1
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT KABUPATEN BENER MERIAH
ﻥﺍﻭﻴﺩ ﻥﻟﻜﺍﻭﺮﻓ ﺗﻳﻋﺮ
ﻥﺗﻒﻭﺑﻛ ﺭﻣﺭﻧﺑ
ﻪﻳ
Komplek Perkantoran – Redelong
PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT KABUPATEN BENER MERIAH
NOMOR : 04 TAHUN 2015 TENTANG
PERATURAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT KABUPATEN BENER MERIAH
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
ATAS RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT KABUPATEN
BENER MERIAH,
Menimbang : a. bahwa Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Bener Meriah merupakan landasan dan dasar melaksanakan tugas Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Bener Meriah dalam melaksanakan kehidupan berdemokrasi untuk kepentingan rakyat;
b. bahwa untuk menindaklanjuti Undang- undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh, Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Pengganti Undang-
undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah, Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyusunan Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tentang Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, maka perlu menyusun Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Bener Meriah;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a,b dan c diatas, maka perlu ditetapkan Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Bener Meriah Tentang Tata Tertib DPRK Bener Meriah;
Mengingat 1. Undang–Undang Nomor 44 Tahun 1999, tentang penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh;
2. Undang–Undang Nomor 41 Tahun 2003, tentang Pembentukan Kabupaten Bener Meriah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 156, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4351);
3. Undang–Undang Nomor 11 Tahun 2006, tentang Pemerintahan Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4633);
4. Undang–Undang Nomor 2 Tahun 2008, tentang Partai Politik (Lembaran Negara
3
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4801) Sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5189);
5. Undang–Undang Nomor 10 Tahun 2008, tentang Pemilihan Umum Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4831);
6. Undang–Undang Nomor 17 Tahun 2014, tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Derah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5668);
7. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang- undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah;
8. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 Tentang Kedudukan Protokuler dan Kedudukan Keuangan Pimpinan dan Anggota
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 90, Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia nomor 4416) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2007 Tentang Perubahan Ketiga atas peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 Tentang Kedudukan Protokuler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 47, Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4712);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tentang Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT KABUPATEN BENER MERIAH TENTANG TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT KABUPATEN BENER MERIAH.
5
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Bener Meriah;
2. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta Perangkat Daerah Otonom lainnya sebagai Badan Eksekutif Daerah Kabupaten Bener Meriah;
3. Kepala Daerah adalah Bupati Bener Meriah yang selanjutnya disebut Bupati dalam kedudukannya sebagai kepala eksekutif;
4. Wakil Kepala Daerah adalah Wakil Bupati Bener Meriah;
5. Pemerintahan Daerah adalah Penyelenggara pemerintahan daerah otonom oleh Pemerintah Daerah dan DPRK menurut asas desentralisasi;
6. Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten adalah Badan Legislatif Daerah Kabupaten Bener Meriah yang selanjutnya disebut DPRK sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006, tentang Pemerintahan Aceh;
7. Pimpinan DPRK adalah Ketua dan Wakil-Wakil Ketua DPRK Bener Meriah;
8. Anggota DPRK adalah mereka yang diresmikan keanggotaannya sebagai Anggota DPRK dan telah mengucapkan sumpah/janji berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-undangan;
9. Sekretariat DPRK adalah unsur pendukung DPRK sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014, tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Derah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;
10. Sekretaris DPRK adalah pejabat perangkat daerah yang memimpin Sekretariat DPRK;
11. Badan Kehormatan DPRK yang selanjutnya Badan Kehormatan adalah alat kelengkapan DPRK yang dibentuk oleh DPRK Bener Meriah;
12. Kode Etik adalah suatu ketentuan etika perilaku sebagai acuan kinerja Anggota DPRK dalam melaksanakan tugasnya;
13. Komisi Independen Pemilihan Selanjutnya disebut KIP Kabupaten Bener Meriah;
14. Fraksi adalah pengelompokkan anggota DPRK yang mencerminkan konfigurasi partai politik/partai politik lokal peserta pemilihan umum;
15. Komisi adalah pengelompokkan anggota DPRK secara fungsional berdasarkan tugas-tugas yang ada di DPRK;
16. Protokuler adalah serangkaian aturan dalam acara kenegaraan atau acara resmi yang meliputi aturan mengenai tata tempat, tata upacara, tata pakaian, tata penghormatan dan penghargaan kepada seseorang sesuai dengan jabatan dan kedudukannya dalam Negara, pemerintah dan masyarakat;
17. Masa reses adalah masa kegiatan DPRK di luar masa sidang yang dilakukan para anggota DPRK selama satu tahun.
BAB II
KEDUDUKAN, SUSUNAN DAN KEANGGOTAAN, Bagian Kesatu
Kedudukan Pasal 2
(1) DPRK merupakan lembaga perwakilan rakyat daerah yang berkedudukan sebagai lembaga pemerintahan daerah kabupaten Bener Meriah merupakan wadah untuk melaksanakan demokrasi berdasarkan Pancasila;
(2) DPRK merupakan lembaga perwakilan rakyat daerah kabupaten Bener Meriah yang kedudukannya sejajar dengan pemerintah daerah kabupaten Bener Meriah sebagai unsur
7
penyelenggaraan pemerintah daerah yang menjalankan tugas legislastif;
(3) DPRK sebagai unsur lembaga pemerintahan daerah kabupaten Bener Meriah memiliki tanggung jawab yang sama dengan pemerintah daerah dalam membentuk qanun untuk kesejahteraan rakyat.
Bagian Kedua Susunan
Pasal 3
(1) DPRK terdiri atas anggota partai politik/partai politik lokal peserta pemilu yang dipilih berdasarkan hasil pemilu 2014;
(2) DPRK terdiri atas fraksi–fraksi, pimpinan DPRK serta alat-alat kelengkapan DPRK Bener Meriah.
Bagian Ketiga Keanggotaan
Pasal 4
(1) Peresmian keanggotaan DPRK Bener Meriah ditetapkan dengan keputusan Gubernur Aceh an. Presiden berdasarkan usulan Bupati Bener Meriah sesuai laporan dari KIP;
(2) Pimpinan dan anggota DPRK berdomisili di kabupaten Bener Meriah.
Pasal 5
Masa Jabatan anggota DPRK adalah lima tahun dan berakhir bersamaan pada saat anggota DPRK yang baru mengucapkan sumpah/janji.
Pasal 6
(1) Anggota DPRK sebelum memangku jabatannya, mengucapkan sumpah/janji secara bersama-sama yang dipandu oleh ketua pengadilan negeri dalam rapat paripurna istimewa;
(2) Dalam hal Ketua Pengadilan Negeri berhalangan, pengucapan sumpah/ janji Anggota DPRK dipandu oleh wakil ketua Pengadilan Negeri.
(3) Dalam hal ketua pengadilan Negeri sebagaimana dimaksud pada ayat 2 berhalangan, pengucapan sumpah/janji anggota DPRK dipandu oleh hakim senior pada pengadilan negeri yang ditunjuk oleh ketua pengadilan negeri.
(4) Anggota DPRK yang berhalangan mengucapkan sumpah/janji sebagaimana dimaksud ayat (1), yang bersangkutan mengucapkan sumpah/janji dipandu oleh pimpinan DPRK;
(5) Tata cara pengucapan sumpah/janji pimpinan DPRK dan anggota DPRK mengacu dan berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 7
Sumpah/janji sebagaimana dimaksud pasal 368 adalah sebagai berikut:
“Demi Allah (Tuhan) saya bersumpah/berjanji:
bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya sebagai anggota ketua/wakil ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Bener Meriah dengan sebaik-baiknya dan seadil–adilnya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dengan berpedoman pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
bahwa saya dalam menjalankan kewajiban akan berkerja dengan sungguh-sungguh demi tegaknya kehidupan demokrasi, serta
9
mengutamakan kepentingan bangsa dan Negara daripada kepentingan pribadi, seseorang dan golongan;
bahwa saya akan memperjuangkan aspirasi rakyat yang saya wakili untuk mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan bangsa dan Negara kesatuan Republik Indonesia.”
