• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

14

BAB III

GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

3.1. Geomorfologi Daerah Penelitian

Bentuk-bentuk muka bumi yang ada sekarang seperti benua, dasar samudera, palung, pegunungan, lembah, bukit, dataran dan seterusnya merupakan hasil dari proses geologi berupa proses eksogen dan endogen. Proses eksogen bersifat destruktif antara lain berupa erosi, pelapukan dan lain sebagainya yang terjadi di permukaan. Proses endogen cenderung bersifat konstruktif berupa struktur geologi seperti pengangkatan, perlipatan, pematahan, peretakan dan sebagainya. Dengan demikian, kajian geomorfologi bertujuan untuk meneliti dan menelusuri proses-proses geologi yang menyangkut geomorfis daerah penelitian dengan melihat bentuk-bentuk morfologi yang ada sekarang.

Metode yang digunakan dalam kajian geomorfologi berupa analisis peta topografi dan pengamatan lapangan yang mencakup pola kontur, kisaran sudut lereng, sifat batuan penyusun, pengamatan bentuk-bentuk bentang alam, sifat aliran sungai, tingkat erosi, dan bentuk lembah sungai. Data-data geomorfologi tersebut diolah dan dianalisis dalam bentuk penentuan satuan geomorfologi berdasarkan klasifikasi Lobeck (1939).

Lembah sungai yang ada pada daerah penelitian masih memperlihatkan bentuk asli dengan proses erosi yang belum terlalu dominan, umumnya lembah sungai curam dan berbentuk “V”, diantaranya Sungai Cipicung dan Sungai Ciguha (Foto 3.1)

(2)

15 Sedangkan pada sungai lainnya memperlihatkan bentukan lembah sungai yang tidak tidak terlalu curam serta menyerupai bentuk huruf U, diantaranya Sungai Cimandiri (Foto 3.2)

Foto 3.1:Lembah Sungai Ciguha, menunjukkan lembah sungai berbentuk

”V”. Foto diambil dari lokasi CGH 11 ke arah timur

Foto 3.2:Lembah Sungai Cimandiri, menunjukkan lembah sungai berbentuk

”U”. Foto diambil dari jembatan lokasi CMD 01 ke arah selatan

(3)

16 Pola Aliran dan Daerah Aliran Sungai

Pola aliran sungai daerah penelitian berdasarkan pengamatan dari kecenderungan keseragaman atau kesamaannya melalui pengamatan di lapangan maupun pengamatan secara tidak langsung pada peta topografi dan citra satelit dibagi menjadi satu Pola aliran sungai, yaitu pola aliran Sub Dendritik.

Pola aliran ini meliputi Sungai Ciguha dan Cibodas. Pola aliran Sub Dendritik ini terbentuk ditafsirkan berkaitan dengan keseragaman jenis litologi dengan tingkat resistensi terhadap erosi permukaan yang sedang-kecil. Resistensi tersebut dapat disebabkan oleh jenis litologi yang berupa batuan sedimen lunak atau batuan sedimen keras.

Gambar 3.1: Peta Pola Aliran Sungai Daerah Penelitian

(4)

17 Deskripsi Geomorfologi

Berdasarkan kenampakan morfologi dari peta kontur skala 1:12.500 dan citra radar Shuttle Radar Topographic Mission (SRTM), daerah penelitian dibagi menjadi lima satuan geomorfologi (klasifikasi Lobeck, 1939) yaitu Satuan Perbukitan Lipatan, Satuan Dataran Vulkanik, Satuan Perbukitan Vulkanik, Satuan Perbukitan Homoklin dan Satuan Endapan Aluvial (Gambar 3.2).

3.1.1. Satuan Perbukitan Lipatan

Satuan Perbukitan Lipatan ini menempati ± 12 % daerah penelitian, dicirikan oleh perbukitan yang memanjang berarah barat – timur dengan ketinggian berkisar 400 – 530 meter dari permukaan laut yang memiliki kemiringan yang curam yang ditandai dengan adanya gawir-gawir yang cukup terjal (Foto 3.3). Satuan ini ditandai dengan warna hijau

Gambar 3.2: Peta Geomorfologi Daerah Penelitian

(5)

18 pada peta geomorfologi (Gambar 3.2 & LAMPIRAN F). Satuan ini meliputi daerah Gunung Walang. Perbukitan ini merupakan suatu perbukitan terisolasi karena sekeliling dari perbukitan ini merupakan dataran. Litologi penyusun satuan ini berupa tuf. Pada satuan ini terdapat penambangan zeolit yang terdapat di Sukabumi.

