AKTUALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI KEARIFAN LOKAL SEBAGAI BENTUK PELESTARIAN LINGKUNGAN DI DESA TANGKAS, KECAMATAN KLUNGKUNG, KABUPATEN KLUNGKUNG, PROVINSI BALI
Oleh :
Ni Nengah Sudarsini, S.Pd.H., M.Pd.H
ABSTRAK
Kerusakan lingkungan menjadi salah satu masalah utama di Bali, khususnya yang disebabkan oleh sampah.Kurangnya pemahaman tentang pengelolaan lingkungan serta kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan menjadi penyebab semakin meningkatkan masalah sampah.Desa Tangkas sebagai salah satu desa berkembang di Bali, selain membentuk sistem pengelolaan sampah, ada beberapa kearifan lokal yang sampai saat ini masih dilaksanakan oleh warga.Tradisi ini tidak hanya merupakan salah satu bentuk realisasi konsep ajaran Tri Hita Karana yang mendidik masyarakat khususnya generasi muda agar mampu menjaga lingkungan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah konsep pelestarian lingkungan di Desa Tangkas, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung?; (2) Bagaimanakah bentuk kearifan lokal di Desa Tangkas, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung dalam kaitannya dengan pengelolaan sampah?. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran umum bagi masyarakat sekaligus merangsang masyarakat untuk ikut serta bertanggungjawab melestarikan lingkungan melalui kearifan lokal yang ada di daerah masing-masing, sedangkan manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran dalam pembangunan dan bahan pertimbangan untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan terutama penanganan sampah melalui kearifan lokal.
Adapun jenis penelitian ini adalah kualitatif, yang teknik penentuan informannya menggunakan teknik purposive sampling, sedangkan teknik pengumpulan datanya menggunakan observasi, wawancara, studi kepustakaan dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan, untuk selanjutnya disajikan dalam bentuk bab.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa: (1) Konsep pelestarian lingkungan di Desa Tangkas mengacu pada dua ajaran dasar Agama Hindu yaitu Hukum Rta (hukum alam) dan konsep yadnya(persembahan atau korban suci yang dilaksanakan secara tulus ikhlas atau dapat dikatakan sebagai pusat alam semesta); (2) Bentuk-bentuk kearifan lokal yang dapat ditemui di Desa Tangkas yaitu penumpukan sampah organik di sawah/ladang, pemanfaatan kayu sisa upakara dan penggunaan daun sebagai pembungkus makanan oeh pedagang yang masih tetap dijalankan secara turun temurun sebagai bentuk pelestarian lingkungan dan pengurangan jumlah sampah plastik.
Kata Kunci :Aktualisasi Pengelolaan Sampah, Kearifan Lokal, Pelestarian Lingkungan
ABSTRACT
Environmental damage is one of the main problems in Bali, especially that caused by garbage. Lack of understanding about environmental management and people's habits of littering are the cause of increasing waste problems.
Tangkas Village as one of the developing villages in Bali, in addition to forming waste management system, there are some local wisdom that until now still implemented by the citizens. This tradition is not only one form of the realization of the concept of Tri Hita Karana teaching that educates the community, especially the younger generation in order to be able to maintain the environment.
Based on the background, the problems discussed in this research are (1) How is the concept of environmental conservation in Tangkas Village, Klungkung Sub-district, Klungkung Regency?; (2) How is the form of local wisdom in Tangkas Village, Klungkung Sub-district, Klungkung Regency in relation to waste management?. The purpose of this study is to provide an overview for the community as well as stimulate the community to participate responsibly preserve the environment through local wisdom in their respective areas, while the benefits of this study are expected to contribute thought in the development and consideration to solve environmental problems, especially handling Waste through local wisdom.
The type of this research is qualitative, the technique of determining the informant using purposive sampling technique, while the data collection technique using observation, interview, literature study and documentation. Data analysis techniques used are data reduction, data presentation and conclusion, to be further presented in chapter form.