Bagian Kedua Larangan
Pasal 8
(1) Anggota DPRK tidak boleh merangkap jabatan sebagai : a. Pejabat Negara lainnya ;
b. Hakim disemua lingkungan peradilan;
c. PNS, Anggota TNI/POLRI, pegawai pada BUMN, BUMD dan atau badan lain yang anggarannya bersumber dari
APBN/APBA/APBK.
(2) Anggota DPRK tidak boleh melakukan pekerjaan sebagai pejabat struktural pada lembaga pendidikan swasta, akuntan publik, konsultan, advokat/ pengacara, notaris, dokter praktek, dan pekerjaan lain yang ada hubunganya dengan tugas, wewenang, dan hak sebagai hak Anggota DPRK;
(3) Anggota DPRK tidak boleh melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme;
(4) Anggota DPRK yang melakukan pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melepaskan pekerjaan tersebut selama menjadi anggota DPRK;
(5) Anggota DPRK yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diberhentikan atas usul pimpinan berdasarkan hasil pemeriksaan badan kehormatan DPRK.
Bagian Ketiga Penyidikan
Pasal 9
(1) Dalam hal seorang anggota DPRK diduga melakukan pidana, pemanggilan permintaan keterangan dan penyidikannya harus mendapat persetujuan tertulis dari Gubernur atas nama Presiden;
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku apabila Anggota DPRK melakukan tindak pidana korupsi dan terorisme serta tertangkap tangan;
(3) Setelah tindakan pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan, harus dilaporkan kepada pejabat yang berwenang memberikan izin selambat–lambatnya dalam 2 kali 24 jam;
(4) Selama anggota DPRK menjalani proses penyidikan, penuntutan, pemeriksaan di depan pengadilan, yang bersangkutan tetap menerima hak–hak keuangan dan administrasi sampai dengan adanya putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.
BAB III
PENGGANTIAN ANTAR WAKTU ANGGOTA DPRK
Bagian Kesatu
Anggota DPRK berhenti dan diberhentikan antar waktu
Pasal 10
(1) Anggota DPRK berhenti antar waktu sebagai anggota karena : a. meninggal dunia;
b. mengundurkan diri sebagai anggota atas permintaan sendiri secara tertulis; dan;
c. diusulkan oleh partai politik yang bersangkutan.
11
(2) Anggota DPRK yang diberhentikan antar waktu sebagai anggota karena :
a. tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap sebagai anggota DPRK selama 6 (enam) bulan berturut-turut;
b. tidak lagi memenuhi syarat–syarat sebagai anggota DPRK sebagaimana diatur dalam peraturan perundang–undangan;
c. dinyatakan melanggar sumpah/janji, kode etik, dan/atau tidak melaksanakan kewajiban sebagai Anggota DPRK;
d. melanggar larangan rangkap jabatan sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang–undangan;
e. dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melanggar tindak pidana dengan ancaman pidana serendah–
rendahnya lima tahun penjara.
f. Tidak menghadiri rapat paripurna dan/atau rapat alat kelengkapan DPRK yang menjadi tugas dan kewajibannya sebanyak 6 (enam) kali berturut-turut tanpa alasan yang sah.
g. Diusulkan oleh partai politiknya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
h. Diberhentikan sebagai anggota partai politiknya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
i. Menadi anggota partai politik lainnya.
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) juga berlaku bagi anggota DPRK dan/atau pimpinan alat kelengkapan DPRK.
Bagian Kedua
Proses usulan Pemberhentian Anggota DPRK Pasal 11
(1) Usulan pemberhentian anggota DPRK yang telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf a, huruf b, dan huruf c, serta ayat (2) huruf d, dan huruf e, huruf f, huruf g, huruf h, huruf I, langsung disampaikan oleh pimpinan DPRK kepada Gubernur melalui Bupati;
(2) Apabila pimpinan DPRK tidak menyampaikan usul pemberhentian anggota DPRK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekretaris DPRK menyampaikan usulan dimaksud;
(3) Paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterima usul pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pimpinan DPRK menyampaikan usul pemberhentian anggota DPRK kepada Gubernur melalui Bupati untuk memperoleh peresmian pemberhentian;
(4) Paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya usul pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Bupati menyampaikan usul tersebut kepada Gubernur.
(5) Apabila 7 (tujuh) hari Gubernur atau Bupati tidak menyampaikan usul sebagaimana dimaksud pada ayat (4) atau ayat (5), pimpinan DPRK langsung menyampaikan usul pemberhentian anggota DPRK kepada Gubernur.
(6) Gubernur meresmikan pemberhentian anggota DPRK paling lama 14 (empat belas) hari seak diterimanya usul pemberhentian anggota DPRK dari Bupati sebagaimana dimaksud pada ayat 5 atau dari pimpinan DPRK.
(7) Usul pemberhentian anggota DPRK sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 ayat (1) huruf c, didasarkan atas Keputusan Dewan Pimpinan Pusat atau DPW/D partai politik yang bersangkutan sesuai dengan mekanisme yang berlaku pada AD/ART partai politik yang bersangkutan;
13
(8) Usulan pemberhentian anggota DPRK sebagaiman dimaksud dalam pasal 10 ayat (2) huruf a, huruf b, dan huruf c, diproses oleh badan kehormatan;
(9) Proses yang dilakukan oleh badan kehormatan DPRK sebagaimana dimaksud pada ayat (4) didasarkan atas pengaduan pimpinan DPRK, masyarakat dan/atau pemilih.
(10) Proses yang dilakukan oleh badan kehormatan DPRK sebagaimana dimaksud pada ayat (5) meliputi penyidikan, verifikasi dan pengambilan keputusan;
(11) Apabila anggota DPRK terbukti bersalah, keputusan yang diambil oleh badan kehormatan disampaikan kepada pimpinan DPRK untuk diteruskan kepada Gubernur melalui Bupati.
Pasal 12
(1) Pengaduan pimpinan DPRK, masyarakat dan atau pemilih (dihapus) disampaikan secara tertulis kepada pimpinan badan kehormatan DPRK;
(2) Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditanda tangani oleh pimpinan DPRK dengan bukti–bukti terjadinya pelanggaran yang dilakukan oleh anggota DPRK.
Bagian Ketiga
Pengambilan Keputusan Pemberhentian Anggota DPRK Pasal 13
(1) Pengambilan keputusan sebagaimana dimakasud dalam pasal 12 ayat (6) ditetapkan dalam rapat pleno anggota badan kehormatan secara musyawarah maupun pemungutan suara;
(2) Sebelum badan kehormatan mengambil keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) anggota DPRK yang bersangkutan diberikan kesempatan untuk melakukan pembelaan.
(3) Sebelum badan kehormatan mengambil keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) badan kehormatan wajib menerima saran dan rekomendasi dari pimpinan fraksi yang bersangkutan dan diberikan kesempatan untuk melakukan pembelaan seluas-luasnya.
Bagian Keempat
Penentuan Calon Pengganti Anggota DPRK Pasal 14
(1) Anggota DPRK yang berhenti dan diberhentikan antar waktu sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 ayat (1) dan ayat (2) digantikan oleh calon pengganti dengan ketentuan sebagai berikut:
a. calon pengganti dari anggota DPRK yang terpilih adalah calon yang memperoleh suara terbanyak kedua berdasarkan perolehan suara urutan berikutnya dalam daftar peringkat perolehan suara pada daerah pemilihan yang sama;
b. calon pengganti dari anggota DPRK yang terpilih selain pada huruf a, adalah calon yang ditetapkan berdasarkan perolehan suara terbanyak kedua berikutnya dari daftar calon didaerah pemilihan yang sama;
c. apabila calon pengganti segaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b mengundurkan diri atau meninggal dunia, diajukan calon pengganti pada urutan peringkat perolehan suara terbanyak berikutnya.
(2) Apabila tidak ada lagi calon dalam daftar calon anggota DPRK pada daerah pemilihan yang sama, pengurus partai politik yang bersangkutan dapat mengajukan calon baru sebagai pengganti dengan ketentuan:
a. calon pengganti diambil dari daftar calon anggota DPRK dari daerah pemilihan yang terdekat dalam kabupaten yang bersangkutan;
15
b. calon pengganti sebagaimana dimaksud pada huruf a dikeluarkan dari daftar calon anggota DPRK dari daerah pemilihannya.