Pola aliran sungai cenderung bertipe Sub Dendritik dan bentukan-bentukan lembah sungai yang masih cenderung berbentuk “U”. Reversed topography yang dijumpai pada satuan ini yaitu struktur sinklin yang membentuk morfologi perbukitan mencirikan satuan ini berada dalam tahapan geomorfik dewasa (Lobeck, 1939).

3.1.2. Satuan Dataran Vulkanik

Foto 3.4: Morfologi dataran vulkanik dengan material vulkanik sebagai penyusunnya.

Foto diambil dari lokasi WLG 03 ke arah timur

Foto 3.3: Morfologi perbukitan yang mengalami perlipatan. Foto diambil dari lokasi PLS 06 ke arah utara

(6)

19 Satuan Dataran Vulkanik ini menempati ± 40% daerah penelitian, dicirikan morfologi landai sampai datar dengan ketinggian berkisar 100 – 400 meter dari permukaan laut (Foto 3.4). Satuan ini ditandai dengan warna merah muda pada peta geomorfologi (Gambar 3.2 & LAMPIRAN F). Pola kerapatan kontur relatif renggang. Komponen batuan penyusun utama berupa batuan breksi vulkanik yang berada dalam kondisi sangat lapuk, berwarna abu-abu kehitaman. Intensifnya proses pelapukan dan erosi menghasilkan lembah-lembah sungai berbentuk “U” sehingga tahapan geomorfiknya dapat digolongkan ke dalam tahapan geomorfik dewasa.

3.1.3. Satuan Perbukitan Vulkanik

Satuan Perbukitan Vulkanik ini menempati ± 18% daerah penelitian, dicirikan morfologi yang berbukit dengan ketinggian berkisar 310 – 435 meter dari permukaan laut (Foto 3.5). Satuan ini ditandai dengan warna jingga tua pada peta geomorfologi (Gambar 3.2 & LAMPIRAN F). Pola kerapatan kontur relatif rapat. Komponen batuan penyusun utama berupa batuan breksi vulkanik yang berada dalam kondisi sangat lapuk dan beberapa singkapan masih segar, berwarna abu-abu kehitaman.

Foto 3.5: Morfologi perbukitan vulkanik yang ditandai dengan warna merah. Foto diambil dari lokasi WLG 09 ke arah selatan

(7)

20 3.1.4. Satuan Perbukitan Homoklin

Satuan Perbukitan Homoklin ini menempati ± 27% daerah penelitian dengan ketinggian berkisar 330 – 490 meter dari permukaan laut (Foto 3.6). Satuan ini ditandai dengan warna kuning pada peta geomorfologi (Gambar 3.2 & LAMPIRAN F). Satuan ini dicirikan oleh kemiringan lapisan yang relatif sama. Litologi penyusun satuan ini berupa batulempung, batugamping dan batupasir. Satuan ini meliputi daerah Bebecak, Pasirbatu, Cibuaya, dan Sungai Ciguha. Pola aliran sungai cenderung bertipe Sub Dendritik dan bentukan-bentukan lembah sungai yang masih cenderung berbentuk “V” yang mencirikan satuan ini berada dalam tahapan geomorfik muda.

3.1.5. Satuan Endapan Aluvial

Satuan Endapan Aluvial ini menempati ± 3% daerah penelitian, dicirikan morfologi landai yang berada disepanjang sungai Cimandiri dengan ketinggian sekitar 300 meter dari permukaan laut (Foto 3.7). Satuan ini ditandai dengan warna abu-abu pada peta geomorfologi (Gambar 3.2 & LAMPIRAN F). Satuan dataran aluvial ini terdiri dari material lepas-lepas berukuran lempung, lanau, pasir, kerikil sampai bongkah dengan fragmen terdiri dari basalt, andesit, bongkah breksi, batugamping, dll. Bentukan lembah sungai Cimandiri ini berbentuk “U” dan berkelok-kelok yang digolongkan ke dalam tahapan geomorfik dewasa.

Foto 3.6: Morfologi perbukitan homoklin. Foto diambil dari lokasi PLS 05 kearah Tenggara

(8)

21 3.2. Stratigrafi Daerah Penelitian

Klasifikasi penamaan satuan stratigrafi daerah penelitian menggunakan sistem penamaan stratigrafi tidak resmi yang didasarkan atas ciri litologi dominan yang diamati dilapangan, kandungan fosil serta hasil analisa laboratorium. Secara umum stratigrafi daerah penelitian dibagi menjadi enam satuan dari tua ke muda adalah sebagai berikut:

1. Satuan Tuf

2. Satuan Batulempung 3. Satuan Batupasir 4. Satuan Batugamping 5. Satuan Breksi Vulkanik 6. Satuan Aluvial

Berdasarkan pengamatan singkapan batuan yang dilakukan di lapangan, maka dapat disusun suatu kolom stratigrafi tidak resmi daerah penelitian (Gambar 3.3) dan berdasarkan data berbagai lokasi singkapan batuan di lapangan maka dapat diketahui persebaran batuannya yang menghasilkan peta geologi daerah penelitian yang selanjutnya disetarakan dengan formasi batuan yang telah diamati peneliti sebelumnya.