Based on the results of research that has been done can be seen that: (1) The concept of environmental conservation in Tangkas Village refers to two basic teachings of Hinduism, namely Law of Rta (natural law) and yadnya concept (sacrificial offerings or sacrifices performed sincerely or can be said as Center of the universe); (2) Forms of local wisdom that can be encountered in Tangkas Village is the accumulation of organic waste in the fields, the utilization of upakara remaining wood and the use of leaves as food wrappers oeh traders are still run for generations as a form of environmental conservation and reduction of the amount of waste Plastic.
Keywords: Waste Management, Local Wisdom, Environmental Preservation
PENDAHULUAN
Berbagai potret bangsa selalu diwarnai dengan permasalahan lingkungan terutama penanganan sampah yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Berdasarkan catatan Bank Dunia “The World Bank’s Waste Report” dalam The World Bank study projects pada tanggal 07 Pebruari 2015, dikatakan bahwa secara global jumlah sampah padat di kota-kota dunia akan terus naik sebesar
70% tahun 2015 hingga tahun 2025, dari 1,3 miliar ton per tahun menjadi 2,2 miliar ton per tahun (Bank Dunia, 2015 dalam https://ourwastematters.com/2015/02/07/the-world-banks-waste-
report/www.worldbank.org diakses pada tanggal 19 September 2016).
Di Indonesia, sampah tidak lagi menjadi permasalahan kecil yang terus terabaikan . Sesuai dengan pernyataan Robert Lee Hotz dalam laporannya pada Bank Dunia (dalam http: //www.wsj.com/articles/which-countries-create-the- most-ocean trash 1423767676diakses pada tanggal 19 September 2016)tanggal 12 Pebruari 2015 yang menyatakan bahwa Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan urutan kedua terbesar dari 20 negara sebagai penyumbang sampah plastik ke laut setelah China.Salah satu daerah di Indonesia yang turut memberikan kontribusi sampah adalah Bali.Bali dikenal akan keindahan alam serta pelaksanaan upacara atau ritual yang unik melalui konsep Tri Hita Karana yang terus diwacanakan, akan tetapi pelaksanaannya belum sepenuhnya berjalan.
Beragama hanya baru dipahami dalam tataran kontekstual, sehingga terjadi kesenjangan antara idealisasi konsep dengan realita kesadaran masyarakat Bali.
Mengacu pada realita tersebut, terkait masalah sampah, masing-masing wilayah di Bali memberikan kontribusi kuat dalam menghasilkan sampah, salah satunya adalah Desa Tangkas yang terletak di Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung. Jumlah sampah yang dihasilkan dapat mencapai 5,1 m3 melalui hasil perhitungan masing-masing keluarga menghasilkan sekitar 3,82 kg sampah per hari pada kondisi normal sedangkan saat hari raya dapat meningkat sebanyak 6,5 dari jumlah keseluruhan 833 Kepala Keluarga/KK.
Pengelolaan yang tidak tepat kerap kali menyebabkan penumpukan sampahdibeberapa titik seperti jalan desa, selokan, sungai, area sawah bahkan area suci seperti Pura. Kondisi ini menjadi salah satu pemicu terjadinya banjir serta munculnya berbagai macam penyakit terutama demam berdarah. Berbagai upaya dilakukan Perbekel dan warga Desa Tangkas dalam menanggulangi permasalahan tersebut.Selain pembentukan Sistem pengelolaan sampah melalui TPS 3R, Desa Tangkas ternyata juga memiliki kearifan lokal tersendiri dalam menanggulangi permasalahan sampah terutama yang berasal dari sampah rumah tangga dan sisa upakara.Bentuk-bentuk kearifan lokal di Desa Tangkas sampai
saat ini masih tetap dijalankan oleh sebagian Kepala Keluarga. Inilah yang menjadi keunikan tersendiri bagi peneliti dalam melakukan riset di Desa Tangkas, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali.