(3) Apabila tidak ada lagi calon dalam daftar calon anggota DPRK pada daerah pemilihan di Kabupaten yang sama, pengurus partai politik yang bersangkutan dapat mengajukan calon baru yang diambil dari daftar calon anggota DPRK dari kabupaten yang terdekat;
(4) Anggota DPRK pengganti antar waktu melanjutkan sisa masa jabatan anggota yang digantikannya.
Bagian Kelima
Peresmian Pemberhentian dan Pengangkatan Pasal 15
(1) Pimpinan DPRK menyampaikan kepada KIP kabupaten nama anggota DPRK yang diberhentikan dan nama calon pengganti antar waktu yang diusulkan oleh pengurus partai politik di daerah yang bersangkutan untuk diverifikasi;
(2) Pimpinan DPRK setelah menerima rekomendasi KIP menyampaikan kepada Gubernur melalui Bupati guna mendapatkan peresmian pemberhentian dan peresmian pengangkatan sebagai anggota DPRK;
(3) Peresmian pemberhentian dan peresmian pengangkatan penggantian antar waktu Anggota DPRK ditetapkan dengan keputusan Gubernur atas nama Presiden, paling lambat 14 hari sejak diterimanya usulan pemberhentian dan pengangkatan dari pimpinan DPRK;
(4) Sebelum memangku jabatannya, anggota DPRK sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mengucapkan sumpah/janji sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (2) dan ayat (3) dan pasal 7;
(5) Penggantian anggota DPRK antar waktu tidak dilaksanakan apabila sisa masa jabatan anggota yang diganti kurang dari enam bulan dari masa jabatan anggota DPRK.
BAB IV
FUNGSI, TUGAS DAN WEWENANG Bagian Pertama
F u n g s i Pasal 16 (1) DPRK mempunyai fungsi :
a. legislasi;
b. anggaran; dan c. pengawasan.
(2) Fungsi legislasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan dalam membentuk qanun bersama Bupati;
(3) Fungsi anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan dalam menyusun dan menetapkan APBK;
(4) Fungsi pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan dalam bentuk pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan baik dalam bentuk qanun, keputusan kepala daerah dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah kabupaten.
Bagian Kedua Tugas dan Wewenang
Pasal 17
(1) DPRK mempunyai Tugas dan Wewenang :
a. membentuk qanun yang dibahas dengan Kepala daerah untuk mendapat persetujuan bersama;
b. menetapkan anggaran pendapatan dan belanja kabupaten bersama dengan kepala daerah;
c. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan qanun dan peraturan perundang–undangan lainnya, keputusan kepala daerah, anggaran pendapatan dan belanja kabupaten, bantuan dari pemerintah Aceh dan bantuan pemerintah pusat atau bantuan luar negeri, hibah,
17
kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah, dan kerjasama internasional di daerah;
d. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur;
e. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah kabupaten terhadap rencana perjanjian internasional yang menyangkut kepentingan daerah;
f. meminta laporan keterangan pertanggung jawaban 1 (satu) tahun sekali kepada kepala daerah dalam pelaksanakan tugas Desentralisasi;
g. melakukan koordinasi dengan DPRA dan DPR RI berkenaan dengan hal-hal yang mendesak
h. tugas–tugas lain yang diberikan oleh undang–undang.
i. memilih wakil Bupati dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil bupati.
j. memberitahukan kepada Bupati dan KIP Kabupaten mengenai akan berakhirnya masa jabatan Bupati/Wakil Bupati.
k. mengusulkan pembentukan KIP Kabupaten dan membentuk panitia pengawas pemilihan.
l. melakukan pengawasan dan meminta laporan kegiatan dan pengawasan anggarankepada KIP Kabupaten dan penyelenggaraan pemilihan Bupati/Wakil bupati.
(2) Tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang–
undangan.
BAB V HAK DPRK
Pasal 18 (1) DPRK mempunyai hak :
a. interpelasi;
b. angket; dan
c. menyatakan pendapat.
(2) Hak interpelasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah hak DPRK untuk meminta keterangan kepada kepala daerah kebijakan pemerintah daerah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat, daerah dan bernegara;
(3) Hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah hak DPRK untuk melakukan melakukan penyelidikan terhadap kebijakan Kepala Daerah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat, daerah dan negara yang diduga bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
(4) Hak menyatakan pendapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c adalah hak DPRK untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan kepada kepala daerah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di daerah disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket.
(5) Meminta keterangan mengenai dana hibah dari pemerintah pusat melalui pemerintah Daerah.
19
BAB VI
HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA Bagian Pertama
Hak Anggota Pasal 19 Anggota DPRK mempunyai hak :
a. mengajukan rancangan qanun;
b. mengajukan pertanyaan;
c. menyampaikan usul dan pendapat;
d. memilih dan dipilih;
e. membela diri;
f. imunitas;
g. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas;
h. protokoler; dan
i. keuangan dan administratif.
Pasal 20
(1) Setiap anggota DPRK dapat mengajukan suatu usul prakarsa rancangan qanun yang secara subtansial selaras dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan secara prosedural memenuhi kaidah-kaidah legal drafting;
(2) Usul prakarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disampaikan kepada pimpinan DPRK dalam bentuk rancangan qanun disertai penjelasan secara tertulis dan diberikan nomor pokok oleh sekretariat DPRK;
(3) Usul prakarsa tersebut oleh pimpinan DPRK disampaikan kepada badan legislasi daerah untuk dilakukan pengkajian;
(4) Berdasarkan hasil pengkajian badan legislasi daerah pimpinan DPRK menyampaikan kepada rapat paripurna;
(5) Dalam rapat paripurna, para pengusul diberikan kesempatan memberikan penjelasan atas usul sebagaimana dimaksud pada ayat (2);
(6) Pembicaraan mengenai sesuatu usul prakarsa/inisiatif dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada :
a. Anggota DPRK lainnya untuk memberikan pandangan;
b. para pengusul memberikan jawaban atas pandangan para anggota DPRK lainnya.
(7) Usul prakarsa/inisiatif sebelum diputuskan menjadi prakarsa/inisiatif DPRK, para pengusul berhak mengajukan perubahan dan/atau mencabutnya kembali;
(8) Pembicaraan diakhiri dengan keputusan DPRK yang menerima atau menolak usul prakarsa menjadi prakarsa DPRK;
(9) Tata cara pembahasan rancangan qanun/rancangan peraturan daerah atas prakarsa DPRK mengikuti ketentuan yang berlaku dalam pembahasan rancangan qanun/rancangan peraturan daerah atas prakarsa kepala daerah;
(10) Apabila dalam satu masa sidang, DPRK atau Bupati menyampaikan Rancangan Qanun mengenai materi yang sama, maka yang dibahas adalah Rancangan Qanun yang disampaikan DPRK, sedangkan Rancangan Qanun yang disampaikan Bupati dijadikan sebagai bahan sandingan.
Pasal 21
(1) Setiap anggota DPRK dapat mengajukan pertanyaan kepada pemerintah daerah berkaitan dengan tugas dan wewenang DPRK secara lisan maupun tertulis;
(2) Pertanyaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat disampaikan setiap saat melalui pimpinan dalam forum rapat- rapat DPRK.
Pasal 22
(1) Setiap anggota DPRK dalam rapat-rapat DPRK berhak mengajukan usul dan pendapat secara leluasa baik kepada pemerintah daerah maupun kepada pimpinan DPRK;
21
(2) Usul dan pendapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan dengan memperhatikan tatakrama, etika, moral, sopan santun dan kepatutan kode etik DPRK sebagai wakil rakyat.
Pasal 23
Setiap anggota DPRK berhak untuk memilih dan dipilih menjadi anggota atau pimpinan dan alat kelengkapan DPRK sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Pasal 24
(1) Setiap anggota DPRK berhak membela diri terhadap dugaan melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan, kode etik dan peraturan tata tertib DPRK;
(2) Hak membela diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sebelum pengambilan keputusan oleh badan kehormatan.