Foto 3.7: Morfologi endapan aluvial yang ditandai dengan adanya material lepas- lepas. Foto diambil dari jembatan lokasi CMD 01 ke arah selatan

(9)

22 Gambar 3.3: Kolom stratigrafi tidak resmi daerah penelitian (tanpa skala)

(10)

23 3.2.1. Satuan Tuf

Penyebaran dan Ketebalan

Satuan tuf menempati ± 12% daerah penelitian yang berada di bagian utara daerah penelitian dan ditandai oleh warna ungu pada peta geologi (LAMPIRAN G). Berdasarkan rekonstruksi penampang geologi didapat ketebalan satuan tuf ini ± 450 meter. Satuan ini tersingkap baik di daerah Gunung Walang (Foto 3.8).

Ciri Litologi

Satuan tuf terdiri atas tuf litik berupa litik vulkanik berbutir halus (< 1/16 mm) dan berbutir kasar (> 1/16 mm), berwarna kehijauan, pemilahan sedang, kemas terbuka, terdapat gradasi butir, kekompakan sedang dan memperlihatkan orientasi perlapisan yang mengindikasikan adanya proses aliran ketika tuf ini diendapkan. Struktur sedimen yang berkembang umumnya gradded bedding dan paralel laminasi (Foto 3.9) dengan suksesi vertikal lapisan yang cenderung menipis dan menghalus ke atas dengan kontak tegas pada batas bawah lapisan. Warna hijau pada satuan tuf ini mengindikasikan bahwa tuf telah mengalami alterasi menjadi zeolit karena kontak dengan air laut yang kaya akan Ca2+ dan Mg2+. Berdasarkan pengamatan petrografi, mineral klorit cukup banyak ditemukan pada

Foto 3.8: Singkapan tuf yang diambil pada lokasi WLG 01 (menghadap ke utara)

(11)

24 sayatan tipis conto satuan ini (LAMPIRAN A). Hal ini merupakan bukti bahwa telah terjadi alterasi mineral pada satuan tuf tersebut.

Umur dan Lingkungan Pengendapan

Penentuan umur pada satuan ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Martodjojo (1984) memberikan indikasi umur Miosen Awal (N5) karena pada satuan ini tidak ditemukanya fosil foraminifera. Satuan Tuf ini merupakan satuan batuan tertua pada daerah penelitian.

Sumber sedimentasi pada kala ini berasal dari selatan Jawa (Gambar 3.4) yang menghasilkan material vulkanik sebagai hasil aktivitas vulkanisme bawah laut yang ditandai adanya anomali gravitasi yang positif yang tinggi (Gambar 3.5) yaitu ±200 mgal (Untung dan Hasegawa, 1975 op.cit. Martodjojo, 1984). Anomali positif ini menunjukkan bahwa pada adanya suatu tinggian yang berada di selatan jawa. Endapan ini terletak di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa. Dari penyebaran anomali gravitasi positif di lepas pantai yang di satu tempat bertepatan dengan anomali magnet positif dapat ditafsirkan bahwa deretan gunungapi umur Miosen Awal berada di daerah anomali tersebut.

Foto 3.9: Singkapan tuf yang menunjukkan struktur paralel laminasi yang diambil pada lokasi WLG 01 (menghadap ke barat)

(12)

25 Gambar 3.4: Paleogeografi jawa Kala Miosen Awal (Martodjojo, 1984)

Gambar 3.5: Peta penyebaran anomali gravitasi (Untung dan Hasegawa, 1975 op.cit. Martodjojo, 1984)

(13)

26 Kesebandingan dan Hubungan Stratigrafi

Berdasarkan litologi yang terdapat pada satuan batuan, maka satuan batuan ini dapat disetarakan kedalam Formasi Jampang (Martodjojo, 1984). Satuan Tuf merupakan satuan tertua pada daerah penelitian. Hubungan stratigrafi dengan satuan dibawahnya tidak ditemukan pada daerah penelitian.