HASIL PENELITIAN
1. Hukum Agama dalam Pelestarian Lingkungan
Agama Hindu dalam menginterpretasikan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan hidup pada dasarnya berpangkal pada kitab suci Weda, dan kerangka dasar dari Agama Hindu yaitu, Tattwa,Susila dan Upacara.Ajaran Tattwa memberikan petunjuk filosofis yang mendalam mengenai pokok-pokok keyakinan maupun mengenai konsepsi ke-Tuhan-an, sedangkan ajaran susila merupakan kerangka untuk bertingkah laku yang baik sesuai dengan dharma, dan upacara merupakan kerangka untuk menghubungkan diri dengan Tuhan dalam bentuk persembahan, sehingga secara umum konsep-konsep dasar Agama Hindu tentang hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan hidup dimulai dari konsep Rtadan Yadnya.
1) Konsep Hukum Rta
Manusia pada setiap tahap dalam kehidupannya dikuasai oleh hukum Rta atau hukum alam. Semua yang ada tunduk pada alam semesta, sehingga tidak ada sesuatu apapun yang luput dari hukum yang berlaku dalam dirinya.Dunia dalam etika lingkungan ekosentrisme juga menyatakan demikian bahwa seluruh makhluk hidup atau benda mati merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan (makrokosmos). Matahari terbit di sebelah timur dan tengelam di barat, air sebagai sumber kehidupan mengalir dari tempat yang tinggi ketempat yang lebih rendah, api bersifat membakar, angin berhembus, manusia yang selalu merasakan lapar, haus dan akhirnya mati. Semua contoh tersebut merupakan hukum yang berlaku pada dirinya dan manusia berkewajiban menjaga keharmonisan tersebut seperti yang ditegaskan dalam sloka berikut :
satyam brhad rtam nram diksha tapa brahma yajna prthirviam dharayanti(Atharwaweda, XII:1)
Terjemahan :
Satya, Rta, Diksa, Tapa, Brahma dan Yadnya inilah yang menegakkan bumi, satya adalah kebenaran, yang diwujudkan dengan berbuat kebajikan, Rta adalah hukum yang sepatutnya secara sadar haruslah ditaati, diksa adalah kesucian yang diwujudkan dengan Trikaya Parisudha (berpikir, berkata dan berbuat diatas kebenaran), yadnya adalah persembahan (korban suci), Brahma adalah Brahman yang tiada lain adalah Tuhan/Sanghyang Widhi sendiri (widhi tattwa), tapa adalah pengendalian yang selalu mampu mewujudkan kebenaran berdasarkan dharma sehingga dari satya mewujudkan siwam, dari siwam mewujudkan sundaram (kebenaran, kesucian, keindahan).
Petikan sloka tersebut mengisyaratkan pada manusia bahwa sesungguhnya Sang Pencipta adalah penguasa utama (Maha Agung) yang berkuasa atas segala yang ada di alam semesta. Keterikatan atau interaksi muncul diantara keduanya yaitu antara alam semesta atau yang disebut dengan Bhuwana Agung dan makhluk hidup atau yang disebut dengan Bhuwana Alit, seperti yang digambarkan pada model berikut :
Gambar 5.1 Korelasi antara Bhuwana Agung dengan Bhuwana Alit (Sumber:Wiyana, 2012 dalam
https://ibgwiyana.wordpress.com/2012/04/05/konsep-konsep-ajaran-agama-hindu- dalam-pengelolaan-lingkungan-hidup-wana-kertih-2/)
Korelasi antara Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit terlihat dari kedua unsur tersebut yang saling menopang satu sama lain. Wiyana (2012) dalam artikelnya yang berjudul “Konsep-Konsep Ajaran Agama Hindu dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup Wana Kertih” menguraikan kedua hubungan tersebut sebagai berikut :
Ada keyakinan dalam masyarakat Hindu bahwa Tuhan menciptakan alam dengan mempergunakan lima benih unsur tenaga yang disebut Pancatanmatra terdiri dari Gandhatanmatra adalah benih unsur prthiwi, Rasatanmatra adalah benih unsur apah, Rupatanmatra adalah benih unsur teja, Sparsatanmatra adalah benih unsur bayu, Sabdatanmatra adalah benih unsur akasa. Kelima jenis-jenis unsur yang disebut Pancatanmatra itu kemudian masing-masing berubah menjadi atom-atom yang disebut Paramanu. Dari Paramanu itu muncullah unsur-unsur benda yang disebut Pancamahabhuta (lima unsur yang maha ada) yaitu :Prthiwi adalah unsur zat padat, Apah adalah unsur zat cair, Teja adalah unsur sinar atau panas, Bayu adalah unsur udara, Akasa adalah unsur ether. Unsur Pancamahabhuta inilah yang selanjutnya membentuk tubuh manusia dengan uraian sebagai berikut :Prthiwi yang membentuk tulang dan kulit, Apahyang membentuk darah dan lemak, Teja yang membentuk panas/suhu badan dan warna badan, Bayu yang menciptakan nafas pada manusia, Akasa yang membentuk rambut.