Pasal 25
(1) Anggota DPRK tidak dapat di tuntut di hadapan pengadilan karena pernyataan-pertanyaan, dan atau pendapat yang disampaikan secara lisan atau tertulis dalam rapat–rapat DPRK maupun diluar rapat-rapat DPRK yang berkaitan dengan fungsi, tugas dan wewenang serta tidak bertentangan dengan peraturan tata tertib dan kode etik;
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal anggota DPRK yang bersangkutan mengumumkan materi yang telah disepakati dalam rapat tertutup untuk di rahasiakan atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman rahasia Negara dalam buku kedua Bab I Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP);
(3) Anggota DPRK tidak dapat diganti antar waktu karena pernyataan, pertanyaan dan pendapat yang di kemukakan dalam rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Pasal 26
(1) Hak protokoler, keuangan dan administrasi diatur tersendiri dengan Peraturan Perundang-undangan;
(2) Untuk kelancaran penyelenggaraan kegiatan DPRK atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten Bener Meriah, Pimpinan dan Anggota DPRK selain menerima tunjangan yang bersumber pada otorisasi Bupati berdasarkan tugas pembantuan dan desentralisasi juga berhak memperoleh penghasilan terdiri dari :
a. Uang Representasi;
b. Uang paket;
c. Tunjangan Jabatan;
d. Tunjangan Panitia Musyawarah;
e. Tunjangan Komisi;
f. Tunjangan Panitia Anggaran;
g. Tunjangan Badan Kehormatan;
h. Tunjangan Panitia Legislasi;
i. Tunjangan Alat Kelengkapan lainnya;
j. Tunjangan Panitia Khusus;
k. Tunjangan Perumahan;
l. Tunjangan Pajak Penghasilan;
m. Tunjangan Keluarga dan Beras n. Biaya Perjalanan Dinas;
o. Biaya Pakaian Dinas;
p. Tunjangan Kesehatan;
q. Tunjangan Jasa Pengabdian;
r. Tunjangan Uang duka;
s. Tunjangan Komunikasi intensif;
t. Dana Operasional Khusus Pimpinan; dan u. Dana Penunjang Kegiatan.
23
(3) Jenis dan perincian besaran hak keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan;
(4) Pimpinan DPRK dapat memerintahkan sekretaris DPRK untuk mengeluarkan biaya bagi keperluan pelaksanaan tugas-tugas DPRK, Sekretaris DPRK dan staf ahli yang dipertanggung jawabkan langsung kepada Pimipinan DPRK.
Bagian Kedua Kewajiban Anggota
Pasal 27 Anggota DPRK mempunyai kewajiban :
a. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila;
b. melaksanakan Undang–Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan menaati segala peraturan perundang-undangan;
c. mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan daerah;
d. mendahulukan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan;
e. memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah;
f. menaati prinsip demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;
g. mentaati tata tertib dan kode etik DPRK;
h. menjaga etika dan norma dalam hubungan kerja dengan lembaga yang terkait dalam penyelengaraan pemerintahan daerah;
i. menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara berkala;
j. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat.
BAB VII
PELAKSANAAN HAK Bagian Pertama Hak Interpelasi
Pasal 28
(1) Hak interpelasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat (1) huruf a diusulkan oleh paling sedikit lima orang anggota DPRK;
(2) Usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disampaikan kepada pimpinan DPRK, disusun secara singkat, jelas dan ditanda tangani oleh para pengusul serta diberikan nomor pokok oleh sekretariat DPRK;
(3) Usul meminta keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), oleh pimpinan DPRK disampaikan pada rapat paripurna DPRK;
Pasal 29
(1) Dalam rapat paripurna sebagaimana dimaksud dalam pasal 29 ayat (3), para pengusul diberi kesempatan menyampaikan penjelasan lisan atas usul permintaan keterangan tersebut;
(2) Pembicaraan mengenai sesuatu usul meminta keterangan dilakukan dengan memberi kesempatan kepada:
a. anggota DPRK lainnya untuk memberikan pandangan melalui fraksi;dan
b. para pengusul memberikan jawaban atas pandangan para anggota DPRK.
(3) Keputusan persetujuan atau penolakan terhadap usul permintaan keterangan kepada kepala daerah ditetapkan dalam rapat paripurna;
(4) Usul permintaan keterangan DPRK sebelum memperoleh keputusan, para pengusul berhak mengajukan perubahan atau menarik kembali usulannya;
25
(5) Usul sebagaimana dimaksud pada pasal 10 menjadi hak interplasi DPRK apabila mendapat persetujuan dari rapat paripurna DPRK yang dihadiri lebih dari ½ (satu perdua) jumlah anggota DPRK dan putusan diambil dengan persetujuan dari ½ (satu perdua) jumlah anggota DPRK yang hadir;
(6) Apabila rapat paripurna menyetujui terhadap usul permintaan keterangan, pimpinan DPRK mengajukan permintaan keterangan kepada kepala daerah.
Pasal 30
(1) Kepala daerah dapat hadir untuk memberikan keterangan lisan maupun tertulis terhadap permintaan keterangan anggota DPRK sebagaimana dimaksud dalam pasal 18 ayat (2), dalam rapat paripurna DPRK;
(2) Apabila kepala Daerah tidak dapat hadir untuk memberikan penjelasan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bupati menugaskan pejabat terkait untuk mewakilinya;
(3) Setiap anggota DPRK dapat mengajukan pertanyaan atas keterangan Bupati sebagaimana dimaksud pada ayat (1);
(4) Terhadap jawaban kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), DPRK dapat menyatakan pendapatnya;
(5) Pernyataan pendapat sebagaimana dimaksud pada ayat (3), disampaikan secara resmi oleh DPRK kepada kepala daerah;
(6) Pernyataan pendapat DPRK atas keterangan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (4), dijadikan bahan untuk DPRK dalam pelaksanaan fungsi pengawasan dan untuk kepala daerah dijadikan bahan dalam penetapan pelaksanaan kebijakan.
Bagian Kedua Hak Angket
Pasal 31
(1) Hak angket sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat (3) diusulkan oleh paling sedikit lima orang anggota DPRK;
(2) Usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disertai dengan dokumen yang memuat sekurang-kurangnya:
a. Kebijakan Bupati atau mengenai keadian luar biasa yang teradi di daerah disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpalasi dan hak angket, atau;
b. Alas an penyidikan
(3) Usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1), menjadi hak angket DPRK apabila mendapat persetujuan dari rapat paripurna DPRK yang dihadiri sekurang-kurangnya ¾ (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRK dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRK yang hadir.
Pasal 32
(1) Pembicaraan mengenai usul penggunaan hak angket, dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada anggota DPRK lainnya untuk memberikan pandangan melalui fraksi dan selanjutnya pengusul memberikan jawaban atas pandangan anggota DPRK;
(2) Keputusan atas usul melakukan penyelidikan kepada kepala daerah dapat disetujui atau ditolak, ditetapkan dalam rapat paripurna DPRK;
27
(3) Usul mengadakan penyelidikan sebelum memperoleh keputusan DPRK, pengusul berhak mengajukan perubahan atau menarik kembali usulnya;
(4) Apabila usul melakukan penyelidikan disetujui sebagai permintaan penyelidikan, maka DPRK menyatakan pendapat untuk melakukan penyelidikan dan menyampaikan secara resmi kepada kepala daerah.
Pasal 33
(1) DPRK memutuskan menerima atau menolak usul hak angket sebagaimana dimaksud dalam pasal 32;
(2) Dalam hal DPRK menerima usl hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1), DPRK membentuk panitia angket yang terdiri atas semua unsur fraksi DPRK dengan keputusan DPRK;
(3) Dalam hal DPRK menolak usul hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1), usul tersebut tidak dapat diajukan kembali.
Pasal 34
(1) Apabila hasil penyidikan sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat (3) diterima oleh DPRK dan ada indikasi tindak pidana, DPRK menyerahkan penyelesaianya kepada aparat penegak hukum sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
(2) Apabila hasil penyidikan kepala daerah dan atau wakil kepala daerah berstatus sebagai terdakwa, gubernur a.n Presiden memberhentikan sementara dari jabatannya bagi bupati dan wakil bupati;
(3) Apabila kepala daerah dan atau wakil kepala daerah berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dinyatakan terbukti bersalah melakukan tidak pidana yang ancaman hukumannya 5 (lima) tahun atau lebih gubernur a.n Presiden memberhentikan dari jabatannya bagi bupati dan atau wakil bupati.