3.2.2. Satuan Batulempung Penyebaran dan Ketebalan

Satuan Batulempung menempati ± 10% daerah penelitian yang berada di bagian tenggara daerah penelitian dan ditandai oleh warna hijau pada peta geologi (LAMPIRAN G). Satuan Batulempung ini tersingkap baik di sepanjang Sungai Ciguha (Foto 3.10).

Berdasarkan rekonstruksi penampang geologi, didapat ketebalan Satuan Batulempung ini ± 450 meter.

Foto 3.10: Singkapan batulempung pada lokasi CGH 11 (menghadap timurlaut)

(14)

27 Ciri Litologi

Satuan Batulempung ini karbonatan tersusun oleh batulempung, batulempung sisipan batupasir dan batupasir. Batulempung sebagai komponen utama, berwarna abu-abu kehitaman hingga abu-abu terang, karbonatan, kekerasan dan kekompakan sedang, singkapan masih segar tetapi dibeberapa tempat ada yang lapuk. Batupasir berwarna abu- abu, karbonatan, pemilahan baik, kemas tertutup, bentuk butir membundar-membundar tanggung, porositas baik, besar butir sedang-kasar dengan struktur sedimen gradded bedding dan paralel laminasi dan dibeberapa tempat terdapat bioturbasi (Foto 3.11).

Batulempung sisipan pasir berwarna abu-abu kehitaman, pasir berwarna abu-abu terang, karbonatan, kekerasan dan kekompakan.

Umur dan Lingkungan Pengendapan

Penentuan kisaran umur foraminifera yang dilakukan berdasarkan biozonasi Blow (1969) op.cit. Pringgoprawiro dan Kapid (1999). Sedangkan penamaan spesies dari foraminifera plankton berdasarkan Kennett dan Srinivasan (1938), Bolli dan Saunders (1969), serta Postuma (1971). Analisis mikropaleontologi yang dibutuhkan untuk

Foto 3.11: Singkapan batupasir yang memperlihatkan bioturbasi pada lokasi CGH-05 (menghadap ke selatan)

(15)

28 penentuan kisaran umur diambil dari conto sampel pada lokasi CGH 05 dan CGH 11 (LAMPIRAN C). Dengan ditemukannya foraminifera plankton berupa Globigerina bulloides, Globigerinoides trilobus, Globigerinoides immaturus, Globigerinoides subquadratus, Globigerina woodi, Globigerina Venezuela, Globigerinoides diminutus, Catapsidrax stainforthi, dan Globigerinoides rube, pada lokasi tersebut menunjukkan umur N7 atau Miosen Awal. Secara umum satuan batulempung ini memiliki kisaran umur Miosen Awal (N7).

Penentuan lingkungan pengendapan menggunakan metode penentuan lingkungan pengendapan berdasarkan foraminifera (Tipsword et.al., 1966). Pada conto sampel pada lokasi CGH 05 dan CGH 11 (LAMPIRAN C) didapat foraminifera benthos yang dapat digunakan untuk menentukan lingkungan pengendapan yaitu Cibicides sp., Amphistegina sp., Gyroidina sp., Nodosari sp., Amphicorina sp.. Berdasarkan klasifikasi Tipsword et.al., 1966 satuan batulempung tersebut menunjukkan lingkungan pengendapan Upper Slope (200-500 m).

Kesebandingan dan Hubungan Stratigrafi

Berdasarkan ciri litologi yang terdapat pada satuan batuan, maka satuan batuan ini dapat disetarakan dengan Formasi Citarum yang berumur Miosen Awal (Martodjojo, 1984). Satuan Batulempung pada daerah penelitian ditemukan berada diatas satuan tuf.

Hubungan stratigrafi dengan Satuan Tuf dibawahnya menunjukkan hubungan yang tidak selaras karena ditemukannya rentang waktu pengendapannya.

3.2.3. Satuan Batupasir Penyebaran dan Ketebalan

Satuan Batupasir menempati ± 5% daerah penelitian yang ditandai oleh warna kuning pada peta geologi (LAMPIRAN G). Satuan Batupasir ini tersingkap baik di sekitar daerah Cibuaya dan Pasirbatu sekitar sungai Cimandiri (Foto 3.12). Berdasarkan rekonstruksi penampang geologi didapat ketebalan satuan batupasir ini sekitar lebih dari 110 meter.