Unsur Pancatanmatra hingga terbentuknya Pancamahabuta begitu jelas menggambarkan hubungan atau interaksi kuat antara alam dengan diri manusia.Setiap unsur-unsur terkecil yang terdapat dalam tubuh manusia berasal dari unsur yang lebih besar yang berasal dari Sang Pencipta (Tuhan). Proses penciptaan dari Yang Maha Agung sejatinya tidak terlepas dari lingkaran proses kehidupan yang dikenal dengan Tri Kona. konsep ini termuat dalam lontar Buana Kosa yang menyebutkan :
Bhatara Brahma sirotpatti, Bhatara Wisnu sira sthiti,
Bhatara Rudra sira pralina, nahan tang tiga pinaka sarana ring loka (Buana Kosa, VII.25) Terjemahan :
Bhatara Brahma adalah pencipta, Bhatara Wisnu adalah yang memelihara, Rudra adalah pamralina. Demikianlah Dewa yang tiga itu sebagai pelindung (Mirsha, 1994)
Kutipan lontar tersebut menggambarkan bahwa segala yang ada dan terjadi di alam semesta ini tidak terlepas dari konsep Tri Kona yaitu utpati, stiti
dan pralina. Proses penciptaan alam semesta termasuk di dalamnya unsru pancatanmatra dan pancamahabuta yang memunculkan adanya makhluk hidup beserta benda mati (biotik dan abiotik) disebut sebagai utpati, selanjutnya proses pemeliharaan atau keberadaan dari unsur tersebut yan tetap sampai saat ini disebut stiti. Semua ciptaan-Nya itu bersifat tidak kekal karena dapat mengalami kehancuran atau peleburan yang kemudian akan kembali lagi kepada kekuatan tertinggi yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa sehingga disebut sebagai pralina.
Seiring dengan perkembangan jaman, proses penciptaan juga dilakukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, akan tetapi ciptaan tersebut tidak sepenuhnya bersinergi dengan alam, justru menjadi salah satu faktor perusak ekosistem yang telah diciptakan Tuhan. Oleh karena itu, kembali lagi pada hakekatnya bahwa manusia sudah seharusnya menyadari bahwa kehidupan ini berjalan sebagaimana mestinya karena ada kekuasaan tertinggi yang menciptakan dan manusia sebagai salah satunya berwenang membantu ciptaan lainnya untuk tetap berada dalam kondisi yang harmonis.
2) Konsep Yadnya
Hakikat hubungan antara manusia dengan alam adalah apabila terjadi keadaan yang harmonis, seimbang antara unsur-unsur yang ada pada alam dan unsur-unsur yang dimiliki oleh manusia seperti yang telah dijelaskan dalam model interaksi antara makrokosmos dengan mikrokosmos. Keseimbangan inilah yang harus selalu dijaga salah satunya adalah dengan pelaksanaanyadnya, seperti yang tercantum dalam Bhagawadgita yangmenyebutkan :
saha-yajnah prajah srstva, purovaca prajapatih, anena prosavisyadhvam, esa vo’stv ista-kama-dhuk
(Bhagawadgita, III:10) Terjemahan :
Pada jaman dahulu kala, Prajapati, Sang Pencipta telah mencipatakan alam semesta beserta makhluknya melalui persembahan suci yadnya dan bersabda, “Sejahterakanlah semuanya melalui perbuatan suci ini.