Pasal 35
(1) Panitia angket sebagaimana dimaksud dalam pasal 34 ayat (2) dalam melakukan penyelidikan sebagaimana dimaksud dalam pasal 32 dapat memanggil pejabat pemerintah daerah, badan hukum atau warga masyarakat di kabupaten Bener Meriah yang dianggap mengetahui atau patut mengetahui masalah yang diselidiki untuk memberikan keterangan serta untuk meminta menunjukan surat atau dokumen yang berkaitan dengan hal yang sedang diselidiki;
(2) Pejabat pemerintah daerah, badan hukum, atau warga masyarakat di kabupaten bener meriah telah dipanggil dengan tidak memenuhi panggilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), DPRK dapat memenggil secara paksa dengan bantuan Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Pasal 36
Panitia angket melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada rapat paripurna DPRK paling lama 60 (enam puluh) hari sejak
dibentuknya panitia angket.
29
Bagian Ketiga
Hak Menyatakan Pendapat Pasal 37
(1) Hak menyatakan pendapat sebagaimana dimaksud dalam pasal 18 ayat (3) huruf c diusulkan oleh paling sedikit 8 (delapan) orang anggota DPRK dan lebih dari 1 (satu) fraksi;
(2) Usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disampaikan kepada pimpinan DPRK, disusun secara singkat, jelas dan ditanda tangani oleh para pengusul serta diberikan nomor pokok oleh sekretariat DPRK;
(3) Usul pernyataan pendapat tersebut oleh pimpinan DPRK disampaikan dalam rapat paripurna DPRK setelah mendapat pertimbangan dari panitia musyawarah;
(4) Dalam rapat paripurna DPRK sebagaimana dimaksud pada ayat (3), para pengusul di beri kesempatan memberikan penjelasan atas usul pernyataan pendapat tersebut;
(5) Pembicaraan mengenai sesuatu usul pernyataan pendapat dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada :
c. anggota DPRK lainnya untuk memberikan pandangan melalui fraksi;
d. kepala daerah untuk memberikan pendapat; dan
e. para pengusul memberikan jawaban atas pandangan para anggota DPRK dan pendapat kepala daerah.
(6) Usul pernyataan pendapat sebelum memperoleh keputusan DPRK, pengusul berhak mengajukan perubahan atau menarik kembali usulannya;
(7) Usul sebagaimana dimaksud pada ayat (1), menjadi hak menyatakan pendapat DPRK apabila mendapat persetujuan dari rapat paripurna DPRK yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPRK dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRK yang hadir.
BAB VIII
PEMBENTUKAN FRAKSI Pasal 38
(1) Untuk mengoptimalkan pelaksanaan fungsi serta tugas dan wewenang DPRK serta hak dan kewajiban anggota DPRK, dibentuk fraksi sebagai wadah berhimpun anggota DPRK;
(2) Setiap anggota DPRK wajib menjadi anggota salah satu fraksi;
(3) Setiap fraksi di DPRK beranggotakan paling sedikit sama dengan jumlah komisi di DPRK;
(4) Partai politik yang jumlah anggotanya di DPRK mencapai ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) atau lebih dapat membentuk 1 (satu) fraksi;
(5) Dalam hal partai politik yang jumlah anggotanya di DPRK tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), anggotanya dapat bergabung dengan fraksi yang ada atau membentuk fraksi gabungan;
(6) Dalam hal tidak ada satu partai politik yang memenuhi persyaratan untuk membentuk fraksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) maka dibentuk fraksi gabungan;
(7) Jumlah fraksi gabungan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan ayat (6) paling banyak 2 (dua) fraksi;
(8) Partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) harus mendudukkan anggotanya dalam satu fraksi;
(9) Partai politik/partai politik lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) harus mendudukkan anggotanya dalam satu fraksi;
(10) Pembentukan fraksi sebagaimana dimaksud pada ayat (4), ayat (5), ayat (8) dan ayat (9) harus dilaporkan kepada
31
pimpinan DPRK untuk diumumkan dalam rapat paripurna DPRK;
(11) Fraksi yang telah diumumkan dalam rapat paripurna sebagaimana dimaksud pada ayat (10) bersifat tetap selama masa keanggotaan DPRK;
(12) Dalam hal telah dibentuk fraksi gabungan sebagaimana diamaksud pada ayat (6), kemudian tidak lagi memenuhi syarat sebagai fraksi gabungan, seluruh anggota fraksi gabungan tersebut wajib bergabung dengan fraksi lain dan/atau fraksi gabungan lain yang memenuhi syarat;
(13) Fraksi mempunyai sekretariat dan pramu Fraksi;
(14) Sekretariat DPRK menyediakan sarana, anggaran, dan tenaga ahli guna kelancaran pelaksanaan tugas fraksi sesuai dengan kebutuhan dan dengan memperhatikan kemampuan APBK (15) Sarana dan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (12)
meliputi biaya rapat-rapat fraksi dan biaya operasional ruangan sekretariat fraksi;
(16) Tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (14) berjumlah 1 (satu) orang untuk setiap fraksi;
(17) Tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (14) paling tidak harus memiliki pengetahuan di bidang pemerintahan daerah setelah melakukan Fit and Propertest dari Fraksi yang bersangkutan dengan tingkat pendidikan serendah- rendahnya SMA sederaad dengan ketentuan menguasai bidang anggaran, legislasi dan pengawasan;
(18) Pemberian honorarium tenaga ahli dilakukan secara tetap dan sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan keuangan daerah.
Pasal 39
(1) Pimpinan fraksi terdiri dari seorang ketua, satu orang wakil ketua, dan seorang sekretaris fraksi yang di pilih dari dan oleh anggota fraksi;
(2) Pimpinan fraksi dan keanggotaan fraksi yang telah terbentuk sebagaimana di maksud pada ayat (1) di sampaikan kepada pimpinan DPRK untuk diumumkan kepada seluruh anggota DPRK dalam rapat paripurna.
Susunan Fraksi Pasal 40
(1) Susunan pimpinan dan keanggotaan fraksi ditentukan oleh interen fraksi masing-masing;
(2) Pimpinan fraksi melaporkan kepada pimpinan DPRK mengenai susunan pimpinan dan keanggotaan fraksi serta perubahannya;
(3) Apabila terjadi perubahan susunan pimpinan dan/atau keanggotaan fraksi, tidak berpengaruh terhadap keputusan DPRK;
(4) Susunan pimpinan dan keanggotaan fraksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dalam keputusan DPRK;
(5) Fraksi-fraksi dalam DPRK terdiri dari:
a. Fraksi PDI Perjuangan
b. fraksi gabungan Merah Putih; dan c. fraksi gabungan Musara Pakat.
33
BAB IX
ALAT KELENGKAPAN DPRK Pasal 41
(1) Alat Kelengkapan DPRK terdiri dari : a. pimpinan;
b. panitia musyawarah;
c. komisi;
d. panitia legislasi;
e. panitia anggaran;
f. badan kehormatan; dan
g. alat kelengkapan lain yang diperlukan dan dibentuk oleh rapat paripurna.
(2) Kepemimpinan alat kelengkapan DPRK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersifat kolektif dan kolegial;
(3) Dalam menjalankan tugasnya alat kelengkapan dibantu oleh sekretariat;
(4) Susunan pimpinan dan keanggotaan alat kelengkapan DPRK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan keputusan DPRK;
(5) Dalam hal terjadinya pergantian susunan pimpinan dan keanggotaan alat kelengkapan DPRK sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditetapkan oleh pimpinan DPRK dan di laporkan dalam rapat paripurna.
