesegaran dan mutu ikan sebaik dan selama mungkin, maka dilakukan penanganan yang bertujuan menghambat kegiatan zat-zat dan mikroorganisme yang dapat menimbulkan pembusukan (kemuduran mutu). Salah satu cara penanganan untuk mempertahankan kualitas mutu ikan yaitu dengan proses pembekuan. Pembekuan adalah proses penanganan pada produk makanan dengan cara hampir sekuruh kandungan air dalam produk menjadi es. Keadaan beku menyebabkan aktivitas mikrobiologi dan enzim terhambat sehingga daya
15 simpan produk menjadi panjang. Pembekuan terbagi menjadi dua golongan yaitu pembekuan cepat dan pembekuan lambat Menurut Murniyati dan Sunarman (2000).
Proses produksi pembekuan ikan untuk melakukan pengantaran terlebih dahulu melakukan proses pengemasan. Pengemasan merupakan sistem yang terkoordinasi untuk menyiapkan barang menjadi siap untuk ditransportasikan, didistribusikan, disimpan, dijual, adanya wadah atau membungkus dapat membantu mencegah atau mengurangi kerusakan, melindungi produk yang ada di dalamnya, melindungi dari bahaya pencemaran serta gangguan fisik (gesekan, benturan, getaran). Menurut Carta (2010). Setelah poses pengemasan dilakukan penyimpanan yaitu di Cold storage. Cold storage adalah sebuah ruangan yang akan dirancang khusus dengan kondisi suhu tertentu dan akan digunakan untuk menyimpan berbagai macam produk dengan tujuan untuk mempertahankan kesegarannya.
1.2. Tujuan
Tujuan dari tugas akhir ini adalah untuk mendapatkan pengetahuan secara langsung dan mempelajari alur proses dalam pengemasan beserta penyimpanannya di PT Cilacap Samudra Fishing Industry, Kendari, Sulawesi Tenggara.
1.3. Manfaat
Menambah wawasan dan pengetahuan tantang proses pengemasan beserta proses penyimpanan dalam Cold storage di PT.Cilacap Samudra Fishing Industry Kendari. Sulawesi Tenggara.
16 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Deskripsi Umum Ikan Pelagis
Ikan pelagis adalah ikan yang hidupnya di permukaan air hingga kolom air antara 0-200 meter. Ikan pelagis memiliki kebiasaan hidup membentuk gerombolan (schooling) dalam melangsungkan hidupnya, baik itu bermigrasi (ruaya), mencari makan, bahkan memijah. Berdasarkan jenis dan ukurannya ikan pelagis dibedakan menjadi 2, yaitu ikan pelagis besar dan ikan pelagis kecil.
2.2. Klasifikasi Ikan Pelagis Besar
Ikan pelagis besar hidup pada laut lepas dengan kondisi lingkungan relatif stabil, disamping itu ikan pelagis besar umumnya melakukan migrasi sepanjang tahun dengan jarak jauh. Taksonomi ikan pelagis besar :
Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Actinopterygii Ordo : Perciformes Famili : Scombridae Genus : Thunnus
Gambar 2.1. Ikan pelagis besar Sumber : id.wikipedia.org.
17 2.3. Sumber Daya Ikan Pelagis Besar
Ikan pelagis besar hidup pada laut lepas dengan kondisi lingkungan relatif stabil, disamping itu ikan pelagis besar umumnya melakukan migrasi sepanjang tahun dengan jarak jauh. Secara biologis kelompok cakalang, tuna, dan tongkol termasuk kedalam kategori ikan yang mempunyai tingkah laku melakukan migrasi dengan jarak jauh (highly migratory species) melampaui batas-batas yuridiksi suatu negara. Keadaan tersebut akan menyebabkan penambahan dan pengurangan stok di suatu perairan yang berperan penting dalam sediaan lokal pada saat terjadi musim penangkapan.
Ikan Pelagis besar menyebar di perairan yang relatif dalam, bersalinitas tinggi, kecuali ikan tongkol yang sifatnya lebih kosmopolitan dapat hidup di perairan yang relatif dangkal dan bersalinitas lebih rendah. Sifat epipelagis dan oseanis menjadikan penyebaran sumberdaya ikan pelagis besar secara vertikal sangat dipengaruhi lapisan thermoklin yang juga adalah struktur lapisan massa air yang terbentuk akibat perbedaan suhu. Demikian pula penyebaran secara horizontal yang dipengaruhi oleh faktor perbedaan suhu dan juga ketersediaan makanan.
Sedangkan untuk jenis ikan pelagis besar biasanya menggunakan alat tangkap long line, pole and line, dan pancing tonda. Menurut Nefwan (2004).