Melaksanakan perbuatan sebagai persembahan suci seperti ini akan dapat memenuhi segala sesuatu yang engkau inginkan”. (Darmayasa, 2014:35).
Yadnya menjadi penopang utama dalam perputaran roda kehidupan yang dalam pelaksanaannya selalu tertuju pada tiga aspek yaitu Tuhan atau Ida Sang Hyang WidhiWasa, manusia dan alam.Ketiga aspek ini lebih dikenal dengan ajaran Tri Hita Karana.Istilah Tri Hita Karana pertama kali muncul pada tanggal 11Nopember 1966 saat diselenggarakan Konferensi Daerah I Badan Perjuangan Umat Hindu Bali (BPUHB)yang bertempat di Perguruan Dwijendra Denpasar.
Konferensi tersebut diadakan untuk meningkatkan kesadaran umat Hindu di Bali akandharma-nya sehingga dapat berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Perkembangan selanjutnya, istilah Tri Hita Karana ini meluas dan memasyarakat hingga sekarang bahkan tanpa disadari menjadi acuan dasar dalam pembuatan awig-awig di seluruh desa adat di Bali.
Secara leksikal Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kesejahteraan.Tri artinya tiga, Hita berarti sejahtera, Karana berarti penyebab.Pada hakekatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan yaitu bersumber pada keharmonisan hubungan antara Manusia dengan Tuhan-Nya (Parhyangan), Manusia dengan sesama (Pawongan) dan manusia dengan lingkungan alam (Palemahan) (Wiyana, 2012 dalam https://ibgwiyana.wordpress.com/2012/04/05/konsep-konsep-ajaran-agama-hindu- dalam-pengelolaan-lingkungan-hidup-wana-kertih-2/).
Tuhan yang diyakini sebagai penguasa tertinggi yang merupakan Bapak dari alam semesta tentu berkehendak atas segala ciptaannya dan manusia yang menjadi pengguna dan penikmat alam ini sudah seharusnya menghormati Sang Pemilik alam melalui persembahan-persembahan suci yang tidak hanya berupa ritual tetapi tindakan nyata yang menyimbolkan rasa terima kasih dan bhakti yang mendalam.
Berdasarkan paparan tersebut, diketahui bahwa konsep yadnya, menjadi salah satu dasar dalam pelaksanaan pengelolaan sampah yang terlihat pada bentuk-betnuk kearifan lokal di Desa Tangkas sebagai salah satu wujud dari pelestarian lingkungan, sehingga yadnya tidak hanya dipahami dalam tataran tekstual atau ritual, melainkan lebih luas pada perilaku nyata (kontekstual dalam lingkup pribadi, sosial, kultur ataupun religi).
2. Bentuk Kearifan Lokal Desa Tangkas
Berdasarkan UU No. 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pada Bab 1 Pasal 1 butir 30 dijelaskan bahwa kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat untuk antara lain melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari (Tim Penyusun, 2009 : 6). Pengertian lain menurut Ridwan (2007:2), kearifan lokal atau sering disebut dengan local wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budaya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu.
Istilah kearifan lokal telah cukup banyak digunakan masyarakat tetapi berbeda halnya menurut Keraf yang dalam pandangannya lebih mengarah pada istilah kearifan tradisional dengan pengertian yaitu semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat, kebiasaan atau etika yang menunjukkan perilaku manusia dalam kehidupan pada komunitas ekologis. Jadi kearifan tradisional yang dimaksudkan Keraf tidak hanya menyangkut pengetahuan dan pemahaman masyarakat adat tentang tentang manusia dan bagaimana relasi yang baik diantara manusia, tetapi juga menyangkut pengetahuan, pemahaman dan adat kebiasaan tentang manusia, alam dan relasi diantara semua penghuni komunitas ekologis ini harus dibangun. Seluruh bentuk kearifan lokal ini dihayati, dipraktikan, diajarkan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi lain yang sekaligus membentuk pola tindakan manusia sehari-hari (Keraf, 2010 : 369-370).