(16)

29 Ciri Litologi

Satuan batupasir tersusun oleh batupasir, batupasir sisipan lempung, batupasir konglomeratan (Foto 3.13), serta breksi vulkanik dan batulempung yang sudah mulai lapuk. batupasir sebagai komponen utama berwarna abu-abu kehitaman, terdapat sisipan lempung, karbonatan, pemilahan baik, kemas tertutup, bentuk butir membundar – membundar tanggung, porositas baik, kekompakan sedang, besar butir pasir sedang, struktur sedimen berupa laminasi sejajar. Batupasir konglomeratan berwarna kecoklatan, fragmen berukuran kerikil – bongkah, matriks berukuran pasir halus – sedang, kemas terbuka, karbonatan.

Foto 3.12: Singkapan batupasir pada lokasi CMD 01 (menghadap ke tenggara)

(17)

30 Sayatan tipis pada conto sampel CMD 01 menunjukkan batuan sedimen dengan pemilahan baik, kemas terbuka, mengandung butiran sebesar 33% yang terdiri dari butiran kuarsa, k-feldspar, plagioklas, fosil foram dan mineral opak, berukuran 0.05 – 0.2 mm, menyudut tanggung – membundar tanggung dengan matriks sebanyak 37% berupa lempung yang sebagian besar telah mengalami rekristalisasi menjadi serisit dan semen sebanyak 20% berupa semen spari kalsit (LAMPIRAN A). Dari sayatan tipis diberi nama batuan Volcanic Wacke (klasifikasi Gilbert, 1982).

Umur dan Lingkungan Pengendapan

Penentuan kisaran umur foraminifera yang dilakukan menggunakan metode seperti yang digunakan pada Satuan Batulempung. Analisis mikropaleontologi yang dibutuhkan untuk penentuan kisaran umur diambil dari conto sampel pada lokasi CMD 01 (LAMPIRAN C). Dengan ditemukannya foraminifera plankton berupa Globigerina bulloides, Globigerinoides trilobus, Globorotalia pramenardi, Globigerinoides bolii, Globigerina woodi, Orbulina universa, pada lokasi tersebut menunjukkan umur N12 atau Miosen Tengah.

Foto 3.13: Singkapan batupasir konglomeratan pada lokasi CMD 04 (menghadap ke timurlaut)

(18)

31 Penentuan lingkungan pengendapan menggunakan metode penentuan lingkungan pengendapan berdasarkan foraminifera (Tipsword et al., 1966). Pada conto sampel pada lokasi CMD 01 (LAMPIRAN C) didapat foraminifera benthos yang dapat digunakan untuk menentukan lingkungan pengendapan yaitu Nodosaria sp., Pullenia sp., Bulimina sp..

Berdasarkan klasifikasi tersebut, Satuan Batupasir menunjukkan lingkungan pengendapan Outer Neritic (100 – 200 m). Secara umum dapat disimpulkan bahwa satuan batupasir terendapkan pada lingkungan Outer Neritic (100 – 200 m).

Kesebandingan dan Hubungan Stratigrafi

Berdasarkan ciri litologi yang terdapat pada satuan tersebut, maka satuan batuan ini dapat disetarakan dengan Formasi Cimandiri yang berumur Miosen Tengah (Martodjojo, 1984). Satuan batupasir pada daerah penelitian ditemukan berada diatas Satuan Batulempung dan dibawah Satuan Breksi Vulkanik. Hubungan stratigrafi dengan Satuan Batulempung dibawahnya menunjukkan hubungan yang tidak selaras karena terdapatnya rentang waktu pengendapan dan memiliki hubungan yang tidak selaras dengan Satuan Breksi Vulkanik yang berada diatasnya (Foto 3.14).

Foto 3.14: Kontak ketidakselarasan antara batupasir dengan breksi vulkanik pada lokasi CMD 01 (menghadap ke tenggara)

(19)

32 3.2.3. Satuan Batugamping

Penyebaran dan Ketebalan

Satuan Batugamping menempati ± 12% daerah penelitian yang berada di bagian selatan daerah penelitian dan ditandai oleh warna biru pada peta geologi (LAMPIRAN G).

Satuan batugamping ini tersingkap baik di sekitar sungai Cipicung dan Leuwidinding (Foto 3.15). Berdasarkan rekonstruksi penampang geologi didapat ketebalan satuan batugamping ini ± 150 meter.

Ciri Litologi

Secara umum Satuan Batugamping ini tersusun atas batugamping masif dan batugamping yang berlapis (Foto 3.16). Batugamping tersebut berwarna abu-abu kecoklatan, abu-abuan terang, keras dan kompak, mengandung klastik dan fosil foraminifera, koral dan ganggang.