Jenis-jenis ikan pelagis besar :
• Tuna mata besar (thunnus obesus)
• Tuna sirip panjang (thunnus alalunga)
• Tuna sirip hitam (thunnus atlanticus)
• Tuna sirip biru
• Tuna sirip kuning
18
• Ikan pedang (xiphias gladius)
• Layaran (isthioporus orientalis)
• Marlin (makaira sp)
• Cakalang (katsuwonus pelamis)
• Tenggiri (scomberomorus commersoni)
2.4. Klasifikasi Ikan Pelagis Kecil
Ikan pelagis umumnya berukuran kecil, bentuk mulut superior, kepala berbentuk pipih datar dengan mata lebar dan sirip punggung berada di bagian belakang badan. Morfologi dari ikan ini sesuai untuk menangkap plankton dan ikan-ikan kecil yang hidup di dekat permukaan air, atau insekta yang berada di permukaan contoh ikan Gambusia, Fundulus.
Pada siang hari ikan pelagis kecil berada di dasar perairan membentuk gerombolan yang padat dan kompak (shoal), sedangkan pada malam hari naik ke permukaan membentuk gerombolan yang menyebar (scatted). Ikan juga dapat muncul ke permukaan pada siang hari, apabila cuaca mendung disertai hujan gerimis. Adanya kecendrungan bergelombol berdasarkan kelompok ukuran dan berupaya mengikuti makanannya. Menurut Suyedi (2001).
Taksonomi ikan pelagi kecil adalah sebagai berikut:
Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Kelas : Actinopterygii Ordo : Perciformes Subordo : Percoidei Famili : Carangidae
19 Genus : Decapterus
Spesies : Decapterus russelli ruppell
Gambar 2.2. Ikan pelagis kecil Sumber : gomancing.com
2.5. Sumber Daya Ikan Pelagis Kecil
Ikan pelagis kecil hidup pada daerah pantai yang relative kondisi lingkungannya tidak stabilg menjadikan kepadatan ikan juga berfluktuasi dan cenderung muda mendapat tekanan akibat kegiatan pemanfaatan, karena daerah pantai mudah dijangkau olehaktivitas manusia. Jenis-jenis ikan pelagis kecil yang dimaksudkan adalah ikan laying, kembung, tembang, teri, dan lain-lain. Sumber daya ikan pelagis kecil diduga merupakan salah satu sumber daya perikanan yang paling melimpah diperairan Indonesia dan mempunyai potensi besar (widodo, 1998). Sumberdaya ikan pelagis kecil merupakan suatu sumberdaya yang poorly behaved, karena makanan utamanya adalah plankton, sehingga kelimpahannya sangat tergantung kepada factor lingkungan. Alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan jenis pelagis kecil adalah pukat cincin (purse seine), jaring insang (gillnet), payang, bagan. Menurut Nefwan (2004).
Jenis-jenis ikan pelagis kecil :
• Selar (selaroides leptolepis)
20
• Teri (stolephorus commersoni)
• Lemuru (sardinela longiceps)
• Layang (decafterus ruselli)
• Japuh (dussumeiria spp)
• Sunglir (elagastis bipinnulatus)
• Tongkol (auxis thazard)
• Tembang (sardinella fimbriata)
• Layur (trichiurus lepterus) 2.6. Pengemasan
2.6.1. Pengertian pengemasan
Pengemasan merupakan sistem yang terkoordinasi untuk menyiapkan barang menjadi siap untuk ditransportasikan, didistribusikan, disimpan, dijual, dan dipakai. Adanya wadah atau pembungkus dapat membantu mencegah atau mengurangi kerusakan, melindungi produk yang ada di dalamnya, melindungi dari bahaya pencemaran serta gangguan fisik (gesekan, benturan, getaran).
Menurut Carta (2010).
Menurut Kotler dan Keller (2009), pengemasan adalah kegiatan merancang dan memproduksi wadah atau bungkus sebagai sebuah produk.
Pengemasan adalah aktivitas merancang dan memproduksi kemasan atau pembungkus untuk produk. Biasanya fungsi utama dari kemasan adalah untuk menjaga produk. Namun, sekarang kemasan menjadi faktor yang cukup penting sebagai alat pemasaran, Menurut Rangkuti (2005).
21 2.6.2. Fungsi pengemasan
Menurut Kotler (1999), pengemasan memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai berikut:
1. Melindungi produk dalam pergerakan. Salah satu fungsi dasar kemasan adalah untuk mengurangi terjadinya kehancuran, busuk, atau kehilangan melalui pencurian atau kesalahan penempatan.
2. Memberikan cara yang menarik untuk menarik perhatian kepada sebuah produk dan memperkuat citra produk.
3. Kombinasi dari keduanya, marketing dan Logistik dimana kemasan menjual produk dengan menarik perhatian dan mengkomunikasikannya.
2.6.3. Jenis-jenis pengemasan
Menurut Winarno (2007), jenis-jenis pengemasan dapat dibedakan menjadi tiga bagian diantaranya:
1. Kemasan primer
Kemasan primer adalah kemasan yang bersentuhan langsung dengan bahan pangan.