Bagian Kesatu PIMPINAN DPRK Pimpinan Sementara
Pasal 42
(1) Dalam hal pimpinan DPRK belum terbentuk, DPRK dipimpin oleh pimpinan sementara DPRK;
(2) Pimpinan sementara DPRK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas seorang ketua dan seorang wakil ketua yang berasal dari dua partai politik yang memperoleh kursi terbanyak pertama sebagai ketua dan terbanyak kedua sebagai wakil ketua;
(3) Dalam hal terdapat lebih dari 1 (satu) partai politik yang memperoleh kursi terbanyak sama, penentuan ketua dan wakil ketua sementara DPRK dilakukan secara musyawarah oleh wakil partai politik bersangkutan yang ada di DPRK;
(4) Dalam hal pelaksanaan musyawarah sebagaiman dimaksud pada ayat (3) tidak tercapai, ketua dan wakil ketua sementara ditentukan oleh partai politik yang memperoleh jumlah suara lebih banyak dalam pemilihan umum;
(5) Pimpinan sementara DPRK tidak mengucapkan sumpah/janji sebagai ketua/wakil ketua sementara dan diumumkan oleh sekretaris DPRK.
Bagian Kedua
Tugas Pimpinan Sementara Pasal 43
(1) Pimpinan sementara sebagaimana dimaksud dalam pasal 42 mempunyai tugas pokok memimpin rapat–rapat DPRK dan menyimpulkan hasil rapat untuk mengambil keputusan, memfasilitasi pembentukan fraksi, memfasilitasi penyusunan rancangan peraturan tata tertib dan memproses pemilihan pimpinan DPRK definitif
35
(2) Selain tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pimpinan sementara mempunyai tugas;
a. menyusun rencana kerja dan mengadakan pembagian kerja antara ketua dan wakil ketua sementara;
b. menjadi juru bicara DPRK;
c. mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya dalam rapat paripurna DPRK.
(3) Pelaksanaan tugas pimpinan sementara DPRK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan secara kolektif dan berakhir pada saat pimpinan DPRK hasil pemilihan mengucapkan sumpah/janji.
Bagian Ketiga
Kedudukan dan Susunan Pimpinan DPRK Pasal 44
(1) Pimpinan DPRK terdiri atas seorang ketua dan dua orang wakil ketua;
(2) Pimpinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berasal dari partai politik yang memperoleh suara terbanyak pertama di DPRK;
(3) Ketua DPRK ialah anggota DPRK yang berasal dari partai politik yang memperoleh kursi terbanyak pertama di DPRK;
(4) Dalam hal terdapat lebih dari satu partai politik yang memperoleh suara terbanyak pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (3), ketua DPRK ialah anggota DPRK yang berasal dari partai politik yang memperoleh suara terbanyak;
(5) Dalam hal terdapat lebih dari 1 (satu) partai politik yang memperoleh suara terbanyak sama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) penentuan ketua DPRK dilakukan berdasarkan persebaran wilayah perolehan suara partai politik yang lebih luas secara berjenjang;
(6) Dalam hal terdapat lebih dari 1 (satu) partai politik yang memperoleh suara terbanyak pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wakil ketua DPRK ialah anggota DPRK yang berasal dari partai politik yang memperoleh suara terbanyak kedua, ketiga dan/ atau keempat;
(7) Apabila masih terdapat kursi wakil ketua DPRK yang belum terisi sebgaimana dimaksud pada ayat (6), maka kursi wakil ketua diisi oleh anggota DPRK yang berasal dari partai politik yang memperoleh kursi terbanyak kedua;
(8) Dalam hal terdapat lebih dari 1 (satu) partai politik yang memperoleh kursi terbanyak kedua sama, wakil ketua sebagaimana dimaksud pada ayat (7) ditentukan berdasarkan urutan hasil perolehan suara terbanayk;
(9) Dalam hal terdapat lebih dari 1 (satu) partai politik yang memperoleh kursi terbanyak kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (7), penentuan ketua DPRK sebagaimana dimaksud pada ayat (8) dilakukan berdasarkan persebaran wilayah perolehan suara partai politik yang lebih luas secara berjenjang;
(10) Ketua dan wakil ketua DPRK diresmikan dengan keputusan gubernur atas nama Presiden;
(11) Pimpinan DPRK sebelum memangku jabatannya mengucapkan sumpah/janji yang teksnya sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 yang dipandu oleh ketua pengadilan negeri;
(12) Masa jabatan pimpinan DPRK mengikuti masa jabatan anggota DPRK.
37
Bagian Keempat Tugas Pimpinan DPRK
Pasal 45 (1) Pimpinan DPRK mempunyai tugas :
a. Memimpin sidang–sidang dan menyimpulkan hasil sidang untuk diambil keputusan;
b. Menyusun rencana kerja dan mengadakan pembagian kerja ketua dan wakil ketua;
c. Menjadi juru bicara DPRK;
d. Melaksanakan dan memasyarakatkan putusan DPRK;
e. Mengadakan konsultasi dengan bupati dan instansi pemerintah lainnya sesuai dengan putusan DPRK;
f. Mewakili DPRK dan atau alat kelengkapan DPRK di pengadilan;
g. Melaksanakan putusan DPRK berkenaan dengan penetapan sanksi atau rehabilitasi anggota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
h. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya dalam sidang paripurna DPRK.
i. Mewakili DPRK dalam berhubungan dengan lembaga/instansi lainya;
j. Menyusun rencana anggaran DPRK bersama secretariat DPRK yang pengesahannya dilakukan dalam rapat paripurna; dan
k. Menyampaikan laporan kinerja pimpinan DPRK dalam rapat paripurna DPRK yang khusus diadakan untuk itu.
(2) Ketua dan wakil ketua memegang pimpinan sehari–hari yang bertugas penuh di gedung DPRK;
(3) Wakil–wakil Ketua membantu ketua dalam pimpinan DPRK;
(4) Apabila Ketua berhalangan, maka tugas kewajibannya dilakukan oleh wakil ketua yang ditunjuk oleh Ketua
berdasarkan hasil musyawarah pimpinan, kecuali dalam keadaan yang sangat mendesak;
(5) Apabila ketua dan wakil ketua meninggal dunia, mengundurkan diri secara tertulis, tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara bersama–sama, maka tugas–tugas pimpinan dilaksanakan oleh pimpinan sementara sebagaimana dimaksud dalam pasal (tentang pimpinan sementara, menurut pasal 43).
Bagian Kelima
Pemberhentian dan Pergantian Pimpinan DPRK Pasal 46
(1) Pimpinan DPRK berhenti atau diberhentikan dari jabatannya karena :
a. meninggal dunia;
b. mengundurkan diri atas permintaan sendiri secara tertulis;
c. tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap sebagai pimpinan DPRK;
d. melanggar kode etik DPRK berdasarkan hasil pemeriksaan badan kehormatan DPRK;
e. dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai/memperoleh kekuatan hukum tetap, karena melanggar tindak pidana dengan ancaman pidana serendah–rendahnya lima tahun penjara;
f. ditarik keanggotaanya sebagai anggota DPRK oleh parpolnya;
g. ketua dan/atau wakil Ketua DPRK yang sedang menjalani proses hukum, dilarang memimpin sidang–sidang dewan dan menjadi juru bicara DPRK.
(2) Pemberhentian pimpinan DPRK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaporkan dalam rapat paripurna luar biasa;
39
(3) Usulan pemberhentian pimpinan DPRK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam rapat paripurna luar biasa;
(4) Usulan pemberhentian pimpinan DPRK sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan dengan keputusan DPRK dan dilengkapi berita acara rapat paripurna.
Pasal 47
(1) Pengisian pimpinan DPRK yang diberhentikan sebagaimana dimaksud dalam pasal 43 berasal dari partai politik yang sama dan diusulkan oleh fraksi yang bersangkutan;
(2) Calon pengganti pimpinan DPRK yang berhenti atau diberhentikan diusulkan oleh pimpinan partai politik melalui fraksi DPRK untuk diumumkan dalam rapat paripurna dan ditetapkan dengan keputusan DPRK;
(3) Pimpinan DPRK mengusulkan peresmian pengangkatan calon pengganti pimpinan DPRK kepada gubernur melalui bupati
Pasal 48
(1) Dalam hal salah seorang pimpinan DPRK diberhentikan dari jabatanya, anggota pimpinan lainnya mengadakan musyawarah untuk menentukan salah seorang diantara pimpinan sebagai pelaksanaan tugas sementara sampai terpilihnya pengganti defenitif;
(2) Dalam hal pimpinan DPRK dinyatakan bersalah karena melakukan tindak pidana dengan ancaman hukuman pidana, berdasarkan putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan tetap, pimpinan DPRK yang bersangkutan tidak diperbolehkan melaksanakan tugas memimpin rapat–rapat DPRK, dan menjadi juru bicara DPRK sebagaimana dimaksud dalam pasal 45 huruf a dan c;
(3) Apabila pimpinan DPRK dinyatakan bersalah berdasarkan kekuatan hukum tetap, maka dicabut haknya sebagai pimpinan DPRK dan keanggotaannya dari DPRK;
(4) Dalam hal pimpiman DPRK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, dan dinyatakan bebas dari segala tuntutan hukum, pimpinan DPRK melaksanakan kembali tugas sebagaimana dimkasud dalam pasal 45 huruf a dan huruf c.