Foto 3.15: Singkapan batugamping pada lokasi CPG 03 (menghadap ke timurlaut)

(20)

33 Sayatan tipis pada conto sampel CPG 06 menunjukkan tekstur klastik, terpilah buruk, kemas terbuka yang terdiri dari butiran sebanyak 15% terdiri dari fragmen fosil berupa foraminifera, alga, dan echinoderata yang sebagian besar telah pecah. Batugamping tersebut juga mengandung matriks sebanyak 30% berupa lumpur karbonat dan semen sebanyak 50% berupa spari kalsit (LAMPIRAN A). Dari sayatan tipis ini diberi nama Batugamping Packstone (klasifikasi Dunham, 1962).

Umur dan Lingkungan Pengendapan

Untuk penentuan kisaran umur dari batugamping, dilakukan melalui pengamatan petrografi dengan melihat kandungan foraminifera besar yang penamaan spesiesnya berdasarkan Pringgoprawiro dan Kapid (1999). Berdasarkan pengamatan petrografi dari conto sampel CPG 07, didapatkan foraminifera besar berupa Spiroclypeus sp., Operculina sp., Lepidocyclina sp., Miogypsinoides sp. yang memiliki kisaran umur berdasarkan klasifikasi (Vander Vlek & Umbgrove, 1927 op.cit. Pringgoprawiro & Kapid, 1999) adalah Te1 – Te5 atau Miosen Awal – Miosen Tengah (LAMPIRAN C). Tetapi dari pengamatan di lapangan yang menunjukkan bahwa Satuan Batugamping ini memiliki hubungan yang menjari dengan Satuan Batupasir, maka disimpulkan bahwa umur dari Satuan Batugamping ini adalah N12 atau Miosen Tengah.

Foto 3.16: Singkapan batugamping berlapis pada lokasi CPG 07 (menghadap ke selatan)

(21)

34 Dalam hidupnya terumbu atau koral hidup di laut dangkal. Satuan ini mengandung fosil koral yang menunjukkan bahwa batugamping ini diendapkan di daerah laut dangkal, jernih serta hangat.

Kesebandingan dan Hubungan Stratigrafi

Berdasarkan ciri litologi, umur dan lingkungan pengendapan Satuan Batugamping ini, maka dapat disebandingkan dengan Formasi Bojonglopang (Martodjojo, 1984). Satuan Batugamping pada daerah penelitian ditemukan berada diatas Satuan Batulempung.

Hubungan stratigrafi dengan Satuan Batupasir adalah saling menjari.

3.2.5. Satuan Breksi Vulkanik Penyebaran dan Ketebalan

Satuan Breksi Vulkanik menempati sekitar 58% daerah penelitian, tersingkap pada morfologi rendah berupa dataran dan juga daerah yang tinggi berupa perbukitan, ditandai dengan warna merah muda pada Peta Geologi (LAMPIRAN G). Singkapan satuan ini umumnya lapuk dan kurang kompak (Foto 3.17). Berdasarkan rekonstruksi penampang geologi, ketebalan satuan ini didapat sekitar 50 meter.

Foto 3.17: Singkapan breksi vulkanik pada lokasi BBN-06 (menghadap ke utara)

(22)

35 Ciri Litologi

Breksi vulkanik ini memiliki fragmen berkomposisi andesitan, non karbonatan, berwarna abu-abu kehitaman, menyudut-menyudut tanggung, pemilahan sedang sampai buruk, kemas terbuka, porositas buruk, kurang kompak, ukuran butir kerikil sampai kerakal dan massa dasar berupa batupasir, non karbonatan, berwarna abu-abu kehitaman, menyudut-menyudut tanggung, pemilahan sedang, kemas terbuka, porositas sedang sampai baik, kurang kompak berukuran sedang sampai kasar.

Sayatan tipis pada conto BBN 07 menunjukkan fargmen dari Satuan Breksi Vulkanik tersebut merupakan batuan beku andesit, holokristalin, bertekstur porfiritik, hipidiomorfik granular, berukuran 0.1 – 2 mm tersusun oleh fenokris yaitu plagioklas, piroksen, kuarsa, feldspar dan mineral opak yang tertanam dalam masadasar mikrolit- mikrolit plagioklas (LAMPIRAN A).

Umur dan Lingkungan Pengendapan

Umur satuan batuan ini berdasarkan penyebaran batuan vulkanik pada Peta Geologi Lembar Bogor (Effendi, dkk. 1998) adalah Holosen. Satuan breksi volkanik ini merupakan produk hasil erupsi Gunung Gede Pangrango yang berada disebelah timurlaut (NE) dari daerah penelitian. Hal ini diperkuat juga dengan pernyataan van Bemellen (1949) yang mengatakan bahwa telah terjadi orogenesa Gunung Gede Pangrango pada kala Kuarter.