2. Kemasan sekunder
Kemasan sekunder adalah kemasan yang mewadahi kemasan primer yang dimana kemasan yang tidak bersentuhan langsung dengan bahan pangan.
3. Kemasan tersier
Kemasan tersier adalah kemasan paling luar yang mewadahi kemasan sekunder yang digunakan untuk pengiriman.
22 2.6.4. Frekuensi pemakaian
Menurut Louw dan Kimber (2007), berdasarkan frekuensi pemakaiannya, kemasan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Kemasan sekali pakai (Disposable), yaitu kemasan yang langsung dibuang setelah satu kali pakai.
2. Kemasan yang dapat dipakai berulang kali (Multi Trip), kemasan jenis ini umumnya tidak dibuang oleh konsumen, akan tetapi dikembalikan lagi pada agen penjual untuk kemudian dimanfaatkan ulang oleh pabrik.
3. Kemasan yang tidak dibuang (Semi Disposable). Kemasan ini biasanya digunakan untuk kepentingan lain di rumah konsumen setelah dipakai.
2.6.5. Berdasarkan tingkat kesiapan pakai
Kemasan berdasarkan tingkat kesiapan pakai dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Kemasan siap pakai, yaitu bahan kemas yang siap untuk diisi dengan bentuk yang telah sempurna sejak keluar dari pabrik. Contohnya adalah wadah botol, wadah kaleng, dan sebagainya.
2. Kemasan siap dirakit, yaitu kemasan yang masih memerlukan tahap perakitan sebelum pengisian, misalnya kaleng dalam bentuk lempengan dan silinder fleksibel, wadah yang terbuat dari kertas, foil atau plastik.
2.6.6. Berdasarkan sifat kekakuan bahan kemasan
Kemasan berdasarkan sifat kekuatan terbagi tiga, yaitu :
1. Kemasan Fleksibel : bahan kemas yang mudah dilenturkan. Misalnya : plastik, kertas, foil.
2. Kemasan kaku : kemasan yang bersifat keras, kaku, tidak lentur dan patah bila dibengkokkan. Misal : kayu, gelas, logam.
23 3. Kemasan semi fleksible : kemasan yang mempunyai sifat di antara kemasan
fleksible dan kemasan kaku. Misal : botol plastik untuk kecap dan susu.
2.6.7. Berdasarkan sifat perlindungan terhadap lingkungan Kemasan berdasarkan sifat perlindungan terhadap lingkungan, diantaranya:
1. Kemasan Hermetis (tahan uap dan gas) : kemasan yang tidak dapat ilalui oleh gas atau uap air
2. Kemasan Tahan Cahaya : wadah yang tidak transparan, misalnya kemasan logam, kertas, foil.
3. Kemasan tahan suhu tinggi : kemasan untuk bahan pangan yang memerlukan pemanasan, sterilisasi dan pasteurisasi. Misalnya : wadah logam dan gelas.
2.7. Penyimpanan ikan beku (Cold Storage)
Penyimpanan beku yang digunakan pada PT.Cilcap Samudra Fishing Industry yaitu Cold storage, dimana cold storage dapat di artikan sebagai ruangan yang akan dirancang khusus dengan kondisi suhu 30-350C dan akan digunakan untuk menyimpan berbagai macam produk dengan tujuan untuk mempertahankan kesegarannya. Cold storage ini biasanya akan dibangun mengikuti dengan luas bangunan yang ada di lokasi.
24 BAB III
METODOLOGI
3.1. Waktu dan Tempat
Penulisan tugas akhir ini berdasarkan kegiatan Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa (PKPM) yang dilaksanakn selama ± 3 bulan di PT. Cilacap Samudra Fishing Industry, Kendari, Sulawesi Tenggara.
3.2. Metode Pengumpulan Data
Metode penulisan yang diterapkan dalam penyusunan tugas akhir ini sebagai berikut :
1. Pengumpulan data primer
Data primer diperoleh secara langsung, dengan mengikuti kegiatan proses produksi, berperan aktif dilapangan, dan melakukan Tanya jawab
dengan pembimbing lapangan dan karyawan 2. Pengumpulan data sekunder
Data sekunder diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara yang didapatkan lewat internet dan buku.
25 3.3. Alat dan Bahan
Alat dan Bahan yang digunakan pada proses pengemasan di PT Cilacap Samudra Fishing Industry, Kendari, Sulawesi Tenggara, dapat dilihat pada table dibawah ini :
No. Alat Bahan 1. Meja proses Ikan cakalang 2. Timbangan Ikan tongkol 3. Keranjang besar Ikan layang 4. Plastik Ikan baby tuna 5. MC(Master Carton) Air es
6. Gancu Es balok 7. Troli
8. Karung 9. Tali rapiah 10. Jarum 11. Lakban 12. Palu
Tabel 3.1. Alat dan Bahan