Bagian Keenam PANITIA MUSYAWARAH
Pasal 49
(1) Panitia musyawarah merupakan alat kelengkapan DPRK bersifat tetap yang dibentuk oleh DPRK pada permulaan masa keanggotaan DPRK;
(2) Pemilihan anggota panitia musyawarah ditetapkan setelah terbentuknya pimpinan DPRK, komisi–komisi, panitia anggaran dan fraksi;
(3) Panitia musyawarah terdiri dari unsur–unsur wakil setiap fraksi dan seorang atau lebih wakil dari setiap komisi yang berdasarkan pertimbangan jumlah anggota dan sebanyak–
banyaknya tidak lebih dari separuh jumlah anggota DPRK;
(4) Anggota Panitia Musyawarah dikirim oleh masing-masing Fraksi dengan jumlah maksimal 50% dari masing-masing jumlah anggota Fraksi di DPRK Bener Meriah;
(5) Ketua dan wakil ketua DPRK karena jabatannya adalah pimpinan panitia musyawarah merangkap anggota;
(6) Susunan anggota panitia musyawarah ditetapkan dalam rapat paripurna atas usul fraksi;
41
(7) Anggota DPRK pengganti antar waktu menduduki tempat anggota panitia musyawarah yang digantikannya dan diumumkan dalam rapat paripurna pada kesempatan pertama;
(8) Sekretaris DPRK karena jabatannya adalah sekretaris panitia musyawarah bukan anggota.
Bagian Ketujuh
TUGAS PANITIA MUSYAWARAH Pasal 50
(1) Panitia musyawarah mempunyai tugas :
a. memberikan pertimbangan tentang penetapan program kerja DPRK baik diminta atau tidak;
b. menetapkan kegiatan dan jadwal acara rapat DPRK;
c. memutuskan pilihan mengenai isi risalah rapat apabila timbul perbedaan pendapat;
d. memberi saran pendapat untuk memperlancar kegiatan;
e. merekomendasikan pembentukan panitia khusus.
(2) Setiap anggota panitia musyawarah wajib:
a. mengadakan konsultasi dengan fraksi–fraksi sebelum mengikuti rapat panitia musyawarah; dan
b. menyampaikan pokok–pokok hasil rapat panitia musyawarah kepada fraksi.
Bagian Kedelapan KOMISI Pasal 51
(1) Komisi merupakan alat kelengkapan DPRK yang bersifat tetap dan dibentuk oleh DPRK pada awal masa jabatan keanggotaan DPRK;
(2) Setiap anggota DPRK kecuali pimpinan DPRK, wajib menjadi anggota salah satu komisi;
(3) Penetapan anggota DPRK dalam komisi didasarkan atas usulan fraksi dan pengiriman anggota fraksi ke komisi dilakukan secara proforsional dan merata;
(4) Penempatan anggota DPRK dalam komisi–komisi dan perpindahan ke komisi lain didasarkan atas usul fraksinya;
(5) Ketua, wakil ketua dan sekretaris komisi dipilih dari dan oleh anggota Komisi yang bersangkutan dan dilaporkan dalam rapat paripurna pada kesempatan pertama;
(6) Masa penempatan anggota dalam komisi dan perpindahan ke komisi lain, diputuskan dalam rapat paripurna DPRK atas usul fraksi pada awal tahun anggaran;
(7) Anggota DPRK pengganti atar waktu menduduki tempat anggota komisi yang digantikan;
(8) Masa tugas komisi ditetapkan paling lama dua setengah tahun;
(9) Setiap anggota dapat menghadiri rapat komisi tertutup yang bukan komisinya dengan terlebih dahulu memberitahukan kepada pimpinan rapat.
Pasal 52
(1) Komisi dalam melaksanakan tugasnya dipimpin oleh pimpinan komisi;
(2) Pimpinan komisi terdiri dari seorang ketua, wakil ketua, dan sekretaris yang dipilih dari dan oleh anggota komisi yang bersangkutan dan ditetapkan dengan keputusan pimpinan DPRK yang merupakan satu kesatuan Pimpinan yang bersifat kolektif;
(3) Masa tugas pimpinan komisi sama dengan masa tugas komisi.
43
Pasal 53
(1) Pimpinan komisi berhenti dan atau diberhentikan karena sebab–sebab sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 dan pasal 1;
(2) Pemberhentian pimpinan komisi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diputuskan dalam rapat komisi yang bersangkutan yang dihadiri oleh sekurang–kurangnya 50 plus 1 dari jumlah anggota komisi;
(3) Keputusan menerima atau menolak pemberhentian pimpinan komisi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan dalam rapat pimpinan DPRK dengan ketua–
ketua fraksi;
(4) Dalam hal terjadi lowong jabatan pimpinan komisi karena alasan–alasan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) maka anggota komisi yang bersangkutan secepatnya melakukan pemilihan untuk pergantian pimpinan Komisi dimaksud sesuai dengan pasal 51 ayat (5).
Pasal 54 (1) Jumlah komisi di DPRK terdiri dari :
a. Komisi A : bidang pemerintahan;
b. Komisi B : bidang perekonomian ;
c. Komisi C : bidang keuangan dan pembangunan;
d. Komisi D : bidang keistimewaan Aceh dan kesejahteraan rakyat.
(2) Komisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam pelaksanaan tugasnya dikoordinir oleh dua orang wakil ketua DPRK yaitu sebagai berikut :
a. Wakil Ketua I koordinator Komisi A dan C;
b. Wakil Ketua II koordinator Komisi B dan D.
(3) Pembidangan masing-masing komisi yaitu :
a.Komisi A : bidang pemerintahan meliputi pemerintahan, Ketertiban, Kependudukan, Penerangan/Pers, Hukum/Perundang-undangan,
Kepegawaian/Aparatur, Perizinan, Sosial Politik, organisasi masyarakat dan Pertanahan;
b.Komisi B : bidang perekonomian meliputi perdagangan, Perindustrian, Pertanian, Perikanan, Peternakan, Perkebunan, Kehutanan, Pengadaan pangan, Logistik, Koperasi, Ketenagakerjaan, Kepemudaan, Olah Raga dan Transmigrasi;
c.Komisi C : Bidang Keuangan dan Pembangunan meliputi Keuangan Daerah, Perpajakan, Retribusi, Perbankan, Perusahaan Daerah, Perusahaan Patungan, Dunia Usaha dan Penanaman Modal, Pekerjaan Umum, Tata Kota, pertamanan, kebersihan, perhubungan dan pariwisata, Pertambangan dan Energi, Perumahan Rakyat dan Lingkungan Hidup;
d.Komisi D : Bidang Keistimewaan Aceh dan Kesejahteraan Rakyat meliputi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Agama, Adat, Kebudayaan, Sosial, Kesehatan, Keluarga Berencana dan Peranan Wanita, Pelaksanaan Syari’at Islam, harta Agama (Baitul Mal) dan Wakaf, Dakwah, Keulamaan, Musium dan Cagar Budaya.
45
Bagian Kesembilan Tugas Komisi
Pasal 55 Komisi mempunyai tugas :
a. mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
b. melakukan pembahasan terhadap rancangan qanun dan rancangan keputusan DPRK;
c. melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pembangunan, pemerintah, dan kemasyarakatan sesuai dengan bidang komisi masing–masing;
d. membantu pimpinan DPRK untuk mengupayakan penyelesaian masalah yang disampaikan oleh Kepala Daerah dan masyarakat kepada DPRK;
e. menerima menampung dan membahas serta menindak lanjuti aspirasi masyarakat;
f. memperhatikan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah;
g. melakukan kunjungan kerja komisi yang bersangkutan atas persetujuan pimpinan DPRK;
h. mengadakan rapat kerja dan dengar pendapat dengan Instansi terkait;
i. mengajukan usul kepada pimpinan DPRK yang termasuk dalam ruang lingkup bidang tugas masing–masing komisi;
j. memberikan laporan tertulis kepada pimpinan DPRK tentang hasil pelaksanaan tugas komisi.