Kesebandingan dan Hubungan Stratigrafi

Berdasarkan ciri litologi yang terdapat pada satuan batuan tersebut, maka satuan batuan ini dapat disetarakan dengan Formasi Volkanik Gn Gede yang berumur Holosen (Effendi, dkk. 1998). Satuan Breksi Vulkanik ini memiliki hubungan yang tidak selaras dengan satuan yang berada dibawahnya dan tidak selaras dengan Satuan Aluvial yang berada diatasnya.

(23)

36 3.2.6. Satuan Aluvial

Satuan aluvial ini merupakan endapan termuda yang dijumpai pada daerah penelitian. Satuan ini menempati hanya 3% wilayah penelitian yang berada di sepanjang Sungai Cimandiri (Foto 3.18) berupa material lepas-lepas berukuran pasir, kerikil sampai bongkah dengan fragmen terdiri dari basalt, andesit, bongkah breksi, konglomerat, batupasir, batulempung dan batugamping. Pada peta geologi satuan ini ditandai dengan warna abu-abu. Satuan ini memiliki hubungan yang tidak selaras dengan satuan yang ada di bawahnya. Satuan ini berumur resen karena pengendapan satuan ini masih terus berlangsung sampai saat ini.

Foto 3.18: Singkapan bongkah endapan aluvial di sungai Cimandiri (menghadap ke barat)

(24)

37 3.3. Struktur Geologi Daerah Penelitian

Berdasarkan interpretasi awal dalam analisis struktur geologi dapat dilakukan analisis kelurusan dari peta topografi (Gambar 3.6) dan kelurusan SRTM pada daerah penelitian (Gambar 3.7). Berdasarkan analisis tersebut didapat arah kelurusan yang dominan baratlaut – tenggara (Gambar 3.8). Arah dominan kelurusan ini mengindikasikan adanya pola struktur yang berkembang pada daerah penelitian adalah sesar dan lipatan.

Gambar 3.6: Pola kelurusan topografi pada daerah penelitian

(25)

38 Gambar 3.8: Diagram roset kelurusan pada daerah penelitian

Kiri: Kelurusan Topografi Kanan:Kelurusan SRTM Gambar 3.7: Pola kelurusan SRTM pada Daerah Penelitian

(26)

39 Bukti-bukti yang diperoleh di lapangan yang menunjukkan adanya struktur tersebut diantaranya berupa kekar gerus (shear fracture), arah kelurusan berdasarkan peta topografi karena pada daerah penelitian tidak ditemukannya breksiasi dan juga kenampakan di lapangan.

Penamaan sesar disesuaikan dengan nama-nama desa tempat sesar tersebut berada, sedangkan untuk penamaan pergerakan sesar digunakan analisis net slip yang diperoleh dari menggambungkan data kelurusan, dan kutub maksimum dari kekar gerus.

3.3.1. Sesar Mendatar Cimandiri

Sesar mendatar pada daerah penelitian memiliki arah kelurusan NW-SE yang merupakan sesar mendatar menganan. Indikasi gejala sesar mendatar ini dapat dilihat dengan ditemukannya kekar (shear) berpasangan (Foto 3.19), gores garis yang berada di sekitar zona sesar (3.20) dan pergerakan sesar yang terdapat pada daerah penelitian (Foto 3.21). Walaupun pada daerah penelitian tidak ditemukannya breksiasi, berdasarkan peta topografi bisa diperkirakan arah kelurusan dari sesar tersebut.

Foto 3.19: Shear fracture yang mengindikasikan adanya sesar pada lokasi kiri: CGH 08; kanan: CGH 02 (menghadap ke tenggara)

(27)

40 Berdasarkan analisis kinematika dari data pengukuran struktur yang diperoleh dari CGH 08 dan CGH 02 (Lampiran B), sesar mendatar ini berarah relatif menganan dan didapat kedudukan bidang sesar yaitu N 155° E/65° dengan pitch sebesar 3° (LAMPIRAN B). Dari data-data yang diperoleh dan dari analisa kinematika maka diperoleh nama sesar adalah Sesar Menganan Naik Cimandiri.

Foto 3.20: Slickenside yang mengindikasikan adanya sesar pada lokasi CGH 02 (menghadap ke tenggara)

Foto 3.21: Pergerakan Sesar pada lokasi CGH 08 (menghadap ke baratlaut)

(28)

41 3.3.2. Sesar Naik Gunung Walang

Bidang sesar ini mempunyai kemiringan ke arah utara dan tidak tersingkap di permukaan, namun dapat diinterpretasikan berdasarkan adanya urutan stratigrafi yang tidak normal berupa anjakan Satuan Tuf di atas satuan batupasir yang memiliki umur yang lebih muda berdasarkan posisi stratigrafinya.