Bertitik tolak pada pengertian tersebut, kearifan lokal dimaknai tidak hanya berupa tindakan tetapi lebih luas mencangkup nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh masyarakat serta pengetahuan yang diwujudkan dalam suatu bentuk kebiasaan atau tradisi secara turun temurun menyangkut keseluruhan ekosistem termasuk yang paling besar ditujukan kepada alam.Oleh karena itu, Desa Tangkas sebagai salah satu penyelenggara sistem pengelolaan sampah tingkat desa sesungguhnya telah memiliki pola tindakan yang dilakukan sejak lama (turun temurun) dalam mengelola lingkungan hidup salah satunya mengurangi jumlah sampah. Bentuk kearifan lokal tersebut terlihat dari beberapa aktifitas berikut :
a. Warga menggunakan sampah organik yang dihasilkan dari daun-daun, sisa upakara dan sampah dapur sebagai pupuk alami dengan menumpukkannnya di ladang/sawah miliknya sehingga dapat membantu menyuburkan tanaman.
Cara ini telah lama dilakukan oleh warga Tangkas yang sebelumnya tidak memiliki sistem pengelolaan sampah.
b. Kayu atau bambu yang telah selesai digunakan dalam upacara besar seperti piodalan atau ngusabha desa digunakan oleh warga Desa Tangkas sebagai bahan bakar dalam memasak, karena hampir 30% warga masih menggunakan
‘jalikan’ sehingga memerlukan kayu sebagai bahan utama.
c. Sebagian warga masih menggunakan daun pisang sebagai pembungkus makanan. Cara ini masih diterapkan oleh beberapa pedagang makanan di Desa Tangkas karena selain alami dan mudah di dapatkan (wilayah pedesaan), penggunaan daun pisang juga mampu mengurangi jumlah sampah plastik yang beredar di masyarakat.
Demikian bentuk-bentuk kearifan lokal yang dapat dijumpai di Desa Tangkas sampai saat ini, bahkan tradisi ini menjadi salah satu alternatif dalam mengurangi jumlah sampah rumah tanga dan sisa upakara.Kearifan lokal seperti ini sudah seharusnya tetap dipertahankan keberadaannya sehingga dapat pula diikuti oleh generasi selanjutnya yang bertujuan untukpelestarian lingkungan.
TEMUAN
Penelitian ini menghasilkan dua temuan, yaitu :
1. Sesungguhnya umat Hindu telah memiliki konsep kuat untuk menangani permasalahan sampah yaitu ajaran Tri Hita Karana, bahkan konsep ini telah diwariskan dan tanpa disadari telah menjadi aturan baku bagi masyarakat Bali.
Hal ini terlihat dari isi pokok awig-aiwg desa yang mencantumkan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia dan lingkungan yang seharusnya dapat dikembangkan oleh seluruh komponen desa.
2. Bentuk-bentuk Kearifan lokal tidak hanya dimaknai sebagai sebuah perilaku yang dilaksanakan secara turun temurun tetapi lebih kepada nilai-nilai etika dan moral terutama yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian terkait pengelolaan sampah perspektif Pendidikan Agama Hindu di Desa Tangkas diuraikan sebagai berikut : 1. Konsep pelestarian lingkungan di Desa Tangkas mengacu pada dua ajaran
dasar Agama Hindu yaitu Hukum Rta (hukum alam) dan konsep yadnya (persembahan atau korban suci yang dilaksanakan secara tulus ikhlas atau dapat dikatakan sebagai pusat alam semesta).
2. Bentuk-bentuk kearifan lokal yang dapat ditemui di Desa Tangkas yaitu penumpukan sampah organik di sawah/ladang, pemanfaatan kayu sisa upakara dan penggunaan daun sebagai pembungkus makanan oeh pedagang yang masih tetap dijalankan secara turun temurun sebagai bentuk pelestarian lingkungan dan pengurangan jumlah sampah plastik.
SARAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terkait pengelolaan sampah perspektif Pendidikan Agama Hindu di Desa Tangkas, dapat diajukan sejumlah saran sebagai rekomendasi, yaitu :
1. Perlu adanya aturan khusus mengenai pengelolaan sampah pada Awig-Awig Desa Tangkas.
2. Kearifan lokal yang ada di Desa Tangkas perlu dilestarikan keberadaannya sehingga dapat terus dijalankan dari generasi ke generasi selanjutnya
DAFTAR PUSTAKA
Bagus, Lorens. 2005. Kamus Filsafat. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Darmayasa.2014. Bhagavad-gita (Nyanyian Tuhan).Denpasar : Yayasan Dharma Sthapanam
Departemen Pendidikan Nasional.2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat (Pusat Bahasa).Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Hakam, Kama Abdul. 2007. Pengantar Pendidikan Nilai. Bandung : Yasindo Multi Aspek
Keraf, A. Sonny. 2010. Etika Lingkungan Hidup. Jakarta : PT Kompas Media Nusantara
KSM Darma Winangun. 2015. Rencana Pembangunan TPS 3R Berbasis Masyarakat 2015 Kabupaten Klungkung. Klungkung
Sudarsana, I. K. (2015, June). Pentingnya Kearifan Lokal dalam Pendidikan Karakter bagi Remaja Putus Sekolah. In Seminar Nasional (No. ISBN : 978-602-71567-1-5, pp. 343-349). Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar.
Sudarsana, I. K. (2015, May). Peran Pendidikan Non Formal dalam Pemberdayaan Perempuan. In Seminar Nasional (No. ISBN : 978-602- 72630-0-0, pp. 135-139). Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat IHDN Denpasar.
Sudarsana, I. K. (2014, October). Kebertahanan Tradisi Magibung Sebagai Kearifan Lokal dalam Menjaga Persaudaraan Masyarakat Hindu. In Seminar Nasional (No. ISBN : 978-602-71598-0-8, pp. 137-143). Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar.
Sugiyono.2013.Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung : CV Alfabeta
Sugiharto.2000. Wajah Baru etika dan Agama.Yogyakarta : KANISIUS
Suwantana, I Gede. 2011. Petikan Dawai Vedanta. Klungkung : Ashram Gandhi Puri-Indra Udayana Institute of Vedanta
Suwantana, I Gede. 2011. Untaian Mutiara Vedanta. Klungkung : Ashram Gandhi Puri-Indra Udayana Institute of Vedanta
Suwantana, I Gede. 2014. Vedanta Dalam Serpihan Hidup Sehari-hari.
Klungkung : Ashram Gandhi Puri-Indra Udayana Institute of Vedanta Suwantana, I Gede. 2015. From Ecology to Ecosophy : The Balinese Way to
Harmony with Nature. Denpasar : Keep Bali Beautiful in collaboration with Ashram Gandhi Puri Indra Udayana Institute of Vedanta
Tim Penyusun. 1998. Pedoman/Teknis Penyusunan Awig-Awig dan Keputusan Desa Adat. Denpasar
Wiana, I Ketut.2006. Menyayangi Alam Wujud Bhakti Pada Tuhan.Surabaya : Paramita
Wiana, I Ketut.2007. Tri Hita Karana Menurut Konsep Hindu.Surabaya : Paramita
Sumber Internet :
Hotz, Robert Lee. 2015. Which Countries Create The Most Ocean Trash.Tersedia :http://www.wsj.com/articles/which-countries-create-the-most-ocean- trash-1423767676) (diakses pada tanggal 19 September 2016, Pkl. 19.20 WITA)
Karthadinata, Dewa Made. Estetika Hindu dalam Kesenian Bali. Tersedia:
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=136245&val=5660 The World Bank’s Waste Report. 2015. The World Bank’s Report. Tersedia:
https://ourwastematters.com/2015/02/07/the-world-banks-waste-
report/www.worldbank.org (diakses pada tanggal 19 September 2016, Pkl.
19.22 WITA)