Bagian Kesepuluh PANITIA LEGISLASI
Pasal 56
(1) Panitia legislasi merupakan alat kelengkapan DPRK yang bersifat tetap dan di bentuk dalam rapat paripurna DPRK pada awal masa jabatan pimpinan DPRK definitif;
(2) Anggota Panitia Legislasi dikirim oleh masing-masing Fraksi dengan jumlah maksimal 50% dari masing-masing umlah anggota Fraksi;
(3) Jumlah anggota panitia legislasi setara dengan jumlah anggota satu komisi di DPRK;
(4) Penempatan anggota DPRK dalam Panitia legislasi didasarkan atas usul fraksinya;
(5) Panitia legislasi berkedudukan sebagai pusat perencanaan pembuatan qanun;
(6) Apabila membutuhkan tambahan anggota dalam pembahasan rancangan qanun, maka panitia legislasi dapat meminta tambahan anggota dari fraksi–fraksi melalui pimpinan DPRK.
TUGAS PANITIA LEGISLASI Pasal 57
Panitia legislasi mempunyai tugas:
a. menyusun program legislasi daerah yang memuat daftar urutan rancangan qanun untuk satu masa keanggotaan dan prioritas setiap tahun anggaran, yang selanjutnya dilaporkan dalam rapat paripurna untuk ditetapkan dengan keputusan DPRK;
b. menyiapkan rancangan qanun usul inisiatif DPRK berdasarkan program prioritas yang telah ditetapkan;
47
c. melakukan pengharmonisasian, pembulatan dan pemantapan konsepsi rancangan qanun yang diajukan anggota, komisi, dan gabungan komisi sebelum rancangan qanun tersebut disampaikan kepada pimpinan DPRK;
d. memberikan pertimbangan terhadap pengajuan rancangan qanun yang diajukan oleh anggota, komisi dan gabungan komisi diluar rancangan qanun yang terdaftar dalam program legislasi daerah atau prioritas rancangan qanun tahun berjalan;
e. melakukan pembahasan dan perubahan/penyempurnaan rancangan qanun yang secara khusus ditugaskan panitia musyawarah;
f. melakukan penyebarluasan dan mencari masukan untuk rancangan qanun yang sedang dan/atau yang akan dibahas dan sosialisasi rancangan qanun yang telah disahkan;
g. mengikuti perkembangan dan melakukan evaluasi terhadap materi qanunmelalui koordinasi dengan komisi;
h. menerima masukan dari masyarakat baik tertulis maupun lisan mengenai rancangan qanun;
i. memberikan pertimbangan terhadap rancangan qanun yang sedang dibahas oleh bupati dan DPRK;
j. menginventarisasi masalah hukum dan peraturan perundang-undangan pada akhir masa keanggotaan DPRK untuk dipergunakan sebagai bahan oleh panitia Legislasi pada masa keanggotaan berikutnya.
Pasal 58
Panitia legislasi DPRK dalam melaksanakan tugasnya dikoordinir oleh pimpinan DPRK dan didipimpin oleh pimpinan panitia legislasi,
Susunan Legislasi Pasal 59
(1) Ketua, wakil ketua dan sekretaris Panitia legislasi merupakan unsur pimpinan kolektif Panitia legislasi dari dan oleh anggota Panitia legislasi atau melalui musyawarah, mufakat antar fraksi ditetapkan dengan keputusan DPRK;
(2) Masa tugas Panitia legislasi di tetapkan paling lama 2,5 (dua setengah) tahun dan dapat dipilih kembali.
Bagian Kesebelas PANITIA ANGGARAN
Kedudukan, Susunan dan Tugas Panitia Anggaran Pasal 60
(1) Panitia anggaran merupakan alat kelengkapan DPRK yang bersifat tetap dan dibentuk oleh DPRK pada awal masa jabatan keanggotaan DPRK;
(2) Anggota Panitia anggaran diusulkan oleh masing-masing fraksi secara proforsional dan merata dengan mempertimbangkan keanggotaannya dalam tiap-tiap komisi dan paling banyak ½ dari jumlah anggota Fraksi di DPRK Bener Meriah;
(3) Ketua dan wakil Ketua DPRK karena jabatannya (Eks Officio) adalah pimpinan Panitia Anggaran meranggakap anggota;
(4) Susunan keanggotaan Panitia anggaran ditetapkan oleh rapat paripurna;
(5) Ketua dan wakil ketua Panitia anggaran mendududuki jabatannya paling lama sama dengan jabatan anggota DPRK;
(6) Masa keanggotaan Panitia anggaran dapat dirubah dalam waktu dua setengah tahun;
(7) Anggota DPRK pengganti antar waktu menduduki tempat anggota Panitia Anggaran yang digantikannya dan diumumkan dalam rapat paripurna pada kesempatan pertama;
49
(8) Sekretaris DPRK karena jabatannya adalah sekretaris Panitia anggaran bukan anggota.
Pasal 61 Panitia Anggaran mempunyai tugas :
a. memberikan saran dan pendapat kepada kepala daerah melalui pimpinan DPRK dalam mempersiapkan rancangan APBK selambat– lambatnya lima bulan sebelum ditetapkannya APBK berupa pokok– pokok pikiran DPRK;
b. memberikan saran dan pendapat kepada kepala daerah dalam mempersiapkan penetapan, perubahan dan perhitungan APBK sebelum ditetapkan dalam rapat paripurna;
c. memberikan saran dan pendapat kepada DPRK dalam mengenai pra rancangan APBK, rancangan APBK baik penetapan, perubahan dan perhitungan APBK yang telah disampaikan oleh kepala daerah;
d. memberikan saran dan pendapat terhadap rancangan dan perhitungan anggaran yang disampaikan oleh bupati kepada DPRK;
e. menyusun anggaran belanja DPRK dan memberikan saran terhadap penyusunan anggaran belanja sekretariat DPRK.
Bagian Kedua belas BADAN KEHORMATAN
Pasal 62
(1) Badan kehormatan merupakan alat kelengkapan DPRK yang bersifat tetap dibentuk untuk melaksanakan dan menegakkan kode etik DPRK dan ditetapkan dengan keputusan DPRK;
(2) Anggota badan kehormatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diusulkan oleh fraksi–fraksi DPRK dalam Rapat Paripurna DPRK yang berjumlah satu orang dari masing-masing Fraksi;
(3) Pimpinan badan kehormatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas seorang ketua dan wakil yang dipilih dari dan oleh anggota badan kehormatan;
(4) Badan kehormatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh sekretaris yang secara fungsional dilaksanakan oleh sekretariat DPRK;
(5) Anggota badan kehormatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dalam rapat paripurna DPRK berdasarkan usul dari masing–masing fraksi dari unsur DPRK;
(6) Masa tugas badan kehormatan di tetapkan paling lama dua setengah tahun dan dapat dipilih kembali.
Tugas Badan Kehormatan Pasal 63
Badan Kehormatan mempunyai tugas :
a. mengamati, mengevaluasi disiplin etika dan moral para anggota DPRK dalam rangka menjaga martabat, kehormatan, citra, dan kredibiltas DPRK;
b. meneliti dugaan pelanggaran yang dilakukan anggota DPRK terhadap peraturan perundang–undangan, kode etik dan peraturan tata tertib DPRK;
b. melakukan penyelidikan, verifikasi, dan klarifikasi atas pengaduan pimpinan DPRK, masyarakat dan/atau pemilih;
c. menyampaikan kesimpulan atas hasil penyelidikan, verifikasi, dan klarifikasi sebagaimana dimaksud pada huruf c sebagai rekomendasi untuk ditindaklanjuti oleh DPRK;
d. menyampaikan rekomendasi kepada pimpinan DPRK untuk rehabilitasi nama baik apabila tidak terbukti adanya