3.3.3. Lipatan

Lipatan yang ada didapatkan dari data pengukuran di lapangan yang menunjukkan arah kemiringan yang berlawanan. Lipatan yang terdapat pada daerah penelitian berupa sinklin yang berarah relatif Barat – Timur yang diperoleh dari rekonstruksi kedudukan lapisan yang berada di G.Walang. Berdasarkan analisa dinamika diperkirakan bidang sumbu lipatan N 86,9°E/86,5°. Diperkirakan gaya utama yang membentuk sinklin ini berarah hampir Utara – Selatan.

Gambar 3.9: Analisis dinamika sesar mendatar Cimandiri

(29)

42 3.3.4. Analisis Pembentukan Struktur

Secara stratigrafi terdapat tiga ketidakselarasan yang terjadi di daerah penelitian.

Ketidakselarasan pertama berupa ketidakselarasan dari Satuan Batupasir-Batugamping dengan Satuan Batulempung dimana terdapat rentang waktu pada pengendapannya, ketidakselarasan kedua berupa angular conformity dari Satuan Breksi Vulkanik yang menutupi secara tidak selaras di atas satuan-satuan lainnya dan ketidakselarasan terakhir berupa ketidakselarasan yang dibentuk oleh Satuan Aluvial dan satuan-satuan lainnya.

Pola struktur pada daerah penelitian berupa pola lipatan dan pola sesar yang saling berkaitan. Bentuk perlipatan yang terdapat pada daerah penelitian mencirikan bahwa pada daerah penelitian dipengaruhi oleh gaya kompresional dimana lipatan terbentuk bersamaan dengan sesar naik dengan sesar mendatar akibat sesar sobekan atau tear fault (Gambar 3.11).

Gambar 3.10: Analisis dinamika sinklin G.Walang

(30)

43 Berdasarkan kelurusan yang terdapat pada daerah penelitian yang relatif berarah Baratlaut – Tenggara (NW-SE) yang mengindikasikan terdapatnya sesar pada daerah penelitian, dapat disimpulkan bahwa gaya yang mengakibatkan terjadinya deformasi adalah gaya kompresi yang hampir berarah utara-selatan.

Struktur sesar dan lipatan tidak mempengaruhi Satuan Breksi Vulkanik yang berumur Holosen dan satuan termuda yang ikut terlipat dan tersesarkan adalah Satuan Batupasir dan Batugamping yang berumur Miosen Tengah. Karena itu dapat disimpulkan bahwa struktur geologi pada daerah penelitian terbentuk tidak lebih muda dari Miosen Tengah.

Gambar 3.11: Model sesar mendatar yang merupakan sesar sobekan (tear fault) (Twiss&Moores, 1992)

Referensi

Dokumen terkait

Perancis memiliki banyak bagian dalam awal Perang Dunia I. Mereka secara aktif terlibat dalam urusan negara lain dan pertandingan tangan-tangan mereka menyebabkan perang

Mendekati akhir bulan (sekitar tiga minggu kemudian) uang belanja dirumah sudah habis (karena bulan ini waktu pembayaran biaya sekolah anak-anak saya) menurut itung-itungan saya

Merancang bahan dan materi serta melaksanakan diskusi Indikator  Ketepatan menjelaskan tentang Fungsi-fingsi keluarga  Ketepatan menjelaskan Hubungan keluarga dn

pemain tersebut belum melakukan gerakan service, dan bola belum tersentuh bagian tubuh (yang dipergunakan untuk memainkan bola) pemain tersebut belum dinyatakan

komunikasi. Jadi kata-kata yang digunakan mungkin harus dipilih dengan penerima yang berbeda dalam pikiran. Apakah kata-kata yang digunakan mudah dipahami oleh

Hasil analisis MPE pada tahap kedua, dengan memangkatkan nilai kriteria dengan bobot alternatif akan menghasilkan nilai total MPE, maka diperoleh tiga

(b) Faktor pendukungan yang diberikan institusi maupun pihak lain, yaitu: (1) mayoritas mahasiswa PGRA telah memiliki laptop atau komputer yang mencapai 90,90% atau 40

Berikut kesimpulan yang berdasarkan hasil analisis penjadwalan dan penentuan rute distribusi pada rantai pasok untuk meminimasi biaya distribusi dengan menggunakan